Anda di halaman 1dari 19

111

BAB V

PEMBAHASAN

Penulis melakukan asuhan keperawatan berdasarkan data yang didapat

pada Tn.Z yang datang ke RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi pada tanggal

26 Desember 2018. Pasien masuk melalui IGD rujukan dari RSUD Dr. Achmad

Darwis Suliki selanjutnya dirawat di ICCU. Pengkajian dimulai pada tanggal 26

Desember 2018 di ruangan ICCU dan pasien dipindahkan ke ruang rawat inap

jantung pada tanggal 27 Desember 2018 jam 17.00 WIB

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan oleh penulis pada

Tn.Z mulai tanggal 26 Desember – 31 Desember 2018 di ruangan rawat ICCU

dan rawat inap jantung RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2018 maka

diketahui hal-hal sebagai berikut :

A. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah tahap awal proses keperawatan dan merupakan

suatu proses yang sistemastis dalam pengumpulan data dari berbagai

sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan

pasien (Potter dan Perry,2005) Dari hasil pengkajian banyak sekali tanda

dan gejala serta penyebab yang sama dengan teori bahwasannya seseorang

tersebut dikatakan mempunyai penyakit Unstable Angina Pectoris (UAP)

dengan ST Elevasi Miocard Infark (STEMI).

Pada saat mengkaji riwayat kesehatan, klien dan keluarga cukup

kooperatif dalam memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk

menegakkan diagnosa keperawatan. Disamping itu dukungan dari penulis

dan perawat di ruang rawat ICCU dan ruang Jantung RSUD Dr. Achmad

Mochtar Bukittinggi sudah sangat baik dalam memberikan asuhan

keperawatan secara profesional kepada Tn.Z


112

Pada saat dilakukan pengkajian keperawatan pada tanggal 26

Desember 2018 Klien mengeluh nyeri dada sebelah kiri seperti dihimpit

beban berat dan dada terasa panas menjalar ke lengan dan punggung sejak

2 jam SMRS, dengan skala nyeri 7. Tangan terasa dingin dan badannya

berkeringat. Klien mengatakan terasa mual dan ingin muntah, klien

mengatakan badannya terasa letih dan lemas.

Klien sebelumnya tidak mengetahui akan penyakitnya dan ini

merupakan serangan pertama yang dialaminya. Klien mengatakan jarang

memeriksakan kesehatannya sebelumnya sehingga tidak mengetahui

memiliki hipertensi dan penyakit jantung. Klien juga mengatakan ayahnya

dahulu meninggal secara mendadak dan juga tidak diketahui penyakit

sebelumnya. Klien memiliki riwayat merokok sejak muda umur 18 tahun.

Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada sistem

didapatkan hasil pergerakan dada pasien simetris kiri dan kanan,

kedalaman nafas dangkal, tidak ada napas cuping hidung, frekuensi napas

23x/menit, fremitus simetris kiri dan kanan, bunyi napas vesikuler, pasien

terpasang oksigen via nasal canul 4 l/m. Pada pemeriksaan sistem

kardiovaskuler didapatkan hasil bunyi jantung normal (S1 dan S2),

frekuensi denyut jantung 72x/menit, irama teratur dan kualitas baik. Tidak

ada peningkatan JVP, dengan tekanan vena jugularis 5-2 mmH2O.

Tekanan darah 168/83 mmHg, suhu 36,5oC. Pasien tidak sianosis,

ekstermitas teraba hangat. Bentuk kuku normal, tidak ada clubbing finger.

Capillary refill time (CRT) <3 detik, warna kuku merah jambu. Warna

mukosa bibir merah tua kehitaman, mukosa bibir kering.Bentuk tubuh

normal, pasien tidak terpasang NGT, berat badan 60 kg, tinggi badan 168

cm, IMT 21,25 (normal) lingkar perut 60 cm, lingkar lengan atas 23 cm,

turgor kulit baik, tidak terdapat asites pada pasien, abdomen teraba lunak,
113

perkusi abdomen timpani, bising usus 18x/menit, ekstermitas atas dan

bawah tidak ada edema. Pasien terpasang kateter.

Pada hasil pemeriksaan laboratorium Hematologi tanggal 26

Desember 2018 nilai Hb 15,7 g/dl, WBC (White Blood Cell) 12,48 x103/

uL, HCT (Hematocrit) 43,6%, PLT(Platelet) 159x103/ uL, RBC (Red

Blood Cell) 5.,02 x 106/ uL. Hasil pemeriksaan kimia pada tanggal 26

Desember 2018, nilai ureum 20 mg/dl, creatinin 0,99 mg/dl, GD 145

mg/dl, natrium 138,8 mEq/L, kalium 4,06 mEq/L, Clorida 111,1 mEq/L.

Hasil pemeriksaan EKG pada tanggal 25 Desember 2018 didapatkan kesan

normal sinus rhytm dengan anteroseptal infarction ST elevasi

V2,V3,AVF , HR : 72x/m.

Sedangkan pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada Tn. Z

menunjukkan hasil bahwa Hasil rontgen thorax telah di ekspertise dengan

hasil Tulang dan jaringan lunak dinding dada tak tampak kelainan. Sinuses

tumpul dan diafragma normal. Cor tidak tampak membesar, CTI normal.

Mediastinum atas tidak tampak melebar. Trakhea relative ditengah. Pulmo,

hili normal, corak bronkhovaskular baik, tidak tampak infiltrate atau nodul

olak bilateral paru. Kesan: Cor tidak tampak kelainan. Pemeriksaan EKG

tanggal 26 Desember 2018 didapatkan hasil EKG Synus Rhytm dengan

Acute Infarction Inferior ,ST elevasi V2-V3, AVF.

Berdasarkan pengkajian terhadap Tn. Z didapatkan informasi

bahwa Tn.Z memiliki riwayat penyakit hipertensi dan kondisi ini dapat

dikatakan bahawa ada hubungan antara riwayat penyakit hipertensi dengan

kejadian STEMI yang dialami oleh Tn.Z. hasil pengkajian sesuai dengan

temuan teoritis bahwasannya hipertensi menyebabkan peningkatan

tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan

darah sehingga beban kerja jantung bertambah. Kerusakan vaskular akibat


114

hipertensi terlihat di seluruh pembuluh perifer. Perubahan struktur arteri

kecil dan arteriola menyebabkan penyumbatan pembuluh darah

menyempit maka aliran arteri terganggu sehingga menyebabkan mikro

infark jaringan (PERKI,2015)

Sementara itu pada Tn.Z ditemukan tanda dan gejala yang khas

pada penderita ST-Elevasi Miokard Infark (STEMI) seperti nyeri hebat

pada dada terasa seperti terhimpit benda berat dan terasa panas serta

menjalar ke bagian punggung sampai ke lengan, tekanan darah meningkat

dan hasil EKG ditemukan adanya gangguan pada gelombang ST elevasi.

Manifestasi yang ditemukan ini sesuai dengan teori Rilantono (2012) yang

menjelaskan tanda dan gejala ST-Elevasi Miocard Infark (STEMI)

Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Halimudin,2016) tentang tekanan darah denagn kejadian Infark Klein

Acute Coronary Syndrome dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan

Bagus (2018) tentang STEMI inferior dengan bradikardi dan hipotensi

yang menyatakan bahwa diagnosis STEMI ditegakkan jika terdapat

keluhan angina pektoris tipikal berupa rasa tertekan/berat di daerah

retrosternal, menjalar ke lengan kiri, nyeri epigastrium, disertai keluhan

penyerta seperti keringan dingin, sesak napas, mual/muntah dan pada

pemeriksaan EKG didapatkan elevasi segmen ST.

Berdasarkan data di atas, Penulis berasumsi bahwa data yang

didapat saat pengkajian hampir semuanya sesuai dengan keluhan yang

umum dirasakan oleh pasien STEMI secara teoritis maupun berdasarkan

hasil penelitian. Hanya ada sebagian kecil keluhan yang tidak sesuai

dengan teori salah satunya adalah pada Tn. Z tidak mengalami sesak napas

karena status respirasi pasien berada dalam rentang normal hal tersebut
115

dapat terjadi karena setiap klien memiliki respon patologis dan psikologis

yang berbeda-peda terhadap penyakit yang dialaminya.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan

respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan dan perawat

mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya. Respon aktual dan

potensial klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literatur

yang berkaitan, catatan medis klien dimasa lalu yang dikumpulkan selama

pengkajian (Potter dan perry, 2006)

Secara teoritis diagnosa keperawatan yang sering muncul pada

klien dengan Unstable Angina Pectoris (UAP) dan ST-Elevasi Miocard

Infark (STEMI) yaitu :

a. Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri (biologi, kimia, fisik,


psikologis), kerusakan jaringan
b. Penurunan curah jantung b/d gangguan irama jantung, stroke volume,
pre load dan afterload, kontraktilitas jantung.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan antara
suplei oksigen dengan kebutuhan
d. Gangguan Pertukaran gas Berhubungan dengan :ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
e. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan : Mekanisme
pengaturan melemah
f. Kecemasan berhubungan denganFaktor keturunan, Krisis situasional,
Stress, perubahan status kesehatan, ancaman kematian, perubahan
konsep diri, kurang pengetahuan dan hospitalisasi

Dari sekian banyak diagnosa keperawatan yang ada di teoritis,

diagnosa keperawatan yang didapat pada klien dari hasil pengkajian yang

telah penulis kumpulkan, mulai dari pengkajian awal, pengelompokan

data, mengidentifikasi masalah klien, hingga perumusan diagnosa. Penulis


116

menemukan 4 diagnosa keperawatan pada Tn.Z dengan Unstable Angina

Pectoris (UAP) disertai ST-elevasi Miocard Infark (STEMI) berdasarkan

NIC-NOC sebagai berikut :

1. Nyeri Akut berhubungan dengan penurunan aliran darah koroner,

iskemia jaringan miokardium


2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hilangnya

kontraktilitas miokardium.
3. Nausea berhubungan dengan proses pengobatan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai

dan kebutuhan oksigen akibat iskemia jaringan miokardium

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan terdapat

ada 3 perbedaan diagnosa teoritis yang tidak ditemukan pada klien yaitu :

1. Gangguan Pertukaran gas Berhubungan

dengan :ketidakseimbangan perfusi ventilasi

Diagnosa ini tidak ditemukan pada Tn.Z dikarenakan klien

tidak mengalami nafas cepat, dispnea,dan tidak ada masalah dalam

analisa gas darah, perubahan bunyi nafas ataupun sianosis, serta

respirasi klien masih dalam rentang normal sehingga tidak

ditemukan masalah tersebut pada klien.

2. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan : Mekanisme

pengaturan melemah

Diagnosa ini tidak ditemukan pada Tn.Z dikarenakan klien

tidak ada mengalami edema dan intake output klien tidak

mengalami kelebihan balance cairan , klien masih dalam rentang

normal sehingga tidak ditemukan masalah tersebut pada klien.


117

3. Kecemasan berhubungan denganFaktor keturunan, Krisis

situasional, Stress, perubahan status kesehatan, ancaman

kematian, perubahan konsep diri, kurang pengetahuan dan

hospitalisasi

Diagnosa ini tidak ditemukan pada Tn.Z karena tidak

adanya perasaan cemas pada Tn Z, Klien pasrah dan berserah

kepada yang kuasa untuk segera memulihkan kesehatannya, dan

keluarga juga mendukung sepenuhnya,sehingga kecemasan tidak

dirasakan oleh klien..

Berdasarkan diagnose yang terdapat dalam kasus diatas

sejalan dengan penelitian Sunardi, 2006 tentang STEMI Inferior

Posterior Post PTCA di RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta yang

mana ditemukan diagnose berupa Ketidakefektifan bersihan jalan

nafas b.d penurunan energi/kelemahan dan sekresi tertahan,

penurunan Cardiak out-put b.d penurunan hipovolemi (preload)

nyeri akut b.d iskemia miokard, intoleransi aktifitas b.d

ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan dan resiko

infeksi b.d pemasangan alat invasif (prosedur invasif) . Dari

penelitian tersebut didapatkan dari 3 diagnose sesuai dengan

diagnose di dalam kasus yaitu nyeri akut berhubungan dengan

iskemia miokard, penurunan curah jantung berhubungan dengan

preload dan intoleransi aktivitas berhubungan dengan

ketidakseimbangan suplai oksigen


118

C. Intervensi Keperawatan

Intervensi (perencanaan) adalah kategori dalam perilaku

keperawatan dimana tujuan yang terpusat pada klien dan hasil yang

diperkirakan dan ditetapkan sehingga perencanaan keperawatan dipilih

untuk mencapai tujuan tersebut (Potter dan Perry, 2008).

Selama perencanaan dibuat perioritas terhadap intervensi kepada

Tn.Z selain berkolaborasi dengan klien dan keluarga, juga berkolaborasi

dengan dokter, perawat dan ahli gizi. Hasil yang diharapkan dirumuskan

berdasarkan NOC dengan sasaran spesifik masing-masing diagnosa dan

perencanaan tujuan dengan membuat aktifitas berdasarkan intervensi NIC.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Darliana,2015 untuk

Manajemen Pasien ST Elevasi Miokardial Infark (STEMI) dilakuakn

intervensi untuk menghilangkan nyeri, isirahat fisik, mengurangi

kecemasan, perawatan jantung, rehabilitasi jantun dan pemantaun dan

penatalaksanaan komplikasi potensial

D. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh

perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang

dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria

hasil yang diharapkan.Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi

teraupetik dan menjalin hubungan saling percaya, sehingga klien dan

keluarga nyaman saat dilakukan tindakan asuhan keperawatan. Penyuluhan

dilakukan pada klien dan keluarga, dimana penulis menjelaskan tentang

pengertian, penyebab, tanda dan gejala komplikasi, cara merawat klien


119

dengan Unstable Angina Pectoris (UAP) dengan ST elevasi Miocard

Infark (STEMI) di rumah.

Asuhan keperawatan berupa tindakan yang telah dilakukan kepada

klien selama perawatan dengan diagnosa sebagai berikut :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (iskemik)

Implementasi yang dilakukan yaitu, Melakukan pegkajian

nyeri secara komprehensif (P, Q, R, S, T) , mengobservasi reaksi

nonverbal dari ketidaknyamanan, mengontrol lingkungan yang

mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan,

kebisingan, mengajarkan teknik non farmakologis (Tehnik

Relaksasi Benson) untuk mengatasi nyeri, memberikan klien posisi

yang nyaman : posisi semi fowler, menganjurkan klien untuk

meningkatkan istirahat yang cukup, memberikan pendidikan

kesehatan tentang nyeri seperti penyebab, durasi dan tindakan

pencegahan, molaborasi dalam pemberian Analgetik

Dari implementasi yang telah dilakukan penulitas diatas

sesuai dengan NIC pada kasus yaitu : Pain level, pain control dan

comfort level. Implementasi pada diagnosa ini juga menerapkan

hasil penelitian Tri Sunaryo, Siti Lestari (2014) tentang Pengaruh

Relaksasi Benson Terhadap Penurunan Skala Nyeri Dada Kiri pada

Pasien Acute Myocardial Infarc di RS Dr. Moewardi Surakarta

Tahun 2014: studi dir uangan ICVCU dengan meberikan terapi

analgesic disertai relaksasi benson.


120

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan

kontraktilitas miokardium

Implementasi yang dilakukan yaitu, mengevaluasi nyeri dada

(intensitas, lokasi,,radiasi, durasi, faktor pemicu, memonitoring hasil

EKG, Memonitoring kecenderungan tekanan darah dan

hemodinamik, auskultasi suara jantung, memberikan terapi oksigen

sesuai kebutuhan, memonitoring intake output secara berkala,

melakukan terapi relaksasi yang tepat, memonitoring kefektifan

pengobatan, memantau hasil laboratorium (enzim jantung)

NIC dan NOC pada Kasus yaitu: Cardiac pump, Status sirkulasi

dan Vital sign. Implementasi pada diagnosa ini juga menerapkan hasil

penelitian Eva Pratama Sari, Novi Indah Aderita tentang

Penatalaksanaan Terapi Musik Klasik dengan Masalah Keperawatan

Gangguan Penurunan Curah Jantung pada Pasien Hipertensi di

RSUD Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri

3. Nausea berhubungan dengan proses pengobatan

Implementasi yang dilakukan yaitu melakukan penilaian lengkap

terhadap mual, termasuk frekuensi,durasi, tingkat keparahan dan

faktor pencetus, mengobservasi tanda-tanda non verbal

ketidaknyamanan, memberikan infomasi mengenai mual, seperti

penyebab dan berapa lama itu akan berlangsung, menganjurkan untuk

kebersihan mulut, meningkatkan istirahat yang cukup untuk

mengurangi mual

Dari Implementasi yang telah dilakukan penulis diatas sesuai

dengan NIC dan pada Kasus yaitu : airway management.


121

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan

suplai dan kebutuhan oksigen akibat iskemia jaringan

miokardium

Implementasi yang dilakukan yaitu mengkaji tingkat

kemampuan klien untuk berpindah dari tempat tidur, berdiri dan

melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari , mengobservasi respon

jantung terhadap aktivitas, mengobservasi asupan nutrisi sebagai

sumber energy yang adekuat, membantu klien untuk bangun dari

tempat tidur, atau duduk disamping tempat tidur, menganjurkan klien

untuk melakukan aktivitas harian sesuai kemampuan energy,

memantau TTV setelah beraktivitas, mengajarkan klien untuk

menggunakan teknik nafas terkontrol selama aktivitas

Implementasi pada diagnosa ini juga menerapkan hasil

penelitian Akhmad Rifai, Suharyo Hadisaputro, Supriyadi (2016)

tentang pengaruh mobilisasi dini terhadap perubahan tanda-tanda vital

pada pasien infark miokard akut di ruang ICCU RSUD Dr. Moewardi

Surakarta yaitu mengajarkan pasien secara perlahan miring kiri miring

kanan,duduk dan berjalan serta pengaruhnya terhadap tanda-tanda

vital pasien.

E. Evaluasi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (iskemik)


Pada diagnosa nyeri akut pada hari pertama pengkajian pada

26 Desember 2018 klien mengatakan nyeri di skala 7 dan terus

dilakukan observasi dan implementasi dan pada hari kedua nyeri

berkurang menjadi skala 5 dan terasa hanya hilang timbul, pada

hari ketiga nyeri sudah menjadi skala 4 dan hanya sesekali

muncul pada bagian dada kiri, sampai pada hari ke 6 rawatan


122

nyeri sudah dirasakan hilang dan klien tampak lebih segar dan

tidak meringis. Klien sudah diperbolehkan pulang pada tanggal

31 Desember 2018. Hasil evaluasi terakhir pasien yaitu pasien

mengatakan sudah tidak ada keluhan nyeri dada, pasien tampak

tenang, TTV : TD : 125/68 mmHg N : 64x/m, RR : 20x/i..

Masalah teratasi.

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan

kontraktilitas miokardium

Pada diagnosa penurunan curah jantung setelah dilakukan

implementasi dan evaluasi selama 5x24 jam keadaan klien berangsur

membaik kan tetapi sempat terjadi ketidak stabilan tekanan darah

yang mana pada hari ke empat rawatan tekanan darah klien menjadi

89/51mmHg dengan Nadi 64x/menit, kemudian pada hari kelima

tekanan darah sudah kembali normal pada 119/65 mmHg dengan

Nadi 67x/menit . Klien diperbolehkan pulang pada tanggal 31

Desember 2018. Hasil evaluasi terakhir pasien yaitu klien

mengatakan badannya sudah tidak lemas,dan tidak terasa pusing,

klien tampak lebih segar dengan TTV : TD : 125/68 mmHg N :

64x/m, RR : 20x/i.. Masalah teratasi.

3. Nausea berhubungan dengan proses pengobatan

Pada diagnosa nausea yang dirasakan klien sejaka tanggal 26

Desember 2018 , klien mengatakan mual dan berasa ingin muntah

tetapi muntah tidak dapat dikeluarkan. Setelah dilakukan

implementasi dan evaluasi selama 2x24 jam mual yang dirasakan

klien teratasi pada tanggal 27 Desember 2018 dan Klien

diperbolehkan pulang pada tanggal 31 Desember 2018 . Hasil


123

evaluasi terakhir pasien yaitu pasien mengatakan mual sudah tidak

terasa,dan keadaanya jauh lebih baik dan tampak lebih segar dengan

TTV : TD : 125/68 mmHg N : 64x/m, RR : 20x/i.. Masalah teratasi..

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan

suplai dan kebutuhan oksigen akibat iskemia jaringan

miokardium

Pada diagnosa intoleransi aktivitas setelah dikaukan

implementasi serta evaluasi selama 5x24 jam klien mengatakan sudah

dapat melakukan mobilisasi sendiri dan bada terasa lebih segar. Klien

telah diperbolehkan pulang oleh dokter pada tanggal 31 Desember

2018 . Hasil evaluasi terakhir pasien yaitu pasien sudah mulai duduk

dan berjalan, pasien mengatakan sudah mampu melakukan aktivitas

sendiri, dan badannya mulai bertenaga. Masalah teratasi.


124

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.Z dengan

STEMI di ruangan rawat inap jantung RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi,

maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Konsep Teori Asuhan Keperawatan ST Elevasi Miocard Infark (STEMI)

SKA (Sindrom Koroner Akut) adalah keadaan gangguan aliran darah

koroner parsial hingga total ke miokard secara akut yang penyebabnya

terutama akibat pembentukan trombus didalam arteri koroner yang sifatnya

dinamis, trombus terbentuk karena adanya ruptur/erosi plak aterosklerotik

(Rilantono, 2015).

Ditemukan tanda dan gejala nyeri dada lebih dari 20 menit, bisa hilang

atau tidak hilang dengan obat-obatan, nyeri dirasa berat atau rasa seperti

ditekan dan seperti dicengkram dibelakang sternum menjalar ke rahang, bahu,

punggung dan lengan, biasanya keluhan ini disertai dengan keringat dingin

sebagai respon simpatis, mual dan muntah karena stimulasi vagal dan rasa

lemas tidak bertenaga.

Dapat disimpulkan bahwa STEMI adalah kondisi akut yang disebabkan

oleh tidak seimbangnya antara kebutuhan oksigen dengan suplai oksigen yang

didapatkan miokard maka penanganan fase awal infark miokard adalah

dengan mencegah meluasnya kerusakan miokard lebih lanjut dengan

mengurangi oksigen atau mencukupi kebutuhan oksigen.


125

185

2. Asuhan Keperawatan pada Tn.Z dengan ST Elevasi Miocard Infark

(STEMI)

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada Senin, 30 Juli 2018

pukul 12.00 saat itu penulis sedang follow up di ruang rawat ICCU RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukittinggi. Didapatkan data yang menunjang untuk

ditegakkan 6 (enam) masalah keperawatan yang meliputi :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis

2. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan

kontraktilitas jantung

3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sputum

4. Konstipasi berhubungan dengan kontraktilitas usus menurun

5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara

suplai dengan oksigen

6. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan fungsi

peran.

Penulis telah berhasil menyusun intervensi sesuai dengan NIC dan

NOC dan mengimplementasikan tindakan yang telah direncanakan sesuai

dengan diagnosa yang ditegakkan berdasarkan NANDA. Implementasi

keperawatan dilakukan selama empat hari dan hanya satu masalah

keperawatan yang belum teratasi hingga pasien yaitu konstipasi.

3. Menerapkan Jurnal-Jurnal untuk mengatasi masalah keperawatan pada

Tn.Z dengan STEMI

Jurnal yang dapat penulis implementasikan dan dipakai sebagai

perbandingan dalam kasus ini meliputi :


126

186

1. Efektivitas Foot Hand Massage Terhadap Respon Fisiologis Dan

Intensitas Nyeri Pada Pasien Infark Miokard Akut : Studi Di Ruang

ICCU RSUD DR. Iskak Tulung Agung.

2. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Pembatasan Aktivitas Fisik

Dan Diet Rendah Garam Terhadap Perilaku Pembatasan Aktivitas

Fisik Dan Diet Rendah Garam Pada Pasien Infark Miokard Akut St-

Elevasi (Stemi) Di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang.

3. Pengaruh mobilisasi dini terhadap perubahan tanda-tanda vital pada

pasien infark miokard akut di ruang ICCU RSUD Dr. Moewardi

Surakarta.

4. Perbandingan abdominal massage dengan teknik swedish massage

dan teknik effleurage terhadap kejadian konstipasi pada pasien yang

terpasang ventilasi mekanik di ICU RS Panti Rapih Yogyakarta.

Setelah penulis melakukan analisis terhadap jurnal terkait tentang

masalah STEMI ditemukan adanya persamaan jurnal tersebut dengan masalah

keperawatan pada Tn. Z dengan STEMI. Dimana jurnal dan penelitian tersebut

bisa mendukung tindakan atau implementasi keperawatan yang diberikan

kepada pasien STEMI sehingga kualitas hidup pasien STEMI menjadi lebih

meningkat.

4. Menganalisa hasil penelitian dengan kasus kelolaan dan teori tentang

STEMI

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan ST Elevasi

miokard infark didapatkan perbedaan diagnosa keperawatan secara teoritis

dengan kasus atau masalah keperawatan pada Tn.Z yaitu ketidakefektifan


127

1
87

perfusi jaringan perifer dan gangguan pola tidur, dimana tidak ditemukan

pada kasus data yang mendukung untuk menegakkan diagnosa tersebut.

Setelah penulis melakukan analisis terhadap jurnal terkait tentang

masalah STEMI ditemukan adanya persamaan jurnal tersebut dengan masalah

keperawatan pada Tn. Z dengan STEMI. Dimana jurnal dan penelitian

tersebut bisa mendukung tindakan atau implementasi keperawatan yang

diberikan kepada pasien STEMI sehingga kualitas hidup pasien STEMI

menjadi lebih meningkat.

B. Saran

Dengan telah selesai dilakukannya asuhan keperawatan pada klien dengan ST

elevasi miokard infark (STEMI) diharapkan dapat memberikan masukan terutama

pada :

1. Penulis

Mengasah kemampuan terutama dalam bidang keperawatan medikal bedah

“ST elevasi miokard infark (STEMI)” dalam penerapannya memberikan

asuhan keperawatan yang profesional.

2. Instansi Rawat Inap ICCU dan Jantung RSUD Dr. Achmad Mochtar

Bukittinggi

Sebagai bahan dalam penerapan melaksanakan asuhan keperawatan

berdasarkan evidence based yang telah diakui sehingga dapat memberikan

pelayanan yang lebih baik dan menghasilkan pelayanan yang memuaskan

pada klien.
128

3. Instansi pendidikan

Sebagai bahan ajar mata kuliah sistem kardiovaskuler untuk perbandingan

dalam memberikan konsep asuhan keperawatan secara teori dan praktek

tentang masalah ST-Elevasi Miocard Infark (STEMI).


129