Anda di halaman 1dari 48

FORENSIK KEDOKTERAN GIGI UNTUK TANDA PATOLOGIS

Pendahuluan

Odontologi forensik – aplikasi dari dunia kedokteran gigi untuk

permasalahan – permasalahan dibidang forensik – pada dasarnya adalah suatu

disiplin ilmu tersendiri dan membutuhkan ekspertise dari seorang spesialis gigi,

dimana kemampuan ini tidak dimiliki oleh ahli patologi yang hanya memiliki

kualifikasi pada bidang kesehatan. Oleh karena itu hal ini sangat penting,

dimanapun tempat yang memungkinkan, serta memiliki permasalahan yang

melibatkan gigi dan rahang, akan dirujuk ke dokter gigi pada stadium awalnya,

terutama pada waktu dilakukan otopsi original atau pemeriksaan lainnya terhadap

seorang subjek.

Sejumlah pemahaman yang berbeda dirasakan perlu untuk dibawa ke dalam

forum untuk menghormati hal ini, bagaimanapun. Pertama, hal ini harus mampu

diterima bahwa tidak semua dokter dokter gigi tertarik atau kompeten dalam

menangani masalah forensik. Hal ini sama dengan para ahli patologi, anatomi atau

spesialis lainnya, bahwa kurangnya motivasi dan pengalaman dapat membuat

partisipasi mereka dalam masalah-masalah legal memiliki nilai yang kecil. Seorang

ahli odontologi forensik, alaminya akan memberikan ekspertise yang terbaik,

karena ia secara professional terlibat dalam subjek dan telah mengikuti pelatihan

atau memiliki pengalaman, ataupun keduanya, mengenai masalah dento-legal,

meskipun hanya sebagian kecil dari ahli odontologi forensik bekerja sepanjang hari
dalam sspesialisasi yang super ini, karena kebanyakan diantara mereka lebih

memilih untuk menjadi pengajar atau peneliti dalam banyak cabang sains dental.

Banyak bagian di dunia ini yang disana tidak terdapat seorangpun ahli

odontologi forensik. Di negara berkembang, bahkan bisa saja tidak ada dokter gigi

forensik sama sekali – atau satu-satunya ahli tersebut bekerja di sekolah kedokteran

di ibukota, dimana ia tidak dapat ditemukan di tempat yang jauh. Meskipun dalam

banyak tingkatan yang lebih lanjut, kemungkinan masalah jarak dan perjalanan

membuat tindakan menghubungi ahli odontologi untuk memeriksa tubuh in situ

tidak dapat dipraktikkan. Ekspertise dari dokter gigi mungkin dapat dibuat

kemudian, jika bahannya masih terpelihara untuk diperiksa dalam transmisinya ke

sang tempat ahli. Belum lagi dalam pemikiran lainnya, banyak permasalahan

mengenai ketersediaan, biaya dan perasaan kurang pentingnya kasus dapat

membuat hal ini semakin tidak mungkin untuk melihat adanya ahli odontologi yang

terlibat pada stadium awal – atau bahkan pada keseluruhannya. Pada semua instansi

– instansi tersebut, ahli patologi atau dokter medikolegal lainnya tidak mempunyai

pilihan selain menangani aspek gigi sebaik yang meeka bisa, bahkan dalam tahap

awal atau bahkan selama proses investigasi.

Bagian ini tidak bermaksud khusus selain untuk menjadi petunjuk bagi

dokter yang ditempatkan pada posisi ini dan tidak ada maksud untuk mempengaruhi

seorang ahli patologis untuk mencoba mengganti atau membuang pendapatnya

dengan suatu opini odontologikal yang baik. Hal ini tidak cukup untuk menjelaskan

hal tersebut, dimana isunya sangatlah serius, setiap usaha harus dibuat untuk

mendapatkan asisten ahli forensik gigi. Pengingat dari bagian ini sementara harus
terlihat sebagai suatu “pertolongan pertama primer” untuk kasus-kasus dimana

investigasi ideal tidak dapat dilakukan karena satu alasan maupun yang lainnya.

Jika tidak ada saran dari ahli gigi yang dapat diperoleh di lapangan, maka ahli

patologi harus melakukan apa yang dia bisa dan menjaga baik rincian rekaman

maupun spesimen fisik, dimana hal ini dapat diteliti nantinya oleh ahli odontologi

forensik, jika salah satu dari mereka dapat ditemukan selama berlangsungnya

proses investigasi.

Asistensi yang dapat diberikan oleh dokter gigi terbagi menjadi dua buah

bagian utama yaitu:

 Interpretasi bekas gigitan

 Identifikasi personal, baik secara individu maupun dalam konteks bencana

masal.

Bekas gigitan

Salah satu dari dua hal yang paling menarik dalam odontologi forensik

adalah dia yang memiliki relevansi langsung dengan ahli patologis, dalam hal ini

adalah interpretasi trauma pada permukaan tubuh. Untuk kebutuhan kelengkapan

data, bagaimanapun, harus disebutkan pertama kali bekas gigitan pada objek mati,

biasanya bekas makanan. Hal ini merupakan hal pertama dalam bagian sains

forensik untuk merasakan kriminalistik, dimana dasar gigi digunakan untuk

mengidentifikasi pelaku kejahatan dari suatu tindakan yang telah terjadi dimana

pelaku meninggalkan bekas giginya dalam beberapa bahan yang tertinggal di TKP.

Hal ini jarang menjadi perhatian patologi forensik, kecuali dalam suatu
pemeriksaan mereka diminta oleh polisi untuk memeriksa objek tersebut, seperti

sebuah apel atau sepotong keju, untuk melihat beberapa abnormalitas gigi yang

mungkin dari seorang tersangka, dimana hal ini dapat menyebabkan terbentuknya

bekas gigitan yang tidak biasa.

Dokter juga kemungkinan akan ditanyakan mengenai bagaimana cara untuk

mempertahankan dan menjaga bekas gigitan yang terbentuk hingga objek tersebut

dapat diperiksa oleh seorang ahli odontologi forensik dikemudian harinya. Dimana

substansinya adalah “plastic”, seperti mentega, keju, lemak babi, lilin atau coklat,

untuk instannya, hal ini harus disimpan di dalam lemari pendingin untuk

mencegahnya meleleh atau meluber secara bertahap. Hal ini tidak dapat disimpan

dalam kondisi beku yang berelebihan, karena dapat menyebabkan terjadinya

kerapuhan dan pecah-pecah. Petunjuk dari ahli forensik harus diiikuti jika

semuanya tersedia. Buah, khususnya apel terlihat sangat mudah untuk digigit pada

serial – serial kriminal, dan Marshall dkk. merekomendasikan pengawetannya

menggunakan larutan Campden, sebuah cairan metabisulfat yang digunakan untuk

mengawetkan buah dalam botol. Alternative lainnya, yaitu menggunakan 5 persen

asam asetat dalam 40 persen larutan aqueous formaldehid. Formalin histologi yang

biasanya digunakan tidak cukup memuaskan – begitupun lemari pendingin, dimana

mereka akan membiarkan buah menjadi layu dan berkerut. Bagaimanapun

pengawetan yang direkomendasikan ke polisi, objek yang diawetkan harus di foto

secara adekuat dengan bidang film pada sudut yang tepat dengan gigitan serta ada

suatu skala yang diletakkan di dalam bidang fokal (Gambar 26.2). Jika

memungkinkan, harus dilakukan swab pada kondisi ditemukannya jejak saliva


(lihat di bawah) dan kemudian buah tersebut diawetkan untuk pemeriksaan

selanjutan dimasa yang akan datang.

Kembali ketubuh manusia, gigitan secara relatif adalah hal yang umum

ditemukan, khususnya pada kasus kekerasan pada anak dan pada kejahatan seksual

pada orang dewasa (Gambar 26.1).

Gambar 26.1. Bekas gigitan pada lengan bayi pada kasus kekerasan pada anak.

Pelakunya adalah ibu sang bayi. Bekas gigi terlihat kurang dari satu kuadran,

pembatas pada sisi lainnya terlihat lebih kecil dari biasanya.


Gambar 26.2. Bekas gigitan pad asisi anterior dari tungkai kanan bawah dari

seorang bayi berusia 6 minggu yang ditimbulkan oleh seorang anak berusia 2,5

tahun. Usia cedera adalah 4 hari.

Dalam bentuk tersebut, gigitan dapat berada disisi mana saja dari tubuh bayi, lokasi

terfavoritnya adalah kedua tangan, kedua lengan, bahu, pipi, bokong dan badan.

Dalam pengalaman penulis (BK) hampir semua gigitan pada anak kecil berasal dari

ibunya, tetapi hal ini tidak berarti tidak adanya variasi dalam keseluruhan kekerasan

pada anak. Sebuah pembenaran tersering yang dipaparkan orang tua adalah bayi

mereka digigit oleh saudara lainnya atau anjing keluarga mereka – dan sayangnya

penjelasan ini mungkin saja benar. Mereka yang lainnya mungkin saja menyerang

diri sendiri. Hal ini oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk memeriksa

dengan benar bekas gigitan untuk menentukan apakah ukuran dari bekas gigitan

tersebut konsisten dengan gigi orang dewasa, atau apakah ini terlalu kecil untuk
dikatakan berasal dari anak-anak lainnya – atau ini memiliki bentuk yang berbeda,

sehingga mengindikasikan gigitan ini berasal dari binatang.

Kondisi tersering lainnya dimana gigitan manusia akan muncul adalah oada

kasus pemerkosaan atau kekerasan seksual. Disini para ahli patologi akan

dibutuhkan untuk memeriksa gigitan sebagai bagian dari otopsi dalam suatu kasus

pembunuhan seksual – atau bahkan terkadang pada korban langsung dari suatu

penyerangan, jika ini adalah bagian dari pekerjaannya untuk melakukan

pemeriksaan klinis atau pada kondisi dimana tidak ada “ahli bedah polisi” atau ahli

forensik yang tersedia (Gambar 26.3 – 26.5).

Gambar 26.3. Bekas gigitan pada payudara kanan dari seorang wanita berusia 50
tahun yang mati akibat penjeratan selama kekerasan seksual terjadi (di produksi
kembali melalui ijin dari Professor Cristina Cattaneo).
Gambar 26.4. Bekas gigitan pada putting payudara selama kekerasan seksual.

Bekas lukanya terlalu kecil untuk dicocokan dengan gigi manapun, tetapi swab dari

gigtan kemungkinan dapat mengambil contoh saliva dan DNA yang dapat

digunakan untuk mengidentifikasi pelaku.

Pada jenis kejahatan ini, gigitan biasanya berorientasi secara seksual atau

didistribusikan pada banyak bagian tubuh. Lokasi tersering biasanya adalah

payudara dan putting, tetapi leher, bahu, paha, abdomen, pubes dan bahkan vulva

juga bisa diserang oleh pelaku. Sebagai catatan pada bagian pembunuhan seksual,

perhatian harus diberikan untuk mengenali beberapa kasus yang disebut “gigitan

cinta”, khususnya dengan isapan yang menimbulkan pteki (suction petechiae),

sebagai bagian dari penerimaan (jika sangat antusias) dalam hubungan seksual,
tetapi dimana kerusakan sebenarnya muncul, khususnya pada payudara dan putting,

kemudian sebuah kekerasan atau elemen sadis biasanya muncul. Sebuah analisis

pada 778 bekas gigitan oleh Freeman dkk. menunjukkan kebanyakan gigitan

muncul pada bagian lengan, yang kemudian diikuti oleh payudara. Jika diarahkan

pada jenis kelamin, pria lebih banyak digigit pada bagian lengan daripada wanita

dan wanita lebih sering digigit pada bagian payudaranya dibandingkan pria. Data

menunjukkan pola dalam lokasi dan jumlah gigitan yang terlihat memiliki

hubungan baik dengan jenis kejahatan maupun usia dari korban.

Gigitan juga kemungkinan ditunjukkan pada petugas kepolisian ketika

berusaha untuk melakukan penangkapan pada pelaku yang berusaha melawan.

Mereka juga bertanding dalam acara – acara olahraga, khususnya sepak bola dan

beberapa bentuk pertandingan gulat, dan selama serangan ketika korban berusaha

untuk mengigit pelaku. Dalam kejadian gigitan instan tersebut, lokasinya dapat

ditunjukkan dimana saja, tetapi yang paling menjadi targetnya adalah tangan, jari,

hidung, jidat, telingan dan bahkan bibir.

Beberapa bekas gigitan dapat disebabkan oleh diri sendiri; yang terjadi di

wajah atau suatu kondisi yang menyebabkan lidah dan bibir tergigit kuat. Orang

lain terkadang berusaha mengigit diri mereka sendiri, terkadang untuk memalsukan

suatu cedera untuk suatu variasi motivasi yang memiliki rentang maksud dari hanya

sekedar merasa sakit hingga gangguan kejiwaan. Bekas gigitan multipel (khususnya

jenis isapan), yang dapat terlihat pada area yang dapat diakses dari bahu dan tangan,

menimbulkan kecurigaan disebabkan oleh diri sendiri, khususnya pada anak-anak

yang lebih tua atau gadis remaja.


Gambar 26.5. Bekas gigitan yang dibuat selama kekerasan seksual. Bekas pada

bagian kiri menunjukkan tidak adanya bentuk spesifik tetapi posisi bekas ini adalah

bentuk khusus yang menjadi ciri dari suatu gigitan yang berorientasi secara seksual.

Yang lainnya menunjukkan ptekie dengan sentral konfluens dan memar kemerahan

yang berasal dari isapan dan penekanan oleh lidah. Digambar juga terdapat zona

pucat berbentuk semisirkular rendah yang berhubungan dengan bibir bawah, tetapi

fitur yang mencolok adalah sekelompok abrasi linear pada bagian puncak dari bekas

yang dibuat menggunakan gigi insisivus bagian atas yang menyeret seluruh kulit

saat rahang tertutup. Kedua gigitan dikelilingi oleh zona memar yang difus.

Penanda alami dari bekas gigitan

Meskipun disebut sebagai “bekas gigitan”, beberapa komponen dari

pengaplikasian mulut ke kulit bisa saja tidak berasal dari gigi sebenarnya. Bibir
secara transien dapat meninggalkan bekas pada kulit jika dipaksa mengigit,

khususnya pada anak-anak, meskipun bekas yang ditimbulkan tidak bertahan lama

dan secara cepat menghilang dalam hidup, tidak bertahan setelah terjadinya

kematian kecuali hal ini berhubungan dengan pteki. Isapan dapat menimbulkan

sebuah potongan hemoragik pungtata, bahkan sebuah pteki ekcil atau ekimosis

yang lebih besar bergabung kedalam sebuah memar sentral yang berkonfluens (lihat

Gambar 4.21).

Bekas gigitan manusia kemungkinan hanya akan menunjukkan sebagian

kecil dari arcade gigi, disebabkan oleh gigi depan dari kaninum ke kaninum dengan

pemisah yang hampir tidak bervariasi pada sisi lainnya, yang menunjukkan

pemisahan dari rahang atas dan bawah. Gigitan manusia memiliki bentuk yang

mendekati bentuk sirkuler atau sebuah bentuk oval yang dangkal. Arkus parabola

yan dalam atau bentuk U hanya dapat ditimbulkan oleh binatang dalam kondisi

alami. Gigi dapat menyebabkan bekas yang jelas, terpisah atau bekas tersebut

mungkin saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya untuk membentuk suatu

garis tidak beraturan yang berkelanjutan atau terputus-putus. Seiring berjalannya

waktu, secara alami bekas gigitan yang jelas akan tersebar dan menjadi kabur,

secara progresif mereka akan kehilangan definisinya – melalui proses abrasi pada

permukaan kulit yang mempertahankan bentuk mereka hingga keropeng

penyembuhan selesai.

Bekas gigi dapat mengalami abrasi, memar atau laserasi – atau kombinasi

dari dua atau tiga hal tersebut. Kejelasan dari suatu bekas gigitan bergantung pada

sejumlah faktor. Jika kontur dari bagian gigitan adalah tidak ebraturan atau
berebentuk seperti kurva, kemudian hanya bagian dari arkus dental yang

kemungkinan berkontak dengan jaringan. Jika gigitan dipaksakan, kemudian

memar subkutaneus yang luas akan tersebar secara lateral dan mengaburkan

batasannya. Jika gigitan dibuat beberapa hari sebelumnya, kemudian penyembuhan

abrasi dan laserasi serta absorpsi dari memar akan secara progresif akan

meninggalkan rincian yang semakin sedikit. Dimana gigi diaplikasikan secara

paksa, jenis tampilannya adalah dua “panah” dengan bagian konkafnya saling

berhadapan satu sama lain dan suatu pembatas disetiap akhirannya. Dalam hal ini

terkadang menjadi pteki isapan, dimana seringkali muncul tanpa adanya bekas gigi,

hal ini disebut dengan “gigitan cinta”. Mereka disebabkan karena adanya aplikasi

lembut dari bibir yang akan membentuk suatu segel kedap udara melawan kulit,

kemudian suatu tindakan menyedot akan mengurangi tekanan udara disekitar

bagian tengah. Hal ini menyebabkan suatu guyuran ptekial hemoragik untuk

muncul dari dinding venula kecil dalam lapisan superfisial dari jaringan subkutan.

Jika dipaksakan, pteki akan berbentuk konfluens dan sebuah memar yang nyata,

atau bahkan akan terbentuk hematoma. Tambahan untuk hal ini adalah penekanan

dari lidah, yang mendorong jaringan melawan palatum. Jenis lesi ini seringkali

terlihat pada sisi leher dan payudara wanita, bahkan dalam hubungan seksual atau

setelah kekerasan seksual. Hal ini tidak dimaksudkan jarang ditemukan dalam

kekerasan pada anak, bagaimanapun, dan terkadang juga pada kasus yang

disebabkan oleh diri sendiri. Seperti lesi isapan hampir selalu disebabkan oleh

manusia dalam kondisi alaminya dan mereka mengklaim bahwa hal tersebut
disebabkan oleh binatang peliharaan dimana hal ini dapat langsung diabaikan/

disingkirkan.

Gigitan juga dapat disebabkan oleh peutupan gigi pada permukaan kulit

yang secara relatif rata, tetapi biasanya sebuah elemen dimaksukkan ke dalam

mulut, sehingga gigi tertutup ke dalam suatu sisi pararel atau blok eliptikal dari

kulit. Pada kasus gigitan seksual, khususnya pada payudara atau putting, jaringan

tersebut biasanya akan tersedot ke dalam mulut sebelum rahang menutup di

atasnya. Hal ini secara alami akan mempengaruhi bentuk dari hasil akhir bekas

gigitan yang ditimbulkan ketika kulit dilepaskan dan diratakan keluar sekali lagi.

Adakalanya, bekas gigtan bukan berbentuk dua arkus yang saling

berlawanan, tetapi lebih linear dalam bentuknya. Hal ini terlihat khususnya ketika

insisivus bagian atas digoreskan ke bawah kulit, sehingga meniggalkan sejumlah

jalur pararel, terkadang dengan panjang beberapa sentimeter.

Insisivus bagian bawah dapat meninggalkan baik suatu kurva garis dari

bekas static, atau sebuah garis lurus atau terpotong di bawah goresan insisivus atas,

sebagai galian dari gigi bawah ke arah dalam dan menautkan kulit sementara gigi

atas gouge ke arah bawah melewati mereka, selama terjadinya penutupan mulut.

Masalah mayor dengan bekas gigitan adalah identifikasi dari pelaku dan

karenanya masalah ini tidak dapat benar-benar diselesaikan tanpa adanya ekspertise

dari seorang dokter gigi yang benar-benar berpengalaman dalam tugas spesialistik

ini. Kecuali bentuk gigi geligi yang ditinggalkan memiliki ciri yang sangat kahs,

khususnya gigi insisivus dan kaninus, kemudian orang non kedokteran gigi adalah

saksi yang malang jika masalah datang ke jalur legal. Beberapa ahli odontologi akan
mengklaim bahwa sebuah bekas gigitan hanya dapat diidentifikasi dalam arti yang

negatif – hanya itu, terssangka dapat dieksklusikan jika gigi mereka secara pasti

tidak mampu menimbulkan bekas gigitan yang nyata selama investigasi, tetapi

tidak ada hasil positif yang dapat diklaim. Meskipun banyak ahli odontologi

forensik mempermasalahkan klaim konservatif ini, hal ini kemungkinan norma

yang terbaik bagi seorang ahli patologi adalah terlibat dalam suatu masalah, kecuali

disana terdapat fitur yang benar – benar spektakuler dan unik pada gigi depan

tersangka.

Gigi yang hilang, bentuk gigi yang berantakan dan gigi yang secara

substansial rusak dapat mengarahkan pada seseorang – atau bekas tersebut sangat

tidak konsisten, dimana hal ini membantu penyelidik jika mereka mengeliminasi

seseorang atau beberapa orang, khususnya dalam rentang yang terbatas seperti

sebuah keluarga yang anaknya mengalami kekerasan.

Hal ini kemungkinan yang terbaik untuk para ahli patologi guna menyadari

keterbatasan mereka dalam bidang ini, bagaimanapun, dan untuk membatasi diri

merka sendiri dalam mengambil dasar fisik terbaik untuk penelitian lanjutan oleh

odontologi forensik, dimana hal ini semua memungkinkan.

Investigasi bekas gigitan

Seperti yang dinyatakan, setiap usaha harus dilakukan untuk mendapatkan

dasar terbaik bagi pemeriksaan spesialis kedepannya. Pertama, bekas gigitan harus

secara hati – hati difoto dan diambil gambar utuhnya. Jika fasilitas polsi akan

digunakan, ahli patologi – sebagai aspek lainnya dari patologi forensik – harus
mengarahkan mereka sebagai fitur penting yang dibutuhkan. Seringkali seperti

fotograferm meskipun mereka ahli dalam aspek teknis dari peralatan mereka, tidak

mengapresiasi masalah yang disebabkan akibat tampilan yang tidak adekuat atau

tidak layak – khususnya dikemudian hari, ketika ahli meninjau kasus dan pengacara

menampilkan ini dalam pengadilan yang mengandalkan hasil fotografi tanpa

adanya keuntungan yang terlihat dalam lesi aslinya.

Foto harus diambil dari beberapa sudut yang berbeda, tetapi khususnya dari

sebuah sudut pandang yang langsung perpendikuler, dengan bidang dari film pada

sudut kanan lesi. Beberapa fotografer polisi berusaha mengambil gambar yang

tangensial yang memperpendek ukuran sebenarnya. Sebuah skala yang akurat ahrus

selalu ditambahkan disekitar lesi, sedekat mungkin, tetapi tidak menutupi lesi ini

atau menutupi detail manapun. Penggaris spesifik, seperti yang digunakan

American Board of Forensik Odontologi (ABFO), termasuk dua skala pada sudut

kanan dan sebuah lingkaran sempurna pada perpotongan mereka: hal ini dapat

membantu dalam memperbaiki setiap distorsi.

Gigitan seringkali pada suatu permukaan berlekuk, seperti pada wajah,

payudara atau lengan dan karenanya tidak akan bisa direproduksi secara tepat pada

permukaan yang datar, karena adanya ikatan untuk seidkit lebih pendek pada

ujungnya, tetapi beberapa tampilan dalam sudut yang sedikit berbeda dapat

membantu permasalahan ini. Apertura lensa kecil dan panjang fokal yang pendek

akan meniadakan kekaburan yang dihasilkan dari lesi yang berlekuk keluar dari

bidang fokal. Terlalu pendeknya sebuah panjang fokal akan memproduksi distorsi

gambarnya sendiri.
Penerangan adalah hal yang penting, pencahayaan perpendicular akan

menyebabkan terbentuknya sebuah terjemaahan yang datar tanpa adanya ambilan

yang rinci. Sisi pencahayaan dapat menimbulkan ketidak beraturan yang kecil

dalam relifnya, khususnya jika disana terdapat indentasi di dalam kulit. Kedua

monokrom dan foto berwarna harus diambil, dengan perhatian khusus terhadap

fokus yang datar dan paparan yang tepat. Penggunaan dari film yang sensitive

terhadap sinar merah telah direkomendasikan untuk mengungkapkan memar yang

samar, tetapi hal ini juga muncul untuk mendemonstrasikan artefak. Lesi harus

hampir memenuhi bingkai kamera dalam beberapa ambilan gambar untuk

mendapatkan detail sebanyak mungkin, baik melalui lesi kecil – ke – jarak kamera

atau menggunakan lensa dengan fokus – panjang. Lebih umum, ambilan foto yang

lebih luas harus diambil, namun, untuk mengorientasikan bekas gigitan dalam

hubungannya dengan penanda anatomi. Selama fotografi, perhatian harus diberikan

yaitu untuk tidak membuat kulit merasa panas dengan mendekatkan bagian

proksimal dari lampu tungsten berkekuatan tinggi. Hal tersebut harus ditempatkan

dalam suatu jarak tertentu atau digunakan hanya dalam waktu singkat. Iluminasi

flash akan meniadakan bahaya dari pemanasan kulit, dimana ia akan mengganggu

bekas gigitan.

Ketika fotografi sudah selesai, swab dari gigitan harus diambil untuk

berusaha mendapatkan saliva. Meskipun hal ini tidak selalu berhasil, teknik ini

secara vital sangat penting untuk mengidentifikasi pelaku dengan menggunakan

analisis DNA. Swab steril secara pasti dipaparkan ke gigitan – beberapa ahli

merekomendasikan untuk sedikit melembabkan mereka terlebih dahulu dengan


menggunakan air atau saline. Mereka kemudian harus di bekukan dengan suhu

tinggi kecuali kalau kering dan langsung dikirim ke labor DNA.

Setelah proses fotografi dan swab, biasanya ada hal lainnya yang dapat

dilakukan oleh ahli patologi dalam kondisi tidak adanya seorang dokter gigi. Jika

fasilitasnya tersedia dan seseorang memiliki ekspertisenya, sebuah impresi atau

cetakan dari gigitan dapat dibuat. Hal ini terdiri dari penempatan sebuah substansi

plastic disekeliling bekas gigitan, dimana kemudian dikeraskan, sehingga akan

memproduksi sebuah cetakan negatif permanen dari lesi. Hal ini biasanya dibuat

dengan suatu bagian mengunyah – atau silicon – bahan dasar medianya

mengandung suatu pengeras katalitik. Substansi yang kurang memuaskan adalah

pasta berbahan dasar air, seperti plester dari Paris, dimana ketika diletakkan dalam

keadaan basah dan harus menunggu kering sebelum dilepaskan. Hal itu memiliki

beberapa kerugan terutama bagi kerusakan potensial gigitan yang sebenarnya, jika

hal ini dibutuhkan untuk dasar pemeriksaan kedepannya. Meskipun tidak mungkin

seorang ahli patologis mampu untuk melakukan prosedur tersebut, hal ini masih

mungkin dapat dilakukan oleh seorang dokter gigi non forensik atau ahli forensik

dengan menggunakan sesuatu untuk membuat cetakan dari dasar lainnya yang

memiliki kesan dan hasil yang memuaskan serta dapat digunakan untuk

pemeriksaan selanjutnya oleh ahli odontologi. Saat ini salah satu juga dapat

memberikan bayangan tampilan scan 3D dari lesi dengan tujuan untuk

mendapatkan rekonstruksi 3D virtual dari ukuran dan bentuknya.

Setelah otopsi, hal ini juga memungkinkan untuk seluruh area kulit yang

memiliki bekas gigitan untuk dilepaskan dan diawetkan dalam formalin utnuk
pemeriksaan lanjutan. Penyusutan dan distorsi secara virtual tidak diinginkan,

namun, membuat spesimen tersebut dari jumlahnya yang terbatas untuk

mencocokkan rincian gigi, meskipun jika hasil fotonya bagus dengan skala akurat

yang tersedia, mereka kemungkinan tetap merupakan suatu tambahan yang berguna

untuk dasar kedokteran gigi.

Hal ini direkomendasikan bahwa, dengan semua memar dan abrasi, tubuh

akan diperiksa ulang dalam beberapa hari setelah otopsi pertama, beberapa

tampilan akan ditandai bertambah. Dalam bekas gigitan, melemahnya atau bahkan

hilangnya lesi aslinya akan menjadi lebih menonjol, atau bahkan muncul pertama

kali dalam satu atau dua hari setelah kematian. Melepaskan kulit yang berisi lesi

harus ditunda jika hal ini diharapkan untuk melihat apakah penambahan lesi ini

akan muncul, kecuali kondisi klimatik atau kekurangan lemari pendingin akan

membuat hal ini menjadi tidak bermakna.

Mencocokkan bekas gigitan dengan gigi geligi tersangka

Untuk seorang ahli patologi, hal ini seperti sebuah usaha spesialis yang akan

jarang dicoba, kecuali disana tidak ada prospek apapun dari seorang dokter gigi

forensik yang tersedia, bahkan dikemudian hari. Seperti yang disebutkan

sebelumnya, kecuali terdapat suatu fitur gigi yang mencolok dalam bekas gigitan

atau didalam gigi tersangka, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mencoba

mengeksklusikan sejumlah pembatasan tersangka yang potensial pada kondisi

kurangnya dasar korespondensi dari gigi mereka dengan bekas gigitan. Jika baik

bekas ataupun gigi menunjukkan adanya tampilan yang khusus, kemudian bahkan
hal ini akan ditolak, tanpa adanya opini dari seorang ahli gigi. Dimana kondisi

mendikte bahwa hanya ahli patologi yang akan tersedia untuk membantu

investigasi, ia harus membatasi dirinya sendiri terhadap rutinitas berikut ini:

 Gigi dari mereka yang dicap sebagai tersangka oleh polisi atau mereka yang

memiliki akses kepada korban harus diperiksa. Dalam kebanyakan wilayah

hukum ini adalah hal fital yang membutuhkan informed consent penuh dari

pasien sebelum dilakukan pemeriksaan. Dokter harus menjelaskan apa yang

ingin dia lakukan dan alasan melakukannya. Hal ini harus jelas bahwa

tindakan hanya dilakukan dengan tujuan investigasi legal dan setiap

informasi yang didapatkan akan digunakan sebagai dasar – dan oleh karena

itu hal ini tidak berkaitan untuk mendiagnosis atau menatalaksana

kesejahteraan subjek sendiri.

 Setiap penolakan akan menjadi penghalang untuk setiap tindakan

selanjutnya. Dimana anak - anak yang gelisah, biasanya dalam kasus

kekerasan pada anak, konsennya terletak pada informed consent penuh dari

orang tua atau walinya yang harus benar-benar didapatkan. Semua

persetujuan tersebut diusahakan didapat dalam bentuk tulisan tangan dan

banyak petugas kepolisian yang memiliki peran khusus dalam hal ini. Jika

tidak tertulis, kemudian alternative kedua terbaik lainnya adalah

mendapatkan persetujuan secara oral; paling tidak satu saksi dari hal ini

harus ada, jika memungkinkan dari orang yang independen selain mereka

yang memiliki hubungan kekerabatan atau petugas kepolisian.


Dengan persetujuan, gigi kemudian di periksa dan ditentukanlah sejumah

poin berikut serta direkam menggunakan diagram dan tulisan. Foto harus juga

diambil jika terdapat suatu isu yang kemungkinan berhubungan antara gigi dan

gigitan – atau dimana ekslusi secara legal penting

 Adanya gigi palsu keseluruhan gigi ataupuns ebagian gigi – dan, jika

demikan, apakah mereka menggunakannya pada waktu insiden

terjadi?

 Jumlah gigi dirahang atas dan bawah

 Sebuah diagram dari gigi yang hilang, khususnya insisivus dan

kaninus

 Sebuah perkiraan adanya gigitan yang menggantung (over hang),

atau apakah ada oklusi sudut – ke – sudut atau sebuah proyeksi yang

terlalu rendah dari gigi bawah.

 Rekaman dari setiap gigi yang rusak atau gigi dengan abnormalitas

individu yang signifikan; hal ini harus digambarkan dan

dideskripsikan

 Sebuah rekaman setiap ketidak beraturan atau penanda variasi dalam

potongan profil sudut dari setiap gigi depan

 Sebuah evaluasi dari ukuran dan penonjolan setiap gigi, khsusunya

gigi kaninus dan insisivus serta timbulnya abnormalitas, seperti

suatu sela eksta digigi depan.

 Catat setiap abnormalitas dalam orientasi setiap gigi atau gigi geligi,

seperti perputaran (rotasi) dalam kemiringan anteroposterior atau


baris ganda gigi. Penghalang dan celah tidak beraturan adalah faktor

vital.

Meskipun hal ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang ahli patologi

bahkan ekspertise atau bahan untuk membuat suatu kesan gigitan, hal ini dapat

dicoba jika tidak ada asisten dokter gigi atau sejenisnya yang tersedia – meskipun

pertolongan dari dokter gigi lokal akan berguna dalam menentukan suatu lilin atau

registrasi gigi lainnya. Jika hal ini tidak mungkin, maka suatu kesan gigitan ke

dalam substansi plastic yang tersedia dapat digunakan. Kegunaan dari substansi

tersebut sebagai model tanah liat, plastisin, atau lilin lebah (beeswax) lebih baik

daripada tidak ada sama sekali, jika beberapa fitur unik dibutuhkan untuk

demonstrasi. Akhirnya, apakah hal ini berasal dari inspeksi visual gigi atau dari

perbandingannya dengan suatu cetakan, sebuah percobaan harus dibuat untuk

membandingkan karakteristik dari bekas gigitan dengan gigi geligi yang dicurigai

atau tersangka. Hal ini diasumsikan bahwa suatu gigitan binatang sudah

dikeluarkan sebelumnya oleh stadium ini.

Perbandingan ini dapat dilakukan dalam sejumlah cara, ahli odontologi

yang berbeda memiliki teknik mereka sendiri. Dimana penanda abnormalitas yang

ada di dalam gigi, hal tersebut akan ditampilkan dalam bekas gigitan jika gigi yang

bermasalah terdaftar dalam lesi. Beberapa dokter gigi forensik lebih memilih untuk

mencocokkan foto dari penanda dengan foro atau jiplakan dari gigi, bentuk yang

akan di cetak memiliki suatu perbesaran 1:1. Cetakan dapat dibuat dari suatu

cetakan posited dari kesan suatu gigitan, memberikan tinta pada sudut potongan

dari gigi depan dan mentransfer hal itu ke lembar transparean, dimana kemudian
hal ini dapat diletakkan disekitar foto untuk menentukan korespondensinya. Ahli

lainnya menggunakan negative foto dari gigi yang diletakkan disekitar positif foto

gigitan, kembali menentukan korespondensi yang tepat dari perbesaran.

Dalam bekas gigitan, hal ini disebutkan bahwa sebuah kesan gigi lebih baik

memiliki dasar dari suatu penanda yang absen – dalam kata lain, keberadaan dari

penanda gigi berarti bahwa gigi tersebut sebenarnya berada dalam rahang, dimana

sebuah pembatas dalam cedera dapat berarti bahwa gigi tersebut hilang atau hanya

sudut oklusal tersebut yang tidak memiliki bekas pada kulit, kemungkinan karena

sedikit pemendekan, gigi tidak rata atau tidak dipakai. Dalam semua prosedur

pencocokan antara bekas gigitan dan gigi tersangka, kelonggaran harus dibuat

untuk distorsi permukaan kulit selama proses penggigitan dan sudut dari gigi yang

menyerang. Kembali hal ini menunjukkan bahwa latihan eksklusi yang jauh lebih

aman daripada suatu dugaan dari pencocokan positif, kecuali teraapt beberapa fitur

unik dalam gigi geligi.

Dalam praktiknya, enam gigi atas dan enam gigi bawah baris depan

memberikan informasi terbanyak. Kaninus kemungkinan menunjukkan bantuan

khsusu karena ia menonjol dan runcing. Premolar dan moral jarang sekali berguna,

seperti yang diperkirakan dari profil mereka yang lebih rendah dan posisinya yang

lebih posterior di dalam rahang.

Berkebalikan dengan yang orang pikirkan, bekas gigitan orang dewasa dan

anak-anak dapat sulit dibedakan dari suatu sudut pandang kuantitatif karena

besarnya area yang tumpang tindih dalam dimensi korda dan arkus gigi.
Identifikasi kematian dari gigi geligi

Kontribusi mayor dari odontologi forensik di dalam bidang identifikasi,

khususnya dalam bencana massal, seperti kecelakaan pesawat dan kapal. Dalam

tabrakan pesawat, investigasi gigi bersamaan dengan analisis DNA, adalah

prosedur tunggal yang paling berhasil mengarahkan kepada identifikasi mutilasi

dan tubuh yang terbakar, seperti pada daftar penumoang yang membatasi populasi

untuk mereka yang rekaman giginya bisa didapatkan pada kebanyakan kasus. Pada

bencana alam seperti itu keterlibatan seorang dokter gigi sangatlah penting, tetapi

ukuran dari subjek sejauh ini terlalu besar untuk diusahakan dalam sebuah buku di

alam ini.

Terpisah dari penyebab bencana masal, odontologi forensik seringkali

digunakan dalam masalah identifikasi individual yang langsung mengarah pada ahli

patologi forensik, seperti adanya kecelakaan, bunuh diri dan bentuk pembunuhan

dari mayoritas tubuh yang tidak dapat diidentifikasi (Gambar 26.10)

Pada tubuh yang tinggal tulang belulang (dimana gigi adalah salah satu

bagian dasar, didiskusikan di bagian 3, terdapat dua cara investigasi:

 Identitas rekonstruksi atau secara umum, yang mencoba untuk

mengklasifikasikan orang yang tidak dikenal berdasarkan usia, jenis

kelamin dan ras

 Metode komparatif, dimana mengkonfirmasi atau mengekslusikan

identitas personal dari individu melawan rekaman gigi antemortem.

Sekali lagi, ahli patologi hanya dapat berperan untuk bidang kedokteran gigi

dalam “rencana cadangan terbaik” setelah rencana awal, ketika tidak ada ekspertise
seorang ahli odontologi forensik yang tersedia. Tidak seperti bekas gigitan,

bahannya cenderung lebih permanen dan, dimanapun memungkinkan untuk

ditemukan, ahli patologi harus menelaah gambar, membuat diagram dan bahkan

membuat gigi tiruan seperti yang sebenarnya melawan waktu ketika opini dokter

gigi yang lebih berpenglaman kemungkinan tersedia. Ketika waktu menekan dalam

suatu investigasi kriinal, bagaimanapun, atau dimana tidak ada pertolongand ari

dokter gigi yang terlihat akan datang, kemudian ahli patologi harus melakukan yang

terbaik yang dia bisa, meskipun banyak teknik special seperti radiologi atau

potongan gigi yang jauh kemampuannya

Rekonstruksi identitas atau umum

Tidak seperti tulang belulang yang masih tersisa, material gigi asli manusia

jarang sekali meragukan. Dalam dekomposisi yang buruk atau tubuh yang tinggal

tulang, rahang biasanya masih tetap intak (utuh), meskipun pada tulang yang

kering, gigi akan hilang dan jatuh keluar, khususnya kaninus dengan akar tunggal

dan insisivus.

Meskipun dalam tubuh dan tulang yang terpotong – potong, sis arahang dan

gigi akan bisa dengan cepat diidentifikasi, bahkan oleh orang awam. Dimana gigi

akan terdorong keluar dan di perbaiki secara mandiri oleh tubuh, mereka biasanya

masih dapat dikenali sebagai manusia, berbanding terbalik dengan kebanyakan

hewan domestic atau peternakan. Di negara dimana terdapat primata besar,

mungkin terdapat beberapa kebingungan, tetapi ini merupakan masalah yang jarang

terjadi.
Menegakkan keaslian dari seorang manusia, determinasi selanjutnya adalah

jenis kelamin dan dalam hal ini gigi memiliki nilai diskriminasi yang buruk,

meskipun rahang yang intak lebih membantu, seperti yang didiskusikan dalam

Bagian 3. Gigi pria biasanya lebih besar, tetapi hal ini tidak membantu secara

umum.

Gigi anak perempuan cenderuk untuk mengalami kalsifikasi dan bererupsi

lebih awal dibanding anak laki-laki. Jika usia tulang diketahui, kemudian langkah

lebih lanjut adalah erupsi gigi pada anak muda sebagai suatu indikasi dari seorang

wanita, meskipun dalam kondisi tersebut biasanya jauh lebih baik indicator jenis

kelamin tersedia dibagian lain tubuh. Ekstraksi dari jaringan pulpa dari sebuah

gigim bahkan hingga beberapa bulan setelah ekstraksi atau kematian, dapat

membantu menentukan jenis kelamin melalui DNA.

Ras juga sebuah kriteria yang sulit untuk ditentukan dari gigi. Fitur terbaik

yang diketahui adalah “bentuk sekop” pada insisivus tengah atas untuk kelompok

Mongoloid. Permukaan posterior dari gigi tersebut memiliki depresi pada bagian

sentralnya, dengan dua batang marginal, yang menyebabkan bagian belakang dari

gigi mucnul seperti sendok sekop dengan sudut yang besar. Fitur ini kebanyakan

ditemukan pada masyarakat China, Mongol, Eskimo dan Jepang, tetapi juga dapat

ditemukan pada banyak ras non Mongoloid dalam jumlah yang lebih sedikit.

Beberapa 91 persen dari masyarakat China, Jepang dan Tibet memiliki gigi

tersebut, 95 persen dari orang Amerika asli, 84 oersen dari orang Eskimo, 46 persen

dari orang Palestina Atab – dan 90 persen dari Finlandia. Hal ini jarang ditemukan

pada ras Negroid dan Aborigin Australia. Pada kelompk Kaukasia, insisivus lateral
pada rahang atas biasanya lebih kecil daripada bagian sentral, khususnya pada

wanita, fitur tersebut tidak ada atau jarang ditandai pada ras Negroid dan

Mongoloid. Kaukasia juga memiliki akar kaninus yang lurus panjang, sebuah fitur

yang tidak ditemukan pada Mongoloid. Enamel mutiara, nodul kecil dari enamel

pada permukaan gigi, lebih sering ditemukan pada gigi Mongoloid. Nodul kecil

pada permukaan lingua dari molar maksila, disebut “kuspid Carabelli” adalah yang

paling sering ditemukan dalam ras Kaukasia dan jarang ditemukan pada kelompok

ras mayor lainnya. Kondisi dari gigi banteng/ bull tooth atau “taurodontism” sering

ditemukan pada orang Mongoloid: disini kavitas pulpa molar lebih lebar dan dalam,

dan akarnya berfusi serta bengkok. Sebuah bawaan kongenital dari molar atas

ketiga adalah yang paling sering ditemukan pada Mongoloid, tetapi dapat muncul

pada ras manapun. Ras Negroid cenderung memiliki gigi yang besar dan sering kali

memiliki lebih banyak kuspid pada premolar mandibular pertama sebagai suatu

kondisi yang sering ditemukan.

Usia dari seseorang adalah salah satu temuan yang paling berguna dan

mendekati dari gigi, khususnya dalam dua decade pertama kehidupan. Potongan

dari desidua atau gigi susu sudah diketahui dengan baik, tumpang tindih dari

tampilan gigi permanen (Gambar 26.6).


Gambar 26.6. (a) Waktu erupsi dari gigi desidua (waktu rata-rata). (b) Waktu dari

erupsi gigi permanen; tiga waktu ditunjukkan (tahun) untuk erupsi awal, rata-rata

dan lambat, berputar pada tahun yang terdekat.

Hal ini hanya suatu bagan waktu rata-rata , bagaimanapun, dan ini telah

dimodifikasi oleh beberapa faktor, seperti jenis kelamin, ras, makanan, penyakit

dan iklim. Kembali, ekspertise dokter gigi dibutuhkan untuk menegakkan


keakuratan dari perkiraan tersebut. Determinasi dari usia gigi janin juga merupakan

suatu masalah untuk para ahli embriologi atau dokter gigi dengan pengetahuan

spesialistik mengenai periode ini. Setelah gigi molar ketiga mengalami erupsi dan

apeks akarnya tertutup, dalam dekade ketiga kehidupan, kemudian determinasi usia

menjadi lebih sulit. Banyak penelitian yang telah diperluas dalam odontologi

forensik dan nama dari Gustafson paling dikenal dalam hal ini.

Metode ini telah diganti oleh metode Lamendin yang mengevaluasi

translusen dari akar dentin gigi, periodontopati dan panjang gigi (dideskripsikan

pada Bagian 3), sama seperti metode yang mengevaluasi reduksi dari kamar pulpa

melalui sinar X.

Hal ini terlihat tidak berarti untuk menerapkan metode tersebut sebagai

saran untuk ahli patologi, bagaimanapun, sebagai teknik spesialisasi, perlengkapan

dan pengetahuan dibutuhkan untuk prosedur tersebut. Buku pedoman standar pada

odontologi forensik dan naskah asli harus dikonsultasikan untuk lebih rincinya.

Kembali ke fitur umum dari usia, penunjuk yang jelas adalah stadium dari

gigi sehubungan dengan pemakaiannya, warna dan kebersihan, dimana dapat

mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Banyaknya ketergantungan pada

perawatan dengan bagaimana mereka dirawat, bagaimanapun, meskipun penanda

gesekan oklusal cenderung bertambah bersamaan dengan meningkatnya usia,

kecuali dengan akselerasi diet yang berat pada penggunaannya. Di Eropa barat,

gesekan oklusal yang luas, terkadang hingga ke tingkat bagian mengunyah, hal ini

terlihat pada bahan tulang yang sudah tua. Hal ini biasanya menginidikasikan

bahwa tulang dan gigi berasal dari seseorang yang hidup di pertengahan abad ke
sembilan belas atau lebih awal, sebelum ada metode gilingan modern membuang

debu batu yang bersifat abrasif dari dalam tepung.

Rahang edentulous juga menunjukkan usia lanjut, tetapi, khususnya dalam

perjalanan tahun sebelum kedokteran gigi konservatif, bahkan orang dewasa muda

seringkali memiliki bersihan gigi total untuk karies. Sekali gigi tercabut, terdapat

atrofi umum dari margin alveolar, tetapi ini adalah kriteria yang buruk untuk usia

karena besarnya variabilitasnya dalam waktu ketika gigi tersebut hilang.

Gambar 26.7. Gesekan oklusal berat di dalam sebuah rahang dari awal abad ke
sembilan belas. Mahkota gigi tersebut telah using sehingga tereksposnya dentin gigi
oleh suatu diet berat yang kemungkinan mengandung debu batu di dalam tepunynya
yang berasal dari metode penggilingan kontemporer.

Teknik terbaru untuk memperkirakan usia termasuk variasi dari usia dari

racemisasi dari asam amino, khususnya saam aspartate, tetapi hal ini adalah suatu

area spesialisasi.
Identifikasi komparatif dari gigi

Menegakkan identitas seseorang membutuhkan kecocokan dari fitur yang

diobservasi dengan rekaman gigi yang telah ada sebelumnya, kemudian hampir

selalu didapatkan dari diagnosis dan terapi pengawasan sebelumnya (meskipun

untuk orang tanpa data ante mortem klinis suatu analisis komparatif dari profil gigi

dapat dilakukan jika disana terdapat foto ante mortem dengan subjek yang

tersenyum dan karenanya foto itu dapat menunjukkan bagian dari arkus gigi bagian

atas) (Gambar 26.8). Untuk metode in dapat diaplikasikan, harus terdapat:

 Beberapa dasar kolateral untuk mengindikasikan kemungkinan bagi mereka

yang tubuhnya tidak dikenali, sehingga rekaman tersebut dapat dilihat

 Alternatifnya, suatu populasi tertentu harus dicari untuk rekaman yang

kemungkinan cocok dengan orang yang tidak dikenal tersbeut. Seperti suatu

populasi yang diketahui sebagai penumpang pesawat atau kapal atau

sebuah kohort dari prang yang hilang dilihat pada beberapa data yang

terdaftar. Hal ini jelas tidak mungkin untuk mencarinya dalam sebuah

populasi besar, seperti suatu keseluruhan negara atau bahkan sebuah kota.

Usaha yang dibuat di Britania untuk mengkomputerisasi rekaman gigi dari

National Health Service sehingga suatu pencarian luas dapat dilakukan,

tetapi kelengkapan dan kualitas datanya untuk memenuhi skema tersebut

tidak dapat dipraktikkan.

 Orang yang tidak dikenal tersbut harus memiliki perhatian untuk giginya

dimasa lalu. Dokter gigi atau rumah sakit harus tau; rekaman harus dapat
dilacak, dan ketika ditemukan, harus mengandung informasi klinis yang

memadai untuk menentukan fitur identifikasi yang adekuat. Penyembuhan

dari radiografi gigi adalah tambahan yang paling berguna. Sayangnya,

kriteria tersebut tidak selalu memuaskan.

Rekaman gigi tersebut dibutuhkan untuk menyediakan suatu deskripsi

menegnai gig dan rahang pada suatu waktu sebagai hal terakhir yang

memungkinkan sebelum menemukan tubuhnya. Pekerjaan mungkin hampir selesai

pada riwayat korban selama dia hidup sejak rekaman terakhir dibuat, jika orang

tersebut telah menjalani pengobatan ditempat lain dan informasinya tidak disimpan.

Dimana sebuah rekaman tidak dapat mengkonfirmasi stadium gigi dari tubuh

seseorang yang diperkirakan akan cocok, hal ini jelas bahwa diskrepansi tersebut

dapat menjadi dua jenis yaitu:

1. Jika rekamannya mengindikasikan beberapa kondisi yang

ireversibel tetapi tidak ada di dalam tubuh yang ditemukan,

kemudian eksklusi akan cocok. Contohnya, jika stadium rekaman

dari gigi tersebut telah diekstraksi, namun mereka masih ditemukan

dalam rahang, kemudian harapan dari korespondensi harus

diabaikan.

2. Jika pengisian muncul di dalam gigi, dimana hal ini tidak ditemukan

dalam rekaman, maka hal tersebut bisa jadi dibuat kemudian dan

tidak dicatat. Tentu saja, tidak ada diskrepansi dari poin 1 yang harus

ditemukan untuk poin 2 sehingga dapat diterima.


Membuat diagram gigi

Dalam kondisi tidak adanya ahli odontologi forensik, orang terbaik

selanjutnya untuk merekam stadium gigi dari tubuh yang telah mati secara alaminya

adalah dokter gigi, untuk mereka tugas ini sudah menjadi rutinitas harian. Dagram

yang dibuat oleh ahli tersbeut kemudian digunakan sebagai referensi kedepannya

di dalam setiap prosedur identifikasi. Bagian ini berfokus pada kondisi yang tidak

sempurna namun terkadang ditemukan dimana ahli patologi hanya satu – satunya

orang yang tersedia. Sayangnya, terdapat suatu perbedaan metode dari pembuatan

diagram isi rahang, dan disamping itu hal ini membutuhkan usaha, tidak ada sistem

penerimaan universal secara internasional yang telah diadopsi. Untuk tujuan kami,

sejumlah rekaman yang hati – hari, posisi dan stadium dari gigi dibuat oleh seorang

ahli patologi yang dapat dikonversikan ke dalam sistem apapun dari pembautan

diagram yang dibutuhkan ditingkatan selanjutnya.


Gambar 26.8. Perbandingan odontologi antara rontegn periapikal post mortem

(ditandai dengan warna merah) dengan ortopantomogram ante mortem. Identifikasi

yang dibuat berdasarkan dari fitur korespondensi: korespondensi jembatan yang

aneh 13-14-15 dengan dua prostetik premolar yang menggantikan 1 gigi;

keberadaan dari suatu mahkota pada 12; korespondensi keberadaan jembatan pada

24-25-26-27; post endodontik metal pada 25 dan kemunculan bahan radio opak

yang dekat dengan apeks dental; pengisian pada 23,34,35,36 dan 47; mahkota pada

45 dan 46 digabungkan dengan suatu ekstensi metal (direproduksi dengan ijin dari

Prodessor Ccristina Cattaneo).

Gambar 26.9. Dua dari banyak jenis bagan yang digunakan untuk merekam

karakteristik gigi. Bagian atas dari odontogram dirancang oleh Interpol. Bagan ini

menunjukkan setiap permukaan dari gigi, termasuk gigi desidua. Bagan yang

dibawah adalah yang digunakan di British National Health Service, dimana ini

adalah suatu rancangan sederhana. Pada kedua bagan aspek bukal berada pada
bagian atas dan bawah dan sisilingua dari gigi saling berhadapan satu dengan lain

dibagian sentral.

Gambar 26.10. Sebuah potongan pendek yang mengeksklusikan bunuh diri.

Sebuah tulang ditemukan terkubur dalam sebuah halaman pinggiran kota.

Kecurigaan awalnya adalah diperoleh ketika ramus mandibular terlihat membawa

sebuah kawat perunggu untuk merekatkan sebuah sumber untuk menahan rahang

dari tengkorak. Polisi mendapatkan konfirmasi bahwa rumah tersebut sebelumnya

adalah kepunyaan seorang anggota staff pengajar fakultas kedokteran.


Gambar 26.11. Sebuah mandibular dari tubuh yang telah menjadi tulang

ditemukan dalam kondisi mencurigakan. Identitasnya ditegakkan secara tunggal

dari fitur gigi, seperti jembatan emas dan gigi akrilik pada sisi kanan rahang dan

sejumlah tambalan amalgam. Perbandingan radiografi gigi yang didapatkan dari

rumah sakit, mengkonfirmasi korespondensinya. Rahang, dengan region simpisis

petak yang prominen, adalah ciri khusus dari seorang pria.

Dua metode utama dari rekaman data yang digunakan adalah: yang pertama

suatu bagan diagramatik yang biasanya digunakan dalam pusat pelayanan gigi yang

besar seperti di British National Health Service, lihat di gambar 26.9. Sistem

lainnya yang digunakan adalah lebih merepresentasikan gambaran dari gigi,

sehingga semua fitur dapat direkam dengan topografi yang lebih tepat. Kedua
sistem tersebut, sama seperti banyak variasinya, memiliki notasi yang

mendeskripsikan posisi gigi, hampir selalu 4 kuadran, kanan atas kri atas, kanan

bawah dan kiri bawha. Sayangnya, terdapat variasi pertimbangan dalam potongan

penomoran, khususnya ketika titik transisi dari kiri ke kanan, dan dari atas kebawah

yang dipertimbangkan, hal tersebut menjadi membingungkan dan seringkali ditukar

– tukar. Ahli patologi membutuhkan dirinya utuk tidak terlibat terlalu banyak

dengan masalah ini, seperti yang ditunjukkan dalam grafiknya yang selalu merujuk

pada sistem apapun dari penomorian yang dibutuhkan dikemudian hari. Contohnya,

jika suatu tubuh yang tidak diketahui memiliki bagan giginya pada satu dari

diagram yang biasa digunakan dan kemudian rekaman gigi dari identitas potensial

menjadi tersedia, bagan tersebut dapat ditransposisikan ke dalam sistem yang sama

seperti rekaman klinis. Notasi yang didapatkan darisini kemudian dapat

ditransmisikan melalui telfon, fax, email atau bentuk komunikasi lainnya, jika

rekaman tidak tersedia ditempat dimana badan tersebut ditemukan. Hal ini secara

khusus penting dalam fatalitas transportasi seperti kecelakaan pesawat, dimana

dasar rumah dari korban tersebut jauh dari tempat kematian.

Pada diagram atau bagan anatomis,s etiap gigi ditunjukkan oleh sebuah

gambaran symbol yang menunjukkkan angka yang sama pada permukaan gigi

seperti gigi yang sama di dalam mulut. Insisivus dan kaninus memiliki empat

permukaan yang direpresentasikan, sementara premolar dan molar memiliki segi

tambahan, permukaan oklusal. Pada diagram tersebut, posisi dari tambalan,

mahkota, karies dan kerusakan ditandai, dan, tentusaja, gigi yang hilang

dihapuskan.
Dalam membuat bagan gigi, ahli patologis membutuhkan akses yang baik

ke mulut dan hal ini menunjukkan masalah pertama. Rigor mortis pada cadaver

yang relatif masih segar dapat membuat hal ini menjadi tidak mungkin membuka

mulut tanpa menggunakan usaha yang besar. Tenaga tambahan tidak boleh

digunakan, khususnya pengungkit dengan instrument metal, karena bahaya dari

kerusakan gigi. Ketika rigot tidak dapat dirusak dengan menggunakan tekanan

lembut pada pipi – atau dimana waktu mencegah untuk menunggu rigor hilang –

hal ini mungkin dibutuhkna untuk memperpanjang insisi otopsi ke leher dengan

bentuk “V” dan memotong kulit pada bagian bawah dari wajah, untuk mendapatkan

akses ke otot maseter dan temporalis, dimana kemudian dapat dibagi diatas insersi

mereka ke dalam mandibular, untuk membiarkan rahang menjadi lebih mobile.

Perhatian harus diberikan untuk tidak merusak wajah selama prosedur ini.

Ketika tubuh mengalami dekomposisi, tidak ada rigor yang akan muncul.

Jika tubuh membusuk dengan buruk, maka pertimbangan kosmetik tidak dipikirkan

lagi dan pelepasan secara radikal dari rahang perlu untuk dilakukan. Pegangan yang

sama untuk tubuh yang terbakar hebat, dimana kontraksi akibat panas dari otot

wajah dapat membuat hal ini menjadi tidak mungkin untuk membuka rahang tanpa

memotong jaringan. Pada keduanya instansi tersebut, dimana identitas adalah

pertimbangan utama, baik mandibular dan maksila mungkin butuh untuk

dilepaskan guna retensi dan pemeriksaan lanjutan. Mandibular dapat

didisartikulasikan pada sendi temporomandibula dan melepaskan keutuhannya.

Maksila bawah, terdiri dari tumpuan gigi rahang, palatum dan bagian inferior dari

tulang fasial, dapat dilepaskan setelah mandibular sudah dilepaskan. Hal ini selesai
dengan menjahit secara horizontal melewati maksila pada tingkatan margin bawah

dari aperture nasal, perhatikan utnuk melihat ke bagian atas apakah ada akar gigi.

Setelah foro dan membuat bagan, rahang dapat diawetkan dalam lemari pendingin,

atau jika dibersihkan dari jaringan lunak, sebagai tulang yang kering. Dengan teknik

identifikasi DNA modern, kebutuhan untuk menjaga beberapa jaringan dari uji

lanjutan harus ditanamkan dalam pikiran. Alaminya, keberadaand ari dentura yang

utuh atau sebagian atau segala jenis dari protesis gigi telah direkam dan protesis

secara hati – hati diambil untuk pemeriksaan. Bahkan pada edentulous akan

menunjukkan tanda memiliki dentura yang using melalui keberadaan dari penanda

tekanan pada bagian mengunyah atau palatum. Diamanapun yang memungkinkan,

radiografi atau computed tomography (CT) scan harus dilakukan di bagian kepala

dari tubuh orang yang tidak dikenal (seperti yang didiskusikan pada Bagian 3)

dimana pertimbangan non gigi diaplikasikan, seperti kraniometri atau visualisasi

sinus frontal. Pada waktu yang sama, radiograf akan menunjukkan benda asing

yang tidak disangka di dalam kepala dan beberapa diantaranya akan memiliki

kepentingan gigi yang unik, seperti bor yang rusak, akar yang rusak atau kelainan

kongenital, dimana hal ini akan cocok dengan film klinis, atau sebuah catatan

antemortem. Radiografi memiliki tempat yang special dalam odontologi forensik,

tetapi teknik spesialinya dan pengetahuiannya masih terbentang di luar kemampuan

ahli patologi. (Gambar 26.12, 26.13).


Gambar 26.12. Gambaran post mortem menggunakan mulitslice computed

tomography (CT) yang memungkinkan tinjauan cepat pada status gigi dan hal ini

berguna untuk mendeteksi, melokalisasi dan mengidentifikasi dari setiap objek

asing dalam tubuh dengan menghitung radiodensitasnya – merujuk sebaai

Hounsfield units (HU). Gambar menunjukkan CT resolusi tinggi dari rekonstruksi

gigi dalam perluasan skala CT. Analisis dari restorasi bahan menghasilkan 4000 –

9000 HU tambalan (direproduksi dengan ijin dari Professor C.Jackowski).


Gambar 26.13. Volume Rendering (VR) pada pengaturan data yang sama seperti

Gambar 26.12 menggunakan sebuah spesialisasi VR diatur sebelumnya untuk data

gigi yang mengijinkan encoding warna dari material tambalan yang berbeda dan

visualisasi dari gigi dalam setiap proyeksi yang diinginkan (direproduksi dengan

ijin dari Professor C.Jackowski).

Ketika apa yang dimaksudkan dengan kebutuhan, arkus gigi telah dibuat

tersedia untuk diperiksa, sejumlah fitur berikut terlihat dan direkam pada bagan:

 Ekstraksi – apakah baru atau lama – harus di catat dari kondisi sendi

 Tambalan – jumlahnya, posisi dan komposisinya

 Gigi artifisial – emas, porselen dan stainless steel

 Kerja prostetik lainnya dalam mulut, seperti jembatan atau kawat gigi

 Gigi yang berantakan

 Gigi yang rusak

 Kondisi patologis gigi, rahang dan bagian mengunyah


 Defek kongenital seperti mutiara enamel, kuspid Carabelli atau gigi ektopik

 Malposisi gigi – rotasi atau berputar untuk contohnya

 Tingkatan umum perawatan dan kebersihan termasuk karies, plak, bekas

rokok dan gingivitis

 Penunjuk ras, seperti bentuk sekop pada sentral insisivus ats atau molar

dengan multikuspid

Ketika semua informasi yang tersedia telah ditelaah dan dimasukkan dalam

bagan, proses perbandingan dengan data antemortem dapat dibuat. Kebanyakan

akan bergantung pada kualitas dan data dari rekaman tersebut, dimana biasanya

kurang rinci dan tepat daripada bagan otopsi. Pengecualian harus dibuat untuk

rekaman klinis yang secara substansial sudah habis masa pakainya, seperti yang

telah disebutkan sebelumnya. Proses pencookan sekali lagi adalah kerja dari

seorang dokter gigi berpengalaman, tetapi tuga sutama untuk memeriksa daftar

diatas melawan rekaman sebelumnya dapat di bawa keluar secara adekuat untuk

memastikan gigi yang hilang, tambalan, protesis dan trauma mayor atau anomaly

lainnya (Gambar 26.11).

Apapun yang terdapat dalam bagan klinis yang tidak menunjukkan rahang

sebenarnya selalu diekslusikan dari suatu proses pencocokan – tambalan tidak dapat

pergi begitu saja dan gigi yang telah diekstraksi teidak dapat kembali, meskipun

beberapa prestasi yang luar biasa dari tatalaksana gigi saat ini tersedia. Derajat

korespondensi yang diterima untuk suatu pencocokan yang positif adalah masalah

rasa umum, dan secara natural aspek non gigi lainnya harus dimasukkan – hal ini

sia-sia apabila mencoa mengklaim sebuah kecocokan pada karakteristik gigi wanita
jika informasi lainnya mengindikasikan dengan jelas bahwa orang yang hilang

tersebut adalah pria. Akhirnya, dan pada resikonya menjadi berulang-ulang, hal ini

harus disadari lagi bahwa, meskipun ahli patologi dapat menjadi seorang

pengumpul data dan dengan dasar fisiknya, dimana isu adalah hal yang vital (seperti

pada investigasi bunuh diri), setiap usaha harus dibuat untuk bahan yang akan

dievaluasi oleh seorang odontologi forensik, bahkan jika rinciannya harus dikirim

menggunakan pos udara ke negara lainnya.

Gigi merah jambu

Pada otopsi tubuh yang sudah mengalami puterifikasi, gigi terkadang

terlihat memiliki penanda berwarna merah jambu, khsuusnya disekitar garis

mengunyaj. Penelitian mengenai hal ini telah dilakukan untuk fenomena yang

menarik ini dan hal ini jelas bahwa warna adalah hasil dari dentin gigi yang menjadi

berwarna akibat produk hemoglobin. Hal ini pertama kali dipikirkan sebagai peran

dari karbon monoksida yang mengambil bagian dalam hal ini, tetapi hal ini sudah

dibantah. Klaim bahwa fenomena ini adalah sebuah penunjuk untuk kematian

asfiksia dapat tidak dihitung, meskipun sebuah “kongesti” mode kematian sangat

memungkinkan – sekalipun sebuah kondisi yang sangat tidak sepsifik –

menimbulkan warna merah jambu karena retensi darah di dalam pulpa (Gambar

26.14).
Gambar 26.14. Gigi merah jambu akibat tubuh yang mengalami dekomposisi yang

dibuang dipinggitan kota setelah kematian akibat overdosis narkotika. Tidak ada

karbon monoksida yang muncul di dalam tubuh mayar, warna merah muda

disebabkan oleh produk hemoglobin yang mewarnai dentin gigi (direproduksi atas

ijin dari Professor David Whittaker).


References
1. Marshall W, Potter J, Harvey W. Bite marks in apples – forensic aspects.
Criminol 1974; 9:21–6. 

2. Webster G.A suggested classi cation of bite marks in foodstu s in forensic
dental analysis. Forensic Sci Int 1982;20(1):45–52. 

3. Hyzer WG, Krauss TC.The Bite Mark Standard Reference 
 Scale – ABFO
No. 2. J Forensic Sci 1988;33(2):498–506. 

4. Wright FD. Photography in bite mark and patterned injury documentation –
Part 2: A case study. J Forensic Sci 
 1998;43(4):881–7. 

5. Jessee SA. Recognition of bite marks in child abuse cases. Pediatr 
 Dent
1994;16(5):336–9. 

6. Banaschak S, Brinkmann B. The role of clinical forensic 
 medicine in
cases of sexual child abuse. Forensic Sci Int 
 1999;99(2):85–91. 

7. Freeman AJ, Senn DR, Arendt DM. Seven hundred seventy 
 eight bite
marks: analysis by anatomic location, victim and biter demographics, type
of crime, and legal disposition. J Forensic Sci 2005;50(6):1436–43. 

8. Anderson WR, Hudson RP. Self-in icted bite marks in battered child
syndrome. Forensic Sci 1976;7(1):71–4. 

9. Sobel MN, Perper JA. Self-in icted bite mark on the breast of a suicide
victim. Am J Forensic Med Pathol 1985;6(4):336–9. 

10. Warnick AJ, Biedrzycki L, Russanow G. Not all bite marks are associated
with abuse, sexual activities, or homicides: a case study of a self-in icted
bite mark. J Forensic Sci 1987;32(3):788–92. 

11. McCarty VO, Cox RA, Haglund B. Death caused by a constricting snake –
an infant death. J Forensic Sci 1989; 34(1):239–43. 

12. Lauridson JR, Myers L. Evaluation of fatal dog bites: the view of the
medical examiner and animal behaviorist. J Forensic Sci 1993;38(3):726–
31. 

13. Murmann DC, et al.A comparison of animal jaws and bite mark patterns. J
Forensic Sci 2006;51(4):846–60. 

14. Shields LB, et al. Dog bite-related fatalities: a 15-year review of Kentucky
medical examiner cases. Am J Forensic Med Pathol 2009;30(3):223–30. 

15. Pomara C, et al. Cave canem: bite mark analysis in a fatal dog pack attack.
Am J Forensic Med Pathol 2011;(32(1):50–4. 

16. McKinstry RE. Resin dental casts as an aid in bite mark identi cation. J
Forensic Sci 1995;40(2):300–2. 

17. Martin-de las Heras S, et al. Computer-based production of comparison
overlays from 3D-scanned dental casts for bite mark analysis. J Forensic
Sci 2005;50(1):127–33. 

18. Martin-de las Heras S, et al. E ectiveness of comparison overlays generated
with DentalPrint software in bite mark analysis. J Forensic Sci
2007;52(1):151–6. 

19. Evans S, Jones C, Plassmann P. 3D imaging in forensic odontology. J Vis
Commun Med 2010;33(2):63–8. 

20. Bush MA, Bush PJ, Sheets HD. Similarity and match rates of the human
dentition in three dimensions: relevance to bitemark analysis. Int J Legal
Med 2011;125(6):779–84. 

21. Martin-de-Las-Heras S, Tafur D. Validity of a dichotomous expert response
in bitemark analysis using 3-D technology. Sci Justice 2011;51(1):24–7. 

22. Cattaneo C. (Personal communication). 2014. 

23. Syrjanen SM, Sainio P. Forensic dentistry – recent development 
 towards
an independent discipline in modern dentistry. Proc Finn Dent Soc
1990;86(3–4):157–70. 

24. Valenzuela A, et al. The application of dental methods of identi cation to
human burn victims in a mass disaster. Int J Legal Med 2000;113(4):236–
9. 

25. De Valck E. Major incident response: collecting ante-mortem data.
Forensic Sci Int 2006;159 Suppl 1:S15–9. 

26. Hinchli e J. Forensic odontology, Part 1. Dental identi cation. Br Dent J
2011;210(5):219–24. 

27. Cattaneo C, Gibelli D. Identi cation. In: Siegel JA, Saukko PJ (eds).
Encyclopedia of Forensic Sciences. Waltham: Academic Press, 2013, pp.
158–65. 

28. Clement JG. Odontology. In: Siegel JA, Saukko PJ (eds). Encyclopedia of
Forensic Sciences. Waltham: Academic Press, 2013, pp. 106–13. 

29. Peschel O, Eisenmenger W. Airplane crashes and other mass disasters. In:
Siegel JA, Saukko PJ (eds). Encyclopedia of Forensic
Sciences.Waltham:Academic Press, 2013, pp. 188–92. 

30. Hsu JW, et al. Logistic analysis of shovel and Carabelli’s tooth traits in a
Caucasoid population. Forensic Sci Int 1997;89(1–2): 65–74. 

31. Hsu JW, et al. The e ect of shovel trait on Carabelli’s trait in Taiwan Chinese
and Aboriginal populations. J Forensic Sci 1997;42(5):802–6. 

32. Gustafson G. Age determination on teeth. J Am Dent Assoc 1950;41:45–5

33. Gustafson G. Forensic Odontology. London: Staples Press, 1966. 

34. Maples WR, Rice PM. Some di culties in the Gustafson dental 
 age
estimations. J Forensic Sci 1979;24(1):168–72. 

35. Metzger Z, Buchner A, Gorsky M. Gustafson’s method for age
determination from teeth—a modi cation for the use of 
 dentists in identi
cation teams. J Forensic Sci 1980;25(4):742–9. 

36. KashyapVK, Koteswara Rao NR.A modi ed Gustafson method of age
estimation from teeth. Forensic Sci Int 1990;47(3):237–47. 

37. Lamendin H, et al. A simple technique for age estimation in adult corpses:
the two criteria dental method. J Forensic Sci 
 1992;37(5):1373–9. 

38. Borrman H, et al. Inter-examiner variation in the assessment of 
 age-
related factors in teeth. Int J Legal Med 1995;107(4):183–6. 

39. Kvaal SI, et al.Age estimation of adults from dental radiographs. 

Forensic Sci Int 1995;74(3):175–85. 

40. Kolltveit KM, Solheim T, Kvaal SI. Methods of measuring 

morphological parameters in dental radiographs. Comparison between
image analysis and manual measurements. Forensic Sci Int 1998;94(1–
2):87–95. 

41. Baccino E, et al. Evaluation of seven methods of estimating age at death
from mature human skeletal remains. J Forensic Sci 1999;44(5):931–6. 

42. Soomer H, et al. Reliability and validity of eight dental age estimation
methods for adults. J Forensic Sci 2003;48(1):149–52. 

43. Bosmans N, et al. The application of Kvaal’s dental age 
 calculation
technique on panoramic dental radiographs. Forensic 
 Sci Int 2005;153(2–
3):208–12. 

44. Brkic H, Milicevic M, Petrovecki M. Age estimation methods 
 using
anthropological parameters on human teeth-(A0736). 
 Forensic Sci Int
2006;162(1–3):13–16. 

45. Kvaal SI. Collection of post mortem data: DVI protocols and 
 quality
assurance. Forensic Sci Int 2006;159 Suppl 1:S12–S14. 

46. Meinl A, et al. On the applicability of secondary dentin formation to
radiological age estimation in young adults. 
 J Forensic Sci
2007;52(2):438–41. 

47. Landa MI, et al. Application of the method of Kvaal et al. to 

48. digital orthopantomograms. Int J Legal Med 2009;123(2):123–8. 565
49. Ogino T, Ogino H, Nagy B. Application of aspartic acid 59 racemization to
forensic odontology: post mortem designation
 of age at death. Forensic
Sci Int 1985;29(3–4):259–67. 

50. Masters PM.Age at death determinations for autopsied remains 60 based on
aspartic acid racemization in tooth dentin: importance
 of postmortem
conditions. Forensic Sci Int 1986;32(3):179–84. 

51. Ritz S, Schutz HW, Schwarzer B. The extent of aspartic acid 61
racemization in dentin: a possible method for a more accurate determination
of age at death? Z Rechtsmed 1990;103(6):457–62. 62 

52. Ohtani S,Yamamoto K.Age estimation using the racemization of
 amino
acid in human dentin. J Forensic Sci 1991;36(3):792–800. 63 

53. Ohtani S, Yamada Y, Yamamoto T. Improvement of age estimation using
amino acid racemization in a case of pink 64 teeth. Am J Forensic Med
Pathol 1998;19(1):77–9. 

54. Ritz-Timme S, et al. ‘Improvement’ of age estimation using 65 amino acid
racemization in a case of pink teeth. Am J Forensic
 Med Pathol
1999;20(2):216–7. 

55. Waite ER, et al. A review of the methodological aspects of 66 aspartic acid
racemization analysis for use in forensic science. Forensic Sci Int
1999;103(2):113–24. 67 

56. Ritz-Timme S, et al. Age estimation: the state of the art in relation to the
speci c demands of forensic practise. Int J Legal
 Med 2000;113(3):129–
36. 68 

57. Ohtani S, Yamamoto T. Strategy for the estimation of chronological age
using the aspartic acid racemization method
 with special reference to coe
cient of correlation between 69 D/L ratios and ages. J Forensic Sci
2005;50(5):1020–7. 

58. Dobberstein RC, et al. Degradation of biomolecules in arti cially and
naturally aged teeth: implications for age 70 estimation based on aspartic
acid racemization and DNA analysis. Forensic Sci Int 2008;179(2–3):181–
91. 71 

59. Sakuma A, et al. Comparative analysis of aspartic acid racemization
methods using whole-tooth and dentin samples. Forensic Sci Int
2012;223(1–3):198–201. 

60. Blau S, et al. Missing persons-missing data: the need to collect antemortem
dental records of missing persons. J Forensic Sci 2006;51(2):386–9.

Chomdej T, Pankaow W, Choychumroon S. Intelligent dental identi cation
system (IDIS) in forensic medicine. Forensic Sci Int 2006;158(1):27–38.
61. Brown KA. Procedures for the collection of dental records for person identi
cation. J Forensic Odontostomatol 2007;25(2):63–4. Beeley JA, Harvey W.
Pink teeth appearing as a post-mortem phenomenon. J Forensic Sci Soc
1973;13(4):297–305.
62. Kirkham WR, et al. Postmortem pink teeth. J Forensic Sci 1977;22(1):119–
31.
 Clark DH, Law M. Post-mortem pink teeth. Med Sci Law
1984;24(2):130–4.
63. Brondum N, Simonsen J. Postmortem red coloration of teeth. A
retrospective investigation of 26 cases. Am J Forensic Med Pathol
1987;8(2):127–30.
 VanWyk CW.Pink teeth of the dead:1.A clinical and
histological description. J Forensic Odontostomatol 1987;5(2):41–50.
64. Ikeda N, et al. A scanning electron microscopy and electron probe X-ray
microanalysis (SEM-EPMA) of pink teeth. J Forensic Sci
1988;33(6):1328–31.
 van Wyk CW. Postmortem pink teeth.
Histochemical identi cation of the causative pigment. Am J Forensic Med
Pathol 1989;10(2):134–9.
65. Sainio P, et al. Postmortem pink teeth phenomenon: an experimental study
and a survey of the literature. Proc Finn Dent Soc 1990;86(1):29–35.

Borrman H, Du Chesne A, Brinkmann B. Medico-legal aspects of
postmortem pink teeth. Int J Legal Med 1994;106(5):225–31. Campobasso
CP, et al. Pink teeth in a series of bodies recovered from a single shipwreck.
Am J Forensic Med Pathol 2006;27(4):313–6.