Anda di halaman 1dari 36

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CIDERA KEPALA


DI RUANG 12 HCU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH/DAERAH DR
SAIFUL ANWAR MALANG

OLEH:
Elik Anistina, S. Kep
NIM 182311101070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan kasus


Cedera Otak di Ruang 12 HCU RSUD Dr Saiful Anwar Malang telah disetujui
dan disahkan pada :

Hari, Tanggal :

Tempat :

Malang, …. Oktober 2018

Mahasiswa

Elik Anistina,S.Kep.
NIM 182311101070

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik


Fakultas Keperawatan Ruang 12 HCU
Universitas Jember RSUD Dr Saiful Anwar Malang

……. …….
NIP. …………………….. NIP. ……………………

2
A. Anatomi dan Fisiologi
Tengkorak menurut Pearce (2008) merupakan struktur tulang yang
menutupi dan melindungi otak, terdiri dari tulang kranium dan tulang muka.
Tulang kranium terdiri dari 3 lapisan: lapisan luar, etmoid dan lapisan dalam.
Lapisan luar dan dalam merupakan struktur yang kuat sedangkan etmoid
merupakan struktur yang menyerupai busa. Lapisan dalam membentuk
rongga/fossa; fossa anterior di dalamnya terdapat lobus frontalis, fossa tengah
berisi lobus temporalis, parientalis, oksipitalis, fossa posterior berisi otak
tengah dan sereblum. Lapisan yang menyusun tulang kranium antara lain:
a. Meningen
Pearce (2008) mengatakan bahwa otak dan sumsum tulang belakang
diselimuti meningen yang melindungi struktur saraf yang halus, membawa
pembuluh darah dan sekresi sejenis cairan, yaitu: cairan serebrospinal yang
memperkecil benturan atau goncangan. Selaput meningen menutupi terdiri dari
3 lapisan yaitu:
1. Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan
endosteal dan lapisan meningeal. Duramater merupakan selaput yang keras,
terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari
kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka
terdapat suatu ruang potensial ruang subdural yang terletak antara dura mater
dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak,
pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus
sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat
mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis
superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus.
Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat.
Hematoma subdural yang besar, yang menyebabkan gejala-gejala neurologis
biasanya dikeluarkan melalui pembedahan. Petunjuk dilakukannya pengaliran
perdarahan ini adalah:
- sakit kepala yang menetap
- rasa mengantuk yang hilang-timbul
- linglung

3
- perubahan ingatan
- kelumpuhan ringan pada sisi tubuh yang berlawanan.
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam
dari kranium ruang epidural. Adanya fraktur dari tulang kepala dapat
menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan
epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media
yang terletak pada fosa media fosa temporalis.
2. Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang.
Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan duramater
sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari duramater oleh
ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari piamater oleh spatium
subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan subarakhnoid
umumnya disebabkan akibat cedera kepala.
3. Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adalah
membran vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan
masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membran ini membungkus saraf
otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam
substansi otak juga diliputi oleh pia mater.
b. Otak
Otak adalah organ vital yang terdiri dari 100-200 milyar sel aktif yang
saling berhubungan dan bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual.
Otak melaksanakan semua fungsi yang disadari dan bertanggung jawab terhadap
pengalaman-pengalaman berbagai macam sensasi atau rangsangan terhadap
kemampua manusia untuk melakukan gerakan-gerakan yang disadari dan
kemampuan untuk melaksanakan berbagai macam proses mental seperti ingatan
atau memori, perasaan emosional, intelegensia, berkomunikasi, sifat atau
kepribadian.
Secara anatomis otrak terdiri dari cerebrum (otak besar), cerebellum (otak
kecil), brainstem (batang otak) dan limbic system (sistem limbik). Otak
merupakan bagian utama dari sistem saraf dengan komponen bagian-bagiannya
adalah:

4
1. Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang terbesar terdiri dari sepasang
hemisfer kanan dan kiri dan tersusun dari korteks (permukaan otak), ganglia
basalis, dan sistem limbic. Kedua hemisfer kiri dan kanan dihubungkan oleh
serabut padat yang disebut dengan corpus calosum. Otak besar memiliki fungsi
untuk mengatur semua aktivitas mental yang berkaitan dengan kepandaian
(intelegensia), ingatan (memori), kesadaran dan pertimbangan.

Gambar 1. Otak Bagian Cerebrum

Gambar 2. Bagian-bagian Cerebrum

Cerebrum dibagi menjadi beberapa lobus yaitu:


a. Lobus Frontalis
Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual, seperti kemampuan
berpiki abstrak dan nalar, bicara (area broca di hemisfer kiri), pusat penghidu,
dan emosi. Lobus frontalis mengandung pusat pengontrolan gerakan
volunteer di gyrus presentralis (area motoric primer) dan terdapat area

5
asosiasi motorik (area premotor). Pada lobus ini terdapat daerah broca yang
mengatur ekspresi bicara, lobis ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku
sosial, berbicara, motivasi dan inisiatif.

Gambar 3. Lobus Frontalis

b. Lobus Temporalis
Lobus temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang berjalan kebawah
dari fisura lateralis dan sebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis
(White, 2008). Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat verbal, visual,
pendengaran dan berperan dalam pembentukan dan perkembangan emosi.

Gambar 4. Lobus Temporalis

c. Lobus Parietalis
Lobus parietalis merupakan pusat kesadaran sensorik di gyrus postsentralis
(area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran (White, 2008).

6
Gambar 5. Lobus Parietal

d. Lobus Okspitalis
Lobus ini berfungsi untuk pusat penglihatan dan area asosiasi penglihatan
yaitu untuk menginterpretasi dan memproses rangsang penglihatan dari
nervus optikus dan mengasosiasikan rangsangan dengan informasi saraf lain
dan memori (White, 2008).

Gambar 6. Lobus Oksipitalis


e. Lobus Limbik
Lobus limbic berfungsi untuk mengatur emosi, memori emosi, dan bersama
hypothalamus menimbulkan perubahan melalui pengendalian atas susunan
endokrin dan susunan otonom.

7
2. Cerebelum
Cerebelum atau otak kecil berfungsi untuk koordinasi terhadap otot dan
tonus otot, keseimbangan dan posisi tubuh, serta untu berfungsi mengkoordinasi
gerakan yang halus dan luwes. Cerebelum berada pada bagian bawah dan
belakang tengkorak yang melekat pada otak tengah. Pada otak kecil terdapat tiga
pengelompokkan bagian-bagian otak kecil yaitu:
a. Berdasarkan lobus pada otak kecil dibagi menjadi tiga yaitu lobus anterior
(depan), lobus posterior (belakang) dan lobus frocculonadular.

Gambar 8. Lobus Otak Kecil

b. Berdasarkan zonanya cerebellum dibagi menjadi tiga bagian yaitu vermis


yang memisahkan otak kecil menjadi dua hemisfer kiri dan kanan, zona
intermediate, dan lateral hemisfer

Gambar 9. Zona Otak Kecil

c. Berdasarkan fungsinya, terdiri dari cerebrocerebellum yang merupakan


bagian terbesar dari otak keci dengan fungsi utama untuk mengatur
pergerakan mortik dan evaluasi terhadap informasi sensoris agar dapat
melakukan gerakan yang tepat; Spinocerebellum berfungsi untuk mengatur
pergerakan tubuh melalui sistem propriosepsi yaitu sensasi yang didapatkan
tubuh melalu stimulasi dan aktivitas otot; Vestibulocerebelum berfungsi
untuk mengatur keseimbangan tubuh daris sistem vestibular dari

8
semicircular kanal di telinga dan gerakan bola mata yang menerima
informasi dari kortek visual.

3. Brainstem
Brainstem adalah batang otak yang berfungsi untuk mengatur seluruh proses
kehidupan. Batang otak terdiri dari diensefalon (otak depan) yang terdiri atas dua
bagian yaitu thalamus yang berfungsi menerima semua rangsang dari reseptor
kecuali bau dan hypothalamus yang berfungsi dalam pengaturan suhu, pengaturan
nutrient, penjagaan agar tetap bangun dan penumbuhan sikap agresif;
mesencephalon (otak tengah) terletak dibagian depan otak kecil dan jembatan
varol berfungsi untuk reflex mata, tonus otot serta fungsi posisi atau kedudukan
tubuh; pons varoli (jembatan varol) yang merupakan serabut saraf pengubung otak
kecil bagian kirir dan kanan, selain itu menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang; medulla oblongata yaitu bagian dari batang otak yang paling
bawah dan menghubungkan antara pons varoli dengan medulla spinalis.

Gambar 10. Brainsteam

c. Syaraf-syaraf Otak
Smeltzer (2001) mengatakan bahwa nervus kranialis dapat terganggu bila
trauma kepala meluas sampai batang otak karena edema otak atau pendarahan
otak. Kerusakan nervus yaitu:
a) Nervus Olfaktorius (Nervus Kranialis I)
Saraf pembau yang keluar dari otak dibawa oleh dahi, membawa rangsangan
aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.
b) Nervus Optikus (Nervus Kranialis II)

9
Mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
c) Nervus Okulomotorius (Nervus Kranialis III)
Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot pengerak bola mata)
menghantarkan serabut-serabut saraf para simpati untuk melayani otot siliaris
dan otot iris.
d) Nervus Trokhlearis (Nervus Kranialis IV)
Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital. Saraf pemutar mata yang
pusatnya terletak dibelakang pusat saraf penggerak mata.
e) Nervus Trigeminus (Nervus Kranialis V)
Sifatnya majemuk (sensoris motoris) saraf ini mempunyai tiga buah cabang
yang merupakan saraf otak besar, sarafnya yaitu:
1) Nervus oftalmikus: sifatnya sensorik, mensarafi kulit kepala bagian depan
kelopak mata atas, selaput sopha kelopak mata dan bola mata.
2) Nervus maksilaris: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas,
palatum, batang hidung, ronga hidung dan sinus maksilaris.
3) Nervus mandibula: sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi
otot-otot pengunyah. Serabut-serabut sensorisnya mensarafi gigi bawah,
kulit daerah temporal dan dagu.
f) Nervus Abducens (Nervus Kranialis VI)
Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai saraf
penggoyang sisi mata.
g) Nervus Fasialis (Nervus Kranialis VII)
Sifatnya majemuk (sensori dan motori) serabut-serabut motorisnya mensarafi
otot-otot lidah dan selaput sopha ronga mulut. Di dalam saraf ini terdapat
serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala
fungsinya sebagai soph wajah untuk menghantarkan rasa pengecap.
h) Nervus Akustikus (Nervus Kranialis VIII)
Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari
pendengaran dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf pendengar.
i) Nervus Glosofaringeus (Nervus Kranialis IX)
Sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi faring, tonsil dan lidah,
saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.

10
j) Nervus Vagus (Nervus Kranialis X)
Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris) mengandung saraf-saraf motorik,
sensorik dan parasimpatis faring, laring, paru-paru, sophagus, gaster
intestinum minor, kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen. Fungsinya
sebagai saraf perasa.
k) Nervus Aksesorius (Nervus Kranialis XI)
Saraf ini mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan muskulus trapezium,
fungsinya sebagai saraf tambahan.
l) Nervus Hipoglosus (Nervus Kranialis XII)
Saraf ini mensarafi otot-otot lidah, fungsinya sebagai saraf lidah. Saraf ini
terdapat di dalam sumsum penyambung.

Gambar 11. saraf Kranial

11
A. Definisi

Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik
secaralangsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat kepada
gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, bersifattemporer
atau permanent (PERDOSSI, 2007). Cedera kepala yang merupakan cedera yang
meliputi trauma kulit kepala, tengkorak dan otak. (Morton, 2012)
Menurut Brain Injury Assosiation of America, cedera kepala adalah
suatukerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi
disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif
dan fungsi fisik (Snell, 2006).
Cedera otak adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yangdisertai
atau tanpa perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikutiterputusnya
kontinuitas otak (Hudak & Gallo, 2010).
Menurut Morton (2012), trauma kepala diklasifikasikan menjadi derajat
berdasarkan nilai dari Glasgow Coma Scale ( GCS ) yang terdiri dari:
1. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14 – 15
a) Pasien sadar, menuruti perintah tapi disorientasi.
b) Tidak ada kehilangan kesadaran, dapat terjadi kehilangan kesadaran tapi
< 30 menit
c) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang
d) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
e) Pasien dapat menderita laserasi, hematoma kulit kepala
2. Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9 – 13
a) Pasien bisa atau tidak bisa menuruti perintah, namun tidak memberi
respon yang sesuai dengan pernyataan yang di berikan
b) Dapat kehilangan kesadaran (amnesia) > 30 menit tapi < dari 24 jam
c) Amnesia pasca trauma
d) Muntah
e) Tanda kemungkinan fraktur cranium (tanda Battle, mata rabun,
hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan serebro spinal)

12
f) Kejang
3. Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang dari 8.
a) Penurunan kesadaran sacara progresif
b) Tanda neorologis fokal
c) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium
d) Kehilangan kesadaran lebih dari 24 jam
e) Disertai kontusio cerebral, laserasi, hematoma intrakrania
f) Perdarahan intrakranial dapat terjadi karena adanya pecahnya pembuluh
darah pada jaringan otak. Lokasi yang paling sering adalah lobus
frontalis dan temporalis. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan
(coup) atau pada sisi lainnya (countrecoup).

Glasgow Coma Scale Nilai


Respon membuka mata (E)
Buka mata spontan 4
Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara 3
Buka mata bila dirangsang nyeri 2
Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1
Respon verbal (V)
Komunikasi verbal baik, jawaban tepat 5
Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang 4
Kata-kata tidak teratur 3
Suara tidak jelas 2
Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1
Respon motorik (M)
Mengikuti perintah 6
Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan 5
Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan 4
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal 3
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal 2
Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi 1

13
B. Epidemiologi
Kejadian cidera kepala di Amerika Serikat setiap tahunnya diperkirakan
mencapai 500.000 kasus, yang terdiri dari cidera kepala ringan sebanyak 296.678
orang (59,3%) , cidera kepala sedang sebanyak 100.890 orang (20,17%) dan
cidera kepala berat sebanyak 102.432 orang (20,4%). Dari sejumlah kasus tersebut
10% penderitanya meninggal sebelum tiba diRumah Sakit. Cedera ini mayoritas
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.
Data epidemiologi cedera kepala di Indonesia belum tersedia secara nasional.
Data secara khusus didapatkan di RS Cipto Mangunkusumo pada tahun 2004
didapatkan 367 kasus cedera otak ringan, , 105 kasus cedera otak sedang dan 25
kasus cedera otak berat. Sedangkan pada tahun 2005 didapatkan 422 kasus cedera
otak ringan, 130 kasus cedera otak sedang dan 20 kasus cedera otak berat (Akbar,
2008)

C. Etiologi
Penyebab cidera kepala adalah karena adanya trauma ruda paksa yang dibedakan
menjadi 2 faktor yaitu:
1. Trauma Primer
Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselarasi dan
deselerasi).
2. Trauma Sekunder
Terjadi akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi
intrakranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi siskemik.
.Pemahaman mengenai cedera kepala disertai pemeriksaan diagnostic dan
pemeriksaan fisik, membantu dalam mendiagnosis cederakepala secara
tepat.Mekanisme khas cedera meliputi cedera akselerasi,deselerasi, akselerasi-
deselarasi, coup-contre coup, cedera rotasional, dancedera penetrasi.
1. Cedera akselerasi terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yangtidak
bergerak
2. Cedera deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak membentur objekdiam,
seperti pada aksus jatuh atau tabrakan mobil ketika kepalamembentur kaca
depan mobil. Cedera akselerasi-deselarasi sering kaliterjadi dalamkasus
kecelakaan kendaraan bermotor dan episodekekerasan fisik.

14
3. Cedera coup-contre coup terjadi jika kepala terbentur, yangmenyebabkan otak
bergerak dalam ruang cranial dan dengan kuatmengenai area tulang tengkorak
yang berlawanan serta area kepalayang pertama kali terbentur. Cedera tersebut
disebut juga cederatranslasional karena benturan dapat berpindah ke area otak
yangberlawanan.
4. Cedera rotasional terjadi jika pukulan/ benturan menyebabkan otakberputar
dalam rongga tengkorak, yang menyebabkan peregangan ataurobeknya neuron
dalam substansia alba serta robeknya pembuluhdarah yang memfiksasi otak
dengan bagian dalam rongga tengkorak.
5. Cedera Penetrasi
Cedera penetrasi dapat disebabkan olehpeluru, pecahan peluru,ataubenda
tajamlain yang bergerak dengan kecepatanyang cukup besaryang mengenai
kepala dan dapat merusak integritas tengkorak.
D. Tanda Dan Gejala
Tanda gejala yang muncul pada cidera kepala diantaranya gangguan kesadaran,
konfusi, abnormalitas pupil, perubahan tanda vital, kejang otot, sakit kepala,
kejang (Smeltzer dan Bare, 2002). Manifestasi klinis lain yang biasa timbul pada
kasus cedera kepala di antaranya :
a. Hilangnya kesadaran.
b. Perdarahan dibelakang membran timpani
c. Ekimosis pada periorbital
d. Mual dan muntah.
e. Pusing kepala.
f. Terdapat hematom.
g. Bila fraktur mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorhea) bila fraktur tulang temporal.
Cedera kepala dapat diklasifikasikan dalam berbagai aspek yang secaradeskripsi
dapat dikelompokkan berdasar mekanisme, morfologi, dan beratnya cedera
kepala.
1. Berdasarkan mekanisme
Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dikelompokkan menjadi dua yaitu
a. Cedera kepala tumpul

15
Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalulintas,
jatuh/pukulan benda tumpul. Pada cedera tumpul terjadiakselerasi dan
decelerasi yang menyebabkan otak bergerak didalamrongga kranial dan
melakukan kontak pada protuberas tulangtengkorak
b. Cedera tembus
Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak atau tusukan.
2. Berdasarkan morfologi
Cedera kepala terjadi diarea tulang tengkorak yang meliputi,
a. Laserasi kulit kepala
Laserasi kulit kepala sering didapatkan pada pasien cedera kepala.Kulit
kepala/scalp terdiri dari skin, connective tissue dan perikranii.Diantara
galea aponeurosis dan periosteum terdapat jaringan ikatlonggar yang
memungkinkan kulit bergerak terhadap tulang. Padafraktur tulang kepala,
sering terjadi robekan pada lapisan ini.Lapisan ini banyak mengandung
pembuluh darah dan jaringan ikatlonggar, maka perlukaan yang terjadi
dapat mengakibatkanperdarahan yang cukup banyak.
b. Fraktur tulang kepala
Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur dibagi menjadi :
1. Fraktur linier
Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal
ataustellata pada tulang tengkorak yang mengenai seluruh ketebalan
tulangkepala. Fraktur lenier dapat terjadi jika gaya langsung yang
bekerjapada tulang kepala cukup besar tetapi tidak menyebabkan
tulangkepala bending dan tidak terdapat fragmen fraktur yang
masukkedalam rongga intrakranial.
2. Fraktur diastasis
Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi pada sutura tulamg
tengkorak yang mengababkan pelebaran sutura-sutura tulang kepala.
Jenis fraktur ini sering terjadi pada bayi dan balita karena sutura
suturabelum menyatu dengan erat. Fraktur diastasis pada usia dewasa
seringterjadi pada sutura lambdoid dan dapat mengakibatkan
terjadinyahematum epidural.

16
3. Fraktur kominutif
Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang kepala yang meiliki lebih
dari satu fragmen dalam satu area fraktur.
4. Fraktur impresi
Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan
tenagabesar yang langsung mengenai tulang kepala dan pada area
yang kecil. Fraktur impresi pada tulang kepala dapat
menyebabkanpenekanan atau laserasi pada duremater dan jaringan
otak, frakturfisik, dan impresi dianggap bermakna terjadi jika tabula
eksterna segmen yangimpresi masuk dibawah tabula interna segmen
tulang yang sehat.Fraktur impresi adalah fraktur pada tulang
tengkorak di mana terdapat
fragmen yang tertekan di bawah permukaan normal dan mengarah
keotak.
Penyebab dari fraktur impressi ini adalah trauma yang
biasadisebabkan akibat terjatuh, kecelakaan kendaraan
bermotor,perkelahian olahraga. Tipe fraktur ini sering menyebabkan
penekanan pada otak atau trauma langsung pada otak, ditambah
lagi,patahan tulang dapat merusak duramater, selaput yang
melindungiotak, sehingga dapat menyebabkan kebocoran cairan
serebrospinal.Gejala-gejala yang muncul akibat fraktur impresi
dipengaruhi padabagian otak mana yang terkena imbas langsung dari
penekanan frakturtersebut, diantaranya dapat terjadi mual-muntah,
gangguan pandangan,pembengkakan, bicara pelo, kehilangan
kesadaran, pusing, sakitkepala, perubahan pupil, serta keluarnya
cairan jernih maupunberdarah dari hidung maupun telinga. Untuk
menegakkan diagnose sebuah fraktur impresi dibutuhkan anamnesis
yang penting berupaadanya riwayat trauma yang menyebabkan kepala
terbentur,pemeriksaan fisik yang khas yakni terdapatnya salah satu
fragmentengkoran yang patah dan menekan ke arah otak. Selain itu
goldstandar untuk menegakkan sebuah fraktur impresi adalah dengan
CTscan kepala.

17
5. Fraktur basis krani
Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada
dasartulang tengkorak, fraktur ini seringkali diertai dengan robekan
padadurameter yang merekat erat pada dasar tengkorak. Pada
pemeriksaanklinis dapat ditemukan rhinorrhea dan raccon eyes sign
(fraktur basiskranii fossa anterior), atau ottorhea dan batle’s sign
(fraktur basiskranii fossa media)
c. Cidera kepala di area intrakranial
Menurut yang diklasifikasikan menjadi cedera otak fokal dan cedera
otakdifus.
1. Cidera otak fokal meliputi
a. Perdarahan epidural atau epidural hematoma (EDH)
Epidural hematom (EDH) adalah adanya darah di ruang
epiduralyaitu ruang potensial antara tabula interna tulang tengkorak
dandurameter. Epidural hematom dapat menimbulkan penurunan
kesadaran adanya interval lusid selama beberapa jam dan kemudian
terjadi defisit neorologis berupa hemiparesis kontralateral dan
gelatasi pupil itsilateral. Gejala lain yang ditimbulkan antara lain
sakit kepala, muntah, kejang dan hemiparesis.

Indikasi pembedahan :
1. Pasien epidural hematoma dengan volume >30 cc, tanpa
melihat GCS

18
2. Perdarahan epidural dengan volume <30 cc dan ketebalan<15
mm dan pergeseran struktur midline <5mm dengan GCS>8
tanpa defisit fokal dapat dilakukan penatalaksanaannonoperatif
dengan CT scan kepala serial dan observasineurologis secara
ketat di pusat perawatan neurologis.
b. Perdarahan subdural akut atau subdural hematom (SDH)
Perdarahan subdural akut adalah terkumpulnya darah di ruang
subdural yang terjadi akut (6-3 hari). Perdarahan ini terjadi akibat
robeknya vena-vena kecil dipermukaan korteks cerebri. Perdarahan
subdural biasanya menutupi seluruh hemisfir otak. Biasanya
kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih
buruk dibanding pada perdarahan epidural

Indikasi Pembedahan
1. Pasien subdural hematoma, tanpa melihat GCS dengan
ketebalan >10mm atau pergeseran struktur midline > 5mm
pada CT scan
2. Semua pasien subdural hematoma dengan GCS < 9 harus
dilakukan monitoring tekanan intrakranial.
3. Pasien subdural hematoma dengan GCS < 9

19
- Ketebalan subdural hematoma < 10mm dan pergeseran
struktur midline
- Mengalami penurunan GCS lebih dari 2 poin atau lebih
antara saat kejadian dengan saat masuk ke rumah sakit
dan/atau jika didapatkan pupil yang dilatasi asimetris atau
fixed dan/atau TIK > 20mmHg.
c. Perdarahan subdural kronik atau SDH kronik.
Subdural hematom kronik adalah terkumpulnya darah diruang
subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma.
d. Perdarahan intra cerebral (ICH)
Intra cerebral hematom adalah area perdarahan yang homogen dan
konfluen yang terdapat didalam parenkim otak. Intra cerebral
hematom bukan disebabkan oleh benturan antara parenkim otak
dengan tulang tengkorak, tetapi disebabkan oleh gaya akselerasi
dan deselerasi akibat trauma yang menyebabkan pecahnya
pembuluh darah yang terletak lebih dalam, yaitu di parenkim otak
atau pembuluh darah kortikal dan subkortikal.

Indikasi pembedahan :
1. Pasien dengan lesi masa parenkimal
 Tanda-tanda deteorisasi neurologis yang progresif dan
sesuai dengan lesi

20
 Hipertensi intrakranial yang refrakter dengan pengobatan
 Atau ada anda-tanda efek masa pada CT kepala.
2. Pasien dengan GCS 6-8
 dengan kontusio frontal atau temporal volume >20
ml,dengan pergeseran struktur
 midline ≥ 5mm
 dan atau kompresi sisterna pada CT
 lesi ≥ 50ml..
3. Pasien dengan intra cerebral hematoma yang tidak
menunjukkan tanda-tanda neurologis yang menjelek, dan telah
dilakukan kontrol terhadap TIK, dan tidak menunjukkan efek
massa yang bermakna pada CT, dapat dilakukan
penatalaksanaan non operatif dengan monitor yang intensif dan
foto serial
e. Perdarahan sub arachnoid traumatik (SAH)
Perdarahan sub arachnoid diakibatkan oleh pecahnya pembuluh
darah kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah tertentu
akibat trauma dapat memasuki ruang subarahnoid dan disebut
sebagai perdarahan sub arachnoid (PSA).

2. Cidera Otak Difus

21
Cedera kepala difus adalah terminologi yang menunjukkan kondisi
parenkim otak setelah terjadinya trauma. Terjadinya cedera kepala
difus disebabkan karena gaya akselerasi dan deselarasi gaya rotasi dan
translasi yang menyebabkan bergesernya parenkim otak dari
permukaan terhadap parenkim yang sebelah dalam. Cidera kepala
difus dikelompokkan menjadi :
a. Cidera akson difus (difus akson injury) DAI
Difus axonal injury adalah keadaan dimana serabut subkortikal
yang menghubungkan inti permukaan otak dengan inti profunda
otak (serabut proyeksi), maupun serabut yang menghubungkan inti-
inti dalam satu hemisfer (asosiasi) dan serabut yang
menghubungkan inti-inti permukaan kedua hemisfer (komisura)
mengalami kerusakan. Kerusakan sejenis ini lebih disebabkan
karena gaya rotasi antara initi profunda dengan inti permukaan.
b. Kontusio cerebri
Kontusio cerebri adalah kerusakan parenkimal otak yang
disebabkan karena efek gaya akselerasi dan deselerasi. Mekanisme
lain yang menjadi penyebab kontosio cerebri adalah adanya gaya
coup dan countercoup, dimana hal tersebut menunjukkan besarnya
gaya yang sanggup merusak struktur parenkim otak yang
terlindung begitu kuat oleh tulang dan cairan otak yang begitu
kompak
c. Edema cerebri
Edema cerebri terjadi karena gangguan vaskuler akibat trauma
kepala. Pada edema cerebri tidak tampak adanya kerusakan
parenkim otak namun terlihat pendorongan hebat pada daerah yang
mengalami edema. Edema otak bilateral lebih disebabkan karena
episode hipoksia yang umumnya dikarenakan adanya renjatan
hipovolemik.
d. Iskemia cerebri
Iskemia cerebri terjadi karena suplai aliran darah ke bagian otak
berkurang atau terhenti. Kejadian iskemia cerebri berlangsung lama

22
(kronik progresif) dan disebabkan karena penyakit degeneratif
pembuluh darah otak.
E. Patofisiologi dan clinical Pathway
Sebagian besar cedera otak tidak disebabkan oleh cedera langsung terhadap
jaringan otak, tetapi terjadi sebagai akibat kekuatan luar yang membentur sisi luar
tengkorak kepala atau dari gerakan otak itu sendiridalam rongga tengkorak. Pada
cedera deselerasi, kepala biasanya membentur suatu objek seperti kaca depan
mobil, sehingga terjadi deselerasi tengkorak yang berlangsung tiba-tiba. Otak
tetap bergerak kearah depan, membentur bagian dalam tengorak tepat di bawah
titik bentur kemudian berbalik arah membentur sisi yang berlawanan dengan titik
bentur awal. Oleh sebab itu, cedera dapat terjadi pada daerah benturan(coup) atau
pada sisi sebaliknya (contra coup).Sisi dalam tengkorak merupakan permukaan
yang tidak rata. Gesekan jaringan otak tehadap daerah ini dapat menyebabkan
berbagai kerusakan terhadap jaringan otak dan pembuluh darah. Respon awal otak
yang mengalami cedra adalah ”swelling”. Memar pada otak menyebabkan
vasoliditasi dengan peningkatan aliran darah ke daerah tersebut, menyebabkan
penumpukan darah dan menimbulkan penekanan terhadap jaringan otak
sekitarnya. Karena tidak terdapat ruang lebih dalam tengkorak kepala maka
‘swelling’ dan daerah otak yang cedera akan meningkatkan tekanan intraserebral
dan menurunkan aliran darah ke otak.
Peningkatan kandungan cairan otak (edema) tidak segera terjadi tetapi mulai
berkembang setelah 24 jam hingga 48 jam. Usaha dini untuk mempertahankan
perfusi otak merupakan tindakan penyelamatan hidup. Kadar CO2 dalam darah
mempengaruhi aliran darah serebral. Level Nnormal CO2 adalah 35-40 mmHg.
Peningkatan kadar CO2 (Hipoventilasi) menyebabkan vasodilatasi dan bengkak
otak, sedangkan penurunan kadar CO2 (Hiperventilasi) menyebabkan
vasokontruksi dan serebral iskemia. Pada saat lampau, diperkirakan bahwa dengan
menurunkan kadar CO2(hiperventilasi) pada penderita cedera kepala akan
mengurangi bengkakotak dan memperbaiki aliran darah otak. Akhir-akhir ini
dibuktikan bahwa hiperventilasi hanya memberikan peranan kecil terhadap
bengkak otak, tetapi berpengaruh besar dalam menurunkan aliran darah otak
karena vasokonstriksi. Hal ini menyebabkan hipoksia serebral. Otak yang

23
mengalami cedera tidak mampu mentoleransi hipoksia.Hipoventilasi atau hipoksia
meningkatkan angka kematian dengan mempertahankan ventilasi yang baik pada
frekuensi nafas berkisar 15 kalipermenit dan aliran oksigen yang memadai
merupakan hal yang sangat penting. Hiperventilasi profilaksis pada cedera kepala
sudah tidak direkomendasikan.
Tekanan intracranial
Dalam rongga tengkorak dan selaput yang membungkus otak terdapat
jaringan otak, liquor serebrospinal. Dan darah peningkatan volume salah satu
komponen akan diikuti dengan pengurangan atau penekanan terhadap masing-
masing volume komponen yang lain karena tengkorak kepalaorang dewasa (suatu
kotak yang kaku) tidak dapat mengembang(membesar). Walaupun CSF
memberikan toleransi, namun ruang yang diberikan tidak mampu mentoleransi
bengkak otak yang terjadi dengan cepat. Aliran darah tidak boleh terganggu
karena otak membutuhkan suplai darah yang konstan (oksigen dan glukosa) untuk
bertahan hidup. Tidak satu pun dari komponen yang mendukung otak dapat
mentoloransi hal ini,oleh sebab itu, bengkak otak yang terjadi akan cepat
menyebabkan kematian. Tekanan yang ditimbulkan oleh isi tengkorak disebut
tekanan intracranial (ICP). Tekanan ini biasanya sangat rendah. Tekanan
intrakranial dinilai berbahaya jika meningkat hingga 15 mmHg, dan herniasi dapat
terjadi pada tekanan di atas 25 mmHg. Tekanan darah yang mengalir dalam otak
disebut sebagai tekanan perfusi serebral (CPP). Nilai CPP diperoleh dengan
mengurangkan MABP terhadap ICP. Tekanan perfusi harus dipertahankan 70
mmHg atau lebih. Jika otak membengkak atau terjadi pendarahan dalam
tengkorak, tekanan intrakranial akan meningkat dan tekanan perfusi akan
menurun.
Tubuh memiliki refleks perlindungan (respons/refleks cushing) yang berusaha
mempertahankan tekanan perfusi dalam keadaan konstan. Saat tekanan
intraserebral meningkat, tekanan darah sistematik meningkat untuk mencoba
mempertahankan aliran darah otak. Saat keadaan semakin kritis, denyut nadi
menurun (bradikardia) dan bahkan frekuensi respirasi berkurang. Tekanan dalam
tengkorak terus meningkat hingga titik kritis tertentu dimana cedera kepala
memburuk dan semua tanda vital terganggu, dan berakhir dengan kematian

24
penderita. Jika terdapat peningkatan intrakranial, hipotensi akan memperburuk
keadaan. Harus dipertahankan tekanan perfusi paling sedikit 70 mmHg, yang
membutuhkan tekanan sistolik 100-110 mmHg pada penderita cedera kepala.
Sindroma herniasi
Saat otak membengkak, khususnya setelah benturan pada kepala, peningkatan
tekanan intrakranial yang tiba-tiba dapat terjadi. Hal ini dapat mendorong bagian
otak ke arah bawah, menyumbat aliran CSF dan menimbulkan tekanan besar
terhadap batang otak. Hal ini merupakan keadaan yang mengancam hidup di
tandai dengan penurunan tingkat kesadaran yang secara progresif menjadi koma,
dilatasi pupil dan deviasimata ke arah bawah dan lateral pada mata sisi kepala
yang mengalami cedera, kelemahan pada tungkai dan lengan sisi tubuh
berlawanan terhadap sisi yang mengalami cedera, dan postur deserebrasi
(dijelaskanberikut ini) penderita selanjutnya akan kehilangan semua gerakan,
berhenti nafas dan meninggal. Sindroma ini sering terjadi setelah perdarahan
subdural akut. Sindroma herniasi merupakan satu-satunya keadaan dimana
hiperventilasi masih merupakan indikasi.
Cedera otak anoksia
Cedera pada otak akibat kurangnya oksigen ( misal henti jantung, obstruksi
jalan nafas) mempengarui otak secara serius. Jika otak tidak mendapatkan oksigen
selama 4 hingga 6 menit, kerusakan irreversible hampir selalu terjadi. Setelah
episode anoksia, perfusi korteks akan terganggu akibat spasme yang terjadi pada
arteri kecil pada serebral.Setelah anoksia 4 hingga 6 menit, perbaikan oksigenasi
dan tekanan darah tidak akan memperbaiki perfusi korteks (tidak ada fenomena
reflow) dan cedera anoksia akan terus berlangsung dalam sel otak. Sepertinya
hipotermia mampu melindungi otak terhadap efek tersebut dan terdapat laporan
kasus pasien hipotermia yang diresusitasi setelah mengalami hipoksia selama 1
jam.
Menurut Hudak dan Gallo (2010), komplikasi cedera kepala antara lain:
1. Edema Pulmonal
Komplikasi paru-paru yang paling serius pada pasien cedera kepala adalah
edema paru. Ini mungkin terutama berasal dari gangguana neurologis atau
akibat dari sindrom distres pernapasan dewasa. Edema paru dapat akibat dari
cedera pada otak yangmenyebabkan adanya refleks cushing. Peningkatan pada

25
tekanan darahsistemik terjadi sebagai respons dari sistem saraf simpatis pada
peningkatan TIK. Peningkatan vasokonstriksi tubuh umum ini menyebabkan
lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru. Perubahan permeabilitas pembuluh
darah paru-paru berperan dalam proses dengan memungkinkan cairan
berpindah ke dalam alveolus. Kerusakan difusi oksigen dan karbon dioksida
dari darah dapat menimbulkan peningkatan TIK lebih lanjut.
2. Kejang
Kejang terjadi kira-kira 10% dari pasien cedera kepala selama fase akut.
Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan kejang dengan
menyediakan spatel lidah yang diberi bantakan atau jalan napas oral di
samping tempat tidur dan peralatan penghisap dekat dalam jangkauan. Pagar
tempat todur harus tetap dipasang, diberi bantalan pada pagar dengan bantal
atau busa untuk meminimalkan resiko sekunder terhadap cedera karena kejang.
Selama kejang, perawat harus memfokuskan perhatian pada upaya
mempertahankan jalan napas paten ketika mengamati perkembangan kejang
dan mencegah cedera lanjut pada pasien. Jika terdapat waktu yang cukup
sebelum spasitisitas otot terjadi, dan rahang terkunci, spatel lidah yang diberi
bantalan, jalan napas oral, atau tongkat gigit plastik harusdipasang diantara gigi
pasien. Satu-satunya tindakan medis terhadap kejang adalah terapi obat.
Diazepam merupakan obat yang paling banyak digunakan dan diberikan secara
perlahan melalui intravena. Karena obat ini menekan pernafasan, maka
frekuensi dan irama pernapasan pasien harus dipantau dengan cermat. Jika
kejang tiak bisa lagi diatasi dengan obat ini,dokter mungkin akan memberikan
fenobarbital atau fenitoin untuk mempertahankan kontrol terhadap kejang.
3. Kebocoran Cairan Serebrospinal
Buka hal yang tidak umum pada beberapa pasien cedera kepala dengan fraktur
tengkorak untuk mengalami kebocoran CSS dar telinga atau hidung. Ini dapat
akibat dari fraktur pada fossa anteroir dekatsinus frontal atau dari fraktur
tengkorak basiliar bagian petrous dari tulang temporal.

26
Phatway

Trauma kepala

Ekstra kranial Tulang kranial Intra cranial

Terputusnya jaringan otak rusak


Terputusnya kontinuitas jaringan kontinuitas jar. kontosio laserasi
kulit, otot, dan vaskuler tulang

Perub.autoregulasi
perdarahan Gangguan Resiko Nyeri akut Oedema serebri
suplai darah infeksi

Resiko Perubahan iskemia Kerusakan memori kejang


syok sirkulasi

hipoksia Resiko Gg.neurologis vokal Bersihan jalan nafas


ketidakefektifan Obstruksi jalan nafas
perfusi jar.otak Dispnea
Peningkatan TIK Mual muntah Deficit neurologis
Pupil odema Henti nafas
Pandangan Perub.pola nafas
kabur Resiko kekurangan
Gilus medialis volume cairan Gg. persepsi
lobus temporalis Penurunan
sensori
tergeser fungsi
Ketidakefektifan
pendengaran
bersihan jalan nafas
Nyeri kepala
Kompresi medulla
Herniasi unkus
oblongata

Mesenfalon tertekan Resiko cedera Tonsil cerebrum bergeser

Gg. kesadaran Imobilisasi Hambatan mobilitas fisik

Ansietas

27
F. Penatalaksanaan Medis
Untuk menegakkan diagnosa pada cedera kepala, ada beberapa pemeriksaan
diagnostic yang diperlukan, yaitu :
1. CT scan
Pemeriksaan awal yang paling umum dilakukan karena pemeriksaan ini dapat
dengan cepat dilakukan Mengidentifikasi adanya hemorragic, ukuran
ventrikuler, infark pada jaringan mati..
2. Foto tengkorak atau cranium
Untuk mengetahui adanya fraktur pada tengkorak.
3. MRI (Magnetic Resonan Imaging)
Gunanya sebagai penginderaan yang mempergunakan gelombang
elektomagnetik.
4. Laboratorium
Kimia darah: mengetahui ketidakseimbangan elektrolit.
Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagaiakibat
peningkatan tekanan intrkranial
Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan
penurunan kesadaran..
5. EEG (elektro ensefalogram)
Mengukur aktivitas gelombang otak disemua regio korteks dan berguna
dalam mendiagnosis kejang serta mengaitkan pemeriksaan neurologis
abnormal dengan fungsi kortikal abnormal. Pemeriksaan yang penting dalam
mengeliminasi kejang subklinis atau nonkonvulsif. Temuan yang paling
umum pada pasien cedera kepalaadalah perlambatan aktivitas gelombang
listrik pada area cedera.
6. Cerebral Angiography:
Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak
sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
7. X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan
strukturgaris(perdarahan/edema), fragmen tulang.
8. BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil

28
9. PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
10. CSF, Lumbal Punksi : Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
11. ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan
(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intracranial
Setelah penilaian awal dan stabilitasi tanda vital, keputusan segera pada
pasienini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf segera (hematoma
intrakranial yang besar). Jika ada indikasi, harus segera dikonsultasikan ke bedah
saraf untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala berat sebaiknya
perawatan dilakukan di unit rawat intensif. Walaupun sedikit sekali yang dapat
dilakukan untuk kerusakan primer akibat cedera kepala, tetapi sebaiknya dapat
mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia, hipertensi, atau tekanan
intrakranial yang meningkat.
Dalam unit rawat intensif dapat dilakukan hal-hal berikut :
a. Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi
b. Monitor tekanan darah
c. Pemasangan alat monitor tekanan intraktranial pada pasien dengan
d. skor GCS < 8, bila memungkinkan.
e. Penatalaksanaan cairan : hanya larutan isotonis (salin normal dan ringer
laktat)
f. Temperatur badan
g. Anti kejang fenitoin 15 – 20 mg/kg BB bolus intravena
h. Steroid deksametason 10 mg intravena setiap 4 – 6 jam selama 48 –72 jam
i. Antibiotik
j. Pemeriksaan
Dapat menberikan manfaat terhadap kasus yang ragu-ragu. Harus dilakukan
pemeriksaan sinar X tulang kepala, bila bertujuan hanya untuk kepentingan
medikolegal.
Penolongan pertama pada fraktur impresi adalah :
a. Periksa airway, breathing, dan circulation pada korban. Jika perlu
mulaibantuan nafas buatan dan CPR

29
b. Cegah untuk memindahkan korban (kecuali jika benar-benar diperlukan)
sampai petugas kesehatan datamg. Instruksikan kepada seseorang
untukmeminta bantuan dengan menelpon 118 (atau nomor imergensi
lokal)untuk pertolongan medis.
c. Jika korban harus dipindahkan, perhatikan untuk menjaga stabilisasi kepala
dan leher, letakkan kedua tangan anda pada kedua sisi kepala hingga dibawah
bahu. Jangan biarkan terjadinya pergerakkan kepala kearah depan maupun
belakang, ataupun perputaran kepala.
d. Secara hati-hati periksa bagian yang terluka, tetapi jangan memeriksa bagian
dalam maupun sekitaran luka dengan menggunakan benda asing.
e. Jika terdapat perdarahan, lakukan penekanan ringan dengan menggunakan
kain yang bersih untuk mengontrol perdarahannya.
f. Jika kain tersebut sudah basah seluruhnya, jangan pindahkan kain tersebut,
tetapi tambahkan kain lain diatas kain tersebut dan teruskan melakukan
penekanan.
g. Jika pasien muntah, stabilisasi kepala dan leher (seperti langkah ke 3),
dansecara perlahan miringkan korban untuk menghindari tersedak
ataupumaspirasi.
h. Jika pasien sadar dan mengalami hal-hal diatas, segera antar kepusat
kesehatan terdekat (bahkan jika korban merasa tidak perlu).
Terapi bedah pada fraktur impresi dibutuhkan jika :
a. Besar impresi yang terjadi sekitar 8-10 mm (atau lebih besar dari ketebalan
tulang tengkorak)
b. Gangguan fungsi otak yang diakibatkan penekanan oleh fragmen tengkorak
yang mengalami cidera
c. Kebocoran cairan serebrospinal
d. Fraktur impresi terbuka, atau fraktur dengan terputus maupun lepasnya
bagian kulit kepala

30
G. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Breathing
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung,
sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun
iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas
berbunyi,stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi),
cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
2. Blood
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi.
Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan
parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi
lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan
frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan
bradikardia,disritmia).
3. Brain
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya
gangguan otak akibat cidera kepala. Kehilangan kesadaran sementara,
amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan
pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan
mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka
dapat terjadi :
a. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian,
konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan
memori).
b. Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia,
kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia.
c. Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.
d. Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.

31
e. Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus
vagusmenyebabkan kompresi spasmodik diafragma. Gangguan nervus
hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi,
disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
4. Blader
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia
uri, ketidakmampuan menahan miksi
5. Bowel
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual,
muntah(mungkin proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera.
Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi.
6. Bone
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi. Pada
kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat
pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis
yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di
otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan
tonus otot.

b. Diagnosa Keperwatan
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran
darah ke otak
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler,
3. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan,
penekanan reseptor nyeri
4. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi
secret
5. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran
6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubuingan dengan imobilisasi dalam
waktu yang lama
7. Nausea berhubungan dengan distres pada lambung

32
c. Implementasi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
.
1. Gangguan perfusi NOC: Tissue Perfusion: NIC:
jaringan serebral Cerebral Circulatory Precaution
berhubungan dengan Kriteria hasil: 1. Kaji sirkulasi perifer secara 1. Mengetahui status sirkulasi
penurunan aliran darahke 1. menunjukkan perfusi komprehensif (nadi perifer, perifer dan adanya kondisi
otak jaringan membaik edema,CRT, warna, dan suhu abnormal pada tubuh
2. TD dalam batas ekstremitas)
normal, tidak ada 2. Kaji kondisi ekstremitas 2. Mengetahui adanya
keluhan sakit kepala. meliputikemerahan, nyeri, perubahan akibat gangguan
3. Tanda-tanda vitalstabil atau pembengkakan sirkulasi perifer
4. Tidak menunjukkan 3. Hindarkan cedera pada area 3. Menghindari cedera untuk
adanya gangguan perfusi dengan perfusi yang minimal meminimalkan luka
meliputi disorientasi, 4. Hindarkan klien dari posisi 4. Posisi trendelenberg akan
kebingungan, maupun trendelenberg yang dapat meningkatkan TIKs ehingga
nyeri kepala meningkatkan TIK memperparah kondisi klien
5. Hindarkan adanya penekanan 5. Mengurangi penekanana gar
padaarea cedera perfusi tidak terganggu
6. Pertahankan cairan dan obat- 6. Obat-obatan untuk
obatansesuai program meningkatkan statusp erfusi
7. Health education tentang 7. Mengurangi kecemasan
keadaan dankondisi pasien keluarga
kepada keluarga
8. Kolaborasi pemberian terapi 8. Membantu mempercepat
medikamentosa kesembuhan klien

33
2. Pola napas tidak efektif Respiratory status : Respiratory monitoring
berhubungan dengan Ventilation 1. Monitor kecepatan, frekuensi, 1. Mengetahui kondisi
kerusakan neuromuskuler Status sistem pernapasan: kedalaman dan kekuataan pernapasan pasien
ventilasi ketika pasien bernapas
Pola napas pasien adekuat 2. Monitor hasil pemeriksaan 2. Mengetahui keadaaan paru
ditandai dengan: rontgen dada dan jantung pasien
1. Pasien bernapas tanpa 3. Monitor suara napas pasien 3. Mengetahui suara napas
kesulitan pasien
2. Menunjukkan perbaikan 4. Kaji dan pantau adanya 4. Mengetahui kondisi pasien
pernapasan perubahan dalam pernapasan untuk menentukan intervensi
3. Paru-paru bersih pada selanjutnya sesuai indikasi
pemeriksaan auskultasi 5. Monitor sekret yang 5. Untuk memantau kondisi
4. Kadar PO2 dan PCO2 dikeluarkan oleh pasien pasien (suara napas pasien)
dalam batas normal untuk menentukan intervensi
sesuai indikasi
6. Health education tentang 6. Mengurangi kecemasan
keadaan dan kondisi pasien keluarga
kepada keluarga 7. Membantu penyembuhan
7. Kolaborasi pemberian terapi klien
medikamentosa

34
3. Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan terputusnya - Pain level Pain Management
kontinuitas jaringan - Pain control 1. Kaji karakteristik pasien 1. Membantu dalam
- Comfort level secaraPQRST menentukan status nyeri
Kriteria hasil: pasien dan menjadi data
1. Mampu mengontrol nyeri dasar untuk intervensi dan
(tahu penyebab nyeri, monitoring keberhasilan
mampu menggunakan intervensi
teknik nonfarmakologi 2. Lakukan manajemen nyeri 2. Meningkatkan rasan yaman
untuk mengurangi nyeri) sesuai skala nyeri misalnya dengan mengurangi sensasi
2. Melaporkan bahwa nyeri pengaturan posisi fisiologis tekan pada area yangsakit
berkurang dengan 3. Ajarkan teknik relaksasi 3. Hipoksemia local dapat
menggunakan manajemen seperti nafas dalam dan menyebabkan rasa nyeri dan
nyeri distraksi pada saat rasa nyeri peningkatan suplai oksigen
3. Mampu mengenali nyeri datang (jika pasien sadar dan pada area nyeri dapat
(skala,intensitas, frekuensi kooperatif) membantu menurunkan rasa
dan tanda nyeri) nyeri
4. Menyatakan rasa nyaman 4. Meningkatkan respon aliran
setelah nyeri berkurang 4. Beri manajemen sentuhan darah pada area nyeri dan
berupa pemijatan ringat pada merupakan salah satu
area sekitar nyeri metode pengalihan perhatian
5. Mempertahankan kadar obat
5. Kolaborasi dengan pemberian dan menghindari
analgesik secara periodik puncakperiode nyeri

35
DAFTAR PUSTAKA

Amin (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan


NANDA NIC-NOC. Jogjakarta. Mediaction Jogja.

Dewantoro, G., Suwono, W. J., Riyanto, B., Turana, Y. (2007). Panduan Praktis
Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta: EGC.

Dewi, Ni Made Ayu A. 2013. Autoregulasi Serebral Pada Cedera Kepala.


Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Bedah Fakultas Kedokteran Udayana.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82587&val=970

Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan. 2005. Cedera Kepala. Jakarta:


Deltacitra Grafind.

Hudak, Carolyn M. 2010. Keperawatan Kritis Pedekatan Holistik Edisi 6 Volume


2. Jakarta: EGC

Morton, Patricia G, et al. (2011). Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan


Holistik. Jakarta: EGC
.
Price, Sylvia A. & Lorraine Wilson. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis
ProsesprosesPenyakit. Edisi 4. Jakarta: EGC.

36