Anda di halaman 1dari 20

“Good Corporate Governance Di Dunia, Asia

dan Indonesia”

Mata Kuliah: Good Corporate Governance

Dosen Pengampu : Hamdani, SE, M.Si, Ak, CA


Disusun oleh : KELOMPOK 2 ( Pertemuan ke-4)

Muhamad Efendy : C1C115090


Muhammad Ridha Mukti : C1C11

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Program Studi S1 Akuntansi
Universitas Lambung Mangkurat
2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah Subhanawata’ala sehingga


kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Good Corporate Governance
Di Dunia, Asia dan Indonesia”. Makalah ini diajukan sebagai tugas kelompok
mata kuliah Corporate Governance.
Dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dan kesalahan yang terjadi, oleh karena untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
Dan pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah banyak memberikan motivasi, ikut berpartisipasi dan perhatian
sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktu nya.
Demikianlah makalah ini kami tulis semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca,akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Banjarmasin, 5 September 2018


Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................. i

Daftar Isi...........................................................................................................ii

Bab I Pendahuluan............................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................... 1

Bab II Pembahasan.......................................................................................... 2

2.1 Good Corporate Governance Di Dunia............................................ 2

2.2 Good Corporate Governance Di Asia.............................................. 5

2.3 Good Corporate Governance Di Indonesia......................................10

Bab III Penutup.................................................................................................17

3.1 Kesimpulan........................................................................................17

3.2 Saran..................................................................................................17

Daftar Pusaka .................................................................................................17

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Munculnya corporate governance dapat dikatakan dilatarbelakangi dari berbagai
skandal besar yang terjadi pada perusahaan-perusahaan baik di Inggris maupun Amerika
Serikat pada tahun 1980an dikarenakan tindakan yang cenderung serakah dan
mementingkan tujuan pihak-pihak tertentu saja. Hal ini tidak terlepas dari pertentangan
kepentingan antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab kolektif atau kepentingan
bersama dari organisasi dimana hal ini menjadikannya sebagai pemicu dari kebutuhan
akan corporate governance.
Secara lebih luas pertentangan kepentingan di suatu organisasi itu terjadi antara pemilik
saham dan pimpinan perusahaan, antara pemilik saham majoritas dan minoritas, antara
pekerja dan pimpinan perusahaan, ada potensi mengenai pelanggaran lindungan
lingkungan, potensi kerawanan dalam hubungan antara perusahaan dan masyarakat
setempat, antara perusahaan dan pelanggan ataupun pemasok, dan sebagainya. Bahkan
besarnya gaji para eksekutif dapat merupakan bahan kritikan.
Pada awalnya corporate governance hanya berkembang di Inggris dan Amerika, tetapi
seiring berkembangnya kompleksitas bisnis di berbagai negara di dunia maka segara
berkembang pula di negara-negara lain. Dalam corporate governance selalu ada dua hal
yang perlu diperhatikan. Apakah aturan atau sistem tata-kelola sudah ada secara jelas,
lengkap, dan tertulis ? Apakah aturan dan sistem yang sudah jelas tersebut dilaksanakan
dengan konsisten atau tidak ? Kedua hal tersebutlah yang menentukan apakah sudah ada
good corporate governance dalam suatu perusahaan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI DUNIA


2.1.1 Pemicu Timbulnya Good Corporate Governance di Dunia
Pada awal dekade 2000-an dunia dikejutkan oleh tumbangnya perusahaan-
perusahaan raksasa terkemuka di berbagai negara industri maju termasuk Amerika
Serikat, Inggris, Itali, Australia, Singapura, dan Hongkong. Regulator pemerintah
tiap negara dan pakar manajemen memberikan kesimpulan bahwa penyebab
utama tumbangnya perusahaan perusahaan besar tersebut adalah karena lemahnya
penerapan prinsip – prinsip good corporate governance mereka.
Kelemahan corporate governance tersebut antara lain ditandai oleh berbagai
macam hal, diantaranya yaitu :
1. Renggangnya hubungan antara para pemegang saham dengan manajemen
perusahaan.
2. Lemahnya peranan dewan pengurus dalam mengarahkan dan mengendalikan
kebijaksanaan dan pengelolaan harta, utang, dan operasi bisnis perusahaan.
3. Semakin bebasnya manajemen perusahaan mengelola dan mengambil
keputusan penting yang bersangkutan dengan kelangsungan hidup perusahaan.
4. Tidak transparan, akurat, dan tepat waktunya penyampaian laporan
perkembangan bisnis dan laporan keuangan oleh manajemen perusahaan
kepada para pemegang saham dan kreditur.
5. Dalam banyak kasus auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan
tidak bekerja di bawah pengawasan langsung dari komite audit

Kelemahan-kelemahan corporate governance itulah yang memberikan


peluang dewan pengurus dan manajemen perusahaan yang memiliki moral dan
etika bisnis yang buruk mengelola perusahaan demi kepentingan pribadi atau
golongan mereka bukan demi kepentingan perusahaan. Dalam melakukan
penyalah gunaan jabatan tersebut tidak sedikit manajemen perusahaan berkolusi
dengan institusi profesi papan atas seperti penasehat hukum, perusahaan
konsultan, dan perusahaan akuntan publik.
Skandal bisnis perusahaan-perusahaan raksasa dunia tersebut telah melukai
kehidupan ekonomi banyak negara. Dampak negatif skandal tersebut antara lain
3
adalah menurunnya kepercayaan investor untuk menanamkan dananya dalam
perdagangan surat berharga. Selain itu bank dan lembaga keuangan non – bank
lebih selektif dalam menyalurkan kredit mereka. Sejak terjadinya skandal bisnis
tersebut diatas para investor surat berharga dan bank - bank kreditur sadar bahwa
hak dan kepentingan mereka di perusahaan dimana mereka menanamkan dananya
tidak sepenuhnya terlindungi.

2.1.2. Reaksi Dunia Internasional


Kejatuhan perusahaan raksasa multinasional pada awal tahun 2000an
menyadarkan masyarakat bisnis dan pemerintah bahwa corporate governance di
negara mereka perlu di reformasi. Dua negara yang paling serius menangani
imbas skandal perusahaan – perusahaan publik di dunia itu adalah Inggris dan
Amerika Serikat. Hal itu disebabkan karena pasar modal di kedua negara itu
merupakan motor perkembangan ekonomi mereka.
Reaksi pemerintahan kerajaan Inggris terhadap skandal yang terjadi di
perusahaan – perusahaan serta kejatuhan perusahaan publik adalah :
1. Pemerintah Inggris mengeluarkan pendapat tentang reformasi persyaratan
perusahaan publik. Pendapat tersebut dituangkan dalam sebuah makalah yang
berjudul Modernizing Company Law. Selain itu regulator keuangan Inggris
The Financial Service Authority (FSA) menerbitkan pedoman tentang
penyusunan laporan keuangan perusahaan public, dimana mereka diharuskan
untuk mengungkapkan secara transparan semua transaksi bisnis yang
dilakukan.
2. Pemerintah Inggris membentuk komite-komite corporate governance. Komite
tersebut menyusun laporan – laporan yang memuat pendapat dan saran bagaimana
cara memperbaharui peraturan tentang corporate governance dan nantinya
perusahaan-perusahaan harus mematuhi saran-saran yang diajukan komite tersebut.
Reaksi Amerika Serikat terhadap skandal yang terjadi di perusahaan
perusahaan serta kerjatuhan perusahaan publik adalah :
1. Pemerintah Amerika Serikat membuat undang – undang tentang reformasi
corporate governance yang disebut Sarbanes Oxley Act yang memuat tentang
ketentuan ketentuan baru yang tegas tentang perlindungan hak dan
kepentingan pemegang saham dan karyawan perusahaan publik. Selain itu

4
Sarbanes Oxley Act menentukan bahwa anggota dewan pengurus wajib
menguasai dasar-dasar ilmu manajemen keuangan.
2. Sarbanes Oxley Act mewajibkan perusahaan melakukan pengungkapan
laporan keuangan secara transparan serta diwajibkan untuk menggunakan auditor
independen dan menerapkan standar auditing yang ditetapkan US Public
Accounting Oversight Board (PCAOB).
Reaksi Australia terhadap skandal yang terjadi di perusahaan-perusahaan serta
kerjatuhan perusahaan publik adalah :

1. Pemerintah Australia menerbitkan pedoman good corporate governance bagi


perusahaan-perusahaan publik serta memperbaharui undang-undang tentang
perusahaan Australia.
2. Pemerintah Australia menyusun program untuk meninjau kembali regulasi
audit dan pengungkapan informasi perusahaan yang disebut Corporate Law
Economic Reform Program (CLERP). Program tersebut juga mengaktifkan
partisipasi pemegang saham dalam meningkatkan akuntabilitas dan
transparansi perusahaan-perusahaan public.

2.1.3 Perkembangan Good Corporate Governance


Corporate governance sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku bisnis,
tetapi sudah merupakan suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah merupakan
tuntutan masyarakat. Setiap tindakan memerlukan pertanggungjawaban yang baik.
Penerapan GCG didukung oleh (Organisation for Economic Cooperation and
Development) dengan penerbitan prinsip prinsip GCG yang bertujuan untuk
membantu negara-negara baik negara anggota OECD maupun bukan anggota OECD
untuk menerapkan GCG di negaranya terutama untuk dapat menyediakan pedoman
dan saran-saran bagi bursa saham, investor, perusahaan, dan pihak-pihak lain yang
memiliki peranan dalam proses pengembangan GCG.

2.2 GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI ASIA


Good Corporate Governance menjadi penting untuk Asia dalam beberapa tahun terakhir
dengan sebagian besar pasar telah memperkenalkan peraturan yang komprehensif.
Regulator perusahaan dan investor memiliki peran penting dalam Good Corporate
Governance. Meskipun masih ada beberapa kekurangan dalam kerangka peraturan di
banyak negara di kawasan Asia ini yang berfungsi untuk melumpuhkan manfaat apa
5
yang telah dicapai. Meskipun ada perusahaan yang sadar melebihi standar tata kelola juga
ada bukti yang jelas bahwa pendekatan terhadap masalah pemerintahan oleh banyak
perusahaan di Asia berjumlah lebih sedikit. Hal ini menunjukkan hubungan yang kuat
antara praktik Good Corporate Governance yang baik dan keuntungan finansial.

2.2.1 Pedoman Good Corporate Governance Di Malaysia


Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on Corporate
Governance) iniditerbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban untuk
melaksanakan Pedoman inidiatur dalam peraturan tentang pencatatan efek di
bursa efek tersebut. Pedoman iniditerbitkan pada tahun 2007 dan merupakan
revisi atas pedoman yang diterbitkan sebelumnya.
1. Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat
complyand explain. Dengan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan tidak
menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman tersebut. Bagi perusahaan yang
tercatat di bursa efek Malaysia, prinsip prinsip Good Corporate Governance dan
praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan perusahaan wajib diungkapkan
dalam laporan tahunan. Perusahaanjuga wajib mengidentifikasi prinsip dan
praktik terbaik yang tidak dilaksanakan disertaialasan atas ketidakpatuhan
tersebut. Apabila perusahaan mengadopsi praktek tatakelola negara lain, hal ini
juga harus diungkapkan.
2. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman GCG
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and
explains sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan
seluruh aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat
kewajiban untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam
laporan tahunan. Dengan demikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan
mencatatkan sahamnya di bursatidak mengungkapkan dalam laporan
tahunannya terkait dengan penerapan tata kelola, Bursa Malaysia dapat
mengambil tindakan terhadap perusahaan atau
direksisebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di Bursa Malaysia.

6
3. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Pedoman Good Corporate Governanc terdiri dari tiga bagian yaitu :
a) Bagian 1
Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas yang berlaku
di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk memungkinkan
fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-
prinsip sesuai dengan keadaan masingmasing perusahaan.
b) Bagian 2
Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan.
Mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang dimaksudkan
untuk membantu perusahaan dalam merancang pendekatan mereka
terhadap tata kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya. c)
Bagian 3
Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas yang
bersifat sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang
terdaftar tetapi untuk investor dan auditor untuk meningkatkan peran mereka
dalam tata kelola perusahaan. Adapun ruang lingkup dari
Pedoman Good Corporate Governance tersebut adalah :
 The Board Structure, Duties and Effectiveness
 The Audit Committee and its Challenges
 Assessing the Risk and Control Environment
 Effective Oversight of Financial Reporting
 Internal and External Audit: “Eyes And Ears” of Audit Committee
 Conflict of Interest and Related Party Transactions
 Nominating Committee
 Remuneration Committee
 Shareholder Relations

2.2.2 Pedoman Good Corporate Governance Di Singapura


1. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply
and explain. Selanjutnya berdasarkan ketentuan pencatatan efek di Bursa efek
Singapore mengharuskan perusahaan tercatat untuk mengungkapkan praktik tata
kelola mereka dalam laporan tahunan dengan referensi khusus kepada prinsip-
7
prinsip yang terdapat dalam Pedoman. Perusahaan juga wajib mengungkapkan
dan menjelaskan setiap perbedaan pelaksanaannya dari Pedoman tersebut.
Perusahaan juga didorong untuk melakukan konfirmasi positif tentang
pemenuhan prinsip-prinsip tata kelola dan mengungkapkan setiap ketidak
patuhan terhadap prinsip-prinsip tersebut dalam laporan tahunan perusahaan
2. Sanksi atas ketidakpatuhan
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya
bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan
rinci alasan untuk tidak menerapkannya.
3. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Ruang lingkung Tata Kelola perusahaan
a) Board Matters
b) Remuneration Matters
c) Accountability and Audit
d) Communication with Shareholders
e) Disclosure of Corporate Governance Arrangements

2.2.3 Pedoman Good Corporate Governance Di Thailand


1. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Thailand
bersifat Comply or Explain . Oleh karena itu, Stock Exchange of Thailand (SET)
mengharapkan perusahaan untuk mengikuti Pedoman Good Corporate
Governance tersebut. Selain itu, perusahaan dapat mengadaptasi prinsip- prinsip
Good Corporate Governance sesuai kebutuhan fungsional tiap perusahaan. Bagi
perusahaan yang memilih untuk tidak mematuhi prinsip Good Corporate
Governance, diharuskan menjelaskan secara rinci alasan untuk tidak
menerapkannya.Perusahaan Tercatat telah diminta untuk mulai mengungkapkan
pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada tahun 2007 pada
Laporan Tahunan perusahaan. Selain itu, perusahaan yang terdaftar harus
mengungkapkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik
GCG melalui media komunikasi yang yang paling nyaman bagi Perusahaan,
pemegang saham, investor, stakeholder lainnya dan pihak-pihak terkait. Salah
satu saluran yang disarankan adalah situs web perusahaan.

8
2. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaik Good Corporate
Governance Perusahaan tercatat yang direkomendasikan oleh SET (Stock
Exchange of Thailand) mencakup 5 kategori yaitu:
a Hak Pemegang Saham (Rights of Shareholders)
b Perlakuan Adil kepada Pemegang Saham (Equitable Treatment of
Shareholders)
c Peran Pemangku Kepentingan (Role of Stakeholders)
d Keterbukaan dan Transparansi (Disclosure and Transparency)
e Tanggung Jawab Dewan Direksi (Responsibilities of the Board)

2.2.4 Pedoman Good Corporate Governance Di Philipina


Sesuai dengan kebijakan Negara untuk secara aktif mempromosikan
reformasi tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan
kepercayaan investor, mengembangkan pasar modal dan membantu mencapai
pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan untuksector korporasi dan ekonomi,
Securities Commission, melalui Resolusi No.135, Seri 4 April2002, menyetujui
berlakunya dan pelaksanaan Pedoman Good Corporate Governance
ini.Pedoman ini berlaku untuk perusahaan efek yang tercatat atau terdaftar,
perusahaan penerima izin/lisensi dan perusahaan publik. Pedoman Good
Corporate Governance ini juga berlaku untuk cabang atau anak perusahaan dari
perusahaan asing yang beroperasi diFilipina yang terdaftar.
1 Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Philipina
merupakan suatu kewajiban. Penegakan hukum atas pelaksanaan Pedoman
Good Corporate Governance tersebut dilakukan oleh Securities and
Exchange Commission dan dapat dikenakan sanksi. Bursa Efek Philipina
mewajibkan perusahaan tercatat untuk melaporkan secara periodic
mengenai kepatuhan terhadap manual tata kelola termasuk hal-hal yang
belum dapat dipenuhi wajib diungkapkan lengkap dengan alasannya.
2 Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman GCG
Kegagalan untuk mengadopsi manual tata kelola perusahaan seperti
yang ditentukan untuk perusahaan, setelah pemberitahuan waktu dan
alasan jatuh tempo dikenakandenda sebesar P100, 000.00.

9
3 Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
a) The Board Governance
b) Supply Information
c) Accountability and Audit
d) Stockholders’ Rights and Protection of Minority Stockholders’ Interests e)
Evaluation Systems
f) Disclosure and Transparency
g) Commitment to Corporate Governance
h) Administrative Sanction

2.3 GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI INDONESIA


Implemetasi GCG di negara kita sangat terlambat jika dibandingkan dengan negara-
negara lainnya, mengingat masuknya konsep GCG di Indonesia relatif masih baru. Konsep
GCG di Indonesia pada awalnya diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia dan International
Monetary Fund (IMF) dalam rangka pemulihan ekonomi (economy recovery) pascakrisis.
Pada April 2001, Komite Nasional Indonesia untuk Kebijakan Tata Kelola Perusahaan
(Corporate Governance Polices) mengeluarkan The Indonesia Code for Good Corporate
Governance (Kode Tata Kelola Perusahaan yang Baik) bagi masyarakat Indonesia. Dalam
Indonesian Code for Good Corporate Governance tersebut dimuat hal-hal yang berkaitan
dengan:
 Pemegang saham dan hak mereka
 Fungsi dewan komisaris perusahaan
 Fungsi direksi perusahaan
 Sistem audit
 Sekretaris perusahaan
 Pemangku kepentingan (stakeholders)
 Prinsip pengungkapan informasi perusahaan secara transparan
 Prinsip kerahasiaan
 Etika bisnis dan korupsi
 Perlindungan terhadap lingkungan hidup
Pada tahap pertama, ketentuan tentang tata keloa perusahaan yang baik (good corporate
governance) tersebut terutama ditunjukan bagi perusahaan-perusahaan publik, badan usaha
milik negara, dan perusahaan-perusahaan yang mempergunakan dana publik atau ikut serta
dalam pengeloaan dana publik.
10
Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate
Governance (GCG) kian populer. Tak hanya populer, istilah tersebut juga ditempatkan
di posisi terhormat. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk
tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan
persaingan bisnis global. Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin
yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan GCG. Pada tahun 1999, kita melihat
negara-negara di Asia Timur yang sama-sama terkena krisis mulai mengalami
pemulihan, kecuali Indonesia. Harus dipahami bahwa kompetisi global bukan
kompetisi antarnegara, melainkan antarkorporat di negara-negara tersebut. Jadi menang
atau kalah, menang atau terpuruk, pulih atau tetap terpuruknya perekonomian satu
negara bergantung pada korporat masing-masing . Pemahaman tersebut membuka
wawasan bahwa korporat kita belum dikelola secara benar. Dalam bahasa khusus,
korporat kita belum menjalankan governansi . Survey dari Booz-Allen di Asia Timur
pada tahun 1998 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki indeks corporate
governance paling rendah dengan skor 2,88 jauh di bawah Singapura (8,93), Malaysia
(7,72) dan Thailand (4,89). Rendahnya kualitas GCG korporasi-korporasi di Indonesia
ditengarai menjadi kejatuhan perusahaan-perusahaan tersebut.

2.3.2 Penerapan GCG di Indonesia


Krisis ekonomi yang menghantam Asia yang terjadi beberapa tahun lalu.
ternyata berdampak luas teutama dalam merontokkan rezim-rezim politik yang
berkuasa di Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia. Ketiga Negara yang diawal
tahun 1990-an dipandang sebagai “the Asian tiger”, harus mengakui bahwa pondasi
ekonomi mereka rapuh, yang pada akhirnya merambah pada krisis politik.
Setelah itu, sejak krisis tersebut melanda, kita sekarang dapat melihat
pertumbuhan kembali Negara-negara yang amat terpukul oleh krisis tersebut. Korea
Selatan yang pernah terjangkit kejahatan financial yang melibatkan para eksekutif
puncak perusahaan-perusahaan blue-chip, kini telah pulih. Perkembangan yang
sama juga terlihat dengan Thailand maupun Negara-negara ASEAN lainnya.
Bagaimana dengan Indonesia?. Era pascakrisis ditandai dengan goncangan
ekonomi berkelanjutan. Mulai dari restrukturisasi sektor perbankan, pelelangan
asset para konglomerat, yang berakibat pada penurunan iklim berusaha
(Bakrie,2003).

11
Kajian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menunjukkan
beberapa faktor yang memberi kontribusi pada krisis di Indonesia. Pertama,
konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi; kedua, tidak efektifnya fungsi
pengawasan dewan komisaris, ketiga; inefisiensi dan rendahnya transparansi
mengenai prosedur pengendalian merger dan akuisisi perusahaan; keempat,
terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal; dan kelima, ketidak
memadainya pengawasan oleh para kreditor.
Tantangan terkini yang dihadapi masih belum dipahaminya secara luas
prinsip-prinsip dan praktek good corporate governance oleh kumunitas bisnis
dan publik pada umumnya (Daniri, 2005). Akhirnya komunitas internasional
masih menempatkan Indonesia pada urutan bawah rating implementasi GCG
sebagaimana dilakukan oleh Standard & Poor, CLSA, Pricewaterhouse Coopers,
Moody`s Morgan, and Calper`s.
Kajian Pricewaterhouse Coopers yang dimuat di dalam Report on Institutional
investor Survey (2002) menempatkan Indonesia di urutan paling bawah bersama
China dan India dengan nilai 1,96 untuk transparansi dan keterbukaan. Jika dilihat
dari ketersediaan investor untuk memberi premium terhadap harga saham
perusahaan publik di Indonesia, hasil survey tahun 2002 menunjukkan kemajuan
dibandingkan hasil survey tahun 2000. Pada tahun 2000 investor bersedia
membayar premium 27%, sedang di tahun 2002 hanya bersedia membayar 25% saja.
Hal ini menunjukkan persepsi investor terhadap resiko tidak dijalankannya GCG,
menjadi lebih baik. Secara keseluruhan urutan teratas masih ditempati oleh
Singapura dengan skor 3,62, Malaysia dan Thailand mendapat skor 2,62 dan
2,19.
Laporan tentang GCG oleh CLSA (2003), menempatkan Indonesia di
urutan terbawah dengan skor 1,5 untuk masalah penegakan hukum, 2,5 untuk
mekanisme institusional dan budaya corporate governance, dan dengan total 3,2.
Meskipun skor Indonesia di tahun 2004 lebih baik dibandingkan dengan 2003,
kenyataannya, Indonesia masih tetap berada di urutan terbawah di antara Negara-
negara Asia. Faktor-faktor penyebab rendahnya kinerja Indonesia adalah penegakan
hukum dan budaya corporate governance yang masih berada di titik paling rendah
di antara Negara-negara lain yang sedang tumbuh di Asia.

12
Penilaian yang dilakukan oleh CLSA didasarkanpada faktor eksternal
dengan bobot 60% dibandingkan faktor internal yang hanya diberi bobot 40% saja.
Fakta ini menunjukkan bahwa implementasi GCG di Indonesia membutuhkan
pendekatan yang komprehensif dan penegakan yang lebih nyata lagi.

2.3.3 Implementasi GCG di Indonesia


Terdapat tiga arah agenda penerapan GCG di Indonesia (BP BUMN, 1999)
yakni, menetapkan kebijakan nasional, menyempurnaan kerangka nasional dan
membangun inisiatif sektor swasta. Terkait dengan kerangka regulasi, Bapepam
bersama dengan self-regulated organization (SRO) yang didukung oleh Bank Dunia
dan ADB telah menghasilkan beberap proyek GCG seperti JSX Pilot project.
Seiring dengan proyek-proyek ini, kementerian BUMN juga telah
mengembangkan kerangka untuk implementasi GCG.
Dalam kaitan dengan peran dan fungsi tersebut, BAPEPAM dapat memastikan
bahwa berbagai peraturan dan ketentuan yang ada, terus menerus disempurnakan,
serta berbagai pelanggaran yang terjadi akan mendapatkan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku.Dalam hal regulatory framework, untuk mengkaji peraturan
perundang-undangan yang terkait engan korporasi dan program reformasi hukum,
pada umumnya terdapat beberapa capaian yang terkait dengan implementasi
GCG seperti diberlakukannya undang-undang tentang Bank Indonesia di tahun
1998, undang-undang anti korupsi tahun 1999, dan undang-undang BUMN, serta
privatisasi BUMN tahun 2003.
Demikian pula dengan proses amandemen undang-undang perseroan terbatas,
undang-undang pendaftaran perusahaan, serta undang-undang kepailitan yang saat
ini masih sedang dalam proses penyelesaian. Dalam pelaksanaan program reformasi

13
hukum, terdapat beberapa hal penting yang telah diterapkan, misalnya
pembentukan pengadilan niaga yang dimulai tahun 1997 dan pembentukan
badan arbitrasi pasar modal tahun 2001.
Bergulirnya reformasi corporate governance masih menyisakan hal-hal
strategis yang harus dikaji, seperti kesesuaian dan sinkronisasi berbagai peraturan
perundangan yang terkait. Demikian pula yang terkait dengan otonomi daerah,
permasalahan yang timbul dalam kerangka regulasi adalah pemberlakuan
undang-undang otonomi daerah yang cenderung kebablasan tanpa diikuti dengan
kesadaran dan pemahaman good governance itu sendiri. Inisiatif di sektor swasta
terlihat pda aktivitas organisasi-organisasi corporate governance dalam bentuk
upaya-upaya sosialisasi, pendidikan, pelatihan, pembuatan rating, penelitian, dan
advokasi. Pendatang baru di antara organisasi-organisasi ini adalah IKAI dan
LAPPI. IKAI adalah asosiasi untuk para anggota komite audit, sedangkan LAPPI
(lembaga advokasi, proxi, dan perlindungan investor) pada dasarnya berbagi
pengalaman dalam shareholders activism, dengan misi utama melindungi
kepentingan para pemegang saham minoritas.
Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan turut
berpartisipasi. Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance yang diawal
tahun 2005 di ubah menjadi Komite Nasional Kebijkan Governance telah
menerbitkan pedoman GCG pada bulan Maret 2001. Pedoman tersebut kemudian
disusul dengan penerbitan Pedoman GCG Perbankan Indonesia, Pedoman untuk
komite audit, dan pedoman untuk komisaris independen di tahun 2004. Semua
publikasi ini dipandang perlu untuk memberikan acuan dalam
mengimplementasikan GCG.
Pemerintah pun melakukan upaya-upaya khusus bergandengan tangan dengan
komunitas bisnis dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan GCG. Dua
sektor penting yakni BUMN dan Pasar Modal telah menjadi perhatian pemerintah.
Aspek baru dalam implementasi GCG di lingkungan BUMN adalah kewajban untuk
memiliki statement of corporate intent (SCI). SCI pada dasarnya adalah komitmen
perusahaan terhadap pemegang saham dalam bentuk suatu kontrak yang
menekankan pada strategi dan upaya manajemen dan didukung dengan dewan
komisaris dalam mengelola perusahaan. Terkait dengan SCI, direksi diwajibkan
untuk menanda tangani appointment agreements (AA) yang merupakan komitmen
direksi untuk memenuhi fungsi-fungsi dan kewajiban yang diembannya. Indikator

14
kinerja direksi terlihat dalam bentuk reward and punishment system dengan
meratifikasi undang-undang BUMN.
Pasar modal juga perlu menerapkan prinsipprinsip GCG untuk perusahaan
publik. Ini ditunjukkan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Bursa Efek
Jakarta (BEJ), yang menyatakan bahwa seluruh perusahaan tercatat wajib
melaksanakan GCG. Implementasi GCG dimaksudkan untuk meningkatkan
perlindungan kepentingan investor, terutam para pemegang saham di perusahaan-
perusahaan terbuka.
Di samping itu, implementasi GCG akan mendorong tumbuhnya
mekanisme check and balance di lingkungan manajemen khususnya dalam member
perhatian kepada kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
Hal ini terkait dengan peran pemegang saham pengendali yang berwenang
mengangkat komisaris dan direksi, dan dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan.
Di samping pelindungan investor, regulasi mewajibkan system yang menjamin
transparansi dan akuntabilitas dalam transaksi bisnis antar perusahaan dalam satu
grup yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. Semangat untuk
memperoleh persetujuan publik dalam transaksi, merupakan bentuk penerapan
prinsip akuntabilitas. Diperkenalkannya komisaris independen, komite audit, dan
sekretaris perusahaan juga menjadi fokus regulasi BEJ. Independensi komisaris
dimaksudkan untuk memastikan bahwa komisaris independen tidak memiliki afiliasi
dengan pemegang saham, dengan direksi dan dengan komisaris; tidak menjabat
direksi di perusahaan lain yang terafiliasi; dan memahami berbagai regulasi pasar
modal.
Sedangkan terkait dengan kewajiban untuk memiliki direktur independen,
dalam sistem two tier yang kita anut, justru akan lebih efektif bilamana bursa
mewajibkan perusahaan untuk memiliki komite nominasi dan remunerasi. Tujuan
pedoman tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas disclosure perusahaan-
perusahaan publik. Pedoman ini merupakan hasil kolaborasi antara BEJ, IAI, AEI,
dan Bapepam. Perkembangan terbaru di Pasar modal adalah batas waktu penyerahan
laporan tahunan yakni 90 hari sejak tutup buku, lebih pendek dari regulasi
sebelumnya yakni 120 hari. Regulasi ini merupakan indikasi kekonsistenan
penegakan GCG oleh Bapepam.

15
2.3.5 Peran BAPEPAM
Bapepam secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong
implementasi prinsip-prinsip GCG di Indonesia, dengan menerbitkan peraturan dan
kebijakan yang terkait dengan GCG. Peraturanperaturan tersebut antara lain
menyangkut keputusan Bapepam mengenai prinsip transparansi yang
mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi kepada publik, disclosure
mengenai beberapa aspek yang terkait dengan pemegang saham, transaksi material,
dan perubahan dalam aktivitas bisnis inti, keputusan mengenai merger dan akuisisi
perusahaan publik, serta ketentuan tentang pengungkapan mengenai apakah suatu
perusahaan tengah dalam proses peradilan kepailitan.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Di era persaingan global ini, dimana batas-batas negara tidak lagi menjadi
penghalang untuk berkompetisi, hanya perusahaan yang menerapkan Good
Corporate Governance (GCG) yang mampu memenangkan persaingan. GCG
merupakan suatu keharusan dalam rangka membangun kondisi perusahaan yang
tangguh dan sustainable. GCG diperlukan untuk menciptakan sistem dan struktur
perusahaan yang kuat sehingga mampu menjadi perusahaan memiliki tata kelola
yang baik.

3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan yang perlu
diperbaiki. Maka dari itu penulis sangat berharap kritik dan saran kepada setiap
pembaca agar makalah ini bisa lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Muh. Arief. 2016. The Power of Good Corporate Governance (Teori dan
Implementasi). Jakarta: Salemba Empat
Wulandari, Etty Retno.Good Corporate Governance(Konsep, Prinsip dan
Praktik).Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI)
Sutojo, Siswanto & Aldridge, John. 2008. Good Corporate Governance (Tata
Kelola Perusahaan Yang Sehat), Jakarta : PT Damar Mulia Pustaka
www.ojk.go.id

17
18