Anda di halaman 1dari 26

Analisis adalah pemeriksaan atau penentuan sesuatu bahan dengan

teliti. Analisis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu analisis kuantitatif
dan analisis koalitatif. Salah satu cara analisis kuantitatif adalah titimetri
yaitu analisis penentuan penentuan konsentrasi dengan mengukur volume
larutan yang akan ditentukan konsentrasinya dengan volume larutan yang
telah diketahui konsentrasinya dengan teliti atau analisis yang
berdasarkan pada reaksi kimia.
Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya diketahui dengan
tepat dan dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan lain.
Larutan baku ada dua yaitu larutan baku primer dan larutan baku
sekunder.
Larutan baku primer adalah larutan baku yang konsentrasinya
dapat ditentukan dengan jalan menghitung dari berat zat terlarut yang
dilarutkan dengan tepat. Larutan baku primer harus dibuat dengan:
Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat larutan
standar primer harus memenuhi tiga persyaratan berikut:
pengotor
higroskopis.
kesalahan akibat penimbangan.
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan baku
primer adalah Na
2
CO
3.
SIFAT FISIKA SIFAT KIMIA
Bentuk Padatan Kristal
berwarna putih
oleh udara
Titik Lebur 851 C̊ 2. Beracun
Densitas (Anhydrous) 20 C 2,5 Kg/L̊ 3. Dapat digunakan
sebagai pembersih
Densitas (Dekahidrat) 20 C 1,4 Kg/L̊ 4. Pelunak air sadah
Nama Dagang Soda Hablur / Soda
Cuci
pembuatan kaca
Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya
harus ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer. Pada
percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan baku sekunder
adalah HCl. HCl merupakan salah satu jenis asam anorganik. Selain
bersifat korosif pada larutan pekatnya, jika dibiarkan di udara terbuka,
maka HCl akan mudah menguap dan uap tersebut juga masih sangat
koroif dan membahayakan. Sehingga pada saat akan mengencerkan HCl
harus dilakukan di tempat tertentu seperti di lemari asam untuk
mengurangi resiko kecelakan kerja.
Indikator asam basa sebagai zat penunjuk derajat keasaman
kelarutan adalah senyawa organik dengan struktur rumit yang berubah
warnanya bila pH larutan berubah. Indikator dapat pula digunakan untuk
menetapkan pH dari suatu larutan. Indikator merupakan asam lemah atau
basa lemah yang memiliki warna cukup tajam, hanya dengan beberapa
tetes larutan encer-encernya, indikator dapat digunakan untuk
menetapkan titik ekivalen dalam titrasi asam basa ataupun untuk
menentukan tingkat keasaman larutan. Pada percobaan kali ini indikator
yang akan digunakan adalah indikator metil orange yang sering disebut
MO.
Pada standarisasi larutan HCl dengan Na
2
CO
3
, natrium karbonat
dapat dititrasi sampai titik pertama ( pH 8,3 ). Titik akhir reaksi pertama
ini dapat ditunjukkan oleh tepat hilangnya warna merah dari phenol
pthalin berdasarkan reaksi sebagai berikut :
Na
2
CO
3
+ HCl NaCl + NaHCO
3
Akan tetapi titrasi tersebut lebih sering dijalankan sampai titik
akhir reaksi kedua (pH 3,8) berdasarkan berikut :
Na
2
CO
3
+ 2HCl 2 NaCl + H
2
CO
3
Adapun titik akhir reaksi kedua ini dapat ditunjukkan oleh
perubahan warna indikator methyl orange ( yang mempunyai kisaran pH
3,1-4,4) dari kuning menjadi orange atau jingga.
Dari reaksi tersebut diatas telah jelas bahwa titrasi sampai titik
akhir reaksi pertama memberikan nilai BE Na
2
CO
3
sama dengan
BMnya, sedang menurut titrasi yang berlanjut sampai titik akhir reaksi
kedua NA
2
CO
3
= ½ BM = 52,98. Nilai ini agak kecil,sehingga untuk
standarisasi dengan hasil yang lebih teliti akan lebih baik dibuat dulu
larutan Na
2
CO
3
0,1 N (bola larutan HCl yang akan dibakukan 0,1 N )
dalam jumlah yang banyak dengan menimbang dan melarutkannya
secara teliti
http://dokumen.tips/documents/standarisasi-hcl.html

http://choalialmu89.blogspot.co.id/2010/10/percobaan-1-asidimetri-dan-alkalimetri.html
http://dwitaariyanti.blogspot.co.id/2010/07/asidimetri-dan-alkalimetri.html
http://noerarifinyusuf.blogspot.com/2015/07/penetapan-normalitas-standarisasi-hcl.html

8:10 PM
‘’Pupuk Za’’

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah sebagai media tumbuh tanaman mempunyai fungsi menyediakan air, udara dan
unsur-unsur hara untuk pertumbuhan tanaman, namun demikian kemampuan tanah menyediakan
unsur hara sangat terbatas. Hal ini terbukti dengan pemakaian tanah yang terus menerus secara
intensif tanpa penambahan unsur hara mengakibatkan merosotnya produktifitas tanah,
menurunkan hasil panenan dan rusaknya sifat fisik,kimia dan biologi tanah dan kesuburan tanah.

Pengambilan sisa tanaman serta bahan-bahan buangan turut membantu suplai


nitrogen.Suplai alami demikian ditambah pula dengan pemberian pupuk nitrogen misalnya Za
yang mengandung nitrogen dan belerang. Meningkatnya perkembangan populasi manusia yang
mendorong meningkatkan kebutuhan pangan dunia akan berarti pula peningkatan suplai
nitrogen pada tanah.

Penggunaan pupuk Za merupakan pupuk yang marak digunakan di kalangan para petani
karena kegunaan dari pupuk ini adalah membantu proses perumbuhan tanaman para petani,
menambah daya tahan tanaman terhadap gangguan hama, penyakit dan kekeringan, memperbaiki
rasa dan warna hasil panen. Untuk itu tidak heran jika para petani beralih pupuk ke pupuk Za ini
karena macam manfaat tersebut.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:

1. Mengetahui jenis pupuk Za dan kandungan-kandungannya,

2. Mengetahui analisa penentuan kadar Amoniak dalam sampel pupuk yaitu dalam pupuk Za,

3. Mengetahui spesifikasi dan keunggulan dari pupuk Za.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian pupuk Za
Pupuk Za adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk memberi
tambahan haranitrogen danbelerang bagi tanaman. Nama Za adalah singkatan dari istilah bahasa
Belanda ‘zwavelzure ammoniak’, yang berartiAmmonium Sulfat (NH4SO4).

Ammonium Sulfat bila dalam keadaan murni berwarna putih garam dengan bentuk kristal.
Wujud pupuk ini juga berbentuk butiran kristal mirip garam dapur dan terasa asin di lidah. Pupuk
ini bersifat higroskopis (mudah menyerap air) walaupun tidak sekuat pupuk Urea. Namun dalam
perdagangannya, Ammonium Sulfat berwarna putih dan tergantung pada bahan pencampur yang
terkandung didalamnya seperti kelabu, kemerah-merahan, kekunung-kuningan, biru tua atau
bahkan kadang berwarna semu Ammonium Sulfat karena adanya kandungan H2SO4 bebas, garam-
garam mineral dan uap air.

Karena ion Sulfat larut secara kuat, sedangkan ion amonium lebih lemah, pupuk ini
berpotensi menurunkan pH tanah yang terkena aplikasinya. Sifat ini perlu diperhatikan dalam
penyimpanan dan pemakaiannya.

Reaksi kerja pupuk Za agak lambat sehingga cocok untuk pupuk dasar. Sifat reksinya
asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah ber-pH rendah. Selain itu, pupuk ini sangat baik
untuk sumber Sulfur. Lebih disarankan dipakai didaerah panas.Pupuk Za yang diperdagangkan
dalam bentuk kristal, umumnya berwarna putih, tapi ada juga yang berwarna abu-abu, biru
kabuan dan kuning, tergantung kepada pembuatannya.
Ammonium sulfat merupakan jenis pupuk nitrogen yang paling sering dipakai dalam
perdagangan karena hidrolisa ion NH4+ ini sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan tanaman.

Banyak proses yang digunakan dalam produksi Ammonium Sulfat, penggolongannya


tersebut berdasarkan atas bahan baku yang digunakan, proses-proses tersebut diantaranya:

a. Proses yang menggunakan bahan baku (by product) dari pembuangan gas Kokas.

b. Proses konversi Kalsium Sulfat alam (gibs) atau Kalsium Sulfat by produk(yang diambil dari pabrik
asam Phosphate).

c. Proses dengan reaktan murni, seperti Ammonia yang diperoleh dari Ammonia plant dan Asam
Sulfat dari pross kontak. Pada proses dengan reaktan murni ini, ada bermacam-macam prosesnya.

Proses dasar cyclenya sama tetapi untuk menyatukan perbedaan secara teknis diperlukan
suatu proses penyempurnaan. Yaitu dengan adanya proses netralisasi antara Ammonia dan Asam
Sulfat lalu terjadi kristalisasi dengan tekanan vakum. Netralisasi akan terjadi pada temperature
yang lebih rendah dibandingkan bila operasi dilangsungkan pada tekanan atmosphere.

a. Kandungan pupuk Za

Pupuk ZA mengandung belerang 24 % dan nitrogen 21 %.Kandungan nitrogennya hanya


separuh dari Urea, sehingga biasanya pemberiannya dimaksudkan sebagai sumber pemasok hara
belerang pada tanah-tanah yang miskin unsur ini.Terdiri dari senyawa Sulfur dalam bentuk Sulfat
yang mudah diserap dan Nitrogen dalam bentuk amoniumyang mudah larut dan diserap tanaman.

b. Spesifikasi dari Pupuk Za (SNI 02-1760-2005)

Menurut (SNI 02-1760-2005) pupuk Za memiliki spesifikasi sebagai berikut:

 Nitrogen minimal 20,8%

 Belerang minimal 23,8%

 Kadar air maksimal 1%

 Kadar Asam Bebas sebagai H2SO4 maksimal 0,1%

 Bentuk kristal

 Warna putih

c. Sifat dan keunggulan pupuk Za (SNI 02-1760-2005)

 Tidak higroskopis

 Mudah larut dalam air

 Digunakan sebagai pupuk dasar dan susulan

 Senyawa kimianya stabil sehingga tahan disimpan dalam waktu lama

 Dapat dicampur dengan pupuk lain

 Aman digunakan untuk semua jenis tanaman

 Meningkatkan produksi dan kualitas panen

 Menambah daya tahan tanaman terhadap gangguan hama, penyakit dan kekeringan
 Memperbaiki rasa dan warna hasil panen

d. Cara Penggunaan Pupuk Za

 Pupuk ZA sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar dan pupuk susulan untuk semua jenis
tanaman. (Unsur hara Belerang dibutuhkan tanaman sejak awal pertumbuhan)

 Pupuk ZA dapat dicampur dengan pupuk yang lain.

B. Analisa Pupuk Za I

I. JUDUL :

“Analisa Kadar Amonia dalam Pupuk Za”


II. TUJUAN :

 Menentukan kadar NH3 dalam pupuk ZA

III. ALAT dan BAHAN

Alat

1. Gelas kimia

2. Corong

3. Pipet tetes

4. Kasa dan kaki tiga

5. Pembakar spiritus

6. Labu ukur

7. Gelas ukur

8. Spatula

9. Erlenmeyer

10. Kertas lakmus

11. Pipet volume

12. Timbangan digital

13. Buret
Bahan

1. Na2CO3

2. Aquades

3. HCl

4. Indikator metil jingga dan metil merah

5. Pupuk Za

6. NaOH

7. Indikator metil merah

IV. CARA KERJA :

A. Titrasi Penetralan

1. Membuat larutan baku Na2CO3 yaitu dengan melarutkan ± 0,5 gram Na2CO3 dalam labu ukur dan
menambahkan aquades hingga separuh kemudian mengocoknya, menambah aquades lagi hingga
tanda batas dan mengocoknya kembali hingga tercampur dengan baik.

2. Membilas buret dengan HCl dan mengisinya dengan HCl hingga 2-3cm di atas skala nol, kemudian
menurunkan hingga skala nol.

3. Memipet 10 ml larutan baku Na2CO3 menggunakan pipet volum dan memasukkannya ke dalam
erlenmeyer. Kemudian menambahkan 10 ml aquades dan 2-3 tetes indikator metil jingga

4. Menitrasi laruan tersebut dengan HCl hingga terjadi perubahan warna menjadi kuning muda.

5. Melaksanakannya hingga tiga kali dengan tertib.

B. Aplikasi Titrasi Penetralan (Penentuan kadar NH3 dalam pupuk Za)

1. Menimbang ± 0,1 gram pupuk Za, kemudian memasukkannya ke dalam Erlenmeyer dan
menambahkan 10 ml NaOH.

2. Memanaskan larutan tersebut dengan meletakkan corong di atas Erlenmeyer agar zat tidak lolos,
hingga tidak ada lagi ammonia yang keluar. (cek dengan kertas lakmus merah)

3. Mendinginkan larutan tersebut.


4. Setelah larutan dingin, kemudian menambahkan beberapa tetes indicator metal merah.

5. Menitrasi larutan tersebut dengan HCl hingga terjadi perubahan warna dan mengulanginya hingga
tiga kali dengan tertib.

V. DATA PENGAMATAN

A. Data I

Volume Analit (mL) Na2CO3 Volume Titran (mL) HCl Normalitas


Titran
B. Data II
10 8,8 0,1124
Vo Pup HCl
10 8,4 0,1177 lu uk Ka
m Za dar
10 8,6 0,1150 e Vol NH
An um 3da
ali e lam
t Titr Za
(m an
L) (mL
)

10 43, 17,
2 45
%

10 43, 17,
9 42
%

10 44, 19,
1 50
%

VI. ANALISA DATA

Penentuan (standarsasi) HCl dengan Na2CO3 sebagai baku.

a. Sebelum diberi perlakuan

 Berat Na2CO3 0,5244 gram berbentuk serbuk berwarna putih.

 HCl tidak berwarna.

 Air suling tidak berwarna.

 Indikator Metil Jingga berwarna Orange.


b. Setelah diberi perlakuan

 10 ml Na2CO3 ditambah 25ml air suling larutan tidak berwarna.

 Kemudian ditambah 3 tetes indikator Metil Jingga larutan menjadi berwarna Merah.

 Dititrasi dengan HCl hentikan titrasi jika terjadi perubahan warna larutan dari kuning menjadi
jingga. Percobaan dilakukan 3 kali dan diperoleh data volume titran (HCl) sebagai berikut :

1. V = 8,8ml

2. V = 8,4ml

3. V = 8,6ml

Karena menggunakan indikator metil jingga, maka rentang pHnya antara 3,1 – 4,4. Dari hasil analisis
perhitungan diperoleh :

Volume Analit (mL) Na2CO3 Volume Titran (mL) Normalitas


HClTitran

10 8,8 0,1124

10 8,4 0,1177

10 8,6 0,1150

Normalitas rata – rata HCL = 0,1124 + 0,1177 + 0,1150 = 0,11503 N

Persamaan Reaksinya
2HCL + Na2 CO3 ↔ 2NaCl + H2 O + CO2

 Aplikasi Penetralan

a. Sebelum diberi perlakuan


Berat pupuk ZA I = 0,1117 gram.
Berat pupuk ZA II = 0,1119 gram.
Berat pupuk ZA III = 0,1000 gram.
Pupuk ZA berbentuk serbuk dan berwarna putih.
NaOH tidak berwarna.
Metil Merah berwarna merah.

b. Setelah diberi perlakuan

Pupuk Za dicampur dengan NaOH tidak berwarna.Kemudian dipanaskan sampai tidak ada
amoniak yang keluar (mengecek dengan kertas lakmus merah yang dibasahi air) apabila tidak ada
perubahan warna pada kertas lakmus merah, larutan didinginkan kemudian ditambah 3 tetes
indikator metil merah larutan menjadi berwarna kuning.Dititrasi dengan HCL hentikan titrasi jika
terjadi perubahan warna larutan dari kuning menjadi jingga. Percobaan dilakukan 3 kali dan
diperoleh data sebagai berikut :

Volume Analit (ml) Pupuk Za Volume Titran HCl Kadar NH3dalam


(ml) Za

10 43,2 17,45 %

10 43,9 17,42 %

10 44,1 19,50 %

Kadar (% )NH3 rata – rata = 17,45 + 17,42 + 19,5 =18,123%

Persamaan Reaksi
2HCl + (NH4)2 SO4 ↔ H2SO4 + 2NH4Cl
Dari hasil perhitungan diperoleh Normalitas (NH4)2 SO4 sebagai berikut :

Berat Pupuk Za (gram) Normalitas (NH4)2 SO4 (N)

0,1117 0,0035

0.1119 0,0036

0,1000 0,0030

Normalitas (NH4)2 SO4 rata – rata adalah 0,0034 N. Namun Normalitas yang digunakan
dalam perhitungan untuk mencari kadar NH3 dalam pupuk Za adalah Normalitas rata – rata dari
HCl bukan Normalitas rata – rata (NH4)2 SO4.

VII. KESIMPULAN ANALISA

Dari hasil percobaan standarisasi HCL dengan Na2CO3 sebagai baku diperoleh Normalitas rata
– rata titran (HCL) adalah 0,11503 N. Percobaan ini menggunakan indikator metil jingga sehingga
rentang pH larutannya antara 3,1 – 4,4. Dan dari hasil percobaan aplikasi menentukan kadar NH3
pada pupuk ZA diperoleh kadar rata – rata NH3 pada pupuk ZA adalah 18,123%. Percobaan ini
menggunakan indikator metil merah sehingga rentang pH larutannya adalah 4,2 – 6,2. Dari hasil
keseluruhan percobaan dapat disimpulkan bahwa volume titran (HCL) dalam percobaan
standarisasi lebih kecil daripada volume titran (HCL) p0ada aplikasi. Hal ini disebabkan karena
perbedaan indikator yang digunakan sehingga berbeda pula rentang pHnya. Sedangkan pH dapat
mempengaruhi volume titran. Semakin besar pH semakin besar pula volume titran dan sebaliknya.

C. Analisa pupuk Za II

I. Judul :
Penetapan Kadar Nitrogen (%)
pada Pupuk Za

II. Tinjauan Dasar :


Pupuk yang sudah mengandung senyawa N-anorganik tidak perlu menggunakan H2SO4(P)
dan ditambahkan campuran selen kedalamnya sebagai katalis untuk bisa menetapkan kadar N
yang terkandung di dalam pupuk ZA tersebut. OLeh karena itu larutan pupuk ZA dapat
langsung didestilasimenggunakan NaOH (tambahkan indikator PP) dengan penampung H3BO3
atau HCl yang sudah ditambahkan BCG:MM (merah) sebagai indikator penitaran. Penitaran dengan
penampung H3BO3 (penitar = HCl) didapat TA dari merah menjadi hijau, sedangkan penitaran
dengan penampung HCl (penitar = NaOH) didapat TA dari hijau menjadi merah.

III. Reaksi :
(NH4)2SO4 + NaOH Na 2SO4 + NH3 + H2 O
 Penampung H3BO3
NH3 + H3BO3 NH4H2BO3
NH4H2BO3 + HCl NH4Cl + H3BO3

 Penampung HCl
NH3 + HClberlebih NH4Cl
HClsisa + NaOH NaCl + H2O

Cara Kerja :
1. Ditimbang + 1 g pupuk ZA Larutkan ke dalam labu takar 100 ml.
2. Pipet 10 mL larutan ke dalam destilator, destilasi dengan NaOH 30%. Gunakan penampung
H3BO3 atau HCl sebanyak 25 mL.
3. Destilasi dihentikan apabila Vawal = Vakhir.
4. Titar penampung sesuai penitarnya masing-masing.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Dari makalah yang kami buat kami dapat menyimpulkan bahwa pupuk Za
mengandung Belerang 24 % danNitrogen 21 %. Terdiri dari senyawa Sulfur dalam bentuk Sulfat
yang mudah diserap dan Nitrogen dalam bentukAmmonium yang mudah larut dan diserap
tanaman.
Pupuk Za mempunyai beberapa keunggulan yakni pupuk ini tidak higroskopis, mudah larut
dalam air,digunakan sebagai pupuk dasar dan susulan, senyawa kimianya stabil sehingga tahan
disimpan dalam waktu lama,dapat dicampur dengan pupuk lain, aman digunakan untuk semua
jenis tanaman, meningkatkan produksi dan kualitas panen, menambah daya tahan tanaman
terhadap gangguan hama, penyakit dan kekeringan, memperbaiki rasa dan warna hasil panen

B. SARAN

 Penggunaan pupuk Za sebaiknya jangan terlalu berlebihan karena akan mencemari tanah dan
akan merusak unsur-unsur yang terdapat dalam tanah.

 Pupuk Za mengandung beberapa unsur-unsur kimia yang berbahaya seperti nitrogen dan
belerang, untuk itu para petani diharapkan untuk berhati-hati dalam penambahan pupuk Za
kedalam tanaman jangan terlalu berlebihan karena akan membahayakan tanaman itu sendiri pada
saat dikonsumsi oleh manusia.

DAFTAR PUSTAKA

http://banyuagung.wordpress.com/2009/07/30/fungsi-pupuk-za-bagi-tanaman-kita/

http://www.petrokimia-gresik.com/za.asp

http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/jenis-jenis-pupuk-dan-cara-aplikasinya/

http://dc143.4shared.com/doc/M6HNQqXi/preview.html

http://diantox.blogspot.com/2010/01/titrasi-penetralan-dan-aplikasinya-by.html

http://z47d.wordpress.com/2010/09/01/pembuatan-pupuk-buatan/

http://feronikafajriyanti.blogspot.co.id/2012/05/pupuk-za.html
http://diantox.blogspot.co.id/2010/01/titrasi-penetralan-dan-aplikasinya-by.html

INDONESIA TERCINTA

SELASA, 22 DESEMBER 2009


titrasi penetralan
TITRASI PENETRALAN (ASIDI-ALKALIMETRI) dan APLIKASINYA

B. TUJUAN PERCOBAAN
1. Membuat dan menentukan standarisasi larutan asam
2. Menentukan kadar NH3 dalam pupuk ZA
C. KAJIAN TEORI
Reaksi penetralan dalam analisis titrimetri lebih dikenal sebagai reaksi asam basa. Reaksi
yang berlangsung dalam adalah reaksi antara ion hidrogen (H+) dan ion hidroksida (OH-)
dan membentuk air (H2O). Reaksi ini menghasilkan larutan yang pH-nya lebih netral. Titik
akhir titrasi ditunjukkan dengan adanya perubahan warna indikator yang sesuai, dimana
titik ekivalen terjadi pada trayek pH indikator. Secara umum metode titrimetri didasarkan
pada reaksi kimia sebagai berikut:

produkaA + tT

dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T. untuk menghasilkan


produk yang sifat pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut salah satu larutan (larutan standar)
konsentrasi dan pH-nya telah diketahui. Saat equivalen mol titran sama dengan mol
analitnya begitu pula mol equivalennya juga berlaku sama.
ntitran = nanalit

atau dapat dituliskan :

neq titran = neq analit

dengan demikian secara stoikiometri dapat ditentukan konsentrasi larutan yang ke dua.
Bermacam-macam zat asam dan basa baik organik maupun anorganik dapat ditentukan
dengan penitrasian asam-basa. Tidak hanya itu, juga banyak contoh yang analitnya dapat
diubah secara kimia menjadi asam ataupun basa, yang kemudian dapat ditentukan kadarnya
dalam penitrasian tersebut.

Pada penentuan campurab karbonat, ion karbonat dititrasi dalam dua langkah:
CO32- + H3O+1 → HCO3- + H2O
HCO3- + H3O+ → H2CO3 + H2O
Pada langkah pertama dititrasi dengan menggunakan indikator fenolpthalein, sedangkan
langkah kedua dititrasi dengan menggunakan indikator metil jingga. Pada kedua langkah
tersebut Natrium hidroksida umumnya terkontaminasi oleh natrium karbonat sedangkan
natrium karbonat dan natrium bikarbonat sering terjadi bersama-sama.

D. ALAT DAN BAHAN


ALAT:
- Neraca Analitik
- Labu Ukur 100 mL
- Pipet Tetes
- Pipet Gondok 10 mL
- Buret
- Erlenmeyer
- Gelas Ukur
- Corong
- Pembakar Spirtus
- Kaki Tiga
- Kasa

BAHAN:
- Boraks 0,9084 gram
- Air Suling
- Indikator Metil Merah
- HCl
- Pupuk ZA
- NaOH
- Lakmus Merah
-
E. LANGKAH PERCOBAAN
a. Standarisasi Asam Klorida(HCl) dengan Boraks sebagai Bahan Baku
Memasukkan 0,9084 gram boraks kedalam labu ukur 100 mL, mengencerkan sampai tanda
batas, kemudian mengocok hingga tercampur dengan baik.
Memipet 10 mL larutan boraks dengan menggunakan pipet gondok dan memasukkannya ke
dalam Erlenmeyer kemudian menambahkan dengan 10 mL air suling dengan menggunakan
gelas ukur kemudian menambahkan tiga tetes indicator meti merah, menitrasi dengan
larutan HCl dan menghentikan titrasi saat terjadi perubahan warna, menghitung volum HCl
yang digunakan dan mengulangi percobaan sampai tiga kali.

b. Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA


Menimbang 0,1 gram pupuk ZA ke dalam Menimbang 0,1 gram pupuk ZA ke dalam
erlenmeyer dengan neraca analitik, memasukkan pupuk ZA ke dalam Erlenmeyer dan
menambahkan 50 mL NaOH 0,1 N yang sudah distandarisasi. Meletakkan corong pada leher
Erlenmeyer, mendidihkan campuran sampai tidak ada lagi amoniak yang keluar dengan cara
mengeceknya memakai kertas lakmus merah yang telah dibasahi aquades. Kemudian
mendinginkan larutan, menambahkan tiga tetes indicator metil merah dan menitrasi dengan
larutan HCl lalu menghentikan titrasi saat terjadi perubahan warna, menghitung volum HCl
yang digunakan dan mengulangi percobaan sampai tiga kali.

F. ALUR KERJA
a. Standarisasi Asam Klorida(HCl) dengan Boraks sebagai Bahan Baku

- dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL


- diencerkan sampai tanda batas
- dikocok hingga tercampur dengan baik

- dipipet 10 mL dengan pipet gondok


- Dimasukkan ke Erlenmeyer
+ 10 mL air suling
+ 3 tetes indicator metil merah
- dititrasi dengan HCl
- dihentikan saat terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah
- dihitung volum HCl yang dibutuhkan

b. Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA

- dimasukkan ke Erlenmeyer
+ 50 mL NaOH 0,1 N
- diletakkan corong pada leher erlenmeyer
- dididihkan campuran hingga gas amoniak tidak ada lagi
- dicek dengan lakmus merah
- didinginkan
+ 3 tetes indicator metil merah
- dititrasi dengan HCl
- dihentikan saat terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah
- dihitung volum HCl yang dibutuhkan

G. DATA PENGAMATAN
a. Standarisasi Asam Klorida(HCl) dengan Boraks sebagai Bahan Baku
Vanalit (Boraks) Vtitran (HCl) Normalitas HCl
V1 = 10 mL
V 2 = 10 mL
V3 = 10 mL V1 = 9,4 mL
V2 = 9,3 mL
V3 = 9,3 mL N1 = 0,106 N
N2 = 0,108 N
N3 = 0,108 N
Nrata-rata = 0,107 N

b. Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA


Vanalit (Boraks) Vtitran (HCl) Kadar NH3 dalam Pupuk ZA
V1 = 50 mL
V 2 = 50 mL
V3 = 50 mL V1 = 39,3 mL
V2 = 40,6 mL
V3 = 41,7 mL 12 %
11 %
8%
Kadar rata-rata = 10 %
H. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Natrium tetra borat dekahidrat atau boraks merupakan jenis basa kuat yang baik untuk
dititrasi dengan asam kuat seperti HCl, karena boraks memiliki berat ekivalen yang tinggi.
Dalam percobaan, digunakan boraks seberat 1,9084 gr yang dilarutkan dalam labu ukur
hingga 0,1 liter. Kemudian dipipet sebanyak 10mL. Larutan ini digunakan untuk menitrasi
asam klorida. Dalam titrasi, digunakan indikator metil merah karena titrasi ini
menghasilkan asam boraks yang pH-nya berada pada rentang 4,2-6,2.
Na2B4O7 + 2HCl + 5H2O metil merah 4H3BO3 + 2Na+ + 2Cl-
Titik titrasi akhir ditandai dengan perubahan warna larutan dari kuning menjadi jingga.
Dalam percobaan penggunaan indikator yang sesuai memungkinkan asumsi bahwa titik
akhir titrasi tepat berimpit dengan titik equivalennya sehingga pada titik equivalen berlaku:
neq titran = neq analit
Dengan menggunakan persamaan tersebut, diperoleh konsentasi HCl sebesar 0,106 N
dengan volume HCl yang dibutuhkan 9,4mL. Pada penitrasian kedua, diperoleh konsentasi
HCl sebesar 0,108 N dengan volume dalam buret yang dibutuhkan sebanyak 9,3 mL.
percobaan ketiga, menghasilkan konsentrasi HCl sebesar 0,108 N dengan volume HCl
sebanyak 9,3 mL. Sehingga diperoleh konsentrasi HCl rata-rata sebesar 0,107N.
APLIKASI
Untuk mengetahui kandungan NH3 dalam pupuk ZA [(NH4)2SO4¬] digunakan asam kuat
HCl (asam klorida) sebagai larutan standart. Dalam prosedurnya digunakan basa kuat
natrium hidroksida (NaOH) berlebih untuk membebaskan amonia. Gas amonia yang
dihasilkan dibebaskan dengan pemanasan sisa basa yang belum bereaksi dengan ion
amonium dititrasi dengan asam klorida. Pada analisis ini digunakan indikator metil merah
hingga warnanya berubah dari kuning menjadi merah jingga.
Untuk menghitung kandungan NH3 dalam pupuk ZA digunakan rumus:
molek NaOH sisa = molek HCl bereaksi
karena molek NH3 = mol NaOH bereaksi. Sehingga,
Mol NH3 = mol NaOH mula-mula – mol NaOH sisa
Kemudian dicari % NH3 yang terdapat dalam pupuk ZA menggunakan rumus:
gr analit x 100%
gr sampel

Dengan menggunakan rumusan tersebut, pada percobaan I, diperoleh kadar NH3 ¬sebesar
12% dengan volum HCl yang dibutuhkan pada penitrasian sebanyak 39,3mL dan berat
pupuk yang digunakan 0,115gr atau 115mg. Sedangkan pada percobaab II, dengan banyak
pupuk yang digunakan sebesar 0,105gr dan volume HCl yang dibutuhkan dalam penitrasian
sebanyak 40,6mL diperoleh kadar NH3 sebesar 11%. Pada percobaan III, diperoleh kadar
NH3 sebesar 8% dengan ketentuan massa pupuk yang dipergunakan sebesar 0,116gr dan
volume HCl yang dibutuhkan hingga mencapai titik akhir titrasi sebesar 41,7mL.

I. KESIMPULAN
Untuk menentukan (standarisasi) asam klorida (HCl) dengan boraks adalah dengan
menitrasi larutan baku boraks dengan larutan HCl hingga tiga kali menggunakan indikator
metil merah, sehingga dapat diketahui konsentrasi rata-rata larutan HCl, yaitu 0,107 N. Dan
untuk menentukan kadar NH3 dalam pupuk ZA yaitu dengan melarutkan pupuk ZA dengan
NaOH lalu dididihkan hingga NH3 tidak ada, kemudian dititrasi dengan HCl standard
menggunakan indikator metil-merah hingga oerubahan warna. Titrasi ini dilakukan hingga
tiga kali, sehingga kadar NH3 dalam pupuk ZA dapat diketahui, yaitu 12%, 11%, dan 8%.

J. JAWABAN PERTANYAAN
Hal 38
1. Mengapa pada pembuatan larutan NaOH harus memakai air yang sudah dididihkan?
Jawab:
Tujuan menggunakan air yang mendidih yaitu untuk menghindari ledakan, sebab reaksi
logam alkali (Na) bersifat eksoterm. Dan juga logam alkali (Na) mudah bereaksi dengan air.
mudah bereaksi dengan air.
2. Apakah beda antara:
a. larutan baku dan larutan standar?
b. asidimetri dan alkalimetri?
Jawab:
a. larutan baku: dimana larutan itu konsentrasinya diketahui dari hasil penimbangan dan
pengenceran, konsentrasi ditentukan dari hasil perhitungan
larutan standar: dimana larutan itu konsentrasinya sudah ditetapkan dengan akurat.
b. asidimetri : dimana menitrasi larutan menggunakan larutan baku asam
alkalimetri : dimana menitrasi larutan menggunakan larutan baku basa.
3. Berikan alasan penggunaan indikator pada titrasi di atas!
Jawab:
Pada titrasi antara HCl dengan Na2B4O7 menggunakan indikator metil-merah karena titrasi
tersebut antara asam kuat dengan basa lemah yang memiliki rentang pH4,2-6,2. Pada
umumnya indikator digunakan untuk menentukan titik equivalen atau titik akhir titrasi
tepat pada pH tertentu.

Hal 47-48
1. 1,2 gram sampel NaOH dan Na2CO3 dilarutkan dan dititrasi dengan 0,5N HCl dengan
indikator pp. setelah penambahan 30 mL HCl larutan menjadi tidak berwarna. Kemudian
indikator metil jingga ditambahkan dan dititrasi lagi dengan HCl. Setelah penambahan 5mL
HCl larutan menjadi berwarna. Berapa prosentase Na2CO3 dan NaOH dalam sampel?
Jawab:
Diket : m sample : 1,2 gram
Titran : HCl 0,5 N
V1 : 30 mL
V2 : 5 mL
Indicator 1 : phenolphetialin
Indicator 2 : metil jingga
Ditanya : Kadar Na2CO3 :…?
Kadar NaOH :…?
Jawab : Volum titran yang digunakan oleh Na2CO3 dalam langkah kedua adalah 5 mL maka
volum yang sama harus digunakan dalam langkah pertama. Oleh karena itu volum yang
diperlukan oleh NaOH adalah 30 mL – 5mL = 25 mL sehingga
% Na2CO3 = volum titran yang digunakan x M titran x Mr x 100%
Massa sample
= 5 x 0,5 x 106 x 100%
1200
= 22,083 %

% NaOH = 35 x 0,5 x 40 x 100%


1200
= 58,33 %

2. Pada pH berapa terjadi perubahan warna indikator pp?


Jawab:
Pada rentang pH 8,0-9,6

DAFTAR PUSTAKA
Day. R.A Underwood. A.L. 1986. Quantitative Analysis (fifth ed.).New York: Prentice Hall.
(Terjemahan oleh A. Hadyana. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif (ed. Ke 5).Jakarta: Erlangga)
Setiono, L dan Hadyana, P.A. 1985. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro
dan Sentrimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka (terjemahan dari Svehla, G).
Tim penyusun: 2009. Panduan Praktikum Dasar-dasar Kimia Analitik. Surabaya:Unesa
Press
Lampiran

Na2B4O7 + 2HCl + 5H2O metil merah 4H3BO3 + 2Na+ + 2Cl-

Massa Na2B4O7 = 1,9084 dengan Mr = 381,24. Sehingga diperoleh mol sebesar = 0,005 mol

M= 0,005 mol
0,1 l
= 0,05 M

Na2B4O7 bereaksi dengan 2HCl, sehingga

Ekivalen 2Na2B4O7 = ekivalen HCl


2x0,05 M x 10 mL = N2 x 9,4mL
N2 = 1 mmol
9,4 mL
= 0,106 N

Ekivalen 2Na2B4O7 = ekivalen HCl


2x0,05 M x 10 mL = N2 x 9,3mL
N2 = 1 mmol
9,3 mL
= 0,108 N

Ekivalen 2Na2B4O7 = ekivalen HCl


2x0,05 M x 10 mL = N2 x 9,3mL
N2 = 1 mmol
9,3 mL
= 0,108 N

Nrata-rata = 1,06 N + 1,08 N + 1,08 N


3
= 1,07 N

Aplikasi

Mol NaOH mula-mula= 0,1 M x 50 mL = 5mmol


Ekivalen NaOH = ekivalen HCl
Mol x n = N x V
Mol x 1 = 0,107 N x 39,3 mL
Mol = 4,2051 mmol
Mol NH3 = mol NaOH sisa
Mol NaOH sisa = 5 mmol – 4,2051 mmol = 0,7949 mmol

% NH3 = 0,7949 mmol x 17 x 100%


115 mg
= 12 %
Ekivalen NaOH = ekivalen HCl
Mol x n = N x V
Mol x 1 = 0,107 N x 40,6 mL
Mol = 4,3442 mmol
Mol NH3 = mol NaOH sisa
Mol NaOH sisa = 5 mmol – 4,3442 mmol = 0,6558 mmol
% NH3 = 0,6558 mmol x 17 x 100%
105 mg
= 11 %
Ekivalen NaOH = ekivalen HCl
Mol x n = N x V
Mol x 1 = 0,107 N x 41,7 mL
Mol = 4,4619 mmol
Mol NH3 = mol NaOH sisa
Mol NaOH sisa = 5 mmol – 4,4619 mmol = 0,5381 mmol
% NH3 = 0,5381 mmol x 17 x 100%
116 mg
=8%

DIPOSKAN OLEH FA DI 22.39

TIDAK ADA KOMENTAR:

POSKAN KOMENTAR

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Welcome to Ifa's blog

MENGENAI SAYA

FA

kalo di tanya mengenai diri sendiri pastinya ya bilang yang baek-baek..saya tuh
pinter, baek , cantik, rajin menabung, suka menolong

LIHAT PROFIL LENGKAPKU

Ada kesalahan di dalam gadget ini

IN MY MIND
PENGIKUT

CHEMICAL ABSTRACT

 http://info.cas.org/

IFA'S FRAME

TEORI ASAM BASA ' WORLD

 http://www.chem-is-try.com
 http://www.e-dukasi.net
 http://www.kimia.upi.edu,co.id
 http://www.pdfdatabase.com
 http://www.sma-tirtonirmolo.com

JOURNAL OF CHEMICAL PHYSICS

 http://jep.uchicago.edu/

ARSIP BLOG

 ▼ 2009 (6)

o ▼ Desember (5)

 DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN INDON...

 Analisa kualitatif merupakan suatu proses dalam me...

 esai
 CERPEN

 titrasi penetralan

o ► September (1)

http://thecutestblogontheblock.com/facelift/HappyFieldsBannercopy.jpg

A D A K E S A L A HA N DI D AL A M G A DG E T IN I

A D A K E S A L A HA N DI D AL A M G A DG E T IN I

ASAM BASA LEWIS

LOADING...

IFA,IFA, DAN IFA

LOADING...

http://merahputiholic-fa.blogspot.co.id/2009/12/titrasi-penetralan.html