Anda di halaman 1dari 10

MODUL : DISORIENTASI RUANG

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Agar siswa dapat mengerti tentang disorientasi ruang

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Agar siswa dapat menjelaskan tentang fisiologi disorientasi ruang dengan benar : 2 jam
2. Agar siswa dapat menjelaskan tentang dasar-dasar fisiologi disorientasi ruang dengan benar
; 2 jam
3. Agar siswa dapat menjelaskan tentang pengaruh antisipasi dan penanggulangan disorientasi
ruang dengan benar ; 2 jam

POKOK-POKOK BAHASAN SPATIAL DISORIENTASI (SDO)

1. Fisiologi disorientasi ruang


2. Dasar-dasar fisiologi disorientasi ruang
3. Pengaruh antisipasi dan penanggulangan disorientasi ruang

METODE MENGAJAR

Ceramah dan diskusi

MATERI

1. Fisiologi disorientasi ruang

Penerbangan dapat mempengaruhi alat keseimbangan awak pesawat sehingga dapat


membahayakan jiwa. Kelainan yang timbul pada penerbangan ini biasanya berbentuk ilusi atau
disorientasi sehingga dikenal sebagai ilusi penerbangan atau juga disebut spatial disorientation
tetapi kadang-kadang dinamakan pula pilot's vertigo.
Spatial disorientation atau pilot's vertigo adalah suatu fenomena yang sejak dulu
merupakan bahaya dalam penerbangan. Khususnya bagi seorang penerbang militer yang harus
melaksanakan tugas penerbangan yang cukup kompleks dalam kondisi cuaca apapun. Fenomena
ini merupakan suatu masalah yang tidak boleh dianggap sepele. Dengan mengetahui mekanisme
spatial disorientasi maupun macam ilusi yang dapat dialami oleh seorang penerbang diharapkan
dapat diambil langkah-langkah pencegahan demi keamanan dan keselamatan penerbang, pesawat
dan orang lain.

- INPUT ERROR : terjadi bila ada kesalahan atau informasi sensoris yang tidak adekuat
yang masuk ke otak .
- CENTRAL ERROR : terjadi bila ada kesalahan persepsi atau persepsi yang tidak
adekuat yang terjadi di otak dimana informasi sensorisnya sudah benar. Contohnya :
coning attention, fascination, dan error expectancy.
- SPATIAL DISORIENTATION : somatogravic illusion, somatogyral illusion,
occulogravic illusion, oculogyral illusion, corriolis illusion, G excess illusion, leans,
graveyard spin, graveyard spiral, black hole illusion, out brake phenomen, visual illusion.

Fungsi alat-alat keseimbangan


Manusia sebagai makhluk darat dapat menjaga keseimbangan badannya karena
dilengkapi dengan tiga alat/sistem yaitu sistem vestibuler, sistem visuil dan sistem proprioseptif.
Selama manusia masih berhubungan dengan bumi seperti berjalan, berlari, melompat dan lain-
lain maka ketiga sistem tersebut berfungsi secara adekuat dan alat-alat keseimbangan bekerja
secara cermat dan efektif. Akan tetapi apabila ia meninggalkan bumi dan terbang, alat-alat
tersebut dapat membuat kesalahan-kesalahan, karena impuls-impuls yang tidak lagi adekuat.
Kesalahan tersebut dapat menimbulkan ilusi dan sering mengakibatkan spatial disorientation.

1) Alat vestibular, mempunyai 3 bagian :


a) Canalis semicularis (saluran berisi endolymph) yang tegak lurus satu sama lain pada bidang-
bidang horisontal, vertikal dan tranversal. Pada muara tiap-tiap saluran ada suatu pelebaran
dengan di dalamnya sel-sel berambut. Rambut-rambut tersebut berhimpun menjadi (cupula) dan
merupakan reseptor sensorik. Karena gerakan dan aliran endolymph, cupula ikut bergerak sesuai
arah aliran. Tiap gerakan/akselerasi angulair (roll, pitch, yaw) menimbulkan impuls mekanis
pada otak dan melaporkan bahwa sedang ada gerakan rotasi dari kepala.
b) Utriculus dan Sacculus berisi reseptor sensorik yang dapat menerima impuls mekanis akibat
gerakan/akselerasi linear. Reseptor terdiri dari membran otolith yang berisi butir-butir kalsium
karbonat. Membran ini ada di atas lapisan sel-sel berambut. Gravitasi maupun akselerasi linear
dapat menggerakkan membran otolith dan dengan demikian rambut-rambut sel berambut. Impuls
ini diterima dan diteruskan lewat syaraf vestibular ke otak.
c) Cochlea.
Alat ini digunakan untuk proses pendengaran. Pola akselerasi di udara adalah berbeda
daripada di bumi, misalnya akselerasi di udara biasanya tidak segera diikuti dengan deselerasi
seperti terjadi di bumi.
2) Sistem visual
Merupakan alat terpenting dalam menjaga keseimbangan. Dengan menggunakan
penglihatan, kita dapat menentukan lokasi dan posisi suatu obyek dalam ruangan. Dengan
adanya visual horizon seorang penerbang masih dapat mengadakan orientasi walaupun terjadi
ilusi-ilusi akibat persepsi yang salah dari alat vestibular maupun priprioseptif. Di udara sistem
visuil adalah orientation sense yang paling dapat dipercaya dan dengan melalui sistem tersebut,
si penerbang dapat menginterprestasikan instrumen pesawat.

3) Sistem proprioseptif,
Merupakan reseptor sensorik yang mengadakan respons terhadap tekanan atau tarikan
pada jaringan tubuh. Reseptor ini terdapat dalam jaringan antara lain kulit dan sendi, dan dapat
dirasakan di bagian-bagian badan apabila duduk, berdiri atau berbaring. Sistem proprioseptif ini
dikenal sebagai body sense atau seat of the pants sense.

2. Dasar-dasar fisiologi disorientasi ruang

1)ilusi somatogravic
Sebuah akselerasi cepat, seperti yang dialami selama tinggal landas akan merangsang
organ otolith dalam cara yang sama seperti memiringkan kepala ke belakang. Tindakan ini
menciptakan ilusi somatogravic sehingga manusia merasa berada pada sikap yang mendongak,
terutama dalam situasi tanpa referensi visual yang baik. Penerbang yang bingung akan
mendorong hidung pesawat ke bawah (nose down) atau bahkan menukik/dive. Sebaliknya,
sebuah perlambatan cepat dengan cara mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba dapat memiliki
efek berlawanan dengan hasil penerbang akan bingung dan menarik pesawat pada posisi
mendongak atau stall altitude.
2) somatogyral illusion
Hampir sama dengan ilusi somatogravic namun yang dirangsang di sini adalah canalis
semisircularis saat terjadi percepatan anguler
3) Oculo Gyral Illusion
Dalam ilusi ini terlihat suatu obyek di muka mata seolah-olah bergerak. Hal ini akibat
rangsangan pada saluran semi-sirkuler dan dapat terjadi waktu grave yard spin, grave yard
spiral dan coriolis illusion.
4) Oculo Gravic Illusion
Ilusi ini analog dengan oculo gyral illusion bukan akibat rangsangan dari saluran semisirkuler
tetapi rangsangan pada otolith. Ilusi terjadi pada waktu terbang datar dengan high performance
air craft dengan kecepatan akselerasi yang tinggi sehingga menimbulkan rasa seolah-olah
pesawat dalam nose-up attitude. Bila penerbang mengadakan koreksi, maka ia akan dive dengan
akibat crash. Ilusi ini sering terjadi bila terbang malam atau dalam cuaca buruk, dan tidak terjadi
bila di luar ada visual reference yang adekuat.

5) Elevator Illusion
Ilusi ini juga terjadi akibat makin besarnya gaya gravitasi seperti waktu akselerasi ke atas. Hal ini
mengakibatkan suatu refleks bola mata ke bawah sehingga kelihatan seolah-olah panel
instrumen dan hidung pesawat naik ke atas.

6) The Leans
Ini adalah ilusi vestibuler yang sering terjadi karena saluran semisirkuler tidak dapat mendeteksi
akselerasi angular di bawah ambang yaitu 2,5 ⁰/detik ( Mode’s law) dimana cairan di canalis
semisirkuler yang mengalir terlalu perlahan sehingga tidak diterjemahkan sebagai sebuah
gerakan. Misalnya pada terbang instrumen mengadakan roll ke kiri tanpa dirasakan karena
kecepatannya di bawah ambang. Bila ia mengadakan roll ke kanan ia merasakan pesawatnya
dalam keadaan roll ke kanan walaupun sebenarnya datar. Hal ini dapat dilihat dalam sikap
badannya. Jika penerbang tidak sadar akan keadaan ini maka penerbang akan dengan tidak sadar
mencoba “memperbaiki” keadaan dengan menambah miring ke kiri yang malah akan
memperburuk keadaan, apalagi jika kemiringan ini diikuti dengan belokan ( graveyard spin)

7) Autokinesis
Autokinesis artinya bergerak sendiri. Sebuah titik cahaya dalam ruangan yang cukup gelap dan
tidak ada pemandangan lain, maka setelah dipandang beberapa detik akan kelihatan seolah-olah
bergerak. Contohnya bila kita menatap sebuah bintang yang terang atau sebuah lampu di darat
maka setelah beberapa lama bintang dan lampu tersebut akan terlihat bergerak-gerak dan disalah
artikan sebagai sebuah pesawat. Fenomena ini dikenal sebagai autokinesis effect dan dapat
menyebabkan kekeliruan bila terbang formasi malam hari. Untuk menghindari hal ini maka
jangan fokuskan mata pada cahaya tersebut tapi lihat ke satu sisi dengan melakukan peripheral
vision dan kembangkan penglihatan anda ke daerah yang lebih luas.

8) False horizon ilussion


Bintang ada diatas, daratan ada di bawah. Atas dan bawah adalah persepsi yang diterima otak
dari penglihatan kita. Jika penglihatan kita salah menterjemahkan apa yang kita lihat maka akan
terjadi kesalahan pemahaman otak. Contohnya bila terbang malam dan cukup gelap maka lampu-
lampu landasan dilihat sebagai bintang-bintang. Hal ini membahayakan karena horizon yang
diterimanya kelihatan lebih rendah dari horizon yang sesungguhnya. Akibatnya pesawat akan
diarahkan ke bawah. Atau pada saat terbang di atas laut pada malam hari yang gelap dan
horizon/cakrawala tidak terlihat. Maka tidak ada batas antara angkasa dan air. Bintang ,
bayangan bintang dan lampu perahu nelayan akan terlihat tanpa batas. Cahaya di laut dari
pantulan bintang dan lampu perahu nelayan bisa terlihat seperti bintang di atas. Akibatnya
penerbang akan merasa pesawatnya akan mendongak dan akan menurunkan hidung pesawat.
Lihat instrument sesering mungkin untuk menghindari ilusi ini.

9) Permukaan bumi atau awan


Terbang di atas daerah yang tidak rata (di atas kaki gunung) atau awan yang miring
permukaannya mengakibatkan terbang tidak lurus dan tidak datar.

10) Seat of the pants sense


Bila pesawat membelok maka arah gaya sentrifugal dan gravitasi selalu menuju ke arah lantai
pesawat. Dengan demikian si penerbang dengan pressure sensors tersebut sukar mengetahui
mana bawah. Di samping itu perasaan ini dapat menguatkan oculogravic illusion yang terjadi
akibat akselerasi linear pada high performance aircraft.

11) Grave Yard Spin dan Grave Yard Spiral


Graveyard spin adalah ilusi yang dapat terjadi pada penerbang yang sengaja atau tidak
sengaja masuk spin. Sebagai contoh , seorang penerbang yang melakukan spin memasuki
putaran ke kiri pada awalnya akan memiliki sensasi berputar ke arah yang sama. Namun, jika
terus berputar dalam spin ini, maka penerbang akan merasa putarannya berkurang. Jika
penerbang memberikan rudder ke kanan untuk menghentikan spin ke kiri penerbang tiba-tiba
akan merasakan putaran ke arah yang berlawanan ( ke kanan). Jika penerbang merasa yakin
bahwa pesawat itu akan berputar ke kanan, maka responnya akan memberikan rudder kiri untuk
melawan sensasi putaran ke kanan. Namun, dengan menggunakan rudder kiri ini penerbang akan
tidak sadar lalu masuk kembali ke spin kiri yang sebelumnya terjadi.
Jika penerbang memeriksa turn indicator, ia akan melihat penunjuknya manunjukkan
berbelok ke kiri sementara perassaannya berbelok ke kanan. Hal ini menciptakan konflik
sensorik yang akan dilihat oleh penerbang pada instrument dan yang ia rasakan pada tubuhnya.
Jika penerbang yakin sensasi tubuhnya dan tidak mempercayai instrument maka spin ke kiri akan
berlanjut. Jika terlalu banyak ketinggian yang hilang sebelum ilusi ini disadari dan penerbang
mengambil tindakan korektif untuk me-level-kan sayap pesawat, maka benturan dengan daratan
tidak akan bisa dihindari.
Pada waktu masuk ke dalam spin, maka setelah 15 - 20 detik kecepatan endolymph
dalam saluran semisirkuler telah sama dengan kecepatan dinding saluran, sehingga cupula
(reseptor)
kembali pada keadaan istirahat. Pada waktu pesawat keluar dari spin, cupula akan bergerak
dengan arah yang berlawanan sehingga seolah-olah terjadi spin untuk kedua kalinya dengan arah
berlawanan. Dengan mengadakan koreksi maka pesawat masuk spin kembali dengan arah
semula. Pada grave yard spiral tidak ada spin tetapi banked down.

12) Coriolis Illusion


Ini terjadi apabila endolymph dari satu set saluran semisirkuler kiri telah mencapai kecepatan
yang sama dengan dinding saluran, kemudian ada gerakan dari satu set lainnya dalam dinding
bidang yang lain dari set pertama. Akibatnya ialah suatu perasan seolah-olah badan berputar
dalam bidang di luar bidang tersebut misalnya bila ada gerakan yawing dengan kecepatan
yang konstan, maka dengan gerakan pitching dari kepala akan terasa seolah-olah badan
mengalami roll. Menggerakkan kepala secara tiba-tiba terutama pada saat pesawat berbelok akan
membingungkan mekanisme keseimbangan di kanakis semisirkularis. Hal ini menyebabkan pilot
mengira pesawat bergerak secara tidak diinginkan dan akan “mengembalikan” posisi
pesawatnya. Unyuk menghindari ilusi ini , hindari menggerakkan kepala secara tiba-tiba
misalnya pada waktu mengambil sesuatu di belakang kita (tas, chart, dll) atau mengambil sesuatu
yang jatuh ke lantai kokpit Coriolis illusion paling berbahaya dan biasanya terjadi sewaktu dalam
manuver yang relatif rendah.

13) flicker vertigo


Lampu yang berkedip (strobe light) juga efek kedipan dari baling-baling atau rotor blade dari
helicopter bisa membuat disorientasi . mematikan lampu strobe bisa mengurangi efek ini.

14) black hole


Terjadi bila ada lampu kota atau lampu di dataran tinggi setelah landasan yang akan memberikan
ilusi bahwa pesawat terlalu tinggi. Atau pada waktu terbang mendekati sebuah landasan
bercahaya yang berada di daratan tak bercahaya maka penerbang akan susah mengorientasikan
dirinya relative terhadap bumi. Penglihatan perifer tidak bisa digunakan untuk mengira-ngira
jarak terhadap daratan. Landasan bisa terlihat up slope/ menanjak atau downslope/ menurun.
Kasus yang paling sering terjadi adalah peswat mencapai daratan sebelum sampai ke landasan (
under shoot). Pilot harus mempercayai lampu VASI/PAPI , penunjuk glide scope dari ILS .

3. Pengaruh antisipasi dan penanggulangan disorientasi ruang

SDO pada saat seorang pilot menerbangkan pesawatnya tidak bisa benar-benar
dihilangkan . Namun demikian pilot perlu ingat bahwa sensasi “menyesatkan” dari sistem
sensorik tersebut dapat diprediksi. Sensasi ini dapat terjadi pada siapa saja karena pada dasarnya
sensasi tersebut merupakan fungsi normal dan adanya keterbatasan indera . Agar dapat
meminimalisasi terjadinya SDO dapat dilakukan :

a. Indoktrinasi kepada para penerbang berupa ceramah, demonstrasi dan film mengenai
fenomena tersebut untuk mengurangi kecelakaan pesawat karena SDO
b. Menjamin kemampuan instrument dalam kondisi yang baik
c. Desain pesawat yang memungkinkan kedudukan alat peralatan dalam panel instrumen
sedemikian rupa sehingga memerlukan gerakan-gerakan kepala yang ekstrim.
d. Minimalkan gerakan kepala pada saat terbang. Selama pilot melakukan instrument scanning
dan melihat keluar, kurangi gerakan kepala apalagi secara tiba-tiba. Usahakan agar mata
saja yang bergerak, bukan kepala. Jangan banyak menggerakan kepala pada waktu
berbelok. Lakukan berbelok dan bermanuver dengan halus dan dengan waktu yang singkat.
e. Menjaga kesehatan pilot yang optimal.

SDO menjadi berbahaya ketika pilot menjadi tidak mampu membaca instrumen
pesawatnya dengan benar. Semua pilot terlepas dari tingkat pengalaman terbangnya, bahkan
pilot senior pun dapat mengalami SDO. Dengan demikian mereka harus menyadari potensi
bahaya SDO dan belajar untuk mengatasinya. Untuk mencegah SDO dapat dilakukan beberapa
upaya , yaitu:
a. Jangan pernah terbang tanpa titik referensi visual ( baik cakrawala aktual atau cakrawala
buatan yang disediakan oleh instrumen ) .
b. Percaya pada instrumen terutama saat terbang pada cuaca buruk atau terbang malam dimana
terjadi gangguan pada visualisasi terhadap lingkungan sekitar
c. Hindari kelelahan, merokok, hipoglikemia, hipoksia dan kecemasan karena dapat
meningkatkan ilusi .
d. Jangan pernah mencoba untuk terbang visual dan terbang instrumen pada saat yang sama

Adapun yang dapat dilakukan bila pilot mengalami SDO adalah sebagai berikut :

a. Melihat instrumen dan melakukan cross-cek sesegera mungkin. Kapan pun bila seorang pilot
mengalami sensasi membingungkan dalam penerbangan maka ia harus melakukan scan
semua instrument yang relevan sebelum mennggerakkan kendali pesawatnya dan harus
percaya dengan bacaan instrument tersebut
b. Tunda tindakan intuitif dengan memeriksa kedua referensi visual dan instrumen .
c. Transfer kontrol pesawat kepada pilot lain jika kemudi pesawat adalah double seater karena
jarang terjadi SDO di saat yang bersamaan pada 2 orang pilot.

REFERENSI
1) Major Todd Heinley, Spatial disorientation, Human system IAC Gateaway Volume XII:
Number 3 (2001).
2) USAF Flight Surgeon Guide
3) Ernsting's Aviation Medicine