Anda di halaman 1dari 75

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar tercapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan
diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan
kemandirian, adil dan merata. Kandungan karakteristik pelayanan kesehatan juga
memberikan jaminan mutu pelayanan dengan biaya yang efisien dan terjangkau oleh
segenap lapisan masyarakat. Pelayanan yang diberikan bukan sekedar kuratif
(pengobatan) yang cenderung menyenbabakan ekonomi biaya tinggi, tetapi lebih
mengedepankan pada upaya promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan), tanpa
mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitative. (Rilantono, 2015)
Pada zaman sekarang ini dimana perkembangan teknologi dan industry telah
banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta sitasi
lingkungan seperti perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktifitas fisik
atau kurangnya olahraga, kebiasaan merokok dan meningkatnya polusi lingkungan,
tanpa disadari perubahan tersebut member pengaruh terhadap terjadinya transisi
epidemiologo dengan semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular
(Setiani,2014)
Angina Pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi
sebagai respons terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium.
Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, punggung, rahang atau ke daerah
abdomen. Angina dibagi menajadi tiga jenis yaitiu, stabil, prinzmetal (varian), dan
tidak stabil. Unstable Angina Pectoris (UAP) atau Angina tidak stabil merupakan
kombinasi dari angina klasik dan angina varian, dan dijumpai pada individu dengan
penyakit arteri koroner yang memburuk. Angina biasanya menyertai peningkatan
beban kerja jantung, bisa terjadi akibat aterosklerosis koroner yang ditandai
perkembangan thrombus yang mudah mengalami spasme. Angina tidak stabil
termasuk kedalam gejala infark miokard pada sindrom koroner akut dan memerlukan
tindakan klinis yang menyeluruh dan termasuk perawatan di rumah sakit
(Aspiani,2015)
2

Infark Miokard Akut (IMA) merupakan bagian dari Sindrom koroner akut
(SKA) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan oksigen
miokard yang menyebbakan kematian sel dan nekrosis miokard. Istilah Sindroma
Koroner Akut (SKA) telah dikembangkan untuk menggambarkan kumpulan kondisi-
kondisi iskemik yang meliputispektrum diagnosis dari Unstable Angina Pectoris
(UAP), ST-Elevation Miocard Infark (STEMI) dan Non ST-Elevasi Miocard Infark
(STEMI), dan merupakan indikatpr kejadian oklusi total pembuluh darah arteri
koroner (PERKI,2018)
Menurut Badan Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) penyakit
tidak menular menyebabkan 64% kematian di dunia, utamanya akibat penyakit
kardiovaskular (penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer).
Dikatakan pula bahwa 80% kematian itu terjadi di Negara berpenghasilan rendah dan
menengah seperti Indonesia. Berdasarkan Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007, penyakit jantung menyebabkan 37,6% kematian di Indonesia (Rilantoro,2015)
Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013
jumlah penderita penyakit jantung koroner di wilayah Sumatra Barat sebesar 41.133
jiwa dari 2.650.340 jiwa penderita jantung koroner di Indonesia. Sindrom koroner
akut adalah sekumpulan keluhan gejala dan tanda klinis yang sesuai dengan iskemia
miokard akut. Sindrom koroner akut merupakan suatu spektrum dalam perjalanan
penderita penyakit jantung koroner (aterosklerosis koroner) dapat berupa: angina
pektoris tidak stabil, infark miokard dengan non-ST elevasi, infark miokard dengan
ST elevasi atau kematian jantung mendadak (Infodatin,2013)
Pada tahun 2013, ± 478.000 klien di Indonesia didiagnosa penyakit jantung
koroner. Saat ini, prevalensi STEMI meningkat dari 25% hingga 40% berdasarkan
presentasi infark miokard (Depkes RI, 2013). Sumatera Barat merupakan provinsi
dengan prevalensi penyakit jantung tertinggi ke-4 di Indonesia yaitu 15,4% setelah
provinsi Sulawesi Tengah (16,9%), Aceh (16,6%) dan Gorontalo (16,0%) (Delima et
al., 2009). Hasil penelitian di RS Khusus Jantung Sumatera Barat pada tahun 2011-
2012, menyatakan bahwa kejadian SKA terbanyak adalah STEMI dengan persentase
sebesar 52% dari keseluruhan SKA (Zahara et al., 2013). Hasil penelitian di RSUP Dr.
M. Djamil Padang pada tahun 2012 juga menunjukkan bahwa STEMI merupakan
kejadian SKA yang terbanyak dari keseluruhan kejadian SKA yang memiliki gula
darah tidak normal, yaitu sebesar 40% (Valerian et al., 2015).
3

Di Provinsi Sumatera Barat prevalensi penyakit jantung koroner 0,6% dari


penduduk dari klien jantung koroner di Indonesia. Jika pernah didiagnosis menderita
PJK (angina pektoris dan/atau infark miokard) oleh dokter atau belum pernah
didiagnosis menderita PJK tetapi pernah mengalami gejala/riwayat : Nyeri di dalam
dada kiri depan atau menjalar ke lengan kiri dan dirasakan ketika mendaki/naik
tangga/berjalan tergesa-gesa.(Riskesdas, 2013).
Penderita jantung koroner memiliki tingkat stres dan kecemasan yang sangat
tinggi yang berkaitan dengan treatment yang harus dijalani dan terjadinya komplikasi
serius, seperti diet atau pengaturan makan, konsumsi obat dan juga olahraga. Secara
umum, faktor utama yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang adalah kesehatan,
ekonomi, lingkungan, keamanan, dukungan sosial, psikologis, dan aktivitas fisik
(Fitari, 2015). Buruknya kualitas hidup pada aspek psikologis berupa rendahnya
kepercayaan diri, harga diri dan emosi yang tidak stabil. Kualitas hidup pada aspek
psikologis yang buruk dapat menyebabkan timbulnya stres dan depresi yang dapat
membawa gejala seperti angina yang dapat memicu adanya serangan jantung atau
relapse pada penderita sindroma koroner akut (Hofer, 2012).
Sebagai pelaksana dalm dunia kesehatan, perawat berperan dalam memberikan
asuhan keperawatan secara professional dan komprehensif yang meliputi:
pengkajian,perumusan diagnose keperawatan, perencanaan keperawatan, melakukan
implementasi keperawatan, dan dokumentasi keperawatan dimana diantara
implementasi yang dapat dilakukan diantaranya memberikan kebutuhan rasa aman
dan nyaman pada klien, mepertahankan pola nafas agar tetap efektif, meningkatkan
asupan nutrisi yang adekuan, dan meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi dan
memberikan support psikologis kepada klien.
Peran perawat sebagai peneliti adalah menerapkan hasil penelitian di bidang
keperawatan untuk meningkat mutu asuhan keperawatan. Peran perawat sebagai
advocate adalah membela hak klien selama perawatan, seperti hak klien untuk
mengetahui rasional penatalaksanaan medis, pemeriksaan penunjang, dan sebagainya
(Wahyuningsih, 2013).
Menurut hasil data dari medical record RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi pada tahun 2016 terdapat 253 klien didiagnoa dengan masalah ST elevasi
mikoard infark (STEMI) sedangkan pada tahun 2017 terdapat 288 klien didiagnosa
dengan masalah ST elevasi mikoard infark (STEMI) dan yang meninggal dengan
kasus tersebut sebanyak 20 orang untuk semua golongan umur sejak periode Januari
4

sampai Desember tahun 2017, dan yang mendapatkan perawatan di ruangan ICCU
dengan masalah Unstable Angina Pectoris (UAP) dan pada tahun 2017 terdapat 103
klien ada tahun 2018 terdapat 62 klien sedangkan untuk masalah ST elevasi mikoard
infark (STEMI) yang pernah di rawat di ruangan ICCU pada tahun 2017 terdapat 61
klien dan pada 2018 terdapat 89 klien dengan ST elevasi mikoard infark (STEMI)
Hasil observasi penulis terhadap apa yang telah dilakukan oleh perawat
ruangan ICCU dan Jantung RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi terkait
penatalaksanaan terhadap klien dengan Unstable Angina Pectoris (UAP) dan ST
elevasi miocard infark (STEMI) adalah memonitor keadaan jantung klien melalui
monitor dan EKG, memberikan terapi oksigen, menghilangkan rasa sakit atau
kecemasan dengan analgesik yang sesuai, melakukan terapi trombolitik sesuai dengan
indikasi, membatasi kegiatan aktivitas fisik klien, memenuhi kebutuhan kenyamanan
dan rasa aman klien serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien untuk
meningkatkan pengetahuan klien berdasarkan penyakitnya.
Berdasarkan latar belakang di atas,penulis tertarik untuk berupaya
mempercepat proses penyembuhan klien dengan melakukan asuhan keperawatan yang
profesional dalam meningkatkan kualitas hidup klien serta menurunkan gejala
symptomatik salah satunya dengan melakukan pengelolaan kasus pada klien Unstable
Angina Pectoris (UAP) dengan ST-elevasi miocard infark dengan judul “Asuhan
Keperawatan Pada Tuan Z (44 th) dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler:
Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevasi Miocard Infark (STEMI) di
Ruangan ICCU RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2018”

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengelola Asuhan Keperawatan Pada Tn. Z dengan
gangguan system kardiovaskular: Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-
Elevation Miocard Infark (STEMI) di Ruangan ICCU RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Pada Tahun 2018
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahu konsep teori asuhan keperawatan tentang
Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation Miocard Infark
(STEMI)
b. Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan tentang Unstable Angina
Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation Miocard Infark (STEMI)
5

c. Mahasiswa mampu melakukan telaah hasil peneliatian terkait dengan asuhan


keperawatan pada Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation
Miocard Infark (STEMI)
d. Mahasiswa mampu mengaplikasikan jurnal pada Unstable Angina Pectoris
(UAP) dengan ST-Elevation Miocard Infark (STEMI)

C. Manfaat
1. Bagi Klien
Klien dapat menerima asuhan keperawatan yang professional dari perawat
yang memberikan asuhan keperawatan serta dapat menambah pengetahuan klien
tentang penyakit Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation Miocard
Infark (STEMI)
2. Bagi Pelayanan kesehatan
Perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang professional sesuai
dengan standar melalui lima tahap proses keperawatan yang dimulai dari
melakukan pengkajian, menegakkan diagnose, membuat perencanaan intervensi,
melakukan implementasi serta melakukan evaluasi kepeda klien Unstable Angina
Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation Miocard Infark (STEMI)
3. Bagi Perguruan Tinggi
Menjadi indikator mutu untuk institusi pendidikan dalam mengealuasi
keberhasilan program pendidikan khususnya pada bahan ajar mata kuliah system
kardiovaskular tentang masalah Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-
Elevation Miocard Infark (STEMI)
4. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat menerapkan teori selama pendidikan dan melakukan
asuhanb keperawatan yang komprehensif dan professional khususnya pada klien
dengan masalah Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevation Miocard
Infark (STEMI)
6

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Sistem Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler merupakan suatu sistem transpor tertutup yang terdiri
atas : jantung (sebagai organ pemompa), komponen darah (sebagai pembawa
materi oksigen dan nutrisi ) dan pembuluh darah (sebagai media yang mengalirkan
komponen darah). Ketiga komponen tersebut harus berfungsi dengan baik agar
seluruh jaringan dan organ tubuh menerima suplai oksigen dan nutrisi yang
adekuat.
1. Jantung
a. Anatomi fisiologi jantung
Jantung adalah salah satu organ tubuh yang paling vital fungsinya di
bandingkan dengan organ tubuh vital lainnya. Dengan kata lain, apabila fungsi
jantung mengalami gangguan amat besar pengaruhnya terhadap organ-organ
tubuh lainnya terutama ginjal dan otak. Karena fungsi utama jantung adalah
sebagai single pompa yang memompakan darah keseluruh tubuh untuk
kepentingan metabolisme sel-sel demi kelangsungan hidup (Putri & Wijaya.
2013)

Gambar : 2.1 Anatomi Jantung


Berikut adalah uraian dengan beberapa sub-topik anatomi fisiologi
jantung di bawah ini:
1. Ukuran, posisi atau letak jantung
Jantung manusia mendekati ukuran kepalan tangannya atau dengan
ukuran panjang kira-kira 12cm dan lebar sekitar 9cm, jantung terletak
antara tulang sternum, tepatmya di bawah tulang mediasternum diantara
7

kedua paru-paru dan bersentuhan dengan diafragma, bagian atas jantung


terletak di bawah sternal notch 1/3 dari jantung berada disebelah kanan
dari midline sternum, 2/3 nya disebelah kiri dari midline sternum.
Sedangkan bagian apek jantung di interkostal ke 5 atau tepatnya di bawah
puting susu (Putri &Wijaya. 2013).
2. Ruang Jantung
Jantung kita dibagi menjadi 2 bagian ruang yaitu Atrium (serambi)
dan ventrikel (bilik). Karena atrium hanya memompakan darah dengan
jarak yang pendek, yaitu ke ventrikel. Oleh karena itu otot atrium lebih
tipis dibandingkan dengan otot ventrikel. Ruang atrium dibagi menjadi 2
bagian yaitu atrium kanan dan atrium kiri. Demikian halnya dengan ruang
ventrikel, di bagi menjadi 2 yaitu ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Jadi
kita boleh mengatakan kalau jantung dibagi menjadi 2 yaitu jantung
bagian kanan (atrium kanan dan ventrikel kanan) dan jantung kiri (atrium
kiri dan ventrikel kiri). Kedua atrium memiliki bagian luar organ masing-
masing yaitu auricle. Dimanan kedua atrium dihubungkan dengan satu
auricle yang berfungsi menampung darah apabila kedua atrium memiliki
kelebihan volume (Putri &Wijaya. 2013).
3. Lapisan otot jantung

Gambar 2.2 Lapisan otot jantung


Menurut Syaifuddin (2012) anatomi fisiologi lapisan otot jantung
terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
a) Perikardium, Lapisan yang merupakan kantong pembungkus jantung,
terletak di mediastinum minus, terletak di belakang korpus streni dan rawan
iga II-VI.
(1) Perikardium fibrosum (visual): Bagian kantong yang membatasi
pergerakan jantung terikat di bawah sentrum tendinium diafragma,
8

bersatu dengan pembuluh darah besar, melekat pada sternum


melalui ligamentum sternoperikardial.
(2) Perikardium serosum (parietal), dibagi menjadi dua bagian:
Perikardium parietalis membatasi perikardium fibrosum, sering
disebut epikardium, dan perikardium viseral (kavitas perikardialis)
yang mangandung sedikit cairan yang berfungsi melumas untuk
mempermudah pergerakan jantung.
(3) Di antara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelicin
untuk menjaga agar pergesekan antara perikardium tersebut tidak
menimbulkan gmgguan terhadap jantung. Pada permukaan
posterior jantung terdapat perikardiun aerosum sekitar vena-vena
besar membentuk sinus obligus dan sinus transfersus.
b) Miokardium.
Lapisan otot jantung menerima darah dari arteri koronaria. Arteri
koronaria kiri bercabang menjadi arteri desending anterior dan arteri
sirkumfleks. Arteri koranaria kanan memberikan darah untuk sinoatrial
node, ventrikel kanan, permukaan diafragma ventrikel kanan. Vena
koronaria mengembalikan darah ke sinus kemudian bersirkulasi langsung
ke dalam paru.
c) Endokardium (permukaan dalam jantung).
Dinding dalam atrium diliputi oleh membran yang mengilat, terdiri
dari jaringan endotel atau selaput lendir endokardium, kecuali aurikula dan
bagian depan sinus vena kava.
(1) Pembuluh darah besar jantung
Putri & wijaya (2013) di dalam buku Keperawatan Medikal
Bedah ada beberapa pembuluh darah besar yaitu:
(a) vena cava superior, yaitu vena besar yang membawa darah
kotor dari bagian atas diafragma ke atrium kanan.
(b) Vena cava inferior, yaitu vena besar yang membawa darah
kotor dari bagian bawah diafragma ke atrium kanan
(c) Sinus coronary, yaitu vena besar di jantung yang membawa
darah kotor dari jantung sendiri.
(d) Pulmonary trunk, yaitu pemuluh darah besar yang membawa
darah kotor dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis
9

(e) Arteri pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri


yang membawa darah kotor dari pulmonary trunk ke kedua
paru-paru.
(f) Vena pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang
membawa darah bersih dari kedua paru-paru ke atrium kiri.
(g) Assending aorta, yaitu pembuluh darah besar yang membawa
darah bersih dari ventrikel kiri ke arkus aorta ke cabangnya
yang bertanggung jawab dengan organ tubuh bagian atas.
(h) Dessending aorta, yaitu bagian aorta yang membawa darah
bersih dan bertanggung jawab dengan organ tubuh bagian
bawah.

Gambar 2.3 Pembuluh darah jantung


4. Arteri coroner
Arteri koroner berasal dari bagian proksimal aorta (cabang pertama
aorta) sebagai arteri koronaria kanan dan arteri koronaria kiri. Pembuluh
ini tepat terletak tepat di sebelah dalam terhadap epikardium pada
permukaan jantung. Jantung menerima dua perdarahan yaitu epikardium
dan miokardium di perdarahi oleh arteri koronaria dan cabang-cabangnya,
sedangkan endokardium menerima O2 dan nutrien dari kontak langsung
dengan darah di dalam ruang jantung.
Arteri koronaria dibagi menjadi cabang kanan dan cabang kiri.
Keduanya keluar dari pangkal aorta :
1) Cabang kiri utama disebut left main (LM) yang mempercabangkan left
anterior desendens (LAD) dan left circumflex (LCx) yang
memperdarahi bagian jantung anterior dan lateral.
10

2) Cabang kanan disebut right coronary artery (RCA) yang


memperdarahi jantung bagian kanan, posterior dan inferior.

Gambar : 2.3 Pembuluh darah jantung

5. Siklus jantung
Atrium kanan menerima darah yang miskin oksigen dari vena kava
superior, vena kava inferior dan sinus koronarius. Dari atrium kanan darah
akan dialirkan ke ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis. Dari ventrikel
kanan darah akan dipompakan ke 4 pulmonary arteri melalui katup pulmonal
ke paru-paru kiri dan kanan untuk di oksigenisasi.
Setelah darah di oksigenisasi di paru-paru, selanjutnya darah akan
diteruskan ke atrium kiri melalui 4 vena pulmonalis. Dari atrium kiri darah
akan dialirkan ke ventrikel kiri melalui katup biskupid atau katup mitral.
Kemudian dari ventrikel kiri, melalui katup aorta darah dipompakan ke
seluruh organ tubuh termasuk ke jantung itu sendiri kernudian setelah
darah yang kaya akan oksigen dipakai maka darah akan dikembalikan lagi
ke atrium kanan (Putri & Wijaya, 2013)
2. Pembuluh darah
Darah adalah cairan jaringan tubuh yang fungsi utamanya adalah
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga
menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa
metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon
11

dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah. Darah berwarna merah,
antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila
kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin,
protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk
heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen .
Darah terdiri atas plasma darah 55 %, Sel-sel darah 45 % yang terdiri atas
Sel darah merah (eritrosit), Sel darah putih (leukosit), keping-keping darah
(trombosit). Plasma darah merupakan komponen terbesar dalam darah. Hampir
90% bagian dari plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk
mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel
ke tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan
tubuhterhadap penyakit atau zat antibodi. Sel darah merah (eritrosit),
bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak mempunyai inti. Ukuran
diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya kira–
kira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta), warnanya kuning kemerahan, karena
didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen.
Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari
jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru. Pengikatan oksigen dan
karbon dioksida ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa dengan
oksigen yang disebut oksihemoglobin (hb + oksigen 4 hb-oksigen) jadi oksigen
diangkut dari seluruh tubuh sebagai oksihemoglobin yang setelah tiba di
jaringan akan dilepaskanhb-oksigen hb + oksigen, dan seterusnya. Hb akan
bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin
(hb + karbon dioksida hb-karbon dioksida) yang mana karbon dioksida
tersebut akan dikeluarkan di paru-paru.
Sel darah merah (eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah,limpa
dan hati. Proses pembentukannya dalam sumsum tulang melalui beberapa
tahap. Mula-mula besar danberisi nukleus dan tidak berisi hemoglobin
kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya dan siap
diedarkan dalam sirkulasi darah yang kemudian akan beredar di dalam tubuh
selama kebih kurang 114 –115 hari, setelah itu akan mati. Hemoglobin yang
keluar dari eritrosit yang mati akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang
12

mengandung fe yang berguna untuk membuat eritrosit baru dan hemoglobin


yaitu suatu zat yang terdapat didalam eritrisityang berguna untuk mengikat
oksigen dan karbon dioksida. Jumlah normal pada orang dewasa kira-kira 11,5
–15 gram dalam 100cc darah. Normal hb wanita 11,5 mg% dan laki-laki 13,0
mg%. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terdiri dari
asam aminodan memerlukan pula zat besi, sehingga diperlukan diit seimbang
zat besi .
Di dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini bisa berkurang,demikian
juga banyaknya hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila kedua-duanya
berkurang maka keadaan ini disebut anemia, yang biasanyadisebabkan oleh
perdarahaan yang hebat, penyakit yang melisis eritrosit,dan tempat pembuatan
eritrosit terganggu. Sel darah putih (leukosit), mempunyai bentuk dansifat
berlainan dengan sifat eritrosit di bawah mikroskop akan terlihat bentuknya
yang dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu
(pseudopodia),mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga ia dapat
dibedakan menurutinti selnya, warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya
dalam 1 mm3 darahkira-kira 6000-9000. Fungsinya sebagai pertahanan tubuh
yaitu membunuhdanmemakan bibit penyakit / bakteri yang masuk ke dalam
jaringan res (sistemretikuloendotel), tempat pembiakannya di dalam
limpadankelenjar limfe;sebagai pengangkut yaitu mengangkut / membawa zat
lemak dari dinding ususmelalui limpa terus ke pembuluh darah.Sel
leukositdisamping berada di dalam pembuluh darah juga terdapatdi seluruh
jaringan tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya
kuman / infeksi maka jumlah leukosit yang ada di dalam darah akan lebih
banyak dari biasanya. Hal ini disebabkan selleukosit yang biasanyatinggal di
dalam kelenjar limfe, sekarang beredar dalam darah untuk mempertahankan
tubuh dari serangan penyakit tersebut. Jika jumlah leukositdalam darah
melebihi 10000/mm3 disebut leukositosisdankurang dari 6000 disebut
leukopenia.
Keping-keping darah (trombosit). Trombosit merupakan benda-benda kecil
yang mati yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat dan
lonjong, warnanya putih,normal pada orang dewasa 200.000-
300.000/mm3.Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah.
Jika banyaknya kurang dari normal, maka kalau ada luka darah tidak
13

lekasmembeku sehingga timbul perdarahan yang terus-menerus. Trombosit


lebihdari 300.000 disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari
200.000disebut trombositopenia.Di dalam plasma darah terdapat suatu zat
yang turut membantuterjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu ca2+ danf
ibrinogen. Fibrinogenmulai bekerja apabila tubuh mendapat luka. Ketika kita
luka maka darah akankeluar, trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang
dinamakan trombokinase. Trombokinasi ini akan bertemu dengan protrombin
dengan pertolongan ca2+akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu dengan
fibrin yang merupakan benang-benang halus, bentuk jaringan yang tidak
teratur letaknya, yang akanmenahan sel darah, dengan demikian terjadilah
pembekuan. Protrombin di buat didalam hatidan untuk membuatnya
diperlukan vitamin k, dengandemikian vitamin k penting untuk pembekuan
darah (Wahyuningsih dan Kusniyati, 2017).

Gambar 2.4
Pembuluh darah

B. Sindrom Koroner Akut (SKA)


1. Pengertian Sindrom Koroner Akut
SKA (Sindrom Koroner Akut) adalah keadaan gangguan aliran darah koroner
parsial hingga total ke miokard secara akut yang penyebabnya terutama akibat
pembentukan trombus didalam arteri koroner yang sifatnya dinamis, trombus
terbentuk karena adanya ruptur/erosi plak aterosklerotik (Rilantono, 2015). Kondisi
kegawatdaruratan SKA memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan tepat. Waktu
keterlambatan penanganan sebelum masuk ke rumah sakit di hitung mulai dari gejala
nyeri baru dirasakan sampai tiba di IGD (Irman et al.2017).
14

Penderita SKA ditandai dengan keluhan nyeri dada, rasa berat atau rasa seperti
ditekan dan rasa seperti dicengkram dibelakang sternum menjalar ke rahang, bahu,
punggung dan lengan selama lebih dari 20 menit, keluhan ini biasanya disertai dengan
keringat dingin sebagai respon simpatis, mual dan muntah karena stimulasi vagal dan
rasa lemas tidak bertenaga (PERKI, 2015).
14

Dapat disimpulkan bahwa SKA adalah kondisi akut yang disebabkan oleh
tidak seimbangnya antara kebutuhan oksigen dengan supplai oksigen yang didapatkan
miokard maka penanganan fase awal SKA adalah dengan menurunkan konsumsi
oksigen (PERKI, 2015).

2. Klasifikasi Sindroma Koroner Akut


Berdasarkan gambaran EKG sindrom koroner akut diklasifikasikan menjadi
dua yaitu dengan elevasi segmen ST (STEMI) dan tanpa elevasi segmen ST
(NSTEMI) atau angina pectoris tidak stabil. Klasifikasi ini akan mempercepat dan
mempermudah identifikasi klien STEMI, oklusi total arteri koroner yang memerlukan
revaskularisasi segera.
Tabel 2.1
17
Klasifikasi SKA menurut EKG dan klinis

ACS KLINIS EKG LAB

UAP  Nyeri dada lebih Bisa ditemukan : Enzim Jantung


dari 20 menit dan (bio-marker)
ada peningkatan  ST depresi <0,5
normal
frekuensi Mm
sakitnya atau jika  T inversi < 2mm
ada gejala
Perburukan
 Biasanya nyeri
dada dapat hilang
dengan obat-
obatan
NSTEMI  Nyeri dada >20 Ditemukan deviasi Biomarker miocard
menit ST segmen depresi > ditandai Dengan
 Lokasi sampai 0,5 mm, daoat Peningkatan
substernal kadang
Disertai dengan CKMB lebih dari
sampai
gelombang T inverse 25 µ/l, Troponin T
Epigastrium
positif >0,003
dengan ciri
seperti diperas,
diikat, rasa
terbakar
14

STEMI  Nyeri dada Deviasi ST segmen Biomarker miocard


typical angina elevasi > 1mm di ditandai Dengan
>20 menit, bisa
ekstermitas dan > Peningkatan
hilang atau tidak
2mm di precordial, CKMB lebih dari
hilang Dengan
lead yang 25 µ/l, Troponin T
obat-obatan
Bersebelahan positif >0,003
 Lokasi :
substernal,
retrosternal,
pericordial
 Sifarnya rasa
sakit seperti
ditekan dan
terbakar

Sumber : Perki (2015)

3. Pengertian UAP
Angina Pektoris Tidak Stabil
Unstable Angina Pectoris (UAP) atau Angina tidak stabil merupakan
kombinasi dari angina klasik dan angina varian, dan dijumpai pada individu
dengan penyakit arteri koroner yang memburuk. Angina biasanya menyertai
peningkatan beban kerja jantung, bisa terjadi akibat aterosklerosis koroner yang
ditandai perkembangan thrombus yang mudah mengalami spasme. Durasi
serangan dapat timbul lebih lama dari angina pectoris stabil. Pencetus dapat
terjadi pada keadaan istirahat atau pada tingkat aktivitas ringan. Kurang
responsive terhadap nitrat, lebih sering ditemukan depresi segmen ST
Elektrokardiografi tanpa serangan nheri dada biasanya normal, pada waktu
serangan didapati segmen ST elevasi. Jangan dilakukan latihan fisik pada
penderita ini karena dapat mencetuskan aritmia yang berbahaya. Dengan cara
pemeriksaan teknik nuklir kita dapat melihat adanya iskemia saja ataupun sudah
terjadi infark
Karakteristik angina pectoris tidak stabil:
a. Durasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pectoris stabil
b. Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tingkat
aktivitas ringan
c. Kurang responsive terhadap nitrat
d. Lebih sering ditemukan depresi segmen ST
15

e. Dapat disebabkan oleh rupture plak aterosklerosis, spasme ,thrombus,


atau trombosit yang beragregasi

4. Pengertian STEMI

Infark miokard akut adalah kerusakan jaringan miokard akibat iskemia hebat
yang terjadi secara tiba-tiba. Penyempitan arteri koronaria oleh plak ateroma dan
trombus yang terbentuk akibat rupturnya plak ateroma yang menjadi penyebab infark
miokard akut. Infark miokard yang mana kerusakan jaringannya mengenai seluruh
dinding miokard terjadi apabila arteri koronaria utama yang tersumbat. Pada
gambaran akan EKG tampak segmen ST elevasi dan gelombang Q-patologis yang
disebut ST-segmen Elevasi Miokard Infark, atau yang sering disebut dengan istilah
STEMI (Kabo, 2010).
STEMI merupakan bagian dari spektrum SKA yang menggambarkan cedera
miokard, akibat oklusi total arteri koroner oleh trombus. Bila tidak dilakukan
revaskularisasi segera, maka akan terjadi nekrosis miokard yang berhubungan linear
dengan waktu. Maka dikenalah paradigma “time is muscle”, yang berarti bila tidak
dilakukan reperfusi segera, maka otot jantung tidak akan
bisa diselamatkan. Paradigma ini menekankan perlunya reperfusi sedini
mungkin (Rilantono, 2012).
SKA adalah keadaan gangguan aliran darah koroner parsial hingga total ke
miokard secara akut yang penyebabnya terutama akibat pembentukan trombus
didalam arteri koroner yang sifatnya dinamis, trombus terbentuk karena adanya
ruptur/erosi plak aterosklerotik (Rilantono, 2015).
Kondisi kegawatdaruratan SKA memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan
tepat. Waktu keterlambatan penanganan sebelum masuk ke rumah sakit di hitung
mulai dari gejala nyeri baru dirasakan sampai tiba di IGD (Irman et al.2017).
Penderita miocard infark ditandai dengan keluhan nyeri dada, rasa berat atau rasa
seperti ditekan dan rasa seperti dicengkram dibelakang sternum menjalar ke rahang,
bahu, punggung dan lengan selama lebih dari 20 menit, keluhan ini biasanya disertai
dengan keringat dingin sebagai respon simpatis, mual dan muntah karena stimulasi
vagal dan rasa lemas tidak bertenaga.
Dapat disimpulkan bahwa STEMI adalah kondisi akut yang disebabkan oleh
tidak seimbangnya antara kebutuhan oksigen dengan supplai oksigen yang didapatkan
16

miokard maka penanganan fase awal infark miokard adalah dengan menurunkan
konsumsi oksigen (Rilantono,2012).

5. Penilaian Stratifikasi Resiko


Penilaian stratifikasi resiko dilakukan untuk memprediksi kejadian jantung
akibat trombosis pada jangka pendek dan panjang serta memandu dalam menentukan
strategi tatalaksana terbaik (invasif atau konservatif) untuk setiap klien. Stratifikasi
resiko yang lazim digunakan adalah Thrombolysis In Myocardial Infarction (TIMI)
dan Klasifikasi Killip.
Table 2.2
(Thrombolysis In Myocardial Infarction) Score untuk STEMI
Variable Poin

Usia >75 3

Usia 65-74 2

Diabetes, hipertensi, angina 1

Tekanan darah <100 mmHg 3

Nadi >100x/menit 2

Kelas Killip II-IV 2

STEMI Anterior atau LBBB komplit 1

Waktu ke tindakan >4 jam 1

Tabel 2.3
Klasifikasi Killip
17

Kelas Killip Karakteristik klinis

I Tidak ada tanda CHF

II Rales, distensi vena jugularis atau S3

III Edema paru

IV Syok kardiogenik

Sumber : Rilantono (2015)

6. Etiologi
Menurut Udijanti (2010 ) Infark Miokard Akut disebabkan oleh :
a) Coronary Arteri Disease
Aterosklerosis, atritis, trauma pada koroner, penyempitan arteri koroner
karena spasme atau desecting aorta dan arteri koroner.
b) Coronory Artery Emboly
Infectif endocarditis, cardiac myxoma, cardiopulmonal bypass surgery,
arteriography koroner
c) Kelainan kongenital : anomali arteri koronoria
d) Ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan miokard : Tiroktoksikosis,
hipotensi kronis, keracunan karbon monoksida, stenosis atau insufisiensi aorta
e) Gangguan Hematologi
Anemia, polisitemia vera, hipercoagulabity, trombosis, trombositosis dan DIC
Menurut PERKI (2015), faktor predisposisi yang menyebabkan STEMI antara
lain:
a) Faktor resiko yang tidak dapat diubah :
(1) Usia
Angka morbiditas dan mortalitas penyakit SKA meningkat seiring
pertambahan usia. Sekitar 55% korban serangan jantung berusia 65 tahun atau
lebih dan yang meninggal empat dari lima orang berusia di atas 65 tahun.
Mayoritas berada dalam resiko pada masa kini merupakan refleksi dari
pemeliharaan kesehatan yang buruk di masa lalu. Kerentanan terhadap
18

aterosklerosis koroner meningkat dengan bertambahnya usia, tetapi hubungan


antara usia dan timbulnya penyakit hanya mencerminkan lama paparan yang
lebih panjang terhadap faktor-faktor aterogenik.
(2) Jenis kelamin
Wanita relatif kebal terhadap ACS sampai mengalami menopause,
setelah itu kerentanannya menjadi sama dengan pria. Hormon estrogen
dianggap sebagai pelindung imunitas wanita pada masa usia sebelum
menopause.
(3) Hereditas
Tingkat faktor genetika dan lingkungan membantu terbentuknya
atherosklerosis belum diketahui secara pasti. Tendensi atherosklerosis pada
orang tua atau anak dibawah usia 50 tahun ada hubungan terjadinya sama
dengan anggota keluarga lain. Komponen genetik berpengaruh terhadap poses
aterosklerosis. Riwayat keluarga dapat pula mencerminkan gaya hidup yang
menimbulkan stress atau obesitas.
(4) Ras
Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis daripada
orang kulit putih.
b) Faktor resiko yang dapat diubah
(1) Mayor:
(a) Hiperlipidemia
Kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah terlibat dalam
transportasi, digesti, dan absorbsi lemak. Seseorang yang memiliki kadar
kolesterol melebihi 300 ml/dl memiliki resiko 4 kali lipat untuk terkena
SKA dibandingkan yang memiliki kadar 200 mg/dl. Diet yang
mengandung lemak jenuh merupakan faktor utama yang menimbulkan
hiperlipidemia.
(b) Hipertensi
Hipertensi menyebabkan tingginya gradient tekanan yang harus
dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah. Peningkatan tekanan
darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah
sehingga beban kerja jantung bertambah. Terjadi hipertrofi ventrikel
untuk meningkatkan kekuatan kontraksi, tetapi kemampuan ventrikel
untuk mempertahankan curah jantung dengan kompensasi akhirnya
19

terlampaui sehingga terjadi dilatasi dan payah jantung. Bila proses


aterosklerosis berlanjut maka suplai oksigen ke miokard berkurang.
Kebutuhan oksigen miokard yang meningkat akibat hipertrofi dan
peningkatan beban kerja jantung akhirnya menyebabkan angina atau
infark. Kerusakan vaskular akibat hipertensi terlihat di seluruh pembuluh
perifer. Aterosklerosis dan nekrosis medial aorta merupakan predisposisi
terbentuknya aneurisma dan diseksi. Perubahan struktur arteri kecil dan
arteriola menyebabkan penyumbatan pembuluhb darah, bila pembuluh
darah menyempit maka aliran arteri terganggu sehingga menyebabkan
mikro infark jaringan.
(c) Merokok
Resikonya bergantung pada jumlah rokok yang dihisap tiap hari.
Seseorang yang merokok lebih dari satu bungkus sehari menjadi dua kali
lebih rentan daripada yang tidak merokok. Merokok berperan dalam
memperburuk kondisi penyakit arteri koroner melalui 3 cara:
1. Menghirupasap akan meningkatkan kadar karbonmonoksida (CO)
darah. Hemoglobin sebagai komponen darah yang mengangkut
oksigen lebih mudah terikat pada CO daripada O2. Oleh karena itu
oksigen yang disuplai ke jantung menjadi sangat berkurang sehingga
membuat jantung bekerja lebih berat untuk menghasilkan energi
yang sama besarnya.
2. Asam nikotinat pada tembakau akan memicu pelepasan katekolamin
yang menyebabkan konstriksi arteri. Aliran darah dan oksigenasi
jaringan menjadi terganggu.
3. Merokok meningkatkan agregasi trombosit sehingga mengakibatkan
kemungkinan terjadinya peningkatan peningkatan trombus.
(d) Diabetes
Penderita diabetes cenderung memiliki prevalensi aterosklerosis
lebih tinggi. Hiperglikemia menyebabkan peningkatan agregasi
trombosit yang dapat menyebabkan pembentukan thrombus.
Hiperglikemia juga bisa menyebabkan kelainan metabolisme lemak atau
predisposisi terhadap degenerasi vascular yang berkaitan dengan
gangguan toleransi glukosa.
(e) Obesitas meningkatkan beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen.
20

(f) Dietyang tinggi lemak jenuh, kalori, gula dan garam merupakan salah
satu factor yang berperan pada timbulnya hiperproteinemia dan obesitas.
(2) Minor
(a) Inaktifitas fisik
(b) Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius kompetitif
(c) Strss psikologis, menyebabkan pelepasan katekolamin yang meningkatkan
peningkatan kerja jantung dan vasokontriksi (PERKI,2015)
7. Patofisiologi
Plak koroner yang cenderung ruptur biasanya terselubung oleh fibrosa tipis.
Plak ini mengandung makrofag dan limfosit-T yang kemungkinan melepaskan
metaloprotese dan sitokin yang melemahkan selubung fibrosa, hal ini menyebabkan
plak mudah ruptur atau mengalami erosi akibat ketegangan dari regangan yang
disebabkan oleh aliran darah. Ruptur plak menyebabkan paparan kolagen subendotel
yang berperan sebagai lokasi adhesi, aktivasi dan agregasi trombosit. Hal ini akan
menyebabkan pelepasan substansi seperti tromboksan A2 (TXA2), fibrinogen, 5-
hidroksitriptamin (5-HT), platelet activating factor dan ADP yang selanjutnya akan
memacu agregasi trombosit. Selanjutnya akan terjadi aktivasi kaskade pembekuan,
menyebabkan pembentukan fibrin dan penjalaran serta stabilisasi trombus oklusif.
Endotel seringkali rusak disekitar area penyakit arteri koroner. Defisit factor
antitrombotik yang disebabkannya seperti trombomodulin dan prostasiklin
memperkuat pembentukan trombus. Selain itu, kecenderungan beberapa factor
trombosit untuk menyebabkan vasokonstriksi menjadi meningkat pada keadaan tidak
adanya faktor penyebab relaksasi yang berasal dari endotel, yaitu endhothelial
derived constricting factor (EDCF) Hal ini dapat memacu perkembangan vasospasme
lokal yang memperburuk oklusi koroner (Kabo, 2010).
Faktor penyebab utama pada SKA adalah kurangnya aliran darah ke miokard
yang terbanyak sering disebabkan aterosklerosis. Aterosklerosis ditandai dengan
adanya akumulasi bahan lemak/lipid dan jaringan fibrosa pada dinding arteri,
pertambahan aterosklerosis membuat lumen dari pembuluh darah menyempit dan
aliran darah terhambat ke daerah miokardium. Dinding pembuluh darah akan
kehilangan elasitasnya dan menjadi kurang responsif terhadap perubahan volume dan
tekanan (Perki, 2015).
Pathogenesis dari aterosklerosis dimulai dengan lesi atherosklerosis yang
timbul, berikut fase – fase perubahan dinding pembuluh darah koroner, yaitu:
21

(1) Fase dinding normal


(2) Fase lapisan lemak yang banyak serta anatomis arteri koroner yang mempunyai
bentuk lekukan mendukung terjadinya tempelan lemak dalam jumlah kecil yang
tampak bagaikan garis lemak ( fatty streak) dan terutama beta lipoprotein yang
mengandung banyak kolesterol didalam tunika intima, pada fase ini sudah
terjadi kerusakan dan disfungsi endothelium yang menjadi keras dan kaku.
(3) Fase pembentukan ateroma. Peningkatan dinding pembuluh darah menyebabkan
proliferasi sel intima, dan akhirnya suatu penutup fibrous plate terbentuk.
Bagian tengah dari penutup lemak ini terdiri dari sel intima nekrotik pada tunika
intima dan tunika media dibagian dalam. Sampai pada keadaan ini biasanya
tidak timbul gejala keluhan atau gejala.
Tingkat aterosklerosis yang lebih berkembang ditandai dengan benjolan
fibrosa berkapur. Deposit kapur dapat ruptur dan meningkatkan resiko spasmus,
membentuk thrombus, dan emboli. Ini adalah jenis lesi aterosklerosis yang
menimbulkan gejala coronary artery disease (CAD). Lumen arteri menjadi begitu
sempit, sehingga timbul ketidakseimbangan suplai oksigen untuk miokardium
dibandingkan dengan kebutuhan. Manifestasi iskemik miokardium biasanya tidak
akan terjadi sampai arteri 75% tersumbat. Hal itu bisa berakibat angina pektoris,
infark miokardium dan kematian mendadak. Kematian mendadak dan onset sindrom
koroner akut menunjukkan suatu variasi sirkadian, yang memuncak pada sekitar
pukul 9 pagi kemudian menurun pada sekitar tengah malam. Kadar katekolamin
memuncak sekitar sekitar 1 jam setelah bangun di pagi hari, menyebabkan level
maksimal agregabilitas trombosit, tonus vaskular, laju denyut jantung dan tekanan
darah yang dapat memicu ruptur plak dan trombosis. Selain itu sekresi katekolamin
dari ujung-ujung saraf simpatis jantung, menyebabkan terjadi vasokonstriksi pada
arteri koroner menjadi lebih hebat, maka jantung akan menjadi iskemik (Kabo, 2010).
Derajat oklusi koroner dan kerusakan miokardium yang disebabkan oleh
rupture plak bergantung pada kadar katekolamin sistemik, dan juga faktor lokal
seperti lokasi dan morfologi plak, kedalaman ruptur plak dan keparahannya hingga
terjadi vasokonstriksi koroner. Iskemia yang berat dan lama menyebabkan suatu
region nekrosis yang terbantang di seluruh ketebalan dinding miokard, yang sering
disebut dengan infark transmural.
Pada rekaman EKG, infark tersebut ditandai dengan adanya segmen ST
elevasi (Kabo, 2010). Infark miokard akan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi
22

ventrikel karena otot yang nekrosis akan kehilangan daya kontraksi, dan otot yang ada
disekitarnya yang belum mengalami nekrosis juga akan mengalami gangguan
kontraksi. Infark miokard akan menyebabkan perubahan-perubahan pada fungsi otot
jantung sebagai berikut: (1) penurunan daya kontraksi, (2) abnormalitas gerakan
dinding, (3) perubahan daya kembang dinding ventrikel, (4) penurunan curah jantung,
(5) penurunan fraksi ejeksi, (6) peningkatan end-systolic volume dan end-diastolic
volume ventrikel, serta (7) peningkatan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri.
Angina pektoris merupakan cerminan dari iskemik miokard. Nyeri dada
angina biasanya berlokasi dibawah sternum (retrosternal) dan kadang menjalar ke
leher, rahang, bahu dan kadang lengan kiri atau keduanya. Kadang angina dikeluhkan
sebagai tanda tak enak di dada atau rasa berat di dada, rasa penuh, diremas,
dicengkram, dan rasa seperti ditikam (Perki, 2015). Pada lansia kemungkinan rasa
nyeri yang dirasakan nyeri viseral yang disertai dengan sesak napas, keringat dingin,
mual, rasa melayang, dan lemah.
Angina pektoris stabil ditandai dengan nyeri dada yang berakhir ±15-25 menit.
Hal ini dapat timbul karena aktivitas, stress, atau kedinginan kemudian menghilang
dengan istirahat atau minum obat. Angina pektoris stabil biasanya disebabkan oleh
lesi koroner yang fixed (plak yang stabil). Iskemia mengganggu permeabilitas sel-sel
miokardium terhadap elektrolit yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas
miokardium. Proses iskemik yang berlangsung lebih dari 35–45 menit akan
menyebabkan kerusakan sel-sel yang ireversibel dan nekrosis miokardium.
Infark miokard akut disebabkan oleh penyumbatan yang tiba-tiba pada salah
satu cabang dari arteri koronaria. Penyumbatan ini dapat meluas dan mengganggu
fungsi jantung atau mengakibatkan nekrosis miokardium. Nyeri dada oleh karena
infark biasanya adanya serangan angina pektoris yang lebih berat 15-30 menit, kecuali
pada lansia dan penderita diabetes. Klien dengan infark inferior kadang terasa seperti
nyeri abdomen, mual, dan muntah. Klien yang mengalami infark akut menjadi gelisah,
cemas, takut, merasa nyawa terancam, sulit bernapas, sianosis, dan syok. Ada pula
sekitar 5-20 % dari klien dengan serangan infark miokard akut tanpa rasa nyeri juga
sebagai manifestasi klinis (PERKI, 2015)

8. Manifestasi Klinis
Klien yang datang dengan STEMI biasanya memiliki riwayat angina atau
penyakit jantung koroner, usia lanjut dan kebanyakan laki-laki. Kejadian sebagian
23

besar timbul pada pagi hari berhubungan dengan aktivitas neurohormonal dan sistem
syaraf simoatis. Beberapa tanda-tanda khas menurut (Rilantono,2012)
a. Nyeri dada
1) Biasanya berlangsung > 20 menit dan makin lama bertambah berat di dada
kiri
2) Menjalar ke rahang, leher, lengan dan punggung.
3) Nyeri seperti tertekan beban berat, seperti diremas-remas seperti terbakar
atau seperti ditusuk-tusuk
b. Sesak napas (dispnea)
Merupakan akibat dari masuknya cairan ke dalam rongga udara di paru-paru
( kongesti pulmoner/edema pulmonal)
c. Timbul mual muntah
d. Perasaan lemah dan lelah
Diakibatkan tidak efektifnya jantung memompa, maka aliran darah ke otot
selama melakukan aktifitas akan berkurang gejala ini biasanya bersifat ringan.
e. Kulit yang dingin dan pucat
Akibat vasokontriksi syaraf simpatis
f. Pengeluaran urin berkurang

9. Pemeriksaan Diagnostik
a. Elektrokardiogram
1) STEMI
Perubahan segmen ST dimana terjadi elevasi segmen berapa
millimeter lebih besar voltase segmen ST dibandingkan segmen TP pada
gambaran EKG, perubahan ini merupakan suatu evolusi yang berawal dari
suatu cidera dengan gambaran EKG pada jam pertama hiperakut T diikuti
elevasi segmen ST, kemudian dalam 2 – 8 jam ST elevasi akan semakin
tinggi disertai inversi gelombang T dan terbentuknya gelombang Q
bersamaan dengan penurunan amplitude QRS.
EKG yang diagnostik dipertimbangkan elevasi segmen ST bila terjadi
elevasi segmen ST ≥ 1 mm pada dua atau lebih sadapan eksteremitas dan
prekordial bersebelahan sesuai dengan region dinding ventrikelnya
(Rilantono, 2015 ).
24

Pada sadapan V1-V3 nilai ambang untuk diagnostik beragam,


bergantung pada usia dan jenis kelamin. Nilai ambang elevasi segmen ST
di sadapan V1-V3 pada pria usia > 40 tahun adalah 0,2 mV, pada pria usia
< 40 tahun adalah 0,25 mV. Sedangkan pada perempuan nilai ambang
elevasi segmen ST di lead V1-V3, tanpa memandang usia, adalah ≥ 0,15
mV. Bagi pria dan wanita, nilai ambang elevasi segmen ST di sadapan
V3R dan V4R adalah ≥0,05 mV, kecuali pria usia <30 tahun nilai ambang
≥0,1 mV dianggap lebih tepat. Nilai ambang di sadapan V7-V9 adalah
≥0,5 mV. Depresi segmen ST yang resiprokal, sadapan yang berhadapan
dengan permukaan tubuh segmen ST elevasi, dapat dijumpai pada klien
STEMI kecuali jika STEMI terjadi di mid-anterior (elevasi di V3-V6).
Klien SKA dengan elevasi segmen ST dikelompokkan bersama dengan
<
<

LBBB (komplet) baru/persangkaan baru mengingat klien tersebut adalah


kandidat terapi referfusi (Perki, 2015)
Gambar 2.4
EKG normal dan ST elevasi

Gambar 2.5
25

EKG ST depresi

Gambar 2.6
Evolusi perubahan EKG

b. Ekokardiografi Transtorakal
Pemeriksaan ekokardiografi transtorakal saat istirahat dapat memberikan
gambaran fungsi ventrikel kiri secara umum dan berguna untuk menentukan
diagnosa banding. Hipokinesia atau akinesia segmental dinding ventrikel kiri
dapat terlihat saat iskemia dan menjadi normal saat iskemia menghilang.
Selain itu, diagnosis banding seperti stenosis aorta, kardiomiopati hipertrofik,
atau diseksi aorta dapat dideteksi melalui pemeriksaan ekokardiogradi.
Ekokardiografi dapat digunakan untuk menentukan ukuran infark miokard
atau mendeteksi komplikasi infark miokard, seperti ruptur dinding ventrikel
atau defek septum ventrikel (PERKI,2015).
c. Laboratorium
1. Enzim Jantung
a) CKMB
26

Dapat dideteksi 4-6 jam pasca infark, mencapai puncaknya pada


24 jam pertama, kembali normal setelah 2-3 hari.
b) Troponin T
Troponin adalah molekul protein yang merupakan bagian dari
otot rangka dan otot jantung. Otot polos tidak memiliki
troponin. Troponin merupakan suatu kompleks yang terdiri dari
3 buah subunit, yaitu troponin I, troponin C, dan troponin T
yang memiliki fungsi berbeda dalam proses kontraksi otot.
Troponin umumnya tidak terdeteksi pada darah orang sehat.
Troponin T dan I sangat sensitif dalam mendeteksi kerusakan
otot jantung dan memiliki nilai klinis yang sama. Nilai normal
troponin < 0,16 Ug/L. Kadar troponin pada penderita iskemia
miokard meningkat dalam 3 – 12 jam setelah awal timbulnya
nyeri dada, mencapai puncak pada 24 – 48 jam, dan kembali ke
nilai normal dalam 5 – 14 hari. Kadar troponin dapat tidak
terdeteksi pada 6 jam pertama setelah nyeri dada. Kadar
troponin perlu diukur pertama kali saat penderita datang dan
diulangi 10 – 12 jam kemudian.
Peningkatan kadar troponin dapat ditemui pada keadaan
kelainan jantung dan non-jantung. Kelainan jantung yang
menyebabkan peningkatan troponin:
(a) Kerusakan atau kematian sel pada sistem jantung (iskemia
atau infarkmiokard)
(b) Radang sel otot jantung (miokarditis, endokarditis);
(c) Radang selaput pembungkus jantung (perikarditis);
(d) Trauma pada otot jantung;
(e) Post Resusitasi Jantung - Paru;
(f) Gagal jantung kronik yang berat;
(g) Gangguan irama jantung;
(h) Robekan pembuluh darah besar (diseksi aorta).
c) LDH
Dapat dideteksi 24-48 jam pasca infark, mencapai puncaknya
setelah 3-6 hari, normal setelah mencapai 8-14 hari.
2. Elektrolit
27

Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas,


misalnya hipokalemi, hiperkalemi.
3. Sel darah putih
Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 pasca infark
berhubungan dengan proses inflamasi
4. Kecepatan sedimentasi
Meningkat pada hari ke-2 dan ke-3 setelah pasca infark , menunjukkan
inflamasi.
5. Analisa Gas Darah
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis.
6. Kolesterol atau Trigliserida serum
Meningkat, menunjukkan arteriosklerosis sebagai penyebab Acute
7. Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu
Jika keluhan klasik ditemukan, maka hasil pemeriksaan sesaat pada
glukosa plasma sewaktu lebih dari 200 mg/dl. Glukosa plasma sewaktu
merupakan dari hasil pemeriksaan sesaat pada satu waktu tanpa tidak
memperhatikan waktu makan teratur.
d. Rontgen Dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung (CTR > 50 %)
diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.
e. Pemeriksaan pencitraan nuklir
Talium : mengevaluasi aliran darah miokard dan status sel miokard misal
lokasi atau luasnya Akut Myocard Infark (AMI).
f. Angiografi koroner
Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya
dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji
fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pada fase
AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.
g. Tes stress olah raga
Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan
sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan
(Aspiyani,2015)

10. Komplikasi
28

Adapun komplikasi dari ST Elevasi Miocard Infark (STEMI) menurut PERKI (2015)
adalah :
a. Gagal jantung
Gagal jantung dapat terjadi sebagai konsekuensi dari aritmia yang
berkelanjutan atau sebagai komplikasi mekanis. Diagnosis gagal jantung
secara klinis pada fase akut dan subakut STEMI didasari oleh gejala-gejala
khas seperti dispnea, tanda-tanda sinus takikardi, suara jantung ketiga atau
ronkhi pulmonal dan bukti-bukti objektif disfungi kardiak seperti dilatasi
ventrikel kiri dan berkurangnya fraksi ejeksi.
b. Hipotensi
Hipotensi ditandai oleh tekanan darah sistolik yang menetap di bawah 90
mmHg. Keadaan ini dapat terjadi akibat gagal jantung, namun dapat juga
disebabkan oleh hipovolemia, gangguan irama atau komplikasi mekanis. Bila
berlanjut, hipotensi dapat menyebabkan gangguan ginjal, acute tubular
necrosis dan berkurangnya urine output.
c. Kongesti paru
Kongesti paru ditandai dispnea dengan ronki basah paru di segmen basal,
berkurangnya saturasi oksigen arterial, kongesti paru pada rontgen dada dan
perbaikan klinis terhadap diuretik dan/atau terapi vasodilator.
d. Keadaan output rendah
Keadaan output rendah menggabungkan tanda perfusi perifer yang buruk
dengan hipotensi, gangguan ginjal dan berkurangnya produksi urin.
Ekokardiografi dapat menunjukkan fungsi ventrikel kiri yang buruk,
komplikasi mekanis atau infark ventrikel kanan.
e. Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik adalah darurat medis yang memerlukan tindakan cepat dan
tepat untuk menghindari kerusakan sel yang ireversibel dan kematian,
biasanya diakibatkan oleh kegagalan ventrikel kiri.
f. Regurgitasi mitral akut
Kelainan regurgitasi mitral akut ini dapat relatif ringan dan bersifat sementara
bila disebabkan oleh disfungsi otot papilaris. Ruptur otot papilaris/korda
tendinea lebih jarang dan sering menyebabkan gagal jantung akut dan
penurunan tekanan darah. Inkompetensi katup akibat aliran balik dari ventrikel
29

kiri kedalam atrium kiri, akibat yang terjadi adalah pengurangan aliran ke
aorta dan peningkatan kongesti atrium kiri dan vena pulmonalis.
g. Ruptur jantung dan septum
Ruptur ventrikel menyebabkan tamponade karena dinding nekrotik yang tipis
sehinga terjadi perdarahan massif kedalam jantung perikardium sehingga
menekan jantung.
h. Tromboembolisme
Trombus mural dapat ditemukan di ventrikel kiri pada tempat infark miokard
dan kadang-kadang terjadi dalam 24 jam pertama, bila diketahui ada trombus
mural maka anti koagulan perlu diberikan.
i. Aneurisma Ventrikel
Aneurisma ventrikel dapat timbul setelah terjadi Acute Coronary Sindrom.
Nekrosis dan pembentukan parut membuat dinding miokard menjadi lemah.
Ketika sistol, tekanan tinggi dalam ventrikel membuat bagian miokard yang
lemah menonjol keluar.Darah dapat merembes kedalam bagian yang lemah itu
dan dapat menjadi sumber emboli. Disamping itu bagian yang lemah dapat
mengganggu curah jantung kebanyakan aneurisma ventrikel terdapat pada
apex dan bagian anterior jantung.
j. Perikarditis
Sering ditemukan dan ditandai dengan nyeri dada yang lebih berat pada
inspirasi dan tidur terlentang. Infark membuat lapisan epikardium yang
langsung kontak dengan perikardium kasar, sehingga merangsang permukaan
perikard dan timbul reaksi peradangan.
k. Aritmia
Lazim ditemukan pada fase akut infark miokard, aritmia perlu diobati bila
menyebabkan gangguan hemodinamik. Aritmia memicu peningkatan
kebutuhan O2 miokard yang mengakibatkan perluasan infark.

11. Penatalaksanaan Medik


Keberhasilan terapi infark miokard bergantung pada pengenalan dini gejala
dan transfer klien segera ke unit/instalasi gawat darurat. Terdapat 3 hal yang harus
dilakukan pada penderita dengan infark miokard, yaitu :
a. Memantapkan terbukanya arteri koroner dapat dengan cara fibrinolitik,
angioplasti, atau CABG.
30

b. Menjaga agar arteri koroner tetap terbuka dengan antikoagulan atau dengan
anti platelet.
c. Mencegah meluasnya kerusakan miokard lebih lanjut dengan mengurangi
oksigen demand atau mencukupi kebutuhan oksigen.
Protokol tatalaksana awal infark miokard tanpa elevasi segmen ST :
a. Oksigen nasal 2-5 L/menit
b. Aspilet kunyah 160-320 mg
c. Clopidogrel loding dose 300 mg atau Ticagrelor 180 mg
d. Nitrat tablet 5 mg SL dapat diulang 3 kali, jika masih nyeri dada diberi
Morphin 2,5–5 mg IVatau Pethidin 25 mg IV atau Nitrat IV dosis dimulai dari
5 mikrogram/menit atau dititrasi.
e. Cek laboratorium: Hb, Ht, Leukosit, Ureum, Kreatinin, GDS, Elektrolit,
CKMB, Troponin T, Troponin I.
f. ACE Inhibitor (gagal jantung, DM, hipertensi)
g. Anti iskemik beta bloker (jika tidak ada kontraindikasi) atau kalsium antagonis
h. Statin
i. Anti koagulan:
1) CCT > 30 ml/menit berikan pondafarinux atau enoxafarine subkutan, jika
CCT < 30 ml/menit berikan UFH atau enoxafarine (1 mg/KgBB subkutan
sehari sekali).
2) Loading dose heparin bolus 60-70 unit maksimal 4000 unit dengan dosis
pemeliharaan 12-15 unit/KgBB/jam maksimal 1000 unit/jam dengan target
APTT 1,5-2 kali nilai kontrol. Dosis enoxafarine 1 mg/KgBB subkutan
setiap 12 jam. Dosis pondafarinux 2,5 mg subkutan sekali sehari.
Protokol tatalaksana awal Infark miokard dengan elevasi segmen ST (Onset
kurang dari 12 jam) :
a. Oksigen nasal 2-3 L/menit.
b. Aspilet kunyah 160-320 mg
c. Clopidrogel loading dose 300 mg atau Ticagrelor 180 mg. clopidrogel loading
dose 600 mg hanya diberikan pada klien yang akan dilakukan PPCI dan tidak
diberikan pada klien usia lebih dari 75 tahun atau yang rutin mendapat
clopidrogel.
31

d. Nitrat tablet 5 mg SL maksimal 3 kali, jika masih nyeri dada diberikan


Morphin 2,5–5 mg IV atau Pethidin 25 mg IV atau Nitrat IV dosis dimulai
dari 10 mikrogram/menit.
e. Cek laboratorium: Hb, Ht, Leukosit, Ureum, Kreatinin, GDS, Elektrolit,
CKMB, hs-Troponin (PERKI,2015).

12. Penatalaksanaan Keperawatan


Menurut Devi Darliana (2010) perawat sebagai salah satu anggota team
dalam tatanan keperawatan klinik sangat berperan dalam melakukan pengkajian
riwayat kesehatan secara teliti, mengidentifikasi tanda dan gejala awal ischemia
memberikan intervensi dan implementasi keperawatan yang cepat dan tepat sehingga
akan mengembalikan aliran darah koroner dan mencegah klien dari komplikasi.
Selain itu perawat dapat mengidentifikasi faktor resiko, memodifikasi dan
mempromosikan positive outcomes sehingga dapat hidup lebih produktif.
Penatalaksanaan keperawatan pada klien STEMI diantaranya :
a. Menghilangkan nyeri
Menghilangkan nyeri dada merupakan prioritas utama pada klien dengan
STEMI, dan terapi medis diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga
penatalaksanaan nyeri dada merupakan usaha kolaborasi dokter dengan perawat.
b. Istirahat fisik
Bedrest dengan posisi semifowler atau menggunakan cardiac chair dapat
mengurangi nyeri dada dan dispnea. Posisi kepala yang lebih tinggi sangat
bermanfaat bagi klien karena volume tidal dapat diperbaiki karena tekanan isi
abdomen terhadap diafragma berkurang sehingga pertukaran gas dapat lebih baik,
drainase lobus atas paru lebih baik serta aliran balik vena ke jantung (preload)
berkurang sehingga mengurangi kerja jantung.
c. Memperbaiki fungsi respirasi
Pengkajian fungsi pernafasan yang teratur dan teliti dapat membantu perawat
mendeteksi tanda-tanda awal komplikasi yang berhubungan dengan paru.
Perhatian yang mendalam mengenai status volume cairan dapat mencegah
overload jantung dan paru.
d. Mengurangi kecemasan
Membina hubungan saling percaya dalam perawatan klien sangat penting
untuk mengurangi kecemasan. Rasa diterima dan diperhatikan akan membantu
32

klien mengetahui bahwa perasaan seperti itu masuk akal dan normal, sehingga
diharapkan dapat mengurangi kecemasan.
e. Coronary precaution
Coronary precaution pada klien STEMI yaitu menghindari valsava maneuver.
Valsava maneuver dapat menyebabkan udara terperangkap dalam paru akibat
penutupan glotis dan meningkatnya tekanan darah sistolik dan frekuensi jantung.
Meningkatnya tekanan intrathorak akan menyebabkan penurunan venous return,
penurunan preload, penurunan stroke volume, penurunan cardiac output sehingga
menyebabkan peningkatan heart rate dan vasokontriksi perifer. Ketika tekanan
intrathorak menurun, preload meningkat sehingga akan mengakibatkan
peningkatan beban kerja jantung.
f. Discharge planning
Discharge planning diberikan segera setelah klien dirawat di rumah sakit dan
sebelum pulang klien seharusnya sudah menerima instruksi secara detail follow up
kesehatannya antara lain latihan fisik, diet, obat-obatan, modifikasi faktor resiko
dan kapan harus mencari pertolongan medis.
g. Rehabilitasi jantung
Rehabilitasi jantung bertujuan untuk mengembangkan dan memperbaiki
kualitas hidup klien, sedangkan tujuan jangka pendek adalah mengembalikan
segera mungkin ke gaya hidup normal atau mendekati normal.
h. Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi potensial
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain disritmia, shock kardiogenik, gagal
jantung dan lain-lain yang dapat menimbulkan kematian, oleh karena itu
identifikasi dini tanda dan gejala yang dapat mencetuskan awitan tersebut. Klien
dipantau dengan ketat terhadap perubahan frekuensi irama, bunyi jantung, tekanan
darah, nyeri dada, status pernafasan, haluaran urine, suhu, warna kulit, perubahan
penginderaan dan perubahan nilai laboratorium.

C. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Adapun data yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut :
a. Pengkajian Awal
33

Meliputi nama klien, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, umur, status


perkawinan, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat rumah, serta
tanggal masuk rumah sakit.
b. Pengkajian Data Dasar
1) Riwayat kesehatan sekarang meliputi: alasan masuk IGD, Nyeri dada
biasanya berlangsung > 20menit dan makin lama bertambah berat di dada
kiri, Menjalar ke rahang, leher, lengan, punggung. Nyeri seperti tertekan
beban berat, seperti di remas – remas seperti terbakar atau seperti di tusuk-
tusuk. Timbul mual muntah, perubahan warna kulit (pucat), keringat
dingin, perasaan pusing dan lemas/lelah: Diakibatkan tidak efektifnya
jantung memompa, maka aliran darah ke otot selama melakukan aktifitas
akan berkurang gejala ini biasanya bersifat ringan. Kulit yang dingin dan
pucat: Akibat dari vasokontriksi syaraf simpatis
2) Riwayat kesehatan dahulu
a) Pernah menderita hipertensi beberapa tahun yang lalu dan pernah
dirawat.
b) Memiliki penyakit jantung atau diabetes mellitus
c) Biasanya klien mengalami stress
d) Meliputi penyakit yang pernah diderita klien, apakah ada alergi,
kebiasaan dan pola hidup klien yang buruk jarang olahraga, klien
perokok aktif, mengkonsumsi kopi atau mengkonsumsi makanan yang
berlemak dan lainnya.
3) Riwayat kesehatan keluarga
a) Adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi, kelainan jantung
atau penyakit jantung.
b) Sering juga terdapat riwayat keluarga yang menderita kelainan
pembuluh darah
c) Apakah keluarga ada menderita penyakit ini,dan penyakit alergi
lainnya.
4) Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur, perubahan pola tidur
karena nyeri yang mengganggu saat istirahat.
5) Sirkulasi
34

a) Mempunyai riwayat penyakit jantung koroner, kelainan jantung, CHF,


Tekanan darah tinggi, diabetes melitus.
b) Tekanan darah yang meningkat, nadi mungkin normal atau
terlambatnya capilary refill time, disritmia.
c) Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin
mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan
kontraktilitasnya.
d) Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau
muskulus papilaris yang tidak berfungsi.
e) Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachycardi
atau bradicardia).
f) Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal
g) Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin
juga timbul dengan gagal jantung.
h) Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku
6) Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.
7) Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat
banyak, muntah dan perubahan berat badan.
8) Hygiene perseorangan
Mengkaji kebersihan personal hygien meliputi mandi, kebersihan badan,
gigi dan mulut, rambut, kuku dan pakaian dan kemampuan serta
kemandirian dalam melakukan kebersihan diri.
9) Neuron sensori
Rasa kehabisan tenaga (fatigue) di sebabkan karena kurangnya suplai
oksigen ke otot dan seluruh tubuh, synkope.
10) Kenyamanan
a) Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan
beristirahat atau dengan nitrogliserin.
b) Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar
sampai ke lengan, rahang dan wajah.
c) Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat
yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di
35

dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan postur tubuh, menangis,


penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, EKG, tekanan
darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.
11) Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok
dengan PPOK. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan
respirasi, pucat, suara nafas bronkovesikuler atau vesikuler. Sputum jernih
atau juga merah muda/ pink tinged.
12) Interaksi social
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak
terkontrol.
13) Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes,
stroke, hipertensi, perokok.
14) Studi diagnostic
a) ECG menunjukan : adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari
iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda
dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis
b) Enzym dan isoenzym pada jantung : CPK-MB meningkat dalam 4-
12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT
dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
c) Elektrolit : ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya
penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo
atau hiperkalemia.
d) Whole blood cell : leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari
setelah serangan.
e) Analisa gas darah : Menunjukan terjadinya hipoksia atau
ketidakseimbangan asam dan basa.
f) Kolesterol atau trigliseid : mungkin mengalami peningkatan yang
mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
g) Chest X ray : mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF,
atau aneurisma ventrikiler.
h) Echocardiogram : Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan
fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
36

i) Exercise stress test : Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi


terhadap suatu stress/ aktivitas.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri (biologi, kimia, fisik,
psikologis), kerusakan jaringan
b. Penurunan curah jantung b/d gangguan irama jantung, stroke volume,
pre load dan afterload, kontraktilitas jantung.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan antara
suplei oksigen dengan kebutuhan
d. Gangguan Pertukaran gas Berhubungan dengan :ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
e. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan : Mekanisme
pengaturan melemah
f. Kecemasan berhubungan denganFaktor keturunan, Krisis situasional,
Stress, perubahan status kesehatan, ancaman kematian, perubahan
konsep diri, kurang pengetahuan dan hospitalisasi

3. INTERVENSI

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
37

Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :


dengan:  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
Agen injuri (biologi, kimia,  pain control, komprehensif termasuk lokasi,
fisik, psikologis), kerusakan  comfort karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
jaringan  dan faktor presipitasi
  Observasi reaksi nonverbal dari
DS:  ketidaknyamanan
- Laporan secara verbal   Bantu klien dan keluarga untuk mencari
DO:  level dan menemukan dukungan
- Posisi untuk menahan Setelah dilakukan  Kontrol lingkungan yang dapat
nyeri tinfakan keperawatan mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Tingkah laku berhati-hati selama …. Klien tidak ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Gangguan tidur (mata mengalami nyeri, dengan  Kurangi faktor presipitasi nyeri
sayu, tampak capek, sulit kriteria hasil:  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
atau gerakan kacau,  Mampu mengontrol menentukan intervensi
menyeringai) nyeri (tahu penyebab  Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
- Terfokus pada diri sendiri nyeri, mampu napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
- Fokus menyempit menggunakan tehnik hangat/ dingin
(penurunan persepsi nonfarmakologi untuk  Berikan analgetik untuk mengurangi
waktu, kerusakan proses mengurangi nyeri, nyeri: ……...
berpikir, penurunan mencari bantuan)  Tingkatkan istirahat
interaksi dengan orang  Melaporkan bahwa  Berikan informasi tentang nyeri seperti
dan lingkungan) nyeri berkurang dengan penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
- Tingkah laku distraksi, menggunakan berkurang dan antisipasi
contoh : jalan-jalan, manajemen nyeri ketidaknyamanan dari prosedur
menemui orang lain  Mampu mengenali nyeri  Monitor vital sign sebelum dan sesudah
dan/atau aktivitas, (skala, intensitas, pemberian analgesik pertama kali
aktivitas berulang-ulang) frekuensi dan tanda
- Respon autonom (seperti nyeri)
diaphoresis, perubahan  Menyatakan rasa
tekanan darah, perubahan nyaman setelah nyeri
nafas, nadi dan dilatasi berkurang
pupil)  Tanda vital dalam
- Perubahan autonomic
38

dalam tonus otot rentang normal


(mungkin dalam rentang  Tidak mengalami
dari lemah ke kaku) gangguan tidur
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
Berhubungan dengan :  Self Care : ADLs  Observasi adanya pembatasan klien
 Tirah Baring atau  Toleransi aktivitas dalam melakukan aktivitas
imobilisasi  Konservasi eneergi  Kaji adanya faktor yang
 Kelemahan menyeluruh Setelah dilakukan tindakan menyebabkan kelelahan
 Ketidakseimbangan keperawatan selama ….  Monitor nutrisi dan sumber energi
antara suplei oksigen Klien bertoleransi terhadap yang adekuat
dengan kebutuhan aktivitas dengan Kriteria  Monitor klien akan adanya kelelahan
Gaya hidup yang Hasil : fisik dan emosi secara berlebihan
dipertahankan.  Berpartisipasi dalam  Monitor respon kardivaskuler
DS: aktivitas fisik tanpa terhadap aktivitas (takikardi,
 Melaporkan secara disertai peningkatan disritmia, sesak nafas, diaporesis,
verbal adanya kelelahan tekanan darah, nadi dan pucat, perubahan hemodinamik)
atau kelemahan. RR  Monitor pola tidur dan lamanya
 Adanya dyspneu atau  Mampu melakukan tidur/istirahat klien
ketidaknyamanan saat aktivitas sehari hari  Kolaborasikan dengan Tenaga
beraktivitas. (ADLs) secara mandiri Rehabilitasi Medik dalam
DO :  Keseimbangan aktivitas merencanakan progran terapi yang
39

dan istirahat tepat.


 Respon abnormal dari  Bantu klien untuk mengidentifikasi
tekanan darah atau nadi aktivitas yang mampu dilakukan
terhadap aktifitas  Bantu untuk memilih aktivitas
 Perubahan ECG : konsisten yang sesuai dengan
aritmia, iskemia kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
 Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi roda,
krek
 Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
 Bantu klien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan positif bagi yang
aktif beraktivitas
 Bantu klien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
 Monitor respon fisik, emosi, sosial
dan spiritual
40

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Gangguan Pertukaran gas NOC: NIC :
Berhubungan dengan :  Respiratory Status : Gas  Posisikan klien untuk memaksimalkan
è ketidakseimbangan perfusi exchange ventilasi
ventilasi  Keseimbangan asam  Pasang mayo bila perlu
è perubahan membran Basa, Elektrolit  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
kapiler-alveolar  Respiratory Status :  Keluarkan sekret dengan batuk atau
DS: ventilation suction
è sakit kepala ketika bangun  Vital Sign Status  Auskultasi suara nafas, catat adanya
è Dyspnoe Setelah dilakukan suara tambahan
tindakan keperawatan
è Gangguan penglihatan  Berikan bronkodilator ;
selama …. Gangguan
DO: -………………….
pertukaran klien teratasi
è Penurunan CO2 -………………….
dengan kriteria hasi:
è Takikardi  Barikan pelembab udara
 Mendemonstrasikan
è Hiperkapnia  Atur intake untuk cairan
peningkatan ventilasi
è Keletihan mengoptimalkan keseimbangan.
dan oksigenasi yang
è Iritabilitas  Monitor respirasi dan status O2
adekuat
è Hypoxia  Catat pergerakan dada,amati
 Memelihara kebersihan
kesimetrisan, penggunaan otot
è kebingungan paru paru dan bebas
tambahan, retraksi otot supraclavicular
è sianosis dari tanda tanda
dan intercostal
è warna kulit abnormal distress pernafasan
 Monitor suara nafas, seperti dengkur
(pucat, kehitaman)  Mendemonstrasikan
 Monitor pola nafas : bradipena,
è Hipoksemia batuk efektif dan suara
takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
è hiperkarbia nafas yang bersih, tidak
cheyne stokes, biot
è AGD abnormal ada sianosis dan
 Auskultasi suara nafas, catat area
dyspneu (mampu
è pH arteri abnormal
penurunan / tidak adanya ventilasi dan
mengeluarkan sputum,
èfrekuensi dan kedalaman
suara tambahan
mampu bernafas
nafas abnormal
dengan mudah, tidak  Monitor TTV, AGD, elektrolit dan
ada pursed lips) ststus mental
41

 Tanda tanda vital  Observasi sianosis khususnya membran


dalam rentang normal mukosa
 AGD dalam batas  Jelaskan pada klien dan keluarga
normal tentang persiapan tindakan dan tujuan
 Status neurologis penggunaan alat tambahan (O2,
dalam batas normal Suction, Inhalasi)
 Auskultasi bunyi jantung, jumlah, irama
dan denyut jantung

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kelebihan Volume Cairan NOC : NIC :
Berhubungan dengan :  Electrolit and acid  Pertahankan catatan intake dan
- Mekanisme base balance output yang akurat
pengaturan melemah  Fluid balance  Pasang urin kateter jika diperlukan
- Asupan cairan  Hydration  Monitor hasil lab yang sesuai dengan
berlebihan Setelah dilakukan retensi cairan (BUN , Hmt ,
DO/DS : tindakan keperawatan osmolalitas urin )
- Berat badan selama …. Kelebihan  Monitor vital sign
meningkat pada volume cairan teratasi  Monitor indikasi retensi / kelebihan
waktu yang singkat dengan kriteria: cairan (cracles, CVP , edema,
- Asupan berlebihan  Terbebas dari edema, distensi vena leher, asites)
dibanding output efusi, anaskara  Kaji lokasi dan luas edema
- Distensi vena  Bunyi nafas bersih,  Monitor masukan makanan / cairan
jugularis tidak ada  Monitor status nutrisi
- Perubahan pada pola dyspneu/ortopneu  Berikan diuretik sesuai interuksi
nafas, dyspnoe/sesak  Terbebas dari distensi  Kolaborasi pemberian obat:
nafas, orthopnoe, vena jugularis, ....................................
suara nafas abnormal  Memelihara tekanan
 Monitor berat badan
(Rales atau vena sentral, tekanan
 Monitor elektrolit
crakles), , pleural kapiler paru, output
 Monitor tanda dan gejala dari odema
effusion jantung dan vital sign
- Oliguria, azotemia DBN
42

- Perubahan status  Terbebas dari


mental, kegelisahan, kelelahan, kecemasan
kecemasan atau bingung

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
- Koping
Faktor keturunan, Krisis kecemasan)
Setelah dilakukan asuhan
situasional, Stress,
 Gunakan pendekatan yang
selama ……………klien
perubahan status kesehatan,
menenangkan
kecemasan teratasi dgn
ancaman kematian,
 Nyatakan dengan jelas harapan
kriteria hasil:
perubahan konsep diri,
terhadap pelaku klien
 Klien mampu
kurang pengetahuan dan
 Jelaskan semua prosedur dan apa
mengidentifikasi dan
hospitalisasi
yang dirasakan selama prosedur
mengungkapkan
gejala cemas  Temani klien untuk memberikan
DO/DS:  Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi takut

mengungkapkan dan  Berikan informasi faktual


- Insomnia
menunjukkan tehnik mengenai diagnosis, tindakan
- Kontak mata kurang
untuk mengontol prognosis
- Kurang istirahat
cemas  Libatkan keluarga untuk
- Berfokus pada diri sendiri
 Vital sign dalam batas mendampingi klien
- Iritabilitas
- Takut normal  Instruksikan pada klien untuk

- Nyeri perut  Postur tubuh, ekspresi menggunakan tehnik relaksasi

- Penurunan TD dan denyut wajah, bahasa tubuh  Dengarkan dengan penuh

nadi dan tingkat aktivitas perhatian

- Diare, mual, kelelahan menunjukkan  Identifikasi tingkat kecemasan

- Gangguan tidur berkurangnya  Bantu klien mengenal situasi yang


- Gemetar kecemasan menimbulkan kecemasan
- Anoreksia, mulut kering  Dorong klien untuk
- Peningkatan TD, denyut mengungkapkan perasaan, ketakutan,
nadi, RR persepsi
43

- Kesulitan bernafas  Kelola pemberian obat anti


- Bingung cemas:.......
- Bloking dalam
pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Penurunan curah jantung NOC : NIC :
b/d gangguan irama jantung,  Cardiac Pump Evaluasi adanya nyeri dada
stroke volume, pre load dan effectiveness Catat adanya disritmia jantung
afterload, kontraktilitas  Circulation Status Catat adanya tanda dan gejala
jantung.  Vital Sign Status penurunan cardiac putput

 Tissue perfusion: Monitor status pernafasan yang


DO/DS: perifer menandakan gagal jantung
- Aritmia, takikardia, Setelah dilakukan asuhan Monitor balance cairan
bradikardia selama………penurunan Monitor respon klien terhadap efek
- Palpitasi, oedem kardiak output klien pengobatan antiaritmia
- Kelelahan teratasi dengan kriteria Atur periode latihan dan istirahat
- Peningkatan/penurunan hasil: untuk menghindari kelelahan
JVP  Tanda Vital dalam Monitor toleransi aktivitas klien
- Distensi vena jugularis rentang normal Monitor adanya dyspneu, fatigue,
- Kulit dingin dan lembab (Tekanan darah, Nadi, tekipneu dan ortopneu
44

- Penurunan denyut nadi respirasi) Anjurkan untuk menurunkan stress


perifer  Dapat mentoleransi  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Oliguria, kaplari refill aktivitas, tidak ada  Monitor VS saat klien berbaring,
lambat kelelahan duduk, atau berdiri
- Nafas pendek/ sesak nafas  Tidak ada edema paru,  Auskultasi TD pada kedua lengan dan
- Perubahan warna kulit perifer, dan tidak ada bandingkan
- Batuk, bunyi jantung asites  Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
S3/S4  Tidak ada penurunan selama, dan setelah aktivitas
- Kecemasan kesadaran  Monitor jumlah, bunyi dan irama
 AGD dalam batas jantung
normal  Monitor frekuensi dan irama
 Tidak ada distensi pernapasan
vena leher  Monitor pola pernapasan abnormal
 Warna kulit normal  Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign
 Jelaskan pada klien tujuan dari
pemberian oksigen
 Sediakan informasi untuk mengurangi
stress
 Kelola pemberian obat anti aritmia,
inotropik, nitrogliserin dan vasodilator
untuk mempertahankan kontraktilitas
jantung
 Kelola pemberian antikoagulan untuk
mencegah trombus perifer
 Minimalkan stress lingkungan
45

BAB III
Asuhan Keperawatan Pada Tuan Z (44 th) dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler:
Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST-Elevasi Miocard Infark (STEMI) di Ruangan
ICCU RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2018

A. Pengkajian

1. Identitas

Nama : Tn. Z

Umur / tanggal lahir : 44 tahun / 14-12-1975

Jenis kelamin : Laki-laki

Status perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Suku : Tanjung

Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP)


46

Alamat : Malalak Timur, Agam

No. Rekam medis : 512647

Ruang rawat : ICCU

Lama rawat : 6 hari (26 Desember-31Desember 2018)

Tgl/ jam masuk : 26 Desember 2018/ 06.00 WIB

Tgl/ jam pengkajian : 26 Desember 2018/ 11.00 WIB

Diagnosa Medis : UAP dengan STEMI Inferior

Keluarga terdekat yang dapat segera dihubungi :

Nama : Ny. Y

Umur : 42 tahun

Alamat : Malalak Timur, Agam

Hubungan : Istri

2. Riwayat Kesehatan
a. Alasan Kunjungan/ Keluhan Utama
Tn. Z masuk ke RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi diantar
keluarganya setelah mendapat surat rujukan dari RSUD Achmad
Darwis Suliki pada tanggal 28 Juli 2018. Awalnya, pada jam 23.00
klien merasa nyeri pada dada sebelah kiri kemudian langsung dibawa
ke IGD RSUD Dr. Achmad Darwis Suliki, di IGD sudah dilakukan
pemeriksaan EKG dan pengambilan sampel darah,kemudian karena
RS tersebut tidak memiliki tenaga medis yang sesuai dengan klien
maka klien di rujuk ke RSUD Dr. Achmad Mochtar dan tiba di RSUD
Dr.Achmad Mochtar pada jam 06.00. setelah dari IGD di bawa d
ruang rawat ICCU dengan keluhan yang sama klien masih merasakan
nyeri hebat pada dada kirinya seperti terhimpit beban berat dan tidak
berkurang saat dibawa beristirahat, menjalar ke lengan kiri,.
Klien mengeluh nyeri dada sebelah kiri seperti dihimpit beban
berat dan dada terasa panas menjalar ke lengan dan punggung sejak 2
47

jam SMRS, dengan skala nyeri 8. Tangan terasa dingin dan badannya
berkeringat.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang


Pada saat dilakukan pengkajian 26 Desember 2018, klien
mengatakan masih terasa nyeri pada dada sebelah kiri nyeri terasa
seperti dihimpit beban besar dan terasa terus menerus. Provoking
incident: nyeri dirasakan tidak hanya sedang beraktivitas melainkan
saat istirahat juga terasa. Quality of pain: nyeri yang dirasakan seperti
dihimpit Region, radiation, relief: lokasi nyeri di daerah substernal
atau nyeri di atas pericardium. Penyebaran dapat meluas di dada.
Severity (scale) of pain: klien ditanya dengan menggunakan rentang
0-10 dan klien mengatakan nyeri yang terasa saat ini adalah 7 Time:
nyeri dirasakan terus menerus dan saat istirahat pun nyeri tetap terasa.
Mulai masuk ruang ICCU klien sedang diberikan terapi NTG
dengan rate 0,9 dan cairan intravvena RL dengan rate 21. Klien
mengatakan terasa mual seperti ingin muntah tetapi tidak dapat keluar.
Klien mengeluh badannya terasa lelah dan letih. Klien mengatakan
cemas dengan kondisinya saat ini, selalu terfikirkan anak-anaknya dan
tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

c. Riwayat Kesehatan yang Lalu


1) Penyakit yang pernah dialami dan pengobatan
Klien mengatakan tidak memiliki penyakit yang ketergantungan
dnegan obat-obatan sebelumnya. Biasanya klien hanya sakit
demam dan pusing dan setelah meminum obat dari puskesmas
klien merasa baikan. Klien tidak mengetahun akan penyakit
hipertensi yang dideritanya karena klien jarang memeriksakan
tekanan darah, dan tidak melkaukan pemeriksaan rutin untuk
pengukuran tekanan darah sebelumnya Riwayat diabetes mellitus,
hepatitis, penyakit ginjal dan penyakit menular disangkal oleh
klien.
2) Riwayat alergi
Klien tidak memiliki riwayat alergi obat maupun makanan
48

3) Kebiasaan merokok/kopi/obat-obatan/alkohol/lain-lain
Klien mulai merokok sejak umur 18 tahun sampai 3 tahun yang
lalu akan tetapi 6 nbulan kebelakang klien kembali merokok dan
biasa menghabiskan 1 bungkus/hari. Klien juga biasa meminum
kopi hitam setiap harinya karena tuntuta pekerjaan beliau. Klien
mengaku tidak mengkonsumsi alcoholmaupun obat-obatan
terlarang.
4) Rawatan sebelumnya
Klien mengatakan tidak pernah pernah dirawat di rumah sakit dan
apabila sakit biasanya berobat ke puskesmas

d. Riwayat kesehatan
keluarga Genogram :

Keterangan :
: laki=laki

: perempuan

:Klien
49

: Menikah

: Tinggal serumah

: Meninggal

Klien mengatakan tidak ada mengetahui memiliki turunan penyakit


hipertensi ataupun penyakit jantung dalam keluarganya, akan tetapi
bapak Tn.Z meninggal secara mendadak, dan tidak ada yang
memiliki penyakit seperti diabetes, penyakit ginjal dan penyakit hati
3. Pengkajian Fisiologis
a. Oksigenasi dan Sirkulasi
Tn. Z mengatakan saat ini tidak mengalami sesak napas/
dyspnea, dan mengaku tidak pernah mempunyai riwayat penyakit
paru sebelumnya.

Tn. Z mengetahui akan riwayat hipertensi sabelumnya. Klien


mengaku baru mengetahui kalau ia mempunyai penyakit jantung
semenjak di rawat di RSUD Dr. Achmad Mochtar. Klien mengeluhkan
nyeri dada sebelah kiri dan menyebar ke lengan kirinya.
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada sistem
pernapasan didapatkan hasil pengembangan paru klien simetris kiri
dan kanan, kedalaman nafas dangkal, tidak ada nafas cuping hidung,
terpasang oksigen via nasal kanul 4 l/m. Frekuensi napas 23x/ menit,
fremitus simetris kiri dan kanan, bunyi napas vesikuler. Fungsi mental
baik dan klien tidak gelisah. Pada pemeriksaan sistem kardiovaskuler
didapatkan hasil bunyi jantung normal (S1 dan S2), frekuensi denyut
jantung 72x/menit, irama teratur dan kualitas baik. Tidak ada
peningkatan JVP, dengan tekanan vena jugularis 5-2 mm H2O. Tidak
teraba adanya getaran dan dorongan pada jantung. Terdapat nyeri
tekan dan nyeri lepas pada dada sebelah kiri. Tekanan darah 168/83
mmHg, suhu 36,50C. Sa02 99%. Klien tidak sianosis, ekstermitas
teraba hangat. Bentuk kuku normal, tidak ada clubbing finger.
50

Capillary refill time (CRT) <3 detik, warna kuku merah jambu, tidak
ada varises pada ekstermitas klien. Penyebaran rambut merata, tidak
ada alopesia. Warna mukosa bibir merah tua kehitaman, mukosa bibir
kering. Konjungtiva ananemis, sklera anikterik dan klien tidak
mengalami diaphoresis.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium hematologi tanggal 28 Juli
2018, nilai Hb 15,7 g/dl, WBC (White Blood Cell) 12,48 x103/ uL,
HCT (Hematocrit) 43,6%, PLT(Platelet) 159x103/ uL, RBC (Red
Blood Cell) 5,02 x 106/ uL. Hasil pemeriksaan kimia pada tanggal 26
Desember 2018, nilai ureum 20 mg/dl, creatinin 0,99 mg/dl, GD 163
mg/dl, natrium 138,8 mEq/L, kalium 4,06 mEq/L, Klorida 111,1
mEq/L, CKMB 139,9 u/L. Hasil pemeriksaan EKG pada tanggal 26
Desember 2018 didapatkan kesan normal sinus rhytm dengan
anteroseptal infarction ST elevasi V2-V3-AVF, HR : 80x/m.Hasil
pemerikasaan Echocardiografi pada tanggal 27 Desember 2018
didapatkan hasil fungsi global sistolik LV menurun 46.
Berdasarkan pengkajian dan data penunjang diatas, maka
ditemukan masalah keperawatan penurunan curah jantung

b. Makanan dan Cairan


Pada saat sehat klien tidak pernah mengontrol diit dan pola makan.
Klien makan 3 kali sehari dan selalu menghabiskan 1 porsi makannya.
Pada saat sakit klien mendapatkan diit makanan biasa diit jantung
rendah garam (DJ2RG). Klien makan 3x sehari dengan menu dan
angka kecukupan gizi yang telah diatur oleh Ahli Gizi rumah sakit.
Makanan terakhir yang dimakan adalah makan diit DJ2RG jam 10.00.
Nafsu makan klien baik. Saat ini klien merasa mual dan ingin
muntah. Menurut Tn.Z dia tidak ada alergi terhadap makanan apapun.
Klien mengatakan tidak nyeri pada ulu hati,. Tn.Z mengatakan
giginya lengkap dan ada yang berlubang. Berat badan Tn.Z saat sehat
adalah 60 kg dan semenjak sakit klien mengaku tidak mengalami
penurunan berat badan yang drastis, tinggi badan klien 168 cm. Klien
51

mengkonsumsi air putih 3-4 gelas/hari, setiap pagi Tn.Z rutin minum
segelas kopi pada pagi hari dan 2 gelas pada sore atau malam hari.
Tabel 3.1
Perbandingan frekuensi makan dan minum
Sebelum sakit Saat sakit

Makan

Klien mengatakan sebelum sakit Klien mengatakan saat ini tidak


ia makan 3 x sehari dengan porsi ada masalah dengan nafsu
Sedangdanklienselalu makannya. Klien tetap makan
menghabiskan porsi makannya. dengan biasa 3x sehari dan
menghabiskan porsi makannya

Minum

Klien mengatakan sebelum sakit Klien mengatakan saat ini


ia minum air putih+6 gelas sehari minumnya +3-4 gelas sehari
( +1000 cc).

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan hasil bentuk tubuh


normal, klien tidak terpasang NGT, berat badan 60 kg, tinggi badan
168 cm, Indeks Massa Tubuh 21,25 (IMT = normal), lingkar perut 60
cm, lingkar lengan atas 23 cm, turgor kulit baik, tidak terdapat edema
dan asites pada klien. Shifting dullness tidak ada. Klien tidak ada
mengalami pembesaran kelenjar tiroid, hernia maupun halitosis. Tn.Z
tidak menggunakan gigi palsu, tampak ada caries dan karang gigi,
keadaan gusi bersih, bising usus (+) normal 18x/i, terdapat nyeri tekan
pada ulu hati.
Tabel 3.2
Balance Cairan
Hari/Tgl Intake(ml) Output (ml) Balance
(ml)
Rabu/26 Oral: 450 Urin: 970 Intake-
Desember Parenteral: BAB:- Output:
2018 529,5 (979,5-970)
=+9,5
Kamis/27 Oral: 450 Urin: 500 Intake-
Desember Parenteral: BAB: 100 Output
2018 500 IWL:900 (950-1.500)
= -550
52

Jumat/28 Oral:850 Urin: 650 Intake-


Desember Parenteral: BAB: 150 Output
2018 500 IWL: 900 (1.350-
1.700) =
-350
Sabtu/29 Oral: 800 Urin: 700 Intake-
Desember Prenteral: 500 BAB: 100 Output
2018 IWL: 900 (1.300-
1.700)
= - 400
Minggu/30 Oral: 900 Urin: 700 Intake-
Desember Parenteral: BAB:100 Output
2019 500 IWL: 900 (1.400-
1.700)
= - 300
Berdasarkan pemeriksaan penunjang kimia klinik pada tanggal
28 Juli 2018, nilai ureum 20 mg/dl, creatinin 0,99 mg/dl, GD 145
mg/dl, natrium 138,8 mEq/L, kalium 4,06 mEq/L, Clorida 111,1
mEq/L. Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan tidak ada
masalah keperawatan yang ditemukan.

c. Eliminasi
Tn.Z mengatakan saat sehat ia memiliki kebiasaan BAB 1 kali
sehari dengan konsistensi padat dan berwarna kuning. Tetapi saat sakit
ini Tn.Z mengatakan satu hari ini belum BAB hal ini dikarenakan
klien bedrest total dan aktivitas masih dibatasi sehingga sulit untuk
mengeluarkan BAB. BAB terakhir 1 hari SMRS. Tn.Z mengatakan ia
tidak ada mengalami perdarahan saat BAB, hemoroid atau diare. Tn.Z
juga tidak menggunakan ostomy. Saat sehat Tn.Z BAK 6-7 kali
sehari, saat sakit Tn.Z terpasang kateter urin dengan jumlah urin 970
cc/24 jam. Tn.Z tidak ada mengalami retensi urin, disuria,
inkontinensia urin urgensia ataupun tidak lepas, dan Tn.Z tidak pernah
menderita penyakit ginjal/kandung kemih.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan hasil tidak ada nyeri tekan
pada ulu hati, abdomen teraba lunak, tidak ada teraba massa. Lingkar
perut 60 cm. Bising usus (+) normal, 18x/menit. Klien tidak
mengalami hemoroid, tidak terpasang ostomi maupun urostomi.
Warna urine seperti warna teh tetapi agak pudar. Klien terpasang
53

kateter sejak tanggal 26 Desember 2018. Klien telah mendapatkan


terapi obat laxadin 1x10cc. Klien tidak pernah menjalani dialisa.
Tabel 3.3
Frekuensi BAB dan BAK
Eliminasi Sebelum sakit Saat sakit

Saat ini klien 1 hari belum


BAB Biasanya klien BAB 1x ada BAB
sehari di pagi hari sekitar \
pukul 06.00 WIB

BAK Biasanya klien BAK 6-7 Saat ini klien terpasang


x sehari dengan warna kateter dengan jumlah urin
kuning jernih. 970 cc/24 jam

Dari hasil pengkajian di atas tidak ditemukan masalah


keperawatan.

d. Akitivitas dan istirahat


Menurut Tn.Z, dia bekerja sebagai penjual sayur-sayuran di pasar.
Aktivitas yang dilakukan diwaktu luang menonton televisi dan
berkumpul dengan temannya di kedai kopi pada sore hari. Untuk
ADLnya biasanya klien mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari,
mengganti pakaian dua kali sehari, makan 3x sehari, BAB 1x sehari
dan BAK 6-7x sehari dimana semua aktivitasnya tersebut bisa ia
lakukan secara mandiri tanpa bantuan dari keluarga, akan tetapi
semenjak sakit dan dirawat semua aktivitasnya tersebut tidak bisa ia
lakukan lagi secara mandiri dimana dibantu oleh perawat dan
keluarga. Tn.Z mengatakan tidak pernah merasa bosan atau tidak
puas. Tn.Z mengatakan badannya terasa letih dan saat bangun tidur
kurang segar dan pegal-pegal karena berbaring terlalu lama. Tn.Z
tidak mengalami insomnia. Saat sehat Tn.Z tidak memiliki masalah
dalam jam tidur biasanyan tidur pada jam 23.00 -05.00, dan sekarang
saat sakit ia bisa tidur nyenyak lebih kurang 8 jam, tidur siang lebih
kurang selama 4 jam.
54

Dari hasil pengkajian fisik, Tn.Z tidak ada menggunakan


alat bantu. Aktivitas klien banyak dilakukan di tempat tidur. Aktivitas
sehari-hari klien dibantu sepenuhnya oleh keluarga dan perawat.
Aktivitas yang dibantu seperti makan, minum, personal hygiene
(dimandikan oleh perawat dan oral hygiene). Klien mengalami
keterbatasan gerak karena pada tangan kanan terpasang IVFD RL rate
21. Masa/tonus otot baik. Postur tubuh klien normal. Klien tidak ada
mengalami tremor, rentang gerak positif, kekuatan otot bernilai 5.
Klien tidak ada mengalami deformitas atau perubahan bentuk tubuh.
Dari pengkajian dan pemeriksaan penunjang di atas
didapatkan masalah keperawatan intoleransi aktivitas.

e. Proteksi
Tn.Z mengatakan ia tidak pernah mengalami cedera yang dapat
menimbulkan luka. Selain itu klien juga tidak ada alergi terhadap
obat, makanan, cuaca, debu atau factor pencetus alergi lainnya. Dari
hasil pemeriksaan laboratorium Hematologi tanggal 26 Desember
2018 nilai Hb 15,7 g/dl, WBC (White Blood Cell) 12,48 x103/ uL,
HCT (Hematocrit) 43,6%, PLT(Platelet) 159x103/ uL, RBC (Red
Blood Cell) 5.,02 x 106/ uL. Hasil pemeriksaan kimia pada tanggal 26
Desember 2018, nilai ureum 20 mg/dl, creatinin 0,99 mg/dl, GD 145
mg/dl, natrium 138,8 mEq/L, kalium 4,06 mEq/L, Clorida 111,1
mEq/L. Hasil pemeriksaan EKG pada tanggal 25 Desember 2018
didapatkan kesan normal sinus rhytm dengan anteroseptal infarction
ST elevasi V2,V3,AVF , HR : 72x/m.
Tabel 3.4
Skala Resiko Jatuh Morse
NO PENGKAJIAN SKALA NILAI KET.
1. Riwayat jatuh: apakah klienpernah Tidak 0
0
jatuhdalam 3 bulan terakhir? Ya 25

2. Diagnosasekunder: apakah Tidak 0


0
Klien memiliki lebih dari satu penyakit? Ya 15
55

3. Alat Bantu jalan:


-Bedrest/ dibantu perawat 0
- Kruk/ tongkat/ walker 15 0
-Berpegangan padabenda-bendadi
30
Sekitar
4. TerapiIntravena: apakahsaat ini klien Tidak 0
20
terpasanginfus? Ya 20

5. Gayaberjalan/ caraberpindah:
-Normal/ bed rest/ immobile (tidak dapat
0
bergerak sendiri)

0
-Lemah (tidak bertenaga) 10
- Gangguan/ tidak normal (pincang/
20
diseret)

6. Status Mental
-Klienmenyadari kondisi dirinya 0 0

-Klienmengalami keterbatasan dayaingat 15

Total Nilai 20

Berdasarkan pengkajian skala morse didapatkan total nilai 20,


sehingga dapat dikategorikan klien beresiko sedang untuk jatuh dan
dilaksanakan intervensi pencegahan jatuh standar.
Dari hasil pengkajian di atas didapatkan tidak ada masalah
keperawatan
f. Indra/ Sense
Tn.Z mengatakan tidak ada keluhan pada panca indera baik itu
penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap ataupun peraba. Dari
hasil pemeriksaan fisik penglihatan klien normal, tidak menggunakan
kacamata/kontak lensa, tidak ada menderita katarak dan glaukoma,
serta mata tidak buta kiri dan kanan. Pendengaran normal, klien tidak
menggunakan alat bantu dengar dan tidak tuli. Indera pengecapan
normal tidak ada keluhan, klien dapat merasakan rasa manis. Indera
56

peraba normal tidak ada keluhan, klien mampu merasakan sentuhan


pada kulit dan goresan ujung pena di tangannya.
Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan tidak ada
masalah keperawatan yang ditemukan.

g. Neurologi
Tn.Z mengatakan kepalanya kadang-kadang sering pusing,
klien tidak merasakan kesemutan dan kram, klien merasa lemah
dan letih untuk menggerakkan tubuhnya. Klien mengatakan
kepalanya kadang-kadang pusing dan tengkuknya terasa berat.
Tn.Z tidak pernah mengalami stroke maupun kejang.
Berdasarkan pemeriksaan fisik klien didapatkan tingkat
kesadaran klien composmentis dengan GCS 15 (E4M6V5), status
mental baik (orientasi baik terhadap waktu, tempat dan orang).
Klien tidak mengalami disfagia ataupun afasia. Pupil kiri dan
kanan isokhor dengan ukuran 3 mm. Hasil pemeriksaan kaku
kuduk negatif, hasil pemeriksaan reflek patologis negatif. Hasil
pemeriksaan reflek fisiologis positif. Genggaman lepas tangan kiri
dan kanan sama kuat.
Tabel 3.6
Pemeriksaan Nervus Kranialis
No Nervus Data pengkajian
1 N. Olfaktorius Normal, klien bisa mencium dan mengenal
aroma minyak kayu putih dan minyak wangi
yang didekatkan ke hidung klien.
2 N. Optikus Normal, ketajaman penglihatan dan lapang
pandang klien baik.

3 N.Okulomotorius Normal, klien dapat memutar bola mata


mengikuti arah jari perawat ke arah medial
kiri dan kanan maupun atas dan bawah.

4 N. Troklearis Normal, reflek cahaya positif, ukuran pupil


3 mm, kedua pupil isokor

5 N. Trigeminus Normal, klien mampu menggerakkan


rahang ke atas, bawah, kiri dan kanan,
membuka dan menutup mulut, klien dapat
57

merasakan ransangan nyeri pada daerah


maksilaris dan mandibularis, reflek kornea
positif.

6 N. Abdusen Normal, muka klien simetris, klien dapat


melirik ke segala arah, klien dapat
menjulurkan lidah, klien dapat mengedip
dan memejamkan mata secara spontan.

7 N. Fasialis Normal, wajah klien simetris, klien dapat


mengangkat kedua alis, menutup mata kuat-
kuat, menarik bibir seperti tersenyum dan
Meniup

8 N. Vestibulokohklearis Normal, klien dapat menjawab secara

spontan ketika namanya dipanggil.

9 N. Glosofaringeus Normal, klien reflek mau muntah saat


tangkai sendok menyentuh posterior faring

10 N. Vagus Normal, klien bisa menyebutkan bunyi


aaaa, suara terdengar normal, klien mampu
menelan makanan lunak,padat dan air.

11 N. Assesorius Normal, saat membuka mulut, lidah klien


posisinya normal, simetris tidak deviasi ken
kiri atau ke kanan saat di julurkan atau
digerakkan.

12 N. Hipoglosus Normal, klien mampu menjulur dan


menarik lidahnya berulang-ulang dengan
terkoordinasi.

Pemeriksaan CT-Scan tidak dilakukan.Dari hasil pengkajian


diatas makadapat disimpulkan tidak ada masalah keperawatan yang
ditemukan.
h. Endokrin
Tn. Z mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit diabetes
mellitus dan pembengkakan kelenjar. Berdasarkan hasil pemeriksaan
kimia klinik pada 26 Desember 2018 kadar gula darah 147 mg/dL,
tanggal 27 Desember 2018 kadar gula darah 132 mg/dl. .
58

Berdasarkan hasil pengkajian dan pemeriksaan penunjang, dapat


disimpulkan bahwa tidak ada masalah keperawatan yang
ditemukan.
i. Seksualitas
Klien merupakan seorang ayah berumur 44 tahun. Tn.Z
mengatakan tidak ada masalah dalam seksualitasnya dengan istrinya.
Klien sudah disirkumsisi dan tidak mengalami gangguan prostat.
Berdasarkan pengkajian di atas, maka dapat disimpukan bahwa
tidak ada masalah keperawatan yang ditemukan

j. Nyeri dan Ketidaknyamanan


Klien mengatakan nyeri di bagian dada sebelah kiri sejak 2 jam
sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan seperti dihimpit beban
besar dan sedikit berkurang saat dibawa istirahat serta menjalar ke
lengan kiri. Klien mengatakan saat nyeri dia hanya mengusap dada
dengan lama nyeri terasa terus menerus seperti dihimpit beban berat
dan saat istirahat nyeri tetap. Skala nyeri klien 7.
Gambar3.2
Skala nyeri

Berdasarkan pengkajian di atas, maka dapat disimpulkan


masalah keperawatan yang ditemukan adalah Nyeri akut.

4. Mode Konsep Diri


Klien merupakan seorang ayah suami dari 1 orang istri dan dari 2
orang anaknya. Klien adalah kepala keluarga dan merupakan tulang
59

punggung keluarganya. Kesibukan klien sehari-hari adalah sebagai


penjual sayuran dipasar..
a. Sensasi Tubuh
Klien mengatakan badannya terasa lemah dan letih sehingga sulit
untuk beraktivitas.Klien mengatakan tidak tahu mengapa tubuhnya
bisa menjadi seperti sekarang.
b. Citra Tubuh
Klien mengatakan menyukai bagian tubuhnya, namun saat ini klien
merasa tidak tidak puas dengan tubuhnya yang terasa lemah dan
lengannya yang terasa nyeri saat digerakkan.
c. Konsistensi Tubuh
Klien menyadari bahwa dirinya adalah ayah bagi anak dan kepala
keluarga yang mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya. Selama klien di rawat anak laki-laki
sulungnya lah yang menggantikan pekerjaannya.
d. Ideal Diri
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan dapat cepat pulang ke
rumah, klien mengatakan tidak nyaman berada di rumah sakit dan
ingin cepat bisa kembali bekerja seperti biasa.
e. Moral Etik-Spiritual Diri
Klien merupakan umat muslim yang menjalani ibadah sesuai
dengan ajaran agama Islam.Klien percaya bahwa penyakit yang
dideritanya adalah ujian dari Allah SWT. Hanya saja klien tidak
sabar ingin cepat sembuh dan pulang ke rumahnya.Selama sakit
klien tidak dapat menjalankan ibadah seperti biasanya. Berdasarkan
observasi ditemukan hasil, status emosional baik , klien tampak tidak
rileks, tampak tidak sabar, tampak sering menghela napas panjang,
TTV : TD = 168/83mmHg, Nadi = 72 x/ menit, Pernapasan = 23
x/menit, klien tampak sangat peka terhadap rangsangan (iritabilitas).
Berdasarkan pengkajian di atas, dapat disimpulkan tidak ada
masalah keperawatan yang di temukan
5. Mode fungsi peran
Klien berperan sebagai kepala keluarga dan tulang punggung bagi
keluarganya.Klien memiliki hubungan yang baik dengan seluruh anggota
60

keluarganya dan juga masyarakat di lingkungan sekitarnya.Klien merasa


puas dengan peran yang dijalankannya selama ini.Saat ini klien tidak bisa
bekerja karena harus beristirahat di rumah sakit. Klien mengatakan
sewaktu sehat ia sering mengikuti kegiatan yang diadakan oleh
masyarakat seperti gotong royong dan musyawarah. Klien selalu
berpartisipasi dalam terapi, namun sering tampak cemas saat akan
dilakukan tindakan.
Berdasarkan pengkajian diatas, dapat disimpulkan tidak ada masalah
keperawatan.

6. Mode Interdependensi
Klien mengatakan orang yang sangat bermakna dalam hidupnya
adalah keluarganya. Klien terus berharap dan berdoa agar dia diberi
kekuatan untuk bisa menerima keadaannya saat ini dan mampu perlahan-
lahan untuk beraktifitas tanpa dibantu oleh keluarga.
Berdasarkan pengkajian diatas, dapat disimpulkan masalah
keperawatan yang ditemukan adalah perubahan peran.
7. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Baik
b. Tingkat kesadaran : Compos mentis, GCS 15 = E4V5M6
c. BB/ TB = 60 kg/ 168cm
d. Kepala
1) Inspeksi
Keadaan kepala bersih, tidak ada ketombe, rambut berwarna
hitam, penyebaran rambut merata, tidak tampak adanya
pembengkakan, bentuk simetris.
2) Palpasi
Tidak teraba benjolan, klien tidak merasakan nyeri tekan di
kepala, rambut kuat dan lebat serta tidak ada kerontokan.
e. Mata
1) Inspeksi
61

Keadaan mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis,


sklera ikterik, reflek cahaya (+), reaksi pupil isokor (ukuran 3
mm).
2) Palpasi
Tidak teraba benjolan, klien tidak merasakan nyeri tekan.
f. Hidung
1) Inspeksi
Keadaan simetris, warna sama dengan kulit daerah lain, tidak ada
lesi, tidak ada sumbatan, tidak ada perdarahan dan tanda-tanda
infeksi, klien terpasang oksigen via nasal canul 4 l/m.
2) Palpasi
Tidak teraba benjolan, klien tidak merasakan nyeri tekan.

g. Telinga
1) Inspeksi
Bentuk dan ukuran telinga simetris kiri dan kanan, integritas kulit
utuh, warna sama dengan kulit lain, tidak ada serumen, tidak ada
tanda-tanda infeksi, tidak menggunakan alat bantu dengar.
2) Palpasi
Tidak teraba benjolan, klien tidak merasakan nyeri tekan.
h. Mulut
1) Inspeksi
Gigi lengkap, terdapat caries gigi,tidak ada perdarahan dan radang
gusi, lidah simetris dan warna pink, langit-langit utuh, tidak ada tanda-
tanda infeksi, mukosa kering,bibir berwarna merah kehitaman.
i. Leher
1) Inspeksi
Tidak tampak adanya pembesaran kelenjer tyroid, tidak ada
tampak pembesaran limfe dan tidak ada tampak peningkatan JVP.
2) Palpasi
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjer tyroid, tidak teraba
adanya pembesaran KGB (Kelenjer Getah Bening), JVP 5-
2cmH2O.
j. Dada/ Thorax
62

1) Paru
a) Inspeksi : Pergerakkan dada simetris kiri dan kanan,

frekuensi pernapasan 23 x/ menit

b) Palpasi : Taktil fremitus simetris kiri dan kanan

c) Perkusi : Sonor/ resonan diseluruh lapang paru

d) Auskultasi : Vesikuler

2) Jantung

a) Inspeksi : Tidak terlihat ictus cordis di IC V

midklavikula Sinistra

b) Palpasi : Tidak terabaictus cordis di IC V


63

midklavikula Sinistra, capillarry refill time


<3 detik, frekuensi HR : 80x/menit.
c) Perkusi : Pekak pada batas jantung
1) Atas : IC II midklavikula sinistra
2) Bawah : IC V midklavikula sinistra
3) Kiri : Linea axial anterior
4) Kanan : 1 jari midklavikula dextra
d) Auskultasi : Suara jantung normal (S1 dan S2), regular. S1
Lub bunyi jantung satu ditimbulkan oleh penutupan katup mitral dan
trikuspid, S2 Dup bunyi jantung dua ditimbulkan leh penutupan katup
aorta dan pulmonal.
k. Abdomen
1) Inspeksi
Tidak terdapat asites, lesi, kemerahan dan benjolan, tetapi
ditemukan hematoma bekas injeksi lovenoxdi permukaan
abdomen.
2) Auskultasi
Bising usus (+) 18 x/menit
3) Perkusi
Tympan
i
4) Palpasi
Hepar dan lien/ limpa tidakteraba.
l. Ekstremitas
1) Atas
Tangan kanan terpasang infus Ringer Laktat 5 tetes/menit , akral
hangat, CRT < 3 detik, tidak ada edema.
2) Bawah
Kedua kaki simetris kiri dan kanan, tidak ada edema, tidak ada
deformitas, CRT <3 detik.
3) Kekuatan otot
5555 5555

5555 5555
64

m. Integumen
1) Inspeksi
Kulit tampak kering, lesi tidak ada, warrna kulit normal
2) Palpasi
Turgor kulit baik
n. Seksualitas
Tidak dilakukan pengkajian seksualitas karena klien belum bersedia
untuk dilakukan pengkajian.
8. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Tabel 3.6
Pemeriksaan Laboratorium (28 Juli 2018)
No Parameter Nilai Nilai Rujukan

1 HGB 15,7 g/dL 13,0 - 16,0

2 RBC 5,02 x 106/ uL 4,5– 5,5


3 HCT 43,6 % 40,0– 48,0

4 WBC 12,48 x 103/ uL 5,0 – 10,0


5 PLT 159 x 103/ uL 150– 400
6 Kalium 4,06 mEq/ l 3,5– 5,5

7 Natrium 138,8 mEq/ l 135– 147

8 Khlorida 111,1 mEq/ l 100 – 106

10 Glukosa 145 mg/ dL 74 – 106

11 CKMB 139,9uL --- 24,0

b. Pemeriksaan Diagnostik
1) Rontgent Thoraks
65

Gambar 3.2
Pemeriksaan Rontgent Thoraks Proyeksi AP (27 Desember 2018)

Hasil pemeriksaan :
Hasil rontgen thorax telah di ekspertise dengan hasil Tulang dan
jaringan lunak dinding dada tak tampak kelainan. Sinuses tumpul
dan diafragma normal. Cor tidak tampak membesar, CTI normal.
Mediastinum atas tidak tampak melebar. Trakhea relative
ditengah. Pulmo, hili normal, corak bronkhovaskular baik, tidak
tampak infiltrate atau nodul olak bilateral paru. Kesan: Cor tidak
tampak kelainan
2) EKG
Gambar 3.3
Pemeriksaan EKG di RSUD Dr. Achmad Darwis Suliki
(26 Desember 2018)

Hasil interpretasi :
Synus Rhytm dengan Acute Infarction Inferior ,ST elevasi V2-V3,
AVF.
Gambar 3.4
Pemeriksaan EKG ICCU RRSUD Dr. Achmad Mochtar
(26 Desember 2018)
66

Hasil interpretasi :
Synus Rhytem dengan Acute Infarction Inferior ,ST elevasi V2-V3,
AVF.
Gambar 3.5
Pemeriksaan EKG ruang ICCU(27 Desember 2018)

Hasil interpretasi :
Synus Rhytym dengan Acute Infarction Inferior ,ST elevasi V2-V3,
AVF.
Gambar 3.6
Pemeriksaan EKG (31 Desember 2018)

Hasil interpretasi :
Sy Synus Rhytem dengan Acute Infarction Inferior ,ST elevasi V2-
V3, AVF.
3) Echokardiografi
Gambar 3.7
67

Pemeriksaan Echokardiografi (27 Desember 2018)

Hasil: Fungsi global sistolik LV menurun 46% ,Kontraktilitas RV baik

9. Penatalaksanaan Medis
Tabel 3.7
Penatalaksanaan Medis
Tanggal: 26-12-2018
Oral
No Nama Waktu Dosis Indikasi Eefek samping
Obat pemberi
an

1 Simvastati 21.00 1x40 Termasuk golongan - Konstipasi


n mg obat HMG CoA - Infksi saluran napas
reductase inhibitors atas
untuk hiperkolesterol - Banyak buang gas
dan dislipidemia - Peningkatan enzim
hati
- Nyeri otot
- nyeri perut
2 Clopidogre 06.00 1x75 Termasuk golongan - Lebabm,perdarahan
l (CPG) MG antiplatelet, indikasi dibawah kulit
untuk klien dengan - Nyeri perut
serangan - Konstipasi atau
jantung,penyakit diare
jantung koroner, stroke - Gangguan
iskemik pencernaan

3 Laxadyn 06.00 1x10c Termasuk jenis obat - Ruam kulit


Syrup c laksatif indikasi untuk - Pruritus
mengatasi konstipasi, - Persaan terbakar di
perbaikan peristaltic perut
usus, melembutkan - Kolik abdomen
feses - Mual, muntah

4 Aspilet 13.00 1x80 Termasuk dalam - Alergi, gatal


mg golongan NSAID, - Tinja
68

idnikasi obat ini dapat hitam,berdarah


untuk Rheumaoid - batuk darah seperti
arthritis,Neuralgia,mial ampas kopi
gia,pencegahab - mual,muntah
thrombosis dan emboli, - demam
pencegahan primer dan
sekunder infark miokad

5 Ramipril 21.00 1x2,5 Termasuk golongan ACE - Angiodema


mg inhibitor, indikasi untuk - Batuk
hipertensi, gagal - Hipotensi
jantung, setelah - Sakit kepala
serangan jantung - Mual,muntah
- Vertigo
6 Alprazola 21.00 1x0,5 Termasuk golongan - Peningkatan
m mg benzodiazepine, produksi air liur
indikasi unruk - Perubahan susasan
mengatasi kecemasan hati
- Perubahan gairah
seksual
7 Concor 06.00,18 2x2,5 Termasuk golongan - Pusiang
.00 mg Beta blocker,indikasinya - Rasa dingin atau
untuk mengonati kebas
tekanan darah tinggi - Mual,muntah
- Diare,konstipasi
- Kelelahan
Nitrogliseri Termasuk golongan - Pusing
n (NTG) nitrat, indikais untuk - Mual,muntah
mengurangi intensitas - Mersasa lemas
serangan angina,
terutama pada penyakit
jantung

Intravena
No Nama Waktu Dosis Indikasi Efek Samping
Obat pemberia
n

1 Ringer Dari IGD 21cc/jam Tetani - Nyeri dada


laktat hipokalsemik,ketidakseimb - Detak jantung
angan elektrolit,diare, gagal tidak normal
ginjal - Turunnya
akut,hipertensi,kekurangan tekanan darah
kalium kalsium - Ruam kulit
- Bersin-bersin
2 NTG Mulai jam 0,9 cc/jam Termasuk golongan nitrat, - Pusing
07.00 indikais untuk mengurangi - Mual,muntah
intensitas serangan angina, - Mersasa lemas
terutama pada penyakit
69

jantung

3 Ranitidin 18.00,06. 2x50mg Indikasi untuk penderita - Sakit kepala


e 00 maag, dan untuk - Sulit BAB
pengobatan radang saluran - Diare
pencernaan, luka lambung - Nyeri perut
- Gaatal-gatal
pada kulit
4 Lovenox 06.30, 2x0,6 Indikasi untuk mencegah - Muncul gejala
18.00 dan mengobati pembekuan berupa
darah, pencegahan perdarahan
tromboemboli vena,terapi - Timbul reaksi
UAP dan infark miokard alergi kulit
- Diare,dan mual
- pembengkakan
di kaki atau
tangan
10. Discharge Planning
Pada 24 jam pertama saat klien dirawat, klien dan keluarga telah
menerima penjelasan dari perawat mulai dari tahap perkenalan,
penjelasan terhadap lingkungan, ruang perawatan dan staf, penjelasan
tentang tahap-tahap yang akan dilalui, pengkajian riwayat penyakit fisik
dan psikososial spiritual dan status serta perencanaan berdasarkan
kebutuhan pendidikan kesehatan rencana tindak lanjut setelah pulang
dengan persetujuan klien dan keluarga.
Selama perawatan, klien dan keluarga menerima penjelasan
tentang pendidikan kesehatan khususnya penyakit UAP dan STEMI yaitu
pengertian, klasifikasi, penyebab, tanda gejala, komplikasi dan tindakan
pengobatan. Kemudian klien dan keluarga menerima cara meminimalisir
tanda dan gejala nyeri dada apabila muncul pada klien dengan teknik
keperawatan komplementer.
Pada 24-48 jam sebelum pulang, klien dan keluarga kembali
menerima penjelasan tentang perawatan klien UAP dengan STEMI di
rumah yaitu pembatasan akvitas fisik, pembatasan menu makanan,
perubahan pola eliminasi (BAB), minum obat teratur dan kontrol ke poli
jantung 1 minggu setelah pulang.
Pada saat klien pulang , perawat telah mengevaluasi akhir kondisi
klien dan kemampuan fungsional klien dan keluarga terhadap program
lanjutan di rumah
70

11. Data Fokus


Tabel 3.8
Data Fokus
(Rabu, 26 Desember 2018)
Data Subjektif Data Objektif

1. Klien mengatakan nyeri pada dadanya 1. Klien tampak meringis


P: 2. Klien tampak bersikap protektif,
Q: seperti dihimpit
melindungi posisi menghindari nyeri
R: daerah dada sebelah kiri
3. Klien tampak gelisah
S: klien mengatakan skala 7 yang
4. TTV:
dirasakan
TD: 168/83 mmHg
T: klien mengatakan terasa terus
N: 72x/menit
menerus P: 23x/menit
2. Klien mengatakan nyeri dirasakan S: 36,5 C
5. Skala nyeri 7
terus menerus walau dalam keadaan
6. Hasil EKG terlihat adanya gangguan
istirahat
konduksi listrik jantung
3. Klien mengatakan badan terasa lelah
7. Tekanan Darah cenderung tinggi
dan lemas
kisaran 160-170 mmHg
4. Klien mengatakan gelisah
8. Ejection Fraction menurun 46%
5. Klien mengeluh mual
9. Klien tampak lemah
6. Klien mengeluh merasa ingin muntah
10. Klien tampak lemas
7. Klien mengatakan klien badan masih
11. Klien tampak tidka nyaman
terasa letih 12. Klien tampak lemah
8. Klien mengatakan belum dapat 13. Klien tampak terpasang monitor
beripindah posisi sendiri jantung
14. Gambaran EKG klien menunjukan
ST↑
15. Tekanan Darah cenderung tinggi
16. TD: 168/83mmHg
17. Klien terpasang kateter urin
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan penurunan aliran darah koroner, iskemia jaringan
miokardium
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hilangnya kontraktilitas
miokardium.
3. Nausea berhubungan dengan proses pengobatan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen akibat iskemia jaringan miokardium

C. Nursing Care Planning)


No Diagnosa NOC NIC Aktivitas Keperawatan
1. Nyeri Akut Tujuan : setelah dilakukan 1. Manajemen 1. Lakukan pegkajian nyeri
71

berhubungan tindakan keperawatan Nyeri secara komprehensif (P, Q, R,


dengan selama 3x24 jam, S, T)
2. Observasi reaksi nonverbal
penurunan aliran diharapkan nyeri berkurang
dari ketidaknyamanan.
darah koroner, atau hilang dengan Kriteria
3. Kontrol lingkungan yang
iskemia jaringan Hasil klien dapat :
mempengaruhi nyeri seperti
miokardium 1. Mampu mengontrol
suhu ruangan, pencahayaan,
(00132) nyeri dengan kriteria:
kebisingan.
(D.0077)  Mengnal faktor
4. Ajarkan teknik non
penyebab dan farmakologis (relaksasi,
tindakan untuk distraksi dll) untuk mengatasi
mencegah nyeri nyeri.
 menunjukkan 5. Berikan klien posisi yang
tehnik relaksasi nyaman : posisi semi fowler
yang efektif untuk 6. Berikan dukungan terhadap
meningkatkan klien dan keluarga
7. Anjurkan klien untuk
kenyamanan
 menggunakan meningkatkan istirahat yang
tindakan cukup
8. Berikan pendidikan kesehatan
mengurangi nyeri
tentang nyeri seperti
dengan anal gesik
penyebab, durasi dan tindakan
dan non analgesik
pencegahan
secara tepat
 mengenal tanda
pencetus nyeri
untuk mencari 1. Tentukan lokasi nyeri,

pertolongan karakteristik, kualitas dan


 melaporkan gejala keparahan sebelum
2. Kolaborasi,
kepada tenaga pengobatan
Pemberian
kesehatan 2. Berikan obat dengan prinsip 5
analgetik
benar
3. Cek riwayat alergi obat
2. Mnunjukkan tingkat
nyeri dengan kriteria:
 Melaporkan nyeri
berkurang
 Klien tiddak
menunjukkan posisi
tubuh melindungi
72

 Tidak ada
kegelisahan dan
ketegangan otot
 Klien tidak
menunjukkan
perubahan dalam
kecepatan
pernapasan, denyut
jantung dan tekanan
darah.
.
2. Penurunan Tujuan : setelah dilakukan 1. Perawatan 1. Evaluasi nyeri dada
curah jantung tindakan keperawatan Jantung (intensitas, lokasi,,radiasi,
berhubungan selama 5x24 jam, durasi, faktor pemicu
2. Monitor EKG
dengan diharapkan klien
3. Monitor kecenderungan
hilangnya menunjukan curah jantung
tekanan darah dan
kontraktilitas yang adekuat dengan
hemodinamik
miokardium. kriteria Hasil berupa: 4. Auskultasi suara jantung
(00029) 5. Berikan terapi oksigen sesuai
1. Tekanan darah dalam
(D.0008)
kebutuhan
batas normal
6. Monitor intake output secara
2. Denyut jantung dalam
berkala
batas normal
7. Lakukan terapi relaksasi yang
3. Menunjukan
tepat
peningkatan toleransi
8. Monitor kefektifan
terhadap aktivitas
pengobatan
4. Nadi perifer kuat
9. Pantau hasil laboratorium
5. Ukuran jantung
(enzim jantung)
normal
6. Tidak ada angina
7. Tidak ada bunyi
jantung tambahan
,abnormal
3. Nausea Tujuan : setelah dilakukan 1.Manajemen 1. Lakukan penilaian lengkap
berhubungan tindakan keperawatan Mual terhadap mual, termasuk
dengan program selama 2x24 jam, frekuensi,durasi, tingkat
pengobatan diharapkan rasa mual keparahan dan faktor pencetus
2. Observasi tanda-tanda no
(00134) hilang dengan Kriteria
verbal ketidaknyamanan
(D.0076) Hasil berupa:
3. Berikan infomasi mengenai
73

1. Pasien mengatakan mual, seperti penyebab dan


tidak mual berapa lama itu akan
2. Pasien mengatakan
berlangsung
tidak muntah 4. Anjurkan untuk kebersihan
3. Tidak ada peningkatan
mulut
sekresi saliva 5. Tingkatkan istirahat yang
cukup untuk mengurangi mual
4. Intoleransi Tujuan : setelah dilakukan 1. Manajemen 1. Kaji tingkat kemampuan
aktivitas tindakan keperawatan energi klien untuk berpindah dari
berhubungan selama 2x24 jam, tempat tidur, berdiri dan
dengan diharapkan toleransi melakukan aktivitas
ketidakseimbanga aktivitas klien adekuat kehidupan sehari-hari
2. Tentukan penyebab keletihan
n suplai dan dengan Kriteria hasil :
3. Observasi respon jantung
1. Pantau TTV
kebutuhan
2. Tidak ada sesak terhadap aktivitas
oksigen akibat 4. Observasi asupan nutrisi
selama beraktivitas
iskemia jaringan sebagai sumber energy yang
miokardium adekuat
5. Bantu klien untuk bangun
(00092)
(D.0056) dari temapt tidur, atau duduk
disamping tempat tidur
6. Anjurkan klien untuk
melakukan aktivitas haria
sesuai kemampuan energi
7. Pantau TTV setelah
beraktivitas
8. Ajarkan klien untuk
menggunakan teknik nafas
terkontrol selama aktivitas