Anda di halaman 1dari 3

UJIAN SUB SUMATIF

MATA KULIAH FILSAFAT IPA

Oleh:
Evia Yuni Setyaningrum
Pendidikan Kimia A 2014

Sains secara umum didefinisikan sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan. Seiring
dengan perkembangannya sains dapat pula disebut sebagai Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Sains adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam beserta isinya. Oleh karena itu
sains merupakan ilmu yang bersifat obyektif. Jika menggunakan sudut pandang yang lebih
luas, sains dapat didefinisikan sebagai suatu cara berpikir untuk mempelajari alam beserta
sifat-sifatnya, menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi yang didasari oleh rasa
keingintahuan. Oleh karena itu, sains mencakup tiga komponen penting yaitu sebagai
produk sains (Scientific Products), metode ilmiah (Scientific Methods), dan sikap ilmiah
(Scientific Attitudes).
Produk sains adalah hasil yang diperoleh melalui pengumpulan data yang disusun
secara lengkap dan sistematis. Terdapat lima produk sains, antara lain fakta, konsep,
prinsip, hukum dan teori. Fakta adalah bentuk informasi yang spesifik tentang benda yang
benar-benar ada atau peristiwa yang benar-benar terjadi, yang tertangkap oleh indra
manusia. Konsep adalah suatu ide yang menghubungkan beberapa fakta menjadi suatu
hubungan yang merupakan penjelasan tentang sesuatu. Prinsip adalah generalisasi dari
konsep-konsep yang bersifat analitik dan berlaku secara umum untuk menjelaskan suatu
kejadian. Hukum adalah prinsip yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih
dalam suatu kaitan sebab akibat yang diterima secara meluas setelah melalui pengujian
yang berulang. Sedangkan teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lain
menghasilkan sebuah pandangan yang sistematis mengenai suatu fenomena dengan
maksud untuk menjelaskan fenomena alamiah. Produk sains dapat dijadikan suatu masalah
untuk dipecahkan melalui metode ilmiah.
Metode ilmiah adalah langkah-langkah sistematis yang dilakukan oleh ilmuwan
dalam menjawab permasalahan yang diajukan. Metode ilmiah berawal dari masalah.
Masalah itu sendiri merupakan suatu keadaan dimana terjadi kesenjangan antara harapan
dan kenyataan sehingga perlu dilakukan suatu pemecahan. Dalam melakukan metode
ilmiah, masalah yang telah dirumuskan selanjutnya diobservasi. Observasi adalah suatu
studi yang disengaja dan sistematis tentang suatu fenomena melalui pengamatan dengan
menggunakan berbagai persepsi. Dari pusat informasi, dibuatlah kerangka berpikir yang
digunakan untuk memecahkan masalah. Dalam menyusun kerangka berpikir dari pusat
informasi, digunakan cara berpikir deduktif. Cara berpikir deduktif adalah cara berpikir
dimana dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat
khusus. Pada berpikir deduktif digunakan tools of science yaitu logika. Selanjutnya setelah
memperoleh kerangka berpikir, dapat dirumuskan suatu hipotesis yang merupakan
pernyataan terkait jawaban dari rumusan masalah yang kebenarannya masih lemah. Oleh
karena itu perlu dilakukan uji hipotesis atau eksperimen. Dalam pengujian hipotesis ini
digunakan berpikir induktif dimana berpikir induktif adalah suatu cara berpikir dimana
kesimpulan ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus. Pada berpikir induktif
ini digunakan tools of science yaitu statistika. Setelah dilakukan pengujian hipotesis maka
apabila hipotesis diterima, produk tersebut akan menambah pusat informasi (science
domain). Apabila tidak diterima maka perlu dikaji ulang kemungkinan apakah yang
menyebabkan hipotesis ditolak, apakah karena sumber informasi yang salah atau salah
dalam membuat kesimpulan. Untuk itu perlu membuat ulang kerangka berpikir.
Kajian dengan metode ilmiah dapat dilakukan melalui model “logiko-hipotetiko-
verifikasi”. Logika dapat dianggap sebagai cabang dalam studi epistemologi. Peran logika
adalah untuk menyelidiki sifat berpikir secara benar dan menggunakan akal sehat. Logika
banyak berperan dalam mencari tolok ukur kebenaran suatu ilmu pengetahuan. Jawaban
yang diberikan melalui logika merupakan jawaban yang bersifat lemah atau sementara
(hipotesis). Hipotesis itu harus diverifikasi atau diuji terlebih dahulu untuk mendapatkan
jawaban yang benar. Proses verifikasi dapat ditempuh melalui serangkaian proses berpikir
baik secara deduktif maupun induktif. Proses verifikasi juga harus didukung oleh fakta-
fakta empiris dan argumentasi ilmiah untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh jawaban
yang bersifat tetap (tesis). Untuk sampai kepada tesis melalui model “logiko-hipotetiko-
verifikasi” langkah-langkah yang harus ditempuh haruslah sistematis dan terarah.
Langkah-langkah tersebut meliputi penyusunan masalah, penyusunan kerangka berpikir,
perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.
Dalam melakukan serangkaian proses dalam metode ilmiah, seorang ilmuwan
harus melakukan sikap tertentu yang memungkinkan usaha yang dilakukan dapat
mencapai hasil yang diharapkan. Sikap seorang ilmuwan tersebut adalah sikap ilmiah
(scientific attitudes). Beberapa sikap ilmiah menurut Harlen antara lain curiousity, respect
for evidence, critical reflection, perseverance, creativity & inventiveness, co-operation
with others, willingness to tolerate uncertainty, dan sensitivity to environment.