Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kelainan kulit akibat jamur atau dermatomikosis umumnya
digolongkan menjadi 2 kelompok, yakni: mikosis suferfisial dan mikosi
subkutan..1
Mikosis superfisial adalah infeksi jamur yang mengenai jaringan
mati pada kulit, kuku, dan rambut. Dalam beberapa buku, infeksi jamur ini
di bedakan lagi menjadi mikosis superfisial dan mikosis kutan berdasarkan
reaksi jaringan. Pada mikosis kutan bedasarkan reaksi jaringan. Pada
mikosis superfisial tidak terjadi reaksi inflamasi atau terjadi inflamai
ringan, yakni pada pitriasi versikolor, folikulitis Malassezia piedra, dan
tinea nigra: atau disebut juga sebagai kelompok non-dermatofitosis. Pada
mikosis kutan, meskipun yang di serang bukan jaringan hidup, terjadi
reaksi inflamasi yang di akibatkan metabolit jamur, yakni pada kelompok
dermatosis. Mikosis superfisial banyak ditemukan didunia, terutama di
daerah tropis, termasuk Indonesia.1
Mikosis subkutan adalah kelianan akibat jamur yang melibatkan
jaringan dibawah kulit. Kelainan ini relatif jarang dijumpai. Beberapa di
antaranya adalah: misetoma, kromomikosis, zigomikosis subkutan,
sporotrikosis, rinosporidiosis.1
Selain kelainan yang telah disebut di atas, penyakit jamur pada
kulit dapat merupakan manifestasi diseminasi kulit dari infeksi jamur
sistemik atau deep mycosis. Mikosis superfisialis yang dikelompokkan
menjadi nondermatoitosis dan dermatofitosis.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dermatitis Kontak Alergi


2.1.1 Definisi

1
Dermatitis yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap
bahan-bahan kimia yang kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi reaksi alergi. 1

2.1.2 Epidemiologi
Dahulu diperkirakan bahwa kejadian DKI akibat kerja sebanyak
80% dan DKA 20%, tetapi data baru dari Inggris dan Amerika Serikat
menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja karena alergi ternyata
cukup tinggi yaitu berkisar antara 50%-60% sedangkan dari suatu
penelitian ditemukan frekuensi DKA bukan akibat kerja 3 kali lebih sering
1
daripada DKA akibat kerja. Angka kejadian ini sebenarnya 20-50 kali
lebih tinggi dari angka kejadian yang dilaporkan.1
Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah
penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai
orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). Namun sedikit sekali
informasi mengenai prevalensi dermatitis ini di masyarakat. Diramalkan
bahwa jumlah DKA maupun DKI bertambah seiring dengan bertambahnya
jumlah produk yang mengandung bahan kimia yang di pakai oleh
masyarakat, informasi mengenai prevalensi dan insiden DKA
dimasyarakat sangat sedikit, sehingga berapa angka yang mendekati
kebenaran belum di dapat.1

2.1.3 Etiologi
Penyebab DKA adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul
umumnya rendah (<1000 dalton), merupakan alergen yang belum diproses,
disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum
korneum sehingga mencapai sel epidermis dibawahnya (sel hidup). Berbagai
faktor berpengaruh dalam timbulnya DKA, misalnya, potensi sensitisasi
alergen, dosis per unit area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, oklusi,
suhu dan kelembapan lingkungan, vehikulum, ph. Juga faktor individu,
misalnya keadaan kulit pada lokasi kontak (keadaan stratum korneum,
ketebalan epidermis), status immunologik (misalnya sedang menderita sakit,
terpajan sinar matahari).1

2
2.1.4 Patogenesis
Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah
mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau
reaksi hipersensitivitas tipe IV. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat. 1,
Dermatitis kontak alergi atau DKA disebabkan oleh pajanan secara
berulang oleh suatu alergen tertentu secara berulang, seperti zat kimia
yang sangat reaktif dan seringkali mempunyai struktur kimia yang sangat
sederhana. Struktur kimia tersebut bila terkena kulit dapat menembus
lapisan epidermis yang lebih dalam menembus stratum corneum dan
membentuk kompleks sebagai hapten dengan protein kulit. Konjugat yang
terbentuk diperkenalkan oleh sel dendrit ke sel-sel kelenjar getah bening
yang mengalir dan limfosit-limfosit secara khusus dapat mengenali
konjugat hapten dan terbentuk bagian protein karier yang berdekatan.
Kojugasi hapten-hapten diulang pada kontak selanjutnya dan limfosit yang
sudah disensitisasikan memberikan respons, menyebabkan timbulnya
sitotoksisitas langsung dan terjadinya radang yang ditimbulkan oleh
limfokin.2

Sebenarnya, DKA ini memiliki 2 fase yaitu fase sensitisasi dan fase
elisitasi yang akhirnya dapat menyebabkan DKA. Pada kedua fase ini akan
melepaskan mediator-mediator inflamasi seperti IL-2, TNFα, leukotrien,
IFNγ, dan sebagainya, sebagai respon terhadap pajanan yang mengenai
kulit tersebut. Pelepasan mediator-mediator tersebut akan menimbulkan
manifestasi klinis khas khas yang hampir sama seperti dermatitis lainnya.
DKA ini akan terlihat jelas setelah terpajan oleh alergen selama beberapa
waktu yang lama sekitar berbulan- bulan bahkan beberapa tahun.2

2.1.5 Gejala Klinis


Penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung pada
keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritema berbatas jelas,
kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah
menimbulkan erosi dan eksudasi (basah).1

3
DKA dapat meluas ke tempat lain, misalnya dengan cara autosensitisasi. Skalp,
telapak tangan dan kaki relatif resisten tehadap DKA. DKA akut di tempat tertentu,
misalnya kelopak mata, penis, skrotum, eritema dan edema lebih dominan daripada
vesikel pada yang kronis terlihat kulit kering berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin
juga fissure batasnya tidak jelas.1
Beberapa contoh dermatitis kontak alergi di bawah ini: 1
 Tangan. Kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling
sering ditangan, mungkin karena tangan merupakan organ tubuh yang
paling sering digunakan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Penyakit
kulit akibat kerja, 1/3 atau lebih mengenai tangan. Tidak jarang ditemukan
riwayat atopi pada penderita. Pada pekerjaan yang basah (wetwork),
misalnya memasak makanan, mencuci pakaian, pengatur rambut disalon,
angka kejadian dermatitis tangan lebih tinggi.
 Lengan. Alergen umumnya sama dengan pada tangan, misalnya oleh jam
tangan (nikel), sarung tangan karet, debu semen, dan tanaman. Diketiak
dapat disebabkan oleh deodoran, antiperspiran, formaldehid yang ada
dipakaian.
 Wajah. Dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan oleh bahan
kosmetik, spons (karet), obat topikal, alergen di udara (aero-alergen), nikel
(tangkai kacamata). Semua alergen yang kontak dengan tangan dapat
mengenai muka, telapak mata, dan leher pada waktu menyeka keringat.
Bila di bibir atau sekitarnya mungkin disebabkan oleh listrik, pasta gigi,
getah buah-buahan. Dermatitis dikelopak mata dapat disebabkan oleh cat
kuku, cat rambut, maskara, eyeshadow, obat tetes mata, salap mata.
 Telinga. Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab dermatitis
kontak pada telinga. Penyebab lain, misalnya, obat topikal, tangkai kaca
mata, cat rambut, hearing-aids, gagang telepon.
 Leher. Penyebab kalung dari nikel, cat kuku (yang berasal dari ujung jari,
farfum, alergen di udara, zat warna pakaian.
 Badan. Dermatitis kontak dibadan dapat disebabkan oleh tekstil, zat warna,
kancing logam, karet (elastis, busa), plastik, deterjen, bahan pelembut atau
pewangi pakaian.

4
 Genitalia. Penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom,
pembalut wanita, alergen yang berada ditangan, farfum, kontrasepsi,
deterjen.bila mengenai daerah anal, mungkin disebabkan oleh obat anti
hemorroid.
 Paha dan tungkai bawah. Dermatitis ditempat ini dapat disebabkan oleh
tekstil, dompet, kunci (nikel), kaos kaki nilon, obat topikal, semen,
sepatu/sandal. Pada kaki dapat disebabkan oleh deterjen, bahan pembersih
lantai.
 Dermatitis kontak sistemik. Terjadi pada individu yang telah tersensitisasi
secara topikal oleh suatu alergen, selanjutnya terpajan secara sistemik,
kemudian timbul reaksi terbatas pada tempat tersebut. Walaupun jarang
terjadi, reaksi dapat meluas bahkan sampai eritroderma. Penyebabnya,
misalnya nikel, formaldehid, balsem peru.

2.1.6 Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas hasil anamnesis yang cermat dan pemeriksaan
klinis yang teliti. pertanyaan mengenai kontaktan yang dicurigai didasarkan
kelainan kulit yang ditemukan. Misalnya, ada kelainan kulit berukuran
numular di sekitar umbilicus berupa hiperpigemntasi, likenifikasi, dengan
papul dan erosi, maka perlu ditanyakan apakah penderita memakai kancing
celana atau kepala ikat pinggang yang terbuat dari logam (nikel). Data yang
berasal dari anamnesis juga meliputi riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal
yang pernah digunakan, obat sistemik kosmetika, bahan-bahan yang diketahui
menimbulkan alergi, penyakit kulit yang pernah di alami, riwayat atopi, baik
dari yang bersangkutan maupun dari keluarganya.1

Pemeriksaan fisis sangat penting, karena dengan melihat lokasi dan pola
kelainan kulit sering kali dapat diketahui kemungkinan penyebabnya.
Misalnya, diketiak oleh deodoran; di pergelangan tangan oleh jam tangan; di

5
kedua kaki oleh sepatu atau sandal. Pemeriksaan hendaknya dilakukan di
tempat yang cukup terang, pada seluruh kulit untuk melihat kemungkinan
kelainan kulit lain karena sebab-sebab endogen.1

Kelainan kulit DKA sering tidak menunjukkan gambaran morfologik


yang khas, dapat menyerupai dermatitis atopik, dermatitis numularis,
dermatitis seboroik, atau psoriasis. Diagnosis banding yang utama ialah
dengan Dermatitis Kontak Iritan (DKI). Dalam keadaan ini pemeriksaan uji
tempel perlu dipertimbangkan untuk menentukan, apakah dermatitis tersebut
karena kontak alergi.1
A. Uji Tempel
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya di punggung. Bahan yang
secara rutin dan dibiarkan menempel di kulit, misalnya kosmetik, pelembab,
bila dipakai untuk uji tempel, dapat langsung digunakan apa adanya. Bila
menggunakan bahan yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya,
misalnya sampo, pasta gigi, harus diencerkan terlebih dahulu. Bahan yang
tidak larut dalam air diencerkan atau dilarutkan dalam vaselin atau minyak
mineral. Produk yang diketahui bersifat iritan, misalnya deterjen, hanya boleh
diuji bila diduga keras penyebab alergi. Apabila pakaian, sepatu, atau sarung
tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel dilakukan dengan
potongan kecil bahan tersebut yang direndam dalam air garam yang tidak
dibubuhi bahan pengawet, atau air, dan ditempelkan di kulit dengan memakai
Finn chamber, dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam. Perlu diingat bahwa
hasil positif dengan alergen bukan standar perlu kontrol (5 sampai 10 orang)
untuk menyingkirkan kemungkinan terkena iritasi.1
1) Dermatitis harus sudah tenang (sembuh). Bila masih dalam keadaan akut
atau berat dapat terjadi reaksi ‘angry back’ atau ‘excited skin’ reaksi positif
palsu, dapat juga menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya semakin
memburuk.
2) Tes dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu setelah pemakaian
kortikosteroid sistemik dihentikan (walaupun dikatakan bahwa uji tempel
dapat dilakukan pada pemakaian prednison kurang dari 20 mg/hari atau
dosis ekuivalen kortikosteroid lain), sebab dapat menghasilkan reaksi

6
negatif palsu. Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil
tes, kecuali diduga karena urtikaria kontak.
3) Uji tempel dibuka setelah dua hari, kemudian dibaca; pembacaan kedua
dilakukan pada hari ke-3 sampai ke-7 setelah aplikasi.
4) Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel
menjadi longgar (tidak menempel dengan baik), karena memberikan hasil
negatif palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang-kurangnya dalam 48
jam, dan menjaga agar punggung selalu kering setelah dibuka uji tempelnya
sampai pembacaan terakhir selesai.
5) Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang
mempunyai riwayat tipe urtikaria dadakan (immediate urticaria type),
karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi anafilaksis.
Pada penderita semacam ini dilakukan tes dengan prosedur khusus.1

Setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas.


Pembacaan pertama dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan
bahan yang diuji telah menghilang atau minimal. Hasilnya dicatat seperti
berikut:1

1 = reaksi lemah (nonvesikular) : eritema, infiltrat, papul (+)


2 = reaksi kuat : edema atau vesikel (++)
3 = reaksi sangat kuat (ekstrim) : bula atau ulkus (+++)
4 = meragukan : hanya makula eritematosa
5 = iritasi : seperti terbakar, pustul, atau purpura (IR)
6 = reaksi negatif (-)
7 = excited skin
8 = tidak dites (NT=non tested)

Pembacaan kedua perlu dilakukan sampai satu minggu setelah aplikasi,


biasanya 72 atau 96 jam setelah aplikasi. Pembacaan kedua ini penting untuk
membantu membedakan antara respons alergik atau iritasi, dan juga
mengidentifikasi lebih banyak lagi respons positif alergen. Hasil positif dapat
bertambah setelah 96 jam aplikasi, oleh karena itu perlu dipesan kepada pasien
untuk melapor, bila hal itu terjadi sampai satu minggu setelah aplikasi.1

7
Untuk menginterpretasi hasil uji tempel tidak mudah. Interpretasi
dilakukan setelah pembacaan kedua. Respon alergik biasanya menjadi lebih
jelas antara pembacaan kesatu dan kedua, berawal dari +/- ke + atau ++
bahkan ke +++ (reaksi tipe crescendo), sedangkan respon iritan cenderung
menurun (reaksi tipe decrescendo).1

2.1.7 Pengobatan
Hal yang diperlu diperhatikan pada pengobatan dermatitis kontak adalah
upaya pencegahan terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab, dan
menekan kelainan kulit yang timbul.1

Kortikosteroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi


peradangan pada DKA yang akut yang ditandai dengan eritema, edema,
vesikel atau bula, serta eksudatif (madidans), misalnya prednison 30 mg/per
hari. Umumnya kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Sedangkan
kelainan kulitnya cukup dikompres dengan larutan garam faal atau larutan air
salisil 1:1000.1

1. Non medikamentosa3
a. Memotong kuku – kuku jari tangan dan jaga tetap bersih dan pendek serta
tidak menggaruk lesi karena akan menimbulkan infeksi
b. Memberi edukasi mengenai kegiatan yang berisiko untuk terkena dermatitis
kontak alergi
c. Gunakan perlengkapan/pakaian pelindung saat melakukan aktivitas yang
bersentuhan dengan alergen
d. Memberi edukasi kepada pasien untuk tidak mengenakan perhiasan,
aksesoris, pakaian atau sandal yang merupakan penyebab alergi
2. Medikamentosa3
a. Simptomatis
Diberi antihistamin yaitu Chlorpheniramine Maleat (CTM) sebanyak 3-
4 mg/dosis, sehari 2-3 kali untuk dewasa dan 0,09 mg/dosis, sehari 3 kali
untuk anak – anak untuk menghilangkan rasa gatal

b. Sistemik
1) Kortikosteroid yaitu prednison sebanyak 5 mg, sehari 3 kali

8
2) Cetirizine tablet 1x10mg/hari

3) Bila terdapat infeksi sekunder diberikan antibiotika (amoksisilin atau


eritromisin) dengan dosis 3x500 mh/hari, sehingga 5 hingga 7 hari.

c. Topikal
Krim desoksimetason 0,25%, 2 kali sehari

3. Pencegahan
Pencegahan DKA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:3
A. Memberi edukasi mengenai kegiatan yang berisiko untuk terkena
dermatitis kontak alergi
B. Menghindari substansi alergen
C. Mengganti semua pakaian yang terkena alergen
D. Mencuci bagian yang terpapar secepat mungkin dengan sabun, jika tidak
ada sabun bilas dengan air
E. Menghindari air bekas cucian/bilasan kulit yang terpapar alergen
F. Bersihkan pakaian yang terkena alergen secara terpisah dengan pakaian
lain
G. Bersihkan hewan peliharaan yang diketahui terpapar alergen
H. Gunakan perlengkapan/pakaian pelindung saat melakukan aktivitas yang
berisiko terhadap paparan allergen

2.18 Prognosis
Prognosis dermatitis kontak alergi umumnya baik, sejauh bahan
kontaknya dapat disingkirkan. Prognosis kurang baik dan menjadi kronis,
bila bersamaan dengan dermatitis oleh faktor endogen (dermatitis atopik,
dermatitis numularis, atau psoriasis), atau terpajan oleh bahan alergen
yang tidak mungkin dihindari, misalnya berhubungan dengan pekerjaan
tertentu atau yang terdapat di lingkungan penderita.1

BAB III

9
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. N
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 55 tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Palembang
Alamat : Jl. Abikusno CS RT 11 RW 02
Tanggal kunjungan / jam : 2 Desember 2019/ 11.00 WIB

3.2. Anamnesis
3.2.1 Keluhan utama :
Timbul bintil-bintil kemerahan di sela jari tangan kiri.

3.2.2 Keluhan tambahan :


Gatal, Nyeri, Panas.

3.2.3 Riwayat Perjalanan Penyakit :


Sekitar 3 minggu yang lalu pasien mengeluh timbul bintil-bintil
kemerahan di sela jari tangan kiri. Keluhan disertai dengan rasa gatal,
nyeri dan terasa panas, Bintil kemerahan hanya ada di tangan kiri dan
tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pasien sering menggaruk
bintil tersebut terutama pada malam hari hingga lecet dan keluar
cairan jernih. Keluhan muncul setiap kali pasien mencuci lap bengkel
dengan menggunakan deterjen. Pasien menggunakan jeruk nipis dan
digosokkan ke tangan untuk mencuci tangan kiri keluhannya namun
pasien merasa keluhan gatal yang dirasakan hilang sedikit.
Sekitar 1 minggu yang lalu bintil-bintil kulit menjadi kering dan
keropeng, keluhan juga disertai dengan rasa gatal. karena keluhannya

10
berulang dan tidak hilang maka pasien berobat ke Poliklinik Kulit dan
Kelamin RSUD Palembang Bari.

3.2.4 Riwayat penyakit dahulu


Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi deterjen,
alergi makanan yaitu udang tambak, dan tidak ada alergi obat.

3.2.5 Riwayat penyakit dalam keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti ini.

3.3. Pemeriksaan Fisik


A. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Kompos mentis
Tanda vital :
Frekuensi pernapasan 22x/menit
Frekuensi nadi 88x/menit
suhu 36,8 C
Mata : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik.
Hidung : Tidak ada kelainan
Telinga : Tidak ada kelainan
Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar.
Ekstremitas : Akral hangat

B. Status Dermatologikus

11
3.4
Pemeriksaan
Anjuran
Uji tempel Pada Regio interdigiti manus sinistra
( patch test) terdapat makula eritema, multipel,
lentikular, diskret sebagian di tutupi
3.6 Diagnosis krusta kuning.
Banding
1. Dermatitis kontak alergi
2. Dermatitis kontak iritan
3. Dermatitis Atopi

3.8 Diagnosis Kerja


Dermatitis kontak alergi
3.9 Penatalaksanaan
Non Farmakologi:
- Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya adalah radang pada
kulit yang disebabkan oleh deterjen tersebut.

12
- Kurangi memakai deterjen atau memakai sarung tangan saat
berkontak langsung dengan bahan kimia serta hindari pemakaian
alat yang berbentuk logam (nikel)
- Menjelaskan kepada pasien pada daerah luka yang gatal tidak
boleh digaruk karena akan menyebabkan semakin melebar dan
dapat timbul infeksi baru.
- Menjelaskan bahwa penyakit ini cenderung akan berulang apabila
tubuh terpapar oleh alergen tersebut sehingga membutuhkan
pengobatan yang panjang dan teratur.
- Menjelaskan cara pemakaian obat yaitu memakai obat oles setelah
mandi, dua kali sehari, oleskan tipis dan rata dibagian lesi tersebut.
Farmakologi:
1. Topikal
Kortikosteroid topical: Betamethasone Valerate 0,1% cream 5gr
dioleskan 2 kali sehari selama 2 minggu.
2. Sistemik
Antihistamin: Cetirizine 1x10mg (PO)

3.9. Prognosis
Quo ad vitam: Bonam
Quo ad functionam: Bonam
Quo ad sanationam: Bonam
Quo ad kosmetika: Bonam

BAB IV
ANALISA KASUS

Dari anamnesis, Sekitar 3 minggu yang lalu pasien mengeluh timbul


bintil-bintil kemerahan di sela jari tangan kiri. Keluhan disertai dengan rasa gatal,
nyeri dan terasa panas, Bintil kemerahan hanya ada di tangan kiri dan tidak
menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pasien sering menggaruk bintil tersebut
terutama pada malam hari hingga lecet dan keluar cairan jernih. Keluhan muncul
setiap kali pasien mencuci lap bengkel dengan menggunakan deterjen. Pasien

13
menggunakan jeruk nipis dan digosokkan ke tangan untuk mencuci tangan kiri
keluhannya namun pasien merasa keluhan gatal yang dirasakan hilang sedikit.
Sekitar 1 minggu yang lalu bintil-bintil kulit menjadi kering dan keropeng,
keluhan juga disertai dengan rasa gatal. karena keluhannya berulang dan tidak
hilang maka pasien berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Palembang
Bari.
Gambaran klinis yang tampak pada pasien adalah lesi kulit Pada Regio
interdigiti manus sinistra terdapat makula eritema, multipel, lentikular, diskret
sebagian di tutupi krusta kuning.

Pada pasien juga di dapatkan riwayat atopi berupa gatal jika


mengkonsumsi makanan ikan laut tetapi hanya udang tambak
Pada pasien tidak smemiliki reaksi hipersensitivitas terhadap bahan kimia
atau alat-alat yang berbentuk logam (nikel).
Gejala yang timbul pada pasien ini sesuai dengan gejala dengan dermatitis
kontak alergi, dimana keluhan yang timbul berupa bercak kemerahan atau bintil-
bintil kemerahan serta rasa gatal, Gambaran lesi yang di temukan pada pasien ini
juga sesuai dengan teori, pada yang akut dimulai dengan bercak eritema berbatas
jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula
dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah) dan adanya tanda garukan
atau lecet yang sudah mengering keropeng/krusta.
Pada kasus ini, setelah diagnosis banding dermatitis kontak alergi adalah
dermatitis kontak iritan dan dermatitis atopik.
Tabel 4.1 Diagnosis banding secara teori
Kasus Dermatitis kontak Dermatitis kontak Dermatitis
alergi iritan atopi
Usia 55 tahun Semua umur, Semua umur. Usia 2 bulan –
prevalensi tinggi pada dewasa.
pasien dengan riwayat
atopi.
Predileksi Regio Kejadian DKA pada Kejadian DKI Pada lipat
interdigiti sering ditangan bisa terkena siku, lipat
manus tetapi bisa terjadi ditangan tetapi lutut,
sinistra wajah, badan, bisa terjadi di pergelangan

14
lengan, dan tungkai lengan, dan tangan,
bawah yang pernah tungkai bawah kelopak mata,
terkontak langsung yang pernah leher, dan
dengan suatu terkontak wajah.
alergen. langsung dengan
bahan iritan.
Gejala Bercak Pruritus menonjol. Rasa nyeri, terasa Kulit kering,
klinis kemerahan panas seperti pucat, dengan
dan rasa gatal terbakar gejala utama
pruritus yang
umumnya
lebih hebat.
Efloresensi Pada Regio Pada akut dimulai Skuama, eritema, Eritema,
interdigiti dengan bercak vesikel, erosi dan papulo-
manus eritem berbatas likenifikasi batas vesikel yang
sinistra tegas, edema, tidak tegas dan halus, karena
terdapat papulovesikel, bula, umumnya gatal digosok,
makula serta menimbulkan asimetris. pecah,
eritema, erosi dan eksudasi. eksudatif, dan
multipel, Sedangkan pada akhirnya
lentikular, yang kronis terlihat terbentuk
diskret beskuama, papul, krusta.
sebagian di likenifikasi.
tutupi krusta
kuning.

Pemeriksaan anjuran pada pasien ini adalah uji tempel untuk mencari
faktor alergen. Pada pasien ini diberikan tata laksana secara umum dan khusus.
Secara khusus diberikan pengobatan topikal, alasan penggunaan kotikosteroid
topikal agar di dapatkan efek meliputi: vasokontriksi, penurunan permeabilitas
pembuluh darah normal dan penghambatan pospholipase, fibrin dan kinin.
Pada pasien ini diberikan kortikosteroid topikal golongan 5 (potensi
medium) yaitu Betamethasone Valerate cream 0,1% 5gr. Obat sistemik yang
diberikan untuk anti pruritusnya yaitu cetirizine 10mg 1 kali perhari. Cetirizine
adalah obat anti alergi dengan bahan aktif cetirizine terbukti lebih nyaman dan
tidak menimbulkan efek mengantuk atau sedatif sehingga tidak menganggu
aktifitas pasien sehari-hari. Untuk prognosis quo ad vitam, fungsionam,
kosmetika, sanationam adalah bona.

15
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien


didapatkan diagnosa pada kasus ini Dermatitis Kontak Alergi. Penyakit yang
terjadi pada semua umur yang di sebabkan oleh berbagai faktor bahan alergen.
Gambaran klinis penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit
bergantung pada keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai dengan bercak
eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula.

16
Pengobatan pada kasus ini, selain diberikan edukasi mengenai penyakitnya
berupa nama penyakitnya, penyebabnya dan tata laksana yang diberikan secara
khusus diberikan pengobatan topikal, Pada pasien ini diberikan kortikostreoid
topikal golongan 5 (potensi medium) yaitu betamethasone valerate cream 0,1%
5gr. Dikarenakan juga lesi kulit yang belum menghilang, tidak adanya likenifikasi
pada lesi, serta harga nya cukup terjangkau.
Prognosis pada kasus ini Quo ad vitam, quo ad fungsionam, quo ad
kosmetika quo ad sanationam adalah bonam. Karena penyakit ini tidak
mengancam nyawa, tidak menganggu fungsi organ tubuh lainnya dan penyakit ini
dapat berulang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sri Adi Sularsito danRetno W. Soebaryo. Dermatitis. Ilmu Penyakit Kulit


dan Kelamin Edisi Ke-7 Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: 2010. Hal. 156-167.
2. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC
3. Sumantri, M.A., Febriani, H.T., Musa, S.T. 2005. Dermatitis Kontak.
Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM

17
18