Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS FRAGMENTASI SPASIAL BERBASIS CITRA MULTITEMPORAL UNTUK

MENGIDENTIFIKASI FENOMENA URBAN SPRAWL DI SURAKARTA


Mayca Sita Nurdiana
maycasita@gmail.com
Sri Rum Giyarsih
srirum@ugm.ac.id
Intisari

Perkembangan area perkotaan pada wilayah peri-urban yang memiliki pola menyebar
mengakibatkan terjadinya fragmentasi pada lahan non-urban seperti lahan pertanian yang
luas menjadi bagian yang kecil-kecil. Penginderaan jauh mampu menyajikan pola dan proses
dari perkembangan area perkotaan ditinjau dari penutup/penggunaan lahan. Penelitian ini
bertujuan untuk (1) mengetahui efektivitas citra Landsat 5 TM dan citra Landsat 8 OLI untuk
ekstraksi informasi penutup/penggunaan lahan di Surakarta, (2) mengetahui dinamika
wilayah peri-urban pada bentanglahan perkotaan di sebagian wilayah Surakarta dan (3)
mengkaji fenomena urban sprawl di sebagian wilayah Surakarta berdasarkan analisis
fragmentasi spasial.
Klasifikasi multispektral dilakukan untuk memperoleh informasi penutup/penggunaan
lahan dari citra Landsat tahun 1999 dan citra Landsat tahun 2015. Perubahan
penutup/penggunaan lahan diperoleh dengan analisis crosstab pada hasil klasifikasi
multispektral. Analisis fragmentasi spasial berupa perhitungan metrik spasial konfigurasi dan
komposisi penutup/penggunaan lahan serta perhitungan indeks fragmentasi spasial dilakukan
untuk mengetahui karakteristik dari penjalaran area perkotaan di Surakarta kurun waktu
tahun 1999 hingga tahun 2015.
Akurasi hasil klasifikasi multispektral adalah 86% pada citra Landsat tahun 1999 dan
sebesar 83% pada citra Landsat tahun 2015. Dinamika wilayah peri-urban ditandai dengan
adanya perubahan penutup/penggunaan lahan non terbangun menjadi lahan terbangun. Di
sebagian wilayah Surakarta rantang tahun 1999 hingga tahun 2015 pertambahan lahan
terbangun adalah sebesar 30,7 km2. Ditinjau dari segi pola, pada tahun 1999 Surakarta
menunjukkan adanaya urban sprawl dengan tipe mendekati under bounded city dan dengan
pola yang linier mengikuti jalan arteri dan juga menyebar di bagian utara dan selatan.
Ditinjau dari segi proses, berdasarkan hasil analisis fragmentasi spasial dari metrik spasial
dan peta indeks fragmentasi spasial selama kurun waktu tahun 1999 – 2015 pertumbuhan
yang terjadi tidak menunjukkan proses yang menyebar atau sprawl melainkan proses
agregrasi dikarenakan pertumbuhan area perkotaan cenderung berdekatan dengan dengan
area perkotaan yang sudah ada sebelumnya.

Kata kunci :Fragmentasi Spasial, Citra Multitemporal, Perubahan Penutup/Penggunaan


Lahan, Urban sprawl
PENDAHULUAN

Kawasan perkotaan cenderung Karanganyar dan sebagian Kabupaten


mengalami pertumbuhan yang dinamis Boyolali.
(Muta’ali, 2011). Pertumbuhan populasi Perkembangan area perkotaan hasil
selalu diikuti dengan pertumbuhan lahan transformasi pada wilayah peri-urban yang
terbangun sebagai tempat tinggal dan memiliki pola menyebar mengakibatkan
tempat aktivitasnya. Kebutuhan akan lahan terjadinya fragmentasi pada lahan non-
terbangun terus meningkat sedangkan luas urban seperti lahan pertanian yang luas
wilayah administrasi perkotaan cenderung menjadi bagian yang kecil-kecil
tetap. Hal tersebut mendorong terjadinya (Dewan,2012). Transormasi pada wilayah
pertumbuhan area perkotaan melebihi peri-urban tersebut berdampak pada
batas administrasi dari kota atau yang degradasi lingkungan seperti berkurangnya
sering dikenal dengan istilah urban sprawl daerah hijau, resapan air maupun
(Yunus, 2000). Urban sprawl merupakan berkurangnya lahan subur yang dapat
salah satu tipe pertumbuhan kota yang ditanami. Transformasi pada wilayah peri-
tidak terkendali. Tipe ini secara umum urban tersebut perlu dipantau dan dikaji
dicirikan dengan pertumbuhan area ke arah agar perkembangan yang terjadi sesuai
luar secara cepat dan menyebar (Bhatta, dengan konsep sustaibale development
2012). atau pembangunan berkelanjutan
Jumlah penduduk Kota Surakarta (Yunus,2008).
tahun 2014 menurut UP3AD Kota Fragmentasi lahan dapat dikaji
Surakarta mencapai 586.978 jiwa dengan dengan menggunakan data penginderaan
luas administrasi sebesar 44,04 km2 jauh. Penginderaan jauh memiliki
sehingga kepadatan penduduknya keunggulan dalam pemetaan permukaan
mencapai 13.328 jiwa/ km2. Pertambahan lahan yang mendukung dalam pemetaan
penduduk tersebut mempengaruhi area perkotaan yang dapat memberikan
pertambahan luas area terbangun. Menurut pemahaman lebih mendalam mengenai
data statistik pada Surakarta dalam angka pertumbuhan perkotaan dan pemekeran
(2014) luas area permukiman pada tahun perkotaan (Bhatta, 2012). Penginderaan
2009 adalah 2737,48 ha, sedangkan pada jauh juga mampu menyajikan gambaran
tahun 2012 luasan area permukiman telah area di permukaan bumi dengan
mencapai 2873,51 ha. Luas area pandangan menyeluruh atau synoptic
persawahan semakin berkurang yakni pada overview. Keunggulan penggunaan data
tahun 2009 luas area persawahan sebesar penginderaan jauh lainnya dalam kajian
146,17 ha, sedangkan pada tahun 2012 perkembangan dan pemekaran area
luas area persawahan menjadi 99,46 ha. perkotaan adalah dapat digunakan untuk
Lahan administrasi Kota Surakarta yang kajian perkotaan secara historis karena
terbatas, sedangkan pertumbuhan yang penginderaan jauh memiliki resolusi
terus meningkat menyebabkan kawasan temporal atau perekaman ulang pada
perkotaan berkembang ke wilayah lokasi yang sama yang baik (Dewan,
administrasi tetangga seperti Kabupaten 2012). Keunggulan penginderaan jauh
Sukoharjo, sebagian Kabupaten yang memiliki periode revisit time untuk
merekam wilayah yang sama tersebut
memberikan peranan penting dalam kajian METODE PENELITIAN
proses perkembangan dan pemekaran area Data dasar yang digunakan dalam
perkotaan. Salah satu citra penginderaan penelitian ini adalah citra Landsat 5 TM
jauh yang dapat digunakan untuk kajian tahun 1999 dan citra Landsat 8 OLI tahun
urban sprawl adalah Citra sumberdaya 2015 yang meliput wilayah perkotaan
lahan Landsat dengan resolusi spasial Surakarta. Digunakan pula citra resolusi
menengah sehingga dapat menggambarkan tinggi GeoEye-1 sebagai data tambahan
bentanglahan pekotaan secara menyeluruh dalam analisis.
(Rahman, 2007). Preprocessing citra dilakukan
Integrasi penginderaan jauh dengan untuk memperbaiki kualitas posisi dan
sistem informasi geografi dapat dilakukan kualitas radiometrik pada citra.
untuk mengevaluasi terjadinya urban Preprocessing citra yang dilakukan yakni
sprawl. Sistem informasi geografi mampu koreksi radiometik dan koreksi geometrik.
memetakan, memonitoring, menganalisis, Metode yang digunakan dalam penelitian
dan memodelkan fenomena spasial ini adalah klasifikasi multispektral dengan
(Prahasta, 2009). Salah satu aplikasi sistem algoritma maximum likelihood pada citra
informasi geografis yang dapat digunakan Landsat untuk memeroleh informasi
untuk melakukan kajian mengenai urban penutup/penggunaan lahan wilayah
sprawl adalah analisis fragmentasi spasial. Surakarta tahun 1999 dan tahun 2015.
Analisis fragmentasi spasial dilakukan Pemfilteran mayoritas digunakan untuk
untuk mengevaluasi apakah penggunaan mendapatkan hasil klasifikasi yang lebih
lahan mengalami fragmentasi atau tidak. halus dengan menghilangkan keberadaan
Penggunaan lahan yang terfragmen piksel terasing pada hasil klasifikasi.
merupakan salah satu karakteristik dari Intepretasi visual dilakukan pada citra
fenomena urban sprawl. Semakin tinggi GeoEye-1 tahun 2015 untuk mendapatkan
tingkat fragmentasi lahan pada wilayah informasi penggunaan lahan perkotaan
peri-urban menunjukkan semakin tinggi yang lebih detail.
pula tingkat urban sprawl pada wilayah Survai lapangan dilakukan untuk
tersebut. Analisis fragmentasi spasial mengetahui tingkat kebenaran dari hasil
dilakukan dengan melakukan perhitungan klasifikasi multispektral dan hasil dari
geometri spasial bentanglahan yang intepretasi visual. Survai lapangan
meliputi komposisi dan konfigurasi dari didasarkan atas sampel yang telah
bentanglahan (Trrens dan Alberti, 2001 ditentukan sebelumnya. Pada penelitian ini
dalam Frenkel dan Daniel, 2011) dan penentuan sampel dilakukan dengan
dengan melihat distribusi fragmentasi pada metode stratified random sampling.
lahan. Metrik sapasial yang digunakan Analisis perubahan
untuk menghitung komposisi dan penutup/penggunaan lahan dilakukan pada
konfigurasi bentanglahan serta peta peta penutup/penggunaan lahan hasil
fragmentasi bentanglahan membantu klasifikasi multispektral. Analisis
dalam mengidentifikasi pemecahan pola perubahan penutup/penggunaan lahan
geografis yang sudah ada sebelumnya dilakukan dengan menggunakan metode
akibat dari pertumbuhan kegiatan sosial crosstab pada perangkat IDRISI. Analisis
dan ekonomi (Dewan, 2012). overlay pada peta perubahan
penutup/penggunaan lahan dengan hasil
intepretasi visual dilakukan untuk persio kededakan
n and IJI mendekati 0 ketika antar kelas
mengetahui proporsi penggunaan lahan Juxtap distribusi kedekatan
pada tingkat yang lebih detail pada area osition antar patch yang
Index berbeda meningkat, IJI
yang mengalami perubahan (IJI) = 100, Ketika semua
tipe patch sama
penutup/penggunaan lahan. dekatnya dengan tipe
Analisis fragmentasi spasial pada patch yang lain
penelitian ini dilakukan pada peta
Satuan = persen
penutup/penggunaan lahan sebagian
Rentang = 0 <
Surakara tahun 1999 dan tahun 2015 dari CONTAG ≤ 100
Menghitung
hasil klasifikasi multispektral citra distribusi
CI bernilai 0 ketika kedekatan
Landsat. Analisis fragmentasi spasial Conta distribusi kedekatan piksel
dilakukan dengan menggunakan gion piksel dalam satu tipe
4. dengan
Index jenis patch tidak
pendekatan metrik spasial dan dengan piksel dari
(CI) merata. CI berilai 100 patch lain
algoritma moving window yang ketika semua piksel dalam satu
dalam satu jenis patch kelas
menghitung tingkat fragmentasi sama dekatnya.
berdasarkan rasio antara jumlah kelas
penggunaan lahan yang terdapat dalam
Tidak ada satuan Mengitung
satu jendela (window/kernel). Keterangan rasio
dari metrik spasial yang digunakan Rentang LSI ≥ 1 keliling area
untuk semua
dijabarkan pada tabel 1 dan formula LSI =1 , ketika
bentanglaha
Lands bentuklahan benar-
perhitungan indeks fragmentasi dijabarkan n
cape benar kotak pada data
berdasarkan
pada persamaan 1. 5. Shape raster
rata-rata
Index
Tabel 1. Metrik Spasial karakteristik
(LSI)
LSI semakin tinggi patch pada
nilainya ketika bentuk level kelas
Matrik dari bentanglahan tidak dan level
No Indeks / Keterangan Deskripsi beraturan bentanglaha
s
Shann n
SHDI ≥ 0, tanpa batas
on’s Menghitung Satuan = meter
Divers keberagama
1. ity SHDI bernilai 0 ketika n Rentang TE ≥ 0 tanpa
bentanglahan hanya batas Merupakan
Index bentanglaha jumlah dari
(SHDI mengandung 1 patch n
TE bernilai 0 ketika panjang tepi
) Total
tidak ada tepi dalam segmen dari
6. Edge
NP ≥ 1, tanpa batas bentanglahan atau tipe patch
(TE)
dalam satu yang
NP = 1 , ketika bentanglahan hanya ada berhubunga
Numb Jumlah
bentanglahan hanya satu patch n
er of patch dalam
2. memiliki 1 patch dari
Patch bentanglaha
tipe patch yang
(NP) n
berhubungan
Mean Satuan (Hektar) Merupakan
Patch rata-rata
7. Rentang > 0, tanpa
Size ukuran
The Satuan = persen Menghitung (MPS) batas patch
3.
Inters Rentang 0 < IJI ≤ 100 distribusi Satuan (persen) Merupakan
Large prosentase
st dari ukuran
8. Patch Rentang 0 < LPI ≤ patch
Index 100 terbesar
(LPI) pada setiap
kelas
F = (n-1) / (c-1)....................................(1) berdasarkan klasifikasi multispektral pada
Dimana citra Landsat yakni meliputi kelas lahan
terbangun, sawah, kebun campuran,
F = Fragmentasi
penggunaan perairan,dan lahan kosong.
n = jumlah klas yang berbeda, yang hadir Hasil klasifikasi multispektral ditunjukkan
dalam jendela (kernel) oleh gambar 1a dan 1b.

c = jumlah sel di setiap jendela

HASIL DAN PEMBAHASAN


Klasifikasi multispektral pada
penelitian ini dilakukan pada citra Landsat
8 OLI tahun 2015 dan citra Landsat 5 TM
tahun 1999 terkoreksi. Skema klasifikasi
yang digunakan mengacu pada skema
klasifikasi penggunaan lahan multiguna
berdasarkan dimensi sosial ekonomi yang
dikembangkan oleh Danoedoro. Gambar 1a. Penutup/Penggunaan Lahan
Dikarenakan keterbatasan dalam tahun 1999

mengenali objek secara detail pada citra


Landsat, maka klasifikasi tidak didetailkan
pada penggunaan lahan. Kelas penggunaan
lahan permukiman dan infrastruktur
digabung dengan kelas komersial industri
dan jasa serta kelas transportasi,
komunikasi dan utilitas menjadi kelas
lahan terbangun dikarenakan sulitnya
membedakan objek perkotaan secara
detail pada citra dengan resolusi spasial 30
Gambar 1a. Penutup/Penggunaan Lahan
meter. Selain dilakukan penggabungan
tahun 1999
kelas dikarenakan keterbatasan dalam
Uji akurasi dilakukan pada peta
membedakan objek pada citra, dilakukan
hasil klasifikasi multispektral dan peta
pula penambahan kelas yang tidak
hasil intepretasi visual. Uji akurasi
tercantum dalam skema klasifikasi yang
dilakukan dengan menggunakan metode
direncanakan karena terdapat kenampakan
conusion matrix. Hasil uji akurasi
objek pada citra yang tidak tercantum
penutup/penggunaan lahan tahun 1999
dalam skema klasifikasi yang digunakan,
memiliki nilai overall accuracy sebesar
yakni objek lahan kosong. Dengan
86% dengan indeks kappa sebesar 81%.
demikian klasifikasi yang dilakukan tidak
Serta hasil klasifikasi multispektral citra
terspesifikasi pada penggunaan lahan
landsat tahun 2015 adalah 83% dengan
melainkan tidak didetailkan antara penutup
indeks kappa sebesar 77%. Akurasi dari
atau penggunaan lahan. Terdapat lima
peta penggunaan lahan tahun 2015 hasil
kelas penutup/penggunaan lahan pada
intepretasi visual adalah 83% dengan
penelitian ini yang terklasifikasikan
indeks kappa sebesar 80%.
Perubahan penutup/penggunaan merupakan area non terbangun. Selama
lahan diperoleh dengan membandingkan kurun waktu tahun 1999 hingga tahun
peta penutup/penggunaan lahan tahun 2015 terjadi pertambahan area terbangun
1999 dan tahun 2015 yang telah dibuat sebanyak 30,7 km2 di sebagian wilayah
sebelumnya. Analisis perubahan Surakarta.
penutup/penggunaan lahan dilakukan Berdasarkan kalkulasi hasil
dengan menggunakan analisis perubahan penutup/penggunaan lahan dari
change/time series yakni crosstab yang citra Landsat tahun 1999 dan tahun 2015
menghasilkan peta perubahan dengan overlay hasil intepretasi visual
penutup/penggunaan lahan serta matriks citra GeoEye 1 tahun 2015 dapat diketahui
perubahan. Hasil perubahan prosentase penambahan luas kelas
penutup/penggunaan lahan ditunjukkan permukiman dan inrastruktur pada setiap
pada gambar 2 sebagai berikut : sub kategori, permukiman kota yang
paling banyak mengalami penambahan
yakni sebesar 51 % yang disusul dengan
permukiman desa yakni sebesar 20%,
kemudian untuk kepentingan area industri
6 % dan area komersial dan jasa sebesar
13%. Dilihat pada peta penambahan area
terbangun, penambahan banyak terjadi di
bagian selatan Kota Surakarta yakni di
Kecamatan Baki yang berbatasan langsung
dengan Kota Surakarta dan Kecamatan
Gambar 2 Perubahan Penutup/Penggunaan Grogol tepatnya di kawasan Solo Baru.
Lahan Penambahan di utara yakni di Kecamatan
Banjarsari bagian utara, Kecamatan Jebres
Berdasarkan peta perubahan penutup / bagian utara dan Kecamatan Gondangrejo
penggunaan lahan tersebut dapat dilihat Kabupaten Karanganyar. Penambahan
bahwa perubahan penutup/penggunaan kelas permukiman dan infrastruktur di
lahan banyak terjadi di wilayah perbatasan bagian timur terjadi di Palur Kecamatan
antara Kota Surakarta dengan wilayah Jaten Kabupaten Karanganyar. Serta
administrasi di seikitarnya. Perubahan penambahan di bagian barat yakni di
penutup/penggunaan lahan terjadi baik di Kecamatan Colomadu Kabupaten
dalam wilayah administrasi Kota maupun Karanganyar dan Kecamatan Kartasura
di luar wilayah administrasi Kota. Kabupaten Sukoharjo.
Perubahan yang paling banyak terjadi Pola dan proses dari urban sprawl
yakni dari kelas penutup/penggunaan dapat dianalisis berdasarkan hasil dari
lahan berupa sawah menjadi kelas perhitungan metrik spasial dan infeks
penutup/penggunaan lahan berupa fragmentasi spasial. Metrik yang dipilih
permukiman dan infrastruktur yakni seluas untuk dihitung pada penelitian ini adalah
20,1429 km2. Pertumbuhan fisik perkotaan agregration metric yang meliputi number
ditandai dengan bertambahnya luas area of patch, shannon’s diversity index,
terbangun dari area yang sebelumnya interspersion and juxtaposition index,
contagion index,dan landscape shape
index, serta area metric yang meliputi total
edge, largest patch index dan mean patch
size. Hasil perhitungan metrik spasial pada
penutup/penggunaan lahan tahun 1999 dan
2015 dijabarkan pada tabel 2a dan 2b
sebagai berikut:
Tabel 2a Metrik Spasial Tahun 1999

Gambar 3b Peta Fragmentasi tahun 2015

Ditinaju dari segi pola berdasarkan


Tabel 2b Metrik Spasial Tahun 2015 hasil dari analisis fragmentasi spasial baik
dari perhitungan metrik spasial maupun
peta indeks fragmentasi spasial, pada
tahun 1999 pertumbuhan area perkotaan di
Surakarta sudah dominan ditandai dengan
nilai MPS permukiman dan infrastruktur
yang lebih besar dibandingkan dengan
Analisis fragmentasi spasial juga kelas lainnya. Dilihat dari peta
dilakukan dengan perhitungan indeks fragmentasi, area yang terfragmentasi
fragmentasi spasial berdasarkan algoritma banyak terdapat di perbatasan antara Kota
jendela bergerak dengan menggunakan Surakarta dengan kabupaten lainnya. Pola
perangkat IDRISI. Ukuran jendela fragmentasi mengikuti bentuk batas
bergerak yang digunakan dalam penelitian administrasi dan juga linier mengikuti
ini adalah 3x3 yang jika diterapkan pada jalan arteri. Berdasarkan peta
citra Landsat berarti ukuran area observasi penutup/penggunaan lahan yang
adalah 8100 m2. Gambar 3a dan 3b berikut dihasilkan, dengan melihat pada kelas
ini merupakan peta dari hasil perhitungan permukiman dan infrastruktur, penjalaran
indeks fragmentasi spasial. area perkotaan atau urban sprawl di
Surakarta pada tahun 1999 hampir
sebagian besar memiliki tipe under
bounded city yakni penjalaran area
perkotaan yang telah melebihi batas
administrasi Kota. Meskipun demikian
masih terdapat beberapa bagian wilayah
Kota Surakarta yang masih memiliki
kenampakan area non-urban seperti yang
terdapat pada Kota Surakarta bagian utara
yakni pada Kecamatan Jebres bagian utara
dan Kecamatan Banjarsari Bagian Utara
serta di sebagian Kecamatan Lawean
Gambar 3a Peta Fragmentasi tahun 1999
bagian barat. Pada bagian tersebut
penjalaran area perkotaan masih berada sebelumnya banyak dan berjumlah lebih
pada tipe over bounded city yakni kecil mengalami peningkatan konektivitas
penjalaran area perkotaan yang tidak dengan patch pada kelas yang sama
melebihi batas administrasi kota. sehingga bergabung menjadi satu patch
Dilihat dari peta fragmentasi dengan area yang lebih luas sehingga kelas
spasial hasil perhitungan indeks penutup/penggunaan lahan menjadi lebih
fragmentasi spasial pada tahun 2015 kompak dan teragregrat. Penurunan nilai
terjadi pengurangan area terfragmentasi di TE dan LSI yang sebelumnya 1665960
bagian utara Kota Surakarta tepatnya di dan 31,7 menjadi 1460640 dan 27,9
bagian Kecamatan Banjarsari bagian utara, menunjukkan kompleksitas bentuk
Kecamatan Jebres bagian utara. Akan penutup/penggunaan lahan berkurang.
tetapi terjadi pergeseran area Peningkatan ukuran patch rata-rata yakni
terfragmentasi dibandingkan pada tahun dari 4,63 ha menjadi 5,21 ha juga
1999, area terfragmentasi bergeser menunjukkan bahwa patch menjadi lebih
menjadi di sekitar Kabupaten teragregrat. Keberagaman bentanglahan
Karanganyar. Hal tersebut terjadi karena pada tahun 1999 ke tahun 2015 juga
pelebaran morfologi area perkotaan. mengalami penurunan yakni dari 1,098
Pergeseran area terfragmentasi juga terjadi menjadi 1,094. Penurunan keberagaman
di bagian selatan yakni di Kecamatan Baki tersebut menunjukkan bentanglahan yang
Kabupaten Sukoharjo. Peningkatan area menjadi lebih rumpun dan patch pada
terfragmentasi terjadi di sepanjang jalan kelas yang sama memiliki konektivitas
arteri yang menghubungkan Kota yang lebih tinggi. Peningkatan nilai
Surakarta dengan Kabupaten di contagion pada bentanglahan tahun 1999
sekitarnya. Secara umum pola urban hingga tahun 2015 dari 50 menjadi 51,5
sprawl di tahun 2015 masih tampak sama menunjukkan bahwa bentanglahan lebih
dengan tahun 1999, akan tetapi terjadi kompak atau rumpun.
pula penjalaran area perkotaan yang Berdasarkan hasil overlay peta
cenderung konsentris di bagian utara yakni fragmentasi tahun 1999 dengan peta
di Kecamatan Banjarsari bagian utara, fragmentasi tahun 2015, area yang
Kecamatan Jebres bagian utara, dan mengalami penurunan nilai indeks lebih
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten besar dibandingkan dengan area yang
Karanganyar dan juga di bagian selatan mengalami peningkatan nilai indeks
yakni pada Kecamatan Baki dan fragmentasi. Penurunan indeks fragmentasi
Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo. tersebut dikarenakan pembangunan
Berdasarkan perhitungan metrik permukiman dan infrastruktur pada area
spasial pada tingkat bentanglahan di tahun yang sebelumnya terfragmentasi, sehingga
1999 dan tahun 2015 dapat dilihat bahwa terjadi pengisian area permukiman dna
penutup/penggunaan lahan pada infrastruktur menyebabkan peningkatan
bentanglahan cenderung menjadi lebih konektivitas pada permukiman dan
kompak. Jumlah patch pada bentanglahan infrastruktur yang sudah ada sebelumnya
wilayah kajian selama kurun waktu 1999 sehingga obyek permukiman dan
hingga 2015 mengalami penurunan dari infrastruktur menjadi lebih kompak.
3958 menjadi 3581. Penurunan jumlah Ditinjau darisegi proses, selama tahun
patch menunjukkan bahwa patch yang 1999 hingga tahun 2015, penjalaran area
perkotaan atau urban sprawl di Surakarta sprawl melainkan proses agregrasi
tidak menunjukkan adanya proses yang dikarenakan pertumbuhan area perkotaan
menyebar. Proses penjalaran area cenderung berdekatan dengan dengan
perkotaan justru menuju pada kerumpunan area perkotaan yang sudah ada
dikarenakan pertumbuhan permukiman sebelumnya.
dan infrastruktur yang terjadi cenderung
berdekatan dengan permukiman dan DAFTAR PUSTAKA
infrastruktur yang sudah ada sebelumnya. Badan Pusat Statistik Surakarta. ( 2014).
Dengan demikian bentanglahan menjadi Kota Surakarta dalam Angka 2014.
lebih kompak dikarenakan kelas Surakarta: Badan Pusat Statistik
Bhatta, Basudep. (2012). Urban Growth
permukiman dan infrastruktur menjadi
Analysis and Remote Sensing: A
lebih dominan. Case Study of Kolkata, India 1980-
2010. New York London : Springer
KESIMPULAN Dewan, Ashraf M., Yasushi Yamaguchi.,
1. Dinamika wilayah peri-urban di Md. Ziaur Rahman. (2012).
Surakarta ditandai dengan adanya Dynamics of land use/cover changes
perubahan penutup/penggunaan lahan and the analysis of Landscape
fragmentation in Dhaka
non terbangun menjadi lahan terbangun.
Metropolitan, Bangladesh.
Perubahan lahan non terbangun menjadi GeoJournal , 77, hal. 315–330.
lahan terbangun di wilayah Surakarta DPPAD Jateng (2014). Unit Pelayanan
rantang tahun 1999 hingga tahun 2015 Pendapatan dan Pengelolaan Aset
adalah sebesar 30,7 km2 dengan Daerah Kota Surakarta. Diakses
komposisi 29,5 % dari kebun campuran, tanggal 19 Juli 2015 dari
4,4 % dari lahan kosong, 65,8% dari area :http://dppad.jatengprov.go.id/up3ad
-kota-surakarta/
persawahan dan 0,13% dari tubuh air. Frenkel., dan Daniel. (2011). A Pluralistic
Pertambahan area terbangun tersebut Approach to Defining and
banyak dimanfaatkan untuk permukiman Measuring Uraban Sprawl. Dalam
kota sebesar 51%, permukiman desa Xiaojun Yang (Editor), Urban
sebesar 20%, area komersial dan jasa Remote Sensing :Monitoring,
sebesar 13% , area industri sebesar 6%, Synthesis and Modeling in The
Urban Environment. (Bagian 12 hal
trasnportasi sebesar 3% dan sisanya
166-181). New York : Jon Wiley &
untuk peruntukan lainnya. Sons .Ltd.
2. Ditinjau dari segi pola, pada tahun 1999 Muta’ali,Luthfi. (2011). Kapita Selekta
Surakarta menunjukkan adanaya urban Pengembangan Wilayah.
sprawl dengan tipe mendekati under Yogyakarta: Badan Penerbit
bounded city dan dengan pola yang linier Fakultas Geografi Universitas
mengikuti jalan arteri dan juga menyebar Gadjah Mada.
Prahasta, Eddy. (2009). Sistem Informasi
di bagian utara dan selatan. Ditinjau dari
Geografis. Bandung: Informatika.
segi proses, berdasarkan hasil analisis Rahman, Atiqur. (2007). Application of
fragmentasi spasial dari metrik spasial Remote Sensing and GIS Technique
dan peta indeks fragmentasi spasial for Urban Environmental
selama kurun waktu tahun 1999 – 2015 Management and Sustainable
pertumbuhan yang terjadi tidak Development of Delhi, India. Dalam
menunjukkan proses yang menyebar atau Maik Netzband (Editor), Applied
Remote Sensing for Urban Planning,
Governance and Sustainability
(Bagian 8 Halaman 165 – 193). New
York : Springer.
Yunus, Hadi Sabari. (2000). Struktur Tata
Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Yunus, Hadi Sabari, (2008). Dinamika
Wilayah Peri Urban Determinan
Masa Depan Kota. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar