Anda di halaman 1dari 37

MIOMA UTERI PADA INFERTILITAS

Laporan kasus ini dibuat untuk melengkapi persyaratan


Kepanitraan Klinik Senior di SMF Ginekologi di RSUP Haji Adam Malik Medan

Pembimbing:

dr. Hilma Putri Lubis, M.Ked(OG), Sp.OG

Mentor:

dr. Diana Seri

Disusun Oleh:

Fauzi Ahmad Hasibuan (130100070)

Fannia Rizki Amalia (130100111)

Raina Benita S (130100237)

Holy Sarah Gita (130100297)

Paranthaman Thevar (130100321)

BAGIAN OBSTETRIK DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini
dengan judul “Mioma Uteri Pada Infertilitas”. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing laporan kasus kami ialah,
dr. Hilma Putri Lubis, M.Ked(OG), Sp.OG yang telah meluangkan waktunya dan
memberikan bimbingan serta masukan dalam penyusunan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam penulisan
laporan kasus selanjutnya.
Laporan kasus ini diharapkan bermanfaat bagi yang membaca dan dapat
menjadi referensi dalam pengembangan wawasan di bidang medis.

Medan, Januari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. i


Daftar Isi ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3
2.1. Definisi......................................................................................... 3
2.2. Klasifikasi..................................................................................... 3
2.3. Isidensi......................................................................................... 6
2.4. Etiologi......................................................................................... 6
2.5. Patofisiologi................................................................................. 7
2.6. Gambaran Klinik.......................................................................... 9
2.7. Diagnosis...................................................................................... 9
2.8. Komplikasi .................................................................................. 11
2.9. Penatalaksanaan........................................................................... 12
2.10. Prognosis...................................................................................... 18
2.1. Definisi......................................................................................... 4

DAFTAR PUSTAKA……...................................................................................19
BAB III STATUS PASIEN..................................................................................20
BAB IV ANALISIS KASUS................................................................................29
BAB V PERMASALAHAN................................................................................31

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan sistem reproduksi pada perempuan mencakup infeksi pada


saluran genetalia, gangguan menstruasi, masalah struktur, keganasan pada alat
reproduksi wanita, inferlititas, termasuk didalamnya adalah mioma uteri. Mioma
uteri, dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid, atau leiomioma
merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot polos uterus dan jaringan ikat
yang menumpanginya. Penyebab mioma uteri belum diketahui secara pasti sampai
saat ini. Tumor ini mungkin berasal dari sel otot yang normal, dari otot imatur
yang ada di dalam miometrium atau dari sel embrional pada dinding pembuluh
darah uterus.1,2,3

Umumnya mioma uteri tidak terdeteksi sebelum masa pubertas dan


tumbuh selama masa reproduksi. Jarang sekali mioma uteri ditemukan pada
wanita berumur 20 tahun atau kurang, paling banyak pada wanita ber-umur 35-45
tahun yaitu kurang lebih 25%. Di Indonesia, mioma uteri ditemukan 2,30-11,7%
pada semua penderita ginekologi yang dirawat. Mioma uteri merupakan tumor
pada pelvis yang paling sering. Perkiraan statistic penderita mioma uteri sebesar
30% dari kelainan kandungan yang lain. Diperkirakan 1 banding 4 atau 5 wanita
yang berumur lebih dari 35 tahun terdapat mioma uteri. Meskipun umumnya
mioma tidak menunjukkan gejala, diperkirakan 60% dari laparotomi pelvis pada
wanita dikerjakan dengan alasan mioma.3

Dalam sebuah penilitian dikatakan, kasus mioma uteri lebih banyak terjadi
pada usia reproduksi yaitu sekitar 20-25%. Kasus ini belum pernah ditemukan
pada wanita yang belum menarche dan yang sudah menopause hanya terjadi
sekitar 10%.Mioma jarang sekali ditemukan pada usia yang belum reproduksi
atau belum menarche. Tumbuhnya mioma uteri sangat dipengaruhi oleh hormon
reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif. Dari penelitian lain

1
didapat penderita mioma uteri terbanyak ditemukan pada usia 40-50 tahun sebesar
63,33 %. Penderita mioma uteri terbanyak ditemukan pada paratis nullipara
sebesar 26,32%.1,2

Sebesar 27-40% wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas.


Infertilitas dapat terjadi apabila mioma menutup atau menekan pars interstialis
tiba sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus karena
distorsi rongga uterus.4 Mioma muncul pada 5-10% pasien infertil dan mungkin
satu-satunya penyebab infertilitas pada 1-2,4%. Mioma dapat menyebabkan
infertilitas dengan obstruksi tuba fallopi dan menggangu transport gamet. Mioma
uteri dapat menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang diperlukan untuk
motilitas sperma dalam uterus. Gangguan implantasi embrio dapat terjadi pada
keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi
karena kompresi massa tumor.5

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Uterus


Uterus merupakan organ reproduksi wanita yang tebal dan terdiri atas
ruangan muskular dengan bagian yang terhubung dengan vagina dan tuba
fallopi.Uterus (rahim) berfungsi menerima blastokista yang berkembang dari oosit
dan menyediakan tempat untuk implantasi.Perkembangan prenatal terjadi di
dalam uterus sampai masa gestasi tuntas. Uterus juga berfungsi aktif dalam proses
kelahiran bayi.6,7

2.1.1 Ukuran dan Posisi Uterus

Gambar 2.1 Struktur Uterus6

Uterus adalah organ berongga, berdinding tebal, berotot dan berbenuk


seperti buah pear. Uterus berada dekat dasar panggul, bagian anterior ke arah
rektum dan bagian posterior ke arah vesica urinaria. Panjang uterus pada saat
tidak hamil ialah sekitar 7 cm, lebar sekitar 5 cm, dan diameter sekitar 2.5 cm.
Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah anteversiofleksio (serviks ke depan

3
dan membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri).7,8
Region anatomi uterus dibagi menjadi 3: 1) fundus uteri, bagian superior
yang berbentuk kubah dan berhubungan dengan tuba uteri; 2) korpus uteri,
merupakan bagian utama yang membesar pada saat hamil dan merupakan bagian
uterus terbesar; 3) serviks uterus, bagian inferior yang membuka menuju vagina.
Serviks uteri terdiri atas (1) pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan portio;
(2) pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada di atas
vagina. Sambungan antara kanalis servikalis menuju vagina disebut ostium
uterine.7,8
2.1.2 Dinding Uterus
Dinding uterus terdiri atas tiga lapisan: perimetrium, miometrium, dan
endometrium.
Perimetrium merupakan lapisan terluar yang berhubungan dengan
ligamentum latum, terdiri atas sel-sel epitel pipih selapis.Miometrium terdiri atas
tiga lapisan tebal otot polos yang sukar dibedakan, tersusun membentuk susunan
longitudinal, sirkular, dan spiral. Selama proses melahirkan, otot-otot miometrium
memegang peran oleh kontraksinya yang kuat. Endometium, lapisan mukosa
terdalam, memiliki 2 lapisan yang berbeda.Stratum fungsionale, terdiri atas sel
epitel kolumnar dan mengandung kelenjar sekretorik, dapat terlepas pada saat
menstruasi normal dan dapat terbentuk kembali dengan rangsangan hormon
steroid ovarium. Lapisan yang lebih dalam, stratum basale, kaya akan
vaskularisasi dan berfungsi meregenerasi stratum fungsionale setelah menstruasi.7

2.1.3 Vaskularisasi dan Inervasi

Uterus mendapatkan suplai darah melewati arteri uterina, yang muncul


dari arteri iliaca interna, dan melalui percabangan uterus dari arteri ovarian. Darah
dari uterus kembali melewati vena uterine yang paralel dengan susunan
arterinya.6,7

4
Uterus mendapat inervasi simpatis dan parasimpatis melalui pleksus
hipogastrik. Keduan inervasi otonom menginervasi pembuluh darah uterus,
sedangkan otot-otot polos miometrium menerima hanya inervasi simpatis.7

2.2 Mioma Uteri


2.2.1 Definisi

Leiomioma (atau sering disebut dengan mioma uteri/fibroid uteri)


didefinisikan sebagai neoplasma otot polos yang secara khas berasal dari
miometrium.Pada kebanyakan wanita, leiomioma muncul secara tidak signifikan.
Prevalensi kejadian leiomioma diperkirakan 77% diantara wanita usia reproduktif
di Amerika Serikat.9
Pada kebanyakan wanita, mioma uteri bersifat asimtomatis dan
didiagnosis secara tidak sengaja pada saat pemeriksaaan klinis rutin. Leiomioma
uteri diketahui menyebabkan perdarahan uterus abnormal (perdarahan uterus yang
berat, tidak teratur, dan berkepanjangan), nyeri pinggul, dan infertilitas sebagai
gejala utama.10
Leiomioma umumnya dibagi menjadi 3 sub kelompok berdasarkan
lokasinya: subserosal (muncul di luar uterus), intramural (di dalam miometrium,
dan submukosa (menonjol kedalam uterus).10

2.2.2 Etiologi
Dipercaya bahwa mioma merupakan tumor monoklonal yang dihasilkan
dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplasma tuunggal. Faktor predisposisi
mioma uteri adalah:11
a. Usia reproduktif (35-45 tahun)
b. Nullipara
c. Usia menarke yang dini
d. Frekuensi menstruasi yang meningkat
e. Adanya riwayat dismenorhea
f. Riwayat keluarga dengan mioma uteri
g. Suku afrika
h. Obesitas
i. Hipertensi dan diabetes

5
2.2.3 Patofisiologi
Mioma uteri merupakan tumor monoclonal yang berasal dari otot polos
uterus (misalnya myometrium). Neoplasma jinak ini terdiri dari miofibroblast
abnormal yang banyak ditemukan matriks ekstraseluler sehingga menyumbang
kepada porsi volume tumor.Hal yang memicu pertumbuhan fibroid masih
spekulatif.11
Sel-sel berproliferasi pada tingkat sedang dan pertumbuhannya bergantung
pada estrogen steroid ovarium dan progesterone. Oleh karena itu, kebanyakan
fibroid menjadi lisut setelah menopause. Estradiol estrogen yang paten secara
biologis menginduksi produksi reseptor progesterone. Reseptor progesteron ini
diperlukan sebagai respons jaringan fibroid pada progesteron yang disekresi oleh
ovarium. Progesteron serta reseptor progesteron sangat penting untuk
pertumbuhan tumor, proliferasi sel dan penambahan pembentukkan matriks
ekstraseluler. Tanpa progesterone dan reseptor progesterone, estrogen tidak
memadai untuk perkembangan fibroid.11
2.2.4 Klasifikasi
Menurut SCOG, klasifikasi mioma uteri adalah sebagai berikut:10
a. Subserosa (mengarah ke luar uterus)
b. Intramural (di dalam myometrium)
c. Submukosa (mengarah ke dalam kavum uterus)
Untuk sistem klasifikasi yang lebih detail, dapat dilihat pada sistem
klasifikasi menurut FIGO yaitu pada gambar 2.2.

6
Gambar 2.2 Klasifikasi Mioma Uteri (FIGO)

2.2.5 Gejala Klinis


Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang
dikeluhkan sangat terganung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks,
intramural, sbmukus, subserousa), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi
yang terjadi. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:13
a. Perdarahan abnormal. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah
hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor
yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah:
- Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai
adenokarsinoma endometrium
- Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa
- Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
- Myometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang

mioma di antara serabut myometrium, sehingga tidak dapat menjepit


pembuluh darah yang melaluinya dengan baik
b. Rasa nyeri. Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena
gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan

7
dilahirkan pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis
dapat menyebabkan juga dismenore.
c. Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat
mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri,
pada uretra dapat menyebabkan retensio urin, pada ureter dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh
limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

2.2.6 Diagnosis
a. Anamnesis: Menentukan keluhan utama (benjolan pada perut, perdarahan
uterus abnormal, nyeri pelvik, penekanan pada pelvik, gangguan berkemih).
Anamnesis obstetri dan ginekologi juga membantu menepis diagnosis
banding.
b. Pemeriksaan fisik: Pada mioma uteri, pembesaran uterus dengan mobillitas
mobile sekitar 300 gram atau seperti kehamilan 12 minggu dengan
permukaan irregular dan konsistensi kenyal mengarahkan pada mioma ureri.
c. Ultrasonografi (transabdominal dan transvaginal) adalah pemeriksaan
pendukung yang paling umum dipakai karena murah dan tersedia di layanan
kesehatan perifer. Sonohisterografi dengan infus kontras saline merupakan
prosedur diagnostik paling akurat untuk lesi submukosa dengan sentivitas dan
spesifisitasnya 98% hingga 100%. Pada wanita dengan uterus yang besar
sekali, USG sering menunjukkan gambaran hidronefrosis.
d. MRI adalah modalitas paling akurat untuk menerangkan ukuran, lokasi,
jumlah, dan perfusi mioma uteri. MRI juga memberitahu adakah kelainan lain
pada uterus. Sedangkan CT Scan secara terbatas menunjukkan lokasi mioma
berdasarkan batasan endometrium dan miometrium.

2.2.7 Penatalaksanaan

8
Gambar 2.3 Pilihan Penatalaksanaan pada Mioma Uteri
Penatalaksanaan pasien harus ditentukan dengan penilaian secara individu
berdasarkan gejala dan tanda, ukuran dan lokasi mioma, keinginan pasien untuk
mempertahankan fertilitas, ketersediaan terapi, dan kemampuan klinisi.14
Umumnya pada tahap awal, mioma uteri bersifat asimptomatis dan tidak
membutuhkan tatalaksana.Namun 20-50% kasus menunjukkan anemia
dikarenakan perdarahan uterus abnormal.Maka penatalaksanaan bersifat
simtomatis dapat dilakukan berupa terapi medikasi, operasi, atau kombinasi
keduanya.Wanita dengan mioma uteri asimtomatis harus dipastikan bahwa tidak
ada bukti yang memperkuat kemungkinan keganasan dan bahwa histetektomi
tidak diindikasikan.14

2.2.7.1 Pengobatan Medikasi


Perawatan ekspektatif dapat dilakukan pada wanita dengan kejadian
mioma uteri pada masa premenopause sekitar 6 bulan sampai 3 tahun sebelum
menopause.Karena banyak kejadian pengecilan mioma uteri pada pasien setelah
terjadinya menopause.Kontrasepsi oral dosis rendah tidak terbukti meningkatkan
terjadinya mioma uteri, maka kontrasepsi tidak menjadi kontraindikasi.9
Pilihan pengobatan yang dapat digunakan dengan gejala perdarahan uterus
abnormal adalah analog GnRH, selektif progesterone reseptor modulator,
kontrasepsi oral, progestin, dan danazol.9

2.2.7.2 Penatalaksaanaan Operatif

9
Miomektomi adalah terapi operatif alternatif selain histerektomi pada
wanita yang masih ingin mempertahankankan uterusnya, atau menginginkan
kehamilan kedepanya.Pembuangan fibroid harus didasari adanya perdarahan
uterus yang berkelanjutan, nyeri pevik, dan penekanan pada pelvik yang
berat.Rekurensi dapat terjadi sekitar 15% dalam 5 hingga 10 tahun.Perencanaan
operasi miomektomi harus berdasarkan pemetaan lokasi, ukuran, dan jumlah
fibroid yang baik dengan bantuan pencitraan yang sesuai.Penggunaan vasopressin,
bipuvacaine dan epinefrin, misoprostol, dan matriks gelatin-trombin dapat
mengurangi kehilangan darah pada miomektomi.15
Penatalaksanaan operasi Histerektomi dapat menjadi pilihan terbaik pada
pasien yang sudah memiliki anak yang cukup, wanita menopause, atau dengan
adanya kecurigaan keganasan.Histerektomi tidak direkomendikan sebagai
pencegahan meningkatnya morbiditas yang berhubungan dengan pertumbuhan
jaringan mioma.15
Histereskopi miomektomi menjadi terapi operatif konservatif yang harus
dipertimbangkan untuk fibroid intrakavitas yang simtomatis.15

2.2.7.3 Penatalaksanaan Non-operatif Alternatif

Saat ini, telah ada pilihan terapi non-operatif alternatif berupa embolisasi
arteri uterus.Terapi ini juga diindikasikan bila pasien ingin mempertahankan
uterus untuk fertilitas.15

10
Gambar 2.4 Algoritma Penatalaksaan Mioma Uteri

2.2.8 Komplikasi
a. Atrofi: Sesudah menopause atau seudah kehamilan uteri menjadi kecil.
b. Degenerasi keganansan: Mioma uteri dapat menjadi leiyomiosarcoma (0.32-
0.6%), dan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi setelah
uterus diangkat.
c. Torsio: Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul
gangguan sirkulasi, hingga nekrosis.
d. Nekrosis dan infeksi: Apabila terjadi gangguan sirkulasi pada mioma, dapat
terjadi nekrosis yang menimbulkan infeksi

11
2.3 Infertilitas
2.3.1 Definisi
Infertilitas merupakan kegagalan suatu pasangan untuk mendapatkan
kehamilan sekurang-kurangnya dalam 12 bulan berhubungan seksual secara
teratur tanpa kontrasepsi, atau biasa disebut juga sebagai infertilitas primer.
Infertilitas sekunder adalah ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau
mempertahankan kehamilannya.16

2.3.2 Faktor Penyebab

Penyebab infertilitas secara umum dapat dibagi sebagai berikut:


a. Faktor perempuan
Penyebab infertilitas pada wanita dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok,
yaitu:
1. Gangguan ovulasi : seperti SOPK, gangguan pada siklus haid, insufisiensi
ovarium primer. Infertilitas yang disebabkan oleh gangguan ovulasi dapat
diklasifikasikan berdasarkan siklus haid, yaitu amenore primer atau
sekunder.
2. Gangguan tuba dan pelvis : kerusakan tiba dapat disebabkan oleh infeksi
(Chlamidia, Gonorrhoe, TBC) maupun endometriosis.
3. Gangguan uterus, termasuk mioma submukosum, polip endometrium,
leiomyomas, sindrom Asherman .
b. Faktor laki-laki
Infertilitas dapat juga disebabkan oleh faktor laki-laki dan setidaknya sebesar
30-40% dari infertilitas disebabkan oleh faktor laki-laki, sehingga pemeriksaan pada
laki-laki penting dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan infertilitas. Fertilitas
laki-laki dapat menurun akibat dari :
1. Kelainan urogenital kongenital atau didapat
2. Infeksi saluran urogenital
3. Suhu skrotum yang meningkat
4. Kelainan endokrin
5. Kelainan genetik
6. Faktor imunologi

12
2.4 Pengaruh Mioma Uteri pada Infertilitas

Fibroid muncul pada 5-10% pasien infertil dan mungkin satu-satunya


penyebab infertilitas pada 1-2,4%. Fibroid dapat menyebabkan infertilitas dengan
obstruksi tuba fallopi dan menggangu transport gamet. Sebesar 27-40% wanita
dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Infertilitas dapat terjadi apabila
mioma menutup atau menekan pars interstialis tiba sedangkan mioma
submukosum juga memudahkan terjadinya abortus karena distorsi rongga uterus.4
Mioma uteri dapat menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang
diperlukan untuk motilitas sperma dalam uterus. Gangguan implantasi embrio
dapat terjadi pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium
dimana terjadi atrofi karena kompresi massa tumor.5
Beberapa mekanisme bagaimana mioma dapat mempengaruhi infertilitas
antara lain17:
1. Pembesaran atau deformitas cavum uteri dapat mengganggu migrasi dan
transpor sperma.
2. Obstruksi proksimal tuba fallopi.
3. Perubahan anatomi tuba-ovarium mengganggu dalam penangkapan ovum.
4. Peningkatan atau gangguan kontraktilitas uterus dapat menghalangi
transpor sperma atau nidasi embrio.
5. Gangguan pada endometrium dan implantasi karena atrofi atau venous
ectasia atau berlawanan dengan mioma submukosa.
6. Gangguan aliran darah endometrium.
7. Inflamasi endometrium atau sekresi substansi vasoaktif.

Pasien infertilitas dengan fibroid yang dapat mengenai kavitas


endometrium mempunyai hasil reprodusi yang buruk daripada pasien infertil

13
tanpa fibroid. Mioma intramural juga mempunyai hasil reproduksi yang buruk,
tetapi kurangnya evaluasi kulitas membuat kesimpulan ini menjadi lemah.17
Richard et al menyatakan bawah proses inflamasi lokal dapat
menyebabkan ulserasi yang pada akhirnya mengubah karakteristik biokimia
intrauterin, menghasilkan lingkurang yang kurang baik bagi spermatozoa. Fibroid
submukosa dapat mengganggu suplai darah endometrium akibatnya
mempengaruhi proses implantasi embrio. Suatu penelitian terkontrol, suatu
evaluasi dilakukan untuk menentukan letak anatomi mioma dapat mempengaruhi
fungsi reproduksi wanita dan penanaman mioma sebelum implantasi dapat
meningkatka angka kehamilan dan mempertahankan kehamilan. Hasil penelitian
mengindikasikan peningkatan derajat infertilitas setelah intervensi dilakukan.
Meskipun sejumlah besar bukti mendukung efek negatif dari mioma submukosa
mendistorsi rongga endometrium dari hasil konsepsi. Penelitian metaanalisis
tentang fibroid intramural, menyatakan bahwa fibroid mungkin berakibat negatif
pada kehamilan dan menyebabkan keguguran.17
Beberapa penelitian yang telah lalumenyatakan bahwa semua wanita yang
diamati dengan distorsi, sedangkan penelitian saat ini telah menyimpulkan bahwa
wanita dengan mioma juga dengan ruang terdistorsi.wanita dengan fibroid
submukosa dibandingkan dengan wanita infertil tanpa fibroid memberikan
hasilyang signifikan penurunan angka kehamilan, implantasi dan angka kelahiran
hidup. Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada kasus prematur.17
Wanita dengan gangguan kavum selalu memberikan hasil penurunan
signifikan tingkat implantasi dan kelangsungan kehamilan/angka lahir hidup
dengan peningkatan tingkat abortus dibandingan dengan subjek kontrol. Sebagai
kesimpulan, mioma submukosa terlihat menurunkan angka fertilitas. Penting
untuk mengevaluasi kondisi karena lokasi mioma mempengaruhi angka fertilitas.
Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada pengukuran mioma setelah
dibandingkan dengan kelompok wanita mioma subserosa dengan wanita tanpa
mioma.17
Sebaliknya, pada wanita dengan mioma intramural selalu memberikan
hasil signifikan dengan angka kehamilan yang lebih rendah, implatasi dan angka
kelahiran hidup dengan angka abotus spontan yang lebih tinggi. Beberapa

14
penelitian melaporkan penurunan angka kehamilan pada pasien dengan distorsi
rongga uterus dibandingkan dengan subjek tanpa distorsi dan mioma. Studi lain
menunjukkan mioma submukosa intramural mempengaruhi implantasi dan angka
kehamilan dibandingkan dengan wanita tanpa fibroid, dimana fibroid subserosa
tidak mempengaruhi kehamilan.17
Penelitian Cassini et al menunjukkan bahwa fibroid submukosa bukan
penyebab utama infertilitas. Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa angka
kehamilan dan keguguran dapat dipengaruhi oleh fibroid uteri. Walaupun hasilnya
secara statistik tidak signifikan pada kelompok wanita dengan fibroid intramural
dan intramural-subserosa, ada kecenderungan tingkat kehamilan yang lebih tinggi
dan angka keguguran yang lebih rendah di antara semua kelompok perlakuan.
Penelitian ini menyatakan peran penting letak fibroid uterus pada infertilitas dan
pentingnya pengangkatan fibroid sebelum kehamilan, untuk meningkatkan
kesempatan pembuahan dan pemeliharaan pada kehamilan.18

15
BAB 3

LAPORAN KASUS

ANAMNESA PRIBADI

Nama : Nn. D

Umur : 40 tahun

Suku : Jawa

Alamat : Jl. Garu I No.220

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : Tamat SLTA

Status : Sudah Menikah

Tanggal masuk : 25 Desember 2018 (Jam 12:02 WIB)

Paritas : P0A0

ANAMNESA

Nn. D, usia 40 tahun, suku jawa, agama Islam, tamat SLTA, pekerjaan Ibu rumah
tangga, sudah menikah, datang ke poli kandungan RSUP HAM dengan:

Keluhan utama : Nyeri perut

Telaah : Keluhan ini telah dirasakan pasien sejak 2 bulan yang dirasa
menyebar seperti disayat-sayat, terasa panas. Nyeri dirasa
selama haid 2 bulan ini. Riwayat keluar darah diluar siklus
haid ada pada bulan 10 tahun 2018 selama 4 hari. Riwayat
campur berdarah tidak ada. Riwayat nyeri saat campur tidak

16
ada. Riwayat penurunan BB ada, lebih kurang 8 kg dlam 1
tshun. Riwayat penurunan BB tidak ada. Riwayat BAK nyer
tidak ada , riwayat BAB normal. Riwayat endometriosis
pada tahun 2015 konsumsi visanne 3 bulan.

RPT : Limfadenitis TB

RPO : OAT selama 1 tahun

RIWAYAT MENSTRUASI

Menarche : 12 tahun
Lama : 7 hari
Siklus : 28 hari
Volume : ± 2-3 doek/hari
Nyeri : (+)
Haid Terakhir : 25 Oktober 2018

PEMERIKSAAN FISIK

STATUS PRESENS

Sensorium : Compos mentis Anemis :-

Tekanan Darah : 110/80 mmHg Ikterik :-

Frekuensi Nadi : 88 x/i Sianosis :-

Frekuensi Napas : 20 x/i Dyspnoe :-

Temperatur : 36,7 ºC Oedema :-

TB : 158 cm

BB : 55 kg

IMT : 22,03 kg/m2

STATUS GENERALISATA

17
Kepala : Dalam batas normal

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks


cahaya (+/+), isokor, ka=ki

Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorax

Inspeksi : Simetris fusiformis

Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

Jantung : S1 (N) S2 (N) S3 (-) S4 (-), Reguler, Murmur (-)

Paru : Suara pernafasan : Vesikuler

Suara tambahan : Ronki (-/-), wheezing (-/-)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2 detik, clubbing finger (-), oedem
pretibial (-/-)

STATUS LOKALISATA

Abdomen : Teraba massa padat sebessr kepalan tangan orang dewasa


pada daerah di bawah umbilicus

STATUS GINEKOLOGIS

Genitalia eksterna :

Inspeksi : Mons pubis, labia mayor dan minor, introitus, perineum:


warna tidak hiperemis, tidak tampak ada benjolan
maupun edema, ukuran normal, tidak ada darah,

18
keputihan tidak dijumpai

Inspekulo : Tidak dilakukan pemeriksaan

Vaginal Toucher : Teraba masa padat sebesar kepalan tangan orang dewasa

Berasal dari uterus. Teraba masa sebesar bola golf kesan


berasal dari adnexa kanan. Adnexa kiri tidak teraba masa.
Parametrium kanan kiri lemas, cavum Douglas tidak
menonjol.

Rectal Toucher : Sphincter ani ketat, mukosa anus licin, ampula berisi
sedikit feces, kavum douglass tidak menonjol

USG-TAS

19
Kandung kemih tidak terisi

Uterus AF ukuran: 12.03 x 5,72.

Tampak gambaran hiperekoik ukuran 7. X 8.4 cm berbentuk kumparan.

Tampak gambaran hipoekoik di adneksa kanan kesan kista folikel

Adneksa kiri normoekoik.

Cairan bebas: (-)

Kesimpulan: Mioma Uteri

LABORATORIUM (17 Desember 2018)

Test Hasil Satuan Referensi

Hemoglobin 13.7 g/dL 12-14

Eritrosit 4.86 106/µL 4.5-5.50

Leukosit 7.320 103/µL 4.0-10.0

Hematokrit 42 % 36.0-42.0

Platelet 300 103/µL 150-400

Ureum 19 mg/dl 10.0-50.0

20
Creatinin 0.56 mg/dl 0.6-1.2

Uric Acid 4.3 mg/dl 3.5-7.0

Glukosa ad random 75 mg/dl <140

Natrium 132 mmol/L 136-155

Kalium 4.2 mmol/L 3.50-5.50

Klorida 104 mmol/L 95.00- 103.00

SGOT 19 U/L 0.00-40.00

SGPT 17 U/L 0.00-40.00

APTT 26.0 Detik 33.0

PT 13.0 Detik 14.00

INR 0.91 Detik 1-1.3

DIAGNOSA KERJA

Mioma Uteri

RENCANA

Miomektomi pertimbangan histerektomi, dijadwalkan operasi 26 Desember 2018

21
22
BAB 4

FOLLOW UP

25 Desember 2018

S Persiapan operasi

O Sens: CM

TD: 120/70 mmHg

HR: 86x/ menit

RR: 20x/ menit

Temperatur: 36.7°C

Status Lokalisata

Abdomen: Teraba massa padat sebessr kepalan tangan orang dewasa pada
daerah di bawah umbilicus

BAB dan BAK dalam Batas normal

A Mioma Uteri

P Persiapan Operasi

- Sio, cukir, doa

- Klisma

- Puasa 8 jam

- Persiapan 2 bag PRC

23
- Inj. Ceftriaxone 2 gr (profilaksis, 30 menit sebelum insisi)

R/ Miomektomi pertimbangan histerektomi

26 Desember 2018

S Nyeri luka operasi

O Sens: CM

TD: 110/70 mmHg

HR: 80x/ menit

RR: 16x/ menit

Temperatur: 36.2°C

Status Lokalisata

Abdomen: Soepel, peristaltik (+) N

BAB dan BAK dalam Batas normal

A Post Adenomiomektomi a/i adenomiosis + Post Kistektomi a/i kista ovarium


(H1)

P - IVFD RL 20 gtt/i

- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam

- Inj. Gentamycin 80 mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam

- Inj. Ranitidin 80 mg/12jam

R/ pantau vital sign, perdarahan

Cek darah rutin post op.

24
LABORATORIUM POST OP(26 Desember 2018)

Test Hasil Satuan Referensi

Hemoglobin 10.9 g/dL 12-14

Eritrosit 3.90 106/µL 4.5-5.50

Leukosit 17.170 103/µL 4.0-10.0

Hematokrit 33 % 36.0-42.0

Platelet 269 103/µL 150-400

27 Desember 2018

S Nyeri luka operasi

O Sens: CM

TD: 120/70 mmHg

HR: 76x/ menit

RR: 18x/ menit

Temperatur: 36.6°C

Status Lokalisata

Abdomen: Soepel, peristaltik (+) N

BAB dan BAK dalam Batas normal

A Post Adenomiomektomi a/i adenomiosis + Post Kistektomi a/i kista ovarium


(H2)

P - IVFD RL 20 gtt/i

25
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam

- Inj. Gentamycin 80 mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam

- Inj. Ranitidin 80 mg/12jam

28 Desember 2018

S Nyeri luka operasi

O Sens: CM

TD: 120/80 mmHg

HR: 78x/ menit

RR: 18x/ menit

Temperatur: 36.5°C

Status Lokalisata

Abdomen: Soepel, peristaltik (+) N

BAB dan BAK dalam Batas normal

A Post Adenomiomektomi a/i adenomiosis + Post Kistektomi a/i kista ovarium


(H3)

P - IVFD RL 20 gtt/i

- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam

- Inj. Gentamycin 80 mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam

26
- Inj. Ranitidin 80 mg/12jam

R/ PBJ besok (29/12/18)

29 Desember 2018

S Nyeri luka operasi

O Sens: CM

TD: 110/70 mmHg

HR: 78x/ menit

RR: 16x/ menit

Temperatur: 36.5°C

Status Lokalisata

Abdomen: Soepel, peristaltik (+) N

BAB dan BAK dalam Batas normal

A Post Adenomiomektomi a/i adenomiosis + Post Kistektomi a/i kista ovarium


(H4)

P - Cefadroxil 2 x 500mg

- Asam Mefenamat 3 x 500mg

- Vit B. Comp 2 x 1

R/ PBJ hari ini (29/12/18)


Kontrol Poli RSUP HAM (02/01/18)

27
BAB 5

DISKUSI KASUS

Teori Kasus

Mioma Uteri Sesuai dengan teori,pasien Nn. D


mempunyai beberapa faktor
 Leiomioma (atau sering disebut dengan
predisposisi:
mioma uteri/fibroid uteri) didefinisikan
sebagai neoplasma otot polos yang - Merupakan usia reproduktif yaitu
secara khas berasal dari miometrium. 30 tahun
- Dari anamnesis pasien mempunyai
Prevalensi kejadian leiomioma
riwayat nyeri haid (dismenorhea)
diperkirakan 77% diantara wanita usia
reproduktif di Amerika Serikat.

Faktor Predisposisi

a. Usia reproduktif (35-45 tahun)


b. Nullipara
c. Usia menarke yang dini
d. Frekuensi menstruasi yang meningkat
e. Adanya riwayat dismenorhea
f. Riwayat keluarga dengan mioma uteri
g. Suku afrika
h. Obesitas
i. Hipertensi dan diabetes
Gejala dan Tanda Pada kasus ini pasien mengeluhkan
nyeri perut bagian bawah.
Gejala yang dikeluhkan terganung pada
tempat sarang mioma ini berada, besarnya
tumor, perubahan dan komplikasi.

c. Perdarahan abnormal
d. Rasa nyeri
e. Gejala dan tanda penekanan
Anamnesis

28
Menentukan keluhan utama (benjolan Pada pasien ini dikeluhkan benjolan
pada perut, perdarahan uterus abnormal, pada perut bawah yang telah dirasakan
nyeri pelvik, penekanan pada pelvik, pasien sudah 1 tahun.Pasien telah
gangguan berkemih). Anamnesis obstetri berobat ke Sp.OG 6 bulan yang lalu
dan ginekologi juga membantu menepis dan didiagnosa dengan mioma uteri
diagnosis banding. lalu dianjurkan untuk dilakukan
operasi, namun Os belum bersedia.

Pemeriksaan Fisik

Pada mioma uteri, pembesaran uterus Pemeriksaan abdomen pada pasien ini:
dengan mobillitas mobile sekitar 300 gram
Teraba massa padat, immobile,
atau seperti kehamilan 12 minggu dengan
permukaan rata, pole atas 2 jari diatas
permukaan irregular dan konsistensi
pusat, pole bawah setentang simfisis,
kenyal mengarahkan pada mioma ureri.
nyeri tekan (+).

Genitalia eksterna:

1. Inspeksi: Mons pubis, labia


mayor dan minor, introitus,
perineum: warna tidak
hiperemis, tidak tampak ada
benjolan maupun edema,
ukuran normal, tidak ada darah,
keputihan tidak dijumpai.
2. Rectal toucher: Spingter ani
ketat, mukosa anus licin,
ampula berisi sedikit feces,
kavum douglass tidak menonjol
3. Pemeriksaan inspekulo dan
vaginal toucher tidak
dilakukan .

29
Pemeriksaan Penunjang USG-TAS pada pasien:

- USG (transabdominal dan Uterus>BB, Uk: 8,1 x 6,1 x 5,2 , E-


transvaginal) Line +
- MRI
Tampak massa hiperekoik seperti
kumparan

Ukuran 1: 5 x 6 cm

Ukuran 2: 3 x 3 cm

Cairan ascites : (-)

Kesimpulan: Mioma uteri Subserosa


+Kista Ovarium Duplex

MRI tidak dilakukan pada pasien ini.

Tatalaksana

1. Pada tahap awal, mioma uteri bersifat Pada pasien ini telah dilakukan
asimptomatis dan tidak membutuhkan miomektomi pertimbangan
tatalaksana. histerektomi
2. Pada pasien dengan gejala perdarahan
ueterus abnormal dapat diberikan
analog GnRH, selektif progesterone
reseptor modulator, kontrasepsi oral,
progestin, dan danazol. Hal ini penting
karena pasien dengan perdarahan
uterus abnormal dapat mengalami
anemia.
3. Miomektomi adalah terapi operatif
alternatif selain histerektomi pada
wanita yang masih ingin
mempertahankankan uterusnya, atau

30
menginginkan kehamilan kedepannya.

BAB 6

KESIMPULAN

Pasien Nn. D, 30 tahun, datang dengan keluhan benjolan pada perut bawah. Dari
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, awalnya pasien
didiagnosis dengan mioma uteri subserosa + kista ovarium duplex. Pasien ini
rencana miomektomi pertimbangan histerektomi pada tanggal 14 desember 2018.

31
DAFTAR PUSTAKA
1. Ulfah, Mariah. Pengaruh Indeks Masa Tubuh, usia menarche dan status
menstruasi, terhadap mioma uteri. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol.
8 No. 2 Edisi Desember 2017, hlm. 22-31
2. Finurina I, Salim IA. Karakteristik Mioma Uteri di RSUD PROF. DR.
MARGONO SOEKARJO Banyumas. MEDISAINS: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu
Kesehatan, Vol 13 No 3, DESEMBER 2015
3. Sumarni S, Apriyani Y. Analisa Fak ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUD dr.
ADHYATMA SEMARANG. JURNAL KEBIDANAN Vol. 2 No. 5
Oktober 2013
4. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 2014.
5. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM,
et al. Williams Obstetrics. 25th edition. New York: McGraw Hill, 2014. 5.

32
6. Kenneth S. S. Human Anatomy. 2nded. The McGraw-Hill; 2008. p749-758.
Colin H.Wheatley Kent M. Van De Graff. Human anatomy. 6 thed. The
McGraw-Hill; 2001 July 28. p726-751
7. Kenneth S. S. Human Anatomy. 2nded. The McGraw-Hill; 2008. p749-758.
Colin H.Wheatley
8. Fozia Ui, Ahmed W.Y. Distribution of cause of abnormal uterine bleeding
using the new FIGO classification system. JPMA 2013 August; 63:973-975
9. Miika M, Eevi K, Netta M, Riku K, Kati K, Esa P et al. Characterization of
uterine leiomyomas by whole-genome sequencing, Helsinki: The NEJM 2013
July 4. (17)
10. The management of uterine leiomyoma. J Obstet Gynaecol Can
2015;37(2):157–178. (18)
11. Manuaba, I.B.G.I.A. Chandranita M, dan I.B.G. Fajar M. Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2007
12. Malcolm G. Munro, Hilary O.D. Critchley, Michael S. Broder, Ian S. Fraser.
FIGO classification system (PALM-COEIN) for causes of abnormal uterine
bleeding in nongravid women of reproductive age. International Journal of
Gynecology and Obstetrics 2011;113:3-13
13. Schorge, John O et al. Abnormal Uterine bleeding. In: Schorge, John O et al.
Williams gynecology 22th edition. China: McGraw-Hill companies, Inc,
2008.p367-380
14. AAGL practice report: practice guideline for the diagnosis and management
of endometrial polyps. AAGL Advancing Minimally Invasive Gynecology
Worldwide Elsevier. 2012
15. William M. B, James O, Mario L, Emery S, Paola G, Alexander B. O et
al.Endometrial cancer: a review and current management strategies: part i.
USA: Elsevier Inc 2014. Available
from:URL:dx.doi.org/10.1016/j.ygyno.2014.05.018
16. Konsensus Penanganan Infertilitas, 2013, Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia
17. Pritts et al., 2009, Fibroids and infertility: an updated systematic review of the
evidence, ASRM
18. Casini et al., 2006, Effects of the position of fibroids on fertility,
Gynecological Endocrinology

33
34

Anda mungkin juga menyukai