Anda di halaman 1dari 3

4.

Subjek 4
Deskripsi subjek
Subjek 4 merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UNS angkatan 2016 yang berusia 20 tahun
berinisial FM yang menikah dengan pacar yang ia kenal semasa SMA dengan lama pernikahan 7
bulan. Subjek 4 masih menjalani LDM (long distance marriage) dengan pasangannya karena ia
masih menjalani perkuliahan di UNS dan suaminya bekerja di Wonosobo. Subjek 4 menikah karena
merasa sudah lama pacaran dan tuntutan dari keluarga sang suami.

Kasus kasuisitk

Dalam pernikahan subjek 4 mengungkap tidak pernah ada konflik dalam kehidupan rumah tangga,
ini dikarenakan subjek dan pasangan sudah berkomitmen untuk menjalani pernikahan dengan
santai, tidak ada marah-marahan.

1. Keputusan Menikah
Subjek 4 mengungkap ada dua pertimbangan untuk memutuskan menikah, yaitu tuntutan
keluarga dan sudah pacaran lama. Motivasi ini mempengaruhi komitmen karena diperkuat oleh
keluarga sebagai significant others dan lamanya hubungan pra-nikah, sehingga telah saling
mengenal dan mudah bagi mereka untuk membentuk komitmen. Subjek 4 juga menerima
dukungan sosial dari teman dan keluarga, meski pada awalnya orang-orang disekitar
menanyakan mengenai studinya, tetapi tetap mendukung dan mendoakan yang terbaik.

“Pertimbangan aku menikah, Pertama, karena aku dah pacaran lama sama dia, jadi
keluargane dia itu nuntut buat nikah cepet.(203-204)“
“Sebenere karena aku D3 kan, semester depan udah selesai gitu kan, tapi karena
keluarganya dia nuntut, jadi ya udahlah ngalahi aja nggak papa.(205)”
“Tapi walaupun semua terkejut, semua mendukung sih. Ya pada doain lah, semoga apaa..
Alhamdulillah respone temen-temen juga bagus semua ndoain. (215-218)“
2. Pengalaman Positif
Subjek 4 memiliki rencana-rencana masa depan yang dirancang bersama pasangan semenjak
pacaran hingga menikah. Seperti buka usaha wiraswasta, memiliki rumah dan mobil, dan
tentang keturunan. Dalam membentuk komitmen, tak lepas dari yang namanya romantisme
dengan pasangan. Adapun faktor keterdekatan emosi, subjek 4 merasakan apa yang pasangan
rasakan, apabila pasangan senang maka ikut senang, dan mood di perkuliahan membaik,
apabila pasangan terkena musibah maka ikut sedih dan turut membantu.
Subjek 4 apabila pulang bertemu suami ia fokus dalam melayani suami seperti masak telur,
ayam dan menyiapkan pakaian kerja suaminya. Romantisme mereka juga tergambar dalam
tindakan-tindakan kecil dan sederhana apalagi kondisi subjek kini sedang hamil maka cepat
lelah sehingga membutuhkan perhatian lebih.

“Rencana masa depan itu apa ya, buka usaha. Terus tentang keturunan. (41)”
“Kalo chat itu karena dia sibuk kerja aku sibuk kuliah, jadi chattingannya itu pagi gitu.
Terus kalo siang pas dia istirahat. Terus kalau malem video call, gitu. (37)”
“Romantis ya kalo masakin gitu, ngelus-elus perutku.(231)”

3. Strategi Perekatan
Dalam kehidupan pernikahan mereka juga saling membantu, pengertian, dan terbuka satu sama
lain serta saling support dalam mempertahankan hubungan. Suami selalu terbuka, apabila ada
yang ditutupi subjek 4 membujuknya untuk cerita, dan apabila suami enggan, maka ditunggu
sampai suami mau cerita apabila sudah bertemu. Inilah sisi pengertian dan kepedulian yang
ditunjukkan subjek 4. Komunikasi pun lancar meski masih LDM jadi via telfon, video call, dan
chatting.

Ditambah pasangan subjek 4 tidak pernah marah atau menunjukkan ekspresi marah karena
sudah berkomitmen di awal kalah ini pernikahan dibawa santai saja. Ditambah pasangan subjek
4 yang sangat bertanggungjawab, membuat subjek mudah percaya apalagi mereka sudah lama
saling mengenal. Subjek 4 memberi rating 8,5 untuk kepercayaannya pada pasangan. Jadi,
meskipun subjek masih fokus menyelesaikan studi, komitmen pernikahan dapat dilihat dari
pasangan ini.

“Kalo lagi ada masalah. Jadi mesti langsung tak telfon “kenapa tho?” “cerita kalau lagi
ada masalah”, tapi dia kalau ditelfon gak mau cerita karena nggak enak aja sih ngobrol
lewat telfon, jadi mesti ngobrol lewat langsung. (106-108)“
“Yaa aku nenangin dia, ya kalau bisa ngasih solusi ya ngasih solusi. (113)”
“Soalnya aku nyantai, dia orange juga nyantai jadi udah komitmen dari awal. Pokoke aku
nggak mau marah-marahan gitu.(288-289)”
4. Pengalaman Negatif

Dampak atau konsekuensi dari pernikahan undergraduate bagi subjek 4 ini membuat mimpi
yang dulu dirancang terkubur dan juga terkadang memutuskan untuk bolos kuliah. Ini tentu
menghambat perkuliahan subjek. Lalu subjek 4 cenderung memiliki self esteem rendah karena
ia merasa belum menjadi istri yang baik, kemudian subjek juga saat pertama mengabarkan akan
menikah ia mendapatkan komentar negatif yang menjatuhkan, sehingga mempengaruhi self
esteem-nya.

“Pernah bolos kuliah, misal pas hari selasa kemarin, kan hari kejepit kan dia bilang “beb
mbok jangan pulang beb” Yawis lah mbolos. (333-336)“
“Kan kemarin nggak ngundang begitu banyak kan, terus ada yang komen nggak enak juga.
(222-223)”
5. Faktor Personal
Subjek 4 mengaku ia belum menjadi istri yang baik bagi suaminya karena masih berkuliah
sehingga tidak dapat membantu menabung untuk masa depan. Meski begitu suami tidak
mempermasalahkannya. Dalam kehidupan pernikahan subjek 4, ia berkali-kali menekankan
bahwa komitmen pernikahannya adalah santai, nikah dibawa santai, tidak ingin ada marah-
marahan dan tidak ada konflik, dan benar hingga saat belum ada konflik yang berarti dalam
kehidupan pernikahan mereka. Maka dapat disimpulkan komitmen awal itu sangat penting.
Diarenakan pasangan subjek sikapnya bertanggungjawab, serta peduli, perhatian (komponen
konatif) membuat subjek mudah percaya apalagi mereka sudah lama saling mengenal. Jadi,
meskipun subjek masih fokus menyelesaikan studi, komitmen pernikahan mudah dilihat dari
pasangan ini.

“Terus ya itu yang paling bikin pertimbangan aku masih kuliah, soale yang jelas karena aku
masih kuliah jadinya LDR, belum bisa… apa ya aku merasa belum bisa jadi istri yang baik.
(209-210)”
“Konflik? Nggak ada sih, karena kan aku sama dia nyantai juga kan jadi dari pacaran dulu
sampai sekarang ndak ada konflik yang gimana-gimana sih. Jadi nggak ada. (60-62)“
“Soalnya aku nyantai, dia orange juga nyantai jadi udah komitmen dari awal. Pokoke aku
nggak mau marah-marahan gitu.(288-289)”