Anda di halaman 1dari 2

DAFTAR PUSTAKA

Day R, A., dan Underwood A,L., 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Alih Bahasa : A.H.
Pudjaatmaka. Erlangga. Jakarta
Fessenden, J.R. dan Fessenden J.S., 1992. Kimia Organik. Ab : A.H. Pudjaatmaka.
Erlangga. Jakarta
Hardyanti, N., Endro S. 2007. Uji Pembuatan Biogas Dari Kotoran Gajah Dengan
Variasi Penambahan Urine Gajah Dan Air . Jurnal PRESIPITASIVol. 3 No.2
September 2007, ISSN 1907-187X.
Hart, H., Craine, J.E dan Hart, P.J., 2003. Kimia Organik. Edisi 1. Alih Bahasa:
Suminar Achmadi. Erlangga. Jakarta
Oxtoby, dkk., 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Edisi 4. Jilid 2. Ab : Achmadi.
Erlangga. Jakarta
Petrucci R.H., 1985. Kimia Dasar : Prinsip Dan Terapan Makro. Alih Bahasa :
Suminar Achmadi. Erlangga. Jakarta
Riswiyantoro, 2009. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta
Riyanti M. Zipora S. Tri RA. Subki EM. 2008. Sintesis Senyawa Hidrokarbon.
Jurnal Unila.

Titik didih deret homolog alkena naik kira-kiran 30 tiap gugus CH2. Kenaikan ini sama dengan yang
diamati pada deret homolog alkana. Seperti dengan alkana, percabangan menurunkan titik didih itu.
Meskipun alkena dianggap nonpolar, mereka sedikit lebih mudah larut dalam air
dibandingkan dengan alkana padanannya, sebab elektron ikatan pi ( ), yang agak terbuka itu,
ditarik oleh hidrogen (dari air) yang bermuatan positif parsial (sebagian).
(Fessenden&Fessenden : 1986)
Ikatan yang terdapat pada alkena memang merupakan ikatan yang lebih kuat dari pada
ikatan tunggal. Namun, ikatan rangkap dua ini tidak dua kali lebih kuat. Karena ikatan pi (bentuk
ikatan kedua dari ikatan rangkap dua) merupakan ikatan yang lebih lemah dari pada ikatan sigma.
Oleh karena itu, ikatan pi ( ) menjadi bersifat lebih mudah diserang oleh reagen yang cocok,
bahkan pada kondisi biasa. Bentuk reaksi yang dialami oleh ikatan pi ( ) ini adalah reaksi adisi di
mana atom karbon tidak jenuh menjadi atom karbon jenuh. Alkena lebih reaktif dari pada alkana.
Reaksi adisi yang dialami ada bermacam-macam, antara lain: adisi oleh hidrogen, adisi oleh
halogen hallida, adisi oleh aird dan adisi asam sulfat.
Alkena dapat tereduksi oleh adisi hidrogen pada ikatan rangkap dua membentuk alkana.
Contohnya ketika alkena dilewatkan kepada katalis nikel pada suhu 150, alken tereduksi menjadi
alkana.
H2C = CH2 + H2  CH3CH3
Halogen juga dapat mengadisi ikatan rangkap dua alkena membentuk dihalida
H2C = CH2 + Cl2  CH2Cl – CH2Cl
H2C = CH2 = Br2  CH2Br – CH2Br
(Donal O’Leary. 2000. Alkenes. www.ucc.ie)
Adisi hidrogen halide pada alkena membentuk alkil halida sering digunakan sebagai reaksi
sintesis. Biasanya gas HX dialirkan ke dalam larutan alkena itu (larutan pekat hidrogen halida dalam
air akan menghasilkan campuran produk, karena air dapat pula mengadisi ikatan rangkap). Reaktivias
HX dalam reaksi ini adalh HI > HBr > HCl > HF. Asam terkuat (HI) bersifat paling reaktif terhadap
alkena, sedangkan asam terlemah (HF) adalah yang paling tidak reaktif.
Suatu hidrogen halide ikatan H – X yang sangat polat dan dapat dengan mudah melepaskan
H kepada ikatan pi ( ) suatu alkena. Hasil serangan H+ adalah suatu karbokation antara, yang
+

cepat bereaksi dengan ion negatif halida dan menghasilkan suatu alkil halida. Karena serangan awal
dilakukan oleh suatu elektrofil, maka adisi HX kepada suatu senyawa alkena disebut sebagai adisi
elektrofilik.

Asam sulfat menjalani adisi kepada suatu alkena tepat seperti hidrogen halida. Produknya
ialah suatu alkil hidrogen sulfat, yang dapat digunakan untuk mensintesis alkohol atau eter.

Dalam suatu larutan asam kuat (seperti H 2SO4 dalam air), air mengadisi suatu ikatan rangkap
dan menghasilkan alkohol. Reaksi ini disebut hidrasi suatu alkena.

Kedua reaksi tersebut di atas berlangsung dalam dua tahap, tepat sama dengan adisi
hidrogen halida. Tahap pertama adalah protonasi alkena dan menghasilkan suatu karbokation. Tahap
kedua adalah adisi suatu nukleofil ke karbokation itu.
Reaksi hidrasi alkena adalah kebalikan dari reaksi dehidrasi alkohol. Produk-produknya
bergantung pada kondisi yang digunakan dalam percobaan.
Selain menjalani reaksi adisi, alkena juga menjalani reaksi oksidasi. Oksidasi alkena dengan
kalium permanganat (KMnO4) dapat digunakan untuk membentuk senyawa diol. Kalium permanganat
yang digunakan dalam bentuk larutan basa dan dingin (meskipun biasanya reagensia ini memberikan
rendemen yang rendah). Skema reaksi berikut menunjukkan bagaimana reaksi oksidasi suatu
senyawa alkena dengan oksidator kalium permanganat (KMnO4) berlangsung. Senyawa alkena yang
dicontohkan dalam contoh dibawah ini yaitu etena. Produk dari reaksi oksidasi ini adalah suatu
senyawa diol yaitu 1,2-etanadiol.

Selama proses oksidasi, warna ungu dari kalium permanganat akan hilang, dan hal ini
dijadilan sebagai uji ketidakjenuhan (adanya ikatan rangkap) dan dikenal sebagai tes Baeyer. Uji
Baeyer untuk ikatan rangkap sekalipun telah digunakn secara luas, mempunyai kekurangan yang
serius; gugus apa saja yang mudah dioksidasi (aldehida, alkena, alkuna) akan menunjukan hasil
positif.
(Fessenden&Fessenden : 1986)
Senyawa alkena banyak dimanfaatkan dalam industri. Senyawa-senyawa alkena umumnya
digunakan sebagai bahan baku dalam dunia industri tersebut. Di antaranya dimanfaatkan sebagai
bahan baku di dunia industri farmasi, plastik dan insektisida. Beberapa contohnya : etena digunakan
sebagai bahan baku dalam pembuatan polietena dan senyawa organik intermediet (produk antara)
seperti klor (vinil klorida) dan