Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN PADA NEONATUS DENGAN KELAINAN

BAWAAN DAN PENATALAKSANAANNYA

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1. Afrinita Khoyiriyah 8. Apria Sandiah Marish
2. Alya Gustirinanda 9. Astrid Assabellina
3. Amaliah Dwi Putri 10. Cindy Melinda Putri
4. Anggi Andriani 11. Diah Ayu Lestari
5. Anggun Rafika Arya L 12. Dwi Agnestia
6. Anmelisa Suryani 13. Dwi Cindy Hardianti
7. Annisa

Dosen Pembimbing : Dahliana, SKM, M.Kes

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


PRODI DIV KEBIDANAN
TAHUN AJARAN 2018 / 2019

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat,
taufik, dan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dengan judul “Asuhan Pada
Neonatus dengan Kelainan Bawaan dan Penatalaksanaannya” ini dapat terselesaikan
tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas yang telah diberikan. Selain itu, makalah ini
disusun untuk memperkaya informasi mengenai Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra
Sekolah.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kami mengharapkan saran, kritik, dan masukan dari berbagai pihak yang
bersifat membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.

Palembang, Oktober 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

2
Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan Pembahasan 2

1.4 Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Labio Skizis dan Labio Palatoskizis 3

2.2 Atresia Esophagus 5

2.3 Atreksia Rekti dan Anus7

2.4 Hirschprung 11
2.5 Obstruksi Biliaris 13

BAB III PENUTUP

6.1 Kesimpulan 16

6.2 Saran 16

DAFTAR PUSTAKA 17

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan YME kepada setiap pasangan.
Setiap manusia/pasangan tentunya ingin mempunyai anak yang sempurna baik secara fisik
maupun psikis. Namun dalam kenyatanya masih banyak kira jumpai bayi dilahirkan dengan
keadaan cacat bawaan/kelainan kongenital. Kelainan kongenital yang cukup berat merupakan
penyebab utama kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya, hal ini seakan-
akan merupakan suatu seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan.
Kelainan kongenital adalah kelainan dalam pertumbuhan janin yang terjadi sejak konsepsi
dan selama dalam kandungan.
Cacat bawaan adalah merupakan suatu kesatuan cacat lahir pada neonatus yang tidak
diinginkan kehadirannya oleh orang tua maupun petugas medis. Perhatian kita terhadap cacat
bawaan masih kurang, sedangkan Negara kita saat ini telah berhasil dalam penyelenggaraan
KB serta telah berhasil memasyarakatkan NKKBS, maka pada zaman sekarang ini masalah
kualitas hidup anak merupakan prioroitas utama bagi program kesehatan nasional. Salah satu
faktor mempengaruhi kualitas hidup anak adalah cacat bawaan.
Masalah-masalah yang terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh tindakan-
tindakan yang dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam. Trauma akibat tindakan,
cara persalinan atau gangguan kelainan fisiologik persalinan yang sering kita sebut sebagai
cedera atau trauma lahir. Partus yang lama akan menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis.
Kebanyakan cedera lahir ini akan menghilang sendiri dengan perawatan yang baik dan
adekuat.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari
pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi dan
pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan perioperatif yang baik akan
meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi dan anak.

Diperkirakan 10-20% dari kematian janin dalam kandungan dan kematian neonatal
disebabkan oleh kelainan kongenital. Khusunya pada bayi berat badan rendah diperkirakan
kira-kiraa 20% diantaranya meninggal karena kelainan kongenital dalam minggu pertama
kehidupannya. Malformasi kongenital merupakan kausa penting terjadinya keguguran, lahir
mati, dan kematian neonatal. Mortalitas dan morbiditas pada bayi pada saat ini masih sangat
tinggi pada bayi yang mengalami penyakit bawaan. Maka pada makalah ini akan dibahas
tentang neonatus dengan kelainan bawaan yang meliputi Labioskiziz Dan Labiopalatoskizis,
Atresia Esophagus, Atresia Rekti dan Ani, Hisprung, Obstruksi Biliaris

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah


sebagai berikut:
1. Apa yang di maksud dengan Labio skizis dan Labio Palatoskiziz?
2. Apa yang dimaksud dengan Atresia Esophagus?
3. Apa yang dimaksud dengan Atresia Rekti dan Ani?
4. Apa yang dimaksud dengan Hirschprung?
5. Apa yang dimaksud dengan Obstruksi Biliaris?

1.3 Tujuan Makalah


Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. mengetahui dan mengerti tentang Labio skizis dan Labio Palatoskiziz
2. mengetahui dan mengerti tentang Atresia Esophagus
3. mengetahui dan mengerti tentang Atresia Rekti dan Ani
4. mengetahui dan mengerti tentang Hirschprung
5. mengetahui dan mengerti tentang Obstruksi Biliaris

1.4 Manfaat
Manfaat yang terdapat dari makalah ini adalah kita dapat menambah pengetahuan tentang
jejas persalinan adalah agar mahasiswa mampu
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Labioskizis dan Labiopalatoskisis


Labioskizis dan labiopalatoskisis yaitu kelainan kotak palatine yaitu bagian depan
serta samping muka dan langit –langit mulut tidak menutup sempruna. Banyak faktor yang
mempengaruhi terjadinya bibir sumbing, faktor tersebut antara lain yaitu :
1. Faktor genetik, dimana dapat terjadi karena adanya mutasi gen ataupun kelainan
kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari
22 pasang kromosom non-sex dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y)
yang menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir sumbing terjadi trisomi 13 atau
sindrom patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita, sehingga
jumlah total kromosom pada tiap sel nya 47 jika terjadi hal seperti ini selain
menyebabkan bibir sumbing aka menyebabkan gangguan berat pada perkembangan
otak, jantung, dan ginjal. Namun kelainan itu sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1
dari 8000-10000 bayi yang lahir.

2. Kurang nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil
kekurangan folat.

3. Radiasi

4. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama

5. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi rubella dan
sifillis

6. Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu Dn kontrasepsi hormonal akibat toksisitas


selama kehamilan, misalnya kecanduan alcohol, terapi penitonin.

7. Multifaktoral dan mutasi genetic

8. Diplasia ectodermal

Bisa juga disebabkan oleh faktor patofisiologi, yaitu cacat terbentuk pada trimester
pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm, pada daerah tersebut
sehingga bagian yang telah menyatu (proses nasalis dan maksilaris)pecah kembali.
Labioskizis terjadi akibat fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis
medial yang diikuti disfusi kedua bibir, rahang, dan palatum mole terjadi sekitar kehamilan
ke – 7sampai 12 minggu.

2.1.1 Klasifikasi
1. Berdasarkan organ yang terlibat
a) celah di bibir (labioskizis)
b) celah di gusi (gnatoskizis)
c) celah di langit langit (palatoskizis)
d) celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir dan langit-langit
(labioplatoskizis)
2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk tingkat kelainan bibir sumbing
bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa jenis bibir sumbing yang
diketahui adalah :
a) unilateral incomplete, jika celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan
tidak memanjang hingga ke hidung
b) unilateral complete, jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi bibir
dan memanjang hingga ke hidung.
c) bilateral complete, jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung.

2.1.2 Gejala dan Penyebab


Pada labio skizis :
1. Distrosi pada hidung

2. Tampak sebagian atau keduanya

3. Adanya celah pada bibir

Pada palato skizis :


1. Tampak ada celah pada tekak (uvula), palate lunak, dank eras atau foramen
incisive.

2. Adanya rongga pada hidung

3. Distrosi hidung
4. Teraba celah atau terbukanya langit – lagit saat diperiksa dengan jari.

5. Kesukaran dalam menghisap atau makan.

ket: beberapa jenis bibir sumbing

2.1.3 Penatalaksanaan
Penangan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini
dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan
bebas dari infeksi oral pada saluran nafas dan sistemik. Dalam beberapa buku
dikatakan juga untuk melakukan operasi bibir sumbing dengan hokum sepuluh (rule
of ten) yaitu berat bayi minimal 10 pon kadar hb 10 g% dan usianya minimal 10
minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.

2.2 Atresia Esophagus


Atresia esofagus adalah gangguan kontinuitas esofagus dengan/tanpa hubungan
dengan trachea atau esofagus (kerongkongan) yang tidak terbentuk secara sempurna. Variasi
dari atresia esofagus ini, antara lain bagian atas esofagus berakhir pada kantong buntu, bagian
atas esofagus berakhir dalam trachea, serta bagian atas dan bawah esofagus berhubungan
dengan trakea setinggi karina (atresia esofagus dengan fistula). Kebanyakan bayi yang
menderita atresia esofagus juga memiliki fistula trakeaesofagel (suatu hubungan abnormal
antara kerongkongan dan trakea/pipa udara).
Insiden atresa esofagus adalah 1:2500 kelahiran hidup. Klasifikasi menurut Vogt
(1912) dan Gross (1953), atresia esofagus dibedakan menjadi lima macam, yaitu atresia
esofagus dengan fistula trakeaesofagel distal, atresia esofagus terisolasi tanpa fistula, fistula
trakeaesofagus tanpa atresia, atresia esofagus dengan fistula trakeaesofagel proksimal, serta
atresia esofagus dengan fistula trakeaesofagel distal dan proksimal.

2.2.1 Etiologi
Sebagian besar kasus atresia esofagus penyebabnya tidak diketahui dan kemungkinan
terjadi setelah multifaktor. Faktor genetik, yaitu sindrom trisomi 21, 13 dan 18 kemungkinan
dapat meningkatkan kejadian atresia esofagus. Faktor lain terjadi secara sporadik dan
rekurens pada saudara kandung (2%).
2.2.2 Gejala
Gejala atresia esofagus dapat dideteksi sejak masa perinatal, yaitu dengan adanya
gelembung perut (bubble stomach) pada USG kehamilan 18 minggu serta kejadian
polihidramnion. Gejala yang terlihat pada jam-jam pertama kehidupan dan didiagnosis
sebelum makanan pertama diberikan, antara lain berupa hipersaliva dan saliva selalu
mengalir dalam bentuk buih; setiap pemberian makan, bayi batuk dan ada sumbatan, sesak
nafas dan sianosis, sukar memberi makan dan cenderung terjadi aspirasi pneumoni (2-3 hari
setelah pemberian); pneumonitis akibat refluks cairan lambung melalui kantong bagian
bawah; perut buncit karena udara masuk usus melalui fistula trakeaesofagus; bila dimasukkan
kateter melalui mulut, kateter akan terbentur pada ujung esofagus dan melingkar-lingkar.
2.2.3 Komplikasi
Komplikasi kasus atresia esofagus di antaranya adalah dismotilitas esophagus,
gastroesofagus refluks, fistula trakeaesofagus berulang, disfagia, kesulitan bernafas dan
tersedak, batuk kronis, serta infeksi saluran nafas.
2.2.4 Penanganan dan Pengobatan
Pembedahan pada kasus atresia esofagus berupa torakotomi kana, yang bertujuan
untuk memisahkan fistula trakeaesofagus, menutup trakea dan menyatukan dua segmen
esofagus. Pembedahan ditunda, apabila bayi dengan BBLR, pneumonia dan anomali mayor
lain. Asuhan yang diberikan selama penundaan tindakan pembedahan, antara lain pemberian
nutrisi parental, gastronomi, serta melakukan suction kontinu. Penundaan dilakukan sampai
usia bayi 6 bulan-1 tahun.
Perawatan preoperasi, meliputi orofaring dibersihkan, memasang french tube untuk
suction esofagus secara kontinu, kepala bayi elevasi, pemberian infus dextrose 10%, merawat
bayi di inkubator di NICU, bayi sering dirangsang untuk menangis agar paru-paru
berkembang, pemberian O₂, bila perlu memasang endotracheal tube serta pemberian
antibiotika.
Perawatan pascaoperasi pascaperbaikan primer atresia esofagus dan pemisahan fistula
trakeaesofagel, meliputi perawatan rutin pasca bedah, klem cateter thoraks dibuka dan
dihubungkan dengan botol, observasi cairan, setiap jam, ventilasi mekanik 24 jam
pascaoperasi, dilanjutkan pemberian O₂ lewat headbox dengan kelembaban tingkat tinggi,
merawat bayi di inkubator, observasi vital sign setiap jam selama 8 jam dan setiap 2 jam
selama 4 jam, melakukan aspirasi cairan lambung secara oral, nasal dan endotrakeal setiap
jam.
Adanya refleks cairan lambung dapat menyebabkan anastomosis terbuka kembali.
Untuk itu perlu menjaga lambung tetap kosong dengan cara drainase tuba transanastomotik
naspgastrik, aspirasi setiap jam. Posis bayi kepala tegak, setiap 2 jam kepala dipalingkan
dapat membantu ekspansi paru-paru. Observasi tetesan infus, cek kadar ureum darah dan
kadar elektolit, perawatan luka setiap 12 jam, fisioterapi setiap 24 jam dan pemberian
antibiotika. Pemeriksaan sinar X-Ray pascabedah dan analisis gas darah. Hari ke-2
pascaoperasi coba pemberian cairan glukose 5 ml setiap jam melalui NGT. Lepas infus 1
minggu pascaoperasi. Makanan oral mulai diberikan antara hari ke-10 sampai hari ke-14
pascaoperasi. Pemberian O₂ dilepas pada 24 jam pascaoperasi, krlrmbaban tetap
dipertahankan untuk menjaga agar sekresi faring tetap lembab. Drain thoraks dilepas saat
drainase berhenti dan tidak ada tanda rekurensi fistula trakheobronkheal. Angkatjahitan
dilakukan pada hari ke-8 pascaoperasi. Pemeriksaan USG ginjal untuk memastikan tidak ada
kelainan. Bayiboleh pulang antara minggu ke-2 sampai ke-3.
Perawatan pascaesofagostomi dan gastrostomi, antara lain menjaga kebersihan
esofagostomi, tuba gastrostomi ditinggal dengan drainase bebas, diaspirasi setiap jam,
pemberian makanan hari 1 pasca operasi (tuba dipasang spuit dan ditinggikan), perawatan
luka setiap hari, satu minggu pasca operasi dapat diberikan maknanan tiruan. Bersamaan
memberikan makanan lewat gastrostomi, berikan makanan per oral dan dilakukan lewat
esofagostomi. Perlu melibatkan orangtua dalam perawatan bayi pascaesofagostomi dan
gastromi ini.
2.2.5 Prognosis
Prognosis bayi yang mengalami atresia esofagus tergantung kondisi bayi baru lahir,
beratnya disfungsi pulmonal dan adanya kelainan kongenital laiin.
2.3 Atresia Rekti dan Ani
2.3.1 Definisi
Atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang
untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat
kehamilan. Atresia ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah
suatu kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, termasuk Agenesis
ani, Agenesis rekti dan Atresia rekti. Insiden 1 : 5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai
penyakit tersering yang merupakan syndrom VACTRERL ( Vertebra, Anal, Cardial,
Esofageal, Renal, Limb). Dalam asuhan neonatus tidak sedikit dijumpai adanya kelainan
cacat kongenital pada anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces
karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan
lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada
pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. Kelainan kongenital pada anus ini
biasanya disebabkan karena putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur,
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu /3 bulan, dan adanya
gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal
serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan

2.3.2 Etiologi
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
a) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur.
b) Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan
c) Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus,
rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan

2.3.3 Patofisiologi
Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :
a) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit
karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
b) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir
tanpa lubang dubur
c) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan
d) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan Terdapat tiga macam letak :
 Tinggi (supralevator) → rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis)
dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak upralevator
biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital
 Intermediate → rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya
 Rendah → rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan
ujung rectum paling jauh 1 cm. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum
Pada laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius

2.3.4 Manifestasi Klinis


a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
b. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
c. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.
d. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula).
e. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
f. Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.
g. Perut kembung

2.3.5 Faktor predisposisi


Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti :
 Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung,
trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
 Kelainan sistem pencernaan.
 Kelainan sistem pekemihan
 Kelainan tulang belakang

2.3.6 Komplikasi Komplikasi


Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
 Asidosis hiperkioremia.
 Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
 Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
 Eversi mukosa anal
 Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)
 Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
 Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)
 Prolaps mukosa anorektal. 10. Fistula kambuan (karena ketegangan diare
pembedahan dan infeksi)
 Komplikasi jangka panjang

2.3.7 Klasifikasi Klasifikasi


Klasifikasi Klasifikasi atresia ani antara lain :
a. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat
keluar.
b. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
c. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.
d. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum

2.3.8 Penatalaksanaan Medis


 Pembedahan Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan
keparahan kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya.
Untuk kelainan dilakukan kolostomi beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat
anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12
bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu
pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga
memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya.
Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter sampai lubang pada
kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya memerlukan tindakan
pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan hemostratau skapel.
 Pengobatan, antara lain :
1. Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
2. Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan
korksi sekaligus (pembuat anus permanen)
 Pemeriksaan Penunjang, antara lain :
a. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum
dilakukan pada gangguan ini
b. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel meonium.
c. Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan
adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah
udara sampai keujung kantong rectal.
d. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong.
e. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut
sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm
Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
f. Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan seperti di bawah ini :
 Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut.
 Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran
ini harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus
impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum.
 Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah
dan kaki diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda
radio-opak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.

2.4 Hirschsprung

2.4.1 Pengertian
Penyakit hirschsprung adalah kelainan yang terjadi pada usus besar (kolon). Penyakit
ini biasanya muncul sebagai kondisi bawaan pada bayi yang baru lahir. Bayi yang menderita
penyakit Hirschsprung seringkali kesulitan buang air besar karena gangguan pada sel saraf
yang berfungsi mengendalikan pergerakan usus.

Pada kondisi normal, usus akan bergerak secara terus-menerus untuk mendorong feses
(kotoran sisa makanan) ke arah anus. Pada penderita penyakit Hirschsprung, saraf yang
bertugas mengendalikan pergerakan ini tidak berfungsi, sehingga menyebabkan feses
terperangkap di usus. Gangguan pada saraf ini bisa menimbulkan masalah seperti konstipasi,
infeksi, pembengkakan di perut, dan masalah usus lainnya.

Pada kasus penyakit Hirschsprung yang tergolong ringan, kondisi mungkin tidak akan
terdeteksi sampai sang bayi memasuki masa kanak-kanak. Kasus ini juga mungkin dialami
oleh orang dewasa, namun sangat jarang terjadi. Para penderita penyakit Hirschsprung
seringkali harus menempuh prosedur operasi untuk menyembuhkan penyakit ini.
2.4.2 Penyebab Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung terjadi ketika sel saraf di usus besar tidak terbentuk secara
sempurna. Sel-sel ini berfungsi mengendalikan kontraksi yang menggerakkan feses melalui
usus. Tanpa adanya kontraksi tersebut, feses akan terperangkap di usus besar. Penyebab
kerusakan sel saraf ini masih belum jelas sampai saat ini. Pada beberapa kasus, penyakit ini
terjadi karena faktor keturunan atau disebabkan oleh mutasi genetik.

Menurut hasil penelitian, bayi laki-laki memiliki risiko mengalami penyakit


Hirschsprung yang lebih besar dibanding bayi perempuan. Selain itu, jika seseorang pernah
memiliki anak biologis yang mengalami penyakit Hirschsprung, anak-anak yang dilahirkan
setelahnya juga berisiko mengidap kondisi sama. Pasalnya, penyakit Hirschsprung memang
sangat berkaitan dengan faktor keturunan dan kelainan bawaan.

Bayi yang mengalami penyakit Hirschsprung berpotensi mengalami komplikasi


berupa infeksi usus parah yang disebut enterokolitis. Kondisi tersebut bisa mengancam
nyawa dan penderitanya harus cepat mendapat penanganan medis. Penderita biasanya harus
menjalani prosedur pembersihan kolon dan menggunakan obat antibiotik yang diresepkan
oleh dokter.

2.4.3 Gejala Penyakit Hirschsprung

Gejala penyakit Hirschsprung sangat beragam, tergantung pada tingkat keparahannya.


Umumnya, gejala-gejala kondisi ini bisa langsung terdeteksi sekitar dua hari pertama setelah
bayi lahir. Gejala-gejalanya meliputi:

 Perut bengkak.

 Muntah-muntah, mengeluarkan cairan berwarna hijau atau cokelat.

 Kehilangan nafsu makan.

 Sembelit atau susah buang air besar, sehingga membuat bayi menjadi rewel.

 Diare
Penyakit Hirschsprung juga bisa terdeteksi saat bayi memasuki masa kanak-kanak.
Gejala-gejala penyakit Hirschsprung pada anak-anak terdiri dari:

 Perut bengkak.

 Sembelit kronis.

 Perut kembung.

 Perkembangan terganggu.

 Sering merasa kelelahan.

2.5 Obstruksi Biliaris

2.5.1 Pengertian
Antara hati dan usus halus terdapat saluran yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya
empedu yang di produksi hati menuju usus. Jika saluran ini tersumbat, maka hal ini disebut
sebagai obstruksi biliaris (Sarjadi, 2000).

Penyebab obstruksi biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak
dapat mengalir kedalam usus untuk dikeluarkan ( sebagai strekobilin ) didalam feses
(Ngastiyah, 2005).

2.5.2 Jenis

a. Penyakit Duktus Biliaris Intrahepatik


Gambaran yang mirip dengan obstruksi biliaris dapat disebabkan oleh penyakit
duktus biliaris intrahepatik, seperti :
1) Atresia Biliaris
Merupakan suatu kondisi kelainan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak
berkembang secara normal.
2). Sirosis biliaris primer
Secara histologis kerusakan duktus tampak dikelilingi infiltrasi limfosit yang padat dan
sering timbul granuloma.
3). Kolangitis sklerosing
Merupakan radang kronis yang mengenai duktus biliaris intrahepatik.
4). Reaksi obat kolestatik
Obat-obatan long-acting lebih menyebabkan kerusakan hepar dibandingkan dengan
obat-obatan short-acting (Sarjadi, 2000).

b. Obstruksi Biliaris Akut


Obstruksi akut duktus biliaris utama pada umumnya disebabkan oleh batu empedu.
Secara klinis akan menimbulkan nyeri kolik dan ikterus. Apabila kemudian sering terjadi
infeksi pada traktus biliaris, duktus akan meradang (kolangitis) dan timbul demam.
Kolangitis dapat belanjut menjadi abses hepar (Sarjadi, 2000).
Obstuksi biliaris yang berulang menimbulkan fibrosis traktus portal dan regenerasi
noduler sel hepar. Keadaan ini disebut sirosis biliaris sekunder (Sarjadi, 2000).

2.5.3 Etiologi

1. Batu empedu
2. Karsinoma duktus biliaris
3. Karsinoma kaput panksreas
4. Radang duktus biliaris komunis yang menyebabkan striktura
5. Ligasi yang tidak sengaja pada duktus biliaris komunis (Sarjadi, 2000)

2.5.4 Ikterik pada akhir minggu pertama

1. Veses putih agak ke abu-abuan dan lihat seperti dempul

2. Warna urine lebih tua karena mengandung urobilinogen

3. Peningkatan bilirubin direct dalam serum

4. Bilirubinuria

5. Terjadi hepatomegali

2.5.5 Penatalaksanaan
Pada dasarnya penatalaksanaan pasien dengan obstruksi biliaris bertujuan untuk
menghilangkan penyebab sumbatan atau mengalihkan aliran empedu. Tindakan tersebut
dapat berupa tindakan pembedahan misalnya pengangkatan batu atau reseksi tumor. Dapat
pula upaya untuk menghilangkan sumbatan dengan tindakan endoskopi baik melalui papila
vater atau dengan laparoskopi. (Reksoprodjo, 1995)

Bila tindakan pembedahan tidak mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab


sumbatan, dilakukan tindakan drenase yang bertujuan agar empedu yang terhambat dapat
dialirkan. Drenase dapat dilakukan keluar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa naso
bilier, pipa T pada duktus koledokus, atau kolesistostomi. Drenase interna dapat dilakukan
dengan membuat pintasan bilio digestif. Drenase interna ini dapat berupa kelesisto-
jejunostomi, koledoko-duodenostomi, koledoko-jejunustomi atau hepatiko-jejunustomi.
(Reksoprodjo, 1995).
Adapun penatalaksanannya sebagai berikut :

1. Perbaikan keadaan umum

2. Hindari in infeksi

3. Berikan konseling pada orang tua dan informad konsent

4. Operasi pembedahan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka kesimpulan yang
dapat dikemukakan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Kelainan bawaan merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul
sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan bawaan dapat dikenali sebelum
kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian setelah kelahiran.
2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelainan bawaan pada neonatus yaitu kelainan
genetik dan kromosom, faktor genetik, faktor infeksi, faktor obat, faktor umur ibu, faktor
hormonal, faktor radiasi, faktor gizi, dan faktor-faktor lainnya.
3. Kelainan bawaan berat dapat berupa kelainan bawaan yang memerlukan tindakan bedah,
kelainan kongenital bersifat medik, dan kelainan kongenital yang memerlukan koreksi
kosmetik.
4. Setiap ditemukannya kelainan bawaan pada bayi baru lahir, hal ini harus dibicarakan
dengan orang tuanya tentang jenis kemungkinan faktor penyebab, langkah-langkah
penanganan dan prognosisnya.
5. Kelainan bawaan tidak dapat dicegah, melainkan resiko terjadinya dapat dikurangi dengan
tidak mengkonsumsi alcohol, menghindari rokok, obat terlarang, makan makanan yang
bergizi, olahraga teratur, menjalani vaksinasi, melakukan pemeriksaan prenatal dengan
rutin, dan menghindari zat-zat berbahaya lainnya.

3.2 Saran
Adapun saran yang diajukan dalam makalah ini, yaitu:
1. Dalam mempelajari asuhan neonates, seorang calon bidan diharapkan mengetahui
kelainan bawaan yang biasanya terjadi pada neonatus sehingga mampu memberikan
asuhan neonatus dengan baik dan sesuai dengan kewenangan profesi.
2. Kepada pembaca, jika menggunakan makalah ini sebagai acuan dalam pembuatan
makalah atau karya tulis yang berkaitan dengan judul makalah ini, diharapkan
kekurangan yang ada pada makalah ini dapat diperbaharui dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Bidan dan Dosen Kebidanan. 2014. “Kebidanan Teori dan Asuhan”. Jakarta : EGC
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika
Hassan, Rusepno. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FK UI
Markum, A. H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FK UI
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya
Nur Muslihatun Wafi, 2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.Yogyakarta.Fitramaya
Oxorn H. 1990. Ilmu Kebidanan : Patologi & Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan Esentia
Medica
Prawiraharjo, Sarwono 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Reskoprojo soelarto, 1995. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta. Binarupa Aksara

Noer Sjaifoelah, 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Balai Penerbit FKUI

Sarjadi, 2000. Patologi umum dan sistematik. Jakarta. EGC

Ngastiyah, 2005. Perawatan anak sakit.Jakarta. EGC

Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisike-3.
Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed),
Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.
https://www.alodokter.com/penyakit-hirschsprung
Alfianty Ulfa. 2012. “Makalah Labioskizis dan Palatoskizis)

http://iva23.blogspot.com/2012/09/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1

(diakses 17 oktober 2018)

Anda mungkin juga menyukai