Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian di


dunia. Hal ini ditunjukkan oleh data WHO (World Health Organization) bahwa
63% dari 56 juta kematian disebabkan oleh PTM pada tahun 2008. Sebagian
besar (60%) kematian berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler, diabetes,
kanker dan penyakit pernafasan kronis. Kematian akibat PTM diperkirakan akan
terus meningkat di seluruh dunia dan peningkatan terbesar akan terjadi di negara-
negara berpenghasilan menengah dan rendah. Hal ini didasarkan dari laporan
WHO bahwa lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal
akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, stoke dan
diabetes. Pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta kematian pertahun karena
PTM naik 9 juta jiwa dari 38 juta pada saat ini.

Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab kematian tertinggi di


Indonesia yaitu 64%. Sebagian besar PTM disebabkan oleh penyakit
kardiovaskuler (30%), selanjutnya kanker (13%), penyakit pernafasan (7%),
diabetes (3%) dan yang 10 % disebabkan penyakit PTM lainnya. Selanjutnya,
pada tahun 2008 jumlah laki-laki yang meninggal akibat PTM sebesar 582.300
dan perempuan sebesar 481.700.

Peningkatan kejadian PTM berhubungan dengan peningkatan risiko


akibat perubahan gaya hidup, pertumbuhan populasi dan peningkatan usia
harapan hidup. Faktor risiko PTM berhubungan dengan perilaku tidak sehat
seperti merokok, kurang aktivitas fisik, diet kurang buah dan sayur sehingga
upaya pengendalian dan pencegahan PTM perlu adanya perubahan perilaku.
Kemudian pemerintah melalui kemenkes melakukan intervensi melalui program
CERDIK.

1
B. Rumusan Masalah

Terdapat 2 rumusan masalah dalam makalah ini, antara lain :

1. Apa yang Dimaksud dengan Program CERDIK ?

2. Apa Saja Penyakit yang Dapat Dicegah Melalui Program CERDIK.

C. Tujuan

Terdapat 2 tujuan dalam makalah ini, antara lain :

1. Untuk Mengetahui Apa yang Dimaksud dengan Program CERDIK.

2. Untuk Mengetahui Apa Saja Penyakit yang Dapat Dicegah Melalui Program
CERDIK.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Program CERDIK

CERDIK merupakan salah satu program kemenkes yang merupakan


akronim atau singkatan dari Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok,
Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stres.
B. Penyakit – Penyakit yang Dapat Dicegah Melalui Program CERDIK
1. Diabetes
Dewasa ini ada sekitar 422 juta orang penyandang diabetes yang berusia
18 tahun di seluruh dunia atau 8,5% dari penduduk dunia. Namun 1 dari 2 orang
dengan Diabetes tidak tahu bahwa dia penyandang Diabetes.Oleh karena itu,
sering ditemukan penderita Diabetes pada tahap lanjut dengan komplikasi
seperti; serangan jantung, stroke, infeksi kaki yang berat dan berisiko amputasi,
serta gagal ginjal stadium akhir.
90% penderita diabetes diseluruh dunia merupakan diabetes tipe 2 yang
disebabkan oleh gaya hidup yang kurang sehat dan sebetulnya 80% dapat
dicegah, ujar Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K)
pada pembukaan Dialog Interaktif Hari Kesehatan Sedunia 2016 di Jakarta
Selatan (7/4).
Diabetes sendiri merupakan penyakit yang disebakan oleh tingginya kadar
gula darah akibat gangguan pada pankreas dan insulin. Di Indonesia, data
Riskesdas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi Diabetes di
Indonesia dari 5,7% tahun 2007 menjadi 6,9% atau sekitar sekitar 9,1 juta pada
tahun 2013. Data International Diabetes Federation tahun 2015 menyatakan
jumlah estimasi penyandang Diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta.
Seperti kondisi di dunia, Diabetes kini menjadi salah satu penyebab kematian
terbesar di Indonesia. Data Sample Registration Survey tahun 2014
menunjukkan bahwa Diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3
di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah Stroke (21,1%) dan

3
penyakit Jantung Koroner (12,9%). Bila tak ditanggulangi, Kondisi ini dapat
menyebabkan penurunan produktivitas, disabilitias, dan kematian dini.
Berdasarkan data World Economic Forum April 2015, potensi kerugian
akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia pada periode 2012-2030 mencapai
4,47 triliun dolar, atau 5,1 kali PDB 2012. Besarnya pembiayaan kesehatan
akibat Diabetes tampak dari klaim BPJS sampai tahun 2015. Ternyata Diabetes
dan komplikasinya adalah salah satu kelompok klaim terbesar untuk biaya
catastrophic JKN, yaitu 33 % dari total pengeluaran. Itulah sebabnya, Agenda
2030 dari Sustainable Development Goals (SDGs) menetapkan indikator runtuk
mengurangi angka kematian prematur dari Penyakit Tidak Menular (PTM) salah
satunya Diabetes sebanyak sepertiga pada tahun 2030.
Diabetes dan komplikasinya membawa kerugian ekonomi yang besar bagi
penyandang Diabetes, keluarga mereka, dan Negara, ujar Menkes.
Lebih lanjut, Menkes menyatakan bahwa salah satu faktor predominan
Diabetes adalah berat badan berlebih dan obesitas. Pola makan atau diet kaya
kalori, garam, lemak jenuh dan gula, dan rendah serat dapat menyebabkan
peningkatan berat badan berlebih dan dengan demikian meningkatkan risiko
Diabetes. Keadaan ini cukup tinggi prevalensinya di masyarakat Indonesia.
Untuk mengendalikan Diabetes Kemenkes sendiri telah membentuk
13.500 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan akses warga
melakukan deteksi dini penyakit diabetes. Selain itu Menkes menghimbau
masyarakat untuk melakukan aksi CERDIK, yaitu dengan melakukan:
Cek kesehatan secara teratur untuk megendalikan berat badan agar tetap
ideal dan tidak berisiko mudah sakit, periksa tensi darah, gula darah, dan
kolesterol secara teratur. Enyahkan asap rokok dan jangan merokok. Rajin
melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, seperti berolah raga, berjalan
kaki, membersihkan rumah. Upayakan dilakukan dengan baik, benar, teratur dan
terukur. Diet yang seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat dan gizi
seimbang, konsumsi buah sayur minimal 5 porsi per hari, sedapat mungkin
menekan konsumsi gula hingga maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari,

4
hindari makanan/minuman yang manis atau yang berkarbonasi Istirahat yang
cukup. Kelola stress dengan baik dan benar.
2. Kanker
Kanker dapat muncul karena gaya hidup yang tidak sehat. Walau penyakit
ini belum bisa disembuhkan, tapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan
bahwa 43 persen kanker dapat dicegah.
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pun mengingatkan pentingnya gaya
hidup sehat untuk mencegah risiko kanker, bahkan penyakit lainya. Ada satu
kata yang perlu diingat untuk mencegah kanker dan sejumlah penyakit lainnya,
yaitu CERDIK.
Nila menjelaskan, CERDIK merupakan singkatan dari Cek kesehatan
secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan
kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Jika CERDIK dijalankan
dengan baik, maka dapat mengurangi risiko terkena kanker.
Menurut Nila, beberapa faktor risiko yang menyebabkan kanker
diantaranya kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum
alkohol, kegemukan, pola makan tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui,
dan perempuan yang melahitkan di atas usia 35 tahun.
“Jika kita menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, maka risiko atau
kemungkinan untuk terkena kanker akan berkurang,” lanjut Nila.
Setiap tahunnya, diperkirakan 12 juta orang di dunia menderita kanker dan
7,6 juta diantaranya meninggal dunia. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar
tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia yaitu 14 per 1000 penduduk. Laporan
Global Burden Cancer tahun 2012 pun memperkirakan bahwa kasus kanker di
Indonesia sebesar 134 per 100.000 penduduk.
3. Gagal Ginjal Kronis
Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk CERDIK, guna
mencegah berbagi risiko penyakit tidak menular, seperti pencegahan gagal ginjal
kronis.
Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Lily
Sriwahyuni Sulistyowati, MM, mengatakan, kerusakan jaringan ginjal yang

5
berfungsi untuk menyaring darah atau dikenal juga dengan istilah Nefropati,
merupakan penyakit tidak menular yang sebenarnya dapat dicegah. Penyakit
ginjal dijuluki sebagai silent disease karena seringkali tidak menunjukkan tanda-
tanda peringatan dan jika tidak terdeteksi, sehingga akan memperburuk kondisi
penderita dari waktu ke waktu.
Untuk itu, guna mencegah berbagai risiko penyakit tidak menular,
khususnya pencegahan gagal ginjal kronis itu, Kemenkes mengajak masyarakat
untuk CERDIK. CERDIK merupakan kepanjangan dari: Cek kesehatan secara
berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin beraktifitas fisik; Diet yang baik dan
seimbang; Istirahat yang cukup; dan Kelola stress.
Diinformasikan sebelumnya, Kemenkes RI mengemukakan bahwa dalam
beberapa tahun belakangan ini telah terjadi perubahan pola penyakit di
Indonesia, antara lain dengan meningkatnya tren penyakit katastropikdi setiap
tahunnya. Penyakit katastropik merupakan penyakit berbiaya tinggi dan secara
komplikasi dapat membahayakan jiwa penderitanya, antara lain penyakit ginjal,
penyakit jantung, penyakit syaraf, kanker, diabetes mellitus, dan haemofilia.
4. Jantung Koroner
Survei Sample Regristration System (SRS) pada tahun 2014 di Indonesia
menunjukkan, penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab kematian
tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau
masyarakat agar melakukan Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap
rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang
cukup dan Kelola stres (CERDIK) untuk mengendalikan faktor risiko PJK.
"Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan,
prevalensi tertinggi untuk penyakit Kardiovaskuler di Indonesia adalah PJK,
yakni sebesar 1,5%. Dari prevalensi tersebut, angka tertinggi ada di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (4,4%) dan terendah di Provinsi Riau (0,3%)," kata
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI,
dr Lily S Sulistyowati, MM usai peluncuran obat jantung baru di Jakarta, Sabtu
(29/07/2017).

6
Menurut kelompok umur, PJK paling banyak terjadi pada kelompok umur
65-74 tahun (3,6%) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2%), kelompok
umur 55-64 tahun (2,1%) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3%). Sedangkan
menurut status ekonomi, jumlah terbanyak yang mengidap PJK berada pada
tingkat ekonomi bawah (2,1%) dan menengah bawah (1,6%).
Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5
juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5
juta kematian di seluruh dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit
kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah
sampai sedang.
Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3%) di
antaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%)
disebabkan oleh stroke.
Pembiayaan penyakit katastropik, lanjut Lily Sulistyowati, menurut data
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan tahun 2016
sudah menghabiskan biaya hampir Rp14,6 triliun. Sedangkan tahun 2015,
menghabiskan biaya hampir Rp14,3 triliun.
Paling besar biaya adalah untuk penyakit jantung, di mana terjadi
pembengkakan pembiayaan dibanding tahun 2015, yakni sebesar Rp6,9 triliun
(48,25%) menjadi Rp7,4 triliun (50,7%) pada tahun 2016.
"Penyakit Kardiovaskuler sebetulnya dapat dicegah dengan healthy
lifestyle, seperti mengurangi merokok, diet yang sehat, aktivitas fisik dan tidak
menggunakan alkohol. Juga memperhatikan pola makan," kata dr Lily
Sulistyowati.
Berdasarkan data Survei Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) tahun
2014 menunjukkan bahwa proporsi penduduk Indonesia yang mengkonsumsi
lemak lebih dari 67 gram perhari sebesar 26,5%, konsumsi natrium lebih dari
2000 mg sebesar 52,7% dan 4,8% penduduk mengkonsumsi gula lebih dari 50
gram.
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) menjadi salah satu
masalah kesehatan utama di negara maju maupun berkembang. Upaya yang

7
telah dilakukan Kemenkes dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit
Jantung dan Pembuluh Darah diantaranya dengan mesosialisasikan perilaku
CERDIK.
Apa itu CERDIK? Yakni, Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap
rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang
cukup dan Kelola stres.
Selain itu, masyarakat diimbau mengukur tekanan darah dan pemeriksaan
kolesterol rutin atau minimal sekali dalam setahun di Pobindu PTM/Fasilitas
Pelayanan Kesehatan.
Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan
Masyarakat Hidup Sehat (Germas), maka diharapkan seluruh komponen bangsa
berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Diharapkan, dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat
menurunkan biaya pelayanan kesehatan. Tahun 2017 Germas difokuskan pada
tiga kegiatan, yakni peningkatan aktivitas fisik, peningkatan konsumsi buah dan
sayur serta deteksi dini atau periksa kesehatan secara berkala.
Kementerian Kesehatan mengimbau seluruh komponen bangsa baik
pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan
mendukung upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko PJK, sehingga
angka kesakitan, kematian dan kecacatan karena PJK dapat diturunkan.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

CERDIK merupakan akronim atau singkatan dari Cek kesehatan secara


rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup
dan Kelola stres. Program CERDIK dapat mencegah penyakit diabetes, kanker,
gagal ginjal kronis dan jantung koroner.

3.2 Saran

Program CERDIK dapat diajarkan lebih mendalam lagi kepada


mahasiswa agar mahasiswa dapat memahami dan dapat mensosialisasikan
program tersebut dengan baik kepada masyarakat dimasa mendatang.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://www.depkes.go.id/article/view/16040700002/menkes-mari-kita-cegah-
diabetes-dengan-cerdik.html
http://www.tribunnews.com/kesehatan/2015/02/04/ini-dia-kepanjangan-dari-kata-
cerdik-kata-kunci-cegah-kanker
https://www.elshinta.com/news/51807/2016/03/11/ayo-cerdik-cegah-risiko-
penyakit-tidak-menular
https://diabetessolution.co.id/Article/Read/132?slug=hadapi-diabetes-pemerintah-
indonesia-terapkan
https://jpp.go.id/humaniora/kesehatan/308789-kemenkes-ingatkan-pola-hidup-
cerdik-untuk-hindari-penyakit-jantung
Trisnowati, H. (2018). Pemberdayaan Masyarakat untuk Pencegahan Faktor
Risiko Penyakit Tidak Menular (Studi pada Pedesaaan di Yogyakarta). Jurnal
MKMI, 14, 17-25.

10