Anda di halaman 1dari 133

PELAKSANAAN KEGIATAN PROGRAM PENGENDALIAN

PENYAKIT TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA DINAS


KESEHATAN KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2013

LAPORAN MAGANG

Oleh:

Wiwid Handayani

1110101000079

PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

1435 H / 2014 M
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
Magang, April 2014

Wiwid Handayani, NIM: 1110101000079

PELAKSANAAN KEGIATAN PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT


TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA
TANGERANG SELATAN TAHUN 2013

xv + 117 halaman, 4 tabel, 2 bagan, 13 grafik, 4 lampiran

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi
masalah kesehatan di dunia terutama di negara berkembang hingga saat ini.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, diketahui insidensi
kasus TB tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 129 per 100.000 penduuduk.
Namun penurunan tersebut tidak diimbangi dengan tercapainya beberapa indikator
program pengendalian TB di Kota Tangerang Selatan. Padahal secara umum, seluruh
Unit Pelayanan Kesehatan di wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan sudah menjalani strategi DOTS.

Kegiatan magang ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan


Program Pengendalian TB di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
Kegiatan magang ini dilaksanakan dengan melakukan observasi secara langsung,
diskusi dengan Wasor TB dan Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit, dan
studi literatur terkait program pengendalian TB. Kegiatan magang ini dilakukan
setiap hari mengikuti jam kerja di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan selama
26 hari.

i
Kegiatan Program Pengendalian TB di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan mengacu pada Pedoman Nasional Pengendalian TB dari Kemenkes RI tahun
2011. Secara umum, seluruh kegiatan sudah terlaksana, yaitu perencanaan,
surveilans, monitoring dan evaluasi, pelatihan, supervisi, dan manajemen uji silang
sediaan laboratorium. Namun setiap kegiatan tersebut tidak memiliki indikator untuk
melihat tingkat keberhasilannya. Selain itu, ada beberapa kendala mengenai
pengumpulan data TB di beberapa Rumah Sakit Swasta dan Klinik Swasta yang
belum terlaporkan, penyimpanan logistik TB yang tidak sesuai dengan standar
penyimpanan logistik dari Kemenkes RI, masih banyak tenaga kesehatan program
TB yang belum melakukan pelatihan program TB terutama tenaga dokter dan tenaga
laboratorium dan rendahnya pencapaian jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang
melakukan uji silang sediaan laboratorium serta masih rendahnya pencapaian
indikator pogram TB di di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Oleh sebab itu, disarankan untuk menambah tenaga program TB di Dinas


Kesehatan maupun di Unit Pelayanan Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Selain itu,
perlu disosialiasikannya kebijakan terkait hubungan Dinas Kesehatan dengan Rumah
Sakit Swasta dan Klinik Swasta, dan perlu dilakukannya koordinasi mengenai tugas
dan wewenang dalam penyimpanan logistik, serta perlu dibuatnya indikator di setiap
pelaksanaan kegiatan agar dapat dianalisis dampak pelaksanaan kegiatan dengan
pencapaian indikator di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Daftar bacaan : 29 (1996 – 2014)

ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul Magang

PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT


TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA
TANGERANG SELATAN JANUARI 2013 - MARET 2014

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Magang Program Studi
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 22 Maret 2014

Mengetahui

Pembimbing Fakultas Pembimbing Lapangan

Minsarnawati Tahangnacca, S.KM, M.Kes

iii
PANITIA SIDANG UJIAN MAGANG

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, April 2014

Penguji I,

Hoirunnisa, Ph.D

Penguji II,

Minsarnawati Tahangnaca, SKM., M.Kes

iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS PRIBADI
 Nama : Wiwid Handayani
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 02 September 1991
 Status : Belum Menikah
 Agama : Islam
 Alamat : Jl. Kemajuan No. 75 RT 06/05
Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12270
 Nomor Telepon/HP : 0857-1585-7742

PENDIDIKAN FORMAL
 1996 – 1997 : TK Aisyiyah Ciputat
 1997 – 2003 : SDN 03 Pagi Jakarta
 2003 – 2006 : SLTPN 110 Jakarta
 2006 – 2009 : SMAN 90 Jakarta
 2010 – Sekarang : Program Studi Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

v
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah wasyukurillah, penulis panjatkan kepada Allah SWT yang

telah memberikan rahmat dna hidayah-Nya serta nikmat yang berlimpah sehingga

penulis dapat menyelesaikan laporan magang yang bejudul ” Pelaksanaan Kegiatan

Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan

Kota Tangerang Selatan Tahun 2013”. Sholawat serta salam penulis haturkan kepada

Rasulullah saw, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di akhirat nanti. Amiin.

Penulis menyadari bahwa laporan ini tidak akan tersusun dan selesai tanpa

bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. (HC) dr. MK Tadjudin, Sp. And, selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Febrianti, MSi, selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat.

3. Ibu Minsarnawati Tahangnaca, S.KM, M.Kes, selaku penanggung jawab

peminatan Epidemiologi.

4. Bapak/Ibu dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan

ilmu yang sangat bermanfaat dan semoga dapat diaplikasikan dalam kehidupan

panulis.

vi
5. Bapak Dr. M. Rusmin, selaku Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit

Dinas Kota Tangerang Selatan yang telah memberikan izin melakukan kegiatan

magang.

6. Bapak Hidayatul Mustafid, SKM, selaku pembimbing lapangan yang telah

memberikan berbagai masukan dan koreksi dalam pembuatan laporan magang

ini.

7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan magang ini,

yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih kurang dari

sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kemajuan

dimasa yang akan datang. Semoga laporan magang ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak. Amiin.

Ciputat, 15 April 2014

Penulis

vii
DAFTAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................................... i

PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................................................. iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................................ vi

DAFTAR ISI ............................................................................................................. viii

DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xi

DAFTAR BAGAN .................................................................................................... xii

DAFTAR GRAFIK ................................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xiv

DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2. Tujuan ............................................................................................................ 4

1.2.1. Tujuan Umum ........................................................................................ 4

1.2.2. Tujuan Khusus ....................................................................................... 4

1.3. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 5

1.3.1. Bagi Mahasiswa ..................................................................................... 5

1.3.2. Bagi Institusi Tempat Magang ............................................................... 5

1.3.3. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta ............ 6

1.4. Ruang Lingkup .............................................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 8

2.1. Tuberkulosis .................................................................................................. 8

2.1.1 Etiologi Penyakit Tuberkulosis .............................................................. 8

2.1.2 Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis.......................................................... 9

viii
2.1.3 Gejala Penyakit Tuberkulosis .............................................................. 12

2.1.4 Diagnosis Penyakit Tuberkulosis ......................................................... 13

2.1.5 Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis ................................................ 15

2.1.6 Masa Inkubasi Penyakit Tuberkulosis ................................................. 15

2.1.7 Masa Penularan Penyakit Tuberkulosis ............................................... 16

2.1.8 Risiko Penularan Penyakit Tuberkulosis ............................................. 16

2.1.9 Pengobatan Penyakit Tuberkulosis ...................................................... 17

2.2 Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis ............................................ 18

2.2.1 Gambaran Umum Kebijakan Program ................................................. 18

2.2.2 Sejarah Program ................................................................................... 20

2.2.3 Tujuan Program .................................................................................... 21

2.2.4 Sasaran Program................................................................................... 22

2.2.5 Strategi Program................................................................................... 23

2.2.6 Organisasi Pelaksana Program ............................................................. 24

2.2.7 Pokok Kegiatan Program ..................................................................... 25

2.2.8 Indikator Program ................................................................................ 40

BAB III ALUR DAN JADWAL KEGIATAN MAGANG ....................................... 45

3.1. Alur Kegiatan .............................................................................................. 45

3.2. Jadwal Kegiatan Magang ............................................................................ 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 51

4.1. Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ..................... 51

4.1.1. Visi ....................................................................................................... 51

4.1.2. Misi ...................................................................................................... 52

4.1.3. Keadaan Umum Kota Tangerang Selatan ............................................ 52

4.1.4. Wilayah Kerja ...................................................................................... 53

4.1.5. Kependudukan...................................................................................... 55

ix
4.1.6. Sumber Daya Kesehatan ...................................................................... 56

4.1.7. Pembiayaan Kesehatan......................................................................... 59

4.2. Gambaran Morbiditas dan Mortalitas Penyakit Tuberkulosis di Kota


Tangerang Selatan .................................................................................................. 60

4.2.1. Distribusi Penyakit Berdasarkan Orang, Tempat, dan Waktu ............. 62

4.2.2. Distribusi Penyakit Tuberkulosis Berdasarkan Klasifikasi Riwayat


Pengobatan .......................................................................................................... 67

4.3. Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan .................................................................................................. 69

4.3.1. Struktur Organisasi .............................................................................. 69

4.3.2. Tujuan Program .................................................................................... 71

4.3.3. Sasaran Program................................................................................... 77

4.3.4. Strategi Program................................................................................... 78

4.3.5. Pelaksanaan Kegiatan Program ............................................................ 78

4.3.6. Pencapaian Indikator Program ............................................................. 88

BAB V PENUTUP .................................................................................................. 101

5.1 Simpulan .................................................................................................... 101

5.2 Saran .......................................................................................................... 103

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 104

x
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Magang di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan

tahun 2014 ……………………………………………..………….…... 46

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk di Kota Tangerang Selatan tahun 2013………….... 55

Tabel 4.2 Sarana dan Prasarana Kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang

Selatan tahun 2013……………………………………..………….…... 58

Tabel 4.3 Sumber Pembiayaan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun

2013……………………………………………..……………...….…... 60

Tabel 4.4 Identifikasi Tujuan Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013……...….…....... 75

xi
DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Alur Kegiatan Magang.……...….……………....................................... 45

Bagan 4.1 Peta Kota Tangerang Selatan tahun 2013………….……...……........... 54

Bagan 4.2 Distribusi Penyakit Tuberkulosis menurut Jenis Kelamin dan Umur di

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013…....................... 63

xii
DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Jumlah Kasus dan Kematian Akibat Penyakit TB di Wilayah Kerja Dinas

Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013……..…....................... 63

Grafik 4.2 Distribusi Penyakit Tuberkulosis berdasarkan Unit Pelayanan Kesehatan

di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun

2013…………………..…...............................……..…....................... 64

Grafik 4.3 Pola Penemuan Kasus (Case Notification Rate) Penyakit Tuberkulosis

berdasarkan Puskesmas di Kota Tangerang Selatan tahun 2013…........ 66

Grafik 4.4 Distribusi Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota

Tangerang Selatan tahun 2013................................................................ 68

Grafik 4.5 Angka Penjaringan Suspek di Kota Tangerang Selatan tahun 2013....... 89

Grafik 4.6 Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek di Kota

Tangerang Selatan tahun 2013………………………………................ 90

Grafik 4.7 Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Semua Pasien TB di Kota

Tangerang Selatan tahun 2013……………………………………….... 91

Grafik 4.8 Proporsi Pasien TB Anak di Kota Tangerang Selatan tahun 2013…..... 92

Grafik 4.9 Angka Notifikasi Kasus TB di Kota Tangerang Selatan tahun 2013…. 93

Grafik 4.10 Angka Konversi di Kota Tangerang Selatan tahun 2013……………... 94

Grafik 4.11 Angka Kesembuhan di Kota Tangerang Selatan tahun 2013………... 96

Grafik 4.12 Angka Keberhasilan Pengobatan di Kota Tangerang Selatan tahun

2013……………………………………………………………………. 97

Grafik 4.13 Angka Error Rate di Kota Tangerang Selatan tahun 2013……………. 98

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan


tahun 2013
Lampiran 1.2 Gambar Sosialisasi dan Bimbingan Sistem Informasi
Tuberkulosis Terpadu Tahun 2014
Lampiran 1.3 Daftar Tilik Supervisi Program Penanggulangan TB Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan Ke Sarana Pelayanan
Kesehatan
Lampiran 1.4 Pelaksanaan Kegiatan Program Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun
2013

xiv
DAFTAR SINGKATAN

BCG = Bacillus Calmette et Guerin


CDR = Case Detection Rate
CNR = Case Notification Rate
DOTS = Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy
Fasyankes = Fasilitas Pelayanan Kesehatan
FEFO = First Expired First Out
Gerdunas – TB = Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
IUATLD = International Union Against TB and Lung Diseases
Kemenkes RI = Kementerian Kesehatan RI
LSM = Lembaga Swadaya Masyarakat
MDR / XDR = Multi Drugs Resistance / extensively Drugs Resistance
OAT = Obat Anti Tuberkulosis
PME = Pemantapan Mutu Eksternal
PMI = Pemantapan Mutu Internal
PMO = Pengawasan Minum Obat
PP = Peraturan Perundangan
PPM = Puskesmas Pelaksana Mandiri
PPM = Public Private Mix
Puskesmas = Pusat Kesehatan Masyarakat
OAT = Obat Anti Tuberkulosis
SDM = Sumber Daya Manusia
SPS = Sewaktu-Pagi-Sewaktu
TB = Tuberkulosis
UPK = Unit Pelayanan Kesehatan
UPTD = Unit Pelaksana Teknis Daerah
WHO = World Health Organization

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang masih


menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di negara berkembang
hingga saat ini. Menurut Kemenkes RI (2012), meskipun obat anti
tuberkulosis (OAT) sudah ditemukan dan vaksin Bacillud Calmette-
Guerin (BCG) telah dilaksanakan, TB tetap belum bisa diberantas habis.
Hal ini terbukti dengan terus meningkatnya insindensi penyakit TB
menjadi penyakit re-emerging. Menyikapi masalah tersebut, pada tahun
1995 WHO (World Health Organization) dan IUATLD (International
Union Against Tuberculosis dan Lungs Disease) mendeklarasikan TB
sebagai suatu kedaruratan dunia (global emergency).

Berdasarkan data dari WHO diketahui bahwa insidensi kasus TB


secara global pada tahun 2012, yaitu sebesar 122 kasus per 100.000
penduduk (WHO, 2013). Dari setiap 6 kasus TB tersebut, satu di antaranya
masih berakhir dengan kematian (Kemenkes RI, 2013). Meskipun obat
anti tuberkulosis (OAT) sudah ditemukan dan vaksin Bacillud Calmette-
Guerin (BCG) telah dilaksanakan, TB tetap belum bisa diberantas habis
terutama di negara berkembang (Kemenkes RI, 2012).

Sebagai salah satu negara berkembang, saat ini Indonesia berada di


peringkat kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Beban TB
tersebut masih terbilang tinggi karena setiap tahunnya terdapat 450.000
kasus baru TB (Kemenkes RI, 2011). Hal ini didukung oleh hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 yang menunjukkan bahwa

1
penyakit TB di Indonesia merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah
penyakit stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan (Depkes RI, 2008).

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, diketahui bahwa


prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis TB paru tahun 2013
adalah 0,4%. Angka tersebut ternyata tidak ada bedanya dengan angka di
tahun 2007 (Kemenkes RI, 2013). Hal ini bisa menjadi suatu indikasi
bahwa prevalensi kasus TB belum mengalami perubahan yang signifikan.
Menurut Kemenkes RI (2013), keadaan seperti ini bisa memicu epidemi
TB dan nantinya akan menjadi maslah kesehatan masyarakat yang utama.

Dengan semakin memburuk situasi TB di dunia, terutama di


Indonesia, baik dari peningkatan jumlah kasus TB maupun dari banyaknya
ketidakberhasilan penyembuhkan, sebenarnya pada tahun 1993, WHO
sudah mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency)
(Kemenkes RI, 2012). Bentuk konkret dari pencanangan TB tersebut
adalah adanya rekomendasi dari WHO untuk menggunakan strategi DOTS
sebagai strategi dalam pengendalian TB di seluruh dunia. (Kemenkes RI,
2011).

Menurut Depkes RI (2009), penanggulangan TB dilaksanakan


sesuai dengan azas desentralisasi yaitu kabupaten/kota sebagai titik berat
manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring
dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya manusia, sarana
dan prasarana. Menurut Murti,dkk. (2006), salah satu organisasi pelaksana
pengendalian TB adalah Dinas Kesehatan pada tingkat Kabupaten/kota.
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota merupakan suatu unsur
pelaksana kesehatan Kabupaten/Kota yang dipimpin oleh seorang kepala
dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui sekretaris daerah.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan


tahun 2014, diketahui terjadi peningkatan insindensi kasus TB dari tahun
2011 sebesar 106 per 100.000 penduduk menjadi 131 per 100.000

2
penduduk di tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2013, insindensi kasus TB
mengalami penurunan menjadi 129 per 100.000 penduuduk. Namun
penurunan tersebut tidak diimbangi dengan tercapainya beberapa indikator
pengendalian TB di Kota Tangerang Selatan.

Menurut Kemenkes RI (2011), indikator pengendalian TB


digunakan untuk menilai kemajuan atau keberhasilan program
pengendalian TB. Dari data Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2014, diketahui bahwa ada beberapa indikator pengendalian TB
yang belum tercapai, yaitu angka CDR sebesar 56% (target nasional
minimal 70%), angka keberhasilan pengobatan sebesar 82% (target
nasional minimal 85%), angka konversi sebesar 75% (target nasional
minimal 80%), angka kesembuhan sebesar 76% (target nasional minimal
85%), dan angka kesalahan laboratorium dari triwulan pertama sampai
triwulan ketiga pada tahun 2013 sebesar 6% (target nasional maksimal 5
%).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan


tahun 2014, diketahui bahwa seluruh UPK (Unit Pelayanan Kesehatan)
yang berada di wilayah kerja Kota Tangerang Selatan telah melaksanakan
program pengendalian TB DOTS. Dari seluruh UPK tersebut, diketahui
bahwa jumlah kasus TB terbanyak terdapat di RSUD Kota Tangerang
Selatan sebesar 305 kasus (17%) dan puskesmas Ciputat sebesar 156 kasus
(8%). Sedangkan di beberapa rumah sakit swasta seperti RS Eka Hospital,
RS Sari Asih Ciputat, dan RS OMNI, tidak ditemukan data mengenai
kasus TB.

Kemudian berdasarkan klasisfikasi penyakit TB, diketahui bahwa


kasus kambuh di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2012 mengalami
kenaikan sebesar 2 kali lipat dibanding pada tahun 2011 (Dinkes Kota
Tangsel, 2014). Dari penjabaran tersebut, penulis tertarik untuk
mengetahui “Pelaksanaan Kegiatan Program Pengendalian Penyakit

3
Tuberkulosis di Wilayah Kerja Dinas Kota Tangerang Selatan tahun
2013”.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Diketahuinya Pelaksanaan Kegiatan Program Pengendalian


Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.

1.2.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari kegiatan magang ini adalah sebagai berikut.

1) Diketahuinya morbiditas dan mortalitas Penyakit Tuberkulosis


di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.
2) Diketahuinya Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
3) Diketahuinya tujuan Program Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun
2013.
4) Diketahuinya sasaran Program Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun
2013.
5) Diketahuinya strategi Program Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun
2013.
6) Diketahuinya pelaksanaan kegiatan Program Pengendalian
Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.

4
7) Diketahuinya pencapaian indikator Program Pengendalian
Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.

1.3. Manfaat Penelitian

1.3.1. Bagi Mahasiswa

Manfaat dari kegiatan magang ini bagi mahasiwa adalah


sebagai berikut.

1. Meningkatkan pengetahuan dan mendapatkan pemahaman


terkait pelaksanaan program pengendalian penyakit
tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.
2. Terlibat langsung dengan kondisi yang sebenarnya dan
mendapatkan pengalaman dalam melakukan program
pengendalian penyakit tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.
3. Mendapatkan keterampilan praktis tentang pelaksanaan
program pengendalian penyakit tuberkulosis di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

1.3.2. Bagi Institusi Tempat Magang

Manfaat dari kegiatan magang ini bagi institusi tempat


magang adalah sebagai berikut.

1. Mendapatkan masukan baru dari pengembangan keilmuan di


perguruan tinggi.
2. Memahami peran Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam bidang
epidemiologi khususnya dalam program pengendalian penyakit
menular.

5
3. Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan
bermanfaat antara institusi magang dengan Program Studi
Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.3.3. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN


Jakarta

Manfaat dari kegiatan magang ini bagi program studi


Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta adalah sebagai berikut.

1. Laporan magang dapat menjadi salah satu evaluasi internal


kualitas pembelajaran.
2. Mendapatkan masukan yang berguna untuk menyempurnakan
kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
3. Terbinanya jaringan kerjasama dengan institusi tempat magang
dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara
subtansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan SDM
yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

1.4. Ruang Lingkup

Kegiatan magang ini dilaksanakan oleh mahasiswi peminatan


Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada tanggal 11 Februari – 21 Maret 2014.
Kegiatan magang ini bertujuan untuk mengetahui Pelaksanaan
Kegiatan Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013 dan menilai
implementasi kegiatan program penyakit menular terutama
tuberkulosis berdasarkan teori yang telah diperoleh dalam proses
perkuliahan.

6
Kegiatan magang ini dilaksanakan dengan melakukan
observasi, diskusi, dan studi literatur. Observasi dilakukan dengan
mengamati langsung pelaksanaan program pengendalian penyakit
tuberkulosis dan turut serta dalam proses kerja di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan serta mencatat hal-hal yang dianggap penting
di institusi tersebut. Diskusi dilakukan dengan pembimbing akademik,
kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit, pemegang Program
Pengendalian Penyakit Tuberkulosis (selaku pembimbing lapangan),
dan pegawai lainnya yang ada di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan. Studi kepustakaan dilakukan untuk menggali informasi
melalui penelusuran buku dan literatur guna memperoleh konsep
teoritis yang terkait dengan program pengendalian penyakit
tuberkulosis.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung disebabkan


oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar bakteri TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ atau bagian tubuh
lainnya seperti tulang, kelenjar, kulit, dan sebagainya (Kemenkes RI, 2011).
Namun secara umum, sumber penularan penyakit TB lebih banyak terjadi
pada pasien TB Paru dengan BTA (Basil Tahan Asam) positif (Depkes RI,
2007).

2.1.1 Etiologi Penyakit Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini ditemukan pertama kali
oleh Robert Koch pada tahun 1882. Hasil penemuan ini diumumkan
di Berlin pada tanggal 24 Maret 1882 dan tanggal 24 Maret setiap
tahunnya diperingati sebagai hari Tuberkulosis. Karakteristik bakteri
ini, yaitu mempunyai ukuran 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron dengan
bentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak
mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang
terdiri dari lipoid (terutama asam mikolat). Bakteri ini juga dapat
bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol,
sehingga disebut basil tahan asam (BTA), tahan terhadap zat kimia
dan fisik, serta tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat
dorman (dapat tertidur lama) dan aerob (Widoyono, 2008).

Bakteri tuberkulosis dapat mati pada pemanasan 100ºC


selama 5–10 menit atau pada pemanasan 60ºC selama 30 menit, dan
dengan alkohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri ini tahan selama

8
1-2 jam di udara, di tempat yang lembab dan gelap, serta bisa
berbulan-bulan berada pada kondisi tersebut. Namun bakteri ini
tidak tahan terhadap sinar matahari atau aliran udara. Data pada
tahun 1993 melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih
dari kontaminasi bakteri memerlukan 40 kali pertukaran udara per
jam (Widoyono, 2008).

2.1.2 Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis

Menurut Laban (2008), untuk menentukan klasifikasi


penyakit TB, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1) Organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru.


2) Hasil pemeriksaan dahak Basil Tahan Asam (BTA) : positif atau
negatif.
3) Tingkat keparahan penyakit : ringan atau berat.

Berdasarkan Kemenkes RI (2011), penentuan klasifikasi


penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu “definisi
kasus” yang meliputi empat hal, yaitu:

1) Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena


a. Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang
jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput
paru) dan kelenjar pada hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium),
kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

9
2) Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak secara
mikroskopis
a. Tuberkulosis paru BTA positif, apabila:
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif.
b) Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan
biakan kuman TB positif.
d) Satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah
3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
b. Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA
positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus
meliputi:
a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
negatif.
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran
tuberkulosis.
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.

3) Klasifikasi bersadarkan tingkat keparahan penyakit


a. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks
memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas

10
(misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
b. TB ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe,
pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b) TB ekstra paru berat, misalnya: meningitis, milier,
perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral,
TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan
alat kelamin.

4) Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan TB sebelumnya


a. Kasus baru, yaitu pasien yang belum pernah diobati dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu
bulan (4 minggu).
b. Kasus kambuh (Relaps), yaitu pasien tuberkulosis yang
sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan
telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau
kultur).
c. Kasus setelah putus berobat (Default), yaitu pasien yang
telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA positif.
d. Kasus setelah gagal (Failure), yaitu pasien yang hasil
pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
e. Kasus Pindahan (Transfer In), yaitu pasien yang
dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.

11
f. Kasus lain, yaitu semua kasus yang tidak memenuhi
ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus
Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif setelah selesai pengobatan ulangan.

2.1.3 Gejala Penyakit Tuberkulosis

Gejala penyakit tuberkulosis dapat dibagi menjadi gejala


umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang
terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada
kasus baru sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara
klinik. Menurut Werdhani (2002), gejala penyakit tuberkulosis
terbagi menjadi dua, antara lain sebagai berikut.

1. Gejala sistemik/umum, yaitu:


a. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai
dengan darah).
b. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-
kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang
timbul.
c. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
d. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

2. Gejala khusus, yaitu:


a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-
paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang
membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas
melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan di rongga pleura (pembungkus paru-paru),
dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

12
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti
infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk
saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini
akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus
otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak),
gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, penyakit


TB dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien
TB dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita
TB paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak
usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB
paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi
berdasarkan pemeriksaan serologi/darah (Werdhani, 2002).

2.1.4 Diagnosis Penyakit Tuberkulosis

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TB, maka


beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis
(Werdhani, 2002) adalah:

1. Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.


2. Pemeriksaan fisik.
3. Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
4. Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
5. Rontgen dada (thorax photo).
6. Uji tuberkulin.

13
Menurut Kemenkes RI (2011), diagnosis tuberkulosis terbagi
menjadi tiga, yaitu:

1) Diagnosis TB Paru, terdiri dari:


a. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu
2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
b. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan
ditemukannya kuman TB. Pada program TB nasional,
penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto
toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai
penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
c. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga
sering terjadi overdiagnosis.

2) Diagnosis TB ekstra paru, terdiri dari:


a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya
kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura
(Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus)
pada spondilitis TB dan lain-lainnya.
b. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan klinis,
bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari
jaringan tubuh yang terkena.

3) Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA)


Pada ODHA, diagnosis TB paru dan TB ekstra paru
ditegakkan sebagai berikut:

14
a. TB Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil pemeriksaan
dahak positif.
b. TB Paru BTA negatif, yaitu hasil pemeriksaan dahak negatif
dan gambaran klinis & radiologis mendukung Tb atau BTA
negatif dengan hasil kultur TB positif.
c. TB Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi
yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena.

2.1.5 Cara Penularan Penyakit Tuberkulosis

Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu


batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan
terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu
yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara
sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat
bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan
lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat
kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut (Kemenkes RI, 2011).

2.1.6 Masa Inkubasi Penyakit Tuberkulosis

Menurut Chin (2012), masa inkubasi penyakit TB berawal


dari mulai masuknya bibit penyakit sampai timbul gejala adanya lesi
primer atau rekasi tes tuberkulosis positif kira-kira memakan waktu

15
2–10 minggu. Risiko menjadi TB paru dan TB ekstra paru biasanya
terjadi pada tahun pertama dan kedua. Infeksi lanten dapat
berlangsung seumur hidup.

2.1.7 Masa Penularan Penyakit Tuberkulosis

Secara teoritis, seorang penderita tetap menular sepanjang


ditemukan basil TB di dalam sputum mereka. Penderita yang tidak
diobati atau yang diobati tidak sempurna, dahaknya akan
mengdndung basil TB selama bertahun-tahun. Tingkat penularan
sangat tergantung pada hal-hal sebagai berikut (Chin, 2011).

1. Jumlah basil TB yang dikeluarkan.


2. Virulensi dari basil TB.
3. Terpajannya basil TB dengan sinar ultra violet.
4. Terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada
saat bernyanyi.
5. Tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pada waktu otopsi,
intubasi atau pada waktu melakukan bronkoskopi.

2.1.8 Risiko Penularan Penyakit Tuberkulosis

Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan


percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan
kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru
dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan
dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi
penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI
sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk
terinfeksi setiap tahun. Menurut WHO ARTI di Indonesia bervariasi
antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi
tuberkulin negatif menjadi positif (Kemenkes RI, 2011).

16
2.1.9 Pengobatan Penyakit Tuberkulosis

Menurut Kemenkes RI (2011), Pengobatan TB bertujuan


untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah
kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai
berikut:

1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis


obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan
kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal
(monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-
KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment)
oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu :

1) Tahap awal (intensif)


a. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari
dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah
terjadinya resistensi obat.
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menjadi tidak menular dalam kurun
waktu 2 minggu.
c. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) dalam 2 bulan.
2) Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih
sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.

17
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

2.2 Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis


2.2.1 Gambaran Umum Kebijakan Program

Kebijakan adalah prinsip atau cara bertindak yang dipilih


untuk mengarahkan pengambilan keputusan (Suharno, 2010).
Menurut Kemenkes RI (2009), kebijakan program pengendalian
penyakit tuberkulosis tercantum pada Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 364/Menkes/SK/V/2009 (Kemenkes RI,
2009), yaitu:

1. Penanggulangan TB dilaksanakan sesuai dengan azas


desentralisasi yaitu kabupaten/kota sebagai titik berat
manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber
daya manusia, sarana dan prasarana.
2. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan
strategi DOTS.
3. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah
terhadap program penanggulangan TB.
4. Pengembangan strategi DOTS untuk peningkatan mutu
pelayanan, kemudahan akses, penemuan dan pengobatan
sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya TB-MDR.
5. Penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh sarana
pelayanan kesehatan, meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Umum
Pemerintah dan Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Besar
Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM), Balai Kesehatan Paru
Masyarakat (BKPM), Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru

18
(BP4), dan Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktik Swasta
(DPS).
6. Pengembangan pelaksanaan program penanggulangan TB di
tempat kerja (TB in workplaces), Lembaga Pemasyarakatan dan
Rumah Tahanan (TB in prison), TNI dan POLRI.
7. Program penanggulangan TB dengan pendekatan program
DOTS Plus (MDR), Kolaborasi TB-HIV, PAL (Practical
Approach to Lung Health), dan HDL (Hospital DOTS
Linkages).
8. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi,
penggalangan kerja sama/kemitraan dengan lintas program dan
sektor terkait, pemerintah dan swasta dalam wadah Gerakan
Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB).
9. Peningkatan kemampuan laboratorium TB di berbagai tingkat
pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan
jejaring.
10. Menjamin ketersediaan Obat Anti TB (OAT) untuk
penanggulangan TB dan diberikan kepada pasien secara cuma-
cuma.
11. Menjamin ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten
dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan
mempertahankan kinerja program.
12. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok
miskin dan kelompok rentan terhadap TB.
13. Menghilangkan stigma masyarakat terhadap Pasien TB agar
tidak dikucilkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.
14. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam
MDGs.

19
2.2.2 Sejarah Program

Berdasarkan sejarahnya, program pengendalian


Tuberkulosis (TB) di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak
zaman penjajahan Belanda, namun masih terbatas pada kelompok
tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui
Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Sejak tahun 1969,
pengendalian dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Obat
anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH,
PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Asam Para
Amino Salisilat (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Sejak
1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari
INH, Rifampisin, Pirazinamid dan Ethambutol selama 6 bulan
(Kemenkes RI, 2011).

Pada awal tahun 1990-an, WHO dan IUATLD


(International Union Against Tuberculosis and Lung Disease)
mengembangkan strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai
strategi DOTS (Dircetly Observed Treatment Short-course).
Strategi DOTS ini terdiri dari 5 komponen kunci (Kemenkes RI,
2103), yaitu:
1) Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan
pendanaan.
2) Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang
terjamin mutunya.
3) Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi
pasien.
4) Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.
5) Sistem monitoring pencatatan dan pelaporan yang mampu
memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan
kinerja program.

20
Menurut Kemenkes RI (2011), WHO telah
merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam
pengendalian TB sejak tahun 1995. Kemudian sejak tahun 2000,
strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh fasilitas
pelayanan kesehatan terutama Puskesmas yang diintegrasikan
dalam pelayanan kesehatan dasar. Fokus utama strategi DOTS ini
adalah penemuan dan penyembuhan pasien, dengan prioritas
diberikan kepada pasien TB tipe menular.

2.2.3 Tujuan Program

Suatu program dikatakan baik apabila memiliki tujuan yang


jelas dan operasional. Manfaat rumusan tujuan operasional
program adalah sebagai berikut (Muninjaya, 2004).
1. Pimpinan akan lebih mudah mengetahui apakah staf telah
melaksanakan tugasnya sesuai dengan agenda keguatan.
Keberhasilan proses manajemen dapat diukur dengan
menghitung tingkat efektivitas kegiatan staf dan efisiensi
penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan program.
2. Jika terjadi kesenjangan antara tujuan/target yang telah
ditetapkan sebagai standar unjuk kerja (standard performance)
dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai (cakupan
program), pimpinan harus melakukan analisis lebih lanjut.
Bandingkan standar dengan hasil yang telah dicapai, analisis
faktor penyebab atau kendala di lapangan terutama yang
bersumber pada kelemahan staf dan manajemen pelaksanaan
program. Demikian pula dengan kendala yang bersumber dari
partisipasi masyarakat.

21
Menurut Kemenkes RI (2011), tujuan yang akan dicapai
ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu.
Tujuan ini dibedakan menjadi :
1. Tujuan Umum, biasanya cukup satu dan tidak terlalu
spesifik.
2. Tujuan khusus, penjabaran dari tujuan umum yang
dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih
spesifik dan terukur.

Di dalam buku pedoman pengendalian penyakit


tuberkulosis, diketahui bahwa tujuan dari program
pengendalian penyakit tuberkulosis adalah menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian
tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2011).

2.2.4 Sasaran Program

Sasaran adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan


digarap oleh program yang ingin direncanakan. Menurut
Notoatmodjo (2004), sasaran program kesehatan biasanya terbagi
menjadi dua, yakni:
1) Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenal oleh
program.
2) Sasaran tidak langsung, yaitu kelompok yang menjadi sasaran
antara program tersebut, namun berpengaruh sekali terhadap
sasaran langsung.

Menurut Kemenkes RI (2011), sasaran strategi nasional


pengendalian TB mengacu pada rencana strategis kementerian
kesehatan dari 2009 sampai dengan tahun 2014 yaitu menurunkan

22
prevalensi TB dari 235 per 100.000 penduduk menjadi 224 per
100.000 penduduk. Sasaran keluaran adalah:
(1) meningkatkan prosentase kasus baru TB paru (BTA positif)
yang ditemukan dari 73% menjadi 90%;
(2) meningkatkan prosentase keberhasilan pengobatan kasus baru
TB paru (BTA positif) mencapai 88%;
(3) meningkatkan prosentase provinsi dengan CDR di atas 70%
mencapai 50%;
(4) meningkatkan prosentase provinsi dengan keberhasilan
pengobatan di atas 85% dari 80% menjadi 88%.

2.2.5 Strategi Program

Menurut Mintzberg, strategi adalah pola (strategy is


patern) yang selanjutnya disebut sebagai “ intended strategy”
karena belum terlaksana dan berorientasi ke masa depan. Selain itu,
strategi program bisa disebut juga sebagai “realized strategy” karena
telah dilakukan oleh organisasi. Berikut ini adalah beberapa kegiatan
dalam pembuatan strategi (Suryana, 2010).

1. Pengembangan visi, misi, dan tujuan jangka panjang


2. Mengidentifikasi peluang dan ancaman dari luar serta kekuatan
dan kelemahan dari dalam organisasi
3. Mengembangkan alternatif strategi
4. Penentuan strategi yang paling sesuai untuk diadopsi

Menurut Kemenkes RI (2011), strategi nasional program


pengendalian TB di Indonesia terdiri dari 7 strategi, yaitu:
1) Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang
bermutu

23
2) Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan
kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya
3) Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah,
masyarakat (sukarela), perusahaan dan swasta melalui
pendekatan Public-Private Mix dan menjamin kepatuhan
terhadap International Standards for TB Care
4) Memberdayakan masyarakat dan pasien TB
5) Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
dan manajemen program pengendalian TB
6) Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap
program TB
7) Mendorong penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan
informasi strategis.

2.2.6 Organisasi Pelaksana Program

Organisasi adalah sarana untuk melakukan kerja sama antara


orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama dengan
mendayagunakan sumber daya yang dimiliki (Satrianegara, 2009).
Menurut Kemenkes RI (2011), organisasi pelaksana program
pengendalian penyakit tuberkulosis terdiri dari beberapa aspek,
yaitu:

1. Aspek manajemen program


a. Tingkat Pusat
Upaya pengendalian TB dilakukan melalui Gerakan
Terpadu Nasional Pengendalian Tuberkulosis (Gerdunas-
TB) yang merupakan forum kemitraan lintas sektor
dibawah koordinasi Menko Kesra. Menteri Kesehatan R.I.
sebagai penanggung jawab teknis upaya pengendalian TB.
Dalam pelaksanaannya program TB secara Nasional
dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian

24
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, cq. Sub Direktorat
Tuberkulosis.
b. Tingkat Propinsi
Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi
yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Bentuk
dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan
daerah. Dalam pelaksanaan program TB di tingkat propinsi
dilaksanakan Dinas Kesehatan Propinsi.
c. Tingkat Kabupaten/Kota
Di tingkat kabupaten/kota dibentuk Gerdunas-TB
kabupaten/kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim
Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan
kebutuhan kabupaten/kota. Dalam pelaksanaan program
TB di tingkat Kabupaten/kota dilaksanakan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.

2. Aspek Tatalaksana pasien TB


Aspek tatalaksana pasien TB dilaksanakan oleh
Puskesmas, Rumah Sakit, BP4/Klinik dan Dokter Praktek
Swasta.

2.2.7 Pokok Kegiatan Program

Pokok – pokok kegiatan program TB dengan strategi DOTS


menurut Kemenkes RI (2011) dan Depkes RI (2009) adalah sebagai
berikut.

1. Tatalaksana Pasien TB, yaitu terdiri dari:


a. Penemuan Tersangka TB
Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek,
diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien.

25
Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam
kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan
penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan
dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB,
penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan
kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di
masyarakat.

b. Diagnosis
Penegakan diagnosis TB terbagi menjadi dua yaitu,
diagnosis TB Paru dan diagnosis TB Ekstra Paru.
Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan
bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik,
misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto
toraks dan lain-lain.

c. Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan
rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman
terhadap OAT.

2. Manajemen Program, yang terdiri dari:


A. Perencanaan
Menurut Kemenkes RI (2011), perencanaan
merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sistematis untuk
menyusun rencana berdasarkan kajian rinci tentang
keadaan masa kini dan perkiraan keadaan yang akan
muncul di masa mendatang berdasarkan fakta dan bukti.
Pada dasarnya rencana adalah alat manajemen yang
berfungsi membantu organisasi atau program agar dapat

26
berkinerja lebih baik dan mencapai tujuan secara lebih
efektif dan efisien.
Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya
rencana program, tetapi proses ini tidak berhenti di sini saja
karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau
agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan
ulang untuk perbaikan program. Perencanaan merupakan
suatu siklus yang meliputi:
A) Pengumpulan data, yang meliputi:
(a) Data Umum, yaitu data geografi dan demografi
(penduduk, pendidikan, sosial budaya, ekonomi)
serta data lainnya (jumlah fasilitas kesehatan,
organisasi masyarakat). Data ini diperlukan untuk
menetapkan target, sasaran dan strategi operasional
lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi
masyarakat.
(b) Data Program, yang meliputi data tentang beban
TB, pencapaian program (penemuan pasien,
keberhasilan diagnosis, keberhasilan pengobatan),
resistensi obat serta data tentang kinerja institusi
lainnya. Data ini diperlukan untuk dapat menilai
apa yang sedang terjadi, sampai di mana kemajuan
program, masalah apa yang dihadapi dan rencana
apa yang akan dilakukan.
(c) Data Sumber Daya, yang meliputi data tentang
tenaga (man), dana (money), logistik (material), dan
metodologi yang digunakan (method). Data ini
diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-
sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat
menyusun program secara rasional, sesuai dengan
kemampuan tiap-tiap daerah. Di samping untuk

27
perencanaan, data tersebut dapat dimanfaatkan
untuk berbagai hal seperti advokasi, diseminasi
informasi serta umpan balik.

B) Analisa situasi

Analisis situasi dapat meliputi analisis terhadap


lingkungan internal program (kekuatan dan kelemahan)
dan analisis lingkungan eksternal program (peluang dan
ancaman). Dari analisis ini kita dapat menyusun isu-isu
strategis, termasuk di dalamnya identifikasi masalah.
Identifikasi masalah dimulai dengan melihat
adanya kesenjangan antara pencapaian dengan
target/tujuan yang ditetapkan. Dari kesenjangan yang
ditemukan, dicari masalah dan penyebabnya. Untuk
memudahkan, masalah tersebut dikelompokkan dalam
input dan proses, agar tidak ada yang tertinggal dan
mempermudah penetapan prioritas masalah dengan
berbagai metode yang ada seperti metode “tulang ikan”
(fish bone analysis), pohon masalah dan log frame.
Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man, money,
material, method, dan market).

C) Menetapkan masalah prioritas dan pemecahannya


Pemilihan masalah harus dilakukan secara
prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang
tersedia, karena dengan menentukan masalah yang akan
menjadi prioritas maka seluruh sumber daya akan
dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. Hal-
hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih
prioritas, antara lain :

28
a) Daya ungkitnya tinggi, artinya bila masalah itu
dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga.
b) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility),
artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan.

Dengan memperhatikan masalah prioritas dan


tujuan yang ingin dicapai, dapat diidentifikasi beberapa
alternatif pemecahan masalah. Dalam menetapkan
pemecahan masalah, perlu ditetapkan beberapa
alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi
pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai
pemecahan masalah yang paling baik. Pemilihan
pemecahan masalah harus mempertimbangkan
pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit
terbesar, sesuai dengan sumber daya yang ada dan
dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang
ditetapkan.

D) Menetapkan tujuan, sasaran, indikator


Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar
kurun waktu dan kemampuan tertentu. Tujuan dapat
dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu
spesifik. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa
tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur.
Beberapa syarat yang diperlukan dalam
menetapkan tujuan antara lain (SMART):
a) Terkait dengan masalah (Spesific)
b) Terukur (Measurable)
c) Dapat dicapai (Achievable)
d) Relevan, rasional (Realistic)
e) Memiliki target waktu (Timebound).

29
E) Menyusun rencana kegiatan penganggaran
Tujuan jangka menengah dan jangka panjang
tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah
yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas.
Oleh sebab itu, perlu ditetapkan prioritas pengembangan
program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS.
Untuk itu, implementasi pengembangan program
dilakukan secara bertahap, dengan prinsip efektifitas
dan efisiensi, yaitu :

a) Mempertahankan Mutu, mencakup segala aspek


mulai dari penemuan, diagnosis pasien, pengobatan
dan penanganan pasien (case holding), sampai pada
pencatatan pelaporan. Masing-masing aspek
tersebut, perlu dinilai semua unsurnya, apakah
sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
b) Pengembangan Wilayah, didasarkan pada:
1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien
TB BTA Positif
2) Daya ungkit : Jumlah penduduk, kepadatan
penduduk dan tingkat sosial-ekonomi
masyarakat.
3) Kesiapan : Tenaga, sarana dan kemitraan.

F) Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi


Dalam perencanaan perlu disusun rencana
pemantauan dan evaluasi. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan
evaluasi meliputi:
a) Jenis-jenis kegiatan dan indikator,
b) Cara pemantauan,

30
c) Pelaksana (siapa yang memantau),
d) Waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan /
triwulan / tahunan).
e) Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan
evaluasi.

B. Surveilans

Salah satu komponen penting dari survailans yaitu


pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan
data untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan
disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Data yang
dikumpulkan pada kegiatan survailans harus valid (akurat,
lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam
pengolahan dan analisis. Data program TB dapat diperoleh
dari pencatatan di semua sarana pelayanan kesehatan
dengan satu sistem baku. Formulir-formulir yang
dipergunakan dalam pencatatan TB di:

1) Sarana Pelayanan Kesehatan


Sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas, Rumah
Sakit, BP4, klinik dan dokter praktek swasta dll)
dalam melaksanakan pencatatan menggunakan
formulir:
a) Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa
dahak SPS (TB.06).
b) Formulir permohonan laboratorium TB untuk
pemeriksaan dahak (TB.05).
c) Kartu pengobatan pasien TB (TB.01).
d) Kartu identitas pasien TB (TB.02).
e) Register TB sarana pelayanan kesehatan (TB.03
sarana pelayanan kesehatan)

31
f) Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09)
g) Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB
pindahan (TB.10).
h) Register Laboratorium TB (TB.04).

Khusus untuk dokter praktek swasta,


penggunaan formulir pencatatan TB dapat
disesuaikan selama informasi survailans yang
dibutuhkan tersedia.

2) Di Kabupaten/Kota
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menggunakan
formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut:
a) Register TB Kabupaten (TB.03)
b) Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan
Pasien TB (TB.07)
c) Laporan Triwulan Hasil Pengobatan (TB.08)
d) Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir
Tahap Intensif (TB.11)
e) Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji Silang
dan Analisis Hasil Uji silang Kabupaten (TB.12)
f) Laporan OAT (TB.13)
g) Data Situasi Ketenagaan Program TB
h) Data Situasi Public-Private Mix (PPM) dalam
Pelayanan TB

3) Di Provinsi
Provinsi menggunakan formulir pencatatan dan
pelaporan sebagai berikut:
a) Rekapitulasi Penemuan dan Pengobatan Pasien
TB per kabupaten/kota.

32
b) Rekapitulasi Hasil Pengobatan per
kabupaten/kota.
c) Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per
kabupaten/kota.
d) Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang provinsi per
kabupaten/kota.
e) Rekapitulasi Laporan OAT per kabupaten/ kota.
f) Rekapitulasi Data Situasi Ketenagaan Program
TB.
g) Rekapitulasi Data Situasi Public-Private Mix
(PPM) dalam Pelayanan TB

C. Pengembangan Sumber Daya Manusia


Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia)
dalam program TB bertujuan untuk menyediakan tenaga
pelaksana program yang memiliki keterampilan,
pengetahuan dan sikap yang diperlukan dalam pelaksanaan
program TB, dengan jumlah yang memadai pada tempat
yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu
menunjang tercapainya tujuan program TB nasional.
Pengembangan SDM ini, meliputi:
1) Standar Ketenagaan
Ketenagaan dalam program penanggulangan TB
memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan
minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk
terselenggaranya kegiatan program TB, yaitu:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan, terdiri dari:
(1) Puskesmas
a) Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan
Puskesmas Pelaksana Mandiri :

33
minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri
dari 1 dokter, 1 perawat/petugas TB, dan 1
tenaga laboratorium.
b) Puskesmas satelit : minimal tenaga
pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1
perawat/petugas TB.
c) Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal
tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1
perawat/petugas TB.
(2) Rumah Sakit Umum Pemerintah
a) RS kelas A : kebutuhan minimal tenaga
pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter, 3
perawat/petugas TB, dan 1 tenaga
laboratorium.
b) RS kelas B : kebutuhan minimal tenaga
pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter, 3
perawat/petugas TB, dan 1 tenaga
laboratorium.
c) RS kelas C : kebutuhan minimal tenaga
pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter, 2
perawat/petugas TB, dan 1 tenaga
laboratorium.
d) RS kelas D, RSTP dan B/BKPM :
kebutuhan minimal tenaga pelaksana
terlatih terdiri dari 2 dokter, 2
perawat/petugas TB, dan 1 tenaga
laboratorium.
(3) RS swasta : menyesuaikan.
(4) Dokter Praktek Swasta, minimal telah dilatih

34
b. Tingkat Kabupaten/Kota
(1) Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan,
jumlah tergantung beban kerja yang secara
umum ditentukan jumlah puskesmas, RS dan
Fasyankes lain diwilayah kerjanya serta tingkat
kesulitan wilayahnya. Secara umum seorang
supervisor membawahi 10 - 20 Fasyankes.
Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20
Fasyankes dapat memiliki lebih dari seorang
supervisor.
(2) Gerdunas-TB/Tim DOTS/Tim TB, dan lain-
lainnya, jumlah tergantung kebutuhan.

c. Tingkat Provinsi
(1) Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas
Kesehatan, jumlah tergantung beban kerja yang
secara umum ditentukan jumlah Kab/Kota
diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan
wilayahnya. Secara umum seorang supervisor
membawahi 10-20 kabupaten/kota. Bagi
wilayah yang memiliki lebih dari 20
kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari
seorang supervisor.
(2) Koordinator DOTS RS yang bertugas
mengkoordinir dan membantu tugas supervisi
program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan
kebutuhan.
(3) Gerdunas-TB/Tim DOTS/Tim TB, dan lain-
lainnya, jumlah tergantung kebutuhan.
(4) Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan, 5
fasilitator pelatihan.

35
2) Pelatihan
Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan
pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas dalam
rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas.
Konsep pelatihan dalam program TB, terdiri dari:
(a) Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service
training), yaitu dengan memasukkan materi
program penanggulangan tuberkulosis strategi
DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi
pendidikan tenaga kesehatan. (Fakultas Kedokteran,
Fakultas Keperawatan, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Farmasi dan lain-lain).
(b) Pelatihan dalam tugas (in service training), yang
terdiri dari pelatihan dasar program TB (initial
training in basic DOTS implementation), pelatihan
penuh, pelatihan ulangan (retraining), pelatihan
penyegaran, dan On the job training (pelatihan di
tempat tugas/refresher) serta pelatihan lanjutan
(continued training/advanced training.

3) Supervisi
Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk
meningkatkan kinerja petugas dengan
mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas
yang dilakukan secara langsung. Kegiatan yang
dilakukan selama supervisi adalah observasi, diskusi,
bantuan teknis, bersama-sama mendiskusikan
permasalahan yang ditemukan, mencari pemecahan
permasalahan bersama-sama, memberikan laporan
berupa hasil temuan serta memberikan rekomendasi
dan saran perbaikan.

36
D. Manajemen Laboratorium

Manajemen laboratorium TB meliputi beberapa


aspek yaitu; organisasi pelayanan laboratorium TB, sumber
daya laboratorium, kegiatan laboratorium, pemantapan
mutu laboratorium TB, keamanan dan kebersihan
laboratorium, dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi.

Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu:


1. Pemantapan Mutu Internal (PMI), yaitu
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
3. Peningkatan Mutu (Quality Improvement),
terintegrasi dalam PMI dan PME

E. Manajemen Logistik

Pengelolaan logistik meliputi fungsi perencanaan,


pengadaan, penyimpanan distribusi dan penggunaan.
Siklus ini akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh
suatu dukungan manajemen yang meliputi
organisasi,pendanaan, sistem informasi, sumber daya
manusia, dan jaga mutu. Jenis logistik program terdiri dari:
1) Logistik Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
2) Logistik Non Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

F. Monitoring dan Evaluasi

Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu


fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan
program (Notoatmodjo, 2007). Pemantauan dilaksanakan
secara berkala dan terus menerus, untuk dapat segera
mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan
yang telah direncanakan, supaya dapat dilakukan tindakan

37
perbaikan segera. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-
waktu (interval) lebih lama, biasanya setiap 6 bulan sampai
dengan 1 tahun. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana
tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai.
Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan
indikator. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan
perencanaan dan pengembangan program(Kemenkes RI,
2011).

Masing-masing tingkat pelaksana program


(fasyankes, Kabupaten/Kota, Propinsi, dan Pusat)
bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan
pada wilayahnya masing-masing. Seluruh kegiatan harus
dimonitor baik dari aspek masukan (input), proses, maupun
keluaran (output). Cara pemantauan dilakukan dengan
melaksanakan menelaah laporan, pengamatan langsung dan
wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan
masyarakat sasaran (Kemenkes RI, 2011).

G. Kegiatan Penunjang, terdiri dari:


1. Promosi
Promosi yang dilakukan oleh program
pengendalian penyakit TB terdiri dari:
a) Advokasi, diarahkan untuk menghasilkan
kebijakan yang mendukung upaya pengendalian
TB. Kebijakan yang dimaksud disini dapat
mencakup peraturan perundangundangan di
tingkat nasional maupun kebijakan daerah seperti
Peraturan Daerah (PERDA), Surat Keputusan
Gubernur, Bupati/Walikota, Peraturan Desa,dan
lain sebagainya.

38
b) Komunikasi, strategi komunikasi yang dilakukan
salah satunya adalah meningkatkan keterampilan
konseling dan komunikasi petugas maupun kader
TB melalui pelatihan.
c) Mobilisasi Sosial, merupakan strategi
membangkitkan keinginan masyarakat, secara
aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial
di antara pengambil kebijakan untuk
menanggulangi TB.

2. Kemitraan
Kemitraan program penanggulangan TB
merupakan upaya untuk melibatkan berbagai sektor,
baik dari pemerintah, legislatif, swasta, perguruan
tinggi/kelompok akademisi, kelompok organisasi
masyarakat (organisasi pengusaha dan organisasi
pekerja, kelompok media massa, organisasi profesi,
LSM, organisasi keagamaan, organisasi internasional)
dalam upaya percepatan penanggulangan TB secara
efektif, efisien dan berkesinambungan. Kemitraan TB
dilaksanakan dengan prinsip kesetaraan, keterbukaan
dan saling menguntungkan.

3. Penelitian
Penelitian di bidang TB diperlukan untuk
menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-
kegiatan untuk mencapai tujuan penanggulangan TB.
Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian
operasional dan penelitian ilmiah (scientific).
Penelitian operasional TB didefinisikan sebagai
penilaian atau telaah terhadap unsur-unsur yang

39
terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-
kegiatan yang berada dalam kendali manajemen
program TB. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam
penelitian operasional TB antara lain meliputi sumber
daya, akses pelayanan kesehatan, pengendalian mutu
pelayanan, keluaran dan dampak yang bertujuan untuk
meningkatkan kinerja program penanggulangan
nasional TB.
Sedangkan penelitian operasional dapat dibagi
atas dua jenis yaitu penelitian observasional dimana
tidak ada manipulasi variabel bebas dan penelitian
eksperimental yang diikuti dengan tindakan/intervensi
terhadap variabel bebas. Penelitian observasional
bertujuan menentukan status atau tingkat masalah,
tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta
membuat hipotesis peningkatan kinerja program.
Penelitian eksperimental melakukan intervensi
terhadap input dan proses guna meningkatkan kinerja
program. Banyak penelitian telah dilaksanakan
berbagai pihak, namun kegunaanya jauh dari
kepentingan program dan sulit diterapkan. Hal ini
terjadi karena aspek yang diteliti tidak searah dengan
permasalahan yang dihadapi oleh program.

2.2.8 Indikator Program

Menurut Green (1992), indikator adalah variabel – variabel


yang mengindikasikan atau memberikan petunjuk tentang suatu
keadaan tertentu sehingga dapat digunakan untuk mengukur
perubahan (Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

40
RI, 2008). Ada beberapa indikator yang digunakan dalam rangka
pengendalian penyakit TB (Kemenkes RI, 2011), yaitu:

a) Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif (Case Detection


Rate = CDR)
Adalah prosentase jumlah pasien baru BTA positif yang
ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA
positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case
Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru
BTA positif pada wilayah tersebut.
Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh
berdasarkan perhitungan angka insidens kasus TB paru BTA
positif dikali dengan jumlah penduduk. Target Case Detection
Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal
70%.

b) Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR)


Adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru
TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik
yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien
baru TB paru BTA positif yang tercatat. Dengan demikian
angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan
angka pengobatan lengkap.

c) Angka Penjaringan Suspek


Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara
100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun.
Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien
dalam suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan
kecenderungannya dari waktu ke waktu (triwulan/tahunan).
Fasyankes yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk,

41
misalnya rumah sakit, BP4 atau dokter praktek swasta,
indikator ini tidak dapat dihitung.

d) Proporsi Pasien TB Paru BTA positif di antara suspek yang


diperiksa dahaknya
Adalah prosentase pasien BTA positif yang ditemukan
diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini
menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis
pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.
Angka ini sekitar 5 – 15%. Bila angka ini terlalu kecil
(<5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu
longgar, banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek,
atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif
palsu). Sedangkan bila angka ini terlalu besar (>15%)
kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada
masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).

e) Proporsi Pasien TB Paru BTA positif di antara seluruh pasien


TB paru
Adalah prosentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif
diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Indikator ini
menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang
menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang
diobati. Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Bila
angka ini jauh lebih rendah, itu berarti mutu diagnosis rendah,
dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien
yang menular (pasien BTA Positif).

f) Proporsi pasien TB anak di antara seluruh pasien


Adalah prosentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara
seluruh pasien TB tercatat. Angka ini sebagai salah satu

42
indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis
TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu
besar dari 15%, kemungkinan terjadi overdiagnosis.

g) Angka Notifikasi Kasus (CNR)


Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang
ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu
wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan
menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke
tahun di wilayah tersebut. Angka ini berguna untuk
menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau
menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.

h) Angka Konversi
Adalah prosentase pasien baru TB paru BTA positif yang
mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani
masa pengobatan intensif. Indikator ini berguna untuk
mengetahui secara cepat hasil pengobatan dan untuk
mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat
dilakukan dengan benar. Angka minimal yang harus dicapai
adalah 80%.

i) Angka Kesembuhan
Adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru
TB paru BTA positif yang sembuh setelah selesai masa
pengobatan, di antara pasien baru TB paru BTA positif yang
tercatat. Angka kesembuhan dihitung juga untuk pasien BTA
positif pengobatan ulang dengan tujuan:
(a) Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kekebalan
terhadap obat terjadi di komunitas, hal ini harus dipastikan
dengan surveilans kekebalan obat.

43
(b) Untuk mengambil keputusan program pada pengobatan
menggunakan obat baris kedua (second-line drugs).
(c) Menunjukan prevalens HIV, karena biasanya kasus
pengobatan ulang terjadi pada pasien dengan HIV.

j) Angka Kesalahan Laboratorium (Error rate)


Adalah angka kesalahan laboratorium yang menyatakan
prosentase kesalahan pembacaan slide/ sediaan yang dilakukan
oleh laboratorium pemeriksa pertama setelah di uji silang
(cross check) oleh BLK atau laboratorium rujukan lain. Angka
kesalahan baca sediaan (error rate) ini hanya bisa ditoleransi
maksimal 5%.
Apabila error rate = 5 % dan positif palsu serta negatif
palsu keduanya < 5% berarti mutu pemeriksaan baik. Error rate
ini menjadi kurang berarti bila jumlah slide yang di uji silang
(cross check) relatif sedikit. Pada dasarnya error rate dihitung
pada masingmasing laboratorium pemeriksa, di tingkat
kabupaten/kota. Kabupaten/kota harus menganalisa berapa
persen laboratorium pemeriksa yang ada diwilayahnya
melaksanakan cross check, disamping menganalisa error rate
per PRM/PPM/RS/BP4, supaya dapat mengetahui kualitas
pemeriksaan slide dahak secara mikroskopis langsung.

44
BAB III

ALUR DAN JADWAL KEGIATAN MAGANG

3.1. Alur Kegiatan

Bagan 3.1 Alur Kegiatan Magang

• Pembuatan Proposal Magang


• Pengajuan permohonan magang ke pihak Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan
• Konfirmasi ulang ke pihak institusi magang
Tahap Persiapan
• Penentuan pembimbing lapangan oleh pihak institusi magang

• Melaksanakan kegiatan magang mulai tanggal 11 Februari - 21 Maret


2014
• Mengikuti alur kerja institusi magang
• Melakukan pengumpulan data yang diperlukan untuk laporan
meliputi:
• Gambaran umum Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun
2013
Tahap
• Laporan tahunan program pengendalian tuberkulosis tahun 2013
Pelaksanaan • Gambaran proses pelaksanaan program pengendalian tuberkulosis
tahun 2013
• Gambaran output program pengendalian tuberkulosis tahun 2013
• Melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing akademik dan
pembimbing lapangan

• Melakukan penyusunan laporan magang dibimbing oleh pembimbing


Tahap Evaluasi akademik dan pembimbing lapangan
dan Presentasi • Presentasi laporan magang yang dihadiri oleh tim penguji yang terdiri
Laporan atas pembimbing akademik, pembimbing lapangan, dan seorang
penguji lain yang ditunjuk oleh panitia magang.

45
Berdasarkan bagan 3.1 diketahui bahwa kegiatan magang
dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan
dan tahap evaluasi dan prensentasi laporan. Melalui kegiatan magang ini,
diharapkan dapat diperoleh gambaran pelaksanan program pengendalian
penyakit tuberkulosis di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Seksi
Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis.

3.2. Jadwal Kegiatan Magang

Berikut ini adalah jadwal kegaiatan magang yang telah


dilaksanakan oleh penulis selama magang di Seksi Program Pengendalian
Penyakit Bidang Program Pengendalian Tuberkulosis di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan tahun 2014.

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Magang di Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan tahun 2014
No. Hari dan Tanggal Kegiatan Tempat
1. Selasa Memperkenalkan diri ke Dinkes
11 Februari 2014 Kepala seksi P2P Dinkes Tangsel
Tangsel
2. Rabu Memperkenalkan diri ke staf Dinkes
12 Februari 2014 P2P dan Surimun Dinkes Tangsel
Tangsel
3. Kamis Mengumpulkan data terkait Dinkes
13 Februari 2014 tuberkulosis Tangsel
4. Jumat Melakukan diskusi terkait TB Dinkes
14 Februari 2014 Paru dan mengumpulkan data Tangsel
5. Senin Melakukan diskusi terkait Dinkes
17 Februari 2014 indikator TB Paru dan Tangsel
menyusun laporan
6. Selasa Melakukan diskusi terkait Dinkes

46
18 Februari 2014 indikator TB Paru Tangsel
7. Rabu Melakukan diskusi terkait Dinkes
19 Februari 2014 pemeriksaan laboratorium TB Tangsel
8. Kamis Melakukan kunjungan dalam LSM
20 Februari 2014 rangka monitoring dan Aisyiyah
evaluasi kader Community
TB care.
9. Jumat Melakukan diskusi terkait Dinkes
21 Februari 2014 analisis penemuan kasus TB Tangsel
di Banten dan Tangsel
10. Senin Melakukan diskusi terkait Dinkes
24 Februari 2014 faktor-faktor yang Tangsel
mempengaruhi penemuan
kasus TB BTA positif
11. Selasa Melakukan izin pengambilan Dinkes
25 Februari 2014 data surveilans ke kepala Tangsel
seksi Surveilans dan
Imunisasi Dinkes Tangsel
12. Rabu Melakukan kunjungan LSM
26 Februari 2014 pelatihan kader PMO Aisyiyah
Community TB Care
13. Kamis Melakukan kunjungan LSM
27 Februari 2014 pelatihan kader PMO Aisyiyah
Community TB Care
14. Jumat Menyusun laporan, Dinkes
28 Februari 2014 mengumpulkan data, dan Tangsel
menganalisis indikator
pencapaian program
15. Senin Mengikuti kegiatan PKM.
3 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Pamulang

47
koreksi laporan data TB 01
dan TB 06
16. Selasa Mengikuti kegiatan PKM.
4 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Pondok
koreksi laporan data TB 01 Betung dan
dan TB 06 PKM.
Jurangmang
u
17. Rabu Mengikuti kegiatan PKM.
5 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Pondok
koreksi laporan data TB 01 Aren dan
dan TB 06 Pondok
Pucung
18. Kamis Mengikuti kegiatan PKM.
6 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Pondok
koreksi laporan data TB 01 Kacang
dan TB 06 Timur dan
PKM.
Parigi
19. Jumat Mengikuti kegiatan PKM. Rawa
7 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Buntu,
koreksi laporan data TB 01 Klinik
dan TB 06 Rahma
Medika, dan
Klinik PT.
Pratama
20. Senin Mengikuti kegiatan PKM.
10 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Benda Baru
koreksi laporan data TB 01 dan RSUD
dan TB 06 Tangsel

48
21. Selasa Mengikuti kegiatan PKM.
11 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Pondok
koreksi laporan data TB 01 Ranji dan
dan TB 06 PKM.
Rengas
22. Rabu Mengikuti kegiatan dan PKM.
12 Maret 2014 menjadi fasilitator bimbingan Pondok
software SITT dan koreksi Jagung dan
laporan data TB 01 dan TB PKM. Paku
06 Alam
23. Kamis Mengikuti kegiatan dan PKM.
13 Maret 2014 menjadi fasilitator bimbingan Ciputat
software SITT dan koreksi Timur dan
laporan data TB 01 dan TB PKM.
06 Pisangan
24. Jumat Mengikuti kegiatan dan PKM.
14 Maret 2014 menjadi fasilitator bimbingan Ciputat dan
SITT dan koreksi laporan PKM.
data TB 01 dan TB 06 Kampung
Sawah
25. Senin Mengikuti kegiatan dan PKM. Situ
17 Maret 2014 menjadi fasilitator bimbingan Gintung dan
SITT dan koreksi laporan PKM.
data TB 01 dan TB 06 Jombang
26. Selasa Mengikuti kegiatan dan PKM.
18 Maret 2014 menjadi fasilitator bimbingan Serpong I
software SITT dan koreksi dan PKM.
laporan data TB 01 dan TB Serpong II
06
27. Rabu Mengikuti kegiatan PKM.

49
19 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Kranggan
koreksi laporan data TB 01 dan PKM.
dan TB 06 Setu
28. Kamis Mengikuti kegiatan PKM.
20 Maret 2014 bimbingan software SITT dan Bhakti Jaya
koreksi laporan data TB 01 dan PKM.
dan TB 06 Pondok
Benda
29. Jumat Mengikuti kegiatan supervisi PKM.
21 Maret 2014 dari Dinkes Provinsi Banten Ciputat
dan Kemenkes RI

Dari tabel 3.1 diketahui bahwa kegiatan magang paling sering dilakukan di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2014 adalah kegiatan bimbingan
software SITT dan koreksi laporan data TB 01 dan TB 06 di 29 fasilitas pelayanan
kesehatan di Kota Tangerang Selatan sesuai dengan lampiran 1.2.

50
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan

Berdasarkan PP No. 8 tahun 2003 pasal 9, Dinas Kesehatan Daerah


Kabupaten/Kota merupakan unsur pelaksana kesehatan Kabupaten/Kota
yang dipimpin oleh seorang kepala dan bertanggung jawab kepada
Bupati/Walikota melalui sekretaris daerah (Murti,dkk., 2006). Dalam
pelaksanaannya, Dinas Kesehatan ini memiliki kewenangan desentralisasi
di bidang kesehatan dengan fungsi perumusan kebijakan teknis kesehatan,
pemberian perizinan dan pelaksanaan kesehatan, serta pembinaan terhadap
UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) kesehatan (Depkes RI, 2004).

Secara umum, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah


suatu unsur pelaksana keseahatan yang berada di bawah pemerintahan
Kota Tangerang Selatan. Sebenarnya Kota Tangerang Selatan sendiri
merupakan daerah otonom yang terbentuk pada akhir tahun 2008
berdasarkan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan
Kota Tangerang Selatan di Propinsi Banten tertanggal 26 November 2008.
Pembentukan daerah otonom baru ini dilakukan dengan tujuan
meningkatkan pelayanan dalam bidang kesehatan (Dinkes Tangsel, 2012).

4.1.1. Visi

Menurut Aditya (2010), visi adalah suatu pandangan jauh


tentang organisasi perusahaan, tujuan – tujuan organisasi atau
perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut pada masa yang akan datang. Beberapa persyaratan yang
hendaknya dipenuhi oleh suatu pernyataan visi:

51
1. Berorientasi ke depan.
2. Tidak dibuat berdasarkan kondisi saat ini.
3. Mengekspresikan kreatifitas.
4. Berdasar pada prinsip nilai yang mengandung penghargaan bagi
masyarakat.

Visi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah


”Rakyat Tangerang Selatan Mandiri dalam Hidup Sehat”.

4.1.2. Misi

Misi adalah perrnyataan tentang apa yang harus dikerjakan


oleh lembaga atau organisasi dalam usahanya mewujudkan visi
(Aditya, 2010). Dalam upaya mencapai Visi Pembangunan
Kesehatan di Kota Tangerang Selatan, Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan menetapkan beberapa misi Selatan yaitu :

1) Meningkatkan kemampuan pengetahuan masyarakat dan


tenaga kesehatan.
2) Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan.
3) Meningkatkan kemampuan perlindungan, deteksi dini, dan
penanggulangan penyakit menular dan tidak menular.
4) Meningkatkan jejaring kemitraan di bidang kesehatan.

4.1.3. Keadaan Umum Kota Tangerang Selatan

Kota Tangerang Selatan terletak di bagian timur Provinsi


Banten yaitu pada titik koordinat 106’ 38’ – 106’ 47’ Bujur Timur
dan 06’ 13’ 30 – 06’ 22’ 30’ Lintang Selatan. Secara
administratif, Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 (tujuh)
kecamatan, 49 (empat puluh sembilan) kelurahan dan 5 (lima)
desa dengan luas wilayah 147,19 km2 atau 14.719 Ha.

52
Batas wilayah Kota Tangerang Selatan adalah sebagai
berikut :

 Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta & Kota


Tangerang.
 Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta &
Kota Depok.
 Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor & Kota
Depok.
 Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang.

4.1.4. Wilayah Kerja

Pada awal pembentukan tahun 2009, Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan memiliki cakupan wilayah kerja yang tersebar
di 11 fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Tangerang Selatan.
Kemudian pada beberapa tahun berikutnya, Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan terus mengalami pemekaran hingga sekarang
memiliki cakupan wilayah kerja menjadi 29 fasilitas pelayanan
kesehatan yang terdiri dari 25 puskesmas, 1 Rumah Sakit Umum
Daerah dan 3 klinik swasta (workplaces). Berikut ini adalah
gambaran wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
berdasarkan persebaran puskesmas tahun 2013.

53
Bagan 4.1 Peta Kota Tangerang Selatan tahun 2013

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2013

Berdasarkan bagan 4.1 dapat diketahui bahwa Puskesmas


di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
memiliki 25 Puskesmas terdiri dari 18 Puskesmas Perawatan dan
7 Puskesmas Non Perawatan dan 1 Rumah Sakit Umum Kota
Tangerang Selatan. Puskesmas tersebut tersebar di beberapa
kecamatan, yaitu:

a) Kecamatan Ciputat Timur terdapat 4 puskesmas.


b) Kecamatan Pamulang terdapat 3 puskesmas.
c) Kecamatan Ciputat 4 terdapat puskesmas.
d) Kecamatan Pondok Aren terdapat 6 puskesmas.
e) Kecamatan Serpong Utara terdapat 2 puskesmas.
f) Kecamatan Setu terdapat 3 puskesmas.
g) Kecamatan Serpong terdapat 3 puskesmas.

54
4.1.5. Kependudukan

Berdasarkan data laporan tahunan di Dinas Kesehatan


Kota Tangerang Selatan tahun 2013, diketahui bahwa jumlah
penduduk di Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk di Kota Tangerang Selatan tahun


2013

No Nama Puskesmas Jumlah Penduduk

Setu 21.676
1

2 Kranggan 24.907

3 Bhakti Jaya 25.875

Serpong I 31.008
4

5 Serpong II 38.665

6 Rawa Buntu 80.454

7 Pamulang 161.386

Pondok Benda 39.625


8

9 Benda Baru 112.201

10 Ciputat 58.739

11 Kampung Sawah 66.496

Jombang 52.214
12

13 Situ Gintung 32.846

14 Ciputat Timur 68.844

15 Pisangan 68.725

Pondok Ranji 31.745


16

55
Rengas 26.334
17

18 Pondok Aren 43.376

19 Jurang Mangu 88.956

20 Parigi 28.558

Pondok Betung 81.748


21

22 Pondok Pucung 29.893

23 PondokKacang Timur 59.089

24 Pondok Jagung 61.336

Paku Alam 77.069


25

Kota Tangerang Selatan 1.411.765

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah


penduduk di Kota Tangerang Selatan adalah 1.367.185. Adapun
jumlah penduduk tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas
Pamulang. Sedangkan jumlah penduduk terendah berada di
wilayah kerja Puskesmas Bhakti Jaya.

4.1.6. Sumber Daya Kesehatan

Keberhasilan suatu institusi atau organisasi ditentukan oleh


dua faktor yaitu sumber daya manusia dan sarana prasarana. Dari
kedua faktor tersebut, faktor sumber daya manusia lebih penting
daripada sarana prasana pendukung karena secanggih apapun
fasilitas pendukung yang dimiliki suatu organisasi atau institusi,
tanpa ada sumber daya manusia yang memadai baik kuantitas
maupun kualitas, niscaya organisasi tersebut tidak dapat berhasil
mewujudkan visi dan misi organisasi (Notoatmodjo, 2007). Berikut

56
ini adalah tenaga kesehatan, sarana dan prasarana yang terdapat di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

1. Tenaga Kesehatan

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan,


sumber daya manusia kesehatan merupakan subyek sekaligus
obyek pembangunan kesehatan. Kinerja puskesmas sebagai
ujung tombak pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan sumber daya tenaga kesehatan (Dinkes Tangsel,
2012).
Berdasarkan laporan tahunan 2013, diketahui bahwa
tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
berjumlah 710 orang yang tersebar di setiap Puskesmas. Tenaga
kesehatan tersebut terdiri dari:
1) Bidan sebanyak 247 orang.
2) Dokter umum sebanyak 66 orang.
3) Dokter gigi sebanyak 43 orang.
4) Perawat sebanyak 108 orang.
5) Perawat gigi sebanyak 15 orang.
6) Petugas gizi sebanyak 8 orang.
7) Kesehatan masyarakat sebanyak 6 orang.
8) Kesehatan lingkungan sebanyak 5 orang.
9) Asisten apoteker sebanyak 8 orang.
10) Apoteker sebanyak 3 orang.
11) Analis sebanyak 20 orang.
12) Pshycoterapis sebanyak 4 orang.
13) Non kesehatan sebanyak 177 orang.

Dari penjabaran tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah


tenaga kesehatan yang paling banyak adalah tenaga bidan

57
sedangkan jumlah tenaga kesehatan yang paling sedikit adalah
tenaga apoteker.

2. Sarana dan Prasarana Kesehatan

Berikut ini adalah sarana dan prasarana kesehatan yang


terdapat di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Tabel 4.2 Sarana dan Prasarana Kesehatan di Dinas


Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013

Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah


Rumah Sakit 22
Puskesmas 25
Puskesmas dengan tempat perawatan 7
Puskesmas pembantu 13
Tempat tidur puskesmas perawatan 99
Balai pengobatan swasta 287
Praktek dokter umum swasta 287
Praktek dokter gigi swasta 125
Praktek dokter spesialis 107
Praktek bidan swasta 63
Laboratorium Klinik Swasta 30
Optik 42
Apotik 75
Toko Obat berizin 47
Industri kecil obat tradisional 3
Rumah bersalin swasta 33
Pengobatan tradisional 31
Puskesmas keliling 25

58
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Dari tabel 4.2 diketahui bahwa jenis sarana dan


prasarana yang terbanyak di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan adalah balai pengobatan swasta dan praktek dokter
swasta. Sedangkan jenis sarana dan prasarana yang paling
sedikit adalah industri kecil obat tradisional.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Wasor TB,


diketahui bahwa seluruh puskesmas di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan memiliki kelengkapan
dalam segi pemeriksaan mikroskopis laboratorium. Oleh karena
itu, seluruh puskesmas dikatogerikan sebagai Puskesmas
Pelaksana Mandiri (PPM). Menurut Kemenkes RI (2011), PPM
adalah puskesmas yang memiliki laboratorium mikroskopis TB
yang berguna untuk melakukan pelayanan mikroskopis TB.

4.1.7. Pembiayaan Kesehatan

Menurut Muninjaya (2011), ada empat sumber utama


untuk membiayai pelayanan kesehatan, yaitu:

1. Pemerintah yang berasal dari APBN, APBD provinsi, dan


APBD kanupaten/kota.
2. Swasta, yang berasal dari investasi langsung oleh pihak
swasta.
3. Masyarakat melalui pembayaran langsung atau yang
terhimpun oleh perusahaan asuransi.
4. Hibah atau pinjaman luar negeri.

Berdasarkan laporan tahun 2013, pembiayaan kesehatan di


Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bersumber dari APBD
Kota Tangerang Selatan dan APBN, serta dana hibah dari Global

59
Fund. Berikut adalah sumber pembiayaan kesehatan Kota
Tangerang Selatan.

Tabel 4.3 Sumber Pembiayaan di Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan tahun 2013

No. Sumber Pembiayaan Alokasi Anggaran Kesehatan


Anggaran bersumber dari:
1. APBD Kab/Kota 250.305.182.485
a. Belanja Langsung 224.422.191.950
b. Belanja Tidak Langsung 25.882.990.535
2. APBD Provinsi
3. APBN : 8.192.337.400
Total Anggaran Kesehatan 508.802.702.370

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

4.2. Gambaran Morbiditas dan Mortalitas Penyakit Tuberkulosis di Kota


Tangerang Selatan

Angka kematian dan kesakitan merupakan indeks kesehatan yang


penting untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat (Budiarto, 2002).
Menurut (Timmreck, 2004) morbiditas (kesakitan) adalah derajat sakit,
cedera, atau gangguan pada suatu populasi. Sedangkan mortalitas adalah
istilah yang berarti “kematian”, atau menjelaskan kematian dan isu-isu
yang terkait.

Berdasarkan Depkes RI (2006), untuk mengetahui prediksi


jumlah kasus dalam tahun berjalan, dapat digunakan analisis trend
tahunan, yaitu dengan mempelajari periode peak seasional kasus. Berikut
ini adalah grafik jumlah kasus dan kematian akibat penyakit tuberkulosis
di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota tahun 2009 – 2013.

60
Grafik 4.1 Jumlah Kasus dan Kematian Akibat Penyakit
Tuberkulosis di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2009-2013

Jumlah Kasus dan Kematian Akibat Penyakit


Tuberkulosis di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2009-2013
2000
1852 1825

1500

1183 1228
1094
1000 Jumlah Kasus

500 Jumlah
Kematian

0 18 16 9 44 13
2009 2010 2011 2012 2013

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Dari grafik 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah kasus penyakit TB


mengalami kenaikan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012. Namun
pada tahun 2013, jumlah kasus penyakit TB mengalami penurunan
walaupun tidak terlalu drastis. Hal ini juga sama pada jumlah kematian
akibat penyakit TB di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan. Jumlah kematian ini mengalami kenaikan dari tahun 2011 sampai
dengan tahun 2012. Namun mengalami penurunan di tahun 2013.

Menurut Kemenkes RI (2011), ada beberapa penyebab utama


meningkatnya beban masalah TB, antara lain sebagai berikut.

1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat.


2. Kegagalan program TB selama ini yang diakibatkan oleh tidak
memadainya komitmen politik dan pendanaan, tidak memadainya

61
organisasi pelayanan TB, tidak memadaianya tatalaksana kasus, dan
lain-lain.
3. Perubahan demografi karena meningkatnya penduduk dunia dan
perubahan struktur umur kependudukan.
4. Adanya dampak pandemi dari penyakit HIV.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan


(2014), dari tahun 2009 jumlah penduduk di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan dan mencapai
klimaksnya pada tahun 2012. Oleh karena itu, faktor perubahan demografi
penduduk dapat menjadi suatu indikasi meningkatnya jumlah kasus dan
jumlah kematian akibat TB di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.
Hal tersebut didukung oleh data dari Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan (2014) yang menunjukkan bahwa setiap tahunnya,
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengalami pemekaran wilayah
kerja. Wilayah tersebut teridentifikasi dari cakupan wilayah kerja UPK
(Unit Pelayanan Kesehatan) di Kota Tangerang Selatan. Awal berdiri
(tahun 2009), wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
hanya mencakup 11 UPK. Tahun berikutnya meningkat menjadi 13 UPK
dan pada tahun 2011 menjadi 27 UPK. Kemudian pada tahun 2012
menjadi 28 UPK dan pada tahun 2013 jumlah UPK di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan sebanyak 33 UPK.

4.2.1. Distribusi Penyakit Berdasarkan Orang, Tempat, dan Waktu

Frekuensi dan distribusi masalah kesehatan (khususnya


penyakit) pada umumnya bervariasi menurut karakteristik orang
(person), tempat (place), dan waktu (time) (Bustan, 2006). Berikut
adalah distribusi penyakit tuberkulosis berdasarkan karakteristik
orang, tempat dan waktu

62
a. Orang (Person)
Person adalah karakteristik dari individu yang
mempengaruhi keterpaparan yang mereka dapatkan dan
suskeptibilitasnya terhadap penyakit. Karakteristik dari person
bisa berupa faktor genetik, umur, jenis kelamin, pekerjaan,
kebiasaaan, dan status sosial-ekonomi (Bustan, 2006).
Berdasarkan karakteristik orang, mayoritas penduduk
yang mengalami penyakit tuberkulosis (TB) di wilayah kerja
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan pada tahun 2009 -
2013 adalah laki – laki yaitu sebesar 57%. Kemudian
berdasarkan kategori umur, penyakit ini mayoritas menyerang
orang dewasa yaitu sebesar 25% pada kisaran umur 25 – 34
tahun. Berikut adalah adalah bagan distribusi penyakit TB
berdasarkan kategori jenis kelamin dan umur di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009 - 2013.

Bagan 4.2 Distribusi Penyakit Tuberkulosis menurut Jenis Kelamin dan


Umur di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2009-2013

Distribusi Penyakit Distribusi Penyakit Tuberkulosis


Tuberkulosis menurut Jenis menurut Umur di Dinas Kesehatan Kota
Kelamin di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun 2009 - 2013
Kota Tangerang Selatan tahun
2009 - 2013
4% 5% 5% 0 - 5 tahun
Laki - Laki Perempuan 5 - 14 tahun
10%
13% 20% 15 - 24 tahun
43%
25 - 34 tahun
57% 18% 35 - 44 tahun
25%
45 - 54 tahun
55 - 65 tahun
> 66 tahun

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

63
b. Tempat (Place)

Perbedaan distribusi penyakit menurut tempat


memberikan petunjuk pola perbedaan penyakit yang dapat
menjadi pegangan dalam mencari faktor-faktor lain yang
belum diketahui (Bustan, 2006). Berikut ini adalah distribusi
kasus TB berdasarkan Unit Pelayanan Kesehatan di Wilayah
Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4.2 Distribusi Penyakit Tuberkulosis Berdasarkan Unit Pelayanan


Kesehatan di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2013

400
361
350

300
Jumlah Kasus

250

200

150
96 10094
100 82 88 74 80
63 65 68
53 51 56 50 45 55
31 36 35 36 27 42
50 26 28 29 29
17 8 0 0 0 0 0
0
0
Pondok Kacang…
Pondok Ranji

RS OMNI
Pisangan
Jombang

Setu

Rengas
Pakualam

RSUD Kota Tangsel


Ciputat Timur
Pondok Jagung
Ciputat

LKC

Parigi
PT. Indah Kiat
Jurang Manggu

PT. Pratama
Pondok Benda

Pondok Betung

RS Eka Hospital

RS Medika
Pondok Aren
Pamulang

Situ Gintung

Bhakti Jaya
Serpong I

Kranggan

Serpong II

RS Sari Asih Ciputat


Kampung Sawah

Pondok Pucung
Benda Baru

Premiere Bintaro

Klinik Rahma Medika


Rawa Buntu

Unit Pelayanan Kesehatan


Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

64
Berdasarkan grafik 4.2 diketahui bahwa jumlah kasus
TB terbanyak di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2013 terdapat di RSUD Kota
Tangerang Selatan yaitu sebesar 361 kasus. Sedangkan di
beberapa Rumah Sakit atau Klinik Swasta seperti RS Eka
Hospital, RS Sari Asih Ciputat, RS OMNI, RS Medika dan
Klinik Rahma Medika, tidak ditemukan kasus TB. Menurut
hasil wawancara dengan wasor TB Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan, diketahui bahwa ada kendala dari
pencatatan dan pelaporan kasus TB di Rumah Sakit dan Klinik
Swasta tersebut sehingga data kasus TB tidak terlaporkan ke
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

c. Waktu

Waktu kejadian penyakit dapat dinyatakan dalam jam,


hari, bulan, atau tahun. Informasi waktu bisa menjadi pedoman
tentang kejadian yang timbul dalam masyarakat. Mempelajari
panjangnya waktu berguna untuk mengkaitkan dengan
terjadinya perubahan angka kesakitan (Bustan, 2006).

Penemuan kasus merupakan langkah pertama dalam


kegiatan tatalaksana pasien TB. Penemuan dan penyembuhan
pasien TB menular secara bermakna akan dapat menurunkan
kesakitan dan kematian akibat TB sekaligus merupakan
kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di
masyarakat (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan indikator pengendalian TB, diketahui


bahawa indikator Angka Notifikasi Kasus (Case Notification
Rate) merupakan angka berguna untuk menunjukkan
kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya penemuan

65
pasien pada wilayah tertentu karena apabila dikumpulkan
secara serial, angka ini akan menggambarkan kecenderungan
penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tertentu
(Kemenkes RI, 2011). Dari penjabaran tersebut, berikut ini
adalah grafik mengenai Pola Penemuan Kasus (Case
Notification Rate) Penyakit Tuberkulosis di Kota Tangerang
Selatan tahun 2009 – 2013.

Grafik 4.3 Pola Penemuan Kasus (Case Notification Rate) Penyakit


Tuberkulosis Berdasarkan Puskesmas di Kota Tangerang Selatan
tahun 2009 - 2013 (per 100.000 penduduk)

900
800 123
700
600
500 129
32 117 127
400
59 144
300
59 112
34 88 81
200 72
45 20
100 68 14 40 33 36
19 57 22 24 34
0
Kranggan
Pondok Jagung

Jombang

Pondok Ranji

Rengas
Pakualam
Ciputat
Kampung Sawah

Pamulang

Pondok Benda

Pisangan

Pondok Kacang Timur


Serpong II
Serpong I

Setu

Parigi

Pondok Betung

Rawa Buntu
Pondok Aren

Ciputat Timur
Jurang Manggu

Benda Baru
Situ Gintung

Bhakti Jaya
Pondok Pucung

2013

2012

2011

2010

2009

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.3 diketahui bahwa pada tahun 2013


terjadi peningkatan penemuan kasus TB pada setiap Puskesmas
di Kota Tangerang Selatan jika dibandingkan dengan tahun –
tahun sebelumnya. Menurut Kemenkes RI (2011), penemuan

66
kasus TB merupakan strategi yang efektif dan efisien untuk
mencegah penularan penyakit TB di masyarakat.

4.2.2. Distribusi Penyakit Tuberkulosis Berdasarkan Klasifikasi


Riwayat Pengobatan

Berdasarkan Kemenkes RI (2011), klasifikasi penyakit


TB berdasrkan riwayat pengobatan ,yaitu:
1) Kasus baru, yaitu pasien yang belum pernah diobati dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu
bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps), yaitu pasien tuberkulosis yang
sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan
telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau
kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default), yaitu pasien yang
telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA positif.
4) Kasus setelah gagal (Failure), yaitu pasien yang hasil
pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In), yaitu pasien yang
dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain, yaitu semua kasus yang tidak memenuhi
ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk kasus
kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif setelah selesai pengobatan ulangan.

Berikut ini adalah grafik distribusi klasifikasi


penyakit tuberkulosis tahun 2013 yang diperoleh dari data

67
laporan Program Pengendalian Penyakit TB di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Grafik 4.4 Distribusi Klasifikasi Penyakit


Tuberkulosis Di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013

900

800

700

600
Jumlah Kasus

500

400

300

200

100

0
Kasus Kambuh TB Default Pindah Gagal Lain-lain
Baru Ekstra
Paru

Klasifikasi Kasus

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.4 diketahui bahwa klasifikasi kasus


TB tertinggi di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan adalah kasus baru yaitu sebesar 847 kasus. Sedangkan
klasifikasi kasus yang terendah adalah kasus gagal. Jika dilihat dari
jumlah kasus baru dan dibandingkan dengan klasifikasi kasus yang
lainnya, dapat disimpulkan bahwa kegiatan penemuan kasus baru

68
penyakit TB di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan sudah
berjalan di Kota Tangerang Selatan.

Namun berdasarkan hasil wawancara oleh wasor TB Dinas


Kesehatan Kota Tangerang Selatan, diketahui bahwa salah satu
kendala dalam kegiatan penemuan kasus di lapangan (fasilitas
pelayanan kesehatan) adalah dalam menindaklanjuti kasus
pindahan (transfer in). Menurut beliau, kendala tersebut dapat
menyebabkan hasil pengobatan, kesembuhan, dan angka konversi
menjadi bermasalah. Maka perlu dilakukannya pencatatan yang
lebih terperinci mengenai klasifikasi penyakit TB terutama pada
kasus pindahan yang terdapat di setiap fasilitas pelayanan
kesehatan di Kota Tangerang Selatan.

4.3. Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan


Kota Tangerang Selatan
4.3.1. Struktur Organisasi

Untuk dapat bekerja secara efektif dalam organisasi,


seseorang harus memiliki pemahaman tentang struktur organisasi,
Struktur organisasi adalah pola formal kegiatan dan hubungan di
antara berbagai subunit dalam organisasi. Dengan memandang
bagan organisasi, seseorang hanya melihat suatu susunan posisi,
tugas-tugas pekerjaan dan garis wewenang dari bagian-bagian
dari oganisasi (Gibson, 1996).

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah salah


satu organisasi pelaksana program pengendalian penyakit
tuberkulosis di wilayah kota Tangerang Selatan. Berdasarkan
struktur organisasi yang terdapat di lampiran 1.1, diketahui bahwa
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan membawahi
beberapa bidang. Salah satu bidang yang berhubungan dengan

69
program pengendalian penyakit tuberkulosis adalah Kepala
bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Bidang tersebut membawahi 3 (tiga) Kepala seksi yaitu seksi
Pengendalian Penyakit, seksi, Surveilans dan Imunisasi, dan seksi
Kesehatan Lingkungan.

Seksi Program Pengendalian Penyakit melaksanakan 8


(delapan) prioritas program pengendalian penyakit, yaitu
filariasis, DBD, HIV/AIDS, kusta, ISPA, diare, tuberkulosis, dan
penyakit tidak menular. Berikut ini adalah bagan struktur
organisasi dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Berdasarkan hasil wawancara oleh wasor TB di Dinas


Kesehatan Kota Tangerang Selatan, diketahui bahwa pemegang
program pengendalian penyakit TB berjumlah 1 (satu) orang yang
juga merangkap sebagai wasor TB di Kota Tangerang Selatan.
Pada pelaksanaannya, beliau membawahi 29 UPK. Padahal
menurut Kemenkes RI (2012), setiap pemegang program TTB
membawahi 10-20 UPK.

Kemudian menurut Kemenkes RI (2011), setiap organisasi


pelaksana tingkat kabupaten/kota memiliki tim DOTS.
Berdasarkan hasil wawancara oleh wasor TB, diketahui bahwa tim
DOTS TB berada di setiap fasilitas pelayanan kesehatan Kota
Tangerang Selatan. Tim DOTS tersebut terdiri dari 29 orang
dokter, 28 orang pengelola TB, dan 29 orang petugas laboratorium.
Dari 29 dokter, diketahui ada 1 dokter yang merangkap sebagai
pengelola program, yaitu di Puskesmas Pondok Betung. Selain itu,
berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa ada beberapa
pengelola program TB yang juga mengelola program lain.

70
Berdasarkan penjabaran tersebut dapat diindikasikan bahwa
masih kurangnya tenaga kesehatan di Kota Tangerang Selatan
terutama dalam program pengendalian TB.
4.3.2. Tujuan Program

Suatu program dikatakan baik apabila memiliki tujuan


yang jelas dan operasional. Tujuan program adalah hasil akhir
sebuah kegiatan. Tujuan program ini dipakai untuk mengukur
keberhasilan kegiatan program (Muninjaya, 2004). Menurut
Kemenkes RI (2011), tujuan yang akan dicapai ditetapkan
berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Tujuan ini
dibedakan menjadi :
1. Tujuan Umum, biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik.
2. Tujuan khusus, penjabaran dari tujuan umum yang dipecah
menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan
terukur.

Secara umum, tujuan program pengendalian tuberkulosis


adalah sebagai berikut.

A. Tujuan Umum

Tujuan umum adalah suatu tujuan yang masih


bersifat umum dan masih dapat dijabarkan ke dalam tujuan-
tujuan khusus dan pada umum masih bersifat abstrak
(Notoatmodjo, 2007). Terkait kendala telaah dokumen
mengenai tujuan program, maka dilakukan wawancara ke
dua orang informan yang berhubungan dengan program
pengendalian penyakit, yaitu Kepala Seksi Program
Pengendalian dan wasor program TB.
Berdasarkan hasil wawacara oleh Kepala Seksi
Program Pengendalian Penyakit, dapat diketahui bahwa
tujuan umum dari program pengendalian TB adalah

71
menurunkan angka prevalensi kasus TB di masyarakat. Hal
ini dapat terlihat dari hasil transkrip wawancara oleh
Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit.
“Tujuan umumnya menurunkan angka prevalensi TB
yang ada di masyarakat.”
(M.R. Kepala Seksi P2P)

Sebenarnya menurut Kepala Seksi Program


Pengendalian Penyakit, tujuan umum ini ada di setiap
laporan tahunan namun tujuan tersebut merupakan
gabungan dengan program yang lainnya. Pada saat hal ini
diklarifikasikan ke wasor program TB, pihak wasor
program TB membenarkan mengenai penggabungan
tersebut.

“iya, tujuan umum program pengendalian TB gabung


dengan tujuan bidang P2PL namun secara garis besar, tujuan
program pengendalian TB mengikuti tujuan nasional yaitu
memutuskan mata rantai penularan dan menyembuhkan pasien
tuberkulosis.”

(H.M. Wasor TB)

B. Tujuan Khusus

Tujuan khusus adalah tujuan-tujuan yang dijabarkan


dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan jembatan untuk
tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan
tercapai apabila tujuan-tujuan khususnya tercapai
(Notoatmodjo, 2007). Sama halnya dengan tujuan umum, data
terkait tujuan khusus ini juga tidak dapat diperoleh. Namun
berdasarkan hasil wawancara oleh Kepala Seksi Program

72
Pengendalian Penyakit, diketahui bahwa tujuan khusus dari
program pengendalian penyakit TB antara lain.
1. Meningkatkan penemuan kasus baru.
2. Meningkatkan angka kesembuhan.
3. Menurunkan angka kekebalan kuman terhadap antibiotik
sehingga mencegah terjadinya MDR TB.
4. Menekan angka kekambuhan.

Berikut ini adalah hasil transkrip wawancara oleh


Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit.

“Pertama, menigkatkan penemuan kasu baru. Yang


kedua meningkatkan angka kesembuhan. Menurunkan angka
kekebalan kuman terhadap antibiotik supaya tidak terjadi
MDR, tau?! Kemudian menekan angka kekambuhan. Sudah.”
(M.R. Kepala Seksi P2P)

Menurut Kemenkes RI (2011) dan Muninjaya (2004),


ada beberapa kirteria yang diperlukan dalam menetapkan tujuan
antara lain :
a) Terkait dengan masalah (Specific), yaitu jelas sasarannya
dan mudah dipahami oleh staf pelaksana.
b) Terukur (Measurable), yaitu dapat diukur kemajuannya.
c) Dapat dicapai (Achievable), yaitu sesuai dengan strategi
nasional, tujuan program, dan visi/misi institusi dan
sebagainya.
d) Relevan (Realistic), yaitu dapat dilaksanakan sesuai
dengan fasilitas dan kapasitas organisasi yang tersedia.
e) Memiliki Target waktu (Timebound), yaitu sumber daya
dapat dialokasikan dan kegiatan dapat direncanakan untuk
mencapai tujuan program sesuai dengan target waktu yang
telah ditetapkan.

73
Tabel 4.5
Identifikasi Tujuan Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013 berdasarkan Kriteria SMART (Kemenkes RI, 2011)

Tujuan Umum Tujuan Khusus Kriteria SMART Kesesuaian


berdasarkan Kemenkes RI (2011)
Menurunkan angka Meningkatkan penemuan kasus TB Terkait dengan masalah (Spesific) Sesuai
prevalensi kasus TB di baru. Terukur (measurable) Sesuai
masyarakat Dapat dicapai (appropriate) Sesuai
Relevan atau rasional (realistic) Sesuai
Memiliki target waktu (timebound) Belum Sesuai
Meningkatkan angka kesembuhan. Terkait dengan masalah (Spesific) Sesuai
Terukur (measurable) Sesuai
Dapat dicapai (appropriate) Sesuai
Relevan atau rasional (realistic) Sesuai
Memiliki target waktu (timebound) Belum Sesuai
Menurunkan angka kekebalan kuman Terkait dengan masalah (Spesific) Sesuai

74
terhadap antibiotik sehingga mencegah Terukur (measurable) Belum sesuai
terjadinya MDR TB. Dapat dicapai (appropriate) Sesuai
Relevan atau rasional (realistic) Belum Sesuai
Memiliki target waktu (timebound) Belum Sesuai
Menekan angka kekambuhan. Terkait dengan masalah (Spesific) Sesuai
Terukur (measurable) Belum Sesuai
Dapat dicapai (appropriate) Sesuai
Relevan atau rasional (realistic) Belum Sesuai
Memiliki target waktu (timebound) Belum Sesuai

75
Berdasarkan tabel 4.5 mengenai tujuan Program
Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2013 dengan kriteria SMART, diketahui
bahwa terdapat beberapa tujuan yang belum sesuai, yaitu:
1. Pada tujuan kusus meningkatkan penemuan kasus TB baru
dan Meningkatkan angka kesembuhan
Pada dua tujuan khusus ini, ketidaksesuaian tersebut
terletak pada batasan waktu tujuan tersebut akan terlaksana.
Hal ini diketahui dari hasil wawancara oleh wasor TB yang
tidak mengetahui mengenai batasan waktu tersebut.
2. Pada tujuan kusus menurunkan angka kekebalan kuman
terhadap antibiotik (MDR)
Berdasarkan Pedoman Pengendalian TB (Kemenkes
RI, 2011), masalah pengendalian TB MDR sudah menjadi
strategi nasional di Indonesia tahun 2010 – 2014. Dari hasil
diskusi oleh Bapak Solah Imari, diketahui bahwa pengukuran
penurunan angka kekebalan kuman dilakukan secara langsung
oleh program pengendalian TB di tingkat nasional. Jadi, pihak
Dinas Kesehatan melakukan pengukuran secara tidak langsung
yaitu dengan menjamin pengobatan pasien secara tuntas
sampai sembuh. Oleh karena itu, berdasarkan hasil observasi
dan telaah dokumen kegiatan program pengendalian TB, tidak
ditemukan kegiatan yang menjurus ke dalam kegiatan untuk
menurunkan angka MDR serta tidak ditemukan batasan waktu
pelaksanaannya.
3. Pada tujuan khusus menekan angka kekambuhan
Sama halnya dengan penjabaran sebelumnya, angka
kekambuhan tidak dapat diukur karena tidak ada indikator
terkait hal tersebut. Selain itu, dalam segi relevansi, tujuan
khusus ini belum sesuai dalam pelaksanaannya karena
berdasarkan hasil observasi, kapasitas tenaga kesehatan di

76
wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan masih
terbilang sedikit. Dalam segi batasan waktu, tujuan khusus ini
belum menjabarkan batasan waktu pelaksanaan tujuan
tersebut.
Oleh karena itu, perlu ditinjau kembali beberapa tujuan
khusus agar dalam setiap pelaksanaan dapat terukur, ada batasan
waktu, dan sesuai dengan kapasitas tenaga kesehatan di wilayah
Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

4.3.3. Sasaran Program

Sasaran adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan


digarap oleh program yang direncanakan tersebut (Notoatmodjo,
2004). Menurut Kemenkes RI (2011), penetapan sasaran dan
target program pengendalian TB terbagi menjadi:
a) Sasaran wilayah, ditetapkan dengan memperhatikan besaran
masalah, daya ungkit, dan kesiapan daerah.
b) Sasaran penduduk, yaitu seluruh penduduk di wilayah
tersebut.
c) Penetapan target, yaitu dengan memperkirakan jumlah pasien
TB baru yang ada di suatu wilayah yang ditetapkan secara
nasional.

Menurut Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit,


sasaran program pengendalian penyakit tuberkulosis di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan, yaitu:
1. Sasaran wilayah adalah Kota Tangerang Selatan.
2. Sasaran penduduk adalah seluruh masyarakat.
3. Penetapan target adalah 70% penemuan kasus baru (CDR)
dan 85% kesembuhan (SR).

77
4.3.4. Strategi Program

Menurut Mintzberg, strategi adalah pola (strategy is


patern) yang selanjutnya disebut sebagai “ intended strategy”
karena belum terlaksana dan berorientasi ke masa depan. Selain
itu, strategi program bisa disebut juga sebagai “realized strategy”
karena telah dilakukan oleh organisasi (Suryana, 2010).

Menurut Kepala Seksi Program Pengendalian Penyakit,


strategi Program Pengendalian Penyakit TB di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan mengikuti strategi pelayanan DOTS yang
diarahkan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan RI. Hal
tersebut sesuai dengan salah satu isi dari Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 364/Menkes/SK/V/2009, yaitu
penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi
DOTS (Depkes RI, 2009).

4.3.5. Pelaksanaan Kegiatan Program

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah salah


satu organisasi pelaksana yang dikelompokkan dalam tingkat
kabupaten/kota. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan oleh
Program Pengendalian Penyakit TB di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan disesuaikan dengan aspek manajemen
program TB yang terdapat dalam Pedoman Pengendalian
Nasional Penyakit TB (Kemenkes RI, 2011), yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, pencatatan dan pelaporan,
pengembangan sumber daya manusia, pemantapan mutu
laboratorium, pengelolaan logistik, monitoring dan evaluasi, serta
kegiatan penunjang seperti promosi, kemitraan, dan penelitian.
Setelah menyusun rencana, langkah selanjutnya adalah
meelaksanakan rencana yang sudah disusun (Azwar, 2010).

78
Berdasarkan hasil wawacara oleh wasor TB, didapatkan bahwa
pelaksanaan program pengendalian penyakit TB di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut.

1. Perencanaan program Tuberkulosis

Perencanaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang


sistematis untuk menyusun recana berdasarkan kajian rinci
tentang keadaan masa kini dan perkiraan keadaan yang akan
muncul di masa mendatang berdasarkan pada fakta dan bukti
(Kemenkes RI, 2011). Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan oleh wasor TB, Setiap tahun di triwulan 4,
perencanaan program TB di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan dibuat dengan melihat jumlah kasus penyakit TB pada
tahun sebelumnya. Perencanaan tersebut berupa Dokumen
Penggunaan Anggaran (DPA) yang berisi jadwal kegiatan
dalam satu tahun tersebut, biaya operasional di setiap kegiatan,
dan lain – lain.

Berikut ini adalah hasil traskrip wawancara yang


dilakukan dengan Wasor TB.
“Perencanaan program TB setiap tahun berubah sesuai
jumlah kasus TB. Perencanaan program itu berupa Dokumen
Penggunaan Anggaran yang mbak liat dulu.”
(H.M. Wasor TB)

Menurut Kemenkes RI (2011), penyusunan perencanaan


dan penganggaran meliputi tahapan sebagai berikut.
1. Pengumpulan data

79
2. Analisis situasi
3. Menetapkan masalah prioritas dan pemecahannya
4. Menetapkan tujuan, sasaran, dan indikator
5. Menyusun rencana kegiatan penganggaran
6. Menyusun rencana pemantauandan evaluasi

Menurut Wasor TB, pelaksanaan kegiatan penyusunan


perencanaan dan penganggaran di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan disesuaikan dengan tahapan dari
Kemenkes RI tahun 2011 tersebut.

2. Surveilans Program Tuberkulosis

Surveilans adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari


pengumpulan data penyakit secara sistematik, lalu dilakukan
analisis dan interpretasi data, kemudian hasil analisis
didesiminasi untuk kepentingan tindakan kesehatan masyarakat
dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian serta
untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Ada 3 macam
metode surveilans TB, yaitu: Surveilans berdasarkan data rutin,
survei periodik / survei khusus, dan survei sentinel (Kemenkes
RI, 2011).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Wasor TB,


diketahui bahwa metode surveilans yang digunakan adalah
surveilans rutin yang terbagi menjadi laporan per bulan dan
laporan per 3 bulan. Jenis data TB yang dikumpulkan oleh
Wasor TB sesuai dengan arahan dari Kemenkes RI yaitu terdiri
dari register TB Kabupaten (TB.03), laporan triwulan
Penemuan dan Pengobatan Pasien TB (TB.07), laporan
triwulan Hasil Pengobatan (TB.08), laporan triwulan Hasil
Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif (TB.11), formulir

80
Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang dan Analisis Hasil Uji
silang Kabupaten (TB.12), laporan OAT (TB.13), data Situasi
Ketenagaan Program TB, dan Data Situasi Public-Private Mix
(PPM) dalam Pelayanan TB.

Dalam proses pengumpulan data, diketahui bahwa


proses pengumpulan data bukan berasal dari bagian Sumber
Daya Kesehatan namun meminta data tersebut langsung ke
setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Padahal berdasarkan
tingkatnya di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, proses
pengumpulan dimulai dari bidang Sumber Daya Kesehatan lalu
dikategorikan berdasarkan jenis program oleh pihak surveilans.
Setelah itu, data tersebut baru diberikan ke setiap program
untuk dianalisis.

Menurut Wasor TB, terdapat kesulitan dalam


menganalisis data yang berasal dari pihak surveilans karena
karena pengumpulan data yang dilakukan tidak spesifik dengan
klasifikasi penyakit tuberkulosis. Oleh karena itu, pengumpulan
data dilakukan langsung oleh Wasor TB ke setiap fasilitas
pelayanan kesehatan di wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.

Dalam proses pengumpulan data, menurut Wasor TB,


terdapat beberapa kendala dalam kelengkapan dan ketepatan
laporan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan terutama di
Rumah Sakit Swasta dan Klinik Swasta, yaitu tidak
ditemukannya kasus TB di beberapa Rumah Sakit Swasta dan
Klinik Swasta. Menurut Wasor TB, seluruh Rumah Sakit
Swasta di wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tidak melaporkan kasus TB karena tidak ada tenaga

81
kesehatan yang mencatat setiap kasusTB yang ada di instansi
tersebut.

3. Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis

Monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang


penting dari proses manajemen karena dengan evaluasi akan
diperoleh umpan balik terhadap program atau pelaksanaan
kegiatan (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan hasil wawancara
dengan Wasor TB, diketahui bahwa monitoring dan evaluasi
diselenggarakan sebanyak 4 kali dalam setahun. Kegiatan
monev ini didanai oleh Global Fund dan APBD. Untuk monev
yang didanai oleh Global Fund, biasanya dilaksanakan pada
triwulan 1 dan triwulan 3. Sedangkan untuk monev yang
didanai oleh APBD, biasanya dilaksanakan pada triwulan 2 dan
triwulan 4. Berikut ini adalah hasil traskrip wawancara dengan
Wasor TB.

“Monev setiap tahunnya dilakukan 4 kali. Triwulan 1


dan 3 didanai oleh Global Fund, triwulan 2 dan 4 didanai oleh
APBD.”

(H.M. Wasor TB)

Tujuan dari monitoring dan evaluasi Program


Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan adalah untuk mengetahui apakah kegiatan
program telah dilaksanakan sesuai dengan rencana kerja, serta
mengetahui hambatan dan masalah dalam pelaksanaannya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan monitoring dan


evaluasi yang dilakukan oleh Program Pengendalian Penyakit

82
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
meliputi:

a. Penjabaran mengenai program pengendalian TB dan


pencapaian indikator secara umum di Kota Tangerang
Selatan dan per fasilitas pelayanan kesehatan.
b. Penjabaran mengenai hasil supervisi yang dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan ke seluruh
fasilitas pelayanan kesehatan.
c. Melakukan umpan balik terkait surveilans program TB,
kinerja pengelola Program TB, dan hasil dari uji silang
sediaan laboratorium di setiap fasilitas pelayanan
kesehatan
d. Melakukan tindak lanjut terkait masalah yang ada di setiap
fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut Kemenkes RI (2011), seluruh kegiatan harus


dimonitor baik dari aspek masukan (input), proses, maupun
keluaran (output). Selain itu, program dievaluasi dengan
menilai sejauh mana tujuan dan target tercapai melalui
indikator TB. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
kegiatan monitoring dan evaluasi Program Pengendalian
Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan sudah sesuai dengan arahan dari Kemenkes RI.

4. Penyimpanan dan Pendistribusian Logistik Program


Tuberkulosis

Menurut Kemenkes RI (2011), penyimpanan dan


pendistribusian logistik adalah salah satu bagian dari
pengelolaan logistik. Berdasarkan wawancara dengan Wasor
TB, diketahui bahwa penyimpanan logistik dilakukan di dua

83
tempat yaitu di Instalasi farmasi dan Gudang yang berada di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Menurut Kemenkes RI (2011), penyimpanan harus


memenuhi standar yang ditetapkan, yaitu:

1) Tersedia ruangan yang cukup untuk penyimpanan, tesedia


cukup ventilasi, sirkulasi udara, pengaturan suhu,
penerangan, aan dari pencurian, kebakaran atau bencana
lainnya.
2) Keadaan tempat penyimpanan bersih, rak tidak berdebu,
lantai disapu dan tembok dalam keadaaan bersih.
3) Setiap penerimaan dan pengeluaran barang harus tercatat.
4) Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First
Expired First Out), artinya obat yang kadaluarsanya lebih
awal diletakkan di depan agar dapat didistribusikan lebih
awal.

Menurut Wasor TB dan Kepala Seksi Pengendalian


Penyakit, salah satu kendala dalam Program Pengendalian TB
di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, yaitu dalam
penyimpanan logistik TB. Menurut Wasor TB, banyak logistik
yang disimpan di gudang Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan. Padahal gudang tersebut tidak sesuai dengan standar
penyimpanan logistik dari Kemenkes RI.

Untuk pelaksanaan kegiatan pendistribusian logistik,


proses pendistribusian logistik yang dilakukan oleh Program
Pengendalian Penyakit TB di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan sudah sesuai dengan arahan dari Kemenkes RI (2011),
yaitu:
1) Distribusi logistik khususnya obat mengacu pada prinsip
FEFO.

84
2) Sistem distribusi dapat dilakukan secara tarik dan dorong
(push and pull distribution) yaitu pusat ke gudang
kab/kota/propinsi melakukan pengiriman sesuai dengan
perencanaan tahunan (push) dan khusus buffer stock
dilakukan dengan permintaan (pull).

5. Pelatihan Program Tuberkulosis

Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan


pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas dalam rangka
meningkatkan mutu dan kinerja petugas (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan hasil wawancara oleh Wasor TB, diketahui bahwa
pada tahun 2013 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan yang
meliputi:

1) Pelatihan Program TB
Pelatihan program TB di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk
memberikan pengetahuan mengenai program TB agar
langsung dapat diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan ini ditujukan untuk dokter, perawat, analis
laboratorium, dan apoteker terutama pengelola program
TB. Kegiatan ini tidak dilakukan langsung oleh Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan, namun dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Propinsi Banten yang bersumber dana
dari hibah Global Fund.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan tahun 2013, diketahui bahwa masih
banyak tenaga kesehatan program TB di fasilitas pelayanan
kesehatan yang belum melakukan pelatihan program TB.

85
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan (2013), diketahui bahwa sumber daya manusia
program TB Paru di fasilitas pelayanan kesehatan
berjumlah 90 orang yang terdiri dari dokter, perawat, dam
tenaga laboratorium. Dari jumlah tersebut, terdapat 76,7%
dokter penanggung jawab program TB dan 63,3% tenaga
laboratorium yang belum melakukan pelatihan terkait
program TB. Sedangkan perawat yang belum melakukan
pelatihan hanya 3,45%. Padahal menurut Kemenkes RI
(2011), peningkatan mutu dan kinerja petugas dapat
ditingkatkan salah satunya dengan cara mengikuti
pelatihan.

2) On The Job Training

On The Job Training adalah kegiatan yang


dialakukan setelah mengikuti pelatihan sebelumnya, tetapi
masih ditemukan masalah dalam kinerjanya, dan cukup
diatasi hanya dengan dilakukan supervisi (Kemenkes RI,
2011). Dalam pelaksanaanya, kegiatan On The Job
Training di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Seltan
melakukan presentasi tentang pelaksanaan operasional
laboratorium yang meliputi pembuatan sediaan dahak yang
berkualitas sampai dengan cara penggunaan dan perawatan
mikroskop.

Kegiatan ini terlaksana di seluruh fasilitas


pelayanan kesehatn di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2013.

6. Supervisi

86
Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk
meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan
kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara
langsung. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah
observasi, diskusi, bantuan teknis, bersama-sama
mendiskusikan permasalahan yang ditemukan, mencari
pemecahan permasalahan bersama-sama, memberikan laporan
berupa hasil temuan serta memberikan rekomendasi dan saran
perbaikan (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan hasil wawancara oleh Wasor program TB,


diketahui bahwa supervisi ini dilakukan 2 kali dalam setahun.
Pelaksanaan kegiatan ini biasanya dari Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan, bersama-sama dengan Dinas Kesehatan
Provinsi, dan Kementerian Kesehatan mendatangi salah satu
fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan dengan
cara mewawancarai dan melakukan observasi kepada pihak
pemegang program TB di fasilitas pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan Daftar Tilik Supervisi Program Penanggulangan
TB Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Ke Sarana
Pelayanan Kesehatan yang ada di lampiran 1.3. Kegiatan ini
terlaksana di seluruh fasilitas pelayanan kesehatn di wilayah
kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

7. Manajemen Uji Silang Sediaan Laboratorium

Manajemen laboratorium TB meliputi beberapa aspek


yaitu; organisasi pelayanan laboratorium TB, sumber daya
laboratorium, kegiatan laboratorium, pemantapan mutu
laboratorium TB, keamanan dan kebersihan laboratorium, dan
monitoring (pemantauan) dan evaluasi (Kemenkes RI, 2011).

87
Berdasarkan hasil wawancara oleh Wasor program TB,
diketahui bahwa seluruh puskesmas yang ada di Kota
Tangerang Selatan dikategorikan sebagai Puskesmas Pelaksana
Mandiri sehingga proses pemeriksaan mikroskopis bisa
langsung dilakukan di setiap puskesmas. Namun salah satu
kendala di lapangan adalah kurangnya sumber daya tenaga
laboratorium yang berasal dari analis laboratorium.

Secara umum, kegiatan uji silang ini ditujukkan untuk


seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Tangerang
Selatan. Kegiatan ini wajib dilakukan setiap bulannya oleh
setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Namun pada
pelaksanaannya, kegiatan uji silang sediaan ini tidak sesuai
dengan target. Pada tahun 2013 di triwulan 4 diketahui bahwa
dari 29 fasilitas pelayanan kesehatan Kota Tangerang Selatan,
hanya 22 fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan uji
silang sediaan laboratorium.

Dari seluruh kegiatan yang terdapat di lampiran 1.4,


diketahui bahwa secara pelaksanaan semua kegiatan tersebut
sudah terlaksana di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2013. Namun semua kegiatan tersebut tidak dianalisis lebih
lanjut mengenai tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan yang
dilihat dari pencapaian indikator di setiap kegiatan dan tidak
dihubungkan dengan dengan pencapaian indikator Program
Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.

4.3.6. Pencapaian Indikator Program

Menurut Kemenkes RI (2011), keberhasilan program


pengendalian penyakit tuberkulosis ditentukan dari pencapaian

88
beberapa indikator. Berikut beberapa indikator yang digunakan di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, terutama di bagaian
Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis tahun 2013.
Indikator tersebut antara lain:
1) Angka Penjaringan Kasus

Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya


penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu dengan
memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu
(triwulan/tahunan) (Kemenkes RI, 2011). Berikut adalah
grafik angka penjaringan suspek di Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.

Grafik 4.5 Angka Penjaringan Suspek di Kota Tangerang


Selatan tahun 2013

2000 1859
1743
1800
1600 1425 1462
1400
Jumlah Kasus

1200 1090 1058 1103


1000 827 824
800 609 619
546 583
600 470 477408
344
400 234 227 170113 208 234296
115 144
200
0

Puskesmas

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

89
Berdasarkan grafik 4.5 diketahui bahwa angka
penjaringan suspek TB di Kota Tangerang Selatan sebesar
619 suspek per 100.000 penduduk. Angka penjaringan
tertinggi terdapat di puskesmas Setu yaitu sebesar 1859
suspek per 100.000 penduduk. Sedangkan angka penjaringan
terendah terdapat di puskesmas Pondok Ranji yaitu sebesar
113 suspek per 100.000 penduduk. Padahal berdasarkan
telaah dokumen, diketahui bahwa jumlah penduduk di
puskesmas Pondok Ranji hampir sama dengan jumlah
penduduk di Puskemas Serpong I yaitu 31.745 penduduk di
Puskesmas Pondok Ranji dan 31.008 penduduk di Puskesmas
Serpong I. Menurut hasil penelitian dari RYE, Saleh,
Hadiwijoyo (2009), diketahui bahwa petugas yang melakukan
penjaringan suspek TB memiliki peluang 8.92 kali
mendapatkan cakupan penemuan kasus yang tinggi.

2) Proporsi Pasien TB BTA Positif di antara Suspek

Menurut Kemenkes (2011), proporsi Pasien TB BTA


Positif di antara Suspek adalah suatu indikator yang dapat
menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis
pasien serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Berikut
tabel proporsi BTA positif di antara suspek di wilayah kerja
Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun 2013. Berikut
adalah grafik proporsi BTA positif di antara suspek di Kota
Tangerang Selatan tahun 2013.

90
Grafik 4. 6 Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara
Suspek di Kota Tangerang Selatan tahun 2013 (%)

35 33
30
25 21
20 17 17
15 15 14
15 12 12 12 12
11 10 10 10 10
9 9 9 8 8 8
10 7 7 7 7 7 6 6
4
5
0
PONDOK KACANG…

0
PONDOK BETUNG

JOMBANG

SERPONG I
PAMULANG

PONDOK BENDA

RSU TANGSEL

CIPUTAT

SERPONG II
BHAKTI JAYA
PONDOK PUCUNG

KRANGGAN

SITU GINTUNG

KLINIK RAHMA MEDIKA


PISANGAN

PONDOK RANJI

RAWA BUNTU

LKC

KAMPUNG SAWAH

PARIGI
PONDOK JAGUNG

PAKU ALAM

CIPUTAT TIMUR

PT. PRATAMA
JURANG MANGGU

RENGAS

SETU

KOTA TANGSEL
BENDA BARU
PONDOK AREN

RS EKA HOSPITAL
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.6 dapat diketahui bahwa dari 29


fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerja Kota Tangerang
Selatan, terdapat 6 fasilitas pelayanan kesehatan yang
memiliki proporsi BTA Positif di antara suspek kurang atau
bahkan melampaui kisaran angka 5-15%. Angka yang kurang
atau terlalu kecil (<5%) yaitu RS Eka Hospital dan Klinik
Rahma Medika. Sedangkan angka yang terlalu besar (>15%)
yaitu Puskemas Pisangan, Pondok Betung, Pondok Jagung,
dan Pondok Ranji.
Menurut Kemenkes RI (2011), angka yang terlalu
rendah dari 5% menjadi suatu indikasi bahwa terjadi masalah

91
pada kriteria suspek yang terlalu longgar dan ada masalah
dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Sedangkan
angka yang melampaui 15%, menjadi suatu indikasi bahwa
terjadi masalah kriteria suspek yang terlalu ketat dan ada
masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).

3) Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Semua Pasien


TB Paru
Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Semua Pasien
TB Paru adalah suatu indikator yang dapat menggambarkan
prioritas penemuan pasien TB yang menular di antara seluruh
pasien TB yang diobati. Berikut adalah pasien TB Paru BTA
positif di antara semua pasien TB Paru yang tercatat/diobati di
Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4. 7 Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara


semua Pasien TB di Kota Tangerang Selatan tahun 2013
(%)

120
100
80 97 100 100
84 78
60 75 74
64 60 64 66
40 60 57 61
48 44 48
20 40 45 38 35 39 44 38 42 37
21 24 22
0
PONDOK KACANG…
PONDOK JAGUNG
CIPUTAT
SETU
KRANGGAN

SERPONG II
PRAWA BUNTU

CIPUTAT TIMUR

RENGAS
BHAKTI JAYA
SERPONG I

PONDOK BENDA

PONDOK AREN

PARIGI
PAMULANG

BENDA BARU

PISANGAN

PONDOK PUCUNG

RS EKA HOSPITAL

LKC
PT PRATAMA
JOMBANG

JURANG MANGGU

PAKUALAM
RSUD TANGSEL
KAMPUNG SAWAH

SITU GINTUNG

PONDOK RANJI

PONDOK BETUNG

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

92
Berdasarkan grafik 4.7 diketahui bahwah hanya ada 8
fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang memiliki proporsi
pasien TB Paru BTA positif di antara semua pasien TB lebih
dari 65% yaitu Puskesmas Setu, Bhakti Jaya, Rawa Buntu,
Pamulang, Kampung Sawah, Pisangan, Parigi, dan RS Eka
Hospital. Sedangkan fasilitas pelayanan kesehatan yang
proporsi pasien TB Paru BTA positif di antara semua pasien
TB terendah adalah Puskesmas Ciputat.
Menurut Kemenkes RI (2011), angka proporsi pasien
TB Paru BTA positif di antara semua pasien TB yang kurang
dari 65% menjadi suatu indikasi bahwa mutu dari diagnosis
fasilitas pelayanan kesehatan tersebut rendah dan kurang
memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular
(pasien BTA positif).

4) Proporsi Pasien TB Anak di antara seluruh Pasien TB


Proporsi Pasien TB Anak di antara seluruh Pasien TB
adalah suatu indikator yang berfungsi untuk menggambarkan
ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Berikut adalah
grafik proporsi pasien TB anak di Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.

Grafik 4. 8 Proporsi Pasien TB Anak di Kota Tangerang


Selatan tahun 2013 (%)

93
16
14
14 13

12 11
10
10

0
Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan data yang didapatkan dari laporan


Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2014, diketahui
bahwa proporsi pasien TB anak dilaporkan berdasarkan
triwulan dan gabungan dari seluruh fasilitas pelayanan
kesehatan di Kota Tangerang Selatan. Dari data tersebut
diketahui bahwa setiap triwulan, prosentase angkanya berada
di bawah 15%. Menurut Kemenkes RI (2011), angka yang
terlalu besar dari 15% menjadi suatu indikasi terjadi
overdiagnosis. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh fasilitas
pelayanan kesehatan di Kota Tangerang Selatan sudah tepat
dalam pendiagnosisan TB pada anak.

5) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate)


Angka notifikasi kasus adalah salah satu indikator yang
berguna untuk menunjukkan kecenderungan (trend)
meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah

94
tertentu. Berikut adalah grafik proporsi pasien TB anak di
Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4. 9 Angka Notifikasi Kasus TB di Kota Tangerang


Selatan tahun 2013 (per 100.000 penduduk)

500
450
400
350 310
300 258
250 203
200 143145 170 157
141 141 123 141 103
150 112 99 93
75 82 77 73
100 46 32 54 57 55
36
50
0

JURANG…

PONDOK…
PONDOK…
PONDOK…
PONDOK…
KAMPUNG…

RENGAS
SETU
KRANGGAN

PAMULANG
PONDOK BENDA

CIPUTAT

PISANGAN

PAKU ALAM
SERPONG II

SITU GINTUNG
CIPUTAT TIMUR

PARIGI
SERPONG I

PONDOK RANJI
BHAKTI JAYA

RAWA BUNTU

BENDA BARU

JOMBANG

PONDOK AREN
CNR
Target

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.9 diketahui bahwa ada hanya ada


9 puskesmas yang sudah melampai target penemuan kasus.
Sedangkan puskemas yang memiliki angka CNR terendah
adalah Puskesmas Benda baru. Menurut hasil penelitian yang
dilakukan oleh Friskarini dan Manalu (2009) mengenai Peran
dan Perilaku Tenaga Kesehatan terhadap Program TB Paru
(Studi Kualitatif di Kabupaten Tangerang Banten Tahun
2009) menyatakan bahwa penampilan tenaga kesehatan
sebagai media penyuluh terutama dalam program TB masih
kurang dan jumlah tenaga kesehatan di daerah penelitian yang
dapat membantu keberhasilan TB masih kurang.

6) Angka Konversi

95
Menurut Kemenkes RI (2011), angka konversi adalah
prosentase perubahan pasien baru TB Paru BTA Positif yang
menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan
intensif. Berikut adalah grafik angka konversi di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4.10 Angka Konversi di Kota Tangerang Selatan


tahun 2013 (%)

120
98 98 96 93 92 92
100 89 89 85 85 83 83
80 80 78 75 75
80 73 73 73 73
67 65 64
61
60 52 50
38 33
40
20 5
PONDOK…

PONDOK…

PONDOK…
PONDOK…

RS EKA…
JURANG…
KAMPUNG…

RSU TANGSEL
SERPONG I

BHAKTI JAYA
SERPONG II

PAMULANG

KRANGGAN
CIPUTAT

PONDOK BENDA

LKC

SITU GINTUNG
CIPUTAT TIMUR

PT. PRATAMA

PISANGAN
PARIGI

PONDOK RANJI
RAWA BUNTU

KOTA TANGSEL
BENDA BARU
JOMBANG

RENGAS

SETU

PAKUALAM
PONDOK AREN

Konversi
%
Target %

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.10 diketahui bahwa secara umum


angka konversi di Kota Tangerang Selatan masih rendah yaitu
75% (target 80%). Hal ini dapat terlihat dari 29 fasilitas
pelayanan kesehatan, terdapat 15 fasilitas pelayanan
kesehatan yang memiliki angka konversi dan yang paling
rendah terdapat di RS Eka Hospital. Menurut pemegang
program TB, angka konversi ini juga dipengaruhi dari
pelaporan dan kelengkapan data yang diberikan setiap
triwulan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat
disimpulkan bahwa rumah sakit yang bermitra dengan Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan, umumnya memiliki
kendala dalam pencatatan dan pelaporan.

96
7) Angka Kesembuhan

Angka kesembuhan merupakan indikator penting dalam


program pengendalian TB Paru karena dari angka ini, suatu
fasilitas pelayanan kesehatan dapat mengetahui hasil
pengobatan. Di tingkat Kabupaten,angka minimal yang harus
dicapai adalah 85%. Namun, hasil pengobatan lainnya tetap
perlu diperhatikan yaitu berapa pasien dengan hasil
pengobatan lengkap, meninggal, gagal, default, dan pindah.
Berikut adalah tabel angka kesembuhan per puskemas di
wilayah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4.11 Angka Kesembuhan di Kota Tangerang


Selatan tahun 2013 (%)

97
120
10010010096
100 93 92 88 88 87 87
86 83
79 76 74 73 76
80 73 71 68
63 63
60 50 45
42 37
40 33
25
20
0 0

PONDOK KACANG…
0

RSU TANGSEL
BHAKTI JAYA

SERPONG I

PAMULANG
KAMPUNG SAWAH

LKC

KRANGGAN

CIPUTAT

PONDOK BENDA

SERPONG II
CIPUTAT TIMUR

PT. PRATAMA

PARIGI

PISANGAN
JURANG MANGGU

SITU GINTUNG

PONDOK RANJI

PONDOK PUCUNG
RAWA BUNTU
PONDOK JAGUNG
BENDA BARU

RENGAS

KOTA TANGSEL
SETU

JOMBANG
PAKUALAM

RS Eka Hospital
PONDOK BETUNG

PONDOK AREN
Kesembuhan %
Target %

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.11 dapat diketahui bahwa angka


kesembuhan per puskemas di wilayah kerja Kota Tangerang
Selatan tahun 2013 masih di bawah target nasional (85%) yaitu
sebesar 76%. Menurut pemegang program TB di Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan, angka kesembuhan ini
berhubungan dengan follow up pengobatan pasien yang
melakukan pindahan ke luar fasilitas pelayanan kesehatan yang
sebelumnya pasien tersebut jalani.

8) Angka Keberhasilan Pengobatan


Menurut Kemenkes RI (2011), angka keberhasilan
pengobatan adalah prosentase pasien baru TB Paru BTA
positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh
maupun pengobatan lengkap) di antara pasien baru TB Paru
BTA positif yang tercatat. Berikut adalah grafik angka
keberhasilan pengobatan di Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.

98
Grafik 4.12 Angka Keberhasilan Pengobatan di Kota
Tangerang Selatan tahun 2013 (%)

120 100100100100
96 96 94 93 93
100 88 88 87 86 85 83 83 81 82
80 80 76 74
73 69 69
80 64 60
56 50
60 45
40
20

PONDOK…

JURANG…
PONDOK…
KAMPUNG…
0

PONDOK BENDA
SERPONG I

CIPUTAT
SERPONG II

RSU TANGSEL
BHAKTI JAYA

PAMULANG

LKC
KRANGGAN

SITU GINTUNG
CIPUTAT TIMUR

PT. PRATAMA

PISANGAN

PONDOK RANJI
RAWA BUNTU

PARIGI
PONDOK JAGUNG

KOTA TANGSEL
BENDA BARU

RENGAS

PAKUALAM
SETU

JOMBANG

RS Eka Hospital
PONDOK BETUNG

PONDOK AREN
Keberhasilan % Target %

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan grafik 4.12 diketahui bahwa secara umum


angka keberhasilan pengobatan di Kota Tangerang Selatan
masih di bawah target (85%) yaitu 82%. Faislitas pelayanan
kesehatan yang paling rendah adalah puskemas Situ Gintung.
Menurut pemegang program TB di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan, angka keberhasilan ini juga dapat
dipengaruhi oleh sejauh mana pasien melakukan pindahan di
luar fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, dilakukan follow up
perkembangan pengobatan pasien.

9) Angka Kesalahan Laboratorium (Error Rate)


Angka Error Rate adalah angka kesalahan baca laboratorium
yang menyatakan prosentase kesalahan pembacaan
slide/sediaan yang dilakukan oleh laboratorium pemeriksaan
pertama setelah di uji silang (cross check) oleh LBK atau
laboratorium rujukan lainnya (Kemenkes RI, 2011). Berikut

99
adalah grafik angka Error Rate di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2013.

Grafik 4.13 Angka Error Rate di Dinas Kesehatan Kota


Tangerang Selatan tahun 2013 (%)

9
8
8
7
7
6
5
4
3
2
2
1
0
Triwulan I Triwulan II Triwulan III

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

Berdasarkan hasil wawancara oleh pemegang program


TB, diperoleh data mengenai angka Error Rate namun angka
di triwulan IV belum dapat diketahui karena hasil tersebut
didapatkan dari Labkesda (laboratorium Kesehatan Daerah)
yang menjadi rujukan Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Selatan. Dari data tersebut diketahui bahwa pada triwulan I
dan II, angka Error Rate > 5%, yaitu sebesar 8% dan 7%.
Sedangkan pada triwulan III angka Error Rate < 5%, yaitu
sebesar 2%.

Menurut Kemenkes RI (2011), angka Error Rate yang


<5% dapat diartikan bahwa mutu pemeriksaan di suatu
fasilitas pelayanan kesehatan sudah baik. Jadi dapat
disimpulkan bahwa mutu pemeriksaan laboratorium

100
mengalami perbaikan dari tiap triwulan dan pada triwualn III,
mutu pemeriksaan tersebut sudah baik.

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Simpulan dari laporan magang di Dinas Kesehatan Kota Tangerang


Selatan adalah sebagai berikut.

1. Jumlah morbiditas dan mortalitas Penyakit Tuberkulosis di wilayah kerja


Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013 mengalami
penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2012.
2. Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan tahun 2013 dilaksanakan oleh pemegang
program/wasor TB dan dibantu oleh Tim DOTS yang tersebar di setiap
fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di Kota Tangerang Selatan. Wasor
TB tersebut membawahi 29 UPK dan bertanggung jawab terhadap Kepala
Seksi Program Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.
3. Tujuan Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan tahun 2013 secara umum, yaitu menurunkan
angka prevalensi kasus TB di masyarakat. Kemudian tujuan khususnya,
yaitu:
1) Meningkatkan penemuan kasus TB baru
2) Meningkatkan angka kesembuhan

101
3) Menurunkan angka kekebalan kuman terhadap antibiotik sehingga
mencegah terjadinya MDR TB.
4) Menekan angka kekambuhan.
4. Sasaran Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan tahun 2013 antara lain sebagai berikut.
a. Sasaran wilayah adalah Kota Tangerang Selatan.
b. Sasaran penduduk adalah seluruh masyarakat.
c. Penetapan target adalah 70% penemuan kasus baru dan 85%
kesembuhan.

5. Strategi Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di Dinas Kesehatan


Kota Tangerang Selatan tahun 2013 disesuaikan dengan strategi dari
pusat yaitu strategi pelayanan DOTS.
6. Pelaksanaan kegiatan Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013, yaitu:
1) Perencanaan program Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan disesuaikan dengan tahapan dari Kemenkes RI
tahun 2011.
2) Surveilans Program Tuberkulosis, terdapat beberapa kendala dalam
kelengkapan dan ketepatan laporan di setiap fasilitas pelayanan
kesehatan terutama di Rumah Sakit Swasta dan Klinik Swasta, yaitu
tidak ditemukannya kasus TB di beberapa Rumah Sakit Swasta dan
Klinik Swasta
3) Monitoring dan Evaluasi Program Tuberkulosis sudah sesuai dengan
arahan dari Kemenkes RI tahun 2011.
4) Penyimpanan logistik di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
yang disimpan tidak sesuai dengan standar penyimpanan logistik dari
Kemenkes RI. Sedangkan pendistribusian logistik sudah sesuai
dengan arahan dari Kemenkes RI.
5) Pelatihan Program Tuberkulosis, terdiri dari pelatihan program TB
dan On The Job Training. Namun masih banyak tenaga kesehatan

102
program TB di fasilitas pelayanan kesehatan yang belum melakukan
pelatihan program TB terutama tenaga dokter dan tenaga
laboratorium.
6) Supervisi sudah terlaksana di seluruh fasilitas pelayanan kesehatn di
wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
7) Manajemen Uji Silang Sediaan Laboratorium umumnya terlaksana
namun belum sesuai dengan target yaitu kegiatan ini dilakukan oleh
seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Tangerang Selatan.
Selain itu, kendala lainnya adalah kurangnya sumber daya tenaga
laboratorium yang berasal dari analis laboratorium.
8) Pencapaian indikator Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis di
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tahun 2013 masih rendah
karena hanya 2 indikator yang sudah memenuhi target pencapaian
indiaktor, yaitu Proporsi pasien TB anak dan Proporsi Pasien TB Paru
BTA positif di antara suspek yang diperiksa dahaknya.

5.2 Saran

Adapun saran bagi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan


terutama Program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis adalah sebagai berikut.
1. Perlu ditambahnya tenaga kesehatan di Kota Tangerang Selatan
mengingat masih banyak tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan maupun di
berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang masih merangkap.
2. Perlu diperkuatnya jejaring kemitraan dengan rumah sakit swasta klinik
swasta agar pencatatan dan pelaporan menjadi lengkap dan tercapainya
beberapa indikator termasuk angka penemuan kasus dengan cara
mensosialiasikan kebijakan terkait hubungan Dinas Kesehatan dengan
fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerja tersebut.
3. Perlunya ditinjau kembali mengenai tujuan umum dan tujuan khusus dari
program pengendalian penyakit tuberkulosis agar lebih jelas, terukur, dan
terarah untuk melihat pencapaian program selama setahun sepekan.

103
4. Perlunya koordinasi mengenai tugas dan wewenang dalam manajemen
logistik terutama dalam hal penyimpanan logistik antara Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan dengan Instalasi gudang/farmasi agar
penyimpanan lebih tearah.
5. Perlunya dibuat indikator di setiap kegiatan agar dapat dianalisis dampak
pelaksanaan kegiatan dengan pencapaian indikator di Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan.
6. Perlunya dilakukan pemantauan mengenai jumlah fasilitas pelayanan
kesehatan yang melakukan uji silang sediaan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya, Tommy. 2010. Pengertian Visi dan Misi. Diakses pada tanggal 30 Maret
2014 dari link: http://www.scribd.com/doc/202326860/Pengertian-Visi-
Dan-Misi

Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administarasi Kesehatan. Jakarta: Binarupa


Aksara Publisher.

Budiarto, Eko dan Anggraeni, Dewi. 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Bustan, Muhammad, Nadjib. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.

_______. 2008. 505 Tanya-Jawab Epidemiologi. Makassar: Putra Asaad Print.

Murti, dkk. 2010. Perencanaan dan Penganggaran untuk Investasi Kesehatan di


Tingkat Kabupaten dan Kota. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

104
Chin, James. 2012. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17 Cetakan
IV. Diterjemah oleh I Nyoman Kandun. Jakarta: Infomedika.

Depkes RI. 2004. Desentralisasi Kabupaten/Kota. Jakarta: Depkes RI.

_______. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2


Cetakan I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

_______. 2008. Riset Kesehatan Dasar tahun 2008. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan
RI.

________. 2009. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


364/Menkes/SK/V/2009 tentang Pedoman Penanggulangan TB . Jakarta:
Kemenkes RI. Diakses pada tanggal 30 Maret 2014 dari link:
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20364
%20ttg%20Pedoman%20Penanggulangan%20Tuberkolosis%20(TB).pdf

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. 2014. Data Program Pengendalian


Penyakit TB Tahun 2013. Tangerang Selatan: Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan.

Eryando, dkk. 2013. Modul GIS Dasar. Depok : FKM UI.

Gibson, Ivancevich. 1996. Organisasi : Perilaku, Struktur, dan Proses. Jakarta:


Binarupa Aksara.

Laban,Yohannes Y. 2008. TBC : Penyakit dan Cara Pencegahannya. Yogyakarta:


Kanisius.

Kemenkes RI. 2011. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:


Kemenkes RI Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan.

105
________. 2012. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI Direktorat Jenderal
Bina Upaya Kesehatan.

_______. 2012. Rencana Aksi Nasional Pengembangan SDM Pengendalian


Tuberkulosis 2011 – 2014. Jakarta: Kemenkes RI.

________. 2013. Fakta Seputar Tuberkulosis Pengendalian Tuberkulosis


Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI Direktorat Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.

Muninjaya, A.A. Gede. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

_______. 2011. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.

Prayitno, Subur. 2005. Dasar-Dasar Administrasi Kesehatan Masyarakat.


Surabaya: Airlangga University Press.

RYE, A., Saleh, Y. D., & Hadiwijoyo, Y. 2009. Faktor – Faktor yang
Mempengaruhi Penemuan Penderita TB Paru di Kota Palu Sulawesi
Tengah. Berita Kedokteran Masyarakat, vol. 25 no. 2.

Timmreck, Thomas C. 2004. Epidemiologi: Suatu Pengantar Edisi 2.


Terjemahan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

World Health Organization. 2013. Global Tuberculosis Report 2013. Geneva:


WHO.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Werdhani, Retno, Asti. 2002. Patofisiologi, Diagnosis, dan Klasifikasi


Tuberkulosis. Jakarta : Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okulasi,

106
dan Keluarga FK UI. Diakses pada tanggal 30 Maret 2014 dari link:
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/retno.asti/material/patodiagklas.pdf

Suharno. 2010. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Yogyakarta :UNY Press. Diakses


pada tanggal 30 Maret 2014 dari link:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Karya%20B-Buku%20Dasar-
dasar%20Kebijakan%20Publik.pdf

Suryana. 2010. Manajemen Strategik Untuk Bisnis dan Organisasi Non Profit.
Diakses pada tanggal 30 Maret 2014 dari link:
https://docs.google.com/document/d/1P3a_2Yppm_EPH1OdhAyQNyN-
BW1uBE7UPyATCDvLcKY/edit?hl=en

107
Lampiran 1.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
tahun 2013

Kepala Dinas

Kelompok Jabatan
Sekretariat
Fungsional

Sub. Bag. Sub. Bag. Umum


Perencanaan dan Kepegawaian

Sub. Bag.
Keuangan

Bidang Bina Bidang


Bidang Pelayanan Bidang Pengendalian Penyakit
Kesehatan Pengembangan
Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan
Masyarakat Sumber Daya

Seksi Kes. Seksi


Reproduksi Ibu Seksi Pengawasan Pengendalian Seksi Perbekalan
dan KB Obat dan Makanan Penyakit Kesehatan

Seksi Peningkatan Seksi Surveilans


Gizi Masyarakat Seksi Sertifikasi Seksi Peran Serta
dan Imunisasi Masyarakat
dan Sarana
Kesehatan
Seksi Kes. Anak,
Remaja, dan Seksi Penyehatan
Lingkungan Seksi Pembiayaan
Lansia Seksi Kesehatan
dan Jaminan
Khusus
Kesehatan

UPTD Puskesmas

UPTD Gudang Farmasi

UPTD Labkesda

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

108
Lampiran 1.2 Gambar Sosialisasi dan Bimbingan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu Tahun 2014

109
110
111
Lampiran 1.3 Daftar Tilik Supervisi Program Penanggulangan TB Dinas
Kesehatan Kota Tangerang Selatan Ke Sarana Pelayanan Kesehatan

Kabupaten/ Kota : .......................................................................................

Tanggal Kunjungan : ........................................................................................

Unit kesehatan yang dikunjungi : .........................................................................................

Nama Petugas yang disupervisi : .........................................................................................

Jabatan : .........................................................................................

1. Sumber Daya Manusia


Tim DOTS UPK Nama Dilatih(Tahun)
Aktif/ Tidak
Pimpinan UPK : ………………………… ………………
…………………
Dokter : ………………………… ………………
…………………
Petugas Program : ………………………… ………………
…………………
Petugas Lab : ………………………… ………………
…....……………
Lain-lain : ………………………… ………………
…………………

2. Review Kegiatan Bersama Petugas


a. Penemuan Penderita
1) Jumlah suspek di periksa dahaknya :

a. Tw lalu b. Tw sedang berjalan

a) Apakah semua suspek TB dicatat di TB 06?

112
Ya Tidak :
…………………………………………
b) Apakah catatan di TB 06 dibuat secara lengkap dan benar?
Ya Tidak :
…………………………………………
c) Apakah semua suspek TB dibuatkan TB 05 untuk melakukan
pemeriksaan mikroskopis?
Ya Tidak :
…………………………………………
d) Apak catatan di TB 04 dibuat dengan benar dan lengkap?
Ya Tidak :
…………………………………………

2) Penderita TB BTA Positif :

3) Proporsi BTA (+) diantara suspek : .../….x 100% =…..%


(Target 5-15%)
4) Angka Penemuan Kasus (CDR) :…/... x 100=…% (Target 70%)

b. Pengobatan Penderita
1) Apakah semua penderita yang ditemukan sudah dapat pengobatan?
Ya Tidak : ………………………………………
2) Apakah semua penderita yang diobati (termasuk penderita BTA
Neg/Ro Pos, EP dan TBC anak) mempunyai kartu penderita (TB.01)
yang lengkap dan benar?
Ya Tidak : ………………………………………
3) Apakah jenis kategori obat yang diberikan sesuai dengan klasifikasi
dan tipe penderita?
Ya Tidak : ………………………………………
4) Cara pemberian obat :
Tahap intensif setiap hari dosis tunggal?
Ya Tidak : ………………………………………

113
Tahap lanjutan seminggu 3 kali dengan selang waktu (hari) 1-1-2?
Ya Tidak ………………………………………..
5) Apakah penderita menelan obat diunit pelayanan dengan
pengawasan langsung petugas?
Ya Tidak : …………………………………….
6) Apakah untuk semua penderita sudah ditunjuk seorang PMO?
Ya Tidak : ……………………………………
7) Apakah PMO telah diberi penyuluhan?
Ya Tidak : …………………………………….
8) Apakah pemeriksaan dahak ulang dilaksanakan sesuai protap (pada
akhir tahap intensif, pada 1 bulan sebelum akhir pengobatan dan
pada akhir pengobatan)?
Ya Tidak : ……………………………………
9) Apakah ada penderita yang mangkir yang belum dilacak?
Ya Tidak : ……………………………………
10) Apakah semua penderita tercatat dalam buku register penderita
(TB.03)?
Ya Tidak : ……………………………………
11) Berapa jumlah penderita baru BTA Positif yang mulai
Pengobatan dalam periode 3 bulan yang lalu? …………
12) Berapa jumlah yang mengalami konversi? ……..
13) Angka persentasi konversi : .../….x 100% = ...% (Target 80%)
14) Berapa jumlah pasien yang sembuh? ………
15) Angka persentasi pasien yang sembuh : …/...x 100% = ….% (Target
85%)
16) Periksa sisa obat dari penderita yang sementara dalam pengobatan,
apakah sisanya sesuai dengan catatan pada kartu penderita (sampel)?
Ya Tidak : ……………………………………

3. Persediaan Obat Dan Bahan-bahan perlengkapan


a. Obat
1) Apakah jumlah stok OAT cukup?

114
2) Apakah ada obat yang sudah atau hampir kadaluarsa (Kat 1&3 : 6-7
bulan )?
Ya Tidak : ……………………………………..
b. Kelengkapan
1) Apakah pot dahak, kaca sediaan, kartu penderita dan formulir-formulir
lainnya cukup?
Ya Tidak : ……………………………………

4. Khusus untuk unit pelayanan yang melakukan pemeriksaan


mikroskopis :
a. Pewarnaan dan Pembacaan
1) Apakah buku register laboratorium (TB.04) diisi dengan lengkap dan
benar?
Ya Tidak : ………………………………………
2) Apakah semua hasil pemeriksaan sediaan sudah dikirim ke unit yang
memintanya?
Ya Tidak : …………………………………………….
3) Apakah persediaan reagens cukup?
Ya Tidak : ……………………………………………
4) Apakah reagens tersebut belum kadaluarsa (6 bulan)?
Ya Tidak : ……………………………………………
b. Mikroskop
1) Apakah penggunaan mikroskop binokuler?
Ya Tidak : …………………………………………….
2) Apakah penyimpanan mikroskop sesuai petunjuk (bebas debu, bebas
getaran, ditempat kering dan dipasangi lampu 5 watt)?
Ya Tidak : …………………………………………….
3) Apakah kondisi mikroskop dalam keadaan baik?
Ya Tidak : …………………………………………….

c. Penyimpanan dan pengambilan sediaan untuk cross chek :

115
1) Apakah slide positif dan slide negatif disimpan dalam kotak
tersendiri?
Ya Tidak : …………………………………………….
2) Ambil slide untuk cross chek sesuai petunjuk, yaitu seluruh slide
positif 10 % (secara acak), slide negatif, dengan ketentuan 1 slide
untuk tiap penderita. Isi formulir pengiriman sediaan untuk cross chek
(TB.12)
Ya Tidak : …………………………………………….

5. Bagaimana cara pembuangan limbah Laboratorium?


………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
6. Ringkasan masalah-masalah yang ditemukan?
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
7. Rencana tindak lanjut (siapa, kapan dan dimana pemecahan masalah
tersebut akan dilaksanakan)
………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………

Kota Tangerang Selatan,………….........

Mengetahui,
Kepala Puskesmas Supervisor

………………………. Hidayatul Mustafid, SKM


NIP. NIP. 19861020 201001 1 004

116
Lampiran 1.4 Pelaksanaan Kegiatan Program Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Tangerang Selatan tahun 2013

No. Kegiatan Waktu Sumber Dana


APBD Donor
tingkat (Global
II Fund)
1. Perencanaan Triwulan 4 √
2. Surveilans Setiap bulan dan per 3 √
bulan
3. Monitoring dan Evaluasi Triwulan 1 dan 3 √
4. Monitoring dan Evaluasi Triwulan 2 dan 4 √
5. On The Job Training Februari dan Juni √
software SITT
6. Pelatihan Program TB Sekali setiap tahun √
7. Supervisi Setahun 2 kali √
Maret dan Juli

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, 2014

117