Anda di halaman 1dari 8

LASIK (LASER-ASSISTED IN SITU KERATOMILEUSIS)

I. Pendahuluan

LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis) adalah salah satu jenis dari operasi refractive
untuk memperbaiki kelainan pada mata seperti miopia, hipermetropia dan astigmatisme. Jenis
ini merupakan jenis yang paling sering digunakan dan paling terkenal dibandingkan operasi
dengan bantuan laser (laser-assisted) lainnya, seperti PRK (photorefractive keratectomy) atau
yang lebih dikenal dengan LASEK (laser-assisted sub-ephitelial keratectomy). Jenis ini
umumnya tergolong aman dan menghasilkan penanganan yang lebih efektif untuk jenis
kelainan pengelihatan yang lebih besar. Secara spesifik, LASIK melibatkan fungsi dan
kemampuan dari laser untuk merubah bentuk kornea secara permanan. LASIK juga
menawarkan kecepatan dan kemudahan tanpa menghasilkan rasa sakit dalam operasinya,
juga, bagi sebagian besar pasien telah membuktikan bahwa LASIK telah memperbaiki secara
total kelainan pada mata dan mengurangi ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak
(contact lenses).

II. Cara Kerja LASIK

LASIK merubah secara permanen bentuk dari bagian sentral anterior pada kornea dengan
memanfaatkan laser jenis excimer untuk meng-ablasi (mengikis suatu bagian dari jaringan
hidup dengan penguapan) sebagian kecil dari lapisan jaringan stroma kornea yang berada di
bagian depan mata, tepat dibawah lapisan jaringan epitelium kornea. Agar tidak terjadi
kesalahan operasi dan untuk menambah ketelitian hingga satuan mikrometer, saat operasi
sedang berlangsung, sistem komputer melacak pergerakan mata pasien 60 hingga 4000 kali
perdetik, tergantung dari sistem yang digunakan, kemudian menempatkan posisi laser pada
lokasi yang tepat. Sistem modern saat ini bahkan secara otomatis langsung memfokuskan
berkas laser tepat pada posisi visual axis pada mata pasien, dan akan berhenti dengan
sendirinya apabila pergerakan mata diluar jangkauan kemampuan sistem, dan akan lanjut
dengan sendirinya apabila mata pasien telah berada di posisi yang tepat.

Bagian lapisan luar dari kornea atau epitelium, merupakan jaringan yang lunak, hidup, terus
memperbarui diri (regenerasi), dan dapat pulih secara sempurna apabila terjadi iritasi atau
disayat (untuk keperluan operasi mata) tanpa kehilangan kejernihannya dari keadaan semula.
Bagian lapisan yang lebih dalam disebut stroma kornea, terbentuk sebelum epitelium, dan
memiliki kemampuan regenerasi jauh lebih lambat dan terbatas dibanding lapisan epitelium.
Bagian ini, merupakan bagian yang diubah pada tindakan operasi mata dengan LASIK
maupun PRK/LASEK. Apabila bagian ini dibentuk ulang oleh tindakan diatas menggunakan
laser atau mikrokeratome (sayatan halus), maka bagian ini akan mempertahankan bentuk
tersebut tanpa terjadi perubahan bentuk semula.

III. Prosedur LASIK

1. Pra-operasi
Pemeriksaan komprehensif mata yang meliputi:

• Penentuan visus sebelum dan sesudah dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak.
• Penentuan besarnya refraction error dalam setiap mata untuk menetapkan jumlah
koreksi bedah yang diperlukan dan mengembangkan strategi operasi yang tepat.
• Penilaian permukaan kornea dengan topografi (kurvatur kornea atau bentuk), untuk
mengkorelasikan bentuk kornea (untuk astigmatisme refraksi), untuk menemukan
penyimpangan, jika ada, dan untuk mengetahui penyakit yang dapat memburuk jika
dilakukan pembedahan dengan LASIK.
• Pengukuran ukuran pupil dalam cahaya redup dan ruang. Ukuran pupil merupakan
faktor penting dalam pengukuran tajam penglihatan malam dan penentuan tindakan
koreksi oleh LASIK yang tepat.
• Penilaian motilitas untuk mengukur kemampuan otot untuk menggerakkan mata.
• Pemeriksaan pada kelopak mata untuk melihat apakah terdapat entropion (mungkin
bergesekan dengan kornea) atau ektropion, dan kondisi lain.
• Pemeriksaan konjungtiva, untuk melihat apakah ada iritasi, kemerahan,
neovaskularisasi atau kelainan lainnya.
• Pemeriksaan kornea untuk menentukan apakah ada kelainan yang dapat
mempengaruhi hasil pembedahan.
• Pemeriksaan dari lensa untuk menentukan apakah terdapat kekaburan (katarak) atau
kelainan lainnya yang ada.
• Pengukuran ketebalan kornea (dengan pachymetry). Jumlah koreksi LASIK dapat
ditentukan sebagian oleh ketebalan kornea.
• Pengukuran tekanan intraokular untuk mendeteksi kondisi glaukoma atau pre-
glaukoma. Glaukoma adalah kehilangan penglihatan yang disebabkan oleh kerusakan
pada saraf optik yang diakibatkan tekanan yang terlalu tinggi di mata. Ini adalah
penyebab umum kehilangan penglihatan.
• Penilaian segmen posterior mata: pemeriksaan fundus digunakan untuk menilai retina,
saraf optik, dan pembuluh darah untuk mengetahui sejumlah gangguan mata dan
gangguan sistemik.
 Penanganan lanjut harus mencakup peninjauan kembali dari hasil pemeriksaan oleh
dokter mata, konsultasi dengan pasien, pemeriksaan tambahan yang diperlukan, dan
rencana untuk perawatan mata pasien.

2. Operasi

Selama operasi berlangsung, pasien dalam keadaan sadar dan dapat bergerak. Namun, pasien
biasanya diberikan sedatif lemah (seperti Valium) dan tetes mata anestetik. LASIK dilakukan
dalam 3 langkah. Langkah pertama adalah membuat sayatan lapisan dari jaringan kornea.
Langkah kedua adalah remodelling kornea dibawah sayatan sebelumnya dengan me2.1.

2.1 Pembuatan Sayatan (Flap)


Sebuah spekulum dipasang pada mata, menahan posisi mata agar tidak bergerak. Prosedur ini
terkadang, pada beberapa kasus menyebabkan perdarahan minor pada pembuluh darah halus
pada mata, yang akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari setelah operasi. Setelah
mata tertahan pada posisinya, maka sayatan epitelium akan dibentuk. Proses pembuatan
sayatan menggunakan mikrokeratome, sebuah pisau bedah halus berketebalan beberapa
mikrometer, atau menggunakan femtosecond laser. Setelah sayatan terbentuk, lapisan sayatan
diangkat, meninggalkan lapisan dibawahnya, yaitu stroma, lapisan tengah dari kornea.

2.2 Laser Remodelling

Langkah kedua pada operasi ini ialah menggunakan eximer laser, yang memiliki panjang
gelombang sebesar 195 nm untuk merubah bentuk dari stroma kornea. Laser menguapkan
(vaporized) jaringan stroma yang ingin dibentuk ulang (remodelling) dengan ketelitian yang
amat tinggi tanpa membahayakan jaringan lain disekitarnya. Tidak ada pemanasan dan
pembakaran, maupun pemotongan nyata yang terjadi pada stroma yang dibentuk ulang,
sehingga tidak ada rasa sakit sama sekali pada saat operasi. Beberapa pasien hanya
mengeluhkan rasa tak nyaman. Lapisan yang diambil saat penguapan jaringan hanya
beberapa mikrometer ketebalannya. Perlakuan penguapan jaringan dalam kornea (stroma)
pada LASIK menghasilkan kecepatan dalam operasi, hasil yang maksimal dan sedikit atau
bahkan tak ada rasa sakit yang dihasilkan, apabila dibandingkan dengan operasi bedah.
Selama proses kedua ini, penglihatan pasien akan menjadi sangat kabur setelah lapisan
sayatan diangkat. Pasien hanya dapat melihat cahaya putih mengelilingi cahaya oranye dari
laser.

Saat ini, manufaktur laser excimer menggunakan pelacak posisi mata yang mengikuti gerakan
mata sebanyak 4000 kali perdetik, kemudian memusatkan gelombang laser dengan akurat
pada daerah yang akan di remodelling. Gelombang laser yang digunakan berkisar antara 1
milijoule (mJ) selama 10 sampai 20 nanodetik.

2.3.Memposisikan Kembali Lapisan Sayatan

Setelah laser melakukan remodelling lapisan jaringan stroma, lapisan epitelium yang
diangkat perlahan-lahan dikembalikan ke tempatnya semula, yaitu diatas lapisan stroma yang
telah di bentuk ulang, kemudian dokter mengecek ulang apakah terdapat gelembung udara,
debris (kotoran halus), dan memastikan bahwa lapisan epitellium telah terpasang secara tepat.
Lapisan tersebut akan menempel dengan sendirinya, dan akan menyatu dengan lapisan
stroma (sembuh) sampai waktu panyembuhan telah usai.

3.Perawatan pasca-operasi

Pasien umumnya diberikan tetes mata antibiotik dan anti inflamasi (radang) selama beberapa
minggu pasca operasi. Pasien juga disarankan untuk tidur lebih lama dan lebih sering dan
juga diberikan sepasang pelindung mata dari cahaya yang berlebihan dan pelindung mata dari
gosokan (kucek mata) ketika tidur dan mengurangi mata kering. Pasien juga harus sering
menginformasikan kepada dokter tentang perkembangan pasca-operasi.

IV. Hasil Operasi LASIK

Survey yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan hasil dari pasien yang telah
melakukan operasi lasik menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien berada di tingkat 92-98
persen. Sebuah survey meta-analisis bulan maret 2008 yang dilakukan oleh Amercan Society
of Cataract and Refractive Surgery , lebih dari 3000 artikel yang telah diterbitkan selama 10
tahun di seluruh dunia, termasuk 19 studi mengamati 2200 pasien yang diobservasi tingkat
kepuasannya, menunjukkan angka 95,4 persen tingkat kepuasan dari seluruh pasien LASIK
di seluruh dunia.

V. Kandidat Ideal Pasien LASIK


Meskipun banyak individu dianggap memiliki kriteria yang baik untuk LASIK, namun
terdapat beberapa yang tidak memenuhi kriteria medis umum yang diterima untuk
memastikan keberhasilan prosedur LASIK. Siapa pun yang mempertimbangkan untuk
melakukan LASIK harus dilakukan pemeriksaan secara teliti oleh dokter mata yang akan
membantu menentukan apakah prosedur LASIK yang tepat bagi mereka. Berdasarkan
berbagai kondisi dan keadaan, semua kandidat LASIK akan terpilih ke dalam salah satu dari
tiga kategori besar berikut:

1. Kandidat Ideal:

• Berumur minimal 18 tahun dan telah memiliki kacamata atau resep lensa kontak yang
stabil setidaknya selama dua tahun.
• Memiliki ketebalan kornea cukup. Seorang pasien LASIK harus memiliki kornea
yang cukup tebal untuk memungkinkan ahli bedah untuk aman membuat flap kornea
dengan kedalaman yang sesuai.
• Pasien memiliki salah satu atau lebih dari tiga kelainan pengelihatan, seperti miopia
(rabun jauh), astigmatism (penglihatan kabur yang disebabkan oleh kornea berbentuk
tidak teratur), hyperopia (rabun jauh), atau kombinasi keduanya (misalnya, miopia
dengan silindris). Beberapa laser sekarang disetujui oleh Food and Drug
Administration (FDA) sebagai tindakan yang aman dan efektif untuk digunakan
dalam LASIK, tapi ruang lingkup masing-masing indikasi laser yang disetujui
terbatas pada derajat tertentu refraction error.
• Tidak menderita penyakit yang dapat mengurangi efektivitas operasi atau kemampuan
pasien untuk sembuh dengan baik dan cepat.
• Telah cukup banyak mendapat informasi tentang manfaat dan risiko dari prosedur.
Kandidat secara menyeluruh harus mendiskusikan prosedur dengan dokter mereka
dan memahami bahwa bagi beberapa orang, tujuan dari bedah refraktif adalah
mengurangi ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak.

2. Kurang Ideal

Calon pasien LASIK terkadang memiliki faktor yang menghalangi pasien untuk menjadi
kandidat ideal. Dalam banyak kasus, ahli bedah masih mungkin dapat melakukan prosedur
dengan aman, mengingat bahwa calon dan dokter telah cukup mendiskusikan manfaat dan
risiko, dan menetapkan ekspektasi yang realistis untuk hasil yang didapat. Kategori ini
meliputi mereka yang:

• Memiliki riwayat mata kering, yang mungkin akan memburuk setelah operasi
dilakukan.
• Pasien yang dirawat dengan obat-obatan seperti steroid atau imunosupresan, yang
dapat mencegah penyembuhan, atau menderita penyakit yang memperlambat
penyembuhan, seperti gangguan autoimun
• Memiliki jaringan parut kornea.
• Berumur di bawah usia 18.
• Memiliki visus yang tidak stabil, yang biasanya terjadi pada remaja. Dokter biasanya
menyarankan, sebelum menjalani LASIK, visus pasien telah stabil dengan kacamata
atau resep lensa kontak setidaknya selama dua tahun.
• Sedang hamil atau menyusui.
• Memiliki sejarah herpes okular dalam satu tahun sebelum memiliki operasi. Setelah
satu tahun dari diagnosis awal penyakit ini, operasi dapat dipertimbangkan.
• Refraction error terlalu berat untuk pengobatan dengan teknologi saat ini. Meskipun
laser disetujui FDA tersedia untuk salah satu dari miopia, hyperopia dan silindris,
namun indikasi yang disetujui FDA menetapkan pasien yang tepat untuk penanganan
dengan miopia sampai dengan -12 D, astigmatisme sampai dengan 6 D dan hyperopia
hingga +6 D.

3. Kandidat non-LASIK

Beberapa kondisi dan keadaan individu sepenuhnya yang tidak cocok untuk mendapatkan
penanganan LASIK diantaranya:

• Memiliki penyakit seperti katarak, glaukoma, penyakit kornea, gangguan penipisan


kornea (pellucid marginal degenerative), atau beberapa penyakit mata lainnya yang
sudah ada terlebih dahulu dan mempengaruhi atau mengancam penglihatan.
• Tidak memberikan informasi riwayat kesehatan mata secara tepat dan menyeluruh.
Hal ini mutlak diperlukan bahwa pasien harus mengetahui prosedur dan manfaat dan
risiko LASIK dengan dokter bedah mereka, dan memberikan persetujuan sesuai
sebelum menjalani operasi.

VI. Teknologi dalam bidang LASIK

1. Excimer Laser

Laser excimer memberikan hasil yang lebih akurat untuk operasi kornea dan koreksi visus
dari teknologi sebelumnya. Sebuah pulsa (pulse) dari laser excimer dapat mengambil 0,25
mikron dari jaringan. Sebagai perbandingan, sebuah rambut manusia memiliki ketebalan 70
mikron.

Dua jenis laser excimer tersedia untuk prosedur operasi refraksi: broad beam laser dan
scanning laser. Scanning laser dapat dibagi menjadi dua kelompok: slit scanning dan spot
scanning. Setiap jenis laser memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya:

* Broad Beam Laser

Sebuah broad beam laser menggunakan laser berdiameter yang relatif besar (6,0-8,0 mm)
yang dapat dimanipulasi untuk mengikis kornea. Penggunaan laser jenis ini dapat
menghasilkan waktu operasi tercepat dibandingkan laser lainnnya, yang mengurangi
kemungkinan overcorrection dan decentration (komplikasi yang disebabkan oleh pergerakan
pupil). Kerugiannya adalah kemungkinan peningkatan komplikasi yang terkait dengan
pengikisan kornea.
* Slit Scanning Laser

Sebuah silt scanning laser menggunakan laser berukuran relatif kecil, yang kemudian
dihubungkan ke perangkat rotasi dengan celah yang dapat berubah. Selama operasi, sinar
laser yang melewati celah ini dapat berubah secara bertahap meningkatkan zona pengikisan
kornea. Laser sinar seragam dan pengikisan kornea yang lebih halus merupakan ciri dari
digunakannya laser jenis ini. Laser ini memiliki kekurangan, yaitu kecenderungan sedikit
lebih tinggi untuk decentration dan overcorrection.

* Spot Scanning Laser

Sistem laser ini memiliki potensi untuk menghasilkan pengikisan konea yang halus dan
menggunakan teknologi radar untuk melacak gerakan mata. Sistem ini juga memiliki
kemampuan untuk mengobati astigmatisma ireguler dari acuan topografi. Laser ini harus
dihubungkan dengan sistem eye-tracking untuk memastikan peletakan laser yang akurat.

2. Wavefront Sensing Diagnostik (Wavefront-guided LASIK)

Wavefront sensing adalah sebuah alat diagnostik untuk mengukur refraction error mata.
Metode refraksi konvensional terbatas untuk mengukur refraksi sferis dan silinder yang dapat
dijangkau oleh mata (miopia atau hyperopia dan silindris). Namun, metode wavefront sensing
memungkinkan dokter untuk mengukur kondisi dalam kornea yang mempengaruhi visus
pasien. Pada dasarnya, wavefront sensing menggunakan teknik sederhana. Pasien diminta
untuk memandang ke depan, dan fokus pada suatu objek, sementara itu dokter memberikan
sebuah proyeksi cahaya menuju mata. Berkas cahaya ini masuk ke dalam mata, dan
memantul kembali keluar mata. Kemudian komputer menganalisa berkas sinar, yang
selanjutnya menganalisa data berkaitan tentang keadaan mata. Beberapa sistem dengan cara
ini dapat menganalisa lebih dari 2000 poin data keadaan mata.

VII. Potensi Komplikasi

Komplikasi yang paling sering terjadi pasca operasi refraksi adalah “mata kering”. Menurut
jurnal American Journal of Ophtalmology, pada maret 2008, tingkat kejadian “mata kering”
pasca operasi LASIK selama 6 bulan masa pemulihan mencapai 36%. Tingginya tingkat
“mata kering” pasca operasi memerlukan evaluasi baru dalam penanganan pra-operasi dan
pasca-operasi, serta perawatan bagi”mata kering”. Terdapat beberapa metode yang sukses
dipasaran seperti air mata buatan, dsb. Apabila “mata kering” dibiarkan tanpa mendapatkan
tindakan yang sesuai, akan menyebabkan gangguan penglihatan dan hasil yang buruk pada
LASIK maupun PRK. Pada beberapa kasus yang parah, “mata kering” dapat menimbulkan
nyeri yang hebat dan kerusakan permanen jaringan mata.

Resiko pasien dalam menderita gangguan penglihatan seperti halos, penglihatan ganda,
kehilangan kontras penglihatan, dan keluhan silau setelah operasi LASIK bergantung pada
tingkat ametropia sebelum operasi dan faktor lain. Berikut ini adalah beberapa komplikasi
yang sering dilaporkan pasien diantaranya:

 “mata kering” pasca operasi


 Overcorrection dan undercorrection
 Sensitivitas berlebihan terhadap cahaya
 Penglihatan tidak stabil
 Halos
 Pengelihatan ganda (berbayang)
 Pengikisan (ablasi) berlebihan
 Kotoran (debris) dalam sayatan
 Erosi epitelium
 Macular hole.