Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN

BLOK 7.4 FOUNDATION FOR CLINICAL ROTATION

Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sokaraja 2


Kabupaten Banyumas

KELOMPOK 4

Hukama Rosyada U. H. G1A015046


Fatimah G1A015047
Ichda Qudsiy Widayati G1A015048
Talitha Apta Nitisara G1A015049
Helni Syahriani Hasibuan G1A015050
Ayu Permatasari G1A015051
Syahrefa Aulia Zahra G1A015052
Nurul Afifah Munaya G1A015053
Timotius Pratama G1A015054
Lutfia Nur Azizah G1A015055
Ezra Sari Setyaningrum G1A015056
Arum Ridharrahman G1A015057
Reza Muhamad Nugraha G1A015058
Laksmi Diatmika G1A015059
Dienazad Yoga Putri G1A015060

PEMBIMBING FAKULTAS:
dr. Khusnul Muflikah, M. Sc

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO

2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN


BLOK 7.4, FOUNDATION FOR CLINICAL ROTATION

Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sokaraja 2


Kabupaten Banyumas

Disusun sebagai salah satu tugas terstruktur Blok 7.4,


Foundation for Clinical Rotation

Disusun Oleh:

Hukama Rosyada U. H. G1A015046


Fatimah G1A015047
Ichda Quidsiy Widayati G1A015048
Talitha Apta Nitisara G1A015049
Helni Syahriani Hasibuan G1A015050
Ayu Permatasari G1A015051
Syahrefa Aulia Zahra G1A015052
Nurul Afifah Munaya G1A015053
Timotius Pratama G1A015054
Lutfia Nur Azizah G1A015055
Ezra Sari Setyaningrum G1A015056
Arum Ridharrahman G1A015057
Reza Muhamad Nugraha G1A015058
Laksmi Diatmika G1A015059
Dienazad Yoga Putri G1A015060

Telah disetujui:
Pada tanggal 5 Januari 2019

Pembimbing Fakultas Pembimbing Puskesmas

dr. Khusnul Muflikah, M.Sc


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang
ditemukan pada masyarakat baik di negara maju maupun berkembang
termasuk Indonesia. Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya
tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih
dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua
jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui
dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal,
penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan anak ginjal. Hipertensi
seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus-
menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi
(Sidabutar, 2009).
Berdasarkan data dari WHO tahun 2000, sekitar 972 juta orang atau
26,4% penduduk dunia menderita hipertensi, dengan perbandingan 50,54%
pria dan 49,49 % wanita. Jumlah ini cenderung meningkat tiap tahunnya
(Ardiansyah, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5% pada
tahun 2013, tetapi yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan/atau riwayat
minum obat hanya sebesar 9,5%. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar
kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan
kesehatan (Kemenkes RI, 2013). Profil data kesehatan Indonesia tahun 2011
menyebutkan bahwa hipertensi merupakan salah satu dari 10 penyakit
dengan kasus rawat inap terbanyak di rumah sakit pada tahun 2010, dengan
proporsi kasus 42,38% pria dan 57,62% wanita, serta 4,8% pasien
meninggal dunia (Kemenkes RI, 2012).
Secara nasional Provinsi Jawa Tengah menempati peringkat ke-tiga
setelah Jawa Timur dan Bangka Belitung. Data Riskesdas (2010) juga
menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah
stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab
kematian pada semua umur di Indonesia (Depkes, 2010). Menurut Profil
Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2012, kasus tertinggi penyakit tidak menular
di Jawa Tengah tahun 2012 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh
darah adalah penyakit hipertensi esensial, yaitu sebanyak 554.771 kasus
(67,57%) lebih rendah dibanding tahun 2011 (634.860 kasus/72,13%).
Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko terbesar penyebab
morbiditas dan mortalitas pada penyakit kardiovaskular (Kearney dkk.,
2005).Sejak tahun 1999 hingga 2009, angka kematian akibat hipertensi
meningkat sebanyak 17,1% (Go dkk., 2014) dengan angka kematian akibat
komplikasi hipertensi mencapai 9,4 juta per tahunnya (WHO, 2013).
Penyakit hipertensi dapat mengakibatkan infark miokard, stroke, gagal
ginjal, dan kematian jika tidak dideteksi secara dini dan ditangani dengan
tepat (James dkk., 2014). Sekitar 69% pasien serangan jantung, 77% pasien
stroke, dan 74% pasien congestive heart failure (CHF) menderita hipertensi
dengan tekanan darah >140/90 mmHg (Go dkk., 2014). Hipertensi
menyebabkan kematian pada 45% penderita penyakit jantung dan 51%
kematian pada penderita penyakit stroke pada tahun 2008 (WHO, 2013).
Selain itu, hipertensi juga menelan biaya yang tidak sedikit dengan biaya
langsung dan tidak langsung yang dihabiskan pada tahun 2010 sebesar
$46,4 milyar (Go dkk., 2014).
Hipertensi sangat erat hubungannya dengan faktor gaya hidup dan
pola makan. Gaya hidup sangat berpengaruh pada bentuk perilaku atau
kebiasaan seseorang yang mempunyai pengaruh positif maupun negatif
pada kesehatan. Penyakit ini menjadi muara beragam penyakit degeneratif
yang bisa mengakibatkan kematian. Hipertensi juga berdampak kepada
mahalnya pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para
penderitanya dikarenakan sifatnya yang kronis. Kurangnya pengetahuan
akan memberi efek negatif terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan
hipertensi.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan metode
pengolahan data sekunder terhadap pasien Puskesmas 2 Sokaraja,
Banyumas menyatakan bahwa penyakit yang perlu menjadi perhatian utama
pada daerah kecamatan sokaraja adalah penyakit hipertensi. Mengingat
banyaknya faktor resiko yang dapat menyebabkan hipertensi, maka peneliti
tertarik mengkaji lebih dalam mengenai faktor resiko yang paling
berpengaruh dalam menimbulkan hipertensi di kecamatan sokaraja melalui
proses mencari kasus, pengisian kuisioner, dan analisis data.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melakukan analisis kesehatan komunitas tentang faktor risiko
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas 2 Sokaraja, Banyumas.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang banyak
terjadi di wilayah Puskesmas 2 Sokaraja
b. Menyusun rencana penyelesaian masalah hipertensi dalam
masyarakat secara komprehensif
c. Melakukan penatalaksanaan masalah hipertensi dalam masyarakat
d. Menentukan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap
kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas 2 Sokaraja,
Banyumas.
e. Mencari alternatif pemecahan masalah hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas 2 Sokaraja, Banyumas.

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan di bidang kesehatan dalam mencegah
penyakit hipertensi, terutama faktor risiko yang dapat menimbulkan
terjadinya penyakit hipertensi.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi masyarakat
Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit
hipertensi, faktor risiko dan cara untuk mencegah penyakit
tersebut sehingga diharapkan dapat mengontrol tekanan darah
dan mengurangi komplikasi hipertensi
b. Manfaat bagi puskesmas
Membantu program enam dasar pelayanan kesehatan puskesmas
yang berkaitan dengan masalah hipertensi seperti promosi
kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan menentukan kebijakan yang harus diambil untuk
menyelesaikan masalah.
c. Manfaat bagi mahasiswa
Menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai masalah
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas 2 Sokaraja, Banyumas.
II. ANALISIS SITUASI

A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerja


1. Keadaan Geografis
Puskesmas 2 Sokaraja merupakan salah satu puskesmas yang ada
di Kecamatan Sokaraja. Luas wilayah Puskesmas 2 Sokaraja adalah
1281,5 km2, desa yang terkecil, Desa Kedondong (91,33 km2) dan desa
terluas adalah Desa Banjaranyar (258,25 km2). Puskesmas 2 Sokaraja
berbatasan dengan desa diwilayah kecamatan sebagai berikut :
a. Sebelah Timur : Desa Jompo Wetan, wilayah Kab.Purbalingga
b. Sebelah Barat : Desa Kalicupak, wilayah Puskesmas Kalibagor
c. Sebelah Utara : Desa Kramat, wilayah puskesmas II Kembaran
d. Sebelah Selatan : Desa Sokaraja Wetan, wilayah Puskesmas
Sokaraja
2. Keadaan Demografis
a. Pertumbuhan Penduduk
Berdasarkan data dari PLKB, Statistik Kecamatan dan dari
desa-desa, wilayah Puskesmas 2 Sokaraja berpenduduk total :
30.571 jiwa, terdiri dari 14.830 laki-laki dan 15.741 jiwa perempuan.
Pada tabel dibawah ini terlihat bahwa jumlah penduduk yang
paling sedikit dari desa jompo kulon dengan 1858 jiwa sedang yang
terbanyak adalah dari desa karang Duren dengan 4824 jiwa. Laju
pertumbuhan penduduk Puskesmas 2 Sokaraja dari tahun 2016-2017
adalah sebesar 717 jiwa pertahun.
Tabel 2.1. Pertumbuhan Penduduk Tahun 2013
No Nama Desa Jumlah Jumlah Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 Jompo Kulon 953 905 1858
2 Banjarsari Kidul 1730 1747 3477
3 Banjaranyar 2302 2384 4686
4 Klahang 1766 2460 4226
5 Lemberang 1695 1744 3439
6 Karangduren 2393 2431 4824
7 Sokaraja Lor 2083 2135 4218
8 Kedondong 1907 1936 3843

b. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur


Jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin perdesa di
wilayah Puskemas II Sokaraja tahun 2017 dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan
Kelompok Umur di Wilayah Puskesmas 2 Sokaraja
NO Kelompok Jumlah Penduduk Jumlah
(tahun) Laki-laki Perempuan L+P
1 0-4 895 1021 1916
2 5-9 1061 1119 2180
3 10-14 1061 1114 2175
4 15-19 1121 1151 2272
5 20-24 1052 1157 2209
6 25-29 1162 1231 2393
7 30-34 1249 1290 2539
8 35-39 1308 1240 2548
9 40-44 1175 1305 2480
10 45-49 1158 1136 2294
11 50-54 880 1022 1902
12 55-59 795 814 1609
13 60-64 576 554 1061
14 65-69 507 554 1061
15 70-74 421 443 864
16 75+ 409 487 896
Total 30.571
Jumlah penduduk wilayah Puskesmas 2 Sokaraja sebanyak
30.571 jiwa terdiri dari 14.830 laki-laki dan 15.741 perempuan. Dari
tabel diatas maka peringkat terbanyak adalah :
a. Kelompok usia (15-19) th dengan jumlah = 2272
b. Kelompok usia (20-24) th dengan jumlah = 2209
c. Kelompok usia (25 -29) th dengan jumlah = 2393
d. Kelompok usia (10-14) th dengan jumlah = 2539
e. Kelompok usia (30-34) th dengan jumlah = 2548
f. Kelompok usia (40-44) th dengan jumlah = 2480
g. Kelompok usia (45-49) th dengan jumlah = 2295
h. Kelompok umur yang terkecil / terendah adalah 70< dengan
jumlah = 864 jiwa
3. Wilayah Kerja
Wilayah kerja yang meliputi 8 desa yaitu :
a. Desa Jompo Kulon, dengan luas wilayah : 99,77 km2
b. Desa Banjarsari Kidul, dengan luas wilayah : 161,23 km2
c. Desa Banjaranyar, dengan luas wilayah : 258,25 km2
d. Desa Klahang, dengan luas wilayah : 180,9 km2
e. Desa Lemberang, dengan luas wilayah : 152,28 km2
f. Desa Karangduren, dengan luas wilayah : 182,24 km2
g. Desa Sokaraja Lor, dengan luas wilayah : 155,5 km2
h. Desa Kedondong, dengan luas wilayah : 91,33 km2
4. Petugas Kesehatan
Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas 2 sokaraja tahun
2017 didapatkan jumlah tenaga kesehatan sebagai berikut :
a. Dokter umum PNS/Kontrak : 2 orang
b. Dokter Gigi : 1 orang
c. Bidan Puskesmas :12 orang
d. Bidan Desa : 1 orang
e. Perawat PNS/Wiyata : 8 orang
f. Petugas Laboratorium : 1 orang
g. Teknis Medis : - orang
h. Petugas Farmasi : 1 orang
i. Petugas Gizi : 1 orang
j. Petugas Kesling/Epidemiologi : 1 orang
k. Petugas Sanitasi : 1 orang
B. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat
Pembangunan kesehatan di Puskesmas 2 Sokaraja pada dasarnya
adalah mengacu kegiatan pokok Puskesmas yang antara lain harus
dilaksanakan oleh Puskesmas yaitu : KIA-KB, usaha peningkatan gizi,
kesehatan lingkungan, pencegahan dan pemberantasan penyakit
termasuk imunisasi, pengobatan termasuk pengobatan gigi, promosi
kesehatan masyarakat serta pencatatan dan pelaporan dalam rangka
sistem informasi kesehatan.
Kegiatan-kegiatan ini telah dilaksanakan sesuai dengan
kemamouan tenaga maupun fasilitas yang ada, akan tetapi pencapaian
kegiatan belum dapat dikatakan berhasil seluruhnya karena, kegiatan ini
berkelanjutan dan harus didukung dengan kesadaran masyarakat
terhadap perilaku bersih dan sehat.
Hasil-hasil kegiatan dapat dilihat dari indikator dibidang derajat
kesehatan, perilaku masyarakat, kesehatan lingkungan dan pelayann
kesehatan.
1. Mortalitas
a. Angka Kematian Bayi
1) Jumlah lahir mati tahun 2017 sebanyak 1 bayi sedangkan jumlah
bayi yang mati sebesar 2 bayi. Angka Kematian Bayi (AKB) di
Kabupaten Banyumas adalah sebesar 8,89 per 1000 kelahiran
hidup.
2) AKB tahun 2016 sebesar 3 kasus kelahiran hidup. Dengan
demikian AKB tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 2
kasus kelahiran hidup dibanding tahun 2016. Kondisi yang
demikian perlu dilakuan perbaikan lagi agar kematian bayi lebih
menurun lagi.
3) Jika dibandingkan dengan Indikator Indonesia Sehat terhitung
masih rendah (IIS 2010 40 per 1000 kelahiran hidup).
b. Angka Kematian Ibu
1) Jumlah ibu mati karena melahirkan 1
2) Jumlah sasaran ibu melahirkan = 1 orang
3) Angka kematian ibu : 1/678 x 1000 = 0.001/1000
4) Angka kemaian ibu nasional 125/100.000 KH
2. Morbiditas
a. Malaria
Kasus penyakit malaria klinis tahun 2017 : 0 kasus. Pada tahun 2016:
0 kasus malaria klinis
b. TB Paru
Jumlah TB Paru positif tahun 2017 ada 13 orang
c. HIV
Kasus HIV/AIDS tahun 2017 ada 0 kasus
d. Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Jumlah kasus AFP di Puskesmas 2 Sokaraja tahun 2017 tidak ada
kasus.
e. Pneumonia
Jumlah perkiraan kasus Pneumonia balita tahun 2017 ada 20 kasus,
dan penderita ditemukan 2 ditangani sebnayak 2 anak atau ditangani
100%
f. Menular Seksual
Jumlah kasus infeksi menular seksual tahun 2017 tidak ada kasus
g. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Jumlah kasus DBD pada tahun 2017 ada 6 kasus meninggal 0 kasus,
Tahun 2016 sebanyak 16 kasus. Jadi mengalami kenaikan kasus
DBD sebayak 10 kasus
h. Diare
Jumlah perkiraan kasus Diare tahun 2017 sebanyak 3037, ditangani
dengan oral dehidrasi sebanyak 642.
3. Status Gizi
Jumlah balita yang ada sebanyak 3832 anak, yang ditimbang
sebanyak 2148 atau 89.1% yang naik berat badannya setelah ditimbang
sebanyak 1541 atau 62%. BGM sebanyak 7 anak (5 %) dan gizi buruk
sebanyak 3 anak mendapatkan perawatan 3.
Jumlah ibu hamil tahun 2015 sebanyak 678 orang, mendapat Fe 1
sebanyak 678 orang (100%), mendapat Fe 3 sebanyak 661 (97.4%).
Jumlah ibu nifas sebanyak 633 orang, mendapat Vit A sebanyak 639
orang (100,9%).
C. Situasi Upaya Kesehatan
1. Pelayanan Kesehatan Dasar
a. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
1) Pelayanan K4
a) Jumlah ibu hamil di wilayah Puskesmas 2 Sokaraja pada
tahun 2017 = 678
b) Jumlah kunjungan K4= 661 atau 97.5%. Jumlah kunjungna
K4 tahun 2016=597 atau 89.1%. Standar pelayanan
minimal untk cakupan kunjungan ibu hamil K4 =95%.
Dengan demikian untuk wilayah Puskesmas 2 Sokaraja
sudah memenuhi standar pelayanan minimal yang diharapkan.
2) Cakupan Pertolongan oleh Nakes
a) Jumlah ibu hamil yang melahirkan tahun 2017=633
b) Jumlah yang ditolong oleh Nakes dari iu bersalin
tersebut=633 atau sebesar 100% dibanding tahun 2016
persalian oleh Nakes 100,8% mengalami kenaikan 0,8%.
Standar Pelayanan Minimal untuk pertolongan
persalianan oleh Nakes sebesar 90%. Dengan demikian
Puskesmas 2 Sokaraja telah memenuhi standar pelayanan
minimal.
3) Bumil Risti
a) Ibu hamil resti yang datang dan ditemukan/dirujuk
sebanyak 163 orang.
b) Ibu hamil resti yang dirujuk dan ditangani =163 orang atau
100% Standar .
Pelayanan Minimal untuk ibu hamil resti yang dirujuk
dan ditangani=100%, dengan demikian Puskesmas 2 Sokaraja
untuk Bumil Risti sudah memenuhi Standar Pelayanan
Minimal.
4) Cakupan Kunjungan Neonatus
a) Jumlah ibu bersalin=633 orang
b) Cakupan neonatus=633 atau 100%
Standar Pelayanan Minimal untuk cakupan kunjungan
neonatus 90%. Untuk cakupan Kunjungan Neonatus sudah
memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
5) Cakupan Kunjungan Bayi
a) Jumlah bayi= 637
b) Jumlah kunjungan bayi=637 (100%).
Kunjungan bayi tahun 2017 mengalami penurunan ntuk
wilayah Puskesmas 2 Sokaraja, sesuai Standar Pelayanan
Minimal(90% tahun 2015).
6) Cakupan Bayi dengan BBLR yang Ditangani
a) Jumlah bayi dengan BBLR= 20
b) Jumlah bayi dengan BBLR tertangani=20 atau 100%.
Standar Pelayanan Minimal untuk cakupan BBLR
ditangani 100%, untuk wilayah Puskesmas 2 Sokaraja
Cakupan Bayi dengan BBLR sudah memenuhi Standar
Pelayanan Minimal.
b. Pelayanan Keluarga Berencana(KB)
Jumlah PUS di wilayah Puskesmas 2 Sokaraja tahun 2015
adalah 5633 orang. Jumlah peserta KB baru sebanyak 4474 orang,
peserta KB aktif= 4474 atau 70%. Standar Pelayanan Minimal=70%,
dengan demikian untuk Pelayanan Keluarga Berencana sudah
memenuhi Strandar Pelayanan Minimal.
1) Pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia sekolah.
a) Jumlah anak balita Pra Sekolah tahun 2017 adalah 2.076
anak, cakupan deteksi tinggi tumbuh kembang anak balita
adalah 2075 atau 99.9%. Standar Pelayanan Minimal tahun
2017 : 90 %. Dengan Demikian untuk pelayanan anak Pra
Sekolah wilayah Puskesmas 2 Sokaraja sudah memenuhi
Setandar Pelayanan Minimal ,
b) Jumlah siswa SD/]vII kelas I tatrun 2017 adalah 421, yang
diperiksa kesehatannya oleh nakes adalah 415 atau 98.6 %.
Dengan demikian untuk Wilayah Puskesmaas 11 Sokaraja
sudah memenuhi Standax Pelayanan Minimal.
c) Jumlah siswa , SLTP, SLTA tahun 2017 sebanyak 2623
orang yang diperiksa kesehatannya 607 orang (28.2 %).
untuk hasil kegiatan tatrun 2016 (25.7 %) dibanding tahun
lalu mcngalami kenaikan sebesar 2.5 %. Standar Pelayanan
Minimal adalah 100 % dengan demikian untuk wilayah
Puskesmas 2 Sokaraja masih kurang memenuhi Standar
Pelayanan Minimal.
d) Cakupan pelayanan kesehatan remaja. Belum ada kegiatan
pelayanan kesehatan remaja.
c. Pelayanan Imunisasi
Jumlah desa dalam Wilayatr Kerja Puskesmas 2 Sokaraja : 8
desa untuk UC adalah 8 desa ( 100 %) semul desa di wilayah kerja
Puskesmas 11 Sokaraja sudah UCI Standar Pelayanan Minimal
tatrun 2017 ( 100 % ) dengan demikian untuk wilayah Puskesmas 2
Sokaraja sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
2. Pelayanan Kesehatan Puskesmas, Rujukan, dan Penunjang
a. Pelayanan Pengobatan / Perawatan
Cakupan rawat jalan di 8 desa tahun 2017 = 49.671 (162.4 %)
jumlah penduduk tahun 2017 : 30.571, Standar Pelayanan Minimal
untuk cakupan rawat jalan (15%) untuk Wilayah Puskesmas lI
Sokaraja sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
b. Pelayanan Kesehatan Jiwa
1) Jumlah pendcrita, gangguan jiwa baru + lama : 43 orrmg , Jumlah
penderita gangguan jiwa baru:0 orang
2) Jumlah total : 43 orang standar perayan minimar tahun 2017 : 15
% untuk wilayah Puskesmas 2 Sokaraja sudah memenuhi Standar
pelayanan Minimal.
3. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
a. Pelayanan kesehatan lingkungan
1) Institusi yang ada: 34.
a) Institusi yang dibina: 34 atau 100%.
b) Standar Pelayanan Minimal :70 %.
c) Institusi yang di bina wilayah Puskesmas 2 Sokaraja
masih kurang memenuhi Standat pelayanan Minimal.
2) Rumah yang ada seluruhnya :8194
a) Rumah yang diperiksa 810 atau 9.9%
b) Rumah sehat yang ada 639 atau 89.81%
c) (standar Pelayanan Minimal = 100%)
d) Dengan demikian Wilayah Puskesmas 2 Sokaraja untuk
rumah sehat yang dibina sudah memenuhi standar
pelayanan Minimal.
3) Pernanfaatan Jamban
Jumlah penduduk 30.571 yang menggunakan sanitasi layak
26.501 Jumlah jamban yang memenuhi syarat kesehatan :
6599 buah atau 87.1 % ( Standar Pelayanan Minimal : 55,66
% ) wilayah Puskesmas 2 Sokaraja belum mencapai Standar
pelayanan Minimal
4) Pemanfaatan SPAL
a) Jumlah rumah yang mempunyai SPAL sehat : 6017
b) ( Standar Pelayanan Minimal = 35%)
5) Pengendalian Vektor
a) Rumah yang diperiksa = 6752
b) Rumah yang bebas jentik = 6441 atau 95,3 %
c) (Standar Pelayanan Minimal => 95%)
6) Pelayanan Hygiene Sanitasi di tempat umum
a) Jumlah TUPM yang ada = 17
b) Jumlah TUPM yang memenuhi syarat kesehatan = 12 atau
70.5%
c) (Standar Pelayanan Minimal = 76,90%) belum mencapai
Standar Pelayanan Minimal
4. Perbaikan Gizi Masyarakat
b. Pemantauan perturmbuhan Balita
Data yang dihimpun dari petugas Gizi pada Pemantauan
pertumbuhan Balita tahun 2017 terdapat 2451 balita. Balita yang di
timbang ( D ): 2148 (87.6%) Standar Pelayanan Minimal (78%)
sudah memenuhi Standat Pelayanan Minimal.
1) Balita yang naik berat badannya
a) Balita yang ditimbang 2148 (87.6%)
b) Balita yang naik timbangannya: 1541 atau 62% N/D 87.6%
Standar Pelayanan Minimal N/D 77,5 %o dengan demikian
sudah Memenuhi Standar pelayanan Minimal
2) Balita bawah garis merah
a) Jumlah balita = 2451 anak
b) Jumlah balita BGM = 7 atau 5%.
c) Standar Pelayanan Minimal = 15%
d) Cakupan lebih kecil dari SPM berarti
penanganan/perbaikan gtzi masyarakat sudah berjalan baik.
3) Pelayanan Gizi
a) Jumlah bayi (6-l l) bulan = 587 anak
b) Jumlah bayi yang mendapat vitamin A I kali : 587 atau 100
% Standar pelayana, minimal tahun 2017 ( l00 %) dengan
demikian Puskesmas 2 Sokaraja sudah rnemenuhi standar
pelayanan Minimal.
c) Jumlah batita (12-59) bulan:3832 anak.
d) Jurnlah balita yarg mendapat vitamin A 2 kali = 3832 atau
100% Standar Pelayanan Minimal tahun 2017 ( 100 %)
belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
e) Jumlah ibu nifas = 633 orang.
f) Jumlah ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A = 639
atau 1 00% standar Pelayanan Minimal tahun 20l7 ( 100 %
) puskesmas II Sokaraja sudah memenuhi Standar
pelayanan Minimal.
g) Jumlah ibu hamil : 678 orang, yang mendapat tablet Fe :
678 orang atau 100 %
h) Balita gizi buruk yang ada: 3 anak
i) Balita gizi buruk yang mendapat perawatan : 3 anak atau
100 % (standar Pelayanan Minimal = 75%) Puskesrnas II
Sokaraja masih kurang memenuhi standar pelayanan
Minimal.
5. Perilaku Hidup Masyarakat
a. Posyandu
Berdasarkan data tahun 2017 jumlah Posyandu di Puskesmas
2 Sokaraja 48 posyandu, pada tahun 2016 jumlah 46 posyandu.
Adapun menurut tingkat perkembangan (Stratifikasi) Posyandu
Pumama dan mandiri adalah sebagai berikut:
1) Posyandu Purnama
Tahun 2017 posyandu sebanyak 48, purnama 31 (64.5%), pada
tahun 2014 jumlah posyandu Purnama sebanyak 30 posyandu
atau sebesar 62.5%. Dibandingkan pada tahun 2016
mengalami penurunan jumlah.
2) Posyandu Mandiri
Dari 48 posyandu, jumlah posyandu Mandiri sebanyak 8
posyandu atau sebesar 16.7%.
3) Posyandu Purnama + Mandiri
Jumlah posyandu madya dan Mandiri sebanyak 39 atau
sebesar 81.25%. Sedangkan target tahun 2017 sebanyak 40%,
ini berarti jumlah posyandu madya dan mandiri di Puskesmas
2 Sokaraja sudah baik.
III. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
DAN PRIORITAS MASALAH

A. Daftar Permasalahan Kesehatan


1. Input
a. Man (Tenaga Kesehatan)
Tenaga kesehatan merupakan sumber daya yang sangat
penting untuk memacu keberhasilan pembangunan di bidang
kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan dalam wilayah Puskesmas II
Sokaraja adalah sebagai berikut:
1) Dokter Umum
Dokter yang ada di sarana kesehatan dalam wilayah Puskesmas
II Sokaraja 2 orang dokter umum. Menurut standar Indikator
Indonesia Sehat (IIS) tahun 2010 ratio tenaga medis per 100.000
penduduk adalah 40 tenaga medis, berarti tenaga medis masih
kurang.
2) Dokter Gigi
Dokter gigi di Puskesmas II Sokaraja ada 1 orang. Standar IIS
2010, 11/100.000 penduduk.
3) Tenaga Farmasi
Tenaga farmasi di Puskesmas II Sokaraja ada 1 orang. Standar
IIS 2010, 10/100.000 penduduk
4) Tenaga Bidan
Tenaga Kebidanan jumlahnya 13 orang, bidan puskesmas 12
orang dan bidan desa 1 orang. Standar IIS 2010, jumlah tenaga
bidan 100/100.000, dengan demikian jumlah bidan di wilayah
Puskesmas II Sokaraja masih kurang.
5) Tenaga Perawat
Tenaga perawat kesehatan yang ada di Puskesmas II Sokaraja
ada 8 orang. Standar IIS tahun 2010, adalah 117,5/100.000
penduduk.
6) Tenaga Gizi
Tenaga Gizi di Puskesmas II Sokaraja jumlahnya 1 orang.
Standar IIS 2010, 22/100.000 penduduk, dengan demikian
tenaga gizi masih kurang.
7) Tenaga Sanitasi
Tenaga Sanitasi di Puskesmas II Sokaraja ada 1 orang. Standar
IIS tahun 2010, 40/100.000 penduduk (6,5), dengan demikian
tenaga kesehatan lingkungan masih kurang.
8) Tenaga Kesehatan Masyarakat
Tenaga Sanitasi di Puskesmas II Sokaraja ada 1 orang sebagai
promosi kesehatan
9) Tenaga Laborat
Tenaga Sanitasi di Puskesmas II Sokaraja ada 1 orang sebagai
analisis kesehatan.
2. Proses
a. Kesehatan Lingkungan
1) Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga
Pencapaian rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas adalah 639
atau 89,81% dari standar pelayanan minimal sebesar 100%. Dari
data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan rumah sehat di
wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja belum memenuhi target
2017.
2) Pemanfaatan Jamban
Pencapaian jumlah keluarga dengan pemanfaatan jamban yang
baik adalah 87,1% dari target minimal sebesar 55,66%.
Pencapaian tersebut masih sudah memenuhi target 2017.
3) Penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah
Pencapaian tempat pembuangan sampah dan limbah pada tahun
2017 sebanyak 6017 atau 73,43% dari standar minimal 35%.
Pencapaian tersebut sudah memenuhi target 2017.
b. Gizi Masyarakat
Jumlah bayi usia 6-11 bulan di daerah puskesmas II Sokaraja
sebanyak 587 orang, yang mendapat vitamin A 1 kali sebanyak 587
orang atau 100% dengan demikian puskesmas II Sokaraja sudah
memenuhi target. Jumlah bayi usia 12-59 bulan di daerah
puskesmas II Sokaraja sebanyak 3832 orang, yang mendapat
vitamin A 2 kali sebanyak 3832 orang atau 100% dengan demikian
puskesmas II Sokaraja sudah memenuhi target. Jumlah ibu nifas di
daerah puskesmas II Sokaraja sebanyak 633, yang mendapat
vitamin A sebanyak 639 orang atau 100,95% dengan demikian
puskesmas II Sokaraja sudah memenuhi target. Jumlah ibu hamil
di daerah puskesmas II Sokaraja sebanyak 678 orang, yang
mendapat tablet Fe sebanyak 678 orang atau 100% dengan
demikian puskesmas II Sokaraja sudah memenuhi target. Jumlah
balita gizi buruk di daerah puskesmas II Sokaraja sebanyak 3 anak.
Balita yang mendapat perawatan sebanyak 3 anak atau 100%
dengan demikian puskesmas II Sokaraja sudah memenuhi target.
c. Perilaku Hidup Masyarakat
Jumlah posyandu Madya dan Mandiri sebanyak 39 atau
sebesar 81.25%. Sedangkan target tahun 2017 sebanyak 40%, ini
berarti jumlah posyandu madya dan mandiri di Puskesmas II
Sokaraja sudah baik.
3. Output
Berikut merupakan permasalahan output yang ada di Puskesmas
II Sokaraja:
a. ISPA
Jumlah kasus ISPA di Puskesmas II Sokaraja selama tahun 2017
adalah 530 kasus.
b. Dispepsia
Jumlah kasus dispepsia di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 359 kasus.
c. Nyeri Kepala
Jumlah kasus nyeri kepala di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 300 kasus.
d. Nyeri Otot
Jumlah kasus nyeri otot di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 233 kasus.
e. Dermatitis
Jumlah kasus dermatitis di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 181 kasus.
f. Hipertensi
Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 157 kasus.
g. Gigi dan Mulut
Jumlah kasus gigi dan mulut di Puskesmas II Sokaraja selama
tahun 2017 adalah 114 kasus.
h. Faringitis
Jumlah kasus faringitis di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah 111 kasus.
i. Rheumathoid Athritis
Jumlah kasus Rheumathoid Athritis di Puskesmas II Sokaraja
selama tahun 2017 adalah100 kasus.
j. Demam Tifoid
Jumlah kasus demam tifoid di Puskesmas II Sokaraja selama tahun
2017 adalah100 kasus.
Pada CHA permasalahan yang diangkat merupakan permasalah
output sehingga pada penentuan priotitas masalah, masalah yang
diangkat adalah ISPA, dispepsia, nyeri kepala, nyeri otot,dermatitis,
hipertensi, gigi dan mulut, faringitis, rhemathoid athritis dan demam
tifoid.
B. Penentuan Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah output di wilayah kerja Puskesmas II
Sokaraja dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dengan empat
kelompok kriteria, yaitu:
1. Kelompok kriteria A : besarnya masalah (magnitude of the
problem)
2. Kelompok kriteria B : kegawatan masalah, penilaian terhadap
dampak, urgensi dan biaya
3. Kelompok kriteria C : kemudahan dalam penanggulangan, yaitu
penilaian terhadap tingkat kesulitan
penanggulangan masalah
4. Kelompok kriteria D : PEARL factor, yaitu penilaian terhadap
propriety, economic, acceptability,
resources availability, legality
Adapun perincian masing-masing bobot kriteria pada prioritas
masalah di Puskesmas II Sokaraja adalah sebagai berikut:
1. Kriteria A (besarnya masalah)
Untuk menentukan besarnya masalah kesehatan diukur dari
besarnya penduduk yang terkena efek langsung.
Tabel 3.1 Kriteria A Hanlon Kuantitatif
No Output Total Prevalensi Skor
1 ISPA 530 1,48% 5
2 Dispepsia 359 1% 5
3 Nyeri Kepala 300 0,84% 4
4 Nyeri Otot 233 0,65% 4
5 Dermatitis 181 0,50% 4
6 Hipertensi 157 0,44% 4
7 Gigi dan Mulut 114 0,32% 3
8 Faringitis 111 0,31 3
9 Rheumatoid 100 0,28% 3
Athritis
10 Demam tifoid 98 0,27% 3
Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Sokaraja
2. Kriteria B (kegawatan masalah)
Tabel 3.2 Kriteria B Hanlon Kuantitatif
No Masalah Urgensi Severity Cost Skor
1 ISPA 6 4 4 4,6
2 Dispepsia 4 2 4 3,3
3 Nyeri 6 6 4 5.3
Kepala
4 Nyeri Otot 4 4 4 4
5 Dermatitis 4 4 4 4
6 Hipertensi 8 8 6 7,3
7 Gigi dan 6 6 6 6
Mulut
8 Faringitis 4 4 4 4
9 Rheumatoid 6 6 6 6
Athritis
10 Demam 6 8 6 6,6
tifoid
3. Kriteria C (penanggulangan masalah)
Untuk menilai kemudahan dalam penanggulangan, pertanyaan
yang harus dijawab adalah apakah sumber-sumber dan teknologi yang
tersedia mampu menyelesaikan masalah: makin sulit dalam
penanggulangan, skor yang diberikan makin kecil.
Pada tahap ini dilakukan dengan diskusi seluruh anggota
kelompok untuk menentukan skor, dimana skor tertinggi merupakan
masalah yang paling mudah ditanggulangi. Adapun hasil konsensus
tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3 Kriteria C Hanlon Kualitatif
No Masalah Skor
1 ISPA 4
2 Dispepsia 7
3 Nyeri Kepala 2
4 Nyeri Otot 2
5 Dermatitis 6
6 Hipertensi 9
7 Gigi dan Mulut 7
8 Faringitis 3
9 Rheumatoid Athritis 1
10 Demam tifoid 8
4. Komponen D (PEARL factor)
a. P : Propiety : kesesuaian program dengan masalah
b. E : Economic : apakah secara ekonomi bermanfaat
c. A : Acceptability: apakah bisa diterima masyarakat
d. R : Resources: Adakah sumber daya untuk menyelesaikan masalah
e. L: Legality: Tidak bertentangan dengan aturan hukum yang ada
Tabel 3.4 Kriteria D Hanlon Kualitatif
Masa kesehatan P E A R L Hasil
Perkalian
1. ISPA 1 1 1 1 1 1
2. Dispepsia 1 1 1 1 1 1
3. Nyeri Kepala 1 1 1 1 1 1
4. Nyeri Otot 1 1 1 1 1 1
5. Dermatitis 1 1 1 1 1 1

6. Hipertensi 1 1 1 1 1 1

7. Gigi dan Mulut 1 1 1 1 1 1


1
8. Faringitis 1 1 1 1 1
1
9. Rheumatoid Athritis 1 1 1 1 1
1
10. Demam Tifoid 1 1 1 1 1
Tabel 3.4. Komponen D ( PEARL factor)
5. Prioritas
a. Nilai Prioritas Dasar = (A+B)C
b. Nilai Prioritas Total = (A+B)C X D
Tabel 3.5 Nilai Prioritas

Masalah A B C D NPD NPT Urutan prioritas


ISPA 5 4,6 4 1 38,4 38,4 6
Dispepsia 5 3,3 7 1 58,1 58,1 4
Nyeri Kepala 4 5,3 2 1 18,6 18,6 8
Nyeri Otot 4 4 2 1 16 16 9
Dermatitis 4 4 6 1 48 48 5
Hipertensi 4 7,3 9 1 101,7 101,7 1
Gigi dan Mulut 3 6 7 1 65 65 3
Faringitis 3 4 3 1 21 21 7
Rheumatoid
3 6 1 1 9 9 10
Athritis
Demam tifoid 3 6,6 8 1 76,8 76,8 2
Dari hasil perhitungan menggunakan metode Hanlon yang telah
dilakukan didapatkan nilai prioritas dasar (NPD) dan nilai prioritas total
(NPT) tertinggi adalah hipertensi. Oleh karena itu, hipertensi
merupakan masalah kesehatan yang menjadi prioritas di wilayah kerja
Puskesmas Sokaraja 2.
IV. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan darah diastolik sedikitnya 90 mmHg.
Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi
mungkin tak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Masa laten ini
menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang
bermakna. Bila terdapat gejala maka biasanya bersifat non-spesifik,
misalnya sakit kepala atau pusing (Price, 2005). Hipertensi juga merupakan
penyakit yang dapat terjadi akibat berbagai macam faktor termasuk
lingkungan, gaya hidup dan genetik (Yeni et al., 2010).
B. Faktor Risiko
Hipertensi memiliki dua garis besar faktor resiko yang dapat
mempengaruhi kejadiannya, yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan
faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
1. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
a. Konsumsi garam
Asupan nutrisi yang mampu mempengaruhi kejadian
hipertensi salah satunya adalah natrium atau garam. Garam
merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi.
Asupan garam kurang dari tiga gram setiap hari memiliki prevalensi
hipertensi yang rendah sedangkan jika asupan garam antara 5-15
gram per hari menyebabkan prevalensi hipertensi meningkat antara
15-20%, oleh karena itu WHO menganjurkan untuk pembatasan
konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari atau setara dengan 2400
mg natrium (Mannan et al., 2012).
Pada dasarnya konsumsi natrium bersama klorida yang
terdapat dalam garam dapur dengan jumlah normal dapat membantu
mempertahankan keseimbangan cairan tubuh untuk mengatur
tekanan darah, namun natrium dalam jumlah yang berlebih dapat
menahan air (retensi), sehingga meningkatkan volume darah,
akibatnya jantung harus bekerja lebih keras untuk memompanya dan
tekanan darah menjadi tinggi. Beberapa peneliti membuktikan
bahwa mereka yang memiliki kecenderungan menderita hipertensi
secara keturunan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk
mengeluarkan garam dari tubuhnya (Mannan et al., 2012).
b. Konsumsi lemak
Kebiasaan konsumsi lemak jenuh memiliki hubungan yang
erat dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya
hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko
aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah, jika
konsumsinya berlebihan dan akan meningkatkan terjadinya plak
dalam pembuluh darah. Patofisiologi dimulai ketika lipoprotein
sebagai alat angkut lipida bersikulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel-
sel otot, lemak dan sel-sel lain. Begitu juga pada trigliserida dalam
aliran darah dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh
enzim lipoprotein lipase yang berada pada sel-sel endotel kapiler
(Vilareal, 2008).
Kolesterol yang banyak terdapat dalam LDL akan menumpuk
pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Plak akan
bercampur dengan protein dan ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium
yang akhirnya berkembang menjadi aterosklerosis. Pembuluh darah
koroner yang menderita aterosklerosis selain menjadi tidak elastis,
juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam
pembuluh koroner juga naik, yang nantinya akan memicu terjadinya
hipertensi (Vilareal, 2008).
c. Konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol yang terlalu sering dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah, dengan estimasi global sekitar 16%
untuk kejadian hipertensi yang disebabkan oleh alkohol. Terjadi
peningkatan tekanan darah sebesar 1 mmHg untuk setiap 10 gram
alkohol yang dikonsumsi, tetapi efek ini reversibel dalam waktu 2 –
4 minggu setelah melakukan pengurangan asupan alkohol per hari
(Puddey & Beilin, 2006).
d. Stres
Dampak stres pada perkembangan hipertensi diyakini
melibatkan respon sistem saraf simpatik, di mana terjadi pelepasan
katekolamin yang menyebabkan peningkatan denyut jantung, curah
jantung (cardiac output), dan tekanan darah. Telah banyak penelitian
tentang bagaimana respon saraf simpatis terhadap stres akut. Tetapi,
belum dipahami bagaimana proses stres memberikan kontribusi
terhadap peningkatan tekanan darah yang berkelanjutan dari waktu
ke waktu. Proses tersebut diduga terjadi melalui pengulangan
aktivasi sistem saraf simpatik, kegagalan untuk kembali ke “level
istirahat” pasca kejadian stres berlangsung, kegagalan untuk
membiasakan diri terhadap pajanan berulang dari jenis stres yang
sama, atau kombinasi dari mekanisme-mekanisme tersebut yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan hipertensi (Spruill,
2010).
e. Merokok
Nikotin dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya
tekanan darah segera setelah hisapan pertama. Zat nikotin yang
terdapat dalam rokok dapat mengakibatkan kerusakan endotel
pembuluh darah yang dapat memicu terjadinya plak dan
penyempitan lumen (Gunawan, 2011), selain itu nikotin juga mampu
meningkatkan pelepasan epinefrin yang dapat mengakibatkan
terjadinya penyempitan dinding arteri. Nikotin diserap oleh
pembuluh-pembuluh darah amat kecil di dalam paru-paru dan
diedarkan ke aliran darah dan mencapai otak. Otak bereaksi terhadap
nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas
epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan
pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat
karena tekanan yang lebih tinggi. Zat lain dalam rokok adalah
Karbon monoksida (CO) yang juga mengakibatkan jantung akan
bekerja lebih berat untuk memberi cukup oksigen ke sel-sel tubuh
(Mannan et al., 2012).
f. Obesitas
Obesitas atau kegemukan ditentukan dengan membandingkan
antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter,
sehingga menghasilkan Indeks Masa Tubuh (IMT) (Basha, 2004).
Obesitas dapat terjadi ketika seseorang lebih banyak mengkonsumsi
lemak dan protein tanpa memperhatikan serat. Semakin besar masa
tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok
oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa
volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri
(Khomsan, 2003).
Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut
jantung.Banyak penelitian dilakukan dan menghasilkan dugaan
bahwa meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10%
mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7 mmHg, oleh karena itu,
penurunan berat badan dengan membatasi kalori bagi orang-orang
yang obesitas dapat dijadikan langkah positif untuk mencegah
terjadinya hipertensi (Suparto, 2010).
g. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah.
Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut
mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap
kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah,
makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri
sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan
kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat
meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan
risiko hipertensi meningkat. Studi epidemiologi membuktikan
bahwa olahraga secara teratur memiliki efek antihipertensi dengan
menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita
hipertensi. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi, karena olahraga secara teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah (Andrea, 2013).
2. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
a. Riwayat keluarga hipertensi
Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi, sebagian
gennya akan berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan yang
akan meningkatkan tekanan darah. Riwayat keluarga dekat yang
mempunyai hipertensi akan meningkatkan risiko hipertensi sebesar
4 kali lipat (Nurkhalida, 2003). Conelius (2014) melaporkan bahwa
seseorang yang normal dengan riwayat hipertensi pada keluarga
terjadi penurunan aktivitas saraf parasimpatis yang signifikan.
Perubahan saraf otonom ini diturunkan melalui genetik yang
berperan dalam kejadian hipertensi.
b. Usia
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya
usia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007
Kementerian Kesehatan RI, prevalensi hipertensi di Indonesia pada
usia di atas 18 tahun mencapai 29,8%. Prevalensi ini semakin
bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi hipertensi
pada golongan umur 55-64 tahun, 65-74 tahun dan >75 tahun,
masing-masing mencapai 53,7%, 63,5%, dan 67,3% (Dharmeizar,
2012). Usia menyebabkan arteri kehilangan elastisitas atau
kelenturan sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur
menyempit dan menjadi kaku, selain itu, pada usia lanjut sensitivitas
pengatur tekanan darah yaitu refleks baroreseptor mulai berkurang.
Hal ini mengakibatkan tekanan darah meningkat seiring dengan
bertambahnya usia (Syukraini, 2009).
c. Jenis kelamin
Prevalensi hipertensi antara wanita dan pria sebenarnya sama
saja, namun sebelum memasuki usia lanjut, satu diantara lima orang
pria dewasa memiliki peluang untuk hipertensi. Hal ini lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita. Wanita terlindungi dari penyakit
kardiovaskular sebelum menopause karena adanya peran hormon
estrogen yang mampu melindungi kerusakan pada endotel pembuluh
darah, selain itu juga estrogen dapat meningkatkan kadar High
Density Lipoprotein (HDL). Saat menginjak masa premenopause
wanita akan kehilangan hormon estrogennya sehingga hipertensi
mudah saja untuk terjadi pada wanita sesuai dengan faktor resiko
yang lain (Basha, 2004).
C. Etiologi
Sebagian besar hipertensi yang dialami masyarakat tidak diketahui
penyebab medisnya, yang dikenal sebagai hipertensi primer (esensial).
Kondisi ini terjadi pada 90% penderita hipertensi, sedangkan 10% lainnya
dapat dideteksi penyebab definitifnya, yang dikenal dengan hipertensi
sekunder (Sherwood, 2012). Beberapa ahli berpendapat bahwa hipertensi
primer mempunyai kecenderungan genetik yang kuat bahkan sebagian
peneliti mengemukakan adanya suatu mutasi genetik yang terkadang dapat
dipengaruhi oleh tingkah laku maupun lingkungan sekitar penderita
(Bolivar, 2013).
D. Klasifikasi
Berikut adalah klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa menurut
Joint National Committee (JNC) 7 (Chobanian et al., 2003) :
Tabel 4.1 Klasifikasi Tekanan Darah JNC 7 (Chobanian et al., 2003)

Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)

Normal < 120 < 80

Pre – hipertensi 120 – 139 80 – 89

Hipertensi derajat 1 140 – 159 90 – 99

Hipertensi derajat 2 ≥ 160 ≥ 100

Sedangkan menurut etiologinya, hipertensi dapat diklasifikasikan


menjadi hipertensi primer (esensial) dan sekunder (Ibekwe, 2015).
1. Hipertensi primer
Hipertensi primer atau hipertensi esensial juga sering disebut
sebagai hipertensi idiopatik. Sekitar 90% kasus hipertensi termasuk
kedalam hipertensi esensial. Seseorang dapat dikatakan sebagai
hipertensi esensial jika terdapat peningkatan tekanan darah yang tidak
diketahui penyebab pastinya. Kemungkinan penyebab hipertensi jenis
ini diantaranya adalah genetik, lingkungan dan gaya hidup. Faktor
keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat penyakit
kardiovaskuler dalam keluarga. Faktor predisposisi genetik ini dapat
berupa sensitifitas terhadap natrium, kepekaan terhadap stress,
peningkatan reaktivitas vaskuler (terhadap vasokonstriksi) dan
resistensi insulin (Ibekwe, 2015).
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder merupakan peningkatan tekanan darah yang
dapat terjadi sebagai akibat gangguan sistem organ lain yang sudah
diketahui. Gangguan organ lain tersebut diantaranya adalah gangguan
sistem vaskuler, sistem renal atau ginjal, sistem endokrin dan sistem
neuron (Davis dan Braverman, 2004). Menurut studi epidemiologi yang
pernah dilakukan sekitar 10% pasien dengan hipertensi termasuk ke
dalam hipertensi sekunder (Sherwood, 2012).
E. Patomekanisme
Hipertensi terjadi berdasarkan pada frekuensi kecepatan dari denyut
jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR), oleh
karena itu, peningkatan dari salah satu ketiga variabel yang tidak dapat
dikompensasi tersebut dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Besar
tekanan darah dapat dihitung dengan rumus: Tekanan darah = curah jantung
x denyut jantung (Sherwood, 2012). Di dalam pembuluh darah terdapat
sistem yang berfungsi untuk mencegah terjadinya perubahan tekanan darah
secara akut dan mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam waktu
jangka panjang. Sistem kontrol tersebut ada yang dirasangsang secara
langsung dalam waktu pendek seperti refleks kardiovaskular melalui refleks
kemoreseptor, respon iskemia melalui susunan saraf pusat, baroreseptor,
dan refleks yang berasal dari atrium, arteri pulmonalis, dan otot polos
(Yusuf, 2008).
Beberapa faktor memodulasi tekanan darah untuk perfusi jaringan
yang memadai, mediator humoral, reaktivitas vaskular, volume sirkulasi
darah, kaliber pembuluh darah, kekentalan darah, curah jantung, elastisitas
pembuluh darah, dan stimulasi saraf. Beberapa kemungkinan patogenesis
terjadinya hipertensi esensial telah diperkirakan di beberapa faktor,
termasuk genetik, asupan diet garam berlebih, dan tonus adrenergik, dapat
saling berinteraksi untuk menghasilkan hipertensi. Meskipun genetika
tampaknya berkontribusi untuk terjadinya hipertensi esensial, mekanisme
yang tepat belum ditetapkan (Madhur, 2014). Pada penyelidikan
patofisiologi hipertensi, baik pada hewan dan manusia, ditemukan banyak
bukti bahwa hipertensi mungkin didasari oleh sistem imunologi. Penelitian
telah menunjukkan bahwa hipertensi dikaitkan dengan infiltrasi sel imunitas
ke ginjal. Sebaliknya imunosupresi farmakologis atau imunosupresi
patologis dikaitkan dengan terjadinya penurunan tekanan darah pada hewan
dan manusia. Bukti menunjukkan bahwa limfosit T dan turunan sitokin T-
cell memainkan peran penting dalam terjadinya hipertensi (Longo et al.,
2012).
Satu hipotesis menyatakan bahwa prehipertensi
menyebabkanadanya oksidasi dan alterasi dari kekuatan mekanik yang
diubah mengarah pada pembentukan neoantigens, yang kemudian
disampaikan kepada sel T, yang menyebabkan aktivasi T-cell dan
menginfiltrasi organ penting (misalnya, ginjal dan pembuluh darah). Hal ini
dapat menyebabkan terjadinya hipertensi berat atau persisten dan kerusakan
organ berat. aktivasi sistem saraf simpatik dan rangsangan noradrenergik
juga telah ditunjukkan untuk menimbulkan terjadinya aktivasi T-limfosit
dan infiltrasi sehingga memberikan kontribusi pada patofisiologi hipertensi.
Peningkatan kontraktilitas jantung, konsumsi garam yang berlebih, dan
obesitas akan meningkatkan curah jantung yang akan meningkatkan
tekanan darah. Konsumsi garam berlebih mampu meningkatkan curah
jantung karena meningkatnya konsentrasi Na+ sehingga menyebabkan
aliran balik vena meningkat yang akan berdampak pada meningkatnya
preload sehingga tekanan darah akan meningkat. Disfungsi endotel juga
dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah, hal ini karena disfungsi
endotel akan menurunkan reaktivitas dari NO dan vasodilator, sehingga
terjadilah resistensi perifer yang meningkat dan akan terjadi peningkatan
tekanan darah (Prichie, 2005).
F. Diagnosis
Penegakkan diagnosis hipertensi didasarkan pada objektifitas
pemeriksa melalui pengukuran tekanan darah dengan menggunakan alat
sphymomanometer. JNC VII menegaskan bahwa pengukuran tekanan darah
untuk mendiagnosis suatu hipertensi harus dilakukan sekurang-kurangnya
dua kali pada saat yang berbeda. Pada pengukuran pertama harus
dikonfirmasi setidaknya dua kunjungan lagi dalam waktu satu sampai
beberapa minggu bergantung dari tingginya tekanan darah tersebut.
Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari pengukuran berulang tersebut
diperoleh nilai rata-rata tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik > 90 mmHg (Amiruddin et al., 2015).
Pada saat melakukan pengukuran tekanan darah, untuk menghasilkan
hasil yang akurat disarankan menggunakan sphymomanometer dengan
ukuran cuff yang sesuai, selanjutnya balon di pompa sampai 20-30 mmHg
diatas tekanan sistolik, yaitu saat pulsasi nadi tidak teraba lagi, kemudian
dibuka secara perlahan-lahan dengan kecepatan kira-kira 2-3 mmHg per
detik. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari auscultatory gap yaitu
hilangnya bunyi setelah bunyi pertama terdengar yang disebabkan oleh
kekakuan arteri. Pembacaan hasil tekanan darah secara auskultasi dengan
denyutan pertama atau korotkoff I yang merupakan tekanan sistolik, dan
denyutan terakhir atau korotkoff IV/V yang menunjukkan tekanan diastolik
(Uliyah dan Aziz, 2008).
G. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologis
Terapi non farmakologi ditujukan untuk menurunkan tekanan
darah pasien dengan jalan memperbaiki pola hidup pasien. Terapi ini
sesuai untuk segala jenis hipertensi. Joint National Committeeon
Prevention, Detection, Evaluation and Treatmentof High Blood Pressure
(JNC) menganjurkan modifikasi gaya hidup dalam mencegah dan
menangani tekanan darah tinggi, selain terapi dengan obat. Termasuk
dalam modifikasi gaya hidup adalah penurunan berat badan, penerapan
dietkombinasi Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH), reduksi
asupan garam, aktivitas fisik yang teratur, dan pembatasan asupan
alkohol.1 Selain itu, berhenti merokok juga dianjurkan untuk
mengurangi resiko kardiovaskular secara keseluruhan. Masing-masing
mempunyai efek penurunan tekanan darah yang berperan dalam
pencegahan komplikasi hipertensi dan bila dijalankan secara bersamaan
akan mempunyai efek penurunan tekanan darah yang lebih nyata (Tabel
4.2) (Ridjab, 2007).
Tabel 4.2 Modifikasi Gaya Hidup untuk Penurunan Tekanan Darah
Modifikasi gaya hidup dianjurkan pada setiap stadium hipertensi.
Pada penderita hipertensi stadium I tanpa risiko faktor penyakit
serebrovaskular yang berarti (seperti penyakit jantung koroner, stroke
atau diabetes melitus), penanganan hipertensi dapat dimulai dengan
modifikasi gaya hidup. Apabila target yang diharapkan tidak tercapai
setelah pelaksanaan modifikasi gaya hidup, penanganan dengan
menambahkan obat-obatan merupakan langkah berikutnya (Ridjab,
2007).
2. Farmakologis
Keputusan untuk memberikan pengobatan farmakologik
mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu derajat kenaikan tekanan
darah, adanya kerusakan organ target, dan adanya penyakit
kardiovaskular. Antihipertensi hanya menghilangkan gejala tekanan
darah tinggi dan tidak penyebabnya. Tujuan pengobatan adalah untuk
menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi yang
berhubungan dengan kerusakan organ target, seperti gangguan
kardiovaskular atau serebrovaskular, gagal jantung, dan penyakit ginjal
dengan memelihara tekanan darah sistolik di bawah 140 mmHg dan
tekanan darah diastole di bawah 90 mmHg, sehingga obat antihipertensi
harus diminum seumur hidup, tetapi setelah beberapa waktu dosis
pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan (Tjay dan Kirana, 2007).
JNC 8 telah merilis panduan baru pada manajemen hipertensi
orang dewasa terkait dengan penyakit kardiovaskuler. Tatalaksana
hipertensi pada pedoman terbaru ini lebih sederhana dibandingkan
dengan JNC 7. Pedoman tatalaksana hipertensi terbaru ini terdiri dari 9
rekomendasi terkait target tekanan darah dan golongan obat hipertensi
yang direkomendasikan (Gambar 4.2) (Vila, 2015).
Gambar 4.1 Algoritma Terapi Hipertensi menurut JNC 8.
Terdapat lima kelompok obat yang digunakan untuk pengobatan
awal hiperternsi, diantaranya adalah :
a. Diuretik
Diuretik memiliki empat subkelas, yaitu tiazid, diuretik kuat,
antagonis aldosteron, dan hemat kalium. Mekanisme kerja diuretik
dalam menurunkan tekanan darah ialah melalui efek diuresis yang
menyebabkan volume plasma darah berkurang sehingga cardiac
output akan menurun. Pada dasarnya diuretik memiliki fungsi utama
untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan
ekstrasel kembali menjadi normal (Syarif et al., 2007).
b. β-blocker
Mekanisme penurunan tekanan darah oleh β-blocker adalah
dengan penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas
miokard yang akan menurunkan curah jantung, hambatan sekresi
rennin, serta efek sentral yang akan mempengaruhi aktivitas saraf
simpatis.
c. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
ACEI bekerja dengan menghambat enzim angiotensin
converting sehingga menghambat perubahan angiotensin I menjadi
angiotensin II, dimana angiotensin merupakan vasokonstriktor poten
yang juga akan merangsang sekresi aldosteron (Syarif et al., 2007).
d. Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB)
ARB secara langsung menghambat reseptor angiotensin II
sehingga efek angiotensin seperti vasokontriksi, pelepasan
aldosteron, dan aktivitas simpatik dihambat (Neal, 2006).
e. Calcium Channel Blocker
Ca Channe Blocker bekerja dengan menghambat influks
kalsium sepanjang membran sel otot polos pembuluh darah. di
pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi
arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. penurunan resistensi
perifer ini sering diikuti efek takikardi dan vasokonstriksi (Syarif et
al., 2007).
H. Kerangka Teori
Aktivitas Rokok Stress Alkohol Obesitas Konsumsi garam
fisik

Aktivitas simpatis Disfung


si
Keseimbangan
endotel
garam dan air
katekolami
n

Pelepasan Volume darah ↑


Renin

Angiotensin
I

Angiotensin II

Kontraktilitas jantung ↑ Volume


Vasokontriksi sekuncup

Resistensi tahanan Curah Jantung


perifer

Hipertensi

Gambar 4.2 Kerangka Teori


I. Kerangka Konsep
Genetik
Nutrisi
Stress
Obesitas
Hipertensi
Rokok
Aktivitas fisik

Gambar 4.3 Kerangka Konsep


J. Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi
di desa cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
2. Terdapat hubungan antara nutrisi dengan kejadian hipertensi di desa
cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
3. Terdapat hubungan antara stress dengan kejadian hipertensi di desa
cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
4. Terdapat hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi di desa
cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
5. Terdapat hubungan antara rokok dengan kejadian hipertensi di desa
cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
6. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi di
desa cakupan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja tahun 2018.
V. METODE PENELITIAN

A. Rencana Penelitian
Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor risiko hipertensi yang ada pada masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas 2 Soakaraja dimana pengamatan atau pengambilan data
dilakukan satu kali melalui kuisioner dan tanpa dilakukan intervensi
terhadap subjek penelitian (Sastroasmoro, 2011).
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sejumlah subjek yang memiliki karakteristik
tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Populasi dalam penelitian
bisa berupa manusia, hewan coba, data rekam medis, data laboratorium,
dan lain-lain. Populasi penelitian dibedakan menjadi dua yaitu populasi
target dan populasi terjangkau (Sastroasmoro, 2011).
a. Populasi target
Populasi target pada penelitian ini adalah semua warga di wilayah
kerja Puskesmas 2 Sokaraja.
b. Populasi terjangkau
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah warga di wilayah
kerja Puskesmas 2 Sokaraja pada tahun 2018.
2. Sampel
a. Teknik pengambilan sampel
Sampel survei adalah masyarakat desa cakupan wilayah
Puskesmas 2 Sokaraja yang pernah menderita hipertensi dan tercatat
dalam data sekunder puskesmas. Metode pengumpulan sampel yang
digunakan adalah purposes sampling non-random, yaitu
menggunakan sampel sejumlah semua orang yang kompeten atau
berhubungan langsung dengan suatu kejadian, dalam praktik
lapangan kali ini, yang dipilih sebagai sampel adalah warga
desa penderita hipertensi pada bulan Juli – November 2018.
b. Besar sampel
Besar sampel dalam penelitian ini digunakan untuk
mengetahui hipotesis korelasi antar kedua variabel penelitian
populasi. Rumus besar sampel yang digunakan ialah sebagai berikut:
𝑍𝑎2 𝑃𝑄
n=
𝑑2
Keterangan
n : Besar sampel
Za2 : 1,96
P : Proporsi prevalensi kejadian (0,17)
Q : 1-P (0,83)
d : Presisi ditetapkan (0,1)
𝑍𝑎2 𝑃𝑄
n=
𝑑2
1,96 𝑥0,17𝑥0,83
n=
0,12
n = 28
n = 28 + (28 x 10%) = 28 + 3 = 31
Dari hasil perhitungan besar sampel didapatkan jumlah sampel
minimal sebanyak 31 orang.
c. Kriteria inklusi dan eksklusi
1) Kriteria inklusi
Kriteria inklusi yang digunakan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani
lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah
membaca lembar informed consent.
b) Subjek penelitian berdomisili di wilayah kerja Puskesmas 2
Sokaraja yaitu Desa Jompo Kulon, Banjarsari Kidul,
Banjaranyar, Klahang, Lemberang, Karangduren, Sokaraja
Lor, dan Kedondong, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten
Banyumas.
2) Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi yang digunakan pada penelitian ini
adalah sebagai berikut :
a) Tidak kooperatif dalam melakukan tahapan pengambilan
data.
b) Memiliki riwayat penyakit yang dapat mempengaruhi
tekanan darah seperti gangguan jantung, gangguan kelenjar
tiroid, diabetes melitus, dan gangguan ginjal.
C. Variabel Penelitian
1. Variabel terikat : kejadian hipertensi
2. Variabel bebas :
a. Usia
b. Jenis Kelamin
c. Riwayat Keluarga
d. Obesitas
e. Aktivitas fisik
f. Kualitas Tidur
g. Asupan Garam
h. Asupan Lemak
i. Merokok
j. Konsumsi alkohol
D. Definisi Operasional
Tabel 5.1 Definisi Operasional
Variabel Keterangan Skala
Kejadian Keadaan seseorang memiliki tekanan darah Nominal
Hipertensi sistolik ≥140 mmHg dan atau diastolik ≥90
mmHg yang diukur dengan menggunakan
sphygmomanometer dalam kondisi istirahat
pada posisi duduk.
Dikategorikan menjadi:
1. Hipertensi
2. Tidak hipertensi

Usia Rentang kehidupan seseorang yang diukur Nominal


dengan satuan tahun.
Dikategorikan menjadi:
1. Berisiko (> 60 tahun)
2. Tidak berisiko (< 60 tahun)

Jenis Kelamin Pengelompokkan jenis manusia secara Nominal


biologis yang dibawa sejak lahir.
Dikategorikan menjadi:
1. Laki-laki
2. Perempuan

Riwayat Ada atau tidaknya keluarga yang menderita Nominal


Keluarga hipertensi, yaitu kakek dan atau nenek,
bapak dan atau ibu kandung.
Dikategorikan menjadi:
1. Memiliki riwayat keluarga
2. Tidak memiliki riwayat keluarga

Obesitas Kelebihan berat badan yang diukur Nominal


menggunakan IMT dengan rumus berat
badan dalam kilogram dibagi kuadrat
tinggi badan dalam meter. Dikategorikan
menjadi:
1. Obesitas (IMT ≥ 25,0)
2. Tidak obesitas (IMT < 25,0)

Aktivitas Melakukan olahraga teratur minimal tiga Nominal


Fisik kali seminggu selama 30 menit dengan jenis
olahraga aerobik (berjalan, berenang,
bersepeda, atau jogging)
Dikategorikan menjadi:
1. Aktivitas fisik kurang
2. Aktivitas fisik cukup

Kualitas Kualitas tidur meliputi pola tidur, durasi, Nominal


Tidur kuantitas, dan gelombang tidur yang dinilai
menggunakan global score PSQI.
Dikategorikan menjadi :
1. Baik apabila score <5
2.Buruk apabila score >5

Asupan Konsumsi makanan yang memiliki kadar Nominal


garam garam ≥ 5 gram dalam sehari atau setara
dengan ≥ 1 sendok teh per hari (Kemenkes,
2013).
Dikategorikan menjadi:
1. Ya
2. Tidak
Asupan lemak Kebiasaan mengonsumsi makanan yang Nominal
mengandung lemak jenuh (gorengan, jeroan,
santan) dan memakannya minimal tiga kali
atau lebih dalam seminggu.
Dikategorikan menjadi:
1. Ya
2. Tidak

Merokok Perilaku menghisap batang rokok atau Nominal


menghirup asap rokok yang dibakar minimal
satu batang sehari dan atau pernah merokok
dalam sehari-hari. Dikategorikan menjadi:
1. Merokok
2. Tidak merokok

Konsumsi Mengonsumsi minuman beralkohol. Nominal


alkohol Dikategorikan menjadi :
1. Minum alkohol
2. Tidak minum alkohol
E. Instrumen Pengambilan Data
Sumber data adalah data primer yang diperoleh dari wawancara
terstruktur dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dan observasi
langsung.
F. Rencana Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat. Analisis data yang digunakan:
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran dari
setiap variabel yang diukur dalam penelitian, meliputi variabel bebas dan
variabel terikat. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
untuk semua variabel yang diteliti.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan antara dua
variabel yang diduga berhubungan dengan menggunakan uji Chi-Square
sehingga menghubungkan variabel terikat dengan variabel bebas yang
berskala kategorik (nominal/ordinal). Jika tidak memenuhi syarat uji chi-
Square maka akan digunakan uji alternatif Fisher.
3. Analisis Multivariat
Analisis multivariat untuk menilai faktor resiko mana yang paling
berhubungan dengan kejadian hipertensi. Metode yang digunakan untuk
analisis multivariat yaitu metode regresi logistik. Kekuatan hubungan
masing-masing variabel ditentukan dari nilai OR.
G. Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan pada:
1. Tanggal : 28 Desember 2018-5 Januari 2019
2. Tempat : Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Pelaksanaan penelitian dilakukan di desa Banjarsari Kidul, Jompo


Kulon, Banjaranyar, Klahang, Lemberang, Karangduren, Kedondong,
Sokaraja Lor kecamatan Sokaraja pada bulan Desember 2018. Penelitian
dilakukan dengan total jumlah sampel 50 orang. Penelitian ini dilakukan
dengan metode wawancara menggunakan kuisioner kepada responden yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
1. Analisis Univariat
Pada penelitian cross sectional yang dilakukan pada pasien di
Puskesmas II Sokaraja, didapatkan karakteristik responden sebagai
berikut
Tabel 6.1. Karakteristik Responden

Variabel F %
1. Hipertensi
a. Hipertensi 32 64%
b. Non-hipertensi 18 36%
2. Usia
a. Berisiko 22 44%
b. Tidak berisiko 28 56%
3. Jenis kelamin
a. Laki-laki 10 20%
b. Perempuan 40 80%
4. Riwayat keluarga
a. Ya 20 40%
b. Tidak 30 60%
5. Obesitas
a. Obesitas 32 64%
b. Non-obesitas 18 36%
6. Aktivitas fisik
a. Cukup 28 56%
b. Kurang 22 44%
7. Tidur
a. Baik 14 28%
b. Buruk 36 72%
8. Garam
a. Ya 10 20%
b. Tidak 40 80%
9. Lemak
a. Ya 11 22%
b. Tidak 39 78%
10. Merokok
a. Ya 3 6%
b. Tidak 47 94%
11. Alkohol
a. Ya - -
b. Tidak 50 100%
Sumber: Data Penelitian yang Diolah
Berdasarkan Tabel 6.1. didapatkan responden penelitian yang
menderita hipertensi sebanyak 32 orang (64%). Jenis kelamin
terbanyak yaitu perempuan sebanyak 40 orang (80%). Terdapat 10
responden (20%) yang mengonsumsi garam lebih dari 1 sendok teh per
hari, 11 responden (22%) yang mengonsumsi makanan berlemak lebih
dari 3 kali seminggu, 47 responden (94 %) tidak merokok, 36 orang
(72%) tidak mengalami stres, 22 orang responden (44%) memiliki
aktivitas fisik kurang, dan 20 responden (40%) mempunyai riwayat
keluarga hipertensi. Tabel 6.2. menyebutkan bahwa seluruh responden
penelitian memiliki usia lebih atau sama dengan 30 tahun. Rerata usia
responden yang didapatkan sebesar 57,81 ± 10.11 tahun, dengan usia
termuda 35 tahun dan usia tertua 82 tahun.
Tabel 6.2. Karakteristik Usia Responden
Karakteristik Min Max Mean
Usia 35 82 57.81(± 10.475)
Keterangan. n: jumlah sampel; Min: Minimum; Max: Maximum, Mean: Rerata
Sumber: Data Penelitian yang Diola
2. Analisis Bivariat
Penelitian ini menggunakan CI 95% sehingga variabel dinyatakan
berhubungan signifikan apabila p value kurang dari 0,05 atau nilai X2
hitung lebih besar dari X2 tabel. Namun setelah dianalisis, hanya 2
variabel yang memenuhi syarat Chi-Square, sehingga analisis variabel
lainnya menggunakan uji Fisher. Berdasarkan pengujian tersebut
diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6.3. Hasil Analisis Bivariat
Non-
Hipertensi P
Variable Kategori Hipertensi keterangan
value
N % N %
Berisiko 10 20% 8 16%
Tidak
Usia Tidak ,962
22 44% 10 20% signifikan
berisiko
Laki-laki 4 8% 6 12%
Jenis Tidak
,077
Kelamin signifikan
Perempuan 28 56% 12 24%

Iya 14 28% 6 12%


Riwayat Tidak
,904
Keluarga signifikan
Tidak 19 38% 11 22%

Iya 32 64% 0 0%
Obesitas ,000 Signifikan
Tidak 18 36% 0 0%

Cukup 32 64% 0 0%
Aktivitas
,000 Signifikan
Fisik Kurang 18 36% 0 0%

Baik 5 10% 8 16%


Kualitas Tidak
,495
Tidur Buruk 22 44% 14 28% signifikan

Asupan Ya 5 10% 5 10% Tidak


,302
Garam Tidak 27 54% 13 26% signifikan

Ya 9 18% 2 4%
Asupan Tidak
,495
Lemak Tidak 25 50% 14 27% signifikan

Ya 3 6% 0 0%
Merokok ,017 Signifikan
Tidak 32 64% 15 30%

Hasil analisis data dengan menggunakan Chi-Square didapatkan


variabel yang signifikan (p<0,05) adalah obesitas (p=0,00), Aktivitas
Fisik (p=0,00), dan merokok (p=0,017).
3. Analisis Multivariat
Variabel selanjutnya dianalisis menggunakan analisis multivariat
untuk menilai faktor resiko mana yang paling berhubungan dengan
kejadian hipertensi. Metode yang digunakan untuk analisis multivariat
yaitu metode regresi logistik. Kekuatan hubungan masing-masing
variabel ditentukan dari nilai OR. Berdasarkan pengujian tersebut
diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6.4. Hasil Analisis Multivariat
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step Constant -,575 ,295 3,814 1 ,051 ,563
0

Dari Tabel 6.4. dapat diketahui bahwa setelah dilakukan analisis


multivariat untuk seluruh faktor yang diteliti, didapatkan 2 faktor resiko
yang bermakna yaitu aktivitas fisik dan obesitas. Selanjutnya kedua
faktor tersebut dapat diurutkan sesuai dengan kekuatan hubungannya
terhadap kejadian hipertensi, yaitu dilihat dari nilai OR. Faktor yang
paling berpengaruh yaitu konsumsi lemak tinggi, dengan OR sebesar
6,98.
B. Pembahasan
Penelitian ini meneliti mengenai hubungan hipertensi dengan faktor
resiko hipertensi berupa usia, jenis kelamin, genetik, kebiasaan merokok,
obesitas, aktivitas fisik, konsumsi tinggi garam, konsumsi tinggi lemak
jenuh, dan stress di desa Banjarsari Kidul, Jompo Kulon, Banjaranyar,
Klahang, Lemberang, Karangduren, Kedondong, Sokaraja Lor. Hipotesis
yang peneliti ajukan yaitu terdapat hubungan hipertensi dengan merokok,
alkohol, konsumsi garam, riwayat penyakit keluarga, usia, jenis kelamin,
kebiasaan tidur, konsumsi lemak, obesitas dan aktivitas fisik di wilayah
kerja Puskesmas II Sokaraja. Responden pada penelitian ini adalah
masyarakat yang terdaftar sebagai pasien di Puskesmas II Sokaraja pada
bulan Desember 2018. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat
hubungan yang bermakna antara kejadian hipertensi dengan merokok,
obesitas dan aktivitas fisik (p<0,05), sedangkan tidak terdapat hubungan
yang bermakna dengan, alkohol, konsumsi garam, riwayat penyakit
keluarga, usia, jenis kelamin, kebiasaan tidur, konsumsi lemak (p>0,05).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi di desa wilayah
kerja Puskesmas Sokaraja 2 antara lain adalah obesitas (0.00). Obesitas
adalah suatu keadaan penimbunan lemak yang berlebihan di dalam jaringan
adiposa tubuh yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Obesitas akan
mengaktifkan kerja jantung dan dapat menyebabkan hipertrofi jantung
dalam kurun waktu lama, curah jantung, isi sekuncup jantung, volume
darah, dan tekanan darah juga cenderung naik. Menurutnya secara umum
tekanan darah akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan
semakin meningkat lagi dengan berat badan lebih dan obesitas. Peningkatan
tekanan darah akan menjadi lebih besar lagi bila ada faktor lain, seperti
riwayat keluarga dan stress. Sebagian peneliti menitikberatkan patofisiologi
tersebut pada tiga hal utama, yaitu adanya gangguan sistem otonom,
resistensi insulin, dan abnormalitas struktur, serta fungsi pembuluh darah.
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah aktivitas
fisik (p=0.000). Aktivitas fisik secara teratur sebanyak tiga kali dalam
seminggu dapat memaksimalkan tekanan darah. Aktivitas fisik atau
olahraga dapat menjaga tubuh tetap sehat, meningkatkan mobilitas,
menghindari faktor risiko tulang keropos, dan mengurangi stres (Cortas,
2008). Pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara
aktivitas fisik dengan hipertensi. Hasil ini serupa dengan penelitian Karim
et al (2018) bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signifikan dengan
kejadian hipertensi. Aktivitas fisik secara rutin direkomendasikan, karena
apabila dilakukan secara tepat dan teratur serta frekuensi dan lamanya
waktu yang digunakan dengan baik dan benar maka dapat menurunkan
tekanan darah (Cortas, 2008).
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara konsumsi makanan berlemak jenuh >3 kali seminggu
dengan kejadian hipertensi (p=0,495). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Sugiyarto (2011) yang menyatakan bahwa orang yang
mempunyai kebiasaan mengonsumsi lemak jenuh berisiko terserang
hipertensi sebesar 7,72 kali dibandingkan dengan orang yang tidak biasa
mengonsumsi lemak jenuh. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan
risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Hal ini
tidak menunjukkan hubungan langsung pada kejadian hipertensi. Kadar
kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan
kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Akumulasi dari endapan
kolesterol apabila bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan
mengganggu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja
jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi (Vilareal, 2008).
Kebiasaan merokok menunjukan hubungan bermakna pada penelitian
(p=0,017). Hal ini sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa nikotin
yang terkandung pada asap rokok dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah melalui proses pelepasan epinefrin, sedangkan Carbon monoxide
(CO) berperan dalam penyakit kardiovaskuler yaitu aterosklerosis dan
pembentukan trombus. Nikotin pada rokok memiliki peran penting dalam
peningkatan cardiac output, heart rate, dan tekanan darah. Berdasarkan
penelitian, perilaku merokok dapat meningkatkan risiko 6,9 kali lebih besar
untuk terjadinya hipertensi. Merokok sebatang setiap hari akan
meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung
5–20 kali per menit (Jegathes, 2010).
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna
antara usia dengan hipertensi (p=0,962). Hasil penelitian ini sejalan dengan
hasil penelitian Wahyudi (2009) yaitu tidak ada hubungan signifikan antara
usia dengan tekanan darah tinggi. Hasil penelitian ini bertentangan dengan
syukraini (2009) yang menyatakan tekanan darah akan meningkat karena
dinding arteri mengalami penebalan akibat penumpukan zat kolagen pada
lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit
dan menjadi kaku.
Hasil penelitian ini tidak signifikan bisa terjadi karena adanya faktor
lain yang mempengaruhi seperti aktivitas fisik, stress, dan asupan makan
seperti garam dan lemak. Berdasarkan penelitian Widyaningrum (2014)
terdapat hubungan antara asupan natrium, kalium dan magnesium terhadap
tekanan darah lansia di kelurahan makam haji.
Penelitian ini menunjukkan subjek yang banyak mengalami hipertensi
adalah perempuan yaitu sebanyak 28 orang sedangkan pada laki-laki
sebanyak 4 orang. Menurut penelitian Black dan Izzo (2010) kejadian
hipertensi lebih tinggi pada laki-laki disbanding perempuan pada usia
dibawah 55 tahun dan akan sebanding pada usia 55-75 tahun. Perbedaannya
dengan penelitian ini mungkkin karena perbandingan subjek penelitian laki-
laki dan perempuan tidak seimbang dimana jumlah subjek perempuan lebih
banyak daripada laki-laki. Menurut Singalingging (2011) rata-rata
perempuan akan mengalami peningkatan resiko tekanan darah tinggisetelah
menopause yaitu usia diatas 45 tahun. Perempuan yang belum menopause
dilindungi oleh hormone estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar
Hight Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolestrol HDL rendah dan
tingginya kadar kolestrol LDL mempengaruhi terjadinya proses
aterosklerosis.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Saraswaty (2011) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara
jenis kelamin dengan hipertensi. Pada analisis univariat penelitian tersebut
proporsi penderita hipertensi berjenis kelamin perempuan lebih banyak
daripada laki-laki yaitu sebanyak 46 perempuan dan 23 laki-laki. Penelitian
ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan
hipertensi bisa terjadi karena adanya faktor lain seperti tingkat stress.
Menurut penelitian Lewa dkk (2010) orang yang mengalami stress
psikososial akan meningkatkan resiko terjadinya hipertensi sistolik
terisolasi sebesar 2,54 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang
tidak mengalami stress psikososial, dan secara statistik bermakna (p-
value=0,001).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 40% subjek penelitian
mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi.Seseorang dengan riwayat
keluarga hipertensi dapat digunakan untuk memastikan diagnosa hipertensi
esensial dan jarang memerlukan evaluasi untuk penyakit yang
mendasarinya. Sifat gen untuk hipertensi yaitu dominan bukan resesif.
Individu hipertensi ada di setiap generasi, dan keturunan yang tidak
mewarisi hipertensi akan mempunyai keturunan yang tidak hipertensi juga.
Pewarisan hipertensi bukan bersifat X-linked, yaitu gen yang terdapat pada
kromosom kelamin yang terdapat pada ayah atau ibu, dan dapat
mewariskannya pada keturunan laki-laki maupun perempuan (Gunawan,
2011). Seorang anak dengan riwayat keluarga hipertensi memiliki resiko
lebih besar untuk menderita hipertensi. WHO memperkirakan 3 % dari anak
yang lahir dari ayah dan ibu normotensif akan mungkinkan menderita
hipertensi. 45% seorang anak menderita hipertensi bila kedua orang tua
menderita hipertensi. Jika hanya salah satu orang tua hipertensi maka 12,8%
anaknya akan menderita hipertensi (Gunawan, 2011).
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna
antara riwayat keluarga dengan hipertensi. Kemungkinan penyebabnya
adalah penetapan subjek penelitian yang digunakan adalah warga
masyarakat umum baik dengan atau tanpa masalah hipertensi sehingga
pengaruh riwayat keluarga terhadap kejadian hipertensi belum dapat
teridentifikasi secara valid.
Hasil penelitian ini menyatakan sebanyak 14 orang subjek memiliki
kualitas tidur baik dan sebanyak buruk memiliki kualitas tidur buruk.
Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara kualitas
tidur dengan hipertensi (p=0,495). Hal ini karena adanya faktor lain seperti
jenis kelamin, gaya hidup, kecemasan, stress, kebiasaan merokok dan usia.
Selain itu variasi harian juga mempengaruhi tekanan darah. Tekanan darah
seseorang mengalami penurunan saat tengah malam antara pukul 03.00-
06.00 sedangkan di pagi hari atau saat bangun tidur terjadi peningkatan
tekanan darah (potter & Perry, 2010).
Menurut Bansil, Kuklina, Merrit dan Yoon (2011) dalam
penelitiannya yang berjudul association between sleep disorder, sleep
duration, quality of sleep and hypertension menyatakan bahwa kualitas tidur
yang buruk tidak berhubungan dengan terjadinya peningkatan tekanan
darah. Jika terdapat ketidakstabilan biasanya diakibatkan oleh sugesti
hormon stress kortisol yang memacu peningkatan tekanan darah.
Menurut Palagini dkk (2013) faktor lain yang mempengaruhi kualitas
tidur adalah jenis kelamin dan obesitas. Hordaland Health Study (HHS)
menyatakan bahwa durasi tidur yang kurang dari 5 jam mempunyai
hubungan yang signifikan dengan peningkatan tekanan darah. Berdasarkan
data kuesioner dalam penelitian ini rata-rata durasi tidur sebulan terakhir
adalah 6-7 jam per malam.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Angkat (2010)
yang menyatakan tidak ada hubungan kualitas tidur dengan peningkatan
tekanan darah di tanjung morawa (p=0,314). Hasil penelitian ini
bertentangan dengan Javaheri, Isser, Rossen dan Redline (2008) yang
menyatakan kualitas tidur yang buruk dapat mempengaruhi proses
homeostasis yang dapat memicu terjadinya peningkatan tekanan darah baik
pada remaja, dewasa dan lansia. Hasil ini berbeda karena adanya faktor jenis
kelamin. Pada penelitian ini kebanyakan subjek penelitiannya adalah
perempuan sedangkan pada penelitian Javaheri, Isser, Rossen dan Redline
(2008) adalah laki-laki.
VII. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah


Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang faktor risiko yang
berpengaruh terhadap kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas II
sokaraja maka dapat diketahui bahwa status gizi obesitas dan merokok
memberikan pengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi di wilayah
kerja puskesmas II sokaraja. Maka dapat dibuat beberapa alternatif
pemecahan masalah terkait dengan faktor risiko yang dapat diubah
terhadap kejadian hipertensi, yaitu:
1. Memberikan konseling kepada pasien hipertensi, terutama mengenai
faktor resiko obesitas dan merokok terhadap hipertensi.
2. Penyuluhan tentang hipertensi, dengan materi penyebab terjadinya
hipertensi, tanda dan gejala hipertensi, faktor risiko hipertensi,
komplikasi hipertensi, serta penanggulangan hipertensi dengan cara
mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.
3. Mengadakan kegiatan senam lansia rutin baik saat dilaksanakan
kegiatan Prolanis maupun Posyandu Lansia.
4. Pembagian leaflet mengenai hipertensi.
B. Penentuan Alternatif Terpilih
Pemilihan prioritas alternatif pemecahan masalah harus dilakukan
karena adanya berbagai keterbatasan baik dalam sarana, tenaga, dana, serta
waktu. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pemilihan prioritas
pemecahan masalah adalah metode Rinke. Metode ini menggunakan dua
kriteria, yaitu efektifitas dan efisiensi jalan keluar.
Kriteria efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya
masalah yang dapat diatasi, kelanggengan selesainya masalah, dan
kecepatan penyelesaian masalah. Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya
yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Skoring efisiensi jalan
keluar adalah dari sangat murah (1), hingga sangat mahal (5).

Tabel 7.1. Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar
C
(jumlah biaya
M I V
yang
(besarnya (kelanggengan (kecepatan
Skor diperlukan
masalah yang selesainya penyelesaian
untuk
dapat diatasi) masalah) masalah)
menyelesaika
n masalah)
1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat Sangat murah
langgeng lambat
2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah
3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah
4 Besar Langgeng Cepat Mahal
5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal

Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode Rinke


adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2. Prioritas Pemecahan Masalah Metode Rinke
Efektivitas Efisiensi Urutan
Daftar Alternatif MxIxV
No Prioritas
Jalan Keluar M I V C C
Masalah
1 Memberikan 3 3 4 3 12 1
konseling kepada
pasien hipertensi,
terutama mengenai
faktor resiko
obesitas dan
merokok terhadap
hipertensi.
2 Penyuluhan tentang 2 3 2 2 6 2
hipertensi, dengan
materi penyebab
terjadinya
hipertensi, tanda
dan gejala
hipertensi, faktor
risiko hipertensi,
komplikasi
hipertensi, serta
penanggulangan
hipertensi dengan
cara mengubah
gaya hidup menjadi
lebih sehat.
3 Pembagian leaflet 2 2 2 4 2 4
mengenai
hipertensi.
4 Mengadakan 4 2 2 4 4 3
kegiatan senam
lansia rutin saat
dilaksanakan
kegiatan Prolanis
dan Posyandu
Lansia.

Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah


menggunakan metode Rinke, didapatkan prioritas alternatif pemecahan
masalah, yaitu memberikan konseling kepada pasien hipertensi.
VIII. RENCANA KEGIATAN

A. Latar Belakang
Paradigma kesehatan di Negara berkembang telah berubah. Dahulu,
masalah kesehatan berupa penyakit tidak menular (PTM) merupakan milik
negara-negara maju, sedangkan Negara berkembang turut dikaitkan dengan
permasalahan penyakit menular. Negara maju seperti Amerika selalu
berhubungan dengan permasalahan obesitas, sindrom metabolik, hipertensi
maupun diabetes yang dikaitkan dengan gaya hidup sedentary atau kurang
gerak dan kelebihan nutrisi. Kini, penyakit tidak menular tidak hanya
menjadi masalah negara maju, namun menjadi masalah kesehatan secara
global.
Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius
saat ini adalah hipertensi. Hipertensi disebabkan oleh adanya tekanan darah
yang tinggi melebihi nilai normal yang didefinisikan sebagai peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan
darah diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang.
Hipertensi dikenal juga sebagai silent killer atau pembunuh terselubung
yang tidak menimbulkan gejala atau asimptomatik seperti penyakit lain
(JNC VII, 2013). Faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi terdiri dari
faktor risiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor risiko yang
dapat diubah diantaranya adalah merokok, obesitas, aktivitas fisik,
konsumsi garam, konsumsi kopi, dan stress, sedangkan faktor yang tidak
dapat diubah seperti jenis kelamin, umur, dan genetik (Frisoli et al., 2011).
Diperkirakan seperempat penduduk dunia menderita hipertensi dan
jumlah tersebutakan terus meningkat menjadi sekitar sepertiga penduduk
dunia pada tahun 2025. Di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4%
dari seluruh manusia di bumi mengidap hipertensi. Angka ini kemungkinan
akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap
hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara
sedang berkembang, termasuk Indonesia (WHO, 2013). Hasil Riskesdas
tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia pada
penduduk dengan usia diatas 18 tahun adalah sebesar 25,8%. Provinsi Jawa
Tengah mempunyai prevalensi hipertensi di atas prevalensi nasional yaitu
26,4% (Kemenkes RI, 2013).
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Angka kejadian
hipertensi di seluruh dunia mencapai 1 miliyar orang dan sekitar 7,1 juta
kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (Depkes RI, 2008).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Kementerian
Kesehatan RI, prevalensi hipertensi di Indonesia pada usia di atas 18 tahun
mencapai 29,8%. Prevalensi ini semakin bertambah seiring dengan
bertambahnya usia. Prevalensi hipertensi pada golongan umur 55-64 tahun,
65-74 tahun dan >75 tahun, masing-masing mencapai 53,7%, 63,5%, dan
67,3% (Dharmeizar, 2012). Di banyak negara, 50% dari populasi yang
berusia lebih dari 60 tahun memiliki hipertensi. Secara keseluruhan, sekitar
20% dari masyarakat dewasa di dunia diperkirakan mengalami hipertensi
(Madhur, 2014). Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di
Indonesia hasil pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen.
Prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai 26,4% (Riskesdas, 2013).
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi
diantaranya riwayat pada keluarga, faktor gaya hidup (merokok, diet, berat
badan, olahraga, narkoba, dan alkohol), dan faktor psikososial. Hipertensi
yang tidak terkontrol menyebabkan seseorang tujuh kali lebih berisiko
terkena stroke, enam kali lebih berisiko menderita congestive heart failure
(CHF), dan tiga kali lebih berisiko terkena serangan jantung (Rahajeng dan
Tuminah, 2009). Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga pada
semua umur di Indonesia, yakni mencapai 6,8% setelah stroke 15,4%, dan
tuberculosis 7,5% (Depkes RI, 2008). Oleh karena itu, perlu adanya
pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan yang adekuat untuk penderita
hipertensi.
B. Tujuan
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit hipertensi.
2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait faktor risiko
diantaranya komplikasi yang dapat timbul akibat faktor resiko obesitas,
dan merokok, serta pentingnya pencegahan obesitas seperti olahraga,
pengaturan diet, dan cara pengolahan makanan yang sehat.
3. Menjaring penderita hipertensi dan melakukan intervensi secara
individual dengan memberikan edukasi.
4. Meningkatkan motivasi warga untuk olahraga secara rutin
C. Materi dan Bentuk KeKegiatan
a. Materi Kegiatan
Obesitas dan merokok sebagai faktor resiko terjadinya hipertensi.
b. Bentuk Kegiatan
Adapun bentuk kegiatan yang akan dilakukan ialah memberikan
konseling kepada penderita hipertensi, yaitu berupa edukasi dan motivasi
untuk menerapkan pola hidup sehat.
D. Sasaran
Peserta Prolanis di Desa Jompokulon, Banjarsari Kidul, Banjaranyar,
Klahang, Lemberang, Karangduren, Sokaraja Lor, Kedondong, yang
merupakan wilayah kerja Puskesmas II Sokaraja.
E. Pelaksanaan
1. Personil
a. Penanggung jawab : Wahyanto, S. KM, M. Kes
b. Pembimbing : dr. Khusnul Muflikhah, M.Sc
c. Pelaksana :
1) Hukama Rosyada Uswatun Hasanah
2) Fatimah
3) Ichda Qudsiy Widayati
4) Talitha Apta Nitisara
5) Helni Syahriani Hasibuan
6) Ayu Permatasari
7) Syahrefa Aulia Zahra
8) Nurul Afifah Munaya
9) Timotius Pratama
10) Lutfia Nur Azizah
11) Ezra Sari Setyaningrum
12) Arum Ridharrahman
13) Reza Muhammad Nugraha
14) Laksmi Diatmika
15) Dienazad Yoga Putri
2. Waktu dan Tempat
a. Hari : Kamis
b. Tanggal : 3 Januari 2018
c. Tempat : Rumah peserta prolanis dengan hipertensi, wilayah kerja
Puskesmas II Sokaraja
F. Rencana Anggaran
Biaya :
Fotokopi lembar konseling : Rp 30.000,00
Total : Rp 30.000,00