Anda di halaman 1dari 21

PROSES ADAPTASI PADA BAYI

MATA KULIAH PSIKOLOGI

1. Anis Fadhylah (P07124215040)


2. Fithria Hanifah (P07124215052)
3. Nanda Widya Putri (P07124215065)
4. Zuhalnie Yunita Ratri (P07124215078)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA

2018
HALAMAN PENGESAHAN

MAKALAH PROSES ADAPTASI PADA BAYI

MATA KULIAH PSIKOLOGI

Telah Mendapat Pengesahan Pada

Tanggal :

Mengesahkan

Nama Pembimbing Tanda Tangan

Anita Rahmawati, S.SiT, MPH


NIP. 197108112002122001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Proses
Adaptasi pada Bayi untuk memenuhi penugasan Mata Kuliah Psikologi.
Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini kami tidak terlepas dari
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Anita Rahmawati S.SiT, MPH selaku dosen pengampu Mata Kuliah
Psikologi.
2. Ibu Hesty Widyasih, S.ST, M.Keb selaku dosen pengampu Mata Kuliah
Psikologi.
3. Kedua orang tua tercinta yang telah memberikan dukungan baik materil
maupun spiritual dalam penyusunan makalah ini.
4. Seluruh teman-teman kelas DIV Kebidanan Reguler B yang telah
memberikan semangat dan dukungan dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini sangat jauh dari
kesempurnaan, baik pengetahuan maupun pengalaman, untuk itu saran dan kritik
yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penyusun juga semua pihak yang membacanya. Amiin.

Yogyakarta, 04 Mei 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul.………………………………………………..............................i
Lembar Pengesahan.………………………………………………………………ii
Kata Pengantar……………………………………………………………………iii
Daftar Isi………………………………………………………………………….iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………5
B. Tujuan……………………………………………………………...…..6
C. Manfaat ………………………………………………………………..6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar …………………………………………………………7
B. Keadaan Psikologi…………………………………………………….8
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi…………………………………...9
D. Masalah-masalah psikologi ………………………………………….13
E. Kebutuhan bimbingan psikologi …………………………………….14
F. Perkembangan psikologi …………………………………………….15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………19
B. Saran ………………………………………………………………….19
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………...21

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Seribu hari pertama kehidupan anak dimulai sejak ia berada di dalam
kandungan hingga berusia dua tahun. Masa ini adalah periode emas bagi anak.
Sebab, perkembangan otak akan berkembang cepat pada usia ini. Begitu juga
dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Bayi dapat diartikan mulai dari
umur dua minggu sampai umur dua tahun. Masa bayi ini dianggap sebagai
periode kritis dalam perkembangan kepribadian karena merupakan periode di
mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masa ini diletakkan. Bayi
yang mendapatkan dukungan yang baik dari sejak kehamilan hingga
pascanatal akan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik.
Akan tetapi, bayi juga berisiko mengalami gangguan adaptasi
psikologis berupa ketikmampuan dalam penyesuaian diri. Hal ini dipengaruhi
oleh berbagai faktor seperti lingkungan prenatal, jenis persalinan, pengalaman
yang berhubungan dengan persalinan, lamanya periode kehamilan, sikap
orang tua dan perawatan pascanatal yang dapat menyebabkan bayi tidak
merasa bahagia pada bayi dan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Menurut Erikson (1964) percaya bahwa cara bayi
diperlakukan akan menentukan apakah ia akan mengembangkan ‘dasar
percaya’ atau ‘dasar tidak percaya’, memandang dunia sebagai suatu yang
aman dan dapat dipercaya, atau sebaliknya sebagai ancaman.
Oleh karena itu, adaptasi psikologi pada bayi harus diperhatikan oleh
orang tua, keluarga, dan tenaga medis yang berada di lingkungan bayi dengan
cara menyiapkan lingkungan yang nyaman, aman, dan sehat sejak proses
kehamilan, persalinan, dan pascanatal hingga ia dewasa. Selain itu juga
melakukan komunikasi secara intensif, tidak menunjukan emosi yang
negative, pijat bayi, memberi ASI Eksklusif, dan tidak menuding atau mencap
negative.

5
B. Tujuan
1. Mengetahui Konsep Dasar pada Masa Bayi
2. Mengetahui Proses Adaptasi Psikologi pada Mada Bayi
3. Mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adaptasi Psikologi
Masa Bayi
4. Mengetahui Masalah-Masalah Psikologi pada Masa Bayi
5. Mengetahui Kebutuhan Bimbingan Psikologi Masa Bayi
6. Mengetahui Perkembangan Psikologi pada Masa Bayi

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran mahasiswa mengenai adaptasi psikologi
pada bayi untuk menunjang kompetensi mahasiswa dalam praktik
dilahan.
2. Bagi Bidan
Sebagai referensi terbaru untuk melakukan asuhan postnatal pada bayi
sehingga dapat memberikan asuhan kebidanan adaptasi psikologi pada
bayi untuk menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan bayi
sesuai umurnya.
3. Bagi Orangtua
Sebagai pengetahuan bagi orangtua untuk menyiapkan kehamilan
yang sehat, menyiapkan persalinan yang aman dan perawatan neonatal
dan bayi agar proses adaptasi psikologi bayi berjalan dengan baik.

6
BAB II
ISI
A. Konsep Dasar
Masa bayi berlangsung selama 2 tahun pertama kehidupan setelah
periode bayi baru lahir selama 2 minggu. Masa bayi sering dianggap
sebagai keadaan tidak berdaya dimana bayi setiap hari belajar untuk
semakin mandiri, sehingga diakhir masa bayi dikenal sebagai anak kecil
yang baru belajar berjalan. Masa bayi adalah masa dasar yang
sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak-anak merupakan masa dasar.
Banyak ahli berkeyakinan demikan, seperti Freud yang percaya bahwa
penyesuaian diri yang kurang baik pada masa dewasa bermula dari
pengalaman-pengalaman masa bayi dan kanak-kanak yang kurang baik
(Freud, 1962).
Pertumbuhan, diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif
(Soemantri, 2005). Pendapat tersebut memperkuat pernyataan Monks, dkk
(1998) bahwa pertumbuhan, khusus dimaksudkan untuk menunjukkan
bertambah besarnya ukuran badan dan fungsi fisik yang murni. Dari dua
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat dari pertumbuhan adalah
evolutif.
Perkembangan, diartikan sebagai suatu proses ke arah yang lebih
sempurna, dan tidak begitu saja dapat diulang kembali (Monks dkk, 1998).
Pendapat ini searah dengan Werner (dalam Monks, dkk., 1998) yang
menyatakan perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap
dan tidak dapat diputar kembali. Lebih lanjut Monks, dkk (1998)
menjelaskan bahwa perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat yang
khas mengenai gejala psikologis yang muncul. Sedangkan Soemantri
(2005) berpendapat, perkembangan adalah perubahan kualitatif, yaitu
perubahan progressive, dan teratur. Adapun Santrock (2007) memberikan
pendapat yang lebih mendasar, yaitu bahwa perkembangan adalah pola
perubahan yang dimulai sejak pembuahan dan berlanjut sepanjang rentang

7
hidup. Disini Santrock mendefinisikan perkembangan tidak hanya dalam
konteks evolusi, tetapi juga involusi.

B. Proses Adaptasi Psikologis pada Masa Bayii


Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan
setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu. Masa bayi neonatal
merupakan masa terjadinya penyesuaian radikal. Ini adalah suatu peralihan
dari lingkungan (kandungan) ke lingkungan luar. Seperti halnya semua
peralihan, hal itu memerlukan penyesuaian.
Penyesuaian diri radikal pada bayi neonatal antara lain :
1. Menyesuaikan terhadap perubahan suhu
2. Menyesuaikan diri terhadap cara bernafas
3. Menyesuaikan diri terhadap pola makan
4. Menyesuaikan diri terhadap sistem ekskresi
Kemudian beralih kemasa terhentinya perkembangan untuk
sementara waktu kira-kira 1 minggu, seperti berkurangnya berat badan dan
selalu sakit-sakitan. Pada akhir periode neonate perkembangan dan
kesehatan bayi akan berjalan seperti semula. Sebenarnya terhentinya
perkembangan dan pertumbuhan bayi tersebut merupakan ciri khas dari
periode neonatal dan dianggap normal.
Setelah mengalami penyesuaian tahap neonatal bayi mengalami
periode babyhood secara umum adalah usia 2 minggu hingga 2 tahun.
Periode babyhood merupakan dasar pembentukan sikap, perilaku dan pola
ekspresi. Adanya ketidakmampuan penyesuaian diri pada masa dewasa
merupakan efek pengalaman periode babyhood dan masa kana-kanak yang
kurang baik. Pada periode babyhood ini bayi sudah memahami senyum,
merangkak dan berdiri. Selain itu bayi senang memegang mainan dengan
kedua tangannya sembari melihat kesana-kemari dan berusaha untuk
mencari-cari suara atau musik yang didengarnya. Bayi juga sudah mampu
membedakan suara ibunya dengan suara orang lain. Pada akhir periode

8
babyhood bayi seringkali takut didekati orang yang tidak dikenalnya
namun bayi akan merasa senang dengan anak lain. Kemudian bayi
biasanya akan selalu menolak untuk ditidurkan, karena mereka lebih suka
menghabiskan waktunya dengan bermain.(Bethsaida & Herri, 2012).

C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Adaptasi Psikologi pada Bayi


Menurut Zein dan Eko Suryani (2005), banyak kondisi yang
mempengaruhi keberhasilan bayi untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan
pascanatal. Faktor yang mempengaruhi adalah sebagai berikut.
1. Lingkungan Pranatal
Lingkungan prenatal merupakan lingkungan sebelum bayi lahir.
Lingkungan pranatal yang sehat akan memberikan penyesuaian diri yang
baik pada kehidupan pascanatal. Di lain pihak, terdapat banyak macam
gangguan di dalam rahim yang dapat dan sering menyebabkan bayi
terpaksa lahir, seperti dikatakan oleh Schwartz, “Luka agak parah dan
kemudian menjadi penderitaan hidup”. Perawatan ibu yang kurang baik
selama kehamilan yang disebabkan oleh kemiskinan atau acuh seringkali
menyebabkan kondisi-kondisi yang kurang menyenangkan berkembang
di dalam lingkungan dalam rahim yang mempengaruhi perkembangan
anak dan mengakibatkan komplikasi selama persalinan, keduanya
mempengaruhi jenis penyesuaian diri bayi.
Kekurangan gizi pada ibu selama kehamilan ternyata menyebabkan
kelahiran premature, mati setelah lahir, bayi yang ibunya menderita
penyakit diabetes lebih banyak mengalami kesulitan dalam penyesuaian
dan tingkat kematian lebih tinggi daripada bayi yang ibunya sehat.
Lingkungan prenatal yang ditandai oleh tekanan kuat yang dialami
ibunya dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan komplikasi selama
kehamilan dan persalinan. Tekanan yang dialami ibu juga menyebabkan
janin menjadi hiperaktif selama bulan-bula terakhir kehamilan dan
kondisi ini cenderung mapan setelah lahir, yang gejalanya tampak dalam

9
kesulitan makan, gagal menambah berat badan, sulit tidur, peka, cepat
terganggu dan sejumlah kondisi-kondisi lain yang membuat penyesuaian
pada kehidupan pascanatal menjadi sulit. Untuk menekan adanya
pengaruh dari tekanan yang dialami ibu selama kehamilan pada
penyesuaian diri bayi selanjutnya. Sontag mengatakan :
Bayi yang dilahirkan dengan latarbelakang seperti itu adalah bayi yang
neurotik, yang disebabkan karena lingkungan janin yang kurang
memuaskan. Dalam hal ini tidak perlu menunggu masa kanak-kanak atau
situasi rumah yang buruk atau sebab-sebab lainnya untuk menjadikannya
neurotik. Hal ini sudah terjadi baginya sekalipun ia belum melihat sinar
matahari.
2. Jenis Persalinan
Sekalipun teknologi medis yang canggih dipakai, persalinan tetap
merupakan pengalaman yang berbahaya. Bayi yang dilahirkan secara
spontan biasanya lebih cepat dan lebih berhasil menyesuaikan diri pada
lingkungan pascanatal daripada bayi yang kelahirannya cukup sulit
sehingga harus menggunakan alat atau pembedahan Caesar. Semakin sulit
persalinan, besar kemungkinan terjadinya kerusakan dan semakin parah
kerusakan yang terjadi. Ketidakmampuan motorik, kelumpuhan cerebral
palsy dan keterbelakangan mental seringkali dilaporkan sebagai akibat
buruk dari persalinan yang sulit, terutama bila harus digunakan sarana
medis. Bayi yang dilahirkan dengan pembedahan caesar menjadi bayi
yang pendiam, tidak banyak menangis dibandingkan degan yang lahir
secara spontan atau dengan bantuan alat dan kelihatan lebih lesu dan
reaktivitasnya menurun.
3. Pengalaman yang Berhubungan dengan Persalinan
Ada dua pengalaman yang berpengaruh besar pada penyesuaian
pascanatal, yaitu seberapa jauh ibu terpengaruh oleh obat-obatan selama
proses persalinan dan mudah atau sulitnya bayi dapat bernapas.

10
Bayi yang ibunya banyak minum obat selama proses persalinan
menunjukkan perilaku yang kurang teratur dan tampak mengantuk selama
tiga hari atau lebih setelah melahirkan, dibandingkan dengan mereka yang
ibunya tidak minum obat atau tidak menerima obat-obatan sama sekali.
Bayi yang ibunya sangat besar dipengaruhi obat-obatan berat badannya
menurun dan memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan berat
badannya daripada mereka yang tidak banyak dipengaruhi obat-obatan.
Hal ini bergantung pada jenis obat-obatan yang digunakan ibu, misalnya
obat anestesi dan analgesic dapat dan seringkali mengganggu
penyesuaian diri yang harus segera dilakukan bayi untuk menunjang
kehidupan, tetapi efek yang berlangsung lebih lama belum dilaporkan.
Selain itu gampang tidaknya bayi bernapas setelah lahir juga
mempengaruhi penyesuaian diri. Kalau terjadi gangguan dalam
penyediaan oksigen untuk otak sebelum atau sesudah persalinan.

4. Lamanya Periode Kehamilan


Bayi pascamatur biasanya lebih cepat dan lebih berhasil menyesuaikan
dengan lingkungan pascanatal daripada yang dilahirkan cukup umur,
kecuali terjadi kerusakan pada saat persalinan. Akan tetapi, karena
kemungkinan kerusakan semakin meningkat dengan meningkatnya
kelahiran bayi yang lewat umur, maka keuntungan yang diperoleh dari
mudah dan cepatnya penyesuaian diri tidak terlampau banyak
dibandingkan kemungkinan kerusakan pada waktu lahir.
Sedangkan pada bayi-bayi yang belum cukup umur biasanya
mengalami komplikasi dalam menyesuaiakan diri dengan lingkungan
pascanatal, dan ini dapat sangat mempengaruhi penyesuaian mendatang.
Lagipula, bayi yang belum cukup umur menghadapi pelbagai kesulitan
jauh lebih besar daripada kesulitan yang dihadapi oleh bayi normal yang
cukup umur.

11
5. Sikap Orang Tua
Cepat dan berhasilnya bayi yang baru lahir menyesuaikan diri dengan
kehidupan pascanatal sangat dipengaruhi sikap orang tua. Kalau sikap
orang tua kurang menyenangkan, apapun alasannya, hal ini tercermin
dalam perlakuan terhadap bayi yang akan menghalangi penyesuaian diri
pada kehidupan pascanatal. Sebaliknya orangtua yang sikapnya
menyenangkan, memperlakukan bayi sedemikian rupa sehingga
mendorong penyesuaian yang baik.
Misalnya ibu yang tenang, biasanya menghasilkan lebih banyak susu
daripada ibu yang tegang dan gelisah, dan hal ini membantu bayi
menyesuaikan diri dengan cara baru untuk memperoleh makanan.
Sekalipun sikap ibu lebih penting daripada sikap ayah dalam menentukan
penyesuaian diri bayi pada kehidupan pascanatal, namun sikap ayah tidak
dapat diabaikan. Secara tidak langsung sikap ayah menjadi penting karena
pengaruhnya terhadap sikap ibu. Secara langsung sikap ayah penting
karena pengaruhnya pada cara ayah menghadapi bayinya yang baru lahir.
Ayah yang hadir pada saat persalinan biasanya mempunyai sikap yang
lebih menyenangkan terhadap anak mereka daripada mereka yang tidak
berada bersama dengan istrinya.
6. Perawatan Pascanatal
Secara keseluruhan mutu perawatan pascanatal amat penting dalam
menentukan jenis penyesuaian diri yang akan dilakukan bayi, namun ada
tiga aspek yang terpenting. Ketiga aspek itu adalah banyaknya perhatian
yang diperoleh bayi untuk meyakinkan bahwa kebutuhannya akan
terpenuhi dan dalam waktu yang relative cepat, banyaknnya rangsangan
yang diperoleh dari waktu ke waktu sejak dilahirkan, dan derajat
kepercayaan orangtua, terutama ibu dalam memenuhi kebutuhan bayi.
Hal ini berkaitan dengan bayi-bayi baru lahir tidak dapat menyatakan apa
yang diinginkan dan dibutuhkan, yang dapat dilakukan hanyalah
menangis.

12
Seperti diterangkan oleh Marcus, “Kehangatan dan kasih sayang yang
ditunjukan seorang ibu ketika ia mengemong bayinya, ternyata tidak
hanya menunjukkan kasih sayangnya, tetapi sebenarnya hal itu dapat
merangsang perkembangan neurologis bayi. Kekurangan rangsangan
kasih sayang dapat menimbulkan ketidakmampuan yang seringkali
dialami oleh bayi yang belum cukup umur”.

D. Masalah-masalah psikologi
Berikut adalah beberapa masalah-masalah psikologi pada bayi
1. Ketidakbahagiaan bayi
Ada beberapa sebab-sebab ketidakbahagiaan selama masa bayi
misalnya kesehatan yang buruk (membuat bayi rewel dan mudah
marah), tumbuhnya gigi (rasa tidak enak atau kadang-kadang rasa sakit
menyebabkan rewel dan marah), keinginan mandiri (dengan menolak
bantuan orang lain atau mogok), kecewa akan peran orangtua,
permulaan disiplin, penganiayaan bayi, dan meningkatnya kebencian
antar saudara (sibling rivalry).
2. Autism
Austic Spectrum Disorder (ASD) atau disebut juga dengan nama
Autisme, adalah salah satu gangguan psikologis yang di alami bayi saat
melakukan aktivitas sosial dan gangguan pada perilakunya. Bayi yang
memiliki autism biasanya akan selalu sibuk sendiri dengan dunianya.
Saat seorang anak melakukan satu hal, ia akan sulit dialihkan
perhatiannya termasuk saat akan di ajak bicara atau berinteraksi. Bayi
tersebut hanya akan fokus pada hal-hal yang ia sukai.
3. Retardasi mental pada bayi
Retardasi mental atau biasa disebut juga degan keterbelakangan mental
merupakan kondisi gangguan psikologis yang mengakibatkan adanya
perkembangan intelejensia yang diserta dengan ketidak sesuaian mental
anak sesuai dengan usianya. Salah satu penyebabnya bisa dikarenakan

13
adanya proses patologis dalam otak karena adanya infeksi, trauma,
keracunan atau gangguan gen dan gizi. Gejala lainnya yaitu, konstipasi
atau sembelit, bayi kuning, lidah besar, bodong, hidung pesek, aktivitas
menurun, terlambat bicara, kulit kering, mudah tersedak, ubun-ubun
melebar, perut buncit, bersisik, mudah kedinginan, wajah sembab, dan
pucat.

E. Kebutuhan bimbingan psikologi


Bayi yang secara emosi stabil dan nyaman biasanya akan lebih mudah
diberikan asupan makanan sehingga pertumbuhan fisiknya bagus, lebih
mudah diajak berkomunikasi sehingga informasi yang masuk dapat
memperkaya pengetahuannya, lebih kreatif, lebih tenang, dan sebagainya.
Untuk menata emosi bayi, bebrapa hal yang bisa dilakukan orangtua sejak
bayi berada dikandungan maupun setelah dilahirkan, sebagaimana
dipaparkan oleh Dra. Louis, M.M, Psi, dari Parent Education Program
RSAB Harapan Kita Jakarta. Saat di kandungan, ibu hamil harus mampu
mengontrol emosinya dengan baik. Jika ibu membiarkan emosinya
meledak-ledak, marah, takut, sedih, atau bahkan terlalu gembira akan
berpengaruh pada pertumbuhan psikis bayi karena ia ikut merasakan apa
yang dirasakan ibunya. Saat ibu marah misalnya, jantung ibu akan
berdetak lebih kencang, otot-otot berkontraksi, gerakan usus bergejolak
dan sebagainya. Bila kejadian ini sering muncul, kelak bayi akan mudah
rewel, mudah was-was, bahkan mudah sekali menangis setelah dilahirkan.
Setelah bayi lahir, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua :
1. Sering berkomunikasi
Komunikasi bisa dilakukan mengenai hal-hal yang dekat dengan bayi,
membicarakan kebahagiaan dengan kehadiran bayi, wajahnya yang
lucu, mendongeng dan sebagainya. Berkomunikasi dengan kalimat
yang lembut penuh kasih sayang, belaian tangan, sehingga bayi merasa
nyaman dan otomatis emosinya stabil.

14
2. Tidak menunjukkan emosi negative
Tak hanya melihat atau mendengar orangtua bertengkar yang bisa
membuat bayi stress. Ibu atau ayah yang suka menunjukkan gejolak
emosi negative, entah marah, sedih, atau kesal secara berlebih bisa
membuat bayi stress.
3. Pijat bayi
Tak hanya orangtua yang senang dengan pijatan, bayi pun
menyukainya. Sebab, pijat dapat menyamankan otot-otot yang pegal
dan kaku serta memperlancar sirkulasi darah. Tentu pijatan yang
dilakukan terhadap bayi harus benar dan oleh ahlinya atau ibu yang
sudah mengikuti pelatihan.
4. Memberikan ASI
Selain bermanfaat untuk kesehatan fisik, tak dipungkiri jika ASI dapat
membangun mental bayi lebih kuat.
5. Jangan menuding atau mencap
Meski masih bayi sebaiknya tidak menuding atau mencap negative.
Misal, bayi sering pipis di celana atau menumpahkan makanan jangan
pernah terucap padanya kata-kata negative seperti “anak jelek”,
“bodoh”, “dasar nyusahin”.

F. Perkembangan psikologi
Ada beberapa tugas perkembangan masa bayi dan awal masa kanak-
kanak yang dikemukakan oleh seorang tokoh psikologi perkembangan
havighurst (1972) yakni : belajar makan makanan padat, belajar berjalan,
belajar berbicara, belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh,
mempelajari perbedaan peran seks, mempersiapan diri untuk membaca,
belajar membedakan benar dan salah, mulai mengembangkan hati nurani.
1. Pekembangan Bicara
Dalam berkomunikasi, minimal ada dua keterampilan yang perlu
dikuasai, kemampuan menangkap pesan dari orang lain dan

15
kemampuan menangkap pesan dari orang lain. Tugas pertama dalam
berkomunikasi adalah memahami maksud orang lain dan
menyampaikan maksud mereka dalam bentuk kata-kata sesuai dengan
tahap perkembangannya. Sampai dengan usia 18 bulan bayi masih
membutuhkan penguatan bahasa isyarat baik dengan tangan, mimic
muka, serta gerak tubuh untuk memahami komunikasi. Tugas kedua
dalam berkomunikasi adalah belajar berbicara. Karena belum mampu
berbicara, baik mengambangkan pola komunikasi dengan cara mereka
sendiri (menangis, mengoceh, isyarat dan mengungkapkan emosi).
2. Pola Emosi Pada Bayi
Pola emosi pada bayi didominasi dengan emosi menyenangkan dan
emosi yang tidak menyenangkan. Bayi yang mendapat perawatan fisik
yang memadai, mendapat kasih saying dari orang-orang di sekitarnya
akan menunjukkan emosi senang. Sedangkan kondisi sebaliknya
membuat bayi menunjukan emosi tidak senang, sering menangis
karena marah atau takut, dalam kondisi tertentu tidak bahagia atau
bahkan sakit-sakitan. Dalam kondisi tertentu, orang tua menjadi tidak
sabar, merasa proses perawatan bayi menjadi beban bagi mereka,
reaksi emosi tidak senang atau tidak sabar dari orang tua ini
selanjutnya juga berpengaruh terhadapa emosi bayi (Stichting
Plato,2002)
3. Perkembangan Sosialisasi
Pengalaman sosial pada masa ini banyak mempengaruhi pola
hubungan sosial dan pola perilaku di masa depan. Bahkan seseorang
menjadi introvert atau ekstrovert lebih banyak di pengaruhi
pengalaman-pengalaman sosial awal, dimana hal ini banyak terjadi
didalam rumah. Bayi yang banyak menangis cenderung jadi anak yang
agresif atau mencari perhatian. Sebaliknya bayi yang ramah dan
bahagia biasanya memiliki penyesuaian sosial yang lebih baik pada
masa besarnya nanti.

16
4. Reaksi Sosial kepada Orang Dewasa
a. Usia 2-3 bulan
Mampu membedakan manusia dan benda mati, tahu bahwa
manusialah yang memenuhi segala kebutuhannya, tidak suka
ditinggal sendiri, tidak menujukkan rasa suka terhadap satu orang
tertentu.
b. 4-5 bulan
Bayi suka digendong dengan siapa saja, member reaksi yang
berbeda terhadapa wajah yang tersenyum, suara yang ramah, atau
suara yang menunjukkan kemarahan.
c. 6-7 bulan
Mampu membedakan teman dan orang asing sehingga
memnunjukkan reaksi tersenyum kepada teman dan menunjukkan
rasa takut kepada orang lain. Sudah ada keterikatan yang kuat
terhadap ibu atau pengganti ibu.
d. 8-9 bulan
Mencoba meniru kata-kata, gerakkan sederhana dari orang lain.
e. 12 bulan
Bayi bereaksi terhadap larangan.
f. 16-18 bulan
Muncul negatifisme dalam bentuk keras kepala dan tidak mau
mengikuti permintaan atau perintah orang dewasa, bisa berupa
perilaku menarik diri atau ledakan amarah.
g. 22-24 bulan
Mulai bekerjasama dalam kegiatan rutin seperti makan, berpakaian
dan mandi.
5. Reaksi Sosial Terhadap Bayi Lain
a. 4-5 bulan
Menarik perhatian bayi lain dengan menggerakkan badan, bermain,
memendang atau tertawa.

17
b. 6-7 bulan
Tersenyum pada bayi lain dan menunjukkan minat pada tangisan
bayi lain.
c. 9-13 bulan
Mencoba bekerjasama dalam bermain.
d. 18-24 bulan
Berminat bermain dengan bayi lain, menggunakan mainan untuk
membentuk hubungan sosial.
6. Peranan Disiplin dalam Masa Bayi
Disiplin ditegakkan dengan tujuan mengajarkan pada anak apa
yang dianggap oleh kelompok sosialnya benar atau salah, agar anak
berperilaku sesuai pengetahuan anak tentang benar dan salah.
Meskipun bayi belum mengerti sepenuhnya pembicaraan, namun
mereka menangkap maksud orang tua atua orang disekelilingnya
melalui mimik muka, gerakan tangan, tubuh atau suara-suara.

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Masa bayi berlangsung selama 2 tahun pertama kehidupan setelah
periode bayi baru lahir selama 2 minggu. Perkembangan lebih dapat
mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang
muncul.
2. Setelah mengalami penyesuaian tahap neonatal, bayi mengalami
periode babyhood secara umum adalah usia 2 minggu hingga 2 tahun.
Periode babyhood merupakan dasar pembentukan sikap, perilaku dan
pola ekspresi.
3. Faktor yang mempengaruhi adaptasi psikologi bayi adalah lingkungan
prenatal, jenis persalinan, pengalaman yang berhubungan dengan
persalinan, lamanya periode kehamilan, sikap orangtua, dan perawatan
pasca natal.
4. Masalah-masalah psikologi pada bayi antara lain ketidakbahagiaan,
autism, dan retardasi mental.
5. Kebutuhan bimbingan psikologi pada bayi yakni sering berkomunikasi,
tidak menunjukkan emosi negative, pijat bayi, member ASI, jangan
menuding atau mencap.
6. Perkembangan psikologi pada bayi meliputi perkembangan bicara, pola
emosi pada bayi, perkembangan sosialisasi, reaksi sosial kepada orang
dewasa, reaksi sosial terhadap bayi lain dan peranan disiplin pada masa
bayi.

B. Saran
1. Untuk mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu belajar kembali mengenai adaptasi
psikologi pada bayi untuk menunjang kompetensi mahasiswa dalam
praktik dilahan. Mahasiswa kebidanan akan selalu bersinggungan

19
dengan siklus hidup wanita mulai dari konsepsi, janin, neonatal, bayi,
balita, anak prasekolah, remaja, hingga lansia.
2. Untuk bidan
Diharapkan bidan mampu memberikan asuhan kebidanan pada bayi
sesuai dengan kebutuhan bayi. Asuhan postnatal dapat diberikan untuk
menunjang adaptasi psikologi pada bayi untuk menentukan arah
pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai umurnya.
3. Untuk orangtua
Diharapkan orangtua menyiapkan kehamilan yang sehat, menyiapkan
persalinan yang aman dan melakukan perawatan neonatal dan bayi
sesuai anjuran bidan. Orangtua harus mampu mengendalikan emosi
karena orangtua sebagai role model bagi anak.

20
DAFTAR PUSTAKA

Jhaquin, Arrwenia. 2010. Psikologi untuk Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Monks, F, Knoers, dan Haditono, S.R., 1998. Psikologi Perkembangan Pengantar


Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Zein, Asmar Yeti dan Eko Suryani. 2005. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta :
Fitramaya

21