Anda di halaman 1dari 6

KANKER KORPUS UTERI

A. Definisi

Kanker korpus uterus adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah 2/3 bagian atas
rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak
jaringan normal di sekitarnya, Kanker korpus uterus dianggap primer jika berasal dari
endometrium atau miometrium. dianggap tumor ganas endometrium bila histologi berjenis
adenokarsinoma atau adenoakantoma. (Sarwono,1994 dalam Petrus 2009).

B. Klasifikasi
C. Etiologi

Etiologi kanker korpus rahim secara pasti masih belum dapat dipastikan, namun beberapa
faktor yang dapat menjadi faktor predisposisi diantaranya :

1. Obesitas

Obesitas berhubungan dengan terjadinya peningkatan resiko sebesar 20 - 80 %. Wanita


yang mempunyai kelebihan berat badan 11 - 25 kg mempunyai peningkatan resiko 3 kali dan
10 kali pada wanita yang mempunyai kelebihan berat badan lebih dari 25 kg, hal ini berkaitan
dengan adanya perubahan profil lemak bebas yang dapat menginduksi terjadinya keganasan
walaupun prosesnya belum diketahui secara pasti.

2. Nulliparitas

Pada wanita nulliparitas dijumpai peningkatan resiko sebesar 2 - 3 kali. Pada wanita
dengan nullipara biasanya terjadi gangguan pada sistem hormonal, sehingga hall ini tentu
akan berpengaruh pada kejadian kanker.

3. Diabetes Melitus

Didapati peningkatan resiko sebesar 2,8 kali pada wanita penderita diabetes melitus.
Resiko yang muncul dikaitkan dengan proses glukoneogenesis yang dialami, proses
pemecahan protein yang terjadi mengakibatkan gangguan pada sintesa protein tertentu yang
mempengaruhi kerja apoptosis sel tertentu sehingga sel yang seharusnya mati atau
degenaratif malah menjadi ganas.

4. Estrogen eksogen

Pada wanita menopause yang mengkonsumsi estrogen eksogen akan terjadi peningkatan
resiko sebesar 4,5 - 13,9 kali.

5. Late menopause

Wanita yang menopause sesudah umur 52 tahun akan terjadi peningkatan resiko sebesar
2,4 kali. Disamping itu dapat terjadi pada wanita pramenopause dengan sikius haid yang tidak
teratur juga berpotensi mengalami kenker.

6. Merokok

Rokok merupakan salah satu pemicu terjadinya kanker karena kandungan bahan-
bahannya terutama dating dari tembakau yang mengandung bahan pemicu kanker
(karsiogenik).

7. Tamoxifen

Wanita pengguna tamoxifen akan terjadi peningkatan resiko sebesar 2 - 3 kali.


D. Patofisiologi

Etiologi kanker corpus uteri

Perubahan tingkat genetika : sintesa protein

Abnormalitas regenerasi sel : gangguan


apoptosis sel corpus uteri

Tumor uteri, bila berlanjut (berprogres) 


keganasan : kanker korpus uteri

Terjadi pembesaran ukuran uterus, abnormalitas


bentuk dan gangguan struktur uterus

Desakan uterus ke
Perubahan struktur Penekanan syaraf di
kandung kemih
uterus mendesak dalam uterus
pembuluh darah
mengurangi volume
maksimal kandung kemih Impuls syaraf Aktivasi impuls
Perdarahan menjalar ke syaraf
abnormal uterus lambung
Gangguan daya tampung
urin di kandung kemih Nyeri akut
Resiko syok Gangguan rasa
inkontinensia nyaman (mual)

Gangguan intake
makanan  intake
menurun BB
turun

Ganggguan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

E. Manifestasi klinis

Gejala awal dari penyakit ini biasanya tidak dirasakan oleh penderita dan dari
pemeriksaan ginekologik pun terkadang tidak menghasilkan apa-apa (negatif). Dalam banyak
kejadian, kemunculan gejala biasanya dikaitkan dengan keadaan menopause berupa getah
vagina kemerahan. Gejala lain yang muncul diantaranya adalah nyeri dan perasaan rahim
seperti berkontraksi.
Dengan berlanjutnya proses penyakit, berbagai keluhan lain akibat tekanan dari
pembesaran korpus uterus mulai dikeluhkan. Pembesaran dan fiksasi uterus akibat infiltrasi
sel ganas ke dalam parametrium baru terjadi pada tingkat lanjut. Setiap wanita dalam masa
menopause yang mengalami pendarahan abnormal dari rahim, harus dicurigai akan adanya
karisnoma endometrium. Cara yang dibenarkan adalah mendapatkan bukti histologi yang
dapat membuktikan ada atau tidak adanya keganasan, kemudian bila memungkinkan dapat
dilakukan kuretase pada seluruh rongga rahim. Hasil kerokan seluruhnya dikirim ke
laboratorium patologi anatomi untuk dimintakan konfirmasi hasil.

Yosi (2011) menyebutkan bahwa Pemeriksaan fisik umumnya dapat mengungkapkan


obesitas, hipertensi, dan stigmata diabetes mellitus. bukti penyakit metastatik bersifat luar
biasa pada gejala awal, tetapi dada harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya efusi dan perut
dipalpasi dan dipukul secara hati-hati untuk menyingkirkan asites, hepatosplenomegali, atau
bukti adanya massa pada perut bagian atas. Setiap bukti limfadenopati umum harus dicari.

Pada pemeriksaan pelvis, alat kelamin luar biasanya normal. Vagina dan serviks biasanya
juga normal tetapi harus diperiksa dan dipalpasi secara hati-hati untuk mencari ada tidaknya
bukti keterlibatan. Mulut serviks yang terbuka atau serviks keras yang meluas dapat
menunjukkan meluasnya penyakit dari korpus serviks. Rahim mungkin berukuran normal atau
membesar, tergantung pada tingkat penyakit itu dan ada tidaknya keadaan rahim yang lain,
misalnya adenomiosis atau fibroid. Adneksa dengan hati-hati dipalpasi untuk mencari ada
tidaknya bukti metastasis ekstrauterin atau neoplasma ovarium. Tumor sel granulosa atau
karsinoma ovarium endometrioid kadang-kadang dapat ada bersama-sama dengan kanker
endometrium.

F. Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan sitologi (pap smir)

Pemeriksaan ini kurang berarti oleh karena sel-sel adenocarcinoma yang eksfoliatif
biasanya telah mengalami sitolisis dalam rongga uterus.

b. Pemeriksaan histologi

a.Office endometrial aspiration biopsy

b.Dilatasi dan kuretase

c.Histeroskopi - endometrial biopsi -

6. Histerograft

7. Pemeriksaan tambahan.

a. Darah
b. Urin

c USG dan MRI

d. Foto thorax

e. Fungsi hati dan kadar gula darah

f. Fungsi ginjal (intravenous urography)

g. Sigmoidoscopy dan barium enema CA 125.

Rumah sakit modern Bo ai china menambahkan pemeriksaan yang dapat digunakan


antara lain :

1. Diagnosa kuretase

Biasanya dilakukan pap smear terlebih dahulu, kemudian pemeriksaan bagian


intrauterine, baru dilakukan kuretase endometrium, sample akan dimasukkan dan dipisahkan
ke dalam botol yang sudah ditandai, dan diantarkan ke bagian pemeriksaan patologi. Hasil
patologi yang didapat adalah pendukung diagnosa kanker lapisan endometrium.

2. Histeroskopi

Dapat secara langsung mengamati keadaan lesi lapisan endometrium, dan diambil lesi
yang diduga aktif untuk diperiksakan.

3. Kateter intrauterine

Dengan menggunakan kateter yang dibuat dari bahan khusus atau sikat kateter
dimasukkan ke bagian intrauterine, diambil zat sekresi untuk dilakukan pemeriksaan sitologi,
digunakan untuk pemeriksaan penyaringan.

4. USG : dapat menunjukkan penginvasian lapisan otot.

G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang dianjurkan adalah melakukan TAH (Total Abdominal Histerektomi


) dan BSO (Bilateral Salpingo Oophorektomy).

Tindakan ini merupakan pilihan utama untuk kasus tingkat klinis T-is (KIS) dan T-
1.Kombinasi pembedahan dengan radioterapi sebelum dan sesudah pembedahan dilakukan
pada tinghkat T-1, T-2 dan kasus T-3 yang dinilai masih operabel. Penyinaran sebelum operasi
akan mengurangi terjadinya rekurens lokal dan metastasis. Jenis penyinaran ditentukan akan
diberikan aplikasi radium intrakaviter atau penyinaran luar dengan Cobalt 60 ditentukan oleh
ginekolog dan radioterapis berdasarkan tingkat klinis penyakit, besarnya uterus dan hasil
pemeriksaan histologi. Operasi dilakukan 2-6 minggu sesudah penyinaran selesai, tergantung
dari jenis penyinaran yang dilakukan.
Pada tingkat klinis T-3 yang dinilai un operabel hanya dilakukan penyinaran dan
pengobatan hormonal dengan pemberian preparat progestatif dosis tinggi, sedangkan pada
T-4 tujuan paliatif hanya diberi terapi hormonal dengan progestatif dosis tinggi. Seperti
Medroxy Progesteron Asetat (MPA), provera, Tamoxzifen. Pengobatan hormonal dapat
menahan penyebaran sel ganas sebab pemberian hormonal dengan progrestatif dosis
tinggiharus diteruskan selama pengobatan masih memberi respon.