Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia terutama

dalam kesehatan jiwa yang termasuk salah satu penyakit tidak menular

diperlukan kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang

baik petugas kesehatan maupun seluruh lapisan masyarakat agar kesehatan

jiwa di Indonesia bisa terwujud. Penyakit jiwa merupakan salah satu penyakit

tidak menular yang perlu di waspadai karena di Indonesia terdapat banyak

kasus pasung pasien jiwa. Untuk mencapai Indonesia bebas Pasung 2019 maka

kasus jiwa di Indonesia segera di tangani

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan penanggulangan Kasus

Jiwa yang mempunyai fungsi sebagai penggerak masyarakat dalam

penanganan kasus jiwa di masyarakat, penggerak masyarakat agar berperilaku

sesuai, serta sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama di

wilayah kerjanya dalam penanganan masalah kesehatan jiwa, mempunyai peran

yang sangat setrategis dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan

terutama dalam masalah kesehatan jiwa terutama dalam rangka menuju Indonesia

bebas Pasung 2019.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmat dan hidayah- Nya kepada

kita semua. Amiin

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Upaya Kesehatan Jiwa adalah program pelayanan kesehatan jiwa yang

dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan didukung oleh peran serta

masyarakat, dalam rangka mencapai derajat kesehatan jiwa masyarakat yang

optimal melalui kegiatan pengenalan/deteksi dini gangguan jiwa, pertolongan

pertama gangguan jiwa dan konseling jiwa. Sehat jiwa adalah perasaan sehat dan

bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain

sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang

lain. UU No. 18 Th 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, Kesehatan Jiwa adalah kondisi

dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan

sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi

tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi

untuk komunitasnya.Dengan seiring meningkatnya masalah kehidupan ekonomi,

politik maupun keamanan linkungan dewasa ini, turut serta berperan

meningkatkan resiko terjadinya peningkatan angka kejadian gangguan kejiwaan.

Menurut data dari Riskesdas 2013. Penyelenggaraan upaya kesehatan harus

bersifat menyeluruh, terarah, terencana, terpadu, berkelanjutan, terjangkau,

berjenjang, profesional dan bermutu.

Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) ditetapkan sub sistem upaya

kesehatan yang terdiri dari dua unsur utama yaitu upaya kesehatan

perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM). UKM terutama

diselenggarakan oleh Pemerintah dengan peran serta aktif masyarakat dan

swasta, sedang UKP dapat diselenggarakan oleh masyarakat, swasta dan

pemerintah. Sedangkan data kunjungan pasien dengan gangguan jiwa pada

puskesmas Durenan hingga tahun 2015 mencapai 86 jiwa dan 6 pasien jiwa

pasung dan 55 ODGJ Berat dan 110 ODGJ Ringan. Oleh karena itu keberadaan

Puskesmas yang merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM di strata

pertama pelayanan kesehatan bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian

tugas pembangunan kesehatan.


2
B. TUJUAN

Tujuan Umum :

Meningkatkan derajat kesehatan jiwa dan kualitas hidup masyarakat.

Tujuan Khusus

a. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat terhadap

kesehatan jiwa.

b. Meningkatnya upaya untuk mencegah gangguan jiwa.

c. Terdeteksi dan tertanggulanginya masalah kesehatan jiwa secara dini.

C. SASARAN PEDOMAN

Petugas pelaksana program j i w a d a l a m penanganan Masalah

Kesehatan Jiwa di wilayah Puskesmas Jiwa

D. RUANG LINGKUP PEDOMAN

Ruang lingkup pedoman pemberantasan penyakit demam berdarah secara

garis besar adalah meliputi upaya yang bersifat promotif, perventif, kuratf,

dan rehabilitatif yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dengan

melibatkan kader kesehatan jiwa (KKJ), Lintas sektor dan tenaga sukarelawan

lainnya.

E. BATAS OPERASIONAL

Gangguan mental atau penyakit kejiwaan adalah pola psikologis atau

perilaku yang pada umumnya terkait dengan stress atau kelainan mental yang

tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia.

Tanda Sakit Jiwa Ringan :

1. Menarik diri secara sosial

2. Sulit berorientasi dan mengalami kekacauan alam pikir

3. Mengalami penurunan daya ingat

4. Mengalami penurunan kemampuan kognitif

5. Tidak memperhatikan kebersihan diri

6. Mengalami perubahan mood yang cepat

7. Tampak berperilaku aneh

3
8. Enggan melakukan bermacam kegiatan sehari biasa

9. Depresi, sedih atau strees terus menerus

4
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA

Untuk melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan pelayanan di

kecamatan Durenan terutama dalam pengendalian masalah kesehatan jiwa,

Puskesmas Durenan memiliki tenaga kerja baik dari Puskesmas maupun dari

masyarakat yaitu

No JENIS TENAGA KUALIFIKASI JUMLA


1 Programer Jiwa Perawat 1
2 Supervisor Jiwa Kader Kesehatan Jiwa H 19

Dengan melihat tabel ini dapat dilihat bahwa ketenagaan dalam program

penanganan masalah kesehatan Jiwa di Puskesmas Durenan sudah memenuhi

standar, dengan adanya satu tenaga perawat untuk menyelenggarakan

pemantauan perkembangan penanganan masalah Jiwa kecamatan Durenan

meliputi: Kuratif, Promotif, Preventif, dan Rehabilitatif dan dibantu 19 kader

Kesehatan Jiwa (KKJ) untuk melaksanakan deteksi dini masalah kesehatan

jiwa di 7 desa wilayah kerja Puskesmas Durenan.

Adapun uraian tugas pengelola program kesehatan jiwa

Puskesmas Durenan berdasarkan tupoksi yang sesuai kompetensinya antara

lain :

1. Menyusun rencana kerja program Jiwa berdasarkan data program

puskesmas dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku sebagai

pedoman kerja.

2. Melaksanakan kegiatan kesehatan Jiwa meliputi penemuan dini penderita

suspek Jiwa serta melakukan rujukan untuk penanganan lebih lanjut,

Penyuluhan Jiwa terhadap Kelompok Masyarakat, Penanganan terhadap

kasus jiwa, Penanganan kasus kesehatan jiwa melalui rujukan ke RS,

prosedur dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

3. Mengevaluasi hasil kegiatan program kesehatan jiwa secara keseluruhan.

4. Menbuat catatan dan laporan kegiatan di bidang tugasnya sebagai bahan

5
informasi dan pertanggung jawaban kepada atasan.

5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

B.DISTRIBUSKETENAGAAN

Pengelola program Jiwa adalah tenaga kesehatan dari puskesmas yang

ditunjuk oleh kepala puskesmas untuk melaksanakan tugasnya sebagai

pengelola program (programmer) kesehatan Jiwa di wilayah kerja Puskesmas

Durenan.

Programer kesehatan jiwa mendapatkan SK dari kepala puskesmas. Selain

pemegang program J i w a dan kader kesehatan jiwa ( K K J ) juga melibatkan:

1. Dokter

2. Koordinator P2PTM dan PKM

3. Petugas Perkesmas

4. Petugas Promkes

5. Perawat / Bidan Desa

5. Kader aktif

C. JADWAL KEGIATAN PELAYANAN

N BULAN
URAIAN
O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Perencanaan
1
Kegiatan

Identifikasi

2 Kebutuhan Harapan

Sasaran

3 Monitoring

5 Evaluasi Kinerja

6 Pembentukan Masya

rakat Siaga Sehat

Jiwa (Rapat

penanganan Bebas

pasung)

6
7 Penyuluhan

Kesehatan Jiwa yang

dilak

sanakan di Posyandu

Lansia

8 Penanganan kasus

jiwa baru dan lama

(Kunjungan Rumah)

8 Penyuluhan

Kesehatan jiwa di

dalam Gedung

Puskesmas (Bimtek

Kader Jiwa

9 Penjaringan kasus

Jiwa Baru melalui

pelaporan kader atau

masyarakat

7
BAB III

STANDART FASILITAS

A. DENAH RUANG

Dalam pelaksanaan tugas penanganan kesehatan jiwa tidak

ada ruang khusus karena merupakan program yang berbasis

masyarakat.

B. STANDART FASILITAS

Sarana dan prasarana termasuk fasilitas, dan peralatan yang secara

tidak langsung mendukung pelayanan kesehatan terutama mendukung

pelayanan klinis diwilayah kerja programmer Jiwa haruslah memadai.

Sesuai standar fasilitas pelayanan penanggulangan penanganan masalah

Jiwa adalah sebagai berikut :

1. Peralatan Medis

No Jenis Alat

1 CHN Kit :

Stetoskop

Tensimeter

Senter

Termometer

2 Obat- obatan

Haloperidol Inj. 5mg

Sikzonoat inj. 5mg

Spuit 3 cc

3 Lembar Asuhan Keperawatan

4 SOP pelaksanaan kegiatan

5 Handscone

8
2. Peralatan Non Medis

No Jenis perlengkapan

1 Buku petunjuk kegiatan Program Jiwa

2 Alat penyuluhan Kesehatan

3 Leaflet

4 Buku Kunjungan Rumah pasien Jiwa

9
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. LINGKUP KEGIATAN

1. Lingkup kegiatan penanganan kesehatan jiwa secara garis besar adalah

meliputi upaya yang bersifat promotif, perventif, kuratif, dan

rehabilitatif diwilayah kerja puskesmas Durenan.

2. Program penanganan kesehatan Jiwa sebagai program UKM pengembangan

Puskesmas harus :

a. Bertanggung jawab pada kepala Puskesmas.

b. Bertanggung jawab kepada masyarakat dalam penanganan masalah

kesehatan Jiwa

c. Berkoordinasi dengan lintas sektor dan jejaring pelayanan kesehatan lain

diwilayah kerjanya.

d. Membina Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dalam

upaya penanganan masalah kesehatan Jiwa di puskesmas

B. METODE

Terdapat metode untuk :

1. Penemuan penderita tersangka Jiwa.

2. Rujukan penderita Jiwa.

3. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat meliputi :

a.Penyuluhan perorangan.

b. Penyuluhan kelompok.

4. Pembinaan Kader Kesehatan Jiwa

5. Kunjungan Rumah pasien gaduh gelisah.

6. Deteksi dini masalah kesehatan Jiwa.

7. Perujukan kasus Jiwa ke RS

8. Pencatatan dan pelaporan.

10
C. LANGKAH KEGIATAN

1. Perencanaan

Ada perencanaan tertulis mengenai :

a. Penemuan penderita tersangka Jiwa

b. Rujukan penderita Jiwa yang perlu penanganan Dokter spesialis

c. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat meliputi :

1) Penyuluhan perorangan.

Terhadap individu yang berobat melalui konseling.

2) Penyuluhan kelompok.

Melalui diskusi, ceramah, penyuluhan melalui poster.

d. Penjadwalan Kunjungan Rumah

e. Pendokumentasian

f. Pelaporan

2. Pelaksanaan

Adalah pelaksanaan dari seluruh kegiatan yang telah tertulis dalam

Perencanaan

3. Pengawasan dan Pengendalian

Melalui pencatatan dan pelaporan yang dilakukan :

a. Bulanan

b. Tribulan

c. Tahunan

4. Keluaran

a. Penemuan tersangka Jiwa

b. Rujukan Pasien Jiwa

c. Penyuluhan dan penggerakkan masyarakat untuk peran serta aktif

dalam penanganan Jiwa

11
BAB V

LOGISTIK

Daftar logistik yang dipersiapkan pelaksana program Kesehatan Jiwa

Puskesmas Durenan :

1. Perlengkapan Medis

No Jenis Alat Keterangan


1 Poliklinik set :
Stetoskop Ada
Tensimeter Ada
Termometer suhu Ada
3 Obat-obatan :
Inj. Haldol 5 mg Ada
Inj. Sikzonoat 5 mg Ada
4 Lembar Asuhan Keperawatan Ada
5 SOP pelaksanaan kegiatan Ada
6 Handscone Ada

2. Perlengkapan Non Medis

No Jenis Alat Keterangan


1 Buku petunjuk kegiatan Program Jiwa Ada
2 Alat penyuluhan Kesehatan Ada
3 Leaflet Tidak Ada
4 Buku Kunjungan Rumah pasien Jiwa Ada
5 Buku petunjuk kegiatan Program Jiwa Ada

12
BAB VI

KESELAMATAN SASARAN

KEGIATAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan Kesehatan Jiwa perlu

diperhatikan keselamatan pasien dengan melakukan identifikasi resiko terhadap

segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya

pencegahan resiko terhadap pasien harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang

akan dilaksanakan, antara lain :

1. Penatalaksanaan penderita Jiwa dengan Gaduh Gelisah

a. Kolaborasi dengan Lintas Sektor (TNI / POLRI dan Satpol PP) dalam

pengamanan untuk ODGJ dengan senjata membahayakan penderita dan

orang sekitar

b. Kolaborasi dengan Dokter dalam pemberian terapi dan penentuan pasien

Rujuk atau tidak.

c. Petugas dan TIM jiwa Puskesmas bergerak katif dalam penanganan

penderita Jiwa

2. Pemberdayaan Masyarakat dalam penganan kasus Jiwa

a. Penyuluhan kelompok masyarakat dan masyarakat resti sekitar ODGJ

b. Penggalangan komitmen dari semua Lintas Sektor untuk peran serta aktif

dalam penanganan masalah kesehatan Jiwa di wilayah kerja Puskesmas

Durenan

3. Penatalaksanaan Pasien terkontrol rutin berobat atau berkunjung ke

Puskesmas

Petugas memotivasi dan memberikan penyuluhan tentang keteraturan minum

obat untuk ODGJ yang rutin berobat atau mengambil obat di Puskesamas

dengan kolaborasi dengan petugas yang ada di Ruang Pengobatan Umum

(perawat dan Dokter Umum)

4. Penatalaksanaan untuk Pasien ODGJ dengan indikasi Rujuk

13
a. Petugas Konfirmasi dengan tempat pelayanan yang akan dituju

(memastikan Ruang perawatan yang kosong) RS/Puskesmas dengan

pelayanan rawat inap pasien ODGJ

b. Petugas menyiapkan pasien dan keluarga untuk persiapan Rujuk (kesediaan

Keluarga)

c. Persiapan keluarga dan masyarakat sekitar untuk proses kepulangan

5. Pembinaan Kader Kesehatan Jiwa untuk meningkatkan pengetahuan Kader

a. Bimtek Kader Kesehatan Jiwa yang dilakukan 2 kali dalam setahun

b. Pertemuan berkala 3 bulan sekali dalam membahas masalah kesehatan jiwa

14
BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Untuk keamanan dan kenyamanan bagi petugas dalam memberikan pelayanan

kesehatan, terutama untuk penaganan penderita Jiwa yang mayoritas penderita

jiwa merupakan penderita penyakit terminal yang mengalami depresi

berkepanjangan maka petugas di sarankan untuk memakai alat perlindungan diri

(APD) sarung tangan, masker dan rompi P3K dan selalu mencuci tangan sebelum

dan sesudah melakukan tindakan.

No Jenis Alat

1 Sarung Tangan

2 Masker

3 Rompi P3K

15
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu pelayanan klinis merupakan kegiatan untuk mencegah

terjadinya masalah terkait pelayanan atau mencegah terjadinya kesalahan

tindakan yang diberikan yang bertujuan untuk keselamatan pasien.

Pengendalian mutu pelayanan klinis terintegrasi dengan program

pengendalian mutu pelayanan klinis Puskesmas yang dilaksanakan secara

berkesinambungan. Kegiatan pengendalian mutu pelayanan klinis meliputi :

1. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan

evaluasi untuk peningkatan mutu standar.

2. Pelaksanaan, yaitu :

a. Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja

(membandingkan antara capaian dan rencana kerja).

b. Memberikan umpan balik terhadap hasil capaian.

3. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi

yaitu :

a. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan standar.

b. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.

Monitoring merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung

untukmemastikan bahwa aktifitas berlangsung sesuai dengan yang

direncanakan. Monitoring dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedik

yang melakukan proses. Aktifitas monitoring perlu direncanakan untuk

mengoptimalkan hasil pemantauan.

Contoh : monitoring pelayanan pasien, monitoring kinerja tenaga kesehatan.

Sedangkan untuk menilai hasil atau capaian pelaksanaan pelayanan klinis,

dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan yang

diperoleh melalui metode berdasarkan waktu, cara dan tehnis

pengambilan data.

1. Berdasarkan waktu pengambilan data, terdiri atas;

a. Retrospektif

Pengambilan data dilakukan setelah pelayanan dilaksanakan. Contoh :


16
survey kepuasan pelanggan, laporan mutasi barang.

b. Prospektif

Pengambilan data dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan pelayanan.

Contoh : waktu pelayanan kesehatan di Puskesmas, sesuai dengan

kebutuhan.

2. Berdasarkan cara pengambilan data, terdiri

atas :

a. Langsung (data primer)

Data diperoleh secara langsung dari sumber informasi oleh

pengambil data. Contoh : survey kepuasan pelanggan terhadap kualitas

pelayanan

klinis.

b. Tidak langsung (tidak langsung)

Data diperoleh dari sumber informasi yang tidak langsung.

Contoh: catatan riwayat penyakit yang lalu.

3. Cara pengambilan data ;

a. Survei

Survei yaitu pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.

Contoh:survey kepuasan pelanggan.

b. Observasi.

Observasi yaitu pengamatan langsung aktivitas atau proses

denganmenggunakan ceklist atau perekaman.

4. Pelaksanaan evaluasi terdiri dari :

a. Audit

Audit merupakan usaha untuk menyempurnakan kualitas pelayanan

dengan pengukuran kinerja bagi yang memberikan pelayanan dengan

menentukan kinerja yang berkaitan dengan standar yang dikehendaki

dan dengan menyempurnakan kinerja tersebut. Oleh karena itu audit

merupakan alat untuk menilai, mengevaluasi, menyempurnakan

pelayanan klinis secara sistematis.

17
Terdapat 2 macam audit yaitu :

1) Audit Klinis

Audit Klinis yaitu analisis klinis sistematis terhadap pelayanan klinis,

meliputi prosedur yang digunakan untuk pelayanan, penggunaan

sumberdaya, hasil yang didapat dan kualitas hidup pasien. Audit

klit

klinis dikaitkan dengan pengobatan berbasis

bukti.

2) Audit Profesional

Audit Provesional yaitu analisis kritis pelayanan klinis seluruh tenaga

medis dan paramedis terkait dengan pencapaian sasaran yang

disepakati, penggunaan sumberdaya dan hasil yang diperoleh. Contoh :

audit pelaksanaan sister manajemen mutu

b. Review (pengkajian).

Review (pengkajian) yaitu tinjauan atau kajian terhadap pelayanan klinis

tanpa dibandingkan dengan standar. Contoh : kajian

penggunaan antibiotik.

Indikator mutu Penanganan Kesehatan Jiwa meliputi :

1. INPUT

NO Uraian Standart Kompetensi Target

1 Sumber Daya Manusia Bila Pelaksana Berasal dari

Paramedis maka Petugas harus

memiliki:

-SIK 100%

-STR 100%

-Sertifikat Pelatihan CMHN 100%

18
2. PROSES

NO Standart Kompetensi Target

1 SOP Pegukuran Tekanan Darah Ada

2 SOP Kesehatan Jiwa Ada

3 SOP Deteksi Dini Kasus Jiwa Ada

4 SOP Kunjungan Rumah Ada

5 SOP Penyuluhan Kelompok Ada

3.OUT PUT

No Uraian Target

1 Survey Kepuasan Pelanggan 100%

2 Target PKP :

1. Pemberdayaan kelompok masyarakat terkait 100%

program kesehatan Jiwa

2. Penanganan kasus jiwa (gangguan perilaku, 100%

gangguan jiwa, gangguan psikomotorik,

masalah Napza dll) yang datang berobat ke

Puskesmas

3. Penanganan kasus kesehatan Jiwa melalui 100%

rujukan RS/Spesialis

4. Kunjungan Rumah pasien Jiwa 100%

19
BAB IX

PENUTUP

Pedoman program kesehatan Jiwa Puskesmas durenan ini digunakan sebagai

acuan pelaksanaan pelayanan di Puskesmas Durenan diperlukan komitmen dan

kerjasama semua pihak. Hal tersebut akan menjadikan pelayanan semakin optimal

dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang diwilayah kerja puskesmas

Durenan. Serta dapat meningkatkan citra Puskesmas dan kepuasan pasien atau

masyarakat.

20
21
22
23
24
25
26