Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN


KONSEP DIRI : GANGGUAN CITRA TUBUH

Disusun Oleh :

Kelompok 3

1. Muhammad Musyafa NIM 162310101242


2. Syinthia Purnama A NIM 162310101247
3. Izzatin Nafis A NIM 162310101251

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
MEI, 2018

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|1
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan 37 Telp./Fax. (0331) 323 450 Jember

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN


KONSEP DIRI : GANGGUAN CITRA TUBUH

1. LATAR BELAKANG

Citra tubuh adalah presepsi seseorang terhadap tubuhnya dan interaksinya


dengan orang lain, serta memiliki rasa kepemilikan dan batasan-batasan tubuhnya,
sebuah cerita yang terbangun secara psikologis dan melalui sistem neurologis
otak, melalui propiosepepsi, penglihatan, dan sistem vestibular. Citra tubuh juga
dapat diasumsikan sebagai proses maupun hasil, dan citra tubuh seseorang
mempengaruhi fungsi fisik dan psikologisnya (Larsen dan Lukbin 2009).
Gangguan citra tubuh adalah konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik
individu (Herdman dan Kamitsuru 2014). Gangguan citra tubuh merupakan
perubahan presepsi yang disebabkan oleh adanya perubahan dan fungsi dalam
tubuhnya

Diabetes melitus (DM) atau disebut diabetes saja merupakan penyakit


gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin
atau tubuh tidak dapan menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif.
Insulin adalah hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula darah. Akibatnya

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|2
terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah (Kemenkes RI, 2014).
Penyakit diabetes militus rentan sekali akan masalah psikologis

Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan


tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat
langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, memperlihatkan gejala yang
berbeda, dan muncul oleh berbagai penyebab. Kejadian masa lalu yang sama
dengan kejadian ini, tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda. Banyak klien
dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan masalahnya bahkan
mungkin menceritakan hal yang berbeda dan kontradiksi, kemampuan mereka
untuk berperan dalam menyelesaikan masalah juga bervariasi (Keliat, 2002).

2. DEFINISI

Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau


perubahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis artinya
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Perubahan dapat mencakup
keseimbangan persona, sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan
perbaikan dan penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru
dalam mencapai tujuan tertentu (Hidayat, 2007). Citra tubuh merupakan salah satu
komponen dari konsep diri yang membentuk persepsi seseorang tentang tubuhnya
baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap
yang ditunjukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi
tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan
orang lain (Potter dan Perry, 2005). Citra tubuh adalah gambaran mental yang
dimiliki pada tubuh sendiri. Citra tubuh tidak hanya tentang bagaimana seseorang
menilai dirinya, namun juga mengenai bagaimana perasaan mereka terhadap
persepsi tersebut (kim dan lenon, 2007). Citra tubuh merupakan konsep subjektif
sesorang terhadap penampilan fisiknya. Beberapa penyakit dapat mengakibatkan
perubahan pada penampilan fisik, klien dan keluarga akan bereaksi dengan cara
yang berbeda-beda terhadap berbagai perubahan tersebut. Reaksi klien dan

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|3
keluarga terdapat perubahan gambaran tubuh bergantung pada beberapa hal
berikut ini :

1. Jenis perubahan (kehilangan tangan, alat indera tertentu, atau organ


tertentu)
2. Kapasitas adaptasi
3. Kecepatan perubahan
4. Dukungan yang tersedia

Gangguan citra tubuh adalah konfusi dalam gambaran mental tentang diri-
fisik individu (Herdman dan Kamitsuru 2014). Gangguan citra tubuh biasanya
melibatkan distorsi dan persepsi negatif tentang penampilan fisik mereka.
Perasaan malu yang kuat, kesadaran diri dan ketidaknyamanan sosial sering
menyertai penafsiran ini. Sejumlah perilaku menghindar sering digunakan untuk
menekan emosi dan pikiran negatif, seperti visual menghindari kontak dengan sisa
ekstremitas, mengabaikan kebutuhan perawatan diri dari sisa ekstremitas dan
menyembunyikan sisa ekstremitas lain. Pada akhirnya reaksi negatif ini dapat
mengganggu proses rehabilitasi dan berkontribusi untuk meningkatkan isolasi
sosial (Wald dan Alvaro, 2004).

Suatu gangguan citra tubuh dapat diketahui perawat dengan


mewawancarai dan mengamati pasien secara berhati-hati untuk mengidentifikasi
bentuk ancaman dalam citra tubuhnya (fungsi signifikan bagian yang terlibat,
pentingnya penglihatan dan penampilan fisik bagian yang terlibat); arti kedekatan
pasien terhadap anggota keluarga dan anggota penting lainnya dapat membantu
pasien dan keluarganya (Kozier, 2004).
Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang
diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna
dan objek yang sering kontak dengan tubuh. Pada klien yang dirawat dirumah
sakit umum, perubahan citra tubuh sangat mungkin terjadi. Permasalahan body
image yang paling umum terjadi adalah ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh
(body dissatisfaction). Ketidakpuasan terjadi pada saat seseorang tidak menyukai

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|4
tubuhnya atau bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Body dissatisfaction
merupakan bagian dari body image. Body dissatisfaction merupakan
konseptualisasi perbedaan antara persepsi tubuh ideal yang mereka inginkan dan
persepsi individu terhadap ukuran tubuhnya, atau hanya sebagai perasaan tidak
puas terhadap ukuran dan bentuk tubuh yang diinginkan.

3. PENGKAJIAN

Kasus :

Tn A umur 48 tahun pendidikan terakhir SMP mepunyai penyakit Diabetes


Militus baru saja. Klien baru tahu terkena penyakit DM 17 harian yang lalu
kemudian pada 10 hari yang lalu Tn A masuk ke RS karena luka yang tak kunjung
sembuh dan luka yang semakin melebar. Klien mengatakan luka di telapak
kakinya karena terkena tusukan kayu tajam sebab profesi klien sebagai pembuat
mebel kayu. Klien merasa tidak kuat apabila klien melihat lukanya. Klien juga
merasakan terganggu dengan adanya sakit di kaki menjadi tidak bisa beraktifitas
seperti biasanya lagi. Klien mengatakan kalau melihat lukanya itu lemas dan ingin
pingsan sehingga apabila sedang perawatan luka dirumah klien selalu menutupi
matanya. Klien mengatakan tidak pernah keluar rumah hanya di dalam rumah
saja. Klien mengatakan malu akan keadaannya dan merasa menyusahkan
keluarga. Tanda tanda vital menunjukkan TD : 130/80, Nadi : 78 x / menit, RR :
24 x / menit, Tinggi badan 149 cm dan berat badan 46 kg. Hasil pemeriksaan
laboratorium yang abnormal adalah GDS 451mg/dL dan leukosit : 18.350/mm³.
Luka tembus, pada bagian bawah berdiameter +/- 1 cm, melebar ke bagian atas
dengan diameter +/- 6 cm. Produksi pus positif, tampak pus berwarna kuning
keruh di area luka. kaki terasa nyeri sejak terjadi luka dan meningkat sekitar
seminggu sebelum masuk RS dan nyerinya seperti ditusuk-tusuk. Nyeri terjadi
sepanjang waktu, meningkat ketika kaki digerakkan. Klien rutin perawatan luka 3
hari sekali dan tidak ada alergi makanan, klien menyukai minuman berenergi
karena pekerjaannya yang sebagai pengrajin mebel.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|5
3.1 FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang menjadi sumber terjadinya
stres yang mempengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk menghadapi stres
baik yang biologis, psikososial, dan sosiokultural. Secara bersama-sama, faktor ini
akan memengaruhi seseorang dalam memberikan arti dan nilai terhadap stres
pengalaman stres yang dialaminya.
Terjadinya gangguan konsep diri harga diri rendah kronis juga dipengaruhi
beberapa faktor predisposisi seperti faktor biologis, psikologis, sosial dan kultural
(Stuart and Sundeen, 1995)
a. Biologis meliputi riwayat genetik, status nutrisi, status kesehatan secara
umum, sensitivitas biologis atau alergi dan paparan terhadap racun.
Interpretasi pada kasus: Tn A menderita penyakit diabetes militus dan
memiliki luka sejak 17 harian yang lalu. Klien mengatakan tidak ada alergi
apapun
b. Psikologis meliputi intelegensi, keterampilan verbal, moral, kepribadian,
konsep diri, motivasi, pengalaman masa lalu, pertahanan psikologis dan
locus of control.
Interpretasi pada kasus: Tn A menyatakan takut, khawatir dan bingung
dengan kondisi kaki. Klien mengatakan tidak kuat apabila melihat
lukanya. Tn A merasa terganggudengan adanya penyakit DM karena tidak
bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
c. Sosiokultural meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan,
pekerjaan, latar belakang budaya, agama, afiliasi politik, peran atau status
sosial.
Interpretasi pada kasus: Tn A usia 48 tahun beragama islam. Klien kerja
sebagai pengrajin mebel kayu. Klien aktif mengikuti pengajian di desanya.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|6
3.2 FAKTOR PRESIPITASI

Faktor presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai


tantangan, ancaman atau tuntutan kepada individu sehingga menghasilkan
ketegangan dan stress.

a. Nature meliputi biologis, psikologis dan sosiokultural


Interpretasi pada kasus: luka DM yang dialami klien dikarenakan tertusuk
kayu. Klien merasa malu akan lukanya dan merasa menyusahkan keluarga.
Klien mengatakan kalau melihat lukanya itu lemas dan ingin pingsan.
b. Origin dapat berasal dari lingkungan internal atau eksternal individu.
Interpretasi pada kasus: (internal) klien menderita penyakit DM dan klien
ingin sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa.
c. Time meliputi kapan terjadinya, berapa lama individu terpapar stressor dan
berapa sering mengalami stressor.
Interpretasi pada kasus: Klien baru saja menderita DM sekitar 17 harian
yang lalu. Klien merasa malu dan menyusahkan keluarga.
d. Number jumlah stimulus atau stressor yang dialami oleh individu dalam
satu periode waktu.
Interpretasi pada kasus: klien tidak dapat bekerja lagi apabila kakinya terus
menerus seperti sekarang.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|7
3.3 TANDA DAN GEJALA
Tanda dan Gejala Gangguan Citra Tubuh buku NANDA 2015-2017
Terdapat Pada Kasus
1. Gangguan fungsi tubuh
2. Gangguan pandangan tentang tubuh seseorang (misalnya
penampilan, struktur, fungsi)
3. Gangguan struktur tubuh
4. Menekankan pada kekuatan yang tersisa
5. Menekankan pecapaian
6. Menghindari melihat tubuh
7. Menghindari menyentuh tubuh
8. Menolak penerimaan tubuh
9. Menyembunyikan bagian tubuh
10. Perasaan negatif tentang tubuh
11. Perilaku memantau tubuh
12. Perubahan gaya hidup
13. Perilakumengenali tubuh
14. Perubahan pada kemampuan memperkirakan hubungan spesial
tubuh dengan lingkungan
15. Preokuasi pada perubahan
16. Respon nonverbal pada perubahan (misalnya penampilan,
struktur, fungsi)
17. Respon nonverbal perubahan yang dirasakan pada tubuh
(misalnya penampilan, struktur, fungsi)
18. Takut reaksi orang lain

Scara Umum
1. Berfokus pada fungsi masa lau
2. Berfokus pada kekuatan sebelumnya
3. Depersonaliasi kehilangan melalui penggunaan kata ganti
impersonal

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|8
4. Depersonaliasi bagian tubuh melalui penggunaan kata ganti
impersonal
5. Memperluas batasan tubuh (misal : memasukkan objek
eksternal)
6. Menekankan pada kekuatan tersisa
7. Menekankan pecapaian
8. Personalisasi bagian tubuh dengan nama
9. Personalisasi kehilangan dengan nama
10. Perilaku mengenali tubuh
11. Perubahan pada kemampuan memperkirakan hubungan spasial
tubuh dengan lingkungan
12. Preokupasi pada kehilangan
13. Preokupasi pada perubahan
14. Terlalu terbuka tentang bagian tubuh
15. Tidak ada bagian tubuh
16. Trauma terhadap bagian tubuh yang tidak berfungsi
Tabel 1. Herdman dan Kamitsuru 2014

3.4 SUMBER KOPING


Sumber koping yang dimiliki oleh individu berkaitan dengan financial
assets, problem-solving abilities, social supports, and cultural beliefs. Setelah
individu menilai stressor yang ada, individu akan menggunakan sumber koping
yang dimilikinya. Terkadang individu juga mengalami kebimbangan, apakah
masalah bisa diselesaikan.
a. Financial assets: merujuk pada uang, barang dan jasa yang dapat dibeli
dengan uang serta masalah keuangan seseorang berhubungan dengan
masalah yang dihadapinya.
Interpretasi pada kasus: Tn A bekerja sebagai pengrajin mebel kayu.
b. Problem-solving abilities: kemampuan seseorang dalam menyelesaikan
masalahnya.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
|9
Interpretasi pada kasus: Tn A tidak dapat bekerja, namun klien sering
membantunpekerjaan rumah supaya tidak menjadi beban di
keluarganya.
c. Social support: penyelesaian masalah dengan orang lain, meningkatkan
kemungkinan mendapatkan kerja sama dan dukungan dari yang lain dan
memberikan control sosial individu yang lebih besar.
Interpretasi pada kasus: istri klien sering memberikan buah buahan saat
bekerja dan menyuruh klien untuk mengurangi minum-minuman
berkarbonasi dan menyuruh olah raga.
d. Cultural beliefs: keyakinan seseorang dalam mengatasi masalahnya,
keyakinan ini juga sebagai dasar harapan dan dapat mempertahankan
upaya penanggulangan dalam situasi yang paling buruk.
Interpretasi pada kasus: Tn A mencoba mengurangi minuman
berkarbonasi dan berenergi.

3.5 MEKANISME KOPING


Mekanisme koping ialah suatu proses adaptasi yang dilakukan oleh individu
untuk menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan dan respon
situasi yang mengancam. Bila mekanisme penanggulangan ini berhasil, maka
individu dapat beradaptasi dan tidak menimbulkan suatu gangguan kesehatan,
tetapi bila mekanisme koping gagal artinya individu gagal untuk beradaptasi serta
dapat menimbulkan stress (Keliat 2006, dalam Hasibuan, 2012).
Mekanisme koping dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Mekanisme koping yang konstruktif (adaptif) merupakan suatu kejadian
dimana individu dapat mengatur berbagai tugas mempertahankan konsep
diri, mempertahankan hubungan dengan orang lain dan mempertahankan
emosi serta pengaturan stress. Karakteristik mekanisme koping adaptif
yaitu: dapat menceritakan secara verbal tentang perasaan,
mengembangkan tujuan yang realistis, dapat mengidentifikasi sumber
koping, dapat mengembangkan mekanisme koping yang efektif, memilih
strategi yang tepat, dan menerima dukungan.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 10
2. Mekanisme koping yang destruktif (maladaptif) adalah suatu keadaan
dimana individu mempunyai pengalaman atau mengalami keadaan yang
beresiko tinggi suatu ketidakmampuan untuk mengatasi stressor. Koping
maladaptif menggambarkan individu yang mengalami kesulitan dalam
beradaptasi terhadap kejadian-kejadian yang sangat menekan.
Karakteristik koping maladaptif yaitu: menyatakan tidak mampu, tidak
mampu menyelesaikan masalah secara efektif, perasaan lemas, takut,
gangguan fisiologis, adanya stress kehidupan dan tidak mampu memenuhi
kebutuhan dasar.
Interpretasi pada kasus yaitu Tn A terkena penyakit DM, mengalami luka
pada kakinya membuat Tn A tidak dapat beraktifitas seperti biasanya,
merasa takut jika melihat lukanya, tidak pernah keluar rumah dan
berinteraksi dengan orang-orang karena malu. Tn A menyukai minuman
berenergi untuk menunjang pekerjannya dan sudah diperingatkan oleh
sang istri untuk tidak meminum minuman berenergi tersebut. Tetapi Tn A
tetap saja meminumnya. Mekanisme koping yang dialami klien yaitu
mekanisme koping destruktif (maladaptif) dengan penolakan.

3.6 RENTANG RESPON


Rentang Respon Konsep Diri

(Skema: rentang Respon Konsep Diri, Stuart and Sundeen 1998)


Keterangan :
1. Aktualisasi diri: pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan
latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan diterima.
2. Konsep diri positif: apabila individu mempunyai pegalaman yang positif
dalam beraktualisasi diri

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 11
3. Harga diri rendah: transisi antara respon konsep diri adaptif dengan konsep
diri maladaptif
4. Kerancuan identitas: merupakan suatu kegagalan individu untuk
mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak-kanak ke dalam
kepribadian psikososial dewasa yang harmonis.
5. Depersonalisasi: suatu perasaan tak realistis dan keasingan dari diri
sendiri.
Respon adaptif merupakan respon yang masih dapat diterima oleh norma-
norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat dan
individu dalam menyelesaikan masalahnya, dengan kata lain respon adaptif adalah
respon atau masalah yang masih dapat di toleransi atau masih dapat di selesaikan
oleh kita sendiri dalam batas yang normal.
Respon maladaptif merupakan respon yang diberikan individu dalam
menyelesaikan masalahnya menyimpang dari norma- norma dan kebudayaan
suatu tempat atau dengan kata lain di luar batas individu tersebut.
Dari kasus diatas, bahwa klien berada pada rentang respon maladaptif.
Karena perannya sebagai kepala keluarga terganggu akibat dirinya terkena
penyakit DM. Klien tidak bisa beraktifitas seperti biasanya lagi dan merasa
menyusahkan keluarga. Klien juga tidak pernah keluar rumah dan berinteraksi
dengan orang lain karena malu akan keadaannya. Klien juga mengeluhkan nyeri
jika kakinya digerakkan. Klien menolak untuk melihat keadaan lukanya yaitu
dengan selalu menutupi matanya jika sedang melakukan perawatan luka dirumah.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 12
3.7 PSIKODINAMIKA: GANGGUAN KONSEP DIRI : GANGGUAN
CITRA TUBUH

4. DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Selama pasien dirawat, perawat melakukan tindakan untuk diagnosa


potensial, dan akan dilanjutkan oleh perawat di Unit Rawat Jalan untuk
memonitor kemungkinan diagnosa aktual. Beberapa diagnosa gangguan citra
tubuh adalah potensial gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan efek
pembedahan serta menarik diri yang berhubungan dengan perubahan penampilan
(Keliat, 1998). Adapun diagnosa yang mungkin muncul pada kasus diantaranya:

1. Nyeri akut (00132)

2. Risiko infeksi (00004)

3. Intoleran aktivitas (00092)

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 13
4. Gangguan pola tidur (000198)

5. Ansietas (00146)

6. Harga diri rendah kronik (00119)

7. Gangguan citra tubuh (00118)

8. Ketidakefektifan performa peran (00055)

Gangguan konsep diri berhubungan dengan gangguan citra tubuh ditandai


dengan klien tidak menerima kondisi tubuhnya saat ini karena klien mengatakan
kalau melihat lukanya itu lemas dan ingin pingsan sehingga apabila sedang
perawatan luka dirumah klien selalu menutupi matanya, klien tidak pernah keluar
rumah, dan klien malu akan keadaannya dan merasa menyusahkan keluarga.

5. DIAGNOSIS MEDIS YANG MUNGKIN MUNCUL PADA KLIEN


DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI : GANGGUAN CITRA
TUBUH
Diagnosa medis yang mungkin dapat menyebabkan gangguan citra tubuh
1. Diabetes Militus
2. Amputasi
3. Kanker
4. Stroke

6. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

6.1 RENCANA TINDAKAN PADA KLIEN


Tujuan tindakan keperawatan bagi pasien gangguan citra tubuh adalah
meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya, peran serta sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki, mengidentifikasi perubahan citra tubuh,
menerima perasaan dan pikirannya, mentapkan masalah yang dihadapinya,
mengidentifikasi kemampuan koping dan sumber pendukung lainnya, melakukan
tindakan yang dapat mengembalikan integritas diri (Keliat, 1998). Setelah seluruh

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 14
tujuan diatas tercapai maka pasien dapat mengintegrasikan pada konsep dirinya
perubahan citra tubuh yang terajadi. Dengan adanya rencana tindakan
keperawatan kepada klien, harapannya klien mampu untuk :

1. Mengenal tentang gangguan citra tubuh


2. Mengatasi gangguan citra tubuh
Rencana Tindakan Pada Klien yaitu :

1. Mengenal tentang arti perubahan pada klien dengan diskusi


2. Memberikan stimulasi positif mengenai penerimaan
3. Berikan contoh kepada pasien yang memiliki kasus yang mirip/serupa
dengan klien terutama pada klien yang telah berhasil dalam rehabilitasi
4. Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan klien
secara bertahap
5. Bantu klien menentukan tindakan positif yang tetap harus dilakukan klien
dalam kehidupan sehari-hari.

6.2 RENCANA TINDAKAN PADA KELUARGA

Dengan adanya rencana tindakan keperawatan kepada keluarga, harapannya


keluarga mampu untuk :

1. Mengenal masalah gangguan citra tubuh pada anggota keluarganya


2. Merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan citra tubuh
3. Memotivasi anggota keluarga yang mengalami gangguan citra tubuh
4. Mengenali perilaku gangguan citra tubuh pada anggota keluarga yang
mengalami gangguan citra tubuh
Rencana Tindakan pada Keluarga yaitu :

1. Diskusikan kondisi klien yang mengalami gangguan citra tubuh,


seperti penyebabnya, proses terjadinya, tanda dan gejala, serta
akibatnya

2. Latih keluarga merawat gangguan citra tubuh klien

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 15
3. Latih keluarga untuk memberikan reinforcement yang positif untuk
semangatnya

7. EVALUASI HASIL TINDAKAN KEPERAWATAN

7.1 EVALUASI KEMAMPUAN KLIEN DAN KELUARGA

Klien sudah memahami masalah yang dialaminya sekarang, dan klien sudah
bisa menerima keadaannya sekarang yaitu luka yang ada dikakinya. Klien sudah
mulai berinteraksi keluar rumah lagi, dan tidak malu lagi dengan keadaannya
sekarang. Lalu, pemikiran klien tentang dirinya yang menyusahkan keluarga
sudah tidak terbesit lagi. Keluarga sudah menerima keadaan klien yang sekarang.
Keluarga sudah kooperatif dalam merawat klien, dan keluarga terus mengingatkan
kepada klien untuk selalu mensyukuri dengan apa yang terjadi sekarang ini.

7.2 EVALUASI TERHADAP TANDA GEJALA PADA KLIEN

Klien sudah mulai bisa menerima keadaan kakinya yang luka, klien sudah
tidak lemas lagi, tidak ingin pingsan dan sudah tidak menutup mata saat
melakukan perawatan luka dirumah. Klien sudah tidak malu dengan keadaan yang
sedang dialami, klien juga sudah mulai keluar rumah.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 16
8. DOKUMENTASI
Lampiran

IMPLEMENTASI EVALUASI
Tanggal : 22 Mei 2018 S:
 Klien mengatakan sudah
Data merasa lega setelah berbincang
Pasien : bincang dengan perawat
DS :  Klien mengatakan merasa
 Klien mengatakan luka di nyaman
telapak kakinya karena terkena  Klien mengatakan bersyukur
tusukan kayu tajam setelah mengobrol dengan
 Klien mengatakan lukanya perawat
terasa nyeri
 Klien mengatakan merasa O :
tidak kuat apabila klien  Klien kooperatif mampu
melihat lukanya. menjawab pertanyaan perawat
 Klien mengataka merasakan dengan antusias
terganggu dengan adanya sakit  Ekspresi sedih berkurang
di kaki  Tampak tersenyum kepada
 Klien mengatakan kalau perawat
melihat lukanya itu lemas dan  TD : 130/80, Nadi : 78 x /
ingin pingsan menit, RR : 24 x / menit
 Klien mengatakan tidak pernah A :
keluar rumah hanya di dalam Masalah gangguan citra tubuh
rumah saja. teratasi, lanjutkan intervensi
 klien mengatakan malu akan P :
keadaannya dan merasa  Anjurkan klien untuk melihat
menyusahkan keluarga. bagian luka secara bertahap
DO :  Anjurkan klien melatih fungsi

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 17
 Luka tembus, pada bagian tubuh yang sehat, latih
bawah berdiameter +/- 1 cm, meningkatkan citra tubuh
melebar ke bagian atas dengan dengan perawatan diri secara
diameter +/- 6 cm bertahap
 Produksi pus positif, tampak  Anjurkan klien berinteraksi
pus berwarna kuning keruh di secara bertahap
area luka
 TD : 130/80, Nadi : 78 x /
menit, RR : 24 x / menit,
Tinggi badan 149 cm dan berat
badan 46 kg
 Hasil pemeriksaan
laboratorium yang abnormal
adalah GDS 451mg/dL dan
leukosit : 18.350/mm³
Keluarga : -

Diagnosa Keperawatan :
Gangguan citra tubuh b.d luka
diabetes di kaki

Tindakan Keperawatan
Pasien :

1. Mengenal tentang arti


perubahan pada klien dengan
diskusi

2. Memberikan stimulasi positif

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 18
mengenai penerimaan

3. Berikan contoh kepada pasien


yang memiliki kasus yang
mirip/serupa dengan klien
terutama pada klien yang telah
berhasil dalam rehabilitasi

4. Dorong klien untuk merawat


diri dan berperan serta dalam
asuhan klien secara bertahap

5. Bantu klien menentukan


tindakan positif yang tetap
harus dilakukan klien dalam
kehidupan sehari-hari.

Keluarga :

1. Diskusikan kondisi klien yang


mengalami gangguan citra tubuh,
seperti penyebabnya, proses
terjadinya, tanda dan gejala, serta
akibatnya

2. Latih keluarga merawat gangguan


citra tubuh klien.

3. Latih keluarga untuk memberikan


reinforcement yang positif untuk
semangatnya.

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 19
Rencana Tindak Lanjut
Pasien :
1. Membiasakan klien untuk
berfikiran positif terhadap
kondisinya
2. Membiasakan klien melatih hal-hal
positif yang dimiliki klien
3. Mempertemukan klien dengan
seseorang yang telah

Keluarga :
Meminta keluarga untuk membantu
klien dengan memberikan dukungan
penerimaan

9. REFERENSI

Andria,Veno. 2011.Makalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Citra


tubuh. Fakultas Ilmu Keperawatan. Yogyakarta
Ed. Herman T. H., Komitsuru S. 2014. Nanda Internasional Diagnosa
Keperawatan, Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC

Keliat, B. A, 2002, Proses Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Situasi dan Analisis Diabetes. Departemen


Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
diabetes.pdf [Diakses pada tanggal 20 Mei 2018].

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 20
Kim, M., & Lennon, S. J. 2006. Analysis of Diet Advertisement : A Cross
National Comparison of Korean and U.S Women’s Magazine. Clothing and
Textile Research Journal. (online). Available
FTP:http://ctr.sagepub.com/egi/reprint/24/4/345. Tanggal Akses : 17 April
2018.

Melliana. 2006. Menjelajah tubuh : Perempuan dan Mitos Kecantikan.


Yogyakarta : Lkis Yogyakarta

Muhammad G. A, 2017. Gangguan Citra Tubuh.. UIN Syarif Hidayatullah.


Jakarta

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4 Volume 1.EGC. Jakarta

Stuart, G.W. 2013. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Missouri:


Mosby Elsevier
Wati dan Sumarmi. 2017. Body Image Among Overweight and Non overweight
Adolescent Girls: A Cross Sectional Study.
https://ejournal.unair.ac.id/AMNT/article/download/7130/4387. Tanggal
Akses 27 April 2018

Yusuf. Ahmad. 2017. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta. Salamba
Medika

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 21
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan 37 Telp./Fax. (0331) 323 450 Jember

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI : GANGGUAN
CITRA TUBUH

SP 1. PADA KLIEN DENGAN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI :


GANGGUAN CITRA TUBUH
1. TAHAP ORIENTASI
1.1 Salam dan perkenalan
X : “Selamat pagi bapak (bersalaman), perkenalkan saya perawat Rudi
yang bekerja pada shift pagi hari ini di ruang melati mulai pukul 07.00-
12.00 siang nanti untuk merawat bapak, apa benar ini dengan bapak Argo
?”
Y : “Selamat pagi mas, iya benar.”
X : “Permisi, saya cek dulu gelang identitasnya ya bapak (sambil
memegang dan melihat), bisa sebutkan tempat dan tanggal lahirnya bapak
?”
Y : “18 Mei 1974”
X : “Oh iya baik sudah benar”

1.2 Evaluasi (keluhan klien dan keluarga) ...akan diperoleh tanda dan gejala
Gangguan citra tubuh
X : “Bagaimana bapak kabar hari ini ?”
Y : “iya mas saya nggak bisa tidur(sambil menutupi luka DM).”
X : “ kalo boleh tahu kenapa pak, kok tidak bisa tidur?”
Y : “saya malu mas dengan luka saya, saya merasa menyusahkan keluarga
saya ”

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 22
X : “Kalau boleh tahu sejak kapan bapak punya pikiran seperti ini ?”
Y : “Masih baru-baru ini mas, ketika saya harus berobat lagi dan harus
rawat inap”
1.3 Validasi (kemampuan klien untuk menyelesaikan masalah (data evaluasi)
X : “Kalau bapak merasa malu yang bapak alami sekarang biasanya apa
yang bapak lakukan ?”
Y : “Biasanya saya merenung diam, dan duduk di teras dan terkadang saya
bercerita perasaan saya lebih banyak ke anak saya tapi banyak yag saya
pendam sendiri.”
X : “Bagaimana kalo kita mengobrol sebentar untuk berbagi cerita dengan
bapak ?”
Y : “Baik mas”
1.4 Kontrak
1.4.1 Topik
X : “Baik bapak disini saya akan memfasilitasi bapak untuk
mengungkapkan perasaan bapak tentang permasalahan bapak.
Tujuannya agar bapak bisa berbagi cerita dan perasaan bapak
dengan kita, kita bertugas secara keseluruhan pak, bukan hanya
merawat bagian yang sakit saja, namun kami juga akan
mendengarkan semua perasaan bapak, dan kami akan menjaga
kerahasiaan semua cerita bapak, bagaiman apakah bapak bersedia?
Kita rileks saja ya pak”
Y : “Baik mas”
1.4.2 Waktu
X : “Kira-kira waktunya selama 20 menit dari pukul 09.00-09.20,
apakah cukup pak ?”
Y : “Iya mas, insyallah cukup dengan waktu segitu.”
1.4.3 Tempat/ Posisi
X : “Kira-kira bapak sudah nyaman dengan posisi berbaring seperti
ini? Atau mau duduk nanti saya bantu pak?”
Y : “Yaudah mas saya duduk aja”

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 23
X : “Baik pak saya bantu duduk”
2. TAHAP KERJA
2.1 Mengenal masalah gangguan citra tubuh: penyebab, tanda gejala,
proses terjadinya, dan dampak gangguan citra tubuh
X : “Tadi bapak menyampaikan malu dengan luka bapak yang tak
kunjung sembuh, pakah benar bapak ?”
Y : “iya mas.”
X : “Jadi penyebab bapak meyendiri adalah penyakit bapak ya ?”
Y : “Iya mas.”
X : “selain susah tidur yang dirasakan bapak, apakah ada yang lain
yang dekeluhkan atau yang dirasakan bapak ?”
Y : “Iya mas saya juga merasa menyusahkan keluarga saya mas. Saya
tidak bisa menafkahi keluarga dan meropotkan keluarga yang harus
mengantar saya ke RS.”
X : “Biasanya pikiran itu muncul pada saat apa pak ?”
Y : “kalau saya sedang sendiri merenung dirumah dan ketika saya
melihat anak dan istri saya mas”
2.2 Bantu identifikasi aspek positif/ kemampuan positif yang dimiliki
X : “apa harapan bapak kedepan?”
Y : “saya ingin berkumpul dengan keluarga saya mas dan beraktivitas
seperti biasa lagi”
X : “berarti benar ya bapak ingin sembuh?”
Y : “iyaa mas”
X : “bagaimana ibadahnya bapak, apakah terganggu?”
Y : “ tidak mas, saya masih bisa sholat mas dengan tiduran”
X : “iyaa bapak sudah baik. Mungkin bapak bisa meningkatkan dan
berdoa kepada Allah supaya diberikan kesembuhan dan bapak percaya
bisa sembuh”
X : “ Apa yang sudah bapak lakukan terhadap luka bapak?”
Y : “saya sudah melakukan perawatan rutin luka mas”

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 24
X : “itu sudah baik bapak, mungkin bisa dirutinkan lagi supaya
membantu untuk sembu”
X : “Kemudian kami juga memiliki rekan yang pernah mengalami hal
yang sama dengan bapak dan sekarang beliau sudah berhasil dalam
menghadapi masalah seperti keadaan bapak, dengan itu kami harapkan
bapak bisa berbagi cerita dengan beliau juga agar lebih terbuka karena
merasakan hal yang sama, bagaimana pak?”
Y : “Baik kalo begitu mas”
2.3 Latih kemampuan positif yang dimiliki (berdasarkan kesepakatan
pasien dan keluarga)
X : “berarti saat ini yang difikirkan bapak, bapak merasa menyusahkan
keluarga ?”
Y : “iyaa mas”
X : “coba bapak fikirkan apabila bapak sedih terus menerus apa yang
dirasakan keluarga bapak”
Y : “iyaa mas, keluarga saya juga ikut sedih ikut khawatir dengan
saya”
X : “iya bapak, itu bisa dijakan motivasi bapak untuk sembuh”
Y : “baik mas”
X : “apa saja yang dipikirkan bapak selain itu?”
X : “jika bapak mendapatkan pikiran-pikiran yang negatif, coba bapak
membuang atau menghilangkan pikiran-pikiran tersebut, dengan
mengingat motivasi bapak untuk berkumpul dengan keluarga dan
sembuh
2.4 Lakukan distraksi (pengalihan pikiran klien tentang rasa cemasnya)
X : “Selain itu bapak juga bisa keluar dengan melihat alam sekitar, dan
menikamati setiao udara yang berhembus, atau bisa menonton televisi
yang program yang bapak senang.”
Y : “(pasien mencoba melakukan dengan instruksi dari perawat)”
2.5 Berikan Pujian
X :”Iya bagus bapak.”

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 25
3. TAHAP TERMINASI
3.1 Evaluasi
3.1.1 Evaluasi Subjektif : perasaan klien/keluarga dari tindakan/
intervensi keperawatan yang telah dilakukan di tahap kerja,
X : “Baik bapak, bagaimana bapak perasaan bapak setelah ngobrol
tadi?”
Y : “Iya, alhamdulillah merasa sedikit lega mas.”
3.1.2 Evaluasi Objektif : kemampuan kognitif atau psikomotorik dari
ketrampilan yang telah dilatih perawat di tahap kerja
X : “Kalau begitu coba sebutkan kegiatan apa saja yang sudah kita
latih bersama untuk mengatasi pikiran bapak ?”
Y : “dengan memotivasi diri untuk sembuh, berkumpul dengan
keluarga dan beraktivatas seperti dulu serta membuang pikiran
negatif mas ”
X : “Iya baik sekali bapak”
3.2 Rencana Tindak Lanjut
Masukan latihan ketrampilan yang telah dilatih di jadwal harian klien
(dosis latihan per hari sehingga klien dan keluarga dapat membiasakan /
membudaya)
X : “baik sekali bapak, suduh cukup baik dalam melakukannya. Lalu mau
berapa kali bapak mengatasi pikiran pikiran negatif bapak?”

Y : “saya akan melakukan ketika pikiran pikiran negatif itu datang.”

X : “bagaimana kalau sehabis sholat pak? Sambil berdoa kepada Allah


untuk meminta kesembuhan”

Y : “iyaa mas, saya akan melakukannya”

X : “Mungkin besok saya akan mendatangkan teman saya yang memiliki


masalah seperti bapak yang berhasil sembuh. Agar bapak bisa lebih
terbuka untuk bercerita, berbagi pengalaman supaya lebih termotivasi”

Y : “baik mas saya menerima dengan senang hati.”


Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 26
X : “Iya baik bapak, jangan lupa juga ya bapak, buang pikiran-pikiran
negatif yang muncul.”

Y : “Iya baik mas.”

3.3 Kontrak pertemuan selanjutnya


3.3.1 Tempat
X : “Baiklah bapak, besok saya akan bertemu lagi dengan bapak,
karena saya masih di shift pagi nanti saya akan ke tempat ini lagi
atau di tempat yang diinginkan bapak.”
3.3.2 Waktu
X : “Besok kita akan melakukannya sekitar 30 menit lagi pak”
3.3.3 Topik
X : “saya akan mengajak bapak untuk berbincang-bincang lagi dan
untuk melihat perkembangan bapak”
3.4 Salam
X : “Semoga lekas sembuh inggih, pak.”

Y : “Iya baik mas, terimaksih.”

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 27
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan 37 Telp./Fax. (0331) 323 450 Jember

EVALUASI PENAMPILAN KLINIK PERAWAT

NAMA:__________________________________________________________
NIM:____________________________________________________________
TINDAKAN:_____________________________________________________

NILAI
N KETERA
KEGIATAN Dilakukan Tidak
O NGAN
(1) Dilakukan (0)
I. ORIENTASI
1 Salam
2 Evaluasi
3 Validasi
KONTRAK/
KESEPAKATAN/INFORM CONSENT
4 Topic/ kegiatan/ tindakan
5 Lama/ tempat kegiatan/ tindakan
II INTI PERCAKAPAN: KEGIATAN/
TINDAKAN
A CARING
6 Peduli/ sensitive
7 Kompeten
8 Percaya diri
B PELAYANAN PRIMA
9 Memberi yang terbaik

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 28
10 Memberi lebih dari yang diharapkan
C KOMUNIKASI
11 Teknik komunikasi yang efisien
12 Tindakan sesuai SOP/ SPO
13 Memberi penjelasan
14 Memberikan kesempatan bertanya
15 Sikap professional
III TERMINASI/ PENUTUP
16 Evaluasi perasaan
17 Evaluasi pengetahuan/ ketrampilan
18 Rencana Kerja (PR) pasien/ lawan bicara
19 Perjanjian yang akan datang
20 Salam
TOTAL NILAI
Jember, Mei 2018
NILAI : TOTAL NILAI X 100: PENILAI
20
(………………………………….....……)

Laporan Pendahulan: Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Citra Tubuh
| 29