Anda di halaman 1dari 9

ANALISA KASUS

KOPERASI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Perusahaan dan Koperasi

Oleh :

SULISTYO DWI DARMAWAN


3016 210 290
HUKUM PERUSAHAAN DAN KOPERASI KELAS B

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PANCASILA

JAKARTA

2018
ANALISA KASUS

Koperasi Pandawa Group merupakan Koperasi Simpan Pinjam yang berdiri sejak tahun 2015
berdasarkan keputusan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui Surat Izin Usaha
Simpan Pinjam Nomor: 260/SISP/Dep.1/IV/2015. Koperasi ini beralamatkan di Jalan Raya Meruyung No.
8A, RT 02 RW 24 Meruyung, Limo, Depok, Jawa Barat. Koperasi ini didirikan oleh Salman Nuryanto,
seorang pedagang bubur keliling dari Pemalang yang kemudian merantau ke Depok untuk mencari
peruntungan usaha.
Kasus ini bermula ketika Salman Nuryanto memulai karir sebagai pedagang bubur ayam di depok,
Jawa Barat. Ketika usahanya sudah laris manis beberapa masyarakat tertarik untuk berinvestasi yakni dengan
memberikannya uang sebagai tambahan modal Salman Nuryanto dalam mengembangkan usaha bubur
ayamnya. Salman Nuryanto kemudian memberikan imbal hasil atau keuntungan bagi yang menanamkan
uangnya sebesar 10% per bulan, sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk menanamkan uangnya
kepada nuryanto. Sebagai gambaran, jika seseorang berinvestasi sebesar Rp 10.000.000,00 maka uang yang
akan didapatkannya ialah Rp 1.000.000 per bulan dan itu berlangsung selama bertahun-tahun.
Pada tahun 2015, Salman Nuryanto mendirikan Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Group, yang
menghimpun dana dari masyarakat dan menjanjikan keuntungan sebesar 10%. Seiring berjalannya waktu,
semakin banyak masyarakat yang percaya dan tertarik untuk menanamkan uangnya pada Koperasi Pandawa
Group ini. Keberhasilan Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Group menghimpun dana masyarakat lantaran
mengadopsi sistem multi level marketing (MLM). Pihak yang mengkoordinasi sejumlah orang diberi istilah
leader dengan tingkatan silver, gold dan diamond. Istilah lain disebut pula bintang 7, bintang 8 dan
sebagainya. Selain leader, ada pula beberapa orang lain yang menjadi staf administrasi. Leader bertugas
menghimpun dana dari investor untuk diserahkan kepada Nuryanto (Ketua KSP Pandawa). Sebagai imbalan,
leader mendapat fee sekitar 20% sesuai tingkatan. Dana yang dihimpun lalu dipinjamkan kepada pedagang
kecil atau pengusaha mikro, kecil dan menengah di berbagai pasar yang tersebar di Jabodetabek. Para
pedagang ini nantinya diminta membayar bunga 20% dari jumlah uang yang dipinjam.
Salman Nuryanto memang memiliki izin mendirikan koperasi berdasarkan keputusan Kementerian
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, namun ia dicurigai melakukan beberapa pelanggaran izin usaha
serta metode penghimpunan dana dari masyarakatnya dicurigai menyalahi aturan. Alhasil Salman Nuryanto
dipanggil Otoritas Jasa Keuangan pada bulan November 2016. Salman Nuryanto diberikan waktu untuk
mengembalikan dana ke masyarakat hingga 1 Februari 2017. Namun, Nuryanto pun tidak memenuhi
kewajibannya. Dalam beberapa sumber, disebutkan bahwa Salman Nuryanto melakukan penghimpunan dana
Rp 500.000.000.000 (lima milyar rupiah), namun berdasarkan informasi lainnya ada juga yang menyebutkan
sebesar Rp 3.800.000.000.000 (tiga triliun delapan ratus milyar rupiah).
Pada bulan November 2016, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Satgas Waspada Investasi
memutuskan untuk menghentikan seluruh kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan Pandawa Group.
Pasalnya, kegiatan Pandawa Group dinilai berpotensi merugikan masyarakat dan diduga melanggar Undang-
undang (UU) Perbankan. Kemudian pada bulan November 2017, Salman Nuryanto divonis 15 tahun penjara
dengan denda sebesar Rp 200 miliar subsider 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Kota Depok. Pengadilan juga
memerintahkan seluruh aset Nuryanto disita untuk dilelang oleh negara.
 Koperasi Pandawa Group menjanjikan keuntungan sebesar 10% kepada Nasabahnya yang
berinvestasi dengan cara memasukkan uang ke Koperasi Pandawa Group.

Bunga 10% terhadap nasabah yang memasukkan uangnya di setiap bulan merupakan persentase yang
sangat tinggi. Pada saat itu, BI rate yang ada ialah 6,5%, itu merupakan bunga terbesar yang
direkomendasikan Bank Indonesia terhadap bunga yang beredar di masyarakat. Namun Koperasi Pandawa
Group dengan beraninya mengimingi-imingi keuntungan 10% setiap bulan kepada nasabahnya. Jika
seseorang memasukkan uangnya sebesar Rp 100.000.000 maka ia akan mendapatkan Rp 10.000.000 di
setiap bulannya dan itu berlangsung selama lebih dari 1 tahun. Jika dalam 10 bulan saja total keuntungan
yang didapat sudah sebesar jumlah uang awal yang dimasukkan, maka keuntungan pada bulan ke-11 dan
seterusnya berasal darimana? Ini merupakan hal yang seharusnya dikritisi dan diwaspadai para nasabah
sebelum mereka memasukkan uangnya.
Hal yang harus dicermati ialah, bahwa para nasabah disini hendaknya berfikir jeli dan cermat bahwa
suku bunga tersebut merupakan angka yang sangat tinggi yang dapat dijanjikan Koperasi kepada
anggotanya. Seharusnya nasabah berfikir high risk high return, bahwa dibalik hasil tinggi terdapat juga
resiko yang tinggi. Ironinya, beberapa nasabah bukan hanya dari kalangan masyarakat kelas bawah namun
juga banyak masyarakat dari kalangan kelas atas dan berpendidikan yang menjadi korban dari koperasi
bodong ini.
Dalam beberapa artikel dari sumber yang cukup terpercaya di internet saya menemukan data bahwa
dana yang dihimpun lalu dipinjamkan kepada pedagang kecil atau pengusaha mikro, kecil dan menengah di
berbagai pasar yang tersebar di Jabodetabek. Para pedagang ini nantinya diminta membayar bunga 20% dari
jumlah uang yang dipinjam. Saya mencoba menganalogikan seperti ini:
a) Jika nasabah memasukkan uangnya sebesar Rp 10.000.000 ke Koperasi Pandawa maka Koperasi
Pandawa harus membayarkan Rp 1.000.000 di setiap bulannya kepada nasabah tersebut.
a) Jika Koperasi Pandawa meminjamkan uang sebesar Rp 10.000.000 dengan masa pinjaman 1 bulan
kepada seorang pedagang berarti pedagang tersebut harus membayar Rp 12.000.000.
Secara matematis, selisih antara Rp 12.000.000 dengan Rp 1.000.000 di setiap bulannya memang sangat
banyak dan selisih itu dapat digunakan untuk memberikan keuntungan kepada seluruh nasabah di setiap
bulannya. Namun yang perlu dicermati adalah:
1. Berapa banyak pedagang kecil yang mampu melunasi hutang dalam waktu 1 bulan?
2. Apakah para pedagang tersebut akan selalu melunasi hutangnya sesuai tenggang waktu yang
diperjanjikan? Sedangkan jika dilihat dalam realita seringkali pedagang kecil yang menunda-nunda
pembayaran hutangnya.
3. Jika tidak ada pedagang yang mampu mengembalikan hutang serta bunganya dalam waktu 1 bulan,
lantas bagaimana nasib nasabah Koperasi Pandawa yang telah memasukkan uangnya?

Maka modus yang digunakan oleh Koperasi Pandawa dalam melakukan perputaran uang nasabahnya
merupakan skema Ponzi. Keuntungan yang diberikan kepada nasabah didapat dari uang yang dimasukkan
oleh nasabah berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh Koperasi Pandawa itu sendiri.
 Koperasi Pandawa Group memang memiliki Izin Usaha dari Kementerian Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah, namun tidak untuk izin usaha menghimpun dana dari masyarakat.

Setelah saya melakukan penelusuran dari beberapa referensi dan sumber terpercaya di internet, saya
menemukan fakta bahwa Koperasi Pandawa Group tidak memiliki izin usaha menghimpun dana dari
masyarakat. Satu-satunya fakta yang ditemukan mengenai metode penghimpunan dana yang dilakukannya
ialah dengan mengimi-imingi bunga tinggi kepada nasabahnya. Hal inilah yang membuat Otoritas Jasa
Keuangan dalam pernyataan resminya menghentikan seluruh kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan
Pandawa Group.
Ditinjau dari aspek hukum, berdasarkan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang berbunyi:
“1. Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat
dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat
dimaksud diatur dengan Undang-undang tersendiri.
2. Untuk memperoleh izin usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), wajib dipenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang :
susunan organisasi dan kepengurusan ;
permodalan ;
kepemilikan ;
keahlian di bidang Perbankan ;
kelayakan rencana kerja.
3. Persyaratan dan tata cara perizinan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh
Bank Indonesia.”

Dalam pasal tersebut secara eksplisit memang tidak menyebutkan kata-kata “koperasi”, namun jika dilihat
lagi dalam Pasal 64 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menjelaskan bahwa:

“1. Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari
Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara
sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-
kurangnya Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 20.000.000.000,00
(dua puluh miliar rupiah).
2. Dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh badan hukum yang
berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi, maka penuntutan terhadap
badan- badan dimaksud dilakukan baik terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap
mereka yang memberikan perintah melakukan perbuatan itu atau yang bertindak sebagai
pimpinan dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.”
Hal ini membuat Koperasi Pandawa dapat dikenakan sanksi pidana Pasal 46 Undang-Undang Nomor
10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan karena
subjek hukum yang disebut dalam pasal tersebut bukan hanya bank ataupun badan hukum yang berbentuk
perseroan, namun juga termasuk koperasi didalamnya, serta Koperasi Pandawa juga tidak memiliki izin
usaha dalam menghimpun dana dari masyarakat dari Bank Indonesia.
Hal yang menarik bagi saya ialah bahwa artikel mengenai kewaspadaan izin usaha menghimpun dana
dari masyarakat ini mudah saya dapati di internet dan hal tersebut dikemukakan oleh pihak-pihak terkait,
seperti Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu izin usaha menghimpun dana
juga sudah diatur secara jelas dalam Undang-Undang Perbankan. Namun masih saja banyak nasabah yang
tertipu dan akhirnya menjadi korban dalam koperasi bodong ini. Entah karena minimnya
sosialisasi/penyuluhan yang ada terhadap masyarakat, atau memang nasabah sendiri yang kurang berhati-hati
dalam menginvestasikan uangnya?

 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan pailit terhadap Koperasi Pandawa dan Salman
Nuryanto, beberapa bulan kemudian Pengadilan Negeri Depok dalam putusannya memvonis
bersalah Salman Nuryanto dan menyita aset yang dimilikinya.

Tindakan Salman Nuryanto dan Koperasi Pandawa, membuat kasus ini akhirnya diseret ke ranah
pengadilan baik pidana maupun perdata. Dalam perkara pidana, peradilan dilakukan terhadap terdakwa
Salman Nuryanto dan 26 terdakwa lainnya di Pengadilan Negeri Depok. Sedangkan dalam perkara perdata,
peradilan dilakukan terhadap tergugat Koperasi Pandawa Group dan Salman Nuryanto di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.
Pada hari Rabu, 31 Mei 2017 Koperasi Pandawa serta Salman Nuryanto resmi dinyatakan pailit oleh
Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Karena putusan pailit tersebut, berimbas
bahwa seluruh harta dan aset yang dimiliki Koperasi Pandawa Group dan Salman Nuryanto akan disita dan
diurus pemberesannya oleh Kurator agar selanjutnya dibagikan secara proporsional kepada seluruh
kreditur/nasabah. Dalam praverifikasi, para kreditur yang mendaftar mencapai 39.068 kreditur dengan nilai
total tagihan pailit sebesar Rp 3.320.000.000.000 (tiga triliun tiga ratus dua puluh milyar rupiah).
Namun kemudian pada tanggal 11 Desember 2017, melalui putusan perkara pidana nomor
424/Pid.Sus/2017/PN.DPK akhirnya Salman Nuryanto divonis 15 tahun penjara serta denda Rp
200.000.000.000. Selain itu, dinyatakan pula bahwa barang bukti berupa aset Koperasi Pandawa maupun
Salman Nuryanto yang dirampas akan dilelang oleh negara untuk kemudian hasilnya masuk ke kas negara,
diantaranya 65 unit mobil, 28 unit motor, 87 unit properti berbentuk lahan, rumah, apartemen, sertifikat-
sertifkat, hingga akta jual beli, 65 unit barang elektronik, 23 buah perhiasan dan logam mulia, uang senilai
Rp 1,39 miliar, RM 3.050, SGD 1.550, SAR 877, ditambah dua polis asuransi.
Yang menjadi permasalahan ialah, Koperasi Pandawa dan Salman Nuryanto sebelumnya telah
dinyatakan pailit pada bulan Mei 2017, yang artinya seluruh harta pailit yang dimiliki Koperasi Pandawa dan
Salman Nuryanto harus dirampas dan dibagikan kepada para nasabah melalui tim Kurator. Namun pada
Desember 2017, Salman Nuryanto divonis melakukan tindak pidana dan seluruh hartanya akan dirampas dan
hasilnya akan masuk ke kas negara. Ini berarti terjadi tumpang tindih pemberesan harta aset antara vonis
pailit Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan vonis pidana Pengadilan Negeri Depok.
Jika dilihat secara aspek hukum, dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang PKPU dijelaskan bahwa: “Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang
diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta Debitor Pailit di bawah pengawasan
Hakim Pengawas sesuai dengan Undang-Undang ini.”
Selanjutnya dalam Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang PKPU dijelaskan
bahwa: “Putusan pernyataan pailit berakibat bahwa segala penetapan pelaksanaan Pengadilan terhadap
setiap bagian dari kekayaan Debitor yang telah dimulai sebelum kepailitan, harus dihentikan seketika dan
sejak itu tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan termasuk atau juga dengan menyandera
Debitor.”
Hal ini merupakan dasar bagi Kurator bahwa Kuratorlah yang berhak untuk mengurus harta serta aset
milik Koperasi Pandawa dan Salman Nuryanto sejak dinyatakan pailit dan tidak ada suatu putusan yang
dapat dilaksanakan yang bertentangan dengan putusan pailit tersebut.
Akhirnya Kurator melakukan upaya hukum dengan melakukan gugatan terhadap ammar putusan
perkara pidana mengenai sita barang bukti tersebut. Dalam Pasal 98 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang PKPU dijelaskan bahwa:
“Sejak mulai pengangkatannya, Kurator harus melaksanakan semua upaya untuk mengamankan harta
pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek, dan surat berharga lainnya dengan
memberikan tanda terima.”
Pasal itulah yang menjadi dasar bagi Kurator untuk melakukan gugatan hukum perdata terhadap ammar
putusan pidana tersebut.
Akhirnya pada 19 September 2018 Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat membacakan
putusan mengenai gugatan yang diajukan oleh Kurator, yang pada intinya adalah dari 209 aset yang masuk
ke dalam materi gugatan, hanya 19 aset yang dapat dikembalikan ke Kurator. Majelis Hakim dalam
pertimbangan hukum atas putusan menjelaskan 19 aset tersebut dapat dibuktikan berasal dari penghimpunan
dana terhadap masyarakat, sedangkan sisa aset yang tidak dikabulkan masih diragukan status kejelasannya.
Majelis Hakim masih meragukan apakah sisa aset tersebut benar dihimpun dari masyarakat atau bukan.
Hal ini tentu ironi, karena dalam putusan pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Depok,
menyatakan bahwa seluruh barang bukti yang dimuat dalam ammar putusan sita benar terbukti merupakan
hasil dari penghimpunan dana terhadap masyarakat. Hal ini juga diperkuat terhadap putusan pailit yang
menyatakan sita umum terhadap seluruh aset yang dimiliki oleh Koperasi Pandawa dan Salman Nuryanto.
Jika disebut sita umum, maka seluruh harta yang dimiliki debitur pailit baik yang ada atau yang nanti akan
didapatkan seluruhnya akan menjadi harta sitaan yang akan diberikan ke kurator dan kemudian dibereskan
agar seluruh kreditur/nasabah mendapatkan harta pailit tersebut secara proporsional.
Hal yang saya sayangkan disini adalah bahwa Hakim Pengadilan Negeri Depok dirasa kurang arif
dan bijaksana karena mengeluarkan putusan sita terhadap seluruh aset Salman Nuryanto yang selanjutnya
akan dilelang dan dimasukkan kedalam kas negara. Putusan sita ini tentunya menghambat proses
pengembalian utang kepada seluruh nasabah yang sedang dilakukan oleh Kurator. Selain itu saya juga
menyayangkan putusan Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang hanya mengabulkan gugatan Kurator
untuk sebagian, dan masih meragukan kebenaran aset tersebut merupakan benar aset dari hasil
penghimpunan dana terhadap masyarakat atau bukan.
LAMPIRAN BERITA

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/12/11/pengadilan-vonis-bos-ksp-pandawa-15-tahun-penjara-
dan-denda-rp-200-miliar?page=2

Pengadilan Vonis Bos KSP Pandawa 15 Tahun Penjara dan Denda Rp 200 Miliar

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Terdakwa kasus investasi bodong, Salman Nuryanto alias Dumeri (42),
pimpinan sekaligus pendiri Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group, divonis 15 tahun
penjara serta denda Rp 200 Miliar. Vonis dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Depok dalam sidang putusan,
Senin (11/12/2017). Vonis tersebut lebih berat dari tuntutan Jaksa yang menuntut Nuryanto dihukum 14
tahun penjara dan denda Rp 100 Miliar. "Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan
tindak pidana turut serta menghimpun usaha dana masyarakat tanpa ijin usaha yang dilakukan secara
berlanjut. Menghukum terdakwa dengan pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 200 Miliar," kata ketua
majelis hakim Yulinda Trimurti Asih. Dalam putusannya Yulinda menilai Nuryanto telah melanggar Pasal
46 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 10/1998 tentang Perubahan Atas UU Nomor 7/1992 tentang
Perbankan, jo Pasal 69 UU Nomor 21/2011 tentang OJK, jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 Ayat (1)
KUHP. Kemudian, pasal 378 KUHP tentang Penipuan, jo Pasal 55 ayat (1) jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
"Untuk denda Rp 200 Miliar, jika tidak dibayarkan maka akan diganti hukuman penjara selama 6 bulan,"
kata Yulinda.
https://news.detik.com/berita/3516878/divonis-pailit-total-tagihan-kreditur-pandawa-capai-rp-3-triliun

Divonis Pailit, Total Tagihan Kreditur Pandawa Capai Rp 3 Triliun

Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) memvonis pailit koperasi Pandawa Group dan
pemilik koperasi, Nuryanto. Alhasil, seluruh aset akan disita dan dilelang untuk menutupi kerugian nasabah.
Sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim PN Jakpus Eko Sugianto ini menjadwalkan pembacaan
putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa dan Nuryanto di ruang sidang Koesoemah Atmadja.
Turut hadir kuasa hukum dan ratusan kreditur perkara ini.
"Menyatakan Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Group dan Nuryanto dalam keadaan pailit," ujar Eko dalam
persidangan terbuka di PN Jakpus, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (31/5/2017).
Pasca-putusan majelis hakim, sorak kegembiraan kreditur pun menggema di ruang sidang. Sebab, dengan
putusan tersebut, aset yang dimiliki KSP Pandawa Group dan Nuryanto akan disita dan dilelang.
"Alhamdulillah, dinyatakan pailit," teriak salah satu kreditur.
Namun, dalam putusan itu, majelis hakim tidak menjelaskan detail aset yang disita dari KSP Pandawa dan
Nuryanto. Majelis hakim hanya menunjuk kurator dari perkara PKPU KSP Pandawa dan Nuryanto.
"Menunjuk dan mengangkat hakim pengawas dari pengadilan niaga Titi Tedjaningsih dan menunjuk lima
pengurus sebagai kurator dalam perkara PKPU," tutur Eko. Alhasil, ratusan kreditur yang hadir kebingungan
atas hasil putusan majelis hakim. Sebab, mereka berharap, dalam putusan itu, aset yang disita segera
dibagikan.
"Terus bagaimana nasib kami, kami sudah 6 bulan tersita waktu dan tenaga, bukannya aset Pandawa dan
Nuryanto langsung dibagikan?" ujar salah seorang kreditur.
Sementara itu, kuasa hukum kreditur Sardianto Tambunan mengatakan, dalam sidang PKPU KSP Pandawa
dan Nuryanto, majelis hakim tidak menyatakan jumlah aset yang disita. Namun, dari persidangan yang lalu,
total tagihan kreditur terhadap KSP Pandawa dan Nuryanto mencapai triliunan rupiah.
"Aset tidak sebut, kalau kemarin mengajukan (kreditur) total tagihannya itu Rp 3 triliun. Hari ini majelis
hakim hanya menyatakan pailit dan mengangkat pengurus sebagai kurator dalam perkara ini," kata
Sardianto.
Sardianto sendiri memegang 11 kreditur dengan total kerugian Rp 1,7 miliar dari investasi bodong Pandawa
milik Nuryanto. Para kreditur mengaku uang yang diputar itu hasil pinjaman hingga hasil jual rumah.
"Akibat pailit ini, majelis hakim menyatakan sita umum. Semua harta debitur KSP Pandawa dan Nuryanto,
baik yang ada atau nanti dari TPPU didapatkan, akan disita dan dilelang," tutur Sardianto.
https://nasional.kontan.co.id/news/ini-aset-koperasi-pandawa-yang-akan-masuk-ke-kas-negara

Ini aset Koperasi Pandawa yang akan masuk ke kas negara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun lalu, tepatnya 11 Desember 2017, Pengadilan Negeri Depok
menjatuhkan vonis atas bos Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Grup Nuryanto beserta 26 leader
Pandawa lainnya. Nuryanto divonis 15 tahun penjara ditambah denda Rp 200 miliar subsider 6 bulan
penjara. Sementara 26 leader Pandawa dihukum 8 tahun penjara ditambah denda Rp 50 miliar, subsider 5
bulan penjara. Hanya saja selain vonis kepada terdakwa, dalam amar putusan dengan nomor perkara
424/Pid.Sus/2017/PN.DPK hingga 429/Pid.Sus/2017/PN DPK ini dinyatakan pula bahwa barang bukti
berupa aset Pandawa maupun terdakwa yang dirampas akan dilelang oleh negara untuk kemudian hasilnya
masuk ke kas negara. Ini yang jadi rumit, sebab di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Pandawa juga tengah
menghadapi proses kepailitan. Dan jika aset akan jadi milik negara, para kreditur Pandawa akan gigit jari.
"Baru ada tujuh aset berupa bangunan, lahan yang cuma 90 meter persegi yang diamankan tim kurator, di
luar yang disita negara. Nilainya saya lupa tapi jelas sangat jauh dari tagihan Pandawa senilai Rp 3,3 triliun,"
kata salah satu kurator kepailitan Pandawa Muhammad Denni kepada KONTAN di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat, Rabu (25/4).
Dari penelusuran KONTAN atas putusan perkara 424/Pid.Sus/2017/PN.DPK hingga 429/Pid.Sus/2017/PN
DPK aset yang akan dilelang berjumlah cukup banyak. Ada 65 unit mobil, 28 unit motor, 87 unit properti
berbentuk lahan, rumah, apartemen, sertifikat-sertifkat, hingga akta jual beli, 65 unit barang elektronik, 23
buah perhiasan dan logam mulia, uang senilai Rp 1,39 miliar, RM 3.050, SGD 1.550, SAR 877, ditambah
dua polis asuransi. Denni sendiri belum mengetahui apakah aset-aset tersebut sudah mulai dilelang atau
belum oleh pemerintah. Oleh karenanya agar aset tersebut dapat masuk ke dalam budel pailit Pandawa, ia
sendiri telah melayangkan gugatan kepada pemerintah. Intinya agar aset tersebut tak masuk ke kas negara.
"Harapannya gugatan lain-lain ini pada akhirnya barang bukti yang dirampas negara untuk dilelang dan
dimasukkan ke kas negara bisa dikembalikan kepada yang berhak, yaitu kreditur melalui tim kurator yang
sebelumnya diangkat secara sah berdasarkan putusan pailit," sambungnya. Pandawa sendiri diputuskan pailit
setelah gagal menyelesaikan tagihannya melalui proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
pada 20 Juni 2017. Sementara dalam kepailitannya Pandawa dikatakan Denni memiliki tagihan senilai Rp
3,3 triliun yang berasal dari 39.000 kreditur yang juga nasabahnya.