Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

NEURODERMATITIS DENGAN INFEKSI SEKUNDER

PEMBIMBING :

Dr. Doddy Suhartono, Sp. KK, MH

PENYUSUN :

Izzati Saidah

030.13.234

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL

PERIODE 10 DESEMBER 2018 – 12 JANUARI 2019

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

1
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus dengan judul :

“NEURODERMATITIS DENGAN INFEKSI SEKUNDER”

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepanitraan Klinik
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal

Periode 10 Desember 2018 – 12 Januari 2019

Disusun Oleh

Izzati Saidah

030.13.234

Tegal, Januari 2019

Dr. Doddy Suhartono, Sp. KK, MH

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Kuasa, atas
segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
kasus referat yang berjudul “NEURODERMATITIS DENGAN INFEKSI SEKUNDER”
dengan baik dan tepat waktu. Laporan Kasus ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
Kepaniteraan Klinik Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Tegal periode 10 Desember 2018 – 12
Januari 2019. Di samping itu, juga ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya
kepada Dr. Doddy Suhartono, Sp. KK, MH selaku pembimbing dalam penyusunan laporan
kasus ini, serta kepada Dr. Nadiah, Sp.KK, M.Kes yang telah membimbing penulis selama
di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah
Kardinah Tegal. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada rekan – rekan anggota
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah
Kardinah Tegal serta berbagai pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada
penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput
dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan, kritik maupun
saran yang membangun. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar –
besarnya, semoga tugas ini dapat memberikan tambahan informasi dan manfaat bagi kita
semua.

Tegal, Januari 2019


Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

Liken simpleks kronikus adalah penebalan kulit dengan skala variable yang timbul
sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang. Peradangan kulit kronis, gatal,
sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi)
menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena
berbagai rangsangan pruritogenik.(1) Secara histologis, karakteristik likenifikasinya adalah
akantosis dan hyperkeratosis dan secara klinis muncul penebalan dari kulit, utamanya pada
permukaan kulit.(2,3)

Liken simpleks kronikus atau Neurodermatitis sirkumskripta merupakan proses yang


sekunder ketika seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah kulit yang spesifik dengan
atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang dapat mengakibatkan trauma mekanis pada
kulit yang berakhir dengan likenifikasi. Penyakit ini biasanya timbul pada pasien dengan
kepribadian yang obsessif, dimana selalu ingin menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya.(2,3)

Berdasarkan hasil penelitian 12% dari populasi orang dewasa dengan keluhan kulit
gatal menderita liken simplek kronik. Tidak ada kematian akibat liken simplek kronik.(11)
Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak, karena neurodermatitis merupakan penyakit
yang bersifat kronis dan dipengaruhi oleh keadaan emosi dan penyakit yang
mendasarinya.(4,5) Kecemasan telah dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang
mengakibatkan liken simpleks kronikus. Kecemasan sebagai bagian dari proses patologis
dari lesi yang berkembang. Telah dirumuskan bahwa neurotransmitter yang mempengaruhi
perasaan, seperti dopamine, serotonin, atau peptide opioid, memodulasikan persepsi gatal
melalui penurunan jalur spinal.(3)

Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien. Penyebab utama dari
gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali. Pencegahan pada tahap awal dapat
menghambat proses penyakit ini.(6)

4
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. NF

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 14 Thn

Status pernikahan : Belum menikah

Alamat : Jln. Salak No.25, Tegal Barat

Pekerjaan : Pelajar (SMP)

Agama : Islam

Suku bangsa : Jawa

No. Rm : 912645

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 12 Desember 2018 pada
pukul 11.00 bertempat di Poli Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal.

1. Keluhan utama
Gatal di daerah payudara kanan sejak 2 bulan yang lalu

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik penyakit kulit dan kelamin RSUD Kardinah Tegal
diantar ibunya dan dengan keluhan gatal di payudara kanan sejak 2 bulan yang
lalu. Gatal hilang timbul dan biasanya timbul di rumah saat istirahat, sehingga
saat gatal timbul pasien sering menggaruk di daearah tersebut. Pasien mengatakan
awalnya di payudara kanan tersebut hanya gatal saja, tetapi karna pasien
menggaruk terus sehingga daerah tersebut menjadi merah, nyeri, dan sedikit
terdapat cairan yang berwarna kekuningan, dan sisik halus berwarna putih.

5
Awalnya bercak sisik halus seperti kulit yang mengelupas tersebut sedikit, tetapi
lama-kelamaan semakin lama kelamaan semakin meluas. Pasien mengatakan
akhir-akhir ini tidak sedang banyak pikiran/stress.
Pasien sudah ke klinik dokter sebanyak 5 kali di klinik yang sama untuk
mengatasi keluhan saat ini, pasien juga sudah menggunakan salep yang dioleskan
pada daerah yang gatal tersebut, tetapi keluhan tersebut tidak membaik dan gatal
masih terus dirasakan sampai saat ini. Tidak ada keluhan pada payudara kiri,
demam, sakit kepala, dan lemas disangkal. BAK dan BAB lancar.

3. Riwayat penyakit dahulu


Pasien sebelumnya pernah mengalami gatal-gatal, seperti yang dialami saat ini di
daerah kaki 1 tahun yang lalu, tetapi sudah berobat dan saat ini sudah sembuh.
Riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan disangkal.

4. Riwayat keluarga
Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan seperti yang dirasakan pasien saat
ini. Ibu pasien memiliki riwayat alergi makanan.

5. Riwayat lingkungan dan kebiasaan


Pasien seorang pelajar dan tinggal didaerah padat penduduk bersama orang tua
dan adiknya. Pasien tinggal di rumah dengan ventilasi yang kurang.

6. Riwayat pengobatan
Pasien sudah ke klinik dokter sebanyak 5 kali di klinik yang sama untuk mengatasi
keluhan saat ini, pasien juga sudah menggunakan salep yang dioleskan pada
daerah yang gatal tersebut, tetapi keluhan tersebut tidak membaik dan gatal masih
terus dirasakan sampai saat ini.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan umum
- Kesan Sakit : Tampak sakit ringan
- Kesadaran : Compos mentis

6
- BB : 68 kg
- TB : 160 cm
- Kesan Gizi : Cukup
- Tanda Vital :
 Tekanan darah : 110/70 mmHg
 Nadi : 70 x/menit
 Pernapasan : 16 x/menit
 Suhu : 36,5o C

B. Status Generalis
Kepala dan wajah Rambut Distribusi rambut merata, dan tidak mudah dicabut

Kulit Lesi (-), rash (-), scar (-), massa (-), deformitas (-),
sianotik (-), ikterik (-), edema (-).

Mata Konjungtiva tidak anemis, ptosis (-), sclera ikterik (-), mata
cekung (-), pupil bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, refleks pupil
langsung dan tidak langsung (+/+).

Hidung Deviasi septum (-/-), sekret (-/-)

Telinga Liang telinga tampak lapang, hiperemis (-/-), serumen (-/-)

Mulut Sianosis (-), caries gigi (-)

Leher JVP normal, pembesaran tiroid (-), letak trakea di tengah, deviasi
trakea (-). Pembesaran KGB leher dan supraklavikular (-),
pembesaran kelenjar parotis (-).

Thorax

Jantung Inspeksi Ictus Cordis tidak terlihat, Terdapat kelainan


kulit (Lihat Status Dermatologis)

Palpasi Ictus cordis (+) pada ICS V linea midclavicular


sinistra

7
Perkusi Batas jantung kanan : ICS III - V , linea sternalis
dextra

Batas jantung kiri : ICS V , 1 cm medial dari linea


midklavikularis sinistra

Batas atas jantung : ICS II linea sternalis sinistra

Auskultasi S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-).

Paru Inspeksi Gerakan napas simetris tanpa adanya bagian


yang tertinggal, lesi (-), pernapasan
abdominothoracal, retraksi (-).

Palpasi Gerak simetris, vocal fremitus sama kuat pada


kedua hemithorax

Perkusi Sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar


pada sela iga VI pada linea midklavikularis
dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa,
batas paru-lambung pada sela iga ke VIII pada
linea axilatis anterior sinistra

Auskultasi Vesikuler +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-

Abdomen Inspeksi Smiling Umbilicus (-) caput medusae (-), spider


navy (-).

Auskultasi Bising usus normal (2x/menit)

Palpasi Supel, hepar dan lien tidak teraba, tidak terdapat


nyeri tekan dan tidak ada undulasi

Perkusi Timpani di seluruh lapang abdomen

Ekstremitas Akral hangat di ke empat ekstremitas, sianotis (-), ikterik (-),


deformitas (-), edema (-), CRT normal (<2 detik).

8
C. Status Dermatologis :
 Distribusi: Regional
 Ad regio: Thoracic (Regio Mammary)
 Lesi: berbatas tegas
 Efloresensi: Makula eritematosa hingga hiperpigmentasi, pus, erosi,
skuama, dan likenifikasi.

Gambar 1. Payudara Kanan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang, tetapi untuk lebih
memastikan penegakan diagnosis kerja, usulan pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan berupa :
1. Histopatologi
Gambaran histopatologik neurodermatitis sirkumskripta berupa ortokeratosis,
hipergranulosis, akantosis, dengan rate ridges memanjang teratur. Bersebukan sel

9
radang limfosit dan histiosit di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas,
fibroblas bertambah, dan kolagen menebal. Pada prurigo nodularis akantosis pada
bagian tengah lebih tebal, menonjol lebih tinggi dari permukaan, sel Schwan
berproliferasi, dan terlihat hiperplasi neural. Kadang terlihat krusta yang menutup
sebagian epidermis.(7)

V. RESUME
Nn. NF, 14 datang ke poliklinik penyakit kulit dan kelamin RSUD Kardinah
Tegal diantar ibunya dan dengan keluhan gatal di payudara kanan sejak 2 bulan yang
lalu. Gatal hilang timbul dan biasanya timbul di rumah saat istirahat, sehingga saat
gatal timbul pasien sering menggaruk di daearah tersebut. Pasien mengatakan
awalnya di payudara kanan tersebut hanya gatal saja, tetapi karna pasien menggaruk
terus sehingga daerah tersebut menjadi merah, nyeri, dan sedikit terdapat cairan yang
berwarna kekuningan, dan sisik halus berwarna putih. Awalnya bercak sisik halus
seperti kulit yang mengelupas tersebut sedikit, tetapi lama-kelamaan semakin lama
kelamaan semakin meluas. Pasien mengatakan akhir-akhir ini tidak sedang banyak
pikiran/stress.
Pasien sudah ke klinik dokter sebanyak 5 kali di klinik yang sama untuk
mengatasi keluhan saat ini, pasien juga sudah menggunakan salep yang dioleskan
pada daerah yang gatal tersebut, tetapi keluhan tersebut tidak membaik dan gatal
masih terus dirasakan sampai saat ini. Tidak ada keluhan pada payudara kiri, demam,
sakit kepala, dan lemas disangkal. BAK dan BAB lancar. Pasien sebelumnya pernah
mengalami gatal-gatal, seperti yang dialami saat ini di daerah kaki 1 tahun yang lalu,
tetapi sudah berobat dan saat ini sudah sembuh. Riwayat alergi terhadap obat-obatan
dan makanan disangkal. Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan seperti yang
dirasakan pasien saat ini. Ibu pasien memiliki riwayat alergi makanan. Pasien seorang
pelajar dan tinggal didaerah padat penduduk. Pasien tinggal di rumah dengan ventilasi
yang kurang.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal.
Sedangkan pada status dermatologikus didapatkan adanya lesi yang terdisitribusi
secara regional pada daerah thorax regio Mammary dextra, lesi berbatas tegas, dengan

10
efloresensi makula eritematosa hingga hiperpigmentasi, pus, erosi, skuama, dan
likenifikasi.

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Dermatitis Atopi Disertai Likenifikasi
Dermatitis atopi Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan
dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit pada
remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan berskuama atau
plak likenifikasi yang gatal.(7)

Gambar 2. Dermatitis Atopi Pada Anak

2. Plak Psoriasis
Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan
karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih keperakan, skuama
yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena tetesan lilin, auspitz dan
kobner. Lokasi terbanyak ditemukan didaerah ekstensor. Penyebabnya belum
diketahui secara pasti, tetapi beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa
penyakit ini bersifat autoimun, dan residif.(7)

11
Gambar 3. Plak Psoriasis

3. Liken Planus
Lesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan dengan warna
kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering ditemukan
pada permukaan fleksor dari ekstremital, genitalia dan membrane mukus. Mirip
dengan reaksi mediasi imunologis. Liken planus ditandai dengan papul-papul
yang mempunyai warna dan konfigurasi yang khas. Papul-papul berwarna merah
biru, berskuama, dan berbentuk siku-siku.

Gambar 4. Liken Planus

VIII. DIAGNOSIS KERJA


Neurodermatitis Dengan Infeksi Sekunder

12
IX. PENATALAKSANAAN
 Nonfarmakologi
Edukasi Pasien :
1. Anjurkan agar pasien tidak menggaruk lagi, karena penyakit ini akan bertambah
berat jika terus digaruk oleh pasien
2. Memilih sabun yang lembut.
3. Menggunakan pakaian yang berbahan cotton sehingga mengurangi iritasi.

 Farmakologi
1. Sistemik
a. Tab. Ceterizine 7,5 mg 2x1
b. Tab. Metil prednisolone 4 mg 2x1
c. Tab. Cefadroxyl 500mg 2x1
2. Topikal
a. Clobetasol oint 5 gram 2x1 (Pagi dan Sore)

X. PROGNOSIS

Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

13
BAB III
PEMBAHASAN

Neurodermatitis sirkumskripta adalah suatu bentuk peradangan kulit yang kronik,


ditandai dengan gatal yang hebat dan kelainan ini juga ditandai dengan penebalan daerah
kulit seperti kulit pohon.(8,9) Disebabkan oleh karena faktor seperti, gosokan (rubbing) dan
garukan (scratching), hubungan dengan kelainan atopik 26-75%, tetapi dapat terjadi sekunder
disebabkan oleh penyakit kulit iritan lainnya, faktor lingkungan, yaitu panas, keringat,dan
iritasi serta faktor stres emosi atau depresi.(10)

Gambar 5. Neurodermatitis Sirkumskripta

Liken simplek kronik tidak memandang ras dalam penyebarannya. Diketahui bahwa
insiden terjadi lebih sering pada wanita daripada pria. Penyakit ini sering muncul pada usia
dewasa, terutama usia 30 hingga 50 tahun. Pasien dengan koeksistensi dermatitis atopi
cenderung memiliki onset umur yang lebih muda (rata-rata 19 tahun) dibandingkan dengan
pasien tanpa atopi (rata-rata 48 tahun).(12) Dilihat dari ras dan suku bangsa, Asia terutama ras
mongoloid lebih sering terkena penyakit ini kemungkinan karena faktor protein yang
dikonsumsinya berbeda dengan ras dan suku bangsa lainnya.(4,5) Teori tersebut sesuai dengan
pasien, karena pasien berjenis kelamin perempuan,seorang pelajar, dan masih tergolong usia
muda, yaitu 14 Tahun.

Penyebab liken simpleks kronikus belum diketahui secara pasti. Namun ada berbagai
faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada penyakit ini, faktor penyebab dari liken
simpleks kronikus dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

14
A. Faktor Eksterna
1. Lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat berimplikasi
dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi gatal. Suhu yang tinggi
memudahkan seseorang berkertingat sehingga dapat mencetuskan gatal, hal ini
biasanya menyebabkan liken simpleks kronikus pada anogenital.
2. Gigitan serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang
mengakibatkan rasa gatal.(3)

B. Faktor Interna
1. Dermatitis atopic
Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan ganguan atopic telah banyak
dilaporkan, sekitar 26 % sampai 75 % pasien dengan dermatitis atopic terkena
liken simplek kronikus.
2. Psikologis

Berdasarkan hasil anamnesis yang dilakukan pasien, didapatkan bahwa pasien tinggal di
lingkungan yang cukup panas dan padat, Sehingga pasien terkadang merasakan gatal di
tubuhnya, terutama saat ini di daerah payudara kanan.

Stimulus untuk perkembangan neurodermatitis sirkumskripta adalah pruritus.


Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat berhubungan dengan gangguan kulit,
proliferasi dari nervus, dan tekanan emosional. Pruritus yang memegang peranan penting
dapat dibagi dalam dua kategori besar, yaitu pruritus tanpa lesi dan pruritus dengan lesi.
Pasien dengan neurodermatitis mempunyai gangguan metabolik atau gangguan hematologik.
Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada penyakit sistemik, misalnya gagal ginjal
kronik, obstruksi kelenjar biliaris, Hodgkins lymphoma, polisitemia rubra vera,
hipertiroidisme, gluten-sensitive enteropathy, dan infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang
disebabkan oleh kelainan kulit yang terpenting adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak
alergi, dan gigitan serangga.(3)

15
Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronik dapat menimbulkan
penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang nyata dari garukan, maka
disebut neurodermatitis sirkumskripta.Adanya garukan yang terus-menerus diduga karena
adanya pelepasan mediator dan aktivitas enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti
melaporkan bahwa garukan dan gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya
sejumlah saraf mengandung immunoreaktif CGRP (Calsitonin Gene-Related Peptida) dan
SP (Substance Peptida) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo nodularis,
tetapi tidak pada neurodermatitis sirkumskripta. Sejumlah saraf menunjukkan imunoreaktif
somatostatin, peptide histidine, isoleucin, galanin, dan neuropeptida Y, dimana sama pada
neurodermatitis sirkumskripta, prurigo nodularis dan kulit normal. Hal tersebut menimbulkan
pemikiran bahwa proliferasi nervus akibat dari trauma mekanik, seperti garukan dan goresan.
SP dan CGRP melepaskan histamin dari sel mast, dimana akan lebih menambah rasa gatal.
Membran sel schwann dan sel perineurium menunjukkan peningkatan dan p75 nervus growth
factor, yang kemungkinan terjadi akibat dari hyperplasia neural. Pada papilla dermis dan
dibawah dermis alpha-MSH (Melanosit Stimulating Hormon) ditemukan dalam sel endotel
kapiler.(3,7,13)

Gatal yang berat merupakan gejala dari liken simpleks kronik. Menggosok dan
menggaruk mungkin disengaja dengan tujuan menggantikan sensasi gatal dan nyeri, atau
dapat secara tidak sengaja yang terjadi pada waktu tidur. Penderita mengeluh gatal sekali,
bila timbul malam hari dapat mengganggu tidur. Rasa gatal memang tidak terus menerus,
biasanya pada waktu yang tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk.
Penderita merasa enak bila digaruk, setelah luka baruhilang rasa gatalnya untuk sementara
(karena diganti dengan rasa nyeri). Keparahan gatal dapat diperburuk dengan berkeringat,
suhu atau iritasi dari pakaian. Gatal juga dapat bertambah parah pada saat terjadi stress
psikologis.(3,7)

Pada liken simpleks kronik, penggosokan dan penggarukan yang berulang


menyebabkan terjadinya likenifikasi (penebalan kulit dengan garis-garis kulit semakin
terlihat) plak yang berbatas tegas dengan ekskoriasis, sedikit edematosa, lambat laun edema
dan eritema menghilang. Bagian tengah berskuama dan menebal, sekitarya hiperpigmentasi,
batas dengan kulit normal tidak jelas. Biasanya, hanya satu plak yang tampak, namun dapat
melibatkan lebih dari satu tempat.(3)

16
Tempat yang biasa terjadi liken simpleks kronik adalah di skalp, tengkuk, samping
leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut,
tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian bagian depan, dan punggung kaki.
Neurodermatitis di daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak
kecil, di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke skalp. Biasanya skuamanya banyak
menyerupai psoriasis.(7)

Variasi klinis dapat berupa prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan tangan
penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah,
permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama, lambat laun menjadi keras dan
berwarna lebih gelap (hiperpigmentasi). Lesi biasanya multiple, lokalisasi tersering di
ekstremitas.(7)

Teori tersebut sesuai seperti yang dialami pasien, berdasarkan hasil anamnesis pasien
mengatakan bahwa awalnya keluhan hanya berupa gatal, Gatal hilang timbul dan biasanya
timbul di rumah saat istirahat, sehingga saat gatal timbul pasien terus menerus menggaruk
sehingga timbul merah, nyeri, dan sedikit terdapat cairan yang berwarna kekuningan, dan
sisik halus berwarna putih. Awalnya bercak sisik halus seperti kulit yang mengelupas tersebut
sedikit, tetapi lama-kelamaan semakin lama kelamaan semakin meluas.

Diagnosis untuk liken simpleks kronis dapat ditegakkan melalui anamnesis,


pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta
mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena
mengalami proses likenifikasi. Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher,
ekstensor kaki, siku, lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa
gatal muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan aktivitas dan
biasanya gatal timbul intermiten.(3)

Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas, dan terjadi
likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi. Pada pemeriksaan
penunjang histopatologi didapatkan adanya hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis,
akantosis dengan pemanjangan rete ridges, hipergranulosis dan perluasan dari papil dermis.
(2,3)

17
Gambar 6. Predileksi Tersering Pada Neurodermatitis

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada pasien maka sesuai
dengan tinjauan pustaka, didapatkan status dermatologis pasien adalah adanya lesi distribusi
regional, pada regio Thoracic (Regio Mammary), lesi berbatas tegas, dan didapatkan
efloresensi berupa makula eritematosa hingga hiperpigmentasi, pus, erosi, skuama, dan
likenifikasi.Pemeriksaan penunjang pada pasien ini tidak dilakukan, tetapi secara teori untuk
lebih memastikan diagnosis, maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
neurodermatits, yaitu :

1. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk neurodermatitis
sirkumskripta. Pada pasien dengan pruritus generalisata yang kronik yang diduga
disebabkan oleh gangguan metabolik dan gangguan hematologi, maka pemeriksaan
hitung darah harus dilakukan, juga dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid,
elechtroporesis serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron
binding capacity). Kadar immunoglobulin E dapat meningkat pada neurodermatitis yang
atopik, tetapi normal pada neurodermatitis nonatopik.(13)

18
2. Histopatologi
Gambaran histopatologik neurodermatitis sirkumskripta berupa ortokeratosis,
hipergranulosis, akantosis, dengan rate ridges memanjang teratur. Bersebukan sel radang
limfosit dan histiosit di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas, fibroblas bertambah,
dan kolagen menebal. Pada prurigo nodularis akantosis pada bagian tengah lebih tebal,
menonjol lebih tinggi dari permukaan, sel Schwan berproliferasi, dan terlihat hiperplasi
neural. Kadang terlihat krusta yang menutup sebagian epidermis.(7)

Terdapat beberapa diagnosis banding pada pasien ini, yaitu Dermatitis Atopi Disertai
Likenifikasi. Dermatitis atopi Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan
kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya
di lipatan. Gambaran lesi kulit pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler,
eritematosa, dan berskuama atau plak likenifikasi yang gatal.(7)

Kedua adalah plak Psoriasis. Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang
kronik, dengan karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih keperakan,
skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena tetesan lilin, auspitz dan
kobner. Llokasi terbanyak ditemukan didaerah ekstensor. Penyebabnya belum diketahui
secara pasti, tetapi beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat
autoimun, dan residif.(7)

Ketiga adalah liken Planus. Lesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan
dengan warna kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering ditemukan
pada permukaan fleksor dari ekstremital, genitalia dan membrane mukus. Mirip dengan
reaksi mediasi imunologis. Liken planus ditandai dengan papul-papul yang mempunyai
warna dan konfigurasi yang khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan
berbentuk siku-siku.

Penatalaksanaan pengobatan utama dari neurodermatitis adalah untuk mengurangi


pruritus dan memperkecil luka akibat garukan atau gosokan. Pemberian kortikosteroid dan
antihistamin oral bertujuan untuk mengurangi reaksi inflamasi yang menimbulkan rasa gatal.
(14)

19
Pemberian steroid topikal juga membantu mengurangi hiperkeratosis. Pemberian
steroid mid-potent diberikan pada reaksi radang yang akut, tidak direkomendasikan untuk
daerah kulit yang tipis (vulva, scrotum, axilla dan wajah). Pada pengobatan jangka panjang
digunakan steroid yang low-poten, pemakaian high-potent steroid hanya dipakai kurang dari
3 minggu pada kulit yang tebal. Anti-depresan atau anti-ansietas sangat membantu pada
sebagian orang dan perlu pertimbangan untuk pemberiannya.(15) Jika terdapat suatu infeksi
sekunder dapat diberikan antibiotik topical ataupun oral. Perlu diberikan nasehat untuk
mengatur emosi dan perilaku yang dapat mencegah gatal dan garukan.

Pilihan obat untuk neurodermatitis sirkumskripta:


Macam-Macam Obat :

a. Corticosteroids
Memiliki kegunaan sebagai anti-inflamasi, yang berguna mengurangi pruritus,
menipiskan liken, dan mengurangi reaksi inflamasi.
1. Clobetasol (Temovate)
Termasuk dalam superpotent steroid topical : suppresses mitosis dan meningkatkan
sintesis protein sehingga mengurangi inflamasi dan menyebabkan vasokontriksi.
2. Fluocinolon 0,01% atau 0,025% cream (Synalar, Fluonid)
Merupakan topical steroid yang medium potent yang menhambat proliferasi sel, juga
sebagai imunosuprosor, anti-proliferasi, dan anti-inflamasi.
3. Hydrocortisone Valerate cream 0,02% (Westcort)
Salah satu derifat dari adrenokortikosteroid sesuai untuk penggunaan pada kulit atau
selaput lendir eksternal.
4. Fluocinonide cream 0,1% atau 0,05% (Lidex)
Merupakan topical corticosteroid yang menghambat proliferasi sel.

Pada pasien diberikan obat kortikosteroid oral, yaitu Metil Prednisolon 4mg
2x1 dan Kortikosteroid topika, yaitu Clobetasol oint 5 gr 2x1. Penggunaan
kortikosteroid diberikan untuk mengurangi inflamasi dan menyebabkan
vasokontriksi.

20
b. Anti-pruritic
Memberikan efek pengendalian terhadap pelepasan histamine secara endogen. Sehingga
dapat, mengurangi efek gatal, efek sedasi dan menyebabkan kantuk. Obat ini bekerja
menstabilkan membrane saraf dan mencegah transmisi dan inisiasi dari impuls saraf, dan
menghasilkan anastesi local.
1. Diphenhydramine (Benadryl, Benylin, Diphen, Allermax)
Mengurangi rasa gatal yang disebabkan oleh pelepasan histamine.
2. Chlorpheniramine (Chlor-Trimeton)
Penghambat histamine atau H1-Reseptor pada sel efektor di pembuluh darah dan
traktus respiratori.
3. Hydroxyne (Atarax, Vistaril)
Antagonis H1-Reseptor pada bagian luar, dan menekan aktifitas dari histamine.
4. Doxepin (Sinequan, Zonaton)
Penghambat aktifitas histamine dan asetilkolon. Penggunaannya dapat memberikan
efek sedasi, dan penyerapannya tinggi pada pemberian secara topical.

Pengobatan yang diberikan simptomatik. Antihistamin yang dipilih disini


adalah tablet cetirizine 7,5 mg 2x1. Obat ini dipilih karena harganya murah dan
mudah didapat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan status dermatologis juga didapatkan adanya
tanda-tanda infeksi sekunder pada pasien, seperti eritema dan pus, sehingga pasien
diberikan antibiotik tablet cefadroxyl 350 mg 2x1.

Edukasi Pasien
1. Anjurkan agar pasien tidak menggaruk lagi, karena penyakit ini akan bertambah
berat jika terus digaruk oleh pasien.
2. Mendiskusikan tentang bagaimana merubah kebiasaan menggaruk.
3. Memilih sabun yang lembut.
4. Menggunakan pakaian yang berbahan cotton sehingga mengurangi iritasi.
5. Dapat ditutup dengan kasa basah, untuk mencegah penggarukan.
6. Manajemen stress yang baik

21
Penggarukan yang terjadi berulang-ulang dapat menimbulkan suatu infeksi
atau peradangan kulit. Dapat pula meninggalkan jaringan parut dan perubahan warna
kulit yang bertambah gelap (hiperpigmentasi). Biasanya prognosis berbeda-beda,
tergantung dari kondisi pasien, apabila ada gangguan psikologis dan apabila ada
penyakit lain yang menyertai. Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi
pasien. Penyebab utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali.
Pencegahan pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini.(7) Prognosis pada
pasien ini secara umum baik, tetapi untuk terjadinya kekambuhan pasien memiliki
risiko seperti lingkungan rumah yang cukup panas dan padat.

22
BAB IV
KESIMPULAN

Nn. NF, 14 datang ke poliklinik penyakit kulit dan kelamin RSUD Kardinah Tegal
diantar ibunya dan dengan keluhan gatal di payudara kanan sejak 2 bulan yang lalu. Gatal
hilang timbul dan biasanya timbul di rumah saat istirahat, sehingga saat gatal timbul pasien
sering menggaruk di daearah tersebut. Pasien mengatakan awalnya di payudara kanan
tersebut hanya gatal saja, tetapi karna pasien menggaruk terus sehingga daerah tersebut
menjadi merah, nyeri, dan sedikit terdapat cairan yang berwarna kekuningan, dan sisik halus
berwarna putih. Awalnya bercak sisik halus seperti kulit yang mengelupas tersebut sedikit,
tetapi lama-kelamaan semakin lama kelamaan semakin meluas. Pasien mengatakan akhir-
akhir ini tidak sedang banyak pikiran/stress.

Pasien sudah ke klinik dokter sebanyak 5 kali di klinik yang sama untuk mengatasi
keluhan saat ini, pasien juga sudah menggunakan salep yang dioleskan pada daerah yang
gatal tersebut, tetapi keluhan tersebut tidak membaik dan gatal masih terus dirasakan sampai
saat ini. Tidak ada keluhan pada payudara kiri, demam, sakit kepala, dan lemas disangkal.
BAK dan BAB lancar. Pasien sebelumnya pernah mengalami gatal-gatal, seperti yang
dialami saat ini di daerah kaki 1 tahun yang lalu, tetapi sudah berobat dan saat ini sudah
sembuh. Riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan disangkal. Di keluarga tidak ada
yang mengalami keluhan seperti yang dirasakan pasien saat ini. Ibu pasien memiliki riwayat
alergi makanan. Pasien seorang pelajar dan tinggal didaerah padat penduduk. Pasien tinggal
di rumah dengan ventilasi yang kurang.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Sedangkan
pada status dermatologikus didapatkan adanya lesi yang terdisitribusi secara regional pada
daerah thorax regio Mammary dextra, lesi berbatas tegas, dengan efloresensi makula
eritematosa hingga hiperpigmentasi, pus, erosi, skuama, dan likenifikasi.

Diagnosis kerja pada pasien ini adalah neurodermatitis dengan infeksi sekunder,
karena berdsarkan anamnesis didapatkan adanya kemungkinan penyebab terjadinya pada
pasien ini adalah lingkungan tempat tinggal yang cukup panas dan padat. Berdasarkan
anamnesis juga didapatkan adanya gejala utama, yaitu gatal pada payudara kanan sejak 2

23
bulan yang lalu hilang timbul dan biasanya timbul di rumah saat istirahat, pasien menggaruk
terus sehingga daerah tersebut menjadi merah, nyeri, dan sedikit terdapat cairan yang
berwarna kekuningan, dan sisik halus berwarna putih. Awalnya bercak sisik halus seperti
kulit yang mengelupas tersebut sedikit, tetapi lama-kelamaan semakin lama kelamaan
semakin meluas. Berdasarkan status dermatologis juga didapatkan adanya lesi berbatas
tegas, dengan efloresensi makula eritematosa hingga hiperpigmentasi, pus, erosi, skuama,
dan likenifikasi.

Tatalaksana pada pasien ini adalah edukasi mengenai anjuran agar pasien tidak
menggaruk lagi, karena penyakit ini akan bertambah berat jika terus digaruk oleh pasien,
memilih sabun yang lembut, menggunakan pakaian yang berbahan cotton sehingga
mengurangi iritasi. Pengobatan yang diberikan simptomatik, yaitu Pada pasien diberikan
obat kortikosteroid oral, yaitu Metil Prednisolon 4mg 2x1 dan Kortikosteroid topika, yaitu
Clobetasol oint 5 gr 2x1. Penggunaan kortikosteroid diberikan untuk mengurangi inflamasi
dan menyebabkan vasokontriksi. Antihistamin yang dipilih disini adalah tablet cetirizine 7,5
mg 2x1. Obat ini dipilih karena harganya murah dan mudah didapat. Berdasarkan hasil
pemeriksaan status dermatologis juga didapatkan adanya tanda-tanda infeksi sekunder pada
pasien, seperti eritema dan pus, sehingga pasien diberikan antibiotik tablet cefadroxyl 350
mg 2x1.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda Adhi. 2008. Neurodermatitis Sirkumskripta. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi kelima. Jakarta: FKUI. h. 147-148.

2. Holden AC,Berth-jones J. in : Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, Editors.Rooks


textbook of dermatology ; Eczema, prurigo, lichenification, and erithroderma.7th.Italy:
Blackwell scienc:2004.P. 1741-1743

3. Soter Na. 2003. Numular Eczema and Lichen Simpleks Chronicus/Prurigo Nodularis.
Dalam: Freedberg IM, Eizen AZ,Wollf K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, eds.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York : Mc. Graw Hill: p.
160-162.

4. Sularsito SA, Djuanda S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin .5th.ed. Penerbit FKUI,
Jakarta 2005. p. 129-153.

5. Koenig TW, Jones SG, Rencie A,Tausk FA.Noncutaneous manifestations of


skin.In:Freedberg IM,Eisen AZ,Wolff K,Austen KF, Goldsmith LA, KATZ
SC,editors.Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine, 8thed. New York : Mc Graw
Hill 2012.p.158-162

6. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah Denpasar
tahun 2007.

7. Djuanda, Suria., Sularsito, Sri Adi. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, diedit oleh Djuanda A. edisi empat cetakan kedua, FKUI. Jakarta. 2005. Hal
129-153.

8. Allen, J. Being a family doctor. Leicester: University of Leicester United Kingdom;

2008. 


9. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ Burgin S.
Numular eczema and lichen simplex chronicus/prurigo nodular. New York: McGraw

Hill; 2008. 


10. Burton JL, Holder CA. Eczema, lichenification and prurigo. Blackwell Science. 2008;
5:629-80.

25
11. Champion RH, Burton JL, Ebling FJG. Textbook of dermatology. Edisi ke-5.

London: Blackwell Scientific; 2009. 


12. Djuanda, Suria, Sularsito, Sri Adi. Dermatitis dalam Ilmu penyakit kulit dan kelamin.

Jakarta: FKUI; 2010. 


13. Hunter John, John Savin, Marck Dahl editors.Clinical dermatology: eczema and
dermatitits.3rd edition Blackwell publishing 2002.p.70
14. John H, Savin J, Dahl M. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Edisi ke-17.
New York: McGraw Hill; 2009.
15. Takahashi N, Suzukamo Y, Nakamura SM, Miyachi Y, Green J, Ohya Y, et al.
Japanese version of the dermatology life quality index: validity and reliability in
patients with acne. Health Qual Life Outcomes. 2006; 4:46.

26