Anda di halaman 1dari 6

1.

Jelaskan tantangan dan kompleksitas perlakuan akuntansi untuk kewajiban entitas terkait
program-program kesetiaan pelanggan (customer loyalty program). Bagaimana perlakuan
akuntansinya?
2. Menurut Saudara/I, isu liabilitas lain apakah yang menantang pada saat ini?

Overview Customer Loyalty Program


Semakin tingginya persaingan bisnis di berbagai sektor industri, baik sektor barang maupun jasa,
hal ini semakin memaksa perusahaan untuk mengerahkan berbagai upaya guna mempertahankan dan
meningkatkan daya tarik perusahaan di mata pelanggan. Loyalitas pelanggan menjadi suatu obsesi bagi
para pemasar agar produknya dapat terus diminati. Menurut Frederick Reichheld dan Earl Sasser, 70%
penjualan berasal dari pelanggan yang loyal dan kenaikan 5% dari loyalitas pelanggan dapat
melipatgandakan keuntungan sebuah perusahaan. (2010:19).
Berbagai cara dilakukan perusahaan untuk mempertahankan konsumennya. Cara ini disebut juga
dengan Customer loyalty program. Program ini dibangun dengan tujuan untuk menjaga keberlangsungan
pertumbuhan perusahaan di hadapan konsumen. Loyalty program dapat memberikan konsumen akses
untuk mendapatkan potongan harga (discount), produk baru, hadiah, voucher khusus atau produk gratis.
Program yang bertujuan untuk memberi reward kepada pelanggan setia ini biasanya diawali dengan
mengidentifikasi kegiatan pembelian pengguna. Pengguna dapat mendaftarkan informasi pribadi mereka
kepada perusahaan dan diberi pengenal unik, misalnya user ID dan menggunakan pengenal tersebut saat
melakukan pembelian.
Perusahaan yang saat ini menerapkan loyalty program:
1. Garuda Indonesia
Dikenal program Garuda Frequent Flyer atau GarudaMiles yang memberikan konsumen banyak
keuntungan dan keistimewaan eksklusif, seperti: counter check-in khusus di airport, kuota bagasi
tambahan, prioritas baggage handling, prioritas waiting-list untuk reservasi tiket, akses untuk
airport lounge Garuda Indonesia dan penawaran menarik dari partner Garuda Indonesia di
seluruh dunia. Selain itu, akumulasi miles pelanggan dapat ditukarkan dengan Award Ticket ke
destinasi favorit pelanggan atau Upgrade Awards dari kelas ekonomi ke bisnis pada penerbangan
pilihan pelanggan.
2. GoJek
GO-JEK merancang program loyalty program dengan satu fitur baru yang berkaitan dengan Go-
Pay, yakni Go-Points. Program ini menggunakan loyalty point untuk setiap transaksi layanan GO-
JEK yang menggunakan Go-Pay. Semakin banyak transaksi, semakin banyak poin yang bisa
didapatkan user dan poin tersebut kemudian bisa ditukarkan dengan berbagai reward, dari mulai
voucher belanja sampai dengan MacBook.
3. Zalora
Di sektor e-commerce, perusahaan fashion marketplace Zalora memiliki program bernama Zalora
Rewards, sebuah program loyalitas di mana pelanggan diizinkan untuk menukarkan poin yang
telah mereka kumpulkan dari belanja online dengan penawaran khusus, kupon belanja gratis,
pembungkus kado gratis, layanan prioritas dan dua fitur segera: akses ke Zalora Shopping Club
dan Personal Shopper. Seperti program loyalitas lainnya, poin dapat ditukarkan saat ini mencapai
ambang batas tertentu, dan akan berlaku dalam 12 bulan.
4. Traveloka
Loyalty program dari Traveloka ialah Traveloka Poin yang bisa dikumpulkan bisa ditukarkan
dengan diskon tiket pesawat atau hotel untuk perjalanan selanjutnya. Untuk bisa mendapatkan
Traveloka Poin, pengguna harus memiliki akun di Traveloka dan menggunakannya saat
bertransaksi. Traveloka Poin hanya tersedia jika pengguna memesan tiket pesawat juga hotel
melalui situs resmi atau Traveloka App (minimum versi 2.12 untuk Android dan iOS). Poin yang
terkumpul berlaku sampai dengan 1 tahun setelah tanggal aktivasi pertama kali.
5. The Bodyshop
Produk kecantikan yang dikenal oleh para wanita ini dikenal banyak memberikan diskon,
terutama bagi pelanggan yang menjadi membernya. Diskon ini diantaranya adalah diskon saat
pelanggan berulang tahun, diskon khusus atas produk tertentu termasuk perolehan poin yang
dapat ditukarkan dengan produk gratis.

Liabilitas (Kewajiban)
Pengertian Liabilitas/Kewajiban
PSAK 57
Provisi
Transaksi pendapatan dapat menimbulkan kewajiban selain penyerahan barang atau jasa yang dijual oleh
entitas. Biasanya kewajiban tersebut berkaitan dengan peristiwa kemudian yang mungkin akan terjadi
yang merupakan layanan purnal jual kepada pelanggan. Hal ini seperti pemberian program hadiah atau
potongan harga bagi pelanggan. Kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti ini disebut dengan
provisi.

Provisi dapat timbul akibat kewajiban hukum dan kewajiban konstruktif. Dalam hal ini, pemberian layanan
purna jual dapat masuk dalam kategori kewajiban konstruktif, yakni kewajiban yang timbul dari tindakan
entitas yang dalam hal ini berdasarkan praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasi, atau
pernyataan baru yang cukup spesifik, entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas
akan menerima tanggung jawab tertentu; dan akibatnya, entitas telah menciptakan ekspektasi valid
kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan tanggung jawab tersebut. (PSAK 57, par 10)

Pengakuan provisi:
Didalam PSAK 57, Provisi diakui jika:
a. Entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat
peristiwa masa lalu;
b. Kemungkinan besar penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi; dan
c. Estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. Jika kondisi di atas tidak
terpenuhi, maka provisi tidak diakui. (2009:57.7)

Pengukuran Provisi
Jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk
menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan. Estimasi terbaik pengeluaran merupakan
jumlah yang secara rasional yang akan dibayar oleh entitas untuk menyelesaikan kewajibannya pada akhir
periode pelaporan.

Beberapa hal yang mempengaruhi pengukuran Provisi:


a. Jika nilai waktu dari uang berdampak material, maka provisi diukur berdasarkan nilai kini
(dilakukan diskonto untuk provisi).
b. Mempertimbangkan peristiwa masa depan yang akan terjadi.
c. Mempertimbangkan dampak peraturan perundang undangan yang kemungkinan akan
diberlakukan.

Customer Loyalty Program


Setelah mempelajari perihal PSAK 57 yang menjadi dasar dalam penentuan kewajiban. Kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa customer loyalty program merupakan bagian dari kewajiban provisi dan
dengan demikian perlu diperlakukan sebagai bagian dari kewajiban entitas. Mengapa demikian? Berikut
ini alasannya:
1. Adanya peristiwa mengikat, yakni peristiwa penjualan produk atau penyediaan jasa yang
menimbulkan kewajiban konstruktif karena adanya kebijakan/tindakan entitas yang telah
menciptakan ekspektasi yang valid bagi pembeli bahwa entitas akan memberikan hadiah/diskon
atas produk/jasa tertentu jika kriteria terpenuhi.
2. Terdapat kemungkinan besar terjadinya pengeluaran sumber daya, baik berkurangnya
pendapatan yang diperoleh perusahaan akibat pemberlakuan diskon maupun pengeluaran
sumber daya perusahaan untuk menyediakan produk-produk atau jasa tertentu kepada
pelanggan secara cuma-cuma.
3. Perusahaan dapat mengestimasi jumlah tersebut secara andal sesuai dengan estimasi terbaik.
Berbagai cara dapat dilakukan, baik dengan mempelajari tren yang berlangsung selama ini
maupun melalui profiling pelanggan.

Lalu tantangannya bagaimana?


Customer loyalty program saat ini telah banyak variasi dan ragamnya. Hampir setiap perusahaan pasti
memiliki program ini, tak terkecuali pedagang kaki lima atau warung di pinggir jalan. Semakin banyaknya
ragam customer loyalty program, semakin tinggi juga tantangan bagi akuntan dalam menerapkan
accounting treatment atas program tersebut.
Berikut ini beberapa diantaranya:
1. Model loyalty program bervariasi. Sebagai contoh, program loyalty yang memberikan potongan
harga atau diskon (non-barang) dapat memiliki accounting treatment yang berbeda dengan
program yang diterapkan GarudaMiles atau Bodyshop yang memberikan reward berupa produk
tertentu secara cuma-cuma (barang).
2. Perusahaan tidak mengenakan batas waktu (expired date) atas loyalty program, namun
pelanggan tidak kunjung meng-exercise poin loyalty-nya. Hal ini dapat menyebabkan
penumpukan kewajiban bagi perusahaan yang pada akhirnya dapat membebani laporan
keuangan.
3. Kesulitan dalam menemukan cara yang efektif dalam menemukan estimasi terbaik atas
pengeluaran sumber daya yang dapat membebani perusahaan di kemudian hari.
4. Sulitnya menentukan sifat dan waktu pengakuan pendapatan bagi perusahaan akibat
ketidakpastian kewajiban yang dapat timbul di masa mendatang.
Akuntansi Customer Loyalty Program

Sebelum adanya IFRIC 13 yang mengatur tentang perlakuan akuntansi atas Customer Loyalty Programs,
secara umum entitas yang mengadakan program tersebut membebankan redeem atas program tersebut
pada beban pemasaran (marketing expense) dengan asumsi bahwa program loyalti merupakan salah satu
cara yang dilakukan penyedia barang dan jasa untuk melakukan promosi kepada pihak konsumen. Namun
demikian, hal tersebut tidaklah tepat apabila dilihat dari sisi akuntansi karena proses transaksi atas
program loyalti tidak dilihat dari “maksud perusahaan bertransaksi—mengundang konsumen”
melainkan “Apa yang konsumen beli dan apa insentif atas pembelian barang tersebut”.
(PricewaterhouseCoopers, 2007)

IFRIC 13 yang masih berupa interpretasi kemudian digantikan keberadaannya dengan IFRS 15 Revenue
from Contracts with Customers pada bulan Mei 2014 dan mulai efektif sejak Januari 2018. Lahirnya IFRS
15 ini juga kemudian menggantikan IAS 11 Construction Contracts, IAS 18 Revenue, IFRIC 18 Transfer of
Assets from Customers dan SIC-13 Revenue-Barter Transactions Involving Advertising Services. IFRS 15
menetapkan bagaimana dan kapan entitas dapat mengakui pendapatan serta mewajibkan entitas untuk
memberikan pengguna laporan keuangan dengan pengungkapan yang lebih informatif dan relevan.
Standar ini menyediakan model tunggal, berdasarkan prinsip lima langkah (the five-step model
framework) untuk diterapkan pada semua kontrak dengan pelanggan.

Di bawah guidance dari standar pendapatan yang baru, harga transaksi dialokasikan ke setiap
performance obligation yang terpisah berdasarkan relative standalone selling prices dari barang atau jasa
yang diberikan kepada pelanggan. Alokasi tersebut perlu disesuaikan jika pertimbangan variabel atau
diskon tertentu diterapkan pada performance obligation tertentu. Dalam hal ini perusahaan atau entitas
yang memiliki loyalty program harus mampu mempertimbangkan pengalokasian harga transaksi, sebab
award credits atau poin yang diterima pelanggan merupakan bagian dari performance obligations yang
harus menjadi pertimbangan pengalokasian transaction price.
Untuk melihat perbedaan yang jelas dari penerapan akuntansi customer loyalty program, silakan simak
tabel berikut ini:

IFRS 15 (New Guidance) Current IFRS


Sebuah opsi untuk memperoleh barang atau jasa Customer loyalty program dicatat sebagai
tambahan bagi pelanggan dapat menimbulkan multiple-element arrangement.
kewajiban kinerja terpisah bagi perusahaan jika
opsi tersebut dilaksanakan oleh pelanggan melalui
Consideration (hadiah) dialokasikan ke award
kontrak yang telah disepakati, misal berupa credit berdasarkan nilai wajarnya (biasanya
pemberian diskon atau penukaran poin dengan menggunakan residual method, meskipun
produk tertentu. panduannya juga memungkinkan penggunaan
relative fair values).
Dalam hal ini, standar pendapatan mengharuskan Jumlah ini ditangguhkan dan diakui sebagai
manajemen untuk memperkirakan harga transaksi pendapatan saat kredit penghargaan ditukarkan
yang akan dialokasikan untuk kewajiban kinerja atau kadaluwarsa. Nilai wajar dari kredit
yang terpisah dan untuk mengakui adanya penghargaan disesuaikan untuk diskon yang
kewajiban kontrak (contract liability) atas tersedia untuk pembeli lain yang tidak masuk ke
kewajiban kinerja yang akan timbul atau diberikan dalam transaksi pembelian awal dan untuk
kepada pelanggan di masa depan. perkiraan penghilangan (kerusakan).

Pedoman ini mengasumsikan bahwa pelanggan


saat ini membayar barang atau jasa masa depan
yang akan diterima melalui award credits yang
diakui bersamaan dengan penjualan saat ini.
Perusahaan mengakui pendapatan untuk opsi
ketika barang atau layanan di masa mendatang
ditransfer ke pelanggan atau ketika opsi berakhir.

Dari pedoman ini, perusahaan diharapkan mampu memperhitungkan poin yang diterbitkan dan hak yang
diperoleh pelanggan dalam program ini sebagai kewajiban kinerja terpisah, yang dapat melibatkan
pengembangan model penilaian yang lebih kuat untuk memungkinkan manajemen mematuhi standar
pendapatan yang baru. Secara khusus, perusahaan perlu mempertimbangkan konsep-konsep seperti
redemption curves, breakage estimates, dan the value of the loyalty award.

Berikut ini contohnya:


Pengecer memiliki program loyalitas yang mempunyai kebijakan untuk memberi imbalan kepada
pelanggan sebesar 1 poin per $1 yang dibelanjakan. Poin dapat ditukarkan dengan $0,10 untuk pembelian
di masa mendatang (tetapi tidak dapat ditukarkan dengan uang tunai). Pelanggan membeli $ 1.000 produk
dengan harga jual normal dan menghasilkan 1.000 poin yang dapat ditukar dengan $ 100 dari pembelian
barang atau layanan di masa mendatang. Pengecer mengharapkan penebusan pelanggan hanya sebesar
950 poin (yaitu, 5% poin tidak akan ditebus hingga kadaluwarsa).
Oleh karena itu, pengecer memperkirakan harga jual yang berdiri sendiri untuk insentif adalah sebesar
$ 0,095 per poin berdasarkan kemungkinan penebusan ($ 0,10 kurang 5%). Bagaimana pertimbangan yang
dialokasikan antara poin dan produk?

Analisis:
Pengecer akan mengalokasikan harga transaksi sebesar $ 1.000 antara produk dan poin berdasarkan
harga jual mandiri relatif sebesar $ 1.000 untuk produk dan $ 95 untuk loyalty reward sebagai berikut:

$1000
Produk $ 913 (1000 × 1000+0,095
)
$95
Poin $ 87 (1000 × 1000+0,095
)

Pendapatan yang dialokasikan untuk produk diakui pada saat kontrol atas produk beralih dan pendapatan
yang dialokasikan ke poin diakui pada saat awal penebusan atau kadaluarsa poin. Perkiraan jumlah
unredeemed loyalty awards yang akan kedaluwarsa diperbarui pada setiap akhir periode dan kewajiban
kontrak disesuaikan.

Sumber:

https://dailysocial.id/post/pentingnya-customer-loyalty-program-bagi-perusahaan

https://turboly.com/blog/2016/12/Menjaga-Hubungan-Dengan-Pelanggan-Melalui-Membership-
Loyalty-Program.html

https://www.comarch.com/trade-and-services/loyalty-marketing/loyalty-
management/?gclid=CjwKCAiAuMTfBRAcEiwAV4SDkSJFCTu-DTausVhKkdIE-
bbHxrmpAkW2X_BSAThKcJEExM0XaMQGExoCImMQAvD_BwE&gclsrc=aw.ds

https://akuntansiterapan.com/2010/06/15/harga-sebuah-loyalitas/

https://catalog-redemption.thebodyshop.co.id/catalog-redemption.html

https://dokumen.tips/documents/perlakuan-akuntansi-atas-customer-loyalty-programs.html

PWC-New revenue guidance Implementation in the consumer markets industry