Anda di halaman 1dari 13

FARMAKOLOGI

SIMVASTATIN

Komposisi:
Simvastatin 10 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet salut selaput.

Farmakologi:
Penghambat spesifik dari HMG-CoA reduktase, enzim yang mengkatalisa konversi dari
HMG-CoA menjadi mevalonat. Konversi dari HMG-CoA menjadi mevalonat adalah tahap
paling awal dari jalur biosintesa kolesterol.

Indikasi:
Tambahan terhadap diet, untuk menurunkan kadar kolesterol total dan LDL yang meningkat
pada pasien dengan hiperkolesterolemia primer (tipe IIa dan IIb) bila respon terhadap diet
terbatas kolesterol dan lemak jenuh serta tindakan non farmakologi lainnya tidak adekuat.

Dosis:
Dosis awal yang dianjurkan adalah 5 - 10 mg sekali sehari pada malam hari.
Dosis anjuran berkisar dari 5 - 40 mg/hari, sekali sehari dan dosis maksimum perhari adalah
40 mg. Dosis harus diindividualisasi sesuai dengan data dasar kadar kolesterol LDL, sasaran
terapi dan respons pasien.

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas terhadap setiap komponen dari obat ini.
Penyakit hati yang aktif atau peningkatan serum transaminase yang persisten dan tidak dapat
dijelaskan.
Kehamilan dan menyusui.

Peringatan dan Perhatian:


- Jika diperlukan terapi jangka panjang, dianjurkan untuk melakukan tes laboratorium secara
periodik selama 3 bulan.
- Sebelum memulai terapi, dianjurkan untuk tes fungsi hati dan selanjutnya dilakukan
pemeriksaan secara periodik. Bila transaminase meningkat dan peningkatannya bersifat
progresif, terutama kenaikan tiga kali dari batas normal dan persisten, obat harus dihentikan.
- Pengobatan harus dihentikan jika terjadi kenaikan kadar CPK (Creatine Phosphokinase)
atau miopati.
- Efektivitas dan keamanan pada anak-anak belum diketahui.
- Simvastatin kurang efektif pada Hiperkolesterolemia familial homozigot.
- Tidak diindikasikan bila perhatian utama dari abnormalitas adalah hipertrigliseridemia (mis
: Hipertrigliseridemia tipe I, IV dan V).
- Harus digunakan dengan hati-hati pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dalam
jumlah besar dan/atau berpenyakit hati.

Efek Samping:
Efek samping dengan presentasi 1% atau lebih yang pernah dijumpai antara lain: nyeri
abdomen, konstipasi dan kembung. Dengan frekuensi 0,5 – 0,9 % : astenia, sakit kepala.

GLIMEPIRIDE

Komposisi:
Glimepiride 1,2,3 dan 4 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Glimepiride bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan
meningkatkan sensitivitas insulin di perifer.

Indikasi:
DM tipe 2 (NIDDM) yang kadar gula darahnya tidak terkontrol dengan diit dan aktivitas
fisik.

Dosis:
Dosis awal biasanya adalah 1 mg sekali sehari. Bila perlu, dosis harian dapat ditingkatkan
dengan interval 1-2 minggu.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap glimepiride, ketoasidosis diabetes dengan atau tanpa koma, wanita
hamil atau wanita menyusui.

Peringatan dan Perhatian:


Penggunaan pada anak-anak : keamanan dan efektivitasnya belumdiketahui.
Kewaspadaan dan reaksi dapat terganggu karena hipo atau hiperglikemia, terutama saat
memulai atau setelah perubahan pengobatan atau saat glimepiride tidak diminum secara
teratur.

Efek Samping:
Gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, diare.

METFORMIN

Komposisi:
Metformin 500 mg.
Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Mekanisme utama metformin dalam mengontrol kadar gula darah adalah dengan cara
menghambat produksi glukosa (glukoneogenesis) di hati.

Indikasi:
DM tipe 2 (NIDDM) yang kadar gula darahnya tidak terkontrol dengan diit dan aktivitas
fisik.

Dosis:
Dosis awal : 2x500 mg/hari
Titrasi : dapat ditingktan 500 mg/minggu setiap 2 minggu.
Dosis maksimum : 2000 mg dalam dosis terbagi. Diberikan bersama makanan.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap metformin, koma diabetik dan ketoasidosis, gangguan fungsi ginjal.
Penyakit hati kronis, gagal jantung dan infark miokardium, alkoholisme, riwayat atau
keadaan yang berkaitan dengan asidosis laktat seperti syok atau insufisiensi pulmonal dan
keadaan yang berhubungan dengan hipoksemia.
Kehamilan dan menyusui.

Peringatan dan Perhatian:


Hati-hati pada gangguan fungsi ginjal.
Tidak dianjurkan penggunaan pada kondisi dimana menyebabkan dehidrasi atau pada
penderita yang baru sembuh dari infeksi serius atau trauma.
Dianjurkan pemeriksaan berkala kadar B12 pada penggunaan jangka panjang.
Hati-hati pemberian pada pasien usia lanjut yang mempunyai gangguan fungsi ginjal.
Tidak direkomendasikan penggunaan pada anak-anak.

Efek Samping:
Anoreksia, mual, muntah, diare.

AMLODIPINE

FARMAKOLOGI
Bekerja dengan menghambat masuknya ion kalsium ke dalam otot pembuluh darah dan
jantung, sehingga vasodilatasi dan menurunkan tekanan darah.

INDIKASI/KEGUNAAN
Hipertensi, angina pektoris stabil, angina Prinzmetal/vasospastik/angina variant.

CARA PEMBERIAN/PENGGUNAAN
Hipertensi dan angina: Dosis awal 5 mg, sekali sehari, maks 10 mg, sekali sehari. Titrasi tiap
1-2 minggu.
Pemberian dapat diberikan sebelum dan sesudah makan.AMLODIPINE dapat diberikan pagi
atau malam hari.AMLODIPINE bisa diberikan bersamaan dengan obat antihipertensi lain dan
suplemen bila diperlukan.AMLODIPINE secara relatif aman untuk diberikan secara jangka
panjang, dan pada pasien hipertensi memang diberikan seumur hidup.

PASIEN KHUSUS/PERHATIAN
Amlodipine memang sudah ada penelitan pemberiannya pada anak-anak, namun perlu
berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai terapi.Dapat diberikan dengan dosis biasa
pada pasien usia lanjut, dengan rekomendasi dosis2,5 mg, dan bila diperlukkan dapat
diberikan dosis lebih besar.Walau amlodipine tidan lazim diberikan pada ibu hamil,
amlodipine dapat diberikan pada ibu hamil, dengan konsultasi terlebih dahulu dengan
dokter.Pada pasien dengan gangguan fungsi hati AMLODIPINE dapat diberikan dengan
dosis awal 2,5 mg. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dapat diberikan
AMLODIPINE.

EFEK SAMPING
Secara umum dapat ditoleransi dengan baik, ringan-sedang, seperti edema, sakit kepala,
fatique, pusing.

CAPTOPRIL

Komposisi:
Captopril tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II, dengan menghambat enzim
yang terlibat dalam proses pembentukan angiotensin II, yaitu ACE (angiotensin converting
enzym). Hambatan dari pembentukan angiotensin II ini menyebabkan penurunan tekanan
darah.

Indikasi:
Pengobatan hipertensi ringan sampai sedang.
Pengobatan gagal jantung kongesti, digunakan bersama dengan diuretik dan bila mungkin
dengan digitalis.

Dosis:
Hipertensi ringan sampai sedang: Dosis awal 12,5 mg, 2 kali sehari. Dosis pemeliharaan 25
mg, 2 kali sehari, yang dapat ditingkatkan selang 2 – 4 minggu, hingga diperoleh respons
yang memuaskan.Dosis maksimum 50 mg, 2 kali sehari.

Kontraindikasi:
Pasien yang hipersensitif terhadap captopril atau penghambat ACE yang lain.
Peringatan dan Perhatian:
Neutropenia/agranulositosis, trombositopenia dan anemia dapat terjadi pada
pengguna captopril, termasuk pada penderita fungsi ginjal normal, walaupun
jarang.
Hati-hati pada penderita dengan penyakit kolagen vaskuler yang mendapat terapi
imunosupresan, pengobatan dengan allopurinol atau prokainamid, karena dapat
menyebabkan terjadinya infeksi serius. Apabila pada pemakaian obat ini ternyata wanita itu
hamil, maka pemberian obat harus dihentikan dengan segera.

Efek Samping:
Batuk kering.

PROPILTIOURASIL (PTU)

KELAS TERAPI
Hormon, obat endokrin lain dan kontraseptik.

DOSIS PEMBERIAN OBAT


Untuk pengobatan hipertiroidisme: dosis awal lazim dewasa: 300-450 mg sehari.
Untuk pasien hipertiroidisme parah mungkin memerlukan dosis awal 600-1200 mg sehari.
Secara umum jika suatu saat kontrol gejala telah terpenuhi, terapi dilanjutkan sesuai dosis
awal selama 2 bulan. Dosis pemeliharaan propiltiourasil sangat bervariasi tapi secara umum
berkisar dari satu pertiga sampai dua pertiga dosis awal. Untuk pengobatan krisis tirotoksik,
dosis lazim propiltiourasil adalah 200 mg setiap 4-6 jam pada hari pertama, jika suatu saat
gejala telah terpenuhi, dosis terapi diturunkan secara bertahap sampai tingkat dosis
pemeliharaan. Untuk pengobatan hipertiroidisme pada anak, dosis lazim awal adalah 50-150
mg sehari untuk anak 6-10 tahun dan 150-300 mg atau 150 mg/m2 setiap hari untuk anak 10
tahun atau lebih. Dosis pemeliharaan ditandai dengan respon pasien. Untuk pengobatan
hipertiroidisme pada bayi, dosis yang direkomendasikan adalah 5-10mg/kg setiap hari.

FARMAKOLOGI
Walaupun bergantung pada kondisi fisiologis dan patologis pasien, namun keadaan eutiroid
pada terapi dengan propiltiourasil (PTU) umumnya baru dapat terkapsulai setelah terapi
selama 2–4 bulan. PTU diabsorpsi dengan cepat dari saluran pencernaan. Pada pemberian
per oral, konsentrasipuncak dalam serum terkapsulai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian.
PTU terkonsentrasi dalam kelenjar tiroid, dan karena efek kerjanya lebih ditentukan oleh
kadarnya dalam kelenjar tiroid dibandingkan dengan kadarnya dalam plasma, maka hal ini
menyebabkan perpanjangan atau prolongasi aktivitas antitiroidnya. Oleh sebab
itu interval dosis dapat 8 jam atau lebih, bahkan dapat diberikan dalam dosis tunggal
harian. Fraksiterikat protein dari PTU cukup besar, yaitu sekitar 70-80%, dan sebagian besar
terionisasi pada pH fisiologis normal. Akibatnya, transport lintas plasenta dan distribusi ke
dalam air susu tidak sebesar obat antiroid lain, misalnya metimazol. Waktu paruh plasma
sekitar 1-2 jam. Waktu paruh eliminasi kemungkinan akan bertambah apabila terdapat
gangguan fungsi hati atau ginjal. Kurang dari 10% PTU yang diekskresikan dalam bentuk
senyawa`asal (tak berubah), sebagian besar (lebih dari 50%)
mengalami metabolisme hepatik yang ekstensif melalui reaksi glukuronidasi.
STABILITAS PENYIMPANAN
Stabil disimpan dalam suhu kamar, antara 15-30C. Hindarkan dari lembab dan cahaya
matahari langsung.

KONTRAINDIKASI
Blocking replacement regiment tidak boleh diberikan pada masa kehamilan dan menyusui.

EFEK SAMPING
Efek Samping yang paling sering terjadi adalah ruam kulit, urtikaria, pigmentasi kulit,
dan kerontokan rambut. Efek Samping lain yang agak umum antara
lain nyeri sendi, demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, mual, muntah, dan kurang nafsu
makan. Efek Samping yang jarang terjadi tetapi berakibat serius pada terapi dengan PTU
adalah agranulositosis atau leukopenia (turunnya jumlah sel darah putih di dalam darah),
yang ditandai antara lain dengan lesi infeksi pada tenggorokan, saluran cerna, dan kulit
disertai rasa lemah dan demam. Di samping itu juga dapat
terjadi trombositopenia (penurunan trombosit) yang berakibat pada
kecenderungan perdarahan.

INTERAKSI MAKANAN
Kadar PTU serum dapat berkurang apabila diberikan bersama dengan makanan.

INTERAKSI OBAT
PTU dapat menurunkan efek antikoagulan (blood thinner) senyawa-senyawa turunan
kumarin, misalnya warfarin (Coumadin). Oleh sebab itu, dosis warfarin harus disesuaikan
apabila diberikan bersama dengan PTU, dan monitoring efek warfarin terhadap
penggumpalan darah perlu dilakukan (risiko interaksi Kategori D: pertimbangkan modifikasi
terapi). PTU dapat mengurangi efek Natrium Iodida. Untuk mengatasinya, hentikan
pemberian antitiroid (PTU) 3-4 hari sebelum pemberian natrium iodida (risiko interaksi
Kategori X: hindarkan kombinasi).

PENGARUH MENYUSUI
PTU dapat masuk ke dalam air susu ibu. PTU membahayakan bayi yang sedang disusui oleh
Ibu yang mengonsumsi PTU. Oleh sebab itu pemberian PTU pada Ibu menyusui harus
diawasi dengan 5eksama.

PARAMETER MONITORING
Konsentrasi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dalam serum, waktu protrombin, tes
fungsi liver, tes darah lengkap.

BENTUK SEDIAAN
Tablet 50 mg dan 100 mg

PERINGATAN
Sifat hepatotoksisitasnya diperkirakan lebih kuat dibandingkan dengan obat-obat antitiroid
tiourea lainnya (misalnya karbimazol dan metimazol), sehingga sering menimbulkan
gangguan fungsi hati asimptomatik. Harus diberikan dengan hati-hati dan dengan dosis yang
lebih rendah pada penderita gangguan fungsi ginjal. . Bila ada tanda hipersensitivitas,
pengawasan harus dilakukan dengan ketat untuk mendeteksi agranulositosis, antara lain
pasien harus melaporkan bila ada nyeri tenggorokan. Bila ada neutropenia, obat harus
dihentikan.

MEKANISME AKSI
Hormon-hormon tiroid, yaitu tiroksin (T4 ) dan triiodotironin (T3), disintesis dengan jalan
mereaksikan molekul Iodium dengan senyawa protein prekursor hormon tiroid yang disebut
tiroglobulin. Reaksi ini berlangsung dengan katalisator enzim tiroperoksidase. Propiltiourasil
(PTU) bekerja menghambat kerja enzim tiroperoksidase sehingga sintesis T4 dan T3
terhambat. PTU juga menghambat kerja enzim 5′-deiodinase (tetraiodotironin 5′ deiodinase)
yang mengkonversi T4 menjadi T3. Karena T3 lebih kuat daya hormon tiroidnya
dibandingkan T4, maka hal ini juga akan mengurangi aktivitas hormon-hormon tiroid secara
keseluruhan.

MICARDIS

Komposisi:
TELMISARTAN

Indikasi:
Hipertensi essensial.

Peringatan:
Peningkatan risiko hipotensi pada stenosis arteri renal, gangguan fungsi ginjal – perlu
dimonitor secara periodik kadar kalium dan kreatinin.

Interaksi:
Lihat Lampiran 1 (Antagonis reseptor angiotensin-II).

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas, kehamilan trimester dua dan tiga, menyusui, gangguan obstruktif empedu,
gangguan hati berat.

Efek Samping:
Infeksi saluran kemih (termasuk sistitis), infeksi saluran napas atas, sepsis termasuk yang
sifatnya fatal, anemia, eosinofilia, trombositopenia, reaksi anafilaksis, hipersensitivitas,
hiperkalemia, hipoglikemia (pada pasien diabetes), insomnia, depresi, ansietas, pingsan,
gangguan penglihatan, vertigo, bradikardi, takikardi, hipotensi, hipotensi ortostatik, dispnea,
nyeri abdomen, diare, dispepsia, perut kembung, muntah, mulut kering, rasa tidak nyaman
pada lambung, gangguan fungsi hati, pruritus, hiperhidrosis, ruam, angioedema, eksim,
eritema, urtikaria, drug eruption, toxic skin eruption, nyeri punggung, spasme otot (kram
pada kaki), myalgia, arthtralgia, nyeri pada ekstremitas (nyeri pada tungkai kaki), nyeri pada
tendon (gejala seperti tendinitis), gangguan fungsi ginjal, termasuk gagal ginjal akut, nyeri
dada, astenia, penyakit mirip influenza, peningkatan kadar kreatinin, penurunan hemoglobin,
peningkatan asam urat, peningkatan enzim hepatik, peningkatan fosfokinase kreatin darah.
Dosis:
40 mg sekali sehari, dapat diberikan 20 mg sekali sehari jika sudah memberikan efek, jika
target tekanan darah belum tercapai, dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 80 mg sekali
sehari, kombinasi telmisartan 40 mg/HCT 12,5 mg digunakan pada pasien hipertensi jika
tekanan darah tidak dapat terkontrol dengan te lmisartan 40 mg tunggal, kombinasi
telmisartan 80 mg/HCT 12,5 mg digunakan pada pasien hipertensi jika tekanan darah tidak
dapat terkontrol dengan irbesartan 80 mg atau telmisartan 40 mg/HCT 12,5 mg.

LENAL ACE

Indikasi Lenal Ace


Untuk membantu memenuhi kebutuhan kalsium didalam tubuh.

Komposisi Lenal Ace


Lenal Ace mengandung Calcium acetat USP atau setara dengan kalsium 169mg.

Dosis dan Pemberian Lenal Ace


Lenal Ace diberikan 3 kali dalam sehari 1 tablet atau sesuai dengan anjuran dari dokter. Lenal
Ace diberikan pada saat makan.

OMEPRAZOLE

Komposisi:
Omeprazole 20 mg.

Bentuk Sediaan:
Kapsul.

Farmakologi:
Omeprazole menghambat sistem enzim H+, K+ ATP ase (pompa proton) pada sel parietal
mukosa lambung secara spesifik sehingga produksi asam lambung tahap akhir dihambat.

Indikasi:
Ulkus duodenum dan ulkus lambung
Ulkus atau erosi pada lambung dan duodenum yang disebabkan oleh AINS
Eradikasi Helicobacter pylori pada penyakit ulkus peptik
Esofagitis refluks
Sindrom Zollinger – Ellison

Dosis:
Ulkus duodenum dan ulkus lambung: 20-40 mg, sekali sehari.
Untuk pencegahan kekambuhan 10 mg/hari.
Ulkus berhubungan dengan AINS : 20 mg sekali sehari.
Regimen eradikasi Helicobacter pylori pada penyakit ulkus peptikum : 40 mg per hari
dengan amoxycillin 1,5 gram dalam dosis terbagi selama 2 minggu.
Esofagitis refluks: 20 mg per hari.
Sindrom Zollinger – Ellison: Dosis inisial 60 mg per hari. Jika dosis per hari mencapai 80
mg, dosis sebaiknya dibagi dan diberikan dua kali sehari.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap omeprazole.

Peringatan dan Perhatian:


Pada penggunaan jangka panjang perlu diwaspadai efek hipoklorindrik dan hipergastrinemia.
Sebaiknya tidak diberikan selama masa kehamilan dan menyusui kecuali apabila
penggunaannya dianggap penting.
Ketika dicurigai ulkus lambung, kemungkinan keganasan sebaiknya tidak dihilangkan selama
pengobatan mungkin akan menghilangkan gejala dan memperlambat diagnosis.

Efek Samping:
Pada dosis besar dan penggunaan yang lama, kemungkinan dapat menstimulasi pertumbuhan
sel ECL (enterochromaffin-like cells). Pada penggunaan jangka panjang perlu diperhatikan
adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di saluran pencernaan.

ASAM FOLAT

Farmakodinamik
Folat pada dasarnya didapatkan dari tubuh kita. Folat dari eksogen dibutuhkan untuk menjaga
eritropoiesis normal dan untuk sintesis nucleoprotein. Asam folat menstimulasi produksi sel
darah putih, sel darah merah, dan platelet pada anemia megaloblastik. Selain itu, perannya
dalam sintesis nukleotida pada replikasi DNA membuat asam folat berperan penting dalam
pembentukan neural tube saat embriogenesis. Oleh karena itu dapat mencegah defek
pembentukan tabung saraf pada bayi baru lahir, seperti spina bifida dan anensefali.

Farmakokinetik
Farmakokinetik asam folat berupa absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.

Absorpsi
Asam folat terkandung dalam makanan, sebagai reduktor polyglutamate folate. Vitamin ini
dapat diabsorpsi hanya setelah hidrolosis, reduksi, dan methylation terjadi pada traktus
gastrointestinal. Lalu dikonversikan menjadi tetrahidrofolat aktif. Bentuk sintetik oral asam
folat adalah monoglutamat dan diabsorpsi lengkap setelah pemberian, meskipun pada
sindrom malabsorpsi.[13] Asam folat diabsorpsi secara cepat dari traktus gastrointestinal,
utamanya dari pars proksimal dari usus kecil. Rentang kadar serum normal 0,005 sampai
0,015 mcg/ml. Biasanya kadar serum kurang dari 0,005 mcg/ml merupakan indikasi
defisiensi folat, dimana kurang dari 0,002 mcg/ml termasuk anemia megaloblastik.

Distribusi
Asam tetrahidrofolat dan derivatifnya didistribusikan ke dalam semua jaringan tubuh.
Penyimpanan folat di dalam tubuh, sebanyak setengah dari total folat di simpan di hati. Asam
folat juga didistribusikan ke dalam ASI.

Metabolisme
Metabolisme folat di hati menjadi asam N-methyltetrahydrofolat, bentuk utama penyimpanan
folat dan transportasi.

Ekskresi
Asam folat diekskresikan dalam sebagian jumlah melalui urin. Setelah pemberian dosis besar,
kelebihan folat diekskresikan dalam urin. Sedikit asam folat yang diekskresikan dalam feses.
Sekitar 0,05 mg/hari penyimpanan folat dalam tubuh hilang melalui ekskresi urin dan feses.

SUKRALFAT

Komposisi:
-Tiap kaplet mengandung Sucralfate 500 mg
-Tiap 5 mL mengandung Sucralfate 500 mg

Bentuk Sediaan:
Kaplet dan sirup (100 mL, 200 mL).

Farmakologi:
Sucralfate adalah suatu kompleks yang dibentuk dari sukrosa oktasulfat dan polialuminium
hidroksida. Aktifitas Sucralfate sebagai anti ulkus merupakan hasil dari pembentukan
kompleks Sucralfate dengan protein yang membentuk lapisan pelindung menutupi ulkus serta
melindungi dari serangan asam lambung, pepsin dan garam empedu.
Percobaan laboratorium dan klinis menunjukkan bahwa Sucralfate menyembuhkan tukak
dengan tiga cara :
1. Membentuk kompleks kimiawi yang terikat pada pusat ulkus sehingga merupakan
lapisan pelindung.
2. Menghambat aksi asam, pepsin dan garam empedu.
3. Menghambat difusi asam lambung menembus lapisan film Sucralfate-albumin.
Sucralfate dapat berada dalam jangka waktu lama dalam saluran cerna sehingga
menghasilkan efek obat yang panjang. Sucralfate sangat sedikit terabsorpsi di saluran
pencernaan sehingga menghasilkan efek samping sistemik yang minimal.

Indikasi:
Pengobatan jangka pendek (sampai 8 minggu) pada ulkus gaster, ulkus duodeni, dan gastritis
kronik.

Dosis:
- Orang dewasa : 1000 mg (1 kaplet/2 tablet) 4 kali sehari sewaktu lambung kosong (1 jam
sebelum makan dan tidur). Antasida boleh diberikan seperlunya untuk meredakan nyeri,
tetapi jangan diberikan dalam 1/2 jam sebelum atau setelah Sucralfate.
- Pengobatan harus dilanjutkan 4 sampai 8 minggu kecuali bila pemeriksaan endoskopi atau
sinar X telah memperlihatkan kesembuhan.

Kontraindikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat ini.

Peringatan dan Perhatian:


- Hati-hati diberikan pada pasien gagal ginjal kronis dan pasien dialisis.
- Penggunaan obat ini selama kehamilan hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan.
- Hati-hati diberikan pada wanita yang sedang menyusui.
- Keamanan dan efektivitas pada anak-anak belum dapat ditetapkan.

Efek Samping:
- Efek samping sangat jarang, yang relatif sering dilaporkan hanya konstipasi dan mulut
terasa kering.
- Keluhan lainnya: diare, mual, muntah, tidak nyaman di perut, flatulent, pruritus, rash,
mengantuk, pening, nyeri punggung dan sakit kepala.
- Efek samping terkait prosedur: nyeri abdomen, peritonitis, infeksi sekitar kateter, dsb.
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, hipovplemia dan hipervolemia, hipotensi dan
hipertensi, kram otot, dan sindrom disequilibrium.

ALLOPURINOL
Golongan/Kelas Terapi
Antipirai
Indikasi
Pirai primer &sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi "Recurrent Renal
Calculi". Lain-lain : Menurunkan hiperuricemia sekunder akibat ke-kurangan glucose-6-
phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan syndrome", "Polycythemia vera", "Sarcoidosis",
pemakaian thiazid & ethambutol.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


Oral : Dosis tunggal, sebaiknya setelah makan & harus minum air yg banyak paling tidak 2L
dalam sehari (kecuali Pasien CHF/penyakit lain yang tidak boleh minum banyak). Jika dosis
melebihi 300mg, sebaiknya dalam dosis terbagi Gout : dosis awal 100mg/hr dapat
ditingkatkan 100mg setiap minggu sampai kadar asam urat 6mg/dL atau sampai dosis
mencapai 800mg/hr. Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi : Dewasa : 600-
800mg/hr untuk 2-3 hr. Mulai 1-2 hr sebelum mulai khemoterapi. Dosis pada Pasien dengan
kerusakan ginjal, dosis harus dikurangi tergantung dari creatinine clearance (Kc). Kc : 0 -
Dosis pemberian (Dp) : 100mg setiap 3 hari, Kc : 10 - Dp : 100mg setiap 2 hari, Kc : 20 - Dp
: 100mg setiap hari, Kc : 40 - Dp : 150mg setiap hari, Kc : 60 - Dp : 200mg setiap hari, Kc :
80 - Dp : 250mg setiap hari, Batu ginjal Kalsium Oksalat : 200-300mg/hari .

Farmakologi
Penghambat kerja enzim xantin oksidase yang mengkatalisasi perubahan hipoxantin menjadi
xantin & perubahan xantin menjadi asam urat yang pada akhirnya menurunkan konsentrasi
asam urat dalam serum & urin.

Stabilitas Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu 15-30 derajat Celsius Injeksi : setelah
direkonstitusi & dilarutkan dalam Normal salin atau dextrose 5%, harus disimpan pada suhu
20-25°C & larutan harus digunakan paling lambat 10 jam setelah direkonstitusi, tidak boleh
disimpan dalam freezer.

Kontraindikasi
Alergi terhadap allopurinol.

Efek Samping
Efek terhadap kulit & efek lokal : Gatal, kemerahan, eksim, bentol, demam, selulit, bengkak,
berkeringat. Alergi : demam, menggigil, leukopenia, eosinopili, kemerahan, gatal, mual &
muntah, Stevens-Johnson syndrome, oligouria, CHF, tuli permanen. Efek terhadap hati :
Meningkatkan SGOT & SGPT, nekrosis, kerusakan hati, hepatitis, hiperbilirubinemia, sakit
kuning. Efek terhadap Saluran cerna : Mual, muntah, diare, sakit abdomen, sembelit,
kembung, gastritis, dispepsi, pendarahan lambung & pankreas, bengkak kantung saliva, lidah
bengkak. Efek terhadap Sistem syaraf : nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi,
perubahan mental, koma, paralisi, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur.
Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan ginjal, penurunan fungsi ginjal,
meningkatkan kreatini, hematouria, oligouria, UTI, asidosis, asidosis metabolit,
hiperfosfatemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperkalemia,
hiperkalsemia, abnormalitis elektrolit. abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis,
infeksi lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan.

Interaksi
- Dengan Obat Lain : Obat antineoplastik : Dosis 300-600mg dapat meningkatkan toksisitas
azathioprin dan mercaptopurin. Dosis obat antineoplastik harus diturunkan 25-33%. Obat
yang meningkatkan konsentrasi asam urat seperti diuretik, pirazinamid, diazoxide, alkohol &
mecamylamine, dosis allopurinol harus dinaikkan. Antikoagulan : Allopurinol menghambat
metabolisme decumarol. Ampisilin &amoxisilin : Potensiasi efek alergi aminopenisilin.
Diuretik & zat urikosurik : Zat urikosurik meningkatkan efek allopurinol (aditif). Diuretik
seperti tiazid : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan
toksisitas allopurinol.Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor
hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan
konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis).

Bentuk Sediaan
Tablet, Kapsul, Kaplet, Tablet Salut Film 100mg, 300mg.

Informasi Pasien
Minum allopurinol dengan air yang cukup (kecuali Pasien CHF/peny. lain yang tidak boleh
minum banyak). Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi.

Mekanisme Aksi
Menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urine.