Anda di halaman 1dari 110

DESA SIAGA

KONSEP DESA SIAGA

DOSEN PEMBIMBING : Rachmawati, M.Kes

NAMA Kelompok 1:
1. Hamidah Dewi Putri
2. Hanifa
3. Jesica Mulyadi
4. Maya Selvia Puspa
5. Unthia AwandaOktari

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN
KESEHATAN BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
DIV KEBIDANAN
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR DESA SIAGA


1. Pengertian

Desa siaga merupakan strategi baru pembangunan kesehatan.Desa


siaga lahir sebagai respon pemerintah terhadap masalah kesehatan di
Indonesia yang tak kunjung selesai.Tingginya angka kematian ibu dan bayi,
munculnya kembali berbagai penyakit lama seperti tuberkulosis paru,
merebaknya berbagai penyakit baru yang bersifat pandemik seperti SARS,
HIV/AIDS dan flu burung serta belum hilangnya penyakit endemis seperti
diare dan demam berdarah merupakan masalah utama kesehatan di
Indonesia.Bencana alam yang sering menimpa bangsa Indonesia seperti
gunung meletus, tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan kecelakaan
massal menambah kompleksitas masalah kesehatan di Indonesia.
Desa siaga merupakan salah satu bentuk reorientasi pelayanan
kesehatan dari sebelumnya bersifat sentralistik dan top down menjadi lebih
partisipatif dan bottom up. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 564/MENKES/SK/VI II/2006, tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Desa siaga, desa siaga merupakan desa yang
penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan
untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa siaga adalah suatu konsep
peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, disertai dengan
pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara
kesehatannya secara mandiri.
Desa yang dimaksud di sini dapat berarti kelurahan atau nagari atau
istilah-istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat-istiadat setempat yang
diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (Depkes, 2007).

2
Konsep desa siaga adalah membangun suatu sistem di suatu desa yang
bertanggung jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di bawah
bimbingan dan interaksi dengan seorang bidan dan 2 orang kader desa.Di
samping itu, juga dilibatkan berbagai pengurus desa untuk mendorong peran
serta masyarakat dalam program kesehatan seperti imunisasi dan posyandu
(Depkes 2009).

2. Tujuan

Secara umum, tujuan pengembangan desa siaga adalah terwujudnya


masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan
kesehatan di wilayahnya. Selanjutnya, secara khusus, tujuan pengembangan
desa siaga (Depkes, 2006), adalah :
1. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang
pentingnya kesehatan.
2. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa.
3. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat.
4. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

3. Sasaran
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan
Desa Siaga dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu
melaksanakan hidup sehat, serta perduli dan tanggap terhadap
permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
b. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku individu dan
keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan
perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh
perempuan dan pemuda; kader; serta petugas kesehatan.
c. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan,
peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti

3
Kepala Desa, Camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur, dan
pemangku kepentingan lainnya.

4. Kegiatan Poskesdes
a. Pengamatan epidemiologis sederhana terhadap penyakit, terutama
penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian
Luar Biasa (KLB), dan faktor-faktor risikonya (termasuk status gizi)
serta kesehatan ibu hamil yang berisiko.
b. Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan KLB, serta faktor-faktor risikonya (termasuk
kurang gizi).
c. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan
kesehatan.
d. Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensinya.
e. Kegiatan-kegiatan lain, yaitu promosi kesehatan untuk peningkatan
keluarga sadar gizi, peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan sehat
(PHBS), penyehatan Iingkungan, dan lain-lain, merupakan
kegiatan pengembangan.
f. Poskesdes juga diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi
berbagai UKBM lain yang dibutuhkan masyarakat desa (misalnya
Warung Obat Desa, Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga,
dan lain-lain). Dengan demikian, Poskesdes sekaligus berperan sebagai
koordinator dan UKBM-UKBM tersebut.

5. Tahap Pengembangan

Pengembangan desa siaga merupakan aktivitas yang berkelanjutan


dan bersifat siklus.Setiap tahapan meliputi banyak aktivitas.
a. Pada tahap 1 dilakukan sosialisasi dan survei mawas diri (SMD), dengan
kegiatan antara lain : Sosialisasi, Pengenalan kondisi desa, Membentuk
kelompok masyarakat yang melaksanakan SMD, pertemuan pengurus,
kader dan warga desa untuk merumuskan masalah kesehatan yang
dihadapi dan menentukan masalah prioritas yang akan diatasi.

4
b. Pada tahap 2 dilakukan pembuatan rencana kegiatan. Aktivitasnya, terdiri
dari penentuan prioritas masalah dan perumusan alternatif pemecahan
masalah. Aktivitas tersebut, dilakukan pada saat musyawarah masyarakat
2 (MMD-2). Selanjutnya, penyusunan rencana kegiatan, dilakukan pada
saat musyawarah masyarakat 3 (MMD-3). Sedangkan kegiatan antara lain
memutuskan prioritas masalah, menentukan tujuan, menyusun rencana
kegiatan dan rencana biaya, pemilihan pengurus desa siaga, presentasi
rencana kegiatan kepada masyarakat, serta koreksi dan persetujuan
masyarakat.
c. Tahap 3, merupakan tahap pelaksanaan dan monitoring, dengan kegiatan
berupa pelaksanaan dan monitoring rencana kegiatan.
d. Tahap 4, yaitu : kegiatan evaluasi atau penilaian, dengan kegiatan berupa
pertanggung jawaban.

Pada pelaksanaannya, tahapan diatas tidak harus berurutan, namun


disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa/kelurahan.

6 Peran Jajaran Kesehatan

a. Peran Puskesmas
Dalam rangka Pengembangan Desa Siaga, Puskesmas merupakan
ujung tombak dan bertugas ganda.yaitu sebagai penyelenggara PONED
dan penggerak masyanakat Desa. Narnun demikian, dalam menggerakkan
masyarakat Desa, Puskesmas akan dibantu oleh Tenaga Fasilitator dari
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang telah dilatih di Provinsi.
Adapun peran Puskesmas adalah sebagai berikut :
1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, termasuk Pelayanan
Obstetrik & Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
2) Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat kecamatan
dan desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga.\
3) Memfasilitasi pengembangan Desa Siaga dan Poskesdes.\
4) Melakukan monitoring Evaluasi dan pembinaan desa siaga.

5
b. Peran Rumah Sakit
Rumah Sakit memegang peran penting sebagai sarana rujukan dan
pembina teknis pelayanan medik. Oleh karena itu, dalam hal ini
peran Rurnah Sakit adalah:
1) Menyelenggarakan pelayanan rujukan, termasuk Pelayanan
Obstetrik & Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
2) Melaksanakan bimbingan teknis medis, khususnya dalam rangka
pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan
bencana di Desa Siaga.
3) Menyelenggarakan promosi kesehatan di Rurnah Sakit dalam
rangka pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan
kedaruratan dan bencana

c. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota


Sebagai penyelia dan pembina Puskesmas dan Rumah Sakit, peran Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota meliputi:
1) Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat
kabupaten/kota dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
2) Merevitalisasi Puskesmas dan jaringannya sehingga mampu
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar dengan baik,
termasuk PONED, dan pemberdayaan masyarakat
3) Merevitalisasi Rumah Sakit sehingga mampu menyelenggarakan
pelayanan rujukan dengan baik, termasuk PONEK, dan promosi
kesehatan di Rumah Sakit.
4) Merekrut/ menyediakan calon-calon fasilitator untuk dilatih
menjadi Fasilitator Pengembangan Desa Siaga.
5) Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas kesehatan dan kader.
6) Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan)
tingkat kabupaten/kota dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
7) Bersama puskesmas melakukan pemantauan, evaluasi dan
bimbingan teknis terhadap Desa Siaga.

6
8) Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa
Siaga.

d. Peran Dinas Kesehatan Provinsi


Sebagai penyelia dan pembina Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi berperan:
1) Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat provinsi
dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
2) Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengembangkan
kemampuan melalui pelatihan -pelatihan manajemen, pelatihan-
pelatihan teknis, dan cara-cara lain.
3) Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengembangkan
kemampuan Puskesmas dan Rumah Sakit di bidang konseling,
kunjungan rumah, dan pengorganisasian masyarakat serta promosi
kesehatan, dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
4) Menyelenggarakan pelatihan Fasilitator Pengembangan Desa Siaga
dengan metode kalakarya (interrupted training).
5) Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan)
tingkat provinsi dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
6) Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pemantauan,
evaluasi dan bimbingan teknis terhadap Desa Siaga.
7) Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa
Siaga.

7. Indikator Keberhasilan Desa Siaga

Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari 4


kelompok indikator, yaitu : indikator input, proses, output dan outcome
(Depkes, 2009).
b. Indikator Input
1) Jumlah kader desa siaga.
2) Jumlah tenaga kesehatan di poskesdes.
3) Tersedianya sarana (obat dan alat) sederhana.

7
4) Tersedianya tempat pelayanan seperti posyandu.
5) Tersedianya dana operasional desa siaga.
6) Tersedianya data/catatan jumlah KK dan keluarganya.
7) Tersedianya pemetaan keluarga lengkap dengan masalah kesehatan
yang dijumpai dalam warna yang sesuai.
8) Tersedianya data/catatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah penderita
gizi kurang, jumlah penderita TB, malaria dan lain-lain).
c. Indikator proses
1) Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa (bulanan, 2 bulanan dan
sebagainya).
2) Berfungsi/tidaknya kader desa siaga.\
3) Berfungsi/tidaknya poskesdes.
4) Berfungsi/tidaknya UKBM/posyandu yang ada.
5) Berfungsi/tidaknya sistem penanggulangan penyakit/masalah kesehatan
berbasis masyarakat.
6) Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.
7) Ada/tidaknya kegiatan rujukan penderita ke poskesdes dari masyarakat.
d. Indikator Output
1) Jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani.
2) Jumlah kunjungan neonates (KN2).
3) Jumlah BBLR yang dirujuk.
4) Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani.
5) Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat M P-AS I.
6) Jumlah balita yang mendapat imunisasi.
7) Jumlah pelayanan gawat darurat dan KLB dalam tempo 24 jam.
8) Jumlah keluarga yang punya jamban.
9) Jumlah keluarga yang dibina sadar gizi.
10) Jumlah keluarga menggunakan garam beryodium.
11) Adanya data kesehatan lingkungan.
12) Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit menular tertentu
yang menjadi masalah setempat.
13) Adanya peningkatan kualitas UKBM yang dibina.

8
e. Indikator outcome
1) Meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari sakitnya.
2) Bertambahnya jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS.
3) Berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.
4) Berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk.

B. KONSEP DASAR POSKESDES


1. Pengertian Poskesdes

Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat


(UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka
mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi
masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat
yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok
Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban
Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007).
Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan melalui pembentukan
Poskesdes, yaitu salah satu upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat ( UKBM ) yang dibentuk di desa dalam rangka
mendekatkan / menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi
masyarakat desa yang meliputi kegiatan peningkatan hidup sehat (
promotif ), pencegahan penyakit ( preventif ), pengobatan (kuratif)
yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan ( terutama bidan ) dengan
melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya.
Desa Siaga dikembangkan melalui penyiapan masyarakat,
pengenalan masalah, perumusan tindak lanjut pencapaian khususnya
kesepakatan pembentukan Poskesdes dan dukungan sumberdaya.

2. Langkah-Langkah Poskesdes
a. Persiapan
PUSAT:
1. Penyusunan pedoman
2. Pembuatan modul pelatihan

9
3. Penyelenggaraan pelatihan bagi pelatih (TOT)
PROVINSI:
1. Penyelenggaraan TOT (tenaga kab/kota)
KABUPATEN/KOTA:
1. Penyelenggaraan pelatihan nakes
2. Penyelenggaraan pelatihan kader
b. Pelaksanaan
PUSAT:
1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain
PROVINSI:
1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain
KABUPATEN/KOTA:
1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain
2. Penyiapan PKM & RS dlm rangka
penanggulangan bencana & kegawatdaruratan
kesehatan
KECAMATAN:
1. Pengembangan dan Pembinaan desa siaga
3. Penyelenggaraan Poskesdes\
a. Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga.
b. Orientasi / Pelatihan Kader Desa Siaga.
c. Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain.
d. Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga.
4. Pembinaan dan Peningkatan Poskesdes
a. Pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan
program-progam pembangunan yang bersasaran desa.
b. Pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk
memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop-
out.(dibantu memperoleh pendapatan tambahan, misalnya
pemberian gaji insentif atau difasilitasi untuk
berwirausaha).

10
5. Indikator Keberhasilan
INPUT:
a. Ada Tidaknya Forum Desa
b. Ada Tidaknya Poskesdes dan sarana bangunan serta
perlengkapannya
c. Ada tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat
d. Ada tidaknya nakes (minimal bidan)
PROSES:
a. Frekuensi Pertemuan forum desa
b. Berfungsi tidaknya poskesdes
c. Berfungsi tidaknya UKBM yang ada
d. Berfungsi tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan
bencana
OUTPUT:
a. Cakupan yankesdas Poskesdes
b. Cakupan pelayanan UKBM lainnya
c. Jumlah kasus Kegawatdaruratan dan KLB\
d. Cakupan RT yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan
PHBS
OUTCOME:
a. Jumlah Penduduk yang sakit
b. Jumlah Penduduk yang menderita gangguan Jiwa
c. Jumlah Ibu melahirkan yang meninggal
d. Jumlah bayi dan balita yang meninggal
e. Jumlah balita Gizi buruk

11
DESA SIAGA
PERGERAKAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MELALUI KEMITRAAN

Dosen Pembimbing: RACHMAWATI, M.KES


Kelompok 2
Disusun oleh :
Alyxia Gita Stellata
AyuPermata Sari
Mutiatul Azizah
Rozalia Jumni Putri
Tri Susanti
Yolanda Vebyola

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


JURUSAN KEBIDANAN
TA.2018/2019

12
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pergerakkan dan Pemberdayaan Masyarakat


Penggerakan dan pemberdayaan masyarakat merupakan Segala
upaya fasilitas yang bersifat tidak memerintah guna meningkatkan
pengetahuan dan mengambil keputusan untuk melakukan pemecahan
dengan benar tanpa atau dengan benar tanpa atau bantuan pihak lain.
Segala upaya fasilitas yang bersifat persuasif dan tidak memerintah
yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, perilaku dan kemampuan
masyarakat dalam menemukan, merencanakan dan memecahkan masalah
menggunakan sumber daya /potensi yg dimiliki dan dukungan tokoh-tokoh
masyarakat serta LSM.
Pembinaan Peran Serta Masyarakat adalah salah satu upaya
pengembangan yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan
penggerakan dan pemberdayaan masyarakat melalui model persuasif dan
tidak memerintah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan
mengoptimalkan kemampuan masyarakat.

B. Tujuan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kemandirian masyarakat dan keluarga dalam bidang
kesehatan, sehingga masyarakat dapat memberikan andil dalam
meningkatkan derajat kesehatannya.
b. Tujuan Khusus
1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam bidang ksehatan.
2) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan
dan peningkatan derajat kesehatannya sendiri.
3) Meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh
masyarakat.

13
C. Prinsip Penggerakkan dan Pemberdayaan

Prinsip – Prinsip Penggerakan adalah:

1. Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat


Di dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan
masyarakat sebaiknya secara bertahap sedapat mungkin menggunakan
sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat, apabila diperlukan
bantuan dari luar bentuknya hanya berupa rangsangan atau
perlengkapan sehingga tidak semata – mata bertumpu pada bantuan
tersebut.
2. Mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan
Peran serta masyarakat di dalam pembangunan kesehatan dapat diukur
dengan makin banyaknya jumlah anggota masyarakat yang mau
memanfaatkan pelayanan kesehatan seperti memanfaatkan Puskesmas,
Pustu, Polindes, mau hadir ketika ada kegiatan penyuluhan kesehatan,
mau menjadi kader kesehatan, mau menjadi peserta Tabulin, dan lain-
lain.
3. Mengembangkan semangat gotong royong dalam pembangunan
kesehatan
Semangat gotong royong yang merupakan warisan budaya masyarakat
Indonesia hendaknya dapat juga ditunjukkan dalam upaya
pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.Adanya
semangat gotong royong ini dapat diukur dengan melihat apakah
masyarakat bersedia bekerjasama dalam peningkatan sanitasi
lingkungan, penggalakan gerakan 3M (menguras-menutup-menimbun)
dalam upaya pemberantasan penyakit demam berdarah, dan lain-lain.
4. Bekerja bersama masyarakat
Setiap pembangunan kesehatan hendaknya Pemerintah atau petugas
kesehatan menggunakan prinsip bekerja untuk dan bersama
masyarakat. Maka akan meningkatkan motivasi dan kemampuan

14
masyarakat karena adanya bimbingan, dorongan, alih pengetahuan dan
keterampilan dari tenaga kesehatan kepada masyarakat.
5. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi kemasyarakatan
yang ada di masyarakat.
Prinsip lain dari penggerakan dan pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan adalah Pemerintah atau tenaga kesehatan hendaknya
memanfaatkan dan bekerja samadengan LSM serta organisasi
kemasyarakatan yang ada di tempat tersebut. Dengan demikian upaya
pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat lebih
berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien).
6. Penyerahan pengambilan keputusan kepada masyarakat.
Semua bentuk upaya penggerakan dan pemberdayaan masyarakat
termasuk di bidang kesehatan apabila ingin berhasil dan
berkesinambungan hendaknya bertumpu pada budaya dan adat
setempat. Untuk itu pengambilan keputusan khususnya yang
menyangkut tata cara pelaksanaan kegiatan guna pemecahan masalah
kesehatan yang ada di masyarakat hendaknya diserahkan kepada
masyarakat, Pemerintah atau tenaga kesehatan hanya bertindak sebagai
fasilitator. Sehingga masyarakat merasa lebih memiliki tanggung
jawab untuk melaksanakannya, karena pada hakekatnya mereka adalah
subjek dan bukan objek pembangunan.

D. Ciri –Ciri Penggerakan Dan Pemberdayaan


1. Upaya yang berlandasan pada penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat
2. Adanya kemampuan/kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri
3. Kegiatan yang segala sesuatunya diatur oleh masyarakat secara
sukarela
4. Kemampuan dan kekuatan dimasyarakat
a. Tokoh-tokoh masyarakat
b. Organisasi masyarakat

15
c. Rana masyarakat
5. Saranan dan material yang dimiliki masyarakat
6. Pengetahuan masyarakat
7. Teknologi yang dimiliki masyarakat
8. Pengembalian keputusan

E. StrategiPenggerakan Dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas
yankes
3. Mengembangkan berbagai cara untuk menggali dan memanfaatkan
sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat untuk pembagunan
kesehatan
4. Mengembangan manajemen sumber daya yang dimilki masyarakat
secara terbuka

F. Pokok Kegiatan Penggerakan Dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Penyampaian persepsi tentang masalah kesehatan yang ada
dimasyarakat dan perencanaan kegiatan untuk pemecahan masalah
Tahapan penyamaan persepsi dan perencanaan kegiatan untuk
pemecahan masalah kesehatan yang dihadiri oleh semua tokoh
masyarakat dan kader kesehatan. Dengan demikian diharapkan ada
kesepakatan tentang bentuk – bentuk kegiatan yang akan dilakukan
untuk memecahkan masalah kesehatan yang telah ditemukan.
2. Pelaksanaan rencana kegiatan
Pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan bersama dilakukan
semaksiamal mungkin oleh masyarakat setempat dengan menggunakan
sumber daya yang ada di masyarakat, sedangkan bantuan dari pihak
luar hanya bersifat rangsangan ataupun pelengkap.
3. Pembinaan dan pengembangan
Pembinaan dan pengembangan kegiatan di tingkat desa selain
dilakukan oleh tingkat kecamatan atau Puskesmas.hendaknya dapat

16
pula dilakukan oleh tokoh – tokoh masyarakat seperti kepala desa,
kepala dusun, ketua RW / RT, ketua LLPK, tokoh agama dan lain
sebagainya. Dengan adanya kegiatan pembinaan dan pengembangan
ini diharapkan masyarakat tetap memiliki semangat untuk melakukan
pembangunan kesehatan di lingkungannya.

G. Kegiatan TeknisPenggerakan Dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Pengamatan epidemiologi sederhana
2. Promosi Kesehatan
3. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
4. PHBS
5. Sanitasi Dasar
6. Kesehatan Ibu dan Anak

Proses Penggerakan Dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Mengenali kondisi dari masyarakat, yaitu :
a. Mengenali karakteristik masyarakat
b. Menggalang kesepakatan dengan berbagai tokoh masyarakat baik
formal maupun non formal
c. Mengenali prioritas keinginan masyarakat
d. Kepemimpinan dalam menggerakan masyarakat
2. Melakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat serta lembaga-
lembaga masyarakat yang ada, dan melibatkan lembaga dan tokoh-
tokoh tersebut dalam kegiatan
3. Menfasilitasi masyarakat dalam kegiatan yang dilakukan dengan
harapan agar terjadi proses pembelajaran dan juga proses menolong
diri sendiri,
4. Menyenggarakan forum pertemuan kelompok-kelompok sebagai
wahana untuk berdiskusi,saling berbagi pengalaman, mengemukakan
masalah dan mencari solusi bersama.
5. Penggalian dan pengembangan potensi masyarakat

17
6. Penumbuhan dan pembentukan wadah dari kegiatan yang berasal dari
pengembangan potensi masyarakat tersebut.
7. Jika Kegiatan Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
dilaksanakan di suatu wilayah sebaiknya dilakukan pada cakupan
masyarakat yang terkecil.

Langkah-Langkah Kegiatan Penggerakan Dan Pemberdayaan


Masyarakat
1. Pertemuan Tingkat Desa (PTD)
a. Tujuan Kegiatan
1) Dikenalnya konsep desa siaga sebagai upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
2) Dikenalnya Poskesdes sebagai wadah koordinasi UKBM yang
merupakan kriteria desa siaga
3) Dikenalnya Poskesdes sebagai wadah koordinasi UKBM yang
merupakan kriteria desa siaga
4) Diperolehnya dukungan pamong dan pemuka masyarakat
dalam pelaksanaan desa siaga
5) Didasari penting SMD (Survei Mawas Diri)
6) Tersusunnya kelompok kerja survei mawas diri dan jadwal
survei.
b. Tempat pertemuana di balai desa
Peserta (camat dokter , tingkat kecamatan) tingkat Desa (kepala
Desa bidan Kader, tokoh masyarakat)

c. Waktu Pertemuan
1) Disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa yang
bersangkutan
2) Pelaksanaan berdasarkan petunjuk dan hasil pertemuan tingkat
kecamatan bidan. Pelaksanaan pertemuan hendaknya diatur
sebagi berikut:

18
a) Pertemuan dibuka oleh kepala desa dengan
memperkenalkan para hadirin dan menjelaskan maksud
pertemuan serta acara pertemuan.
b) Kepala desa mempersilahkan camat atau wilayah untuk
memberikan sambutan atau arahan pertemuan
c) Kemudian di bidan desa sebagai pembicara berikutnya
menjelaskan tentang masalah kesehatan dan perlunya Desa
Siaga yang meliputi latar belakang, tujuan dan cara
pelaksanaan serta pentingnya dukungan masyarakat dalam
program tersebut.
d) Selanjutnya didiskusikan bersama tentang langkah kegiatan
khususnya tentang survei mawas diri, waktu pelaksanaan
survei dan kelompok yang akan melakukan survei, serta
ditentukannya waktu untuk mengadakan musyawarah
masyarakat desa.

2. Survei Mawas Diri (SMD)


SMD adalah kegiatan perkenalan, pengumpulan dan pengkajian
masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat dan kader setempat dibawah
bimbingan bides
a. Tujuan SMD :
1) Masyarakat mengenal, mengumpulkan data, mengkaji masalah
kes
2) Timbul minat dan kesadaran masyarakat
3) SMD dilaksanakan didesa terpilih dengan memilih lokasi
tertentu
4) SMD dilaksanakan oleh Kader yg telah ditunjukan oleh kader
masyarakat
5) Waktu SMD dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan
b. Cara pelaksanaan
1) Bidan Desa dan kader yg ditugaskan untuk melaksanakan
survey mawas diri meliputi :

19
a) Kelompok pelaksanaan SMD dengan bimbingan Bides
b) Penentuan sasaran baik jumlah KK atau pun lokasi.
c) Penentuan jenis informasi masalah kesehatan yang akan
dikumpulkan untuk mengenal masalah kesehatan.
d) Penentuan cara memperoleh informasi kesehatan misalnya
apakah akan mempergunakan cara pengamatan atau
wawancara. Cara memperoleh informasi dapat dilakukan
dengan kunjungan dari rumah ke rumah atau melalui
pertemuan kelompok sasaran.
e) Pembuatan instrumen atau alat memperoleh informasi
kesehatan. Misalnya dengan menyusun daftar pertanyaan
(kuesioner), yang akan dipergunakan dalam wawancara
atau membuat daftar hal – hal yang akan dipergunakan
dalam pengamatan .
2) Kelompok pelaksanaan survei mawas diri dengan bimbingan
bidan di desa mengumpulkan informasi masalah kesehatan
sesuai dengan yang direncanakan.
3) Kelompok pelaksanaan survei mawas diri dengan bimbingan
bidan di desa mengolah informasi masalah kesehatan yang
telah dikumpulkan sehingga dapat diperoleh perumusan
masalah kesehatan dan prioritas masalah kesehatan di
wilayahnya.

3. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)


Pertemuan seluruh warga untuk membahas hasil SMD dan
merencanakan penanggulangan masalah kesehatan
a. Tujuan
1) Masyarakat mengenal masalah kesehatan, masyarakat
bersepekat untuk menanggulangi masalah kes, Masyarakat
menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah
kesehatan.

20
2) MMD harus dihadiri oleh pemuka masyarakat desa, petugas
Puskesmas dan sektor terkait
3) MMD dilaksanakan dibalai Desa
4) MMD dilaksanakan segera setelah SMD
b. Cara pelaksanaan
1) Pembukaan dengan menguraikan maksud dan tujuan MMD
dipimpin oleh kepala desa
2) Pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat sendiri melalui
curah pendapat dengan menggunakan alat peraga, poster dan
lain – lain dipimpin bidan desa.
3) Perumusan dan penentuan prioritas masalah kesehatan atas
dasar pengenalan masalah dan hasil SMD dilanjutkan dengan
rekomendasi teknis dari petugas kesehatan di desa atau bidan di
desa.
4) Penyusunan rencana penanggulangan masalah kes
5) Penutup

Tahapan Kegiatan Penggerakan Dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Tahap Penjajakan.
Pada awal penggerakan dan pemberdayaan masyarakat akan tahu apa
sebenarnya yang dibutuhkan dan juga potensi apa yang dimiliki oleh
masyarakat. Dalam tahap ini yang dilakukan adalah : Pengenalan
Masalah dan Penentuan Prioritas Masalah , Identifikasi Potensi
Masyarakat dan Sumber lainnya serta Pemecahan Masalah dan
Pemikiran Alternatif Pemecahan Masalah
a. Pengenalan Masalah
Masalah adalah kesenjangan antara apa yang ditemukan dengan
apa yang seharusnya, atau adanya suatu kesenjangan antara apa
yang diharapkan (what should be) dengan apa yang terjadi (what it
is).
1) Masalah yang menyangkut masyarakat

21
2) Masalah manajemen upaya kesehatan
3) Masalah pada lingkungan
Contoh masalah :
 Target Kunjungan Bumil : 100% dari bumil yang ada
(jumlah bumil 100 orang).
 Hasil Kegiatan : jumlah Kunjungan Bumil 75 orang .
 Kesenjangan : target tidak tercapai (hanya tercapai 75%
dari bumil yang ada)
b. Penentuan Prioritas Masalah
Diusahakan prioritas masalah dipilih melalui kesepakatan.
Penentuan prioritas masalah diperlukan karena adanya keterbatasan
sumber daya dibandingkan dengan problem dan atau kebutuhan
yang harus diselesaikan atau dipenuhi ,problem dan kebutuhan
kesehatan lebih besar dibandingkan dengan sumber daya yang ada .
c. Merumuskan Masalah
WHAT= Apa masalahnya
WHO = Siapa yang terkena masalahnya
WHEN = Bilamana masalah terjadi
WHERE = Dimana masalah terjadi
HOW = Berapa Besar masalahnya
d. Mencari akar penyebab masalah
Kategori yang dapat digunakan adalah : man, money, material,
methode , apa, bagaimana, mengapa, dimana
e. Menetapkan cara-cara memecahkan masalah
Kesepakatan di antara anggota masyarakat.Bila tidak terjadi kesepa
katan dapat digunakan kriteria matriks. Harus dicari alternatif
pemecah an masalahnya.
2. Tahap Perencanaan , dengan membuat rumusan tujuan kegiatan,
menyusun rencana kegiatan dan berikutnya melakukan
pengorganisasian kegiatan.
3. Tahap Persiapan Pelaksanaan,melakukan penyuluhan tentang kegiatan
yang akan dilakukan , selanjutnya dilakukan orientasi dan latihan bagi

22
petugas dan selanjutnya menyiapkan fisik dan non fisik untuk
melaksanakan kegiatan.
4. Tahap Pelaksanaan Kegiatan di Lapangan, adalah melakukan advokasi
kepada penentu kebijakan, Toma-Toga dan komponen masyarakat
lainnya yang mempunyai pengaruh dalam keberhasilan kegiatan,
selanjutnya dilakukukan KIE dan KIP Konseling, melakukan
pemberdayaan institusi masyarakat, dan akhirnya dilakukan pelayanan
program.
5. Monitoring dan Evaluasi

23
MAKALAH DESA SIAGA
KELAS IBU HAMIL, KELAS IBU BALITA
DAN PELAKSANAANNYA
KELOMPOK 3:
1. ANNISA YUSRA A
2. AYU FITRIANTI
3. INDAH MUTHARA
4. PUTRI MELATI W
5. RENDA PRAMESTI
6. VITA AFRIANI
Dosen Pembimbing : Rachmawati, M. Kes

Dosen Pembimbing : Rachmawati, M. Kes

Poltekkes Kemenkes Bengkulu


Tahun Ajaran 2018/2019
BAB II

24
PEMBAHASAN

2.1 Kelas Ibu Hamil


A. Pengertian Kelas Ibu Hamil
Kelas Ibu Hamil ini merupakan sarana untuk belajar bersama
tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam
kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan,
persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit
menular dan akte kelahiran.
Kelas Ibu Hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan
umur kehamilan antara 4 minggu s/d 36 minggu (menjelang persalinan)
dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan
belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan Ibu dan
anak (KIA) secara menyeluruh dan sistimatis serta dapat dilaksanakan
secara terjadwal dan berkesinambungan.
Kelas ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan
menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip chart (lembar
balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, Pegangan Fasilitator Kelas
Ibu Hamil dan Buku senam Ibu Hamil.Fasilitator kelas ibu hamil adalah
bidan atau tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan fasiltator Kelas
Ibu hamil atau melalui on the job training.

B. Tujuan Kelas Ibu Hamil


1. Tujuan Umum:
Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar
memahami tentang Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama
kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan Nifas, KB
pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat
istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.

25
2. Tujuan Khusus:
a. Terjadinya interaksi dan berbagi pengalaman antar peserta (ibu
hamil dengan ibu hamil) dan antar ibu hamil dengan petugas
kesehatan/bidan tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan
selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, Perawatan
Nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir,
mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte
kelahiran.
b. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang:
 Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan (apakah kehamilan itu?,
perubahan tubuh selama kehamilan, keluhan umum saat hamil
dan cara mengatasinya, apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil
dan pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah
untuk penanggulangan anemia).
 perawatan kehamilan (kesiapan psikologis menghadapi
kehamilan, hubungan suami isteri selama kehamilan, obat yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil, tanda bahaya
kehamilan, dan P4K(perencanaan persalinan dan pencegahan
komplikasi).
 persalinan (tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan dan
proses persalinan).
 perawatan Nifas (apa saja yang dilakukan ibu nifas agar dapat
menyusui ekslusif?, bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas,
tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas).
 KB pasca persalinan.
 perawatan bayi baru lahir (perawatan bayi baru lahir, pemberian
k1 injeksi, tanda bahaya bayi baru lahir, pengamatan
perkembangan bayi/anak dan pemberian imunisasi pada bayi baru
lahir).
 mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat yang berkaitan dengan
kesehatan ibu dan anak.

26
 penyakit menular (IMS, informasi dasar HIV-AIDS dan
pencegahan dan penanganan malaria pada ibu hamil).
 akte kelahiran.

C. Sasaran Kelas Ibu Hamil


1. Peserta Kelas Ibu Hamil : Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil
pada umur kehamilan 4 s/d 36 minggu, karena pada umur kehamilan ini
kondisi ibu sudah kuat, tidak takut terjadi keguguran, efektif untuk
melakukan senam hamil. Jumlah peserta kelas ibu hamil maksimal
sebanyak 10 orang setiap kelas.
2. Suami/keluarga ikut serta minimal 1 kali pertemuan sehingga dapat
mengikuti berbagai materi yang penting, misalnya materi tentang
persiapan persalinan atau materi yang lainnya.

D. Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil


Penyelenggaraan kelas Ibu Hamil dapat di dilaksanakan oleh
Pemerintah, Swasta LSM dan Masyarakat
1. Fungsi dan Peran (Provinsi, Kabupaten dan Puskesmas) Pelaksanaan
kelas ibu hamil dikembangkan sesuai dengan fungsi dan peran pada
masing-masing level yaitu : Provinsi, Kabupaten dan Puskesmas.
Provinsi :
- Menyiapkan tenaga pelatih
- Mendukung pelaksanaan kelas ibu hamil (sarana dan prasarana)
- Monitoring dan evaluasi.

Kabupaten :
- Menyiapkan tenaga fasilitator kelas ibu hamil
- Bertanggung jawab atas terlaksananya kelas ibu hamil (dana,
sarana dan prasarana)
- Monitoring dan evaluasi.

27
Puskesmas :
- Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab dan mengkoordinir
pelaksanaan kelas ibu hamil di wilayah kerjanya.
- Bidan/tenaga kesehatan bertanggung jawab dalam pelaksanaan
kelas ibu hamil (identifikasi calon peserta, koordinasi dengan stake
holder, fasilitasi pertemuan, monitoring, evaluasi dan pelaporan).

E. Fasilitator dan Nara Sumber


Fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau petugas kesehatan
yang telah mendapat pelatihan fasilitator kelas ibu hamil (atau melalui on
the job training) dan setelah itu diperbolehkan untuk melaksanakan
fasilitasi kelas ibu hamil.
Dalam pelaksanaan kelas ibu hamil fasilitator dapat meminta
bantuan nara sumber untuk menyampaikan materi bidang tertentu. Nara
sumber adalah tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dibidang
tertentu untuk mendukung kelas ibu hamil.

F. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan kelas
ibu hamil adalah :
a. Ruang belajar untuk kapasitas 10 orang peserta kira-kira ukuran 4 m x
5 m, dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup
b. Alat tulis menulis (papan tulis, kertas, spidol, bolpoin) jika ada
c. Lembar Balik kelas ibu hamil
d. Buku pedoman pelaksanaan kelas ibu hamil
e. Buku pegangan fasilitator
f. Alat peraga (KB kit, food model, boneka, metode kangguru, dll) jika
ada
g. Tikar/karpet (matras)
h. Bantal, kursi(jika ada)
i. Buku senam hamil/CD senam hamil(jika ada)

28
Idealnya kelengkapan sarana dan prasarana seperti tersebut diatas,
namun apabila tidak ada ruangan khusus, dimanapun tempatnya bisa
dilaksanakan sesuai kesepakatan antara ibu hamil dan
fasilitator.Sedangkan kegiatan lainnya seperti senam hamil hanya
merupakan materi tambahan bukan yang utama.
G. Tahapan Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Beberapa tahapan yang dilakukan untuk melaksanakan kelas ibu
hamil :
a. Pelatihan bagi pelatih
Pelatihan bagi pelatih (TOT) Pelatihan bagi pelatih dipersiapkan
untuk melatih bagi para fasilitator di tempat pelaksanaan kelas ibu,
baik di tingkat kabupaten, Kecamatan sampai ke desa.Peserta TOT
adalah bidan atau petugas kesehatan yang sudah mengikuti sosialisasi
tentang Buku KIA dan mengikuti pelatihan fasilitator. Kegiatan TOT
bertujuan untuk mencetak para fasilitator dan selanjutnya fasilitator
akan mampu melaksanakan serta mengembangkan pelaksanaan kelas
ibu hamil. Pelatihan bagi pelatih dilakukan secara berjenjang dari
tingkat provinsi ke tingkat Kabupaten/Kota.
b. Pelatihan bagi fasilitator
Pelatihan fasilitator dipersiapkan untuk melaksanakan kelas ibu
hamil.Fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau petugas kesehatan
yang telah mendapatkan pelatihan fasilitator kelas ibu hamil atau on
the job training.Bagi bidan atau petugas kesehatan ini, boleh
melaksanakan pengembangan kelas ibu hamil di wilayah kerjanya.
Untuk mencapai hasil yang optimal dalam memfasilitasi kelas ibu
hamil, fasilitator hendaknya menguasai materi yang akan disajikan
baik materi medis maupun non medis. Beberapa materi non medis
berikut akan membantu Kemampuan fasilitator dalam pelaksanaan
kelas ibu hamil diantaranya :
- Komunikasi interaktif
- Presentasi yang baik

29
- Menciptakan suasana yang kondusif Penjelasan materi, lihat
pegangan fasilitator.
c. Sosialisasi kelas ibu hamil pada Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat
dan Stakeholder
Sosialisasi kelas ibu hamil pada tokoh agama, tokoh masyarakat
dan stakeholder sebelum kelas ibu hamil dilaksanakan sangat penting.
Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan semua unsur masyarakat
dapat memberikan respon dan dukungan sehingga kelas ibu hamil
dapat dikembangkan dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan
d. Persiapan pelaksanaan kelas ibu hamil
Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pelaksanaan kelas ibu
hamil :
- Melakukan identifikasi/mendaftar semua ibu hamil yang ada di
wilayah kerja. Ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa jumlah
ibu hamil dan umur kehamilannya sehingga dapat menentukan
jumlah peserta setiap kelas ibu hamil dan berapa kelas yang akan
dikembangkan dalam kurun waktu tertentu misalnya, selama satu
tahun.
- Mempersiapkan tempat dan sarana pelaksanaan kelas ibu hamil,
misalnya tempat di Puskesmas atau Polindes, Kantor Desa/Balai
Pertemuan, Posyandu atau di rumah salah seorang warga
masyarakat. Sarana belajar menggunakan, tikar/karpet, bantal dan
lain-lain jika tersedia.
- Mempersiapkan materi, alat bantu penyuluhan dan jadwal
pelaksanaan kelas ibu hamil serta mempelajari materi yang akan
disampaikan.
- Persiapan peserta kelas ibu hamil, mengundang ibu hamil umur
kehamilan antara 4 sampai 36 minggu.
- Siapkan tim pelaksana kelas ibu hamil yaitu siapa saja
fasilitatornya dan nara sumber jika diperlukan

30
e. Pelaksanaan kelas ibu hamil
Pelaksanaan pertemuan kelas ibu hamil dilakukan sesuai dengan
kesepakatan antara bidan/petugas kesehatan dengan peserta/ibu hamil,
dengan tahapan pelaksanaan. (Terlampir Jadwal pelaksanaan kelas ibu
hamil)
f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan
Untuk memantau perkembangan dan dampak pelaksanaan kelas
ibu hamil perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan
berkesinambungan.Seluruh pelaksanaan kegiatan kelas ibu hamil
dibuatkan pelaporan dan didokumentasikan.

H. Kegiatan pelaksanaan
1. Analisa Singkat
Melakukan analisa kebutuhan sebelum melaksanakan kelas ibu
hamil bertujuan untuk mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan
untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan
kelas ibu hamil. Misalnya : siapa tim fasilitator yang akan memfasilitasi
pertemuan, pakah diperlukan nara sumber atau bagaimana persiapan
materi dan alat bantu sudah lengkap atau perlu ditambah dengan alat
bantu lainnya, dll.
2. Kegiatan Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Pertemuan kelas ibu hamil dilakukan 3 kali pertemuan selama
hamil atau sesuai dengan hasil kesepakatan fasilitator dengan
peserta.Pada setiap pertemuan, materi kelas ibu hamil disampaikan
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamiltetapi tetap
mengutamakan materi pokok. Setiap akhir pertemuan dilakukan senam
ibu hamil, bagi ibu hamil yang mempunyai usia kehamilan > 20
minggu. Senam ibu hamil merupakan kegiatan/materi ekstra di kelas
ibu hamil, jika dilaksanakan, setelah sampai di rumah diharapkan dapat
dipraktekan.

31
Waktu pertemuan disesuaikan dengan kesiapan ibu-ibu, bisa
dilakukan pada pagi atau sore hari dengan lama waktu pertemuan 120
menit termasuk senam hamil 15 - 20 menit.
I. Materi kelas ibu hamil
1. PERTEMUAN I
a. Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan.
- Apa itu kehamilan?
- Perubahan tubuh ibu selama kehamilan
- Apa saja yang perlu dilakukan ibu
- Pengaturan gizi termasuk pemberian
- tablet tambah darah untuk mencegah Anemia.
b. Perawatan Kehamilan.
- Kesiapan psikologis menghadapi kehamilan.
- Hubungan suami isteri selama kehamilan.
- Obat yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil.
- Tanda - tanda bahaya kehamilan
- Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi.
2. PERTEMUAN II
a. Persalinan
- Tanda - tanda persalinan
- Tanda bahaya pada persalinan
- Proses persalinan
- Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
b. Perawatan Nifas
- Apa saja yang dilakukan ibu nifas agar dapat menyusui eksklusif?
- Bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas?
- Tanda - tanda bahaya nifas
- KB post partum
3. PERTEMUAN III
a. Perawatan Bayi baru lahir
- Perawatan Bayi Baru Lahir (BBL)
- Pemberian Vitamin K injeksi pada BBL

32
- Tanda bahaya BBL
- Pengamatan perkembangan bayi/anak
- Pemberian imunisasi pada BBL
b. Mitos
- Penggalian dan penelusuran mitos yang berkaitan dengan kesehatan ibu
dan anak.
c. Penyakit menular
- Infeksi Menular Seksual (IMS)
- Informasi dasar HIV/AIDS
- Pencegahan dan penanganan Malaria pada ibu hamil.
d. Akte kelahiran

J. Monitoring
Monitoring dilakukan dalam rangaka melihat perkembangan dan
pencapaian serta masalah dalam pelaksanaan kelas ibu hamil, hasil
monitoring dapat dijadikan bahan untuk perbaikan dan pengembangan
kelas ibu hamil selanjutnya.Kegiatan monitoring dilakukan secara berkala
dan berjenjang mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, Kbupaten / Kota dan
Provinsi.

K. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk melihat keluaran dan dampak baik positif
maupun negatif pelaksanaan kelas ibu hamil berdasarkan indikator.Dari
hasil evaluasi tersebut bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran guna
melakukan perbaikan dan pengembangan kelas ibu hamil
berikutnya.Evaluasi oleh pelaksana (bidan/koordinator bidan) dilakukan
setiap selesai pertemuan.Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta Dinas
Kesehatan Provinsi dapat melakukan evaluasi bersama-sama misalnya 1
kali setahun.

33
L. Indikator Keberhasilan
1. Indikator Input :
a. ...% petugas kesehatan sebagai fasilitator kelas ibu hamil
b. ...% ibu hamil yang mengikuti kelas ibu hamil
c. ...% suami/anggota keluarga yang hadir mengikuti kelas ibu hamil
d. ...% kader yang terlibat dalam penyelenggaraan kelas ibu hamil
2. Indikator Proses
a. Fasilitator : manajemen waktu, penggunaan variasi metode
pembelajaran, bahasan peyampaian, penggunaan alat bantu,
kemampuan melibatkan peserta, informasi Buku KIA.
b. Peserta : fekuensi kehadiran, keaktifan bertanya dan berdiskusi
c. Penyelenggaraan : tempat, sarana, waktu
3. Indikator Output :
a. ...% peningkatan jumlah ibu hamil yang memiliki Buku KIA
b. ...% ibu yang datang pada K4
c. ...% ibu/keluarga yang telah memiliki perencanaan persalinan
d. ...% ibu yang datang untuk mendapatkan tablet Fe
e. ...% ibu yang telah membuat pilihan bersalin dengan Nakes
f. ...% KN
g. ...% IMD
h. ...% kader dalam keterlibatan penyelenggaraan

M. Pelaporan
Seluruh rangakaian hasil proses pelaksanaan kegiatan kelas ibu
hamil sebaiknya dibuatkan laporan. Pelaporan hasil pelaksanaan kelas
ibu hamil dijadikan sebagai dokumen, sehingga dapat dijadikan sebagai
bahan informasi dan pembelajaran bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.Pelaporan disusun pada setiap selesai melaksanakan
kelas ibu hamil.
Isi laporan minimal tentang :

1. Waktu pelaksanaan
2. Jumlah peserta

34
3. Proses pertemuan
4. Masalah dan hasil capaian pelaksanaan
5. Hasil evaluasi

2.2 Kelas Ibu Balita


A. Pengertian Kelas Balita
Anak balita merupakan salah satu populasi paling beresiko untuk
terkena berbagai macam gangguan kesehatan (kesakitan) dan
kematian.Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2007, Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 44/10.000
Kelahiran Hidup. Bila dihitung secara matematis, berarti dalam setiap
jam terjadi 22 kematian balita di Indone sia, suatu jumlah yang
tergolong fantastis untuk ukuran di era globalisasi. Oleh karena itu
Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan berbagai program
kesehatan untuk menanggulangi hal ini, antara lain: Kelas Ibu Hamil
dan Kelas Ibu Balita. Mungkin masyar akat menganggap ini program
yang ‘biasa-biasa’ saja, tetapi sesungguhnya Kelas Ibu Balita memiliki
keistimewaan tersendiri.Mari kita simak penjelasnnya berikut ini.
Ada banyak sekali program kesehatan yang telah
diimplementasikan pemerintah mulai dari pusa t, provinsi hingga
kabupaten/kota. Salah satu program kesehatan yang diharapkan dapat
turut berperan aktif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian
pada anak balita (anak bawah lima tahun) adalah buku Kesehatan Ibu
dan Anak (buku KIA). Buku KIA adalah suatu buku yang berisi
catatan kesehatan Ibu mulai kehamilan hingga anak berusia 5 tahun
yang berisi berbagai informasi tentang kondisi kesehatan ibu dan anak
serta pendidikan cara menjaga kesehatan ibu dan anak. Namun tidak
semua ibu dan keluarga mau/dapat membaca buku KIA karena
berbagai sebab atau alasan, misalnya malas membaca, tidak punya
waktu membaca, sulit mengerti atau memang tidak mampu membaca
(buta aksara).
Berdasarkan pertimbangan ini, maka dianggap sangat perlu
mengajari ibu-ibu tentang isi buku KIA dan cara menggunakan buku
KIA, salah satu solusinya yaitu melalui penyelenggaraan Kelas Ibu
Balita. Sasaran Kelas ibu Balita ditujukan bagi ibu yang mempunyai

35
anak balita (0-59 bulan) sedangkan ‘Kelas ibu Hamil’ ditujukan bagi
ibu hamil.
Kelas ibu balita adalah kelas dimana para ibu mempunyai
anak berusia antara 0 sampai 5 tahun secara bersama -sama
berdiskusi , tukar pendapat, tukar pengalaman akan pemenuhan
pelayanan kesehatan, gizi dan stimulasi pertumbuhan dan
perkembangannya dibimbing oleh fasilitator dengan
menggunakan buku KIA.

B. Tujuan Kelas Balita


1. Tujuan Umum :
Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu
dengan menggunakan buku KIA dalam mewujudkan tumbuh
kembang Balita yang optimal
2. Tujuan Khusus :
 Meningkatkan kesadaran pemberian ASI secara eksklusif
 Meningkatkan pengetahuan ibu akan pentingnya imunisasi pada
bayi
 Meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI dan gizi
seimbang kepada Balita
 Meningkatkan kemampuan ibu memantau pertumbuhan dan
melaksanakan stimulasi perkembangan Balita
 Meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara perawatan gigi balita
dan mencuci tangan yang benar
 Meningkatkan pengetahuan ibu tentang penyakit terbanyak, cara
pencegahan dan perawatan balita.
Kelas ibu balita diselenggarakan secara partisipatif artinya
para ibu tidak diposisikan hanya menerima informasi karena
posisi pasif cenderung tidak efektif dalam merubah
perilaku.Oleh karena itu kelas ibu balita dirancang dengan
metode belajar partisipatoris, dimana si ibu tidak dipandang
sebagai murid melainkan sebagai warga belajar.Dalam

36
prakteknya para ibu didorong untuk belajar dari pengalaman
sesama, sementara fasilitator berperan sebagai pengarah
kepada pengetahuan yang benar.

C. Kegiatan Kelas Ibu Balita


Persiapan Kegiatan
1. Pertemuan persiapan
 Peserta
Peserta kelas ibu balita adalah kelompok belajar
ibu-ibu yang mempunyai anak usia antara 0-5 th dengan
pengelompokan 0-1 th, 1-2 th, 2-5 th. Peserta kelompok
belajar terbatas, paling banyak 15 orang
 Fasilitator dan narasumber
Fasilitator kelas ibu balita adalah
bidan/perawat/tenaga kesehatan lainnya yang mendapat
pelatihan fasilitator kelas ibu balita
Narasumber adalah tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian bidang tertentu, misalnya di bidang
gizi, gigi, PAUD, penyakit menular dan sebagainya.
2. Pengkajian kebutuhan dasar
3. Merancang penyelenggaraan: Pelatihan bagi pelatih
(TOT), Pelatihan bagi fasilitator, dan Pendekatan pada tokoh
agama dan tokoh masyarakat

D. Pelaksanaan Kelas Ibu Balita


Persiapan
1. Identifikasi sasaran:
Mendata semua sasaran balita 0-5 th dan mengelompokannya
jadi kelompok usia 0-1 th, 1-2 th, 2-5 tahun.
2. Mempersiapkan tempat dan sarana belajar:
Tempat belajar sebaiknya tidak jauh dari rumah warga belajar
dan ada sarana antara lain, kursi, tikar, karpet, alat peraga, dan

37
alat-alat praktek/demo, APE, alat tulis menulis, buku KIA,
lembar balik kelas ibu balita.

3. Mempersiapkan materi
 Kelompok A (5 Modul): Pemberian ASI secara
eksklusif, Pemberian imunisasi pada bayi, Pemberian MP-
ASI usia 6-12 bulan, Tumbuh kembang bayi, Penyakit
terbanyak pada bayi.
 Kelompok B (5 Modul): Perawatan gigi anak, Pemberian
MP-ASI, Tumbuh kembang anak, Penyakit pada
anak, Permainan Anak
 Kelompok C (6 Modul): Tumbuh kembang, Pencegahan
kecelakaan, Gizi seimbang, Penyakit pada anak, Obat
pertolongan pertama, Perilaku hidup bersih dan sehat
a. Mengundang ibu yang mempunyai anak yang berusia antara 0-5
tahun
b. Mempersiapkan tim fasilitator dan narasumber
c. Menyusun rencana anggaran

E. Penyelenggaraan Kelas Ibu Balita


 Jarak pertemuan
1. Kelompok A (usia 0-1 th) 2x pertemuan dengan jarak pertemuan
1-3 bulan
2. Kelompok B (usia 1-2 th) 2x pertemuan dengan jarak 3-6 bulan
3. Kelompok C (usia 2-5 th) 2x pertemuan dengan jarak 6 bl-1 th
 Pindah ke kelompok beriktnya sesuai dengan usia balita
 Jarak pertemuan kelas ibu balita dapat disesuaikan dengan
kesepakatan masing-masing wilayah.

38
MAKALAH
DESA SIAGA
PERLINDUNGAN DIRI DARI PENCEGAHAN
INFEKSI

DisusunOleh:
KELOMPOK 4
1. Dwi Gita Pratiwi
2. Dwi Yulihartini
3. Kholipatul Jannah
4. Mutia Puteri Cahyani
5. Siska Winarti
6. Willia Sari

Dosen Pembimbing:

Rachmawati, M.kes

POLITEKNIK KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
D4 KEBIDANAN

39
BAB II
PEMBAHASAN
A. PERLINDUNGAN DIRI DARI PENCEGAHAN INFEKSI
1. Pengertian dan Tujuan Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi merupakan bagian esensial dari asuhan
lengkap yang yang di berikan kepada klien untuk melindungi petugas
kesehatan itu sendiri.
Tujuan pencegahan infeksi :
 Melindungi klein dan petugas pelayanan KB dari akibat
tertularnya penyakit infeksi
 Mencegah infeksi silang dalam prosedur KB, terutama pada
pelayanan krontrasepsi metode AKDR, suntik, susuk, dan
krontrasepsi mantap.
 Menurunkan resiko tranmisi penyakit menular, seperti Hepatitis
B dan HIV AIDS, baik bagi klien maupun bagi petugas fasilitas
kesehatan.
2. Cara Penularan Mikroorganisme
Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh , baik pada
manusia maupun hewan, dapat melalui berbagai cara, di antaranya:
a. Kontak tubuh , penyebaran secara langsung melalui sentuhan
dengan kulit,sedang secara tidak langsung dapat melalui benda
yang terkontaminasi.
b. Makanan dan minuman, tersebar melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi seperti pada penyakit tifus abdominalis,
penyakit infeksi cacing dan lain-lain.
c. Serangga, contohnya penyebaran penyakit malaria oleh
plasmodium pada nyamuk anopheles dan beberapa penyakit
saluran pencernaan yang dapat di tularkan oleh lalat.
d. Udara, proses penyebarab kuman melalui udara dapat di jumpai
pada penyebaran penyakit sistem pernafasan.

40
3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Infeksi
a. Sumber penyakit, sumber penyakit dapat memengaruhi apakah
infeksi berjalan cepat dan lambat.
b. Kuman penyebab, dapat menentukan jumlah mikroorganisme,
kemampuan mikroorganisme, masuk ke dalam tubuh dan
virulensianya.
c. Cara membebaskan sumber dari kuman , ini dapat menentukan
apakah proses infeksi cepat teratasi atau di perlambat seperti
tingkat keasaman (Ph), suhu, penyinaran (cahaya), dan lain-lain.
d. Cara penularan , dengan cara kontak langsung.
e. Cara masuknya kuman, proses penyebaran kuman berbeda
bergantung pada sifatnya.
f. Daya tahan tubuh, daya tahan tubuh yang baik dapat menyebabkan
memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses
penyembuhan.

4. Infeksi Nosokomial
nosokomial adalah infeksi yang terjadi di rumah sakit atau
dalam system pelayanan kesehatan yang berasal dari proses
penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien,
petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lain. Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial
antara lain :
 Kuman penyakit (jumlah dan jenis kuman, lama kontak dan
virulensi)
 Sumber infeksi
 Perantara atau pembawa kuman,
 Tempat masuk kuman pada hospes baru,
 Daya tahan tubuh hospes baru,
 Keadaan rumah sakit meliputi;
 Prosedur kerja, alat, hygene, kebersihan, jumlah pasien dan
konstruksi rumah sakit,

41
 Pemakaian antibiotik yang irasional,
 Pemakaian obat seperti imunosupresi, kortikosteroid, dan
sitostatika, tindakan invasif dan instrumentasi,
 Berat penyakit yang diderita.

5. Tanda-Tanda Infeksi
a. Calor (panas).
Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari
sekelilingnya, sebab terdapat lebih banyak darah yang disalurkan
ke area terkena infeksi/ fenomena panas lokal karena jaringan-
jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti dan hiperemia lokal
tidak menimbulkan perubahan.
b. Dolor (rasa sakit).
Dolor dapat ditimbulkan oleh perubahan PH lokal atau konsentrasi
lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung saraf. pengeluaran
zat kimia tertentu seperti histamin atau zat kimia bioaktif lainnya
dapat merangsang saraf nyeri, selain itu pembengkakan jaringan
yang meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal dan
menimbulkan rasa sakit.
c. Rubor (Kemerahan).
Merupakan hal pertama yang terlihat didaerah yang mengalami
peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteriol
yang mensuplai daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih
banyak darah yang mengalir kedalam mikro sirkulasi lokal.
Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian saja
meregang, dengan cepat penuh terisi darah. Keadaan ini yang
dinamakan hiperemia atau kongesti.
d. Tumor (pembengkakan).
Pembengkakan ditimbulkan oleh karena pengiriman cairan dan sel-
sel dari sirkulasi darah kejaringan interstisial. Campuran cairan dan
sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat.

42
e. Functiolaesa
Adanya perubahan fungsi secara superficial bagian yang bengkak
dan sakit disrtai sirkulasi dan lingkungan kimiawi lokal yang
abnormal, sehingga organ tersebut terganggu dalam menjalankan
fungsinya secara normal. (Yudhityarasati, 2007).

6. RantaiPenularanInfeksi
Rantai Penularan Menurut Kemenkes RI, 2011 untuk
melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu
mengetahui rantai penularan. Apabila suatu rantai dihilangkan atau
dirusak, maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Komponen yang
diperlukan sehingga terjadi penularan tersebut adalah :
1. Agen Infeksi (infectious agent) adalah mikroorganisme yang
dapatmenyebabkan infeksi. Pada manusia, agen infeksi dapat
berupa bakteri, virus, riketsia, jamur dan parasit. Ada tiga faktor
pada agen penyebab yang mempengaruhiterjadinya infeksi yaitu :
patogenesis, virulensi dan jumlah (dosis).
2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh,
berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang. Reservoir
yang paling umum adalah manusia, binatang, tumbuh –
tumbuhan, tanah, air dan bahan – bahan organik lainnya. Pada
orang sehat, permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas atas,
usus dan vagina. Universitas Sumatera Utara 16
3. Pintu keluar (portal of exit) adalah jalan darimana agen infeksi
meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi saluran pernafasan,
saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan
membran mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana
transport agen infeksi dari reservoir ke penderita. Ada beberapa
cara penularan yaitu :
a. kontak : langsung dan tidak langsung
b. droplet

43
c. airborne
d. melalui vehikulum : makanan, air/minuman, darah
e. melalui vektor biasanya serangga dan binatang pengerat.
5. Pintu masuk (portal of entry) adalah tempat dimana agen infeksi
memasuki pejamu (yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui
saluran pernafasan, penvernaan, saluran kemih dan kelamin,
selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka)
6. Pejamu (host) yang suseptibel adalah orang yang tidak memiliki
daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta
mencegah terjadinya infeksi atau penyakit. Faktor yang khusus
dapat mempengaruhi adalah umur, status gizi, status imunisasi,
penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan.
Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras
atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan
herediter.

B. TINDAKAN PENCEGAHAN INFEKSI


Beberapa tindakan pencegahan infeksi yang dapat di lakukan adalah
1. Aseptik yaitu tindakan yang di lakukan dalam pelayanan
kesehatan.
2. Antiseptik yaitu upaya pencegahan infeksi dengan cara
membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada
kulit dan jaringan tubuh lainnya.
3. Dekontaminasi, tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat
ditangani oleh petugas kesehatan secara aman, terutama petugas
pembersihan medis sebelum pencucian dilakukan.
4. Pencucian yaitu tindakan menghilangkan semua darah, cairan
tubuh, atau setiap benda asing seperti debu dan kotoran .
5. Desinfeksi yaitu tindakan pada benda mati dengan
menghilangkan tindakan pada benda mati dengan menghilangkan
sebagian besar (tidak semua) mikroorganisme penyabab penyakit.

44
6. Sterilisasi yaitu tindakan untuk menghilangngkan semua
mikroorganisme (bakteri,jamur,parasit,dan virus) termasuk
bakteri endospore.

C. STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Strategi pencegahan
dan pengendalian infeksi menurut Kemenkes RI (2011) yaitu:
1. Peningkatan daya tahan penjamu. Daya tahan pejamu dapat
meningkat dengan pemberian imunisasi aktif. Promosi kesehatan
secara umum termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan
daya tahan tubuh.
2. Inaktivasi agen penyebab infeksi. Inaktivasi agen infeksi dapat
dilakukan dengan metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode
fisik adalah pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) dan memasak
makanan seperlunya. Metode kimiawi termasuk klorinasi air,
disinfeksi.
3. Memutus rantai penularan. Hal ini merupakan cara yang paling
mudah mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya
sangat bergantung kepada ketaatan petugas dalam melaksanakan
prosedur yang telah ditetapkan.

D. PERLINDUNGAN DARI INFEKSI DIKALANGAN PETUGAS


Kunci pencegahan infeksi pada fasilitas pelayanan kesehatan
adalah mengikuti prinsip pemeliharaan hygene yang baik, kebersihan
dan kesterilan dengan empat standar penerapan yaitu :
1. Mencuci tangan untuk menghindari infeksi silang.
2. Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kontak
dengan darah atau cairan tubuh lain. Alat pelindung diri
meliputi; pakaian khusus (apron), masker, sarung tangan, topi,
pelindung mata dan hidung yang digunakan di rumah sakit dan
bertujuan untuk mencegah penularan berbagai jenis
mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan atau

45
sebaliknya, misalnya melaui sel darah, cairan tubuh, terhirup,
tertelan dan lain-lain.
3. Manajemen alat tajam secara benar untuk menghindari resiko
penularan penyakit melalui benda-benda tajam yang tercemar
oleh produk darah pasien.
4. Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi instrumen
dengan prinsip yang benar.

E. PENCEGAHAN DAN PENANGANAN INFEKSI NOSOKOMIAL


PADA IBU HAMIL
Sebagian besar infeksi ini dapat dicegah dengan strategi yang telah
tersedia secara relative murah, yaitu :
1. Menaati praktik pencegahan infeksi yang dianjurkan, terutama
kebersihan dan kesehatan tangan serta pemakaian sarung tangan.
2. Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti
bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan
benda lain yang kotor, diikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi
tingkat tinggi.
3. Meningkatkan keamanan dalamr uang operasi dan area beresiko
tinggi lainnya di mana kecelakaan perlukaan yang sangat serius
dan paparanpadaagen penyebab infeksi sering terjadi.

F. PENERAPAN PENCEGAHAN INFEKSI DI MASYARAKAT


Program yang disosialisasikan mulai dari 6 langkah mencuci tangan
yang baik menurut World Health Organization (WHO), 5 waktu
penting melakukan cuci tangan di lingkungan rumah sakit, Manfaat
melakukan cuci tangan, 5 waktu penting melakukan cuci tangan
sehari-hari, etiket batuk, sampai ke pemisahan limbah/sampah.
1. 6 Langkah Cuci Tangan Menurut WHO
Cara mencuci tangan menggunakan air & sabun antiseptik yang
baik adalah: basuh tangan dengan air; tuangka sabun secukupnya;
ratakan dengan kedua telapak tangan; gosok punggung dan sela-

46
sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya; gosok
kedua telapak dan sela-sela jari; jari-jari sisi dalam kedua tangan
saling mengunci; gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman
tangan kanan dan lakukan sebaliknya; gosokan dengan memutar
ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya;
bilas kedua tangan dengan air; keringkan dengan handuk sekali
pakai sampai benar-benar kering; gunakan handuk tersebut untuk
menutup kran, dan tangan anda sudah aman dan bersih.
Adapun 6 langkah mencuci tangan menggunakan antiseptik
berbasis alkohol dimulai dari menuangkan cairan pencuci tangan
yang berbasis alkohol; dilanjutkan dengan meratakan cairan di
kedua telapak tangan tiga kali putaran; gosok punggung tangan
kanan dan kiri bergantian 3 kali; gosok telapak dan sela-sela jari
tangan 3 kali; kuncikan dan gosok kedua jari-jari tangan 3 kali
dan dengan 20-30 detik kedua tangan telah bersih dan dapat
melanjutkan aktifitas.
Lima waktu penting untuk melakukan cuci tangan di rumah
sakit adalah sebelum kontak dengan pasien, sebelum tindakan
asepsis, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak
dengan pasien, dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar
pasien.
Sedangkan lima waktu penting melakukan cuci tangan
sehari-hari diantaranya sebelum memasukkan makanan ke dalam
mulut, sebelum megolah makanan, sebelum memegang bayi,
setelah menceboki anak, setelah buang air kecil (BAK) dan buang
air besar (BAB).
Manfaat dari cuci tangan yang utama adalah untuk
pencegahan dan pengendalian infeksi, menciptakan lingkunga
yang aman, pelayanan kesehatan menjadi aman dan masih banyak
manfaat lain.

2. Etiket Batuk

47
Selain dengan mencuci tangan, pengendalian dan
pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan menerapkan etiket
batuk. Jika kita batuk, hal yang harus diperhatikan adalah
menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan
tisu dan buang ke tempat sampah (kuning) bila telah terkena
sekret saluran napas, lakukan cuci tangan dengan sabun & air
mengalir; gunakan masker saat flu/batuk pilek; dan jika tidak ada
tisu ataupun masker, gunakan pangkal lengan atas untuk
menutupnya. Beberapa hal yang kurang tepat dilakukan adalah
saat batuk/bersin tidak ditutup, menutup batuk/bersin dengan
tangan terkepal dan menutup batuk/bersin dengan tangan terbuka.
3. Pemisahan Limbah/Sampah
4. Memisahkan limbah/sampah infeksius dan noninfeksius berbeda.
Bagi sampah infeksius seperti balutan, injeksi, infus, cateter, botol
& selang infus, masker & sarung tangan, diapers/pembalut
wanita, tisu bekas sekret (dahak & ingus) dan lain sebagainya
harus dimasukkan ke tempat sampah khusus infeksius. Di RSHS
sampah infeksius dibuang ke kantong plastik kuning.
Adapun sampah non infeksius yaitu sampah yang tidak terkena
dengan darah dan cairan tubuh, kertas/tisu, makanan, kaleng
minuman, bungkus obat dan kemasan dibuang ke kantong plastik
hitam.
Untuk menghindari kontak langsung dengan tangan, tempat sampah
infeksius dan non infeksius harus tertutup dan di buka dengan
pedal kaki.

48
MAKALAH
DESA SIAGA
Kegawatdarurat dan langkah penilaian

Kelompok 5

DOSEN PEMBIMBING : Rachmawati. M,kes


 Dwi Riskisarliyani
 Hikmarika apriani
 Khariza fadhilla
 Lucy dwi sari
 Masdiana
 Ria utami

POLITEKNIK KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
D4 KEBIDANAN

49
PEMBAHASAN

A. Definisi Gawat Darurat


Gawat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan cedera yang
mengancam nyawa pasien. Contoh : penderita sakit kanker
Sedangkan darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan cedera
yang membutuhkan pertolongan segera. Contoh : pasien yang menginjak
paku.
Definisi gawat darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan
cedera yang mengancam nyawa pasien dan membutuhkan pertolongan segera.
Contoh : pasien tang tersedak makanan, penderita dengan serangan jantung.
Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah dalam
keadaan gawat darurat atau tidak harus dilakukan pemeriksaan secara
sistematis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan
obstetrik.
Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan
medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut
(UU No. 44 tahun 2009 tentang RS)
Kondisi gawat darurat adalah suatu keadaan dimana seseorang secara tiba-
tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam anggota
badannya dan jiwanya (akan menjadi cacat atau mati) bila tidak mendapatkan
pertolongan dengan segera
Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang
menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera,
yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Di UGD dapat
ditemukan dokter dari berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan
juga asisten dokter (wikipedia indonesia).
Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah Instalasi pelayanan rumah sakit yang
memberikan pelayanan pertama selama 24 jam pada pasien dengan ancaman
kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan multidisiplin ilmu

50
B. Tujuan
Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini adalah untuk memberikan
pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari berbagai
resiko, seperti: kematian, menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana
lainnya yang langsung membutuhkan tindakan
Beberapa tujuan lain dari pelayanan gawat darurat adalah :

 Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat


 Menerima rujukan pasien atau mengirim pasien
 Melakukan penanggulangan korban musibah masal dan bencana yang
terjadi dalam maupun diluar rumah sakit
 Suatu layanan UGD harus mampu memberikan pelayanan dengan
kualitas tinggi pada masyarakat dengan problem medis akut

C. Langkah-langkah Penilaian awal Gawat Darurat


Penilaian awal adalah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat
kasus obstetri yang membutuhkan pertolongan segera dan mengidentifikasi
penyulit (komplikasi) yang dihadapi.
Pemeriksaan yang dilakukan dalam penilaian awal ialah sebagai berikut :
1. Periksa Pandang
a. Menilai kesadaran penderita : pingsan/koma, kejang-kejang, gelisah,
tampak kesakitan.
b. Menilai wajah penderita : pucat, kemerahan, banyak berkeringat.
c. Menilai pernapasan
Pernafasan dinilai yaitu lambat atau cepatnya pernafasan.
Pernafasaan yang normal pada orang Dewasa : 12-20x/menit, anak-anak :
15-30x/menit, bayi : 25-40 x/menit.
Menghitung pernafasan penderita anda lakukan dengan cara lihat,
dengar dan raba. Hitung jumlahnya setiap kali dada/perut berkembang
selama periode 30 detik, kemudian kalikan 2 .
Dalamnya pernafasan memberi petunjuk terhadap banyaknya udara
pada saat menghirup. Untuk mengukur kedalaman bernafas yaitu dengan

51
cara meletakan tangan di atas dada penderita dan merasakannya, juga
dapat dengan merasakan gerakan perut.
d. Menilai perdarahan dalam kemaluan
2. Periksa Raba
a. Kulit
Warna kulit dapat berubah karena kelainan jantung , paru, ataupun
permasalahan lainnya , contoh : Pucat, mungkin disebabkan oleh syok/
serangan jantung. Mungkin juga disebabkan karena ketakutan, pingsan
atau kelainan emosi. Kemerah-merahan, mungkin disebabkan karena
tekanan darah yang tinggi, penyalahgunaan alkohol (mabuk ) , tersengat
matahari, serangan demam ,atau pada penyakit infeksi. Kebiru-biruan
adalah selalu masalah serius, tampak pertama kali pada ujung jari dan
sekitar mulut. Umumnya, disebabkan karena kadar CO2 seperti pada
syok, serangan jantung atau keracunan. Kekuning-kuningan mungkin
disebabkan karena penyakit hati . Kehitaman atau warna biru tua yang
setempat ( lokal) adalah hasil dari darah merembes atau meresap di
bawah kulit. Biasanya disebabkan oleh cedera atau infeksi.
Jika penderita berkulit gelap, kita dapat memeriksa perubahan
warna kulit pada bibir, kuku, telapak tangan , cuping telinga, daerah putih
pada mata, permukaan sebelah dalam pada kelopak mata, gusi atau lidah
Kulit biasanya kering, apabila kulit lembab atau basah itu mungkin
menunjukkan syok, kegawatdaruratan panas atau kegawatdaruratan pada
diabetes.
b. Nadi : lemah/kuat, cepat/normal.
Berikut ini merupakan jumlah denyut nadi normal per menit:
 Bayi sampai usia 1 tahun: 100-160 kali per menit.
 Anak usia 11-17 tahun: 60-100 kali per menit
 Dewasa: 60-100 kali per menit.
c. Kaki/tungkai bawah : bengkak
3. Tanda vital
· Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.

52
Hasil penilaian awal ini, berfokus pada apakah pasien mengalami syok
hipovolemik, syok septic, syok jenis lain, koma, kejang-kejang atau koma
disertai kejang-kejang, menjadi dasar pemikiran apakah kasus mengalami
perdarahan, infeksi, hipertensi/preeklamsia/ eklamsia atau penyulit lain.
Dasar pemikiran ini harus dilengkapi dan diperkuat dengan melakukan
pemeriksaan klinik lengkap, tertapi sebelum pemeriksaan klinik lengkap
selesai dilakukan, langkah-langkah untuk melakukan pertolongan pertama
sudah dikerjakan sesuai hasil penilaian awal, misalnya ditemukan kondisi
syok, pertolongan pertama untuk melakukan syok sudah harus dilakukan.

D. Penilaian Klinik Lengkap


Penilaian kliniK lengkap meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik
umum, dan pemeriksaan obstetric termasuk pemeriksaan panggul secara
sistematis meliputi sebagai berikut.
1. Anamnesis
Diajukan pertanyaan kepada pasien atau keluarganya beberapa hal
berikut dan jawabannya dicatat dalam catatan medik.
a. Masalah/keluhan utama yang menjadi alasan pasien dating ke klinik.
b. Riwayat penyakit/masalah tersebut termasuk obat-obatan yang sudah
didapat
c. Tanggal hari pertama haid yang terakhir dan riwayat haid
d. Riwayat kehamilan sekarang
e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu termasuk kondisi
anaknya

53
f. Riwayat penyakit yang pernah diderita dan riwayat penyakit dalam
keluarga Riwayat pembedahan
g. Riwayat alergi terhadap obat

2. Pemeriksaan Fisik Umum


a. Penilaian keadaan umum dan kesadaran penderita
b. Penilaian tanda vital (Tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan)
c. Pemeriksaan kepala dan leher
d. Pemeriksaan dada (pemeriksaan jantung dan paru-paru)
e. Pemeriksaan perut (kembung, nyeri tekan atau nyeri lepas, tanda
abdomen akut, cairan bebas dalam rongga perut)
f. Pemeriksaan anggota gerak (antara lain edema tungkai dan kaki)

3. Pemeriksaan Obstetri :
a. Pemeriksaan vulva dan perineum
b. Pemeriksaan vagina
c. Pemeriksaan serviks
d. Pemeriksaan rahim (besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya)
e. Pemeriksaan adneksa
f. Pemeriksaan his (frekuensi, lama, kekuatan relaksasi, simetri, dan
dominasi fundus)
g. Pemeriksaan janin:
1) Didalam atau diluar rahim
2) jumlah janin
3) presentasi janin dan turunnya presentasi seberapa jauh
4) posisi janin, moulase, dan kaput suksedaneum
5) Bagian kecil janin disamping presentasi (tangan, tali pusat, dan lain-
lain)
6) Anomali kongenital pada janin
7) Taksiran berat janin
h. Janin mati atu hidup, gawat janin atau tidak

54
4. Pemeriksaan Panggul :
a. Penilaian pintu atas panggul :
1) Promontorium teraba atau tidak
2) Ukuran konjugata diagonalis dan konjugata vera
3) penilaian linea inominata teraba berapa bagian atau teraba seluruhnya
b. Penialaian ruang tengah panggul :
1) Penilaian tulang sacrum (cekung atau datar)
2) Penilaian dinding samping (lurus atau konvergen)
3) Penilaian spina ischiadika (runcing atau tumpul)
4) Ukuran jarak antaspina iskiadika distansia interspinarum)
c. Penilaian pintu bawah panggul :
1) Arkus pubis (lebih besara atau kurang dari 90°)
2) Penilaian tulang koksigis (ke depan atau tidak)
3) Penilaian adanya tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan
pervaginam
4) Penilaian panggul (panggul luas, sempit atau panggul patologik)
d. Penilaian imbang feto-pelvik : (imbang feto-pelvik baik atau disproporsi
sefalo-pelvik)

5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dan menentukan baik
dalam penanganan kasus perdarahan, infeksi dan sepsis, hipertensi dan
preeklamsia/eklamsia, maupun kasus kegawatdaruratan yang lain.

6. Pemeriksaan Darah
Darah diambil untuk pemeriksaan berikut (disesuaikan dengan
indikasi klinik).
a) Golongan darah dan cross match
b) Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit.
Kadar hemoglobin dan hematokrit penting dalam kasus
perdarahan. dalam perdarahan akut kadar Hb dapat lebih tinggi, tetapi
dalam kenyataannya jauh lebih rendah. Dalam kasus sepsis kadar Hb

55
penting dalam kapasitasnya untuk mengangkut oksigen guna
mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, sehingga harus
diupayakan kadar Hb > 10 gr% dan Ht >30%.
Jumlah dan hitung jenis leukosit berguna untuk memprediksi
infeksi, walaupun kenaikan jumlah leukosit tidak spesifik untuk infeksi.
Pada kasus demam tanpa tanda-tanda, lokasi infeksi, bila jumlah leukosit
>15.000/mm3 berkaitan dengan infeksi bakteri sebesar 50%. Selain itu,
jumlah leukosit juga menjadi suatu komponen criteria dalam SIRS
(Systemik Inflammatory Response Syndrome) suatu istilah untuk
menggambarkan kondisi klinik tertentu yaitu pengaktifan inflammatory
cascade dan dianggap ada apabila terdapat 2 kelainan dari 4 yaitu : 1)
suhu tubuh, 2) Frekuensi jantung, 3) frekuensi napas, 4) jumlah leukosit.
Jumlah trombosit meningkat pada peradangan dan menurun pada DIC
(disseminated intravascular coagulation).
c) Pemeriksaan ureum dan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dan
dehidrasi berat
d) pemeriksaan glukosa darah
e) Pemeriksaan pH darah dan elektrolit (HCO3, Na, K, dan Cl)
f) Pemeriksaan koagulasi
g) Pemeriksaan fungsi hati, bilirubin, dalam evaluasi gagal organ ganda
h) Kultur darah untuk mengetahui jenis kuman

7. Pemeriksaan Air Kemih


Dilakukan pemeriksaan air kemih lengkap dan kultur. Dalam
kondisi syok biasa produksi air kemih sedikit sekali atau bahkan tidak ada.
Berat jenis air kemih meningkat lebih dari 1.020

56
E. Pengertian triage
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan
suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan
serta fasilitas yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau
menggolongkan semua pasien yang memerlukan pertolongan dan menetapkan
prioritas penanganan
korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma
atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber
daya yang ada.
Triage adalah suatu sistem pembagian/klasifikasi prioritas klien
berdasarkan berat ringannya kondisi klien/kegawatannya yang memerlukan
tindakan segera. Dalam triage, perawat dan dokter mempunyai batasan waktu
(respon time) untuk mengkaji keadaan dan memberikan intervensi secepatnya
yaitu ≤ 10 menit.
Triage berasal dari bahasa prancis trier bahasa inggris triage dan
diturunkan dalam bahasa Indonesia triase yang berarti sortir. Yaitu proses
khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera ataupenyakit untuk
menentukan jenis perawatan gawat darurat. Kiniistilah tersebut lazim
digunakan untuk menggambarkan suatu konseppengkajian yang cepat dan
berfokus dengan suatu cara yangmemungkinkan pemanfaatan sumber daya
manusia, peralatan sertafasilitas yang paling efisien terhadap 100 juta orang
yang memerlukanperawatan di UGD setiap tahunnya. (Pusponegoro, 2010)

F. Tujuan Triage
Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi yang mengancam
nyawa. Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke
akutannya, untuk menetapkan tingkat atau derajat kegawatan yang
memerlukan pertolongan kedaruratan. Dengan triage tenaga kesehatan akan
mampu:

 Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada


pasien

57
 Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan
lanjutan
 Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses
penanggulangan/pengobatan gawat darurat.

G. Fungsi Triage
 Menilai tanda-tanda dan kondisi vital dari korban.
 menetukan kebutuhan media
 menilai kemungkinan keselamatan terhadap korban.
 menentukan prioritas penanganan korban.
 memberikan pasien label warna sesuai dengan skala prioritas.

H. PrinsipTriage
Di rumah sakit, didalam triase mengutamakan perawatan pasien
berdasarkan gejala. Perawat triage menggunakan ABCD keperawatan seperti
jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta warna kulit, kelembaban, suhu,
nadi, respirasi, tingkat kesadaran dan inspeksi visual untuk luka dalam,
deformitas kotor dan memar untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan
kepada pasien di ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama
untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas atau sirkulasi terganggu. Pasien-
pasien ini mungkin memiliki kesulitan bernapas atau nyeri dada karena
masalah jantung dan mereka menerima pengobatan pertama. Pasien yang
memiliki masalah yang sangat mengancam kehidupan diberikan pengobatan
langsung bahkan jika mereka diharapkan untuk mati atau membutuhkan
banyak sumber daya medis. (Bagus, 2007).
Menurut Brooker, 2008. Dalam prinsip triage diberlakukan system
prioritas, prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus
didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa
yang timbul dengan seleksi pasien berdasarkan :
 Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit.
 Dapat mati dalam hitungan jam.
 Trauma ringan.

58
 Sudah meninggal.

Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan dengan:


 Menilai tanda vital dan kondisi umum korban
 Menilai kebutuhan medis
 Menilai kemungkinan bertahan hidup
 Menilai bantuan yang memungkinkan
 Memprioritaskan penanganan definitive
 Tag Warna

I. Klasifikasi dan Penentuan Prioritas


Berdasarkan Oman (2008), pengambilan keputusan triage didasarkan pada
keluhan utama, riwayat medis, dan data objektif yang mencakup keadaan
umum pasien serta hasil pengkajian fisik yang terfokus. Menurut
Comprehensive Speciality Standard, ENA tahun 1999, penentuan triase
didasarkan pada kebutuhan fisik, tumbuh kembang dan psikososial selain pada
factor-faktor yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan serta alur pasien
lewat sistem pelayanan kedaruratan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan
mencakup setiap gejala ringan yang cenderung berulang atau meningkat
keparahannya.
Prioritas adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai
penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang
timbul.Beberapa hal yang mendasari klasifikasi pasien dalam sistem triage
adalah kondisi klien yang meliputi :
a. Gawat, adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa dan kecacatan
yang memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat
b. Darurat, adalah suatu keadaan yang tidak mengancam nyawa tapi
memerlukan penanganan cepat dan tepat seperti kegawatan
c. Gawat darurat, adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa disebabkan
oleh gangguan ABC (Airway / jalan nafas, Breathing / pernafasan,
Circulation / sirkulasi), jika tidak ditolong segera maka dapat meninggal
/ cacat (Wijaya, 2010)

59
Berdasarkan prioritas perawatan dapat dibagi menjadi 4 klasifikasi :
Tabel 1. Klasifikasi Triage
KLASIFIKASI KETERANGAN
Gawat darurat (P1) Keadaan yang mengancam nyawa / adanya gangguan ABC dan perlu
tindakan segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran, trauma
mayor dengan perdarahan hebat
Gawat tidak darurat Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan darurat.
(P2) Setelah dilakukan diresusitasi maka ditindaklanjuti oleh dokter
spesialis. Misalnya ; pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan
lainnya
Darurat tidak gawat Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan
(P3) darurat. Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung
diberikan terapi definitive. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik,
misalnya laserasi, fraktur minor / tertutup, sistitis, otitis media dan
lainnya
Tidak gawat tidak Keadaan tidak mengancam nyawa dan tidak memerlukan tindakan
darurat (P4) gawat. Gejala dan tanda klinis ringan / asimptomatis. Misalnya
penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya
a. Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi menggunakan nomor, huruf atau tanda. Adapun
klasifikasinya sebagai berikut :

Prioritas 1 atau Emergensi


 Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan
intervensi segera
 Pasien dibawa ke ruang resusitasi
 Waktu tunggu 0 (Nol)

Prioritas 2 atau Urgent


 Pasien dengan penyakit yang akut
 Mungkin membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki

60
 Waktu tunggu 30 menit
 Area Critical care
Prioritas 3 atau Non Urgent
 Pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang
minimal
 Luka lama
 Kondisi yang timbul sudah lama
 Area ambulatory / ruang P3
Prioritas 0 atau 4 Kasus kematian
 Tidak ada respon pada segala rangsang
 Tidak ada respirasi spontan
 Tidak ada bukti aktivitas jantung
 Hilangnya respon pupil terhadap cahaya

b. Sistem Triage
Non Disaster : Untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap
individu pasien
Disaster: Untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien
dalam jumlah banyak
Beberapa petunjuk tertentu harus diketahui oleh perawat triage yang
mengindikasikan kebutuhan untuk klasifikasi prioritas tinggi. Petunjuk
tersebut meliputi :
1) Nyeri hebat
2) Perdarahan aktif
3) Stupor / mengantuk
4) Disorientasi
5) Gangguan emosi
6) Dispnea saat istirahat
7) Diaforesis yang ekstrem
8) Sianosis
9) Tanda vital di luar batas normal

61
Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat triage
harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan
melakukan pengkajian, misalnya melihat sekilas kearah pasien yang berada di
brankar sebelum mengarahkan ke ruang perawatan yang tepat.
Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan cepat,
tidak lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk pengkajian
perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk menempatkan pasien
di area pengobatan yang tepat; misalnya bagian trauma dengan peralatan
khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah, dll. Tanpa
memikirkan dimana pasien pertama kali ditempatkan setelah triage, setiap
pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya sekali setiap
60 menit.
Untuk pasien yang dikategorikan sebagai pasien yang mendesak atau
gawat darurat, pengkajian dilakukan setiap 15 menit / lebih bila perlu.Setiap
pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis.Informasi baru
dapat mengubah kategorisasi keakutan dan lokasi pasien di area
pengobatan.Misalnya kebutuhan untuk memindahkan pasien yang awalnya
berada di area pengobatan minor ke tempat tidur bermonitor ketika pasien
tampak mual atau mengalami sesak nafas, sinkop, atau diaforesis. (Iyer, 2004).
Bila kondisi pasien ketika datang sudah tampak tanda - tanda objektif
bahwa ia mengalami gangguan pada airway, breathing, dan circulation, maka
pasien ditangani terlebih dahulu. Pengkajian awal hanya didasarkan atas data
objektif dan data subjektif sekunder dari pihak keluarga. Setelah keadaan
pasien membaik, data pengkajian kemudian dilengkapi dengan data subjektif
yang berasal langsung dari pasien (data primer).
Alur dalam proses triase.
1. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.
2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
3. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase
dapat dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD).
4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna:

62
a. Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam
jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera.
Misalnya:Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR<
30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
b. Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif
tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan
laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan
perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh,
dsb.
c. Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan
dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya :
Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.
d. Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan
meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar
derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.
e. Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan
warna : merah, kuning, hijau, hitam.
f. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan
pengobatan diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan
tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban dapat dipindahkan
ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
g. Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan
tindakan medis lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi
dan menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triase merah
selesai ditangani.
h. Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat
jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka
penderita/korban dapat diperbolehkan untuk pulang.
i. Penderita kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke
kamar jenazah. (Rowles, 2007).

63
DESA SIAGA
Penatalaksanaan Pra Rujukan Kegawatdaruratan Jantung, Pembuluh
Darah, dan Pernafasan

DOSEN PEMBIMBING :Rachmawati, M.Kes


Disusun Oleh kelompok 6:
Elysabeth Sembiring
Intan Permata Sari
Khairunissa
Meri Septiani
Verence Rapita Indah

POLITEKNIK KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

D4 KEBIDANAN

64
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penilaian Gawat Darurat Penderita


1. Definisi Gawat Darurat
a. Definisi gawat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan
cedera yang mengancam nyawa pasien.
Contoh : penderita sakit kanker.
b. Definisi darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan
cedera yang membutuhkan pertolongan segera.
Contoh : pasien yang menginjak paku.
c. Definisi gawat darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun
bukan cedera yang mengancam nyawa pasien dan membutuhkan
pertolongan segera.
Contoh : pasien tang tersedak makanan, penderita dengan serangan
jantung.

2. Fase – Fase Saat Tiba di Tempat Kejadian


Sebelum melakukan pertolongan harus diingat bahwa tidak jarang
anda memasuki keadaan yang berbahaya. Selain resiko dari infeksi
anda juga dapat menjadi korban jika tidak memperhatikan kondisi
sekitar pada saat melakukan pertolongan. Ingatlah prioritas keamanan
pada saat memasuki daerah tugas :
a. Keamanan anda
Nampaknya egoistis, namun kenyataan adalah bahwa keamanan
diri sendiri merupakan prioritas utama. Mengapa? Karena
bagaimana kita akan dapat melakukan pertolongan jika kondisi kita
sendiri berada dalam bahaya. Akan merupakan hal yang ironis
seandainya kita bermaksud menolong tetapi karena tidak
memperhatikan situasi kita sendiri yang terjerumus dalam bahaya.
b. Keamanan lingkungan

65
Ingat rumus do no further harm karena ini meliputi juga
lingkungan sekitar penderita yang belum terkena cidera. Sebagai
contoh adalah saat mendekati mobil yang sudah mengalami
kecelakaan, dan keluar asap. Ingatkan dengan segera para penonton
untuk cepat-cepat menyingkir karena ada bahaya ledakan/api.

c. Keamanan penderita
Betapapun ironisnya, tetapi prioritas terakhir adalah penderita
sendiri, karena penderita ini sudah cidera sejak awal. Apapun yang
dilakukan pada penderita ingatlah untuk do no further harm.

3. Langkah – langkah Penilaian Penderita


Setelah lokasi kejadian aman (termasuk anda sudah memakai alat
proteksi diri), maka anda akan mendekati penderita. Dalam keadaan ini
ingat bahwa yang kemudian yang harus dilakukan adalah berturut-turut
:
a. Kesan umum (mengenai penderitanya)
b. Respon penderita (sadar atau tidak)
c. Atasi keadaan segera yang mengancam nyawa.

Keadaan apa yang dengan segera akan menyebabkan kematian?


Jawabannya adalah masalah ABC = Airway – breathing –
Circulation (jalan napas, pernapasan dan sirkulasi darah). Karena itu
yang harus dilakukan saat ini adalah kesan umum (mengenai
penderitanya). Respon penderita (sadar atau tidak). Masalah Airway,
selanjutnya masalah breathing dan terakhir masalah circulation.
a. Lihat Kesan Umum
Ini kita lakukan sambil mendekati penderita. Yang dicari pada
saat ini adalah keluhan utama (apa yang membuat kita dipanggil,
atau keluhan apa yang membuat penderita mencari kita).
Sebenarnya menilai kesan umum mengenai penderita sudah dapat
kita lakukan dengan melihat sekilas keadaan di lokasi maka saat

66
kita mendekati penderita kita sudah tahu bahwa ini adalah korban
kecelakaan lalu lintas, korban kerusuhan atau disebabkan penyakit
yang tiba–tiba menyerang penderita yang memegang dadanya dan
kesakitan, kemungkinan ini serangan jantung. Kadang–kadang
mencari keluhan utama ini sangat mudah, tetapi bisa juga sangat
susah.
Seperti contoh korban KLL yaitu jangan salah, apakah karena
kecelakaan, korban menjadi tidak sadar atau korban yang tidak
sadar ini sebenarnya tidak sadar terlebih dahulu lalu mengalami
kecelakaan.Atau contoh berikutnya adalah kita mengetahui adanya
penderita yang jatuh pingsan. Apakah pingsan dulu baru jatuh, atau
karena jatuh menjadi pingsan.Atau contoh lainnya anak muda
dalam keadaan pingsan dan kesulitan bernapas, apakah penyakit
biasa atau overdosis obat – obatan. Untuk dapat menjawab
pertanyaan – pertanyaan seperti diatas, diperlukan juga kita
bertanya kepada orang–orang di sekitar penderita.
b. Periksa kesadaran penderita
Mulailah dengan berbicara kepada penderita dengan
memperkenalkan diri anda, katakan nama dan jabatan anda (suatu
hal yang tidak terlalu sering dilakukan di Indonesia). Apabila
penderita nampaknya pingsan, anda dapat melakukannya dengan
menepuk–nepuk tangannya, sambil mengatakan “Pak, pak anda
kenapa?”. Kemudian nilai respons penderita apakah membuka mata
sambil menjawab, hanya membuka mata atau diam saja. Pada
keadaan dimana ada kemungkinan cedera tulang belakang, berhati
– hatilah. Lebih baik sambil berbicara kepada penderita (sambil
menilai kesadarannya), kita memasang alat proteksi tulang
belakang, atau kita memegang (fiksasi) kepalanya.
Ada 4 tingkat kesadaran yang dapat kita cari untuk memudahkan
biasanya disingkat dengan A.S.N.T. (Awas, Suara, Nyeri, Tidak
sadar) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan A.V.P.U

67
yaitu Alert (sadar), Voice (suara), Pain (nyeri),
dan Unresponsive (tidak ada respon).
1) A-Awas (sadar penuh).
Penderita sadar dan masih jelas orientasinya (orientasi orang,
waktu, tempat). Pada keadaan ini biasanya penderita dapat
menjawab dengan baik semua pertanyaan atau jawaban
penderita sesuai dengan pertanyaan yang diajukan, barulah kita
dapat mengatakan bahwa penderita dalam keadaan sadar penuh.

Pertanyaannya sederhana seperti :


a) Nama bapak siapa?
b) Bapak saat ini dimana?
c) Hari ini hari apa?
Dalam bahasa kedokteran , ini berarti bahwa orientasi akan
orang, waktu dan tempat adalah baik.
2) S–Suara (respon terhadap suara)
Penderita hanya berespon saat ditanya. Dikatakan bahwa
penderita tersebut berespon pada rangsangan suara. Saat kita
bertanya (merangsang dengan suara), penderita lalu membuka
mata, atau mengeluarkan suara.
3) N-Respon terhadap nyeri
Penderita hanya membuka mata atau mengeluarkan suara saat
kita merangsang dengan mencubit. Sebenarnya mencubit yang
paling nyeri adalah daerah puting susu, tetapi di Indonesia hal
ini sebaiknya tidak dilakukan, cubitlah pada daerah lengan saja
atau daerah dada dengan keras.
4) T-Tidak ada respon sama sekali
Pada saat dicubit tidak ada respon sama sekali. Jika seperti ini
maka apapun yang kita lakukan biasanya penderita tidak
memberikan respon sama sekali.

68
Kadang – kadang hal ini juga sulit apabila terdapat pengaruh
obat – obatan, atau di bawah pengaruh obat – obatan. Pada orang
mabuk atau dibawah pengaruh obat, juga dapat sulit menilai
kesadaran (misalnya kesadarannya nampaknya berespon terhadap
suara, namun penderita mabuk). Apabila penderita tidak ada
respons, panggil bantuan ambulans.
c. Memastikan jalan nafas adekuat
Apabila penderita dapat berbicara, maka untuk sementara dapat
dianggap bahwa jalan nafasnya baik-baik. Catatan apabila
berbicara ,tetapi tidak dapat menyelesaikan satu kalimat (terbata-
bata) maka kemungkinan ada sedikit gangguan pada jalan nafas
atau gangguan pada pernafasan. Apabila penderita tidak dapat
berbicara (pingsan, dibawah pengaruh obat-obatan dsb), maka
nilailah dengan :
1) Melihat adakah pernafasan?
2) Meraba adakah arus udara keluar dari mulut /hidung?
3) Mendengar adakah arus udara?
Apabila pernafasan berbunyi (mengorok, bunyi kumur-kumur,
stridor ), maka dianggap ada gangguan jalan nafas.
d. Memeriksa pernafasan
Apabila penderita dapat berbicara tanpa terbata-bata, maka
pernafasannya baik. Apabila penderita kesadarannya menurun
sehingga tidak dapat diajak berbicara perhatikan hal-hal seperti
berikut :
1) Lihat : Berapa frekuensi pernafasannya ?
Jumlah pernafasan normal
Kelompok usia Jumlah pernafasan
Bayi 25 50 x/menit
Anak 15 – 30 x/menit
Dewasa 12 – 20 x/menit

2) Apakah ke-2 sisi dada mengembang secara simetris

69
3) Apakah ada tanda kebiruan (sianosis)
4) Apakah ada tanda-tanda sesak seperti pernafasan yang
memaksa, pengembangan dada yang tidak normal
5) Dengarkan apakah ada bunyi bengek (seperti pada asma)
e. Menilai Sirkulasi
Peganglah tangan atau kaki penderita. Apabila terasa dingin,
maka kemungkinan penderita dalam keadaan syok, tetapi bisa juga
karena cuaca dingin. Karena itu carilah denyut nadi radialis
didaerah pergelangan tangan. Apabila tidak teraba denyut nadi
radialis, raba denyut nadi karotis (di leher). Apabila denyut nadi
kecil, cepat dan kecil (serta tangan/kaki dingin) maka penderita
dalam keadaan syok. Apabila penderita tidak sadar, raba denyut
nadi leher. Melakukan kontrol pada perdarahan yang serius dengan
segera.

f. Pemeriksaan Penderita
Pemeriksaan fisik penderita terdiri dari 2 bagian :
1) Pemeriksaan tanda vital
Tanda-tanda vital yang diperiksa adalah :
a) Pernafasan penderita
b) Nadi
c) Kulit
d) Pupil
e) Tekanan darah ( jika mampu)
Lakukan pemeriksaan tanda vital ini secara berulang kali,
karena keadaan dapat berubah setiap saat.
a) Laju pernafasan penderita
Pernafasan terdiri dari 1x menarik nafas (menghirup) dan
1 x membuang nafas. Jumlah normal setiap pernafasan /menit
berubah-ubah karena jenis kelamin dan usia. Pada orang
dewasa jumlah itu sekitar 12-20 x/menit, anak-anak 15-30
x/menit, Bayi 25-40 x/menit.

70
Menghitung pernafasan penderita anda lakukan dengan
cara lihat, dengar dan raba. Hitung jumlahnya setiap kali
dada/perut berkembang selama periode 30 detik, kemudian
kalikan 2.
Dalamnya pernafasan memberi petunjuk terhadap
banyaknya udara pada saat menghirup.Untuk mengukur
kedalaman bernafas yaitu dengan cara meletakan tangan
diatas dada penderita dan merasakannya, juga dapat dengan
merasakan gerakan perut.
Manusia normal akan bernafas tanpa usaha ekstra
(menarik nafas (inspirasi) lebih pendek dari pada
menghembuskan nafas (ekspirasi) normal inspirasi : ekspirasi
= 1 : 2.
Keadaan pernafasan yang tidak normal yang harus
dikenali adalah :
(1)Pernafasan yang pendek dan cepat (lebih sering dari
normal), ini biasanya menandakan kesulitan bernafas.
(2)Pernafasan yang sangat lambat

b) Nadi
Setiap kali jantung berdenyut, pembuluh darah nadi
(arteri) akan mengembang dan dapat diraba. Dengan meraba
nadi kita akan mengetahui denyut jantung. Ketika anda
mengukur nadi, catatlah :
(1)Kecepatan nadi (frekuensi)
(2)Kekuatan nadi (nadi yang normal lengkap dan kuat)
(3)Irama nadi (nadi yang normal mempunyai jarak tetap
antara setiap denyutan)
Nadi dapat dirasakan dibeberapa titik diantaranya :
(1) Arteri radialis - sendi pergelangan tangan
(2) Arteri karotis -di leher
(3) Arteri brakialis – dilengan atas terutama pada bayi

71
(4) Arteri femoralis – dipangkal paha
Cara memeriksa nadi radialis:
(1) Suruh penderita untuk berbaring atau duduk
(2) Sentuh dengan lembut titik nadi dengan 2atau 3 ujung jari
(hindari menggunakan ibu jari)
(3) Hitung jumlah denyutan. Hitung selama 15 detik
kemudian kalikan jumlahnya dengan 4. Jika nadi tak
teratur, lambat atau sulit didapatkan, hitung denyut dalam
30 detik kemudian kalikan 2.
(4) Catat denyut nadi dan semua tanda vital lainnya.
c) Kulit
Menilai suhu,warna dan kondisi kulit dapat memberitahu
tentang sistem peredaran darah penderita.
Suhu kulit: Normal suhu tubuh adalah 37 C. Suhu dapat
berbeda diberbagai bagian tubuh , pada proses peradangan
dikaki misalnya maka kaki yang bersangkutan akan lebih
panas.
Warna kulit : Warna kulit dapat berubah karena kelainan
jantung , paru, ataupun permasalahan lainnya, contoh : Pucat,
mungkin disebabkan oleh syok/serangan jantung. Mungkin
juga disebabkan karena ketakutan, pingsan atau kelainan
emosi. Kemerah-merahan, mungkin disebabkan karena
tekanan darah yang tinggi, penyalahgunaan alkohol (mabuk),
tersengat matahari, serangan demam, atau pada penyakit
infeksi. Kebiru-biruan adalah selalu masalah serius, tampak
pertama kali pada ujung jari dan sekitar mulut. Umumnya,
disebabkan karena kadar CO2 seperti pada syok, serangan
jantung atau keracunan. Kekuning-kuningan mungkin
disebabkan karena penyakit hati . Kehitaman atau warna biru
tua yang setempat (lokal) adalah hasil dari darah merembes
atau meresap dibawah kulit. Biasanya diebabkan oleh cedera
atau infeksi. Jika penderita berkulit gelap, kita dapat

72
memeriksa perubahan warna kulit pada bibir, kuku, telap
tangan, cuping telinga, daerah putih pada mata, permukaan
sebelah dalam pada kelopak mata, gusi atau lidah .
Kondisi kulit : Kulit biasanya kering, apabila kulit lembab
atau basah itu mungkin menunjukan syok, kegawatdaruratan
panas atau kegawatdaruratan pada diabetes.
d) Pupil
Pupil adalah bulatan hitam ditengah pada bola mata pupil
akan mengecil saat mendapatkan sinar dan melebar saat
kekurangan sinar. Kedua pu[pil harus sama ukuranmya
kecuali ada cedera.
Cara melihat pupil yaitu dengan sorotkan senter anda
kesalah satu mata penderita dan lihat apakah pupil mengecil
pada respon cahaya. Jangan menyorot lebih dari beberapa
detik karena penderita merasa tidak nyaman. Bentuk kelainan
pupil :
(1) Tidak ada reaksi pupil terhadap cahaya
(2) Pupil tetap mengecil ( disebabkan over dosis obat )
(3) Pupil tidak sama ( disebabkan cedera kepala atau stroke )
2) Pemeriksaan seluruh tubuh (Dari kepala sampai kaki)
a) Pemeriksaan kepala
Menilai seluruh kepala ,termasuk tulang tengkorak, wajah
dan rahang, juga memeriksa pupil untuk ukuran dan refleks
cahaya. Gunakan kata kunci BTLS untuk memeriksa :
(1)B-Bentuk. Periksalah tulang tengkorak, tulang wajah,dan
rahang untuk tanda-tanda dari deformitas (ada tulang yang
masuk kedalam ?). Juga periksa gigi .
(2)T-Tumor. Pembengkakan selalu menyertai cedera pada
kepala
(3)L-Luka. Cedera terbuka pada kepala dapat menyebabkan
perdarahan yang banyak, hal ini dapat
mengganggu Airway.

73
(4)S-Sakit. Adanya nyeri. Ketika palpasi pada kepala .
b) Leher
Disini terdapat pembuluh darah besar dan jalan nafas,
sehingga cedera dapat berakibat sangat parah. Untuk
memeriksa leher gunakan kata kunci BTLS untuk
memeriksa.
(1) B-Bentuk
Periksalah apakah trakea masih ditengah. Pergeseran
dapat menandakan keadaan sangat darurat.
(2) T-Tumor
Gumpalan darah dileher dapat mengganggu jalan nafas.
Juga udara dapat bocor dari trakea dan menyebabkan
pembekakan daerah leher, yang kalau diraba seperti ada
pasir dibawah kulit.
(3) L-Luka terbuka
Cedera terbuka pada leher dapat menyebabkan
perdarahan yang banyak. hal ini dapat terjadi masuknya
udara dalam pembuluh darah untuk itu perlu
ditekan secara manual pada daerah yang mengalami
perdarahan.
(4) S-Sakit
Tekanlah leher secara lembut untuk mengetahui adanya
nyeri. Bila ada kemungkinan terjadi cedera tulang leher,
pertahankan stabilisasi manual pada kepala dan leher
sampai penderita bisa dilakukan imobilisasi seluruhnya.
c) Dada
Untuk memeriksa dada :
(1) B-Bentuk
Perhatikan susunan tulang iga
(2) T-Tumor
Jika terdapat pembengkakan atau tanda kebiruan, maka
kemungkinan ada cedera.

74
(3) L-Luka terbuka
Jika luka meluas kedalam rongga dada, udara dapat
masuk kesekitar paru-paru dan menyebabkan penderita
kesulitan bernafas. Tutuplah luka tersebut sebisanya,
tetapi harus dengan pembalut yang kedap udara.
(4) S-Sakit
Saat meraba dada, tanyakan penderita jika dia merasakan
sakit.
d) Perut ( Abdomen )
Untuk memeriksa abdomen :
(1) B-Bentuk
Jarang ditemukan kelainan bentuk pada perut, bila ada
sering karena cedera.
(2) T-Tumor
Pembengkakan atau perubahan warna kulit adalah tanda
adanya cedera abdomen.
(3) L-Luka terbuka
Luka terbuka pada abdomen akan dapat menyebabkan
keluarnya organ intra abdomen. Tutuplah dengan kasa
steril yang dibasahi dengan cairan NaCl.
(4) S-Sakit
Biasanya penderita sudah akan mengatakan sakitnya
dimana (kecuali bila penderita tidak sadar). Mulailah
meraba perut penderita dari bagian yang tidak nyeri
terlebih dahulu, terakhirpada bagian yang nyeri.
e) Panggul
Untuk memeriksa panggul :
(1) B-Bentuk
Berbeda dengan tulang-tulang pada lengan dan kaki,
maka kelainan bentuk pada tulang panggul tidak selalu
jelas. Rabalah tulang untuk merasakan kelainan bentuk.

75
(2) T-Tumor
Carilah pembengkakan dan perubahan warna sekitar
tulang panggul.
(3) L-Luka terbuka
Panggul sering terluka, namun biasanya tidak serius.
Luka yang besar dapat mengancam nyawa.
(4) S - Sakit.
Jangan memaksa meraba tulang panggul jika nyeri.
f) Anggota gerak
Ekstremitas sering mengalami cedera :
(1) B-Bentuk
Karena dekat permukaan, kelainan bentuk mudah dilihat
pada lengan maupun tungkai. Biasanya kelainan bentuk
berarti patahnya tulang, karena itu jangan digerakkan
dulu.
(2) T-Tumor
Tidak selalu pembengkakan berarti adanya patah tulang!
(3) L-Luka terbuka
Apabila ada luka yang berdarah aktif (masih berdarah
terus), maka diperlukan tekanan langsung.
(4) S – Sakit
Rasa nyeri sering berarti bahwa ada sesuatu yang salah,
mungkin keseleo, ataupun patah tulang. Apabila
penderita masih dapat menggerakkan anggota gerak yang
sakit itu, maka kerapkali tidak ada keseleo ataupun patah
tulang. Bila ada patah tulang maka anggota gerak itu
harus dibidai. Anggota gerak badan juga diperiksa
dengan merasakan nadi setiap anggota gerak. Denyutan
nadi radialis yang baik menandakan bahwa peredaran di
seluruh tubuh lancar. Terdapat 2 nadi di kaki yang dapat
diraba, yaitu nadi dorsalis pedis dan nadi tibialis

76
posterior. Kemampuan untuk bergerak pada anggota
gerak seperti menggoyang-goyangkan jari tangan atau
jari-jari kaki juga tanda yang penting untuk dilihat. Bila
dapat dilakukan pergerakan dengan sempurna mungkin
seluruh sistem syaraf dalam keadaan baik. Tidak adanya
pergerakan di satu anggota gerak dapat menunjukkan
adanya masalah dengan sistem saraf pusat.
g) Pemeriksaan bagian belakang
Untuk memeriksa bagian belakang penderita :
(1) B-Bentuk
Periksalah kese-garis-an tulang belakang, dan adanya
kelainan bentuk iga bagian belakang.
(2) T-Tumor
(3) L-Luka terbuka
Luka terbuka pada bagian punggung diperlakukan sama
seperti luka pada luka dada.
(4) S- Sakit
Nyeri pada tulang belakang mungkin karena ada patah
tulang belakang. Nyeri pada daerah iga mungkin berarti
patahnya tulang iga.

B. Penatalaksanaan Pra Rujukan Kegawatdaruratan Jantung,


Pembuluh Darah dan Pernapasan
1. Penilaian Jalan Nafas dan Perbaikan Jalan Nafas
Jalan nafas yang baik
Pada orang yang sadar dan dapat berbicara dengan suara
jelas, maka untuk sementara dapat dianggap bahwa airway dalam
keadaan baik. Pernyataan tersebut berlaku dengan syarat bahwa
penderita berbicara jelas, tanpa ada suara-suara tambahan saat
menarik nafas. Saat menarik nafas hanya terdengar bunyi suara
masuk. Ingat bahwa kita berbicara saat mengeluarkan nafas dan
kita tidak dapat berbicara saat menarik nafas.

77
Menilai airway pada penderita sadar :
Penderita sadar : dapat berbicara dengan suara yang
jelas: airway baik! (tanpa ada suara tambahan)

Masalahnya adalah bahwa banyak penderita tidak dapat


diajak berbicara, karena kesadaran yang menurun atau pengaruh
obat-obatan. Penilaian cepat airway pada penderita tidak sadar,
dapat dilakukan dengan cara melihat, mendengar, mearaba.
Taruhlah kepala kita(memeriksa) diatas mulut penderita.
Mata kita melihat naik turunnya dada penderita, pipi kita meraba
rasakan adanya hembusan dari mulut penderita, dan telinga kita
mendengar akan adanya hembusan pernafasan. Cara ini dilakukan
selama 5 detik, dan dilakukan hitungan: satu, dua, tiga, empat,
lima.
Cara lain adalah dengan menaruh punggung tangan kita
depan hidung penderita unutk merasakan adanya hembusan udara.
Cara terakhir ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang
berpengalaman.

1) Adakah nafas yang berbunyi?


Pernafasan yang berbunyi berarti airway yang tersumbat.
Sumbatan ini belum sepenuhnya, masih ada udara yang dapat
keluar masuk, tetapi karena ada penyempitan, maka timbulah suara
saat bernafas.
Jenis-jenis bunyi yang dapat timbul adalah :
a) mengorok (snoring)-airway tersumbat oleh lidah atau jaringan-
jaringan tenggorokan. Perhatikan bunyi mengorok terutama
saat mengeluarkan dan menarik nafas.
b) bunyi kumur-kumur(gurgling) disebabkan muntahan isi
lambung, darah, atau cara lain yang mungkin ada di airway.
Bunti ini terjadi saat mengeluarkan dan menarik nafas.

78
c) stridor- suara yang keras dalam menarik nafas (inspirasi),
kemungkinan Karena laring yang membengkak
danmenyumbat airway bagian atas. Bisa juga karena tersumbat
sebagian oleh benda asing.

Pada umumnya lidah merupakan sumbatan dari airway pada


penderita yang tidak sadar. Penderita yang kesadarannya menurun,
pangkal lidahnya dapat jatuh ke belakang dan menyumbat airway,
kemudian timbul bunyi mengorok.usaha penderita untuk bernafas
dan kemudian menghasilkan tekanan negative yang menarik lidah,
epiglottis atau keduanya kedalam tenggorokan
Apabila kemudian akan dilakuakan pernafasan buatan,
maka lidah akan bertambah jatuh ke belakang, sehingga semakin
tersumbat. Oleh karena itu apabila akan dilakukan pernafasan
buatan, airway selalu harus tetap terbuka.
2) Bagaimana bila airway tersumbat sepenuhnya?
Jalan nafas bila tersumbat sepenuhnya. Pada orang
dewasa penyebab paling sering adalah makanan, walaupun hal
lain seperti gigi palsu juga bisa. Pada anak kecil sering
disebabkan mainan anak-anak atau mata uang logam. Pada
keadaan ini pada orang dewasa akan terjadi hal sebagai berikut
:
a. Orang tersebut akan berdiri, dan berusaha bernafas. Ia akan
berusaha memegang lehernya dengan kedua tangannya (the
universal sign of choking) dan menjadi biru (sianosis), dan
lama kelamaan akan kehilangan kesadarannya, dan jatuh.
Apabila tidak ada bantuan, penderita saat ini akan
meninggal.
b. Apabila menemukan penderita dalam keadaan sudah tidak
sadar, maka menentukan adanya sumbatan akan menjadi
sulit. Mungkin akanada anggota keluarganya yang
mengetahui kejadiannya, tetapi mungkin juga tidak.

79
c. Bila kita tidak tahu penyebab berhentinya pernafasan, maka
saat kita memberikan pernafasan buatan kita akan
merasakan bahwa tiupan kita berat karena ada tahanan.

3) Memperbaiki airway
Memperbaiki airway tergantung dari jenis sumbatan
yang terjadi, atau mungkin akan terjadi.
Catatan :
Pada penderita tidak sadar, maka kita sellau berusaha menjaga
atau membuka airway
Ada 2 cara yang umumnya digunakan untuk membuka airway
yaitu:
a. Dengan cara mendongakan kepala (head-tilt) sambil
mengangkat dagu (chin-lift)
b. mendorong rahang bawah ke depan (jaw-thrust).

Kedua teknik tersebut mendorong pangkal lidah ke depan,


dan melepaskannya dari dinding belakang.
Cara mendongakan kepala sambil mengangkat dagu
Cara mendongakkan kepala sambil mengangkat dagu
adalah cara untuk membuka airway pada penderita yang tidak
cidera. Apabila penderita cedera, jangan menggerakkan kepala, dan
hanya dapat dilakukan dengan cara mengangkat saja.
Cara melakukannya adalah sebagai berikut :
a) Letakkan tangan kiri anda ke dahi penderita
b) Letakkan ujung jari telunjuk ke jari tangan anda dari tangan
kanan anda ke bawah ujung dagu penderita.
c) Angkat dagu ke atas, pada saat yang sama tekan dahi ke bawah.

Ada beberapa hal yang harus diingat dalam melakukan cara


mendongakkan kepala sambil mengangkat dagu :

80
a) Jangan biarkan tangan anda menekan terlalu dalam pada
jaringan lunank di bawah dagu. Anda dapat menyumbat jalan
nafas penderita.
b) Bila perlu, gunakan ibu jari anda untuk menjepit bibir bawah
penderita dan mengangkatnya dan menjaga agar mulut tetap
terbuka
c) Jangan masukkan ibu jari anda ke dalam gigi seri bawah,
apalagi jika penderita setengah sadar. Anda bisa terluka karena
gigitan
d) Gigi palsu : jika penderita mempunyai gigi palsu, coba untuk
memppertahankan gigi palsu tersebut pada tempatnya karena
akan membantu mencegah bibir penderita menghalangi
pernafasan. Jika sulit lepaskan saja gigi palsu terebut.

Gerakan dorong rahang bawah (jaw trust)


Gerakan ini lebih aman dibandingkan cara terdahulu,
terutama pada penderita dengan cedera, namun lebih sulit dan lebih
melelahkan. Gerakan ini sekaligus dapat menstabilkan kepala.
Untuk melakukannya :
a) Berluttu di bagian kepala penderita, letakkan sik anda di atas
permukaan penderita berbaring. Letakkan masing-masing
tangan disamping kepala penderita.
b) pegang sudut dari bagian bawah rahang pada kedua sisinya.
c) Gunakan gerakan mengangkat untuk menggerakkan rahang
kea rah depan dengan kedua tangan.

Ada 3 cara dapat membersihkan airway dari secret/cairan.


Dengan posisi miring, sapuan jari atau penyedot (suction). Teknik-
teknik tersebut dapat dilakukan sendiri sendiri, ataupun secar
bersamaan, tergantung kondisi penderita.

81
Posisi miring
Posisi ini digunakan pada penderita yang tidak sadar yang
masih bernafas dengan baik. Apabila hendak melakukan
pernafasan buatan atau kompresi jantung, tentu saja posisi ini tidak
mungkin.
Sapuan jari
Muntah yang banyak atau benda padat yang ada dalama
mulut/faring dapat mengakibatkan kematian karena airway
tersumbat, dan harus dikeluarkan sesegera mungkin.
Sapuan jari dilakukan hanya pada penderita yang
kesadarannya sama sekali hilang, oleh karena anda akan
memasukkan jari kedalam mulut penderita. Apabila masih ada
kesadaran, ada kemungkinan jari anda putus tergigit. Sapuan jari
dapat dilakukan sampai daerah faring, secara membuta, namun hal
ini jangan dilakukan pada anak-anak, karena dapat mencederai
faring yang lembut. Sellau menggunakan sarung tangan ketika
melakukan sapuan jari.
Cara melakukan sapuan jari pada penderita yang tidak sadar:
a) Miringkan pasien pada posisi kiri, posisi ini dapat
mengalirka/mengeluarkan benda keluar, juga membantu
menjaga pangkal lidah jatuh ke belakang tenggorokan.
b) Luka mulut penderita dan lihat kedalam. Jika ada cairan atau
setengah cair, tutuplah ujung jari telunjuk dan jari tengah anda
dengan kain/kasa.
c) Masukkan jari telunjuk anda dengan menelusuri bagian dalam
pipi dan tenggorokkan sampai di pangkal lidah, lalu kait semua
benda asing keluar. Jangan samapi anda mendorong benda
lebih dalam tenggorokkan penderita.
Sumbatan benda asing pada airway
Sumbatan airway karena benda asing sangat berbahaya dan
harus dibersihkan dari airway karena penderita tidak dapat
bernafas, dan anda tidak dapat memberikan nafas buatan. Sumbata

82
airway pada penderita yang sadar dapat menyebabkan henti
jantung. Pada sumbatan total, pernafasan akan berhentikaren
abenda tersebut sepenuhnya menyumbay airway. Beberapa menit
kemuadian penderita yang sadar akan menjadi tidak sadar dan
kematian akan terjadi jika sumbatan tidak diatasi. Paling sering
sumbatan airway adalah makanan.
Jika penderita sebelumnya makan, kemudian pingsan, dapat
diduga bahwa ada sumbatan yang disebabkan makanan. Orangtua
mempunyai risiko lebih tinggi untuk tersumbat akibat makanan
Karen amereka mempunyai reflek muntah yang lemah. Sreringkali
pada keadaan ini penyebab pingsan dianggap sebagai serangan
jantung, padahal karena tersedak. Penyebab umunya dari sumbatan
airway adalah gigi palsu yang lepas. Tersumbatnya benda asing
pada airway dapat parsial dan total.
Pada sumbatan sebagian, benda asing tersebut berada di
tenggorokkan tetapi tidak sepenuhnya menyumbat pernafasan,
sehingga penderita masih dapat bernafas. Walaupun penderita
tersebut mempunyai pertukaran udara yang bagus, anda tidak boleh
meninggalkan penderita dengan sumbatan airway sebagian, karena
sumbatan tersebut dapat berubah menjadi total. Penderita dengan
sumbatan airway sebagian tetapi pertukaran udara masih baik
mungkin masih tetap sadar dan bereaksi. Dapat batuk dengan
lemah dan berbicara dengan lemah. Kemungkinan ada suara stridor
saat menarik nafas, dan mungkin ada kebiruan. Pnderita dengan
sumbatan total tidak dapta bernafas, batuk atau bicara, dan dalam
waktu singkat akan jatuh pingsan.
Sumbatan parsial, penderita masih bernafas cukup baik
Penderita dengan sumbatan parsial dan pertukaran udaranya
yang baik masih dapat diminta untuk batuk.
Dalam hal ini :
a) Anjurkan penderita unutk batuk. Jangan lakukan tindakan yang
lain

83
b) angan pernah meninggalkan penderita sampai anda pasti bahwa
airway sudah bersih.
c) Jika penderita tidak dapat mengeluarkan benda sendiri mintalah
pertolongn adari SPGDT.

Sumbatan total (tidak dapat bernafas). Atau parsial dengan


pernafasan yang lemah (penderita masih sadar)
Pada saat ini harus dilakukan maneuver dari Himlich atau
dorongan perut. Perasat Heimlich akan mendorong diafragma
dengan cepat keatas, dan juga memperkecil rongga toraks dengan
cepat, sehingga terjadi semacam proses seperti pengeluaran nafas
paksa yang kemudian diharapkan dapat mengeluarkan benda asing.
Jangan melakukan pemukulan punggung pada orang dewasa.
Perasat Heimlich dilakukan sebagai berikut :
a) Berdiri dibelakang pendrita dan peluklah dari belakang.
Selipkan satu lutut diantara ke-2 tungkai penderita. Ini akan
menyebabkna penderita kehilangan kesadaran, akan jatuh lebih
perlahan.
b) kepalkan satu tangan dan letakkan ditengah perut atas pusar
tetap dibawah xifoid.
c) Letakkan tangan yang lain di atas kepalan tangan pertama
d) Lakukan pendorongan perut

Hati-hati pada jika posisi anda tidak benar atau jika anda
terlalu cepat, anda dapat kehilangan keseimbangan dan mnejatuhi
penderita. Jika posisi tangan anda terlalu tinggi, anda dapat
menyebabkna luka bagian dalam.
Pada penderita hamil dan sangat gemuk lakukan maneuver
ini dengan meletakkan kepalan ditengah tulang dada penderita dan
lakukan hentakan dada.
Orang dewasa, sumbatan airway total tidak sadar
Penderita tidak sadar seprti ini akna ditemukan pada keadaan :

84
 Sudah dilakukan perasat Heimlich, tidak berhasil, dan
kemudian penderita jatuh dan menjadi tidak sadar.
 Ditemukan tidak sadar, dan pada saat ini pernafasan buatan,
tiupan kita terasa berat

Dalam keadaan ini akan dilakukan hentakan perut. Pada


saat mennemukan penderita tidaksadar, barangkali anda belum
mengetahui bahwa penyebabnya dalah sumbatan jalan nafas,
karena itu lakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Ingat bahwa anda tidak punya waktu untuk membawaya ke
rumah sakit, kecuali rumah sakit dekat sekali
b) Panggil SPGDT
c) Baringkan penderita dalam posisi terlentang atau lurus
a. Usahakan untuk memberikan ventilasi pada penderita
Pertama-tama selalu buka airway terlebih dahulu.
Kemudian coba berikan ventilasi buatan 2 kali. Jika tipan terasa
berat, dada penderita tidak terangkat, maka ini adalah sumbatan
jalan nafas.
Setelah nafas buatan peratma, perbaiki pembukaan jalan nafas
b. Melakukan hentakkan perut
1) Berlututlah dengan menunggangi penderita
2) Tempatkan tumit dari satu tangan di tengah perut penderita
sedikit diatas pusar dan tepat dibawah xifoid.
Tempatkan tangan kedua diatas tangan pertama.
3) Lakukan hentakan perut, dapt diulangi sampai 5 kali
c. Lakukan sapuan jari
1) Bukalah jalan nafas
2) Lakukan sapuan jari
3) Lakukan urutan a-b-c secar terus menerus sampai benda asing
keluar
Menilai dan memperbaiki pernafasan (Breathing)
Pada dasarnay untuk pernafasan ada 3 hal yang perlu dilakukan :

85
1) Menilai pernafasan
2) Ventilasi
3) Oksigenisasi
1. Menilai pernafasan
Bernafas harus tanpa usaha tambahan
a. Lihat apakah dada naik-turun seprti biasanya penderita bernafas. Kalau
penderita menggunakan otot leher yang berlebihan atau otot-otot antar
tulang iga penderita terlihat takut bergerak, kemungkinan penderita
dalam keadaan sesak.
b. Awasi penderita yang sadar apabila berbicara. Berbicara berarti udara
bergerak melewati pita suara. Jika penderita hanya dapat bersuara atau
berbicara beberapa patah kata saja, kemungkinan pernafasan tidak
cukup adekuat. Penderita yang dapat berbicara dengan kalimat lengkap
tanpa kesulitan, pernafasan berarti cukup.
Pada penderita yang tida sadar, bukalah airway.
Letakkan telinga anda dengan mulut dan hidung penderita selama 5
detik dan lihat-dengar-raba
1). Lihat : turun-naik dada
2). Dengar : udara yang keluar dari mulut dan hidung penderita
3). Raba : rasakan udara yang keluar dari mulut dan hidung penderita
pada pipi kita.

Jika ada sumbatan pada airway baru saja terjadi, dada penderita
mungkin masih akna turun naik, namun tidak akna ada arus udara yang
keluar dari hidung atau mulut penderita.
Pernafasan orgonal, bernafas dengan megap-megap dapat terjadi
pada henti jantung, atau pernafasan yang sebentar lagi akan berhenti.
Bila karena henti jantung mnedadak, makan megap-megap ini tidak
akan berlangsung lama, dan akan segera diikuti dengan hentinya
pernafasan.

86
Tanda-tanda pernafasan yang tidak adekuat
Sangat penting bagi anda untuk mengenal tanda-tanda pernafasan
yang tidak adekuat.
Tanda pernafasan tidak adekuat adalah ;
1. Hitung frekuensi pernafasan setengah menit, dikalikan angka2.
Pernafasan yang pasti tidak adekuat apabila kurang dari 8x/menit
pada orang dewasa, kurang dari 10x/menit pada anak atau kurang
dari 20x/menit pada bayi
2. Sesak : meningkatnya usaha dalam bernafas. Pernafasan normal
adalah tanpa usaha. Penggunaan otot perut secara berlebihan untuk
bernafas, karena penderita memakai diafragma untuk memaksa
udara keluar masuk paru-paru. Anda dapat melihat retraksi pada
tulang-tulang iga, diatas tulang selngka dan sekita leher. Ketika
penderita menarik nafas, mengembangnya lubang hidung
merupakan salah satu tanda yang umung yang dapat dilihat pada
bayi dan anak.
3. Sianosis : adalah perubahan warna tau kebiru-biruan pada kulit dan
lapisan selaput lender. Sianosis berate terlalu banyak CO2. Pada
orang Indonesia, sianosis yang ringan sulit dikenal, sianosis yang
jelas terutama terlihat pada kuku.
4. Perubahan kesadaran. Apabila otak tidak menerima O2, maka
pertama-tama penderita akan sangat gelisah, tetapi bila lebih lanjut,
penderita akna kehilangan kesadarannya.
5. Denyut jantung yang lambat atau sangat cepat yang disertai jumlah
pernafasan yang lambat.

Apa yang harus dilakukan jika dicurigai penderita sesak ?


1. Tenangkan penderita
2. Pastikan bahwa airway bersih
3. Berika oksigen
4. Pertimbangkan untuk membantu pernafasan
2. Pernafasan buatan

87
Jika berhubungan dengan jalan nafas penderita maka kita
berurusan dengan ludah atau muntah penderita, karena itu selalu proteksi
diri.
Jika penderita tidak bernafas sama sekali, penderita pasti membutuhkan
bantuan pernafasan
Jika penderita masih bernafas, maka diberikan bantuan pernafasan apabila
a. Pernafasan terlalu lambat
b. Pernafasan yanaga terlalu dangkal
c. Pernafasan yang sangat cepat, pasti tidak akan cukup kedalamannya.

Tentu saja lebih baik jika kita memberikan pernafasan buatan memakai
alat khusus yakni sebuah kantung yang dapat ditekan dan mengeluarkan
udara, karena kita akan memberikan seluruh oksigen yang ada di udara,
yakni 21 %
Beberaa cara pernafasan buatan yang harus dikuasai :
a. Pernafasan mulut ke mulut
b. Pernafasan mulut ke masker
c. Pernafasan memakai bag-valve-mask (BVM)
Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan yang kita berikan sudah cukup
adalah :
a. Jumlah pernafasan buatan yang diberikan : 1x setiap 3 detik untuk bayi
dan anak (20 kali permenit), satu kali dalam 5 detik (12 kali per menit)
untuk orang dewasa
b. Tiupan udara yang diberikan harus cukup untuk menyebabkan dada
naik sesaat dilakukan pernafasan buatan
c. Tanda sesak nafas berkurang
d. Sianosis mulai menghilang
e. Setelah pemberian nafas buatan, seharusnya laju denyut jantung akan
menurun atau kembali normal.
Pernafasan mulut ke mulut
Pada cara pernfasan mulut ke mulut, anda akan menutup mulut
penderita dengan mulut anda dan jelas berissiko penularan penyakit.

88
Karena itu pada pernafasan mulut ke mulut lebih baik memakai alt
pelindung.
Alat pelindung ini adalah sebuah lembah plastic tipis dan lentur
melindungi wajah, dapat dilipat dan dibawa dengan mudah.alat pelindung
ini ckup tipis sehingga pernafasan dari mulut ke mulut dapat dilakukan,
akan tetapi mempunyai katup satu arah,sehingga cairan penderita tidak
akan mengenai anda
Penggunaan pernafasan mulut ke mulut tanpa alat pelindung
jangan dilakukan kecuali pada anggota keluarga dirumah, dan tidak
tersedia alat pelindung.
Cara pernafasan mulut ke mulut :
1. Berlutu di samping kepala penderita
2. Buka airway pendrita
3. Pasang alat pelindung
4. Jepit lubang hidung penderita dengan ibu jari telunjuk
5. Lingkarkan mulut ke sekeliling mulut penderita, jika anda memberikan
pernafasan pada bayi dan anak kecil tutup mulut dan hidung penderita
dengan mulut anda
6. Tiupkan perlahan tetapi pastikan udara dalam paru anda ke penderita,
masing-masing harus demikian kuat dan volumenya sedemikian cukup
sehingga membuat dada naik
Bila anda tidak meniup terlalu cepat atau terlalu banyak karena
mungkin anda akn mendorong udara masuk ke lambung penderita,
atau merusak paru karena tiupan terlalu kuat.
7. Pernafasan buatan cukup dalam jika :
a. Lihat naik turunnya dada : naik-turun dengan baik
b. Dengar : pernafasan keluar cukup baik
c. Raba : rasakan udara yang keluar ketika penderita ekspirasi
8. Lanjutkan ventilasi dengan laju pernafasan sesuai kecepatan
pernafasan buatan

89
9. Jika anda tidak dapat memberika pernafasan buatan dengan baik atau
jika dada tidak naik dengan adekuat coba posisikan kepala kepala
penderita kembali dan coba lagi.
10. Jika usaha kedua kali juga gagal maka harus diangap bahwa airway
tersumbat oleh benda asing.

Pernafasan buatan mulut ke masker


Pernafasan mulut ke masker lebih baik karena :
1. Pernafasan yang diberikan ke penderita lebih terkontrol
2. Masker pernafasan buatan mempunyai katup satu arah sehingga tidak
ada hubungan langsung dengan hidung, mulut, dan cairan tubuh
penderita. Ini juga dapat mencegah terkena udara yang dikeluarkan
penderita saat penderita ekspirasi.
Ciri-ciri masker yang baik adalah sebagai berikut :
1. Harus sesuai dengan wajah penderita untuk membentuk segel yang
baik
2. Harus tembus pandang sehingga anda dapat melihat, muntahan, darah
dll yang ada di dalam mulut penderita
3. Harus mempunyai katup satu arah atau harus dapat dihubungkan
dengan katup satu arah pada bagian atasnya.
Ada masker yang dapat dihubungkan dengan oksigen.
Cara pemakaian masker pada pernafasan mulut ke masker :
1. Berlutut disamping kepala atau pada bagian ujung kepapal penderita
2. Sambungkan oksigen ke masker
3. Posisikan masker ke penderita
Bagian masker yang atasnya menyempit dan harus ditempatkan pada
batang hidung penderita. Bagian yang lebar harus tepat denagn dagu
penderita. Posisi dari masker sangat penting, karena jika salah, anda
tidak akan berhasil memberikan pernafasan yang baik.
4. Rapatkan masker sekeliling mulut dan hidung penderita dengan cara
meletakkan kedua ibu jari anda pada bagian atas masker, dan letakkan
telapak tangna dari kedua tangan anda sepanjang sisi-sisinya. Tekan

90
masker dengan baik di sekeliling mulut dan hidung untuk membentuk
segel yang baik.
5. Buka airway penderita dengan menggunakan jari tengah dan jari manis
dari kedua tangan anda yan berada pada rahang bawah untuk
mendongakkan kepala. Gunakan cara mendorong rahang jika penderita
cedera.
6. Mulailah denga memberikan 2 tiupan udara dnegan perlahan tetapi
pasti. Pastikan bahwa pernafasan buatan yang diberikan sudah cukup
dengan memperhatikan turun naiknya dada. Dengar dan rasakan udara
keluar saat penderita ekspirasi.
7. Jika pernafasan buatan terasa berat atau dada tidak naik turun dengan
baik, posisikan kepala dan coba lagi. Apabila usaha anda kedua juga
gagal dianggap airway tersumbat oleh benda asing.
8. Lanjutkan pernafasan buatan dengan kecepatan sesuai kecepatan
pernafasan buatan.

3. Penatalaksanaan Pra Rujukan Kegawatdaruratan Jantung dan


Pembuluh Darah
a. Faktor Resiko
1) Usia lanjut
2) Jenis kelamin
3) Riwayat serangan jantung
4) Oenyakit jantung koroner
5) Penyakit diabetes mellitus
6) Pernah menderita serangan jantung
7) Penyakit darah tinggi
8) Merokok
9) Kurang olah raga
10) Obesitas
b. Gejala Prodromal
Gejala prodromal adalah keluhan-keluhan yang telah dirasakan
penderita sejak 2 sampai 3 minggu sebelum serangan terjadi.

91
Apabila terdapat gejala prodromal seseorang haru waspada
terhadap kemungkinan terjadinya serangan. Namun demikian
gejala prodromal tidak harus selalu ada, bisa saja serangan terjadi
pada seseorang yang tidak mengalami gejala prodromal
sebelumnya.
1) Cepat lelah
2) Sakit dada ringan
3) Sesak nafas ringan
4) Nyeri ulu hati

c. Jenis-Jenis Kegawatdaruratan Jantung Dan Pembuluh Darah


Kegawatdaruratan kardiovaskuler yang sering terjadi adalah :
1) Angino Pectoris
Gejala dan tanda utama angino pectoria adalah
a) Tanda utama adalah nyeri dada, sebagai rasa tertekan beban
di dada, terperas, dada penuh, panas seperti terbakar atau
kram di dada
b) Lokasi nyeri dada atau sakit terutama disebelah kiri, daerah
tulang dada, ulu hati, disebelah kanan dan dapat menjalar ke
lengan kiri leher, bahu kiri, rahang bawah dan punggung
c) Nyeri hilang biasanya jika aktivitas fisik dihentikan dan
diberikan obat-obat nitrat
d) Nyeri biasanya tidak berubah dengan perubahan sikap
tubuh dan tidak bertambah apabila dilakukan penekanan di
daerah nyeri
 Nyeri ini berlangsung dalam beberapa menit,
kurang dari 15 menit.
 Jika nyeri menetap untuk waktu lebih lama (>20
menit), dicurigai ada sebagian kematian otot
jantung

92
Gejala lain yang dapat menyertai angina pectoris:

a) Napas pendek, sesak


b) Jantung berdebar
c) Pusing
d) Keringat banyak
e) Mual dan muntah

2) Infark Miokard Akut (IMA)


Adalah kerusakan atau kematian dari sebagian otot jantung. Hal
ini dapat terjadi apabila supplai oksigen ke otot jantung benar-
benar terhenti, misalnya pada keadaan arterisclerosis yang
lanjut. Keadaan ini sering dikenal dengan serangan jantung.
Gejala dan tanda utama IMA
a) Angino pectoris yang berlangsung lebih lama (> 30 menit)
b) Nyeri tersebut tidak sebenarnya hilang setelah istirahat dan
pemberian obat-obat nitrat yang telah diulang sampai 3 kali
pemberian.

Disertai oleh

c) Rasa cemas dan ketakutan


d) Penurunan kesadaran
e) Rasa lemas seluruh tubuh

Terjadinya angino pectoris dan infark miokard akut adalah


akibat ketidakseimbangankebutuhan dan supplai oksigen ke otot

3) Gagal Jantung
Semakin banyak otot jantung yang mati, fungsi jantung untuk
memompa darah ke seluruh bagian tubuh pun berkurang,
sampai akhirnya dikenal dengan keadaan gagal jantung yaitu
saat jantung tidak mampu lagi memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan makanan dan oksigen jaringan.

93
Gejala dan tanda gagal jantung
a) Sesak napas yang semakin berat apabila korban berbaring
disertai peningkatan frekuensi pernapasan.
b) Rasa lemas seluruh tubu, cepat lelah
c) Peningkatan frekuensi nada (>120x/menit) dan dapat tidak
teratur
d) Rasa cemas dan takut berlebihan
e) Pembuluh darah vena dileher melebar, seperti mengangkat
beban
f) Rasa kembung
g) Bengkak kepada kedua tungkai

4) Krisis Hipertensi
Hipertensi yaitu tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik ≥90 mmHg. Penderita hipertemsi biasanya
mengalami sakit kepala, teling berdenging, rasa berat
ditengkuk, sukar tidur, cepat marah dan pusing. Krisi hipertensi
ialah tekanan darah naik secara tiba-tiba dan diperlukan
penurunan tekanan darah dengan segera. Penanganan ini untuk
mencegah dan membatasi kerusakan pada organ jantung, otak,
mata, ginjal, dll. Gejala yang dialami korban ialah :
a) Sakit kepala cukup berat
b) Mata berkunang-kunang
c) Mimisan
d) Rasa kesemutan di lengan atau tungkai
e) Rasa cemas
5) Cerrobrovaskuler Accident (Stroke)
Stroke adalah “serangan otak” atau brain attack terjadi jika
pembuluh darah tersumbat atau jika pembuluh darah di otak
pecah mengakibatkan hilangnya aliran darah ke sel-sel otak.
Akan terjadi kematian saraf pada sel saraf yang tidak menerima

94
aliran darah, dengan akibat hilangnya kemampuan kontrol saraf
di daerah yang mati.

Kepentingan seorang penolong pertama dalam penanganan


stroke adalah:
a) Stroke penyebab kematian nomor 3
b) Stroke penyebab kecacatan nomor 1
c) Tingkat kekemabuhan stroke cukup tinggi

Faktor risiko terjadinya stroke

a) Usia
Usia 65 tahun frekuensi 2x
Usia 75 tahun frekuensi 4x
Usia 85 tahun frekuensi 8x
b) Jenis kelamin
Laki-laki1,3 kali wanita
c) Ras
Afrika-Amerika frekuensi 2x

Gejala daan tanda stroke

a) Tiba-tiba sakit kepala hebat, sering kali dilukiskan sakit


kepala yang paling buruk selama hidupnya
b) Kelemahan, kesemutan, lumpuh pada bagian wajah, lengan,
tungkai terutama pada salah satu sisi tubuh
c) Tiba-tiba pandangan kabur pada satu atau dua mata
d) Biacar tidak jelas atau hanya mengerti pernyataan sederhana
e) Hilangnya keseimbangan atau koordinasi, terutama jika
dikombinasi dengan gejala lain
f) Rasa kesemutan pada wajah atau bagian tubuh lainnya,
biasanya satu sisi
g) Perubahan status kesadaran bisa pingsan sampai koma
h) Dapat timbul kejang

95
i) Ukuran pupil tidak sama
j) Hilangnya kontrol buang air kecil atau air besar

d. Tindakan pra RS
Tindakan yang dapat dilakukan pada seseorang pemberi
pertolongan pada kegawatan jantung dan pembuluh darah ialah :
1) Hentikan aktifitas korban
2) Buka jalan nafas
3) Pemberian oksigen 4 ml/mnt kanul
4) Letakkan pada posisi nyaman
5) Longgarkan pakaian ketat
6) Beri rasa aman dan dukungan moral
7) Pertahankan suhu tubuh
8) Monitar tanda vital
9) Evakuasi secepat mungkin

e. Pencegahan
Gaya hidup sehat
1) Mengatur pola makan yang sehat
a) Tambahkan asupan K kurangi asupan Na (<6gr/hari)
b) Kurangi asupan lemak jenuh dan trans fatty acid
c) Makanan berserat dan protein nabati
d) Sumber lemak sebaiknya dari sayuran, ikan dan buah
e) Polong dan kacang-kacangan
f) Jangan berlebihan dan lain-lain
2) Menghentikan merokok
3) Hindari minum alkohol dan penyalahgunaan obat
4) Lakukan olahraga teratur
5) Hindari stress dan istirahat yang cukup

96
4. Pernapasan
a. Penilaian jalan nafas
1) Jalan nafas yang normal
2) Jalan nafas yang tidak normal (pernafasan yang berbunyi karena
ada penyempitan pada airway, jenis bunyi yang dapat timbul :
a) Mengorok (snorning)
b) Kumur-kumur (gurgling)
c) Stridor
b. Membebaskan jalan nafas
1) Mendongakkan kepala (Head Tilt) sambil mengangkat dagu
2) Mendorong rahang bawah kedepan/jaw thrust
c. Membersihkan jalan nafas (airway)
1) Posisi miring
2) Sapuan jari
“Jangan membuat penderita pada posisi miring jika anda
melihat gejala adanya cidera atau trauma”
d. Gejala
1) Sesak nafas yang dirasakan pasien adalah kesulitan bernafas dan
rasa tidak nyaman saat bernapas. Frekuensi napas meningkat
atau malah menurun serta dijumpai adanya saat bernapas.
Kadang dijumpai suara stridor saat menarik napas.
2) Hipoksia adalah kurangnya hantaran oksigen ke jaringan tubuh
3) Wheezing (mengi) adalah suara yang timbul akibat aliran
turbulen di seluruh napas, dapat terjadi pada orang, normal
namun lebih sering terjadi akibat adanya sumbatan jalan napas,
misalnya pada pasien asma dan PPOK.
4) Sianosis adalah warna kebiruan pada kulit dan selaput lender,
jelas terlihat pada lidah, daun telinga, dan kuku jari.

97
e. Jenis-jenis
1) Pneumonia dan bronchitis
Pneumonia adalah infeksi pada jaringan padat paru, sedangkan
bronchitis adalah infeksi pada seluruh napas yang dilewati
udara.
Gejala :
a) Sesak
b) Nyeri dada
c) Batuk dengan produksi dahak yang banyak
d) Demam
e) Frekuensi napas yang meningkat, dan penggunaan otot-otot
napas tambahan saat bernapas
2) Hemoptysis
Hemoptysis adalah batuk darah. Dikategorikan ringan, jika
volume darah kurang dari 5 mL dalam 24 jam , dikategorikan
berat bila 600 ml/24 jam atau lebih dari 100 ml dalam 3 hari.
Penyebab tersering adalah infeksi paru (termasuk tuberkolosis),
kanker, dan penyakit jantung.Pada 28 kasus, tidak ada kasus
yang mendasarinya.
Gejala dan tanda :
1. Riwayat merokok dan penyakit paru sebelumnya
2. Demam, jika penyebabnya adalah infeksi
3. Frekuensi napas yang meningkat
3) Pneumotoraks
Terjadi apabila udara masuk ruang potensial antara selaput paru
dalam dan selaput luar, sehingga sebagian paru menguncup,
karena adanya tekanan udara dari ruang tadi.
Gejala dan tanda :
1. Nyeri dada
2. Sesak
3. Frekuensi napas meningkat
4) Asma dan penyakit paru obstruktif kronik

98
Asma bronkialis adalah penyakit episodic yang disebabkan
mengecilnya saluran napas.Ini biasanya disebabkan karena
spasme dari otot-otot halus yang mengelilingi dinding
bronkus.Asma biasanya dipicu allergen, bau harum yang kuat,
gas yang mengiritasi, rokok atau perubahan cuaca.
Penyakit paru obstruktif kronik paling banyak disebabkan
emfisema dan bronchitis kronis.Emfisena disebabkan alveoli
kehilangan elastisitas dan kemudian melebar, dan udara
kemudian terjebak dalam alveoli.Dengan bertambahnya alveoli
yang rusak, pernapasan menjadi semakin sulit.Bronchitis kronis
disebabkan lender yang berlebihan dan terjebak disaluran udara
(bronkus) yang besar.
Penderita seperti ini biasanya akan mengalami batuk yang terus-
menerus.penderita PPOK biasanya mempunyai riwayat merokok
atau masyarakat yang mengalami tingkat polusi yang tinggi.
5) Inhalasi gas beracun
Seringkali suatu kebakaran akan menyebabkan kematian bukan
karena luka bakar, tetapi karena inhalasi gas beracun. Api dapat
menyebabkan cedera pada penderita dengan dua cara berbeda :
luka bakar saluran pernapasan (membakar jalan napas) dan
inhalasi gas beracun. Keadaan ini akan paru bila suhu luar tubuh
lebih dari 50 0c (120 0f).
Karbon monoksida dan ammonia merupakan gas beracun yang
biasanya terhisap.
Gejala dan tanda :
1. Iritasi dan peradangan pada saluran udara, mati dan hidung
2. Perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan
3. Kemungkinan henti napas dan jantung
4. Bulu hidung terbakar
5. Ludah yang ada karbon (Jelaga) dan keabu-abuan
6. Wheezing dan pernapasan yang berbunyi
7. Batuk

99
8. Sesak
f. Penanganan
1) Amankan TKP (pada kasus inhalasi gas beracun, bahwa
secepatnya penderita sejauh mungkin dari TKP dan gunakan
PPD
2) Periksa kesadaran penderita
3) Primary survey :
1. Airway membuka jalan napas
2. Brething pemberian oksigen 2 l/menit
3. Circulation awas tanda-tanda shock (terutama pada
hernoptisis), jika ada lakukan tatalaksana shock
4) Posisikan penderita yang sadar pada posisi nyaman
5) Beri dukungan moral, terutama pada pasien yang cemas
6) Evaluasi secepat mungkin

100
DESA SIAGA
PENATALAKSANAAN PRA RUJUKAN KASUS PERDARAHAN DAN
SYOK

DOSEN PEMBIMBING RACHMAWATI, M.Kes

Disusun oleh Kelompok 7


1. Juetri Anggraini
2. Mutiara Miftahul Jannah
3. Niken Agustina
4. Pelita Seri Wahyuni Sitepu
5. Rahma Putri

POLITEKNIK KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2018/2019

101
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENATALAKSANAAN PRA RUJUKAN PERDARAHAN


Perdarahan adalah suatu keadaan dimana darah keluar dari pembuluh
darah. Terdapat dua jenis perdarahan yaitu perdarahan dalam dan
perdarahan luar.
1. Penanganan perdarahan luar
 Jenis-jenis perdarahan luar :
a. Perdarahan pembuluah darah nadi/ nadi : darah akan tampak
merash cerah dan darah yang keluar menyemprot oleh karena
terpompa jantung.
b. Perdarahan pembuluh darah balik/vena : darah akan tampak merah
gelap dan mengalir
c. Perdarahan kapiler : daraha akan tampak gelap, metenetes dan
merembes
 Perawatan pra RS untuk perdarah luar
a. Lakukan penekanan langsung
b. Tinggikan anggota gerak yang cedera
c. Gunakan penekanan pada titik riskan
d. Imobilisasi anggota gerak

Turniket jhanya pada kasusu emergency, ketika cara lain tidak


dapat lagi menghentikan perdarahan. Gunakan turniket se-distal
(bawah) mungkin. Penggunaan turniket dapat mengakibatkan kerusakan
pada sarahf dan pembuluh darah. Juga dapat mengakibatkan kehilangan
anggota gerak.

 Prinsip pada penutupan luka :


a. Jangan menyentuh luka secara langsung, termasuk menyentuh luka
dengan tangan yang kotor / benda-benda yang tidak steril.
b. Bahan yang digunakan untuk membalut luka harus steril. Jika tidak
ada dapat menggunkan kain yang bersih,
c. Jangan ada ujung balutan yang bebas melayang
d. Ikatan balutang jangan terlalu longgar atau kencang

102
e. Plester ujung balutan atau ikat dengan simpul
f. Sedapat mungkin ujung jari tidak ikut terbalut agar dapat diperiksa
peredaran darahnya.

2. Penanganan perdarahan dalam


 Gejala dan tanda perdarahan dalam :
a. Batuk darah
b. Muntah darah
c. Jejas memar dikulit
d. Perut yang keras biasanya disertai dengan rasa sakit yang luar biasa
e. Keluar darah dari alat kelamin
 Penanganan pra rumah sakit untuk perdarahan dalam :
a. Pertahankan tetap terbukanya jalan napas
b. Jaga korban tetap hangat berikan selimut, tetapi jangan berlebihan
c. Awasi tanda-tanda syok (penurunan kesadaran, bibir pucat,
keringat dingin di tangan, tekanan darah turun < 90/60 mmHg)
d. Evakuasi korban secepat mungkin

3. Penutupan luka
Penutupan luka adalah benda yang digunakan untuk menutup luka dan
membantu mengontrol perdarahan serta mencegah kontaminasi
tambahan. Contohnya : kian kassa
Jenis-jenis penutup luka :
a. Kassa
b. Pembalut trauma
c. Pembalut biasa, dikenal dengan nama perban
d. Pembalut elastic
e. Pembalut oklusif

4. Jenis-jenis balutan
a. Mitela
Berbentuk segitiga yang digunkan untuk menahan anggota badan
yang terluka, menahan kassa steril, membentuk turniket dan
membalut dahi atau tulang terkorak

103
b. Kravat, adalah mitela yang dilipat-lipat dan adapat digunkan untuk
membebat
c. Perban gulung biasa ataupun elastic sering digunakan

5. Tiga penyebab utama perdarah dalam kasus kebidanan.


1. Perdarahan
 Antepartum
 Durantepartun
 Post partum
a. Perdarahan Antepartum
Perdarahan pervaginam yang terjadi antara umur kehamilan 28
minggu sampai kelahiran
o Penyebab

1) Placenta Previa

Gejala :

 Perdarahan pervaginam pada kehamilan 28 minggu atau lebih


 Jumlah perdarahan sedikit atau banyak
 Warna Merah segar
 Perut tidak tegang dan tida ada nyeri perut

Tindakan :

 Jangan Lakukan Periksa Dalam


 Pasang Infus RL ( Bila K/u Baik 20 TPM, Bila K/u jelek sebanyak 40
TPM)
 Periksa Tekanan Darah dan Nadi
 Periksa Bagian Posisi Janin
 Segera Rujuk ke RS dan harus didampingi Bidan

2) Solutio Placenta
Gejala :

 Perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 28 minggu

104
 Jumlah perdarahan keluar tidak samapada setiap pasien
 Warna darah merah tua
 Perut tegang dan nyeri
 Bagian – bagian janin sulit dipalpasi

Tindakan

 Pasang Infus RL ( Bila K/u baik 20 TPM , bila K/u jelek 30-40
TPM)
 Periksa Tensi dan Nadi
 Rujuk ke RS

Waspada : dilarang melakukan periksa dalam pada perdarahan


antepartum yang belum jelas diagnosa nya.

b. Perdarahan Durantepartum
 Partus lama

Penyebab :

1. His lemah
2. Kelainan janin ( anatomi, ukuran, letak )
3. Disproporsi kepala panggul

Gejala :

 Pembukaan tetap 3 cm setelah 18 jam inpartu


 Belum ada pembukaan lengkap setelah 18 jam inpartu

Tindakan :

 Partus lama dilakukan tindakan pertolongan di RS


 Penanganan ditingkat dasar : menemukan secara dini gejala partus
lama.

 Perdarahan Post Partum

105
Adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah
persalinan

Penyebab :

1. Atonia uteri
2. Sisa placenta
3. Robekan jalan lahir ( perineum, vagina, serviks )
4. Gangguan pembekuan darah
5. Inversio uteri

Tindakan

 Segera pasang inful RL


 Awasi TD, Nadi dan timbulnya tanda-tanda syok
 Lakukan massase
 Berikan uterotonika methergin 0,2 mg IV / IM
 Kosongkan Vesica urinaria
 Penderita berbaring dengan kaki lebih tinggi dari kepala
 Periksa jalan lahir untuk memeriksa adanya robekan jalan lahir (
vagina, serviks dan uterus ) bila terjadi robekan serviks atau rupture
uteri maka pasang tampon vagina dan segera rujuk ke RS
 Jika placenta telah lahir, periksa apakah placenta lahir lengkap.
 Eksplorasi cavum uteri secara normal untuk mencari kemungkinan
adanya sisa placenta atau rupture uteri
 Bila perdarahan belum teratasi dengan tindakan diatas, lakukan
kompresi bimanual sambil mempersiapkan pasien dirujuk ke RS
dengan infuse tetap terpasang.

B. PENATALAKSANAAN SYOK

1. Tanda dan gejala syok


Syok adalah gangguan perfusi, kegagalan tubuh untuk mensuplai sel-sel
tubuh dengan darah, dan secara langsung memberikan darah kesegala sel

106
dalam tubuh. Jaringan yang tidak dapat mendapatkan darah anatara lin
otak, jantung, ginjal, dan sebagainya.
Gejala yang terjadi dapat sangat ringan sehingga sulit dikenali, ataupun
dapat sangat berat sehingga mudah dikenali.
1) Nadi :
Gangguan perfusi ini dapat terjadi pada semua organ, dan tubuh
manusia bereaksi terhadap keadaan ini dengan memompa lebih cepat
sehingga terjadi denyutan jangung yang lebih cepat. Keadaan ini
dikenal sebagai takikardi. Seperti sudah diterangkan, maka nadi dapat
diraba dipergelanangan tangan (arteri radialisis) ataupun arteri karotis
di leher. Apabila ragu-ragu akan denyutan di pergelangan tangan,
lebih baik langsung meraba di arteri karotis. Kalau darah yang
dipompakan berkurang, maka pembuluh darah akan bereaksi dengan
mengecilkan pembuluh darahnya (vasokontriksi). Akibatnya maka
denyut nadi lebih sulit diraba, menjadi “lebih kecil”. Jadi akibat syok
adalah takikardia dan kecil. Pada syok yang sangat berat, maka nadi
mungkin tidaka akan dapat diraba lagi.
2) Otak
Apabila otak kekurangan darah, maka terjadi gangguan fungsi
otak. Bila kekurangan itu hanya sedikit, maka penderita akan menjadi
gelisah dan ketakutan. Pada syok yang berat atuapun sangat berat,
penderita akan kehilangan kehilangan kesadaran, dapt sampai pingsan
sebelum meninggal. Biasanya pada keadaan syok, penderita akan
haus, dan meminta minum (jangan diberikan).
3) Paru-paru
Bila ada syok, maka akan terjadi kedaan dimana sel-sel mengalami
hipoksia, kekurangan oksigen. Tubuh akan bereaksi dengan membuat
pernapasan menjadi lebih cepat, supaya kekurangan oksigen dapat
teratasi. Pernapasan juga menjadi lebih dangkal.
4) Kulit
Akibat syok pada kulit, tubuh mengubah distribusi darahnya.
Organ tubuh ynag tidak begitu penting tidak mendapat darah lagi
supaya organ tubuh yang lebih penting tetap mendapatkan suplai
darah. Akibatnya adalah bahwa kulit menjadi dingin. Semakin berat
syoknya semakin dingin kulitnya. Perabaan akan dinginnya kulit ini
dilakukan terutama pada daerah tangan atau kaki.
Pada keadaan dimana jantung tiba-tiba berhenti mendadak, seperti
misalnya serangan jantung akut yang luas, maka tubuh tidak sempat
beraksi, sehingga mungkin kita mendapatkan penderita yang sudah
mati, tetapi masih hangat. Kulit juga menjadi “berkeringat dingin”.

107
Apabila kita mendapatkan penderita ynag kulit tangan atau kakinya
dingin akan pada perabaan nadi kecil dan cepat, maka sebaiknya
penderita dianggap berada dalam keadaan syok.

Dengan demikian pada syok akan :


Gejala : gelisah, ketakutan, mual, muntah, haus.
Tanda : keringan dingin, nadi cepat dan kecil, anggota tubuh
dingin, keringat dingin, pernapasan cepat dan dangkal, kesadaran menurun

2. Jenis-jenis syok
Syok yang terpenting adalah :
a. Syok karena kehilangan darah, misalnya pada luka, atau karena
persalinan (syok hipovolemik). Kehilangan darah dapat terjadi pada
keadaan cedera, pada wanita yang dalam persalinan, ataupun sebab
lain. Pada keadaan cedera (trauma), maka harus dianggap bahwa shok
yang terjadi adalah akiat kehilangan darah, walaupun pada trauma
dapat terjadi shok jenis lain, misalnya karena syok karena jantungnya
terganggu.
Perdarahan yang terlihat harus dihentikan, dan cara menghentikannya
adalah dengan:
1) istirahatkan anggota tubuh yang berdarah
2) naikkan (elevasi) anggota tubuh yang mengalami perdarahan
3) tekan perdarahan secara langsung memakai kassa (yang sebaiknya
streril)
4) tekan pembuluh darah nadi proksimal luka
5) turniket hanya dilakukan bila anggota tubuh sudah hancur

b. Syok karena kehilangan air (dari darah) misalnya pada mencret-


mencret yang berat atau luka bakar (syok hipovelemik)
Syok jenis ini terjadi akibat mencret-mencret yang berat, kepanasan
yang tinggi dan lama, ataupun karena luka bakar. Pada keadaan ini,
maka walaupun tidak ada kehilangan darah, akan tetapi cairan darah
akan keluar, sehingga volume darah akan berkurang. Lakukan
penaganan syok secara umum.
c. Syok karena jantung gagal untuk berdenyut dengan sempurna.
Pada keadaan ini jantung sudah tidak mampu memompa, sehingga
darah tidak mencapai jaringan. Agak sulit untuk menegakkan
diagnosis untuk syok ini. Lakukan penanganan secara umum.

108
d. Syok karena alergi, disebut sebagai syok analfilaktik
Sering disebabkan:
1) Makanan (makanan laut paling sering)\
2) Gigitan binatang( tawon, lebah)
3) Zat yang terhirup ( rambut binatang, dsb)
4) Zat kimia yang kontak dengan kulit
5) Obat ( sering venisilin atai surva)

Gejala dan tanda syok anafilaktik :

1) Gejala dan tanda syok secara umum


2) Pembengkakan mata
3) Pembengkakan kulit
4) Pembengkakan dal;am saluran napas( suara menjadi stridor (sesak)
3. Langkah Perawatan Pra RS dari Syok
Diagnosis dan terapi harus dilakukan dengan cepat. Untuk
kebanyakan penderita trauma dilakukan terapi terhadap syok, sampai
terbukti sebaiknya. Setiap jenis syok tentu membutuhkan pertolongan
yang khusus. Seperti keadaan kehilangan darah, membutuhkan tindakan
untuk menghentikan perdarahannya, serta penggantian darah yang sudah
hilang. Namun ada hal-hal umum yang dapat dilakukan yang akan
mengurangin akibat dari syok itu :
a. Selalu perhatikan A (Airway) dan B (Breating) terleih dahulu.
Syok dapat mengganggu airway maupun breating. Sebagai contoh
adalah bahwa pada syok berat , maka kesadaran akan menurun
sehingga pangkal lidah jatuh ke belakang dan kemudian
menyebabkan mengorok. Ini harus diatasi terlebih dahulu. Syok
yang sangat berat akan menyebabkan pernapasan yang
lambat(penderita mengap-megap) sehingga membutuhkan bantuan
pernapasan. Tentu saja keadaan syok dapat terjadi bersamaan dengan
adanya kelainan airway maupun breating seperti keadaan cedera
yang berat. Oksigen harus selalu diberikan pada [enderita yang syok.
b. Usahakan pernapasan yang lebih baik
Ini dapat dilakukan dengan melonggarkan pakainan penderita,
membuka beberapa kancing baju atau celana. Apabila pernapasan
lebih baik, maka diharapkan oksigenasi akan menjadi lebih baik
pula.

109
c. Usahakan agar otak ( dan jantung) mendapatkan lebih banyak darah
ini dapat dilakukan dengan membaringkan penderita dan
meninggikan kaki penderita. Dalam posisi ini maka darah yang
mengalir ke kaki dan bagian tubuh bawah akan berkurang sehingga
otak dan jantung akan mendapatka darah lebih banyak
Dengan demikian secara ringkas, penanganan penderita syok secara umum
adalah :
1) Hangatkan penderita
2) Berikan oksigen
3) Usahakan otak mendapatka oksigen dengan menaikkan kaki 20-30
cm. ini hanya boleh dilakukan jika tidak ada cedera pada dada, perut,
atau tungkai.

110

Beri Nilai