Anda di halaman 1dari 11

RESUME MIKOLOGI

“INFEKSI JAMUR PADA SISTEM SARAF PUSAT”

OLEH

NAMA : RISKA NOVITASARI

NIM : P07134115045

PRODI : DIV ANALIS KESEHATAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2017
A. Gambaran Umum Infeksi Jamur pada Susunan Saraf Pusat

Jamur yang menginfeksi manusia terdiri dari 2 kelompok yaitu, patogenik dan
oportunistik. Jamur patogenik adalah beberapa jenis spesies yang dapat menginfeksi
manusia normal setelah inhalasi atau inflantasi spora. Secara ilmiah, manusi dengan
penyakit kronis atau dengan keadaan gangguan imunitas lainnya lebih rentan terserang
infeksi jamur di bandingkan manusia normal. Selama infeksi, jamur dapat beradaptasi
terhadap temperature yang tinggi dan kemampuan/potensi reuksi-oksidasi jaringan yang
rendah. Jamur juga dapat mengatasi system pertahanan tubuh dengan bertambah nya
kecepatan bertumbuh dan menjadi relative insentivity terhadap mekanisme system
kekebalan tubuh seperti fagositosis. Jamur patogenik menyebabkan histiplasmosis,
blastomycosis, coccidiodomycosis dan paracoccidiodomycossis.

Kelompok kedua adalah kelompok jamur apportunistik. Kelompok ini tidak


menginfeksi orang normal. Penyakit yang termasuk disini adalah, Aspergilosis, candidiasis,
cryptococcosis, mucormycosis, dan nocardiosis.

Perubahan minor dari system imun dapat menyebabkan manifestasi klinis jamur ini
misalnya, ( Candida, dapat berkembang pada membran mukosa). Jika terjadi perubahan
yang besar, maka dapat terjadi pada susunan saraf pusat seperti pada pasien yang
menggunakan antimikroba jangka panjang, penggunaan terapi immunosupresif, adanya
penyakit-penyakit sistemik seperti penyakit hodkin, leukemia, diabetes mellitus, AIDS atau
penyakit lainnya yang dapat menggangu system kekebalan tubuh manusia.

Diagnosis infeksi jamur pada susunan saraf pusat seringkali sukar dan sangat
tergantung dari kesiagaan klinis. Selain gejala klinis, sangat penting dilakukan pemeriksaan
radiologis paru-paru dan organ lainnya, skin tes, antobodi serum dan pemeriksaan cairan
serebrospinal. Isolasi kuman dari lesi dan cairan serebrospinal merupakan pembantu
diagnostic yang penting.Pengguanaan MRI dan CT-Scan dapat juga mebantu dalam
penegakan diagnosis infeksi jamur. Perubahan cairan serebrospinal pada infeksi jamur,
biasanya meningkat bervariasi, pleiositosis moderat, biasanya kurang dari 1000sel/mm3,
dengan prdominan limfosit. Kecuali pada kasus akut, sel dapat meningkat lebih dari
1000sel/mm3 dengan predominan polimorfnuklear. Glukosa biasanya agak menurun dan
protein meningkat kadang-kadang pada sampai kadar yang sangat tinggi. Diagnosis spesifik

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 2


dapat dibuat dari hapusan cairan serebrospinal dan dari kultur dan juga dengan
menemukan antigen

B. Beberapa Jenis Jamur Penyebab Infeksi Susunan Saraf Pusat


1. Cryptococcus neofarmans
Cryptococcus neofarmans adalah jamur seperti ragi
(yeast like fungus) yang ada dimana-mana di seluruh dunia.
Jamur ini menyebabkan penyakit jamur sistemik yang
disebut cryptococcosis, dahulu dikenal dengan nama Torula
histolitica. Jamur ini paling dikenal sebagai penyebab utama
meningitis jamur dan merupakan penyebab terbanyak
morbiditas dan mortalitas pasien dengan gangguan
imunitas. Cryptococcus neofarmans dapat ditemukan
pada kotoran burung (terutama merpati), tanah, binatang
juga pada kelomp ok manusia (colonized human).
Gejalanya seperti meningitis klasik yang melibatkan
meningitis secara difus. Dengan adanya AIDS, insiden cryptococcal meningitis
meningkat drastis. Di Amerika, meningitis ini termasuk lima besar penyebab infeksi
oportunistik pada pasien AIDS.

a. Mikologi
Cryptococcus neofarmans merupakan yeast like fungus. Pada
jaringan yang terinfeksi organisme ini membentuk kapsul
polisakarida yang merupakan antigenpenting yang dapat
mempengaruhi tubuh host. Kapsul ini terdiri dari empat
serotipe antigen yang telah dapat diisolasi yairu A,B,C dan D.
Berdasarkan antigen kapsul ini Cryptococcus neofarmans dibagi
menjadi dua subgroup, V.neofarmans var neofarmans (serotipe A dan D) dan

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 3


C.neofarmans var gatti (serotipe B dan
C). Serotipe A merupakan serotipe yang
paling sering diisolasi dan yang
terutama di Amerika. Serotipe D
biasanya ditemukan di E ropa, B dan C
ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Pada pasien AIDS serotipe yang paling
sering ditemukan aialah serotipe B dan C.
Serotipe B dan C dapat pula menginfeksi manusia (nonimmunosupressant host)
dan lebih banyak menginvasi parenkim otak menyebabkan lesi massa yang
disebut toruloma.
Isolasi jamur dapat dilakukan dengan membuat sediaan cairan serebrospinal
yang dicampur dengan tinta India kemudian diperiksa pada mikroskop. Ukuran
diameter yeast 4-6 µm dengan kapsul berukuran 1-30 µm. Jika pemeriksaan ini
dilakukan dengan hati-hati maka dapat positif pada lebih kurang setengah kasus
meningitis cryptococcal, dan lebih tinggi pada penderita AIDS. Perhitungan
kwantitatif pasien meningitis daro 103 - 107 count forming unit (CFU)
perdarahan milimeter cairan serebrospinal.

b. Patogenesis dan Patofisiologi


Infeksi pertama terbanyak terjadi akibat inhalasi yeast dari lingkungan sekitar.
Pada saat dalam tubuh host Cryptococcus membentuk kapsul polisakarida yang
besar yang resisten terhadap fagositosis. Produksi kapsul distimulasi oleh
konsentrasi fisiologis karbondioksida dalam paru. Keadaan ini meyebabkan jamur
ini beradaptasi sangat baik dalam host mamalia. Reaksi inflamasi ini
menghasilkan reaksi kompleks primer paru kelenjar limfe (primary lung lymp
node complex) yang biasanya membatasi penyebaran organisme.Kebanyakan
infeksi paru ini tanpa gejala, tetapi secara klinis dapat terjadi seperti gejala

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 4


pneumonia pada infeksi pertama dengan gejala yang bervariasi beratnya.
Keadaan ini biasanya membaik perlahan dalam beberapa minggu atau bulan
dengan atau tanpa pengobatan. Pada pasien lainnya dapat terbentuk lesi
pulmonar fokal atau nodular. Cryptococcus dapat dorman dalam paru atau
limfenodus sampai pertahanan host melemah.
Cryptococcus neofarmans dapat menyebar dari paru dan limfenodus torakal ke
aliran darah terutama pada host yang sistem kekebalannya terganggu. Keadaan
ini dapat terjadi selama infeksi primer atau selama masa reaktivasi bertahun-
tahun kemudian. Jika terjadi infeksi jauh, maka tempat yang paling sering
terkena adalah susunan saraf pusat. Keadaan dimana predileksi infeksi ini
terutama pada ruang subarakhnoid, belum dapat diterangkan.
Ada beberapa faktor yang berperanan dalam patogenesis infeksi Cryptococcus
neofarmans pada susunan saraf pusat. Jamur ini mempunyai beberapa fenotif
karakteristik yang diaktakan berhubungan dengan invasi pada susunan saraf
pusat seperti, produksi phenoloxidase, adanya kapsul polisakarida,dan
kemampuan untuk berkembang dengan cepat pada suhu tubuh host.Informasi
terakhir mengatakan bahwa melanin bertindak sebagai antioksidan yang
melindungi organisme ini dari mekanisme pertahanan tubuh host. Faktor
karakteristik lainnya yaitu kemampuan kapsul untuk melindungi jamur dari
pertahanan tubuh terutama fagositosis dankemampuan jamur untuk hidup dan
berkembang pada suhu tubuh manusia.
c. Patologi
Ada tiga pola dasar infeksi jamur pada susunan saraf pusat yaitu, meningitis
kronis,vaskulitis dan invasi parenkimal. Pada infeksi Cryptococcal jaringan otak
menunjukkan adanya meningitis kronis pada leptomeningen bsal yang dapat
menebal dan mengeras oleh reaksi jaringan penyokong dandpt mengobstruksi
aliran likuor dari foramen Luschka dan Magendi sehingga terjadi hidrosefalus.
Pada jaringan otak terdapat substansi gelatinosa pada ruang subarakhnoid dan
kista kecil didalam parenkim y terletak terutama pada ganglia basilis pada
distribusi arteri lentikulostriata. Lesi parenkimal terdiri dari agregasi atau gliosis.
Infiltrat meningen terdiri dari sel-sel ingflamasi dan fibroblast yang bercampur
dengan Cryptococcus. Bentuk granuloma tidak sering ditemukan pada beberapa

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 5


kasus terlihat reaksi inflamasi kronis danreaksi granulomatosa sama dengan yang
terlihat pada M.tuberculosa dengan segala bentuk komplikasinya.
Menurut Prockop,perubahan susunan saraf pusat termasuk infiltrasi meningen
oleh sel mononuklear dan organisma. Organisma ini dapat tersebar pada
parenkim otak dengan reaksi inflamasi yang minimal 5 tanpa reaksi inflamasi.
Kadang-kadang terdapat abses pada jaringan otak dan granuloma pada
meningen otak dan medula spinalis.
Gejala klinis infeksi jamur pada susunan saraf pusat tidak spesifik seperti akibat
infeksi bakteri. Pasien paling sering mengalami gejala sindroma meningitis atau
sebagai meningitis yang tidak ada perbaikan atau semakin progresif selama
observasi (paling kurang empat minggu). Manifestasi klinis lainnya berupa
kombinasi beberapa gejala seperti demam, nyeri kepala, letargi, confise, mual,
muntah, kaku kuduk atau defisit neurologik. Sering kali hanya satu atau dua
gejala utama yang dapat ditemukan pada gejala awal. Misalnya pasien datang ke
klinis hanya dengan keluhan demensia subakut tanpa gejala lainnya.
Waktu terjadinya penyakit sangat vital dan penting dalam mempertimbangkan
diagnosis meningitis jamur. Beberapa kasus sebagai meningitis akut,kebanyakan
subakut dan beberapa kronis.
Gambaran klinis selain meningitis yang sering ditemukan yaitu gambaran
ensefalitis. Sering kali pasien didagnosa sebagai meningitis TBC sampai akhirnya
ditemukan diagnosa yang benar dengan ditemukannya jamur dalamcr
serebrospinal. Diagnosa meningitis jamur dapat ditegakkan dengan kultur dalam
medium sabouraud. Granuloma besar pada serebrum, serebrum atau batang
otak memberikan gejala seperti space occupaying lesion lainnya. Diagnosa
granuloma dapat ditegakkan dari pemeriksaan CT scan dan MRI.

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 6


d. Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan tambahan
seperti, laboratorium cairan serebrospinal. Gambaran cairan serebrospinal
infeksi Cryptococcus sama dengan meningitis tuberkulosa. Tekanan biasanya
meningkat terdapat peningkatan jumlah sel dari 10-500 sel/mm3. protein
meningkat dan glukosa menurun biasanya sekitar 15- 35 mg. Diagnosa dapat
dibuat dengan menemukan organisme ini dalam cairan serebrospinal dengan
pewarnaan tinta India, kultur dalam media sabouraud dan berasarkan hasil
inokulasi pada hewan percobaan. Jamur ini juga dapat dikultur dari urine, darah,
fases, sputum dan sum-sum tulang. Pemeriksaan antigen Cryptococcus pada
serum dan cairan serebrospinal dapat menegakkan diagnosa, dapat dikultur dari
urine, darah, feses, sputum dan sum-sum tulang.
e. Terapi
Terapi dengan amphotericin B memperlihatkan hasil yang baik. Amphotericin B
diberikan tiap hari intravena dengan dosis 0,5 mg/kg,diberikan enam sampai
sepuluh minggu, tergantung dari perbaikan klinis danekmbalinya cairan
serebrospinal kearah normal. Peneliti lain memberikan amphotericin B dengan 5-
flurocytosine 150 mg/kg perhari (dalam 4 dosis). Kombinasi ini memberikan hasil
yang lebih baik.
f. Prognosa
Pada pasien yang tidak diobati, biasanya fatal dalam beberapa bulan tetapi
kadang-kadang menetap sampai beberapa tahun dengan rekuren,remisi dan
eksaserbasi. Kadang-kadang jamur pada cairan serebrospinal ditemukan selama
tiga tahun atau lebih. Telah dipalorkan beberapa kasus yang sembuh spontan.

2. Mucormycosis
Serebral mucormycosis (phycomycosis) adalah
penyakit akut, jarang dapat disembuhkan yang
disebabkan oleh jamur klas phycomycetae khususnya
genera rhizopus. Jamur ini terdapat diseluruh dunia
pada tumbuhan busuk pupuk dan makanan yang

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 7


mengandung banyak gula. Infeksi pada manusia hampir selalu terjadi pada pasien
yang mempunyai penyakit utama termasuk diabetes melitus yang tidak terkontrol,
keganasan darah, lymfoma, keadaan imunosupresif, penggunaan antibiotik jangka
panjang dan penggunaan sitostatik.
Jamur ini masuk ke dalam tubuh
manusia yang rentan melalui hidung
menyebabkan sinusitas dan sellulitis orbitalis,
kemudian penetrasi ke arteri dan terjadi
trombosis arteri oftalmika danar karotis interna
dan selanjutnya menyerang vena dan saluran
linfe. Dapat terjadi penyakit yang desiminata
pada mata, serebral,paru dan intestinal.
Gejala klinis biasanya dimulai dengan
tanda-tanda infeksi sinus paranasalis seperti hidung tersumbat, sekret dari hdung
kadang-kadang berdarah, nyeri pada daerah sinus dan demam. Jika tidak diobati,
penyakit ini akan menyebar keotak melalui lamina kribriformis atau setelah
terlibatnya tulang tengkorak. Kemudian terjadi gejala-gejala lobus frontalis dan
meningen basalis bersama dengan penurunan kesadaran drowsyness nyeri kepala,
perubahan status mental. Gejala neurologis yang sering terjadi yaitu
proptis,kelumpuhan mata dan hemiplegi yang mana keadaan ini berhubungan
dengan terlibatnya arteri arteri orbitalis dan karotis danjaringan disekitarnya.
Organisme ini dapat menginvasi meningen atau dapat menembus otak sehingga
menimbulkan ensefalitis jamur dan dapat menyebabkan Infark dan perdarahan otak.
Beberapa hifa terdapat didalam trombus dandinding pembuluh darah dan sering
sekali masuk ke dalam perinkim sekitarnya. Biasanya penyakit ini cepat berakibat
fatal dalam beberapa hari atau minggu.
Diagnosa penyakit in ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sputum, cairan
serebrospinal atau eksudat jaringan sinus paranasalis. Kultur rhizopus dapat
membantu tapi bukan merupakan diagnostik oleh karena kebanyakan merupakan
kontaminan.

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 8


Terapi terdiri dari pemberian Amphotericin B dan kontrol faktor predisposisi
seperti diabetes melitus. Juga diperlukan drainase lokal dan operasi jaringan nekrotik
secepatnya untuk mencegah penyebaran penyakit.

3. Candidiasis (moniliasis)
Spesies candida merupakan suatu flora mikrobial yang normal terdpat
dalam tubuh manusia. Candidiasis kemungkinan merupakan infeksi jamur
oportunistik terbanyak. Infasi ke susunan saraf pusat sebenarnya sangat jarang
kecuali terjadi kerusakan sistem kekebalan tubuh host. Banyak faktor yang
menunjang terjadinya infeksi candida seperti
terapi antibiotik spectrum luas, luka bakar
berat, nutrisi parental total, prematuritas,
keganasan pemasangan kateter, terapi
kortikosteroid, neutropenia, operasi
abdomen, diabetes mellitus, dan penggunaan obat parenteral yang tidak
semestinya (parentral drug abuse).

Bentuk patologi infeksi susunan saraf pusat oleh candida berupa


penyebaran mikro abses intraparenkimal, granuloma nonkaseosa, abses besar,
meningitis dari ependimitis. Pada kebanyakan kasus diagnosis belum dapat
ditegakkan pada saat pasien masih hidup,kemungkinan oleh karena sukarnya
menemukan organisme pada cairan serebrospinal

Prognosis biasanya jelek walaupun dengan penggunaan amphotericin B.

4. Aspergilosis
Aspergilosis fumigatus dan A.flavus dapat menyebabkan infark susunan
saraf pusat manusia. Hal ini terjadi melalui penyebaran langsung dari sinus
paranasalis atau setelah traumakapitis, operasi lumbal
fungsi, atau melalui penyebaran hematogen pada
orang dengan gangguan imunitas teruta ma yang
mengalami neutropenia dalam jangka waktu yang
lama. Penulis lain menyatakan bahwa infeksi jamur ini

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 9


terutama jika terjadi sinusitis kronis (khususnya spenodialis) dengan osteomielitis
basis tengkorak atau akibat komplikasi otitis dan masstoiditis.
Manifestasi klinis penyakit ini berupa gangguan nevrus kranialis pada
sekitar daerah infeksi, abses serebri, granuloma kranial dan spinal pada
duramater. Keadaan ini tidak bermanifestasi
sebagai meningitis. Pada beberapa kasus
penyakit ini didapat di rumah sakit ditandai
dengan adanya gejala infeksi paru yang tidak
mempan terhadap antibiotik. Diagnosis
biasanya ditegakkan dengan melakukan biopsi
atau dengan kultur.
Terapi anti jamur seperti ampotericin B dan kombinasi dengan
limaflurocytosine dan imidazole masih dipertanyakan keberhasilannya. Jika obat-
obatan ini diberikan setelah operasi pengeluaran materi yang terinfeksi,
beberapa pasien dapat disembuhkan..

5. Coccodiodomycosis
Penyakit infeksi jamur ini banyak didaerah Barat Daya Amerika. Biasanya hanya
menyebabkan gejala influensa dengan infiltrat pada paru sebagai pneumonia non
bakterial. Keadaan ini dapat berlangsung progresif menjadi diseminata termasuk
infeksi pada meningen. Reaksi patologi dan gambaran kliniknya pada meningen dan
cairan serebrospinal sangat mirip dengan meningitis tuberkulosa.
Terapi terdiri dari pemberian ampotericin B intravena. Ada juga yang
menganjurkan pemberian ampotericin B intratekal. Pemberian melalui lumbal fungsi
yaitu dengan campuran ampotericin B dalam glukosa 10%, pasien dalam posisi
kepala agak kebawah (head dowm position) ampotericin B diberikan 3 kali seminggu
selama 3 bulan, atau sampai sel pada cairan serebrospinal kurang dari 10 mm 3 dan
complement fixing menghilang dari cairan likuor.

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 10


6. Histoplasmosis
Histoplasma capsulatun terdapat pada daerah ohio dan
daerah lembah Missisipi tengah Amerika. Infeksi terjadi setelah
inhalasi spora. Kebanyakan pasien hanya memperlihatkan gejala
yang minimal atau tanpa gejala selama infeksi primer pada paru
paru. Perkembangan penyakit yang progresif (desi milata) terjadi
pada penderita gangguan pertahanan tubuh (cell mediated
immune defence) setengah dari penderita dengan gejala diseminata merupakan
pasien dengan terapi imunosupresif, Lymphoma, lymphocytic leukimia, gangguan
limfa atau AIDS. Jika terjadi keaadaan disseminata , lokasi yang terutama adalah
susunan saraf pusat.
Terapi yang dianjurkan adalah pemberian ampotericin B intravena 50
mg/hari pada orang dewasa dan 1 mg/kgBB/hari pada anak-anak dengan berat
badan kurang dari 50 kg, selama 6-12 minggu, dengan dosis total sekitar 35
mg/kgBB. Terapi pemeliharaan (maintenance) diberikan 50-80 mg setiap 1 atau 2
minggu, untuk mencegah relaps pada penderita AIDS.

Infeksi Jamur Pada Sistem Saraf Pusat 11