Anda di halaman 1dari 145

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan kesehatan harus dilakukan dengan pendekatan komprehensif, dengan mengacu pada visi misi Presiden. Visi Presiden adalah Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong- royong. Upaya untuk mewujudkan visi ini dilakukan melalui 7 misi pembangunan, dimana pada misi ke-4 adalah mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.

Dalam pembangunan nasional 2015-2019 juga dibangun kemandirian di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian dalam budaya yang dikenal dengan Trisakti. Untuk mewujudkannya, ditetapkan 9 agenda prioritas (Nawacita), dimana pada agenda ke-5 dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang akan dicapai melalui Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Sehat dan Program Indonesia Kerja Indonesia sejahtera. Program Indonesia sehat memiliki 3 komponen yaitu: 1) Revolusi mental masyarakat agar memiliki paradigma sehat; 2) Penguatan Pelayanan Kesehatan; dan 3) Mewujudkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam upaya mewujudkan masyarakat Sumatera Barat yang sehat, pembangunan kesehatan di Sumatera Barat tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sector kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam

1

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan upaya mengatasi permasalahan kesehatan, karena masalah kesehatan tidak hanya dapat diintervensi oleh sektor kesehatan saja.

Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diupayakan untuk dapat menyediakan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak.

Kesehatan adalah hak asasi setiap manusia. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengungkapkan bahwa kesehatan adalah salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai macam upaya untuk mengoptimalkan derajat kesehatan masyarakatnya. Upaya kesehatan telah dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Selain itu, berbagai macam pendekatan juga telah dilakukan, antara lain pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), serta pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Namun, masalah-masalah kesehatan masih banyak dijumpai di Indonesia.

2

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah- masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu. Dengan adanya Undang- Undang 14 Tahun 2014 tentang Keterbukaan Informasi Publik, juga mendorong badan publik untuk dapat menyediakan informasi kesehatan sesuai kategori yang ditetapkan yaitu informasi berkala, setiap saat dan serta merta. Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program- program kesehatan. Profil Kesehatan Sumatera Barat adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat adalah institusi yang ditunjuk untuk menyelenggarakan urusan Pemerintah Daerah Sumatera Barat di bidang kesehatan. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai penggerak pembangunan di bidang kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Provinsi Sumatera Barat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat adalah gambaran situasi kesehatan di Provinsi Sumatera Barat yang diterbitkan setiap tahun sekali. Maksud

3

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

diterbitkannya buku ini adalah untuk menampilkan berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang dideskripsikan dengan analisis dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah tersampaikannya informasi kesehatan yang merupakan pencapaian Pembangunan Kesehatan Tahun 2017. Pengguna profil kesehatan umumnya adalah para mahasiswa kesehatan yang akan menyusun karya tulis, para peneliti kesehatan, lembaga dan swasta yang berkecimpung dalam hal kesehatan. Dari data yang terdaftar pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, sekitar 1200 an orang mencari data dan informasi kesehatan dengan datang langsung pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Oleh karena itu buku profil kesehatan sebagai kemasan bentuk data dan informasi masih strategis dan mutlak untuk diterbitkan.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017 disusun secara sistematis mengikuti pedoman penyusunan profil kesehatan yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan RI. Sistimatika penyajian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2017 ini adalah sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Bab ini Berisi tentang maksud dan tujuan profil kesehatan dan sistematika dari penyajiannya.

Bab II Gambaran Umum

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Sumatera Barat. Selain uraian tentang letak geografis, administratif, dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan

4

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

faktor-faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan lingkungan.

Bab III Situasi Derajat & Upaya Kesehatan

A. Situasi Derajat Kesehatan

Sub Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat

B. Situasi Upaya Kesehatan

Sub Bab ini menguraikan pelaksanakan pembangunan kesehatan, pelayanan kesehatan dasar & rujukan, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kesehatan ibu dan anak, pembinaan kesehatan lingkungan, serta perilaku hidup bersih dan sehat. Bab IV Situasi Sumber Daya Kesehatan Bab ini menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, organisasi Dinas Kesehatan, serta pembiayaan kesehatan.

Bab V Penutup (Kesimpulan) Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Sumatera Barat di tahun 2017. Lampiran Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Sumatera Barat dan 81 tabel data sesuai format yang ditetapkan.

5

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

BAB II

GAMBARAN UMUM

Sumatera Barat yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai letak geografis yang strategis antara kawasan sebelah utara dan kawasan timur pulau Sumatera dengan pulau Jawa di sebelah selatan. Provinsi Sumatera Barat mempunyai luas 42.229.730 km2 dengan topografi yang datar dan bergelombang sampai bergunung yang merupakan bagian dan jajaran pegunungan Bukit Barisan dengan luas perairan laut diperkirakan ± 186.500

Km2.

Batas wilayah Provinsi Sumatera Barat terletak disepanjang pinggiran pantai barat pulau Sumatera yang berada antara 0 - 54’ Lintang Utara sampai 3 - 30’ Lintang Selatan serta antara 98 36’ sampai 101 53’ Bujur Timur. Provinsi Sumatera Barat yang terdiri dari 19 kabupaten/kota (12 Kabupaten dan 7 Kota) diantaranya Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki wilayah terluas, yaitu 6.001,00 Km2 atau sekitar 14,21 % dari luas Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan kota Padang Panjang memiliki luas daerah terkecil, yakni 23,00 Km2 (0,05 %). Provinsi Sumatera Barat terletak di sebelah barat pulau Sumatera dan sekaligus berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera barat Iklim Sumatera Barat tergolong iklim tropis dengan rata-rata suhu 25,5 derajat Celcius dan rata-rata kelembaban yang tinggi yaitu 86,17 % dengan tekanan udara rata-rata berkisar 997,03 mb.

6

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

A. KEADAAN DEMOGRAFI

Sesuai dengan data dari BPS Provinsi Sumatera Barat, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017 tercatat sebesar 5.259.5 ribu jiwa,

sedangkan menurut data yang di dapatkan profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2017 sebesar 5.259.109 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 72 jiwa per km 2 (tabel 1). jiwa per kilometer persegi. Kepadatan tertinggi terdapat di Kota Bukittinggi yaitu sebesar 4.941 jiwa per kilometer persegi

Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan pada Sumatera Barat relatif seimbang. Penduduk dengan jenis kelamin laki-laki adalah 2.617,2 ribu Sementara itu, penduduk perempuan adalah 2.642,3 ribu Perbandingan yang relatif seimbang ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki perempuan sedikit lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.

B. ADMINISTRASI

Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017 mempunyai wilayah administrasi terdiri atas 12 (dua belas) Kabupaten dan 7 (tujuh) Kota, dengan 176 kecamatan, jumlah nagari sebanyak 755 nagari, 260 kelurahan, 125 desa dan 3.640 jorong / kampung * (SDBA).

Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua. Rasio Ketergantungan Muda adalah

7

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

perbandingan jumlah penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur 1564 tahun. Rasio Ketergantungan Tua adalah perbandingan jumlah penduduk umur 65 tahun ke atas dengan jumlah penduduk di usia 15-64 tahun. Komposisi penduduk Provinsi Sumatera Barat menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (<15 tahun) sebesar 30,8 %, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 64,4 % dan yang berusia tua (>65 tahun) sebesar 4,80 %.

C. KEADAAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU

Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus karena lingkungan merupakan media penularan penyakit. Untuk itu maka penanganan lingkungan perlu dilakukan. Disini dapat dilihat gambaran keadaan lingkungan terutama dari indikator-indikator persentase rumah sehat dan persentase tempat-tempat umum serta tempat pengelolaan makanan sehat. Disamping itu ada juga indikator lain yang sangat menunjang keadaan suatu lingkungan yang sehat antara lain persentase keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih, gambaran masing-masing indikator lingkungan diantaranya Cakupan Rumah Sehat, Cakupan Tempat-Tempat Umum (TTU) Sehat, Cakupan Tempat Pengelolan Makanan (TPM) Sehat.

8

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

GRAFIK 2.1 CAKUPAN RUMAH SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

2.1 CAKUPAN RUMAH SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 Dari tabel 58 (lampiran) terlihat cakupan rumah

Dari tabel 58 (lampiran) terlihat cakupan rumah yang memenuhi syarat 70 % masih jauh dari target 87 % pada umumnya semua Kab/Kota masih dibawah target, Rumah sehat ini banyak faktor yang mempengaruhinya tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat akan mempengaruhi dari perilaku masyarakat itu sendiri dan masyarakat lebih mementingkan untuk kehidupannya untuk makan dari pada kebersihan diri dan lingkungannya (Rumah sehat, limbah, sampah dan jamban keluarga serta air bersih). Sebagaiman kita ketahui bahwa rumah yang dikatakan memenuhi syarat kesehatan selain keadaan rumah, lingkungan disekitar rumah juga termasuk harus memenuhi syarat kesehatan seperti pegelolaan sampah, pengelolaan limbah, jamban dan kandang ternak yang ada disekitar rumah. Kalau dilihat keadaan rumah seperti ventilasi pada umumnya sudah memenuhi syarat akan

9

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

tetapi untuk pemcemaran disekitar rumah pada umumnya yang belum memenuhi syarat kesehatan seperti sampah, limbah yang belum dikelola dengan baik dan kandang ternak yang dekat dengan rumah, ini yang akan berdampak terhadap rumah menjadi tidak sehat. Untuk meningkatkan cakupan rumah sehat ini perlu dilakukan peningkatan penyuluhan dan pemantauan ke lapangan dengan menggunakan kartu rumah, sehingga dapat merobah perilaku masyarakat dalam pengelolaan lingkungan rumah GRAFIK 2.2 CAKUPAN TEMPAT-TEMPAT UMUM (TTU) SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

UMUM (TTU) SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 Dari berkumpulnya orang banyak sehingga agak susah untuk

Dari

berkumpulnya orang banyak sehingga agak susah untuk pengelolaannya

wisata,

tempat

tabel

63

(lampiran)

kebersihan

Tempat-tempat

lingkungannya

umum

seperti

ini

merupakan

tempat

terutama

untuk

pasar,

10

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

bioskop hotel , penginapan dan lain-lain. Untuk tempat-tempat umum ini yang menjadi masalah terutama air bersih dan sanitasi dasar (jamban, sampah dan limbah). Untuk TTU cakupan tahun 2017 mencapai 69 % dengan target 87 % Pada umumnya untuk kota sudah mendekati target, dipengelolanya, Tempat- tempat umum ini yang paling susah mengelolanya adalah sampah, ini sangat tergantung juga dengan perilaku dari masyarakat pengunjungnya dimana telah disediakan tempat sampah akan tetapi masyarakat masih membuang sampah disembarangan tempat seperti di pasar dan daerah wisata. Dan juga penyediaan air bersih yang masih banyak yang kurang sehinga mengakibatkkan jamban umum akan kotor, karena air tidak mencukupi, serta perilaku masyarakat dalam penggunakan jamban umum tidak merasa tanggung jawab terhadap kebersihan jamban (WC umum ) ini mengingat kebersihan WC umum ini ada yang mengelolanya

Untuk meningkatkan cakupan ini lebih ditingkatkannya koordinasi lintas sektor terkait dengan tempat dan adanya Perda dalam penertiban pengelolaan tempat tempat umum penyuluhan kepada masyarakat pengguna Tempat- Tempat Umum

11

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

GRAFIK 2.3 CAKUPAN TEMPAT PENGELOLAN MAKANAN (TPM) SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

MAKANAN (TPM) SEHAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 Yang termasuk dalam Tempat Pengelolaan makanan ini antara

Yang termasuk dalam Tempat Pengelolaan makanan ini antara lain :

restoran/rumah makan, jasa boga, depot air minum, makanana jajanan. Cakupan untuk tahun 2017 baru mencapai 61 % dengan target 85 %, hal ini juga masih didominasi oleh kota yang pada umumnya sudah mencapai target. Tempat pengelolaan makanan ini yang sering menjadi masalah adalah perilaku pengelola TPM untuk menyediakan tempat sampah, limbah dan kamar mandi/jamban. Hal ini berdasarkan hasil tinjauan / pengawasan lapangan sangat erat hubungannya dengan perilaku dari pengelola tempat makanan tersebut. Untuk TPM ini masih dikelola oleh masing-masing pribadi, disini para pelaku TPM masih mementingkan faktor keuntungan penjualan dari pada faktor kesehatan lingkungannya, mengingat umumnya TPM ini merupakan mata pencarian golongan ekonomi menengah kebawah.

12

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, ada beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas, mortalitas dan status gizi. Pada Bab ini, akan di bahas Jumlah Kematian Neonatal, Jumlah Kematian Bayi (AKB), Jumlah Kematian Balita (AKABA), Jumlah Kematian Ibu (AKI) dan angka morbiditas beberapa macam penyakit di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya.

A. ANGKA KEMATIAN

1. Kasus Kematian Neonatal

Kematian Bayi adalah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun. Kematian bayi ini dapat dikelompokkan menjadi bayi lahir mati, kematian 0 -7 hari (Perinatal), kematian 8 28 hari (neonatal) dan kematian 1- 12 bulan. Kematian Bayi merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan kejadian kematian bayi.

13

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Kematian 0 6 hari neonatal merupakan gambaran pelayanan kesehatan. Resiko terbesar kematian neonatal terjadi 24 jam pertama kehidupan, minggu pertama dan bulan pertama kehidupan. Bayi yang berusia kurang dari 1 bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan yang paling tinggi.

Kematian Neonatal menurun sebanyak 67 kasus dari tahun sebelumnya, dimana terdapat 687 kasus di tahun 2016 dan 322 kasus di tahun 2017. Jika dilihat berdasarkan gender, maka lebih banyak Kematian Neonatal laki laki (364 orang) dibanding Kematian Neonatal perempuan (256 orang). Grafik berikut ini menunjukkan bahwa jumlah kematian neonatal 0-28 hari di Prov. Sumbar sebesar 620 orang.

GRAFIK.3.1

JUMLAH KEMATIAN NEONATAL PROV SUMBAR TAHUN 2017

GRAFIK.3.1 JUMLAH KEMATIAN NEONATAL PROV SUMBAR TAHUN 2017 14 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

14

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

2. Kasus Kematian Bayi Kematian Bayi di Propinsi Sumatera Barat sebanyak 700 orang yang tersebar di 19 Kab/Kota dengan penyumbang kematian tertinggi dari Kota Padang sebanyak 111 orang. Faktor yang mempengaruhi meningkatnya Jumlah kematian bayi di Provinsi Sumatera Barat antara lain disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai standar, rendahnya tingkat pendidikan dan status ekonomi masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai yang dianjurkan, kurangnya partisipasi keluarga, masyarakat dan lintas program dalam program kesehatan ibu dan anak, belum optimalnya pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita serta kurangnya kualitas pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita. Grafik berikut ini menunjukkan Kematian Bayi Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017. GRAFIK. 3.2 JUMLAH KEMATIAN BAYI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

3.2 JUMLAH KEMATIAN BAYI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 15 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN

15

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

3. Kasus Kematian Balita.

Kematian Balita di Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2017 sebanyak 785 orang, dimana kematian balita laki-laki (471 orang) lebih banyak dari pada balita perempuan (380 orang). Kasus kematian balita ini meningkat dibanding tahun 2015 (907 orang). Penyumbang kematian Balita tertinggi dari Kota Padang sebanyak 127 orang. Grafik berikut ini menunjukkan Kematian Anak Balita Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017.

GRAFIK.3.3

JUMLAH KEMATIAN ANAK BALITA PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

JUMLAH KEMATIAN ANAK BALITA PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 16 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

16

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

4. Kasus Kematian Ibu.

Kematian Ibu juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Kematian ibu menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan.

Kematian Ibu dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.

Kasus kematian Ibu meliputi kematian ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas. Pada tahun 2017, kasus kematian Ibu berjumlah 107 orang, menurun jika dibanding tahun 2015 (111 orang). Adapun rincian kematian ibu ini terdiri dari kematian ibu hamil 30 orang, kematian ibu bersalin 25 orang dan kematian ibu nifas 52 orang. Sementara jika dilihat berdasarkan umur, kurang dari 20 tahun 1 orang, 20 s/d 34 tahun sebanyak 64 orang dan diatas 35 tahun 42 orang. Trend kasus kematian ibu setiap tahun bervariasi, secara umum mengalami naik turun, seperti terlihat pada grafik berikut :

17

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

GRAFIK 3.4. TREND KASUS KEMATIAN IBU DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2014 - 2017

KEMATIAN IBU DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2014 - 2017 A. ANGKA KESAKITAN Morbiditas adalah angka

A. ANGKA KESAKITAN

Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

1. Pola 10 Penyakit Terbanyak

Berdasarkan laporan dari seluruh Kab/Kota, pada tahun 2017 penyakit ISPA dan Gastritis masih menduduki peringkat atas dan kedua dari 10 penyakit terbanyak di Propinsi Sumbar yaitu sebanyak 705.659 kasus (39,2%) dan 285.282 kasus Gastritis (15,8) . Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh lingkungan dan gaya hidup yang salah

18

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

TABEL .3.1 10 PENYAKIT TERBANYAK PROV. SUMBAR 2017

NO

JENIS PENYAKIT

JUMLAH

%

1

ISPA

705.659

39,2

2

GASTRITIS

285.282

15.8

3

Hypertensi

248.964

13.8

4

Rheumatik

186.759

10.4

5

Penyakit Kulit Alergi

84.667

4.7

6

influenza

82.995

4.6

7

Penyakit kulit infeksi

69.659

3.9

8

Diare

62.886

3.5

9

Febris

50.864

2.8

10

Ashma

23.500

1.3

 

Jumlah

1.801.235

100

2. Status Gizi

Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Indikator TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama, misalnya : kemiskinan, perilaku hidup sehat dan pola asuh/pemberian makan yang kurang baik sejak

19

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

anak dilahirkan yang mengakibatkan anak menjadi pendek. Indikator BB/TB dan IMT/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat), misalnya: mengidap penyakit tertentu dan kekurangan asupan gizi yang mengakibatkan anak menjadi kurus. Pada Tahun 2017 Kasus Balita Gizi Buruk Ditemukan sebanyak 445 orang di Prov Sumbar & yang mendapat perawatan sebesar 100 %

GRAFIK.3.5

KASUS BALITA GIZI BURUK DITEMUKAN PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

BALITA GIZI BURUK DITEMUKAN PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 20 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

20

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

D alam Permenkes No.75 Tahun 2014 tentang Puskesmas, disebutkan bahwa Upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok dan masyarakat. Sedangkan upaya kesehatan perseorangan adalah suatu kegiatan dan/ atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan.

Situasi upaya kesehatan masyarakat di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017 dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pelayanan Kesehatan

a. Cakupan Kunjungan K1 dan K4

PWS KIA bertujuan untuk memantau secara berkesinambungan pelayanan kesehatan ibu hamil, dari mulai ANC sampai persalinannya serta kesehatan anaknya. Pemantauan yang dilakukan adalah pemantauan K1, K4, Deteksi

Resti oleh tenaga kesehatan/masyarakat, Kunjungan Neonatus, Persalinan oleh tenaga kesehatan, dan persalinan yang ditolong dukun.

21

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Target pencapaian program untuk K1 = 91 % dan K4 = 80 %. Tahun 2017 ibu hamil yang ada di Provinsi Sumatera Barat sebanyak 120.868 orang dengan capaian K1 sebanyak 109.670 orang (90.7 %) dan K4 sebanyak 96.592 orang (79.9%). Jika dibanding tahun 2015 capaian ini lebih kecil, yakni K1 = 99 % dan K4 = 89 %. GRAFIK 4.1 CAKUPAN KUNJUNGAN K1 DAN K4 DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

KUNJUNGAN K1 DAN K4 DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 b. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga

b. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Ibu hamil Resti adalah ibu hamil yang mengalami resiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu hamil maupun bersalin, jika dibanding ibu hamil normal. Sasaran ibu hamil resti adalah 20 % dari jumlah ibu hamil. Sasaran

ibu hamil resti tahun 2017 adalah 24.174 orang, Sementara temuan Ibu hamil Restinya sebanyak 18.313 orang. Jika dibandingkan dengan tahun 2015 ada peningkatan jumlah temuan kasus ibu hamil Resti ini, dimana tahun 2015

22

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

ditemukan dan ditangani kasus Bumil Resti sebanyak 15.572 orang. Ibu hamil yang melakukan persalinan dengan tenaga kesehatan tahun 2017 adalah 94.549 orang dari 113.586 orang ibu bersalin GRAFIK 4.2 CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

OLEH TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 c. Cakupan Pelayanan Nifas dan Cakupan Pemberian

c. Cakupan Pelayanan Nifas dan Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 84 %, masih di bawah target tahun 2017 (91%). Untuk capaian pemberian vitamin A pada ibu nifas jauh meningkat dari 74.4 % (93.793 orang) di tahun 2015 menjadi 80.5 % di tahun 2017 (91.409 orang).

23

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

GRAFIK 4.3. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

A PADA IBU NIFAS DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 d. Persentase Cakupan Imunisasi TT pada

d. Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil dan WUS

Untuk pencegahan terjadinya Tetanus Toksoid pada ibu hamil dilakukan imunisasi TT. Cakupan Imunisasi Tetanus Toksoid pada ibu hamil pada tahun 2017 adalah TT-1 = 17,4 %, TT-2 = 17,8 %, TT-3 = 14,3%, TT-4 = 12,4 %, TT-5 = 10,5 % dan TT2+ = 54,9 %. Cakupan Imunisasi Tetanus Toksoid pada ibu hamil pada tahun 2015 adalah TT-1 = 18,2%, TT-2 = 18,3 %, TT-3 = 14,3%, TT-4 = 12,2 %, TT-5 = 10,7 % dan TT2+ = 55,6 %. Secara keseluruhan, cakupan di tahun 2017 lebih besar dibanding tahun 2015. Imunisasi TT juga diberikan pada Wanita Usis Subur (WUS) dan lebih banyak dilakukan untuk imunisasi TT-1.

24

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

e. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe

Untuk mencegah terjadinya Anemia pada ibu hamil, dilakukan pendistribusian tablet Fe pada ibu hamil selama tiga bulan. Pada tahun 2017, dari 120.868

orang ibu hamil, yang mendapat Fe1 sebanyak 105.625 orang atau 87.4 % dan Fe3 sebanyak 95.835 atau 79,3 %. Capaian ini meningkat dari tahun 2015 yaitu Fe1 sebanyak 85.8 % dan untuk Fe3 sebanyak 79,6 %. GRAFIK 4.4 CAKUPAN PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPATKAN TABLET FE 1 & FE 3 DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

TABLET FE 1 & FE 3 DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 f. Cakupan Komplikasi Kebidanan

f. Cakupan Komplikasi Kebidanan dan Cakupan Neonatus dengan

Komplikasi yang Ditangani Pada tahun 2017, penanganan komplikasi kebidanan sebanyak 18.313 orang dari 24.174 perkiraan bumil dengan komplikasi yang ditangani atau sebesar 75,7%. Cakupan ini jauh meningkat dari tahun 2015, besarnya cakupan 64,1%. Sementara itu Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani

25

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

sebesar 6.523 orang dari 14.561 orang perkiraan neonatal komplikasi (44,8 %), cakupan ini jauh meningkat dari tahun 2015, besarnya cakupan 43,1 %.

GRAFIK 4.5 CAKUPAN KOMPLIKASI KEBIDANAN YANG DITANGANI PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

KEBIDANAN YANG DITANGANI PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 g. Persentase KB Aktif dan KB Baru Pasangan usia

g. Persentase KB Aktif dan KB Baru

Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri yang istrinya berumur 15-49 tahun. Pada tahun 2017, Pasangan Usia Subur (PUS) di Provinsi Sumatera Barat berjumlah 884.041. Peserta KB baru adalah PUS yang baru pertama kali menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, sementara KB aktif adalah akseptor yang sedang memakai kontrasepsi. Pada tahun 2017, jumlah peserta

KB baru 92.859 orang (10,5%) dan perserta KB aktif sebanyak 580.897 orang (65,7%). Jenis kontrasepsi ini bisa dikatagorikan atas 2, yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) terdiri dari IUD, MOP/MOW, Implan dan non MKJP terdiri dari suntik,pil, kondom dan obat vagina. Peserta KB

26

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

baru yang menggunakan MKJP sebanyak 23.329 orang dan non MKJP sebanyak 69.530 orang. Untuk pesera KB aktif yang menggunakan MKJP sebanyak 128.413 orang dan non MKJP 452.484 orang.

Kondisi tahun 2015 adalah Pasangan Usia Subur (PUS) berjumlah 861.964 orang. PUS yang merupakan peserta KB aktif mengunakan MKJP adalah 132.523 orang dan Non MKJP 420.974 orang. Alat kontrasepsi yang digunakan oleh peserta KB baru dengan MKJP sebanyak 23.945 orang dan non MKJP sebanyak 77.180 orang.

GRAFIK 4.6 PERSENTASE KB AKTIF PROV SUMBAR 2017

orang. GRAFIK 4.6 PERSENTASE KB AKTIF PROV SUMBAR 2017 27 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN

27

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

h. Persentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Berat bayi lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr. Dari semua bayi yang ditimbang pada tahun 2017, ditemukan 2.3%

bayi BBLR atau sebesar 2.225 orang . Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya, dimana tahun 2014 BBLR sebesar 2,2%.

GRAFIK 4.7 PERSENTASE BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 i. Cakupan Kunjungan Neonatus Jumlah bayi tahun

i. Cakupan Kunjungan Neonatus

Jumlah bayi tahun 2017 adalah sebanyak 97.067 orang. Bayi yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 94.167 orang atau 95,6 %, sedikit meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2015 (84,6%). Untuk kunjungan Neonatus 1 kali (KN1) adalah kunjungan neonatal pertama pada 6-48 jam setelah lahir sesuai dengan standar dan Kunjungan neonatal 3 (KN3) adalah pelayanan kunjungan neonatal lengkap, minimal 1 x usia 6-48 jam, 1 x

28

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

pada 3-7 hari dan 1 x pada 8-28 hari sesuai dengan standar. KN1 sedikit naik dari 86,9% di tahun 2015 menjadi 97 % di tahun 2017, demikian pula dengan KN3 menurun dari 85 % di tahun 2015 menjadi 94.1 % di tahun

2017.

GRAFIK 4.8 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS PROV SUMBAR 2017

GRAFIK 4.8 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS PROV SUMBAR 2017 1. Penyakit Menular a. TB Paru Tuberkulosis (TB)

1. Penyakit Menular

a. TB Paru

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet yang telah terinfeksi basil TB. Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah cas detection rate (CDR), yaitu jumlah pasien baru positif yang ditemukan dan ditemukan dan diobati terhadap perkiraan jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan dalam wilayah tersebut.

29

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat, angka insidensi semua tipe kasus TB dan Kasus baru TB Paru BTA Positif dapat dilihat bahwa insidensi semua tipe TB sebesar 131.65 per 100.000 penduduk

atau sekitar 6.852 kasus semua tipe TB, Insidensi kasus baru TB BTA Positif sebesar 4.597 per 100.000 penduduk atau sekitar 5.258 kasus baru TB Paru BTA Positif

b. Demam berdarah

Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus.Epidemiologi DBD cenderung semakin meningkat jumlah penderitanya serta sangat luas penyebarannya. Sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, penyakit DBD selalu ditemukan tiap tahun sehingga penyakit ini perlu mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat. GRAFIK 4.9 JUMLAH KASUS DBD PROV SUMBAR 2017

masyarakat. GRAFIK 4.9 JUMLAH KASUS DBD PROV SUMBAR 2017 30 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN

30

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Jumlah kasus DBD Tahun 2017 di Provinsi sumatera Barat sebanyak 3.952 orang, jumlah ini mengalami penurunan di banding 2015 yaitu sebanyak 3886 orang.

c.

Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi). Jumlah penderita pneumonia balita yang ditemukan dan ditangani Tahun 2017 adalah sebanyak 30 % dan ini mengalami peningkatan di banding tahun 2015 yang hanya 25 %.

GRAFIK 4.10 CAKUPAN PNEUMONIA BALITA YG DITANGANI PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

PNEUMONIA BALITA YG DITANGANI PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 31 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

31

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

d.

Diare

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dinyatakan menderita diare bila buang air besar tiga kali atau lebih atau buang air besar berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Pada Tahun 2017 di Provinsi sumatera Barat jumlah kasus diare yang ditemukan dan dilayani sebanyak 115.442 orang (102 %) , sedangkan tahun 2015 jumlah kasus diare yang ditemukan dan dilayani sebanyak 110.122 orang (99 %)

GRAFIK 4.11 CAK PELAYANAN DIARE PROVINSI SUMATERA BARAT 2017

4.11 CAK PELAYANAN DIARE PROVINSI SUMATERA BARAT 2017 32 DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

32

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

BAB V

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

1. Sarana Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat selalu melakukan peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan terus diupayakan untuk meningkatkan akses pemerataan, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan bagi seluruhmasyarakat Sumatera Barat. Sarana kesehatan yang dimiliki sampai saat ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi sampai dengan tahun 2017.untuk pelayanan kesehatan dasar Puskesmas yang beroperasional sebanyak 265 unit Puskesmas (106 unit Puskesmas rawatan, 159 unit Puskesmas non rawatan), Puskesmas Pembantu sebanyak 926 unit, Puskesmas Keliling 345 unit, Polindes 2.079 unit dan Posyandu 7.413 unit.

Untuk sarana pelayanan kesehatan rujukan saat ini telah ada 73 Rumah Sakit dengan perincian :

RUMAH SAKIT PEMERINTAH TERMASUK TNI/ POLRI 29 UNIT DENGAN TYPE RINCIAN Rumah Sakit Pemerintah Kelas A 2 unit yaitu :

RS M.Jamil Pdg,

RSJ. HB Saanin Padang

33

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Rumah Sakit Pemerintah Kelas B 3 unit yaitu :

RSA chmad Muchtar

RSUD Solok

RS Stroke.

Rumah Sakit Pemerintah KelasC

: 16 unit

Rumah Sakit Pemerintah KelasD 1 unit yaitu :

RSUD Kab Kep Mentawai

Rumah Sakit TNI / Polri

Rumah Sakit Umum Swasta sebanyak

Rumah Sakit Umum :16 unit,

Rumah Sakit Khusus : 28 unit.

: 4 unit.

: 44 unit meliputi

Jumlah kapasitas tempat tidur pada Rumah Sakit yang dimiliki telah mencapai 5.592 tempat tidur, 3.876 tempat tidurpada RS Pemerintah dan 1.716 tempat tidur pada RSSwasta.

Posyandu Posyandu merupakan kependekan dari Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu. Kegiatan di Posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partispasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan dari puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar. Posyandu ini terbagi atas 4 strata ,yaitu Pratama, Madya, Purnama dan Mandiri. Pada tahun 2017, Provinsi Sumatera

34

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Barat mempunyai Posyandu aktif sebanyak 5.701 buah. Berdasarkan stratanya, Posyandu Pratama 2.0 %, Posyandu Madya 22.1 %, Posyandu Purnama 52.5 % dan Posyandu Mandiri 23,3 %. Dilihat dari angka diatas posisi Posyandu terbanyak berada pada tingkat Purnama

2. Tenaga Kesehatan

a. Jumlah dan rasio tenaga medis di sarana kesehatan

Tenaga medis terdiri dari dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi. Sarana kesehatan terdiri dari Puskesmas dan Rumah Sakit. Jumlah Dokter spesialis di Provinsi Sumatera Barat 862 orang (510 laki-laki dan 352 perempuan), Jumlah Dokter umum 291 orang (82 laki-laki dan 209

perempuan), dan Jumlah Dokter gigi 74 orang (15 laki-laki dan 59 perempuan)

b. Jumlah bidan dan Perawat di Sarana Kesehatan

Provinsi

dan 62 orang perawat gigi.

Sumatera

Barat mempunyai 4.336 bidan, 1.883 orang perawat

c. Jumlah dan rasio tenaga kefarmasian di sarana kesehatan

Tenaga Farmasi terdiri dari Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Di beberapa fasyankes ada tenaga Apoteker, S1 Farmasi, D-III Farmasi dan Asisten Apoteker. Pada tahun 2017 tenaga teknis kefarmasian di Provinsi Sumatera Barat berjumlah 546 orang dan Apoteker berjumlah 112 orang.

35

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

d. Jumlah dan rasio tenaga kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan di sarana kesehatan Tenaga kesehatan masyarakat terdiri dari sarjana kesehatan masyarakat dan D-III kesehatan kesehatan lingkungan. Tenaga kesehatan masyarakat di Provinsi Sumatera Barat tahun 2017 berjumlah 418 orang dan Kesehatan Lingkungan berjumlah 305 orang.

e. Jumlah dan rasio tenaga gizi disarana kesehatan Tenaga gizi terdiri dari Nutrisiois dan dietisien. Jumlah nutrisionis Provinsi Sumatera Barat tahun 2015 berjumlah 304, sedangkan dietisien 327 orang

3. Jaminan Kesehatan Dana sharing iuran Program Jamkes Sumbar Sakato Tahun 2017 bersumber APBD Provinsi Sumatera Barat pada perjanjian kerjasama awal Rp 59.687.903.640.000,- dengan jumlah peserta 646.813 jiwa, dengan iuran peserta Rp 19.225,-/jiwa/bulan. Dalam proses terjadi perubahan besaran iuran menjadi Rp 23.000,-/jiwa/bulan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2017, sehingga sharing dana provinsi berubah. Sejalan hal tersebut juga dilakukan validasi data. Berdasarkan hasil validasi data Tahap I ditemukan data ganda 25.235 jiwa. Sehingga dilakukan addendum I perjanjian kerjasama dengan sharing dana provinsi menjadi Rp 68.050.008.000,-.

Pada bulan September dilakukan lagi validasi data Tahap II dengan hasil ditemukan data terindikasi ganda dan tidak valid sebanyak 9.177 jiwa, hal ini ditindaklanjuti dengan melakukan Addendum II Perjanjian Kerjasama, sehingga sharing dana provinsi pada tahun 2017 adalah Rp 66.802.230.400,-, dengan jumlah peserta 612.401 jiwa.

36

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Berikut tabel hasil rekonsiliasi data kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Sumatera Barat Sakato :

Program Jaminan Kesehatan Sumatera Barat Sakato : Iuran peserta jaminan kesehatan yang didaftarkan oleh

Iuran peserta jaminan kesehatan yang didaftarkan oleh pemerintah daerah tahun 2017 awalnya Rp 19.225,-/jiwa/bulan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan terjadi kenaikan iuran menjadi Rp 23.000,- /jiwa/bulan. Pencapaian jaminan kesehatan masyarakat di Provinsi Sumbar Tahun 2017 adalah : 69,27 %

37

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

BAB VI

PENUTUP

Data dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen. Oleh karena itu penyediaan data dan informasi yang berkualitas sangat dibutuhkan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan. Di bidang kesehatan, data dan informasi ini diperoleh melalui penyelenggaraan sistem informasi kesehatan.

Keberhasilan dan kekurangberhasilan pembangunan kesehatan mempunyai posisi sebagai kontributor sebanding bidang-bidang lain. Sedangkan untuk menilai keberhasilan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh jajaran kesehatan lebih banyak tercermin dari beberapa indikator sensitif tiap-tiap program dan kegiatan. Dalam pencapaiannya tidak ditentukan oleh urusan kesehatan semata, misalnya proporsi persalinan oleh tenaga kesehatan yang juga dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan budaya, menyangkut perilaku dan pemberdayaan. Beberapa hal yang perlu disampaikan bahwa dalam mengatasi masalah kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sektor kesehatan semata. Berdasar teori Bloom, derajat kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh mutu pelayanan kesehatan, namun juga faktor perilaku, lingkungan, dan faktor keturunan/kependudukan. Beberapa determinan itu sendiri juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Upaya pencarian dan pemanfaatan fasilitas kesehatan juga sangat dipengaruh keadaan lingkungan dan perilaku. Perilaku juga dipengaruhi oleh keadaan sosial, lingkungan fisik, ekonomi sosial dan budaya setempat .

38

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

Dengan adanya Profil Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai. Dan untuk capaian program dan kegiatan pembangunan kesehatan di di Provinsi

Barat yang lebih optimal, perlu dilakukan peningkatan kualitas

Sumatera

sumber daya manusia (tenaga kesehatan) dan perlu adanya bimbingan dan pengawasan terhadap petugas pelaksana program dan petugas dilapangan (tenaga di puskesmas). Selain itu perlu peningkatan kerja sama lintas sektor

dan instansi terkait, sehingga tercapai kemajuan dan hasil yang lebih baik sesuai dengan target yang ditetapkan.

Dan Profil Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat ini juga merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi data capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Millenium Development Goals 2015. Semoga Profil Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat ini bermanfaat dalam rangka penyusunan serta pengendalian program kesehatan dan menjadikan informasi penting yang dibutuhkan baik oleh jajaran kesehatan, lintas sektor maupun mayarakat. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan data maupun foto yang diperlukan dalam rangka penyusunan Profil Kesehatan Tahun 2017

39

DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017 www.dinkes.sumbarprov.go.id

RESUME PROFIL KESEHATAN #REF! #REF! TAHUN 2017

NO

INDIKATOR

 

ANGKA/NILAI

No. Lampiran

L

P

L + P

Satuan

A.

GAMBARAN UMUM

         

1

Luas Wilayah

   

67,464

Km 2

Tabel 1

2

Jumlah Desa/Kelurahan

4449

Desa/Kel

Tabel 1

3

Jumlah Penduduk

1,451,730

1,462,055

2,913,785

Jiwa

Tabel 2

4

Rata-rata jiwa/rumah tangga

   

4.3

Jiwa

Tabel 1

5

Kepadatan Penduduk /Km 2

78.5

Jiwa/Km 2

Tabel 1

6

Rasio Beban Tanggungan

57.1

per 100 penduduk produktif

Tabel 2

7

Rasio Jenis Kelamin

99.3

Tabel 2

8

Penduduk 10 tahun ke atas melek huruf

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

9

Penduduk 10 tahun yang memiliki ijazah tertinggi

a. SMP/ MTs

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

b. SMA/ SMK/ MA

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

c. Sekolah menengah kejuruan

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

d. Diploma I/Diploma II

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

e. Akademi/Diploma III

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

f. Universitas/Diploma IV

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

g. S2/S3 (Master/Doktor)

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 3

B.

DERAJAT KESEHATAN Angka Kematian

B.1

10

Jumlah Lahir Hidup

47,594

47,531

95,125

Tabel 4

11

Angka Lahir Mati (dilaporkan)

7

6

6

per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 4

12

Jumlah Kematian Neonatal

313

225

538

neonatal

Tabel 5

13

Angka Kematian Neonatal (dilaporkan)

7

5

6

per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

14

Jumlah Bayi Mati

341

249

602

bayi

Tabel 5

15

Angka Kematian Bayi (dilaporkan)

7

5

6

per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

16

Jumlah Balita Mati

455

344

797

Balita

Tabel 5

17

Angka Kematian Balita (dilaporkan)

10

7

8

per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

18

Kematian Ibu Jumlah Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (dilaporkan)

 

115

 

Ibu

Tabel 6

121

per 100.000 Kelahiran Hidup

Tabel 6

B.2

Angka Kesakitan

         

19

Tuberkulosis Jumlah kasus baru TB BTA+ Proporsi kasus baru TB BTA+ CNR kasus baru BTA+ Jumlah seluruh kasus TB CNR seluruh kasus TB Kasus TB anak 0-14 tahun Persentase BTA+ terhadap suspek Angka kesembuhan BTA+ Angka pengobatan lengkap BTA+ Angka keberhasilan pengobatan (Success Rate) BTA+ Angka kematian selama pengobatan

2,849

2,375

3,988

Kasus

Tabel 7

71.44

59.56

 

%

Tabel 7

91.97

107.69

91.13

per 100.000 penduduk

Tabel 7

4,722

4,442

6,392

Kasus

Tabel 7

152.43

201.41

146.08

per 100.000 penduduk

Tabel 7

   

10.06

%

Tabel 7

6.89

8.24

7.41

%

Tabel 8

3.67

1.99

2.82

%

Tabel 9

0.56

0.33

0.39

%

Tabel 9

4.23

2.33

3.21

%

Tabel 9

5.00

2.27

4.68

per 100.000 penduduk

Tabel 9

20

Pneumonia Balita ditemukan dan ditangani

45.56

46.70

56.12

%

Tabel 10

21

Jumlah Kasus HIV

#REF!

#REF!

#REF!

Kasus

Tabel 11

22

Jumlah Kasus AIDS

#REF!

#REF!

#REF!

Kasus

Tabel 11

23

Jumlah Kematian karena AIDS

#REF!

#REF!

#REF!

Jiwa

Tabel 11

24

Jumlah Kasus Syphilis

#REF!

#REF!

#REF!

Kasus

Tabel 11

25

Donor darah diskrining positif HIV

48.41

84.92

44.59

%

Tabel 12

26

Persentase Diare ditemukan dan ditangani

0.00

0.00

0.00

%

Tabel 13

27

Kusta Jumlah Kasus Baru Kusta (PB+MB)

49

20

69

Kasus

Tabel 14

Angka penemuan kasus baru kusta (NCDR) Persentase Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun Persentase Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta Angka Prevalensi Kusta Penderita Kusta PB Selesai Berobat (RFT PB) Penderita Kusta MB Selesai Berobat (RFT MB)

0.00

0.00

0.00

per 100.000 penduduk

Tabel 14

   

5.08

%

Tabel 15

3.39

%

Tabel 15

0.04

per 100.000 penduduk

Tabel 15

0.00

0.00

0.00

per 10.000 Penduduk

Tabel 16

66.67

33.33

33.33

%

Tabel 17

17.31

14.29

16.44

%

Tabel 17

28

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

NO

INDIKATOR

 

ANGKA/NILAI

No. Lampiran

L

P

L + P

Satuan

 

AFP Rate (non polio) < 15 th Jumlah Kasus Difteri Case Fatality Rate Difteri Jumlah Kasus Pertusis Jumlah Kasus Tetanus (non neonatorum) Case Fatality Rate Tetanus (non neonatorum) Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum Case Fatality Rate Tetanus Neonatorum

   

3.00

per 100.000 penduduk <15 tahun

Tabel 18

7

5

12

Kasus

Tabel 19

   

8

%

Tabel 19

1

0

1

Kasus

Tabel 19

4

1

5

Kasus

Tabel 19

   

20

%

Tabel 19

0

0

0

Kasus

Tabel 19

   

#DIV/0!

%

Tabel 19

 

Jumlah Kasus Campak Case Fatality Rate Campak Jumlah Kasus Polio Jumlah Kasus Hepatitis B

330

393

723

Kasus

Tabel 20

   

0

%

Tabel 20

4

4

8

Kasus

Tabel 20

10

106

116

Kasus

Tabel 20

29

Incidence Rate DBD

0.00

0.00

0.00

per 100.000 penduduk

Tabel 21

30

Case Fatality Rate DBD

0.38

0.14

0.22

%

Tabel 21

31

Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasit Incidence)

0.00

0.00

0.00

per 1.000 penduduk berisiko

Tabel 22

32

Case Fatality Rate Malaria

#DIV/0!

#DIV/0!

#DIV/0!

%

Tabel 22

33

Angka Kesakitan Filariasis

0

0

0

per 100.000 penduduk

Tabel 23

34

Persentase Hipertensi/tekanan darah tinggi

21.71

24.03

23.00

%

Tabel 24

35

Persentase obesitas

12.98

21.33

17.90

%

Tabel 25

36

Persentase IVA positif pada perempuan usia 30-50 tahun

 

1.26

 

%

Tabel 26

37

% tumor/benjolan payudara pada perempuan 30-50 tahun

2.24

%

Tabel 26

38

Desa/Kelurahan terkena KLB ditangani < 24 jam

   

59.81

%

Tabel 28

C.

UPAYA KESEHATAN Pelayanan Kesehatan

   

C.1

39

Kunjungan Ibu Hamil (K1)

 

90

 

%

Tabel 29

40

Kunjungan Ibu Hamil (K4)

79.99

%

Tabel 29

41

Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan

84.26

%

Tabel 29

42

Pelayanan Ibu Nifas

82.09

%

Tabel 29

43

Ibu Nifas Mendapat Vitamin A

83.71

%

Tabel 29

44

Ibu hamil dengan imunisasi TT2+

55.48

%

Tabel 30

45

Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe3

79.76

%

Tabel 32

46

Penanganan komplikasi kebidanan

71.83

%

Tabel 33

47

Penanganan komplikasi Neonatal

53.06

40.50

40.72

%

Tabel 33

48

Peserta KB Baru

   

13.61

%

Tabel 36

49

Peserta KB Aktif

64.94

%

Tabel 36

50

Bayi baru lahir ditimbang

94

93

94

%

Tabel 37

51

Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)

9.32

9.90

9.60

%

Tabel 37

52

Kunjungan Neonatus 1 (KN 1)

93.14

92.16

92.68

%

Tabel 38

53

Kunjungan Neonatus 3 kali (KN Lengkap)

89.99

89.81

89.90

%

Tabel 38

54

Bayi yang diberi ASI Eksklusif

64.17

67.24

65.68

%

Tabel 39

55

Pelayanan kesehatan bayi

83.44

83.74

83.59

%

Tabel 40

56

Desa/Kelurahan UCI

   

76.43

%

Tabel 41

57

Cakupan Imunisasi Campak Bayi

79.30

79.26

79.28

%

Tabel 43

58

Imunisasi dasar lengkap pada bayi

78.50

78.82

78.66

%

Tabel 43

59

Bayi Mendapat Vitamin A

77.85

78.52

77.96

%

Tabel 44

60

Anak Balita Mendapat Vitamin A

89.32

84.03

87.19

%

Tabel 44

61

Baduta ditimbang

76.49

76.69

76.59

%

Tabel 45

62

Baduta berat badan di bawah garis merah (BGM)

0.96

0.83

0.90

%

Tabel 45

63

Pelayanan kesehatan anak balita

69.46

70.43

69.93

%

Tabel 46

64

Balita ditimbang (D/S)

70.14

70.34

70.19

%

Tabel 47

65

Balita berat badan di bawah garis merah (BGM)

0.80

0.80

0.80

%

Tabel 47

66

Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan

100.00

100.00

100.00

%

Tabel 48

67

Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

96.83

94.67

95.80

%

Tabel 49

68

Rasio Tumpatan/Pencabutan Gigi Tetap

   

0.43

Tabel 50

69

SD/MI yang melakukan sikat gigi massal

63.01

sekolah

Tabel 51

70

SD/MI yang mendapat pelayanan gigi

80.75

sekolah

Tabel 51

71

Murid SD/MI Diperiksa (UKGS)

35.55

37.60

37.23

%

Tabel 51

72

Murid SD/MI Mendapat Perawatan (UKGS)

52.17

52.80

52.32

%

Tabel 51

73

Siswa SD dan setingkat mendapat perawatan gigi dan mulut

52.17

52.80

52.32

%

Tabel 51

74

Pelayanan Kesehatan Usila (60 tahun +)

45.23

53.14

49.45

%

Tabel 52

C.2

Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan Persentase

75

Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

-

-

-

%

Tabel 53

NO

INDIKATOR

 

ANGKA/NILAI

No. Lampiran

L

P

L + P

Satuan

76

Cakupan Kunjungan Rawat Jalan

335.80

443.34

378.49

%

Tabel 54

77

Cakupan Kunjungan Rawat Inap

47.86

48.53

30.79

%

Tabel 54

78

Angka kematian kasar/Gross Death Rate (GDR) di RS

#REF!

#REF!

#REF!

per 100.000 pasien keluar per 100.000 pasien keluar

Tabel 55

79

Angka kematian murni/Nett Death Rate (NDR) di RS

#REF!

#REF!

#REF!

Tabel 55

80

Bed Occupation Rate (BOR) di RS

   

#REF!

%

Tabel 56

81

Bed Turn Over (BTO) di RS

#REF!

Kali

Tabel 56

82

Turn of Interval (TOI) di RS

#REF!

Hari

Tabel 56

83

Average Length of Stay (ALOS) di RS

#REF!

Hari

Tabel 56

C.3

Perilaku Hidup Masyarakat

   

87

Rumah Tangga ber-PHBS

   

54.40

%

Tabel 57

C.4

Keadaan Lingkungan

         

88

Persentase rumah sehat

   

69.70

%

Tabel 58

89

Penduduk yang memiliki akses air minum yang layak

73.25

%

Tabel 59

90

Penyelenggara air minum memenuhi syarat kesehatan

65.38

%

Tabel 60

91

Penduduk yg memiliki akses sanitasi layak (jamban sehat)

71.95

%

Tabel 61

92

Desa STBM

18.61

%

Tabel 62

93

Tempat-tempat umum memenuhi syarat TPM memenuhi syarat higiene sanitasi TPM tidak memenuhi syarat dibina TPM memenuhi syarat diuji petik

69.09

%

Tabel 63

60.86

%

Tabel 64

42.54

%

Tabel 65

18.40

%

Tabel 65

D.

SUMBERDAYA KESEHATAN Sarana Kesehatan

   

D.1

94

Jumlah Rumah Sakit Umum

   

38.00

RS

Tabel 67

95

Jumlah Rumah Sakit Khusus

19.00

RS

Tabel 67

96

Jumlah Puskesmas Rawat Inap

103.00

Tabel 67

97

Jumlah Puskesmas non-Rawat Inap Jumlah Puskesmas Keliling Jumlah Puskesmas pembantu

146.00

Tabel 67

371.00

Tabel 67

826.00

Tabel 67

98

Jumlah Apotek

533.00

Tabel 67

99

RS dengan kemampuan pelayanan gadar level 1

100.00

%

Tabel 68

100

Jumlah Posyandu

7,595.00

Posyandu

Tabel 69

101

Posyandu Aktif

84.79

%

Tabel 69

102

Rasio posyandu per 100 balita

-

per 100 balita

Tabel 69

103

UKBM Poskesdes Polindes Posbindu

1,524.00

Poskesdes

Tabel 70

704.00

Polindes

Tabel 70

1,328.00

Posbindu

Tabel 70

104

Jumlah Desa Siaga

1,884.00

Desa

Tabel 71

105

Persentase Desa Siaga

65.17

%

Tabel 71

D.2

Tenaga Kesehatan

   

106

Jumlah Dokter Spesialis

433.00

388.00

821.00

Orang

Tabel 72

107

Jumlah Dokter Umum

205.00

566.00

771.00

Orang

Tabel 72

108

Rasio Dokter (spesialis+umum)

   

-

per 100.000 penduduk

Tabel 72

109

Jumlah Dokter Gigi + Dokter Gigi Spesialis

68.00

294.00

362.00

Orang

Tabel 72

110

Rasio Dokter Gigi (termasuk Dokter Gigi Spesialis)

   

-

per 100.000 penduduk Orang

 

111

Jumlah Bidan

 

4,336.00

 

Tabel 73

112

Rasio Bidan per 100.000 penduduk

-

per 100.000 penduduk

Tabel 73

113

Jumlah Perawat

849.00

3,244.00

4,093.00

Orang

Tabel 73

114

Rasio Perawat per 100.000 penduduk

   

-

per 100.000 penduduk

Tabel 73

115

Jumlah Perawat Gigi

39.00

312.00

351.00

Orang

Tabel 73

116

Jumlah Tenaga Kefarmasian

102.00

599.00

701.00

Orang

Tabel 74

117

Jumlah Tenaga Kesehatan kesehatan

121.00

264.00

401.00

Orang

Tabel 75

118

Jumlah Tenaga Sanitasi

84.00

219.00

313.00

Orang

Tabel 76

119

Jumlah Tenaga Gizi

27.00

349.00

393.00

Orang

Tabel 77

D.3

Pembiayaan Kesehatan

120

Total Anggaran Kesehatan

   

1,844,113,572,178.00

Rp

Tabel 81

121

APBD Kesehatan terhadap APBD Kab/Kota

-

%

Tabel 81

122

Anggaran Kesehatan Perkapita

348,300.19

Rp

Tabel 81

ANGKA/NILAI L + P

NO

INDIKATOR

L

P

Satuan

No. Lampiran

TABEL 1

LUAS WILAYAH, JUMLAH DESA/KELURAHAN, JUMLAH PENDUDUK, JUMLAH RUMAH TANGGA, DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KABUPATEN TAHUN 2017

 
   

LUAS WILAYAH (km 2 )

 

JUMLAH

 

JUMLAH

RATA-RATA

KEPADATAN PENDUDUK per km 2

NO

KABUPATEN

DESA

KELURAHAN

DESA +

JUMLAH

PENDUDUK

RUMAH

JIWA/RUMAH

KELURAHAN

TANGGA

TANGGA

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

PADANG

695

-

104

104

927,011

203,702

5

1,334

2

PESISIR SELATAN

5,750

182

480

662

450,186

103,217

4

78

3

DHARMASRAYA

2,961

52

-

52

235,476

64,118

4

80

4

SIJUNJUNG

3,131

1

61

62

230,104

56,343

4

73

5

SOLOK SELATAN

3,346

269

39

308

162,724

40,197

4

49

6

PAYAKUMBUH

80.4

-

48.0

48.0

131,819.0

32,018.0

4.1

1,638.9

7

SAWAHLUNTO

273.45

27

10

37

61,398

15,010

4

225

1

50 KOTA

3,354

79

414

493

372,568

93,476

4

111

9

BUKITTINGGI

25,239

-

24

24

126,804

30,688

4

5

10

KOTA SOLOK

57.640

-

13

13

66,106

16,386

4

1,147

11

PARIAMAN

70.730

55

16

71

86,618

16,055

5

1,225

12

PASAMAN BARAT

3,888

19

212

231

418,785

93,469

4

108

13

PADANG PARIAMAN

1,329

445

60

505

408,612

103,281

4

308

14

AGAM

2,232

478

82

560

484,288

107,415

5

217

15

KAB. SOLOK

3,738

74

414

488

368,691

80,486

5

99

16

TANAH DATAR

1,336

75

395

470

346,578

87,582

4

259

17

PADANG PANJANG

23.00

-

16

16

52,422

9,092

6

2,279

18

MENTAWAI

6,011

43

-

43

88,692

21,153

4

15

19

PASAMAN

3,948

225

37

262

275,728

64,769

4

70

 

JUMLAH (KAB/KOTA)

67,464

2,024

2,425

4,449

5,294,610

1,238,457

4

78

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

TABEL 2

JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2017

NO

KELOMPOK UMUR (TAHUN)

 

JUMLAH PENDUDUK

 

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

LAKI-LAKI+PEREMPUAN

RASIO JENIS KELAMIN

1

 

2

3

4

5

6

1

0

- 4

164,222

159,335

323,557

103.07

2

5

- 9

159,895

153,222

313,117

104.36

3

10

- 14

134,254

127,921

262,175

104.95

4

15

- 19

132,982

133,475

266,457

99.63

5

20

- 24

130,087

131,854

261,941

98.66