Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN FIELDTRIP

METODE TAMBANG TERBUKA

Oleh :
Nama : Satrya Tanjung Hardjanto
NIM : 710015048
Kelas : 04

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN FIELDTRIP METODE TAMBANG TERBUKA

Oleh :

Muhammad Bagaskoro

710015048

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional

Yogyakarta

Menyetujui 9 Mei 2018

Dosen Pengampu Asisten Pendamping

(Dr. R. Andy Erwin W., S.T., M.T.) (Ambar Sutanti, S.T.)


NIK : 19730227
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Fieldtrip Metode
Tambang Terbuka ini dengan baik. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai
salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah Mekanika Batuan pada Jurusan Teknik
Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan tulisan ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak yang telah memberi kesempatan, bimbingan serta bantuan moril
maupun materil sehingga tulisan ini dapat diselesaikan, oleh karena itu penulis ingin
mengucapkan rasa terima kasih kepada Yth :
1. Bapak. Ir. H. Ircham, M.T. selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi
Nasional Yogyakarta.
2. Bapak Dr. R. Andy Erwin Wijaya, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta dan juga
sebagai Dosen Pengampu mata kuliah Mekanika Betuan.
3. Para Asisten Fieldtrip Metode Tambang Terbuka.
4. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini belumlah sempurna. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca.
Akhir kata semoga Laporan Fieldtrip Metode Tambang Terbuka ini dapat
bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa Teknik Pertambangan dan juga pembaca
lainnya. Aamiin.

Yogyakarta, Mei 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ........................................................................................ 1
1.3 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 2
1.4 Pencapaian Lokasi ......................................................................................... 3
1.5 Geografis ....................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... 4
2.1 Fisiografi Daerah Jawa ................................................................................... 4
2.2 Geografis ........................................................................................................ 4
2.3 Metode Penambangan .................................................................................... 7
LAMPIRAN .............................................................................................................. 8
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Koordinat Daerah Penelitian ..................................................................... 2


Gambar 2 Peta Geologi Regional D. I. Yogyakarta ................................................... 6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kabupaten Gunungkidul sebagian besar wilayahnya merupakan bentangan
karst Gunung Sewu yang sangat unik. Wilayah karst ini secara alami merupakan
daerah yang tandus dan kering karena minimnya sumber air tanah dan air
permukaan, sehingga bentukan cekungan yang secara alami terbentuk di wilayah
ini menjadi sangat berarti bagi kehidupan disekitarnya. Cekungan pada daerah
karst pada saat musim penghujan akan terisi air dan kemudian dikenal sebagai
Telaga. Telaga Beton merupakan telaga yang terletak di dusun Beton kecamatan
Ponjong kabupaten Gunungkidul DIY. Telaga oleh masyarakat Gunung Kidul
difungsikan sebagai sumber air minum baik bagi dirinya maupun hewan ternak,
MCK, pertanian, perikanan, wisata, dan ritual budaya.
Banyaknya intensitas pemanfaatan perairan telaga dan lingkungan
sekitarnya oleh masyarakat, menyebabkan perairan ini mendapat tekanan yang
sangat besar baik kuantitas maupun kualitasnya. Ada indikasi kualitas perairan
telaga saat ini sudah tidak layak untuk peruntukan air minum. Pada saat ini
kebiasaan masyarakat mulai cenderung berubah, tidak lagi memanfaatkan air
telaga untuk kebutuhan air minum, tetapi memanfaatkannya untuk irigasi
pertanian, budidaya ikan air tawar, tempat rekreasi, pemancingan dan
memandikan ternak. Perubahan pemanfaatan perairan telaga oleh masyarakat
yang tidak lagi menjadi sumber air

1.2 Maksud Dan Tujuan

Maksud penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Metode Tambang Tebuka dan Mengumpulkan data-data geologi sebagi acuan
untuk menyiapkan teknis pada tambang terbuka, dan tujuan penulisan laporan ini
yakni :
1. Mempelajari karakteristik geologi daerah Semin, Kabupaten
Gunungkidul.
2. Mengetahui Bentuk Statigrafi di daerah Semin Kabupaten Gunungkidul.
3. Menentukan dan mengelompokkan Jenis Batuan batuan daerah Semin
Kabupaten Gunungkidul.
4. Menentukan Metode Penambangan yang cocok untuk daerah penlitian.

1.3 Lokasi Penelitian


Secara administratif daerah penelitian adalah daerah Semin, Kabupaten
Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis daerah
penelitian terletak koordinat 8° 01’49.73’’ S – 110° 37’ 00.81’’ E .

Gambar 1 Koordinat Daerah Penelitian

1.4 Pencapaian Lokasi


Telaga Biru berlokasi 53,2 kilometer dari kota Yogyakarta. Secara
administratif masuk wilayah Kabupaten Gunugkidul, D. I. Yogyakarta. Bisa
ditempuh melalui jalan darat menggunakan beberapa alternatif kendaraan. Untuk
pengunjung bisa menggunakan fasilitas mobil jemputan, tentu saja dengan tarif
khusus
1. Jalur Bus
Dari terminal bus antarkota kota bisa langsung menuju Telaga Biru dengan
menggunakan jasa ojek dengan tarif antara Rp 20.000 – Rp 25.000.
2. Kendaraan Pribadi
Dari kota Yogyakarta Bisa langsung ke Telaga Biru melewati jalan Gunung
Kidul. perjalanan sejauh 53.2 kilometer bisa di tempuh kurang lebih 1 jam 32
menit. mengingat jalan yang sempit namun mulus.

1.5 Geografi
Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Daerah
Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul 1.485,36 km2 atau
sekitar 46,63% dari luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota
Wonosari terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta (Ibukota Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta), dengan jarak ± 39 km. Wilayah Kabupaten Gunungkidul
dibagi menjadi 18 Kecamatan dan 144 desa.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fisiografi Daerah Jawa


Secara regional seluruh pulau Jawa memiliki perkembangan tektonik yang
sama, namun karena pengaruh dari jejak tektonik yang lebih tua mengontrol
struktur batuan dasar khususnya yang lebih muda maka terdapat perbedaan
antara daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Untuk daerah Jawa
Tengah terbagi menjadi empat zona fisiografi yaitu : Dataran Pantai Selatan,
Pegunungan Serayu Selatan, Pegunungan Serayu Utara, dan Dataran Pantai Utara
(Van Bemmelen, 1949).

2.2 Geografis
Secara geografis, wilayah D. I. Yogyakarta tersusun atas empat satuan, yaitu
Pegunungan Selatan, Gunung api Merapi, dataran rendah antara Pegunungan
Selatan dan Pegunungan Kulonprogo, dan Pegunungan Kulonprogo dan dataran
rendah selatan. Secara geomorfologis, Propinsi D. I. Yogyakarta terdiri dari 6
kelompok satuan bentuk lahan utama, yaitu bentuk marin dan eolin, fluvial,
struktural-denudasional, solusional, vulkanik, dan denudasional. Jika menurut
keadaan geomorfologi yang terbentuk oleh faktor endogen dan eksogen, maka D.
I. Yogyakarta dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 6 satuan geomorfologi, yaitu :
Satuan Dataran ; Satuan Perbukitan Rendah Satuan Perbukitan Sedang ; Satuan
Perbukitan Tinggi (Pegunungan) ; Satuan Kaki Lereng Gunung Merapi ; Satuan
Tubuh Gunung Merapi.
Secara fisiografi daerah ini terbagi menjadi :
Gunung Api Merapi dan lereng gunung api, terletak di bagian utara D. I.
Yogyakarta pada ketinggian ± 500 m hingga ± 2.911 m, dengan susunan material
dari endapan aktivitas Gunung Api Merapi.
Dataran Aluvial, terletak di bagian tengah membentang ke selatan D. I.
Yogyakarta hingga Samudra Indonesia. Wilayah ini mempunyai topografi datar-
hampir datar, sehingga merupakan lahan yang baik untuk permukiman dan
pertanian.
Pegunungan Kulon Progo yang terletak di bagian barat D. I. Yogyakarta
dengan batas bagian timur adalah lembah progo dan bagian selatan dibatasi oleh
dataran aluvial pantai. Wilayah ini mempunyai lereng curam-hingga sangat
curam sehingga proses erosi dan longsor sering terjadi dan perlu tindakan
konservasi tanah.
Dataran Tinggi Gunungkidul, yang meliputi bagian tenggara D. I.
Yogyakarta. Bagian utara daerah ini dibatasi oleh pegunungan Batur Agung
dengan garis yang terjal dan memanjang. Bagian tengah merupakan ledok
Wonosari dengan topografi datar bergelombang dan pada bagian selatan
merupakan perbukitan karst yang disebut Gunung Sewu. Lereng perbukitan karst
tersebut curam dan merupakan lahan kritis.
Gambar 2 Peta Geologi Regional D. I. Yogyakarta

Untuk daerah Gunung kidul sendiri terdiri dari Batugamping Formasi Wonosari
(Tmpw); Terdiri dari batugamping dan batupasir tufaan.
a. Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis,
padu, terdapat nodul-nodul kalsit.
b. Batupasir tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan,
berlapis, berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan, agak
padu.
c. Formasi di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan
umumnya sedang. Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan,
coklat kehitaman, lunak, ketebalan rata-rata 1,5 m.

2.3 Metode Penambangan


Untuk metode yang akan digunakan dalam penambangan batuGamping
dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:
a. Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah
dengan menggunakan bulldozer dan excavator menggali tanah yang
menutupi tubuh batuan guna menyiapkan kegiatan penambangan.
b. Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, penggalian
dengan bulldozzer dan ripper lalu melakukan loading menggunakan
dump truck.
Dengan memperhatikan morfologinya (perbukitan) maka penambangan batu
gamping ini akan dilakukan secara terbuka dengan membentuk jenjang-jenjang
pada bagian lereng bukit (Side Hill Quarry).
Berdasarkan peruntukan dari produk yang dihasilkan, maka dalam
pelaksanaannya proses penambangan dapat diklasifikasikan menjadi 2 cara :
1. Cara Penggaruan (Ripper)
Cara ini dipergunakan pada front tambang dengan batuan lapuk dan agak
lapuk, alat yang dipergunakan adalah bulldozer dengan ripper.
2. Cara Peledakan (Blasting)
Peledakan dapat dipergunakan bila pemakaian ripper sudah tidak
memungkinkan lagi atau jika telah menemukan batuan kapur yang segar
(massive) yang memang merupakan batuan kapur utama.
Ploting Area
Peta Geologi Regional dan Statigrafi
Foto Lereng di Daerah Penelitian

Beri Nilai