Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendekatan determinant menganggap antara variable independent/terikat


(penyakit) dan variable independent/bebas (factor penelitian) berjalan sempurna.

Dalam epidemiologi, penyakit dipandang sebagai keadaan yang


disebabkan oleh banyak factor. Penyakit dipandang tidak hanya disebabkan oleh
adanya mikroorganisme yang mengganggu keadaan biologis tubuh, tetapi juga
dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti lingkungan, sosial, ekonomi,
pendidikan dan faktor-faktor lainnya.

Inferensi kausal dalam epidemiologi adalah hubungan statistik dengan


asosiasi kausal, yang harus dijelaskan dalam pengertian probabilistik, yaitu
bahwa keberadaan faktor A (pajanan/peristiwa yang menimbulkan resiko
penularan) akan meningkatkan peluang terjadinya faktor B (timbulnya
penyakit).

Sebuah pajanan harus memenuhi berbagai persyaratan untuk dapat


dinyatakan sebagai faktor kausal bagi suatu penyakit, diantaranya yang
terpenting adalah asosiasi temporal, yaitu pajanan harus ada mendahului
terjadinya penyakit.

Sifat kausal dibedakan lagi atas kausa cukup (sufficient cause) dan kausa
perlu (necessary cause). Kausa cukup tidak selalu harus ada untuk menimbulkan
penyakit, namun jika kausa cukup ada penyakit pasti akan timbul. Kausa perlu
harus ada untuk menimbulkan penyakit, namun jika kausa perlu ada pun
penyakit tidak selalu timbul. Agar dapat dinyatakan sebagai faktor kausal sebuah
penyakit, sebuah pajanan harus merupakan kausa cukup maupun kausa perlu
bagi penyakit tersebut. Setiap faktor yang turut menyusun dan muncul dalam
setidaknya 1 set suffucuent cause disebut contributory/component cause.
Sedangkan faktor yang selalu ada dalam setiap set sufficient cause adalah

1
necessary cause. Misal, untuk dapat terkena TBC, seseorang tidak hanya harus
terinfeksi kuman MTb, tetapi juga harus kontak efektif dengan penderita TBC
aktif; jumlah dan virulensi kuman patogen infeksius memadai dan daya tahan
sedang tubuh/rendah.

Saat ini riset epidemiologi memiliki tujuan untuk mengetahui penyebab


penyakit, hubungan penyakit dengan penyebab lainnya, serta besarnya pengaruh
terhadap terjadinya penyakit. Hasil riset tersebut memberikan gambaran
mengenai kasualitas (sebab akibat) faktor terhadap terjadinya penyakit yang
sangat berguna dunia kesehatan dan kedokteran. Anjuran dokter untuk
menghindari perilaku merokok yang dapat menyebabkan kanker paru-paru
dibuat berdasarkan hasil riset yang dilakukan berulangkali. Hasil riset juga
digunakan juga sebagai pertimbangan untuk perencanaan kesehatan pada suatu
komunitas, sehingga diharapkan intervensi yang diberikan dapat memperbaiki
status kesehatan pada komunitas tesebut.

B. Rumusan Masalah

Terdapat 2 rumusan masalah dalam makalah ini, antara lain :

1. Apa Pengertian Model Determinisme Murni ?

2. Bagaimana Model Determinisme Murni ?

C. Tujuan

Terdapat 2 tujuan dalam makalah ini, antara lain :

1. Untuk mengetahui pengertian Model Determinisme Murni.

2. Untuk mengetahui bagaimana Model Determinisme Murni.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Determinisme Murni

Model determinisme murni ini memberikan gambaran hubungan yang


sempurna antara variabel dependen/terikat (penyakit) dengan variabel
independen/bebas (faktor yang mempengaruhi). Dapat diartikan bahwa faktor
tersebut merupakan faktor satu-satunya yang dapat menyebabkan penyakit
tersebut.

B. Penjelasan Model Determinisme Murni

Model ini diperkenalkan pertama kali tahun 1840 oleh Jacob Henle
sebelum para ahli dibidang mikrobilogi berhasil mengisolasi dan menumbuhkan
bakteri untuk pertama kali. Kemudian teori tersebut dilanjutkan oleh muridnya
Robeth Koch tahun 1882. Tahun 1937 Robeth Koch memunculkan 3 postulat
(anggapan dasar) yang lebih dikenal dengan Postulat Henle-Koch yang
menyatakan bahwa agen akan menyebabkan penyakit jika syarat-syarat berikut
terpenuhi:

1. Agen tersebut selalu dijumpai pada setiap kasus penyakit yang


diteliti (nescessary cause), pada keadaan yang sesuai:

2. Agen tersebut hanya menyebabakan penayakit yang diteliti, tidak


mengakibatkan penyakit lain (spesifitas efek)

3. Jika agen diisolasi sempurna dari tubuh, dan berulang-ulang ditumbuhkan


dalam kultur yang murni maka dapat menyebabkan terjadinya
penyakit (sufficient cause)

3
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Model determinisme murni ini memberikan gambaran hubungan yang


sempurna antara variabel dependen/terikat (penyakit) dengan variabel
independen/bebas (faktor yang mempengaruhi). Model ini diperkenalkan
pertama kali tahun 1840 oleh Jacob Henle sebelum para ahli dibidang
mikrobilogi berhasil mengisolasi dan menumbuhkan bakteri untuk pertama
kali. Kemudian teori tersebut dilanjutkan oleh muridnya Robeth Koch tahun
1882.

3.2 Saran

Model determinisme murni dapat diajarkan lebih mendalam lagi kepada


mahasiswa agar mahasiswa dapat memahami dan dapat mengaplikasikannya
dengan baik dimasa mendatang.

4
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/315782394/Model-Determinisme-Modern

https://studiepidemiologi.wordpress.com/2017/12/31/model-determenisme-
kausalitas/

https://studiepidemiologi.wordpress.com/2017/12/29/konsep-kausalitas-
hubungan-sebab-akibat-2/

Wuryanto, Arie. (2010). Inferensi Kausal Dalam Epidemiologi. Semarang:


Universitas Diponegoro