Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan didunia terkait
dengan banyaknya kejadian infeksi bakteri. Menurut WHO (2006),rumah sakit selalu
mengeluarkan lebih dari seperempat anggarannya untuk biayapenggunaan antibiotik. Di
negara yang sudah maju 13-37% dari seluruh penderitayang dirawat di rumah sakit
mendapatkan antibiotik baik secara tunggal maupunkombinasi, sedangkan di negara
berkembang 30-80% penderita yang dirawat di rumah sakit mendapat antibiotik. Seringkali
penggunaan antibiotik dapat menimbulkan masalah resistensi dan efek obat yang tidak
dikehendaki, oleh karena itu penggunaan antibiotik harus mengikuti strategi peresepan
antibiotik (Johns Hopkins Medicine et al., 2015).
Dalam kehidupan sehari-hari baik pada manusia maupun hewan istilah antibiotik
sudah tidak asing untuk didengerkan. Antiboitik ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba
terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain.
Antibiotik juga dapat dibuat secara sintesis. Antimikroba diartikan sebagai obat pembasmi
mikroba khususnya yang merugikan manusia. Antibiotik memiliki banyak golongan dan jenis
yang beranekaragam. Obat antibiotik ini dapat digunakan baik dalam tubuh hewan maupun
dalam tubuh manusia. Dalam prosesnya di dalam tubuh obat ini nantinya akan memberikan
suatu efek ( farmakodinamik) terhadap tubuh. Penggunaan Obat ini tidak selalu menguntukan
tetapi juga bisa merugikan, untuk itu sebelum menkonsumsi obat ini sebaiknya
memperhatikan instruksi dari obat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu antibiotic?
2. Macam-macam antibiotik yang ada dan bagaimana mekanisme kerjanya?

1.3 Tujuan Makalah

1. dapat mengetahui apa itu antibiotik


2. Dapat mengetahui jenis-jenis antibiotik yang ada dan mekanisme kerjanya

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Antibiotika
Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu Anti (melawan) dan Biotikos (cocok
untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk menggambarkan
semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian digeser dengan ditemukannya obat
antibiotik sintetis.
Penggunaan istilah antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan
termasuk didalamnya adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll.
Antibiotik berbeda dengan istilah disinfectant karena desifektant membunuh kuman dengan
cara membuat lingkungan yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan kerja dariantibiotik
adalah cenderung bersifat Toksisitas Selektif dan dapat membunuh kuman tanpa merugikan
inang.
Prinsip Penggunaan Antibiotik:
a. Berdasarkan penyebab infeksi: Dari hasil pemeriksaan mikrobiologis, pemberian
antibiotika tanpa pemeriksaan mikrobiologis dapat didasarkan pada educate guess.
b. Berdasarkan faktor pasien: Fungsi ginjal dan hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap
infeksi, daya tahan terhadap obat, usia, wanita hamil dan menyusui.
2.2 Turunan Makrolida

Antibiotika turunan makrolida pada umumnya dihasilkan oleh Streptomyces sp.,


mempunyai 5 bagian struktur yang karakteristik, yaitu :

1) Cincin lakton yang besar, biasanya mengandung 12-17 atom,

2) Gugus keton

3) Satu atau dua gula amin seperti glikosida yang berhubngan dengan cincin lakton

4) Gula netral, yang berhubungan dengan gula amino atau pada cincin lakton

5) Gugus dimetilamino pada residu gula, yang menyebabkan sifat basis dari senyawa dan
memungkinkan untuk dibuat bentuk garamnya.

2
2.2.1 Mekanisme Kerja

Turunan makrolida, seperti eritromisin, adalah senyawa bakteriostatik dan hanya


efektif pada mikroorganisme yang aktif membelah. Turunan ini mengikat secara tak
terpulihkan subunit ribosom 50-S bakteri atau dekat tempat donor P sehingga memblok
ikatan tRNA dengan tempat tersebut dan mencegah translokasi peptide-peptida dari tempat
aseptor A ke tempat donor P. pengikatan ini hanya terjadi bila subunit 50-S bebas dari
molekul tRNA yg berhubungan dengan rantai peptide nasen sehingga yang diblok hanyalah
sintesis homopeptida polimer tinggi, sedang peptide-peptida kecil teteap diproses secara
normal.

Efek samping: relative rendah seperti gangguan saluran cerna yang ringan(sakit kepala, mual,
pusing dan diare) dan reaksi alergi.

2.2.2 Contoh Obat

1) Eritromisin stearate

Merk dagang :Ebaliln, Erythocir, Eryc, Pharothrocin, Kalthrocin, Kenthrocin,

Sumber :didapat dari Streptomyces erythreus, mengandung 90% eritromisin A, ± 10%


eritromisin B danpengotoraneritromisin C.

Strukturnya : terdiridariaglikoneritronolid A, gula amino desosamin dan gula netral


kladinosa. Gugusdimetilamino (3’) denganasamakanmembentukgaram, contoh: garam
stearate bersifat sukar larut dalam air dengan rasa yang sedikit pahit, gugus hidroksi (2’) pada
desosamin dapat membentuk ester, contoh: ester-ester etilsuksinat, estolat dan propionate,
yang tidak berasa. Bentuk ester ini bukan suatu pra-obat (bentuk laten) karena senyawa tetap
aktif secara biologis dan aktivitasanya tidak tergantung pada proses hidrolisis. Eritromisin
adalah senyawa bekteriostatik, efektif terhadap bakteri Gram-positif yang telah tahan
terhadap penisilin, seperti Staphylococcus sp., Steptococcus sp., Myoplasma, H influenza.

Penggunaan : Merupakan obat pilihan untuk pengobatan pneumonia yang disebabkan oleh
Legionella pneumophilia serta obat alternative untuk pengobatan sifilis dan gonorhu.
Eritromisn efektif pula terhadap difteri, aknevurgaris, pertussis daninfeksi Chlamydia
trachoma, digunakan terutama pada infeksi saluran napas, kulitdan jaringan lunak. Bentuk
garam dan esternya diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna.

3
Absopsi : Dalam cairan tubuh, 70-75% obat terikat oleh protein plasma, kadar plasma
tertinggi dicapai dalam± 2 jam, dengan waktu paru 2-3 jam.

Dosis :

Dosis oral :250-500 mg 4 dd.

Dosis ester etilsuksinat : 400 -800 mg 4 dd,

I.V : 15-20 mg/kgbb/hari.

2) Oleandomisin fosfat,

Sumber : didapat dari Streptomyces antibioticus.

Strukturnya terdiri dari aglikon oleandolida, gula amino desosamin dan gula netral L-
oleandrosa. Oleandomisin adalah senyawa bakterostatik, efektif terhadap bakteri Gram-
positif, seperti Streptococcus pyogenus dan S.pneumoniae, digunakan sebagai obat pengganti
eritromisin. Asetilasi 3 gugus hidroksi bebas dari oleandomisin menghasilkan
troleandomisin, yang mempunyai dua keuntungan disbanding oleandomisin yaitu praktis
tidak berasa dan kadar obat dlam darah lebih cepat dan lebih tinggi.

Dosis oral :250-500 mg 4 dd.

3) Spiramisin (Osmycin, Rovamycin, Spiradan, Nilavam)

Sumber: didapatdari Streptomyces ambofaciens, mengandung 70% spiramisin I, 20%


spiramisin II dan 10% spiramisin III.

Struktur: Strukturnya terdiri dari gula amin D-forosamin dan gula netral L-mikrarosa dan
D-mikaminosa. Spiramisin adalah senyawa bakteriostatik, efektif terhadap

4
Staphylococcus sp., Streptococcus sp., Clostridium sp., Bscillus sp., Klebsiella sp.,
Mycoplasma sp., B.fragilusdan H. influenza.

Fungsi: Merupakan obat pilihan untuk pengobatan pneumonia yang disebabkan oleh L-
egionella pneumophilia serta efektif pula terhadap difteri, akne vulgaris, pertussis
daninfeksi Chlamydia trachoma. Spiramisin digunakan terutama untuk infeksi saluran
napas, saluran genital, tulang kulit dan jaringan lunak. Obat diabsorpsi dengan baik oleh
saluran cerna, kadar plasma tertinggi dicapaid alam 2-3 jam, dengan waktu paro
biologis± 8 jam. Dosis oral : 500 mg 3 dd, selama 5 hari.

4) Roksitromisin (Abbotic, Rullid),


Adalah analog eritromisin mempunyai aktivitas lebih tinggi dan masa kerja yang lebih
panjang dibanding spiramisin. Efek antibakteri dan kegunaan serupa dengan spiramisin.
Obat diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna (72-85%), dengan waktu paro biologis ±
10,5 jam.
Dosis oral : 150 mg 2 dd, lebih baik sebelum makan.
5) Azitromisin (Zithromax, Zibramax),
mempunyai stabilitas terhadap asam lambung yang lebih baik dibanding analog
eritromisin yang lain, dan masa kerja yang panjang sehingga hanya digunakan satu kali
sehari.
Dosis : 150 mg 1 dd, selama 5 hari.

5
2.3 Turunan Polipeptida

Berdasarka sifatnya antibiotik polipeptida dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Antibiotik yang bersifat asam, mengandung gugus karboksilat bebas dan


menunjukkan bagian struktur yang nonsiklik
2. Antibiotik yang bersifat basa, mengandung gugus amino bebas dan juga menunjukkan
bagian struktur yang nonsiklik
3. Antibiotik yang bersifat netral, tidak mempunyai gugus karboksilat dan amino bebas,
karena strukturnya dalam bentuk siklik, atau gugus reaktif di atas dinetralkan melalui
formilasi
2.3.1 Mekanisme Kerja

Beberapa antibiotika polipeptida seperti tirotrisin, polimiksin B dan kolistin,


merupakan molekul yang amfifil, mengandung gugus-gugus lipofil dan hidrofil yang
terpisah. Dapat menyebabkan ketidak teraturan struktur membran sitoplasma dan kehilangan
fungsinya sebagai rintangan permeabel, sehingga ion-ion yang secara normal ada dalam sel
akan menyebabkan bakteri menalami kematian.
Gramisidin, dapat membentuk saluran transmembran dimana ion-ion keluar masuk secara
difusi melalui “pori” yang berbeda sehingga membran kehilangan fungsinya sebagai
rintangan yang permeabel.
Basitrasin, adalah bakteriolitik hanya pada fasa pertumbuhan bakteri. Senyawa ini dapat
mengambat secara langsung enzimpeptidoglikan sintetase dan menyebabkan hambatan
pembentukan dinding sel bakteri sehingga bakteri mengalami kematian.
2.3.2 Contoh Obat
1. Tirotrisin diisolasi dari kultur bacilus brevis, mengandung dua campuran antibiotika,
yaitu gramisidin 10-2-% dan tirosidin. Obat tidak diabsorpsi dalam saluran cerna
sehingga aman untuk pengobatan infeksi kerongkongan. Dosis setempat: 0,05%-0,30%
dan hindari dari penggunaan obat pada luka terbuka.
2. Basitrasin, diisolasi dari bacilus subtilis dan B. Lichaniormis. Secara oral tidak dapat
diserap dalam saluran cerna dan kadang-kadang digunakang untuk pengobatan infeksi
amuba. Dosis stempat: 500 unit/g salep kulit atau mata, dioleskan 2-3 kali sehari, dosis
IM: 10.000-20.000 unit 3-4 dd.
3. Polimiksin B sulfat diisolasi dari bacillus polymyxa dan B. Aeropsporus Greer. Secara
oral tidak dapat diserap dalam saluran cerna dan kadang-kadang digunakan untuk

6
pengobatan infeksi usus seperti pseudomonas enteritis dan ineksi shigella. Dosis setempat
20.000 unit/g salep kulit atau mata, diberikan 2-3 kali sehari, dosis IM 50000-7.500
unit/kg bb 4 dd.
4. Kolistin sulfat, diisolasi dari Bacillus polymyxa var. Colistinus, suatu polipeptida yang
heterogen dengan komponen yang dominan adalah kolistin A. Secara oral obat tidak
diabsorpsi dalam saluran cerna dan untuk pengobatan infeksi usus seperti disentri basiler,
enterokolitis dan gastroenteritis yang disebabkan bakteri Gram-negatif. Dosis oral: 3-15
mg/kbb/hari, dalam dosis terbagi 3 kali. Dosis IM: 1,25 mg/kgbb 2-4 dd.
2.4 Turunan Linkosamida
Turunan linkosamida adalah antibiotika yang mengandung sulfur, dikarakterisasi oleh 4-alkil
asam pipekolat atau asam higrat yang terikat pada alkil 6-amino-α-tiooktopiranosida melalui
sambungan amida. Turunan ini mengandung gugus yang bersifat basa, yairu N-pirolidin atau
N-piperidin, dan dapat membentuk garam yang mudah larut dalam air.
2.4.1 Mekanisme Kerja
Turunan linkosamida adalah senyawa bakteriostatik tetapi pada kadar Gram-positi dan
bakteri anaerob Gram-negatiyan patogen. Turunan linkosamida menimbulkan efek samping
“antibiotic-associated pseudomembranous colitis” (AAPMC), dengan gejala-gejala diare,
nyeri abdominal, deemam, tinja berlendir dan ada darah kadang-kadang berakibat fatal.
2.4.2 Contoh Obat
1. Linkomisin HCL, diisolasi dari Bacillus linconensis, efektif terhadap bakteri Gram-
positif, seperti Staphylococcus aureus, Diplococcus pneumonia dan Leptospira pomona.
Dosis oral: 500 mg 3 dd IM atau IV: 600 mg 1 dd.
2. Klindamisin HCL, klindamisin efektif terhadap bakteri gram-positi, seperti
Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans, Diplococcus pneumoniae dan Leptospira
pomona, bakteri anaerob Gram- negatif dan bakteri anaerob positif. Klindamisin dapat
digunakan sebagai antimalaria yang disebabkan oleh P. Alciparum dan P. vivax. Dosis
oral: 150-300 mg dd, IM atau IV: 600-1200 mg/hari dalam dosis terbagi 2- 4kali.
2.5 Turunan Polien
Antibiotik turunan polien dihasilkan oleh Streptomyces sp., dikarakterisasi oleh adanya
cincin besar yang mengandung lakton dan ikatan rangkap terkonjugasi. Antibiotika polien
tidak mempunyai aktivitas antibakteri atau antiriketsia, tetapi aktif terhadap jamur dan yeast.
Contoh antibiotika polien yang banyak digunakan sebagai antijamur adalah amfoterisin B,
kandisidin, dan nistatin.

7
2.6 Turunan Ansamisin
Turunan ansamisin pada umumnya dihasilkan oleh Sterptomyces sp., dikarakterisasi oleh
adanya struktur siklik yang mengandung gugus aromatik dan jembatan makrosiklik alifatik
panjang, yang dinamakan ansa, diantara posisi dua inti aromatik yang tidak saling
berdekatan. Pada umunya turunan ansamisin menimbulkan toksisitas tinggi dan hanya satu
yang digunakan dalam klinik yaitu Rifampisin.
Rifampisin diisolasi dari fermentasi kultur Nocardia mediterranea, mengandung 17 anggota
rantai ansa, dan mempunyai spektrum antibakteri yang luas. Pada umumnya rifampisin
digunakan sebagai obat antituberkulosis
2.7 Turuna Antrasiklin
Turunan antrasiklin adalah antibiotika turunan antrasiklinon (tetrasiklin) dan dihasilkan
oleh Streptomyces sp. Mengandung gula pada konfigurasi L yang terikat pada gugus 7-
hidroksil antrasiklinon melalui ikatan glikosidik. Pada umumnya digunakan untuk obat
antikanker.
Contoh : daunorubisin HCl, doksorubisin HCl, epirubisin dan plikamisin (mitramisin)
2.8 Turunan Fosfomisin
Antibiotik yang diisolasi dari streptomyces fridiae atau streptomyces sp. Spektrum
aktivitasnya bersifas bakteridal, terutama digunakan untuk infeksi bakteri gram positif.
Mekanisme kerja : dengan cara mengikat secara ireversibel gugus SH enzim etol-piruvil
transferasa yang mengkatalisir reaksi antara UDP-asetilglukosemin dengan fosfoenolfiruvat
membentuk asam uridindifosfo-N-asetilmuramat
Fosfomisin tidak diberikan secara oral karena dapat mengiritasi lambung, sehingga
pemberian nya dilakukan secara intravena. Waktu paro plasma ± 2 jam setelah pemberian IV.
Toksisitas senyawa relatif rendah.

8
BAB III

PEMBAHASAN

2. ANTIBIOTIK

2.1 Pengertian

Antibiotic berasal dari kata anti: lawan dan bios: mahluk hidup. Jadi antibiotik adalah
senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, termasuk turunan
dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu
menghambat proses penting dalam kehidupan suatu spesies atau mikroorganisme.

2.2 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Spektrum Aktivitasnya

1. Antibiotik spektrum luas, yaitu antibiotik yang berefek pada bakteri gram positif
dan gram negatif, contoh: golongan amfenikol, tertrasiklin, makrolida,
aminoglikosida

2. Antibiotik Spektrum sempit, yaitu antibiotik yang hanya berefek pada gram positif
atau gram negatif, contoh : penisilin

2.3 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Daya Kerjanya

1. Bakteriosida

sifat antibiotik yang dapat membunuh bakteri, bersifat menetap (irreversible),


Contoh: sulfonamid, penisilin, golongan aminoglikosida, dll

2. Bakteriostatik

Adalah sifat antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan antibiotik, bersifat


sementara (reversibel), contoh: kloramfenikol, eritomisin,trimetoprim, tetrasiklin,
clindamisin, dll.

2.4 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Tempat Kerjanya


1. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel.
Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim,
asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat tersebut menghasilkan efek

9
bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat sintesis enzim dihidrofolat
menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau sulfon membentuk analog asam
folat yang non fungsional.

2. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel

Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat sintesis


dinding sel yang paling dini, diikuti berturut-turut oleh basitrasin, vankomisin,
dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir
(transpeptidasi) dalam rangkaian tersebut.

3. Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel.

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien, dan
antibiotik kemoterapetik. Polimiksin merusak membran sel setelah bereaksi
dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba, polien bereaksi dengan
struktur sterol pada membran sel fagus sehingga mempengaruhi permeabilitas
selektif membran.

4. Antibiotik yang menghambat sintesis protein.

Beberapa dari antibiotik seperti itu, tetapi mekanismenya berbeda, tetrasiklin


mengganggu fungsi tRNA dan aminoglikosid mengganggu fungsi mRNA;
kloramfenikol menghambat peptydil transferase; lincomysin bersama clindamisin
mengganggu translokasi.

5. Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.

Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda dengan mekanismenya; metronidazol

10
dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan quinolon menghambat DNA gyrase,
rifampisin menghambat RNA polymerase, sulfonamid dan trimetroprim menghambat
sintesis asam folat.
2.5 Penggolongan Antibiotika
A. Antibiotika Beta Laktam
B. Turunan Amfenikol
C. Turunan Tetrasiklin
D. Turunan Aminoglikosida
E. Turunan Makrolida
F. Turunan Polipeptida
G. Turunan Linkosamida
H. Turunan Polien
I. Turunan Ansamisin
J. Turunan Antrasikli
K. Fosfomisin

A. Antibiotika Beta Laktam


1. Turunan Penisilin
2. Turunan Sefalosporin
a. Sefalosporin klasik
b. Pra- sefalosporin
c. Sefamisin
d. Oksasefem
3. Turunan Beta laktam Nonklasik
a. Turuna asam amidinopenisilat
b. Turunan asam penisilat
c. Karbapenem
d. Oksapenem
e. Turunan beta laktam monosiklik

Mekanisme kerja antibiotik golongan beta lactam

Yaitu merusak membran sel bakteri, dengan cara menghambat enzim


transpeptidase;

11
a. Kerja enzim transpeptidase yang mengktalis biosintesis primer melintang
dari dinding sel. Gugus ujung D-alanil-D-alanin mengikat enzim

transpeptidase sehingga mencegan pembentukan dinding sel.

b. Serangan nukleofi gugus hidroksil serin enzim transpptidase terhadap


karbonil cincin betalaktam. Cincin betalaktam bermuatan positif, sehingga
terjadi hambatan biosintesis pada peptidoglikan, dan dinding sel
menjadi pecah/ lisis sehingga bakteri mati.

1. Turunan Penisilin

• Penisilin pertama kali di kultur dari jamur Penicillium notatum dan P.


chrysogenum oleh dr. Alexander Fleming

• Hasil isolasi asam 6-aminopenisilanat dari P. chrysogenum digunakan


sebagai bahan dasar sintetik penisilin dengan cara asilasi gugus 6-amin
dengan asam karboksilat, asil klorida atau asam anhidrat.

12
• Mekanismenya sebagai berikut: Ikatan karbonamid pada rantai samping
penisilin dapat dipecah oleh enzim amidase menghasilkan 6-
aminopenisilanat (6-APA) yant tidak aktif

H
u
b
u
ngan Struktur Aktivitas Turunan Penisilin

• Penisilin yang tahan asam, karena ada gugus penarikan elektron , misal gugus
fenoksi yang mencegah penisilin menjadi asam penilat. Contoh: Penisilin V,
Fenetisilin, dan Propisilin K.

• Penisilin yang tahan terhadap beta laktamase, misalnya penambahan gugus


halogen atau metoksi yang dapat mempengaruhi enzim beta laktamase, sehingga
aktivitas enzimatik hilang. Contoh: Temosilin, Azidosilin, dan Metisilin Na

• Penisilin dengan spektrum luas, yaitu karena gugus hidrofil, seperti NH2 pada
rantai samping sehingga penembusan obat melalui membran terluar bekteri
menjadi lebih besar

• Penisilin yang aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif disebabkan adanya
gugus asidik pada rantai samping, seperti COOH, -NHCO-

• Penisilin sebagai pra obat

13
Hal hal yang mempengaruhi stabilitas penisilin

• Asam lambung, dapat menghidrolisis rantai samping amida dan membuka cincin beta
laktam sehingga penisilin tidak aktif.

• Enzim penisilinase, yang terdiri dari betalaktamase dan amidase. Beta laktamase
dapat membuka cincin beta laktam sehingga tidak aktif, sedangkan amidase dapat
merusak gugus asil menjadi 6-APA yang aktivitas antibakterinya rendah.

Bentuk Kombinasi Turunan Penisilin

• Clavamox (Kombinasi amoksisilin dan asam klavunamat)

Indikasi: Pengobatan jangka pendek infeksi saluran pernafasan bagian atas &
bawah, infeksi saluran kemih, sinusitis, infeksi kulit, otitis media (radang rongga
gendang telinga).

14
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap Penisilin. Mononukleosis infeksiosa.
Perhatian: Gangguan ginjal & hati. Superinfeksi. /Interaksi obat / :
Probenesid,Allopurinol.

Efek Samping: Reaksi pada saluran pencernaan & reaksi hipersensitivitas.


Hepatitis & sakit kuning kolestatik yang bersifat sementara, Rasa tidak enak pada
perut, sakit kepala, pusing, vaginitis, kandidiasis.
Indeks Keamanan Pada wanita Hamil:

*B*: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada janin
maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba tidak
memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan) dimana tidak ada
penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada wanita hamil semester
pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trisemester selanjutnya).
Dosis:
Dewasa & anak berusia lebih dari 12 tahun atau dengan berat badan lebih dari 40
kg : - infeksi ringan-sedang : 250 mg tiap 8 jam. - infeksi berat : 500 mg tiap 8
jam. Anak berusia kurang dari 12 tahun: 25-50 mg/kg berat badan/hari tergantung
pada beratnya infeksi. Infeksi berat : dosis bisa ditingkatkan.

15
16
Contoh Obat Golongan Penisilin
• Benzil Penisilin (Penisilin G)
Indikasi: infeksi tenggorokan, otitis media, endokarditis, penyakit meningokokus,
pnemonia, selulitis, antraks, profilaksis amputasi pada lengan atau kaki; lihat juga
keterangan di atas.
Peringatan: riwayat alergi, hasil tes glukosa urin positif palsu, gangguan fungsi
ginjal.
Kontraindikasi: hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.
Efek Samping: reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
anafilaksis, serum sickness-like reaction; jarang, toksisitas sistem saraf pusat

17
termasuk konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal berat),
nefritis interstisial, anemia hemolitik, leukopenia, trombositopenia dan gangguan
pembekuan darah; juga dilaporkan diare (termasuk kolitis karena antibiotik).
Dosis: injeksi intramuskular atau intravena lambat atau infus, 2,4-4,8 g sehari dalam 4
dosis terbagi, pada infeksi yang lebih berat dapat ditingkatkan jika perlu (dosis
tunggal di atas 1,2 g injeksi intravena saja; lihat keterangan di bawah. BAYI
PREMATUR dan NEONATAL di bawah 1 minggu, 50 mg/kg bb dalam 2 dosis
terbagi; BAYI 1-4 minggu: 75 mg/kg bb/hari, dalam 3 dosis terbagi; ANAK 1 bulan-
12 tahun: 100 mg/kg bb/hari dalam 4 dosis terbagi

• Fenoksimetilpenisilin (Penisilin V)
Indikasi:infeksi pada mulut, tonsilitis, otitis media, erysipelas, selulitis, demam
rematik, profilaksis infeksi pneumokokus
Peringatan: riwayat alergi, hasil tes glukosa urin positif palsu, gangguan fungsi ginjal.
Kontraindikasi: hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.
Efek Samping: reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem,
anafilaksis, serum sickness-like reaction; jarang, toksisitas sistem saraf pusat
termasuk konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal berat),
nefritis interstisial, anemia hemolitik, leukopenia, trombositopenia dan gangguan
pembekuan darah; juga dilaporkan diare (termasuk kolitis karena antibiotik).
Dosis: 500 mg tiap 6 jam, dapat ditingkatkan hingga 1 g tiap 6 jam pada infeksi berat.
ANAK sampai 1 tahun 62,5 mg, tiap 6 jam dapat ditingkatkan hingga 12,5 mg/kg bb
tiap 6 jam pada infeksi berat. ANAK 1-5 tahun: 125 mg, tiap 6 jam dapat ditingkatkan
hingga 12,5 mg/kg bb tiap 6 jam pada infeksi berat. ANAK 6-12 tahun: 250 mg tiap 6
jam dapat ditingkatkan hingga 12,5 mg/kg bb tiap 6 jam pada infeksi berat.
• Flukoksasilin
Indikasi: infeksi karena stafilokokus penghasil penisilinase, termasuk otitis eksterna;
terapi tambahan pada pneumonia, impetigo, selulitis, endokarditis
Peringatan: gangguan hati; risiko kernikterus pada jaundice neonatal jika diberikan
dosis tinggi secara parenteral. Anjuran terkait dengan hepatic disorders: Pemberian
untuk waktu yang lebih dari 2 minggu dan peningkatan usia merupakan faktor resiko.
Perlu diingat hal-hal sebagai berikut: Flukloksasilin tidak boleh digunakan pada
pasien yang memiliki riwayat disfungsi hati terkait dengan flukloksasilin.
Flukloklasilin sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan
18
hati. Perhatian khusus sebaiknya dibuat terhadap reaksi hipersensitivitas antibakteri
beta-laktam.
Efek Samping: gangguan saluran cerna; sangat jarang, hepatitis dan kolestatik
jaundice.
Dosis: oral: 250-500 mg tiap 6 jam diberikan sekurang-kurangnya 30 menit sebelum
makan; ANAK di bawah 2 tahun, seperempat dosis dewasa; 2–10 tahun, setengah
dosis dewasa; Injeksi intramuskular: 250 - 500 mg tiap 6 jam; ANAK di bawah 2
tahun, ¼ dosis dewasa; 2–10 tahun, ½ dosis dewasa. Injeksi intravena secara lambat
atau infus: 0,25-2 g tiap 6 jam; ANAK di bawah 2 tahun, ¼ dosis dewasa; 2–10 tahun,
½ dosis dewasa; Endokarditis (dalam kombinasi dengan antibakteri lain), berat badan
kurang dari 85 kg, 8 g sehari dalam 4 dosis terbagi; berat badan lebih dari 85 kg, 12 g
sehari dalam 6 dosis terbagi. Osteomielitis, hingga 8 g sehari dalam 3-4 dosis terbagi.
• Ampisilin
Indikasi: infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, infeksi pada mulut (lihat
keterangan di atas), bronkitis, uncomplicated community- acquired pneumonia,
infeksi Haemophillus influenza, salmonellosis invasif; listerial meningitis.
Peringatan: riwayat alergi, gangguan ginjal, ruam eritematous umumnya pada
glandular fever, infeksi sitomegalovirus, dan leukemia limfositik akut atau kronik
(lihat keterangan di atas). Pemakaian dosis tinggi atau jangka lama dapat
menimbulkan superinfeksi terutama pada saluran pencernaan. Jangan diberikan pada
bayi baru lahir dan ibu yang hipersensitif terhadap penisilin. Pada penderita payah
ginjal, takaran harus dikurangi. Keamanan pemakaian pada wanita hamil belum
diketahui dengan pasti. Hati-hati kemungkinan terjadi syok anafilaktik.
Kontraindikasi: hipersensitivitas terhadap penisilin.
Efek Samping: mual, muntah, diare; ruam (hentikan penggunaan), jarang terjadi
kolitis karena antibiotik; Dosis: oral: 0,25-1 gram tiap 6 jam, diberikan 30 menit
sebelum makan. ANAK di bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa. Infeksi saluran kemih,
500 mg tiap 8 jam; ANAK di bawah 10 tahun, setengah dosis dewasa. Injeksi
intramuskular atau injeksi intravena atau infus, 500 mg setiap 4-6 jam; ANAK di
bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa; Endokarditis (dalam kombinasi dengan antibiotik
lain jika diperlukan), infus intravena, 2 g setiap 6 jam, ditingkatkan hingga 2 g setiap
4 jam, dalam endokarditis enterokokus atau jika ampisilin digunakan tunggal;
Listerial meningitis (dalam kombinasi dengan antibiotik lain), infus intravena, 2 g
setiap 4 jam selama 10–14 hari; NEONATAL 50 mg/kg bb setiap 6 jam; BAYI 1-3

19
bulan, 50-100 mg/kg bb setiap 6 jam; ANAK 3 bulan – 12 tahun, 100 mg/kg bb setiap
6 jam (maksimal 12 g sehari).
• Amoksisilin
Indikasi: lihat ampisilin; juga untuk profilaksis endokarditis; terapi tambahan pada
listerial meningitis (lihat Tabel 5.1), eradikasi Helicobacter pylori
Peringatan: lihat ampisilin; mempertahankan hidrasi yang tepat pada pemberian dosis
tinggi (terutama selama terapi parenteral).
Efek Samping: lihat ampisilin.
Dosis: oral: 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat; ANAK hingga
10 tahun: 125 - 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat.

2. Turunan Sefalosporin

• Sefalosporin didapatkan dari isolasi ekstrak jamur Cephalosporin acremonium,


banyak senyawa semisintetik turunan sefalosporin di dapatkan sebagai hasil reaksi
antara asam 7-aminosefasporinat (7-ACA).

Hubungan struktur dan aktivitas

• Pada umunya turunan sefalosporin berbeda pada gugus gugus yang terikat pada posisi
7 atau 3 dari cincin sefem, modifikasi pada c-3 untuk mendapatkan sifat kimia, c-7
untuk mengubah spektrum aktivitas.

20
• Adanya gugus pendorong elektron pada posisi 3 meningkatkan resonansi enamin
sehingga kereaktifan pada cincin beta laktam meningkat

• Aktivitas biologis bergantung pada rantai samping yang terikat pada posisi 7,
subsitusi gugus metoksi seperti sefamisin, meningkatkan ketahanan terhadap aktivitas
enzim betlaktam

• Pergantian isosterik dari atom S pada cincin dihidrotiazin dengan atom O


menghasilkan oksasefem dengan daya antibakteri dengan sperktrum luas

Penggolongan sefalosporin berdasarkan sistem generasi:

• Sefalosporin generasi pertama: diperkenalkan pada pengobatan pada tahun 1960-


1970. Terutama aktif terhadap kuman Gram positif. Golongan ini efektif terhadap
sebagian besar Staphylococcus aureus dan streptokokus termasuk Streptococcus
pyogenes, Streptococcus viridans dan Streptococcus pneumoniae. Bakteri gram positif
yang juga sensitif adalah Streptococcus anaerob, Clostridium perfringens, Listeria
monocytogenes dan Corynebacterium diphteria. Kuman yang resisten antara lain
MRSA, Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus faecalis. Sefaleksin, sefradin,
sefadroksil, aktif pada pemberian per oral. Obat ini diindikasikan untuk infeksi
saluran kemih yang tidak memberikan respons terhadap obat lain atau yang terjadi
selama hamil, infeksi saluran napas, sinusitis, infeksi kulit dan jaringan lunak.

21
• Sefalosporin generasi kedua: Turunan ini diperkenalkan untuk penggunaan klinik
pada akhir tahun 1970. Spektrum antibakterinya hampir sama dengan generasi
pertama tetapi secara umum turunan ini tahan terhadap beta laktamase, waktu
eliminasinya relatif sama dengan generasi pertama tetapi kemampuan menembus
cairan serebrospinal lebih baik

22
• Sefalosporin generasi ke tiga: Turunan ini dipekernalkan untuk penggunaan klinik
pada tahun 1980, spektrum antibakterinya lebih luas dibanding generasi sebelumnya.
Secara umum turunan ini lebih aktif terhadan bakteri gram negatif yang telah resisten,
lebih tahan terhadap betalaktamase, tetapi kurang aktif terhadan bakteri gram positif.

23
• Sefalosporin generasi ke empat: Turunan ini diperkenalkan pada pengunaan klinik
pada tahun 1995. Spektrum antibakterinya lebih luas dibanding dengan generasi
sebelumnya. Turunan ini aktif terhadan bakteri gram positif dan gram negatif yang
telah resisten, lebih tahan terhadap beta laktamase, dan aktif terhadap Pseudomonas
aeruginosa.

24
Sefalosporin berdasarkan struktur kimia

a. Sefalosporin klasik, yaitu gugus gugus penting yang terikat pada posisi c-3 dan c-
7.

b. Pra-sefalosporin, yaitu bahan baku dalam pembentukan sefalosporin

c. Sefamisin, mengandung gugus 7 alfa metoksi yang dapat meningkatkan


ketahanan senyawa terhadap enzim betakltamase

d. Oksasefem, mengandung atom O sebagai ganti atom S pada cincin dihidrotiazin


sehingga meningkatkan aktifitas antibakteri dengan cara meningkatkan kelarutan
senyawa dalam air sehingga lebih cepat menembus membran bakteri.

Sifat umum

FARMAKOKINETIK

 Dari sifat farmakokinetiknya, dibedakan dalam 2 golongan :


- Sefaleksin, sefradin, sefaklor dan sefadroksil yang dapat diberikan per
oral karena diabsopsi melalui saluran cerna.
- Sefalosporiin lainnya hanya dapat diberikan parenteral. Sefalotin dan
sefapirin umumnya diberikan secara iv karena menyebabkan. iritasi
local dan nyeri pada pemberian im. Yang lain secara im atau iv.
 Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal,
dengan proses sekresi tubuli, kecuali sefoperazon yang sebagian besar
diekskresi melalui empedu.
 Probenesid mengurangi ekskresi sefalosporin, kecuali moksalaktam dan
beberapa lainnya. Sefalotin, sefapirin dan sefotaksim mengalami
deasetilasi: metabolit yang aktivitas antimikrobanya lebih rendah dieksresi
melalui ginjal.

25
D
a
t
a

f
a
r
m
a
k
o
k
i
n
e
tik sefalosporin

Sefalosporin berdasarkan struktur kimia

a. Sefalosporin klasik, yaitu gugus gugus penting yang terikat pada posisi c-3 dan c-7.

b. Pra-sefalosporin, yaitu bahan baku dalam pembentukan sefalosporin

c. Sefamisin, mengandung gugus 7 alfa metoksi yang dapat meningkatkan ketahanan


senyawa terhadap enzim betakltamase

d. Oksasefem, mengandung atom O sebagai ganti atom S pada cincin dihidrotiazin


sehingga meningkatkan aktifitas antibakteri dengan cara meningkatkan kelarutan
senyawa dalam air sehingga lebih cepat menembus membra bakteri.

26
EFEK SAMPING

 Reaksi mendadak yaitu anafilaksis dengan spasme bronkus dan urtikaria dapat terjadi.
Reaksi silang umumnya terjadi pada penderita dengan alergi penisilin berat,
sedangkan pada alergi penisilin ringan atau sedang kemungkinannya kecil.
 Sefalosporin merupakan zat yang nefrotoksik, meskipun jauh jkurang toksik
dibandingkan dengan aminoglikosida dan polimiksin. Kombinasi sefalosporin dengan
gentamisin atau tobramisin mempermudah terjadinya nefrotoksisitas.
 Diare dapat timbul terutama pada pemberian sefoperazon, mungkin karena
ekskresinya terutama melalui empedu sehingga mengganggu flora normal usus.

3. Turunan Beta Laktam Nonklasik


Merupakan antibiotika yang mengandung cincin beta laktam, yang kadang kadang
bergabung dengan cincin lainnya yang terdiri dari 4-5 atom.
 Turunan Asam Amidinopenisilanat
Aktivitas rendah terhadap bakteri gram positif dan Pseudomonas sp. Rendah, tetapi
cukup efektif pada bakteri gram negatif, termasuk Enterobakteriaceae

27
1. Amdinosilin, senyawa yang tidak tahan terhadap asam dan tidak diabsorbsi di saluran
cerna, sehingga diberikan secara iv/ im. Dosis: 10mg/kg bb setiap 4 jam untuk infeksi
berat.
2. Bakmesilinam dan pivemesilinam adalah ester ganda amdinosilin, mudah diabsorbsi
saluran cerna. Dosis oral: 400mg 3 sampa 4 kali sehari
 Turunan Asam penisilinat
Berasal dari modifikasi 6-APA dan digunakan sebagai penghambat enzim
betalaktamase, biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi:
1. Sulbaktam, obat ini diberikan secara parenteral karena absorbsi pada saluran
cerna rendah.
2. Pivsulbaktam, dapat diberikan per oral.

 Karbapenem
Atom S pada cincin tiazolin diganti dengan ikatan gugus rangkap dua dan
gugus metilen sehingga menunjang pengikatan dengan enzim sehingga
aktivitas antibakteri meningkat.

28
Turunan Beta Laktam Monosiklik
• Azetreonam
Indikasi: infeksi Gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa,
Hemophilus influenzae dan Neisseria. meningitides.
Peringatan: alergi terhadap antibiotik beta-laktam, ganguan fungsi hati, pada
gangguan fungsi ginjal dosis perlu disesuaikan.
Kontraindikasi: alergi terhadap aztreonam, wanita hamil atau menyusui.
Efek Samping: mual, muntah, diare, kram abdomen, gangguan pengecapan,
ulkus mulut, ikterus dan hepatitis, gangguan darah (trombositopenia dan
netropenia), urtikaria dan ruam.
Dosis: injeksi intramuskuler atau injeksi intravena selama 3-5 menit atau infus
intravena. 1 g tiap 8 jam atau 2 g tiap 12 jam untuk infeksi berat. Dosis lebih
dari 1g hanya diberikan secara intravena. BAYI di atas 1 minggu: 30 mg/kg
bb, intravena tiap 8 jam. ANAK di atas 2 tahun atau infeksi berat, 50 mg/kg
bb tiap 6-8 jam, maksimum 8 g per hari.Infeksi saluran kemih, 0,5-1 g tiap 8-
12 jam. Gonore dan sistitis, 1 g dosis tunggal.

29
• Doripenem
Indikasi: Infeksi pada dewasa: pneumonia nosokomial/termasuk pneumonia
dengan ventilator; infeksi intra abdominal dengan komplikasi.
Peringatan: Hipersensitif terhadap antibakteri golongan beta laktam,
kehamilan, menyusui, perlu penyesuaian dosis untuk pasien gagal ginjal.
Interaksi: Penggunaan bersama asam valproat harus disertai monitoring
konsentrasi asam valproat dalam serum. Tidak dianjurkan penggunaan
bersama Probenesid karena bisa terjadi penurunan klirens ginjal Doripenem.
Kontraindikasi: hipersensitif.
Efek Samping: sakit kepala, diare, mual, pruritus, infeksi vulvomikosis,
kenaikan enzim hati, ruam, flebitis.
Dosis: Pneumonia nosokomial termasuk penumonia dengan ventilator: 500 mg
tiap 8 jam diberikan dengan infus intravena selama 1 atau 4 jam. Komplikasi
infeksi intraabdominal, 500 mg tiap 8 jam diberikan dengan infus intravena
selama 1 jam. Lama pengobatan biasanya 5-14 hari tergantung pada tempat
dan beratnya infeksi serta respons klinis pasien. Tidak dianjurkan untuk anak
di bawah 18 tahun karena data keamanan dan efektivitas belum mencukupi.
Tidak dianjurkan untuk pasien yang sedang menjalani hemodialisa.
• Meropenem
Indikasi: infeksi gram positif dan Gram negatif, aerobik dan anaerobik.
Peringatan: hipersensitivitas terhadap penisilin, sefalosporin dan antibiotik
beta-laktam lainnya. Gangguan fungsi hati, fungsi ginjal, wanita hamil atau
menyusui.
Kontraindikasi: hipersensitif terhadap meropenem.
Efek Samping: mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan uji fungsi hati,
trombositopenia, uji Coombs positif, eosinofilia, netropenia, sakit kepala,
parestesia, reaksi lokal.
Dosis: injeksi intravena, 500 mg tiap 8 jam. Dapat ditingkatkan dua kali lipat
pada infeksi nosokomial (pneumonia, peritonitis, septikemia dan infeksi pada
pasien dengan netropenia). ANAK 3 bulan sampai 12 tahun, 10-20 mg/kg bb
tiap 8 jam. Berat badan lebih dari 50 kg diberikan dosis DEWASA.Meningitis,
2 g tiap 8 jam. ANAK 40 mg/kg bb tiap 8 jam.Infeksi saluran napas bawah
kronik pada fibrosis kistik, 2 g tiap 8 jam. ANAK 4-12 tahun, 25-40 mg/kg bb
tiap 8 jam
30
BAB VI
KESIMPULAN
1) Pada antibiotik golongan Makrolida dihasilkan oleh Streptomyces sp. Contoh Obatnya
adalah Erithromisin Stearate, Oleandomisin Fosfat, Spiramisin, Roksitromisin,
Azitromisin.
2) Dan golongan polipeptida berasal dari Bacillus sp. Dan Streptomyces sp. Contoh
Obatnya adalah Tirotrisin, Basitrasin, Polimiksin B Sulfat dan Kolistin.
3) Sedangkan pada golongan Linkosamida diisolasi dari Bacillus Lincozensis. Contoh
obatnya adalah Linkomisin HCl dan Klindamisin HCl.
4) Pada golongan Polien, Ansamisin, Antrasiklin dan Fosfomisin dihasilkan oleh
Streptomyces sp.

31