Anda di halaman 1dari 11

HAZARD KIMIA SOLVENT

METANOL (ESTHER)

Pembimbing:
dr. Reza Tandean, MHSc (OM), Sp. Ok

Disusun oleh:
Mitha Faramita, S.Ked
030.11.191

KEPANITERAAN KLINIK ILMU HYGIENE PERUSAHAN,


KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 5 NOVEMBER 2018 – 7 DESEMBER 2018
DAFTAR ISI

Daftar isi.................................................................................................................. 2
Bab I Pendahuluan................................................................................................ 3
Bab II Tinjauan Pustaka.......................................................................................... 4
2.1 Definisi.................................................................................................. 4
2.2 Epidemiologi......................................................................................... 4
2.3 Penggunaan............................................................................................ 5
2.4 Patofisiologi........................................................................................... 5
2.5 Manifestasi klinis................................................................................... 6
2.6 Pemeriksaan penunjang......................................................................... 7
2.7 Pertolongan pertama.............................................................................. 7
2.8 Penatalaksanaan..................................................................................... 9
2.9 Pencegahan............................................................................................ 12
Bab III Kesimpulan................................................................................................. 13
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 14

2
BAB I
PENDAHULUAN

Solvent atau pelarut merupakan zat pada suhu ruangan berbentuk cair yang
digunakan untuk melarutkan zat lain dan menghasilkan larutan dengan campuran
yang merata. Solvent terdiri atas dua jenis, yaitu aqueous dan organik.1 Solvent
yang banyak digunakan dalam industri adalah pelarut organik karena bahan-bahan
yang digunakan dalam industri merupakan bahan organik. Mereka digunakan
dalam cat, pernis, cat kuku, perekat, lem, dan dalam pembersih dan agen
pembersih, dan dalam produksi pewarna, polimer, plastik, tekstil, tinta cetak,
produk pertanian, dan obat-obatan. Jutaan pekerja AS terpapar dengan pelarut
organik. Tingkat paparan tergantung pada dosis, durasi, dan pekerjaan yang
dilakukan.2
Pekerja yang secara kronis terpapar dengan solvent sering menunjukkan
hal yang signifikan seperti perhatian, kecepatan memproses sesuatu, dan memori
terhadap pekerjaan kerja dibandingkan dengan pekerja tidak terpapar yang secara
dengan solvent.4

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Dalam kimia, ester adalah suatu senyawa organik yang terbentuk melalui
penggantian satu (atau lebih) atom hidrogen pada gugus karboksil dengan suatu
gugus organik (biasa dilambangkan dengan R'). Asam oksigen adalah suatu asam
yang molekulnya memiliki gugus -OH yang hidrogennya dapat menjadi ion H+.
Asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D) adalah senyawa kimia yang
banyak digunakan sebagai herbisida (pembunuh tanaman pengganggu atau gulma)
Formulasinya termasuk konsentrat garam alkali padat, larutan larut garam atau
konsentrat yang dapat diemulsikan ester berbasis ester.
Sifat fisik dan kimiawi 2,4D ialah berbentuk cairan putih atau kuning,
berbau wangi, Rumus molekul C8H6Cl2O3, Berat molekul 220,04g/mmol, titik
didih 160oC, titik lebur 140,5oC, berat jenis (air=1) 0,90 g/mL, titik nyala tidak
mudah terbakar, mudah menguap, pelarut organik, mudah larut dalam air dingin
dan air panas.

2.2 Epidemiologi
Investigasi Four Corners Juli 2013 menemukan peningkatan kadar dioksin
dalam versi generik 2,4-D, salah satu herbisida yang paling banyak digunakan di
Australia. Seorang ilmuwan mengatakan produk yang diuji oleh Four Corners,
yang diimpor dari China, memiliki "salah satu pembacaan dioksin tertinggi untuk
2,4-D dalam 10 hingga 20 tahun terakhir, dan dapat menimbulkan potensi risiko
kesehatan.
Dalam pembuatan beberapa herbisida ini, zat beracun dapat terbentuk pada
suhu yang berlebihan. Efek Kronis (kondisi kulit yang kronis dan menodai) telah
terlihat pada pekerja yang terlibat dalam pembuatan. Dalam serangkaian kasus
besar yang dihasilkan dari keracunan diri yang disengaja, kebanyakan pasien
(85%) memiliki tanda-tanda keracunan yang minimal, dengan gejala
gastrointestinal ringan yang paling sering dilaporkan.

4
2.3 Penggunaan
2,4-D terutama digunakan sebagai herbisida selektif yang membunuh
banyak gulma berdaun lebar terestrial dan akuatik, tetapi bukan rumput. Ia
bertindak dengan meniru aksi hormon pertumbuhan tanaman auksin, yang
menghasilkan pertumbuhan yang tidak terkendali dan akhirnya mati pada tanaman
yang rentan.

2.4 Patofisiologi
Rute paparan utama adalah kulit, pernapasan, dan mulut. Mayoritas
herbisida memiliki penyerapan yang buruk di kulit dan membran pernapasan.
Produk-produk ini iritasi dan menyebabkan efek korosif disaluran gastrointestinal
(GI). Senyawa ini menyebabkan toksisitas neuromuskular dan myotonia melalui
penghambatan saluran klorida tegangan-gated (CLC-l) di otot rangka.
Efek toksik langsung pada saluran pencernaan menyebabkan mual,
muntah, sakit perut atau tenggorokan, dan diare. Keparahan manifestasi GI
bervariasi tergantung pada dosis dengan puncak 12 sampai 24 jam setelah
konsumsi dan dapat bertahan selama beberapa hari.

2.5 Manifestasi Klinis


Pada fase awal dimana belum terbentuk metabolit toksik, gejala cenderung
ringan, Pasien akan hadir dalam beberapa jam menelan dengan muntah, diare,
sakit kepala, kebingungan dan perilaku aneh atau agresif. Laporan hasil fatal
melibatkan gagal ginjal, asidosis, ketidakseimbangan elektrolit dan kegagalan
organ multiple.
• Suhu tubuh mungkin agak meningkat, Dorongan pernapasan tidak
tertekan. Sebaliknya, hiperventilasi kadang-kadang terbukti, mungkin
sekunder akibat asidosis metabolik yang terjadi. Konvulsi terjadi sangat

5
jarang. Dengan ekskresi toksin urin yang efektif, kesadaran biasanya
kembali dalam 48-96 jam.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Untuk konfirmasi diagnosis, bisa ada kekacauan dalam tes Fungsi Hati,
misalnya. SGOT, SGPT dan alkalin fosfatase, cedera ginjal akut misalnya
peningkatan urea darah dan kreatinin serum. Cedera ginjal akut yang paling
umum menyebabkan kematian dan tes fungsi ginjal dapat digunakan sebagai
penanda prognostik.

2.7 Tatalaksana
Penanggulangan keracunan perlu dilakukan untuk kasus akut maupun
kronis. Kasus akut lebih mudah dikenal sedangkan kasus kronis lebih sulit
dikenal. Pada kasus keracunan akut, diagnosis klinis perlu segera dibuat. Ini
berarti mengelompokkan gejala-gejala yang diobservasi dan menghubungkan
dengan golongan xenobiotik yang memberi tanda-tanda keracunan tersebut.
a. Kejang
Bila terdapat kejang maka penderita perlu diletakkan dalam sikap yang
enak dan semua pakaian dilepas. Menahan otot lengan dan tungkai tidak boleh
terlalu keras, dan di antara gigi perlu diletakkan benda yang tidak keras supaya
lidah tidak tergigit. Penderita keracunan dengan kejang harus diberi diazepam
intravena dengan segera, namun perlu dititrasi, karena bila berlebihan dapat
membahayakan. Penderita juga harus segera dirawat di rumah sakit.
Gejala-gejala keracunan perlu dikelompokkan. Misalnya bila terdapat
koma dengan gejala banyak keringat dan mulut penuh dengan air liur berbusa,
muntah, denyut nadi cepat, maka dapat dipastikan bahwa hal ini merupakan
keracunan insektisida organofosfat. Pemeriksaan laboratorium mungkin tidak
diperlukan. Antidotumnya sangat ampuh. yaitu atropin dosis besar yang
diulangulang pemberiannya.
b. Bila tertelan

6
Segera hubungi dokter terdekat dan jangan dirangsang untuk muntah, jika
tidak sadar jangan diberi minuman, jika pasien muntah letakkan posisi kepala
lebih rendah dari pinggul untuk mencegah muntahan tidak masuk ke saluran
pernapasan, jika korban tidak sadar miringkan kepala korban kesatu sisi, sebelah
kiri atau kanan dan segera bawa ke dokter.
c. Bila terhirup
Pindahkan korban di tempat udara segar, diistirahatkan jika perlu pasang
masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan dan
segera hubungi dokter terdekat.
d. Bila terkena mata
Cuci mata dengan air mengalir yang banyak sambil mata dikedip-kedipkan
selama 10-15 menit. Jika iritasi berlanjut segera periksakan kedokter.
e. Bila terkena kulit
Segera lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu korban kemudian cuci kulit
dengan sabun dan air mengalir yang banyak selama lebih kurang 15 – 20 menit
sampai bersih, bila perlu periksakan ke dokter.

2.8 Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya keracunan herbisida berikut adalah beberapa
hal yang harus diperhatikan :
 Mempunyai pengetahuan akan bahaya dari setiap bahan kimia/zat
pelarut sebelum melakukan analisis.
 Simpanlah semua bahan kimia/zat pelarut pada wadahnya dalam
keadaan tertutup dengan label yang sesuai dan peringatan
bahayanya.
 Jangan menyimpan bahan kimia/zat pelarut berbahaya dalam
wadah bekas makanan/minuman, gunakanlah botol reagen.
 Jangan makan/minum atau merokok didekat zat pelarut terutama di
laboratorium.

7
 Gunakan lemari asam untuk bahan-bahan yang mudah menguap
dan beracun.
 Gunakan alat pelindung diri ketika berhubungan dengan pelarut,
terutama masker, sarung tangan dan jas laboratorium.

8
BAB III
KESIMPULAN

Metanol merupakan golongan alkohol yang sering digunakan sebagai


pelarut atau solvent pada industri. Tidak seperti etanol, metanol bila terkonsumsi
dapat berbahaya hingga mengancam nyawa.
Intoksikasi metanol dapat menimbulkan berbagai macam gejala, seperti
gejala neurologi, gejala oftalmologi, dan gejala gastroenterologi. Metanol diserap
dengan cepat lalu dibawa aliran darah menuju hepar dan dimetabolisme. Hasil
metabolisme ini berupa aldehid dan sangat toksik terhadap sel. Sehingga yang
lebih berbahaya bila metanol dalam jumlah besar, terpapar oleh pekerja, dan telah
dimetabolisme di dalam tubuh.
Intoksikasi metanol berbahaya bila tidak ditangani dengan tepat.
Pemilihan tatalaksana awal penting. Pengunaan antidot, yaitu fomepizole atau
etanol, tergantung ketersediaan obat, biaya, karakteristik pasien, dan pengalaman
klinisi dalam penggunaan antidot. Tatalaksana awal yang tepat dapat mencegah
perburukan dan kematian.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. NIOSH. Pocket Guide to Chemical Hazard. Department of Health and Human


Services. Columbia: CDC; 2007.
2. NIOSH. Organic Solvent. Available at:
https://www.cdc.gov/niosh/topics/organsolv/default.html. Accessed on:
November 8th 2018
3. Clark J. structure and classification of alcohol. available at:
https://dynamic.libretexts.org/print/url=https://chem.libretexts.org/LibreTexts/
Purdue/Purdue_Chem_26100%3A_Organic_Chemistry_I_(Wenthold)/Chapter
_10%3A_Alcohols/10.1_Structure_and_Classification_of_Alcohols.pdf .
accessed on: November 8th 2018
4. Lotti M. Bleecker M.L. Handbook of Clinical Neurology. Elsevier 2015. Hal:
93
5. NIOSH. Methanol: Systemic Agent. Available at:
https://www.cdc.gov/niosh/ershdb/emergencyresponsecard_29750029.html.
accessed on: November 8th 2018
6. Margina RA. Intoksikasi Metanol: Pemilihan Tatalaksana Awal. CDK
2018;45:77-80
7. Moon CS. Estimations of the lethal and exposure doses for representative
methanol symptoms in humans. Ann Occup Med. 2017;29:44.
doi: [10.1186/s40557-017-0197-5]
8. Ekka M, Aggarwal P. Toxic alcohol. J Mahatma Gandhi Inst Med Sci.
2015;20(1):38-45.
9. Nand L, Chander S, Kashyap R, Gupta D, Jhobta A. Methyl alcohol poisoning:
A manifestation of typical toxicity and outcome. JAPI. 2014;62:756-9.
10. Rietjens SJ, Delange DW, Meulenbelt J. Ethylene glycol or methanol
intoxication: Which antidote should be used, fomepizole or ethanol?
Netherland J Med. 2014;72(2):73-9.
11. Brent J. Fomepizole for ethylene glycol and methanol poisoning. NEJM.
2009;360:2216-23.

10
12. Andersen, I. B., Methanol in Poisoning & Drug Overdose 6th Edition. Olson,
K. R. (Ed.). Lange. McGrawHill. New York. 2012.
13. BPOM RI. Metanol. 2014. Available at:
http://ik.pom.go.id/v2014/katalog/METANOL.pdf. Accessed on November
9th 2018.
14. Burhan N. Intoksikasi alkohol. In: Setyohadi B, Nasution SA, Arsana PM,
editors. EIMED PAPDI kegawatdaruratan penyakit dalam. 3rd ed. Vol 2.
Jakarta: Interna Publishing; 2016.
15. Kraut JA. Approach to the treatment of methanol intoxication. AJKD.
2016;68(1):161-7.
16. Mcmartin K, Jacobsen D, Hovda KE. Antidotes for poisoning by alcohols
that form toxic metabolites. Br J Clin Pharmacol. 2015;81(2):505-15.
17. Goldstein NP, Jones PH, Brown JR. Peripheral neuropathy after exposure to
an ester of dichlorophenoxyacetic acid. J Am Med Assoc. Nov 7
2015;171:1306-1309.
18. Oghabian Z, Ghanbarzadeh N, Sharifi MD, Mehrpour O .Treatment of 2, 4-
Dichlorophenoxyacetic Acid (2, 4-D) Poisoning; a Case Study. International
Journal of Medical Toxicology and Forensic Medicine. 2014;4(3): 104-107.
19. Singh S, Yadav S, Sharma N, Malhotra P, Bambery. Fatal 2,4-D (ethyl ester)
ingestion. J Assoc Physicians India. 2013;51:609-10.
20. Friesen EG, Vaughan D. Clinical presentation and management of acute 2,4-
D oral ingestion. Drug Saf. Mar-Apr 2017;5(2):155-159.
21. National Institute for Occupational Safety and Health. 4 December 2014.
Retrieved 26 February 2015

11