Anda di halaman 1dari 20

TINJAUAN TEORI SINDROM GERONTIK

1. Konsep Lansia
A. Pengertian Lansia
Usia lanjut merupakan tahap akhir perkembangan pada daur hidup
manusia (Keliat 1999, dalam Maryam 2008). Sedangkan menurut Pasal 1 ayat
(2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia
lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun.
Menurut Saparinah (2003) lansia yang berusia lebih dari 60 tahun
merupakan kelompok umur yang mencapai tahap pensiun, pada tahap ini akan
mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai
tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam
hidupnya. Menurut Nugroho (2008) lansia merupakan kelompok orang yang
sedang mengalami suatu proses perubahan bertahap dalam jangka waktu
beberapa decade, suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan secara
perlahan-lahan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita

B. Klasifikasi Lansia
Menurut WHO, batas usia untuk kategori lanjut usia berdasarkan tingkat
usia yaitu:
1. Usia pertengahan atau middleage 45-59 tahun,
2. Lanjut usia (lansia) atau elderly 60-74 tahun,
3. Lansia tua atau old 75-90tahun,
4. Dan usia sangat tua atau veryold diatas 90 tahun.
Depkes (2001) menyatakan batasan lansia dibagi menjadi 3 yaitu
kelompok pra senelis atau pra lansia, usia lanjut dan usia lanjut dengan risiko.
Berikut merupakan pejelasan dari 3 batsan lansia:
1. Kelompok pra senelis atau pra lansia
Merupakan kelompok usia dalam fase persiapan masa lanjut usia yang
menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa (45-59 tahun).
2. Kelompok usia lanjut
Merupakan kelompok dalam masa senium (60 tahun keatas).
3. Kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi.
Merupakan kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi adalah kelompok
berusia lebih dari 70 tahun atau lebih atau seseorang dengan usia 60 tahun
lebih dengan masalah kesehatan.

2. Proses Menua
A. Pengertian Menua
Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti
dan memperthankan fungsi normalnya sehingga dapat bertahan terhadap infeksi
serta memperbaiki kerusakan yang diderita. Seiring dengan proses menua
tersebut, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan atau yang biasa
disebut degeneratif (Maryam, 2008).

B. Teori Menua
 Teori Biologi
a. Teori Genetik
Teori jam biologi (Biological clock theory) menurut Hayflick 1965 dalam
Tamher dan Noorkasiani (2009) menjelaskan bahwa proses menua dipengaruhi
oleh faktor-faktor keturunan dari dalam. Umur seseorang seolah distel seperti
jam terkait dengan frekuensi mitosis. Sel tubuh manusia hanya dapat membagi
diri sebanyak 50 kali dan setelah itu akan mengalami deteriorasi.
Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada saatnya akan
mengalami mutasi. Pada saat terjadi mitosis akan terjadi “mutasi spontan” yang
terus-menerus berlangsung dan akhirnya mengarah pada kematian sel (Tamher
& Noorkasiani, 2009).
The Error Theory, “Pemakaian dan rusak” kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai). Pada teori ini juga didapatkan
terjadinya peningkatan jumlah kolagen dalam tubuh lansia, tidak ada
perlindungan terhadap radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi (Maryam, 2008).
b. Perubahan Biologik
Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal bebas sebagai
akibat pencemaran lingkungan akan menimbulkan oksidasi bahan-bahan organik
seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat
melakukan regenerasi (Maryam, 2008).
Teori imunlogi, perubahan jaringan getah bening akan mengakibatkan
ketidakseimbangan sel T dan terjadi penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh,
akibatnya usia lanjut mudah terkena infeksi.
Teori rantai silang, pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi
kimia sel-sel yang tua menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan
kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan, dan
hilangnya fungsi sel.

 Teori Psikologi
a. Maslow Hierareky Human Needs Theory
Teori Maslow mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia yang meliputi
5 hal (kebutuhan biologik, keamanan dan kenyamanan, kasih sayang, harga diri,
dan aktualisasi diri.

b. Jung’s Theory of invidualsm


Teori individualism yang dikemukakan Carl Jung (1960)
mengungkapkan perkembangan personality dari anak-anak, remaja, dewasa
muda, dewasa pertengahan hingga dewasa tua (lansia) yang dipengaruhi baik
dari internal maupun eksternal dimana kesuksesan pada tahap yang satu
menentukan kesuksesan pada tahap berikutnya.

c. Course of Human Life Theory


Chorlotte Buhler juga merupakan penganut teori psikologik
dengungkapkan bawa teori perkembangan dasar manusia yang difokuskan pada
identifikasi pencapaian tujuan hidup seseorang dalam melalui fase-fase
perkembangan.

d. Eight Stages of Life Theory


Teori “Eight Stages of Life” yang dikemukakan Erikson (1950) adalah
suatu teori perkembangan psikososial yang terbagi atas 8 tahap, yang
mempunyai tugas dan peran yang perlu diselesaikan dengan baik :
Tahap I Masa bayi  timbul kepercayaan dasar (basic trust)
Tahap II Tahap penguasaan diri (autonomi)
Tahap III Tahap inisiatip
Tahap IV Timbulnya kemauan untuk berkarya (Industriousness)
Tahap V Mencari identitas diri (Identy)
Tahap VI Timbulnya keintiman (Intimacy)
Tahap VII Mencapai kedewasaan (generativity)
Memasuki usia lanjut akan mencapai kematangan kepribadian (ego Integrity),
Tahap VIII
dia merupakan orang yang memiliki integritas

 Teori Sosial
a. Teori Aktifitas
Teori ini menekankan pentingnya peran serta dalam kegatan
masyarakat bagi kehidupan seorang lansia. Dasar teori ini adalah bahwa konsep
diri seseorang bergantung pada aktivitasnya dalam berbagai peran. Apabila hal
tersebut hilang, maka akan berakibat negative pada kepuasan hidupnya.
Ditekankan pula bahwa mutu dan jenis interaksi lebih penting daripada jumlah
interaksi (Tamher & Noorkasiani, 2009).

b. Teori Disenggagemen
Proses bertambahnya usia, seseorang secara berangsur angsur mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya, sehingga memungkinkan individu
untuk menyimpan lebih banyak aktivitas-aktivitas yang berfokus pada dirinya
dalam memenuhi kestabilan pada stadium ini. Keadaan ini mengakibatkan
interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kwalitas maupun kwantitas.
Sehingga terjadi kehilangan ganda yakni kehilangan peran, hambatan kontrol
sosial dan berkurangnya komitmen.

c. Teori Subkultur
Pada teori ini dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang memiliki
norma, harapan, rasa percaya, dan adat kebiasaan sendiri, sehingga dapat
digolongkan selaku suatu subkultur. Adanya kelompok-kelompok lansia apabila
dapat dikoordinasi dengan baik dapat menyalurkan aspirasinya, dimana secara
teoritis oleh pakar dikemukakan bahwa hubungan antar peer group dapat
meningkatkan proses penyesuaian pada masa lansia.

d. Kesinambungan
Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus
kehidupan lansia. Menurut teori ini, ciri-ciri kepribadian individu beserta strategi
kopingnya telah terbentuk lama sebelum seseorang memasuki usia lanjut dan
bersifat dinamis serta berkembang secara kontinue. Dengan demikian
pengalaman hidup seseorang pada usatu saat merupakan gambarannya kelak
pada saat ini menjadi lansia.
Adapun pokok-pokok dari teori kesinambungan yaitu:
1) Lansia tak disarankan untuk melepaskan peran atau harus aktif dalam
proses penuaan, akan tetapi didasarkan pada pengalamannya di masa lalu,
dipilih peran apa yang harus dipertahankan atau dihilangkan
2) Peran lansia yang hilang tak perlu diganti
3) Lansia dimungkinkan untuk memilih berbagai cara adaptasi.

3. Sindrom Geriatrik
A. Imobilility (Imobilisasi)
Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/tirah baring selama 3 hari
atau lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan
fungsi fisiologis. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat
menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi adalah
adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah
psikologis. Beberapa informasi penting meliputi lamanya menderita disabilitas
yang menyebabkan imobilisasi, penyakit yang mempengaruhi kemampuan
mobilisasi, dan pemakaian obat-obatan untuk mengeliminasi masalah
iatrogenesis yang menyebabkan imobilisasi (Kane et al., 2008).

B. Instability (Instabilitas dan Jatuh)


Gangguan keseimbangan (instabilitas) akan memudahkan pasien
geriatri terjatuh dan dapat mengalami patah tulang. Terdapat banyak faktor yang
berperan untuk terjadinya instabilitas dan jatuh pada orang usia lanjut. Berbagai
faktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai faktor intrinsik (faktor risiko yang
ada pada pasien) dan faktor risiko ekstrinsik (faktor yang terdapat di lingkungan).
Prinsip dasar tatalaksana usia lanjut dengan masalah instabilitas dan riwayat
jatuh adalah mengobati berbagai kondisi yang mendasari instabilitas dan jatuh,
memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara berjalan, penguatan
otot, alat bantu, sepatu atau sandal yang sesuai, serta mengubah lingkungan
agar lebih aman seperti pencahayaan yang cukup, pegangan, lantai yang tidak
licin (Kane et al., 2008; Cigolle et al., 2007).
C. Intelectual Impairment (Gangguan Kognitif)
Keadaan yang terutama menyebabkan gangguan intelektual pada
pasien lanjut usia adalah delirium dan demensia. Demensia adalah gangguan
fungsi intelektual dan memori yang dapat disebabkan oleh penyakit otak, yang
tidak berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Demensia tidak hanya
masalah pada memori. Demensia mencakup berkurangnya kemampuan untuk
mengenal, berpikir, menyimpan atau mengingat pengalaman yang lalu dan juga
kehilangan pola sentuh, pasien menjadi perasa, dan terganggunya aktivitas
(Geddes et al., 2005; Blazer et al., 2009).

D. Incontinence (Inkontinensia)
WHO mendefinisikan Faecal Incontinence sebagai hilangnya tak sadar
feses cair atau padat yang merupakan masalah sosial atau higienis. Definisi lain
menyatakan inkontinensia alvi/fekal sebagai perjalanan spontan atau
ketidakmampuan untuk mengendalikan pembuangan feses melalui anus.
Kejadian inkontinensia alvi/fekal lebih jarang dibandingkan inkontinensia urin
(Kane et al., 2008).
1) Inkontinensia Urin Stress (Stres Inkontinence)
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan
intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya
disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul, merupakan penyebab
tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75 tahun. Lebih sering
terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki akibat kerusakan
pada sfingter urethra setelah pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien
mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah
urin yang keluar dapat sedikit atau banyak.

2) Inkontinensia Urin Urgensi (Urgency Inkontinence)


Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi
keinginan berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan
kontraksi detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah
neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini, meliputi
stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis. Pasien
mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan
untuk berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia
tipe urgensi ini merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di
atas 75 tahun.

3) Inkontinensia Urin Luapan/Overflow (Overflow Incontinence)


Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi
kandung kemih yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis,
seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik pada diabetes melitus atau
sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang atau tidak berkontraksinya
kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh
keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah
penuh.

4) Inkontinensia Urin Fungsional


Inkontinensia fungsional merupakan keadaan seseorang yang
mengalami pengeluaran urin secara tanpa disadari dan tidak dapat
diperkirakan. Inkontinensia fungsional merupakan inkontinensia dengan
fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tetapi ada faktor lain, seperti
gangguan kognitif berat yang menyebabkan pasien sulit untuk
mengidentifikasi perlunya urinasi (misalnya, demensia Alzheimer) atau
gangguan fisik yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin
menjangkau toilet untuk melakukan urinasi (Hidayat, 2006).

E. Isolastion (Depresi)
Gangguan depresi pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak
kasus tidak dikenali. Gejala depresi pada usia lanjut seringkali dianggap sebagai
bagian dari proses menua. Prevalensi depresi pada pasien geriatri yang dirawat
mencapai 17,5%. Deteksi dini depresi dan penanganan segera sangat penting
untuk mencegah disabilitas yang dapat menyebabkan komplikasi lain yang lebih
berat. Etiologi dan patogenesis berhubungan dengan polifarmasi, kondisi medik
dan obat-obatan. Sementara itu, faktor-faktor yang memperberat depresi adalah
kehilangan orang yang dicintai, kehilangan rasa aman dan taraf kesehatan
menurun (Sharon et al., 2007)
F. Impotence (Impotensi)
Kurang lebih sekiatar 50 % pria pada umur 65 tahun dan 75 % pria pada
usia 80 tahun mengalami impotensi. 25 % terjadi akibat mengomsumsi obat-
obatan seperti anti hipertensi, anti psikosa, anti depressant atau Litium (mood
stabilizer). Selain akibat dari mengonsumsi obat-obatan, impotensi dapat terjadi
akibat menurunnya kadar hormon (Setati et al, 2006).

G. Immunodeficiency (Penurunan imunitas)


Perubahan yang terjadi dari proses menua anataralain yaitu berkurangnya
imunitas yang dimediasi oleh sel, rendahnya afinitas produksi antibodi,
meningkatnya autoantibodi, terganggunya fungsi makrofag, Berkurangnya
hipersensitivitas tipe lambat, atropi timus, hilangnya hormon timus dan
berkurangnya produksi sel B oleh sel-sel sumsum tulang (Sharon et.al, 2007)

H. Infection (Infeksi)
Infeksi sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi sistem imun pada
usia lanjut. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran kemih,
pneumonia, sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti kurang gizi,
multipatologi, dan faktor lingkungan memudahkan usia lanjut terkena infeksi.
Infeksi pada usia lanjut (usila) merupakan penyebab kesakitan dan
kematian no. 2 setelah penyakit kardiovaskular di dunia. Hal ini terjadi akibat
beberapa hal antara lain adanya penyakit komorbid kronik yang cukup banyak,
menurunnya daya tahan/imunitas terhadap infeksi, menurunnya daya
komunikasi usila sehingga sulit/jarang mengeluh, sulitnya mengenal tanda
infeksi secara dini. Ciri utama pada semua penyakit infeksi biasanya ditandai
dengan meningkatnya temperatur badan, dan hal ini sering tidak dijumpai pada
usia lanjut, 30-65% usia lanjut yang terinfeksi sering tidak disertai peningkatan
suhu badan, malah suhu badan dibawah 36°C lebih sering dijumpai. Keluhan
dan gejala infeksi semakin tidak khas antara lain berupa konfusi/delirium
sampai koma, adanya penurunan nafsu makan tiba-tiba, badan menjadi lemas,
dan adanya perubahan tingkah laku sering terjadi pada pasien usia lanjut (Kane
et al., 2008).
I. Inanitaion (Malnutrisi)
Kelemahan nutrisi merujuk pada hendaya yang terjadi pada usia lanjut
karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak disengaja.
Anoreksia pada usia lanjut merupakan penurunan fisiologis nafsu makan dan
asupan makan yang menyebabkan kehilangan berat badan yang tidak diinginkan
(Kane et al., 2008).
Faktor predisposisi dari malnutrisi adalah pancaindra untuk rasa dan
bau berkurang, kehilangan gigi alamiah, gangguan motilitas usus akibat tonus
otot menurun, penurunan produksi asam lambung serta faktor sosial ekonomi,
psikososial dan lingkungan.

J. Impaction (Konstipasi)
Menurut Holson batasan konstipasi adalah 2 dari keluhan-keluhan
berikut yang berlangsung dalam waktu 3 bulan dengan tanda gejala yaitu
konsistensi feses keras, mengejan dengan keras saat BAB, rasa tidak tuntas
saat BAB yang meliputi 25 % dari keseluruhan BAB dan frekuensi BAB 2 kali
seminggu atau kurang. Sementara itu, faktor-faktor resiko yang dapat
menyebabkan konstipasi adalah obat-obatan (narkotik golongan nsaid, antasid
aluminium, diuretik, analgetik, dll), kondisi neurologis, gangguan metabolik,
psikologis, penyakit saluran cerna dan lain-lain seperti diet rendah serat, kurang
olahraga, kurang cairan.

K. Insomnia (Gangguan Tidur)


Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada pasien
geriatri. Umumnya mereka mengeluh bahwa tidurnya tidak memuaskan dan sulit
memertahankan kondisi tidur. Sekitar 57% orang usia lanjut di komunitas
mengalami insomnia kronis, 30% pasien usia lanjut mengeluh tetap terjaga
sepanjang malam, 19% mengeluh bangun terlalu pagi, dan 19% mengalami
kesulitan untuk tertidur.
Pada usia lanjut umumnya mengalami gangguan tidur, seperti
kesulitan untuk tertidur (sleep onset problem), kesulitan mempertahankan tidur
nyenyak (deep maintenance problem), bangun terlalu pagi (early morning
awakening). Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan insomnia pada usia
lanjut adalah perubahan irama sirkadian, gangguan tidur primer, penyakit fisik
(hipertiroid, arteritis), penyakit jiwa, pengobatan polifarmasi dan demensia
(geddes, et al., 2005)

L. Latrogenic Disorder (Gangguan Iatrogenic)


Karakteristik yang khas dari pasien geriatri yaitu multipatologik,
seringkali menyebabkan pasien tersebut perlu mengkonsumsi obat yang tidak
sedikit jumlahnya. Akibat yang ditimbulkan antara lain efek samping dan efek dari
interaksi obat-obat tersebut yang dapat mengancam jiwa. Pemberian obat pada
lansia haruslah sangat hati-hati dan rasional karena obat akan dimetabolisme di
hati sedangkan pada lansia terjadi penurunan fungsi faal hati sehingga terkadang
terjadi ikterus (kuning) akibat obat. Selain penurunan faal hati juga terjadi
penurunan faal ginjal (jumlah glomerulus berkurang), dimana sebagaian besar
obat dikeluarkan melalui ginjal sehingga pada lansia sisa metabolisme obat tidak
dapat dikeluarkan dengan baik dan dapat berefek toksik (Setiati et al,, 2006;
Kane et al., 2008).

M. Impairment of Hearing, Vision, and Smell (Gangguan Pendengaran,


Penglihatan, dan Penciuman)
Gangguan penglihatan dan pendengaran juga sering dianggap sebagai
hal yang biasa akibat proses menua. Prevalensi gangguan penglihatan pada
pasien geriatri yang dirawat di Indonesia mencapai 24,8%.Gangguan penglihatan
berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu senggang, status fungsional,
fungsi sosial, dan mobilitas. Gangguan penglihatan dan pendengaran
berhubungan dengan kualitas hidup, meningkatkan disabilitas fisik,
ketidakseimbangan, jatuh, fraktur panggul, dan mortalitas.
3 TINJAUAN TEORI SINDROM GERONTIK

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg.
Diagnosis hipertensi tidak berdasarkan atas peningkatan tekanan darah yang
hanya sekali, tetapi dengan melakukan pengukuran tekanan darah sebanyak 3
kali pada waktu yang berbeda dimana tekanan darah harus di ukur dalam posisi
duduk dan berbaring (Baradero, 2008). Pada populasi lanjut usia, hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg
(Sheps, 2005).

B. Klasifikasi Hipertensi
 Hipertensi Esensial (Primer)
Sebanyak 90% dari kasus hipertensi adalah hipertensi primer. Tidak
ada sebab yang jelas dari hipertensi primer, beberapa teori menyebutkan adanya
hubungan dengan genetik, perubahan hormon, perubahan simpatis, usia,
obesitas, alkohol, dan merokok (Baradero, 2008).

 Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan akibat dari penyakit atau gangguan
tertentu, misalnya obesitas, diabetes, pil KB, stres kronis, kelainan ginjal
(penyakit parenkim ginjal : glomerulonefritis, gagal ginjal), kelainan kelenjar
adrenal (sindrom cushing, aldoteronisme primer yang dapat menyebabkan
retensi natrium dan air yang mabuat volume darah meningkat), fenokromositoma
(sekresi berlebihan katekolamin, norepinefrin yang membuat tahanan
meningkat), koarktasi aorta, trauma kepala / tumor intracranial (Baradero, 2008).
Klasifikasi Hipertensi (JNC VI dalam Brasher, 2007)
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal <130 <85
Tinggi Normal 130-139 85-89
Hipertensi
Tahap 1 (ringan) 140-159 90-99
Tahap 2 (sedang) 160-179 100-109
Tahap 3 (berat) >180 >110

Hipertensi menurut Kelompok umur (Tambayong, 2000)


Kelompok usia Normal (mmHg) Hipertensi (mmHg)
Bayi 80/40 90/60
Anak 7-11 tahun 100/60 120/80
Remaja 12-17 tahun 115/70 130/80
Dewasa 20-45 tahun 120-125/75-80 135/90
45-65 tahun 135-140/85 140-160/90-95
>65 tahun 150/85 160/95

C. Etiologi dan Faktor Risiko Hipertensi


 Faktor yang Tidak Dapat Dikontrol
a. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan
wanita.Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum
menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor
pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek
perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita
pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan
sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh
darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen
tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami,
yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita
hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih banyak
terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak
menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi
adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah
menopause.

b. Usia
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya,
jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi
dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus
ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan
hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar
tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi banyak terjadi pada usia
lanjut. hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun; wanita : > 65
tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah
menopause. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang
berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan
arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari
berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi
semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri.

c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan
dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara
potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada
orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Seseorang
akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi.

 Faktor yang Dapat Dikontrol


a. Obesitas
Pada usia >50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi
penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat
badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok
lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan
pembuluh darah, hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung
dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi
ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.

b. Kurang Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak
menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih
otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan
pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu Kurangnya
aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya
risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung
mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja
lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus
memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.

c. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat
dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan
risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.

d. Mengkonsumsi garam berlebih


Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)
merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko
terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak
lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler
ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat.
Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan
meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya
hipertensi.

e. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak
jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum
alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.

f. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi
mengandung 75 – 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut
berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.
g. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas
saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara
intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum
terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan
pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.
Menurut Anggraini (2009) mengatakan stres akan meningkatkan resistensi
pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi
aktivitas saraf simpatis. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.

D. Manifestasi Klinis Hipertensi


Adapun manifestasi klinis dari hipertensi menurut Corwin (2009) yaitu
sebagai berikut:
1. Sakit kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan darah intrakranial
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina
3. Cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
4. Nokturia atau sering berkemih pada saat malam hari yang disebabkan
peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

E. Komplikasi Hipertensi
a. Stroke
Akibat terjadi hemoragi tekanan tinggi di otak, atau akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke
dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak
mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke area otak
yang diperdarahi kurang. Arteri otak yang mengalami aterosklerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma
(Corwin, 2009).
b. Infark miokard
Dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus
yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada hipertensi
kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak
dapat di penuhi dan dapat tejadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
Demikian juga, hipertofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung,
dan peningkatan risiko pembentukan bekuan (Corwin, 2009).

c. Gagal ginjal
Terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler
glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit
fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi
hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya mebran glomerulus, protein akan
keluar melalui urine sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan
menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis (Corwin,
2009).

d. Ensefalopati (kerusakan otak)


Dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang
meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan
ini menyebabkan peningktan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke
ruang interstisial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya
kolaps dan terjadi koma serta kematian (Corwin, 2009).

e. Kejang
Dapat terjad pada wanita pre eklamsia. Bayi yang lahir mungkin
memiliki berat lahir kecil pada masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang
tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu
mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan (Corwin, 2009).

f. Rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh
darah besar (Departemen kesehatan RI, 2006).
Patofisiologi Hipertensi
Usia Lanjut

Kopi
 Elastisitas dinding aorta menurun
 Katup jantung menebal dan kaku
 Kemampuan memompa darah Kafein
menurun
 Hilangnya elastisistas pembuluh
darah
 Meningkatnya resistensi pembuluh
darah perifer
Meningkatkan tekanan
darah, Nadi, dan tekanan
kontraksi jantung

Hipertensi Primer

Hilangnya elastisitas ateroskeloris Menurunnya relaksasi Mual, muntah Kurang informasi


jaringan ikat otot polos pembuluh
darah
Intake inadekuat

Vasokontriksi pembuluh darah


Defisiensi pengetahuan

Penurunan cardiac output Tahanan perifer meningkat Kelemahan

Mekanisme koping, harapan


Penurunan volume extrasel dan Suplai O2 dan nutrien tidak terpenuhi, persepsi
perfusi renal tidak maksimal tidak realistik

Iskemik ginjal
Intoleransi aktivitas Deficit motorik Koping individu tidak efektif
Renin

Angiotensin

Angiotensin I Tekanan pembuluh darah Gangguan rasa


otak meningkat nyaman
ACE

Angiotensin II
(vasokontriksi)

Tekanan intravascular Tekanan intraocular Gangguan


Sekresi aldosteron meningkat meningkat penglihatan

Ion exchange di
tubulus ginjal Deficit lapang
Tekanan darah meningkat
pandang
Reabsorbsi Na
dan air Sekresi K Peningkatan volume
dan H cairan ekstrasel Resiko cedera
F. Penatalaksanaan Hipertensi
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah penurunan mortalitas dan
morbiditas yang berhubungan dengan hipertensi. Mortalitas dan morbiditas ini
berhubungan dengan kerusakan organ target. Mengurangi risiko merupakan
tujuan utama terapi hipertensi dan pilihan terapi obat dipengaruhi secara
bermakna oleh bukti yang menunjukkan pengurangan risiko (Departemen
Kesehatan RI, 2006). Target tekanan darah yang direkomendasikan dalam JNC
VII adalah sebagai berikut:
1) Kebanyakan pasien <140/90 mmHg
2) Pasien dengan diabetes <130/80 mmHg
3) Pasien dengan penyakit ginjal kronis <130/80 mmHg

 Terapi Non Farmakologi (Modifikasi Gaya Hidup)


a. Teknik-Teknik Mengurangi Stres (Muttaqin, 2009).
Relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada
setiap terapi anti hipertensi (Muttaqin, 2009).

b. Penurunan Berat Badan


Mengurangi berat badan pada individu yang obesitas / gemuk,
dengan pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang
kaya akan kalsium dan kalium, diet rendah natrium. Diet kaya buah dan
sayuran dan rendah lemak jenuh dapat menurunkan tekanan darah pada
individu dengan hipertensi. JNC VII menyarankan pola makan DASH yaitu
diet yang kaya dengan buah, sayur, dan produk susu rendah lemak dengan
kadar total lemak dan lemak jenuh berkurang. Natrium yang
direkomendasikan <2,4 gram (100meq) / hari (Departemen Kesehatan RI,
2006).
Ada 5 prinsip yang terkandung pada perencanaan pola makan/ diet
DASH, yakni:
1) Konsumsi buah dan sayur (kalium, fitoesterogen, dan serat)
Konsumsi kalium (pottasium) yang bersumber dari buah-buahan
seperti pisang, mangga, air kelapa muda bermanfaat untuk
mengendalikan agar tekanan darah menjadi normal dan terjadi
keseimbangan antara natrium dan kalium dalam tubuh.
Fitoesterogen bersumber pada pangan nabati seperti susu
kedelai, tempe, dll mempunyai kemampuan untuk berperan seperti
halnya hormon esterogen, yaitu dapat menghambat terjadinya
menopause, menghindari gejala hot flaxes (rasa terbakar) pada wanita
menopause dan menurunkan resiko kanker. Sementara itu, serat
dibutuhkan tubuh terutama untuk membersihkan isi perut dan membantu
memperlancar proses defekasi.
2) Low fat dairy product (menggunakan produk susu rendah lemak)
3) Konsumsi ikan, kacang, dan unggas secukupnya (makanan yang
mengandung protein)
4) Kurangi SAFA (Saturated Fatty Acid)
SAFA yang dimaksud adalah makanan seperti daging berlemak,
daging babi, minyak kelapa, cokelat, keju, krim, susu krim, dan mentega.
Penimbunan SAFA dalam pembuluh darah menyebabkan timbulya
arteriosklerosis yang akhirnya meningkatkan tekanan darah.
5) Membatasi gula dan garam
Membatasi garam bertujuan untuk menurunkan tekanan darah,
mencegah oedema dan penyakit jantung.

c. Pembatasan alkohol dan tembakau (merokok) (Departemen Kesehatan RI,


2006).

d. Olahraga, latihan / aktivitas fisik


Aktivitas fisik dapat menurunkan tekanan darah. Olahraga aerobik
secara teratur paling tidak 30 menit / hari selama beberapa hari per minggu
ideal untuk beberapa pasien. Studi menunjukkan jika olahraga aerobik
seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, dapat
menurunkan tekanan darah (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Tabel 2.3 Rekomendasi Modifikasi Gaya Hidup untuk Pasien Hipertensi menurut
JNC VII
Rata- rata
Modifikasi Gaya Hidup Rekomendasi
Penurunan TDS
Penurunan berat badan Pertahankan berat badan normal 5 – 20 mmHg/10 kg
(Body Mass Index 18,5 – 24,9 kg/m2)
Dietary Approaches to Lakukan diet kaya buah-buahan, 8 – 14 mmHg
Stop Hypertension sayuran, produk-produk susu rendah
eating plan lemak dan makanan yang sedikit
mengandung lemak jenuh
Membatasi intake garam Membatasi asupan hingga ≤ 100 2-8 mmHg
mEq (2,4 g Na atau 6 g NaCl)
Olahraga teratur Olahraga seperti jogging, berenang, 4-9 mmHg
jalan cepat, aerobik dan bersepeda ±
30 menit perhari
Mengurangi konsumsi Membatasi konsumsi alkohol ≤ 2 2-4mmHg
alcohol gelas/hari ( 1 oz atau 30 ml etanol
seperti 24 oz beer, 10 oz wine, 3 oz
80 proof whiskey) pada laki-laki dan
≤ 1 gelas/hari pada wanita.

 Terapi Farmakologi
Lansia emakai obat-obatan dari puskesmas seperti : paracetamol, ACE-
inhibitor (captopril), dan penghambat Adrenergik Alfa. Golongan obat ini
memblok reseptor adrenergik alfa 1, menyebabkan vasodilatasi dan penurunan
tekanan darah. Penghambat beta juga menurunkan lipoprotein berdensitas
sangat rendah (very low density lypoprotein – VLDL) dan lipoprotein berdensitas
rendah (low density lypoprotein – LDL) yang bertanggungjawab dalam
penimbunan lemak di arteri (aterosklerosis) (Muttaqin, 2009).