Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

ANALISIS KASUS

Ny. JSA, usia 41 tahun, dirawat di bagian neurologi RSMH karena


mengalami penurunan kesadaran yang terjadi secara perlahan-lahan. Penurunan
kesadaran ini diakibatkan karena terjadinya proses inflamasi pada meningen dan
parenkim otak.
Sejak 1 minggu yang lalu, penderita demam tinggi, dirasakan terus
menerus. Penderita juga mengalami nyeri kepala, terutama di puncak kepala,
belakang kepala, dan leher, pandangan kabur ada, muntah tidak ada, kejang tidak
ada. Sejak 3 hari yang lalu, penderita mengalami penurunan kesadaran yang
terjadi secara perlahan-lahan berupa gelisah, bicara meracau, dan cenderung
mengantuk. Saat serangan, kejang tidak ada, muntah tidak ada, kelemahan sesisi
tubuh tidak ada, mulut sedikit mengot ke kanan, bicara pelo, gangguan
sensibilitas, dan gangguan komunikasi belum dapat dinilai.
Riwayat demam tinggi sejak 1 minggu ada, infeksi telinga tidak ada,
infeksi gigi ada di geraham kiri bawah, batuk dan pilek tidak ada, batuk lama
tidak ada. Riwayat konsumsi obat yang membuat BAK berwarna merah tidak ada,
berpergian tidak ada, tumor atau benjolan tidak ada, penurunan berat badan drastis
tidak ada, penggunaan KB tidak ada, penggunaan narkoba suntik tidak ada, seks
bebas tidak ada, tattoo tidak ada. Riwayat memelihara kucing ada.
Demam dan sakit kepala merupakan gejala awal yang sering ditemukan
pada pasien meningitis. Penurunan kesadaran pada pasien ini disebabkan karena
adanya inflamasi atau infeksi pada jaringan parenkim otak.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS 11 (E3M5V3), tekanan darah
120/80 mmHg, nadi 86 x/menit, respiratory rate 20 x/menit, suhu 37,2 °C, dan
SpO2 98%. Penurunan GCS karena meningoencephalitis
Pada pemeriksaan neurologis tidak didapatkan kelainan pada N. III ,
namun didapatkan adanya paresa pada N.VII dan N. XII sinistra tipe sentral. Pada
pemeriksaan fungsi motorik, tidak ada laterisasi pada gerakan dan kekuatan
pasien. Tonus otot pasien meningkat. Klonus paha negatif dan klonus kaki negatif.
Refleks fisiologis meningkat. Refleks patologis Hoffman tromner negatif pada

49
kedua ekstremitas atas. Babinsky, Schaffer, dan Openheim positif pada kedua
ekstremitas bawah. Peningkatan tonus, refleks fisiologis, klonus negatif, dan
adanya refleks patologis menunjukan bahwa terdapat lesi sentral atau lesi upper
motor neuron.
Fungsi luhur dan sensorik belum dapat dinilai karena pasien dalam
keadaan somnolen. Tidak ditemukan gerakan abnormal. Gait dan keseimbangan
belum dapat dinilai.
Pada pemeriksaan gejala rangsang meningeal didapatkan kaku kuduk
positif, lasseque positif pada kedua ekstremitas bawah, dan kernig positif pada
kedua ekstremitas bawah. Hal ini menunjukan ada inflamasi pada meningen.
Analisis liquor cerebrospinalis ditemukan tidak berwarna, jernih, tidak
berbau, bekuan tidak ada, dan pH 8,0. Secara mikroskopis LCS ditemukan jumlah
leukosit 195.0 sel/ul dengan predominansi pada MN (97%). Tidak ditemukan sel
blast. Komposisi kimia dari LCS didapatkan Nonne positif, Pandy negatif, protein
83,9 mg/dL, LDH 118 U/L, glukosa 54 mg/dL, dan klorida 119 mEq/L. BSS 123
mg/dL sebelum dilakukan lumbal pungsi.
Pada pemeriksaan CT Scan kepala tidak ditemukan kelainan. Pada
pemeriksaan foto Thorax PA tidak ditemukan kelainan.
Tatalaksana pada pasien ini sesuai dengan tatalaksana yang dianjurkan
dari literatur dan jurnal, yaitu bed rest, oksigen 3L/menit via nasal kanul, diet
TKTP, mobilisasi pasif. Kemudian, diberikan juga antibiotik, kortikosteroid dan
penanganan suportif lainnya. Pemantauan setelah tatalaksana di atas harus
dilakukan terus selama beberapa waktu untuk melihat perbaikan dan
perkembangan penyakit pada pasien.

50
DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono. 2003. Meningitis. Kapita Selekta Neurologi.


http://www.uum.edu.my/medic/meningitis.htm, Diakses 8 Februari 2017
2. Japardi, Iskandar. 2002. Meningitis Meningococcus. USU digital library
URL:http://library.usu.ac.id/download/fk/bedahiskandar%20japardi23.pdf,
Diakses 8 Februari 2017
3. Quagliarello, Vincent J., Scheld W. 1997. Treatment of Bacterial
Meningitis. The New England Journal of Medicine. 336 : 708-16 URL
:http://content.nejm.org/cgi/reprint/336/10/708.pdf
4. Cambell W, DeJong’s The Neurologic Examination Sixth edition,
Lippincott Williams and Wilkins, Philadelpia, 2005;19-20,37-40,97-277
5. Lumban tobing SM, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental,
FKUI, Jakarta, 2004; 7-111
6. Juwono T, Pemeriksaan Klinik Neurologi dalam Praktek. EGC, Jakarta; 5-
53
7. Posner JB, Schiff ND, Saper CB, Plum F, Plum and Posner Diagnosis of
Stupor and Coma fourth edition, Oxford University Press, Oxford, 2007;
38-42
8. Markam S, Penuntun Neurologi, Binarupa Aksara, Jakarta; 18-50
9. Chusid JG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional Bagian
Satu, Gajah Mada University Press, Jogjakarta, 1990; 150-190
10. Duus Peter, Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda dan
Gejala edisi II, EGC, Jakarta; 78-127
11. Fitzgerald MJ, Gruener G, Mtui E, Clinical Neuroanatomy and
Neuroscience Fifth edition International edition, Saunders Elsevier,
British, 2007; 225-257
12. Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken., Lai, Susanna., and Braner, Dana. 2006.
Lumbar Puncture. The New England Journal of Medicine. 12 : 355 URL
:http://content.nejm.org/cgi/reprint/355/13/e12.pdf
13. Soetomenggolo TS, Ismael S. Buku ajar neurologi anak. Jakarta: IDAI;
1999. h. 339-76

51
14. Sudewi, Raka; Sugianto Paulus; Ritarwan Kiking. 2011. Infeksi pada
Sistem Saraf. Surabaya. Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair.
15. Ropper AH, Brown RH. Adam and Victor’s Principles of Neurology, 8th
edition. New York: McGraw-Hill; 2015

52