Anda di halaman 1dari 44

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga dengan semangat yang
ada penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Karya Tulis Ilmiah”.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi


Muhammad SAW beserta para pengikutnya. Penulis mengucapkan
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT.yang selalu melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini
dengan lancar. Penulis menyadari karya tulis ini tidak akan selesai tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat
menambah ilmu kita khususnya dalam hal menulis karya tulis ilmiah.

Ambon, 09 Desenber 2018

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................
KATA PENGANTAR ..........................................................................
DAFTAR ISI .........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Menulis laporan penelitian karya ilmiah seringkali menjadi masalah
bagi seseorang yang sudah menyelesaikan proposal penelitian ilmiah, atau
bahkan sudah melakukan penelitian. Berbagai alasan seperti kesibukan,
sedikitnya waktu, tidak adanya biaya sering kali menjadi kambing hitam atas
ketidakberdayaan kita dalam menyelesaikan laporan hasil penelitian karya
ilmiah. Akhirnya, setelah berbulan- bulan penelitian ilmiah dilaksanakan
dan laporan hasilnya belum juga selesai. Padahal alasan tidak
terselesaikannya laporan karya ilmiah adalah ketidakmampuan dalam
kegiatan menyelaraskan kemampuan wawasan pengetahuan dan menulis.
Sebenarnya, penulisan karya ilmiah dalam pembelajaran bahasa
Indonesia telah diperkenalkan pada siswa sejak pendidikan tingkat menengah
pertama. Kemudian dilanjutkan pada tingkat menengah atas hingga perguruan
tinggi. Namun, apakah pengetahuan seorang siswa akan terus meningkat
mengenai penulisan karya ilmiah seiring seringnya berlatih menulis karya
ilmiah dari jenjang yang mudah hingga tingkat kesulitannya yang cukup
rumit.
Menyelesaikan laporan karya ilmiah terkait dengan kegiatan menulis.
Seperti yang kita ketahui, menulis merupakan keterampilan berbahasa yang
masih menjadi masalah di negeri kita, bahkan kebanyakan orang ketika tidak
bisa menulis mereka menganggap tidak berbakat dalam hal menulis.
Keterampilan menulis memang tidak bisa lahir dengan serta merta.
Diperlukan kolaborasi antara talenta manusia dan wawasan kebahasaan.
Talenta melahirkan semangat menulis dan wawasan kebahasaan menjadi
bekal dalam keterampilan menulis. Talenta saja tidak cukup sebab sebuah
kemampuan harus diasah dan dilatih. Semakin sering berlatih, maka
kemampuan menulis akan semakin baik.

Tulisan bersifat efektif bila didasarkan atas prinsip- prinsip yang sama
dengan penyelidikan yang dilakukan sebelumnya, yaitu kejelasan, ketetapan (
bebas dari kesalahan ) dan kenalaran. Seperti halnya dengan sebuah
percobaan, tulisan harus didasarkan atas organisasi yang mantap dan rapih.
“Organisasi yang baik merupakan kunci tulisan yang baik “( Peterson 1980 ).
Penulisan dan pikiran merupakan dua hal yang saling berkaitan, sebuah
tulisan yang disusun dengan buruk sering mencerminkan percobaan yang
kurang terorganisasi dengan latar belakang pemikiran yang kacau.
Sebaliknya, penyusunan tulisan dapat membantu penulis dalam pengertian
masalah yang diselidikinya. Organisasi yang baik juga menimbulkan
kesederhanaan. Percobaan ilmiah kerap sangat rumit, tetapi laporannya perlu
ditulis dengan sederhana supaya dapat dibaca dan ditafsirkan dengan mudah
oleh orang lain.
Menulis laporan hasil penelitian, tidak berbeda dengan menyusun
tulisan ilmiah populer lainnya. Secara teknis, bedanya pada kerangka tulisan.
Tulisan ilmiah hasil penelitian harus ditulis berdasarkan kerangka yang sudah
baku. Kerangka laporan hasil penelitian terdiri atas, Pendahuluan, Kajian
Teori, Metodologi Penelitian, Hasil Penelitian dan Pembahasan, serta
Simpulan dan Saran, yang ditambah dengan lampiran-lampiran bukti hasil
penelitian.
Oleh karena itu, dalam karya ilmiah ini kami mengangkat masalah
penulisan karya ilmiah. Penulis mencoba menyusun suatu karya mengenai
bagaimana mengidentifikasikan masalah tulisan, latar belakang, tujuan dan
manfaat penulisan, mengidentifikasi kerangka teori, formulasi isi tulisan dan
bagaimana membuat kesimpulan dan saran dalam karya ilmiah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana prinsip- prinsip penulisan karya ilmiah ?
2. Bagaimana jenis- jenis karya ilmiah ?
3. Bagaimana ciri- ciri tulisan ilmiah populer dan murni ?
4. Bagaimana bagian- bagian dari karya ilmiah ?
5. Bagaimana tahap- tahap penulisan karya ilmiah ?
6. Bagaimana contoh karya ilmiah ?

1.3 TUJUAN MAKALAH


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui prinsip- prinsip penulisan karya ilmiah.
2. Mengetahui jenis- jenis karya ilmiah
3. Mengetahui ciri- ciri tulisan ilmiah populer dan murni.
4. Mengetahui bagian- bagian dari karya ilmiah.
5. Mengetahui tahap- tahap penulisan karya ilmiah.
6. Mengetahui contoh karya ilmiah.

1.4 MANFAAT MAKALAH


Apabila tujuan dari pembuatan makalah tentang penulisan karya
ilmiah ini tercapai, maka manfaat dari makalah ini adalah dapat memperluas
wawasan dalam bidang ilmu pengetahuan bahasa dan pembuatan karya ilmiah
yang termasuk juga sistematika penulisan dan penyusunan karya ilmiah.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KARYA ILMIAH


Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan
hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau
sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan
dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian,
makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya
kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan,
dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan
acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian
selanjutnya.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk
menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum,
dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian
berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah
yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran
ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang
ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan
laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk
mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.
Karya ilmiah adalah karya tulis atau bentuk lainnya yang telah diakui
dalam bidang pengetahuan, teknologi, atau seni yang ditulis atau dikerjakan
sesuai dengan tata cara ilmiah, dan telah mengikuti pedoman atau konvensi
ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan (UM, 2000:1).
2.2 PRINSIP- PRINSIP KARYA ILMIAH
Untuk dapat membedakan apakah suatu karya tulis tergolong ilmiah
atau nonilmiah, terdapat prinsip-prinsip dalam sebuah karya ilmiah. Prinsip-
prinsip karya ilmiah tersebut, yaitu :

1. Objektivitas
Pada prinsip yang pertama ini, penulis diharuskan untuk tidak
mengemukakan pendapatnya. Penulis harus bersikap jujur, terbuka, dan
mengesampingkan perasaannya. Segala sesuatu yang ditulisakan penulis
harus apa adanya.
2. Empiris
Prinsip yang kedua, segala sesuatu yang dikemukakan penulis harus
berdasarkan fakta.
3. Rasional
Pada prinsip yang ketiga, penulis membahas sesuatu harus berdasarkan
rasio atau dapat diterima akal sehat, baik proses maupun cara
penulisannya.
4. Dedukatif dan Induktif
Pada prinsip yang terakhir, membahas mengenail penyimpulan
penemuan. Dalam penelitian digunakan hipotesis (sesuatu yang dianggap
benar untuk mengutarakan pendapat, tetapi kebenarannya belum bisa
dibuktikan) untuk menuntun penelitian dalam mengumpulkan data
(deduktif). Setelah data terkumpul, peneliti mempelajari datanya satu per
satu, peneliti mengemukakan penemuannya melalui pendekatan induktif
(Hardjodipuro, 1982).

2.3 JENIS- JENIS KARYA ILMIAH


Pada dasarnya karya ilmiah merupakan bentuk dokumentasi dan
publikasi dari hasil-hasil pemikiran dan penelitian. Karya ilmiah dapat
dibedakan atas beberapa jenis yang ditinjau dari berbagai sudut pandang
seperti ; ditinjau dari pendekatannya ,bentuk dan sasarannya atau
pembacanya.

2.3.1 Jenis Karya Ilmiah yang Ditinjau dari Pendekatannya


Jenis karya ilmiah ditinjau dari pendekatannya antara lain;
1. Karya Ilmiah Hasil Kajian Pustaka
Karya ilmiah hasil kajian pustaka adalah karya ilmiah hasil yang telah
dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang pada dasarnya bertumpu pada
penelaahan kritis terhadap bahan – bahan pustaka yang relevan. Telaah
pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data
atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan
cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang
kemudian disajikan dengan cara baru untuk keperluan baru. Dalam hal ini
bahan – bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali
pikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari
pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat
dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah (UM, 2000:2).
2. Karya Ilmiah Hasil Penelitian
Karya ilmiah yang berupa hasil penelitian pada dasarnya berupaya
mencari jawaban terhadap suatu permasalahan. Karya ilmiah yang berupa
hasil penelitian ini pun dapat dihasilkan dengan dua macam pendekatan, yaitu
:
a. Pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang berangkat dari suatu
kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan
pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan -
permasalahan beserta pemecahan - pemecahannya yang diajukan untuk
memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di
lapangan.
Penelitian Kualitatif bertujuan untuk menemukan pola hubungan yang
bersifat interaktif, menemukan teori baru, menggambarkan realitas yang
kompleks, dan memperoleh pemahaman makna.
b. Pendekatan kualitatif
Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan dengan induktif.
Pendekatanini berangkat dari pengumpulan data dari latar alami dengan
memanfaatkan peneliti sebagai instrument kunci (UM, 2000:1).
Penelitian Kuantitatif bertujuan untuk menunjukkan hubungan antar
variabel, menguji teori, dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai
prediktif.
3. Karya Ilmiah hasil Kerja Pengembangan
Karya ilmiah yang berupa kerja pengembangan adalah karya ilmiah
yang dihasilkan dari kegiatan merancang atau kegiatan menghasilkan produk
yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah – maslah actual. Dalam hal
ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori teori, konsep
– konsep, prinsip – prinsip, atau temuan – temuan penelitian untuk
memecahkan masalah (UM, 2000:2).

2.3.2 Jenis Karya Ilmiah yang Ditinjau dari Bentuknya


Jenis karya ilmiah yang ditinjau dari bentuknya dapat dibedakan atas
beberapa jenis, antara lain:
1. Paper atau kertas kerja
Paper adalah segala jenis tugas kuliah yang harus diselesaikan secara
tertulis, baik sebagai hasil pembahasan buku maupun hasil studi ilmiah. Paper
biasanya terbatas pada pengetahuan yang diajarkan atau sekitar pokok
bahasan yang tercakup dalam satu mata kuliah. Panjang tulisan berkisar
antara 10—15 halaman.
Kertas kerja seperti halnya makalah, adalah juga karya tulis ilmiah
yang menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-
objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih mendalam daripada analisis dalam
makalah. Paper disebut juga kertas-kerja, yang dimaksudkan untuk
publikasi jurnal berkala atau lisan, ia cenderung untuk tidak begitu
memperhatikan garis-garis kecil kalau dibandingkan dengan laporan, dan lain
dari itu tidak pernah direproduksi dalam jumlah sebányak seperti tulisan yang
dipublikasi dalam “jurnal primer” atau proses suatu konferensi.
2. Makalah
Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu
masalah atau topik tertentu yan ditulis secara sistematis dengan disertai
analisis yang logis dan objektif suatu masalah (UM, 2000:5). Salah satu
tujuan pokok penulisan makalah adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa
topik yang ditulis memang perlu diketahui dan diperhatikan.
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang
pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif.
makalah menyajikan masalah dengan melalui proses berpikir deduktif atau
induktif.
3. Laporan
Laporan adalah karya ilmiah yang memberitahukan hasil penelitian atau
pekerjaan yang didapat dari laboratorium atau lapangan. Sebuah laporan
disusun atas dasar kenyataan-kenyataan, catatan-catatan, atau hasil dari
sesuatu. Laporan bertujuan melatakkan fakta-fakta yang tepat tanpa
berhubungan dengan perasaan atau pandangan pribadi.
4. Skripsi
Skripsi adalah karya ilmiah yang memberi gambaran tentang sesuatu
masalah dengan data dari pustaka, laboraorium, atau lapangan yang dibahas
untuk memecahkan masalah. Skripsi harus mengemukakan kenyataan-
kenyataan dengan dasar logika, artinya masalah yang dibahas harus
dipandang sebagai hubungan sebab akibat. Skripsi adalah karya tulis ilmiah
yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain.
Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif,
baik bedasarkan penelitian langsung (obsevasi lapangan, atau percobaan di
laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa temuan baru
dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu aspek
atau lebih di bidang spesialisasinya.
Penulisan skripsi berbeda dengan penulisan laporan. Jika laporan tidak
mengemukakan penafsiran, maka skripsi bertolak dari keinginan untuk
mengemukakan penafsiran dan analisa kenyataan-kenyataan. Skripsi tidak
membiarkan kenyataan-kenyataan itu sebagaimana adanya. la bergerak lebih
jauh. Dengan demikian maka skripsi harus mengemukakan kenyataan-
kenyataan itu dengan dasar logika. Artinya ia harus memandangnya dari
konstruksi sebab-akibat. Tidak sekedar mengetahui kenyataan tetapi
memahami kenyataan tersebut dalam hubungan sebab-akibat. Agar supaya
penafsiran dan analisa dalam skripsi itu tepat, diperlukan laporan tentang
peristiwa dan kenyataan yang sah yang tidak mungkin diragukan lagi. Tetapi
skripsi tidak memuaskan diri dengan kenyataan dan peristiwa belaka,
bagaimanapun sahnya kenyataan dan peristiwa itu.
Sebuah skripsi, sama seperti sebuah tesis, harus dapat mengemukakan
persoalan. Tetapi berbeda dengan sebuah tesis, sebuah skripsi tidak
bermaksud untuk memecahkan persoalan yang dikemukakannya. Pemecahan
masalah itu tidak diperlukan di dalam skripsi, karena skripsi tidak akan
sampai. kepada perumusan kesimpulan atau tesis. Cukuplah jika ia dapat
mengemukakan kenyataan peristiwa yang diolah dari laporan yang sah
dengan sistimatis dan dengan maksud untuk mengemukakan masalah-
masalah yang akan dianalisa dengan da sar-dasar logika. Mengemukakan dan
mengidentifikasi suatu masalah bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah.
Kesalahan dalam merumuskan masalah, berarti turunnya nilai skripsi, dan
tentu saja nilai ànalisa skripsi itu. Untuk mengemukakan kenyataan peristiwa,
masalah-masalah, dan analisa diperlukan suatu sistimatika formil dan disiplin
teoritis. Nilai masalah dan nilai analisa sebuah skripsi sama pentingnya
dengan nilai masalah dan nilai analisa dalam tesis.
5. Tesis
Tesis disebut juga risalah ujian untuk memenuhi sebagian persyaratan
menempuh ujian S2. Beda antara tesis, skripsi, dan disertasi terletak pada
intensitas (kedalaman) dan ekstensitas (keluasan) jangkauan pandangannya.
Tesis adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan
dengan skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari
penelitian sendiri.
Tesis berbeda dengan skripsi dalam suatu hal yang amat penting. Jika
skripsi tidak ditujukan untuk memecahkan masalah, inaka tesis justru
bermaksud untuk memecahkan masalah itu. Perbedaan ini amat fundamentil.
Akan tetapi persamaannya akan tampak dalam beberapa hal seperti berikut
ini: (1) Baik skripsi maupun tesis berdasarkan laporan kenyataan peristiwa
yang sah dan sistimatis, (2) Baik skripsi maupun tesis mengemukakan
masalah yang harus benar dan memenuhi syarat-syarat untuk suatu masalah,
(3) Baik skripsi maupun tesis terikat kepada sistimatika formil, (4) Baik
skripsi maupun tesis harus tunduk kepada hukum-hukum dan azas-azas
logika ilmiah, (5) Baik skripsi maupun tesis harus berdasarkan dan melalui
metodologi yang benar.
Kelima persamaan, dan juga karakteristik, dari skripsi memperlihatkan
bahwa dalam hal-hal itu nilai skripsi tidak kalah dalamnya dengan tesis. Akan
tetapi di samping persamaan yang telah dikemukakan di atas, antara tesis dan
skripsi terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang terpenting
antara tesis dan skripsi: (1) Tesis bermaksud dan didorong oleh tujuan untuk
memecahkan persoalan yang dikemukakannya, sedangkan skripsi tidak
berdasarkan tujuan untuk memecahkan masalah itu; (2) Analisa yang terdapat
di dalam karangan tesis bertujuan untuk mengambil kesimpulan dalam bentuk
dalil, generalisasi, hukum, atau tesis, sedangkan skripsi tidak bermaksud
untuk menyusun dalil, generalisasi, hukum, atau tesis; (3) Tinjauan atau
wawasan tesis adalah lebih luas dari pada skripsi.
Materi tesis diisi dengan dasar-dasar teoritis yang erat hubungannya
(langsung dan sebagai pendukung) térhadap judul tesis. Selanjutnya hal itu
dapat dielaborasi dengan laporan riset dan analisa terhadap tujuan yang
diselidiki dalam hubungannya dengan hipotesa yang sejalan dengan proses
pembuktian. Data yang dapat dikumpulkan, dianalisa dan diinterpretasi.
Dalam hal ini’ tesis berbeda dengan laporan. Lain dari itu tesis harus
memiliki masalah yang jelas yang akan ditangani’penulis karangan tesis itu.
Masalah harus dicari, diidentifikasi dan dirumuskan dengan tepat. Karena
tesis itu mengemukakan masalah, maka tesis tersebut harus memiliki
peralatan yang cocok untuk menunjang pemecahan masalah itu.
Dalam menghadapi masalah yang telah dirumuskan, karangan tesis mesti
dapat menganalisanya dengan peralatan logika. Tesis dikemukakan dengan
suatu metode dan sistimatika tertentu. Karena nilai tesis itu terletak dalam
perumusah kesimpulan, maka kesimpulan yang diperolehnya harus
didasarkan kepada pembuktian-pembuktian yang tidak mungkin dibantah
kebenaran-nya. Untuk mencapai kesimpulan ini dapat dimulai dengan metode
induktif, yaitu dengan melalui penuturan deskriptif dan analisa. Atau dapat
pula ‘dengan metode deduktif, yaitu dimulai dengan dalil-dalil yang umum
atau generalisasi substantif.
Hakekat tesis itu berdasaikan arti tesis yang sebenamya. Seperti kita
ketahui, istilah tesis dapat diartikan ke dalam dua pengertian: (1) Tesis
didefinisikan sebagai sebuah hipotesa, sebagai ketetapan atau pemyataan
yang dikembangkan dan dipertahankan, jika mungkin, oleh argumentasi. Dari
pandangan ini, sebuah tesis adalah percobaan pemecahan untuk masalah; dan
(2) Sebuah tesis didefinisikan sebagai karangan formil yang fungsinya adalah
untuk menyampaikan suatu argumen logis yang mendukung suatu pandangan
spesifik, terutama, suatu pemecahan untuk suatu masalah. Seperti hipotesa
yang dikemukakannya, argumentasi yang disampaikan itu haruslah hasil
pemikiran dan berdasarkan penyelidikan penulis sendiri.
6. Disertasi
Disertasi disebut juga naskah promosi, dalam arti untuk mencapai gelar
Doktor (S3). Penulisan disertasi pada prinsipnya sama dengan tesis, hanya
saja pada disertasi pokok persoalannya lebih luas daripada tesis dan
konklusinya pun harus mempunyai generalisasi yang lebih luas. Sebenamya
sebuah disertasi dan tesis itu adalah berasal dari “cabang” karangan yang
sama, tetapi dari “ranting” yang berbeda. Fungsi disertasi adalah untuk
menyelenggarakan suatu diskusi yang sistimatis tentang suatu subyek atau
pokok karangan. Ruang lingkupnya lebih luas dari pada tesis, dan gaya
formilnya tidak begitu kaku. Maksud sebuah disertasi adalah untuk
mengemukakan suatu kritik, penjelasan, atau penjernihan. Yaitu untuk
mengemukakan suata pandangan yang merupakan dalil. Membuat disertasi
adalah untuk memperbincangkan, atau membantah, dengan cara ilmu
pengetahuan. Bertentangan dengan logika numgenai alasan atau penalaran
ilmiah formil di dalam tesis, penulis disertasi menangani pokok atau subyek
karangan kuranglebih bersifat didaktis. Ini jangan diartikan bahwa disertasi
itu tidak berdasarkan penalaran atau logika ilmiah.
Tesis dan disertasi yang baik menunjukkan hasil dari penyelidikan
intelektuil. Dasar-dasar keduanya akan berdiri kukuh jika studi, pemikiran,
penyelidikan, renungan dan pengertian-tulah menghasilkan hipotesa atau
pemikiran yang dapat diselidiki. Seandainya penyelidik melengkapkan
dirinya dengan jaminan tentang kebenaran untuk penjernihan dan pemecahan
penyelidikan, maka tesis dan disertasi dapat disusun.
Suatu tesis ditulis untuk mengukuhkan kebenaran suatu pemecahan
terhadap masalah, dengan argumentasi yang formil dan logis dalam
pembuktian. Esensi sebuah tesis adalah analisa konseptuil atau empiris,
deduksi dan kesimpulan. Sebuah disertasi sedikit banyak adalàh karangan
formil dalam analisa, interpretasi, penilaian, dan penjelasan pokok, subyek,
atau ilmu pengetahuan atau pendapat. la dapat bermaksud untuk
menjernihkan ilmu pengetahuan atau menentukan pendapat. Sebuah disertasi
dapat berbentuk kritik, nórmatif, dugaan, atau bahkan spekulatif. Membuat
sebuah disertasi berarti menghubungkan suatu proses tentang argumentasi
dari premise kepada kesimpulan.
Penulis disertasi dapat menggunakan premise yang diambil dari
pemikiran logis yang tidak memiliki dasar empiris.16 Di dalam kata
pengantar buku disertasi, Risk, Uncertainty and Profit, tulisan Frank H.
Knight, yang mendapat hadiah disertasi doktoral, terdapat ucapan: “Adalah,
sedikit yang secara fundamentil baru di dalam buku ini. la menggambarkan
suatu percobaan untuk menyata-kan prinsip-prinsip esensiil dari doktrin
ekonomi konvensionil lebih tepat, dan untuk menunjukkan implikasi-
implikasinya-lebih jelas, dari pada yang telah dikerjakan sebelumnya. Yaitu
obyeknya adalah penjernihan, bukan pembehtukan kembali; ia adalah suatu
studi dalam “teori murni”. Àdalah tidak tepat jika di dalam tesis, penulis yang
bersangkutan, mengadakan spekulasi bahwa dalam suatu saat per-ekonomian
liberalistis akan mendekati perekonomian sosialistis dan sebaliknya
perekonomian sosialistis akan mendekati perekonomian liberalistis. Tetapi
sebuah disertasi dapat mendiskusikan suatu spekulasi tentang pertanyaan
apakah perekonomian liberalistis dan perekonomian sosialistis akan saling
mendekat. Dalam diskusi itu ia dapat mengemukakan argumentasi yang
timbul dari segala bukti yang ada dalam segala aspek. Ia dapat sampai kepada
kesimpulan yang definitif melalui proses penalaran dan logika yang datang
dari premise Perbedaan antara tesis dan disertasi bukan terletak pada jenis
karangan tetapi pada tingkat yang perlu dicapai. Perbedaan itu akan tampak
pula dalam hasil yang dicapãi oleh tesis dan skripsi, seperti halnya hasil yang
perlu dicapai oleh laporan dan skripsi. Laporan, skripsi, tesis dan disertasi
mempunyai karakteristik yang berbeda karena yang kemudian adalah lebih
jauh dan yang sebelumnya.

2.3.3 Jenis Karya Ilmiah yang Ditinjau dari Pembacanya


Ditinjau dari sasarannya atau pembacanya, karya ilmiah dapat
dibedakan atas a) karya ilmiah biasa dan b) karya ilmiah populer. Karya
ilmiah biasa adalah karya ilmiah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu/
professional, sedangkan karya ilmiah yang ditujukan kepada masyarakat
umum disebut kaya ilmiah popular (Amir, 2007:41).
a) Membaca Tulisan Ilmiah
Dalam membaca tulisan ilmiah, pembaca perlu memahami unsure –
unsure kebahasaan yang membangun tulisan itu, yaitu huruf, kata, kalimat
dan paragraph. Kesatuan beberapa huruf membentuk kata, kesatuan beberapa
kata membentuk kalimat dan kesatuan beberapa kalimat membentuk
paragraph, dan kesatuan beberapa paragraph membentuk wacana (dalam hal
ini disebut tulisan).
Karena suatu tulisan dibangun dari beberapa paragraph, pembaca perlu
memiliki pengetahuan tentang paragraph. Pada bagian terdahulu telah
diuraikan tentang organisasi gagasan dalam paragraph dan antar paragraph.
Maksud utama membaca paragraph sebuah tulisan adalah untuk mengetahui
gagasan/ide pokoknya. Dengan demikian, pembaca dapat mengikuti alur
berpikir penulis. Cara menentukan ide pokok dapat dilihat dari kata (yang ada
pada kalimat utama) yang diulangi kembali diganti dengan kata ganti persona
atau kata yang sama arti diikuti kata ganti penunjuk pada kalimat – kalimat
penjelas.
b) Karya ilmiah populer
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, tulisan ilmiah
yang ditujukan kepada masyarakat umum disebut tulisan ilmiah popular
(Amir, 2007:41). Melengkapi pendapat Amir, Soeseno (1993: 1)
mengemukakan bahwa tulisan ilmiah popular adalah tulisan ilmiah yang
disajikan dengan penuturan yang mudah dimengerti.
Istilah popular digunakan untuk menyatakan sesuatu yang akrab dan
menyenangkan bagi populous (rakyat/masyarakat) atau disukai oleh orang
kebanyakan karena menarik dan mudah dipahami. Oleh karena itu, dalam
penuturannya, tulisan ilmiah popular harus lebih sederhana daripada tulisan
ilmiah biasa.
Tulisan ilmiah popular dapat dibedakan atas tiga jenis. Pertama, tulisan
ilmiah popular deskriptif yang membeberkan suatu pengetahuan sebagai
kumpulan fakta begitu saja dengan tujuan meningkatkan pengetahuan untuk
pembaca. Tulisan ilmiah popular seperti ini biasanya membeberkan fakta apa
adanya, atau penemuan mutakhir di bidang ilmu tertentu, tanpa banyak
mempersoalkan bagaimana jalannya proses penemuan atau hakikat hal yang
dibeberkan itu.
Jenis kedua, tulisan ilmiah popular bentuk deskriptif yang diserati
tentang jalannya proses pembentukan,riwayat pembentukan, penjelasan
mangapa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi . Jenis ketiga, tulisan ilmiah
popular deskriptif yang disertai proses terjadinya sesuatu, alasan maengapa
bias terjadi, ditambah dengan msalah yang muncul dan pemecahan masalah
itu.
Untuk dapat memahami jenis tulisan ilmiah popular dalam kegiatan
membaca, perlu dipahami hal-hal yang terkait dengan pemahaman
gagasan/ide pokok dalam paragraph sebagaimana tulisan ilmiah.

2.4 CIRI- CIRI PENULISAN ILMIAH POPULER DAN MURNI


Pada umumnya, tulisan ilmiah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
tulisan ilmiah populer dan tulisan ilmiah murni.
1. Ciri-ciri dan karakteristik tulisan ilmiah populer, antara lain:
- Adanya pesan yang dipergunakan untuk menarik perhatian pembaca,
yang dapat juga dikatakan bersifat persuasif. Hal ini disebabkan
karena pada umumnya pembaca yang ditargetkan ialah umum atau
bukan spesialis di bidang ahli mengenai topik bahasan yang ditulis.
- Isi tulisan diusahakan untuk memikat pembaca agar yang
bersangkutan tetap terus membaca tulisan tersebut sampai selesai.
- Penulis melakukan kontekstualisasi data hasil riset ke dalam tulisan
tersebut sehingga data dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca
umum.
- Bahasa yang dipergunakan bersifat umum dan tidak menggunakan
terminologi khusus yang hanya dipahami oleh ilmuwan atau
kelompok tertentu.
- Biasanya struktur kalimat yang dipergunakan ialah kalimat aktif.
- Gaya penulisan tidak baku.
- Umumnya, informasi dipaparkan dalam bentuk narasi.
- Uraian dipaparkan ke dalam bentuk umum yang dapat menarik, balk
aspek intelektual pembaca maupun menyentuh emosi pembaca yang
bersangkutan.
- Secara implisit, kadang mengandung pesan tertentu berupa keinginan
penulis agar pembaca melakukan tindakan tertentu.

2. Ciri-ciri tulisan ilmiah murni, antara lain:


- Penulis berusaha memaparkan data apa adanya secara objektif.
- Temuan kajian ditulis dalam bentuk sistematis, terstruk-tur, dan baku.
- Penulis banyak menggunakan bahasa dan terminologi khusus atau
disebut “jargon ilmiah” yang hanya dapat dipahami oleh ilmuwan
yang sama bidang ilmunya dengan pokok bahasan yang ditulis.
- Umumnya, menggunakan struktur kalimat pasif.
- Gaya penulisan yang dipakai bersifat baku.
- Tulisan digunakan untuk memaparkan informasi dalam bentuk khusus
yang hanya digunakan untuk menarik kemampuan intelektual
pembaca.
- Tulisan bersifat bebas dari opini penulis.
- Terdapat jarak antara penulis dengan hal-hal yang dikaji.

2.5 BAGIAN- BAGIAN KARYA ILMIAH


Secara umum, sebuah karya ilmiah terbagi dalam tiga bagian besar.
Bagian yang dimaksud ialah pendahuluan, isi, dan pembahasan. Namun
terlebih dahulu kita bahas tentang bagian pembuka dalam penulisan suatu
karya ilmiah yaitu, berupa :
1. Cover : Berisi halaman judul dan keterangan data diri
penulis
2. Halaman pengesahan : Berisi lembar pengesahan
3. Abstraksi : Suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang
lebih panjang dari enam atau delapan baris,
bertujuan untuk menerangkan kepada para
pembaca
aspek-aspek mana yang dibicarakan.
4. Kata pengantar : Berisi ucapan terima kasih atas terselesaikannya
penulisan
5. Daftar isi : Lembaran berisi nomor halaman setiap bagian
6. Ringkasan isi : Berisi resume dari objek penulisan

A. Pada bagian pendahuluan memuat :


1. Latar belakang masalah
Pada bagian ini, penulis harus menguraikan apa yang menjadi
ketertarikannya pada objek yang diteliti. Menjelaskan tentang alasan dasar
dari penulisan yang sedang diteliti. Dan keterangan dari suatu penulisan.
Tidak jarang, sebuah makalah atau skripsi mendapat sambutan hangat karena
membahas topik-topik yang sedang hangat. Satu aspek lain yang perlu
dikemukakan pada bagian ini ialah tinjauan pustaka. Peneliti perlu
menyertakan beberapa penelitian yang relevan dengan topik yang dikerjakan.
Hal ini dilakukan agar memperjelas pembaca bahwa penelitian yang
dilakukan bukan mengulangi berbagai penelitian lainnya.
2. Perumusan dan Pembatasan masalah
Dari fenomena yang menarik perhatian, penulis harus secara eksplisit
mengemukakan masalah yang hendak dibahas. Sebab pada bagian latar
belakang, masalah yang hendak dibahas biasanya tidak dikemukakan secara
eksplisit. Meski demikian, masalah yang hendak dibahas atau diteliti itu
masih harus dibatasi lagi. Hal ini dilakukan agar pembahasan tidak terlalu
luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevan. Selain itu, pembatasan
masalah penelitian juga akan menolong dalam hal efektivitas penulisan karya
ilmiah.
3. Tujuan Penelitian
Dalam tujuan penelitian atau penulisan, dikemukakan usaha-usaha dan
hasil-hasil yang telah dicapai penulis secara garis besar. Karya ilmiah
bertujuan menyampaikan pandangan atau penilaian penulis tentang topik
yang telah diteliti, tujuan umumnya mengemukakan hipotesis penelitian dan
penilaian penulis sesudah penelitian.
4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat diuraikan secara umum dan khusus. Misalnya,
untuk kepentingan praktis, bidang keilmuan atau bidang profesi penulis, atau
untuk kepentingan kelompok.
B. Pada bagian isi memuat :
1. Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
2. Pembahasan teori : Pada bagian ini, penulis memuat teori-teori yang
berkaitan dengan objek penulisan yang diteliti.
3. Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan : Penulis memuat
pemikiran-pemikiran para ahli yang terdahulu dan juga memuat
berbagai argumentasi atau pendapat keilmuan berdasarkan dari
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh para ahli.
4. Pengajuan hipotesis : Penulis merumuskan anggapan dasar dari
permasalahan yang akan dibahas pada karya ilmiah yang
bersangkutan, dan kemudian di uji atau di buktikan kebenarannya
dengan teori atau argumentasi yang bersangkutan dengan penulisan
yang diteliti.

C. Metodologi Penelitian
Cara atau sistem yang digunakan pada penelitian agar terbukti atau
teruji dengan benar penelitian yang diteliti. Biasanya metodologi penelitian
memuat :
1. Waktu dan tempat penelitian
2. Metode dan rancangan penelitian (model yang digunakan pada
penelitian)
3. Populasi dan sampel yang akan di uji berdasarkan objek penelitian.
4. Instrumen penelitian (alat yang digunakan pada penelitian)
5. Pengumpulan data dan analisis data
Pengumpulan data dapat dilakukan melalui penelitian survey atau
dengan menyusun kuesioner yang memuat berbagai pertanyaan dari beberapa
sampel yang akan di uji. Setelah melakukan pengumpulan data selanjutnya
akan di analisa.

D. Pada bagian pembahasan memuat :


Hasil Penelitian yang dijabarkan sebagai berikut :
1. Jabaran varibel penelitian : berisi tentang penjabaran dari variabel data
yang di teliti. Biasanya dapat berbentuk table atau grafik.
2. Hasil penelitian : Bagian ini penulis mengungkapkan hasil penelitian
yang telah di teliti. Hasil penelitiannya bisa dibuat dalam bentuk
penjabaran atau penjelasan dari variabel data yang telah dibuat ataupun
dilampirkan. Hasil penelitian ini tentunya didasarkan pada teori yang
ada pada bagian pembahasan teori dan kerangka pemikiran dari para
ahli.
3. Diskusi penelitian : mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil
yang didapatnya.

E. Bagian terakhir dari sistematika penulisan karya ilmiah adalah


bagian penutup yang memuat :
1. Kesimpulan :berisi ringkasan secara garis besar dari hasil
penelitian yang diteliti.
2. Saran :berisi masukan atau pendapat dari hasil penulisan
karya ilmiah demi kesempurnaan suatu penulisan.
F. Dan ada bagian penunjang yang memuat :
1. Daftar pustaka, berisi tentang refensi-refensi yang digunakan penulis
sebagai bahan dasar penulisan karya ilmiah. Biasanya dari buku
ataupun website.
2. Lampiran- lampiran antara lain instrumen penelitian
3. Daftar Tabel

2.6 TAHAP- TAHAP PENULISAN KARYA ILMIAH


Dalam pembuatan sebuah karya ilmiah dibutuhkan beberapa tahapan -
tahapan, diantaranya yaitu : tahap persiapan, tahap penulisan dan tahap
evaluasi.
2.6.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan dalam penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Memilih Topik dan Tema
Topik (bahasa Yunani:topoi) adalah inti utama dari seluruh isi tulisan
yang hendak disampaikan atau lebih dikenal dengan dengan topik
pembicaraan. Topik adalah hal yang pertama kali ditentukan ketika penulis
akan membuat tulisan. Wahab (1994:4) menyebutkan bahwa yang dimaksud
topik adalah bidang medan atau lapangan masalah yang akan digarap dalam
karya tulis atau penelitian. Sementara itu, tema diartikan sebagai pernyataan
sentral atau pernyataan inti tentang topik yang akan ditulis. Topik yang
memang masih terlalu luas harus dibatasi menjadi sebuah tema.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah :
a. Isu-isu yang masih hangat.
b. Peristiwa-peristiwa nasional atau internasional.
c. Sesuatu (benda, karya, orang, dan lain-lain) yang dikaitkan dengan
permasalahan politik, pendidikan, agama, dan lain-lain.
d. Pengalaman-pengalaman pribadi yang berbobot.
2. Mengumpulkan Bahan
Setelah memilih topik dan menentukan tema penulisan, penulis mulai
mengumpulkan bahan. Bahan bisa didapatkan dari berbagai media cetak
maupun elektronika. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan terutama yang
relevan dengan topik dan tema yang akan ditulis. Pemilihan bahan yang
relevan ini bisa dengan cara membaca atau mempelajari bahan secara sepintas
serta menilai kualitas isi bahan. Bahan yang sudah terkumpul tersebut bisa
dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan penulis dan sebagai landasan
teoretis dari karya tulis tersebut.
3. Survei Lapangan
Langkah ini adalah melakukan pengamatan atas obyek yang diteliti.
Menetapkan masalah dan tujuan yang akan diteliti dan dijadikan karya ilmiah.
Langkah ini merupakan titik acuan Anda dalam proses penulisan atau
penelitian.
4. Membangun Bibliografi
Bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu
cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara
sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian
tujuan bibliofrafi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau
sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.
Unsur-Unsur Bibliografi dan Contoh Penulisannya :
1) Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
2) Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
3) Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke berapa,
nomor jilid buku dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
4) Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan,
nama majalah, atau surat kabar, tanggal dan tahun.
Penyusunan Bibliografi :
1) Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
2) Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang
dimasukkan dalam urutan abjad.
3) Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan refrensi,
untuk refrensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak
diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
4) Jarak antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi.
Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
5) Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya
dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat
ketikan.
5. Menyusun Hipotesis
Langkah ini adalah menyusun dugaan-dugaan yang menjadi penyebab
dari obyek penelitian Anda. Hipotesis ini merupakan prediksi yang ditetapkan
ketika Anda mengamati obyek penelitian.
6. Menyusun Rancangan Penelitian
Merupakan kerangka kerja bagi penelitian yang dilakukan. Menyusun
rancangan penelitian sebagai langkah ketiga dari langkah-langkah menulis
karya ilmiah. Ini merupakan kerangka kerja bagi penelitian yang dilakukan.
7. Melaksanakan Percobaan Berdasarkan Metode yang Direncanakan
Langkah ini merupakan kegiatan nyata dari proses penelitian dalam
bentuk percobaan terkait penelitian yang dilakukan. Anda lakukan percobaan
yang signifikan dengan obyek penelitian.
8. Melaksanakan Pengamatan dan Pengumpulan Data
Setelah melakukan percobaan atas obyek penelitian dengan metode
yang direncanakan, maka selanjutnya Anda melakukan pengamatan terhadap
obyek percobaan yang dilakukan tersebut.
9. Menganalisis dan Menginterpretasikan Data
Langkah ini menganalisa dan menginterpretasikan hasil pengamatan
yang sudah dilakukan. Anda coba untuk menginterpretasikan segala kondisi
yang terjadi pada saat pengamatan. Di langkah inilah Anda mencoba untuk
meneliti dan memperkirakan apa yang terjadi dari pengamatan dan
pengumpulan data.
10. Merumuskan Kesimpulan dan Teori
Langkah ini merumuskan kesimpulan atau teori mengenai segala hal
yang terjadi selama percobaan, pengamatan, penganalisaan dan
penginterpretasian data. Langkah ini mencoba untuk menarik kesimpulan dari
semua yang didapatkan dari proses percobaan, pengamatan, penganalisaan,
dan penginterpretasian terhadap obyek penelitian.

2.6.2 Tahap Penulisan

Format Umum Penulisan Karya Ilmiah :


A. Bagian Permulaan
B. Halaman Sampul
1. Judul
2. Jenis laporan (KTI, skripsi, tesis, disertasi)
3. Nama, NIM Mahasiswa
4. Lambang Institusi
5. Nama Lengkap Universitas
C. Halaman logo
D.Halaman Judul (sama dengan halaman sampul)
Penulisan judul jika lebih dari 1 baris maka ditulis seperti piramida
terbalik
E. Halaman Persetujuan
1. Persetujuan Pembimbing
2. Pengesahan untuk para penguji
F. Kata Pengantar
G. Ucapan Terimakasih
H. Abstrak
I. Daftar Isi
J. Daftar tabel, gambar dan lampiran
K. Bagian Isi
L. Pendahuluan
1. Latar belakang pengambilan topik
2. Perumusan masalah
3. Tujuan
*Umum
*Khusus
4. Manfaat Penelitian

M. Kerangka Teori/Tinjauan Pustaka


N. Kerangka Konsep
1. Diagram kerangka konsep
2. Hipotesa
3. Defenisi operasional
O. Metodologi Penelitian
1. Rancangan/desain penelitian
2. Populasi
3. Pengambilan sampel
4. Cara pengolahan data
P. Hasil Penelitian
Penguraian hasil penelitian
Q. Pembahasan
Mebahas hasil penelelitian berdasarkan tinjauan kepustakaan yang
telah dibuat
R. Kesimpulan
S. Saran

2.6.3 Tahap Evaluasi


Tahap evaluasi ini bertujuan untuk memeriksa kembali tulisan yang
telah jadi ataupun memperbaiki berbagai kesalahan dan kekurangan dalam
karya tulis. Hal yang harus menjadi perhatian diantaranya yaitu isi artikel,
sistematika penyajian dan bahasa yang digunakan. Ada lima kriteria yang
bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap bagian dari menulis sebagai
berikut :
1. Fokus
Apa yang Anda menulis tentang? Apa klaim atau tesis Anda
membela? Kriteria ini adalah yang luas, berkaitan dengan konteks, tujuan,
dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah topik Anda sesuai untuk tugas?
Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena pada garis singgung tidak
membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau terlalu banyak?
Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya mungkin
terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan
lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.
2. Pembangunan
Pembangunan berkaitan dengan rincian dan bukti. Apakah Anda
menyediakan cukup bahan pendukung untuk memenuhi harapan pembaca
Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya, biasanya mencakup
banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang relevan beasiswa.
Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian tentang, komposisi
penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang seniman yang
melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung pada
penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan
untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga
senior.
3. Organisasi
Organisasi, sering disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan
tata letak kertas. Secara tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan
pengenalan, dan. Paragraf terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik
(kesatuan), dan transisi di antara kalimat dan paragraf yang halus dan logis.
Sebuah rambles kertas kurang terorganisir, melayang di antara topik yang
tidak berhubungan dengan cara serampangan dan membingungkan.
4. Gaya
Gaya secara tradisional berkaitan dengan kejelasan, keanggunan
presisi, dan. Sebuah stylist yang efektif tidak hanya mampu menulis dengan
jelas untuk penonton, tetapi juga bisa menyenangkan mereka dengan bahasa
menggugah, metafora, irama, atau kiasan. Penata Efektif bersusah payah tidak
hanya untuk membuat titik, namun untuk membuatnya dengan baik.
5. Konvensi
Kriteria ini meliputi tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-
isu lain yang ditentukan oleh konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa
berjuang dengan konvensi, pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan
koma dalam sebuah kalimat biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang
berharga untuk menulis di tempat pertama. Namun demikian, kesalahan yang
berlebihan dapat membuat bahkan seorang penulis brilian tampak ceroboh
atau bodoh, kualitas yang jarang akan terkesan pembaca seseorang.
2.7 CONTOH KARYA ILMIAH BAHAYA MEROKOK
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sangat ironis memang bahwa manusia sangat memperhatikan
keseimbangan alam akibat proses pembakaran bahan bakar oleh industri yang
mengeluarkan polusi, tetapi dilain pihak orang-orang dengan sengaja
mengalirkan gas produksi pembakaran rokok ke paru-paru mereka.
Kebiasaan merokok telah menjadi budaya diberbagai bangsa di
belahan dunia. Mayoritas perokok diseluruh dunia ini, 47 persen adalah
populasi pria sedangkan 12 persen adalah populasi wanita dengan berbagai
kategori umur. Latar belakang merokok beraneka ragam, di kalangan remaja
dan dewasa pria adalah faktor gengsi dan agar disebut jagoan, malahan ada
salah satu pepatah menarik yang digunakan sebagai pembenar atas kebiasaan
merokok yaitu `ada ayam jago diatas genteng, ngga merokok ngga ganteng`.
Sedangkan kalangan orang tua, stres dan karena ketagihan adalah faktor
penyebab keinginan untuk merokok.
Berbagai alasan dan faktor penyebab untuk merokok diatas biasanya
kalah seandainya beradu argumen dengan pakar yang ahli tentang potensi
berbahaya atas apa ditimbulkan dari kebiasaan merokok baik bagi dirinya
sendiri, orang lain dan lingkungan. Harus diakui banyak perokok yang
mengatakan bahwa merokok itu tidak enak tetapi dari sekian banyak pamflet,
selebaran, kampanye anti rokok, sampai ke bungkus rokoknya diberi
peringatan akan bahaya kesehatan dari rokok, tetap tak bisa mengubris secara
massal berkurangnya kebiasaan merokok dan jumlah perokok

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang yang telah kami uraikan maka masalah yang akan kami
bahas:
1. Apa dampak dari merokok?
2. Zat apa yang terkandung di dalam dan yang paling berbahaya?
3. Upaya apa yang dilakukan bagi perokok di sekolah?
4. Apa aktor penyebab perilaku merokok pada remaja?

1.3.TUJUAN PENELITIAN
- Untuk mengetahui Bahaya merokok.
- Untuk mengetahui faktor – faktor penyebab perilaku merokok pada
remaja.
- Untuk mengetahui apa itu rokok

1.4 METODE PENELITIAN


Metode yang kami gunakan adalah:
- Deskriptif
- Kajian pustaka dilakukan dengan mencari literatur di internet da buku
– buku panduan

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
1.2.Perumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.4.Metode Penelitian
1.5.Sistematika penulisan
BAB II KERANGKA TEORI
2.1.Pengertian Rokok
2.2.Dampak dari merokok
2.3.Faktor penyebab merokok pada remaja
2.4.Upaya mengatasi rokok
BAB III ZAT YANG TERKANDUNG DALAM ROKOK
3.1.Rokok dan Reaksi Kimia (Pembakaran)
3.2.Reaksi pembakaran rokok
3.3.Rokok dan proses penguapan uap air dan nikotin
3.4.Tar dan Asap Rokok
3.5.Gas CO (Karbon Mono Oksida)
3.6.Nikotin dan kerja nikotin
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

BAB II
KERANGKA TEORI

2.1. Pengertian Rokok


Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga
120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang
berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu
ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut
pada ujung lain.
Ada dua jenis rokok, rokok yang berfilter dan tidak berfilter. Filter
pada rokok terbuat dari bahan busa serabut sintetis yang berfungsi menyaring
nikotin. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau
kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong.
Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya
disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya
kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru
atau serangan jantung ( walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan,
jarang sekali dipatuhi ).
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku
bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau
roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika,
sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok
dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok
mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa
Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya
untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke
Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.
Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti
merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu
terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun
orang di sekitar perokok yang bukan perokok.

2.2. Dampak dari Merokok


Sebagaimana kita ketahui di dalam asap sebatang rokok yang dihisap
oleh perokok, tidak kurang dari 4000 zat kimia beracun. Zat kimia yang
dikeluarkan ini terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel. Nikotin,
gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein,
asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-
etilkatekol,ortokresoldan perylene adalah sebaian dari beribu – ribu zat di
dalam rokok.
Jumlah kematian dan klaim perokok Menurut penelitian Organisasi
Kesehatan dunia (WHO), setiap satu jam, tembakau rokok membunuh 560
orang diseluruh dunia. Kalau dihitung satu tahun terdapat 4,9 juta kematian
didunia yang disebabkan oleh tembakau rokok. Kematian tersebut tidak
terlepas dari 3800 zat kimia, yang sebagian besar merupakan racun dan
karsinogen (zat pemicu kanker), selain itu juga asap dari rokok memiliki
benzopyrene yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang dihasilkan akibat
pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya
yang merupakan penyebab langsung mutasi gen. Hal ini berbanding terbalik
dengan sifat output rokok sendiri terhadap manusia yang bersifat abstrak serta
berbeda dengan makanan dan minuman yang bersifat nyata dalam tubuh dan
dapat diukur secara kuantitatif.
Selain mengklaim mendapatkan kenikmatan dari output rokok,
perokok juga mengklaim bahwa rokok dapat meningkatan ketekunan bekerja,
meningkatkan produktivitas dan lain-lain. Tetapi klaim ini sulit untuk
dibuktikan karena adanya nilai abstrak yang terlibat dalam output merokok.
Para ahli malah memperkirakan bahwa rokok tidak ada hubunganya dengan
klaim-klaim di atas. Malah terjadi sebaliknya, menurunnya produktiviats
seseorang karena merokok akibat terbaginya waktu bekerja dan merokok.
Selain itu berdasarkan penelitian terbaru menyatakan bahwa merokok dapat
menurunkan IQ. (dari berbagai sumber).
Bahaya bagi tubuh yaitu bisa mengakibatkan kanker, paru-paru,
impotensi dan gangguan pada janin, sedangkan bahaya bagi lingkungan dapat
menimbulkan polusi udara yang ditimbulkan dari asap rokok yang dihisap.
Sebenarnya yang paling berbahaya diantara perokok pasif dan perokok aktif,
perokok pasif lah yang berbahaya sebab perokok pasif menghisap asap rokok
yang paling banyak. Rokok juga selain berbahaya juga bisa mematikan dan
akan menimbulkan kecanduan kepada pemakainya.
Merokok bagi orang dewasa bisa berbahaya apalagi bagi anak-anak
yang masih duduk di bangku sekolah. Oleh Karena itu, merokok dilarang di
sekolah maupun di luar sekolah. Akibat negatif dari rokok, sesungguhnya
sudah mulai terasa pada waktu orang baru mulai menghisap rokok. Dalam
asap rokok yang membara karena diisap, tembakau terbakar kurang sempurna
sehingga menghasilkan CO (karbon mono oksida), yang disamping asapnya
sendiri, tar dan nikotine (yang terjadi juga dari pembakaran tembakau
tersebut) dihirup masuk ke dalam jalan napas. CO, Tar, dan Nikotin tersebut
berpengaruh terhadap syaraf yang menyebabkan :
1. Gelisah, tangan gemetar (tremor)
2. Cita rasa / selera makan berkurang
3. Ibu-ibu hamil yang suka merokok dapat kemungkinan keguguran
kandungannya.

2.3. Faktor Penyebab Merokok pada Remaja


Ada beberapa faktor yang mendorong remaja untuk merokok, di antaranya:
1. Faktor orangtua dan keluarga
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda
yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua
tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman
fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak
muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer &
Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294). Selain itu, anak-
anak yang mempunyai orang tua perokok, lebih rentan untuk terpengaruh
dan mencontoh orang tuanya.
2. Temanku merokok
Banyak fakta membuktikan bahwa remaja perokok, kemungkinan besar
teman-temannya juga perokok, dan sebaliknya. Diantara remaja perokok
terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat
yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991).
3. Pribadiku
Ada yang mencoba merokok hanya karena alasan ingin tahu. Mungkin
juga karena ingin mengobati rasa sakit fisik maupun jiwa, mengusir
bosan. Selain alasan tersebut, konformitas sosial juga menjadi pemicu.
Orang yang memiliki skor tinggi pada tes konformitas sosial lebih mudah
menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang
rendah (Atkinson, 1999).
4. Iklan rokok ternyata…
Iklan-iklan di berbagai media yang memberikan gambaran bahwa
perokok adalah lambang keglamouran, cowok banget, memicu remaja
untuk ikut berperilaku seperti itu.
Nah, jika kamu sudah terperangkap dalam status perokok saat ini, tenang
saja. Ada berbagai upaya pencegahan jika kamu ingin berubah

2.4. Upaya mengatasi rokok


Merokok di sekolah yang dilakukan siswa kini semakin banyak, itu
dikarenakan siswa yang satu mengajak siswa yang lainnya atau dikarenakan
oleh faktor pergaulan. Oleh karena itu para guru lebih ketat lagi dalam
melakukan pengawasan dengan mengelilingi tempat-tempat yang sering
dijadikan tempat merokok. Selain itu juga melakukan peringatan yang lebih
tegas lagi agar para pelanggar khususnya perokok jera dan tidak melakukan
hal tersebut lagi baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Jika karena kecanduan, maka tips yang harus dilakukan adalah:
Pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi pada tubuh ketika
masa krisis karena berhenti merokok (biasanya 1,5 sampai 2 minggu).
Minumlah banyak air putih, makan banyak sayur dan buah-buahan
setiap kali timbul keinginan untuk merokok Berbicara atau berkomunikasilah
dengan orang lain dan tetaplah menyibukkan diri Berolahraga yang
menyennagkan dan disukai secara teratur dan terukur Pijatlah daerah
punggung dan leher, lalu tariklah napas dalam-dalam. Jika karena
ketergantungan, maka putuskan semua hubungan antara rokok dan kebiasaan-
kebiasaan yang sering dilakukan dengan tips berikut ini:
1. Jika ingin merasakan rokok di tangan, bermainlah dengan barang-
barang lain seperti pensil, pena, atau membaca buku
2. Jika ada keinginan untuk menyalakan rokok, jauhkan rokok dari
jangkauan dan buanglah korek api
3. Jika biasa merokok sesudah makan, segeralah bangkit dari duduk
setelah makan, gosok gihi dan pergilah berjalan atau lakukan kegiatan
yang membuat lupa pada rokok
4. Jika merokok disertai dengan minum kopi, maka ganilah kopi dengan
jus buah dll
5. Jika merokok untuk menenangkan diri, maka cobalah untuk
mengingat bahaya merokok dapat mengakibatkan penyakit jantung,
paru-paru, kanker, stroke, keguguran, dll.
Berikut ini beberapa tips yang perlu diperhatikan:
1. Tanyalah pada diri sendiri, apakah ada teman, saudara, atau tetangga
yang menderita salah satu penyakit di atas. Bayangkan jika penyakit
tersebut menyerang diri kita sendiri.
2. Jika keinginan untuk merokok sangat kuat, lakukanlah olahraga
ringan seperti berjalan-jalan atau lakukan kegiatan yang menjadi
kegemaran atau hobi Anda.
3. Jika berpikir bahwa merokok dapat membuat kita menjadi tenang atau
nyaman, maka katakanlah dan akuilah secara jujur bahwa rokok tidak
mungkin bisa mengatasi masalah yang ada.
4. Untuk mengatasi masalah ini, perlu melibatkan keluarga, teman, dan
saudara untuk membantu mengalihkan perhatian dari rokok. Jika ingin
berhenti merokok harus menetapkan tindakan yang akan dipilih atau
perilaku apa yang paling mudah diubah berkaitan dengan situasi
merokok.
5. Buatlah pernyataan untuk berhenti merokok, kemudian bacalah
pernyataan tentang niat berhenti merokok di depan teman atau saudara
atau anggota keluarga yang akan menjadi pengingat agar keinginan
berhenti merokok tercapai.

BAB III
ZAT YANG TERKANDUNG DALAM ROKOK

3.1 Rokok dan Reaksi Kimia (Pembakaran)


Proses pembakaran rokok tidaklah berbeda dengan proses pembakaran
bahan-bahan padat lainnya. Rokok yang terbuat dari daun tembakau kering,
kertas dan zat perasa, dapat dibentuk dari unsur Carbon (C), Hidrogen (H),
Oksigen (O), Nitrogen (N) dan Sulfur (S) serta unsur-unsur lain yang
berjumlah kecil. Rokok secara keseluruhan dapat diformulasikan secara kimia
yaitu sebagai (CvHwOtNySzSi).
Dua reaksi yang mungkin terjadi dalam proses merokok Pertama adalah
reaksi rokok dengan oksigen membentuk senyawa-senyawa seperti CO2,
H2O, NOx, SOx, dan CO. Reaksi ini disebut reaksi pembakaran yang terjadi
pada temperatur tinggi yaitu diatas 800oC. Reaksi ini terjadi pada bagian
ujung atau permukaan rokok yang kontak dengan udara. CvHwOtNySzSi +
O2 -> CO2+ NOx+ H2O + SOx + SiO2 (abu) ((pada suhu 800oC))

3.2 Reaksi pembakaran rokok


Reaksi yang kedua adalah reaksi pemecahan struktur kimia rokok
menjadi senyawa kimia lainnya. Reaksi ini terjadi akibat pemanasan dan
ketiadaan oksigen. Reaksi ini lebih dikenal dengan pirolisa. Pirolisa
berlangsung pada temperatur yang lebih rendah dari 800oC. Sehingga rentang
terjadinya pirolisa pada bagian dalam rokok berada pada area temperatur 400-
800oC. Ciri khas reaksi ini adalah menghasilkan ribuan senyawa kimia yang
strukturnya komplek.
CvHwOtNySzSi -> 3000-an senyawa kimia lainnya + panas produk ((pada
suhu 400-800oC))
Reaksi Pirolisa
Walaupun reaksi pirolisa tidak dominan dalam proses merokok, tetapi
banyak senyawa yang dihasilkan tergolong pada senyawa kimia yang beracun
yang mempunyai kemampuan berdifusi dalam darah. Proses difusi akan
berlangsung terus selagi terdapat perbedaan konsentrasi. Tidak perlu
disangkal lagi bahwa titik bahaya merokok ada pada pirolisa rokok.
Sebenarnya produk pirolisa ini bisa terbakar bila produk melewati temperatur
yang tinggi dan cukup akan Oksigen. Hal ini tidak terjadi dalam proses
merokok karena proses hirup dan gas produk pada area temperatur 400-800oC
langsung mengalir kearah mulut yang bertemperatur sekitar 37oC.
3.3 Rokok dan proses penguapan uap air dan nikotin
Selain reaksi kimia, juga terjadi proses penguapan uap air dan nikotin yang
berlangsung pada temperatur antara 100-400oC. Nikotin yang menguap pada
daerah temperatur di atas tidak dapat kesempatan untuk melalui temperatur
tinggi dan tidak melalui proses pembakaran. Terkondensasinya uap nikotin
dalam gas tergantung pada temperatur, konsentrasi uap nikotin dalam gas dan
geometri saluran yang dilewati gas.
Pada temperatur dibawah 100oC nikotin sudah mengkondensasi, jadi
sebenarnya sebelum gas memasuki mulut, kondensasi nikotin telah terjadi.
Berdasarkan keseimbangan, tidak semua nikotin dalam gas terkondensasi
sebelum memasuki mulut sehingga nantinya gas yang masuk dalam paru-paru
masih mengandung nikotin. Sesampai di paru-paru, nikotin akan mengalami
keseimbangan baru, dan akan terjadi kondensasi lagi.
Jadi, ditinjau secara proses pembakaran, proses merokok tidak ada
bedanya dengan proses pembakaran kayu di dapur, proses pembakaran
minyak tanah di kompor, proses pembakakaran batubara di industri semen,
proses pembakaran gas alam di industri pemanas baja dan segala proses
pembakaran yang melibatkan bahan bakar dan oksigen. Sangat ironis
memang bahwa manusia sangat memperhatikan keseimbangan alam akibat
proses pembakaran bahan bakar oleh industri yang mengeluarkan polusi,
tetapi dilain pihak orang-orang dengan sengaja mengalirkan gas produksi
pembakaran rokok ke paru- paru mereka.

3.4 Tar dan Asap Rokok


Zat berbahaya ini berupa kotoran pekat yang dapat menyumbat dan
mengiritasi paru – paru dan sistem pernafasan, sehingga menyebabkan
penyakit bronchitis kronis, emphysema dan dalam beberapa kasus
menyebabkan kanker paru – paru ( penyakit maut yang hampir tak dikenal
oleh mereka yang bukan perokok ).Racun kimia dalam TAR juga dapat
meresap ke dalam aliran darah dan kemudian dikeluarkan di urine.TAR yang
tersisa di kantung kemih juga dapat menyebabkan penyakit kanker kantung
kemih. Selain itu Tar dapat meresap dalam aliran darah dan mengurangi
kemampuan sel – sel darah merah untuk membawa Oksigen ke seluruh tubuh,
sehingga sangat besar pengaruhnya terhadap sistem peredaran darah.
Tar dan asap rokok merangsang jalan napas, dan tar tersebut tertimbun
disaluran itu yang menyebabkan :
 Batuk-batuk atau sesak napas
 Tar yang menempel di jalan napas dapat menyebabkan kanker jalan
napas,
lidah atau bibir.

3.5 Gas CO (Karbon Mono Oksida)


Gas CO juga berpengaruh negatif terhadap jalan napas dari pembuluh
darah. Karbon mono oksida lebih mudah terikat pada hemoglobin daripada
oksigen. Oleh sebab itu, darah orang yang kemasukan CO banyak, akan
berkurang daya angkutnya bagi oksigen dan orang dapat meninggal dunia
karena keracunan karbon mono oksida. Pada seorang perokok tidak akan
sampai terjadi keracunan CO, namun pengaruh CO yang dihirup oleh
perokok dengan sedikit demi sedikit, dengan lambat namun pasti akan
berpengaruh negatif pada jalan napas dan pada pembuluh darah.

3.6 Nikotin dan kerja nikotin


Adalah suatu zat yang dapat membuat kecanduan dan mempengaruhi
sistem syaraf, mempercepat detak jantung ( melebihi detak normal ) ,
sehingga menambah resiko terkena penyakit jantung.Selain itu zat ini paling
sering dibicarakan dan diteliti orang, karena dapat meracuni saraf tubuh,
meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah
tepi dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan pada pemakainya.
Kadar nikotin 4-6 mg yang dihisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa
membuat seseorang ketagihan. Selain itu Nikotin berperan dalam memulai
terjadinya penyakit jaringan pendukung gigi karena nikotin dapat diserap oleh
jaringan lunak rongga mulut termasuk gusi melalui aliran darah dan
perlekatan gusi pada permukaan gigi dan akar. Nikotin dapat ditemukan pada
permukaan akar gigi dan hasil metabolitnya yakni kontinin dapat ditemukan
pada cairan gusi.
Nikotin merangsang bangkitnya adrenalin hormon dari anak ginjal yang
menyebabkan :
- Jantung berdebar-debar
- Meningkatkan tekanan darah serta kadar kolesterol dalam darah,
berhubungan erat terjadinya serangan jantung
Saat merokok, nikotin mulai diserap aliran darah dan diteruskan ke otak.
Nikotin terikat di reseptor nikotinat antikolinergik 42 di ventral tegmental
area (VTA). Nikotin yang terikat di reseptor 42 akan melepaskan dopamin di
nucleus accumbens (nAcc). Dopamin itulah yang diyakini menimbulkan
perasaan tengan dan nyaman. Tak heran bila perokok akan kembali merokok
untuk memperoleh efek nyaman itu.
Bila perokok mulai mengurangi atau berhenti merokok maka asupan
nikotin berkurang dan pelepasan dopamin juga berkurang, akibatnya timbul
gejala putus obat berupa iritabilitas dan stress.
Hal itu menyebabkan jalan untuk berhenti merokok menjadi sulit
karena rasa ketagihan terhadap nikotin. Peran verenicline berfungsi sebagai
pemutus rantai adiksi. Biasanya nikotin berikatan dengan reseptor 42, namun
nanti yang akan berkaitan dengan reseptor 42 adalah verenicline yang bekerja
dengan dua cara. Pertama, verenicline menstimulasi reseptor untuk
melepaskan dopami secara pasrial, tujuanya untuk mengurangi gejala putus
obat berupa pusing, sulit berkosentrasi atau badmood yang ditimbulkan dari
proses berhenti merokok.
Kedua, verenicline menghalangi nikotin yang menempel di reseptor. Jadi bila
merokok kembali, nikotin tidak dapat menempel di reseptor, sehingga
mengurangi rasa nikmat dari rokok tersebut. = Verenicline dapat diberikan
pada perokok dewasa atau minimal usia 18 tahun yang ingin berhenti
merokok. Verenicline dapat diberikan pada perokok berat maupun ringan.
Dosis awal yang diberikan ringan yang ditingkatkan secara perlahan-lahan.
Untuk mencapai kesembuhan berhenti merokok, dibutuhkan waktu selama
tiga bulan, baik bagi perokok berat atau ringan.
Efek samping verenicline adalah mual, nyeri kepala, insomnia dan
mimpi abnormal. Meski demikian, manfaat yang ditimbulkan dari berhenti
merokok jauh lebih besar karena dalam sebatang rokok terkandung lebih dari
4 ribu bahan kimia dan 250 zat karsinogenik.
Bahkan bahan kimia yang ditemukan pada asap tembakau (rokok) seperti
aseton, butan, arsenic, cadmium, karbon monoksida dan toluene sama seperti
yang ditemukan pada bahan industri. Jadi dapat dibayangkan bukan dampak
buruk rokok?

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Melihat kenyataan yang ada pada uraian sebelumnya, dapat dikatakan
rokok itu lebih banyak dampak negativnya dari pada dampak positifnya.
Apabila hal ini dibiakan terus berlangsung, maka akan mengakibatkan
permasalahan yang serius pada kesehatan tubuh manusia. Dan seharusnya
masyarakat sadar akan bahaya merokok bagi kesehatan tubuh mereka. Namun
hal itu masih sulit dilakukan di Indonesia.

4.2. Saran
Setelah membaca kartulis ini, semoga masyarakat dapat tersadarkan
akan bahaya rokok bagi kesehatan mereka dan segera meninggalkan
kebiasaan merokoknya, supaya kesehatan mereka tetap terjaga dan nantinya
menjadikan tubuh mereka sehat bugar dan terhindar dari penyakit yang
mengancam jiwa mereka.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan
hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau
sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan
dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Prinsip-prinsip dalam sebuah karya
ilmiah meliputi : Objektivitas, Empiris, Rasional, serta Dedukatif dan
Induktif.
Karya ilmiah dapat dibedakan atas beberapa jenis yang ditinjau dari
berbagai sudut pandang seperti ; ditinjau dari pendekatannya ,bentuk dan
sasarannya atau pembacanya. Secara umum, sebuah karya ilmiah terbagi
dalam tiga bagian besar. Bagian yang dimaksud ialah pendahuluan, isi, dan
pembahasan. Pada bagian pendahuluan memuat latar belakang masalah,
perumusan dan pembatasan masalah, tujuan penelitian serta manfaat
penelitian. Pada bagian isi memuat kajian teori atau tinjauan kepustakaan,
pembahasan teori, kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan dan
pengajuan hipotesis. Pada bagian pembahasan memuat hasil penelitian seperti
jabaran varibel penelitian yang berisi tentang penjabaran dari variabel data
yang di teliti, hasil penelitian bisa dibuat dalam bentuk penjabaran atau
penjelasan dari variabel data yang telah dibuat ataupun dilampirkan, dan
terakhir diskusi penelitian yang mengungkapkan pandangan teoritis tentang
hasil yang didapatnya. Contoh karya ilmiah dapat diambil dari makalah,
laporan, skripsi, dan tesis.
Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah, antara lain untuk
menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan
gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk
menyebarluaskan ilmu pengetahuan / hasil penelitian. Karya ilmiah dapat
berfungsi sebagai rujukan, untuk meningkatkan wawasan, serta
menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Bagi penulis, menulis karya ilmiah
bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, berlatih
mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis,
memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual, di samping
menyumbang terhadap perluasan cakrawala ilmu pengetahuan.

3.2 Saran
Dalam penulisan karya ilmiah banyak aspek yang harus diketahui oleh
calon pembuat karya ilmiah karena itu sangat berperan dengan hasil karya
ilmiah yang akan dibuat, misalnya, calon penulis karya ilmiah paling tidak
harus mengetahui etika dan kode etik dalam penulisan karya ilmiah, tekhnik
penyusunan karya ilmiah yang baik dan benar dan sikap-sikap dalam menulis
karya ilmiah serta harus menjalani dan menerima berbagai kendala dan
masalah dalam proses penulisan karya ilmiah, Oleh karena itu butuh suatu
pembelajaran ketika akan membuat karya ilmiah.
DAFTAR RUJUKAN

Aprilianti, Eka. 2012. Makalah Karya Tulis Ilmiah Bahasa Indonesia ( online
) (http:// 14april 92. Blogspot. Com/ 2012/01/makalah- karya- tulis-
ilmiah- bindonesia. html , diunduh 9 Desember 2018).

Bela, Sopia. 2012. Pengertian Jenis dan Ciri Karya Tulis. (online) ( http://
chetarmembahana. blogspot. com/ 2012/ 12/ pengertian- jenis- dan –
ciri – karya –tulis.html, diunduh diunduh 9 Desember 2018).

Mega, Meilani. 2011. Prinsip- Prinsip Metode Ilmiah (online) (


http://chemistry smart challenge 2011. Blogspot.
Com/2011/01/prinsip-prinsip- metode- ilmiah. html, diunduh 9
Desember 2018 ).

Utami, Lia. 12 Desember 2011. Penulisan Karya Ilmiah ( Online ) (http://


liautami. wordpress. com/ 2012/ 10/ 14/ bagian- karya- ilmiah/ ,
diunduh 9 Desember 2018 )

. https://www.scribd.com/doc/246811184/Makalah-Karya-Ilmiah. (Diunduh 9
Desember 2018)