Anda di halaman 1dari 29

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH
PERPAJAKAN

KONSEP DASAR PPN DAN PPnBM

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1. Guslidiawati (1710246651)
2. Novia Kepriyani (1710246649)
3. Tuti Andayani (1710246653)

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS RIAU
2018/2019
Daftar Isi

COVER
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 2
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 2
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Rumusan Masalah ................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 4
A. Faktur Pajak ............................................................................................................ 4
B. Pembuatan Faktur Pajak ......................................................................................... 4
C. Nota Retur atau Nota Pembatalan Atas BKP yang dikembalikan atau JKP yang
dibatalkan ................................................................................................................ 8
D. Tarif PPN & PPnBM .............................................................................................. 10
E. Dasar Pengenaan Pajak ........................................................................................... 10
F. Hubungan Istimewa dan Kaitannya dengan DPP .................................................. 13
G. Tata Cara Pembayaran dan Pelaporan PPN dan PPnBM........................................ 14
H. Tata Cara Pengkreditan Pajak ................................................................................. 16
I.Pencatatan Transaksi PPN dan PPnBM .................................................................... 21
J.Kasus Pelanggaran Pajak .......................................................................................... 25
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 30

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pajak merupakan kewajiban warga negara yang menunjukan peran serta dari seluruh
masyarakat dalam pembiayaan pemerintah untuk menjalankan pemerintahan dan pembangunan.
Pajak telah terbukti menjadi sumber utama dalam APBN Indonesia yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembiayaan pengeluaran negara yang bersumber dari
pajak menunjukan adanya kemandirian bangsa untuk mencapai cita-cita luhur dalam Undang-
Undang Dasar 1945.
Pajak pada dasarnya merupakan peralihan sebagian kekayaan dari masyarakat kepada
negara yang dimungkinkan oleh Undang-Undang Pajak. Peralihan kekayaan tersebut membuat
pajak dipandang dari dua sisi yang berbeda. Bagi masyarakat seringkali pajak dinggap sebagai
beban. Di sisi lain bagi pemerintah dan fiskus pajak harus dipungut karena terbukti pajak
memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penerimaan pajak, baik dengan usaha
intensifikasi maupun ekstensifikasi pajak.
Jenis pajak yang seringkali kita temui dikehidupan sehari-hari adalah PPN (Pajak
Pertambahan Nilai) dan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah). Kedua jenis pajak ini
sangat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pembangunan negara ini, karena pajak
tersebut yang sering atau acapkali kita bayarkan baik secara langsung maupun tidak langsung
dikehidupan sehari-hari.
Sebagai warga negara kita tidak hanya sekadar mengetahui secara sepintas tentang PPN
dan PPnBm, tetapi juga harus mendalami bagaimana sebenarnya kedua jenis pajak ini serta seluk
beluk yang menyangkut hal tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana ketentuan Faktur Pajak?


2. Bagaimana ketentuan nota retur?
3. Apa yang menjadi dasar pengenaan pajak?
4. Bagaimana hubungan istimewa dan kaitannya dengan DPP
5. Bagaimana cara menghitung dan pelaporan PPN dan PPn BM

2
6. Bagaimana mekanisame Kredit Pajak
7. Bagaiamana pencatatan transaksi PPN dan PPnBM

C. Di dalam suatu hal pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu, begitu pun dengan makalah
yang kami sajikan memiliki tujuan. Dari rumusan di atas maka adapun tujuannya adalah sebagai
berikut :
1. Untuk menjelaskan ketentuang yang berkaitan dengan Faktur Pajak
2. Untuk menjelaskan ketentuan yang berkaitan dengan Nota Retur
3. Untuk menjelaskan DPP dari PPN dan PPnBM
4. Untuk menjelaskan hubungan istimewa dan kaitannya dengan DPP
5. Untuk mjelaskana perhitunga dan pelaporan PPN dan PPnBM
6. Untuk menjelaska mekanisme Kredit Pajak
7. Untuk mejelasjan transaksi PPN dan PPnBM

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktur Pajak
Faktur Pajak adalah bukti pengutan yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang
melakukan penyerahan Barang /kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak. Pengusaha
Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak untu setiap penyerahan Kena Pajak untu setiap
penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud, dan atau ekspor Jasa Kena Pajak.
Pengusaha Kena Pajak dapat membuat 1 (satu) Faktur Pajak meliputi seluruh penyerahan
yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama
Selama satu bulan kalender yang disebut dengan Faktur Pajak Gabungan

B. Pembuatan Faktur Pajak


Berikut adalah saat pembuatan Faktur pajak sesuai Peraturan Menteri Keuangan No.
151/PMK.011/2013.
a. Penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang bergerak
a.1 Penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang bergerak,
terjadi pada saat:
1. BKP berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada pembeli atau pihak
ketigauntuk dan atas nama pembeli;
2. BKP berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada penerima barang untuk
pemberian cuma-cuma, pemakaian sendiri, dan penyerahan dari pusat ke cabang atau
sebaliknya dan/atau penyerahan antar cabang;
3. BKP berwujud tersebut diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha jasa angkutan;
atauharga atas penyerahan BKP diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau pada saat
diterbitkan faktur penjualan oleh PKP, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan diterapkan secara konsisten.
b. Penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak,
terjadi pada saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai BKP berwujud tersebut,
secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli.

4
c. penyerahan BKP tidak berwujud
c.1 penyerahan BKP tidak berwujud, terjadi pada saat:
1. harga atas penyerahan BKP tidak berwujud diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau
pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten; atau
2. kontrak atau perjanjian ditandatangani, atau saat mulai tersedianya fasilitas atau
kemudahan untuk dipakai secara nyata, sebagian atau seluruhnya.
d. BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan terjadi, adalah pada saat
yang terjadi lebih dahulu di antara saat:
1. ditandatanganinya akta pembubaran oleh Notaris;
2. berakhirnya jangka waktu berdirinya perusahaan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar;
3. tanggal penetapan Pengadilan yang menyatakan perusahaan dibubarkan; atau
4. diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah tidak melakukan kegiatan
usaha atau sudah dibubarkan, berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan data atau
dokumen yang ada.
e. Pengalihan BKP dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan
pengambilalihan usaha yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 1A ayat 2 huruf d UU PPN atau
perubahan bentuk usaha, terjadi pada saat:
1. Sisepakati atau ditetapkannya penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan,
pengambilalihan usaha, atau perubahan bentuk usaha sesuai hasil Rapat Umum
Pemegang Saham yang tertuang dalam perjanjian penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau perubahan bentuk usaha; atau
2. ditandatanganinya akta mengenai penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau
pengambilalihan usaha, atau perubahan bentuk usaha oleh Notaris.
f. Saat Penyerahan Jasa Kena Pajak, yaitu;
1. harga atas penyerahan JKP diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau pada saat
diterbitkan faktur penjualan oleh PKP, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan diterapkan secara konsisten;
2. kontrak atau perjanjian ditandatangani; atau

5
3. mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian atau
seluruhnya, dalam hal pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri JKP.
g. Saat ekspor BKP Berwujud terjadi pada saat BKP dikeluarkan dari Daerah Pabean.
h. Saat ekspor BKP tidak berwujud terjadi pada saat Penggantian atas BKP Tidak Berwujud
yang diekspor tersebut dicatat atau diakui sebagai piutang atau penghasilan.
i. Saat ekspor JKP terjadi pada saat Penggantian atas jasa yang diekspor tersebut dicatat atau
diakui sebagai piutang atau penghasilan.
Selain Faktur Pajak yang dimaksud diatas PKP dapat menerbitakan Faktur pajak Gabungan yang
meliputi seluruh penyerahan BKP/JKP selama satu bulan kalender, Faktur pajak tersebut harus
dibuat paling lambat akhir bulan penyerahan BKP/JKP.
Dalam Faktur pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan BKP dan atau
penyerahan JKP yang paling sedikit memuat :
1. Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP
2. Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP
3. Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan harga
4. PPN yang dipungut
5. PPnBM yang dipungut
6. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak
7. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur pajak

6
Gambar II.1
Contoh Faktur Pajak

C. Nota Retur Atau Nota Pembatalan Atas Barang Kena Pajak yang Dikembalikan atau
Jasa Kena Pajak yang Dibatalkan

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas penyerahan Barang
Kena Pajak yang dikembalikan (retur) dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dibatalkan,
dapat dikurangkan dari PPN dan PPnBM yang terhutang dalam masa pajak terjadinya
pengembalian BKP atau pembatalan JKP. Pembeli BKP atau penerima JKP harus membuat dan
menyampaikan Nota Retur atau Nota Pembatalan kepada Pengusaha Kena Pajak (PK) penjual,
jika terjadi pengembalian Barang Kena Pajak (BKP) atau pembatalan Jasa Kena Pajak (JKP),
kecuali diganti dengan BKP/JKP yang jenisnya, tipenya, jumlahnya dan harganya sama

7
Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dengan nota retur dan nota pembatalan adalah
1. Nota Retur paling sedikit memuat :
a. Nomor Nota Retur
b. Nomor Seri dan tanggal Faktur Pajak dari BKP yang dikembalikan
c. Nama, alamat, NPWP pembeli
d. Nama, alamat, NPWP PKP Penjual
e. Jenis Barang dan Jumlah harga jual BKP yang dikembalikan
f. PPN atas BKP yang dikembalikan
g. PPnBM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan
h. Tanggal pembuatan Nota Retur
i. Nama dan tandatangan yang berhak menandatangani nota retur
2. Nota pembatalan paling sedikit memuat
a. Nomor Nota pembatalan
b. Nomor seri dan tanggal faktur pajak dari JKP yang dibatalkan
c. Nama, alamat, dan NPWP PKP Pemberi Jasa Kena Pajak
d. Jenis jasa dan jumlah penggantian JKP yang dibatalkan
e. PPN atas JKP yang dibatalkan
f. Tanggal pembuatan Nota pembatalan
g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota pembatalan
3. Dianggap tidak terjadi pengembalian BKP atau pembatalan JKP jika Nota Retur atau Nota
Pembatalan, tidak dibuat pada saat BKP dikembalikan atau JKP dibatalkan dan tidak
menyampaikan lembar ke-3 nota retur ke KPP pembeli sehingga tidak dapat mengurangi
Pajak Keluaran bagi penjual atau Pajak Masukan, atau harta, atau biaya bagi pembeli.
4. Nota Retur atau Nota Pembatalan dibuat paling sedikit rangkap 2(dua):
1. Lembar ke-1 : untuk PKP penjual/pemberi JKP
2. Lembar Ke-2 : untuk arsip pembeli/penerima JKP
C.1 Nota Retur atau nota pembatalan harus dibuat pada saat terjadinya pengembalian
BKP atau pembatalan JKP
Nota Retur atau Nota Pembatalan yang dibuat oleh pembeli BKP atau penerima JKP dan
yang diterima oleh Pengusaha Kena Pajak penjual harus dilaporkan dalam SPT Masa PPN agar

8
dapat mengurangi PPN/PPnBM yang telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN sebelumnya.
Dampaknya bagi penjual maupun pembeli adalah :
1. Pengurangan Pajak Keluaran atau Pajak Keluaran dan PPnBM oleh PKP penjual dan/atau
PKP pemberi JKP dilakukan dalam Masa Pajak saat terjadinya pengembalian BKP atau
pembatalan JKP
2. Pengurangan Pajak Masukan, pengurangan harta, atau pengurangan biaya oleh pembeli
atau penerima JKP dilakukan dalam Masa Pajak saat terjadinya pengembalian BKP atau
pembatalan JKP
Gambar II.2
Nota Pembatalan

Gamba II.3
Contoh Nota Retur

9
C. Tarif PPN& PP
a Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen)
b. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (Nol Persen) diterapkan pada:
1) Ekspor Barang Kena Pajak berwujud,
2) Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud, dan/atau
3) Ekspor Jasa Kena Pajak.
c. Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah
5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarif nya
diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP)
2. Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)
Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat ditetapkan dalam beberapa kelompok
tarif, yaitu paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200 % (dua ratus persen).
Ketentuan mengenai tarif kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang
dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan
ketentuan mengenai jenis Barang yang dukenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

E. Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor,
atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
1. Harga Jual
Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan Barang kena Pajak, tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak.
Contoh soal :
Pengusaha Kena Pajak A menjual tunai Barang Kena Pajak dengan harga jual Rp.
25.000.000
PPN = 10% x Rp. 25.000.000
= Rp. 2.500.000
PPN Rp. 2.500.000 adalah pajak keluaran yang dipungut oleh PKP A atas penjualan BKP

10
2. Penggantian
Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau
ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai
yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam
Faktur Pajakatau nilai berupa uang yang dibayar atau seharus nya dibayar oleh penerima
jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena
Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar
daerah pabean didalam daerah pabean.
Contoh soal
Pengusaha Kena Pajak B melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak dengan memperoleh
penggantian Rp. 20.000.000
PPN = Rp. 10% x Rp. 20.000.000
= Rp. 2.000.000
PPN Rp. 2.000.000 adalah pajak keluaran yang dipungut PKP B atas penyerahan JKP.
3. Nilai Impor
Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar perhitungan bea masuk ditambah
pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perUndang-Undanga an yang mengatur
mengenail kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Nilai Impor = Cost, Insurance, and Freight (CIF) + Bea Masuk + Bea Masuk
Tambahan
Contoh Soal
Seseorang mengimpor Barang Kena Pajak dari luar pabean dengan nilai impor Rp.
15.000.000
PPN = 10% x Rp. 15.000.000
= Rp. 1.500.000
PPN Rp. 1.500.000 dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

11
4. Nilai Ekspor
Nilai ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh eksportir.
Contoh soal:
Pengusaha Kena Pajak D melakukan ekspor Barang Kena Pajak dengan nilai ekspor Rp.
10.000.000
PPN = 0% x Rp. 15.000.000
= Rp. 0
PPN Rp. 0 adalah pajak keluaran
5. Nilai Lain.
Nilai laian adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai dasar pengenaan pajak.
Ketentuan mengenai nilai lain sebagai dasar pengenaan apajk diatur dalam Peraturan
Menteri Keuanganditetapkan sebagai berikut:
a. Pemakaian sendiri/pemberian Cuma-Cuma, DPP adalah harga jual/penggantian
dikurangi laba kotor.
b. Penyerahan media rekaman suara atau gambar DPP adalah perkiraan Harga Jual rata-
rata
c. Penyerahan film cerita, DPP adalah perkiraan hasil rata-rata perjudul film.
d. Penyerahan produk hasil tembakau, DPP adalah harga jual eceran.
e. BKP persediaanan/atau aktiva yang menurut semula tidak untuk diperjualbelikan,
yang masih tersisa pada saat pembubaran, DPP adalah harga pasar wajar.
f. Penyerahan BKP/JKP dari pusat kecabang atau sebaliknya dan penyerahan BKP/JKP
antar cabang, DPP adalah Harga Pokok Penjualan atau harga eceran.
g. Penyerahan BKP kepada pedagang perantara, DPP adalah harga yang disepakati
antara pedagang perantara dan pembeli.
h. Penyerahan BKP melalui juru lelang, DPP adalah harga lelang.
i. Jasa pengiriman paket, DPP adalah 10% dari tagihan atau jumlah yang seharusnya
ditagih.
j. Jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata, DPP adalah 10% dari tagihan atau
yang seharus nya ditagih.

12
6. PPnBM
Contoh perhitungan PPnBM
Pengusaha Kena Pajak “A” mengimpor Barang Kena Pajak dengan nilai impor Rp.
5.000.000 Barang Kena Pajak tersebut, selain dikenakan Pajak Pertambahan Nilai,
missalnya juga dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif 20% dengan
demikian, perhituangan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
yang terutang atas impor Barang Kena Pajak tersebut adalah:
Dasar Pengenaan Pajak =Rp. 5.000.000
Pajak Pertambahan Nilai
10% x Rp. 5.000.000 =Rp. 500.000
PPnBM =Rp. 5.000.000
20% x Rp.5.000.000 = Rp.1.000.000

F. Hubungan Istimewa dan Kaitannya dengan DPP


Dalam hal harga jual atas Barang Kena Pajak atau penggantian atas Jasa Kena Pajak
dipengaruhi adanya hubungan istimewa, maka harga jual atau penggantian tersebut dihitung
atas dasar harga pasar wajar pada saat penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak tersebut.
Hubungan Istimewa terjadi dalam hal :
- Pengusaha mempunyai penyertaan langsung atau tidak langsung sebesar 25% atau lebih
pada Pengusaha lain, atau hubungan antara Pengusaha dengan penyertaan sebesar 25%
atau lebih pada dua Pengusaha atau lebih. Demikian pula hubungan antara dua Pengusaha
atau lebih yang disebutkan terakhir.
- Pengusaha menguasai Pengusaha lainnya atau dua Pengusaha atau lebih berada dibawah
penguasaan Pengusaha yang sama, yaitu penguasaan melalui manajemen atau penggunaan
teknologi.
- Hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus satu
derajat dan/atau kesamping satu derajat :
- Sedarah lurus satu derajat, yaitu: ayah/ibu dengan anak
- Sedarah kesamping satu derajat, yaitu: kakak dengan adik
- Semenda lurus satu derajat, yaitu: mertua dengan menantu atau ayah/ibu dengan anak

13
tiri
- Semenda kesamping satu derajat, yaitu: hubungan saudara ipar
- Jika antara suami istri ada perjanjian pemisahan harta dan penghasilan, maka hubungan
keduanya merupakan hubungan istimewa.

G. Tata Cara Pembayaran Dan Pelaporan PPN Dan PPNBM


Pihak yang diwajibkan melakukan pembayaran dan pelaporan PPN dan PPnBM adalah:
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
PKP Wajib menyetor :
a. PPN yang dihitung sendiri melalui pengkeditan Pajak Masukan dan Pajak
Keluaran. Yang disetor adalah selisih Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, bila
Pajak Masukan lebih kecil dari keluaran
b. PPnBM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak (BKP) yang
tergolong Mewah.
c. PPN/PPnBM yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT), dan Surat Tagihan Pajak (STP)
2. Pemungut PPN dan PPnBM, yang meliputi :
a. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
b. Bendahara Pemerintah Pusat dan Daerah
c. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Pemungutan PPN dan PPnBM wajib menyetor PPN/PPnBM yang dipungut oleh
Pemungut PPN/PPnBM

Pembayaran atau penyetoran PPN terhutang tersebut, dilakukan di Kantor Pos dan Giro
serta Bank persepsi.
Ketentuan yang mengatur tentang saat pembayaran atau penyetoran PPN dan PPnBM
adalah :
1. PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetor paling lama akhir
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelumnya Surat Pemberitahuan
Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan.

14
2. PPN dan PPnBM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP harus
dibayar/disetor sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan
STP tersebut.
3. PPN/PPnBM atas Impor, harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea
Masuk, dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/dibebaskan, harus dilunasi pada
saat penyelesaian dokumen Impor
4. PPN/PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh :
a. Bendahara Pemerintah, harus disetor paling lma tanggal 7 (tujuh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungut PPN/PPnBM atas Impor,
harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah dilkukan pemunguta
pajak.
5. PPN dari penyerahan tepung terigu oleh Badan Urusan Logistik (BULOG), harus
dilunasi sendiri oleh PKP sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (D.O) ditebus.
Pengusaha Kena Pajak dan Pemungut PPN/PPnBM diwajibkan melaporkan PPN/PPnBM
setiap masa. Berikut ketentuan yang mengatur tentang pelaporan PPN/PPn BM :
1. PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa
dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lama akhir bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
2. PPN dan PPnBM yang tercantum dalm SKPKB, SKPKBT, dan STP yang telah
dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan.
3. PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan :
a. Bendahara Pemerintah harus dilaporkan paling lama akhir bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir
b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas Impor, harus dilaporkan paling lama akhir
bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
4. Untuk penyerahan tepung terigu oleh BULOG, maka PPN dan PPnBM dihitung
sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada KPP
setempat paling lama akhir bulan berikutnya setelah Pajak berakhir.

15
H. Tata Cara Pengkreditan Pajak
Dalam tata cara penghitungan pengkreditan pajak pertambahan nilai (PPN), dikenal
istilah pajak masukan dan pajak keluaran. Secara singkat, pajak masukan adalah pajak yang
dikenakan ketika Pengusaha Kena Pajak (PKP) melakukan pembelian terhadap barang kena
pajak (BKP) atau pemanfaatan jasa kena pajak (JKP). Sementara itu, pajak keluaran adalah pajak
yang dikenakan ketika PKP melakukan penjualan BKP atau pemanfaatan JKP.

Dalam hal ini, PKP dapat mengurangkan atau mengkreditkan pajak masukan dalam suatu
masa dengan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama. Apabila dalam masa pajak tersebut
lebih besar pajak keluaran, kelebihan pajak keluaran harus disetorkan ke kas negara.

Sebaliknya, apabila dalam masa pajak tersebut pajak masukan lebih besar dari pajak
keluaran, kelebihan pajak masukan dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau
dimintakan restitusi.

Dalam tata cara umum tersebut, jumlah yang harus dibayarkan oleh pengusaha kena
pajak berubah-ubah sesuai dengan pajak masukan yang dibayarkan dan pajak keluaran yang
dipungut dalam suatu masa pajak.

H.1 Pengkreditan Pajak Masukan Normal

Rumus untuk mengitung PPN kurang atau Lebih Bayar adalah menghitung selisih antara
Pajak Keluaran dengan Pajak MAsukan. Apabila Pajak Keluaran lebih tinggi dari Pajak
Masukan maka selisihnya dinamakan dengan PPN Kurang Bayar dan harus dibayarakan ke KAs
Negara. Sbaliknya apabila pajak Masukan lebih tinggi dari pajak keluaran maka selisihnya
adaalah lebih bayar dan dapat dikompensasi ke Masa Pajak berikutnya. Pada intinya, PPN
keluaran dikurangi dengan PPN Masukan yang dapat dikreditkan untuk menghasilkan PPN
kurang ataua lebih bayar.

Bebarapa ketentuan yanag berkaiatan dengan Pengkredian PPN masukan adalah :

a. Pada masa pajak yang sama atau paling lamabaat 3 bulan setelah akhir masa pajak.

16
b. Jika melakukan penyerahan BKP dan Non BKP, pajak masukaan hanya atas yang
berhubungan dengan penyerahan BKP. Berlaku bagi PKP yang melakukan pemisahaan
pembukuan.
c. Jika tidak melakukanpemisahan pembukuan, pajak masukan dikreditkan berdasarkan
estimasi proporsional, dan pada akhir tahun dilakukan penhgitungan kembali PM yang
telah dikreditkan paling lambat padaa bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku sesuai
PMK 78.PMK.03/2010
d. Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang belum berproduksi, hingga belum melakukan
penyerahan, dapat mengkredit Pajak Masukan atas perolehan dan atau impor barang
modal. Hal ini berdasarkan Pasal 9 ayat (2a) UU PPN.
Selain barang modal atau jasa Kena Pajak, Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan
sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 9 ayat huruf j UU PPN
e. Pengalihan Barang Kena Pajak (BKP) dalam rangka penggabungan, peleburan
pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha, Pajak Masukan atas Barang Kena
Pajak (BKP) yang dialihkan yang belum dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP)
yang mengalihkan dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang menerima
pengalihan, sepanjang Faktur Pajaknya diterima setelah terjadinya pengalihan dan Pajak
Masukan tersebut belum dibebankan sebagai biaya atau dikapitalisasi.

Dalam menghitung PPN Kurang atau Lebih bayar yang perlu diperhatikan bahwa PPN
yang dapat dikurangi adalah PPN yang dapat dikreditkan. Agar PPN Masukan tersebut dapat
dikreditkan maka harus memenuhi syarat formal dan syarat material. Berikut akan dijelaskan
masing-masing syarat tersebut.
Syarat Material agar PPN Masukan dapat dikreditkan adalah :
a. Berhubungan langsung dengan kegiatan usaha yang penyerahannya terutang PPN seperti
produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen.
b. Berisi keterangan yang sebenarnya atau yang sesungguhnya.

Syarat Formal agara PPN Masukan dapat dikreditkan adalah


a. Bentuk, kolom dan isian harus sesuai
b. Diisi dengan lengkap, benar dan ditandatangani orang yang berwenang

17
c. Dibuat tidak melewati 3 bulan

Selaim itu terdapat juga PPN MAsukan yang tidak dapat dikreditkan berdasrkan Pasal 9
ayat 8 UU PPN. Berikut akan dijelaskan PPN masukan yang tidak dapat dikreditkan,
meliputi :

a. Perolehan BKP/JKP sebelum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP)


b. Perolehan BKP/JKP yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha.
c. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan,sedan, sation wagon
d. Impor BKP/JKP sebelum dikukuhkan sebagai Pengusaha KEna Pajak (PKP)
e. Faktur Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat (5) atau
ayat (9) UU PPN.
f. Pemanfaatan BKP tidak berwujud /JKP dari luar daerah pabean yang Faktur Pajaknya
tidak memenuhi ketentuan Pasal 13 ayaat (6) UU PPN
g. PPN yang ditagih dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP)
h. Pajak Masukan yang tidak dilaporkan dalam SPT yang ditemukan dalam pemeriksaan
i. Pajak MAsukan selain barang modal sebelum PKP berproduksi komersial.

Berikut contoh pemgkreditan PM terhadap PK :

Pengusaha Kena Pajak “D” mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dengan Nilai
Impor sebesar Rp6.000.000,00 Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut selain dikenai
PPN juga dikenai PPnBM misalnya dengan tariff 20%

Perhitungan PPN dan PPnbM yang terhutang atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong
mewah tersebut adalah :

a. Dasar Pengenaan Pajak = Rp 5.000.000


b. PPN = 10% x Rp.5000.000= Rp500.000
c. PPnBM= 20% x Rp5.000.000 = Rp 1.000.000

18
Kemudiann PKP “D” menggunakan BKP yang diimpor tersebut sebagai bagian dari
suatu BKP yang atas penyerahannya dikenakan PPN 10 % dan PPnBM dengan tariff
misalnya 35 %
Oleh karena PPnBM yang telah dibayar atas BKP yang diimpor tersebut tidak dapat
dikreditkan, maka PPnBM senesar RP 1000.000 dapat ditambahkan ke dalam harga
perolehan BKP yang dihasilkan oleh PKP “D” atau dibebabkna sebagai biaya dalam
periode berjalan.
Misalnya PKP “D” menjual BKP yang dihasilkannya, maka penghitungan PPN dan
PPnBM yang terutang adalah :
a. Dasr Pengenaan Pajak = Rp 50.000.000
b. PPN= 10% x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000
c. PPnBM = 35 % x Rp 50.000.000 = Rp17.500.000
PPN sebesar Rp 500.000,00 yang dibayar pada saat impor nerupakan pajak masukan
(PM) bagi PKP “D” dan PPN sebesar Rp5000.000 merupakan paja keluaran (PK) bagi
PKP “D”. Adapun PPnBM sebesar RP 1.000.000 tidak dapat dikreditkan. Begitu pun
dengan PPnBM sebesar Rp 17.500.000 tidak dapat dikreditkan oleh PKP “X”

I. Pencatatan Transaksi PPN dan PPnBM


Pencatatan atas transaksi yang melibatkan PPn dan atau PPnBM masih mengacu pada
kerangka konseptual standar akuntansi. Jika PPN Masukan (PM) dapat dikreditkan, maka
pencatatannya dilakukan sebagai uang muka pajak, sebaliknya jika PM tidak dapat dikreditkan,
maka pencatatannya langsung dibebankan sebagai biaya. Kemudian untuk PPnBM mempunyai
karakteristik sebagai pajak yang tidak dapat dikreditkan, maka pencatatannya langsung
dibebankan sebagai biaya. Dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan adalah
faktur pajak dan SSP.

Contoh :
Pada tanggal 23 Juli 2009 terjadi Penjualan tunai sebesar Rp 150.000.000,00 (belum
termasuk PPN), jadi PPN terutang adalah Rp 15.000.000,00 (10% dari rp 15.000.000,00).
Jurnalnya :

19
Penjual Pembeli
23 Juli 2009 23 Juli 2009
Kas Rp 165.000.000,00 Pembelian Rp 150.000.000,00
Penjualan Rp 150.000.000,00 PPN Masukan Rp 15.000.000,00
PPN Keluaran Rp 15.000.000,00 Kas Rp 165.000.000,00

Pada Tanggal 25 Juli 2009 terjadi pembelian seharga Rp 20.000.000,00 (belum termasuk
PPn), jadi PPN masukannya adalah Rp 2.000.000,00 (10% dari Rp 20.000.000,00).
Jurnalnya :
Penjual Pembeli
25 Juli 2009 25 Juli 2009
Kas Rp 22.000.000,00 Pembelian Rp 20.000.000,00
Penjualan Rp 20.000.000,00 PPn Masukan Rp 2.000.000,00
PPN Keluaran Rp 2.000.000,00 Kas Rp 22.000.000,00

Asumsikan selama bulan Juli 2009, hanya melakukan 2 transaksi, sehingga pada akhir masa
pajak Juli 2009 akan membuat rekonsiliasi untuk mengetahui PPN yang masih harus dibayar.
PPN Keluaran Rp 15.000.000,00
PPN Masukan Rp 2.000.000,00
PPN yang harus dibayar Rp 13.000.000,00
Jurnal ketika penyetoran PPN yang masih harus dibayar :
15 Agustus 2009 :
PPN Keluaran Rp 15.000.000,00
PPN Masukan Rp 2.000.000,00
Kas Rp 13.000.000,00

WAJIB PAJAK DENGAN PEMBUKUAN DALAM BAHASA ASING DAN MATA


UANG SELAIN RUPIAH
Apabila nilai jual/ transaksi atau nilai-nilai lain sebagai dasar penghitungan PPN/PPnBM
menggunakan mata uang asing, maka penghitungan besarnya PPN/PPnBM terutang harus

20
dikonversi menggunakan kurs fiskal yang ditetapkan Menteri Keuangan, yang berlaku pada saat
pembuatan Faktur Pajak.
Contoh :
Pada tanggal 27 Juni 2008 terjadi penjualan sebesar US$ 15.000. harga transaksi belum termasuk
PPN dan PPnBM sebesar 15%. Jika Kurs transaksi yang berlaku saat pembuatan faktur pajak
adalah Rp 9.150/US$ dan Kurs KMK nya adalah Rp 9.200/US$, maka penghitungan PPN,
PPnBM, dan jurnalnya :
Harga barang 15.000 x 9.150 = 137.250.000
DPP PPN 15.000 x 9.200 = 138.000.000
PPN 10% x 138.000.000 = 13.800.000
PPnBM 15% x 138.000.000 = 20.700.000

Jurnal :
Penjual Pembeli
27 Juni 2008 27 juni 2008
Kas/Piutang Rp 171.750.000,00 Pembelian** Rp 157.950.000,00
Penjualan Rp 137.250.000,00 PPN Masukan Rp 13.800.000,00
PPN Keluaran Rp 13.800.000,00 Kas/Utang Usaha Rp
Utng 171.750.000,00
PPnBM* Rp 20.700.000,00 Untuk mencatat pembelian :
Untuk menyatat penjualan : **) Harga beli sudah ditambahkan dengan
*) PPnBM yang dipungut harus disetorkan ke PPnBM.
kas negara paling lambat 15 bulan takwin
berikutnya.

Jika Penjualan dilakukan secara kredit maka jurnal yang harus dibuat ketika penerimaan kas
adalah (dengan asumsi kurs yang berlaku saat penerimaan kas tanggal 25 Juli 2008 adalah Rp
9.100/US$).
Jurnal :
Penjual Pembeli
25 Juli 2008 25 Juli 2008

21
Kas* Rp 171.000.000,00 Utang Usaha Rp 171.750.000,00
Selisih Kurs Rp 750.000,00 Selisih Kurs Rp 750.000,00
Piutang Rp 171.750.000,00 Kas Rp 171.000.000,00
Untuk pencatatan penerimaan kas Untuk menyatat pelunasan utang.
*) kas = (15.000 x 9.100) + 13.800.000 +
20.700.000 = 171.000.000

22
KASUS PELANGGARAN PAJAK PT. INDOSAT
MULTIMEDIA (IM3)

1. Kronologi Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3


IM3 diduga melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai ( SPT Masa PPN) ke kantor pajak untuk tahun
buku Desember 2001 dan Desember 2002. Jika pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran,
dapat direstitusi atau ditarik kembali. Karena itu, IM3 melakukan restitusi sebesar Rp 65,7
miliar. 750 penanam modal asing (PMA) terindikasi tidak membayar pajak dengan cara
melaporkan rugi selama lima tahun terakhir secara berturut-turut.
Dalam kasus ini terungkap bahwa pihak manajemen berkonspirasi dengan para pejabat
tinggi negara dan otoritas terkait dalam melakukan penipuan akuntansi. Manajemen juga
melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik dalam melakukan manipulasi
laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi, sehingga merugikan banyak pihak dan
pemerintah. Kemungkinan telah terjadi mekanisme penyuapan (bribery) dalam kasus tersebut.
Secara rinci berita yang dikutip dalam suatu media tertentu, dijabarkan sebagai berikut:
Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya Manusia Direktorat
Jenderal Pajak, Djangkung Sudjarwadi, menyatakan bahwa Ditjen Pajak akan mengusut laporan
adanya penggelapan pajak yang dilakukan PT Indosat Multimedia (IM3). Menurut master hukum
dari Harvard Law School tersebut, adanya laporan dari Wakil Ketua Komisi VI Dewan
Perwakilan Rakyat, M Rosyid Hidayat, bahwa IM3 telah menggelapkan Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) sebesar Rp 174 miliar, merupakan informasi yang harus ditindaklanjuti aparat Ditjen
Pajak. Dalam pandangan Djangkung, informasi apapun yang berkaitan tentang penyimpangan
pajak, baik yang dilakukan wajib pajak maupun aparat pajak sendiri akan ditindaklanjuti secara
serius oleh pihak Ditjen Pajak.
Adanya bantahan dari Direktur Utama IM3, Yudi Rulianto, kata Djangkung, tidak
menyebabkan permasalahan menjadi selesai. Pengusutan tetap diperlukan untuk mencari tahu
duduk permasalahan yang sebenarnya dengan memeriksa wajib pajak yang bersangkutan dan
memeriksa kebenaran laporan atau pengaduan yang diterima. Hal ini sesuai dengan amanah

23
Undang-Undang No 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang
menyatakan bahwa Ditjen Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban wajib pajak.
Proses pengusutan tersebut, menurut Djangkung, saat ini sudah dilimpahkan ke Kantor
Wilayah VII Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini dikarenakan kantor pusat IM3 berada di wilayah
kerja Kanwil VII. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, M Rosyid Hidayat mengungkapkan
kecurigaan adanya dugaan korupsi pajak atau penggelapan pajak yang dilakukan PT Indosat
Multimedia (IM3). Rosyid mengungkapkan, IM3 melakukan penggelapan pajak dengan cara
memanipulasi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) ke kantor
Pajak untuk tahun buku Desember 2001 dan Desember 2002. Untuk SPT masa PPN 2001 yang
dilaporkan ke kantor pajak pada Februari 2002 dilaporkan bahwa total pajak keluaran tahun 2001
sebesar Rp 846,43 juta. Sedangkan total pajak masukan sebesar Rp 66,62 miliar sehingga selisih
pajak keluaran dan masukan sebesar Rp 65,77 miliar. Sesuai aturan, jika pajak masukan lebih
besar dari pajak keluaran, maka selisihnya dapat direstitusi atau ditarik kembali. Karena itu, IM3
melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar.
Menurut Rasyid, selintas memang tidak terjadi kejanggalan dari hal tersebut. Namun,
jika lampiran pajak masukan dicermati, IM3 menyebut adanya pajak masukan ke PT Indosat
sebesar Rp 65,07 miliar. Namun setelah dicek ulang, dalam SPT Masa PPN PT Indosat, ternyata
tidak ditemukan angka pajak masukan yang diklaim IM3. Padahal seharusnya angka Pajak
Masukan IM3 tersebut muncul pada laporan pajak keluaran PT Indosat untuk tahun buku yang
sama. Bahkan, PT Indosat hanya melaporkan pajak keluaran sebesar Rp 19,41 miliar yang
sebagian besar berasal dari transaksi dengan PT Telkom bukan dengan IM3.
Hal serupa juga dilakukan pada 2002, bahkan nilainya lebih besar. Untuk SPT Masa
PPN 2002 per Desember 2002, IM3 melaporkan kelebihan pajak masukan sebesar Rp 109 miliar.
Berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) nomor 00008/407/02/051/03 uang
tersebut.

24
2. Analisis Penyebab Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3
Penyebab/faktor pemicu pelanggaran dibedakan atas 3 hal yaitu:
a. Tekanan (Unshareable pressure/ incentive) yang merupakan motivasi seseorang untuk
melakukan fraud. Motivasi melakukan fraud, antara lain motivasi ekonomi, alasan emosional
(iri/cemburu, balas dendam, kekuasaan, gengsi) dan nilai (values).
b. Adanya kesempatan/peluang (Preceived Oppotrunity) yaitu kondisi atau situasi yang
memungkinkan seseorang melakukan atau menutupi tindakan tidak jujur.
c. Rasionalisasi (Rationalization) atau sikap (Attitude), yang paling banyak digunakan adalah
hanya meminjam (borrowing) asset yang dicuri.

Dalam kasus penggelapan pajak oleh IM3 dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
a. Faktor kompetensi bukan menjadi penyebab utama terjadinya kecurangan.
Para akuntan yang terlibat dalam kasus kecurangan di atas tidak diragukan lagi kemampuannya
karena akuntan di perusahaan besar yang sudah go public. Kecurangan tersebut terjadi karena
akuntan tidak mampu mempertahankan profesionalitasnya dan lebih memilih untuk melanggar
etika profesi. Alasannya bisa beragam, bisa karena faktor materi, faktor tekanan dari pihak
manajemen, maupun buruknya sistem dan prosedur yang diterapkan .
b. Dilema etika dapat menjadi faktor munculnya kecurangan dalam pekerjaan.
Dilema etika yang dialami oleh akuntan publik muncul dikarenakan adanya saling
ketergantungan antara klien dan KAP (klien yang membayar fee auditor). Begitu pula dilema
etika yang dihadapi akuntan internal perusahaan.

3. Solusi kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3


Dalam kasus IM3 tersebut dijelaskan bahwa IM3 diduga melakukan penggelapan pajak
dengan cara memanipulasi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa
PPN) dan Manajemen juga melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik
dalam melakukan manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi. Jika memang
terbukti melakukan hal tersebut jelas IM3 telah melanggar prinsip-prinsip Good Corporate
Governence (CGC-suatu komitmen, aturan main serta praktik penyelenggaraan bisnis secara
sehat dan beretika: Transparasi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Kesetaraan).
IM3 melanggar diantaranya prinsip transparasi, yang mana terdapat kewajiban bagi para

25
pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam proses keputusan dan penyampaian
informasi secara lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Selain
itu, IM3 juga melanggar prinsip akuntabilitas yang mana para pengelola berkewajiban untuk
membina sistem akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat
dipercaya.
Terkait dengan masalah pihak manajemen berkonspirasi dengan para pejabat tinggi
negara dan otoritas terkait dalam melakukan penipuan akuntansi, 1 lagi prinsip GCG yang
dilanggar yaitu prinsip kemandirian yaitu keadaan dimana para pengelola dalam mengabil suatu
keputusan bersifat professional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan dan bebas dari
tekanan/pengaruh darimanapun yang bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku
dan prinsip pengelolaan yang sehat. Dan berbicara tentang prinsip, prinsip terakhir yang di
langgar adalah prinsip responsibility (pertanggungjawaban), dan tanggung jawab ini mempunyai
5 dimensi yaitu dimensi ekonomi,hukum, moral, social, dan spiritual.

Solusi yang dapat diterapkan pada kasus penggelapan pajak oleh IM3 antara lain:
1) Pelaku
Para pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-
masing untuk tidak memperoleh keuntungan secara ilegal. Seharusnya akuntan internal
perusahaan maupun akuntan publik tetap bersikap objektif dan independen serta tidak
terpengaruh oleh manajemen. Akuntan internal sebaiknya bertanggung jawab secara langsung
kepada pemilik dan bukan pada manajemen perusahaan, karena hal ini dapat mengurangi
tekanan yang dihadapi oleh akuntan internal. Pengembangan tanggung jawab sosial. Pelaku
bisnis ini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat. Jadi, dalam keadaan apapun para
pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab
terhadap masyarakat sekitar di lingkungan usaha mereka.
Pentingnya pendidikan etika bagi para akuntan sebagi bekal dalam menghadapi potensi
kecurangan. Pelanggaran etika akan terus terjadi jika tidak ada pemahaman yang mendalam dari
akuntan terhadap pentingnya untuk memegang teguh etika profesi. Bisa jadi mereka tidak
mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh kecurangan yang mereka lakukan. Salah satu cara
untuk menekan jumlah akuntan yang menyimpang serta menanamkan kesadaran akan
pentingnya menerapkan kode etik profesi adalah dengan melakukan sosialisasi intensif tentang

26
profisionalitas dan kode etik akuntan dalam lingkungan kerja. Misalnya, secara rutin IAI sebagai
lembaga akuntan terbesar di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan seminar untuk
meningkatkan kompetensi dan kesadaran terhadap kode etik profesi kepada anggotanya.
2) Pemerintah
Sebaiknya pemerintah lebih mengetatkan pengawasan pajak kepada perusahaan-
perusahaan besar dan tidak tebang pilih dalam menyelesaikan penggelapan pajak. Pemerintah
Indonesia masih sangat lemah dalam memberantas penggelapan pajak-pajak. Ditambah lagi
maraknya oknum-oknum pemerintah yang mudahnya menerima suap dari perusahaan-
perusahaan yang ingin menggelapkan uang pajak mereka. Pemerintah seharusnya menerapkan
hukuman yang berat untuk perusahaan yang menggelapkan pajaknya dan menghukum berat
oknum yang menerima suap, serta perusahaan harusnya sadar akan kewajibannya membayar
pajak.
Dalam kasus ini, pihak pemerintah dan DPR juga perlu segara membentuk tim auditor
independen yang kompeten dan kredibel untuk melakukan audit investigatif atau audit forensik
untuk membedah laporan keuangan dari 750 PMA yang tidak membayar pajak. Korporasi
multinasional yang secara sengaja terbukti tidak memenuhi kewajiban ekonomi, hukum, dan
sosialnya bisa dicabut izin operasinya dan dilarang beroperasi di negara berkembang.

4. Simpulan
IM3 diduga melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dan Manajemen juga
melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik dalam melakukan manipulasi
laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi. Jika memang terbukti melakukan hal tersebut
jelas IM3 telah melanggar prinsip-prinsip Good Corporate Governence. Prinsip-prinsip yang
dilanggar IM3 antara lain: prinsip transparasi, prinsip akuntabilitas, prinsip kemandirian, prinsip
responsibility (pertanggung jawaban).

27
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) lebih
menunjukan sebagai identitas dari suatu sistem pemungutan pajak atas konsumsi daripada nama
suatu jenis pajak, mengenakan pajak atas nilai tambah yang timbul pada barang atau jasa tertentu
yang dikonsumsi. Namun sebelum barang atau jasa tersebut sampai pada tingkat konsumen,
PPN telah dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi. Meskipun
demikian, pemungutan pajak secara bertingkat ini tidak menimbulkan efek ganda karena adanya
metode perolehan kembali pajak yang telah dibayar (kredit bayar) oleh Pengusaha Kena Pajak
sehingga persentase beban pajak yang dipikul oleh konsumen tetap sama dengan tarif pajak yang
berlaku. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa panjang pendek jalur produksi atau distribusi
tidak mempengaruhi persentase beban pajak yang dipikul oleh konsumen.

B. Saran
Berdasarkan uraian makalah perpajakan tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ini diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang
didapatkan dari materi ini.

28