Anda di halaman 1dari 6

Ring of Fire

POSTED ON SEPTEMBER 13, 2016BY ANIS FAJAR SPOSTED IN CIVIL ENGINEERING


Ring of fire (cincin api) adalah zona yang dimana terdapat banyak aktifitas seismik yang terdiri dari busur vulkanik
dan parit-parit (palung) di dasar laut. Cincin api memiliki panjang lebih dari 40.000 km memanjang dari barat daya
Amerika Selatan dibagian timur hingga ke sebelah tenggara benua Australia di sebelah barat. Pada zona yang
disebut Cincin Api inilah banyak terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sekitar 90% dari gempa bumi yang
terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar di dunia terjadi sepanjang Cincin Api ini.
Proses Terbentuknya Ring of Fire
Ring of fire terbentuk akibat pergeseran lempeng tektonik seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Kepulauan Indonesia secara geografis terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, yakni lempeng Benua Asia,
Benua Australia, lempeng Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat
sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara dan Sulawesi. Kondisi
ini menyebabkan Indonesia memiliki potensi yang tinggi terhadap bencana letusan gunung berapi, gempa bumi,
tsunami, banjir dan tanah longsor.
Terletak dalam jalur ring of fire, Indonesia memiliki jumlah gunung berapi paling banyak di dunia. Di Indonesia
tercatat memiliki 130 gunung berapi yang merupakan 10% dari jumlah keseluruhan dunia. Dari 130 gunung berapi
tersebut, 17 di antaranya masih aktif. Cincin Api Pasifik atau lingkarang Api Pasifik merupakan daerah yang sering
mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Dengan
cangkupan wilayah sepanjang 40.000 km daerah ini terbentuk tapal kuda. Lingkarang Api terdiri atas 452 gunung
berapi dimana sekitar 75% menjadi rumah bagi gunung dan tidak aktif. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi
dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Daerah gempa berikutnya (5-6% dari seluruh
gempa dari 17% dari gempa terbesar) adalah sabuk Alpide yang membentang dari Jawa ke Sumatra, Himalaya,
Mediterania hingga ke Atlantika.
Di sisi timur Cincin Api terbentuk akibat lempeng Nazca dan lempeng Cocos bertumbukan mendorong lempeng
Amerika Selatan ke arah barat. Lempeng Pasifik dan lempeng kecil Juan de Fuca terdorong ke bawah lempeng
Amerika Utara. Sepanjang sisi utara lempeng Pasifik bergerak kearah barat laut terdorong kebawah busur vulkanik
Pulau Aleutian. Dibagian Barat Lempeng Pasifik terdorong sepanjang Semenanjung Kamchatka-Kurile disebelah
Jepang. Di bagian selatan Lempeng Pasifik bertumbukan dengan banyak lempeng-lempeng kecil, yang terbentang
dari kepulauan Marana, Philipina, Bougenville, Tonga sampai Selandia Baru

Indonesia terletak diantara Cincin Api san Sabuk Alpide yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa,
Sumatra, terus ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudra Atlantika, inilah sebabnya di Indonesia banyak
gunung berapi aktif dan banyak terjadi gempa seperti yang baru-baru terjadi di Sumatra Barat. Gunung-gunung
berapi di Inonesia termasuk yang paling aktif dalam jajaran gunung berapi pada ring of fire.Gunung berapi di
Indonesia terbentuk dalam zona subduksi lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia.
Hubungan Ring of Fire Terhadap Banyaknya Bencana di Indonesia
Ring of fire (cincin api) adalah zona yang dimana terdapat banyak aktifitas seismik yang terdiri dari busur vilkanik
dan parit-parit (palung) di dasar laut. Cincin api memiliki panjang lebih dari 40.000 km memanjang dari barat daya
Amerika Selatan dibagian timur hingga ke sebelah tenggara benua Australia di sebelah barat. Pada zona yang
disebut Cincin Api inilah banyak terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sekitar 90% dari gempa bumi yang
terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar di dunia terjadi sepanjang Cincin Api ini.
Antar Lempeng tersebut berubah posisi dan ukuran dengan kecepatan 1-10 cm per tahun, jika terjadi desakan antar
lempeng secara horizontal, maka terjadi gempa bumi, namun apabila terjadi desakan antar lempeng secara vertikal
maka akan terjadi letusan gunung berapi. Aktivitas magmatik ini berpotensi menyebabkan gempa bumi. Ketika
lempeng bumi bergerak dapat terjadi 3 kemungkinan, yaitu:

1. Lempeng-lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan ruang untuk dasar laut yang baru
2. Lempeng saling bertumbukan yang menyebabkan salah satu lempeng terdesak kebawah dari lempeng yang lain
3. Tepian lempeng meluncur tanpa pergesekan yang terjadi
Pergerakan lempeng yang beradu ini juga dapat menimbulkan tsunami. Tsunami adalah gelombang laut yang sangat
besar. Indonesia yang merupakan negara yang memiliki titik gempa terbanyak di dunia (mencapai 129 titik)
merupakan neraga rawan gempa tebesar di dunia yang dapat menimbulakn gelombang tsunami.

Di Indonesia ada sekitar 60 gunung berapi yang masih aktif. Gunung api ini paling banyak tersebar di Sumatera,
Jawa, Bali, Lombok, NTB, NTT, bagian utara Sulawesi dan Maluku. Gunung Krakatau, Gunung Tambora dan
Gunung Merapi adalah gunung yang terkenal karena letusannya yang dahsyat dan keaktifannya. Sejak abad ke-10
(sekitar tahun 1000an) hingga sekarang, gunung Merapi sudah meletus sebanyak 80 kali. Sekitar 12 lokasi di
Indonesia termasuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik. Yaitu:

1. Gunung Tambora (Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat)


2. Toba-Sibayak-Sinabung-Tarutung (Gunung api dan sesar tektonik di Sumatera Utara)
3. Gunung Krakatau (Gunung api bawah laut di Selat Sunda)
4. Gunung Agung – Batur – Rinjani (Bali, Lombok)
5. Gunung Semeru – Penanggungan – Bromo – Ijen – Kelud (Jawa Timur)
6. Gunung Merapi – Merbabu – Lawu – Sindoro – Sumbing – Dieng (Jawa Tengah)
7. Gunung Tangkuban Perahu – Salak – Papandayan – Galunggung (Jawa Barat)
8. Gunung Kerinci – Dempo – Sorik Merapi (Sumatera)
9. Gunung Rokatenda – Egon – Lewo – Tobi – Ende – Larantuka (Nusa Tenggara Timur)
10. Sangihe – Ambon – Ibu-Saputan (Kepulauan Ambon)
11. Liwang-Padang – Aceh – Palu (Sesar Darat)
12. Mentawai – Nias – Simeulue (Pulau di batas benua)
Gempa bumi yang besar selalu menimbulkan deretan gempa susulan yang biasa disebut dengan aftershock.
Kekuatan aftershock selalu lebih kecil dari gempa utama dan waktu berhentinya aftershock bisa mencapai mingguan
sampai bulanan tergantung letak, jenis dan besarnya magnitude gempa utama. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng,
akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik di mana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan
energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang
seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan tergantung pada
beberapa hal di antaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi
bangunan dan kualitas bangunan.

Keuntungan Zona yang Terlewat Ring of Fire


1. Indonesia salah satu zona ring of fire. Indonesia memiliki banyak sekali potensi sumber daya yaitu, geothermal
panas bumi. Indonesa salah satu sumber daya energi terbesar di dunia.
2. Terdapatnya mineral-mineral baru yang terdapat di permukaan.
3. Terdapatnya area seperti adanya H2SO4 belerang sulfur dan banyak lainnya.
4. Area panas bumi ini salah satu energi yang terbaharukan yang dapat dijadikan energi panas listrik yang maha
dasyat.

Definisi Bencana
UU No. 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai “peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis”.
Definisi bencana seperti dipaparkan diatas mengandung tiga aspek dasar, yaitu:

 Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard).


 Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan, dan fungsi dari masyarakat.
 Ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan masyarakat untuk mengatasi dengan
sumber daya mereka.
Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak
(hazard) dan kerentanan (vulnerability) masyarakat. Bila terjadi hazard, tetapi masyarakat tidak rentan, maka berarti
masyarakat dapat mengatasi sendiri peristiwa yang mengganggu, sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi
tidak terjadi peristiwa yang mengancam maka tidak akan terjadi bencana. Suatu bencana dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Bencana = Bahaya x Kerentanan

Dimana:

◙ Bencana ( Disasters ) adalah kerusakan yang serius akibat fenomena alam luar biasa dan/atau disebabkan oleh
ulah manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian material dan kerusakan lingkungan yang
dampaknya melampaui kemampuan masyarakat setempat untuk mengatasinya dan membutuhkan bantuan dari
luar. Disaster terdiri dari 2(dua) komponen yaitu Hazard dan Vulnerability;
◙ Bahaya ( Hazards ) adalah fenomena alam yang luar biasa yang berpotensi merusak atau mengancam
kehidupan manusia, kehilangan harta-benda, kehilangan mata pencaharian, kerusakan lingkungan. Misal : tanah
longsor, banjir, gempa-bumi, letusan gunung api, kebakaran dll;
◙ Kerentanan ( Vulnerability ) adalah keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi kemampuan masyarakat
untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau ancaman bencana;
◙ Risiko ( Kerentanan ) adalah kemungkinan dampak yang merugikan yang diakibatkan oleh hazard dan/atau
vulnerability.
Model Manajemen Bencana
Bencana adalah hasil dari munculnya kejadian luar biasa (hazard) pada komunitas yang rentan (vulnerable)
sehingga masyarakat tidak dapat mengatasi berbagai implikasi dari kejadian luar biasa tersebut. Manajemen bencana
pada dasarnya berupaya untuk menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan
munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan. Terdapat lima model manajemen bencana yaitu:
 Disaster management continuum model. Model ini mungkin merupakan model yang paling popular karena
terdiri dari tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah diimplementasikan. Tahap-tahap manajemen
bencana di dalam model ini
meliputi emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning.
 Pre-during-post disaster model. Model manajemen bencana ini membagi tahap kegiatan di sekitar bencana.
Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana terjadi, dan setelah
bencana. Model ini seringkali digabungkan dengan disaster management continuum model.
 Contract-expand model. Model ini berasumsi bahwa seluruh tahap-tahap yang ada pada manajemen bencana
(emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning) semestinya
tetap dilaksanakan pada daerah yang rawan bencana. Perbedaan pada kondisi bencana dan tidak bencana
adalah pada saat bencana tahap tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief) sementara tahap yang
lain seperti rehabilitation, reconstruction, dan mitigation kurang ditekankan.
 The crunch and release model. Manajemen bencana ini menekankan upaya mengurangi kerentanan untuk
mengatasi bencana. Bila masyarakat tidak rentan maka bencana akan juga kecil kemungkinannya terjadi
meski hazard tetap terjadi.
 Disaster risk reduction framework. Model ini menekankan upaya manajemen bencana pada identifikasi
risiko bencana baik dalam bentuk kerentanan maupun hazard dan mengembangkan kapasitas untuk
mengurangi risiko tersebut.

Terkait dengan manajemen penanggulangan bencana, maka UU No. 24 tahun 2007 menyatakan “Penyelenggaraan
penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi”. Rumusan penanggulangan
bencana dari UU tersebut mengandung dua pengertian dasar yaitu:

 Penanggulangan bencana sebagai sebuah rangkaian atau siklus.


 Penanggulangan bencana dimulai dari penetapan kebijakan pembangunan yang didasari risiko bencana dan
diikuti tahap kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.

Penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 24 tahun 2007 secara skematis dapat digambarkan
sebagai berikut:

◙ Tanggap Darurat Bencana : Serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu
peristiwa bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan
darurat, upaya pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana

Tujuan :

§ Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia;

§ Mengurangi penderitaan korban bencana;

§ Meminimalkan kerugian material

◙ Rehabilitasi : Serangkaian kegiatan yang dapat membantu korban bencana untuk kembali pada kehidupan
normal yang kemudian diintegrasikan kembali pada fungsi-fungsi yang ada di dalam masyarakat. Termasuk
didalamnya adalah penanganan korban bencana yang mengalami trauma psikologis. Misalnya : renovasi atau
perbaikan sarana-sarana umum, perumahan dan tempat penampungan sampai dengan penyediaan lapangan kegiatan
untuk memulai hidup baru
◙ Rekonstruksi : Serangkaian kegiatan untuk mengembalikan situasi seperti sebelum terjadinya bencana,
termasuk pembangunan infrastruktur, menghidupkan akses sumber-sumber ekonomi, perbaikan lingkungan,
pemberdayaan masyarakat; Berorientasi pada pembangunan – tujuan : mengurangi dampak bencana, dan di lain sisi
memberikan manfaat secara ekonomis pada masyarakat
◙ Prevensi : Serangkaian kegiatan yang direkayasa untuk menyediakan sarana yang dapat
memberikan perlindungan permanen terhadap dampak peristiwa alam, yaitu rekayasa teknologi dalam pembangunan
fisik;

– Upaya memberlakukan ketentuan-ketentuan -Regulasi- yang memberikan jaminan perlindungan terhadap


lingkungan hidup, pembebasan lokasi rawan bencana dari pemukiman penduduk; Pembangunan saluran
pembuangan lahar;

– Pembangunan kanal pengendali banjir;

– Relokasi penduduk

◙ Kesiapsiagaan Bencana : Upaya-upaya yang memungkinkan masyarakat (individu, kelompok, organisasi)


dapat mengatasi bahaya peristiwa alam, melalui pembentukan struktur dan mekanisme tanggap darurat yang
sistematis. Tujuan : untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum. Kesiapsiagaan
Bencana meliputi : upaya mengurangi tingkat resiko, formulasi Rencana Darurat Bencana (Disasters Plan),
pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, pelatihan warga di lokasi rawan bencana
◙ Mitigasi : Serangkaian tindakan yang dilakukan sejak dari awal untuk menghadapi suatu peristiwa alam –
dengan mengurangi atau meminimalkan dampak peristiwa alam tersebut terhadap kelangsungan hidup manusia dan
lingkungan hidupnya (struktural);

Upaya penyadaran masyarakat terhadap potensi dan kerawanan (hazard) lingkungan dimana mereka berada,
sehingga mereka dapat mengelola upaya kesiapsiagaan terhadap bencana;

 Pembangunan dam penahan banjir atau ombak;


 Penanaman pohon bakau;
 Penghijauan hutan;
◙ Sistem Peringatan Dini : Informasi-informasi yang diberikan kepada masyarakat tentang kapan suatu bahaya
peristiwa alam dapat diidentifikasi dan penilaian tentang kemungkinan dampaknya pada suatu wilayah tertentu.
Kebijakan Manajemen Bencana

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan manajemen bencana mengalami beberapa perubahan kecenderungan
seperti dapat dilihat dalam tabel. Beberapa kecenderungan yang perlu diperhatikan adalah:

 Konteks politik yang semakin mendorong kebijakan manajemen bencana menjadi tanggung jawab legal.
 Penekanan yang semakin besar pada peningkatan ketahanan masyarakat atau pengurangan kerentanan.
 Solusi manajemen bencana ditekankan pada pengorganisasian masyarakat dan proses pembangunan.

Dalam penetapan sebuah kebijakan manajemen bencana, proses yang pada umumnya terjadi terdiri dari beberapa
tahap, yaitu penetapan agenda, pengambilan keputusan, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi
kebijakan. Di dalam kasus Indonesia, Pemerintah Pusat saat ini berada pada tahap formulasi kebijakan (proses
penyusunan beberapa Peraturan Pemerintah sedang berlangsung) dan implementasi kebijakan (BNPB telah dibentuk
dan sedang mendorong proses pembentukan BPBD di daerah). Sementara Pemerintah Daerah sedang berada pada
tahap penetapan agenda dan pengambilan keputusan. Beberapa daerah yang mengalami bencana besar sudah
melangkah lebih jauh pada tahap formulasi kebijakan dan implementasi kebijakan.

Kebijakan manajemen bencana yang ideal selain harus dikembangkan melalui proses yang benar, juga perlu secara
jelas menetapkan hal-hal sebagai berikut:

 Pembagian tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dan Daerah.


 Alokasi sumberdaya yang tepat antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta antara berbagai fungsi yang
terkait.
 Perubahan peraturan dan kelembagaan yang jelas dan tegas.
 Mekanisme kerja dan pengaturan antara berbagai portofolio lembaga yang terkait dengan bencana.

Sistem kelembagaan penanggulangan bencana yang dikembangkan di Indonesia dan menjadi salah satu fokus studi
bersifat kontekstual. Di daerah terdapat beberapa lembaga dan mekanisme yang sebelumnya sudah ada dan berjalan.
Kebijakan kelembagaan yang didesain dari Pemerintah Pusat akan berinteraksi dengan lembaga dan mekanisme
yang ada serta secara khusus dengan orang-orang yang selama ini terlibat di dalam kegiatan penanggulangan
bencana.

Melalui UU No. 24 tahun 2007, Pemerintah Indonesia telah memulai proses penyusunan kebijakan menajemen
bencana. Beberapa PP yang terkait telah dikeluarkan (PP No. 21, 22, 23 tahun 2008), sementara beberapa PP lain
sedang dipersiapkan.

PENILAIAN DAN PEMERIKSAAN KORBAN


Ada 6 hal yang harus dinilai dan diperiksa pada setiap kejadian yang membutuhkan teknik penanganan gawat
darurat, yaitu :
1. PENILAIAN KEADAAN ( SIZE UP )
– Bagaimana Kondisi saat itu

– Kemungkinan apa saja yang akan terjadi

– Bagaimana mengatasinya

2. PENILAIAN DINI (INITIAL ASSESMENT)


Untuk menentukan dapat ditolong atau tidak ( aman / tidak ), ada 6 halyang harus diperhatikan :
2.1 Kesan Umum ; gambaran umum dari kecelakaan / musibah yang terjadi (Kasus Trauma dan kasus
medis.Penolong ,Penderita, orang sekitar lokasi).
2.2 Memeriksa Respon / Tingkat kesadaran dari korban :
A – Awas (Alert) :Kesadaran penuh (dapat berkomunikasi )
S – Suara (Verbal) : Kesadaran penuh, tetapi dengan perintah
N – Nyeri (Painfull) : Kesadarannya dengan rangsangan nyeri (biasanya ada fracture).
T – Tidak respon (Unresponsive) : Tidak sadar sama sekali.
2.3 Penguasaan Jalan Napas ( AIRWAY CONTROL )
Gangguan jalan napas dapat disebabkan karena :
ü Masuknya benda asing (makanan, mainan, darah, dll).

ü Struktur anatomisnya (tersumbat lidah, penyempitan saluran pernapasan, kerusakan jaringan, dll).

Cara memastikan jalan napas terbuka dengan baik :


ü Lakukan dengan cara Angkat Dagu Tekan Dahi ( Head Tilt Chin Lift). Tidak dilakukan pada korban yang
mengalami trauma kepala, leher maupun tulang belakang
ü Pada korban trauma tulang belakang, lakukan Manuver Tekan Rahang Bawah (Jaw Thrust Maneuver) untuk
membuka jalan nafas. Manuver ini juga digunakan untuk mengatasi sumbatan jalan nafas oleh lidah.
“ Langkah membebaskan jalan napas dari sumbatan & menguasainya menjadi prioritas tindakan pada semua
kasus “