Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Ilmu Antropologi Forensik adalah bidang studi yang berkaitan dengan analisis sisa
rangka manusia dalam aspek hukum dengan tujuan untuk mendapatkan informasi sebanyak-
banyaknya tentang rangka manusia yang diperiksa. Pembahasan mengenai ilmu Antropologi
forensik mencakup area (wilayah) Antropologi Forensik itu sendiri, batasan Antropologi
Forensik, Bidang Keilmuan dalam Antropologi Forensik, serta metode-metode yang
digunakan dalam Antropologi Forensik.1
Dalam bidang kedokteran forensik peranan pemeriksaan identifikasi sangatlah penting
pada korban yang telah meninggal. Identifikasi bisa menjadi semakin kompleks ketika mayat
yang didatangkan ke dokter forensik dalam keadaan rusak berat, termutilasi atau berupa
tulang belulang. Identifikasi merupakan kegiatan untuk mengenali seseorang. Untuk
mengidentifikasi mayat dapat digunakan beberapa kriteria, yaitu kriteria primer dan
sekunder. Pemeriksaan antropologi, khususnya analisis kerangka termasuk ke dalam kriteria
identifikasi sekunder, namun odontologi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
antropologi merupakan kriteria identifikasi primer.1,2,3,4
Antropologi forensik merupakan aplikasi dari ilmu fisik atau biologi antropologi dalam
proses hukum. Merupakan pemeriksaan pada sisa – sisa rangka untuk membantu menentukan
identitas dari jasad. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk
menentukan apakah sisa-sisa tersebut berasal dari manusia dan selanjutnya dapat menentukan
jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras. Pemeriksaan dapat juga
memperkirakan waktu kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka
yang saat hidup menimbulkan jejas pada struktur tulang. 2,3
Sebagai contoh, jika rangka ditemukan di hutan, maka rangka akan dibawa ke
laboratorium untuk ditentukan apakah rangka yang tertinggal merupakan rangka manusia,
binatang atau material anorganik. Jika manusia, maka akan diperkirakan umur saat kematian,
ras, jenis kelamin dan tinggi dari jasad. Jika rangka menunjukkan bukti bahwa telah
dimakamkan dalam waktu lama atau dengan peti mati, maka ini biasanya hanya
menunjukkan riwayat pemakaman daripada waktu kematian.2
Walaupun tugas utama dari antropologi adalah untuk menentukan identitas dari jasad,
namun pada pengembangannya dapat juga untuk menentukan pendapat mengenai tipe dan
ukuran senjata yang digunakan dan jumlah dari pukulan yang terdapat pada korban
kekerasan. Kebanyakan antropologis memiliki kemampuan antropologi yang tinggi dan telah

1
memeriksa banyak sisa-sisa dari rangka. Beberapa di antaranya juga memiliki pengalaman di
bidang kepolisian dan medis, seperti halnya di bidang serologi, toksikologi, senjata api dan
identifikasi jejas akibat alat, investigasi kejadian kejahatan, penanganan bukti kejahatan dan
fotografi. Dan hanya sedikit antropologis yang menangani analisis jejak kaki dan identifikasi
spesies dalam kaitannya dengan perkiraan waktu kematian yang sudah lewat. Antropologi
forensik selalu berhubungan dengan patologi forensik, odontologi dan investigasi
pembunuhan, cara kematian dan atau interval postmortem.2
Perlu diingat, walaupun sebagian besar rangka manusia dewasa terdiri dari jumlah
tulang yang sama (206), namun tidak ada dua rangka yang sama. Karena itu observasi dari
pola atau rangka yang khas sering menunjukkan identifikasi pasti.2

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Antropologi Forensik


Antropologi forensik merupakan bidang ilmu untuk physical anthropologists
yang mengaplikasikan ilmunya dalam bidang biologi, sains dan budaya dalam proses
hukum. Menurut American Board of Forensic Anthropology, antropologi forensik
adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi fisik untuk proses hukum.
Identifikasi dari kerangka atau sediaan lain dari sisa-sisa jasad (dugaan manusia) yang
tidak teridentifikasi penting untuk alasan hukum maupun alasan kemanusiaan. Forensik
antropologi mengaplikasikan teknik sains sederhana yang berdasarkan antropologi fisik
untuk mengidentifikasi sisa-sisa jasad manusia dan mengungkap tindak
kejahatan.1,2,3,4,5,6

2.2 Manfaat Pemeriksaan Antropologi Forensik


Antropologi forensik bermanfaat untuk membantu penyidik dan penegak hukum
untuk mengidentifikasi temuan rangka tak dikenal. Temuan rangka biasanya terdapat
pada daerah terpencil, di atas permukaan tanah, dikubur pada lubang yang dangkal
karena pelaku kejahatan terburu – buru menguburkannya, di sungai, di rawa atau di
hutan. Korban yang tidak dikubur secara layak ini biasanya menjadi salah satu indikasi
adanya tindak pidana terhadap korban kejahatan. Pada kasus forensik seperti ini,
antropologi forensik berguna dalam menentukan identifikasi temuaan.1,2,3
Upaya identifikasi pada kerangka (antropologi forensik) bertujuan untuk
membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin,
perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan
dapat dilakukan rekonstruksi wajah.Pemeriksaan dapat juga memperkirakan waktu
kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup
menimbulkan jejas pada struktur tulang.1,2,3,4

2.3 Ruang Lingkup Antropologi Forensik


2.3.1 Osteologi
Osteologi, merupakan satu dari teknik yang paling bermakna pada pemeriksaan
antropologi forensik, karena antropologi forensik berhubungan dengan pemeriksaan
sisa – sisa tulang maupun tulang yang utuh. Pemeriksa dapat menentukan perkiraan

3
usia, jenis kelamin, pertalian ras, tampilan fisik saat hidup. Tengkorak merupakan
bagian dari rangka manusia yang paling informatif. Namun, jarang sekali tengkorak
ditemukan dalam keadaan utuh ataupun baik. Oleh karena itu osteologis harus dapat
memanfaatkan apapun tulang yang tersedia.7,8,9

Gambar 1. Alat – alat Ukur Pemeriksaan Osteologi.9

Osteologi harus mengerti mengenai kerangka manusia. Langkah pertama pertama


dari osteologi menentukan sisa rangka yang ditemukan apakah dari manusia atau
bukan. Walaupun banyak sekali variasi yang terdapat pada manusia atau hewan, namun
terdapat persamaan-persamaan umum pada setiap spesies. Jika tengkorak tidak
ditemukan, tulang manusia dapat dibedakan dari hewan berdasarkan bentuk, ukuran
dan perbedaan densitas tulang. Penentuan spesies akan sangat sulit jika tulang yang
ditemukan berupa pecahan – pecahan. Ada dua tipe sifat yang dapat ditemukan dari sisa
– sisa rangka yaitu metrik dan nonmetrik. Tipe metrik adalah variasi ukuran tulang.
Contohnya panjang dari humerus pada seseorang dapat lebih panjang dari orang lain
yang mempunyai tinggi badan yang sama. Sifat nonmetrik adalah perbedaan antara
tulang – tulang seseorang yang tidak dapat diukur. Contohnya penyatuan pada tulang
seseorang dapat berbeda dengan orang lainnya.9

2.3.2 Dentisi
Dentisi merupakan ilmu yang mempelajari sisa – sisa gigi. Analisa dari sisa – sisa
gigi dapat digunakan untuk menentukan beberapa aspek pada antropologi forensik.
Digunakan bersama dengan osteologi untuk menentukan usia, jenis kelamin dan diet.
Pada orang dewasa terdapat 32 gigi yang pada masing – masing sisinya, pada rahang
atas dan bawah terdapat dua insisivus, satu kaninus, dan dua atau tiga molar. Pada anak
– anak terdapat dua puluh gigi dengan dua insisivus dan satu kaninus serta dua molar
pada masing – masing kuadran.9

4
2.4 Ruang Lingkup Pemeriksaan Antropologi Forensik
2.4.1 Penentuan Kerangka Manusia
Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka yang ditemukan
adalah kerangka manusia. Tulang manusia berbeda dengan tulang hewan dalam hal
struktur, ketebalan, ukuran dan umur penulangan (osifikasi). Setiap manusia memiliki
190 tulang. Tulang ini dibedakan menjadi tulang panjang, pendek, pipih dan tidak
teratur. Tulang panjang didapati pada tangan dan kaki seperti humerus, radius, ulna,
femur, tibia dan fibula. Tulang pendek meliputi klavikula, metacarpal dan metatarsal
(jari tangan dan kaki). Tulang pipih terdapat pada tulang-tulang atap tengkorak seperti
frontal, parietal dan occipital. Tulang tidak teratur adalah tulang vertebra dan basis
cranii. Kesalahan penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang saja.
Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik dan pemeriksaan histologik.1,2,7,10
Pengetahuan mengenai anatomi manusia, berperan penting untuk
membedakannya. Jika tulang yang dikirim utuh atau terdapat tulang skeletal akan
sangat mudah untuk membedakannya, tetapi akan menjadi sangat sulit bila hanya
fragmen kecil yang dikirim tanpa adanya penampakan yang khas. Kesalahan penafsiran
dapat timbul bila hanya sepotong tulan saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan
serologik (reaksi presipitin) dan histologik (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers).
1,2,7,10

Tes presipitin
Tes presipitin yang dikonduksi dengan serum anti human dan ekstrak dari
fragmen juga dapat dapat digunakan untuk mnegetahui apakah tulang tersebut tulang
manusia. Tulang manusia dan binatang juga dapat dibedakan melalui analisa kimia
debu tulang. 1,2,7
Tes presipitin merupakan uji spesifik untuk menentukan spesies dengan cara
terlebih dahulu harus dibuat serum anti manusia. Prinsip pemeriksaan adalah suatu
reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi (antiserum) yang dapat merupakan
reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.1,2,7
Cara pemeriksaan: Antiserum ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil
ekstrak bercak darah ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum. Biarkan
pada temperatur ruangan kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan antibodi
akan mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan.

5
Hasil pemeriksaan: Akan terdapat lapisan tipis endapan atau presipitat pada
bagian antara dua larutan. Pada kasus bercak darah yang bukan dari manusia maka
tidak akan muncul reaksi apapun. 1,2,7

Gambar 2. Ruang lingkup pemeriksaan Antropologi Forensik11

Gambar 3. Anatomi rangka manusia5

2.4.2 Penentuan Jenis Kelamin


Sebelum menentukan jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan tulang, pastikan
dahulu apakah itu tulang manusia atau hewan, apakah tulang itu berasal dari satu atau
beberapa orang, setelah jelas bahwa tulang belulang tersebut adalah tulang manusia dan
berasal dari satu orang atau lebih, barulah ditentukan jenis kelamin.7

6
Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan baru terlihat sesudah pubertas.
Umumnya tulang perempuan lebih kecil, lebih ringan, lebih halus karena tonjolan
tempat perlengketan otot dan tendon kurang menonjol pada perempuan. Tulang-tulang
iga biasanya lebih tipis dan lebih melengkung pada perempuan.12,13
Hal-hal lain yang berhubungan dengan penentuan jenis kelamin berdasarkan
tulang dapat dilihat pada tabel berikut ini.7

Tabel 1. Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan7


No. Tulang Laki-laki Perempuan
1 Sternum - Lebih panjang - Lebih pendek
- Panjang corpus sterni - Panjang corpus sterni
lebih dari 2 kali panjang kurang dari 2 kali
manubrium sterni panjang manubrium
- Pinggir atas sejajar sterni
dengan pinggir atas - Pinggir atas sejajar
vertebra torakal II dengan pinggir bawah
vertebra torakal III
2 Pelvis
- umum - Lebih ramping, kasar - Lebih dangkal, halus
dan tidak begitu lebar dan lebih lebar
- Lebih berat
- os illium - Lebih curam pada - Lebih ringan
- os sacrum posterior - Kurang curam pada
- Pinggir kurang bulat posterior
- symphysis pubis - Panjang dan sempit - Lebih bulat
- Lebih masuk ke dalam - Pendek dan lebar
- Sudut tulang kemaluan - Menonjol keluar
(sub pubic angle) - Sudut tulang kemaluan
o
kurang dari 90 (sub pubic angle) > 90o
3 Sudut antara - Sudut tumpul - Sudut hampir 90o
collum dan corpus
femoris
4 Tulang-tulang - Lebih berat - Lebih ringan
kepala - Cavitas cranium 10% - Cavitas cranium 10%
lebih besar dari lebih kecil dari laki-laki
perempuan
5 Condylus - Lebih menonjol - Kurang menonjol
occipitalis
6 Orbita - Bentuk persegi - Bentuk mebundar
7 Dahi - Curam, kurang - Membundar
membundar

7
8 Tulang pipi - Berat, arkus lebih ke - Ringan, lebih memusat
lateral
9 Glabella, arcus - Lebih menonjol - Kurang menonjol
zygomaticus, arcus
super ciliaris dan
processus
mastoideus
10 Mandibula - Besar, simfisisnya - Kecil, dengan ukuran
tinggi, ramus corpus dan ramus lebih
asendingnya lebar kecil
11 Palatum - Besar dan lebar, - Kecil, cenderung seperti
cenderung seperti huruf parabola
U

Gambar 4. Perbedaan pelvis pria dan wanita9

Gambar 5. Perbedaan tulang tengkorak pria dan wanita5

2.4.3 Penentuan Tinggi Badan14


Penentuan Tinggi Badan
Jika terdapat seluruh kerangka secara lengkap, maka pengukuran tinggi badan
dapat dilakukan dengan pengukuran langsung. Bila hanya terdapat sebagian tulang,

8
perkiraan tinggi badan dapat dilakukan dengan mengukur panjang tulang femur, tibia,
fibula dengan menggunakan rumus tertentu. Panjang femur merupakan dasar
penentuan tinggi badan yang paling baik.14
Apabila seluruh tubuh atau bagian-bagian tubuh dapat seluruhnya ditemukan
maka tidaklah terlalu sulit untuk menentukan tinggi badannya, yaitu dengan
menghimpun kembali dan mengukur langsung tinggi badannya. Tetapi, kadang-kadang
hanya sebagian tubuh saja yang dapat ditemukan atau sebagian kerangka saja. Dalam
hal ini ada beberapa rumus yang dapat dipakai untuk memperkirakan tinggi badan
antara lain:
 Panjang kepala adalah kira-kira 1/8 panjang badan.
 Pertengahan panjang kepala adalah garis tepat di bawah mata.
 Dari dagu ke lubang hidung = lubang hidung ke bawah mata = ¼ panjang
kepala.
 Pubis membagi tinggi badan menjadi 2 sama panjang.
 Tinggi badan kira-kira sama dengan jarak ujung jari ke ujung jari apabila
kedua lengan direntangkan.
 Panjang tangan = ½ panjang lengan bawah = ½ panjang lengan atas.
 ½ panjang tangan = phalang = metacarpal + carpal. 14
Dalam hal keadaan dimana hanya sebagian tulang saja yang didapat, maka
dengan mengukur panjang tulang humerus, radius, ulna, femur, tibia, dan fibula, dan
memasukkan dalam suatu rumus kita dapat memperkirakan panjang/tinggi badannya.
Ada beberapa rumus yang dapat dipakai antara lain: 14
1. Karl Pearson
2. Trotter dan Gleser
3. Dupertuis dan Hadden
4. Regression Formula
5. Rumus Antropologi Ragawi UGM untuk pria dewasa (jawa).
6. Rumus untuk populasi dewasa muda di Indonesia oleh Djaja S.A
Pengukuran tinggi badan dengan memakai rumus-rumus tersebut dilakukan
dengan terlebih dahulu mengukur panjang maksimum dari tulang humerus, radius,
ulna, femur, tibia, dan fibula. Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih
pendek 2 mm dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tinggi badan perlu
diperhatikan. Panjang dari femur dan tibia harus diukur dalam posisi oblique,

9
sedangkan panjang tulang-tulang panjang lainnya diperoleh dengan mengukur tinggi
vertikal maksimum. 14
Adapun cara mengukur panjang maksimum dari tulang-tulang tersebut ialah:
 Panjang maksimal tulang humerus:
Diukur dari jarak lurus antara ujung paling proksimal pada caput humeri dan
titik paling distal pada trochlea humeri.
 Panjang maksimal tulang radius:
Diukur dari jarak lurus antara ujung paling proximal pada caput radius dan
titik paling distal pada processus styloideus.
 Panjang maksimal tulang ulna:
Diukur dari jarak lurus antara ujung paling proximal pada olecranon dan titik
paling distal pada processus styloideus.
 Panjang maksimal tulang femur:
Diukur dari jarak lurus antara ujung paling proximal pada caput femoris dan
titik paling distal pada condylus medial.
 Panjang maksimal tulang tibia:
Diukur dari jarak lurus antara ujung paling proximal pada tuberculum
intercondylus dan titik paling distal pada malleolus medialis.
 Panjang maksimal tulang fibula:
Diukur dari jarak lurus antara ujung proximal pada apex capitis fibula dan titik
paling distal pada malleolus lateralis. 14
Tulang-tulang yang mempunyai korelasi tinggi terhadap tinggi badan antara:
femur (r = 0,8), tibia (r = 0,8), humerus (r = 0,7), dan radius (r = 0,7). Kombinasi dari
tulang panjang tentu lebih reliable dari pada hanya satu tulang saja, terutama bila
terdapat femur + tibia. 14

Di bawah ini diberikan rumus-rumus dalam menentukan tinggi badan: 14


1) Rumus dari Karl Pearson
Laki-Laki:
Tinggi badan = 81,306 + 1,88 Femur
Tinggi badan = 70,641 + 2,894 Humerus
Tinggi badan = 78,664 + 2,376 Tibia
Tinggi badan = 85,925 + 3,271 Radius
Tinggi badan = 71,272 + 1,159 (F + T)

10
Tinggi badan = 69,855 + 1,73 (H + R)
Tinggi badan = 69,788 + 2,769 H + 0,195 R
Tinggi badan = 68,397 + 1,03 F + 1,557 H
Tinggi badan = 67,049 + 0,913 F + 0,6 T + 1,225 H – 0,187 R
Wanita:
Tinggi badan = 72,884 + 1,945 F
Tinggi badan = 71,475 + 2,754 H
Tinggi badan = 74,774 + 2,352 T
Tinggi badan = 81,224 + 3,343 R
Tinggi badan = 69,154 + 1,126 (F + T)
Tinggi badan = 69,154 + 1,126 F + 1,126 T
Tinggi badan = 69,911 + 1,628 (H + R)
Tinggi badan = 70,542 + 2,582 H + 0,281 R
Tinggi badan = 67,435 + 1,339 F + 1,027 H
Tinggi badan = 67,469 + 0,782 F + 1,12 T + 1,059 H + 0,711 R

2) Rumus dari Trotter dan Gleser (untuk laki-laki ras mongoloid)


Tinggi badan = 2,68 H + 83,2 ± 4,3
Tinggi badan = 3,54 R + 82,0 ± 4,6
Tinggi badan = 3,48 U + 77,5 ± 4,8
Tinggi badan = 2,15 F + 72,6 ± 3,9
Tinggi badan = 2,39 T + 81,5 ± 3,3
Tinggi badan = 1,67 (H+R) + 74,8 ± 4,2
Tinggi badan = 1,68 (H+U) + 71,2 ± 4,1
Tinggi badan = 1,22 (F+T) + 70,4 ± 3,2
(±) adalah nilai standar error, yang dapat dikurangi atau ditambahkan pada
nilai yang diterima dari kalkulasi, makin kecil SE makin tepat taksiran
menurut rumus regresi.

3) Rumus Antropologi Ragawi UGM untuk pria dewasa (jawa)


Tinggi badan = 897 + 1,74 (F kanan)
Tinggi badan = 822 + 1,90 (F kiri)
Tinggi badan = 879 + 2,12 (T kanan)
Tinggi badan = 847 + 2,22 (T kiri)

11
Tinggi badan = 867 + 2,19 (F kanan)
Tinggi badan = 883 + 2,14 (F kiri)
Tinggi badan = 847 + 2,60 (H kanan)
Tinggi badan = 805 + 2,74 (H kiri)
Tinggi badan = 842 + 3,45 (R kanan)
Tinggi badan = 862 + 3,40 (R kiri)
Tinggi badan = 819 + 3,15 (U kanan)
Tinggi badan = 847 + 3,06 (U kiri), (note: semua ukuran mm).

4) Rumus dari Djaja S.A


Pria
TB = 72,9912 + 1,7227 T + 0,7545 F (± 4,2961 cm)
TB = 75,9800 + 2,3922 T (± 4,3572 cm)
TB = 80,8078 + 2,2788 F (± 4,6186 cm)
Wanita
TB = 71,2817 + 1,3346 T + 1,0459 F (± 4,8684 cm)
TB = 77,4717 + 2,1889 T (± 4,9526 cm)
TB = 76,2772 + 2,2522 F (± 5,0226 cm)

Keterangan :
- Fe = Panjang maksimal Femur
- H = Panjang maksimal Humerus
- U = Panjang maksimal Ulna
- T = Panjang maksimal Tibia
- R = Panjang maksimal Radius
- F = Panjang maksimal Fibula14

2.4.4 Penentuan Perkiraan Umur1


Perkiraan umur seseorang dapat ditentukan berdasarkan hal-hal berikut:
a) Penutupan sutura
Pemeriksaan terhadap penutupan sutura pada tulang-tulang atap tengkorak
berguna untuk memperkirakan umur sudah lama diteliti dan telah berkembang
berbagai metode. Namun, pada akhirnya hampir semua ahli menyatakan bahwa cara

12
ini tidak akurat dan hanya digunakan dalam lingkup dekade (umur 20-30-40 tahun)
atau mid-dekade (umur 25-35-45 tahun) saja.

Gambar 6. Perbedaan sutura yang terbuka dan tertutup5

Gambar 7. Perkiraan tengkorak menurut umur10

b) Pertumbuhan dan perkembangan badan


Proses pertumbuhan dimulai sejak terjadi konsepsi dan berlangsung terus
sampai umur dewasa, kemudian stabil dan pada umur tua relatif berkurang. Sesudah
dilahirkan, umur dapat diperkirakan sesuai golongan pertumbuhan dan
perkembangan badan, antara lain bayi, balita, anak-anak, dewasa muda.

c) Tinggi dan berat badan


Pada janin, bayi baru lahir dan anak-anak sampai masa pubertas, umur dapat
ditentukan berdasarkan tinggi (panjang) dan berat badan. Beberapa faktor harus
dipertimbangkan antara lain keturunan, bangsa, gizi dan lain-lain. Pada orang
dewasa, penentuan umur berdasarkan tinggi dan berat badan tidak dapat
dipergunakan lagi. Berikut ini adalah tabel yang memperlihatkan hubungan antara
umur, tinggi (panjang), berat badan dan pusat penulangan bayi.

13
Tabel 2. Hubungan umur, tinggi, berat badan dan pusat penulangan1
Pusat
No. Umur Tinggi (panjang) Berat badan Tanda lain
penulangan
1 4 bulan 6-9 inci (15-20 cm) 60-120 g Segmen -
terbawah
dari sacrum
2 5 bulan 10 inci (25 cm) 500-750 g Os -
calcaneus
3 6 bulan 12 inci (30 cm) 1000 g Manubrium -
sterni
4 7 bulan 14 inci (35 cm) 1500 g Os talus Testis pada
anulus
inguinalis
interna

5 8 bulan 16 inci (40 cm) 2500 g Sternum -


bawah
6 9 bulan 19-20 inci (45-50 cm) 2500-3500 g Distal Aterm
femur, (cukup
proksimal bulan)
tibia dan os
cuboid

Panjang bayi baru lahir berkisar antara 47.5 sampai 52.5 cm (rata-rata 50 cm).
Pada umur 6-12 bulan, panjang bayi adalah 60 cm, pada umur 1 tahun adalah 67.5
cm dan pada umur 4 tahun panjang bayi ± 2 kali panjang waktu lahir (lebih kurang
100 cm).
Umur bayi dalam kandungan bisa ditentukan dengan formula de Haas, yaitu:
- Umur bayi 1-5 bulan sama dengan akar pangkat dua dari panjang badan (dalam
cm).
- Umur bayi 5-10 bulan sama dengan panjang badan (cm) dibagi dengan 5.

Sesudah bayi lahir, pada mulanya berat badannya akan turun, kemudian berat
badannya akan bertambah 120 gram setiap minggu atau 500 gram setiap bulannya.
Pada umur 6 bulan, berat badannya dua kali berat waktu lahir. Pada umur 1 tahun,
berat badannya tiga kali berat waktu lahir.

d) Gigi-geligi9
Ada 2 jenis gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu (milk teeth)
disebut gigi sementara atau dens decidui, jumlahnya 20 buah, terdiri atas 4 buah
insisivus, 2 caninus dan 4 molar di setiap rahang. Bayi akan mengalami
pertumbuhan gigi susu pada umur 6 bulan dan selesai pertumbuhannya pada umur

14
24 bulan. Jika ada gigi susu insisivus tumbuh, maka umurnya diperkirakan sekitar 6-
8 bulan.
Gigi permanen (permanent teeth) disebut gigi tetap, jumlahnya 32 buah,
terdiri atas 4 buah insisivus, 2 caninus, 4 premolar dan 6 molar di setiap rahang.
Penentuan umur berdasarkan jumlah dan jenis gigi hanya dapat ditentukan
secara umum sampai umur 17-25 tahun. Di atas umur ini yang diperhatikan adalah
keausan gigi (atrisi), warna dan lain-lain.
Gustafson menemukan formula penentuan umur di atas 18-20 tahun
berdasarkan adanya perubahan gigi karena penuaan dan pembusukan gigi (ageing
and decaying changes). Perubahan ini meliputi atrisi, peridontosis, dentin sekunder,
resorpsi akar, aposisi sementum dan transparensi akar gigi. Formula Gustafson ini
hanya dapat dipakai untuk penentuan umur pada orang yang telah meninggal karena
gigi harus dicabut dari soket gigi, kecuali pada orang hidup pengamatan atrisi dan
peridontosis dapat dilakukan tanpa pencabutan gigi.

Gambar 8. Erupsi gigi susu dan permanen9

e) Pemeriksaan rahang bawah


Perubahan rahang bawah terjadi sejalan dengan pertambahan umur. Bisa
dibedakan rahang bayi, dewasa dan orang tua. Rahang bayi corpusnya dangkal dan
ramusnya sangat pendek serta membentuk sudut 140o terhadap corpus dari rahang
tersebut.

15
Pada rahang dewasa, corpus menjadi lebih tebal dan panjang serta sudut antara
ramus dan corpus menjadi 90o. Pada orang tua, batas dari prosesus alveolaris mulai
hilang dan corpus akan mulai dangkal kembali serta sudut antara ramus dan corpus
akan kembali menjadi tumpul.

Gambar 9. Perkembangan rahang bawah8


f) Pusat penulangan (ossification centre) dari tulang-tulang
Pemeriksaan terdahap pusat penulangan sering digunakan untuk perkiraan
umur pada tahun-tahun pertama kehidupan. Biasanya berkaitan dengan kasus
abortus dan infanticide. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan foto
radiologis atau dengan melakukan pemeriksaan langsung terhadap pusat penulangan
pada tulang.
g) Penutupan garis epifisis pada tulang panjang
Penentuan umur dengan menggunakan penutupan garis epifisis pada tulang
panjang ini terutama dipakai pada anak-anak yang sedang tumbuh. Pemastian
penutupan ini hanya dapat ditentukan secara radiologis. Garis epifisis pada tulang
humerus bagian distal menutup pada umur 13-15 tahun pada perempuan dan 14-15
tahun pada laki-laki. Pada tulang radius bagian proksimal menutup pada umur 13-14
tahun pada perempuan dan 14-15 tahun pada laki-laki. Pada tulang ulna bagian distal
menutup pada umur 17 tahun pada perempuan dan 18 tahun pada laki-laki. Pada
tulang clavicula bagian medial menutup pada umur 20 tahun pada perempuan dan 22
tahun pada laki-laki. Penulangan tulang rawan pada garis epifisis pada wanita terjadi
lebih dahulu dari laki-laki.14

16
BAB III
PENUTUP

Antropologi forensik adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi


fisik untuk proses hukum. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk membantu
penyidik dan penegak hukum untuk mengidentifikasi terutama pada temuan
rangka tak dikenal. Sehingga dari identifikasi pada kerangka (antropologi
forensik) dapat dibuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia,
jenis kelamin, perkiraan umur, dan tinggi badan.
Jenis kelamin dapat dianalisis dengan memeriksa dimorfisme dan ukuran
dari tengkorak, tulang panggul, dan tulang-tulang panjang. Tinggi badan
seseorang dapat diperkirakan dari panjang tulang tertentu, menggunakan rumus
yang dibuat ahli seperti Rumus Karl Pearson, Trotter dan Gleser untuk
Mongoloid, Rumus dari Djaja Surya Atmadja untuk populasi dewasa muda di
Indonesia. Penentuan umur dapat dilakukan dengan pemeriksaan penutup
sutura, inti penulangan, penyatuan tulang serta pemeriksaan gigi.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Garrison DHJR. Crime Scene Protection. http://www.crimeandclues.com


[diakses 23 November 2018]
2. Amir A. 2005. Identifikasi. Dalam: Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi
Kedua. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.Medan.
3. Kumar A, Harish D, Singh A, Kulbhushan, Kumar, GAS. 2014. Revie Research
Paper Unknown Dead Bodies: Problems and Solutions.J. Indian Acad Forensid
Med. Vol.36, No 1
4. James JP, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011. Simpson’s Forensic Medicine.
13rd edition. Saffron House, London. Page 35-41
5. RW. The Forensic Anthropologist. http://www.crimeandclues.com [diakses
23 November 2018]
6. Forensic Anthropology. http://www.mnsu.edu.html [diakses 23 November
2018]
7. American Board of Forensic Anthropology. http://www.abfahomepage.com
[diakses 23 November 2018]
8. Brand H. What is Forensic Anthropology. http://www.csc.villanova.edu.html
[diakses 23 November 2018]
9. Adamson Marci. Forensic Antrhopology and Human Osteology Resources.
http://www.forensicantrho.com [diakses 23 November 2018]
10. Albert Midori. The Forensic Anthropology In Focus. http://www.all-
aboutforensic- science.com [diakses 23 November 2018]
11. Forensic Anthropology. http://www.librarythinkguest.org [diakses 23
November 2018]
12. Minnesota State University Mankato. http://www.mnsu.edu [diakses 23
November 2018]

18
13. Rhine Stan. Forensic Antrhopology. Human Biological Variation.
http://www.library.med.utah.edu [diakses 23 November 2018]
14. Hoediyanto, Hariadi A. 2010. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Ed. 7. Surabaya: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

19