Anda di halaman 1dari 1

BAGIAN: MANUSIA

Manusia, ya?

Begini mak, anakmu ini sudah lama tak ingin terlibat masalah dengan mahluk bernama manusia.

Tapi mamak selalu bilang, manusia adalah mahluk yang baik yang setia kawan yang punya akal.

Aku percaya saja kata-kata mamak.

Tapi mak, anakmu ini sudah mulai makan asam garam dunia selama ini, meski tak se asin dan se asam
mulut mamak yang duluan lahir didunia. Dan kesimpulanku mak, manusia tak sebaik itu.

Mereka saling bunuh.

Saling tuduh.

Matanya tak ada yang teduh mak. Tak ada yang se-teduh mata mamak.

Aku jadi ingin tahu mak, manusia-manusia apa yang dulu pernah mamak temui hingga mamak bilang kalau
manusia itu baik.

Aku ingat pesan mamak saat aku akan pergi merantau.

Akhlak nomor satu, inshaallah yang lain mengikuti. Aku camkan dalam-dalam itu ucapan mamak, akhlak
aku junjung tinggi mak, amal ma’ruf nahi mungkar inshaallah aku terapkan. Tapi tetap saja manusia
disekeliling-sekelilingku tak ada yang baik.

Mak maafkan aku, memang bukan tugasku menilai manusia lain baik atau tidak, aku sadar mak itu tugas
Allah SWT.

Tak masalah mak, aku sudah nyaman sendiri. Sampai teleponku berdering 3x, diatas ada nama mamak
dan pesan mamak-lah yang membuat hatiku berdegup cepat.

“Jadi, kapan kau nikah?”

Ah, ayolah mak. Pernikahan butuh dua orang manusia. Aku sendiri dan manusia lain bernama perempuan.
Ini sulit mak.

Malin Kundang-kah aku mak? Jika aku tak membalas pesanmu yang ini.

Aku hanya belum bisa berdamai dengan manusia mak.