Anda di halaman 1dari 21

JOURNAL READING

INFEKSI HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV)


PADA ANAK DAN REMAJA

Oleh:
Gusti Ahmad Faiz Nugraha I4061172064

Pembimbing

dr. Teguh Alyansyah, Sp. KK, M.KED

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAN
RSUD DOKTER ABDUL AZIS
SINGKAWANG
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui Journal Reading dengan judul :

INFEKSI HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV)


PADA ANAK DAN REMAJA

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Telah disetujui,
Pembimbing, Singkawang, November 2018

dr. Teguh Alyansyah, Sp. KK, M.KED Gusti Ahmad Faiz Nugraha

2
INFEKSI HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV)
PADA ANAK DAN REMAJA

Abstrak
Human Papilloma Virus (HPV) adalah suatu patogen umum yang
berhubungan dengan infeksi pada kutaneus dan mukosa yang luas saat masa kanak-
kanak. Tipe HPV yang berbeda dapat menyebabkan timbulnya kutil biasa, kutil
pada alat kelamin, serta lesi skuamosa intraepitelial, baik derajat rendah maupun
derajat tinggi. Kutil anogenital menunjukkan suatu masalah yang legal dengan
implikasi klinis dan evaluasi pada anak untuk kemungkinan adanya pelecehan
seksual harus dipertimbangkan dalam semua kasus. Respiratory papillomatosis
berulang juga dihubungkan dengan infeksi HPV dalam beberapa studi. Vaksin HPV
yang baru-baru ini diperkenalkan diharapkan dapat mencegah kanker serviks yang
berhubungan dengan HPV pada orang dewasa; akan tetapi, infeksi HPV akan tetap
mengenai anak-anak.

Kata Kunci
Infeksi HPV, anak-anak, kutil, papillomatosis berulang, neoplasia servikal, vaksin
HPV

Abreviasi
HPV (Human Papilloma Virus), SIL (Squamous Intraepithelial Lesion), RRP
(Recurrent Respiratory Papillomatosis)

3
Pengenalan
Human Papilloma Virus (HPV) adalah suatu virus kecil dengan DNA
double stranded yang beranggotakan lebih dari 130 jenis tipe.32,50,70 HPV dapat
dibagi menjadi tipe mukosa dan tipe kutaneus.62 Tipe mukosa menginfeksi
membran mukosa dan dapat menyebabkan servikal neoplasia pada orang dewasa
dan juga kutil anogenital baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Tipe HPV
beresiko tinggi telah diimplikasikan pada perkembangan SIL dan
perkembangannya menuju kanker serviks.11,37,41,70 Mukosa HPV tipe 16 dan 18
merupakan tipe HPV resiko tinggi yang sering dideteksi pada sistem anogenital
wanita dan telah dideteksi pada lebih dari 70% kasus kanker serviks.11 Mukosa
HPV resiko rendah dan resiko tinggi juga telah terlibat dalam perkembangan SIL,
meskipun begitu tipe HPV resiko rendah 6 dan 11 menyebabkan sekitar 90% kasus
kutil alat kelamin.11,70 Tipe kutaneus menginfeksi epitelium skuamosa dari kulit dan
menghasilkan kutil biasa, kutil plantar, dan kutil datar, yang mana umumnya terjadi
pada tangan, wajah, dan kaki. Tipe kutaneus spesifik juga dideteksi pada
epidermodisplasia verruciformis, suatu kelainan familial langka yang berhubungan
dengan berkembangnya kutil kutaneus besar yang dapat berkembang menjadi
kanker kulit28, dan sindrom WHIM, suatu sindrom gabungan imunodefisiensi
langka yang bercirikan dengan adanya kutil, hipogammaglobulinemia, infeksi
baketeri berulang, myelokathexis.22
Walaupun infeksi HPV dipertimbangkan sebagai suatu infeksi yang
ditularkan melalui hubungan intim, HPV juga bisa ditularkan melalui rute non-
seksual termasuk kontak fisik dan transmisi perinatal vertikal.54,64 Virus HPV
menginfeksi sel epitel melalui abrasi pada kulit atau mukosa, yang mana virus dapat
bertahan sebagai suatu infeksi laten jangka panjang yang dapat aktif kembali atau
bertahan.54 Pada kebanyakan individual, infeksi HPV bersifat sementara dan
asimtomatik, dan pada kebanyakan kasus infeksi HPV sembuh sendiri dalam kurun
waktu 2 tahun.58 Seperti yang diperlihatkan pada gambar 1, beberapa faktor
memainkan peran dalam perjalan infeksi HPV, termasuk kerentanan individu,
status imun dan nutrisi, hormon endogen dan eksogen, asap rokok, koinfeksi
dengan agen lain yang ditularkan melalui hubungan intim seperti HIV, virus herpes

4
simplex tipe 2, dan Chlamydia trachomatis dan juga karakteristik virus seperti tipe
HPV, infeksi yang berjalan beriringan dengan tipe lain, viral load, varian HPV, dan
integrasi virus.7,58

Gambar 1 Perjalanan infeksi HPV

Kutil Kulit
Kutil kulit dianggap sebagai manifestasi utama HPV tipe kutaneus dengan
HPV 1, 2, 3, 4, 27, dan 57 yang paling sering dideteksi10,43 (tabel 1). Walaupun
HPV tipe kutaneus ditemukan di kutil kulit, keberadaan HPV tipe mukosa juga
dilaporkan; akan tetapi, asal dan peran dari tipe ini yang ada di kulit masih tidak
jelas.10,31,43 Terdapat beberapa kutil kulit yang berbeda termasuk kutil biasa
(Verruca vulgaris), kutil plantar (Verruca plantaris), dan kutil datar (Verruca
plana). Kutil kulit diestimasikan terjadi hingga 10% pada anak-anak dan dewasa
muda, dengan tingkat insidensi tertinggi pada usia antara 12 hingga 16 tahun.43
Kutil lebih sering terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki. Kutil biasa mewakili
70% jumlah kutil kulit dan lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan kutil
plantar dan gepeng terjadi pada populasi yang sedikit lebih tua.42

5
Infeksi HPV pada kulit normal didapatkan masa awal bayi.3 Dalam
kebanyakan kasus, pada individual yang sehat, HPV tipe kutaneus berkembang
menjadi infeksi subklinis persisten tanpa menimbulkan kutil atau lesi lain pada
kulit.21 Perkembangan alamiah kutil kulit pada masa kanak-kanak menunjukkan
bahwa kutil akan hilang dengan sendirinya setelah 2 tahun tanpa diobati pada 40%
anak. Bergantung pada lokasinya, kutil dapat menimbulkan rasa sakit seperti pada
telapak kaki atau dekat dengan kuku, yang mana pada beberapa kasus dipandang
sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima secara sosial ketika timbul di area yang
terlihat, seperti tangan dan wajah.59

Manajemen dan tatalaksana. Hingga saat ini, terdapat banyak pendekatan berbeda
untuk terapi kutil akan tetapi tidak ada satu terapi pun yang terbukti efektif
mencapai remisi lengkap pada semua pasien.5,53 Hal ini mencakup asam salisilat,
cryoterapi, terapi laser, imiquimod, bleomycin, retinoid dan imunoterapi. Pilihan
tatalaksana harus ditentukan dengan distribusi, ukuran, jumlah lesi, umur,
pengobatan sebelumnya, kemampuan anak dan orang tua dalam mentoleransi dan
mengikuti dengan rekomendasi tatalaksana, kondisi komorbid, dan potensi
terjadinya efek samping.57

Tabel 1 perbedaan lesi benigna dan premaligna dan hubungan jenis HPV yang
biasa dijumpai pada masa kanak-kanak

6
Kutil Anogenital
Kutil anogenital pada anak-anak langka terjadi dibandingkan dengan
orang dewasa; akan tetapi, pada anak-anak pre-pubertas, laporan mengenai kasus
ini meningkat secara drastis sejak tahun 1990. Pada perempuan, kutil anogenital
dapat ditemukan pada vulvar, vagina, uretra, dan area peri-anal. Pada laki-laki,
biasanya kutil anogenital ditemukan di area peri-anal, sedangkan kutil pada daerah
penis langka atau jarang ditemukan. Perempuan memiliki resiko 3 kali lipat lebih
besar memiliki kutil anogenital ketimbang laki-laki.1 Gejala klinis dari kutil
anogenital bervariasi mulai dari kutil datar berwarna seperti kulit dan halus hingga
lesi berwarna pink hingga coklat dan lembab yang biasanya ditemukan pada daerah
lipatan kulit dan sekitar lubang vagina dan lubang anus.12 HPV 6 dan 11 merupakan
tipe HPV yang sering ditemukan pada kutil anogenital anak-anak.4,39,40 HPV tipe
kutaneus seperti HPV tipe 2 dan 3 juga ditemukan, tetapi tingkat insidensinya
rendah.39,40 Diantara anak-anak yang tidak mendapatkan perilaku pelecehan seksual
tapi memiliki kutil anogenital, tipe kutaneus umum ditemukan pada anak yang lebih
tua dengan umur diatas 4 tahun, anak dengan keluarga yang memiliki kutil kulit,
dan pada anak yang memiliki kutil kulit di daerah anatomis yang lain.40 Sebaliknya,
tipe mukosa lebih sering ditemukan pada anak perempuan, yaitu pada anak dibawah
3 tahun, anak dengan keluarga yang memiliki kutil alat kelamin, dan yang tidak
memiliki kutil dimanapun.40
Bentuk transmisi HPV genital pada anak-anak masih kontroversial. HPV
dapat masuk ke area anogenital anak dengan transmisi vertical atau melalui kontak
dekat, yang mana bisa dalam bentuk seksual maupun non-seksual.23,49 Beberapa
ilmuwan mengusulkan bahwa kontak seksual merupakan bentuk umum transmisi
HPV genital pada masa kanak-kanak.23,49 Pada studi yang dilakukan Steven
Simons, et al,60 infeksi HPV genital lebih sering terjadi pada anak perempuan yang
mengalami pelecehan seksual dibandingkan dengan anak perempuan yang tidak
mengalami pelecehan seksual dan kebanyakan dari kejadian ini bertahan sebagai
subklinis. Akan tetapi, studi baru-baru ini mengatakan bahwa walaupun kontak
seksual merupakan salah satu cara transmisi HPV, jalur lain bisa saja merupakan
jalur transmisi HPV seperti transmisi perinatal, autoinokulasi dan heteroinokulasi,

7
dan mungkin melalui transmisi tidak langsung melalui pakaian, alat-alat makan,
dll.55,64 Rerata kejadian kutil anogenital pada anak yang tidak mengalami pelecehan
seksual dapat dibandingkan dengan rerata kejadian pada anak yang mengalami
pelecehan seksual.38 Menariknya, HPV resiko tinggi ditemukan pada 4%-15%
sampel genital yang didapat dari bayi asimtomatik, dengan suatu penurunan rerata
pembawa DNA HPV selama satu tahun pertama kehidupan.48 Menurut studi Powell
et al, HPV biasa ditemukan pada perempuan pre-pubertas dengan tidak
diketahuinya riwayat pernah mengalami penyakit vulval atau tidak.44

Manajemen dan tatalaksana. Adanya kutil anogenital pada anak merupakan


implikasi sosial dan legal yang serius karena meningkatkan kemungkinan adanya
pelecehan seksual. 14,23,49 Kemungkinan terjadinya pelecehan seksual dan bentuk
untuk mendapatkannya meningkat bersamaan dengan umur pada masa anak-
anak.54,55 Usia kapan pelecehan seksual paling kecil kemungkinan dilakukan pada
kasus anak dengan kutil anogenital masih tidak jelas.55 Setiap kasus harus
dievaluasi sedetail mungkin untuk menentukan apakah banyak pendapat yang
setuju untuk melakukan investigasi tambahan. Kutil anogenital pada anak dianggap
mengalami pelecehan apabila infeksi tidak didapat melalui perianal; akan tetapi,
jangka waktu transmisi perianal tidak digambarkan.54
Batas atas umur untuk transmisi perianal adalah umur 12-24 bulan, yang
mana kutil anogenital yang ditemukan pada anak dengan usia diatas 24 bulan, lebih
sering dianggap didapat melalui pelecehan seksual. Semua anak dengan kutil
anogenital harus dikonsultasi oleh seorang konsultan yang ahli di dalam pelecehan
seksual anak dan anak dengan usia diatas 4 tahun, harus dirujuk secara rutin ke
pelayanan proteksi anak.54 Dalam kasus ini, pendekatan multidisiplin disarankan
sebagai tatalaksana yang tepat pada anak dengan kutil anogenital.49 Dikarenakan
reaksi waktu yang lama dari HPV dan kemungkinan adanya transmisi vertikal atau
non seksual, disarankan cara terbaik untuk mengidentifikasi kemungkinan
terjadinya pelecehan seksual adalah dengan mencatat riwayat, melakukan
assessmen pada konteks socio-klinis secara hati-hati, dan pemeriksaan fisik.34
Bentuk transmisi kutil anogenital pada anak tidak bisa diidentifikasi baik dengan

8
manifestasi klinis dari lesi atau tipe HPV. Kebanyakan kasus kutil anogenital pada
anak-anak merupakan hasil dari transmisi non seksual, yang dikenal dengan bentuk
prenatal. Oleh karena itu, pasien ini sebaiknya ditangani secara berbeda oleh sistem
yang legal kecuali terdapat alasan lain yang mencurigakan.25
Resolusi spontan kutil anogenital pada anak-anak terjadi pada lebih dari
setengah kasus dan tindakan non intervensi dianggap sebagai suatu pendekatan
tatalaksana awal yang dapat diterima.1 Walaupun tidak ada studi longitudinal yang
mengklarifikasi apakah anak-anak dengan kutil anogenital beresiko mengalami
karsinoma pada usia dewasa muda atau tidak, follow up jangka panjang menjadi
suatu rekomendasi untuk anak-anak dengan kutil anogenital. 24

Recurrent Respiratory Papillomatosis


Recurrent Respiratory Papillomatosis (RRP) pada masa anak-anak terjadi
dengan tingkat insidensi 0,3-3,9/100000 dan dianggap sebagai tumor jinak yang
umum mengenai larynx pada anak.15,68 Penyakit ini dicirikan dengan pertumbuhan
tumor jinak papiloma yang berulang sepanjang epitelium saluran nafas bagian atas
termasuk larynx, pita suara, arytenoid, subglotis, dan trakea. Area yang sering
terkena adalah batas mukokutaneus dari pita suara sesungguhnya yang mana
epitelium skuamosa dari pita suara epitelium saluran pernafasan dari larynx. Daerah
exolaryngeal bisa terkena termasuk paru-paru, orofaring, mulut dan rongga hidung.
RRP merupakan suatu tumor jinak yang dapat mengancam nyawa karena
tumor ini memiliki kecenderungan untuk tumbuh dalam ukuran dan jumlah
sehingga menyebabkan obstruksi saluran pernafasan lengkap.65 Anak-anak dengan
RRP dapat menimbulkan gejala suara serak, derajat dyspnea kronik yang bervariasi,
batuk, stridor, disfonia, atau suara lemah, dengan suara serak sebagai gejala yang
paling umum dijumpai.20,69 Durasi dari gejala hingga diagnosis pasti bervariasi
antara 2 bulan sampai lebih dari 2 tahun. RRP pada fase awal dapat muncul hanya
berupa gejala gangguan pada suara dengan atau tanpa stridor, termasuk suara serak,
suara lemah, dan afonia. Umur dari gejala onset berjarak dari lahir hingga usia 6
tahun. RRP harus dipertimbangkan pada anak apabila gejala saluran nafas pediatrik
pada anak yang biasa dijumpai tidak sesuai dengan riwayat alamiah penyakit atau

9
anak tidak respon terhadap terapi yang diberikan. Diagnosis RRP ditegakkan
dengan menggunakan laringoskopi langsung dan biopsi untuk diagnosis jaringan.
Etiologi dari RRP adalah infeksi pada saluran pernafasan atas dengan
infeksi HPV tipe 6 dan 11.19,20,47,51 Infeksi HPV umumnya berasal dari transmisi
perinatal, yang mengimplikasikan bahwa pertimbangan terjadinya pelecehan
seksual tidak dibutuhkan pada kasus RRP.55,68 Infeksi perinatal bisa saja terjadi
secara transplasenta, melalui cairan amnion selama masa gestasi dan kelahiran dan
melalui paparan langsung terhadap lesi di servikal dan alat kelamin saat lahir. Rata-
rata kejadian HPV terjadi lebih tinggi saat kelahiran anak pertama dan anak yang
lahir pervaginam dibandingkan kelahiran anak kedua dan seterusnya serta anak
yang lahir dengan operasi Caesar.18 Riwayat kutil anogenital ibu, lesi sitologi dan
histologi dari infeksi HPV pada saluran genital, dan umur ibu kurang dari 20 tahun
dihubungkan dengan lebih tingginya tingkat kejadian HPV pada anak.18 Akan
tetapi, seberapa sering infeksi perianal berkembang menjadi lesi klinis baik itu
genital, laringeal, ataupun oral masih belum jelas.
RRP dicirikan dengan suatu viral load HPV yang relatif rendah.29,51
Pengukuran viral load HPV 6 dan HPV 11 relatif stabil dari waktu ke waktu pada
kebanyakan anak dengan RRP.26 HPV 11 dianggap sebagai penyebab umum
terjadinya RRP.19,47 Anak dengan RRP yang terinfeksi HPV 11 rentan terkena
penyakit yang lebih agresif dari HPV 6 dan sering memerlukan intervensi
bedah.29,52 Infeksi HPV 11 juga berhubungan dengan semakin seringnya kebutuhan
untuk terapi adjuvant, penyakit trakea dan pulmonal, dan trakeostomi.19,47,68

Manajemen dan tatalaksana. Tatalaksana RRP bergantung derajat keterlibatan


saluran nafas dan termasuk pembuangan melalui operasi, yang mana memiliki
resiko tinggi untuk kembali muncul setelah menjalani terapi.68 Berbagai laser
termasuk CO2, KTP, dan gelombang warna, adalah metode yang lebih dipilih untuk
operasi RRP pada anak-anak. Terapi medis farmakologi adjuvant dengan agen
antiviral cidofovir atau interferon juga bisa digunakan. Anak-anak yang memiliki
RRP biasanya membutuhkan beberapa intervensi multipel dengan dampak yang
lumayan pada pasien, keluarganya, dan sistem pelayanan kesehatan di USA

10
menghitung dan mengestimasi 109 juta dolar dikeluarkan setiap tahunnya.65
Prosedur operasi untuk debulking sering mengakibatkan disfonia lemah untuk
jangka panjang, laryngeal scarring, dan degenerasi maligna yang langka.52 Faktor
yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk operasi RRP adalah: variabilitas
ahli bedah inter, derajat dan keparahan dari papilloma ketika di laringoskopi, dan
penggunaan terapi medis adjuvant.20

Infeksi Oral Asimtomatik


Sampai saat ini, beberapa studi telah menunjukkan bahwa terdapat DNA
HPV di dalam rongga mulut anak-anak. Hal ini dibuktikan dengan mempelajari
hasil dari oral swab atau mencuci mulut dari anak yang sehat dan
asimtomatik.8,26,27,46,48,56,61,63 HPV (termasuk HPV resiko tinggi seperti mukosa
HPV 16 dan 18) juga telah dideteksi pada sampel tonsil atau adenoid dari anak
dengan mukosa normal, hiperplasia tonsillar, tonsillitis kronik, atau adenoid
hiperplasia.9,30,63
Suatu distribusi umur bimodal telah diobservasi dengan prevalensi
tertinggi HPV pada anak-anak yang paling muda, dengan umur kurang dari 1 dan
untuk remaja, dengan umur 13 sampai 20 tahun.56,61 Melahirkan secara Caesar
dianggap tidak protektif terhadap infeksi HPV di daerah mulut.47 Secara statistik
tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara deteksi HPV di dalam
rongga mulut dan jenis kelamin, pendidikan, kondisi yang berhubungan dengan
HPV, riwayat merokok, jumlah pasangan seks, riwayat merokok saat remaja, atau
riwayat aktivitas seksual.61
Rerata deteksi tertinggi DNA HPV ditemukan pada hasil oral swab bayi
baru lahir, dengan hasil yang bervariasi yaitu 4% sampai 87%.48,64 Infeksi HPV
pada rongga mulut bayi didapatkan ketika lahir.48 Teori yang mengatakan bahwa
bayi baru lahir terpapar oleh infeksi HPV yang ada di daerah serviks ibunya telah
diusulkan, dan infeksi HPV di daerah mulut bertahan paling tidak hingga usia 6
bulan, dengan tingkat penurunan selama 3 tahun pertama kehidupan.8,33,48
Berkembangnya infeksi perinatal menjadi lesi klinis baik itu pada alat kelamin,
laring atau mulut masih belum jelas. Konkordansi yang ditemukan dari tipe HPV

11
pada bayi baru lahir dan ibunya berada dalam rentang 57% sampai 69% dan
diusulkan bahwa mungkin bayi juga mendapatkan infeksi HPV postnatal.33,64
Penemuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa infeksi HPV di
daerah oral didapatkan sejak lahir serta secara bertahap pada masa anak-anak.
Mukosa rongga mulut merupakan reservoir HPV resiko tinggi yang unik pada masa
anak-anak. Dampak dari adanya HPV tipe onkogenik ini di dalam rongga mulut
anak-anak dan efektivitas vaksin terhadap HPV masih belum terklarifikasi.

Neoplasia Servikal
Aktivitas seksual dikalangan remaja putri berhubungan dengan tingginya
resiko terkena penyakit menular seksual termasuk infeksi HPV. Populasi rerata dari
infeksi HPV di serviks pada populasi remaja yang sudah aktif seksual berkisar dari
13% hingga 38%.35,36 Suatu analisis baru dari 10,295 anak-anak dan remaja yang
menjalani Papanicolaou smear di USA, rerata prevalensi dari lesi intraepitelial
skuamosa (SIL) adalah 3,77% yang mana tidak ada kasus karsinoma yang
teridentifikasi.36 Menariknya, 18% dari remaja dengan hasil Papanicolaou smear
yang abnormal memiliki bukti SIL derajat tinggi. Walaupun kebanyakan SIL
dengan derajat rendah hilang sepenuhnya, SIL yang bertahan dan adanya SIL
derajat tinggi pada remaja yang aktif seksual merupakan suatu klinis signifikan
karena remaja dengan SIL sangat meningkatkan resiko relatif munculnya
karsinoma invasif dibandingkan dengan populasi SIL negatif. Walaupun skrining
Papanicolaou smear dilakukan tahunan telah diajukan untuk anak yang aktif
seksual, rekomendasi ini belum dimasukkan di Rekomendasi Akademi Pediatrik
Amerika untuk Pencegahan Pelayanan Kesehatan Anak.2

12
Tabel 2 Vaksin HPV dan jenis target HPV

Vaksinasi HPV Pada Masa Kanak-Kanak


Vaksin HPV multivalen dibuat secara bioteknologi, komponen vaksin
terdiri atas partikel seperti virus yang dihasilkan dari permukaan protein dari HPV
tipe 16 dan 18 untuk bivalen dan HPV 16, 18, 11, 6 untuk quadrivalen (lihat tabel
2). Saat ini, kedua vaksin HPV telah diakui oleh administrasi makanan dan obat-
obatan US dan juga Uni Eropa. Sampai sekarang, beberapa Negara di Eropa telah
memperkenalkan program vaksinasi untuk anak perempuan usia 11 dan 12 tahun.45
Uji coba klinis telah menunjukkan bahwa vaksin quadrivalen sangat immunogenik,
aman, sangat baik diterima pada wanita dengan usia 9 hingga 26 tahun, dan efek
dari vaksin tersebut tetap tinggi paling sedikit hingga 5 tahun setelah vaksinasi.6
Hasil yang sama juga ditunjukkan pada uji klinis untuk vaksin bivalen.
Untuk mengoptimalisasi efek dan efektivitas biaya dari vaksinasi, vaksin
perlu diberikan pada usia dimana proporsi terbanyak dari individu yang sudah
divaksin tapi belum terpapar HPV.67 Saat ini, alasan kenapa imunisasi rutin
dilakukan pada usia 11-12 tahun adalah karena vaksin harus diberikan sebelum
seorang wanita aktif secara seksual. Rekomendasi sementara dari Akademi
Pediatrik Amerika, perempuan berusia 11-12 tahun harus diimunisasi secara rutin
dengan 3 dosis dari vaksin HPV quadrivalen yang diberikan secara intramuskular
pada bulan 0, 2 dan 6.13 Kedua vaksin HPV diharapkan dapat memberikan
perlindungan terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18, yang bertanggung jawab atas
lebih dari 70% kasus kanker serviks, tapi tidak untuk kutil kulit. Sebagai tambahan,
vaksin quadrivalen, yang mencakup HPV tipe 11 dan 6, diharapkan dapat

13
memberikan perlindungan terhadap kutil anogenital dan juga RRP.17 Karena vaksin
HPV tidak diharapkan dapat mencegah infeksi terhadap semua HPV jenis resiko
tinggi, rekomendasi skrining kanker serviks termasuk didalamnya tes Papanicolaou
harus terus diikuti untuk pasien yang telah menerima vaksin HPV. Saat ini,
walaupun studi keselamatan dan immunogenisitas telah selesai dengan hasil
memuaskan untuk pria, namun vaksin HPV tidak direkomendasi untuk anak laki-
laki.13 Akses dan persetujuan remaja vaksin HPV tetap menjadi suatu aspek kritis
untuk keberhasilan imunisasi.16

Kesimpulan
Pada masa kanak-kanak, infeksi HPV merupakan penyebab utama dari
kutil biasa, kutil pada alat kelamin, RRP serta SIL dengan kualitas rendah maupun
tinggi. Dengan memahami sejarah alami dari infeksi HPV maka pelayanan dan
penatalaksanaan pada anak yang terinfeksi HPV akan meningkat. Terlebih lagi hal
ini dapat membuat studi mengenai vaksin HPV untuk focus terhadap kelompok
umur dan populasi yang benar untuk vaksinasi melawan kanker serviks. Pada kasus
anak dengan kutil anogenital, pemahaman yang baik mengenai infeksi HPV yang
alami dapat mengurangi jumlah tuntutan hukum yang berhubungan dengan tuduhan
palsu pelecehan seksual. Peran dari adanya HPV di dalam kavitas oral baik pada
anak laki-laki maupun perempuan dan dampaknya terhadap transmisi HPV masih
belum bisa dijelaskan. Vaksinasi HPV terhadap HPV 6 dan 11 akan memberikan
proteksi terhadap munculnya kutil anogenital yang berhubungan dengan HPV 11/6
dan RRP pada anak-anak. Vaksin HPV baik itu bivalen maupun quadrivalen
diharapkan dapat melindungi tubuh dari infeksi HPV 16 dan 18, yang mana kedua
virus HPV ini bertanggung jawab terhadap lebih dari 70% kasus kanker serviks.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Allen AL, Siegfried EC (1998) The natural history of condyloma


in children. J Am Acad Dermatol 39:951–955.
2. American Academy of Pediatrics (1995) Recommendations for
preventive pediatric health care. Pediatrics 96:712
3. Antonsson A, Karanfilovska S, Lindqvist PG, Hansson BG (2003)
General acquisition of human papillomavirus infections of skin
occurs in early infancy. J Clin Microbiol 41:2509–2514.
4. Armstrong DK, Handley JM (1997) Anogenital warts in prepubertal
children: pathogenesis, HPV typing and management. Int J
STD AIDS 8:78–81.
5. Bacelieri R, Johnson SM (2005) Cutaneous warts: an evidencebased
approach to therapy. Am Fam Physician 72:647–652
6. Barr E, Tamms G (2007) Quadrivalent human papillomavirus
vaccine. Clin Infect Dis 45:609–607.
7. Bosch FX, Munoz N (2002) The viral etiology of cervical cancer.
Virus Res 89:183–190.
8. Cason J, Mant C (2005) High-risk mucosal human papillomavirus
infections during infancy & childhood. J Clin Virol 32:S52–S58.
9. Chen R, Sehr P, Waterboer T et al (2005) Presence of DNA of
human papillomavirus 16 but no other types in tumor-free tonsillar tissue. J
Clin Microbiol 43:1408–1410.
10. Chen SL, Tsao YP, Lee JW et al (1993) Characterization and analysis of
human papillomaviruses of skin warts. Arch Dermatol Res 285:460–465.
11. Clifford GM, Smith JS, Plummer M et al (2003) Human
papillomavirus types in invasive cervical cancer worldwide: a
meta-analysis. Br J Cancer 88:63–73.
12. Cohen BA (1997) Warts and children: can they be separated.
Contemp Pediatr 14:128–149

15
13. Committee on Infectious Diseases (2007) Prevention of human
papillomavirus infection: provisional recommendations for immunization
of girls and women with quatrivalent human papillomavirus
vaccine. Paediatrics 120:666–668.
14. de Jesus LE, Cirne Neto OL, Monteiro do Nascimento LM et al
(2001) Anogenital warts in children: sexual abuse or unintentional
contamination. Cad Saude Publica 7:1383–1391
15. Derkay CS, Wiatrak B (2008) Recurrent respiratory papillomatosis: a
review. Laryngoscope 118:1236–1247
16. Farrell RM, Rome ES (2007) Adolescents’ access and consent to
the human papillomavirus vaccine: a critical aspect for immunization
success. Pediatrics 120:434–437.
17. Freed GL, Derkay CS (2006) Prevention of recurrent respiratory
papillomatosis: role of HPV vaccination. Int J Pediatr
Otorhinolaryngol 70:1799–1803.
18. Gerein V, Schmandt S, Babkina N et al (2007) Human papilloma
virus (HPV)-associated gynecological alteration in mothers of
children with recurrent respiratory papillomatosis during longterm
observation. Cancer Detect Prev 31:276–281.
19. Hartley C, Hamilton J, Birzgalis AR, Farrington WT (1994)
Recurrent respiratory papillomatosis—the Manchester experience,
1974–1992. J Laryngol Otol 108:226–229
20. Hawkes M, Campisi P, Zafar R et al (2008) Time course of
juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis caused by
human papillomavirus. Pediatr Infect Dis J 27:149–154
21. Hazard K, Karlsson A, Andersson K et al (2007) Cutaneous
Human papillomaviruses persist on healthy skin. J Invest
Dermatol 127:116–119.
22. Hernandez PA, Gorlin RJ, Lukens JN et al (2003) Mutations in the
chemokine receptor gene CXCR4 are associated with WHIM

16
syndrome, a combined immunodeficiency disease. Nat Genet
34:70–74.
23. Hornor G (2004) Ano-genital warts in children: sexual abuse or
not. J Pediatr Health Care 18:165–170
24. Jayasinghe Y, Garland SM (2006) Genital warts in children:
what do they mean. Arch Dis Child 91:696–700.
25. Jones V, Smith SJ, Omar HA (2007) Nonsexual transmission of
anogenital warts in children: a retrospective analysis.
ScientificWorldJournal 7:1896–1899
26. Koch A, Hansen SV, Nielsen NM et al (1997) HPV detection in
children prior to sexual debut. Int J Cancer 73:621–624.
27. Kojima A, Maeda H, Kurahashi N et al (2003) Human
papillomaviruses in the normal oral cavity of children in Japan.
Oral Oncol 39:821–828.
28. Majewski S, Jablonska S (1995) Epidermodysplasia verruciformis
as a model of human papillomavirus induced genetic cancer of
the skin. Arch Dermatol 131:1312–1318.
29. Maloney EM, Unger ER, Tucker RA et al (2006) Longitudinal
measures of human papillomavirus 6 and 11 viral loads and antibody
response in children with recurrent respiratory papillomatosis. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg 132:711–715.
30. Mammas I, Sourvinos G, Michael C, Spandidos DA (2006)
Human papilloma virus in hyperplastic tonsillar and adenoid
tissues in children. Pediatr Infect Dis J 25:1158–1162.
31. Mammas I, Sourvinos G, Michael C, Spandidos DA (2008a)
‘High-risk’ human papilloma viruses (HPVs) were not detected in
the benign skin lesions of a small number of children. Acta
Paediatr 97:1669–1671
32. Mammas I, Sourvinos G, Giannoudis A, Spandidos DA (2008b)
Human papilloma virus (HPV) and host cellular interactions.
Pathol Oncol Res; Epub ahead of print

17
33. Mant C, Kell B, Rice P et al (2003) Buccal exposure to human
papillomavirus type 16 is a common yet transitory event of
childhood. J Med Virol 71:593–598.
34. Marcoux D, Nadeau K, McCuaig C et al (2006) Pediatric
anogenital warts: a 7-year review of children referred to a
tertiary-care hospital in Montreal, Canada. Pediatr Dermatol
23:199–207.
35. Moscicki AB (1996) Genital HPV infections in children and
adolescents. Obstet Gynecol Clin North Am 23:675–697
36. Mount S, Papillo J (1999) A study of 10 296 pediatric and
adolescent Papanicolaou smear diagnoses in Northern New
England. Pediatrics 103:539–545.
37. Munoz N, Bosch FX, de Sanjose S et al (2003) Epidemiologic
classification of human papillomavirus types associated with
cervical cancer. N Engl J Med 348:518–527.
38. Myhre AK, Dalen A, Berntzen K, Bratlid D (2003) Anogenital
human papillomavirus in non-abused preschool children. Acta
Paediatr 92:1445–1452.
39. Obalek S, Misiewicz J, Jablonska S et al (1993) Chilhood
condyloma acuminatum: association with genital and cutaneous
human papillomaviruses. Pediatr Dermatol 10:101–106.
40. Padel AF, Venning VA, Evans MF et al (1990) Human
papillomaviruses in anogenital warts in children: typing by in
situ hydridisation. BMJ 300:1491–1494
41. Peto J, Gilham C, Deacon J et al (2004) Cervical HPV infection
and neoplasia in a large population-based prospective study: the
Manchester cohort. Br J Cancer 91:942–953
42. Plasencia JM (2000) Cutaneous warts: diagnosis and treatment.
Prim Care 27:423–434.

18
43. Poro AM, Alchorne MM, Mota GR et al (2003) Detection and typing of
human papillomavirus in cutaneous warts of patients infected with human
immunodeficiency virus type 1. Br J Dermatol 149:1192–1199.
44. Powell J, Strauss S, Gray J, Wojnarowska F (2003) Genital
carriage of human papilloma virus (HPV) DNA in prepubertal
girls with and without vulval disease. Pediatr Dermatol 20:191–194.
45. Raffle AE (2007) Challenges of implementing human papillomavirus
(HPV) vaccination policy. BMJ 335:375–377.
46. Rice PS, Mant C, Cason J et al (2000) High prevalence of human
papillomavirus type 16 infection in children. J Med Virol 61:70–75.
47. Rimell FL, Shoemaker DL, Pou AM et al (1997) Pediatric
respiratory papillomatosis: prognostic role of viral typing and
cofactors. Laryngoscope 107:915–918.
48. Rintana M, Grenman S, Jarvenkyla ME et al (2005) High-risk
types of human papillomavirus (HPV) DNA in oral and genital
mucosa of infants during their first 3 years of life: experience from the
Finnish HPV Family Study. Clin Infect Dis 41:1728–1733.
49. Robinson AJ, Watkeys JE (1999) Genital warts in children:
problems of management. J Clin Forensic Med 6:151–155.
50. Sanclemente G, Gill DK (2002) Human papillomavirus molecular
biology and pathogenesis. J Eur Acad Dermatol Venereol 16:231–
240.
51. Sharma G, DeHart J, Nuovo GJ (2005) Correlation of histology,
human papillomavirus, and viral load in laryngeal papillomas of
childhood. Diagn Mol Pathol 14:230–236.
52. Shehata B, Otto K, Sobol S et al (2008) E6 and E7 oncogene
expression by human papilloma virus (HPV) and the aggressive
behavior of recurrent laryngeal papillomatosis (RLP). Pediatr Dev
Pathol 11(2):118–121
53. Sidbury R (2004) What’s new in pediatric dermatology: update for
the pediatrician. Curr Opin Pediatr 16:410–414.

19
54. Sinal SH, Woods CR (2005) Human papillomavirus infections of
the genital and respiratory tracts in young children. Semin Pediatr
Infect Dis 16:306–316.
55. Sinclair KA, Woods CR, Kirse DJ, Sinal SH (2005) Anogenital
and respiratory tract human papillomavirus infections among
children: age, gender, and potential transmission through sexual
abuse. Pediatrics 116:815–825.
56. Smith EM, Swarnavel S, Ritchie JM et al (2007) Prevalence of
human papillomavirus in the oral cavity/oropharynx in a large
population of children and adolescents. Pediatr Infect Dis J 26:836–840.
57. Smolinski KN, Yan AC (2005) How and when to treat
molluscum contagiosum and warts in children. Pediatr Ann 34:211–221
58. Steben M, Duarte-Franco E (2007) Human papillomavirus
infection: epidemiology and pathophysiology. Gynecol Oncol 107:S2–S5.
59. Sterling JC, Handfield-Lones S, Hudson PM (2001) Guidelines
for the management of cutaneous warts. Br J Dermatol 144:4–11.
60. Stevens-Simon C, Nelligan D, Breese P et al (2000) The
prevalence of genital human papillomavirus infections in abused
and nonabused preadolescents girls. Pediatrics 106:645–649.
61. Summergill KF, Smith EM, Levy BT et al (2001) Human
papillomavirus in the oral cavities of children and adolescents.
Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 91:62–69.
62. Swygart C (1997) Human papillomavirus: disease and laboratory
diagnosis. Br J Biomed Sci 54:299–303
63. Syrjanen S (2004) HPV infections and tonsillar carcinoma. J Clin
Pathol 57:449–455.
64. Syrjanen S, Puranen M (2002) Human papillomavirus infections
in children: the potential role of maternal transmission. Crit Rev
Oral Biol Med 11:259–274
65. Tasca RA, Clarke RW (2006) Recurrent respiratory papillomatosis.
Arch Dis Child 91:689–691.

20
66. Tasca RA, McCormick M, Clarke RW (2006) British Association
of Paediatric Otorhinolaryngology members experience with recurrent
respiratory papillomatosis. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 70:1183–1187.
67. The FUTURE II Study Group (2007) Quadrivalent vaccine against human
papillomavirus to prevent high-grade cervical lesions. N Engl J Med
356:1915–1926.
68. Wiatrak B (2003) Overview of recurrent respiratory papillomatosis.
Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg 11:433–441.
69. Zacharisen MC, Conley SF (2006) Recurrent respiratory
papillomatosis in children: mansquerader of common respiratory
diseases. Pediatrics 118:1925–1931.
70. zur Hausen H (2002) Papillomaviruses and cancer: from basic
studies to clinical application. Nat Rev Cancer 2:342–350.

21