Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan
ilmu penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai,
untuk disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit.
Farmasi mencakup pengetahuan mengenai identifikasi, pemilahan
(selection), aksi farmakologis, pengawetan, penggabungan, analisis, dan
pembakuan bahan obat (drugs) dan sediaan obat (medicine). Pengetahuan
kefarmasian mencakup pula penyaluran dan penggunaan obat yang sesuai
dan aman, baik melalui resep (persecription) dokter berizin, dokter gigi,
dan dokter hewan, maupun melalui cara lain yang sah, misalnya dengan
cara menyalurkan atau menjual langsung kepada pemakai. Di jurusan
farmasi kita akan menjumpai beberapa mata kuliah baik yang umum
maupun yang khusus, untuk mahasiswa semester I mereka akan
mendapatkan mata kuliah botani (Voigt, 1984).
Botani ini adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan, baik
morfologi dan anatominya untuk lebih spesifikasinya maka ilmu botani ini
disalurkan melalui pembelajaran benda-benda ergastik.
Benda ergastik merupakan benda nonprotaplasma yang ditemukan
di dalam sel. Protoplasma yang hidup di sel di sebut juga bioplasma dan
benda dengan dengan zat ergastik. Benda organik dan nonorganik produk
metabolisme dapat membantu organisme dalam pertahanan dalam
memelihara struktur sel, juga untuk penyimpanan substansi dalam vakuola
dan dindng sel. Benda ergastik terdiri atas dua sifat yaitu ada yang bersifat
cair dan padat. Benda atau zat yang bersifat cair yaitu : pati, protein, cairan
sel, minyak dan lemak, minyak etheris dan damar, serta benda yang bersifat
padat : Kristal ca-oksalat, kristal anorganik, dan butir amilum (Sutrian,
2004).
Dalam percobaan benda ergastik, kami diharapkan mampu
mengetahui pengertian benda-benda ergastik, mampu mengetahui jenis-

1
jenis benda-benda ergastik, serta mampu mengetahui bentuk dan struktur
dari benda ergastik pada tumbuhan.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Adapun maksud dilaksanakannya praktikum ini yaitu sebagai
pembelajaran benda-benda ergastik untuk mahasiswa dan sebagai salah satu
syarat laporan akhir praktikum.
1.2.2 Tujuan
Kegiatan praktikum ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian benda-benda ergastik
2. Untuk mengetahui jenis-jenis benda-benda ergastik
1.3 Manfaat Praktikum
Berdasarkan latar belakang percobaan ini diharapkan mahasiswa
mampu mengamati dan mengetahui komponen-komponen non proto yang
disebut benda-benda ergastik yang sifatnya cair maupun padat.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Dasar Teori
Benda ergastik merupakan benda nonprotaplasma yang ditemukan di
dalam sel. Protoplasma yang hidup di sel di sebut juga bioplasma dan benda
dengan dengan zat ergastik. Benda organik dan nonorganik produk
metabolisme dapat membantu organisme dalam pertahanan dalam memelihara
struktur sel, juga untuk penyimpanan substansi dalam vakuola dan dindng sel.
Benda ergastik terdiri atas dua sifat yaitu ada yang bersifat cair dan padat.
Benda atau zat yang bersifat cair yaitu : pati, protein, cairan sel, minyak dan
lemak, minyak etsiri dan damar, serta benda yang bersifat padat : Kristal ca-
oksalat, kristal anorganik, dan butir amilum. (Sutrian, 2004).
Berikut adalah benda ergastik dalam bentuk cair : Menurut (Foris, 2011)
1. Pati
Pati adalah karbohidrat yang terjadi dari rangkaian molekul yang
panjang. Muncul dalam bentuk butiran yang umumnya akan berwarna
hitam kebiru—biruan bila diberi larutan iodium dalam kalium iodida.
Butir-butir pati dibentuk pertama kali di dalam kloroplas, kelak pati
dipecah dan dalam bentuk gula dipindahkan ke jaringan-jaringan
cadangan makanan. Disini gula disintesis kembali menjadi amiloplas.
Umumnya butir pati terdiri atas lapisan-lapisan yang mengelilingi suatu
titik yang di sebut hilum. Hilum dapat terletak di tengah atau dapat pula
eksentrik. Pelapisan pada butir pati terlihat sebagai akibat kepekaan
molekul-molekul yang lebih banyak pada saat permulaan terbentuknya
lapisan – lapisan terluar karena keebihan air. Pada butir pati sereales
jumlah lapisan sesuai dengan jumlah hari pembentukan butir pati.
2. Protein
Protein ditemukan dalam lapisan endosperm paling luar yang disebut
lapisan aleuron, pada kariopsis serealis protein berbentuk kristaloid
kuboidal yang ditemukan dalam sel parenkima ferifer umbi kentang dan
dalam parenkima buah capsicum. Protein bentuk kristal dan protein amorf

3
di temukan bersama-sama dalam butiran-butiran aleuron dalam endosperm
dan embrio sebagian besar biji-bijian.
3. Cairan sel
Cairan sel adalah cairan yang terdapat dalam rongga-rongga
vakuola. Cairan sel tersebut merupakan larutan dari bermacam macam zat
yang larut dalam air, baik yang berupa persenyawaan organik maupun
anorganik. Susunan cairan sel tidak tetap, selalu berubah-ubah karena di
dalam sel terus menerus berlangsung reaksi - reaksi metabolisme.
Persenyawaan-persenyawaan yang biasa terdapat dalam cairan sel di
antaranya : Menurut (Poedjiadi, 2009)
a. Air
Bagian paling besar dari cairan sel adalah air.air dalam vakuola
tersebut biasanya di sebut air sel.dalam air sel tersebut terlarut
berbagai bahan baik organik maupun anorganik.
b. Asam-asam organic
Asam-asam organik dalam vakuola menyebabkan pH cairan sel
rendah, misalnya pada buah-buah yang mentah berasa asam. Susunan
cairan sel tidak selalu konstan, tetapi selalu berubah-ubah, karena itu
pH cairan sel dapat berubah-ubah pula.
c. Karbohidrat
Dalam cairan sel bahan ini terkandung guna memenuhi kebutuhan
tumbuh-tumbuhan.beberapa macam di antaranya dapat di kemukakan
sebagai berikut :
a) Disakarida, yang cepat larut dalam air, seperti gula
tebu (sakarosa), gula bit (maltosa)
b) Monosakarida, yang melarut dalam air seperti misalnya gula
anggur (glukosa), gula buah-buahan (fruktosa)
c) Sejenis karbohidrat lainnya adalah lendir yang banyak di temukan
pada tumbuh-tumbuhan golongan serofita

4
d. Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa basa organik yang mengandung nitrogen
alkaloid biasanya tedapat pada jenis tumbuh-tumbuhan tersebut.
Manfaat dari alkaloid adalah dapat di pergunakan sebagai obat-obatan
e. Tanin (zat penyamak)
Pada tumbuhan tertentu terdapat tanin yaitu sejenis zat cair yang
merupakan campuran dari beberapa macam zat-zat tersebut terutama
misalnya asam gallus dan glukosit. Fungsi tanin yaitu mencegah
terjadinya pembusukan pada jaringan di samping berguna bagi
perlindunngan protoplas dari gangguan luar, misalnya gangguan
binatang.
f. Antosian
Antosian adalah suatu glukosida, dapat memberikan warna yang dapat
larut dalam air sel dari vakuola. Dengan demikian maka dalam
vakuola terdapat pula zat –zat warna yang terlarut dalam cairan
selnya.
g. Asparagin dan glutamine
Pada tumbuh-tumbuhan tertentu selain terdapat protein, terdapat pula
senyawa-senyawa lainnya, antara lain asparagin dan glutamine, yang
termasuk golongan amide.
4. Minyak dan lemak
Minyak dan lemak merupakan bahan cadangan penting dalam
tumbuhan, yang sering kali dijumpai dalam biji dan buah. Lemak dan
minyak merupakan gliserida asam lemak.perbedaan di antara keduanya
umumnya berdasarkan sifat-sifat fisik, Pada suhu normal lemak berbentuk
benda padat dan minyak berbentuk cairan.
5. Minyak eteris dan damar
Dalam sel tumbuh-tumbuhan terdapat pula sejenis minyak yang
muda menguap.seperti halnya minyak eteris. Dalam sel tumbuh-tumbuhan
minyak eteris berupa tetes minyak yang berupa tetes-tetes minyak yang

5
mmembiaskan cahaya. biasanya sel-selnya telah mati dan dinding selnya
bersifat suberin (zat gabus).
Benda ergastik dalam bentuk padat di antaranya : Menurut (Firza, 2011)
1) Kristal ca-oksalat
Kristal ini memang cukup banyak terdapat dalam sel berbagai
tumbuh-tumbuhan. Lazimnya terdapat dalam sel korteks akan tetapi
tidak jarang pula terdapat dalam sel-sel parenkim floem dan sel
parenkim xylem.
2) Kristal anorganik
Kristal anorganik ialah berupa silikat yang banyak terdapat pada
sel tumbuhan jenis bambu dan rumput-rumputan terutama pada sel
epidermisnya.
3) Butir amilum
Benda-benda nonprotoplasma atau benda-benda mati ini dalam sel
di bentuk oleh plastida-plastida, diantaranya amiloplas dan kloroplas.
2.2 Uraian Tanaman
2.2.1 Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2010)
Regnum : Plantae
Divisi : spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Gambar 2.2.1
Genus : Solanum
Umbi Kentang
Spesies : Solanum Tuberosum
(Solanum Tuberosum)
b. Morfologi (Fredi Kurniawan, 2007)
1. Daun
Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun terletak berselang-
seling pada batang tanaman, berbentuk oval agak bulat dengan ujung
yang meruncing dan tulang daun yang menyirip. Warna pada daun
mulai dari hijau muda sampai hijau tua hingga kelabu

6
2. Batang
Berbentuk segi empat atau segilima, tergantung varietasnya, tidak
berkayu dan bertekstur agak keras. Warna pada batang umumnya
hijau tua dengan pigmen ungu. Batang bercabang dan setiap cabang
ditumbuhi daun yang rimbun.
3. Akar
Tanaman kentang memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut.
Akar tanaman berwarna keputih-putihan dan berukuran sangat kecil.
Diantara akar ini ada yang nantinya berubah bentuk dan fungsi
menjadi bakal umbi, yang selanjutnya akan menjadi umbi kentang
4. Bunga
Tanaman kentang ada yang berbunga dan tidak tergantung
varietasnya. Warna pada bunga yaitu kuning atau ungu. Kentang
varietas desiree berbunga ungu. Varietas cipanas, segunung dan
cosima berbunga kuning.
5. Umbi
Ukuran, bentuk dan warna umbi kentang bermacam-macam,
tergantung varietasnya. Ukuran umbi bervariasi dari kecil hingga
besar. Bentuk umbi ada yang bulat, oval, bulat panjang. Umbi
kentang berwarna kuning, putih dan merah.
c. Manfaat/Kegunaan (Widjayakusuma, 1994)
1. Menurunkan Tekanan Darah
2. Menjaga kesehatan otak dan sistem saraf
3. Menjaga kekebalan tubuh
4. Mengurangi peradangan
5. Melancarkan pencernaan
6. Menjaga kesehatan jantung
7. Membantu kinerja atletik

7
2.2.2 Padi (Oryza sativa)
a. Klasifikasi (Tjitrosopemo, 2004)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Graminae Gambar 2.2.2
Genus : Oryza Padi

Species : Oryza sativa L. (Oriza sativa)


b. Morfologi (Sutrian, dkk., 2004)
1. Akar
Akar tanaman padi berfungsi menyerap air dan zat makanan dari
dalam tanah yang kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar
tanaman padi adalah akar serabut. Radikula (akar primer) yaitu akar
yang tumbuh pada saat benih berkecambah. Pada benih yang sedang
berkecambah timbul calon akar dan batang. Apabila pada akar primer
terganggu, maka akar seminal akan tumbuh dengan cepat.
2. Batang
Padi termasuk kedalam familia Graminae yang memiliki batang
dengan susunan beruas - ruas. Batang padi berbentuk bulat, berongga,
dan beruas. Antar ruas pada batang padi dipisahkan oleh buku.
Panjangnya tiap-tiap ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat
pada pangkal batang dan ruas kedua, ketiga, dan seterusnya lebih
panjang dari pada ruas yang didahuluinya.
3. Daun
Padi termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang
berbeda-beda, baik bentuk, susunan, maupun bagian-bagiannya. Ciri
khas daun padi adalah terdapat sisik dan telinga daun. Daun tanaman
padi tumbuh pada batang dalam susunan yang berselang-seling. Pada
setiap buku terdapat satu daun. Setiap daun terdiri atas helai daun yang
memiliki bentuk panjang seperti pita.

8
4. Bunga
Bunga padi pada hakikatnya terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma,
palea, putik, dan benang sari. Tiap unit bunga terletak pada cabang-
cabang bulir yang terdiri atas cabang primer dan cabang sekunder.
Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas
dinamakan malai.
c. Manfaat/Kegunaan (Heyne, 1987)
1. Sebagai sumber energi yang tinggi
2. Membantu mengobati dan mencegah gangguan pencernaan
3. Bagus untuk kesehatan tulang dan gigi
4. Sumber protein yang tinggi
5. Membantu mengurangi resiko pusing
6. Sebagai bahan pokok makanan
7. Bermanfaat untuk kesehatan
8. Sebagai bahan pembuat tepung
9. Sebagai bahan pembuat ketan
2.2.3 Ubi Jalar (Ipomea Batatas)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2010)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Convolvulales
Familia : Convolvulaceae
Gambar 2.2.3
Genus : Ipomea
Ubi Jalar
Species : Ipomea Batata
(Ipomea Batatas)
b. Morfologi (Hasnunidah, 2011)
1. Akar
Tanaman ubi jalar memiliki dua perakaran yaitu akar penyerap dan
akar lumbung. Akar penyerap adalah akar yang berfungsi untuk
menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Sedangkan akar
lumbung adalah akar untuk menyimpan makanan dan akar membesar

9
seiring berjalanan waktu selama daun masih ada. Akar lumbung inilah
yang nantinya akan membentuk ubi. Akar ubi jalar mampu menembus
ke dalam tanah tidak lebih dari 45 cm. 15% dari seluruh akar yang
terbentuk akan menebal dan membesar membentuk ubi.
2. Batang
Batang ubi jalar memiliki beberapa warna, yaitu hijau, merah dan
ungu. Batang berbentuk silinder dan panjang serta memiliki ruas.
Ukuran panjang ruas bervariasi mulai dari pendek sampai panjang.
Ukuran diameter batang juga bervariasi mulai dari tipis hingga tebal.
3. Daun
Daun-daun sederhana dan secara spiral diatur bergantian pada batang
dalam pola yang dikenal sebagai 2/5 phyllotaxis (ada
5 daun spiral diatur dalam 2 lingkaran di sekitar batang untuk setiap
dua daun berada di bidang vertikal yang sama pada batang).
4. Bunga
Bunga ubi jalar sengat menarik yang memiliki warna ungu keputih-
putihan dan berbentuk corong berdiameter 3-4 cm. Bunganya adalah
biseksual. Penyerbukan bunga dibantu oleh serangga.
5. Buah
Buah ubi jalar berbentuk kapsul yang mengandung 1-3 biji.
6. Biji
Biji berbentuk pipih, bertekstur keras, dan berwarna hitam. Saking
kerasnya kulit biji sehingga diperlukan pengausan
untuk membantu proses perkecambahan.
c. Manfaat/Kegunaan (Heyne, 1987)
1. Membantu kekebalan tubuh
2. Mengatasi peradangan
3. Atasi bronkitis dan asma
4. Meredakan sakit artritis
5. Baik bagi pencernaan
6. Bantu atasi kanker

10
7. Menjaga keseimbangan air
8. Sumber karbohidrat diabetes
9. Menambah berat badan
2.2.4 Pepaya (Carica Papaya)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2007)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Violales
Familia : Caricaceae
Gambar 2.2.4
Genus : Carica
Pepaya
Species : Carica papaya
(Carica Papaya)
b. Morfologi (Fredikurniawan, 2007)
1. Habitus
Deskripsi pohon pepaya berupa tumbuhan berbatang tunggal tegak dan
basah dengan payungan daun di ujungnya, dapat tumbuh setinggi 270
– 900 cm serta mengandung getah putih di seluruh bagian
pohonnya. Ciri-ciri tumbuhan pepaya tersebut juga dipengaruhi
varietas.
2. Daun
Bentuk daun pepaya yakni tunggal, menjari 5-9 bagian. Tangkai daun
panjang berongga 50-100 cm (tergantung umur).
3. Batang
Batang Pepaya berbentuk silinder dengan diameter 30 – 40 cm, semi
berkayu, berongga dan bergabus dengan kulit yang lembut berwarna
abu-abu. Permukaan batang dipenuhi dengan bekas tangkai daun. Arah
pertumbuhan batang tegak lurus ke atas dan tidak bercabang, kecuali
bagian ujung pucuk mengalami pelukaan atau titik tumbuhnya
terpotong.

11
4. Bunga
Berdasarkan tipe bunganya, bagian-bagian bunga pepaya dibedakan
menjadi tiga jenis, yaitu pepaya jantan, pepaya betina dan pepaya
hermafrodit. Pepaya jantan memiliki bunga jantan yang majemuk dan
tersusun menggantung pada malai.
c. Manfaat/Kegunaan (Wijayakusuma, 1994)
Tanaman pepaya bernilai ekonomi tinggi karena mempunyai banyak
kegunaan, baik bagian buah, akar, batang, daun, maupun bunganya. Buah
pepaya yang masak biasa disajikan sebagai pencuci mulut dan penyuplai
nutrisi, terutama karoten, kalsium, zat besi, vitamin A dan B, serta kaya
akan vitamin C. Buah pepaya juga dapat diolah menjadi bentuk makanan
lain, seperti sari pepaya dan dodol. Buah ini juga sering dijadikan
campuran dalam pembuatan saus tomat untuk menambah cita rasa, warna
dan kadar vitamin. Dalam bidang farmasi, akar pepaya dimanfaatkan
sebagai obat penyakit ginjal dan kandung kemih, sedangkan daunnya
sebagai obat penyakit malaria, kejang perut dan demam. Daun muda dan
bunganya juga biasa dijadikan lalapan dan urap untuk menambah nafsu
makan. Bunga pepaya seringkali dijadikan alternatif pengganti bunga
melati sebagai bunga rangkai.
2.2.5 Begonia (Begonia Sp.)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2005)
Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Familia : Begoniaceae
Genus : Begonia Gambar 2.2.5

Species : Begonia Sp. Begonia

b. Morfologi (Mulyani, 2006) (Begonia Sp.)

Tanaman begonia merupakan tanaman semak liar yang tubuh dihutan


dengan tinggi 60-75 cm. Batang begonia berstruktur lunak, berwarna

12
merah kecoklatan. Tanaman begonia berdaun tunggal, daunya berbentuk
seperti jantung, di bagian tepi daun beringgit, ujung daun tanaman begonia
runcing, pertulangan menjari, daunnya berwarna hijau. Bunga tanaman
begonia ini majemuk, berbentuk malai. Buah tanaman begonia berbentuk
seperti kotak, jika masih muda berwarna hijau setelah tua berwarna
cokelat. Biji tanaman begonia berbentuk bulat, dengan ukuran kecil,
berwarna putih. Tanaman begonia tumbuh dengan baik pada tempat-
tempat yang lembab dengan sedkit intensitas cahaya matahari, dan sedikit
ternaungi. Habitat tanaman begonia ini dari ketinggian 900m sampai 2.300
m dpl. Budidaya tanaman begonia berkembang biak dengan cara
menyemai bijinya
c. Manfaat/Kegunaan (Dalimartha, 2006)
1. Tanaman begonia digunakan untuk mengobati luka baruam
2. Tanaman begonia berkhasiat untuk menurunkan panas
3. Tanaman begonia bermanfaat untuk mengobati keputihan
4. Meredakan haid.
5. Mengobati Disentri
6. Menjaga Kesehatan Organ Hati
7. Meredakan Pembengkakan di Bagian Tubuh
8. Meredakan Batuk
9. Mengurangi Inflamasi
2.2.6 Lidah buaya (Aloe vera)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2010)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Asphodelaceae
Genus : Aloe Gambar 2.2.6

Species : Aloe vera Lidah buaya


(Aloe vera)

13
b. Morfologi (Fahn, 1991)
1. Akar
Karena tergolong tumbuhan monokotil maka Lidah buaya mempunyai
akar yang serabut yang panjangnya bisa mencapai 30-40cm tergantung
pada perkembangan lidah buaya.
2. Batang
Batang dari lidah buaya sangat pendek bahkan jarang terlihan
dikarenakan terhalang oleh kumpulan daun lidah buaya, panjang
batang lidah buaya sekitar 3-4 cm . batang lidah buaya berserat dan
berkayu juga dapat menghasilkan tunas baru pada batangnya.
3. Daun
Daun tanaman lidah buaya berbentuk pita dengan helaian yang
memanjang. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau
keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak
mengandung getah atau lendir (gel) sebagai bahan baku obat
4. Bunga
Bunga lidah buaya menyerupai terompet atau tabung kecil dengan
panjang rata rata sekitar 2-3cm, bunga lidah buaya mempunyai batang
dengan panjang 50 sampai 100cm dan warna dari lidah buaya
berwarna kuning sampai orange.
c. Manfaat/Kegunaan (Widjayakusuma, 1994)
1. Menyembuhkan ruam dan iritasi kulit
2. Mengobati luka bakar
3. Menyembuhkan luka
4. Melembapkan rambut dan kulit kepala
5. Mengobati sembelit
6. Membantu sistem pencernaan
7. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
8. Antioksidan dan mengurangi peradangan

14
2.2.7 Nanas (Ananas commosus)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 1993)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poales
Familia : Bromoliaceae
Gambar 2.2.7
Genus : Ananas
Nanas
Species : Ananas commosus (Ananas commosus)
b. Morfologi (Sumardi, 1993)
1. Akar
Nanas memiliki akar serabut dengan sebaran ke arah vertikal dan
horizontal. Perakaran dangkal dan terbatas walaupun ditanam pada
media yang paling baik. Kedalaman akar nenas tidak akan lebih dari
50 cm.
2. Batang
Batang tanaman nenas dapat dilihat apabila daun-daun dihilangkan.
Hal ini disebabkan batang nenas sangat pendek yaitu 20-25 cm dengan
diameter bawah 2 sampai 3,5 cm, sedangkan diameter bagian tengah
5,5 sampai 6,5 cm dan mengecil pada bagian puncak. 2.0-3.5 cm.
Batang tanaman nenas beruas-ruas dengan panjang masing-masing
ruas bervariasi antara 1 sampai 10 cm. Batang berfungsi sebagai
tempat melekat akar, daun, bunga, tunas, dan buah, sehingga secara
visual batang tersebut tidak nampak karena di sekelilingnya tertutup
oleh daun.
3. Daun
Daun berbentuk memanjang dan sempit, panjang daun dapat mencapai
130-150 cm, dengan daun tua lebih pendek dari daun muda yang ada
diatasnya. Pertumbuhan daun nenas biasanya satu dalam seminggu.
Pada mulanya pertumbuhannya lambat, kemudian cepat.

15
4. Bunga
Bunga tanaman nenas bersifat majemuk terdiri dari 50-200 kuntum
bunga tunggal atau lebih. Letak bunga duduk tegak lurus pada tangkai
buah kemudian berkembang menjadi buah mejemuk. Bunga nenas
bersifat hermaprodit, mempunyai tiga kelopak, tiga mahkota, enam
benang sari dan sebuah putik dengan kepala putik bercabang tiga.
5. Buah
Buah nenas merupakan buah majemuk yang terbentuk dari gabungan
100 sampai 200 bunga, berbentuk silinder, dengan panjang buah
sekitar 20.5 cm dengan diameter 14.5 cm dan beratnya sekitar 2.2 kg
(Collins 1960 cit Rosmaina 2007). Kulit buah keras dan kasar, saat
menjelang panen, warna hijau buah mulai memudar.
c. Manfaat/Kegunaan (Heyne, 1987)
Daun nanas dapat digunakan sebagai pakan ternak dan dapat
meningkatkan berat badan ternak kambing. Nanas juga mengandung
enzim bromelian yaitu suatu enzim protease yang dapat memecah protein
sehingga dapat gunakan untuk melunakkan daging. Nanas juga
mengandung serat yang berguna untuk membantu proses pencernaan,
menurunkan kolesterol dalam darah dan mengurangi resiko diabetes dan
penyakit jantung.
2.2.8 Jeruk (Cytrus Sp.)
a. Klasifikasi (Setyawan, 2009)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Familia : Rutaceae Gambar 2.2.8
Genus : Citrus Jeruk
Species : Cytrus Sp. (Cytrus Sp.)

16
b. Morfologi (Hasnunidah, 2010)
1. Akar
Akar jeruk terdiri dari akar tunggang, akar serabut serta akar-akar
rambut. Akar tunggang pada tanaman jeruk dapat mencapai kurang
lebih 4 meter jika akar mendapat tanahyang subur dan tidak bertemu
dengan tanah yang keras ataupun tanah berair.
2. Batang
Batang tanaman jeruk berbentuk bulat dan ditumbuhi mata tunas.
Batang tanaman jeruk ada yang terlihat kasar dan berduri, tetapi
adapula yang permukaannya halus, tinggi batang tanaman jeruk ada
yang dapat mencapai tinggi 15m dan ada pula yang hanya mencapai
5m dan memiliki beragam warna, semua itu tergantung dari jenis
tanaman jeruk itu sendiri.
3. Daun
Daun tanaman jeruk berbentuk bulat lonjong menyerupai telur,
berwarna hijau tua dan terlihat tebal. Tidak terdapat bulu pada kedua
sisi daun, dan tulang daun berbentuk menyirip beraturan, walaupun ada
juga yang berselang seling.
4. Bunga
Jeruk merupakan tanaman berbunga majemuk, berwarna putih pucat
dan termasuk kedalam bunga sempurna (dalam 1 kuntum bunga
terdapat 2 kelamin atau hermafrodit). Biasanya bunga jeruk muncul
pada ketiak daun atau pucuk ranting yang masih muda dan berbau
harum karena mengandung nektar/madu dalam jumlah banyak.
5. Buah
Buah jeruk ada yang berbentuk bulat, oval dan ada pula yang
berbentuk lonjong dengan sedikit memanjang. Kulit buahnya ada yang
tebal dan alot, ada pula yang tipis dan mudah dikupas, memiliki warna
kuning, jingga dan hijau tergantung jenisnya.

17
6. Biji
Pada tanaman jeruk, biji terdapat pada bulir buahnya, ketersediaan biji
pada tanaman jeruk tergantung dari varietasnya, ada yang berbiji
banyak sampai yang tidak berbiji. Biji jeruk biasanya berwarna putih
atau putih keabuan, berbentuk bulat telur dan runcing di salah satu
ujungnya, bersifat poliembrional dengan embrio berwarna putih.
c. Manfaat/Kegunaan (Sudarsono, dkk., 2002)
1. Meredakan Sembelit
2. Mengatur Tekanan Darah
3. Mencegah Kanker
4. Melindungi Tubuh dari Penyakit Jantung
5. Melawan Infeksi Virus
6. Membersihkan Darah
7. Tulang Kuat
8. Gigi Kuat
2.3 Uraian Bahan
2.3.1 Alkohol (Dirjen POM,1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, Alkohol
Rumus Molekul : C2H5OH
Rumus Struktur :
H H

H C C OH

H H
Berat Molekul : 46 g/mol
Pemerian : Cairan tak berwarna jernih, mudah menguap dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala api biru yang
tidak berasap.
Kelaruran : Sangat mudah larut dalam air, dalam klorofom P,
dan dalam eter P

18
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari
cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
2.3.2 Aquades (FI Edisi III Hal 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Aquadest, air suling
Rumus Molekul : H2O
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 18,02 g/mol


Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup kedap
Kegunaan : Zat pelarut
2.3.3 Asam asetat (FI edisi III, hal 42)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM GLACIALE
Nama lain : Asam asetat glacial, asam cuka
Rumus molekul : CH3COOH
Rumus struktur :

Berat molekul : 60,05 g/mol


Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, tajam,
jika diencerkan dengan air, rasa asam
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)
P dan dengan gliserol P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat tambahan

19
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Sel Tumbuhan dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Oktober
2018 pukul 16.00 WITA sampai 17.30 WITA. Tempat pelaksanaan
praktikum yaitu bertempat di Laboratorium Bahan Alam, Jurusan Farmasi,
Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Alu
2. Kaca objek
3. Lumpng
4. Micro glass
5. Mikroskop
6. Pensil
7. Pipet
8. Pinset
9. Silet
3.2.2 Bahan
1. Aquadest
2. Alkohol 70%
3. Aloe vera folium
4. Amaranthus folium
5. Ananas commosus folium
6. Begonia petiolus
7. Carica papaya petioles
8. Cytrus sp
9. Datura metel folium
10. Ficus benyamina
11. Gnetum gnemon korteks
12. Ipomea batatas tuber

20
13. Melalue leucodendrum
14. Oryza sativa
15. Pleumele angustifolia folium
16. Ricinus communis semen
17. Solanum tuberosum tuber
18. Zingiber officinale rhizoma
19. Tisu
3.3 Prosedur Kerja
1. Percobaan I – pati
(solanum tuberosum tuber)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya
b. Kerok bagian dalam umbi kentang dengan pinset atau jarum pentul
c. Pindahkan cairan tersebut diatas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
d. Amati dibawah mikroskop objectif lemah dan kuat
e. Gambarlah bentuk butir amilum kentang tersebut
2. Percobaan II – amilum
(oryza sativa dan ipomea batatas)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya
b. Kerok bagian dalam umbi ubi jalar dengan pinset atau jarum pentul
sementara butir beras dihaluskan dengan menggunkan lumpang
c. Pindahkan cairan tersebut diatas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
d. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran objectif lemah dan
kuat
e. Gambarlah bentuk butir amilum pada sampel tersebut
f. Apa saja kesimpulan dari pengamatan preparat tersebut?
3. Percobaan IV – kristal dan bentuknya
(carica papaya)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya

21
b. Ambil tangkai daun pepaya lalu iris setipis mungkin dan pindahkan
cairan tersebut diatas permukaan kaca dan tetesi aquadest lalu tutup
c. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran objectif lemah dan
kuat
d. Gambarlah beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat.
Bentuk apakah kristal masing – masing sampel tersebut.
4. Percobaan V –bentuk kristal
(Begonia sp)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya
b. Ambil tangkai daun begonia lalu iris setipis mungkin dan
pindahkan cairan tersebut diatas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
c. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran objectif lemah dan
kuat
d. Gambarlah beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat.
Bentuk apakah kristal masing – masing sampel tersebut.
e. Apa kesimpulan anda dari pengamatan tersebut. Bentuk apakah
kristal dalam preparat yang sedang di amati.
5. Percobaan VI – kristal kalsium oksalat
(aloe vera dan ananas commosus)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya
b. Ambil daun lidah buaya dan dan daun nanas lalu iris setipis
mungkin dan pindahkan cairan tersebut diatas permukaan kaca dan
tetesi aquadest lalu tutup
c. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran objectif lemah dan
kuat
d. Gambarlah beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat.
Bentuk apakah kristal masing – masing sampel tersebut.
e. Sebutkan pula bentuk kristal dari masing – masing preparat
tersebut

22
6. Percobaan VIII- mimyak etheris
(cytrus sp)
a. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya
b. Ambil kulit buah jeruk lalu iris setipis mungkin secara melintang
c. pindahkan preparat tersebut diatas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
d. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran objectif lemah dan
kuat
e. Gambarlah beberapa buah sel yang mengandung minyak etheris
Apa kesimpulan dan dari pengamatan tersebut

23
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil pengamatan

Gambar Hasil
No Keterangan Pembanding
Pengamatan

1. Umbi kentang Pada penampang umbi


(solanum kentang (solanum
tuberosum) tuberosum)

Perbesaran 10 x

Yang di amati adalah butir


– butir pati dimana
terdapata hilus dan lamela
Lamela

Hilus

(Mulyani,2006)
Hilus Lamela

Butir - butir amilum

2. Ubi jalar (ipomea ubi jalar (ipomea batatas).


batatas) Yang di amati adalah butir
– butir amilum dimana
terdapata hilus dan lamela

Butir butir amilum

(firza ,2011)
Hilus

Lamela

24
Diamati
1. menggunakan
Oryza sativa
3 (padi) mikroskop dengan
pembesaran 10x yang
3
dapat diamati bagian
.
sebutir beras adalah butir –
butir amilum

Amilum
Hilus
(Sumardi,1993)
Lamela

Tangkai daun pepaya Diamati


2. 4 menggunakan
(carica papaya) mikroskop dengan
4..
pembesaran 10x yang
dapat diamati bagian
tangkai daun pepaya
adalah bentuk kristal

Bentuk pasir

(hidayat ,1995)
Bentuk prisma

25
Diamati
3. 3 menggunakan
Begonia (begonia sp) mikroskop dengan
5.
pembesaran 10x yang
dapat diamati bagian
tangkai daun pepaya
adalah bentuk kristal

Bentuk pasir

bentuk prisma

( Foris,2011

Bentuk rafida

lidah buaya ( aloe Diamati


4. menggunakan
vera) mikroskop dengan
pembesaran 10x yang
6.
dapat diamati bagian daun
lidah buaya adalah bentuk
kristal
Bentuk prisma

( Kimball, 1983)

bentuk prisma
Daun Nanas ( Diamati
5. menggunakan
ananas commosus) mikroskop dengan
pembesaran 10x yang
dapat diamati bagian daun
7. nanas adalah bentuk
kristal

Bentukpasir Bentuk prisma

Bentuk rafida ( Fahn,1991)

26
Jeruk (cytrus sp) Diamati
6. menggunakan
mikroskop dengan
8.
pembesaran 10x yang
dapat diamati bagian kulit
jeruk adalah mengandung
minyak etheris
Minyaketheris

(Sutrian,2004)
Minyaketheris

4.2. Pembahasan

Benda-benda ergastik merupakan produk non-protoplasmik pada proses


metabolisme protoplasma; butir pati, tetes minyak, kristal dan cairan tertentu;
terdapat pada sitoplasma, vakuola, dan dinding sel (Setjo, S. 2004).

Pada praktikum kali ini, kami mengamati benda-benda ergastik berupa


kristal, pati, aleuron, dan minyak eteris. Untuk percobaan pengamatan benda-
benda ergastik ini, kami menggunakan sampel ubi jalar (Ipomoea batatas),
kentang (Solanum tuberosum), tangkai daun pepaya (Carica papaya), tangkai
daun begonia (begonia sp), dan nanas (Ananas commosus), lidah buaya (Aloe
vera), jeruk (Cytrus sp),padi (Oryz sativa).

Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Diambil


sampel, untuk sampel ubi jalar (Ipomoea batatas), kentang (Solanum tuberosum),
dilihat pembentukan amilum atau pati. Pertama dikerok bagian dalam sampel
tersebut, kemudian diletakkan diatas objek gelas. Pada literatur Rukmana, R. 2007
mengatakan bahwa sampel ubi jalar dikerok agar didapat sel yang sesungguhnya.
Kemudian ditetesi air, tujuan ditetesi air untuk menjaga lingkungan sel agar tetap
segar (Rukmana, R. 1997).

Setelah itu ditutup dengan kaca penutup, agar udara tidak masuk ke dalam,
agar sel tetap terjaga lingkungannya, kemudian diamati dimikroskop dengan
perbesaran dari lemah ke kuat.

27
Untuk sampel daun pepaya (Carica papaya),dan nanas (Ananas
commosus), dilihat pembentukan kristal. Pertama sampel diiris setipis mungkin,
tujuan sampel diiris tipis agar dapat terlihat jelas sel-sel yang terdapat dalam
tumbuhan tersebut (Setjo, S. 2004). Setelah sampel diiris tipis, kemudian
diletakkan diatas kaca objek dan ditetesi dengan air menggunakan pipet. Tujuan
ditetesi air untuk menjaga lingkungan sel agar tetap segar (Setjo, S. 2004).
Kemudian ditutup dengan menggunakan kaca penutup agar sel yang diamati
mudah terlihat jelas karena bentuk kaca penutup yang yang tipis dan transparan.
Kemudian diamati di mikroskop dengan perbesaran dri lemah ke kuat. Hasil yang
didapat untuk sampel daun pepaya (Carica papaya), dan nanas (Ananas
commosus), yang dilihat adanya kristal didapat hasil bahwa pada sampel tersebut
mengandung benda-benda ergastik berbentuk kristal. Dimana terdapat kristal
butir-butir halus, kristal bentuk prisma dan kristal bentuk jarum. Kristal bentuk
prisma yaitu kristal tunggal besar atau poliedris dan berbentuk seperti bintang.
Sedangkan kristal bentuk jarum yaitu kristal berbentuk jarum atau berbentuk
seperti sapu lidi (Warisno, 2003).

Dari percobaan yang dilakukan untuk sampel ubi jalar (Ipomoea batatas),
kentang (Solanum tuberosum), yang dilihat pembentukan amilum atau pati.
Didapat hasil bahwa pada sampel tersebut terdapat pati yang didalamnya
mengandung hilus dan lamella. Dimana hilus adalah titik awal terbentuknya
amilum dan lamella adalah garis-garis halus yang mengelilingi hilus (Sinta, S.
2004).

Jika dibandingkan dengan literatur yang terapat pada penuntun praktikum


botani, 2014, Setjo, S. 2004, dan Sinta, S. 2004, hasil yang didapat sesuai dengan
literatur yang ada. Dimana terdapat benda-benda ergastik dalam bentuk kristal,
dan amilum atau pati.

28
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Benda-benda ergastik adalah benda non-protoplasma, baik organik maupun
anorganik sebagai hasil metabolisme yang berfungsi untuk pertahanan,
pemeliharaan, struktur sel, dan juga sebagai penyimpanan cadangan makanan.
Terletak dibagian sitoplasma, dinding sel, maupun di vakuola.
2. Benda-benda ergastik dapat di bedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a) Benda ergastik yang bersifat cair. Terdiri atas cairan sel (“Cell Sap"),
minyak dan lemak, serta minyak eteris dan damar.
b) Benda ergastik yang bersifat padat. Terdiri atas Kristal Co-Oksalat,
kristal anorganik, dan butir amilum (butir aleuron,dsb).
5.2 Saran
5.2.1 Jurusan
Dapat memberikan dukungan bagi seluruh praktikan dalam hal tempat agar
praktikan dapat menjalankan praktikum dengan lebih maksimal, yaitu dengan
menambah fasilitas laboratorium agar praktikum dapat berjalan lebih maksimal.
5.2.2 Asisten
Diharapkan agar kerjasama antara asisten dengan praktikan lebih
ditingkatkan dengan banyak member wawasan tentang determinasi, asisten dan
praktikan diharapkan tidak ada missed communication selama proses praktikum
agar hubungan antara asisten dengan praktikan tetap terjaga baik, hubungan
asisten dengan praktikan diharapkan selalu terjaga keharmonisannya agar dapat
tercipta suasana kerjasama yang baik.
5.2.3 Praktikan
Untuk praktikan diharapkan lebih banyak menguasai materi mengenai sel
tumbuhan ini dan diharpakan dapat tepat waktu dalam proses pelaksanaan
praktikum. Praktikan diharapkan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

29
DAFTAR PUSTAKA

Dalimartha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid V. Jakarta: Pustaka


Bunda.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke 3. Yogyakarta : UGM Press

Firza .2011. Bentuk dan sel.[05-10-2013] [10:00]

Foris. 2011. Komponen-komponen Nonprotoplasma Dalam Sel. [05-10-2013]


[07:28].

Fredikurniawan. 2007. Klasifikasi dan morofologi tanaman. Jakarta : Rineka


Cipta
Hasnunidah, Neni. 2011. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Lampung. Bandar
Lampung.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I dan II. Terj. Badan Libang
Kehutanan. Cetakan I. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan Jakarta
Pusat.

Hidayat, Estiti B.1995. Anatomi tumbuhan berbiji. Bandung : Penerbit ITB

Kimball,John W. 1983. Biologi ,jilid 1 cet.5. Jakarta : Erlangga

Mulyani, Sri.2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Kanisius

Poedjiadi, A. Dkk. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia (UI-Press).


Jakarta.

Rukmana. 1997. Ubi Jalar Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

Setjo, Susetyoadi, 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sudarsono, Gunawan, dkk. 2002. Tumbuhan Obat II (Hasil Penelitian, Sifat-sifat


dan penggunaan), 66-68, Pusat Studi Obat Tradisional-Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.

Sumardi,Iserep.1993. struktur dan perkembangan tumbuhan. Bandung : ITB

30
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel dan
Jaringan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Tjitrosoepomo, Gembong.1993. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University


Press.

Tjitrosoepomo, Gembong.2005. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong.2007. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Sphermatophyta).


Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.

Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani


Noeroto S.,UGM Press, Yogyakarta. Hal:337-338.

Warisno. 2003. Budidaya Pepaya. Yogaykarta: Kanisius.

Wijayakusuma, H. 1994, Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, 93-97, Jakarta,


Prestasi Intan Indonesia.

31
LAMPIRAN
1. Alat dan Bahan
1.1 Alat
Alat Kegunaan

Digunakan untuk tempat objek


atau preparat yang akan diamati

Digunakan untuk menutupi


preparat

Digunakan untuk mengamati


preparat

32
Digunakan untuk mengambil
aquadest, kemudian ditetesi di
preparat

Digunakan untuk mengiris


preparat

Digunakan untuk menggambar


bagian-bagian sel

Digunakan untuk mengkerok


bagian dalam umbi

33
Digunakan untuk menghaluskan
beras

1.2. Bahan
Bahan Gambar Fungsi
Aquadest Digunakan untuk
kesegaran pada
preparat

Alcohol Digunakan untuk


sterilisasi pada
preparat

Asam cuka

Aloe vera folium Digunakan


sebagai preparat

34
Amaranthus Digunakan
folium sebagai preparat

Ananas commosus Digunakan


folium sebagai preparat

Begonia petioles Digunakan


sebagai preparat

Carica papaya Digunakan


sebagai preparat

Cytrus sp fructus Digunakan


sebagai preparat

Danura metel Digunakan

35
folium sebagai preparat
Ficus benyamina Digunakan
sebagai preparat

Gnetum gnemon Digunakan


korteks sebagai preparat
Ipomea batatas Digunakan
tuber sebagai preparat

Melaleue Digunakan
leucondendrum sebagai preparat
folium

Oryza sative Digunakan


semen sebagai preparat

36
Pleumele Digunakan
angustifolia caulis sebagai preparat

Ricinus communis Digunakan


semen sebagai preparat

Solanum Digunakan
tuberosum tuber sebagai preparat

Zingiber officinale Digunakan


rhizoma sebagai preparat

37
Tisu Digunakan untuk
membersihkan
alat

38
2. Diagram Alir
2.1 Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
Kentang (solanum tuberosum)
Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya
Dikerok bagian dalam umbi kentang dengan pingset atau jarum
pentul
Dipindahkan cairan tersebut di atas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif lemah
dan kuat
Digambar bentuk pati kentang tersebut

HASIL

2.2 Beras Beras (Oryza sativa)


Ubi Jalar (Ipomea batatas)

Beras (Oryza sativa)


Ubi Jalar (Ipomea batatas)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Dikerok bagian dalam ubi jalar dengan pingset atau jarum pentul
sementara butir beras dihaluskan dengan menggunakan lumpang
Dipindahkan cairan yang di permukaan objek glass lalu tetesi
dengan air lalu tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif lemah
dan kuat 9
Digambar bentuk amilum pada sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari pengamatan preparat tersebut
HASIL

39
2.3 Biji Jarak (Ricinus communis)

Biji Jarak (Ricinus communis)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil biji jarak yang belum terlalu tua lalu lepaskan kulit
bijinya dengan pisau dan ambil endospermnya
Diiris endosperm tersebut setipis mungkin lalu pindahkan ke
atas objek glass lalu tetesi dengan air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objek lemah
9
dan kuat
Digambar beberapa sel endosperm yang mengandung butir
aleuron tersebut lalu tentukan dimana letak butir aleuron dalam
sel tersebut
HASIL

40
2.4 Tangkai Daun Papaya (Carica papaya)
Batang Melinjo (Gnetun gnemon)
Tangkai Daun Kecubung (Danura metel)

Tangkai Daun Papaya (Carica papaya)


Batang Melinjo (Gnetun gnemon)
Tangkai Daun Kecubung (Danura metel)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya


Diambil tangkai daun papaya, batang melinjo, dan tangkai daun
kecubung lalu iris setipis mungkin dan pindahkan di atas objek
glass, beri air dan tutup
Diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran objek kemah
dan kuat 9
Digambar beberapa buah sel yang berisi Kristal kalsium oksalat.
Bentuk apakah Kristal masing-masing sampel.
HASIL

41
2.5 Daun Bayam (Amaranthus sp.)
Tangkai Daun Begonia (Begonia sp.)

Daun Bayam (Amaranthus sp.)


Tangkai Daun Begonia (Begonia sp.)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil tangkai daun bayam dan tangkai daun begonia lalu
iris setipis mungkin dan pindahkan ke atas objek glass, beri
air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop sesuai dengan pembesaran objek
lemah dan kuat
Digambar beberapa buah yang berisi Kristal kalsium oksalat,
bentuk apakah Kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut. Bentuk
apakah Kristal dalam preparat yang sedang diamati
HASIL

42
2.6 Batang Suji (Pleunele angustifolia)
Lidah buaya (Aloe vera)
Daun Nanas (Ananas commosus)
Batang Suji (Pleunele angustifolia)
Lidah buaya (Aloe vera)
Daun Nanas (Ananas commosus)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil batang suji,daun lidah buaya, dan daun nenas lalu iris
setipis mungkin dan pindahkan ke atas objek, beri air dan tutup
Diamati di mikroskop dengan pembesaran lemah dan kuat
Digambar beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium
oksalat, bentuk apakah kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan hasil pengamatan tersebut
Disebutkan pula bentuk kristal dari masing-masing preparat
tersebut
HASIL

2.7 Daun Beringin (Ficus benyamina)


Daun Beringin (Ficus benyamina)
Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya
Diambil sehelai daun beringin yang tidak tahu terlalu tua, iris
secara setipis mungkin kemudian letakkan di atas kaca objek,
tetesi aqudes dan tutup
Diamati dibalik mikroskop dengan pembesaran objek lemah
dan kuat
Digambar sel-sel epidermis mengandung sistolit
Dicatat pula apa yang terjadi pada reaksi dengan asam cuka

HASIL

43
2.8 Kulit Buah Jeruk (Citrus Sp)
Jahe (Zingiber officinale)

Kulit Buah Jeruk (Citrus Sp)


Jahe (Zingiber officinale)
Daun Kayu Putih (Melaleuce leucodendrum)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya


Diambil kulit buah jeruk, rimpang jahe, dan daun kayu putih
kemudian iris setipis mungkin secara melintang
Dipindahkan preparat tersebut diatas gelas objek. Lalu tetesi air
dan tutup
Diamati bawah mikroskop dengan pembasaran objek lemah
dan kuat
Digambar beberapa sel yang mengandung minyah etheris. Buat
kesimpulan dan dari pengamatan preparat tersebut

HASIL

44
3. Skema Kerja
3.1. Umbi Kentang (Solanum tuberosum)

Menyiapkan mikroskop
sesusai prosedurnya Membuat preparat

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Solanum tuberosum)

45
3.2 Beras (Oryza sativa)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Oryza sativa)

46
3.3 Ubi Jalar (Ipomea batatas)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Ipomea batatas)

47
3.4 Pepaya (Carica papaya)

Menyiapkan
Membuat preparat
mikroskop sesusai
prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Carica papaya)

48
3.5 Begonia (Begonia sp.)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Begonia sp.)

49
3.6 Lidah Buaya (Aloe vera)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan aquadest kemudian
mikroskop tutup

Hasil pengamatan
(Aloe vera)

50
3.7 Nanas (Ananas commosus)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Ananas commosus)

51
3.8 Melinjo (Gnetun gnemon)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Allium cepa bulbus)

52
3.9 Jahe (Zingiberis officinale)

Menyiapkan mikroskop
Membuat preparat
sesusai prosedurnya

Mengamati preparat Memberikan 1-2 tetes


menggunakan mikroskop aquadest kemudian tutup

Hasil pengamatan
(Allium cepa bulbus)

53