Anda di halaman 1dari 31

dr. Yovi R.

Maan

1308012041

RSUD W Z Johannes Kupang

Rabu, 21 November 2018

R/ Metformin tab 500 mg No XC

S 3 dd 1 pc

R/ Glimepiride tab 2 mg No XXX

S 1-0-0 pc

Pro : Tn. Musdin Pah

Umur : 56 tahun

DX :

1. Metformin
Komposisi:
Metformin 500 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Mekanisme utama metformin dalam mengontrol kadar gula darah adalah dengan
cara menghambat produksi glukosa (glukoneogenesis) di hati.

Indikasi:
DM tipe 2 ( NIDDM ) yang kadar gula darahnya tidak terkontrol dengan diit dan
aktivitas fisik.

Dosis:
Dosis awal : 2x500 mg/hari
Titrasi : dapat ditingktan 500 mg/minggu setiap 2 minggu.
Dosis maksimum : 2000 mg dalam dosis terbagi. Diberikan bersama makanan.
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap metformin, koma diabetik dan ketoasidosis, gangguan
fungsi ginjal.
Penyakit hati kronis, gagal jantung dan infark miokardium, alkoholisme, riwayat
atau keadaan yang berkaitan dengan asidosis laktat seperti syok atau insufisiensi
pulmonal dan keadaan yang berhubungan dengan hipoksemia.
Kehamilan dan menyusui.

Peringatan dan Perhatian:


Hati-hati pada gangguan fungsi ginjal.
Tidak dianjurkan penggunaan pada kondisi dimana menyebabkan dehidrasi atau
pada penderita yang baru sembuh dari infeksi serius atau trauma.
Dianjurkan pemeriksaan berkala kadar B12 pada penggunaan jangka panjang.
Hati-hati pemberian pada pasien usia lanjut yang mempunyai gangguan fungsi
ginjal.
Tidak direkomendasikan penggunaan pada anak-anak.

Efek Samping:
Anoreksia, mual, muntah, diare.

Glimepiride
Komposisi:
Glimepiride 1,2,3 dan 4 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Glimepiride bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas
dan meningkatkan sensitivitas insulin di perifer.

Indikasi:
DM tipe 2 ( NIDDM ) yang kadar gula darahnya tidak terkontrol dengan diit dan
aktivitas fisik.

Dosis:
Dosis awal biasanya adalah 1 mg sekali sehari. Bila perlu, dosis harian dapat
ditingkatkan dengan interval 1-2 minggu.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap glimepiride, ketoasidosis diabetes dengan atau tanpa koma,
wanita hamil atau wanita menyusui.

Peringatan dan Perhatian:


Penggunaan pada anak-anak : keamanan dan efektivitasnya belumdiketahui.
Kewaspadaan dan reaksi dapat terganggu karena hipo atau hiperglikemia,
terutama saat memulai atau setelah perubahan pengobatan atau saat glimepiride
tidak diminum secara teratur.

Efek Samping:
Gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, diare.

dr. Yovi R. Maan

1308012031

RSUD W Z Johannes Kupang

Rabu, 21 November 2018

R/ Amlodipin tab 10 mg No XXX

S 0-0-1 an

R/ Asam Folat tab No XXX

S 1-0-0 pc

R/ Lebal Ace tab No LX

S 2 dd 1 pc

R/ Omeprazole tab 20 mg No XC

S 3 dd 1 pc

Pro : Ny. Muslima Tanghana

Umur : 29 tahun

DX :
Amlodipine
FARMAKOLOGI

Bekerja dengan menghambat masuknya ion kalsium ke dalam otot pembuluh


darah dan jantung, sehingga vasodilatasi dan menurunkan tekanan darah.

INDIKASI/KEGUNAAN

Hipertensi, angina pektoris stabil, angina Prinzmetal/vasospastik/ angina variant

CARA PEMBERIAN/PENGGUNAAN

Hipertensi dan angina: Dosis awal 5 mg, sekali sehari, maks 10 mg, sekali sehari.
Titrasi tiap 1-2 minggu.
Pemberian dapat diberikan sebelum dan sesudah makan.AMLODIPINE dapat
diberikan pagi atau malam hari.AMLODIPINE bisa diberikan bersamaan dengan
obat antihipertensi lain dan suplemen bila diperlukan.AMLODIPINE secara
relatif aman untuk diberikan secara jangka panjang, dan pada pasien hipertensi
memang diberikan seumur hidup.

PASIEN KHUSUS/PERHATIAN
Amlodipine memang sudah ada penelitan pemberiannya pada anak-anak, namun
perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai terapi.Dapat diberikan
dengan dosis biasa pada pasien usia lanjut, dengan rekomendasi dosis2,5 mg, dan
bila diperlukkan dapat diberikan dosis lebih besar.Walau amlodipine tidan lazim
diberikan pada ibu hamil, amlodipine dapat diberikan pada ibu hamil, dengan
konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.Pada pasien dengan gangguan fungsi hati
AMLODIPINE dapat diberikan dengan dosis awal 2,5 mg.Pada pasien dengan
gangguan fungsi ginjal dapat diberikan AMLODIPINE.

INTERAKSI OBAT
Interaksi AMLODIPINE dengan obat lain mini

EFEK SAMPING
Secara umum dapat ditoleransi dengan baik, ringan – sedang, seperti edema, sakit
kepala, fatique, pusing.

Asam Folat
Farmakodinamik

Folat pada dasarnya didapatkan dari tubuh kita. Folat dari eksogen dibutuhkan
untuk menjaga eritropoiesis normal dan untuk sintesis nucleoprotein. Asam folat
menstimulasi produksi sel darah putih, sel darah merah, dan platelet pada anemia
megaloblastik. Selain itu, perannya dalam sintesis nukleotida pada replikasi DNA
membuat asam folat berperan penting dalam pembentukan neural tube saat
embriogenesis. Oleh karena itu dapat mencegah defek pembentukan tabung saraf
pada bayi baru lahir, seperti spina bifida dan anensefali.
Farmakokinetik

Farmakokinetik asam folat berupa absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.


Absorpsi
Asam folat terkandung dalam makanan, sebagai reduktor polyglutamate folate.
Vitamin ini dapat diabsorpsi hanya setelah hidrolosis, reduksi, dan methylation
terjadi pada traktus gastrointestinal. Lalu dikonversikan menjadi tetrahidrofolat
aktif. Bentuk sintetik oral asam folat adalah monoglutamat dan diabsorpsi lengkap
setelah pemberian, meskipun pada sindrom malabsorpsi.[13] Asam folat
diabsorpsi secara cepat dari traktus gastrointestinal, utamanya dari pars proksimal
dari usus kecil. Rentang kadar serum normal 0,005 sampai 0,015 mcg/ml.
Biasanya kadar serum kurang dari 0,005 mcg/ml merupakan indikasi defisiensi
folat, dimana kurang dari 0,002 mcg/ml termasuk anemia megaloblastik.
Distribusi
Asam tetrahidrofolat dan derivatifnya didistribusikan ke dalam semua jaringan
tubuh. Penyimpanan folat di dalam tubuh, sebanyak setengah dari total folat di
simpan di hati. Asam folat juga didistribusikan ke dalam ASI.
Metabolisme
Metabolisme folat di hati menjadi asam N-methyltetrahydrofolat, bentuk utama
penyimpanan folat dan transportasi.
Ekskresi
Asam folat diekskresikan dalam sebagian jumlah melalui urin. Setelah pemberian
dosis besar, kelebihan folat diekskresikan dalam urin. Sedikit asam folat yang
diekskresikan dalam feses. Sekitar 0,05 mg/hari penyimpanan folat dalam tubuh
hilang melalui ekskresi urin dan feses.

Lenal Ace

Indikasi Lenal Ace

Untuk membantu memenuhi kebutuhan kalsium didalam tubuh.

Komposisi Lenal Ace

Lenal Ace mengandung Calcium acetat USP atau setara dengan kalsium 169mg.

Dosis dan Pemberian Lenal Ace


Lenal Ace diberikan 3 kali dalam sehari 1 tablet atau sesuai dengan anjuran dari
dokter. Lenal Ace diberikan pada saat makan.

Omeprazole
Komposisi:
Omeprazole 20 mg.

Bentuk Sediaan:
Kapsul.

Farmakologi:
Omeprazole menghambat sistem enzim H+, K+ ATP ase (pompa proton) pada sel
parietal mukosa lambung secara spesifik sehingga produksi asam lambung tahap
akhir dihambat.

Indikasi:
Ulkus duodenum dan ulkus lambung
Ulkus atau erosi pada lambung dan duodenum yang disebabkan oleh AINS
Eradikasi Helicobacter pylori pada penyakit ulkus peptik
Esofagitis refluks
Sindrom Zollinger – Ellison

Dosis:
Ulkus duodenum dan ulkus lambung: 20-40 mg, sekali sehari.
Untuk pencegahan kekambuhan 10 mg/hari.
Ulkus berhubungan dengan AINS : 20 mg sekali sehari.
Regimen eradikasi Helicobacter pylori pada penyakit ulkus peptikum : 40 mg per
hari dengan amoxycillin 1,5 gram dalam dosis terbagi selama 2
minggu.
Esofagitis refluks: 20 mg per hari.
Sindrom Zollinger – Ellison: Dosis inisial 60 mg per hari. Jika dosis per hari
mencapai 80 mg, dosis sebaiknya dibagi dan diberikan dua kali sehari.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap omeprazole.

Peringatan dan Perhatian:


Pada penggunaan jangka panjang perlu diwaspadai efek hipoklorindrik dan
hipergastrinemia.
Sebaiknya tidak diberikan selama masa kehamilan dan menyusui kecuali apabila
penggunaannya dianggap penting.
Ketika dicurigai ulkus lambung, kemungkinan keganasan sebaiknya tidak
dihilangkan selama pengobatan mungkin akan menghilangkan gejala dan
memperlambat diagnosis.
Efek Samping:
Pada dosis besar dan penggunaan yang lama, kemungkinan dapat menstimulasi
pertumbuhan sel ECL (enterochromaffin-like cells). Pada penggunaan jangka
panjang perlu diperhatikan adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di
saluran pencernaan.

dr. Yovi R. Maan

1308012031

RSUD W Z Johannes Kupang

Rabu, 21 November 2018

R/ Amlodipin tab 10 mg No XXX

S 0-0-1 an

R/ Asam Folat tab No XXX

S 1-0-0 pc

R/ Lebal Ace tab No LX

S 2 dd 1 pc

R/ Omeprazole tab 20 mg No XC

S 3 dd 1 pc

Pro : Ny. Muslima Tanghana

Umur : 29 tahun

DX :

Domperidon
Komposisi:
Domperidone 10 mg dan 5 mg/5mL.

Bentuk Sediaan:
Tablet dan sirup.

Farmakologi:
Efek anti emetik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastrokinetik)
dengan antagonis terhadap reseptor dopamine di kemoreseptor “ trigger zone”
yang terletak di luar sawar darah otak di area postrema.

Indikasi:
Untuk mual dan muntah akut, mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian
levodopa dan bromokriptin lebih dari 12 minggu, pengobatan gejala dispepsia
fungsional.
Anak-anak :untuk mual dan muntah pada kemoterapi kanker dan radioterapi.

Dosis:
Dispepsia fungsional :
Dewasa : 10 - 20 mg 3 kali sehari dan 10 – 20 mg sekali sebelum tidur malam
tergantung respons klinik. Pengobatan jangan melebihi 12 minggu
Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin) :
Dewasa (termasuk usia lanjut) : 10 – 20 mg sehari, interval waktu 4 - 8 jam.
Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radioterapi) : 0,2 - 0,4 mg/kg
berat badan sehari, dengan interval waktu 4 - 8 jam.
Obat diminum 15 - 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam.

Kontraindikasi:
Penderita hipersensitif terhadap domperidone.
Anak-anak (kecuali untuk mencegah mual dan muntah sehubungan kemoterapi
kanker dan radioterapi).
Penderita dengan prolaktinoma tumor hipofise yang mengeluarkan prolaktin.

Peringatan dan Perhatian:


Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.
Tidak dianjurkan penggunaan jangka panjang.
Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal.

Efek Samping:
Jarang dilaporkan : sedasi, reaksi ekstrapiramidal, distonik parkinson, tardive
dyskinesia (pada pasien dewasa dan usia lanjut) dan dapat diatasi dengan obat
antiparkinson.
Peningkatan prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktore dan ginekomastia.
Mulut kering, sakit kepala, diare, rash kulit, rasa haus, cemas, gatal.

Sukralfat
Komposisi:
-Tiap kaplet mengandung Sucralfate 500 mg
- Tiap 5 mL mengandung Sucralfate 500 mg
Bentuk Sediaan:
Kaplet dan sirup (100 mL, 200 mL).

Farmakologi:
Sucralfate adalah suatu kompleks yang dibentuk dari sukrosa oktasulfat dan
polialuminium hidroksida. Aktifitas Sucralfate sebagai anti ulkus merupakan hasil
dari pembentukan kompleks Sucralfate dengan protein yang membentuk lapisan
pelindung menutupi ulkus serta melindungi dari serangan asam lambung, pepsin
dan garam empedu.
Percobaan laboratorium dan klinis menunjukkan bahwa Sucralfate
menyembuhkan tukak dengan tiga cara :
1. Membentuk kompleks kimiawi yang terikat pada pusat ulkus sehingga
merupakan
lapisan pelindung.
2. Menghambat aksi asam, pepsin dan garam empedu.
3. Menghambat difusi asam lambung menembus lapisan film Sucralfate-albumin.
Sucralfate dapat berada dalam jangka waktu lama dalam saluran cerna sehingga
menghasilkan efek obat yang panjang. Sucralfate sangat sedikit terabsorpsi di
saluran pencernaan sehingga menghasilkan efek samping sistemik yang minimal.

Indikasi:
Pengobatan jangka pendek (sampai 8 minggu) pada ulkus gaster, ulkus duodeni,
dan gastritis kronik.

Dosis:
- Orang dewasa : 1000 mg (1 kaplet/2 tablet) 4 kali sehari sewaktu lambung
kosong (1 jam sebelum makan dan tidur). Antasida boleh diberikan seperlunya
untuk meredakan nyeri, tetapi jangan diberikan dalam 1/2 jam sebelum atau
setelah Sucralfate.
- Pengobatan harus dilanjutkan 4 sampai 8 minggu kecuali bila pemeriksaan
endoskopi atau sinar X telah memperlihatkan kesembuhan.

Kontraindikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat ini.

Peringatan dan Perhatian:


- Hati-hati diberikan pada pasien gagal ginjal kronis dan pasien dialisis.
- Penggunaan obat ini selama kehamilan hanya dilakukan jika benar-benar
diperlukan.
- Hati-hati diberikan pada wanita yang sedang menyusui.
- Keamanan dan efektivitas pada anak-anak belum dapat ditetapkan.

Efek Samping:
- Efek samping sangat jarang, yang relatif sering dilaporkan hanya konstipasi dan
mulut terasa kering. - - Keluhan lainnya : diare, mual, muntah, tidak nyaman di
perut, flatulent, pruritus, rash, mengantuk, pening, nyeri punggung dan sakit
kepala.
- Efek samping terkait prosedur: nyeri abdomen, peritonitis, infeksi sekitar
kateter, dsb.
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, hipovplemia dan hipervolemia,
hipotensi dan hipertensi, kram otot, dan sindrom disequilibrium.

Lancid
Komposisi:
Lansoprazole

Bentuk Sediaan:
Kapsul 30 mg

Farmakologi:
Merupakan penghambat pompa proton yang bekerja menekan sekresi asam
lambung secara spesifik dengan menghambat H+K+ATP- ase dari sel-sel parietal
mukosa lambung. Cepat diabsorbsi, kadar obat serum dicapai 1,5 jam setelah
diminum. Bioavailabilitas tinggi (80-90%), sehingga sekresi asam lambung dapat
segera dihambat. Dimetabolisme dalam hati dan diekskresikan terutama dalam
feses, hanya 15-30% dari dosis diekskresikan dalam air seni. Waktu paruh dicapai
sekitar 1,4 jam tetapi masa kerjanya lebih panjang. Sekitar 97% terikat protein
plasma. Bersihan ginjal menurun pada pasien usia lanjut dan penderita gangguan
hati.

Indikasi:
Ulkus duodenum, ulkus gaster jinak, refluks esofagitis.

Dosis:
- Ulkus duodenum/refluks esofagitis: 1 kapsul sehari selama 4 minggu.
- Ulkus gaster jinak: 1 kapsul sehari selama 8 minggu
- Pasien lanjut usia, pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal: tidak
diperlukan penyesuaian dosis. Jangan melebihi 30 mg/hari.
Lancid sebaiknya diminum pagi hari sebelum makan.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap Lanzoprazole

Peringatan dan Perhatian:


- Hati-hati pada penggunaan jangka panjang
- Wanita hamil dan menyusui: belum didapatkan data yang cukup tentang
penggunaannya pada wanita hamil. Sebaiknya lansoprazole tidak digunakan
selama hamil kecuali jika benar-benar diperlukan.
- Pada ibu yang sedang menyusui harus dipertimbangkan, apakah pemakaian obat
yang dihentikan atau berhenti menyusui, tergantung pada pentingnya obat bagi si
ibu.
- Keamanan dan efektifitas pada anak-anak belum dibuktikan.

Efek Samping: - Sakit kepala (lebih dari 1% kasus), diare.


- Efek samping lain (kurang dari 1 %): Reaksi mirip anafilaksis, asthenia,
kandidiasis, nyeri dada (tidak spesifik), edema, demam, sindrom flu, halitosis,
infeksi (tidak spesifik), malaise
- Sistem Kardiovaskuler: angina, gangguan serebrovascular, , infark miokard,
palpitasi, syok (kegagalan sirkulasi)
- Sistem Pencernaan: melena, gangguan pencernaan, hematemesis, pendarahan
rektum, kolitis ulserativa
- Sistem Endokrin diabetes mellitus, goiter
- Sistem Hematologik and Limfatik : pansitopenia, trombotik trombositopenia
purpura
- Gangguan Metabolik: gout; Sistem Muskuloskeletal: artritis, mialgia
- Sistem Saraf : dizziness, halusinasi, hemiplegia, penurunan libido, gangguan
berpikir
- Sistem Pernapasan : asma, pneumonia; Kulit : jerawat, alopesia, rash
- Panca Indera : gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan
pengecapan
- Sistem Urogenital : haid abnormal, hematuria, impotensi. Sebagian besar kasus
hematologi tidak diketahui secara jelas hubungannya dengan lansoprazole.
Lisinopril

LISINOPRIL
lisinopril
Lisinopril adalah obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi (tekanan darah
tinggi), gagal jantung kongestif, infark miokard akut, dan nefropati diabetik. Obat
ini adalah obat anti hipertensi yang termasuk kelas inhibitor angiotensin-
converting enzyme (ACE).

Lisinopril bekerja dengan cara mencegah konversi angiotensin I menjadi


angiotensin II, suatu zat vasokonstriktor endogen. Penghambatan ini
menyebabkan kadar angiotensin II menurun. Penurunan angiotensin II
mengakibatkan peningkatan aktivitas renin plasma dan mengurangi sekresi
aldosteron (hormon yang menyebabkan retensi air dan Natrium). Hal ini
menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

GOLONGAN
Harus dengan resep dokter

KEMASAN
Obat ini biasa dipasarkan berupa lisinopril 5 mg dan 10 mg.
INDIKASI
Berikut ini adalah beberapa kegunaan lisinopril :

 Untuk mengobati hipertensi dan kelainan-kelainan pada organ jantung seperti


: gagal jantung kongestif dan infark miokardial akut.
 Obat ini juga digunakan untuk meningkatkan kelangsungan hidup setelah
mengalami serangan jantung.
 Bisa untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyakit diabetes
melitus misalnya pada ginjal (nefropati diabetik).
KONTRA INDIKASI
 Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif terhadap lisinopril atau obat-obat yang termasuk ACE inhibitor
lain.
 Jangan menggunakan lisinopril jika Anda sedang hamil karena obat ini bisa
membahayakan bayi yang belum lahir. Segera hentikan penggunaan obat ini
jika Anda sedang hamil.
 Pengobatan dengan lisinopril tidak boleh dilakukan terhadap orang-orang
yang memiliki riwayat angioedema (herediter atau idiopatik).
 Jika anda penderita diabetes melitus dan sedang menggunakan obat-obatan
yang mengandung aliskiren, jangan menggunakan lisinopril.
EFEK SAMPING LISINOPRIL
Efek samping lisinopril yang pernah dilaporkan adalah sebagai berikut :

 Efek samping yang paling umum adalah batuk, yang terjadi karena
peningkatan kadar bradikinin.
 Efek samping lainnya adalah hipotensi dan gagal ginjal akut. Hentikan
pemakaian obat ini bila tekanan darah sistolik turun menjadi < 90 mm Hg,
atau kalium meningkat > 6 mmol/l, atau kreatinin meningkat 50% atau > 3
mg/dl.
 Obat ini juga bisa menyebabkan hiperkalemia yang terjadi terjadi karena
penurunan kadar aldosteron, hormon steroid yang berfungsi menahan
natrium dan mengekskresi kalium.
 Efek samping yang jarang tetapi sangat berbahaya akibat pemakaian
lisinopril adalah angioneurotik edema, yang biasanya timbul pada bulan
pertama pemakaian.
 Obat-obat ACE inhibitors diketahui bersifat teratogenik sehingga tidak boleh
diberikan pada wanita hamil.
 Efek samping lainnya adalah : Sakit kepala, kelelahan, nyeri perut dan dada,
pusing, mual, muntah, diare, infeksi saluran pernafasan atas, asthenia, dan
ruam.
Home

lisinopril

Lisinopril
LISINOPRIL
lisinopril
Lisinopril adalah obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi (tekanan darah
tinggi), gagal jantung kongestif, infark miokard akut, dan nefropati diabetik. Obat
ini adalah obat anti hipertensi yang termasuk kelas inhibitor angiotensin-
converting enzyme (ACE).
Lisinopril bekerja dengan cara mencegah konversi angiotensin I menjadi
angiotensin II, suatu zat vasokonstriktor endogen. Penghambatan ini
menyebabkan kadar angiotensin II menurun. Penurunan angiotensin II
mengakibatkan peningkatan aktivitas renin plasma dan mengurangi sekresi
aldosteron (hormon yang menyebabkan retensi air dan Natrium). Hal ini
menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

GOLONGAN
Harus dengan resep dokter

KEMASAN
Obat ini biasa dipasarkan berupa lisinopril 5 mg dan 10 mg.

INDIKASI
Berikut ini adalah beberapa kegunaan lisinopril :

 Untuk mengobati hipertensi dan kelainan-kelainan pada organ jantung seperti


: gagal jantung kongestif dan infark miokardial akut.
 Obat ini juga digunakan untuk meningkatkan kelangsungan hidup setelah
mengalami serangan jantung.
 Bisa untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyakit diabetes
melitus misalnya pada ginjal (nefropati diabetik).
KONTRA INDIKASI
 Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif terhadap lisinopril atau obat-obat yang termasuk ACE inhibitor
lain.
 Jangan menggunakan lisinopril jika Anda sedang hamil karena obat ini bisa
membahayakan bayi yang belum lahir. Segera hentikan penggunaan obat ini
jika Anda sedang hamil.
 Pengobatan dengan lisinopril tidak boleh dilakukan terhadap orang-orang
yang memiliki riwayat angioedema (herediter atau idiopatik).
 Jika anda penderita diabetes melitus dan sedang menggunakan obat-obatan
yang mengandung aliskiren, jangan menggunakan lisinopril.
EFEK SAMPING LISINOPRIL
Efek samping lisinopril yang pernah dilaporkan adalah sebagai berikut :
 Efek samping yang paling umum adalah batuk, yang terjadi karena
peningkatan kadar bradikinin.
 Efek samping lainnya adalah hipotensi dan gagal ginjal akut. Hentikan
pemakaian obat ini bila tekanan darah sistolik turun menjadi < 90 mm Hg,
atau kalium meningkat > 6 mmol/l, atau kreatinin meningkat 50% atau > 3
mg/dl.
 Obat ini juga bisa menyebabkan hiperkalemia yang terjadi terjadi karena
penurunan kadar aldosteron, hormon steroid yang berfungsi menahan
natrium dan mengekskresi kalium.
 Efek samping yang jarang tetapi sangat berbahaya akibat pemakaian
lisinopril adalah angioneurotik edema, yang biasanya timbul pada bulan
pertama pemakaian.
 Obat-obat ACE inhibitors diketahui bersifat teratogenik sehingga tidak boleh
diberikan pada wanita hamil.
 Efek samping lainnya adalah : Sakit kepala, kelelahan, nyeri perut dan dada,
pusing, mual, muntah, diare, infeksi saluran pernafasan atas, asthenia, dan
ruam.
Hal-hal yang harus diperhatikan pasien saat menggunakan obat ini adalah sebagai
berikut :

 Segera hentikan pemakaian obat jika anda positif hamil, karena obat-obat
yang termasuk ACE inhibitor dapat menyebabkan cedera dan kematian pada
janin.
 Karena kurangnya data pengamatan, produsen obat-obat yang mengandung
lisinopril merekomendasikan ibu menyusui untuk tidak menggunakan obat
ini guna menghindari efek buruk terhadap bayi.
 Keamanan dan efektivitas obat ini pada pasien anak belum ditetapkan.
Penggunaan pada anak-anak bisa dilakukan jika pengendalian tekanan darah
dengan cara lain tidak efektif.
 Lisinopril hanya digunakan dalam pengawasan dokter, terutama pada
permulaan terapi untuk antisipasi terjadinya penurunan tekanan darah yang
drastis. Penurunan tekanan darah secara drastis bisa menyebabkan pusing,
sakit kepala dan penurunan kewaspadaan. Jangan mengemudi dan
mengoperasikan mesin yang membutuhakn kewaspadaan tinggi.
 Jika mengalami tanda-tanda atau gejala angioedema seperti : pembengkakan
wajah, mata, bibir, lidah, laring dan ekstremitas, kesulitan dalam menelan
atau bernapas, suara serak segera hubungi dokter anda.
 Segera hubungi dokter jika mengalami infeksi (misalnya, sakit tenggorokan,
demam) yang bisa saja merupakan tanda terjadinya neutropenia atau edema
progresif yang berhubungan dengan proteinuria dan sindrom nefrotik.
 Sebaiknya jangan menggunakan obat diuretik hemat kalium atau suplemen
yang mengandung kalium atau pengganti garam kalium selama menggunakan
lisinopril, karena ada potensi hiperkalemia.
 Berkonsultasi dengan dokter jika anda berkeringat secara berlebihan,
dehidrasi, muntah, atau diare karena dapat menyebabkan penurunan tekanan
darah yang drastis akibat berkurangnya cairan tubuh.
 Jangan menghentikan pemakaian obat tanpa diketahui dokter.
INTERAKSI OBAT
Di bawah ini adalah interaksi lisinopril dengan obat-obat lain jika digunakan
secara bersamaan :

 Pada awal-awal penggunaan lisinopril bersamaan dengan obat-obat diuretik


bisa mengakibatkan pengurangan berlebihan tekanan darah. Sebaiknya
kurangi dosis awal tablet lisinopril.
 Peningkatan risiko hiperkalemia jika digunakan bersamaan dengan diuretik
hemat kalium (spironolactone, amiloride, triamterene, dan lain-lain) dan
suplemen Kalium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obatan antidiabetes (insulin, agen
hipoglikemik oral) dapat menyebabkan peningkatan efek penurunan kadar
glukosa.
 Penggunaan bersamaan dengan NSAID, termasuk selektif COX-2 inhibitor,
dapat mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal, termasuk mungkin gagal ginjal
akut. Efek antihipertensi ACE inhibitor, termasuk lisinopril, dapat
dilemahkan oleh NSAID.
 Dapat meningkatkan kadar serum dan toksisitas lithium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang mempengaruhi renin-
angiotensin system (RAS) seperti angiotensin receptor blocker, ACE
inhibitor (termasuk captopril), atau aliskiren bisa meningkatkan terjadinya
resiko hipotensi, hiperkalemia, dan kerusakan fungsi ginjal.
 Licorice dapat memperburuk hipertensi.
DOSIS LISINOPRIL
lisinopril diberikan dengan dosis sebgai berikut :

 Dosis dewasa untuk hipertensi

Dosis awal : 1 x sehari 5-10 mg.

Dosis pemeliharaan : 1 x sehari 20-40 mg.

Dosis maksimum : 1 x sehari 80 mg.

 Dosis dewasa untuk diabetic nephropathy


Dosis awal : 1 x sehari 10-20 mg.

Dosis bisa ditingkatkan sampai 1 x sehari 20 mg untuk mencapai tekanan darah


diastolik <90 mmHg.

 Dosis dewasa untuk gagal jantung kongestif


Dosis awal : 1 x sehari 2.5-5 mg.
Dosis pemeliharaan : Dosis ditingkatkan secara bertahap

Dosis maksimum : 1 x sehari 40 mg.

 Dosis dewasa untuk pasca infark miokard


Dosis awal : 5 mg secara oral (dalam waktu 24 jam dari timbulnya infark miokard
akut)

Dosis berikutnya : 5 mg per oral setelah 24 jam, dilanjutkan dengan 10 mg per


oral setelah 48 jam.

Dosis pemeliharaan : 1 x sehari 10 mg. Pengobatan dilanjutkan selama minimal 6


minggu.

Home

lisinopril

Lisinopril

LISINOPRIL
lisinopril
PENGGUNAAN OLEH WANITA HAMIL
FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan
lisinopril kedalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut :

Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti empiris yang


didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing maupun studi terhadap
manusia. namun jika benefit yang diperoleh dipandang lebih tinggi dari resiko
yang mungkin terjadi, obat ini bisa diberikan.
Obat ini telah terbukti menimbulkan efek yang sangat buruk pada wanita hamil,
bahkan bisa menyebabkan cedera dan kematian pada janin. Oleh karena itu,
sebaiknya dipilih terapi penurun tekanan darah yang lain. Penggunaan obat ini
hanya jika obat lain tidak efektif dan manfaat yang diperoleh jauh lebih tinggi
daripada resiko yang mungkin terjadi.

INTERAKSI OBAT
Di bawah ini adalah interaksi lisinopril dengan obat-obat lain jika digunakan
secara bersamaan :

 Pada awal-awal penggunaan lisinopril bersamaan dengan obat-obat diuretik


bisa mengakibatkan pengurangan berlebihan tekanan darah. Sebaiknya
kurangi dosis awal tablet lisinopril.
 Peningkatan risiko hiperkalemia jika digunakan bersamaan dengan diuretik
hemat kalium (spironolactone, amiloride, triamterene, dan lain-lain) dan
suplemen Kalium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obatan antidiabetes (insulin, agen
hipoglikemik oral) dapat menyebabkan peningkatan efek penurunan kadar
glukosa.
 Penggunaan bersamaan dengan NSAID, termasuk selektif COX-2 inhibitor,
dapat mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal, termasuk mungkin gagal ginjal
akut. Efek antihipertensi ACE inhibitor, termasuk lisinopril, dapat
dilemahkan oleh NSAID.
 Dapat meningkatkan kadar serum dan toksisitas lithium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang mempengaruhi renin-
angiotensin system (RAS) seperti angiotensin receptor blocker, ACE
inhibitor (termasuk captopril), atau aliskiren bisa meningkatkan terjadinya
resiko hipotensi, hiperkalemia, dan kerusakan fungsi ginjal.
 Licorice dapat memperburuk hipertensi.
DOSIS LISINOPRIL
lisinopril diberikan dengan dosis sebgai berikut :

 Dosis dewasa untuk hipertensi


Dosis awal : 1 x sehari 5-10 mg.

Dosis pemeliharaan : 1 x sehari 20-40 mg.

Dosis maksimum : 1 x sehari 80 mg.

 Dosis dewasa untuk diabetic nephropathy


Dosis awal : 1 x sehari 10-20 mg.

Dosis bisa ditingkatkan sampai 1 x sehari 20 mg untuk mencapai tekanan darah


diastolik <90 mmHg.

 Dosis dewasa untuk gagal jantung kongestif


Dosis awal : 1 x sehari 2.5-5 mg.

Dosis pemeliharaan : Dosis ditingkatkan secara bertahap

Dosis maksimum : 1 x sehari 40 mg.

 Dosis dewasa untuk pasca infark miokard


Dosis awal : 5 mg secara oral (dalam waktu 24 jam dari timbulnya infark miokard
akut)
Dosis berikutnya : 5 mg per oral setelah 24 jam, dilanjutkan dengan 10 mg per
oral setelah 48 jam.

Dosis pemeliharaan : 1 x sehari 10 mg. Pengobatan dilanjutkan selama minimal 6


minggu.

Penyesuaian dosis untuk penderita gangguan ginjal


Dosis dewasa untuk hipertensi :

 Creatinin Clearance (CrCl) < 10 atau sedang menjalani dialisis : dosis awal, 1
x sehari 2.5 mg.
 Creatinin Clearance (CrCl) 10-30 : dosis awal, 1 x sehari 2.5 – 5 mg.
 Creatinin Clearance (CrCl) 31-80 : dosis awal, 1 x sehari 5-10 mg.
Dosis bisa ditingkatkan berdasarkan respon masing-masing pasien.

Mecobalamin
Komposisi:
Mecobalamin

Bentuk Sediaan:
Kapsul 500 µg dan ampul 500 µg

Farmakologi:
Meningkatkan metabolisme asam nukleat, protein dan lemak. Bekerja sebagai
koenzim dalam sintesa methionin, terlibat dalam sintesis thymidine pada
deoxyuridine, mempercepat sintesis DNA dan RNA,mempercepat sintesis lechitin
(suatu komponen utama dari selubung myelin) mempercepat sintesis komponen
utama struktur akson (protein) sehingga mempertahankan fungsi sel saraf,
memperbaiki jaringan saraf dengan menghambat onset dari degenerasi saraf,
menghambat eksitasi abnormal pada transmisi saraf, memperbaiki anemia dengan
mempercepat maturasi dan diferensiasi eritroblast. Juga dapat mempercepat
sintesis asam nukleat dalam susmsum tulang dan mempercepat maturasi dan
diferensiasinya, sehingga meningkatkan produksi sel darah merah. Terikat oleh
protein plasma spesifik yaitu transcobalamin. Konsentrasi tinggi terdapat di dalam
ginjal, kelenjar adrenal, usus, pankreas, dan hipofisis. Konsentrasi rendah terdapat
dalam mata, sumsum tulang belakang, otak dan otot. Ekskresi melalui urin dalam
8 jam pertama setelah pemberian. Dapat melalui plasenta dan dapat dikeluarkan
melalui ASI.

Indikasi:
Neuropati perifer dan neuropati diabetik.

Dosis:
Tablet : 500-1500 mcg perhari
Injeksi:
- Neuritis perifer : 1 ampul sebanding dengan 500 µg IM atau IV tiga kali
seminggu.
- Dosis harus disesuaikan dengan usia pasien dan beratnya gejala

Kontraindikasi:
-

Peringatan dan Perhatian:


- Hentikan pengobatan dengan mecobalamin jika tidak ada respon perbaikan
setelah beberapa bulan.
- Pada pemberian IM:
1. Hindari pengulangan injeksi pada tempat yang sama.
2. Hindari penyuntikan pada bagian saraf.

Efek Samping:
Gejala yang berhubungan dengan saluran cerna : mual, muntah, dan diare, reaksi
kulit (skin rash), reaksi hipersensitivitas.
Efek samping tersebut di atas jarang sekali terjadi.

Captopril
Komposisi:
Captopril tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Bentuk Sediaan:
Tablet.

Farmakologi:
Menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II, dengan
menghambat enzim yang terlibat dalam proses pembentukan angiotensin II, yaitu
ACE (angiotensin converting enzym). Hambatan dari pembentukan angiotensin II
ini menyebabkan penurunan tekanan darah.

Indikasi:
Pengobatan hipertensi ringan sampai sedang.
Pengobatan gagal jantung kongesti, digunakan bersama dengan diuretik dan bila
mungkin dengan digitalis.

Dosis:
Hipertensi ringan sampai sedang: Dosis awal 12,5 mg, 2 kali sehari. Dosis
pemeliharaan 25 mg, 2 kali sehari, yang dapat ditingkatkan selang 2 – 4 minggu,
hingga diperoleh respons yang memuaskan.Dosis maksimum 50 mg, 2 kali sehari.

Kontraindikasi:
Pasien yang hipersensitif terhadap captopril atau penghambat ACE yang lain.

Peringatan dan Perhatian:


Neutropenia/agranulositosis, trombositopenia dan anemia dapat terjadi pada
pengguna captopril, termasuk pada penderita fungsi ginjal normal, walaupun
jarang.
Hati-hati pada penderita dengan penyakit kolagen vaskuler yang mendapat terapi
imunosupresan, pengobatan dengan allopurinol atau prokainamid, karena dapat
menyebabkan terjadinya infeksi serius. Apabila pada pemakaian obat ini ternyata
wanita itu hamil, maka pemberian obat harus dihentikan dengan segera.

Efek Samping:
Batuk kering.

NAMA GENERIK
Propiltiourasil
Hormon tiroid dan anti tiroid
KELAS TERAPI
Hormon, obat endokrin lain dan kontraseptik
Dosis PEMBERIAN OBAT
Untuk pengobatan hipertiroidisme : dosis awal lazim dewasa : 300-450 mg sehari
: untuk pasien hipertiroidisme parah mungkin memerlukan dosis awal 600-1200
mg sehari : Secara umum jika suatu saat kontrol gejala telah terpenuhi, terapi
dilanjutkan sesuai dosis awal selama 2 bulan. Dosis pemeliharaan propiltiourasil
sangat bervariasi tapi secara umum berkisar dari satu pertiga sampai dua pertiga
dosis awal. Untuk pengobatan krisis tirotoksik, dosis lazim propiltiourasil adalah
200 mg setiap 4-6 jam pada hari pertama, jika suatu saat gejala telah terpenuhi,
dosis terapi diturunkan secara bertahap sampai tingkat dosis pemeliharaan. Untuk
pengobatan hipertiroidisme pada anak, dosis lazim awal adalah 50-150 mg sehari
untuk anak 6-10 tahun dan 150-300 mg atau 150 mg/m2 setiap hari untuk anak 10
tahun atau lebih. Dosis pemeliharaan ditandai dengan respon pasien. Untuk
pengobatan hipertiroidisme pada bayi, dosis yang direkomendasikan adalah 5-
10mg/kg setiap hari
FARMAKOLOGI
Walaupun bergantung pada kondisi fisiologis dan patologis pasien, namun
keadaan eutiroid pada terapi dengan propiltiourasil (PTU) umumnya baru dapat
terkapsulai setelah terapi selama 2–4 bulan. PTU diabsorpsi dengan cepat
dari saluran pencernaan. Pada pemberian per oral, konsentrasipuncak
dalam serum terkapsulai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian. PTU
terkonsentrasi dalam kelenjar tiroid, dan karena efek kerjanya lebih ditentukan
oleh kadarnya dalam kelenjar tiroid dibandingkan dengan kadarnya dalam plasma,
maka hal ini menyebabkan perpanjangan atau prolongasi aktivitas antitiroidnya.
Oleh sebab itu interval dosis dapat 8 jam atau lebih, bahkan dapat diberikan dalam
dosis tunggal harian. Fraksiterikat protein dari PTU cukup besar, yaitu sekitar 70-
80%, dan sebagian besar terionisasi pada pH fisiologis normal. Akibatnya,
transport lintas plasenta dan distribusi ke dalam air susu tidak sebesar obat
antiroid lain, misalnya metimazol. Waktu paruh plasma sekitar 1-2 jam. Waktu
paruh eliminasi kemungkinan akan bertambah apabila terdapat gangguan
fungsi hati atau ginjal. Kurang dari 10% PTU yang diekskresikan dalam bentuk
senyawa`asal (tak berubah), sebagian besar (lebih dari 50%)
mengalami metabolisme hepatik yang ekstensif melalui reaksi glukuronidasi.
STABILITAS PENYIMPANAN
Stabil disimpan dalam suhu kamar, antara 15-30�C. Hindarkan dari lembab dan
cahaya matahari langsung.

Kontra Indikasi
Blocking replacement regiment tidak boleh diberikan pada masa kehamilan dan
menyusui
Efek Samping
Efek Samping yang paling sering terjadi adalah ruam kulit, urtikaria, pigmentasi
kulit, dan kerontokan rambut. Efek Samping lain yang agak umum antara
lain nyeri sendi, demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, mual, muntah, dan
kurang nafsu makan. Efek Samping yang jarang terjadi tetapi berakibat serius
pada terapi dengan PTU adalah agranulositosis atau leukopenia (turunnya
jumlah sel darah putih di dalam darah), yang ditandai antara lain
dengan lesi infeksi pada tenggorokan, saluran cerna, dan kulit disertai rasa lemah
dan demam. Di samping itu juga dapat
terjadi trombositopenia (penurunan trombosit) yang berakibat pada
kecenderungan perdarahan.
INTERAKSI MAKANAN
Kadar PTU serum dapat berkurang apabila diberikan bersama dengan makanan.

INTERAKSI OBAT
PTU dapat menurunkan efek antikoagulan (blood thinner) senyawa-senyawa
turunan kumarin, misalnya warfarin (Coumadin). Oleh sebab itu, dosis warfarin
harus disesuaikan apabila diberikan bersama dengan PTU, dan monitoring efek
warfarin terhadap penggumpalan darah perlu dilakukan (risiko interaksi Kategori
D: pertimbangkan modifikasi terapi). PTU dapat mengurangi
efek Natrium Iodida. Untuk mengatasinya, hentikan pemberian antitiroid (PTU)
3-4 hari sebelum pemberian natrium iodida (risiko interaksi Kategori X:
hindarkan kombinasi)
PENGARUH ANAK
Tidak ada data

PENGARUH HASIL LAB


Tidak ada data
PENGARUH KEHAMILAN
Faktor risiko D
PENGARUH MENYUSUI
PTU dapat masuk ke dalam air susu ibu. PTU membahayakan bayi yang sedang
disusui oleh Ibu yang mengonsumsi PTU. Oleh sebab itu pemberian PTU pada
Ibu menyusui harus diawasi dengan 5eksama.
PARAMETER MONITORING
Konsentrasi TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dalam serum, waktu
protrombin, tes fungsi liver, tes darah lengkap
BENTUK SEDIAAN
Tablet 50 mg dan 100 mg
PERINGATAN
Sifat hepatotoksisitasnya diperkirakan lebih kuat dibandingkan dengan obat-obat
antitiroid tiourea lainnya (misalnya karbimazol dan metimazol), sehingga sering
menimbulkan gangguan fungsi hati asimptomatik. Harus diberikan dengan hati-
hati dan dengan dosis yang lebih rendah pada penderita gangguan fungsi ginjal. .
Bila ada tanda hipersensitivitas, pengawasan harus dilakukan dengan ketat untuk
mendeteksi agranulositosis, antara lain pasien harus melaporkan bila ada nyeri
tenggorokan. Bila ada neutropenia, obat harus dihentikan.
KASUS TEMUAN
Tidak ada data
INFORMASI PASIEN
Tidak ada data

MEKANISME AKSI
Hormon-hormon tiroid, yaitu tiroksin (T4 ) dan triiodotironin (T3), disintesis
dengan jalan mereaksikan molekul Iodium dengan senyawa protein prekursor
hormon tiroid yang disebut tiroglobulin. Reaksi ini berlangsung
dengan katalisator enzim tiroperoksidase. Propiltiourasil (PTU) bekerja
menghambat kerja enzim tiroperoksidase sehingga sintesis T4 dan T3 terhambat.
PTU juga menghambat kerja enzim 5′-deiodinase (tetraiodotironin 5′ deiodinase)
yang mengkonversi T4 menjadi T3. Karena T3 lebih kuat daya hormon tiroidnya
dibandingkan T4, maka hal ini juga akan mengurangi aktivitas hormon-hormon
tiroid secara keseluruhan

ACARBOSE (AKARBOSE)

Agen antidiabetes; sebuah α-glucosidase inhibitor


MEREK DAGANG ACARBOSE :

Precose®

Glucobay

NAMA GENERIK:

Acarbose

NAMA KIMIA ACARBOSE :

O-4,6-dideoxy-4-[[[1S-(1α,4α,5β,6α)]-4,5,6-trihydroxy-3-(hydroxymethyl)-2-
cyclohexen-1-yl]amino]-α-D -glucopyranosyl- (14) -O-α-d-glucopyranosyl- (14) -
d-glukosa
FORMULA MOLEKUL ACARBOSE :

C25H43NO18

PENGGUNAAN
Diabetes mellitus
Digunakan sebagai monoterapi sebagai tambahan untuk terapi diet dan olahraga
untuk pengelolaan diabetes mellitus tipe 2 (tergantung noninsulin) (NIDDM) pada
pasien yang hiperglikemia tidak dapat dikontrol dengan diet dan olahraga.

Juga digunakan sebagai tambahan untuk diet dan olahraga dalam kombinasi
dengan metformin, sulfonilurea, atau insulin untuk manajemen diabetes mellitus
tipe 2 pada pasien yang hiperglikemia tidak dapat dikontrol dengan acarbose,
metformin, insulin, atau monoterapi sulfonilurea, diet, dan olahraga.

Metformin umumnya direkomendasikan dengan agen antidiabetes lain untuk


terapi antidiabetes oral awal karena tidak adanya kenaikan berat badan atau
hipoglikemia, biaya relatif lebih rendah dan keberhasilan yang lebih besar, dan
efek samping umumnya rendah.

ADA dan dokter lainnya lebih penambahan insulin, sulfonilurea, atau


thiazolidinedione lebih inhibitor α-glucosidase (misalnya, acarbose), pramlintide,
exenatide, atau meglitinide (misalnya, repaglinida, nateglinida) sebagai terapi lini
kedua pada pasien yang tidak cukup terkontrol pada metformin monoterapi karena
khasiat yang relatif lebih rendah, data klinis terbatas, efek samping yang sering
GI,

Acarbose tidak boleh digunakan sebagai terapi antidiabetes tunggal pada pasien
yang diabetes rumit oleh ketoasidosis dengan atau tanpa koma (misalnya, tipe 1
[insulin-dependent, IDDM] diabetes mellitus); sebaliknya, pasien tersebut harus
menerima insulin.

DOSIS DAN ADMINISTRASI ACARBOSE


Umum

• individualize pengobatan dan menyesuaikan konsentrasi glukosa darah target


dan glikosilasi hemoglobin A1c (HbA1c) berdasarkan pemahaman pasien dan
kepatuhan terhadap rejimen pengobatan, risiko hipoglikemia berat, dan faktor-
faktor lain yang dapat meningkatkan risiko atau menurunkan manfaat (misalnya,
sangat muda atau usia tua, kondisi komorbiditas, penyakit lain yang secara
material memperpendek harapan hidup)

• Tujuan terapi adalah untuk mengurangi nilai-nilai glukosa baik darah


postprandial (atau plasma) dan hemoglobin normal atau mendekati normal
menggunakan dosis terendah yang efektif dari acarbose sebagai monoterapi atau
dikombinasikan dengan agen antidiabetes sulfonilurea, metformin, atau insulin.
(Plasma glukosa umumnya 10-15% lebih tinggi daripada di seluruh darah dan
dapat bervariasi sesuai dengan metode dan laboratorium yang digunakan.)
Selama inisiasi terapi dan titrasi dosis, tes konsentrasi glukosa postprandial 1 jam
untuk menentukan respon terapi dan dosis efektif minimum, nilai-nilai Memantau
HbA1c pada kira-kira setiap 3 bulan untuk mengevaluasi jangka panjang control
glikemik, konsentrasi glukosa Memantau 1-2 jam setelah dimulainya makan pada
mereka yang mengalami peningkatan HbA1c meskipun memadai konsentrasi
glukosa preprandial.

ADMINISTRASI ACARBOSE
Administrasi Oral
Minum Acarbose secara oral di awal (gigitan pertama) dari masing-masing
makanan utama, Jika dosis yang tidak terjawab, mengambil dosis berikutnya di
makanan berikutnya. Jangan mengambil dosis ganda untuk menebus dosis tidak
terjawab

DOSIS
Dewasa
Diabetes mellitus
Oral:

Awalnya, 25 mg 3 kali sehari pada awal setiap makan besar. Pada pasien dengan
efek samping GI (Gastrointestinal) memulai pada 25 mg sekali sehari dan
meningkatkan dosis secara bertahap yang diperlukan untuk 25 mg 3 kali sehari.

Setelah dosis 25 mg 3 kali sehari telah tercapai, meningkatkan dosis dengan


interval 4-8 minggu sebagai ditoleransi untuk mencapai konsentrasi glukosa
postprandial 1 jam yang diinginkan (yaitu, <180 mg / dL) Pemeliharaan dosis
berkisar 50-100 mg 3 kali sehari.

Dosis yang lebih tinggi dari 100 mg 3 kali sehari tidak dianjurkan karena dosis
tersebut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko konsentrasi serum
aminotransferase. Jika tidak ada manfaat terapeutik lanjut terjadi pada dosis
maksimum yang dianjurkan, mempertimbangkan untuk menurunkan dosis.

BATASAN RESEP / DOSIS MAKSIMUM ACARBOSE


DEWASA
Diabetes mellitus
Oral:

Pasien ≤60 kg: maksimum 50 mg 3 kali sehari.

Pasien> 60 kg: maksimum 100 mg 3 kali sehari.

Geriatric

Keamanan dan kemanjuran pada mereka ≥65 tahun mirip dengan yang di adults.1
muda (Lihat khusus Populasi di bawah Farmakokinetik:. Penyerapan)

Hati Penurunan
Kontraindikasi pada pasien dengan cirrhosis. Tidak belajar dalam kondisi lain
yang terkait dengan kerusakan hati,

Penurunan Ginjal
Tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien diabetes dengan gangguan
ginjal yang cukup (Scr> 2 mg / dL)

KONTRAINDIKASI ACARBOSE
• Dikenal hipersensitivitas terhadap obat acarbose

• ketoacidosis1 Diabetes

• Cirrhosis.

• Penyakit radang usus, ulserasi kolon, ada obstruksi usus parsial atau
kecenderungan untuk kondisi ini

• penyakit usus kronis yang berhubungan dengan gangguan ditandai pencernaan


atau absorpsi.

• kondisi yang mungkin memburuk sebagai akibat dari peningkatan gas usus CO

EFEK SAMPING YANG UMUM


Perut kembung, diare, sakit perut / nyeri.

INTERAKSI
Enzim pencernaan Suplemen

Kemungkinan pengurangan efek glikemik dari acarbose. Hindari penggunaan


bersamaan
Adsorbents usus
Kemungkinan pengurangan efek glikemik dari acarbose. Hindari penggunaan
bersamaan

FARMAKOKINETIK ACARBOSE
PENYERAPAN (ABSOBSI)

Bioavailabilitas
Bioavailabilitas senyawa induk sistemik rendah; <2% dari dosis yang diserap
sebagai obat aktif (senyawa induk dan metabolit aktif) konsentrasi plasma puncak
dari obat aktif mencapai sekitar 1 jam. Sekitar 34% dari dosis diserap sebagai
banyak metabolit.

Onset
Kontrol memuaskan konsentrasi glukosa darah dicapai dalam beberapa hari
setelah penyesuaian dosis; akan tetapi respon maksimum mungkin tertunda
hingga 2 minggu.

Populasi khusus
Pada pasien geriatri, berarti AUC dan konsentrasi darah puncak obat
dibandingkan dengan orang dewasa muda lebih tinggi; perbedaan statistik tidak
signifikant.

Pada individu dengan gangguan ginjal berat (ClCr <25 mL / menit), konsentrasi
obat plasma puncak dan AUC meningkat dibandingkan dengan nilai-nilai pada
individu dengan fungsi ginjal normal.

DISTRIBUSI
Didistribusikan ke dalam susu pada tikus.

METABOLISME
Dimetabolisme secara eksklusif di saluran pencernaan, terutama oleh bakteri usus,
tetapi juga oleh enzim pencernaan ke berbagai metabolit, salah satunya adalah
aktif

ELIMINASI

Rute Eliminasi
Diekskresikan terutama di feses (51% dari dosis) sebagai obat tidak diserap dan
dalam urin sebagai metabolit (34% dari dosis) ada akumulasi dengan dosis yang
direkomendasikan

Waktu Paruh

Sekitar 2 jam.
STABILITAS ACARBOSE
PENYIMPANAN
Oral
Tablet

25 C.° Lindungi dari kelembapan.

Simvastatin
Komposisi:
Simvastatin 10 mg.
Bentuk Sediaan:
Tablet salut selaput.
Farmakologi:
Penghambat spesifik dari HMG-CoA reduktase, enzim yang mengkatalisa
konversi dari HMG-CoA menjadi mevalonat. Konversi dari HMG-CoA menjadi
mevalonat adalah tahap paling awal dari jalur biosintesa kolesterol.
Indikasi:
Tambahan terhadap diet, untuk menurunkan kadar kolesterol total dan LDL yang
meningkat pada pasien dengan hiperkolesterolemia primer (tipe IIa dan IIb) bila
respon terhadap diet terbatas kolesterol dan lemak jenuh serta tindakan non
farmakologi lainnya tidak adekuat.
Dosis:
Dosis awal yang dianjurkan adalah 5 - 10 mg sekali sehari pada malam hari.
Dosis anjuran berkisar dari 5 - 40 mg/hari, sekali sehari dan dosis maksimum
perhari adalah 40 mg. Dosis harus diindividualisasi sesuai dengan data dasar
kadar kolesterol LDL, sasaran terapi dan respons pasien.
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas terhadap setiap komponen dari obat ini.
Penyakit hati yang aktif atau peningkatan serum transaminase yang persisten dan
tidak dapat dijelaskan.
Kehamilan dan menyusui.
Peringatan dan Perhatian:
- Jika diperlukan terapi jangka panjang, dianjurkan untuk melakukan tes
laboratorium secara periodik selama 3 bulan.
- Sebelum memulai terapi, dianjurkan untuk tes fungsi hati dan selanjutnya
dilakukan pemeriksaan secara periodik. Bila transaminase meningkat dan
peningkatannya bersifat progresif, terutama kenaikan tiga kali dari batas normal
dan persisten, obat harus dihentikan.
- Pengobatan harus dihentikan jika terjadi kenaikan kadar CPK (Creatine
Phosphokinase) atau miopati.
- Efektivitas dan keamanan pada anak-anak belum diketahui
- Simvastatin kurang efektif pada Hiperkolesterolemia familial homozigot
- Tidak diindikasikan bila perhatian utama dari abnormalitas adalah
hipertrigliseridemia (mis : Hipertrigliseridemia tipe I, IV dan V).
- Harus digunakan dengan hati-hati pada penderita yang mengkonsumsi alkohol
dalam jumlah besar dan/atau berpenyakit hati.
Efek Samping:
Efek samping dengan presentasi 1% atau lebih yang pernah dijumpai antara lain:
nyeri abdomen, konstipasi dan kembung. Dengan frekuensi 0,5 – 0,9 % : astenia,
sakit kepala.

Micardis
TELMISARTAN

Indikasi:

Hipertensi essensial.

Peringatan:

peningkatan risiko hipotensi pada stenosis arteri renal, gangguan fungsi ginjal –
perlu dimonitor secara periodik kadar kalium dan kreatinin.

Interaksi:

lihat Lampiran 1 (Antagonis reseptor angiotensin-II).

Kontraindikasi:

hipersensitivitas, kehamilan trimester dua dan tiga, menyusui, gangguan obstruktif


empedu, gangguan hati berat.

Efek Samping:

infeksi saluran kemih (termasuk sistitis), infeksi saluran napas atas, sepsis
termasuk yang sifatnya fatal, anemia, eosinofilia, trombositopenia, reaksi
anafilaksis, hipersensitivitas, hiperkalemia, hipoglikemia (pada pasien diabetes),
insomnia, depresi, ansietas, pingsan, gangguan penglihatan, vertigo, bradikardi,
takikardi, hipotensi, hipotensi ortostatik, dispnea, nyeri abdomen, diare, dispepsia,
perut kembung, muntah, mulut kering, rasa tidak nyaman pada lambung,
gangguan fungsi hati, pruritus, hiperhidrosis, ruam, angioedema, eksim, eritema,
urtikaria, drug eruption, toxic skin eruption, nyeri punggung, spasme otot (kram
pada kaki), myalgia, arthtralgia, nyeri pada ekstremitas (nyeri pada tungkai kaki),
nyeri pada tendon (gejala seperti tendinitis), gangguan fungsi ginjal, termasuk
gagal ginjal akut, nyeri dada, astenia, penyakit mirip influenza, peningkatan kadar
kreatinin, penurunan hemoglobin, peningkatan asam urat, peningkatan enzim
hepatik, peningkatan fosfokinase kreatin darah.
Dosis:

40 mg sekali sehari, dapat diberikan 20 mg sekali sehari jika sudah memberikan


efek, jika target tekanan darah belum tercapai, dosis dapat ditingkatkan hingga
maksimum 80 mg sekali sehari, kombinasi telmisartan 40 mg/HCT 12,5 mg
digunakan pada pasien hipertensi jika tekanan darah tidak dapat terkontrol dengan
te lmisartan 40 mg tunggal, kombinasi telmisartan 80 mg/HCT 12,5 mg
digunakan pada pasien hipertensi jika tekanan darah tidak dapat terkontrol dengan
irbesartan 80 mg atau telmisartan 40 mg /HCT 12,5 mg.

Alluperinol
Golongan/Kelas Terapi
Antipirai
Indikasi
Pirai primer &sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi
"Recurrent Renal Calculi". Lain-lain : Menurunkan hiperuricemia sekunder akibat
ke-kurangan glucose-6-phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan syndrome",
"Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian thiazid & ethambutol.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Oral : Dosis tunggal, sebaiknya setelah makan & harus minum air yg banyak
paling tidak 2L dalam sehari (kecuali Pasien CHF/penyakit lain yang tidak boleh
minum banyak). Jika dosis melebihi 300mg, sebaiknya dalam dosis terbagi Gout :
dosis awal 100mg/hr dapat ditingkatkan 100mg setiap minggu sampai kadar asam
urat 6mg/dL atau sampai dosis mencapai 800mg/hr. Hyperuricemia karena
penggunaan chemoterapi : Dewasa : 600-800mg/hr untuk 2-3 hr. Mulai 1-2 hr
sebelum mulai khemoterapi. Dosis pada Pasien dengan kerusakan ginjal, dosis
harus dikurangi tergantung dari creatinine clearance (Kc). Kc : 0 - Dosis
pemberian (Dp) : 100mg setiap 3 hari, Kc : 10 - Dp : 100mg setiap 2 hari, Kc : 20
- Dp : 100mg setiap hari, Kc : 40 - Dp : 150mg setiap hari, Kc : 60 - Dp : 200mg
setiap hari, Kc : 80 - Dp : 250mg setiap hari, Batu ginjal Kalsium Oksalat : 200-
300mg/hari .
Farmakologi
Penghambat kerja enzim xantin oksidase yang mengkatalisasi perubahan
hipoxantin menjadi xantin & perubahan xantin menjadi asam urat yang pada
akhirnya menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urin.
Stabilitas Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu 15-30 derajat Celsius Injeksi :
setelah direkonstitusi & dilarutkan dalam Normal salin atau dextrose 5%, harus
disimpan pada suhu 20-25°C & larutan harus digunakan paling lambat 10 jam
setelah direkonstitusi, tidak boleh disimpan dalam freezer.
Kontraindikasi
Alergi terhadap allopurinol.
Efek Samping
Efek terhadap kulit & efek lokal : Gatal, kemerahan, eksim, bentol, demam,
selulit, bengkak, berkeringat. Alergi : demam, menggigil, leukopenia, eosinopili,
kemerahan, gatal, mual & muntah, Stevens-Johnson syndrome, oligouria, CHF,
tuli permanen. Efek terhadap hati : Meningkatkan SGOT & SGPT, nekrosis,
kerusakan hati, hepatitis, hiperbilirubinemia, sakit kuning. Efek terhadap Saluran
cerna : Mual, muntah, diare, sakit abdomen, sembelit, kembung, gastritis,
dispepsi, pendarahan lambung & pankreas, bengkak kantung saliva, lidah
bengkak. Efek terhadap Sistem syaraf : nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala,
epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisi, pusing, limbung, depresi,
bingung,amnesia, sulit tidur. Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan
ginjal, penurunan fungsi ginjal, meningkatkan kreatini, hematouria, oligouria,
UTI, asidosis, asidosis metabolit, hiperfosfatemia, hipomagnesemia,
hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperkalemia, hiperkalsemia,
abnormalitis elektrolit. abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis, infeksi
lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan.
Interaksi
- Dengan Obat Lain : Obat antineoplastik : Dosis 300-600mg dapat
meningkatkan toksisitas azathioprin dan mercaptopurin. Dosis obat antineoplastik
harus diturunkan 25-33%. Obat yang meningkatkan konsentrasi asam urat seperti
diuretik, pirazinamid, diazoxide, alkohol & mecamylamine, dosis allopurinol
harus dinaikkan. Antikoagulan : Allopurinol menghambat metabolisme
decumarol. Ampisilin &amoxisilin : Potensiasi efek alergi aminopenisilin.
Diuretik & zat urikosurik : Zat urikosurik meningkatkan efek allopurinol (aditif).
Diuretik seperti tiazid : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga
dapat meningkatkan toksisitas allopurinol.Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi
hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia
Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian
dosis).
Bentuk Sediaan
Tablet, Kapsul, Kaplet, Tablet Salut Film 100mg, 300mg.
Informasi Pasien
Minum allopurinol dengan air yang cukup (kecuali Pasien CHF/peny. lain yang
tidak boleh minum banyak). Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi.
Mekanisme Aksi
Menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urine.

Komposisi Insulin detemir.


Indikasi/Kegunaan DM.
Klik untuk melihat informasi rinci produk Levemir FlexPen
Dosis/Cara Dosis sub kutan (SK) bersifat individual. Awalnya 10 U atau 0,1-0,2 U /kgB
Penggunaan dikombinasikan dengan antidiabetes oral atau ditambahkan pada liraglutide.
digunakan sendiri sebagai insulin basal atau kombinasi dengan bolus insulin

Pemberian Obat Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan : Utk pasien yg memerlukan d
dosis malam dpt diberikan bersama makan malam atau menjelang tidur.
Overdosis Lihat Overdosis Levemir FlexPen untuk melihat tindakan apa yang perlu dia
kejadian overdosis.
Kontra Indikasi Hipersensitivitas.
Klik untuk melihat informasi rinci produk Levemir FlexPen
Perhatian Khusus Dosis yg tidak adekuat atau penghentian terapi dpt menyebabkan hiperglikem
ketoasidosis diabetikum. Melewatkan jadwal makan atau menjalani latihan f
& tdk direncanakan dpt menyebabkan hipoglikemia. Penyakit yg timbul bers
dengan diabetes, terutama kondisi infeksi & demam biasanya akan meningka
kebutuhan insulin. Pengalihan dari produk insulin lain. Jangan diberikan sec
utk digunakan dlm pompa infus insulin. Jangan dicampur dg preparat insuli
Kombinasi dg tiazolidinedion hrs dihentikan jika timbul gejala-gejala perbur
jantung. Dpt mengganggu kemampuan pasien utk mengemudi atau menjalan
sebagai akibat dari hipoglikemia,. Hamil & laktasi.
Klik untuk melihat informasi rinci produk Levemir FlexPen
Reaksi Simpang Hipoglikemia, reaksi pd tempat inj. Reaksi anafilaksis.
Lihat Formulir Pemantauan Reaksi Simpang
Interaksi Pd pemberian bersama obat antidiabetik oral, MAOI, penyekat β non selekti
inhibitor, salisilat, steroid anabolik, sulfonamid dpt mengurangi kebutuhan a
pd pemberian bersama dg kontrasepsi oral, tiazid, glukokortikoid, hormon ti
simpatomimetik β, hormon pertumbuhan, danazol dpt meningkatkan kebutuh
Oktreotid/lanreotid dpt meningkatkan maupun menurunkan kebutuhan akan
Gologan penyekat β dpt menutupi gejala-gejala hipoglikemia. Alkohol dpt m
& memperpanjang efek hipoglikemia dr insulin..
Kategori Kehamilan
(US FDA)
Kategori B: Studi terhadap reproduksi pada binatang percobaan tidak memp
adanya risiko terhadap janin tetapi tidak ada studi terkontrol yang dilakukan
wanita hamil, atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperliha
efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak dikonfirmasikan dalam
terkontrol pada wanita pada kehamilan trimester 1 (dan tidak ada bukti risio
trimester selanjutnya).
Hati-hati untuk For caution against possible variation of physical aspect of medicine... Klik u
Penggunaan informasi rinci produk Levemir FlexPen
Penyimpanan Lihat informasi mengenai penyimpanan Levemir FlexPen secara rinci untuk
waktu simpan yang optimal.
Deskripsi Lihat Cara kerja Levemir FlexPen untuk mengetahui secara rinci farmakodin
farmakokinetik obat.
Cara Kerja Lihat cara kerja atau farmakodinamik dan farmakokinetik Levemir FlexPen