Anda di halaman 1dari 4

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Artikel Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia


Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Kelulusan

Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Dosen Pengampu :
Rina Kurniawati, M. Si

Oleh :

Tamami Ajib
1603043

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT
2017
KASUS BOM BALI TAHUN 2002
Bom Bali 2002 adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada
malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub
dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi
di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian
disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di
Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau
cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung
ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai
peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah
dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis
TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara
50-150 kg.Peristiwa Bom Bali I ini juga diangkat menjadi film layar lebar dengan
judul Long Road to Heaven, dengan pemain antara lain Surya Saputra sebagai
Hambali dan Alex Komang, serta melibatkan pemeran dari Australia dan Indonesia
Kawasan Legian, Kuta, Bali, tidak pernah tidur. Keramaian justru memuncak
menjelang tengah malam. Malam itu, Sabtu 12 Oktober 2002, waktu menunjukkan
pukul 23.30, namun geliat kehidupan masih terlihat. Sebagian besar penduduk kota
Denpasar dan Kabupaten Badung mulai beranjak tidur. Tiba-tiba mereka dikejutkan
oleh suara ledakan yang amat dahsyat. Bom yang meledak di depan Paddy’s tidak
terlalu besar. Walau sebagian pengunjung panik, sebagian lainnya masih tetap asyik
mendengar musik di pub itu. Tetapi, selang beberapa menit, ledakan lebih dahsyat
terjadi di depan Sari Club. Ledakan itu menelan korban tewas 184 orang, 250 orang
luka-luka, 47 bangunan hancur, dan ratusan mobil rusak berat. Getaran ledakannya
terasa hingga 12 kilometer. Sedangkan bunyi ledakan terdengar hingga puluhan
kilometer. Adapun asapnya tinggi menjulang ke awan hingga seratus meter,
membentuk cendawan api raksasa yang sangat menyilaukan bahkan membutakan
mata. Ledakan itu sendiri meninggalkan sebuah lubang besar berdiameter 5 x 4
meter dan kedalaman 1,5 meter. Bau amis darah sangat menyengat, semua orang
berlari dan menjerit panik atau merintih kesakitan.
Hasil penelusuran awal kepolisian mengungkapkan, bom yang diledakkan di
Jalan Legian dibawa oleh taksi yang ditumpangi tiga orang berwajah Melayu. Bom
itu diduga diletakkan di bawah mobil. Di depan Paddys Cafe, tiga orang yang ada
di dalam taksi keluar meninggalkan taksinya. Setelah itulah terjadi ledakan di
Paddy’s, yang tak lama disusul dengan ledakan kedua di Sari Club.
Pelaku dari pemboman tersebut yaitu Amrozi bin Nurhasyim adalah seorang
terpidana yang dihukum mati karena menjadi penggerak utama dalam Peristiwa
Bom Bali 2002. Ia berasal dari Jawa Timur. Amrozi disebut-sebut termotivasi
ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung organisasi bawah tanah
Jemaah Islamiyah. Pada 7 Agustus 2003, ia dinyatakan oleh pengadilan bersalah
atas tuduhan keterlibatan dalam peristiwa pengeboman tersebut dan divonis
hukuman mati. Namun undang-undang yang digunakan untuk memvonisnya
ternyata kemudian dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Agung pada Juli 2004.
Awalnya dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan di Denpasar, ia
lalu dipindahkan ke LP Nusakambangan pada 11 Oktober 2005 bersama dengan
Imam Samudra dan Mukhlas, dua pelaku Bom Bali lainnya. Sikap Amrozi yang
tampak tidak peduli sepanjang pengadilannya membuatnya sering dijuluki media
massa The Smiling Assassin (Pembunuh yang Tersenyum). Amrozi dihukum mati
pada hari Minggu, 9 November 2008 dini hari.
Alasan sebab terjadinya aksi terorisme yaitu karena masih ada hasil
regenerasi baru yang hendak membalas terhadap kematian senior-senior mereka
sebelumnya.Namun menurut hemat saya mereka melakukannya tidak hanya
sekadar itu,akan tetapi mereka sebenarnya ingin menyusul para pendahulunya yang
menurut keyakinanya sekarang sudah hidup senang dialam sana.Karena keyakinan
mereka sudah sangat kokoh kuat hasil indoktrinasi senior mereka,sehingga mereka
secara suka rela melakukan serangan bom yang menurut kita tidak benar tersebut.
Solusi Untuk menghentikan keyakinan atau ideologi semacam itu, tidak akan
mempan dengan kekerasan,tetapi harus dilawan dengan keyakinan atau ideologi
juga.Dalam hal ini sejak dini pemerintah ,para tokoh agama, akdemisi dari berbagai
disiplin ilmu pengetahuan sudah saatnya membentuk suatu badan untuk memberi
suatu "pencerahan"kepada masyarakat.Itu juga belkum cukup, jika tanpa dibarengi
dengan kehidupan yang berkeadilan sosial,pendidikan yang memadai, yang bisa
meningkatkan kesejahteraan bangsa.
Pada kasus tragedi bom bali ini akhirnya sudah selesai yang ditandai dengan
eksekusi mati para pelaku bom bali ini yaitu Amrozi Cs yang lokasi eksekusi
matinya itu di daerah Nusakambangan pada tanggal 9 November tahun 2008.