Anda di halaman 1dari 12

Antipiretik

I. PENDAHULUAN
Demam, yang berarti suhu tubuh di atas batas normal biasa, dapat disebabkan
oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat
pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak, atau dehidrasi. Banyak
protein, pemecahan protein, dan zat-zat tertentu lain, seperti toksin
lipopolisakarida yang disekresi oleh bakteri dapat menyebabkan titik setel
termostat hipotalamus meningkat. Zat-zat yang menyebabkan efek ini
dinamakan pirogen. Terdapat pirogen yang disekresikan oleh bakteri toksik atau
pirogen yang dikeluarkan dari degenerasi jaringan tubuh yng menyebabkan
demam selama sakit. Bila titik setel termostat hipotalamus meningkat lebih
tinggi dari normal, semua mekanisme untuk meningkatkan suhu tubuh bekerja,
termasuk konservasi panas dan peningkatan pem bentukan panas. Dalam
beberapa jam setelah termostat diubah ke tingkat yang lebih tinggi, suhu tubuh
juga mencapai tingkat tersebut (Ganong, 2003).
Pada umumnya demam adalah juga suatu gejala dan bukan merupakan penyakit
tersendiri. Kini, para ahli sependapat bahwa demam adalah suatu reaksi tangkis
yang berguna dari tubuh terhadap infeksi. Pada suhu diatas 37°C limfosit dam
makrofag menjadi lebih aktif. Bila suhu melampaui 40-41°C, barulah terjadi
situasi kritis yang bias menjadi fatal, karena tidak terkendalikan lagi oleh tubuh
(Tjay, T.H, 2002).
Demam mungkin adalah tanda utuma penyakit yang paling tua dan paling umum
diketahui. Demam terjadi tidak saja pada mamalia tetapi juga pad unggas, reptil,
amfibi dan ikan. Apabila demam terjadi pada hewan homeotermik, mekanisme-
mekasnisme pengaturan suhu bekerja seolah-olah mereka disesuaikan untuk
mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang lebih tinggi dari pada normal,
yaitu “seperti jika termostat yang disetel ulang” ke titik baru yang diatas 37 0C.
reseptor-reseptor suhu kemudian memberi sinyal bahwa suhu sebenarnya lebih
rendah daripada penyetelanan pada titik baru tersebut, dan mekanisme-
mekanisme untuk menaikkan suhu tubuh diaktifkan. Hal ini biasanya
menyebabkan timbulnya rasa kedinginan akibat vasokonstriksi kulit dan kadang-
kadang menyebabkan menggigil. Namun sifat respons bergantung pada suhu di
sekelilingnya. Peningkatan suhu pada hewan yang disuntikkan suatu pirogen
sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pembentukan panas apabila hewan
tersebut berada di lingkungan yang dingin dan penurunan pengeluaran panas
apabila berada dalam lingkungan yang hangat. Manfaat demam bagi orgainisme
masih belum diketahui (Neal, M.J, 2006).
Manusia dikatakan sebagai mahluk "homeotermal". Artinya, suhu tubuh manusia
normal berkisar di sekitar 37 derajat C. Hal itu diatur oleh organ tubuh yang
terletak di dalam rongga kepala di dalam jaringan otak yang disebut
hypothalamus yang mempunyai dua sisi yaitu sisi belakang dan sisi depan.
Bagian belakang berfungsi menaikkan suhu tubuh dengan cara mengurangi
pengeluaran panas. Ini berguna ketika cuaca dingin, caranya dengan menggigil
dan mengurangi pengeluaran keringat (www.balipost.co.id).
Hipothalamus bagian depan berfungsi mengeluarkan panas lebih banyak ketika
cuaca panas. Caranya, dengan lebih banyak mengeluarkan keringat, yang
menyebabkan suhu tubuh kembali ke tingkat normal yaitu 37 derajat C. Proses
ini berjalan melalui suatu mekanisme umpan balik yang rumit, yang diperantarai
oleh saraf-saraf di kulit sebagai penerima sinyal suhu dan juga oleh aliran darah
di dalam tubuh (www.balipost.co.id).
Panas secara terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil metabolisme,
dan panas tubuh juga secara terus menerus dibuang kelingkungan sekitar. Bila
kecepatan pembentukan panas tepat sama seperti kecepatan kehilangan, orang
dikatakan berada dalam keseimbangan panas. Tetapi bila keduanya berada di
luar keseimbangan, panas tubuh dan suhu tubuh jelas akan meningkat atau
menurun (Guyton, C. Arthur, 1995).

II. TUJUAN PERCOBAAN


1. Mengamati efek dari 2,4 – Dinitrofenol sebagai toksin terhadap terjadinya
demam.
2. Mengamati khasiat parasetamol sebagai obat penurun panas
3. Mengamati khasiat dari obat X sebagai obat penurun panas.
4. Mengamati khasiat suspensi kosong yang diberikan kepada hewan uji
5. Membandingkan efek antipiretik dari parasetamol dan obat x sebagai obat
penurun panas.

III. PRINSIF PERCOBAAN


Larutan 2,4–Dinitrofenol merupakan toksin yang digunakan untuk menaikkan
suhu tubuh yang diubah menjadi demam akibat terganggunya sistem pengaturan
panas di hipotalamus dan pemberian obat antipiretik yaitu parasetamol dan obat
X dapat menurunkan keadaan demam tersebut

IV. TINJAUAN PUSTAKA


1. Antipiretik
Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri tanpa menghalangi kesadaran. Antipiretik adalah zat-zat
yang dapat mengurangi suhu tubuh. Anti inflamasi adalah obat atau zat-zat yang
dapat mengobati peradangan atau pembengkakan. Obat analgesic antipiretik
serta Obat Anti Inflamasi non Steroid (OAINS) merupakan suatu kelompok obat
yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun
demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi
maupun efek samping. Prototipe obat golongan ini adalah aspirin. Karena itu,
banyak golongan dalam obat ini sering disebut obat mirip aspirin (Aspirin-like
drugs).
Klasifikasi kimiawi OAINS sebenarnya tidak banyak manfaat kimianya karena
ada OAINS dari subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda. Sebaliknya
ada OAINS yang berbeda subgolongan tapi memiliki sifat yang serupa.
Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa
kelompok heterogen tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek samping.
Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas
penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Mekanisme kerja dan yang
berhubungan dengan system biosintesis prostaglandin ini mulai diperlihatkan
secara invitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat
produksi enzimatik prostaglandin. Penelitian lanjutan membuktikan bahwa
prostaglandin akan dilepaskan bilamana sel akan mengalami kerusakan.
Walaupun secara invitro OAINS diketahui menghambat obat berbagai reaksi
biokimiawi, hubungan dengan efek analgesic antipiretik dan antiinflamasi nya
belum jelas (Anonim 1, 2009).
2. PATOFISIOLOGI DEMAM
DEMAM merupakan mekanisme alamiah tubuh dalam menetralisasi virus yang
masuk. Namun, ada yang kurang tepat dalam hal penatalaksanaan demam.
Masyarakat sering kali menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Akibatnya,
sikap mengobati sendiri menjadi kecenderungan mayoritas masyarakat
Indonesia (swamedikasi). Obat antidemam (antipyreticum) biasanya memang
dijual bebas. Beberapa golongan yang beredar di pasaran meliputi parasetamol
(nama lain acetaminophen atau APP), asam salisilat (acetylsalicylate acid) dan
ibuprofen. Perbedaan terletak pada derajat antidemam dan antinyeri, selain efek
sampingnya.
Kendati sama-sama obat pereda panas, tidak semua jenis obat ini sama
berfungsi sama untuk semua kasus demam. Jadi indikasi pemakaian juga harus
tepat. Berdasarkan rekomendasi WHO pada 1997, pemakaian obat antidemam
golongan parasetamol lebih tepat untuk meredakan demam DBD. "Obat pilihan
pertama untuk menurunkan demam pada dengue adalah parasetamol. Hal ini
harus diikuti dengan asupan cairan yang cukup seperti oralit, jus buah, dan
susu," kata dokter spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI
RSCM, dr Hindra Irawan Satari SpA(K) M Trop Med (Anonim 2, 2009).
Suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas. Alat
pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan demam
keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan pada keadaan normal
oleh obat mirip aspirin. Ada bukti bahwa peningkatan suhu tubuh pada keadaan
patologik diawali penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti
Interleukin-1 (1L-1) yang memacu penglepasan PG yang berlebihan diadaerah
preoptik hipotalamus. Selain itu PGE2 terbukti menimbulkan demam setelah
diinfuskan ke ventrikel serebrul atau disuntikan ke daerah hipotalamus. Obat
mirip aspirin ,menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesis
PG, tetapi demam yang ditimbulkan akibat pemberian PG tidak
dipengaruhi,demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain seperti latihan fisik
(Wilmana P. Freddy, 1995).
Suhu badan diatur oleh keseimbangan antar produksi dan hilangnya panas. Alat
pengatur suhu tubuh berada dihipotalamus. Pada keadaan demam keseimbangan
ini terganggu tetapi dapat dikembalikan kenormal oleh obat mirip aspirin. Ada
bukti bahwa peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik diawali
penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin misalnya interleukin 1 (IL-1)
yang memacu penglepasan PG yang berlebihan didaerah preoptik hipotalamus.
Selain itu PGE2 terbukti menimbulkan demam setelah diinfuskan ke ventrikel
serebral atau disuntikkan kedaerah hipotalamus. Obat mirip aspirin menekan
efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesis PG. Demam yang timbul
akibat pemberian PG tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh
sebab lain misalnya latihan fisik (Gan Sulistia, 2007).

Asam Arakidonat endoperoksida Prostagladin E2


Siklik (PGE2 )
3. Pengaturan Suhu
Biasanya manusia berada dilingkungan yang suhunya lebih dingin daripada tubuh
mereka, sehingga ia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal
untuk mempertahankan sushu tubuhnya. Pembentukan panas akhirnya
bergantung pada oksidasi bahan baker metabolic yang berasal dari makana.
Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara
homeostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi
kelangsungan metabolisme sel yang stabil. Bahkan peningkatan suhu tubuh
sedikit saja sudah dapat menimbulkan gangguan fungsi saraf dan denaturasi
protein yang ireversibel. Pihak lain, sebagian besar jaringan tubuh dapat
menahan pendinginan yang substansial. Jaringan yang mengalami pendinginan
memerlukan makanan yang lebih sedikit dibandingkan saat berada pada suhu
tubuh normal karena menurunnya aktivitas metabolisme. Suhu tubuh normal
secara tradisional dianggap berada pada 37°C. Namun, sebenarnya tidak ada
suhu tubuh normal, karena suhu bervariasi dari organ keorgan. Dari sudut
pandang termoregulatorik, tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti ditengah
(central core) dengan lapisan pembungkus disebelah luar (outer shell). Suhu di
inti bagian dalam, yang terdiri dari organ-organ abdomen dan thoraks, system
saraf pusat, seta otot rangka, umumnya relative konstan. Suhu inti internal inilah
yang dianggap sebagai suhu tubuh dan menjadi subjek pengaturan ketat untuk
mempertahankan kestabilannya. Jaringan tubuh dibagian tengah ini berfungsi
optimum pada suhu relative konstan sekitar 37,8°C. Kulit dan jaringan subkutis
membentuk lapisan disebelah luar. Berbeda dengan suhu ditengah yang tinggi
konstan, suhu didalam lapisan suhu didalam lapisan luar umumnya lebih dingin
dan pada dasarnya dapat berubah-ubah. Pada kenyataannya, suhu kulit secara
sengaja diubah-ubah sebagai tindakan control untuk membantu
mempertahankan agar suhu ditengah tetap konstan (Sherwood Lauralee, 2001).
Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme umpan balik saraf, dan
hampir semua makanisme ini bekerja melalui pusat pengaturan suhu yang
terletak pada hipotalamus. Agar mekanisme umpan balik ini bekerja, juga harus
terdapat detektor suhu untuk menentukan bila suhu tubuh menjadi terlalu panas
atau terlalu dingin. Reseptor suhu yang paling penting untuk mengatur suhu
tubuh adalah banyak neuron peka panas khusus yang terletak pada area
preoptika hipotalamus. Neuron ini meningkatkan pengeluaran impuls bila suhu
meningkat dan mangurangi impuls yang keluar bila suhu turun. Reseptor lain
yang peka terhadap suhu adalah :
1. Reseptor suhu kulit termasuk reseptor panas dan dingin (reseptor dingin 4-10
kali reseptor panas) yang menghantarkan impuls saraf ke medulla spinalis dan
kemudian kedaerah hipotalamus otak untuk membantu mengatur suhu tubuh.
2. Reseptor suhu dalam medula spinalis, abdomen dan mungkin struktur dalam
lainnya pada tubuh yang juga menghantarkan isyarat, terutama isyarat dingin
kesusunan saraf pusat untuk membantu mengontrol suhu tubuh.
4. Regulasi Suhu Tubuh
Cara-cara hilangnya panas adalah radiasi, konduksi dan evaporasi. Fenomena
konveksi udara juga memegang peranan penting dalam kehilangan panas oleh
konduksi dan evaporasi. Jumlah panas yang hilang oleh setiap mekanisme
berbeda ini bervariasi sesuai keadaan atmosfir.
1. Radiasi.
Kehilangan panas dengan cara radiasi dalam bentuk sinar panas infra merah,
suatu jenis gelombang elektromagnetik yang beradiasi dari tubuh ke
sekelilingnya, yang lebih dingin daripada tubuhnya sendiri. Kehilangan ini
meningkat bila suhu sekelilingnya menurun.
2. Konduksi
Biasanya hanya sedikit panas yang dibuang dengan cara konduksi langsung dari
permukaan tubuh ke objek lain, seperti pada kursi atau tempat tidur. Tetapi,
kehilangan panas dengan cara konduksi ke udara merupakan bagian kehilangan
panas tubuh yang dapat diukur, bahkan dalam keadaan normal.

3. Konveksi
Pergerakan udara dikenal sebagai konveksi, dan pembuangan panas dari tubuh
dengan cara arus udara konveksi sering dinamakan “kehilangan panas dengan
cara konveksi”. Sebenarnya panas pertama kali harus dikonduksi ke udara dan
kemudian dibawa menjauhi tubuh oleh arus konveksi.
4. Evaporasi (Penguapan)
Bila air menguap dari permukaan tubuh, 0,58 kalori panas hilang untuk setiap
gram air yang menguap. Air menguap secara insensible dari kulit dan paru
dengan kecepatan sekitar 600 ml per hari. Hal ini menyebabkan kehilangan
panas secara kontinu dengan kecepatan 12 sampai 16 kalori per jam .
(Guyton, C. Arthur, 1995).
5. Mekanisme Kerja Antipiretik
OAINS tidak mengurangi suhu tubuh normal atau suhu tubuh yang meningkat
pada heat stroke yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus. Selama demam,
pirogen endogen (interleukin-1) dilepaskan dari leukosit dan bekerja langsung
pada pusat termoregulator dalam hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh.
Efek ini berhubungan dengan peningkatan prostaglandin otak (yang bersifat
pirogenik). Aspirin mencegah efek peningkatan suhu dari interleukin-1 dengan
mencegah peningkatan kadar prostaglandin otak (Neal, M. J, 2006).
Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) lainnya adalah
antipiretik yang efektif. Bekerja dengan cara menghambat produksi
prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya
pirogen endogen).
(Nurul Itqiyah H & Arifianto www.sehatgroup.web.id).
6. Pengobatan dengan antipiretik
Obat analgesic antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan
salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan dan juga digunakan tanpa
resep dokter. Obat-obat ini merupakan suatu kelompok obat yang heterogen,
secara kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki benyak
persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini
adalah aspirin, kerena itu golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip
aspirin. Klasifikasi kimiawi AINS, tidak banyak manfaat kliniknya, karena AINS
dari subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda, sebaliknya ada obat
AINS yang berbeda subgolongan tetapi memiliki sifat yang serupa. Kemajuan
penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa kelompok
heterogen tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek samping. Ternyata
sebagian besar efek terapi dan efek samping. Ternyata sebagian besar efek
terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis
prostaglandin (PG) (Gan Sulistia, 2007).
Derivat-asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak
digunakan sebagai analgetikum, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari
peredaran karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya,
analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiradang. Resorbsinya dari usus cepat
dan praktis tuntas, secara rectal lebih lambat. PP nya ca 25%, plasma t1/2 nya 1-
4 jam. Antara kadar plasma dan efeknya tidak ada hubungan. Dalamhati zat ini
diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang diekskresi dengan kemih
sebagai konyugat-glukoronida dan sulfat. Efek analgesic parasetamol dan
fenasetin serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri
ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme
yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek antiinflamasinya
sangat lemah, oleh.Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang
lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tiddak terlihat pada kedua
obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam
basa.Parasetamolmemiliki sebuah cincin benzena, tersubstitusi oleh satu gugus
hidroksil dan atom nitrogen dari gugus amida pada posisi para (1,4). Senyawa ini
dapat disintesis dari senyawa asal fenol yang dinitrasikan menggunakan asam
sulfat dan natrium nitrat. Parasetamol dapat pula terbentuk apabila senyawa 4-
aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat anhidratMekanisme kerja yang
sebenarnya dari parasetamol masih menjadi bahan perdebatan. Parasetamol
menghambat produksi prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun
parasetamol hanya sedikit memiliki khasiat anti inflamasi. Telah dibuktikan
bahwa parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim
siklooksigenase (COX), sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa
penyebab inflamasi. Sebagaimana diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini
berperan pada metabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu
molekul yang tidak stabil, yang dapat berubah menjadi berbagai senyawa pro-
inflamasi. Kemungkinan lain mekanisme kerja parasetamol ialah bahwa
parasetamol menghambat enzim siklooksigenase seperti halnya aspirin, namun
hal tersebut terjadi pada kondisi inflamasi, dimana terdapat konsentrasi
peroksida yang tinggi. Pada kondisi ini oksidasi parasetamol juga tinggi,
sehingga menghambat aksi anti inflamasi.. Parasetamol merupakan obat
analgesik yang populer digunakan untuk melegakan sesak napas, demam, atau
sakit ringan. Sebelumnya menurut rekomendasi FDA dosis aman mengonsumsi
parasetamol tidak lebih dari 4000 mg dalam jangka 24 jam.
Sayangnya karena parasetamol termasuk obat yang mudah didapat, overdosis
obat baik sengaja atau tidak sering terjadi. Misalnya saja orang yang menderita
arthritis atau nyeri sendi yang dengan mudah mengalami overdosis bila ia
mengonsumsi obat arthrtitis tiap 4 atau 6 jam dan ditambah obat penghilang
nyeri lainnya yang mengandung parasetamol dan biasanya dijual bebas. Obat
nyeri sendi seperti tylenol mengandung 325 mg parasetamol dan 500 mg untuk
jenis ekstra kuat.
Selama bertahun-tahun konsumen merasa aman dalam memilih parasetamol
sebagai obat pereda sakit. Berbeda dengan painkiller jenis ibuprofen atau
asetosal (asam asetilsalisilat), parasetamol tidak menyebabkan peradangan.
Karena itulah obat ini sering dianggap aman. Tetapi faktanya, studi terbaru
menunjukkan parasetamol dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan liver,
bahkan kematian.
Untuk menghidari efek samping tersebut, FDA menurunkan dosis aman
parasetamol, yakni 3.250 mg untuk orang dewasa (sebagian ahli merasa dosis ini
masih terlalu tinggi) (Anonim 3, 2009).

Parasetamol adalah obat pilihan pada anak-anak. Dosisnya sebesar 10-15


mg/kg/kali. Parasetamol dikonjugasikan di hati menjadi turunan sulfat dan
glukoronida, tetapi ada sebagian kecil dimetabolisme membentuk intermediet
aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati) jika jumlah zat hepatotoksik ini
melebihi kapasitas hati untuk memetabolismenya dengan glutation atau sulfidril
lainnya (lebih dari 150 mg/kg)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol).
Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen,
parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong
dalam obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti
permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus
arteriosus pada janin.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol).
Sebelum penemuan asetaminofen, kulit sinkona digunakan sebagai agen
antipiretik, selain digunakan untuk menghasilkan obat antimalaria, kina. Karena
pohon sinkona semakin berkurang pada 1880-an, sumber alternatif mulai dicari.
Terdapat dua agen antipiretik yang dibuat pada 1880-an; asetanilida pada 1886
dan fenasetin pada 1887. Pada masa ini, parasetamol telah disintesis oleh
Harmon Northrop Morse melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam
asam asetat gletser. Biarpun proses ini telah dijumpai pada tahun 1873,
paraetamol tidak digunakan dalam bidang pengobatan hingga dua dekade
setelahnya. Pada 1893, parasetamol telah ditemui di dalam air kencing
seseorang yang mengambil fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran
berwarna putih dan berasa pahit. Pada tahun 1899, parasetamol dijumpai sebagai
metabolit asetanilida. Namun penemuan ini tidak dipedulikan pada saat itu.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol).
Cara kerjanya dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga
menghambat pelepasan mediator kimia sebagai tanda adanya proses radang.
Mediator kimiawi yang dihambat itu ialah prostaglandin (PGE2, PGF2-alfa, PGI2).
Jadi parasetamol tetep NSAID selain bekerja pada thermoregulator dia juga
menghambat pembentukan prostaglandin di SSP. Ketika prostaglandin dilepas,
maka tubuh akan meningkatkan keluarnya leukosit maupun sel-sel radang
lainnya yang menyebabkan tubuh panas, tidak bisa berkeringat,dsb.. (tanda-
tanda kalau tubuh kita sakit). Nah penghambatan prostaglandin dalam tubuh
akan menyebabkan pembuluh darah bervasodilatasi sehingga panas bisa keluar
dari dalam tubuh, dan proses inflamasinya tidak lama.
(http://yulian.firdaus.or.id/2005/03/20/parasetamol)
Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fanasetin dengan yang sama
dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus
aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama
Parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Walau demikian laporan
kerusakan fatal hefar akibat overdosis akut perlu diperhatikan. Tetapi perlu
diperhatikan pemakai maupun dokter bahwa efek anti antipiretik inflamasi
parasetamol hampir tidak ada. (Sartono, 1996)
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam
arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat sikloosigenase PG
hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid yang dihasilkan oleh
leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek anti inflamasi parasetamol praktis tidak
ada. (Ganiswarna, 1995).

V. METODE PERCOBAAN
5.1. ALAT DAN BAHAN
5.1.1 Alat
1. Termometer rektal
2. Timbangan hewan
3. Stopwatch
4. Spuit
5. Selang oral
5.1.2 Bahan-bahan
1. Parasetamol 10 %
2. Obat X 10 %
3. Suspensi kosong 1 %
4. Parafin Liquidum
5. 2. 4 - Dinitrofenol (DNF)

5.2 PROSEDUR PERCOBAAN


1. Burung tikus ditimbang dan ditandai.
2. Tiga ekor tikus masing-masing diukur temperature tubuhnya 3 kali dengan
selang waktu 5 menit. Tentukan temperatur rata-rata (temperatur normal merpati
T = 38 - 390 C).
3. Tikus disuntik dengan larutan 2.4 - dinitrofenol (DNF) secara i.m. pada daerah
dada, dengan dosis 5 mg / kg BB. Diukur suhu tubuh merpati selang waktu 5
menit selama 20 menit.
4. Setalah 20 menit, tikus diberi :
a. Suspensi parasetamol 10 %, dosis 100 mg/ kg BB (oral )
b. Suspensi obat X 10 %, dosis 100 mg/ kg Bb (oral )
c. Suspensi kosong 1 % sebanyak volume suspensi parasetamol sebagai kontrol
(oral).
5. Catat perubahan temperatur tubuh merpati selang waktu 5 menit selama 50
menit.
6. Dibuat grafik temperatur vs waktu.

VI . PERHITUNGAN ,DATA, GRAFIK, DAN PEMBAHASAN


6.1.1 Perhitungan Dosis
Tikus I
- Berat = 126,8 gram
- Konsentrasi DNF 0,5% dosis 5 mg/kg BB
- Syringe = 80 skala
5 × 126,8 g = 0,634 mg/ 5 = 0,13 ml
1000
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 0,13 = 10,14 skala
0,0125
Pemberian paracetamol konsentrasi 10% dosis 100 mg/kg BB
100 × 126,8 g = 12,68 mg/ 100 = 0,12 ml
1000
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 0,12 = 9,6 skala
0,0125

Tikus II
- Berat = 120 gram
- Konsentrasi DNF 0,5% dosis 5 mg/kg BB
- Syringe = 80 skala
5 × 120 g = 0,6 mg/ 5 = 0,12 ml
1000
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 0,12 = 9,6 skala
0,0125

Pemberian obat X konsentrasi 10% , dosis 100 mg/kg BB


100 × 120 g = 12,00 mg/ 100 = 0,12 ml
1000
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 0,12 = 9,6 skala
0,0125

Tikus III
- Berat = 101,9 gram
- Konsentrasi DNF 0,5% , dosis 5 mg/kg BB
- Syringe = 80 skala
5 × 101,9 g = 0,6 mg/ 5 = 0,10 ml
1000
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 0,10 = 8 skala
0,0125
Pemberian CMC 0,5 %. Dosis 1 % BB
1 × 101,9 g = 1.02 mg
100
Skala dalam syringe 1ml = 80 skala
1 skala = 1 : 80 = 0,0125 ml
Jumlah obat yang diberikan = 1,02 = 81,6 skala
0,0125

Pembahasan
Pada percobaan Antipiretik hewan yang digunakan adalah tikus sebanyak tiga
ekor dengan masing-masing pemberian merpati 1 suspensi kosong, tikus 2
parasetamol dan tikus3 obat x. Suhu tubuh normal tikus berkisar antara 36-37°C.
Pada percobaan suhu tubuh tikus normal yang diperoleh rata-rata untuk tikus 1 :
36,9°C ; tikus 2 adalah 36°C; dan tikus 3 : 39,6°C. Setelah diberikan 2,4-
dinitrofenol, masing-masing merpati mengalami kenaikan suhu tubuh. Hal ini
disebabkan karena 2,4-dinitrofenol merupakan zat asing yang dapat
mempengaruhi proses metabolisme tubuh sehingga merangsang terbentuknya
pirogen endogen yang dapat meningkatkan nilai ambang suhu di hipotalamus
sehingga menimbulkan demam. Dalam hal ini demam menunjukkan bahwa tubuh
sedang melakukan pertahanan terhadap zat asing seperti 2.4-dinitrofenol.
Menurut Guyton (2001), demam, yang berarti suhu tubuh di atas batas normal
biasa, dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik
yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor
otak, atau dehidrasi. Banyak protein, pemecahan protein, dan zat-zat tertentu
lain, seperti toksin lipopolisakarida yang disekresi oleh bakteri dapat
menyebabkan titik setel termostat hipotalamus meningkat. Zat-zat yang
menyebabkan efek ini dinamakan pirogen. Terdapat pirogen yang disekresikan
oleh bakteri toksik atau pirogen yang dikeluarkan dari degenerasi jaringan tubuh
yng menyebabkan demam selama sakit.
Pemberian suspensi kosong pada tikus 1 tidak mengalami penurunan suhu malah
meningkat menjadi 38,9°C, pada menit ke 5 sampai ke 50 suhu tubuhnya semakin
turun tetapi suhu tubuhnya tetap berada di atas suhu tubuh normalnya. Hal ini
mungkin disebabkan karena, ketidaktelitian dalam mengukur suhu tubuh tikus, di
mana termometer rektal yang digunakan belum tepat ditempatkan pada
rektalnya sehingga suhu tubuh yang sebenarnya tidak dapat diukur dengan
akurat..
Pada percobaan tikus 2, dengan pemberian suspensi parasetamol, juga
memberikan efek penurunan suhu, sampai sesuai dengan suhu normal.
Pemberian suspensi obat X pada tikus 3, dapat menurunkan suhu tubuh tikus
tetapi suhu tubuhnya tetap berada di atas suhu tubuh normalnya. Secara umum
dapat disimpulkan bahwa obat X kurang dapat menurunkan suhu tubuh tikus,
yang berarti bahwa obat X masih kurang mempunyai khasiat antipiretik. Hal ini
mungkin disebabkan karena pada obat x terdapat zat-zat yang tertinggal pada
saat pengenceran dan pada saat pemberian secara oral zat obat x tidak dikocok
terlebih dahulu yang akhirnya kurang mempunyai efek antipiretik. Perubahan
suhu pada tikus ini selain dipengaruhi oleh pemberian obat juga dipengaruhi oleh
lingkungan sekitarnya.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1. Kesimpulan
Demam merupakan gejala suatu penyakit dan bukan merupakan suatu penyakit,
demam dapat disebabkan oleh pirogen, degenerasi jaringan, infeksi dan
dehidrasi.
Mekanisme terjadinya demam adalah adanya peningkatan aktivitas metabolisme
di dalam tubuh akibat kehadiran suatu zat asing (pirogen eksogen, seperti DNF)
yang dapat merangsang keluarnya pirogen endogen dalam tubuh yang
mengakibatkan pelepasan prostaglandin berlebihan pada pusat pengaturan suhu
di hipotalamus sehingga menimbulkan demam.
Mekanisme pelepasan panas meliputi radiasi, evaporasi, konduktor dan
konveksi.
2,4-dinitrofenol merupakan pirogen eksogen yang merangsang pembentukan
pirogen yang pada akhirnya meningkatkan suhu tubuh.
Parasetamol merupakan senyawa antipiretik yang dapat menurunkan suhu
tubuh, dapat diberikan secara oral dan rektal pada manusia.
Mekanisme kerja parasetamol adalah dengan menghambat biosintesis
prostaglandin melalui penghambatan kerja enzim siklooksigenase.
7.2. Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam mengukur suhu tubuh tikus agar diperoleh
suhu tubuh yang sesuai dengan keadaan tubuh tikus.
Sebaiknya praktikan hati-hati dalam memberikan suntikan DNF pada tikus
karena penyuntikan secara intramuskular melalui otot dada kemungkinan dapat
menembus ke dalam paru-paru tikus.
Sebaiknya praktikan cermat dalam melakukan pengukuran suhu tubuh tikus
agar sesuai dengan selang waktu yang telah ditetapkan.
Sebaiknya dalam percobaan dapat digunakan termometer yang berbeda utnuk
setiap tikus agar lebih efektif dalam pengukuran suhu tubuhnya.

DAFTAR PUSAKA

Anonim 1, (2009). Analgesik, Antipiretik Dan SAIDS.


http:// www.wiro-pharmacy.blogspot.com

Anonim 2, (2009). Jeli memilih obat.


http:// www. Aceh Community.com

Anonim 3, (2009). Parasetamol tak seaman yang dikira


http:// www.kompas.com

Gan, Sulistia.,(2007). Analgesik-Antipiretik Anlgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid


dan Obat Gangguan Sendi Lainnya. Dalam : Farmakologi dan Terapi. Editor :
Ganiswara, S.G. Edisi ke 5. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hal. 230-238.

Hoan, Tan Tjay. & Rahardja, Kirana., (2007).Obat –Obat Penting Khasiat,
Penggunaan, Dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi ke-5.Jakarta: Penerbit PT. Elex
Media Komputindo, Kelompok Gramedia. Hal 295.

Mutschler, Ernst., (1991). Dinamika Obat. Bandunng : ITB. Hal 193.

Neal,M.J., (2006). Farmakologi Medis. Edisi ke-5. Jakarta : Erlangga. Hal.32.

Sherwood, Lauralee., (2001),Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, Edisi ke-1,


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 596-600.