Anda di halaman 1dari 32

Nama : Cindyla Ega Lusiana

NIM : 4411417064

HATI DAN GINJAL

A. Hati
Hati merupakan organ terbesar di tubuh dengan berat sekitar 1,5 kg atau sekitar
2% berat tubuh orang dewasa. Dengan lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang lebih
kecil,hati merupakan kelenjar terbesar dan terletak dalam rongga perut di bawah diafragma.
(Gambar 16-11).
Hati merupakan perantara sistem pencernaan dengan darah: organ dalam saluran
cema tempat penyerapan nutrien yang digunakan di bagian lain tubuh. Kebanyakan darah di
hati (70-80%) berasal dari vena porta yang berasal dari lambung, usus, dan limpa; sisanya
(20-30%) disuplai oleh a. hepatica. Seluruh materi yang diserap melalui usus tiba di hati
melalui vena porta, kecuali lipid kompleks (kilomikron), yang terutama diangkut melalui
pembuluh limfe. Posisi hati dalam sistem sirkulasi sangat optimal untuk menampung,
mengubah dan mengumpulkan metabolit dari darah serta untuk menetralisasi dan
mengeluarkan zat toksik dalam darah. Pengeluaran ini terjadi dalam empedu, suatu sekret
eksokrin dari hati yang penting untuk pencernaan lipid di usus. Hati juga menghasilkan
protein plasma, seperti albumin, fibrinogen dan berbagai protein pembawa lainnya.

Stroma
Hati dibungkus oleh suatu simpai tipis jaringan ikat yang menebal di hilus,
tempat vena porta dan a. hepatica memasuki organ dan keluarnya duktus hepatika kiri dan
kanan serta pembuluh limfe dari hati. Pembuluh-pembuluh dan duktus ini dikelilingi jaringan
ikat di sepanjang perjalanannya ke bagian ujung (atau bagian asal) di dalam celah portal di
antara lobulus hati. Di tempat ini, jalinan serat retikular halus mengelilingi dan menopang sel
hati dan se1 endotel sinusoid di lobulus hati (Gambar 16-12 dan 16-13).

Lobulus Hati
Sel-sel hati atau hepatosit (Yun. hepar, hati, + kytos, sel) merupakan sel epitel
yang berkelompok membentuk 1empeng-lempeng yang saling berhubungan. Hepatosit
tersusun berupa ribuan lobulus hati kecil (-0,7 x 2 mm) polihedral yang merupakan unit
fungsional dan struktural hati yang klasik (Gambar 16-11). Setiap lobulus memiliki tiga
sampai enam area portal di bagian perifernya dan suatu venula yang disebut vena sentral di
bagian pusatnya (Gambar 16-11, 16-12, dan 16- 13). Zona portal di sudut lobulus terdiri atas
jaringan ikat dengan suafu venula (cabang vena portal), arteriol (cabang a. hepatica), dan
duktus epitel kuboid (cabang sistem duktus biliaris) - ketiga struktur yang disebut trias porta
(Gambar 16- 12). Venula tersebut mengandung darah dari vena mesenterica superior dan
inferior serta vena lienalis. Arteriol menerima darah dari truncus coeliacus dari aorta
abdominalis. Duktusnya membawa empedu yang dibuat oleh sel-sel parenkim (hepatosit) dan
akhirnya rnencurahkan isinya ke dalam duktus hepatikus. Area portal juga memiliki serabut
saraf dan pembuluh limfe. Pada beberapa hewan (misalnya babi), setiap lobulus terpisah dari
lobulus lain oleh selapis jaringan ikat sehingga lobulus dapat dikenali dengan jelas. pada
manusia, lebulus berkontak erat hampir di setiap sisinya dan lebih sulit menentukan batas
yang jelas antar berbagai lobulus (Gambar 16-12). Hepatosit membentuk suatu lempeng yang
berhubungan seperti susunan batu bata di tembok dan lempeng sel ini teisusun radial di
sekeliling vena sentral (Gambar 16-11). Dari bagian perifer lobulus ke pusatnya, lempeng
hepatosit beicabang dan beranastomosis secara bebas membentuk struklur yang menyerupai
spons (Gambar 16-12). Celah di antara lempeng ini mengandung komponen mikrovaskular
penting, yaitu sinusoid hati (Gambar 16-1I, 16-12, dan 16-13). Sinusoid lebar yang tidak
teratur ini hanya terdiri atas lapisan diskontinu sel endotel bertingkap (Gambar 16-14 dan 16-
15). Sel-sel endotel terpisah dari hepatosit di bawahnya oleh suatu lamina basal tipis yang
tidak kontinu dan suatu celah perisinusoid (celah Disse) yang sangat sempit. Mikrovili
hepatosit menonjol ke dalam celah tersebut demi terjadinya pertukaran antara sel tersebut dan
plasma (Gambar 16-14). Pertukaran ini penting secara fisiologis bukan saja karena
banyaknya makromolekul (misalnya lipoprotein, albumin dan fibrinogen) yang disekresi ke
dalam darah oleh hepatosit ,tetapi juga karena hati mengambil dan mengatabolisme sejumlah
besar molekul besar ini. Sinusoid dikelilingi dan ditunjang selubung serat retikular halus
(Gambar 16-13). Selain sel endotel, terdapat dua sel penting yang berhubungan dengan
sinusoid tersebut, yaitu:
a) Sejumlah besar makrofag stelata yang juga dikenal sebagai sel Kupffer, ditemukan antara
sel endotel sinusoid dan permukaan luminal di dalam sinusoid, terutama dekat area
portalnya (Gambar 16-14). Fungsi utamanya adalah menghancurkan eritrosit tua,
menggunakan ulang heme, menghancurkan bakteri atau debris yang dapat memasuki
arah portal dari usus, dan bekerja sebagai sel penyaji antigen pada imunitas adaptif.
b) Di celah perisinusoid (bukan di lumen) terdapat sel penimbun-lemak stelata (atau sel-sel
Ito) dengan droplet lipid kecil yang mengandung vitamin A (Gambar 16-14). Sel-sel
tersebut, yang membentuk sekitar 8% sel di hati tetapi sulit ditemukan pada sediaan
rutin, menyimpan banyak vitamin A lubuh, menghasilkan komponen matriks ekstrasef
dan ikut berperan mengatur imunitas setempat.

Suplai Darah

Sebagai tempat pertemuan penting unfuk pemrosesan darah dari sistem


pencernaao hati menerima sebagian besar darah dari vena porta, yang membawa darah
miskin-oksigen tetapi kaya-nutrien dari organ visera abdominal. Darah teroksigenasi dalam
jumlah yang lebih sedikit berasal dari arteria hepatica (Gambar 16-11).

Sistem porta membawa darah dari pankreas, limpa dan usus. Nutrien
terakumulasi dan diubah dalam hati, dan zat toksik dinetralkan dan dihilangkan di tempat
tersebut. Pada hati, vena porta bercabang-cabang dan menjadi venula porta kecil menuju
celah portal. Venula portal bercabang menjadi venula pendistribusi kecil yang berjalan di
tepi setiap lobulus dan beruiung ke dalam sinusoid. Sinusoid berjalan radiaf berkonvergensi
di pusat lobulus untuk membentuk vena sentralis atau vena sentrolobular (Gambar 1'6-11,
16-12 dan 16-13). Pembuluh ini, seperti sinusoid, berdinding tipis, dan hanya terdiri atas
se1-sel endotel yang ditunjang sedikit serat kolagen (Gambar 16-13). Venula sentralis dari
setiap lobulus menyatu menjadi vena, yang akhirnya membentuk dua atau lebih vena
hepatica besar yang bermuara ke dalam vena cava inferior.

Arteria hepatica bercabang berulang kali dan membentuk arteriol di area portal
dan beberapa di antaranya berakhir langsung ke dalam sinusoid pada jarak-jarak tertentu dari
celah portal sehingga darah arteri yang kaya-oksigen ditambahkan ke darah vena porta di
sinusoid. Darah selalu mengalir dari tepi ke pusat lobulus hati. Akibatnya, oksigen dan
metabolit, serta substansi toksik maupun nontoksik lain yang diserap dalam usus, sampai di
sel-sel bagian tepi lebih dulu dan kemudian baru tiba di sel-sel bagian pusat lobulus. Arah
aliran darah ini menjelaskan mengapa sifat dan fungsi hepatosit periportal berbeda dari sel-
sel sentrolobular. Hepatosit di dekat area portal dapat bergantung pada metabolisme aerob
dan sering lebih aktif berperan pada sintesis protein, sedangkan sel yang berada lebih ke
pusat terpajan nutrien dan oksigen dengan konsentrasi rendah serta lebih berperan pada
detoksifikasi dan metabolisme glikogen.
Hepatosit

Hepatosit merupakan sel polihedral besar, dengan enam atau lebih permukaan,
dan berdiameter 20-30 ptm. Pada sediaan yang dipulas dengan hematoksilin dan eosin
(H&E), sitoplasma hepatosit biasanya bersifat eosinofilik karena banyaknya mitokondria,
yang berjumlah hingga 2000 per sel. Hepatosit memiliki inti sferis besar dengan nukleolus.
Sel-sel tersebut sering memiliki dua atau lebih nukleolus dan sekitar 50% darinya bersifat
poliploid, dengan dua, empaf delapan atau melebihi jumlah kromosom diploid normal. Inti
poliploid ditandai dengan ukuran yang lebih besar, yang proporsional dengan sifat ploid-nya.
Permukaan setiap hepatosit berkontak dengan dinding sinusoid, melalui celah Disse, dan
dengan permukaan hepatosit lain (Gambar 16-16). Di tempat dua hepatosit berkontak,
terbentuk suatu celah tubular di antara kedua sel ini yang disebut kanalikulus biliaris
(Gambar 16-16). Kanalikuli, bagian pertama sistem duktus biliaris, adalah celah panjang
berdiameter 1-2 prm. Kanalikuli hanya dibatasi membran plasma dari dua hepatosit, yang
menjulurkan sedikit mikrovili di bagian dalamnya (Gambar 16-16). Membran sel di dekat
kanalikuli ini diikat dengan kuat oleh taut erat. Taut celah juga terdapat di antara hepatosit,
yang memungkinkan tempat komunikasi antarsel dan koordinasi aktivitas sel-sel. Kanalikuli
biliaris membentuk suatu jalinan anastomosis kompleks di sepanjang lempeng lobulus hati
dan berakhir di daerah portal (Gambar 16-11). Jadi, aliran empedu berlangsung dalam arah
yang berlawanan dengan arah aliran darah, yaitu dari pusat lobulus ke bagian tepi. Di area
portal periferal, kanalikulus biliaris bermuara ke dalam duktulus biliaris (Gambar 16-17)
yang tersusun dari sel-sel kuboid yang disebut kolangiosit (Gambar 16-18 dan 16-19).
Setelah melalui jarak yang pendek, duktulus melewati hepatosit pembatas di lobulus dan
berakhir dalam duktus biliaris di celah portal. Duktus biliaris dilapisi epitel kuboid atau
silindris dan mempunyai selubung jaringan ikat khusus. Duktus-duktus ini secara berangsur
membesar, menyatu, dan membentuk duktus hepatikus kiri dan kanan, yang akhirnya keluar
dari hati.

Secara fungsional hepatosit mungkin adalah sel yang paling serbaguna dalam
tubuh. Hepatosit memiliki banyak retikulum endoplasma-baik kasar maupun halus (Gambar
16-18). Retikulum endoplasma kasar untuk sintesis protein plasma menimbulkan sifat
basofilia sitoplasma, yang sering lebih jelas di hepatosit dekat area portal (Gambar 16-12).
Berbagai proses penting terjadi dalam RE halus, yang terdistribusi difus di seluruh
sitoplasma. Organel ini bertanggung jawab atas proses oksidasi, metilasi, dan konjugasi yang
di: perlukan untuk menginaktifkan atau mendetoksifikasi berbagai zat sebelum diekskresi.
RE halus merupakan suatu sistem labi1 yang segera bereaksi terhadap molekul yang diterima
hepatosit.

Hepatosit sering mengandung tumpukan glikogen, yang tampak secara


ultrastruktural sebagai granul padat-elektron yang kasar dan sering berkumpul dalam sitosol
dekat dengan RE halus (Gambar 16-16). Glikogen hati merupakan timbunan glukosa dan
dimobilisasi jika kadar glukosa darah menurun di bawah normal. Dengan cara ini, hepatosit
mempertahankan kestabilan kadar glukosa darah, yakni salah satu sumber energi utama
tubuh. Hepatosit juga biasanya menyimpan trigliserida berupa droplet lipid kecil. Kapasitas
untuk menyimpan metabolit tersebut penting karena hal tersebut menyuplai energi bagi
tubuh di antara waktu-waktu makan. Hepatosit biasanya tidak menyimpan protein dalam
granula sekretorik tetapi secara kontinu melepaskannya ke dalam aliran darah. Sekitar 5%
protein yang diekspor oleh hati dihasilkan oleh makrofag stelata sinusoid. Hepatosit
bertanggung jawab atas konversi 1ipid dan asam amino menjadi glukosa melalui suatu
proses enzimatik kompleks yang disebut glukoneogenesis (yun. glykys, manis, + neos, baru,
+ genesis, produksi). Hepatosit juga merupakan tempat utama deaminasi asam amino yang
menimbulkan produksi urea yang diangkut dalam darah ke ginjal dan diekskresikan dalam
tempat tersebut. Lisosom hepatosit sangat penting untuk pergantian dan degradasi organel
intrasel. Peroksisom juga banyak dijumpai dan penting untuk oksidasi kelebihan asam
lemak, penguraian hidrogen peroksida yang dibentuk oksidasi tersebut (melalr-ri aktivitas
katalase), pemecahan kelebihan purin menjadi asam urat, dan berpartisipasi dalam sintesis
kolesterol, asam empedu, dan sejumlah lipid yang digunakan neuron untuk membentuk
mielin. Setiap hepatosit dapat memiliki hingga 50 kompleks Golgi yang terlibat dalam
pembentukan lisosom dan sekresi protein, glikoprotein dan lipoprotein ke dalam plasma.

Sekresi empedu merupakan suatu fungsi eksokrin karena hepatosit terlibat dalam
ambilan, transformasi, dan ekskresi komponen darah ke dalam kanalikuli biliaris. Empedu
mempunyai sejumlah komponen penting lainnya selain air dan elektrolit: asam empedu
(asam organik dengan berat molekul rendah seperti asam kolat dan bentuk deprotonasinya
yang disebut garam empedu), fosfolipid, kolesterol dan pigmen empedu yang mengandung
heme seperti bilirubin yang berwarna hijau kekuningan). Sekresi asam empedu dilukiskan
pada( Gambar 16-18). Asam empedu memiliki suafu fungsi penting dalam emulsifikasi iipid
di saluran cerna sehingga memudahkan proses pencernaan oleh lipase dan absorpsi
seIanjutnya.
Kebanyakan pigmen empedu bilirubin berasal dari perombakan hemoglobin pada
eritrosit yang menua/ yang terutama terjadi dalam makrofag limpa, tetapi juga dalam
makrofag lain, termasuk makrofag dalam sinusoid hati. Setelah dilepaskan dari makrofag,
bilirubin mengikat albumin beredar dan diambil dari plasma oleh hepatosit. Pada RE halus
hepatosit, bilirubin hidrofobik dikonjugasi dengan asam glukuronat, membentuk bilirubin
glukuronida yang larut-air, yang kemudian disekresi ke dalam kanalikuli biliaris. Setelah
dilepaskan ke dalam usus bersama empedu, sejumlah bilirubin dimetabolisme oleh bakteri
menjadi pigmen lain yang menghasilkan khas pada tinja. Bilirubin lain diserap dalam usus
dan dihilangkan dari dalam darah di ginjal sehingga menghasilkan warna kuning pada urine.

Berbagai zat dan obat yang berpotensi toksik dapat dinonaktifkan melalui
oksidasi, metilasi, atau konjugasi. Enzim yang berpartisipasi dalam proses ini terutama
berada pada RE halus hepatosit. Glukuroniltranferase, suatu enzim yang mengkonjugasi
asam glukuronat menjadi bilirubin, juga menimbulkan konjugasi beberapa senyawa lain
seperti steroid, barbiturat, antihistamin, dan antikonvulsan. Pada keadaan tertentu, obat yang
dinonaktifkan dalam hati dapat menginduksi penambahan RE halus dalam hepatosit
sehingga kapasitas detoksifikasi hati meningkat.

STRUKTUR & FUNGSI LOBULUS HATI

Berbagai jenis fungsi hepatosit-termasuk sekresi faktor protein ke dalam darah,


sekresi komponen empedu, dan pengangkutan oksigen dan senyawa kecil lainnva dari
darahtelah menimbulkan tiga macam pemikiran mengenai strukfur lobulus hati, yang
diringkas dalam (Gambar 16-19). Lobulus hati klasik dengan darah yang melalui hepatosit
dari enam area trias porta hingga vena sentral, menekankan fungsi endokrin struktur yang
membentuk faktor untuk ambilan plasma. Konsep lobulus porta hepatosit lebih berguna
ketika memikirkan fungsi eksokrin sel-sel tersebut, yaitu sekresi empedu. Area portal
memiliki duktulus biliaris di bagian tengah dan empedu, yang bergerak dalam arah
berlawanan saat darah mengalir menuju area ini dari semua hepatosit di sekelilingnya.
Jaringan yang mengalirkan empedu ke dalam duktus di setiap area portal secara kasar
berbentuk segitiga dengan vena sentral pada ketiga lobulus klasik di setiap sudutnya.

Asinus hati, cara ketiga untuk menggambarkan sel hati, menekankan sifat suplai
darah ke hepatosit dan gradien oksigen dari a. hepatica yang bercabang ke vena sentral.
Asinus memiliki hepatosit berupa area berbentuk berlian atau lonjong tak terafur yang
terbentang dari dua trias porta hingga dua vena sentral terdekat (Gambar 16-19). Hepatosit
yang terdekat dengan arteriol hepatika, yaitu zona I pada konsep ini, memperoleh paling
banyak oksigen dan nutrien dan dapat dengan mudah melaksanakan sebagian besar fungsi
yang memerlukan metabolisme oksidatif seperti sintesis protein. Hepatosit di zona lII, dekat
vena sentralis, memperoleh paling sedikit oksigen darr nutrien. Hepatosit di zona tersebut
merupakan tempat pilihan untuk glikolisis, pembentukan lipid, dan biotransformasi obat dan
merupakan hepatosit pertama yang mengalami akumulasi lemak dan nekrosis iskemik. Di
zonaI| hepatosit memiliki kisaran pertengahan untuk fungsi metabolik antara fungsi
metabolik di zona I dengan zona III. Aktivitas utama di setiap hepatosit terjadi karena sel
beradaptasi terhadap lingkungan mikro yang diciptakan kandungan dalam darah yang
terpajan dengannya.

Regenerasi Hati

Tidak seperti kelenjar liur dan pankreas, hati memiliki kapasitas regenerasi yang
besar. meskipun laju pergantian selnya lambat. Hilangnya jaringan hati dari kerja zat toksik
memicu mekanisme pembelahan hepatosit yang masih normal, dalam suahr proses yang
disebut hiperplasia kompensatorik, yang berlanjut sampai massa aslinya kembali.
pengangkatan bagian hati melalui pembedahan menimbulkan respons serupa di hepatosit
lobus yang tersisa. Jaringan hati yang beregenerasi biasanya tersusun baik dengan susunan
lobulus yang khas, dan menggantikan fungsi jaringan yang rusak. Pada manusia, kapasitas
ini penting karena safu lobus hati dapat sering didonasikan oleh kerabat yang masih hidup
untuk transplantasi pembedahan dan fungsi hati dapat sepenuhnya pulih baik pada pendonor
maupun penerima donor. Selain proliferasi hepatosit yang tersisa, peran sel punca hati dalam
regenerasi telah dibuktikan dalam beberapa percobaan. Sel punca yang disebut sel lonjong
terdapat pada epitel awal duktulus biliaris di dekat area portal dan sel ini dapat menghasilkan
hepatosit dan kolangiosit.

b. Ginjal
Setiap ginjal memiliki sisi medial cekung, yaitu hilus-tempat masuknya saraf,
keluarnya ureter serta masuk dan keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe-dan
memiliki permukaan lateral yang cembung, keduanya dilapisi oleh suafu simpai fibrosa tipis
(Gambar 19-1). Ujung atas ureter yang disebut pelvis renalis, terbagi menjadi dua atau tiga
calix major. Cabang yang lebih kecil, yaitu calix minor, muncul dari setiap calix major. Area
yang mengelilingi calix, disebut sinus renalis, biasanya mengandung sejumlah jaringan
adiposa.
Ginjal memiliki korteks di luar dan medula di dalam (Gambar 19-1 dan 19-2).
Pada manusia, medula ginjal terdiri atas 8-15 struktur berbentuk kerucut yang disebut
piramida ginjal, yang dipisahkan oleh penjuluran korteks yang disebut columna renalis.
Setiap piramida medula plus jaringan korteks di dasarnya dan di sepanjang sisinya
membentuk suafu lobus ginjal (Gambar 19-1). Setiap ginjal terdiri atas 1-1,4 juta unit
fungsional yang disebut nefron (Gambar 19-2). Cabang utama setiap nefron adalah:

 Korpuskel ginjal, yaitu pelebaran bagian awal di korteks .

 Tubulus kontortus proksimal, yang terutama berada di korteks . Bagian tipis dan tebal
gelung nefron (ansa Henle), yang menurun ke dalam medula, dan menanjak kembali ke
korteks .

 Tubulus kontortus distal

 Tubulus colligens.
Tubulus colligens dari sejumlah nefrom berkonvergensi ke dalam ductus
colligens yang mengangkut urine ke calix dan ureter. Nefron korteks berada hampir
sepenuhnya di korteks sementara nefron jukstamedular di dekat medula memiliki gelung
panjang di medula (Gambar 19-2).

SIRKULASI DARAH
Sebagaimana diduga untuk organ yang dikhususkan untuk pemrosesan darah,
susunan anatomis vaskular ginjal dan hubungannya dengan komponen nefron sangat penting.
Pembuluh darah ginjal diberi nama berdasarkan lokasi atau bentuknya yang sesuai (Gambar
19-3). Setiap ginjal menerima darah dari a. renalis, yang bercabang menjadi dua atau lebih
arteri segmental di hilus. Di sinus renalis, arteri tersebut bercabang lebih lanjut membentuk a.
interlobaris yang terjulur di antara piramida ginjal menuju perbatasan korteks-medula
(Gambar 19-3). Di tempat ini, a. interlobaris bercabang lebih lanjut membentuk a. arcuata
yang berjalan melengkung di sepanjang taut tersebut di dasar setiap piramida ginjal. A.
interlobularis kecil bercabang tegak lurus dari a. arcuata dan memasuki korteks. Dari a.
interlobularis muncul mikrovaskular arteriol aferen yang menyuplai darah ke jalinan kapiler
yang disebut glomerulus, dan masing-masing berhubungan dengan korpuskel ginjal (Gambar
19-3 dan 1.9-4).Darah meninggalkan kapiler glomerulus, bukan melalui arteriol eferen, yang
bercabang kembali membentuk jalinan kapiler lain, kapiler peritubular yang memberi nutrisi
pada sel tubulus proksimal dan distal serta membawa zat-zat yang direabsorpsi. Arteriol
eferen yang berhubungan dengan glomerulus di dekat medula berlanjut sebagai pembuluh
darah lurus dan panjang secara langsung ke dalam medula yang menyediakan nutrien dan
oksigen di tempat tersebut dan lalu bergelung kembali ke dalam korteks sebagai venula.
Pembuluh darah medular kecil ini dan pleksus kapiler yang menyelip membentuk vasa recta
(L. recta,lurus).
Darah meninggalkan ginjal melalui vena dengan perjalanan yang sama seperti
arteri dan memiliki nama yang sama (Gambar 19-3). Kapiler peritubular yang terluar dan
kapiler di simpai ginjal berkonvergensi menjadi vena stellata kecil yang bermuara ke dalam
vena interlobularis.

Korpuskel Ginjal & Filtrasi Darah


Pada bagian awal setiap nefron terdapat sebuah korpuskel ginjal berdiameter
sekitar 200 pm dan mengandung seberkas kapiler, glomerulus, yang dikelilingi oleh simpai
epitel berdinding ganda disebut simpai (Bowman) glomerular (Gambar 19-2 dan 19-5).
Lapisan internal (lapisan viseral) simpai menyelubungi kapiler glomerulus. Lapisan parietal
eksternal membenfuk permukaan luar simpai tersebut. Di antara kedua lapis simpai Bowman
terdapat ruang kapsular atau perkemihan yang menampung cairan yang disaring melalui
dinding kapiler dan lapisan viseral. Setiap korpuskel ginjal memiliki kutub vaskular, tempat
masuknya arteriol aferen dan keluarnya arteriol eferen, serta memiliki kutub tubular atau
perkemihary tempat tubulus kontortus proksimal berasal (Gambar 19-5). Setelah memasuki
korpuskel ginjaf arteriol aferen biasanya bercabang dan terbagi lagi menjadi dua sampai lima
kapiler glomerulus ginjal.
Lapisan parietal simpai glomerular terdiri atas selapis epitel skuamosa yang
ditunjang lamina basal dan selapis tipis serat retikular di luar. Di kutub tubular, epitelnya
berubah menjadi epitel selapis kuboid yang menjadi ciri tubulus proksimal (Gambar 19-5).
Selama perkembangan embrionaf epitel selapis pada lapisan parietal relatif tidak
mengalami perubahary sedangkan lapisan internal atau viseral sangat termodifikasi. Sel-sel
lapisan viseral ini yaitu podosit (Gambar 19-5d dan 19-6), memiliki badan sel yang
menjulurkan beberapa prosesus primer. Setiap prosesus primer menjulurkan banyak prosesus
(kaki) sekunder, atau pedikel (L.pedicellus, kaki kecil) yang memeluk bagian kapiler
glomerulus (Gambar 19-5d dan 19-6). Badan sel podosit tidak berkontak dengan membran
basal kapiler, tetapi setiap pedikel berkontak langsung dengan struktur tersebut (Gambar 19-
6).
Pedikel ini saling mengunci dan membentuk celah-celah memanjang selebar lebih
kurang 30-40 nm-celah filtrasi (Gambar 19-6). Suatu diafragma semipermeabel tipis dengan
ketebalan seragam merentangi prosesus yang berdekatan (dan karenanya menjembatani
celah-celah filtrasi) (Gambar 19-6).
Diafragma celah ini merupakan tipe khusus taut antarsel dengan protein
transmembran besar, nefrin, yang penting baik secara struktural maupun fungsional. Selain
berproyeksi dari membran sel di setiap sisi celah tersebut molekul nefrin berinteraksi
membentuk suafu strukfur berpori di dalam diafragma.
Di antara sel-sel endotel bertingkap dari kapiler glomerulus dan podosit yang
menutupi permukaan luarnya, terdapat membran basal glomerular tebal (-0,1 pm) (Gambar
19-6). Membran ini merupakan bagian yang paling bermakna pada sawar filtrasi yang
memisahkan darah dalam kapiler dari ruang kapsular. Membran basal ini terbentuk dari
penyatuan lamina basal yang dihasilkan kapiler dan podosit dan dipertahankan oleh podosit.
Laminin dan fibronektin pada penyatuan membran basal mengikat integrin podosit dan
membran sel endotelial. Anyaman kolagen tipe IV yang berikatan-silang pada matriks
proteoglikan yang bermuatan negatif dapat membantu membatasi lewabrya molekul kation.
Jadi, membran basal glomerulus (GBM) merupakan suatu sawar makromolekul yang selektif
yang berfungsi sebagai saringan fisis dan suatu sawar untuk molekul bermuatan negatif.
Filtrat glomerulus awal memiliki komposisi kimiawi yang serupa dengan komposisi plasma
darah, kecuali filtrat ini mengandung sangat sedikit Protein karena makromolekul tidak
mudah melalui saringan glomerulus. Protein dan partikel lain yang berdiameter lebih besar
dari 10 nm atau melebihi 70 kDa, perkiraan massa molekul albumin, tidak mudah menembus
sawar glomerulus.
Kapiler glomerulus khas berada di antara dua arteriolaferen dan eferen-dengan
ototnya yang memungkinkan peningkatan tekanan hidrostatik pada pembuluh-pembuluh
darah ini, yang memPerkuat perpindahan plasma melalui saringan glomerulus. Laju filtrasi
glomerulus (GFR, glomerular fittration rate) secara konstan diatur oleh input neural dan
hormonal yang memengaruhi derajat konstriksi di setiap arteriol ini. Area filtrasi glomerulus
total pada orang dewasa rerata diperkirakan mencapai 500 cm'z dan GFR rerata mencapai
125 mL per menit atau 180 liter per hari. Karena jumlah total plasma yang beredar rerata
mencaPai 3 liter, ginjal biasanya menyaring keseluruhan volume darah sebanyak 50 kali
setiap hari.
Selain sel endotel kapiler dan podosit, korpuskel ginjal juga mengandung sel
mesangial (\un. mesos, di tengah, + angeion, pembuluh) (Gambar 19-7), yang menyerupai
perisit dalam menghasilkan komponen suafu selubung lamina eksternal. Sel mesangial sulit
dikenali pada sediaan rutin dari podosit, tetapi terpulas lebih gelap. Sel ini dan matriks yang
mengelilinginya membentuk mesangium (Gambar 79-7), yang mengisi ruang kecil di antara
kapiler yang tidak memiliki podosit. Fungsi mesangium banyak dan bervariasi, serta
mencakup ha1 berikut:
 Penyangga fisis dan kontraksi-mesangium memberikan penyangga struktural internal
pada glomerulus dan seperti perisit, selnya berespons terhadap zat vasoaktif untuk
membantu mempertahankan tekanan hidrostatis untuk Iaju filtrasi yang optimal.
 Fagositosis-sel mesangial memfagositosisagregatprotein yang melekat pada saringan
glomerulus, termasuk kompleks antibodi-antigen yang banyak dijumpai pada sejumlah
besar keadaan patologis.
 Sekresi-sel menyintesis dan menyekresi sejumlah sitokin, prostaglandiry dan faktor lain
yang penting untuk pertahanan imun dan perbaikan di glomerulus.

Tubulus Kontortus Proksimal


Di kutub tubular korpuskel ginjal, epitel skuamosa pada lapis, an parietal simpai
Bowman berhubungan langsung dengan epitel kuboid tubulus kontortus proksimal (Gambar
19-8 dan 19-9). Tubulus berlekukini lebihpanjang dari tubulus kontortus distal sehingga lebih
sering tampak pada potongan korteks ginjal. Sel tubulus proksimal mereabsorpsi 60-65% air
yang disaring dalam korpuskel ginjal, beserta hampir semua nutrien, iory vitamiry dan
protein plasma kecil. Air dan zat terlarutnya diangkut secara langsung melalui dinding
tubulus dan segera diambil oleh kapiler peritubular.
Sel-sel tubulus proksimal memiliki sitoplasma asidofilik (Gambar 19-8 dan 19-9)
yang disebabkan oleh adanya sejumlah besar mitokondria. Apeks sel memiliki banyak
mikrovili panjang, yang membentuk su atu brush border :untuk reabsorpsi (Gambar 1,9-8,
19-9 dan 19-10). Karena selnya berukuran besar, setiap potongan melintang tubulus
proksimal biasanya hanya mengandung tiga sampai lima inti bulat. Pada sediaan histologis
rutiry brush border dapat tidak teratur dan lumennya tampak terisi serabut. Kapiler dan
komponen mikrovaskular lain banyak dijumpai pada jaringan ikat sekitar (Gambar 19-8).
Secara ultrastruktural, sitoplasma apikal sel-sel ini memiliki banyak lekuk dan
vesikel di dekat dasar mikrovili, yang mengindikasikan pinositosis aktif (Gambar 19-10).
Vesikel pinositotik mengandung protein plasma kecil (dengan massa molekul kurang dari 70
kDa) yang telah melalui saringan glomerulus. Vesikel pinositotik menyatu dengan lisosom
untuk proteolisis dan asam amino dilepaskan ke sirkulasi. Selsel ini juga memiliki banyak
invaginasi membran basal yang panjang dan interdigitasi lateral dengan sel-sel bersebelahan
(Gambar 19-10). Na-/K*-ATPase (pompa natrium) yang bertugas untuk mentranspor ion
natrium secara aktif keluar dari sel-sel ini, terletak pada membran basolateral tersebut.
Mitokondria panjang berkumpul di sepanjang invaginasi basal (Gambar 19-9), yang khas
untuk sel yang terlibat dalam transpor ion secara aktif. Karena banyaknya interdigitasi pada
membran lateral, batas di antara sel-sel fubulus proksimal sulit diamati dengan mikroskop
cahaya. Tubulus kontortus proksimal aktif mereabsorpsi seluruh glukosa dan asam amino dan
sekitar 85% natrium klorida dan ion lain. Absorpsi tersebut melibatkan pompa natrium
membran. Air berdifusi secara pasif, yang mengikuti gradien osmotik. Bila iumlah glukosa
dalam filtrat melebihi kapasitas absorpsi tubulus proksimal, urine akan bertambah banyak dan
mengandung glukosa.
Selain aktivitas tersebut, tubulus kontortus proksimal juga dapat menggerakkan
zat dari kapiler perilubular ke dalam lumen tubulus, suafu proses aktif yang disebut sebagai
sekresi tubular. Anion organik seperti kolin dan kreatinin dan banyak senyawa asing seperti
penisilin diekskresikan dengan cara tersebu! yang memungkinkan ginjal membuang zat-zat
semacam itu dengan laju yang lebih tinggi ketimbang melalui filtrasi glomerulus saja. Sel
tubulus proksimal juga terlibat dalam hidroksilasi vitamin D.

Gelung Nefron (Ansa Henle)


Tubulus kontortus proksimal berlanjut sebagai tubulus lurus yang lebih pendek
dan memasuki medula serta menjadi gelung nefron. Gelung ini merupakan struktur berbentuk
U dengan segmen desendens dan segmen asendens; keduanya terdiri atas selapis epitel
kuboid di dekat korteks, tetapi berupa epitel skuamosa di dalam medula (Gambar 19-2). Di
medula luar, bagian lurus tubulus proksimal dengan diameter luar sekitar 60.prm, tibatiba
menyempit sampai sekitar 12 pm danberlanjut sebagai segmen tipis desendens tipis gelung
nefron. Lumen pada segmen nefron.ini lebar dan dindingnya terdiri atas sel epitel skuamosa
dengan inti yang hanya sedikit menonjol ke dalam lumen (Gambar 9-9 dan 19,11).
Kira-kira sepertujuh dari semua nefron terletak dekat perbatasan korteks-medula
sehingga disebut nefron juksta medular, yang terutama penting pada mekanisme yang
memungkinkan ginjal menghasilkan urine hipertonik yang pekat. Nefron jukstamedular
biasanya memiliki gelung yang sangat panjang dan masuk jauh ke dalam medula dengan
segmen lurus tebal di proksimaf segmen desendens dan asendens tipis yang panjang, dan
segmen asendens tebal yang panjang (Garnbar 19-2).
Gelung nefron dan jaringan sekitar berperan dalam memekatkan urine dan
menyimpan air; hanya hewan dengan gelung tersebut yang mampu memekatkan urine
sehingga cairan fubuh dipertahankan. Sel kuboid segmen asendens tebal gelung tersebut aktif
mengangkut natrium klorida keluar dari tubulus dengan melawan gradien konsentrasi ke
dalam jaringan ikat interstisial yang kaya-hialuronat, yang membuat kompartemen tersebut
menjadi hiperosmotik. Sel skuamosa segmen desendens tipis gelung tersebut bersifat
permeabel bebas terhadap air tetapi tidak terhadap garam, sementara segmen asendens tipis
bersifat permeabel terhadap NaCl tetapi impermeabel terhadap air. Aliran filtrat dengan arah
berlawanan (aliran balik, countercurrent flow) dalam dua segmen paralel gelung nefron
menciptakan suatu gradien osmolaritas pada interstisium piramida medula dan aliran darah
balik di gelung vasa recta membanfu mempertahankan gradien tersebut. Osmolaritas
interstisial yang tinggi menarik air secara pasif dari duktus kolligens di piramida medula
(Gambar 19-2 dan 19-11) yang memekatkan urine. Permeabilitas air dalam dukus tersebut
ditingkatkan oleh hormon antidiuretik (ADH) yang dilepaskan dari hipofisis ketika cairan
tubuh berkurang. Air yang disimpan dengan cara demikian memasuki darah di kapiler vasa
recta yang bersebelahan. Peran gelung nefron dan vasa recta dalam menciptakan kondisi
untuk pemekatan urine disebut efek multiplikasi balik (countercurcent multipliet effect).

Tubulus Kontortus Distal & Apparatus Juxtaglomerularis


Segmen tebal asendens gelung nefron menjadi lurus saat me, masuki korteks, dan
kemudian berkelok-kelok sebagai tubulus kontortus distal (Gambar 19-2). Selapis sel kuboid
tubulus tersebut berbeda dari sel kuboid tubulus kontortus proksimal karena lebih kecil dan
tidak memiliki brush border (Gambar 19-9). Karena sel-sel tubulus distal lebih gepeng dan
lebih kecil daripada sel tubulus proksimal, tampak lebih banyak inti di dinding tubulus distal
ketimbang di dinding tubulus proksimal (Gambar 19-8). Sel-sel tubulus kontortus distal
memiliki banyak invaginasi membran basal dan mitokondria terkait yang serupa dengan
mitokondria tubulus proksimal, yang menunjukkan fungsi transpor-ionnya (Gambar 19-9).
Laju absorpsi Na- dan sekresi K- oleh pompa ion diatur oleh aldosteron dari kelenjar adrenal
dan penting untuk keseimbangan garam dan cairan fubuh. Tubulus distal juga menyekresi H
dan NH4- ke dalam urine tubulus, suatu aktivitas yang penting unfuk pemeliharaan
keseimbangan asam-basa di darah.
Bagian awal tubulus distal yang lurus berkontak dengan kutub vaskular di
korpuskel ginjal nefron induknya dan membentuk struktur khusus, apparatus
juxtaglomerularis (GA) (Gambar 19-9, 19-5, dan 19-12). Sel struktur tersebut menciptakan
suafu mekanisme umpan balik yang memungkinkan autoregulasi aliran darah ginjal dan
menjaga laju filtrasi dengan relatif konstan. Di tempat kontak dengan arteriol, selsel tubulus
distal menjadi kolumnar dan lebih erat terkemas dengan inti apikaf kompleks Golgi basal,
dan sistem kanal dan pengangkut ion yang lebih rumit dan bervariasi. Bagian tebal dinding
tubulus distal ini disebut macula densa (Gambar 19-5 dan 19-12). Bersebelahan dengan
macula densa, tunica media arteriol aferen juga termodifikasi. Sel otot polos membentuk
suatu fenotipe sekretorik dengan inti yang lebih bulat, RE kasar, kompleks Golgi dan granula
zimogen dan disebut sel granular juxtaglomerular (G) (Gambar 19-5 dan 79-12).Dr kutub
vaskular juga terdapat sel lacis (Perancis lacis, jalinan), merupakan sel mesangial ekstrasel
yang mungkin memiliki banyak fungsi pendukung yang sama dengan sel-sel tersebut di
dalam glomerulus. Sel lacis juga dapat menyebarkan sinyal dari macula densa ke dalam
glomerulus, yang memengaruhi vasokonstriksi di tempat tersebut.
Fungsi dasar JGA dalam autoregulasi laju filtrasi glomerulus (GFR) dan dalam
pengaturan tekanan darah dipikirkan sebagai hal berikut. Peningkatan tekanan arterial
meningkatkan tekanan kapiler glomerulus, yang meningkatkan GFR. Peningkatan GFR
menambah konsentrasi Na+ dan Cl- di nefron yang dipantau oleh sel macula densa.
Peningkatan kadar ion membuat sel-sel ini melepaskan ATP, adenosine dan senyawa
vasoaktif lainnya yang memicu kontraksi arteriol aferen, yang menurunkan tekanan
glomerulus dan mengurangi GFR. Hal tersebut menurunkan konsentrasi ion fubulus, yang
menghentikan pelepasan vasokonstriktor dari macula densa. Penurunan tekanan arteri
meningkatkan stimulasi autonom pada ]GA sebagai akibat fungsi baroreseptor, termasuk
baroreseptor lokal di arteriol aferery dan mungkin sel-sel JG itu sendiri. Hal tersebut
membuat sel-sel JG melepaskan produk sekretoris utamanya, renin, suatu aspartil protease,
ke dalam darah. Renin di tempat tersebut menguraikan protein plasma angiotensinogen
menjadi dekapeptida inaktil angiotensin I. Enzim pengonversi angiotensinogen pada kapiler
paru menguraikan senyawa ini lebih lanjut menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor poten
yang secara langsung meningkatkan tekanan darah sistemik dan merangsang kelenjar adrenal
menyekresi aldosteron. Aldosteron meningkatkan reabsorpsi Na+ dan air ke tubulus
kontortus distal, yang meningkatkan volume darah unfuk membanfu meningkatkan tekanan
darah. Kembalinya tekanan darah normal menghentikan sekresi renin oleh sel JG.

Tubulus & Ductus Colligens


Urine mengalir dari tubulus kontortus distal ke tubulus colligens, bagian terakhir
setiap nefron yang saling bergabung membentuk ductus colligens yang lebih besar dan lebih
lurus, berjalan di tepi piramida ginjal dan bermuara ke dalam calyx minor (Gambar 19-2).
Tubulus colligens dilapisi oleh epitel kuboid dan berdiameter sekitar 40 prm. Sel-sel ductus
collegens yang berkonvergensi berbenfuk kolumnar dan diameter ductus mencapai 200 pm di
dekat puncak piramida medula ginjal (Gambar 19-13 dan 19-14).
Di sepanjang perjalanannya tubulus dan ductus colligens terutama terdiri atas
epitheliocytus principalis (principal cell) yang terpulas lemah dengan sedikit organel dan
mikrovili (Gambar 19-13). Batas antarsel sel-sel tersebut jelas terlihat dengan mikroskop
cahaya. Secara ultrastruktural, epitheliocytus principalis dapat terlihat memiliki lipatan
membran basal, yang sesuai dengan perannya pada transpor ion. Sel yang tersebar di antara
epitheliocytus principalis adalah epitheliocytus intercalatus (intercalated cell) yang lebih
getap dengan lebih banyak mitokondria yang membantu mengatur keseimbangan asam-basa
dengan menyekresi H+ dan menyerap HC03-.
Di medula, ductus colligens merupakan komponen utama mekanisme pemekat-
urine. Sel-sel ductus colligens terutama banyak mengandung aquaporin yaitu protein integral
yang ditemukan pada sebagian besar membran sel yang berfungsi sebagai pori selektif untuk
pasase molekul air. Di tempat tersebu! aquaporin tersekuestrasi di vesikel sitoplasma
bermembran. Seperti yang disebutkan sebelumnya, hormon hipofisis ADH (juga dikenal
sebagai arginin vasopressin) membuat ductus colligens lebih permeabel terhadap air yang
meningkatkan laju penarikan molekul air secara osmotik dari lumennya dan pengangkutan air
ke vasa recta sehingga tertahan di tubuh. Efek tersebut dihasilkan ketika reseptor ADH aktif
di membran sel basolateral merangsang pergerakan vesikel dengan aquaporin yang spesifik
dan insersinya ke dalam membran apikal atau basolateral, yang meningkatkan jumlah kanal
membran untuk pergerakan air melalui sel.
LAMPIRAN
a. Hati
b. Ginjal

Anda mungkin juga menyukai