Anda di halaman 1dari 24

Paper

Peran Keluarga Terhadap Pasien Penyakit Terminal


dari Aspek Mental

Oleh :
Rahdian Husa
17014101144
Masa KKM : 03 Desember2018 – 30 Desember 2018

Pembimbing :
dr. Herdy Munayang, MA

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Paper yang berjudul

“Peran Keluarga Terhadap Pasien Penyakit Terminal


dari Aspek Mental”

Telah dibacakan, dikoreksi dan disetujui pada Desember2018

Oleh:

Rahdian Husa
17014101144
Masa KKM : 03 Desember 2018 – 30 Desember 2018

Pembimbing :

dr. Herdy Munayang, MA


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 3

A. Konsep Penyakit Terminal.................................................................. 3


B. Pengertian Penyakit Terminal............................................................. 3
C. Perawatan Paliatif............................................................................... 5
D. Tanda Menjelang Kematian................................................................ 6
E. Adaptasi Dengan Penyakit Terminal.................................................. 9
F. Peran Keluarga................................................................................... 15

BAB III KESIMPULAN..................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 20

1
BAB I

PENDAHULUAN

Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit yang dapat disembuhkan baik

pada dewasa dan anak seperti kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru

obstruktif kronis, cystic fibrosiss, stroke, Parkinson, gagal jantung/heart failure,

penyakit genetika dan penyakit infeksi seperti HIV/AIDS yang memerlukan

perawatan paliatif, disamping kegiatan promotif, preventive, kuratif, dan

rehabilitative. Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya

mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak napas, penurunan berat

badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan

spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka

kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya

pemenuhan/pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap

kebutuhan psikososial, social, dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan

interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif.1,2

Sakit Terminal adalah istilah medis dipopulerkan di abad ke-20 untuk

menggambarkan aktif dan ganas. Penyakit itu tidak dapat disembuhkan atau

cukup dirawat dan itu cukup diharapkan mengakibatkan kematianpasien . Istilah

ini lebih sering digunakan untuk penyakit progresif seperti kangker atau lanjut

penyakit jantung daripada Trauma. Dalam penggunaan populer, itu menunjukkan

penyakit yang akan mengakhiri hidup penderita.2

Seorang pasien yang memiliki penyakit seperti ini dapat disebut sebagai

pasien terminal atau sakit parah. Seringkali, pasien dianggap sakit parah ketika

harapan hidup diperkirakan enam bulan atau kurang, di bawah asumsi bahwa

1
penyakit ini akan berjalan normal saja. Para standar enam bulan adalah sewenang-

wenang dan estimasi terbaik yang tersedia dari umur panjang mungkin salah.

Akibatnya, meskipun pasien yang diberikan dengan benar dapat dianggap

terminal, ini bukan jaminan bahwa pasien akan meninggal dalam waktu enam

bulan. Demikian pula, pasien dengan penyakit perlahan maju, seperti AIDS , tidak

bisa dianggap sakit parah karena perkiraan terbaik umur panjang lebih besar dari

enam bulan. Namun ini tidak menjamin bahwa pasien tidak akan mati tiba-tiba

awal.1,2

Masyarakat menganggap perawatan paliatif hanya untuk pasien dengan

kondisi terminal yang akan segera meninggal. Namun konsep perawatan paliatif

menekankan pentingnya integrasi perawatan paliatif lebih dini agar masalah fisik,

psikososial, dan spiritual dapat diatasi dengan baik. Perawatan paliatif adalah

pelayanan kesehatan yang bersifat holistic dan terintegrasi dengan melibatkan

berbagai profesi dengan dasar falsafah bahwa setiap pasien berhak mendapatkan

perawatan terbaik sampai akhir hayatnya.1

Keadaan sarana perawatan paliatif di Indonesia masih belum merata

sedangkan pasien memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu,

komprehensif, dan holistic, maka diperlukan kebijakan perawatan paliatif di

Indonesia yang memberikan arah bagi sarana pelayanan kesehatan untuk

menyelenggarakan pelayanan paliatif.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Penyakit Terminal

Pasien dengan penyakit terminal adalah pasien yang sedang menderita sakit

dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis

sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, pasien penyakit

terminal harus mendapatkan perawatan paliatif yang bersifat meredakan gejala

penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan.1

Jadi fungsi perawatan paliatif pada pasien penyakit terminal (terminal

illness)adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya

dan meminimalisir masalah emosi, sosial dan spiritual. Penjelasan tersebut

mengindikasi bahwa pasien terminal illness adalah orang-orang sakit yang

diagnosis dengan penyakit berat yang tidak dapat disembuhkan lagi dimana

prognosisnya adalah kematian.1,2

B. Pengertian Penyakit Terminal

Kondisi Terminal adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami sakit

atau penyakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada

proses kematian dalam 6 bulan atau kurang. Kematian sebagai wujud kehilangan

kehidupan dan abadi sifatnya, baik bagi yang telah menjalani proses kematian

maupun bagi yang ditinggalkan, kematian ini dapat bermakna berbeda bagi setiap

orang.2,3

Kematian adalah sebuah rahasia Tuhan. Namun, sebab-sebab kematian

merupakan fenomena yang selalu mengalami dinamika perubahan sesuai dengan

3
dinamika perubahan manusia sebab kematian adalah akhir dari tahapan tugas-

tugas perkembangan hidup manusia. Manusia bias mati karena sakit, kecelakaan,

terbunuh, bunuh diri, euthanasia atau mungkin mati tanpa sebab apa-apa. Manusia

yang mati secara mendadak tanpa melalui proses menuju kematian atau sekarat

dalam jangka waktu yang relative pendek pasti tidak menunjukan dinamika

sebagaimana yang dikemukakan oleh Kubbler sedangkan mereka yang mati

melalui proses menuju kematian dalam jangka waktu yang relatif panjang seperti

pasien erminal illness akan menunjukan dinamika yang sangat kompleks.1,2

Saat kematian itu datang, maka berhentilah semua aktivitas organ-organ

yang menyokong kehidupan. Suasana berkabung dan emosi sedihlah yang biasa

mendominasi kematian. Semua makhluk yang pernah hidup pasti akan mati,

termasuk manusia. Hanya saja kapan waktu tibanya kematian itulah yang tidak

pasti. Ketakutan dan kecemasan akan suatu kematian merupakan fenomena yang

umum dialami oleh semua manusia. Ketakutan dan kecemasan itu dapat muncul

karena waktu tibanya yang tidak diketahui dan belum adanya kesiapan untuk

menghadapi kematian itu sendiri. Kesiapan akan meninggalkan orang-orang yang

disayangi, kesiapan untuk meninggalkan dunia yang mungkin penuh dengan

kenikmatan, dan menuju suatu tempat atau kehidupan lain yang berbeda.2

Hal ini berarti bahwa waktu kematiannya lebih jelas diketahui dan menjadi

suatu hal yang pasti. Meskipun waktu kematian yang sudah dapat dilihat dengan

lebih pasti, namun rasa tidak terima, takut, marah, cemas, dan sedih menghinggapi

pasien terminal illness setelah ia didiagnosis seperti itu. Diagnosis terminal illness

dapat menyebabkan trauma bagi pasien dan keluarganya.2

4
C. Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas

hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan

penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui

identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-

masalah lain, fisik, psikososial, dan spiritual.3

Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif

dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi.Tujuannya

untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan

kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada

akhirnya pasien meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap

secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapi penyakit yang

dideritanya.3,4

Jadi, tujuan utama perawatan paliatif bukan untuk menyembuhkan

penyakit.Dan yang ditangani bukan hanya penderita, tetapi juga keluarganya.Dulu

perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis sudah

tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker,

bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan

seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat kronis.2,3

Menurut dr. Maria A. Witjaksonoprinsip-prinsip perawatan paliatif adalah

sebagai berikut:

1. Menghargai setiap kehidupan.

2. Menganggap kematian sebagai proses yang normal.

5
3. Tidak mempercepat atau menunda kematian.

4. Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.

5. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.

6. Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam perawatan

pasien dan keluarga.

7. Menghindari tindakan medis yang sia-sia.

8. Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif sesuai

dengan kondisinya sampai akhir hayat.

9. Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita.

Perawatan paliatif ini bisa mengeksplorasi individu pasien dan keluarganya

bagaimana memberikan perhatian khusus terhadap penderita, penanggulangannya

serta kesiapan untuk menghadapi kematian.Perawatan paliatif dititikberatkan pada

pengendalian gejala dan keluhan, serta bukan terhadap penyakit utamanya karena

penyakit utamanya tidak dapat disembuhkan. Dengan begitu pasien terbebas dari

penderitaan akibat keluhan dan bisa menjalani akhir hidupnya dengan nyaman.2,3

D. Tanda Menjelang Kematian

Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian

Ada 4 tipe dari perjalanan proses kematian, yaitu:3,4

6
a. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya

perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik.

b. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya

terjadi pada kondisi penyakit yang kronik.

c. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti,

biasanya terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena adanya

kanker.

d. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi pada pasien

dengan sakit kronik dan telah berjalan lama.

Tanda-tanda Klinis Menjelang Kematian3,4

o Kehilangan Tonus Otot, ditandai:

a. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.

b. Kesulitan dalam berbicara, proses menelan dan hilangnya reflek

menelan.

c. Penurunan kegiatan traktus gastrointestinal, ditandai: nausea,

muntah, perut kembung, obstipasi, dsbg.

d. Penurunan control spinkter urinari dan rectal.

e. Gerakan tubuh yang terbatas.

o Kelambatan dalam Sirkulasi, ditandai:

a. Kemunduran dalam sensasi.

b. Cyanosis pada daerah ekstermitas.

c. Kulit dingin, pertama kali pada daerah kaki, kemudian tangan,

telinga dan hidung.

7
o Perubahan-perubahan dalam tanda-tanda vital

a. Nadi lambat dan lemah.

b. Tekanan darah turun.

c. Pernafasan cepat, cepat dangkal dan tidak teratur.

o Gangguan Sensoria.

a. Penglihatan kabur.

b. Gangguan penciuman dan perabaan.

Tanda-tanda Klinis Saat Meninggal3,4

o Pupil mata melebar.

o Tidak mampu untuk bergerak.

o Kehilangan reflek.

o Nadi cepat dan kecil.

o Pernafasan chyene-stoke dan ngorok.

o Tekanan darah sangat rendah.

o Mata dapat tertutup atau agak terbuka.

Tanda-tanda Meninggal secara klinis3,4

Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahan-

perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. World Medical Assembly, menetapkan

beberapa petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu:3,4

a. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.

b. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.

c. Tidak ada reflek.

8
d. Gambaran mendatar pada EKG.

Beberapa Reaksi terhadap Penyakit Terminal

Beberapa pasien mungkin masih punya waktu untuk kematian psikologis:

o mereka mungkin akan menyerah pada keadaan

o Beberapa orang mencari cara untuk mengurangi nyeri dan gangguan

o emosional dari penyakit yang lama serta menunggu kematian dengan

tenang

o Sebagian lagi menjadi takut atau marah dan menunjukkan suasana hati

yang bergeser dari menolak sampai depresi

o Sebagian yang lain mencoba mencapainya, mencoba mengungkapkan

perasaannya dan pikirannya tentang masa depan yang tidak pasti

o Yang lain putus asa dan cemas atau periode mencari, pertanyaan yang

masih kabur

E. Adaptasi Dengan Penyakit Terminal

Bagaimana cara seseorang beradaptasi dengan terminal illness sesuai dengan umurnya

dijelaskan Sarafinosebagai berikut:4,5,6

1. Anak

Konsep kematian masih abstrak dan tidak dimengerti dengan baik oleh anak-anak.

Sampai umur 5 tahun, anak masih berpikir bahwa kematian adalah hidup di tempat lain

dan orang dapat datang kembali. Mereka juga percaya bahwa kematian bisa dihindari.

Kematian adalah topik yang tidak mudah bagi orang dewasa untuk didiskusikan dan

9
mereka biasanya menghindarkan anaknya dari realita akan kematian dengan

mengatakan bahwa orang mati akan “pergi” atau “berada di surga” atau hanya

tidur.Pada anak yang mengalami terminal illness kesadaran mereka akan muncul secara

bertahap. Pertama, anak akan menyadari bahwa mereka sangat sakit tetapi akan sembuh.

Kemudian mereka menyadari penyakitnya tidak bertambah baik dan belajar mengenai

kematian dari teman seumurnya terutama orang yang memiliki penyakit mirip, lalu

mereka menyimpulkan bahwa mereka juga sekarat.2,3

Saat ini, para ahli percaya bahwa anak-anak seharusya mengetahui sebanyak

mungkin mengenai penyakitnya agar mereka mengerti dan dapat mendiskusikannya

terutama mengenai perpisahan dengan orang tua. Ketika anak mengalami terminal

illness biasanya orang tua akan menyembunyikannya, sehingga emosi anak tidak

terganggu. Untuk anak yang lebih tua, pendekatan yang hangat, jujur, terbuka, dan

sensitif mengurangi kecemasan dan mempertahankan hubungan yang saling

mempercayai dengan orang tuanya.2,3

INFANT

a. Konsep kematian belum ada, berpisah dari ortu

(separation) dianggap sebagai kematian

b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Bereaksi kuat terhadap separation = terpisah dari ortu sbg caregivers

2) menangis keras, menendang-nendang

c. Implikasi untuk komunikasi

1) Memahami strategi penanganan separation anxiety

10
2) Bantu anggota keluarga untuk koping terhadap kematian sehingga mereka siap

untuk kematian bayi

EARLY CHILDHOOD

a. Konsep kematian dipengaruhi oleh attitude orang tua

1) Saat konsep kematian berkembang, kematian dianggap sebagai

temporer, gradual, reversibel dan menurunkan kontinuitas hidup

2) Wishes (berkeinginan), misbehavior, unrelated action dan kematian

3) Bila punya pengalaman mengenai kematian, konsepnya lebih matang

walau ia belum bisa mengungkapkannya

b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Meningkatkan keingintahuan mengenai hal-hal yang berhubunga

dengan kematian, secara spontan mendiskusikan tentang kematian

2) berbincang-bincang dengan orang mati

c. Implikasi untuk komunikasi

1) Pertanyaan tentang kematian dari anak

2) Diskusi tentang kematian, hal-hal yang kurang dimengerti

3) Kaji miskonsepsi terutama bila takut dan cemas

4) Beri pengertian, kematian merupakan bagian dari kehidupan dan

hal itu wajar

5) Kesempatan untuk diperhatikan dan bercakap-cakap degan orang

tua pada anak yag dying

6) Dekat dengan orang tua

11
MIDDLE CHILDHOOD

a. Konsep kematian : 4 ½ - 8 th mengerti semua yang hidup

nanti akan mati, universality, irreversible, nonfunctionality

b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Pertanyaan ttg kematian lebih detail

2) Being death

3) Hub dg ritual

4) Ingin menyentuh corps bgmn rasanya

5) Bermain utk lebih mengerti kematian dan mengkoping perasaan

c. Implikasi untuk komunikasi

1) Dengan memberikan penjelasan yg konkrit ttg penyebab kematian

2) Dengan bermain

3) Diskusi mengenai takut krn kehilangan ortu

4) Siblings: butuh kesempatan untuk tanya tentang sakit dan kematian

saudaranya dan informasi yang spesifik tentang penyebab kematian

5) Ggn thd perasaan bersalah pd sibling thd saudaranya yang mati

6) Lebih concern thd separasi, nyeri, mutilition dan suffering

7) Cemas terhadap pengaruh kematiannya pada orang tua sehingga

menutup komunikasi

LATE CHILDHOOD

a. Konsep kematian: universality, irreversibelity, nonfunctioning

of death, mulai cemas terhadap kematiannya sendiri, tertarik pada keadaan

setelah kematian

12
b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Menggunakan ritual utk menurunkan cemas

2) TL: reckless (berani)

3) Tough demeanor: cara bertindak takut dan mudah terluka ? koping thd

perasaan

4) Humor

c. Implikasi untuk komunikasi

1) Pengungkapan rasa takut dan mengerti bahwa takut itu normal

2) Butuh informasi lebih detail mengapa ssorg hrs mati

3) Diskusi konsekwensi realistik dari reckless activity

4) Respon emosional

5) Bantu dying child merasa bahwa hidupnya penting dan berarti

2. Remaja atau Dewasa muda

Walaupun remaja dan dewasa muda berpikir bahwa kematian pada usia muda

cukup tinggi, mereka memimpikan kematian yang tiba-tiba dan kekerasan. Jika mereka

mengalami terminal illness, mereka menyadari bahwa kematian tidak terjadi semestinya

dan merasa marah dengan “ketidakberdayaannya” dan “ketidakadilan” serta tidak

adanya kesempatan untuk mengembangkan kehidupannya.3,4

Pada saat seperti ini, hubungan dengan ibunya akan menjadi lebih dekat.

Menderita terminal illness terutama pada pasien yang memiliki anak akan membuat

pasien merasa bersalah tidak dapat merawat anaknya dan seolah-olah merasa bahagia

melihat anaknya tumbuh. Karena kematian pada saat itu terasa tidak semestinya, dewasa

13
muda menjadi lebih marah dan mengalami tekanan emosi ketika hidupnya diancam

terminal illness.4,5

a. Konsep kematian

1) Pengertian mengenai kematian lebih jelas

2) “here and now” strong focus

3) mencari identitas personal ? sulit menerima kematian

4) masih memegang konsep kematian dari pengalaman dan

komunikasi dr keluarga

5) working trough religious n philosophical views about life,

death and after life

b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Cemas krn kematian terutama krn citra diri dan konsep

hidup yg terancam

2) Denial and avoidance of death menurunkan kecemasan

akan kematian

c. Implikasi untuk komunikasi

1) Kesempatan utk membuka percakapan mengenai kematian

2) Kaji persepsi spesifik adolescence

3) Peringatan thd perasaan bersalah, bermusuhan, cemas, dan bingung saat

komunikasi

4) Treat feeling n concern dg respek yg sepenuhnya dan rasa percaya

5) Terbuka saat sharing pendapat dan concern ttg kematian

14
6) Betulkan miskonsepsi dan tdk menghakimi

7) Dying adolescence sulit sharing concern dg keluarga

8) Sering merasa terisolasi dr komunikasi kelompoknya

9) Support utk mempertahankan harga diri

10) Bantu dlm meningkatkan positive closure (pengakhiran) ttg arti hidup yg

singkat

Karakteristik kematian anak:

a. Tidak diharapkan dan tiba – tiba

b. Unexpected n lingering (tdk datang2 ? tetap hidup)

c. Anticipated n expected

d. Anticipated for the future but unexpected at the time of death

e. Anticipated n lingering

3. Dewasa madya dan dewasa tua

Penelitian membuktikan bahwa dewasa muda menjadi semakin tidak takut dengan

kematian ketika mereka bertambah tua. Mereka menyadari bahwa mereka mungkin

akan mati karena penyakit kronis. Mereka juga memiliki masa lalu yang lebih panjang

dibandingkan orang dewasa muda dan memberikan kesempatan pada mereka untuk

menerima lebih banyak. Orang-orang yang melihat masa lalunya dan percaya bahwa

mereka telah memenuhi hal-hal penting dan hidup dengan baik tidak begitu kesulitan

beradaptasi dengan terminal illness.2,3

F. Peran Keluarga

Peran Keluarga:

15
1. Masalah keluhan fisik dalam perawatan paliatif banyak cara yang dapat

dilakukan, oleh keluarga untuk membantu mengurangi keluhan yang ada,

misalnya dengan relaksasi, pengaturan posisi, penyesuaian lingkungan dll.

Hal tersebut dapat dilakukan keluarga dengan bimbingan dan tenaga

kesehatan tim paliatif.4,5,6


2. Masalah perawatan pasien memandikan, melakukan perawatan mulut,kulit,

membantu buang air kecil/besar pada mereka yang mengalami kelumpuhan,

melakukan pembalutan pada bagian tubuh yang membengkak karena adanya

sumbatan aliran getah bening adalah hal hal lain yang perlu dilakukan oleh

keluarga. Pemakaian alat kedokteran misalnya oksigen nebulizer (penguap)

tertentu dan perawatan stoma ( lubang pada bagian tubuh tertentu untuk

tujuan sesuai lokasinya), kateter , selang yang dimasukkan melalui hidung

dengan berbagai tujuan juga menjadi tugas keluarga jika pasien berada di

rumah.3,4,5
3. Masalah gangguan psikologis komunikasi yang baik antara pasien, keluarga

dan tim paliatif lain akan sangat membantu mengurangi stress psikologis

pasien. Selain komunikasi, menciptakan suasanan keterbukaan anggota

keluarga, dan melibatkan pasien dalam mengambil keputusan terhadap

tindakan yang akan dilakukan juga sangat bermanfaat.3,4,5


4. Masalah kesulitan sosial bagaimana keluarga bereaksi terhadap kondisi

pasien akan mempengaruhi bagaimana pasien menerima keadaannya dan

bagaimana berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Jadi keluarga

mempunyai peran besar dalam membantu pasien.3-6

5. Masalah spiritual pasien kanker mungkin menyalahkan diri sendiri karena

kondisi saat ini dianggap akibat atau hukuman dosa yang pernah dilakukan

di masa lampau dan muncul ketakutan akan kematian. Anggapan bahwa

16
dirinya tidak memiliki lagi arti dalam keluarga dan menjadi beban keluarga

serta penyesalan belum dapat memenuhi keinginan keluarga sering dialami

pasien kanker stadium lanjut. Keluarga sangat berperan dalam mengatasi hal

ini dibantu oleh rohaniawan.3,4,5

Keluarga di dalam keperawatan palliatif memiliki peran yang terlibat

langsung. Merekaselama mendampingi pasien juga mengalami stress dan

perubahan peran yang dapat secaralangsung atau tidak langsung berhubungan

dengan kesakitan pasien. Keluarga juga akanmengalami proses berduka baik

sebelum atau sesudah kematian pasien. Sehingga dalam hal ini keluarga benar-

benar memiliki peran penting sebagai salah satu sistem dukungan untukpasien

palliatif.Di keperawatan palliatif seorang perawat melayani pasien dan

keluargasebagai satu unit.Dan perawat memperluas pelayanan keperawatanya

untuk menanganiproses berduka yang dialami oleh keluarga. Anggota keluarga

yang lain berfungsi sebagaiasisten perawat (care giver) yang tidak formal.4,5,6

Saat pasien berada pada situasi dimana diatidak bisa berkomunikasi atau

bercakap-cakap maka keluarga bisa berperan sebagai wakiluntuk menjelaskan

kondisi pasien atau membuat keputusan medis.Tugas dari keluarga sebagai care

giver informal memiliki banyak potensi tugas untukselama perawatan pasien.

Keluarga akan memberikan perawatan secara langsung kepadapasien seperti

misalnya: pemberian obat, perawatan luka, membantu ke toilet,

memandikan,menyiapkan makanan, membantu mobilitas dan memberikan

dukungan emosional.Perawatan paliatif agak istilah baru bagi banyak ketika

datang ke akhir perawatanhidup. Ini merupakan suatu pendekatan untuk kesehatan

17
yang mengkhususkan diri dalamrelief penderitaan dan mencapai kualitas hidup

terbaik bagi orang-orang dengan penyakitlanjutan.3,4

Ketika kami mendekati akhir kehidupan kita mencari bantuan dari rasa

sakit, rasakontrol, untuk meringankan beban keluarga dan untuk memperkuat

hubungan denganorang yang dicintai.Perawatan paliatif melibatkan orang dengan

penyakit lanjutan, anggota keluargamereka, di samping untuk dokter, perawat,

pendeta, apoteker dan disiplin lain yang sesuaidalam pertemuan kelompok.

Tujuannya adalah untuk melibatkan keluarga dalam diskusitentang keinginan

pasien.Ini mungkin termasuk terapi memperpanjang hidup ataukenyamanan

tindakan yang mungkin termasuk perawatan rumah perawatan.Hari ini, karena

sebagian besar individu yang paling tidak nyaman mendiskusikanlangkah-langkah

akhir hidup, banyak orang mencari terapi memperpanjang hidup.2,3

Perawatan paliatif adalah pelayanan kesehatan yang bersifat holistic dan

terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan dasar bahwa setiap pasien

berhak mendapatkan perawatan yang terbaik sampai akhir hayatnya. Perawatan

paliatif ini berupa dukungan dan motivasi ke pasien.Kemudian setiap keluhan

yang timbul ditangani dengan pemberian obat untuk mengurangi rasa

sakit.Namun kebutuhan pasien dengan suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/

pengobatan gejala fisik tetapi juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan

psikososial, social dan spiritual yang dapat dilakukan dengan perawatan

paliatif.Perawatan paliatif ini bisa mengeksplorasi individu pasien dan

keluarganya bagaimana memberikan perhatian khusus terhadap penderita,

penanggulangannya serta kesiapan untuk menghadapi kematian.Pada perawatan

paliatif pasien diajak untuk lebih bisa menerima keadaannya sehingga masih bisa

18
menjalani hidupnya dan dapat mencapai kualitas hidup yang terbaik bagi pasien

dan keluarganya.2,4

BAB III

PENUTUP

Keluarga di dalam keperawatan palliatif memiliki peran yang terlibat

langsung. Merekaselama mendampingi pasien juga mengalami stress dan

perubahan peran yang dapat secaralangsung atau tidak langsung berhubungan

dengan kesakitan pasien. Keluarga juga akanmengalami proses berduka baik

sebelum atau sesudah kematian pasien. Sehingga dalam halini keluarga benar-

benar memiliki peran penting sebagai salah satu sistem dukungan untukpasien

palliative

Peran keluarga dalam perawatan paliatif, meliputi :

1. Masalah keluhan fisik dalam perawatan paliatif banyak cara yang dapat

dilakukan, oleh keluarga untuk membantu mengurangi keluhan yang ada


2. Masalah perawatan pasien memandikan, melakukan perawatan mulut,kulit,

membantu buang air kecil/besar pada mereka yang mengalami kelumpuhan


3. Masalah gangguan psikologis komunikasi yang baik antara pasien, keluarga

dan tim paliatif lain akan sangat membantu mengurangi stress psikologis

pasien.

19
4. Masalah kesulitan sosial bagaimana keluarga bereaksi terhadap kondisi

pasien akan mempengaruhi bagaimana pasien menerima keadaannya dan

bagaimana berinteraksi dengan lingkungan sosialnya


5. Masalah spiritual pasien

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Kozier. Fundamentals of Nursing: concept theory and practices.

Philadelphia. Addison Wesley. 2009.


2. Rasjidi, Imam. Perawatan Paliatif Suportif & Bebas Nyeri Pada Kanker. CV

Sagung Seto, Jakarta. 2008

3. Hurlock, E. B., 2013. Perkembangan Anak Jilid 1(Edisi 6). Penerbit

Erlangga : Jakarta

4. Sadock B, Sadock V. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of

Psychiatry, 10 th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2017.

5. Mönks F, Knoers P, HaditonoR.Psikologi Perkembangan Pengantar dalam

Berbagai Bagiannya.Gadjah MadaUniversity Press: Yogyakarta. 2012

6. Sutarno.Eutanasia Yang Tidak Disadari Di Rumah Sakit, disampaikan dalam

Kongres Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia di Yogyakarta 10 Juni

2012.

21