Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Listrik merupakan salah satu energi yang terjadi karena adanya
arus listrik yang menyebabkan terjadinya energi. Dalam kehidupan
sehari-hari kita menggunakan energi listrik, contohnya adalah untuk
memasak apabila menggunakan kompor listrik, menyetrika dengan
menggunakan setrika, mencuci pakaian dengan menggunakan mesin
cuci, mendengarkan radio dan lain sebagainya.
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi merupakan
suatu mata kuliah yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa
Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri
Ujung Pandang sebagai salah satu persyaratan kelulusan pada
semester V (lima).
Dengan kegiatan praktek bengkel ini, akan menunjang
mahasiswa untuk mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan
pekerjaan di lapangan dengan baik dan benar. Terutama pada jurusan
teknik elektro dan khususnya pada program studi teknik listrik, dimana
mahasiswa/i diharapkan mampu menyelesaikan Perancangan Proyek
Distribusi dan Gardu Distribusi yang diberikan dengan baik dan benar,
dapat menambah keterampilan dan keahlian mahasiswa.
Mahasiswa/i dihadapkan pada pekerjaan yang hampir sama di
industri dengan menerapkan materi yang didapatkan dalam
perkuliahan yang artinya terjadi proses timbal balik antara teori dengan
praktek. Mahasiswa/i diharapkan dapat bekerja dengan terampil,
disiplin, kreatif dan tekun dalam menyelesaikan pekerjaannya.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan praktek bengkel, diharapkan setiap mahasiswa
mampu:

1. Merencanakan dan menggambarkan sistem Jaringan Tegangan


Menengah dan Jaringan Tegangan Rendah,
2. Menjelaskan deskripsi kerja dari sistem Jaringan Tegangan Menengah
dan Jaringan Tegangan Rendah.
BAB II

TEORI DASAR
2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja listrik adalah keselamatan
kerja yang berhubungan dengan alat, bahan, proses, tempat
(lingkungan) dan cara-cara melakukan pekerjaan. Tujuan dari
keselamatan kerja listrik adalah untuk melindungi tenaga kerja atau
orang dalam melaksanakan tugas-tugas atau adanya tegangan listrik
disekitarnya, baik dalam bentuk instalasi maupun jaringan. Pada
dasarnya keselamatan kerja listrik adalah tugas dan kewajiban dari,
oleh dan untuk setiap orang yang menyediakan, melayani dan
menggunakan daya listrik.Undang undang no. 1 tahun 1970 adalah
undang undang keselamatan kerja, yang di dalamnya telah diatur
pasal-pasal tentang keselamatan kerja untuk pekerja-pekerja listrik.
Latar belakang keselamatan kerja listrik tidak lepas dari tingkat
kehidupan masyarakat baik pendidikan, sosial ekonominya dan
kebiasaan akan merupakan faktor-faktor yang banyak kaitannya
dengan keselamatan kerja. Dapat dilihat simbol K3 pada Gambar 2.1
dibawah ini,

Gambar 2.1 Simbol K3


2.2 Gardu Distribusi
Pengertian umum Gardu Distribusi tenaga listrik yang paling
dikenal adalah suatu bangunan gardu listrik berisi atau terdiri dari
instalasi Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Menengah (PHB-TM),
Transformator Distribusi (TD) dan Perlengkapan Hubung Bagi
Tegangan Rendah (PHB-TR) untuk memasok kebutuhan tenaga
listrik bagi para pelanggan baik dengan Tegangan Menengah (TM 20
kV) maupun Tegangan Rendah (TR 220/380V).Konstruksi Gardu
distribusi dirancang berdasarkan optimalisasi biaya terhadap maksud
dan tujuan penggunaannya yang kadang kala harus disesuaikan
dengan peraturan Pemda setempat.

Secara garis besar gardu distribusi dibedakan atas :


a. Jenis pemasangannya :
a). Gardu pasangan luar : Gardu Portal dan Gardu Cantol,
b). Gardu pasangan dalam : Gardu Beton dan Gardu Kios.
b. Jenis Konstruksinya :
a). Gardu Beton (bangunan sipil : batu, beton),
b). Gardu Tiang : Gardu Portal dan Gardu Cantol,
c). Gardu Kios.
c. Jenis Penggunaannya :
a). Gardu Pelanggan Umum,
b). Gardu Pelanggan Khusus.
Khusus pengertian Gardu Hubung adalah gardu yang ditujukan untuk
memudahkan manuver pembebanan dari satu penyulang ke penyulang
lain yang dapat dilengkapi/tidak dilengkapi RTU (Remote Terminal Unit).
Untuk fasilitas ini lazimnya dilengkapi fasilitas DC Supply dari Trafo
Distribusi pemakaian sendiri atau Trafo distribusi untuk umum yang
diletakkan dalam satu kesatuan.
 Komponen Utama
a. Transformator Distribusi Fasa 3
Pada dasarnya transformator 3 fasa sama dengan
transformator 1 fasa. Baik cara kerja maupun teori dasarnya yaitu
bekerja pada dasar kerja induksi elektromagnetik.Sebuah
transformator 3 fasa dapat diperoleh dari 3 buah transformator satu
fasa atau unit transformator 3 fasa. Jika suplai 3 fasa yang
digunakan adalah V1,V2, dan V3 dan masing-masing
menghasilkan fluks (φ1,φ2, dan φ3) yang masing-masing fluks
beda fasa 120º, maka berdasarkan hukum faraday pada lilitan
primer dan lilitan sekunder masing-masing akan menghasilkan ggl
induksi dan masing-masing fasa juga berjarak
120º.Prinsip kerja suatu transformator adalah induksi bersama
(mutual induction) dua rangkaian yang dihubungkan oleh fluks
magnet. Gambar transformator 3 fasa dapat dilihat pada Gambar
2.2 di bawah ini,

Gambar 2.2 Transformator 3 Fasa


b. Transformator Completely Self Protected (CSP)
Transformators Completely Self Protected (CSP) adalah
transformator distribusi yang sudah dilengkapi dengan Pengaman
Lebur (fuse) pada sisi primer dan LBS (Load Break Switch) pada
sisi sekunder. Spesifikasi teknis transformator ini merujuk pada
SPLN No 95: 1994 dan SPLN D3.002-1: 2007. Ditunjukkan pada
gambar 2.3 di bawah ini,

Gambar 2.3 Transformator CSP

c. PHB sisi Tegangan Menengah (PHB-TM)


Berikut ini adalah Komponen Utama PHB-TM yang sudah
terpasang/terangkai secara lengkap yang lazim disebut dengan
Kubikel-TM, yaitu :
 Pemisah – Disconnecting Switch (DS)
Berfungsi sebagai pemisah atau penghubung instalasi listrik
20 kV. Pemisah hanya dapat dioperasikan dalam keadaan tidak
berbeban. Seperti pada gambar 2.4 di bawah ini,
Gambar 2.4 Disconnecting Switch

 Pemutus beban – Load Break Switch (LBS)


Berfungsi sebagai pemutus atau penghubung instalasi listrik
20 kV. Pemutus beban dapat dioperasikan dalam keadaan
berbeban dan terpasang pada kabel masuk atau keluar gardu
distribusi. Kubikel LBS dilengkapi dengan sakelar pembumian
yang bekerja secara interlock dengan LBS. Untuk
pengoperasian jarak jauh (remote control), Remote Terminal
Unit (RTU) harus dilengkapi catu daya penggerak, seperti pada
gambar 2.5 di bawah ini,

Gambar 2.5 Load Break Switch


 Pemutus Tenaga - Circuit Breaker (CB)
Berfungsi sebagai pemutus dan penghubung arus listrik
dengan cepat dalam keadaan normal maupun gangguan
hubung singkat. Peralatan Pemutus Tenaga (PMT) ini sudah
dilengkapi degan rele proteksi arus lebih (Over Current Relay)
dan dapat difungsikan sebagai alat pembatas beban.
Komponen utama PHB-TM tersebut diatas sudah terakit dalam
kompartemen kompak (lengkap), yang sering disebut Kubikel
Pembatas Beban Pelanggan, dapat dilihat pada gambar 2.6 di
bawah ini,

Gambar 2.6 Pemutus Tenaga


 LBS - TP (Transformer Protection)
Transformator distribusi dengan daya ≤ 630 kVA pada sisi
primer dilindungi pembatas arus dengan pengaman lebur jenis
HRC (High Rupturing Capacity). Peralatan kubikel proteksi
transformator, dilengkapi dengan LBS yang dipasang sebelum
pengaman lebur. Untuk gardu kompak, komponen proteksi dan
LBS dapat saja sudah terangkai sebagai satu kesatuan, dan
disebut Ring Main Unit (RMU). Ditunjukkan pada gambar 2.7
berikut ini,

Gambar 2.7 LBS – TP (Transformer Protection)


d. PHB sisi Tegangan Rendah (PHB-TR)
PHB-TR adalah suatu kombinasi dari satu atau lebih
Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Rendah dengan peralatan kontrol,
peralatan ukur, pengaman dan kendali yang saling berhubungan.
Keseluruhannya dirakit lengkap dengan sistem pengawatan dan mekanis
pada bagian-bagian penyangganya. PHB jenis terbuka adalah suatu
rakitan PHB yang terdiri dari susunan penyangga peralatan proteksi dan
peralatan Hubung Bagi dengan seluruh bagian-bagian yang bertegangan,
terpasang tanpa isolasi. Jumlah jurusan per transformator atau gardu
distribusi sebanyak-banyaknya 8 jurusan, disesuaikan dengan besar
daya transformator dan Kemampuan Hantar Arus ( KHA ) Penghantar
JTR yang digunakan. Sebagai peralatan sakelar utama saluran masuk
PHB-TR, dipasangkan Pemutus Beban (LBS) atau NFB (No Fused
Breaker). Pengaman arus lebih (Over Current) jurusan disisi Tegangan
Rendah pada PHB-TR dibedakan atas :

 No Fused Breaker (NFB)


No Fused Breaker adalah breaker/pemutus dengan sensor
arus, apabila ada arus yang melewati peralatan tersebut melebihi
kapasitas breaker, maka sistem magnetik dan bimetalic pada
peralatan tersebut akan bekerja dan memerintahkan breaker
melepas beban. Ditunjukkan pada gambar 2.8 di bawah ini,

Gambar 2.8 No Fuse Breaker


 Pengaman Lebur (Sekering)
Pengaman lebur adalah suatu alat pemutus yang dengan
meleburnya bagian dari komponennya yang telah dirancang dan
disesuaikan ukurannya untuk membuka rangkaian dimana sekering
tersebut dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi
suatu nilai tertentu dalam jangka waktu yang cukup (SPLN
64:1985:1).
Fungsi pengaman lebur dalam suatu rangkaian listrik adalah
untuk setiap saat menjaga atau mengamankan rangkaian berikut
peralatan atau perlengkapan yang tersambung dari kerusakan,
dalam batas nilai pengenalnya (SPLN 64:1985:24). Seperti pada
gambar 2.9 di bawah ini,

Gambar 2.9 Sekering


e. TransformatorTegangan - Potential Transformator (PT)
Transformator tegangan (atau juga dikenal
sebagai transformator tegangan induksi) adalah trafo instrumen
yang di desain untuk mendapatkan
level tegangan(tegangan sekunder proposional
dengan tegangan primer) yang digunakan untuk pengukuran
(meter) dan proteksi.

Fungsinya adalah mentransformasikan besaran Tegangan


Tinggi ke besaran Tegangan Rendah guna pengukuran atau
proteksi dan sebagai isolasi antara sisi tegangan yang diukur atau
diproteksikan dengan alat ukurnya / proteksinya. Dapat dilihat pada
Gambar 2.10,

Gambar 2.10 TransformatorTegangan


f. TransformatorArus - Current Transformator (CT)
Transformator arus atau Current Transformer (CT)
adalah transformator yang berfungsi untuk Memperkecil
besaran arus listrik (Ampere) pada sistem tenaga listrik menjadi
besaran arus untuk sistem pengukuran dan proteksi. Faktor yang
harus diperhatikan pada instalasi transformator arus adalah Beban
(Burden) Pengenal dan Kelas ketelilitian CT. Disarankan
menggunakan jenis CT yang mempunyai tingkat ketelitian yang
sama untuk beban 20% - 120% arus nominal. Nilai burden, kelas
ketelitian untuk proteksi dan pengukuran harus merujuk pada
ketentuan/persyaratan yang berlaku. Konstruksi transformator arus
dapat terdiri lebih dari 1 kumparan primer (double primer).
Untuk konstruksinya sama halnya dengan transformator
tegangan, transformator arus pasangan luar memiliki konstruksi
lebih besar / kokoh dibandingkan konstruksi pasangan dalam yang
umumnya built in (atau akan dipasangkan) dalam kubikel
pengukuran. Seperti pada gambar 2.11 berikut ini,

Gambar 2.11 Transformator Arus


g. Fused Cut Out (FCO)
Pengaman lebur untuk gardu distribusi pasangan luar dipasang
pada Fused Cut Out (FCO) dalam bentuk Fuse Link. Terdapat 3
jenis karakteristik Fuse Link, tipe-K (cepat), tipe–T (lambat) dan
tipe–H yang tahan terhadap arus surja.Data aplikasi pengaman
lebur dan kapasitas transformatornya dapat dilihat pada tabel.
Apabila tidak terdapat petunjuk yang lengkap, nilai arus pengenal
pengaman lebur sisi primer tidakmelebihi 2,5 kali arus nominal
primer tranformator.
Jika sadapan Lighning Arrester (LA) sesudah Fused Cut Out,
dipilih Fuse Link tipe–H. jika sebelum Fused Cut Out (FCO) dipilih
Fuse Link tipe–K.Sesuai Publikasi IEC 282-2 (1970)/NEMA) di sisi
primer berupa pelebur jenis pembatas arus. Arus pengenal pelebur
jenis letupan (expulsion) tipe-H (tahan surja kilat) tipe-T (lambat)
dan tipe-K (cepat) menurut publikasi IEC No. 282-2 (1974) – NEMA
untuk pengaman berbagai daya pengenal transformator, dengan
atau tanpa koordinasi dengan pengamanan sisi sekunder.
Ditunjukkan pada gambar 2.12 di bawah ini,

Gambar 2.12 Fused Cut Out (FCO)


h. Lightning Arester(LA)
Lightning arrester adalah suatu alat pengaman yang
melindungi jaringan dan peralatannya terhadap tegangan lebih
abnormal yang terjadi karena sambaran petir (flash over) dan
karena surja hubung (switching surge) di suatu jaringan.
Lightning arrester ini memberi kesempatan yang lebih besar
terhadap tegangan lebih abnormal untuk dilewatkan ke tanah
sebelum alat pengaman ini merusak peralatan jaringan seperti
transformator dan isolator. Oleh karena itu lightning arrester
merupakan alat yang peka terhadap tegangan, maka
pemakaiannya harus disesuaikan dengan tegangan sistem.
Dapat dilihat pada Gambar 2.13 di bawah ini,

Gambar 2.13 Lightening Arrester


2.3 Deskripsi Umum JTR dan JTM
Sambungan Tenaga Listrik adalah penghantar di bawah
ataupun di atas tanah termasuk peralatannya sebagai bagian instalasi
milik PLN yang menghubungkan jaringan tenaga listrik milik PLN
dengan instalasi listrik pelanggan untuk menyalurkan tenaga listrik.
Dapat juga dikatakan sebagai sambungan pelanggan yang merupakan
titik akhir dari pelayanan listrik kepada pelanggan, dengan tingkat
mutu pelayanan yang dapat dilihat dari mutu tegangan dan tingkat
kehandalan dari sisi pelayanan tersebut (sesuai SPLN No. 1:1995).
Berdasarkan jenis tegangannya pada sistem distribusi terbagi atas :

1) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah


Jaringan Distribusi Tegangan Rendah adalah bagian hilir dari suatu
sistem tenaga listrik. Melalui jaringan distribusi ini disalurkan tenaga
listrik kepada para pemanfaat pelanggan listrik. Mengingat ruang
lingkup konstruksi jaring distribusi ini langsung berhubungan dan berada
pada lingkungan daerah berpenghuni, maka selain harus memenuhi
persyaratan kualitas teknis pelayanan juga harus memenuhi
persyaratan aman terhadap pengguna dan akrab terhadap lingkungan.
Konfigurasi Saluran Udara Tegangan Rendah pada umumnya
berbentuk radial.
 Pelanggan tegangan rendah Fasa 1 dan dilayani dengan tegangan
220 V.
 Pelanggan tegangan rendah Fasa 3 dan dilayani dengan
tegangan220/380 V.
2) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Menengah
Sambungan tenaga listrik tegangan menengah dilayani
dengantegangan 20 kVdan dengan pengukuran pada sisi 20 kV.
 Konfigurasi Sambungan Tenaga Listrik.
Konfigurasi sambungan tenaga listrik terdiri dari :
1) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah
Sambungan tenaga listrik tegangan rendah fasa 1 atau fasa 3
disesuaikan dengan ketentuan besarnya daya tersambung.
2) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Menengah
• Konstruksi Terbuka : menggunakan peralatan pengukuran konstruksi
terbuka (outdoor).
• Konstruksi Tertutup : menggunakan peralatan pengukuran konstruksi
tertutup (indoor).

2.3.1 Komponen Konstruksi Sambungan Tenaga Listrik Tegangan


Rendah (SLTR)
Konstruksi sambungan dengan konstruksi saluran udara
mempunyai sejumlahkomponen pokok (utama) yang harus di
pergunakan.
1. Tiang
Untuk konstruksi jaringan SUTR yang berdiri sendiri dipakai
tiang beton atau tiang besidengan panjang 9 meter. Tiang beton yang
dipakai dari berbagai jenis yang memilikikekuatan beban kerja
(working load) 200daN, 350daN dan 500daN (dengan angkafaktor
keamanan tiang = 2 ) Pada titik yang memerlukan pembumian dipakai
tiang beton yang dilengkapi dengan terminal pembumian. Pada
dasarnya pemilihan kemampuan mekanis tiang SUTR berlandaskan
kepada empat hal, yaitu :
1) Posisi fungsi tiang (tiang awal, tiang tengah, tiang sudut),
2) Ukuran penghantar,
3) Jarak andongan (Sag), dan
4) Tiupan angin.
Tiang Besi dipergunakan untuk konstruksi pada lingkungan
dimana Tiang Beton tidak mungkin dipasang. Penggunaan tiang beton
H-type tidak direkomendasikan karena tingkat kesulitan
pemasangannya, dan lain-lain pertimbangan.
2. Penghantar
Jenis penghantar yang dipergunakan adalah kabel pilin udara
(NFA2Y) alumunium twisted cable dengan inti alumunium sebagai inti
penghantar Fasa dan almelec / alumunium alloy sebagai netral.
Penghantar Netral (N) dengan ukuran 3x35+N,3x50+N,3x70+N
berfungsi sebagai pemikul beban mekanis kabel atau messenger.
Untuk kepentingan jaminan pelaksanaan handling transportasi,
panjang penghantar tiap haspel kurang lebih 1000 m.
3. Pole Bracket
Terdapat dua jenis komponen pole bracket :
1) Tension bracket, dipergunakan pada tiang ujung dan tiang sudut,
Breakingcapacity 1000 daN terbuat dari Alumunium Alloy
2) Suspension bracket dipergunakan pada tiang sudut dengan
sudutlintasan sampai dengan 300. Breaking capacity 700 daN
terbuat dari alumunium Alloy. Ikatan pole bracket pada tiang
memakai stainless teel strip atau baut galvanized M30 pada posisi
tidak melebihi 15 cm dari ujung tiang.
4. Fixing Collar (sengkang, klem beugel)
Komponen sengkang (fixing collar) atau beugel berbentuk bulat
di pasang pada tiang atas, tiang atap, dan penguat pipa pada dinding
bangunan. Sebagai pemegang kait service wedge clamp.
5. Stainless Steel Strip
Pita baja anti karat untuk berbagai macam penggunaan sebagai
sabukpengikat material pada tiang.
6. Link
Link dari besi galvanis Ф 6 mm berbentuk bujur sangkar atau
persegi panjang untukberbagai penggunaan. Link di gunakan sebagai
penguat ikatan stainless steel strip pada ti ang untuk ikatan kabel atau
pipa. Terdapat dua jenis link ukuran 2,5x2,5 cm dan 2,5x5 cm.
7. Plastic Strap/ Plastic Tie
Pengikat kabel atau lainnya sesuai penggunaan.
8. Service Wedge Clamp (klem jepit)
Ikatan penghantar pada tiang di gunakan material service
wedge clamp, demikian pulapada bangunan. Ukuran Service wedge
clamp dapat di pakai sampai dengan panjang 25 mm. Untuk
penampang ukuran lebih besar atau daya yang lebih besar dapat di
gunakan strain clamp kabel berpilin (twisted cable). Klem jepit
sambungan pelayanan diperlukan dua buah seti ap sambungan.
9. Strain Clamp/Jangkar Tarik
Klem tarik untuk sambungan pelayanan yang memakai kabel
jenis pilin (twisted cable)dengan ukuran 35 mm2 atau lebih.
10. Pipa Galvanis
Pipa yang di pasang di samping tiang berfungsi sebagai
pelindung kabel.
11. Strain Hook/ Klem tarik
Strain hook atau jangkar tarik di gunakan sebagai tempat kaitan
service wedgeclamp atau pemegang kabel sambungan pelayanan ke
rumah dan di tempatkan pada bangunan atau atap. Terdapatbeberapa
jenis strain hook.
12. Penutup Tiang Atap (Protecti ve Cup)
Penutup tiang atau invoering untuk menutup bagian atas pipa
tiang agar tidak masuk air. Terdapat dua jenis model penutup tiang,
yaitu model T dan model C.
13. Tule
Penutup ujung pipa galvanis agar kabel sambungan pelayanan
tidak terluka.
14. Pipa PVC Ф 0,5 inci
Pelindung kabel pada dinding bangunan agar tidak tersentuh
tangan.
15. Plastic Conduit (Pipa PVC atau Plastic Conduit)
Digunakan sebagai pelindung kabel ke arah APP ataupelindung
kabel pada titik belok,dengan ukuran 3/4 inci, 11/2 inci, dan 2 inci.
16. Stopping Buckle
Pengikat atau pengunci stainless steel strip.
17. Papan APP- OK
Tempat dudukan APP, terbuat dari plat dengan tebal 2 mm.
Terdapat 2 (tiga) jenis papan OK:
a. Papan OK tipe 1 : Untuk meter kWh Fasa 1
Pada instalasi kotak APP terpadu tempat dudukan APP
sudah menjadi satu kesatuan dengan APP.
b. Papan OK tipe 2 dan 3 : Untuk meter kWh Fasa 3.
18. Panel Hubung Bagi
Tempat dudukan peralatan ukur dan peralatan proteksi. Panel
Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) harus memenuhi persyaratan:
1) Kemampuan hantar arus,
2) Kemampuan hubung singkat,
3) Kemampuan kondisi klimatik (Tingkat IP), dan
4) Kemampuan mekanis.
Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali ( PHB ) dipergunakan
dari jenis :
1) Pasangan Luar, dengan kualifikasi IP.45 (Outdoor free Standing)
2) Pasangan Dalam, dengan kualifikasi IP.44 (Indoor wall mounting)
Spesifikasi teknis PHB sistem Fasa 3 adalah sebagai berikut :
1) Ketebalan plat sekurang-kurangnya 3 mm,
2) Kemampuan Hantar Arus (KHA) rel pembagi sekurang-kurangnya
125% dariKHA kabel masuk,
3) Arus pengenal gawai kendali sisi masuk sekurang-kurangnya 115%
dari KHAkabel,
4) Short time withstand current 25 kA selama 0,5 detik (RMS),
5) Tingkat keamanan terhadap klimatik sekurang-kurangnya IP 45 atau
untuk pasangan luar – outdoor free standing,
6) Pengaman sirkit keluar memakai pengaman lebur jenis HRC tipe
NH/NT,
7) Jumlah sirkit keluar sebanyak-banyaknya 6 buah,
8) Jenis rel tembaga,
9) Pintu dilengkapi dengan kaca atau bahan tembus pandang,
10) Lampu indikator merah kuning biru pada sisi sirkit masuk,
11) Panel PHB dihubung tanah / dibumikan, dan
12) Seluruh fisik metal konstruksi di galvanis.

Untuk pemakaian PHB dibagi atas dua jenis:


1) PHB Utama dengan kabel sirkit masuk ukuran Cu 95 mm2 dan Cu
70 mm2, dan
2) PHB Cabang dengan kabel sirkit masuk ukuran Cu 50 mm2 dan Cu
25 mm2.Tidak diizinkan menyambung langsung
sambunganpelayanan dengan beban kurangdari 25 Ampere ke
PHB Utama.

19. Plastic/Glass Cover Transparent


Digunakan sebagai penutup meter kWh dan kVARh dengan
ukuran yang sesuai.
20. Pemutus Beban Mini (Mini Circuit Breaker)
Gawai pembatas arus beban pelanggan.
21. Joint Sleeve Bimetal
Joint sleeve bimetal digunakan sebelum terminasi kabel
sambungan pelayanan padaterminal meter kWh, mengingat inti kabel
terbuat dari alumunium dan terminal kWhterbuat dari tembaga.
22. Heatshrink dan Coldshrink Sleeve
Sarana penutup atau sebagai pembungkus joint sleeve bimetal
dalam prosespenyambungan.
23. Sadapan dan Terminasi (Connector Tap)
Sadapan SLP pada saluran udara memakai hydraulic press tap
connector (tipe H atautipe O press connector) atau handpress
connector untuk berbagai macam ukuranpenampang jenis piercing.
Jenisnya dapat berupa dari logam Al atau Cu, penggunaandi
sesuaikan dengan jenis logam penghantar saluran udaranya.
Terminalpada PHB
memakai terminal lug (sepatu kabel atau kabel skun) jenis Al Cu atau
bimetal.
24. Material Penunjang
Sejumlah material penunjang yang di pergunakan adalah cable
clamp, cable lug, boch,paku beton,dll.
25. Meter Energi
Meter kWh atau energi meter terdiri atas 2 jenis:
a. Meter energi Fasa 1, dan
b. Meter energi Fasa 3.
Baik untuk energi meter aktif dan reaktif (kVARH)
26. Trafo Arus (CT) dan Trafo Tegangan
Trafo arus di gunakan untuk pelanggan listrik dengan daya lebih
besar dari 43 kVA,pengukuran menggunakan trafo arus (pengukuran ti
dak langsung). Trafo arus yang dipergunakan sebesar-besarnya kelas
0,5 dengan Burden ti dak lebihdari 30 VA untuk trafo arus tegangan
rendah. Untuk tegangan menengah menggunakantrafo arus kelas 0,2
dengan Burden 30 VA. Trafo tegangan di pergunakan untuk mengukur
tegangan atau sebagai sumber tegangan alat-alat pembatas dan
pengukur pada sistem tegangan menengah dengan kelas 0,2 dan
burden 30 VA burden 30 VA.
27. Penghantar Pembumian dan Bimetal Joint
Untuk tiang yang tidak dilengkapai fasilitas pembumian.
Penghantar yang diperlukanadalah Kawat Tembaga (BC). Sambungan
penghantar BC dengan penghantar netral jaringan tidak boleh
langsung, tetapi harus menggunakan bimetal joint. Sambungan ke
penghantar netral yang memakai kabel alumunium, sambungan ke
penghantar pembumian menggunakan Bimetal Joint Al-Cu.
2.3.2 Komponen Konstruksi Sambungan Tenaga Listrik Tegangan
Menengah (SLTR)
1. Tiang
Tiang yang digunakan adalah :
a. Tiang Beton
Untuk kekuatan sama, pilihan tiang jenis ini dianjurkan
digunakan di seluruh PLN karena lebih murah dibandingkan
dengan jenis konstruksi tiang lainnya termasuk terhadap
kemungkinan penggunaan konstruksi rangkaian besi profil.
b. Tiang Kayu
SPLN 115 : 1995 berisikan tentang Tiang Kayu untuk jaringan
distribusi, kekuatan, ketinggian dan pengawetan kayu sehingga
pada beberapa wilayah pengusahaan PT PLN Persero bila suplai
kayu memungkinkan, dapat digunakan sebagai tiang penopang
penghantar penghantar SUTM.
c. Tiang Besi
Adalah jenis tiang terbuat dari pipa besi yang disambungkan
hingga diperoleh kekuatan beban tertentu sesuai
kebutuhan.Walaupun lebih mahal, pilihan tiang besi untuk
area/wilayah tertentu masih diijinkan karena bobotnya lebih ringan
dibandingkan dengan tiang beton. Pilihan utama juga
dimungkinkan bilamana total biaya material dan transportasi lebih
murah dibandingkan dengan tiang beton akibat diwilayah tersebut
belum ada pabrik tiang beton.
2. Penghantar
Penghantar yang digunakan adalah :
a. Penghantar Telanjang (BC : Bare Conductor)
Konduktor dengan bahan utama tembaga(Cu) atau alluminium (Al)
yang di pilin bulat padat , sesuai SPLN 42 -10 : 1986 dan SPLN 74
: 1987.Pilihan konduktor penghantar telanjang yang memenuhi
pada dekade ini adalah AAC atau AAAC. Sebagai akibat tingginya
harga tembaga dunia, saat ini belum memungkinkan penggunaan
penghantar berbahan tembaga sebagai pilihan yang baik.
b. Penghantar Berisolasi Setengah AAAC-S (half insulated single
core)
Konduktor dengan bahan utama aluminium ini diisolasi dengan
material XLPE (croslink polyetilene langsung), dengan batas
tegangan 6 kV dan harus memenuhi SPLN No 43-5-6 tahun 1995.
c. Penghantar Berisolasi Penuh (Three single core)
XLPE dan berselubung PVC berpenggantung penghantar baja
dengan tegangan Pengenal 12/20 (24) kV Penghantar jenis ini
khusus digunakan untuk SKUTM dan berisolasi penuh.

3. Isolator
Pada jaringan SUTM, Isolator pengaman penghantar
bertegangan dengan tiang penopang/travers dibedakan untuk jenis
konstruksinya adalah Isolator Tumpu dan Isolator Tarik
4. Konektor
Konektor adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyambung
kawat penghantar. Jenis konektor yang digunakan ada beberapa
macam yaitu :
a. Joint Sleeve Connector (Sambungan Lurus),
b. Paralel Groove Connector (Sambungan Percabangan), dan
c. Live Line Connector (Sambungan Sementara yang bisa dibuka
pasang).
5. Peralatan Hubung
Pada percabangan atau pengalokasian seksi pada jaringan JTM
untuk maksud kemudahan operasional harus dipasang Pemutus
Beban (Load Break Switch : LBS), selain LBS dapat juga dipasangkan
Fused Cut-Out (FCO).
BAB III

GAMBAR RANGKAIAN