Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi mempunyai banyak sekali makna dan sangat bergantung pada


konteks pada saat komunikasi dilakukan. Bagi beberapa orang, komunikasi
merupakan pertukaran informasi diantara dua orang atau lebih, atau dengan kata
lain; pertukaran ide atau pemikiran. Metodenya antara lain: berbicara dan
mendengarkan atau menulis dan membaca, melukis, menari, bercerita dan lain
sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala bentuk upaya penyampaian
pikiran kepada orang lain, tidak hanya secara lisan (verbal) atau tulisan tetapi juga
gerakan tubuh atau gesture (non-verbal), adalah komunikasi.
Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi seseorang
menyampaikan dan mendapatkan respon. Komunikasi dalam hal ini mempunyai
dua tujuan, yaitu: mempengaruhi orang lain dan untuk mendapatkan informasi.
Akan tetapi, komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang memiliki
kegunaan atau berguna (berbagi informasi, pemikiran, perasaan) dan komunikasi
yang tidak memiliki kegunaan atau tidak berguna (menghambat/blok
penyampaian informasi atau perasaan).
Effendy O.U (2002) dalam Suryani (2005) menyatakan lima komponen
dalam komunikasi yaitu; komunikator, komunikan, pesan, media dan efek.
Komunikator (pengirim pesan) menyampaikan pesan baik secara langsung atau
melalui media kepada komunikan (penerima pesan) sehingga timbul efek atau
akibat terhadap pesan yang telah diterima. Selain itu, komunikan juga dapat
memberikan umpan balik kepada komunikator sehingga terciptalah suatu
komunikasi yang lebih lanjut.
Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki
oleh perawat, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang digunakan
untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau informasi
kesehatan-mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup,

1
menunjukan caring, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri
dan menghargai nilai-nilai klien. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam
keperawatan, komunikasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi komunikasi terapeutik ?
2. Bagaimana tujuan komunikasi terapeutik ?
3. Bagaimana fungsi komunikasi terapeutik ?
4. Bagaimana prinsip komunikasi terapeutik ?
5. Bagaimana karakteristik dari komunikasi terapeutik ?
6. Apa sajakah faktor factor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik ?
7. Apa sajakah hambatan komunikasi terapeutik ?
8. Bagaimana teknik komunikasi terapeutik ?
9. Bagaimana sikap komunikasi terapeutik ?
10. Bagaimana tahap komunikasi terapeutik ?
11. Bagaimana komunikasi terapeutik dalam proses keperawatan ?
12. Bagaimana komunikasi efektif ?
13. Bagaimana klasifikasi nilai ?
14. Bagaimana eksplorasi peran ?
15. Bagaimana role model ?

1.3 Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan
langsung dalam proses keperawatan khususnya tentang konsep komunikasi
terapeutik dan kesadaran intrapersonal perawat-klien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Komunikasi Terapeutik.


Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik,
dalam hal ini komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat
melakukan intervensi keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi
proses penyembuhan pasien. Oleh karenanya seorang perawat harus
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi terapeutik agar
kebutuhan dan kepuasan pasien dapat dipenuhi. Komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997).
Northouse (1998) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai
kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi
terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana
berhubungan dengan orang lain.
Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan
hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hubungan ini perawat
dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki
pengalaman emosional klien.

2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik.


Peaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien
memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan
guna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal hal yang
diperlukan. Membantu dilakukanya tindakan yang efektif, mempererat interaksi
kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat secara profesional dan proporsional
dalam rangka membantu menyelesaikan masalah klien.Komunikasi
terapeutik juga mempunyai tujuan untuk memotivasi dan mengembangkan pribadi
klien ke arah yang lebih kontruktif dan adaptif.
Komunikasi terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi
hal-hal berikut ini.

3
a) Penerimaan diri dan peningkatan terhadap penghormatan diri.
1. Klien yang sebelumnya tidak menerima diri apa adanya atau merasa
rendah diri, setelah berkomunikasi terapeutik dengan perawat atau
bidan akan mampu menerima dirinya. Diharapkan perawat atau bidan
dapat merubah cara pandang klien tentang dirinya dan masa depannya
sehingga klien dapat menghargai dan menerima diri apa adanya.
2. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial
dan saling bergantung dengan orang lain.
3. Klien belajar bagaimana menerima dan diterima oleh orang lain.
Dengan komunikasi yang terbuka, jujur, dan menerima klien apa
adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam
membina hubungan saling percaya (Hibdon S., dalam Suryani, 2005)
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan
serta mencapai tujuan yang realistis.
5. Sebagian klien menetapkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi
tanpa mengukur kemampuannya. Tugas perawat dengan kondisi
seperti itu adalah membimbing klien dalam membuat tujuan ayng
realistis serta menignkatkan kemampuan klien memenuhi kemampuan
dirinya.
b) Rasa identitas personal yang jelas dan meningkatkan integritas diri.
Identitas personal yang dimaksud adalah status, peran, dan jenis kelamin
klien. Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak
mempunyai rasa percaya diri dan juga memiliki harga diri yang rendah. Perawat
diharapkan membantu klien untuk meningkatkan integritas dirinya dan identitas
diri klien melalui komunikasinya.

2.3 Fungsi Komunikasi Terapeutik.


Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan
kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah
serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).

4
Didalam sumber yang lain dikatakan bahwa manfaat atau fungsi
komunikasi terapeutik adalah:
 Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien
 Mengidentivikasi,atau mengungkap perasan dan mengkaji masalah serta
mengevaluasi tindakan yg di lakukan perawat.
 Memberikan pengertian tingkalaku pasien dan membantu pasien
mengatasi masalah yang di hadapi.
 Mencegah tindakan yang negative terhadap pertahanan diri pasien

2.4 Prinsip-Prinsip Komunikasi.


Komunikasi terapeutik meningkatkan pemahaman dan membantu
terbentuknya hubungan yang konstruktif diantara perawat-klien.
Sangat penting bagi perawat untuk memahami prinsip dasar komunikasi
terapeutik berikut ini;
 Hubungan perawat dan klien adalah hubungan terapeutik yang saling
menguntungkan, didasarkan pada prinsip ‘humanity of nurses and
clients’. Hubungan ini tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong
(helper/perawat) dengan kliennya, tetapi hubungan antara manusia yang
bermartabat (Dult-Battey,2004).
 Perawat harus menghargai keunikan klien, menghargai perbedaan
karakter, memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat
perbedaan latar belakang keluarga, budaya, dan keunikan setiap individu.
 Semua komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri
pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus mampu
menjaga harga dirinya dan harga diri klien.
 Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya
(trust) harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan
memberikan alternatif pemecahan masalah (Stuart,1998). Hubungan
saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dari komunikasi
terapeutik.

5
2.5 Karakteristik
Salah satu karakteristik dasar dari komunikasi yaitu ketika seseorang
melakukan komunikasi terhadap orang lain maka akan tercipta suatu hubungan
diantara keduanya, selain itu komunikasi bersifat resiprokal dan berkelanjutan.
Hal inilah yang pada akhirnya membentuk suatu hubungan ‘helping
relationship’. Helping relationship adalah hubungan yang terjadi diantara dua
(atau lebih) individu maupun kelompok yang saling memberikan dan menerima
bantuan atau dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang
kehidupan.
Menurut Roger dalam Stuart G.W (1998), ada beberapa karakteristik
seorang helper (perawat) yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang
terapeutik, yaitu:
1. Kejujuran
Kejujuran sangat penting, karena tanpa adanya kejujuran mustahil bisa
terbina hubungan saling percaya. Seseorang akan menaruh rasa percaya pada
lawan bicara yang terbuka dan mempunyai respons yang tidak dibuat-buat,
sebaliknya ia akan berhati-hati pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga
sering menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata atau
sikapnya yang tidak jujur
2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif
Dalam berkomunikasi dengan klien, perawat sebaiknya menggunakan
kata-kata yang mudah dipahami oleh klien dan tidak menggunakan kalimat yang
berbelit-belit. Komunikasi nonverbal perawat harus cukup ekspresif dan sesuai
dengan verbalnya karena ketidaksesuaian akan menimbulkan kebingungan bagi
klien.
3. Bersikap positif
Bersikap positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan
lewat komunikasi nonverbal sangat penting baik dalam membina hubungan saling
percaya maupun dalam membuat rencana tindakan bersama klien. Bersikap positif
ditunjukkan dengan bersikap hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap
klien.

6
4. Empati bukan simpati
Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena
dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan
klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan klien (Brammer,1993 dalam
Suryani,2005).
5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus berorientasi
pada klien (Taylor, Lilis dan Le Mone, 1993), oleh karenaya perawat harus
mampu untuk melihat permasalahan yang sedang dihadapi klien dari sudut
pandang klien. Untuk mampu melakukan hal ini perawat harus memahami dan
memiliki kemampuan mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian.
6. Menerima klien apa adanya
Seorang helper yang efektif memiliki kemampuan untuk menerima
klien apa adanya. Jika seseorang merasa diterima maka dia akan merasa aman
dalam menjalin hubungan interpersonal (Sullivan, 1971 dalam Antai Ontong,
1995 dalam Suryani, 2005). Nilai yang diyakini atau diterapkan oleh perawat
terhadap dirinya tidak dapat diterapkan pada klien, apabila hal ini terjadi maka
perawat tidak menunjukkan sikap menerima klien apa adanya.
7. Sensitif terhadap perasaan klien
Seorang perawat harus mampu mengenali perasaan klien untuk dapat
menciptakan hubungan terapeutik yang baik dan efektif dengan klien. Dengan
bersikap sensitive terhadap perasaan klien perawat dapat terhindar dari berkata
atau melakukan hal-hal yang menyinggung privasi ataupun perasaan klien.
8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat
sendiri
Perawat harus mampu memandang dan menghargai klien sebagai
individu yang ada pada saat ini, bukan atas masa lalunya, demikian pula terhadap
dirinya sendiri.

7
2.6 Unsur-Unsur Komunikasi.
Unsur-unsur dalam komunikasi terapeutik adalah terdiri dari komunikator,
komunikan, pesan yang disampaikan dan lingkungan waktu komunikasi
berlangsung.
Komunikasi terapeutik dapat berjalan secara efektif apabila terdapat unsur-
unsur sebagai berikut:
1. Adanya referen atau stimulus yang memotivasi seseorang untuk
berkomunikasi dengan orang lain berupa objek, pengalaman, emosi, ide,
atau tindakan.
2. Terdapat pesan sebagai informasi yang dikirimkan atau diekspresikan
oleh pengirim.
3. Adanya pengirim (encoder) dan penerima (decoder) sebagai objek dari
media komunikasi.
4. Pesan dikirimkan melalui saluran komunikasi yang dimaksudkan untuk
membawa pesan, seperti melalui sarana visual, pendengaran, dan taktil.
5. Adanya respons terbuka di dalam komunikasi yang dapat membantu
untuk mengungkapkan apakah makna dari pesan tersebut tersampaikan
6. Adanya dukungan lingkungan yang tepat pada saat melakukan
komunikasi terapeutik untuk menjaga privasi klien.

2.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Terapeutik.


Menurut (Purwanto, Heri, 1994) :
1. Kemampuan pemahaman yang berbeda.
2. Pengamatan/penafsiran yang berbeda karena pengalaman masa lalu.
3. Komunikasi satu arah.
4. Kepentingan yang berbeda.
5. Memberikan jaminan yang tidak mungkin.
6. Memberitahu apa yang harus dilakukan kepada penderita.
7. Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi.
8. Menuntut bukti, tantangan serta penjelasan dari pasien mengenai
tindakannya.

8
9. Memberikan kritik mengenai perasaan penderita.
10. Menghentikan/mengalihkan topik pembicaraan.
11. Terlalu banyak bicara yang seharusnya mendengarkan.

2.8 Hambatan Komunikasi Terapeutik.


Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-
klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens, transferens, dan kontertransferens
(Hamid, 1998). Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini
menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. Untuk lebih
jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi
terapeutik itu.
1. Resisten.
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab
ansietas yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau
penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang
menimbulkan masalah aspek diri seseorang.
2. Transferens.
Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan
dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam
kehidupannya di masa lalu.
3. Kontertransferens.
Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien.
Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat
terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik
atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi.

2.9 Teknik Komunikasi Terapeutik.


Dua persyaratan dasar agar komunikasi menjadi efektif (Stuart dan
Sundeen, 1998) :
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi
dan penerima pesan

9
2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih
dahulu sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.
Teknik komunikasi berikut ini, yang dikutip dari artikel Purba, J.M. (2008)
terdiri atas beberapa komponen berikut ini :
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Dalam hal ini perawat berusaha memahami klien dengan cara
mendengarkan masalah yang disampaikan klien.
2. Menunjukkan Penerimaan
Arti menerima adalah mendukung dan menerima informasi dengan dengan
tingkah laku yang menunjukan ketertarikan dan tidak menilai.
Berikut ini sikap perawat yang menunjukkan rasa percaya :
1.) Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
2.) Membarikan umpan balik verbal kepada klien dengan cara yang baik.
3.) Memastikan bahwa isyarat non-verbal sesuai dengan komunikasi verbal.
4.) Menghindari perdebatan, mengekspresikan keraguan, atau mencoba
untuk mengubah pikiran klien. Perawat dapat menganggukkan kepalanya
atau berkata,”Ya” atau, “Saya mengikuti apa yang Anda ucapkan”.
5.) Penerimaan juga digunakan untuk membangun rasa percaya dan
mengembangkan empati ( Boyt & Nirhat, 1998)
Misalnya:Klien :
“Saya telah melakukan beberapa kesalahan
”Ners : “ Saya ingin mendengar itu, tidak apa jika anda ingin
mendiskusikan hal itu dengan saya”
6.) Menanyakan Pertanyaan yang BerkaitanMenanyakan pertanyaan yang
berkaitan bertujuan untuk mendapatkan informasi yang spesifik
mengenai klien.
7.) Mengulang Ucapan Klien dengan Menggunakan kata-Kata Sendiri
Dengan mengulang kembali ucapan klien berarti perawat membarikan
umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan
mengharapkan komunikasi berlanjut. Sebagai contoh, seorang klien
mengatakan, “ Saya tidak dapat tidur, semalam saya terjaga”, lalu

10
perawat menjawab, “Anda mengalami kesulitan untuk tidur tadi
malam...”.
8.) Memberi Kesempatan kepada Klien memulai Pembicaraan
Perawat sebaiknya memberikan kesempatan kepada klienuntuk
berinisiatif dan mmemilih temapembicaraan. . Misalnya “Adakah sesuatu
yang ingin Anda sampaikan?” atau “Apakah yang sedang Anda
pikirkan?”.
9.) Diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk
mengorganisasikan pikiran masing-masing. Msalnya:
Klien : “ Saya marah”
Ners : (Diam)
Klien : “orang tua saya tidak perhatian lagi sama saya”
10.) Klarifikasi
Jika terjadi kesalahpahaman sebaiknya perawat menghentikan
pembicaraan sejenak untuk mengklarifikasi dan menyamakan pemahaman,
Contoh:
Klien : “Saya kurang yakin apakah bisa mengikuti apa yang Anda
sampaikan.”
Perawat : “Apa yang Anda katakan tadi adalah.....”
11.) Memfokuskan
Teknik ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan
sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Misalnya, “Hal ini sangat penting,
nanti kita bicarakan lebih lanjut.”
12.) Menyampaikan hasil observasi
Perawat perlu memberikan respons kepada klien dengan menyatakan hasil
pengamatannya.
Contoh:
“ Anda kelihatan tegang...”
“ Apakah Anda merasa cemas apabila Anda...”

11
13.) Menawarkan Infornasi
Pemberian tambahan informasi dapat dijadikan sebagai pendidikan
kesehatan bagi klien dan juga bisa menambah rasa percaya klien terhadap
perawat.
14.) Meringkas
Meriingkas adalah mengulang ide utama yang telah dikomunikasikan
secara singkat. Misalnya, “Selama kurang lebih 2 jam, Anda dan saya
telah membicarakan tentang...”
15.) Memberikan Penghargaan
Memberikan penghargaan terhadap klien dapat dilakukan dengan cara
seperti menyambutnya dengan salam dan menyebutkan namanya.
Misalnya :
” Selamat siang, Bapak Jaya”, “Assalamualaikum” atau “Selamat datang
Ibu, Ibu sangat tepat waktu sesuai janji.”
16.) Menawarkan Diri
Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan
orang lain. Sering kali perawat hanya menawarkan kehadirannya dan
ketertarikannya tenpa mempertimbangkan kondisi klien.
Misalnya, “Saya mengharapkan Anda merasa tenang dan nyaman.”
17.) Mempersilakan Untuk Meneruskan Pembicaraan
Teknik ini mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang
sedang dibicarakan dan selanjutnya respek dengan apa yang akan
dibicarakan.
Misalnya, “...lanjutkan...!”, “... dan terus...?”, atau “Ceritakan kepaa
saya...”.
18.) Menganjurkan Klien untuk Menjelaskan Persepsinya
Jika perawat ingin mengerti klien lebih jauh, maka perawat tersebut harus
melihat klien dengan sesungguhnya dari segala perspektif. Klien harus
merasa bebas untuk menguraikan atau menjelaskan persepsinya.
Misalnya, “Ceritakan kepada saya bagaimana perasaan Anda ketika akan
dilakukan pemasangan infus”, “Atau apa yang sedang Anda lihat.”

12
19.) Refleksi
Refleksi adalah suatu teknik yang menganjurkan klien
untukmengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai bagian
dari dirinya sendiri.
Misalnya,”Apakah menurut Anda, saya harus menyampaikannya kepada
dokter?” atau “Apakah menurut Anda, Anda yang harus
menyampaikannya?”.

2.10 Sikap Komunikasi Terapeutik.


Berikut adalah tindakan atau sikap yang dilakukan ketika menunjukkan
kehadiran secara fisik :
1. Berhadapan dengan lawan bicara
Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (“saya siap untuk
anda”).
2. Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan)
Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk
mendukung terciptanya komunikasi.
3. Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara
Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam
komunikasi (berbicara-mendengar).
4. Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural
Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk
mempertahankan komunikasi.
5. Bersikap tenang
Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan
menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.

2.11 Tahapan Komunikasi Terapeutik.


Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri
dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3)

13
fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam setiap fase terdapat tugas
atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan.
a.Fase preinteraksi
Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan
klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
1. Mengeksplorasi perasaan,harapan dan kecemasannya;
2. Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan
terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien,
jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman
kelompok;
3. Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat
rencana interaksi;
4. Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di
implementasikan saat bertemu dengan klien.
b.Fase orientasi
Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat
pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan
dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling
percaya.
Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain :
1. Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan
komunikasi terbuka.
2. Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga
kelangsungan sebuah interaksi.
3. Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien.
4. Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah
klien teridentifikasi.
c.Fase kerja.
Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi
teraeutik.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi
klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan

14
kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien.
(Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005).
d.Fase terminasi.
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling
percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien
keduanya merasa kehilangan.Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat,
yang dibagi dua yaitu:
1) Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan;
2)Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses
keperawatan secara menyeluruh.
Contoh Analisis Kasus
Situasi
Seorang ibu bernama Neni, 25 tahun, post-partum (anak pertama) ingin
mengetahui tentang perawatan tali pusat pada bayi, dimana ners Irma sebelumnya
sudah melakukan interaksi dan menjalin hubungan saling percaya dengan ibu
Neni. Dalam hal ini yang digunakan adalah teknik komunikasi wawancara (tanya
jawab).
 Fase Orientasi
1. Ners Irma : “Assalaualaikum Bu.../ selamat pagi bu” (sambil
mengulurkan tangan untuk berjabat tangan).
Bu Neni : “walaikumsalam, pagi juga ners Irma,” (sambil tersenyum dan
menjabat tangan).
2. Ners Irma: “Bagaimana perasan Ibu Neni sekarang, adakah sesuatu
yang ingin disampaikan Ibu Neni ketika menemani si kecil selama kita
tidak bertemu, coba Ibu sampaikan?” (sambil memegang bahui kanan Ibu
Neni).
Bu Neni : “Alhamdulillah, saya sanga senang Ners, setelah lahirnya sibuah
hati yang kami tunggu-tunggu. Oh, ya Ners ... saya masih kurang jelas
mengenai perawatan tali pusat, saya agak khawatir jangan-jangan nanti
terjadi infeksi?”.

15
3. Ners Irma : “O...ya, Ibu sesuai dengan perjanjian kita kemarin,hari ini
saya akan jelaskan apa saja yang belum Ibu pahami dan saya juga akan
jelaskan semua hal yang ingin Ibu tanyakan, yaitu tentang perawatan tali
pusat yan gbenar, begitukah bu?”
Bu Neni: “ Ya Ners, saya masih bingung!”
4. Ners Irma : “Baiklah, saya akan coba menjelaskan tentang perawatan
tali pusat pada bayi, tetapi tolong Ibu perhatikan betul! Sekarang apakah
Ibu sudah siap untuk mendengarkannya?”
Bu Neni : “ya ners, saya siap”
 Fase Kerja
1. Ners Irma :”Baiklah Bu, perawatan tali pusat pada bayi sangatlah
penting kita ketahui dan kita pahami agar bayi kita terbebas dari infeksi
tetanus.”
Bu Neni :”Infeksi tetanus pada bayi bisa terjadi..., ya Ners?”
2. Ners Irma :” Benar Bu Neni, tetanus bisa berakibat kematian pada bayi.
Jadi, perawatan tali pusat kita laksanakan pada pagi hari setelah kita
memandikan bayi kita dan kita harus benar-benar menjaga
kebersihannya”.
Bu Neni :”Berarti ners, setelah kita memandikan bayi kita, kita juga
malkukan perawatan tali pusat”.
3. Ners Irma :”Ya, sangat benar sekali Bu Neni, sebelum kita
melaksanakannya, kita terlebih dahulu mempersiapkan alat-alatnya”.
(Sambil memmpraktikkannya).
Bu Neni :”Apa saja persiapan alatnya Ners?”
4. Ners Irma :”Kita harus menyiapkan alat-alat yang akan dipakai seperti
kapas lidi, trypleday, kassa steril semuanya diletakkan pada tempatnya
masing-masing lalu disusun pada baki.” (sambil memegang dan
menunjukkan alat tersebut)
Bu Neni :”Terus caranya bagaimana ners...?” (Klien menganggukkan
kepala).

16
5. Ners Irma :” Pertama-tama setelah bayi selesai dimandikan, kita ambil
kapas lidi lalu diolesi trypleday kemudian kita mulai membersihkannya
dari sekeliling pangkal tali pusat sampai bagian ujung. Sampai disini ada
yang mau ditanyakan Bu Neni?” Bu Neni :”O...ya ners, apakah kapas lidi
tersebut tidak boleh kita bolak-balik?”
6. Ners Irma :”Benar sekali Bu Neni, jadi setiap kita membersihkan bagian
tali pusat, kita tukar dengan yang baru lagi dan jangan lupa juga Bu,
sebelum kita melakukannya tangan ibu harus bersih atau cuci tangan
sebelum melakukan tindakan tersebut. Pokoknya kebersihan herus dijaga
sebaik-baiknya.”
Bu Neni :”Selanjutnya bagaimana ners...?”
7. Ners Irma :”Oh...ya, maaf Bu..., tadi pembicaran kita sampai dimana?”
Bu Neni :”Sampai...membersihkan tali pusat sampai bagian ujung.”
8. Ners Irma :”Kemudian dilanjutkan dengan membungkus tali pusat,
bagaimaan Bu Neni, tidak sulit bukan?”
Bu Neni :”Sepertinya saya bisa, ya... saya bisa melakukannya, ners.”
 Fase Terminal
1. Ners Irma :”Bagaimana Bu Neni, apakah sudah mengerti
denganpenjelasan tadi?” Bu Neni :”Sudah, Ners.”
2. Ners Irma :”Apakah Bu Neni bisa mengulang kembali apa yang telah
saya jelaskan?”
Bu Neni :”Insya Allah bisa Bu. Saya akan mencoba Ners, pertama-tama
setelah bayi selesai dimandikan, kita ambil kapas lidi lalu kita olesi
tryplady setelah itu kita mulai membersihkan tali pusat dari pangkal dan
sekelilingnya sampai keujung, kemudian kita bungkus dengan kain kassa
steril yang kering. Terakhir baru kita rapikan dan baju bayi kita pasangkan.
Bagaimana Ners?”
3. Ners Irma :”Bagus Bu Neni, sepertinya Ibu telah mengerti dengan apa
yang telah saya sampaikan, apakah masih ada yang ingin Ibu tanyakan?”
Bu Neni :” Tidak ners, saya pikir sudah cukup!”
4. Ners Irma :”Oke...”(tersenyum).

17
Bu Neni :”Saya sangat berterima kasih karena Ners telah meluangkan
waktu untuk saya.”
5. Ners Irma :”Sama-sama Bu Neni, itu semua sudah kewajiban saya.”
Bu Neni :”Terus saya ingin mengetahui bagaimana cara menyusui yang
baik dan benar.”
6. Ners Irma : (tersenyum)”...baiklah Bu Neni. Insya Allah, saya akan
datang lagi kesini besok untuk menjelaskan bagaimana cara menyusui
yang baik dan benar. Ibu mau saya datang jam berapa?”
Bu Neni :”Sama seperti hari ini saja, ners.”
7. Ners Irma :”Baik Bu sampai ketemu besok, ya!”
Bu Neni :”Ya, ners.”
8. Ners Irma :” Kalau begitusaya permisi dulu ya Bu Neni. Selamat
siang..., Assalamualaikum!” (tersenyum).
Bu Neni :”Siang ners...walaikumsalam.”

2.12 Komunikasi Terapeutik Dalam Proses Keperawatan.


Proses komunikasi : (Mubarak, Wahid Iqbal, dkk, 2007)
1. Reference, stimulus yang memotifasi seseorang untuk berkomunikasi
dengan orang lain. Dapat berupa pengalaman, ide atau tindakan.
2. Pengirim/ sumber/ encorder, disebut juga komunikator. Bisa perorangan
atau kelompok.
3. Pesan/ berita, informasi yang dikirimkan. Dapat berupa kata-kata,
gerakan tubuh atau ekspresi wajah.
4. Media/ saluran, alat atau sarana yang dipilih pengirim untuk
menyampaikan pesan pada penerima/ sasaran.
5. Penerimaan/ sasaran/ decoder, kepada siapa pesan yang ingin
disampaikan tersebut dituju.
6. Umpan balik/ feed back/ respons, reaksi dari sasaran terhadap pesan
yang disampaikan.

18
2.13 Komunikasi Efektif.
Komunikasi efektif yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan
perubahan sikap (attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses
komunikasi.
Tujuan dari Komunikasi Efektif sebenarnya adalah memberi kan
kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi informasi
dan penerima informasi sehingga bahasa yang digunakan oleh pemberi informsi
lebih jelas dan lengkap, serta dapat dimengerti dan dipahami dengan baik oleh
penerima informasi, atau komunikan. tujuan lain dari Komunikasi Efektif adalah
agar pengiriman informasi dan umpan balik atau feed back dapat seinbang
sehingga tidak terjadi monoton. Selain itu komunikasi efektif dapat melatih
penggunaan bahasa nonverbal secara baik.
Komunikasi dapat dikatakan efektif apa bila komunikasi yang dilakukan
dimana:
1. Pesan dapat diterima dan dimengerti serta dipahami sebagaimana yang
dimaksud oleh pengirimnya.
2. Pesan yang disampaikan oleh pengirim dapat disetujui oleh penerima dan
ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminati oleh pengirim.
3. Tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan apa yang seharusnya
dilakukan untuk menindaklanjuti pesan yang dikirim.
Upaya meningkatkan komunikasi terapeutik :
a. Pihak komunikator ( perawat ).
1) Harus menguasai metoda / cara penyampaianpesan baik verbal maupun non
verbal.
2) Harus bersikap tegas , penuh penerimaan dan penghargaan , jangan
menunjukan kesombongan , ragu-ragu dan menunjukan ketidak percayaan
dihadapan klien.
3) Dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi selama melakukan
komunikasi.
4) Jamgam memaksa budaya sendiri dalam melakukan komunikasi dengan
klien.

19
2.14 Klarifikasi Nilai.
Perawat harus mampu menjawab, apa yang penting untuk saya? Kesadaran
membantu perawat untuk sayang dan tidak menjauhi pasien dan membantu sesuai
dengan kebutuhannya. Walaupun hubungan perawat – klien merupakan hubungan
timbal balik, tetapi kebutuhan klien selalu di utamakan. Perawat sebaiknya
mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak
menggunakan klien untuk kepuasan dan keamanannya.
Yang dimaksud dengan klarifikasi nilai adalah metode dimana seseorang
menemukan nilai- nilainya sendiri dengan mengkaji, mengeksplorasi, dan
menentukan nilai – nilai pribadi dan bagaimanan nilai tersebut digunakan sebagai
acuan dalam mengambil keputusan.
Pemahaman tentang nilai diri diklarifikasikan oleh nilai individu dengan
cara mengkaji, eksplorasi, imajinasi, serta merujuk pada tujuan akhir (Covey,
1997, dikutip dari Nurjannah, 2005).

2.15 Eksplorasi Perasaan.


Eksplorasi diri adalah keterbukaan dan kesadaran terhadap perasaan
perawat dan dapat mengontrol agar perawat dapat menggunakan dirinya secara
terapeutik ( Stuart & Sundeen, 1987, dikutip dari Keliat, 1996).
Eksplorasi diri merupakan kesadaran diri perawat bagaimana cara
memperlihatkan model pada klien sehingga tidak memberi efek negatif pada saat
hubungan perawat klien (Keliat, 1996).

2.16 Role Model.


Kemampuan menjadi model juga berarti bahwa perawat mampu
melaksanakan nilai – nilai yang telah ditetapkan sebagai standarnya, dimana nilai
– nilai itu sesuai dengan prinsip yang benar.
Ciri perawat yang dapat menjadi role model :
- Puas akan hidupnya
- tidak didominasi oleh stres
- mampu kembangkan kemampuan.

20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang memiliki makna
terapeutik bagi klien dan dilakukan oleh perawat (helper) untuk membantu klien
mencapai kembali kondisi yang adaptif dan positif.
Kesadaran diri dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk
memahami dirinya sendiri, baik perilaku, perasaan dan pikirannya sendiri.
klarifikasi nilai adalah metode dimana seseorang menemukan nilai-
nilainya sendiri dengan mengkaji, mengeksplorasi, dan menentukan nilai – nilai
pribadi dan bagaimanan nilai tersebut digunakan sebagai acuan dalam mengambil
keputusan.
Eksplorasi diri adalah keterbukaan dan kesadaran terhadap perasaan
perawat dan dapat mengontrol agar perawat dapat menggunakan dirinya secara
terapeutik.

3.2 Saran.
Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang
perawat. Komunikasi terapeutik bukanlah hanya salah satu upaya yang dilakukan
oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien.
Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan latihan dan
pengasahan keterampilan berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi
tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.
Ketika seorang perawat berusaha untuk mengaplikasikan pengetahuan
yang ia miliki untuk melakukan komunikasi terapeutik, ia pada akhirnya akan
menyadari bahwa komunikasi terapeutik yang ia lakukan tidak hanya memberikan
khasiat terapeutik bagi pasiennya tetapi juga bagi dirinya sendiri.

21
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Sikap Perawat dalam Komunikasi. http:// catatan calon perawat.
blogspot. com/ 2011/ 02/ sikap- perawat- dalam- komunikasi. html
(online). Diakses tanggal 20 Sep 2016
Budi. 2013. Komunikasi Terapeutik. http:// www. scribd. com/doc /45819001
/Pengertian- Komunikasi- Terapeutik(online). Diakses tanggal 20 Sep 2016.
Ermawati.2009. Buku Saku Komunikasi Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media
Purwanto, Hery. 1994. Komunikasi Untuk Perawat. Jakarta: EGC
Potter & Perry (2005). Fundamental keperawatan, Edisi 5 . Jakarta : EGC
Suryani.(2005). Komunikasi Terapeutik; Teori dan Praktik. Jakarta: EGC

22
LAMPIRAN

10 Contoh Soal Komunikasi Teraupetik

1. Tuliskan definisi terapeutik ?


Jawab :
Adalah apabila berkomunikasi dengan klien, perawat mendapatkan gambaran
yang jelas tentang kondisi klien yang sedang dirawat, mengenai tanda dan gejala
yang ditampilkan serta keluhan yang dirasakan

2. Tuliskan tujuan dari komunikasi teraupetik!


Jawab :
1. Kesadaran diri penerimaan diri dan meningkatan kehormatan diri
2. Identitas pribadi yang jelas dan meningkatnya integrasi pribadi
3. Kemampuan untuk membentuk suatu keintiman, saling ketergantungan,
hubungan interpersonal dengan kapasitas memberi dan menerima

3. Jelaskan 3 faktor konsep Carl Roger yang dikembangkan oleh Mundauir ?


Jawab :
1. Keikhlasan : ketulusan hati dengan hati yang bersih dan jujur melakukan
pekerjaan tanpa ada motif tertentu
2. Empati : kondisi emosi klien dan keluarga yang labil . memerlukan
dukungan emonasional tenaga kesehatan denagn belajar teori berduka /
kehilangan agar mampu berempati pada klien.
3. Kehangatan : memberikan dukungan sosial kepada klien yang berduka
untuk mempertahankan & menguatkan pertahanan egonya.

4. Sebutkan teknik – teknik komunikasi teraupetik ?


Jawab :
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
2. Menunjukan dengan penerimaan

23
3. Menanyakan pertnayaan yang berkaitan dengan pertanyaan terbuka
4. Mengulang ucapan klien dengan kata-kata sendiri
5. Klarifikasi
6. Memfokuskan
7. Menyampaikan hasil observasi
8. Menawarkan informasi
9. Diam
10. Meringkas
11. Memberi penguat
12. Menawarkan diri
13. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan
14. Menepatkan kejadian secara teratur akan menolong perawat & klien untuk
melihatnya dalam suatu perspektif
15. Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsinya
16. Refleksi

5. Bagaiman ekspresi wajah menurut Smith ?


Jawab :
Dalam nurjana 1 (2001 )
Kondisi muka
1. Dahi : tampak rileks, tidak ada kerutan
2. Mata : kontak mata nyaman, gerak mata natural
3. Mulut : tampak rileks, tidak cemburu, tidak menggigit bibir , tersenyum
jika perlu
4. Ekspresi : tampak rilek, tidak ketakutan, kekhawatiran

6. Sebutkan unsur-unsur dalam membangun komunikasi nonverbal ?


Jawab :
1. Berhadapan
2. Memperhatikan kotak mata
3. Membungkuk kearah klien

24
4. Mempertahankan sikap terbuka dan Tetap relax
7. Bagaimana perilaku yang dapat muncul pada klien dalam bentuk respon
emosional menurut suryani, (2006) adalah?
Jawab :
1. Love dan caring berlebihan
2. Benci dan marah berlebihan
3. Cemas dan rasa bersalah yang timbul berulang – ulang
4. Tidak mampu berempati terhadap klien
5. Perasaan tertekan selama atau setelah proses

8. Sebutkan cara – cara kita untuk menunjukkan respon empati adalah?


Jawab :
1. Menggosokkan pikiran yang mengganggunya termasuk setimen pribadi
2. Mau mendengarkan dengan penuh pikiran
3. Mengormati klien mengungkapkan perasaannya
4. Bicara dengan nada suara yang lembut
5. Memperhatikan aspek lingkungan sekitar
6. Menempatkan respon klien berupa reaksi dan bukan aksi

9. Jelaskan apa yang dimaksud tahap pra – interaksi?


Jawab :
Tahap apersepsi dimana perawat menggali lebih dahulu kemampuan yang
memiliki sebelum kontak / berhubungan dengan klien termasuk kondisi
kecemasan yang menyelimuti diri perawat.

10. Sebutkan hal – hal yang dipelajari dari diri sendiri dalam tahap – tahap pra –
interaksi?
Jawab :
1. Pengetahuan yang memiliki yang terkait dengan penyakit dan masalah klien
2. Kecemasan dan kekalutan diri
3. Analisis kekuatan diri

25