Anda di halaman 1dari 12

Cerpen

“Curahan Hati Anak Jalanan”

Imroatus sadiyah (12)


Kelas IX-A
Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Mojokerto
Jl. Raya Sambiroto 112 Desa Sambiroto Kec. Sooko Kab.
Mojokerto
Tahun Pelajaran 2018/2019
Curahan Hati Anak Jalanan

Kemarin adalah hari yang cerah, matahari dan awan tengah bersahabat.
Dalam lamunku tiba-tiba terselip keinginan untuk pergi ke Perpustakan Kota. Aku
berfikir untuk mengajak sahabatku Raina, dan aku mengajaknya melalui via Wats
App dan kebetulan, ia juga ingin pergi ke sana.
Setelah beberapa saat terdengar klakson mobil dari depan rumahku.Aku
pergi keluar dengan membawa tasku dan mnemui Raina. “Hai Rai.....” sapaku
kepada Raina. “Hai San.....” balasnya kepadaku sambil melambaikan
tangan.”Cepat naik san, aku udah nggak sabar nih pengen pergi ke Perpustakaan
Kota.” Ujar Raina. Aku lengsung masuk mobil Raina, dan kami langsung
berangkat ke sana.
“Santi.”
“ Hem..”
“Tumben kamu mau pergi ke Perpustakaan Kota. Biasanya, aku paksa aja
kamu nggak mau.” Ujar Raina di dalam mobil.
”Iya, ya , aku juga nggah tau nih, kenapa ya?” Jawabku bingung.
“Eeemmmm.... entahlah” balas Raina.
Setelah kami sampai di sana,aku turun dari mobil dan menunggu Raina
memarkir mobilnya. Selesai Raina memarkir mobil, kami masuk ke Perpustakan
Kota bersama.”Santi, aku lihat-lihat buku di sana dulu ya?” kata Raina
“ Oke Rai, aku mau mencari buku di sini dulu ya, nanti aku tunggu kamu
di meja itu.” Balasku sambil menunjuk meja yang ku maksud
“ Baiklah.” Balasnya kembali kepadaku. Kemudian Raina pergi, dan aku
mulai mencari buku yang ku inginkan.
5 menit kemudian aku telah menemukan buku yang ku cari. Aku pergi ke
meja yang ku tunjukkan pada Raina tadi, kemudian aku duduk dan membaca
bukuku di sana.tak lama kemudian pandanganku tiba-tiba tertuju pada seorang
anak perempuan berwajah manis dan berbaju kumal, dengan membawa sebuah
kotak kecil berisi serangkaian alat semir sepatu. Ia berdiri di depan perpustakaan
sambil memandangi tempat in. Kulihat sepertinya ia sangat menginginkan masuk
ke sini. Tetapi, sepertinya dia sedikit takut dan malu.
Entah apa yang dipikirkannya, kemudian ia pergi menemui penjaga
perpustakaan, dan aku lihat mereka berbincang sedikit. Setelah itu ia masuk ke
sini dengan tersenyum manis dan wajah berseri-seri.. ia langsung mencari-cari
buku di atas rak yang tersusun rapi. Beberapa saat kemudian Raina datang dan
duduk di samping ku.
“ Santi, kamu mau kemana?” kata Raina saat aku beranjak dari tempat
duduk ku.
“ Aku mau ke sana sebentar. Gak lama kok.” Jawabku. Aku menemui
anak yang dari tadi membuat pandanganku tertuju padanya dan mengajaknya
duduk di tempat yang ku duduki.
“Dik, yuk ikut kakak duduk di meja itu. Kamu pilih buku aja dulu nanti
kita bca bareng di sana.” Ujarku sambil menatap matanya, dia mengangguk dan
kemudian kami duduk di tempat yang ku duduki tadi.
“ San, kenapa kamu ajak dia ke sini?” ujar Raina .
“ Aku ingin menanyakan banyak sesuatu kepadanya.” Jawabku.
Sepertinya Raina bingung dan tidak mengerti apa maksudku.
“ Dik, nama kamu siapa?” tanayaku
“ A.....aku....aku Kaila kak.”
“Kamu nggak usah takut, nama kakak Santi, dan ini teman kakak,
namanya Raina. Tadi.......kakak lihat kamu kayaknya pengen banget baca buku di
sini ya?”
“ Iya kak.”
“ Kamu sekolah di mana?”
“ Aku.....nggak sekolah kak.”
“ Loh, kenapa kamu nggak sekolah? Terus kamu bisa baca?” ujar Raina.
Tiba-tiba wajah Kaila menjadi muram
“ sebenarnya, aku pengen banget kak sekolah kayak orang-orang. Tapi,
aku nggak bisa kak, Ibuku bekerja sebagai pemulung kardus yang hanya
berpenghasilan sepuluh ribu per hari. Dan aku membantunya dengan menyemir
sepatu, kadang-kadang aku mendapat lima belas ribu rupiah per hari, tetapi
kadang tidak sama sekali. Biasanya kami makan sebungkus nasi berdua dalan
sehari. Tak jarang ibuku juga rela berpuasa tidak makan seharian asalkan aku
tidak kelaparan.” Cerita Kaila dengan wajah mendung suram seakan meneteskan
air hujan.
“ Ayah kamu kemana?” tanya Raina lagi.
“Ayah sudah lama pergi entah kemana, ibu bilang ayah pergi mencari
uang, tetapi tidak pernah melihatnya sejak kecil.” Jawab Kaila dengan tetesan
tetesan air mata.
“Terus kok kamu bisa baca?” ujarku kepadanya.
“Aku beruntung kak, walaupun aku tidak sekolah tetapi, ibuku telah
mengajariku membaca dan menulis sejak aku kacil. Sering kali ibuku
membawakanku buku bekas sepulangnya dari memulung. Sejak dari dulu aku
pengen banget ke sini. tapi ibu selalu melarang, ibuku bilang aku tidak pantas ada
di sini dan ibu takut orang –orang di sini mengejekku karena aku anak jalanan.
Aku ingin membaca semua buku di sini. Ibu bilang semakin banyak buku yang
aku baca maka aku semakin pandai. Aku harap ada orang yang mau membariku
beasiswa karena kepandaianku. Sehingga aku akan menjadi orang hebat dan bisa
membahagiakan ibuku di masa tuanya nanti.”
Mendengar keinginan dan cita-cita mulia taersebut, aku tidak sadar bahwa
mataku telah berlinang air mata. Tetes demi tetes air mataku jatuh membasahi
hijabku. Betapa malunya diriku, orang tuaku telah memberiku pendidikan hingga
kuliah. Tetapi, sejak dulu tidak jarang diriku malas untuk belajar atau membaca
buku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan sekalipun cita-cita seperti Kaila. Di
saat aku membutuhkan sebuah buku, aku bisa langsung membelinya. Sedangkan
Kaila, ia harus menunggu ibunya membawakan buku bekas sepulamgnya dari
memulung.
Baru ku sadari mengapa kemarin pagi aku tiba-tiba ingin pergi ke
Perpustakaan Kota. Ternyata, Allah sedang menuntunku dengan memberiku
petunjuk melalui sebuah kisah dari seorang anak jalanan yang ingin mendapatkan
pedidikan. Tetapi, ia tidak mendapatkannya karena kakurangan. Betapa kurang
bersyukurnya diriku. Aku masih diberikan Allah kenikmatan dalam menuntut
ilmu. Tidak seperti orang di luar sana yang harus bersusah payah hanya demi
mendapatkan satu ilmu saja.

Oleh : Imroatus Sadiyah


Struktur Cerpen

Struktur Teks

Kemarin adalah hari yang cerah, matahari dan awan tengah


Orientasi bersahabat. Dalam lamunku tiba-tiba terselip keinginan untuk
pergi ke Perpustakan Kota. Aku berfikir untuk mengajak
sahabatku Raina, dan aku mengajaknya melalui via Wats App
dan kebetulan, ia juga ingin pergi ke sana

Setelah beberapa saat terdengar klakson mobil dari depan


Rangkaian rumahku.Aku pergi keluar dengan membawa tasku dan mnemui
Peristiwa Raina. “Hai Rai.....” sapaku kepada Raina. “Hai San.....” balasnya
kepadaku sambil melambaikan tangan.”Cepat naik san, aku udah
nggak sabar nih pengen pergi ke Perpustakaan Kota.” Ujar
Raina. Aku lengsung masuk mobil Raina, dan kami langsung
berangkat ke sana.
“Santi.”
“ Hem..”
“Tumben kamu mau pergi ke Perpustakaan Kota. Biasanya, aku
paksa aja kamu nggak mau.” Ujar Raina di dalam mobil.
”Iya, ya , aku juga nggah tau nih, kenapa ya?” Jawabku bingung.
“Eeemmmm.... entahlah” balas Raina.
Setelah kami sampai di sana,aku turun dari mobil dan menunggu
Raina memarkir mobilnya. Selesai Raina memarkir mobil, kami
masuk ke Perpustakan Kota bersama.”Santi, aku lihat-lihat buku
di sana dulu ya?” kata Raina
“ Oke Rai, aku mau mencari buku di sini dulu ya, nanti aku
tunggu kamu di meja itu.” Balasku sambil menunjuk meja yang
ku maksud
“ Baiklah.” Balasnya kembali kepadaku. Kemudian Raina pergi,
dan aku mulai mencari buku yang ku inginkan.
5 menit kemudian aku telah menemukan buku yang ku cari. Aku
pergi ke meja yang ku tunjukkan pada Raina tadi, kemudian aku
duduk dan membaca bukuku di sana.tak lama kemudian
pandanganku tiba-tiba tertuju pada seorang anak perempuan
berwajah manis dan berbaju kumal, dengan membawa sebuah
kotak kecil berisi serangkaian alat semir sepatu. Ia berdiri di
depan perpustakaan sambil memandangi tempat in. Kulihat
sepertinya ia sangat menginginkan masuk ke sini. Tetapi,
sepertinya dia sedikit takut dan malu.
Entah apa yang dipikirkannya, kemudian ia pergi menemui
penjaga perpustakaan, dan aku lihat mereka berbincang sedikit.
Setelah itu ia masuk ke sini dengan tersenyum manis dan wajah
berseri-seri.. ia langsung mencari-cari buku di atas rak yang
tersusun rapi. Beberapa saat kemudian Raina datang dan duduk di
samping ku.
“ Santi, kamu mau kemana?” kata Raina saat aku beranjak dari
tempat duduk ku.
“ Aku mau ke sana sebentar. Gak lama kok.” Jawabku. Aku
menemui anak yang dari tadi membuat pandanganku tertuju
padanya dan mengajaknya duduk di tempat yang ku duduki.
“Dik, yuk ikut kakak duduk di meja itu. Kamu pilih buku aja dulu
nanti kita bca bareng di sana.” Ujarku sambil menatap matanya,
dia mengangguk dan kemudian kami duduk di tempat yang ku
duduki tadi.
“ San, kenapa kamu ajak dia ke sini?” ujar Raina .
“ Aku ingin menanyakan banyak sesuatu kepadanya.” Jawabku.
Sepertinya Raina bingung dan tidak mengerti apa maksudku.
“ Dik, nama kamu siapa?” tanayaku
Komplikasi “ A.....aku....aku Kaila kak.”
“Kamu nggak usah takut, nama kakak Santi, dan ini teman kakak,
namanya Raina. Tadi.......kakak lihat kamu kayaknya pengen
banget baca buku di sini ya?”
“ Iya kak.”
“ Kamu sekolah di mana?”
“ Aku.....nggak sekolah kak.”
“ Loh, kenapa kamu nggak sekolah? Terus kamu bisa baca?” ujar
Raina. Tiba-tiba wajah Kaila menjadi muram
“ sebenarnya, aku pengen banget kak sekolah kayak orang-orang.
Tapi, aku nggak bisa kak, Ibuku bekerja sebagai pemulung
kardus yang hanya berpenghasilan sepuluh ribu per hari. Dan aku
membantunya dengan menyemir sepatu, kadang-kadang aku
mendapat lima belas ribu rupiah perhari, tetapi kadang tidak sama
sekali. Biasanya kami makan sebungkus nasi berdua dalan sehari.
Tak jarang ibuku juga rela berpuasa tidak makan seharian asalkan
aku tidak kelaparan.” Cerita Kaila dengan wajah mendung suram
seakan meneteskan air hujan.
“ Ayah kamu kemana?” tanya Raina lagi.
“Ayah sudah lama pergi entah kemana, ibu bilang ayah pergi
mencari uang, tetapi tidak pernah melihatnya sejak kecil.” Jawab
Kaila dengan tetesan tetesan air mata.
“Terus kok kamu bisa baca?” ujarku kepadanya.
“Aku beruntung kak, walaupun aku tidak sekolah tetapi, ibuku
telah mengajariku membaca dan menulis sejak aku kacil. Sering
kali ibuku membawakanku buku bekas sepulangnya dari
memulung. Sejak dari dulu aku pengen banget ke sini. tapi ibu
selalu melarang, ibuku bilang aku tidak pantas ada di sini dan ibu
takut orang –orang di sini mengejekku karena aku anak jalanan.
Aku ingin membaca semua buku di sini. Ibu bilang semakin
banyak buku yang aku baca maka aku semakin pandai. Aku
harap ada orang yang mau membariku beasiswa karena
kepandaianku. Sehingga aku akan menjadi orang hebat dan bisa
membahagiakan ibuku di masa tuanya nanti.”
Mendengar keinginan dan cita-cita mulia taersebut, aku tidak
sadar bahwa mataku telah berlinang air mata. Tetes demi tetes air
mataku jatuh membasahi hijabku. Betapa malunya diriku, orang
tuaku telah memberiku pendidikan hingga kuliah. Tetapi, sejak
dulu tidak jarang diriku malas untuk belajar atau membaca buku.
Aku bahkan tidak pernah memikirkan sekalipun cita-cita seperti
Kaila. Di saat aku membutuhkan sebuah buku, aku bisa langsung
membelinya. Sedangkan Kaila, ia harus menunggu ibunya
membawakan buku bekas sepulamgnya dari memulung.

Baru ku sadari mengapa kemarin pagi aku tiba-tiba ingin pergi ke


Resolusi Perpustakaan Kota. Ternyata, Allah sedang menuntunku dengan
memberiku petunjuk melalui sebuah kisah dari seorang anak
jalanan yang ingin mendapatkan pedidikan. Tetapi, ia tidak
mendapatkannya karena kakurangan. Betapa kurang
bersyukurnya diriku. Aku masih diberikan Allah kenikmatan
dalam menuntut ilmu. Tidak seperti orang di luar sana yang harus
bersusah payah hanya demi mendapatkan satu ilmu saja.
Unsur-Unsur Cerpen
Unsur Utama Tema Bukti

Pendidikan Sebuah kisah dari seorang anak jalanan


yang ingin mendapatkan pedidikan.

Unsur Utama Alur Bukti

Maju  5 menit kemudian aku telah


menemukan buku yang ku cari
 Setelah kami sampai di sana,aku
turun dari mobil dan menunggu
Raina memarkir mobilnya..

Unsur utama Tokoh Bukti

 Santi (aku)  “ Santi, kamu mau kemana?”


kata Raina saat aku beranjak
dari tempat duduk ku.
 Raina  “Hai Rai.....” sapaku kepada
Raina.
 Kaila  “ A.....aku....aku Kaila kak.”

Unsur Utama Penokohan Bukti

 Santi (pemalas)  sejak dulu tidak jarang diriku


malas untuk belajar atau
membaca buku.

 Raina (baik)  “Tumben kamu mau pergi ke


Perpustakaan Kota. Biasanya,
aku paksa aja kamu nggak
mau.” Ujar Raina di dalam
mobil.
 Kaila (bijaksana & rajin)  Aku ingin membaca semua
buku di sini. Ibu bilang semakin
banyak buku yang aku baca
maka aku semakin pandai.

Unsur Utama latar Bukti

 Latar tempat  - Kami masuk ke Perpustakan


- Perpustakaan Kota Kota bersama
- Luar rumah - Aku pergi keluar dengan
membawa tasku dan mnemui
Raina.
 Latar waktu  - Baru ku sadari mengapa
- Pagi hari kemarin pagi aku tiba-tiba ingin
pergi ke Perpustakaan Kota.

Unsur Utama Sudut Pandang Bukti

Aku (orang pertama tunggal) . Dalam lamunku tiba-tiba terselip


keinginan untuk pergi ke Perpustakan
Kota. Aku berfikir untuk mengajak
sahabatku Raina,

Unsur Utama Amanat Bukti

Jangan menyia-nyiakan pendidikan sebuah kisah dari seorang anak jalanan


karena di luar sana masih banyak orang yang ingin mendapatkan pedidikan.
yang ingin mendapatkannya. Tetapi, Tetapi, ia tidak mendapatkannya karena
mereka tidak mendapatkannya karena kakurangan.
tidak mampu/kekurangan
Kesimpulan

Cerpen yang berjudul “ Curahan Hati Anak Jalanan “ ini menceritakan


tentang seorang anak jalanan bernama kaila yang bekerja menjadi seorang
penyemir sepatu, untuk membantu ibunya yang bekerja sebagai pemulung kardus.
Santi atau tokoh aku tiba-tiba ingin pergi ke perpustakaan kota dan ia pergi
bersama sahabatnya. Kemudian, mereka bertemu dengan Kaila dan ia bercerita
tentang kehidupannya serta harapannya untuk sekolah. Tokoh aku (Santi) seorang
mahasiswa,ia meneteskan air mata ketika mendengar cerita kaila karena dulu ia
sering malas dalam belajar dan sekarang ia merasa malu dengan cita-cita yang
dimiliki Kaila
Cerpan ini mengandung sebuah amanat untuk semua pelajar agar tidak
menyia-nyiakan pendidikan atau melalaikan sekolah mereka karena di luar sana
banyak orang yang ingin bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Namun, mereka tidak mendapatkannya karena tidak mampu atau kekurangan.